Senin, 04 Februari 2013

SULING EMAS 4


Ban-pi Lo-cia yang telah membunuh atau lebih hebat lagi, menodai Ang-siauw-hwa sehingga wanita itu membunuh
diri, tidak pula lupa kepada Liu Lu Sian yang telah menolak cintanya dan bahkan menghinanya.
Demikianlah, Kwee Seng mulai dengan perantauannya. Ia tetap berpakaian seperti jembel, pakaian yang
compang-camping penuh tambalan, rambutnya riap-riapan, akan tetapi tubuhnya selalu bersih terpelihara ! Di
dalam perantauannya bertahun-tahun ini, tak pernah ia melupakan tugasnya sebagai seorang gagah, seorang
pendekar yang aneh dan sakti. Namun, tetap seperti dahulu, ia melakukan perbuatannya dengan sembunyi dan
semenjak ia keluar dari Neraka Bumi, muncullah di dunia kang-ouw seorang tokoh aneh tak terkenal yang luar
biasa, yang menggegerkan dunia kang-ouw karena banyak sekali tokoh-tokoh dunia hitam dihancurkan oleh pendekar
gila ini. Akhirnya ada yang mengenalnya sebagai Kim-mo-eng dan makin terkenal lah nama ini yang dahulu malah
tidak begitu terkenal. Kalau dulu hanya tokoh-tokoh terbesar di dunia kang-ouw saja yang mengenal Kim-mo-eng
sebagai seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi, kini dunia kang-ouw mengenal Kim-mo-eng sebagai
seorang pendekar gila, sungguhpun jarang ada orang pernah melihatnya beraksi. Dengan demikian, dalam
perantauannya, orang-orang yang bertemu dengan Kwee Seng hanya mengira dia seorang jembel gila, sama sekali
tidak ada yang pernah mengira bahwa dia inilah Kim-mo-eng, tokoh kang-ouw yang baru muncul dan membikin geger
dunia persilatan itu !
Rasa penasaran di hatinya terhadap Bayisan membuat Kwee Seng mengarahkan perantauannya menuju ke daerah Khitan
! Ia hendak meluaskan pengalaman dan sekalian mencari Bayisan atau Ban-pi Lo-cia yang keduanya masih mempunyai
perhitungan dengannya.
Bangsa Khitan adalah bangsa nomad (perantau) yang terkenal gagah perkasa, ulet dan pandai perang. Karena iklim
dan keadaan tanah di mana mereka hidup, yaitu di daerah timur laut yang penuh gunung-gunung, gurun-gurun pasir,
dan salju, maka mereka dipaksa oleh keadaan untuk selalu berpindah-pindah tempat untuk dapat memenuhi kebutuhan
hidup mereka. Inilah sebabnya mengapa suku bangsa Khitan amat ulet dan berani. Dan ini pula agaknya yang
menyebabkan Khitan seringkali mengadakan penyerbuan ke selatan dalam usaha mereka mencari tempat yang lebih
makmur untuk bangsa mereka. Akan tetapi, berkali-kali mereka terpukul mundur oleh bala tentara kerajaan selatan
sehingga akhirnya mereka tidaklah begitu berani melakukan penyerbuan secara liar, melainkan baru berani
menyerbu setelah direncanakan terlebih dahulu. Karena usaha mereka yang terus menerus menyerbu ke selatan
inilah maka bangsa Khitan selalu dianggap sebagai musuh besar oleh orang selatan, dari jaman dinasti manapun
juga.
Pada waktu Kwee Seng melakukan perantauannya ke daerah Khitan, yang dijadikan ibu kota Khitan adalah kota Paoto
di lembah Sungai Kuning, termasuk daerah Mancuria selatan. Rajanya adalah Raja Kulu-khan, seorang raja yang
terkenal gagah suka perang, namun amat dicinta oleh rakyatnya karena terhadap rakyatnya ia selalu bertindak
adil dan penuh perhatian.
Raja Kulu-khan mempunyai belasan orang putera dan puteri, akan tetapi semua itu lahir dari para selir. Adapun
permaisurinya hanya mempunyai seorang anak perempuan, yang dengan sendirinya menjadi puteri mahkota. Puteri
mahkota ini bernama Puteri Tayami yang semenjak kecilnya digembleng oleh ayahnya sendiri, pandai menunggang
kuda, pandai bermain panah dan pandai pula mainkan tombak dan pedang. Selain ini, ia pun seorang puteri yang
amat cantik jelita, menjadi kenangan dan kembang mimpi semua pemuda Khitan. Namun, tak seorang pun diantara
para pemuda berani main-main dengan puteri Tayami, bukan saja karena Tayami adalah Puteri Mahkota, akan tetapi
terutama karena mereka gentar menghadapi kegagahan puteri ini. Kalau Tayami sudah ikut maju perang dengan
pedang pusaka di tangan, yaitu Pedang Besi Kuning, dengan gendewa dan anak panah menghias bahu, menyengkelit
tombak, bukan main hebatnya puteri ini. Entah sudah berapa banyak tentara musuh yang roboh oleh anak panahnya,
pedangnya, maupun tombaknya.
Khitan memiliki pula banyak panglima-panglima perang yang berilmu tinggi di antaranya adalah Panglima Tua
Kalisani dan Panglima Muda Bayisan. Hanya dua orang ini yang paling hebat kepandaiannya di antara semua
panglima yang juga memiliki keistimewaan masing-masing. Akan tetapi hanya kedua orang panglima itu yang
memiliki ilmu silat dari selatan dan barat. Adapun Ban-pi Lo-cia biarpun terkenal, namun tidaklah langsung
membantu pergerakan bangsanya. Dia adalah guru dari Panglima Muda Bayisan, namun jarang ia tinggal terlalu lama
di Khitan, lebih suka merantau ke selatan, ke dunia yang lebih ramai dan lebih banyak terdapat
kesenangan-kesenangan yang sesuai dengan selera nafsunya.
Dasar watak manusia jantan, di mana-mana sama saja. Asalkan melihat wanita cantik, tentu mereka itu saling
berebutan. Yang kasar yang halus, ya begitu juga, hanya yang kasar itu mengeluarkan perasaan hatinya melalui
kata-kata kasar atau pandang mata kurang ajar, sedangkan yang halus diam-diam menyimpan di hati. Namun
hakekatnya, sama juga. Di antara sekian banyaknya pemuda Khitan yang jatuh hati terhadap Puteri Tayami,
termasuk juga Bayisan dan... Kalisani ! Kita sudah mengenal Bayisan sebagai seorang tokoh muda yang haus akan
wanita cantik, yang jahat dan keji, tidak segan-segan melakukan perkosaan terhadap wanita yang manapun juga,
baik ia isteri orang maupun anak orang, baik ia mau ataupun tidak. Maka tidak mengherankan apabila Bayisan
tergila-gila kepada Puteri Mahkota bangasanya sendiri yang demikian jelita ayu. Akan tetapi, yang amat
mengherankan adalah Panglima Tua Kalisani. Usianya sudah empat puluh tahun lebih, dua kali usia Tayami, namun
panglima yang belum pernah menikah ini secara diam-diam tergila-gila pula kepada Tayami. Hanya bedanya, kalau
Bayisan mengungkapkan perasaannya melalui senyum dan pandang mata, kadang-kadang kata-kata kurang ajar, adalah
Kalisani memendam dalam hati, dan mungkin hanya dapat terlihat oleh Tayami sendiri melalui pancaran sinar mata
penuh kasih sayang.
Namun, semua harapan para muda termasuk dua orang panglima itu, sebenarnya sia-sia belaka. Puteri Mahkota
Tayami sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Ia telah menjatuhkan cinta kasihnya kepada seorang bekas temannya
semenjak kecil, putera dari pelayan pribadi ayahnya. Kini bekas teman itu telah menjadi seorang pemuda tampan
dan gagah, dan biarpun pangkatnya hanya perwira menengah, namun kegagahannya dalam pandang mata Tayami tiada
yang dapat menandinginya ! Pemuda ini bernama Salinga, biarpun keturunan pelayan raja, namun semenjak nenek
moyangnya dahulu amat setia dan berdarah patriot.
Raja Kulu-khan amat mencinta puterinya, dan raja ini pun berpemandangan luas, tidak mengukur pribadi seseorang
dari kedudukannya, maka biarpun ia tahu akan perhubungan antara puterinya dengan Salinga, raja ini tidak pernah
menegur puterinya. Malah ketika Bayisan mengadukan hubungan itu, ia memarahi Bayisan. Bayisan ini biarpun
terkenal diluaran sebagai panglima muda, namun adalah putera Raja Kulu-khan juga. Putera yang lahir dari
seorang wanita yang telah bersuamikan seorang pembantu raja, akan tetapi oleh suaminya seakan-akan di"jual"
kepada raja karena mengharapkan kenaikan pangkat ! Peristiwa ini terjadi ketika Raja Kulu-khan masih muda dan
tidak kuat menghadapi godaan isteri ponggawa itu. Namun, setelah mengetahui niat licik dari ponggawa yang
menjual isterinya sendiri itu, raja ini malah menjatuhkan hukuman kepada Si Ponggawa, sedangkan isteri ponggawa
itu ia ambil sekalian menjadi selirnya. Hal ini dilakukan untuk mencuci segala noda. Anak yang lahir dari
hubungan inilah yang sekarang menjadi Panglima Muda Bayisan !
"Cinta kasih antara orang muda adalah cinta kasih murni yang timbul dari hati sanubari. Adalah Dewa yang
menjodohkan, bagaimana kita manusia hendak merusaknya, Bayisan ? Kalau adikmu Tayami memang saling mencinta
dengan Salinga, biarlah. Salinga seorang pemuda baik, apa salahnya?"
"Akan tetapi, Sri Baginda. Adinda Tayami adalah seorang Puteri Mahkota, sedangkan Salinga... seorang prajurit
biasa..."
"Hemm, dia seorang perwira..." "Apa artinya ? Seorang Puteri Mahkota jodohnya adalah pangeran, atau yang
setingkat..."
"Ha-ha-ha, Bayisan. Alangkah sempit pandanganmu. Siapakah yang membuat hati dan menimbulkan cinta ? Hanya para
Dewa yang tahu. Siapa sekarang yang membuat segala macam pangkat dan kedudukan ? Hanya manusia. Apa sukarnya
kalau sekarang aku mengangkat Salinga menjadi Pangeran atau Ponggawa yang tinggi kedudukannya ? Mudah saja,
bukan ? Akan tetapi aku tidak mau lakukan itu, kenaikan tingkat menurut jasa dan pahala. Kalau aku mengangkat
Salinga, berarti suatu penghinaan, baik bagi Salinga maupun bagi keluargaku sendiri. Nah, cukup, tak perlu kau
mencampuri urusan dalam hati Tayami!"
Demikianlah, dengan hati mengkal dan penuh dendam Bayisan selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan hati
Tayami dan menjatuhkan diri Salinga. Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani secara berterang melakukan hal
ini, karena Salinga adalah kekasih Tayami dan bahwa dia tergila-gila pula kepada Tayami, adik tirinya !
Pagi hari itu kota raja Paoto amatlah ramainya. Kwee Seng memasuki kota raja ini dan biarpun ia menarik
perhatian karena pakaiannya yang compang-camping dan penuh tambalan itu menunjukkan bahwa dia seorang selatan,
namun sikapnya yang seperti orang gila membuat orang-orang hanya tertawa kepadanya. Memang pada waktu itu,
banyak sekali orang Khitan sudah berpakaian seperti orang Han, dengan pakaian yang dapat mereka rampas kalau
mereka menyerbu ke selatan, atau pakaian yang mereka perdagangkan dengan kulit dan bulu domba. Banyak juga
pedagang-pedagang dari selatan sampai Khitan, mempertaruhkan keselamatan nyawanya. Bagi para pedagang, di mana
ada "untung" ke sana ia pergi, tak peduli di sana terdapat bahaya menantang.
Keramaian kota raja Paoto ada sebabnya. Beberapa pekan yang lalu, di bawah pimpinan Panglima Muda Bayisan
sendiri, sepasukan orang Khitan menyerbu dan menghancurkan pasukan Kerajaan Cin Muda yang ternyata adalah
pasukan yang melarikan diri membawa barang-barang berharga hasil perampasan mereka terhadap Kerajaan Tang Muda
yang kalah perang. Banyak sekali barang rampasan ini, belum lagi kuda dan senjata, maka saking gembiranya Raja
Kulu-khan lalu mengadakan pesta untuk menghormati pasukan itu. Dan sebagaimana biasanya, dalam setiap keramaian
seperti itu, tentu diadakan perlombaan-perlombaan ketangkasan di tepi Sungai Kuning. Perlombaan macam ini bukan
hanya sebagai hiburan untuk menggembirakan suasana, namun ada maksudnya pula unutk mengumpulkan tenaga-tenaga
muda dan tidak jarang dalam kesempatan seperti ini bermunculan perwira-perwira baru yang diangkat karena
kemenangannya dalam perlombaan.
Kwee Seng hanyut dalam arus gelombang manusia yang menuju ke tepi sungai, ke tempat perlombaan. Sambil makan
roti susu kambing yang tadi dibelinya dari warung dan kini digerogoti, Kwee Seng ikut berlari-lari. Lapangan di
tepi sungai itu luas sekali dan memang tempat ini sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga rata dan baik untuk
tempat perlombaan ketangkasan.
Hati Kwee Seng berdenyut girang ketika ia mengenal seorang di antara para perwira tinggi yang hadir di tempat
itu. Seorang Muda yang tinggi kurus, berpakaian panglima, bertopi indah dengan hiasan bulu, bukan lain adalah
Bayisan, musuh lama yang dicari-carinya. Matanya tetap mencari-cari dan ia agak kecewa tidak melihat Ban-pi
Lo-cia di tempat itu. Di panggung yang sengaja dibuat, duduklah Raja Khitan, ditemani Bayisan, Kalisani,
belasan orang panglima tinggi lainnya, dan di samping raja ini duduk pula seorang gadis yang cantik jelita,
pakaiannya serba hijau, pedang yang bergagang indah tergantung di belakang punggung. Inilah Puteri Mahkota
Tayami, dan Kwee Seng juga dapat menduganya karena seringkali ia mendengar nama puteri ini disanjung-sanjung
orang dalam perjalanannya di daerah Khitan.
Pada saat itu, enam orang penunggang kuda masing-masing, berdiri sejajar dan agaknya menanti tanda untuk segera
berlomba lari cepat. Kwee Seng melihat betapa di sebelah depan dipasangi tombak berjajar-jajar, antara dua
meter tingginya dan ada empat meter lebarnya. Tombak-tombak itu memenuhi jalan dan dipasang amat kuatnya,
gagangnya menancap pada tanah dan ujungnya yang runcing di atas. Tak jauh dari situ, di sebelah kiri jalan
berdiri belasan orang barisan panah yang siap dengan busur dan anak panah. Kwee Seng tertarik dan bertanya
kepada penonton di sebelahnya, seorang Han yang agaknya adalah seorang daripada para pedagang perantau.
"Inilah saat penentuan bagi para pemenang," orang itu menerangkan, "enam orang itu adalah orang-orang pilihan
yang telah keluar sebagai pemenang beberapa perlombaan. Kini diadakan perlombaan untuk memilih yang paling
gagah di antara mereka. Pertandingan kali ini tentu seru, karena Salinga ikut. Tuh dia yang berbaju kuning!"
Kwee Seng melihat bahwa pemuda yang berbaju kuning adalah seorang muda yang memang tampan dan gagah, kudanya
berbulu putih dan ia berada di tempat paling kiri. Lima orang pemuda lain juga gagah-gagah, bertubuh kekar dan
sinar matanya penuh semangat.
"Perlombaan apa saja yang akan dipertandingkan?" ia bertanya gembira. Orang itu menengok. Melihat orang yang
bertanya, biarpun dari suaranya jelas seorang Han, namun pakaiannya yang compang-camping dan sikapnya yang
bebas lepas dan tertawa-tawa menunjukkan bahwa orang ini tak beres otaknya, maka ia lalu menjawab singkat,
"Kaulihat saja, tak usah banyak tanya!"
Kwee Seng membelalakkan mata, mengangkat pundak dan tersenyum lebar. Manusia di mana-mana masih belum dapat
melempar wataknya yang buruk, yaitu menilai seseorang dari pakaiannya. Makin indah pakaianmu, makin di hormat
oranglah kamu ! Akan tetapi ia tidak peduli dan melongok-longok, mendesak di antara banyak orang untuk dapat
menonton lebih jelas.
Sementara itu, di panggung, Bayisan memohon kepada Raja untuk mengikuti pertandingan ini. "Ahh," jawab Raja
Kulu-khan. "Siapa yang tidak tahu bahwa kau adalah Panglima Muda dan memiliki kepandaian tinggi ? Apa perlunya
kau hendak ikut pertandingan?"
Bayisan tersenyum. "Hamba rasa amatlah perlu, untuk memberi contoh dan menambah kegembiraan para peserta, dan
hal ini dapat menarik perhatian para muda kita agar mereka berlatih lebih giat lagi. Bukankah dengan cara ini,
Paduka kelak akan mendapatkan banyak pemuda-pemuda perkasa?"
Raja Kulu-khan tersenyum. Di dalam hatinya ia maklum bahwa panglima mudanya ini juga mencari kesempatan "jual
muka" memamerkan kepandaian, akan tetapi karena alasan tadi ada benarnya pula, maka ia mengangguk memberi ijin.
"Heh-heh-heh, Bayisan, hati-hati kalau kau sampai kalah, bisa jatuh nama!" Panglima Tua Kalisani menegur
Bayisan dengan suaranya yang penuh kelakar. Memang Kalisani terkenal sebagai seorang yang suka bergurau dan
selalu berwatak gembira. Dia juga terhitung masih sanak dengan keluarga raja.
Bayisan hanya tersenyum mengejek, lalu mengerling ke arah Puteri Tayami sambil berkata, "Mana mungkin aku kalah
dengan segala macam perwira seprti mereka itu?" setelah berkata demikian, ia memberi hormat kepada raja dan
meloncat turun dari panggung. Ucapan ini secara langsung merupakan ejekan terhadap diri Salinga, pemuda pilihan
hati Tayami, hal ini tentu saja dimengerti oleh Tayami sendiri, maupun Raja Kulu-khan dan juga Kalisani.
Ketika Kwee Seng melihat Bayisan datang menunggang seekor kuda merah, ikut berjajar sebaris dengan enam orang
penunggang kuda, tangannya gatal-gatal untuk segera menerjang orang yang telah berbuat curang terhadapnya itu.
Akan tetapi ia menahan nafsu hatinya karena maklum bahwa perbuatannya itu tentu akan menimbukan kegemparan dan
kalau ia kemudian dikepung oleh samua orang Khitan meloloskan diri ? Lebih baik ia bersabar dan menanti sampai
terbuka kesempatan, turun tangan di waktu malam sunyi.
Raja memberi tanda dengan tangan diangkat ke atas, terompet tanduk menjangan dibunyikan orang dan perlombaan
ketangkasan dimulai. Peserta paling kanan dengan kuda hitamnya, seorang pemuda yang tubuhnya kokoh kuat seperti
batu karang, berteriak keras, kudanya dicambuk dan larilah binatang ini cepat laksana terbang. Debu mengepul
tinggi dan para penonton mengulur leher mengikuti larinya kuda yang makin mendekati barisan tombak yang
menghalang jalan. Kwee Seng sudah tidak tampak lagi di antara penonton, karena ia sudah enak-enak duduk di atas
cabang pohon, tertawa-tawa dan dapat menonton dengan enak.
Setelah tiba dekat barisan tombak, pemuda berkuda hitam itu berseru keras dan kudanya melompat ke atas. Hebat
lompatan kuda ini. Keempat kakinya hampir menyentuh ujung tombak. Ketangkasan yang luar biasa akan tetapi juga
permainan yang amat berbahaya. Sebuah saja dari keempat kaki kuda itu menyentuh mata tombak, tentu tubuh kuda
akan terguling dan jatuh di "sate" ujung banyak tombak, mungkin berikut penunggangnya ! Namun kuda hitam
bersama penunggangnya amatlah tangkas, secepat kilat kuda itu sudah mewakili barisan tombak dan turun dengan
selamat, menimbulkan debu mengebul tinggi dan sorak-sorai tepuk tangan gemuruh dari para penonton. Raja
mengangguk puas. Makin banyak ia mempunyai orang-orang setangkas itu, makin kuatlah Kerajaan Khitan.
Akan tetapi lomba ketangkasan itu belum selesai. Ujian bukan hanya sampai pada melompati barisan mata tombak.
Ini masih belum berbahaya ! Ujian kedua lebih hebat lagi, yaitu melalui barisan anak panah. Penunggang kuda
hitam sudah melarikan kudanya cepat-cepat, kembali lagi setelah tiba di ujung sana untuk memasuki lingkungan
barisan anak panah, yang sudah siap sedia. Begitu kuda itu memasuki lingkungan itu, busur-busur di pentang dan
melesatlah puluhan batanga anak panah, menyambar ke arah tubuh Si Penunggang Kuda. Semua pelepas anak panah
adalah ahli-ahli pilihan sehingga tidak sebatang pun anak panah yang akan mengenai tubuh kuda, melainkan
menyambar tepat di atas tubuh kuda, lewat dengan cepat, dekat sekali dengan punggung, bahkan ada yang
menyerempet pelana di punggung kuda. Akan tetapi Si Penunggang Kuda yang cekatan itu tahu-tahu telah lenyap
dari atas kuda. Demikian cepatnya gerakan itu sehingga ia seolah-olah menghilang, padahal ketika anak-anak
panah menyambar, penunggang ini sudah menjatuhkan diri ke kiri, terus tubuhnya menggantung ke bawah perut kuda,
hanya kedua kakinya yang menahan tubuh, kedua kaki yang dikaitkan kepada pelana kuda itu. Kuda lari terus,
penunggangnya bergantung dibawahnya, sungguh ketangkasan yang mengagumkan ! Tepuk tangan dan sorak-sorai
menyambut ketangkasan ini setelah kuda besarta penunggangnya selamat melewati barisan anak panah. Dengan
gerakan indah Si Penunggang mengayun tubuhnya dan dari sebelah kanan perut kuda ia telah duduk kembali dengan
tegaknya !
Ujian ke tiga adalah ujian ketangkasan memanah. Sambil menunggang kuda yang mengitari lapangan, Si Penunggang
Kuda hitam itu mementang busur dan berturut-turut ia melepas anak panah yang menancap tepat pada dada dan perut
boneka besar manusia yang menjadi sasaran dan ditempatkan di tengah lapangan. Tujuh kali Si Penunggang Kuda
hitam itu melepas anak panahnya, dan lima di antaranya menancap tepat di tengah dada, yang dua agak meleset,
menancap di pundak dan paha. Namun ini saja sudah cukup menyatakan bahwa ia lulus ! Dengan bangga Si Penunggang
Kuda hitam itu lalu menjalankan kudanya ke bawah panggung, melompat turun dan berlutut ke arah raja, kemudian
menuntun kudanya berdiri di pinggir ikut menonton peserta-peserta berikutnya
Peserta ke dua mengalami saat naas baginya. Ketika kudanya melompati barisan tombak, di bagian terakhir kudanya
terjungkal, jatuh ke bawah. Perut kuda tertembus tombak-tombak itu dan penunggangnya pun mengalami nasib yang
sama, perut dan dadanya tembus oleh tombak. Penonton berseru kengerian dan beberapa orang penjaga segera lari
mendatangi untuk membawa pergi mayat kuda dan orang. Korban mulai jatuh dan permainan berbahaya ini, dan
penonton mulai tegang !
Peserta ke tiga selamat melampaui barisan tombak, dan ketika melampaui barisan anak panah, kurang cepat ia
bersembunyi sehingga pundak dan pahanya terserempet anak panah. Dalam keadaan luka ringan ini ketika ia memanah
orang-orangan, di antara tujuh batang anak panahnya, hanya dua yang mengenai sasaran, maka tentu saja ia pun
dinyatakan gagal !
Peserta ke empat hanya berhasil melampaui barisan tombak. Ia terjungkal roboh dengan anak panah menancap di
perut dan lehernya ! Kembali ada korban yang kehilangan nyawanya dalam lomba ketangkasan ini. Namun para
penonton tidak lagi menjadi ngeri. Bahkan menjadi makin tegang, karena sekarang ternyata oleh mereka betapa
sukarnya olah ketangkasan yang diperlombakan ini.
Ketika peserta ke lima yang mukanya sudah pucat melihat betapa rekan-rekannya gagal bahkan ada yang tewas itu
membentak kudanya mulai mulai lari membalap, semua orang memandang penuh ketegangan. Peserta ke lima ini
tubuhnya jangkung kurus namun bahunya bidang dan lengannya kelihatan kuat. Ia berhasil melompati barisan
tombak, berhasil pula melewati barisan anak panah dengan cara sembunyi di bawah perut kuda seperti dilakukan
peserta pertama, akan tetapi ketika ia memperlihatkan keahliannya memanah, di antara tujuh batang anak panahnya
hanya dua yang menancap pada perut sasaran, yang lima meleset semua. Kegagalan inilah yang menyebabkan ia
dianggap tidak lulus, tidak diterima menjadi calon panglima dan hanya dinaikkan pangkatnya satu tingkat saja.
Namun ia masih beruntung kalau dibandingkan dengan rekan-rekannya yang tewas atau terluka parah.
Tibalah kini giliran Salinga. Begitu pemuda berkuda putih ini maju, para penonton bertepuk tangan. Pemuda ini
amatlah tampan dan sikapnya tenang, jelas bahwa orangnya rendah hati dan tidak sombong, namun pandang matanya
yang tajam itu membayangkan semangat dan keberanian yang luar biasa. Para penonton yang sudah tahu bahwa pemuda
ini adalah pilihan puteri mahkota, tentu saja simpati dan mengharapkan pemuda ini akan berhasil baik dan lulus.
Sebaliknya, Puteri Tayami biarpun kelihatan tenang-tenang saja, diam-diam ia merasa kuatir kalau-kalau
kekasihnya takkan berhasil. Perlombaan atau ujian sehebat ini hanya diadakan beberapa tahun sekali kalau raja
berkenan hendak memilih calon-calon panglima yang harus benar-benar gagah perkasa.
Seperti juga yang lain-lain. Salinga membawa kudanya ke depan panggung, lalu ia turun dan memberi hormat sambil
berlutut ke arah raja. Kemudian matanya mengerling sekilas ke arah kekasihnya. Alangkah besar hatinya ketika ia
menerima kiriman senyum dari Tayami, senyum yang menimbulkan keyakinan di dalam hatinya bahwa demi untuk puteri
pujaannya, ia harus dan akan berhasil !
Pada saat ia bangun kembali dan melompat ke atas punggung kudanya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda
dan tahu-tahu seekor kuda berbulu merah telah berada di dekatnya. Salinga tercengang ketika mengenal
penunggangnya yang bukan lain adalah Panglima Muda Bayisan ! Segera ia menjura di atas kuda putihnya dan
berkata.
"Salam, Tuan Panglima!" "Salam, perwira Salinga yang gagah!" balas Bayisan. "Ada pesan apa gerangan yang hendak
Tuan sampaikan kepada saya?"
"Tidak ada apa-apa Salinga. Hanya, melihat bahwa peserta terakhir tinggal engkau seorang dan aku yang hendak
mencoba-coba sukarnya ujian, sebaliknya kita lakukan itu bersama. Bukankah hal itu akan menambah kegembiraan
dan akan membesarkan hati kita, juga menggembirakan para penonton?"
Tentu saja Salinga maklum bahwa di antara para saingannya dalam berebut hati tuan puteri, Bayisan ini merupakan
saingan terberat dan juga paling berbahaya. Sudah seringkali kekasihnya, Puteri Tayami, memperingatkan agar ia
berhati-hati terhadap Bayisan. Ia tentu saja dapat menduga bahwa panglima muda yang sebetulnya juga pangeran
ini mempunyai maksud tersembunyi dalam mengajak ia melakukan ujian bersama. Terang bahwa Bayisan takkan mungkin
berani mencelakainya di depan begitu banyak saksi, di antaranya raja dan puteri mahkota sendiri. Salinga
menaruh curiga dan tidak suka, akan tetapi betapapun juga, tak dapat ia menolak, tak dapat ia berlaku tidak
hormat kepada Bayisan. Pertama, Bayisan adalah panglima muda, jadi masih termasuk atasannya biarpun ia
dimasukkan ke dalam pasukan yang langsung dikepalai panglima tua. Ke dua, Bayisan adalah putera raja sendiri,
biarpun hanya putera selir yang tidak begitu harum namanya karena menjadi selir raja atas kehendak suaminya
yang kemudian di hukum mati.
"Tuan Panglima amat gagah perkasa, tentu saja ujian ini sebagai main-main belaka, berbeda dengan saya yang
harus mempertaruhkan nyawa untuk dapat lulus." Kata salinga merendah.
Mendengar ini, Bayisan tertawa bergelak dan sengaja berkata dengan suara keras agar terdengar orang lain,
terutama tentu saja, agar terdengar Puteri Tayami.
"Ha-ha-ha, mempertaruhkan nyawa untuk permainan macam itu saja ? Ha-ha, kau berkelakar, Salinga ! Siapa yang
tidak tahu akan ketangkasanmu ? Hayolah, jangan membuang waktu lagi. Kuda kita sama-sama baik, usiamu lebih
muda daripada usiaku, tentu kau lebih tangkas. Ha-ha!" Bayisan lalu mencambuk kudanya yang melesat maju. Merah
muka Salinga karena ia maklum apa yang dimaksudkan oleh Bayisan tadi, akan tetapi ketika ia mengerling ke arah
panggung, ia melihat Tayami kembali tersenyum kepadanya, senyum yang mengatakan berpihak kepadanya. Ia pun
tersenyum pula dan mencambuk kuda putihnya yang terbang maju ke depan.
Penonton bersorak riuh rendah. Hebat memang melihat kedua orang gagah itu. Kuda yang mereka tunggangi juga
merupakan kuda pilihan. Kuda putih tunggangan Salinga adalah kuda pemberian Puteri Tayami, tentu saja merupakan
kuda pilihan dari kandang istana. Adapun kuda merah tunggangan Bayisan juga datang dari kandang istana, karena
kuda ini hadiah dari raja sendiri ketika ia berhasil menumpas pasukan musuh beberapa hari yang lalu. Banyak di
antara penonton hanya mendengar kegagahan panglima muda dari cerita para anggota pasukan belaka, jarang ada
yang pernah menyaksikan sendiri, maka kesempatan yang amat baik tentu saja menggembirakan hati mereka.
Sementara itu, Kwee Seng yang ikut merasa tegang dan gembira, tiba-tiba terkejut bukan main ketika ia mendengar
suara berkeresekan di atasnya dan ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat seorang kakek tua sudah duduk di
atas cabang, hanya dua meter di sebelah atasnya ! Inilah yang membuat ia merasa kaget bukan main. Biarpun ia
tadi memperhatikan ketegangan di bawah, namun bagaimana ia tidak dapat mendengar ada orang yang tahu-tahu
berada di atasnya ? Ia memperhatikan kakek itu. Kakek yang aneh sekali. Pendek, luar biasa pendeknya
paling-paling satu meter tingginya. Tubuhnya, kaki tangannya, kecil seperti kaki tangan anak berusia sepuluh
tahun, akan tetapi kepalanya sebesar kepala orang dewasa, bahkan lebih besar lagi tampaknya karena rambutnya
yang penuh uban itu riap-riapan, kumis jenggotnya memenuhi separuh muka, alisnya juga panjang sampai ke pipi,
bibir yang merah tampak membayang di antara kumis jenggot, tersenyum-tersenyum lebar dan matanya yang kecil itu
bersinar gembira seperti anak yang nakal. Di pundaknya sebelah kanan bertengger seekor burung, burung hantu
atau burung malam yang matanya seperti mata kucing, kelihatan cerdik licik dan menakutkan! Sekali pandang saja
maklumlah Kwee Seng bahwa kakek pendek aneh yang duduk di sebelah atasnya itu adalah seorang yang berkepandaian
tinggi, maka ia bersikap hati-hati dan waspada. Ia tidak pernah mendengar di dunia kang-ouw ada tokoh macam
ini, maka ia tidak tahu dari golongan mana kakek ini dan bagaimana pula sepak terjang serta wataknya.
Karena sejak tadi ia sendiri tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya, bahkan ketika naik ke atas pohon itu
pun ia mendaki seperti orang biasa, maka Kwee Seng merasa yakin bahwa tak seorang pun dapat menduga ia
berkepandaian, juga kakek itu tentu tidak. Maka ia segera pura-pura tidak melihatnya, atau tidak
mempedulikannya, tertawa-tawa dan bertepuk-tepuk tangan melanjutkan keasyikannya tadi menonton perlombaan.
Tangkas sekali Salinga dengan kuda putihnya. Sambil mengeluarkan teriakan nyaring, Salinga mencambuk dan
kudanya melompat ke atas melewati barisan tombak. Rambut dan ujung baju Salinga berkibar-kibar bersama ekor
kuda ketika mereka melayang di atas barisan tombak, selamat sampai di ujung dan turun kembali ke atas tanah.
Akan tetapi, lebih hebat sorak-sorai menyambut lompatan kuda merah yang ditunggangi Bayisan. Panglima muda ini
sengaja melompat tepat di belakang Salinga dan begitu kuda merahnya melompat diam-diam Bayisan mengerahkan
lwee-kang dan gin-kangnya. Ia menjepit perut kudanya dan menambah tenaga loncatan kuda dengan loncatannya
sendiri sehingga dia bersama kudanya melayang jauh lebih tinggi daripada Salinga ! Para penonton dengan jelas
melihat betapa kuda merah itu semeter lebih berada di atas kuda putih dan melayang lebih cepat. Kalau saja
Bayisan menghendaki, bisa saja ia menurunkan kuda merahnya tepat di atas Salinga sehingga pemuda itu dengan
kuda putihnya akan celaka. Kalau hal ini terjadi, tentu merupakan kecelakaan yang tidak disengaja, namun ia
tetap kuatir kalau-kalau Raja dan Tayami mengetahui rahasianya, selagi para penonton menahan napas dan berseru
kaget melihat kuda merah meluncur di atas kuda putih, tiba-tiba Bayisan berseru keras sekali dan tahu-tahu kuda
merahnya itu berjungkir balik membuat salto di udara dan turun beberapa meter di sebelah depan kuda putih !
Gemuruh sorak dan tepuk tangan menyambut pertunjukan yang hebat ini. Bahkan Kwee Seng sendiri yang ikut
bertepuk tangan, diam-diam terkejut dan kagum menyaksikan kelihaian Bayisan. Ia tahu bagaimana caranya Bayisan
melakukan semua itu, dan inilah pula yang menyebabkan ia kagum karana tokoh Khitan itu ternyata amat maju dalam
lwee-kang dan gin-kangnya. Kalau semua orang bertepuk dan bersorak, adalah kakek di atas Kwee Seng itu
bersungut-sungut, "Ah, bau...! Bau...!" Kwee Seng mendengar ini akan tetapi pura-pura tidak dengar dan tidak
tahu, karena sebenarnya ia pun tidak mengerti mengapa kakek itu mengatakan bau. Bau apa sih ?
Dengan lagak dibuat-buat Bayisan sengaja minggirkan kudanya dan memberi isyarat dengan tangan agar Salinga
melarikan kudanya terlebih dahulu memasuki barisan anak panah. Para penonton sudah diam semua karena kini
mereka mulai merasa tegang. Bagaimanakah gerangan cara kedua orang gagah ini menghadapi hujan anak panah ?
Apakah juga seperti yang dilakukan peserta pertama tadi bersembunyi di bawah perut kuda ? Cara seperti ini
memang amat populer di antara orang-orang Khitan dan boleh dibilang setiap prajurit mempelajarinya, walaupun
tidak banyak berhasil baik karena cara ini hanya dapat menyelamatkan diri dalam keadaan darurat saja. Dalam
keadaan darurat saja. Dalam keadaan perang sungguh-sungguh, cara ini malah kurang tepat karena biarpun tubuh
sendiri tidak terkena anak panah, kalau kudanya yang terkena dan roboh, bukankah penunggangnya akan tergencet
dan memudahkan musuh untuk membunuhnya? Betapapun juga, cara lain tidak ada dan kini menyaksikan dua orang muda
itu memasuki barisan panah, tentu saja para penonton, termasuk raja sendiri dan juga puteri mahkota, memandang
penuh perhatian dan ketegangan.
Ketika kudanya telah memasuki barisan anak panah, begitu terdengar menjepret dan anak panah menyambar-nyambar,
sekali menggentakkan tubuhnya, Salinga telah meloncat dan berdiri di atas punggung kudanya, berdiri sambil
menekuk lutut membuat tubuhnya sependek mungkin, hampir berjongkok. Dengan begini, anak panah menyambar ke
arahnya ke seluruh bagian tubuh dari kepala sampai ke kaki ! Karena para pemanah itu memang diperintahkan untuk
memanah Si Penunggang Kuda dan sama sekali tidak boleh memanah kudanya. Begitu puluhan batang anak panah itu
sudah menyambar dekat, tiba-tiba Salinga berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas dalam keadaan masih
seperti berjongkok. Kudanya lari ke depan, akan tetapi karena Salinga juga mencelat ke depan, ketika ia turun
lagi, tepat kakinya tiba di atas pelana kudanya. Kembali anak panah menyambar, akan tetapi kembali tubuh
Salinga mencelat ke atas dan demikianlah secara bertubi-tubi anak panah itu dapat dielakkan sambil meloncat ke
atas dengan gerakan yang tangkas sekali !
Sorak-sorai menyambut cara menghindarkan anak-anak panah ini, cara yang dianggap lebih tangkas dan lebih berani
daripada cara bersembunyi di perut kuda, akan tetapi sudah tentu saja merupakan cara yang lebih sukar, yang
hanya dapat dipelajari orang-orang pandai. Tiba-tiba sorak-sorai lebih menggegap-gempita ketika Bayisan dengan
tenangnya memasuki barisan anak panah bersama kudanya yang ia jalankan seenaknya saja. Anak panah menyambar
bagaikan hujan ke arahnya, namun panglima muda ini sama sekali tidak membuat gerakan mengelak. Semua orang
termasuk raja kaget karena bagaimana orang itu begitu enak-enakan sedangkan puluhan anak panah menyambar dengan
cepat ke arahnya ? Akan tetapi tiba-tiba Bayisan menggunakan cambuk di tangan kanan yang diputar-putar cepat
sekali, menangkis semua anak panah yang runtuh ke kanan kiri begitu terkena sambaran cambuk yang diputar.
Tangan kirinya juga ikut membantu, begitu lengan baju yang kiri menyampok, anak panah menyeleweng atau
terpental kembali Kwee Seng diam-diam memuji. Kiranya Bayisan sudah banyak maju dan kalau dibandingkan dengan
beberapa tahun yang lalu.
"Ah, bau...! Tengik dan kecut ! Jembel busuk tak pernah mandi!" Terdengar makian perlahan di sebelah atas Kwee
Seng. Mendengar makian ini, Kwee Seng mengerutkan kening. Kurang ajar, pikirnya. Kiranya yang dimaki bau tengik
dan kecut adalah dia ! Dengan hati mendongkol Kwee Seng berdongak, memandang kakek itu yang juga memandang
kepadanya sambil menutup lubang hidung dengan telunjuk dan ibu jari yang menjepit hidung.
"Heh-heh, kakek cebol. Bau tengik dan kecut itu datangnya dari jenggot dan kumismu. Coba kau cukur bersih
cambang baukmu, tentu lenyap bau tak enak itu, heh-heh-heh!"
Mendengar ini, kakek itu melepaskan dekapan pada hidungnya, lalu tangannya menyambar jenggot dan kumisnya yang
panjang, dibawa dekat-dekat ke ujung hidung lalu ia mendengus-dengus dan mencium-cium. Mendadak ia berbangkis
dua kali.
"Haching ! Haching ! Apek... apek ! Wah, jembel busuk, kau berani mempermainkan aku, hah ? Burung setan, kau
wakili aku pancal hidungnya sampai keluar kecap dan tampar kedua pipinya sampai bengkak-bengkak!" Kakek itu
berkata perlahan.
Kwee Seng memang sudah siap sedia menghadapi segala kemungkinan, karena orang takkan dapat menduga apa yang
akan dilakukan seorang kakek aneh seperti itu, akan tetapi ia kaget juga ketika tiba-tiba sesosok sinar abu-abu
menyambaar ke arah mukanya, kiranya burung hantu itu telah menyerang dengan gerakan terbang yang sama sekali
tidak menimbulkan bunyi, tahu-tahu burung itu telah menggunakan paruhnya untuk mematuk hidungnya, disusul
tamparan dengan kedua sayap burung itu ke arah kedua pipinya ! Serangan yang hebat sekali, lebih hebat daripada
sambaran anak-anak panah yang betapa laju pun.
"Plak-plak-plak!!!" Beberapa helai bulu burung rontok dan burung itu sendiri mengeluarkan suara "huuuk...
huuuuk...!" terbang ke atas, lalu lenyap ke atas pohon, mengeluh kesakitan. Hidung Kwee Seng sama sekali tidak
mengeluarkan kecap dan sepasang pipinya tidak bengkak-bengkak seperti yang diharapkan kakek cebol itu. Kwee
Seng masih duduk enak-enakan dan tidak pedulikan lagi kakek di atasnya, melainkan menonton kelanjutan
perlombaan di bawah. Tadi ia menggunakan sentilan dan tamparan mengusir burung tanpa membunuhnya karena ia tahu
bahwa burung itu tidak bersalah apa-apa, hanya memenuhi perintah Si Kakek Cebol.
Saat itu, Salinga sudah melarikan kuda putihnya mengelilingi lapangan untuk memperlihatkan ketangkasannya
melepas anak panah. Pemuda ini biarpun tidak selihai bayisan namun ketangkasannya sudah cukup untuk menjadi
seorang perwira jagoan di dalam barisan Khitan. Gendewanya yang besar dan berat mengeluarkan suara menjepret,
hanya dua kali dan tahu-tahu tujuh batang anak panah telah menancap, empat batang anak panah yang kesemuanya
tepat mengenai sasaran di bagian yang penting dan mematikan. Tentu saja para penonton, termasuk Puteri Tayami
sendiri, menyambut ketangkasan ini dengan tepuk sorak gemuruh, karena jelas bahwa Salinga telah lulus ujian dan
patut menjadi calon panglima !
Akan tetapi, apa yang dilihat penonton selanjutnya, benar-benar membuat penonton besorak lebih gemuruh lagi,
karena pertunjukan Bayisan benar-benar mengagumkan mereka. Seperti juga Salinga, panglima muda ini melarikan
kuda merahnya amat cepat mengelilingi lapangan, demikian cepatnya kuda merah itu lari sehingga merupakan
bayangan merah yang bagaikan terbang mengelilingi sasaran. Ketika larinya kuda tiba di depan sasaran, tiba-tiba
tampak sinar berkilauan menyambar dari atas kuda menuju sasaran, dan .... Tiga belas batang hui-to (pisau
terbang) telah menancap di tiga belas bagian tubuh yang mematikan yaitu di antara kedua alis, ditenggorokan, di
kedua pundak, di kanan kiri dada, di pusar, di kanan kiri lambung, dikedua paha dan kedua lutut!. Tentu saja
ini merupakan demonstrasi ilmu melempar senjata yang amat hebat, yang belum pernah disaksikan oleh mereka
semua. Memang sebenarnya Bayisan merahasiakan kepandaiannya ini, akan tetapi karena ingin memamerkan
kepandaiannya di depan Tayami, untuk mengalahkan Salinga, terpaksa kini ia perlihatkan.
Bau... bau...! He, jembel muda yang tengik. Kau berada di bawahku, baumu naik memenuhi hidungku. Hayo kau
bersamaku memeperlihatkan kepada monyet-monyet itu bahwa tidak ada artinya semua pertunjukan ini. Akan tetapi
karena kau bau sekali, kau harus berada di atasku, aku menjadi kuda, kau boleh menunggang punggungku!"
Kwee Seng berdongak ia terkekeh geli. Kakek itu tidak tampak lagi mukanya, ditutup baju yang ditariknya ke
atas, kemudian tubuh kakek itu melayang jauh ke bawah, di depannya menyambar tangannya untuk ditarik bersama ke
bawah. Kwee Seng terkejut, namun ia cepat mengerahkan gin-kangnya yang ikut melayang ke bawah. Maklum bahwa
kakek ini memang hendak main-main dan cari perkara, ia merasa gembira dan begitu melihat kakek itu tiba di
tanah dalam keadaan merangkak, yaitu kedua tangan menjadi kaki depan, muka seekor keledai kecil sekali, ia
tidak merasa sungkan-sungkan lagi dan melayani kehendak Si Kakek, cepat ia melompat dan tepat tiba di punggung
kakek itu dengan ringan !
Begitu merasa tubuh jembel muda itu tiba-tiba di punggungnya, Si Kakek memperdengarkan suara meringkik mirip
kuda, lalu ia "lari" dengan empat kakinya, lari congklang ke tengah lapangan ! Kwee Seng terkekeh-kekeh,
rambutnya riap-riapan, dan ia menoleh ke kanan kiri dengan lagak congkak, meniru lagak Bayisan dan lain-lain
peserta tadi. Seolah-olah ia juga seorang peserta yang gagah perkasa menunggang kuda yang tangkas.
Ributlah para penonton, terdengar gelak tawa di sana-sini, lalu memecah terbahak-bahak. Lucu sekali memang.
Penunggangnya seorang jembel berpakaian compang-camping penuh tambalan, rambutnya riap-riapan bertelanjang
kaki, "kudanya" mirip seekor anjing buduk yang pincang kakinya.
Para perajurit penjaga menjadi marah dan hendak menghalangi Si Gila itu membikin kacau, akan tetapi raja
mengangkat tangan mencegah. Sambil tertawa-tawa Raja Kulu-khan berkata, "Biarkan! Biarkan! Bukankah ini
merupakan pertunjukan lawak yang menarik?"
Diam-diam Si Kakek aneh itu kagum ketika tadi merasa tubuh jembel muda itu tiba di punggungnya seperti sehelai
daun kering. Rasa kagum yang disusul rasa penasaran karena biarpun ia adalah sudah tua bangka, namun ia adalah
seorang yang memiliki watak yang tidak mau kalah oleh siapapun juga ! Maka kini ia lari mencongklang ke arah
barisan tombak. Kemudian sekali ia menggerakkan kaki tangannya, tubuhnya mencelat ke atas dan hinggap di atas
tombak ! Di atas ujung mata tombak yang runcing, yaitu empat buah tombak pertama, tangan dan kakinya menekan
ujung itu seperti seekor burung hinggap di atas cabang ! Kwee Seng terkejut sekali dan diam-diam ia merasa amat
kagum.
Gelak tawa dari para penonton seketika terhenti, dan kini para penonton melongok terheran-heran. Raja Kulu-khan
sendiri terhenti di tengah-tengah senyumnya. Puteri Tayami bangkit berdiri, dan para penglima, termasuk
Kalisani dan Bayisan berubah air mukanya. Ini bukan pelawak-pelawak gila lagi, melainkan pertunjukan yang hebat
! Bayisan segera lari ke arah barisan panah dan memberi perintah dengan suara perlahan, kemudian kembali lagi
di tempat semula sambil memandang penuh perhatian.
Tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya, kakek yang menjadi kuda itu melangkahkan "empat kakinya" setapak demi
setapak melalui ujung mata tombak yang berjajar-jajar itu, sedangkan Kwee Seng enak-enak duduk di atas
punggungnya. Karena Kwee Seng juga merasa panas perutnya melihat kakek ini seakan-akan memamerkan
kepandaiannya, maka diam-diam Kwee Seng tidak menggunakan lagi gin-kangnya, membiarkan tubuhnya memberat dan
menindih kakek itu. Akan tetapi, kakek itu cerdik juga karena sekarang ia cepat melompat-lompat di atas mata
tombak, tidak menekankan tangan kaki lagi seperti tadi melainkan memegang dengan tangan lalu melompat sehingga
akhirnya ia sampai di baris terakhir lalu melompat ke bawah.
Para penonton sudah sadar kembali dari kaget dan heran, maka kini suara sorak-sorai mengalahkan yang tadi
karena sorakan itu diseling tawa terbahak saking kagum dan lucu. Akan tetapi, suara ketawa mereka itu hanya
sebentar karena "orang gila" bersama "kudanya" yang aneh sekali itu telah mendekati barisan anak panah. Apakah
mereka benar-benar hendak memasuki barisan itu ? Mencari mampus ?
Ketegangan memuncak karena Kwee Seng yang masih enak-enak "nongkrong" di punggung kakek itu seakan-akan tidak
melihat bahaya, membiarkan dirinya dibawa ke dalam barisan anak panah, di mana ahli-ahli panah telah siap
melepaskan anak panah. Busur telah mereka tarik sepenuhnya ! Bahkan di panggung kehormatan, tidak ada suara
berkelisik semua mata memandang penuh ketegangan, agaknya napasnya pun ditahan menanti detik-detik yang akan
datang itu. Dari mulut Raja Kulu-khan terdengar suara. "Ah, sayang... kalau sampai mereka tewas..." Akan tetapi
suara ini hanya seperti bisik-bisik saja, pula pada saat seperti itu, siapa orangnya tidak ingin menyaksikan
bagaimana kelanjutan peristiwa aneh itu ? Raja sendiri biarpun mulut berkata demikian, hatinya amat ingin
menyaksikan dan tentu akan melarang kalau ada yang hendak menghalangi orang gila itu memasuki barisan anak
panah.
Para ahli panah yang telah menerima bisikan dari Bayisan, menanti sampai orang gila itu tiba di tengah-tengah
lapangan, dan tepat pula seperti yang diperintahkan Bayisan, mereka memanah untuk membunuh, maka begitu
terdengar suara tali busur menjepret disusul berdesirnya anak panah yang puluhan batang banyaknya, semua anak
panah itu selain menuju ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Kwee Seng, juga ada yang mengaung lewat di
pinggir dan aras kepalanya intuk mencegah orang gila itu mengelak !
"Aduh celaka...!" "Ahh...!" "Mati dia...!"
Bahkan Raja Kulu-khan sendiri mengeluarkan seruan kecewa, demikian pula puteri Tayami dan yang lain-lain ketika
melihat betapa anak-anak panah yang banyak sekali mengenai tubuh "orang gila" itu sehingga tubuhnya seperti
penuh anak panah, di kanan diri dada, bahkan ada yang menancap di mukanya ! Akan tetapi anehnya, "kuda" kecil
itu masih merayap terus dan orang gila itu masih enak-enak duduk mengantuk, seakan-akan anak-anak panah yang
menancap pada dada dan mukanya itu tidak dirasainya sama sekali ! Kembali anak panah yang banyak sekali
menyambar, kini menuju kepada "kuda"! Berbeda dengan peraturan yang berlaku dalam ujian ketangkasan itu, kini
karena telah diberi komando Bayisan yang tahu bahwa dua orang itu adalah orang-orang pandai yang agaknya
memancing keributan, mereka lalu menghujani "kuda" itu dengan anak panah pula.
"Anak kecil itu pun mati...!" teriak orang-orang yang menonton yang tentu saja sudah dapat menduga bahwa kuda
itu adalah kuda palsu, bukan kuda melainkan seorang manusia. Tentu seorang anak-anak karena kaki tangannya
begitu kecil dan pendek.
Aneh pula, seperti halnya penunggangnya, kuda palsu itu pun sama sekali tidak mengelak dan tubuhnya pun penuh
dengan anak panah ! Akan tetapi, lebih aneh lagi, dia masih saja merangkak-rangkak, bahkan kini menuju ke
lapangan di mana tersedia sasaran boneka besar untuk menguji kepandaian memanah !
Barulah kini orang-orang melihat bahwa anak-anak panah yang disangka menancap di dada orang gila itu sama
sekali bukan menancap, melainkan di kempit di antara kedua kelek (ketiak) dan di antara jari-jari tangan, malah
yang tadinya disangka menancap di muka ternyata adalah anak-anak panah yang kena gigit oleh "orang gila" itu.
Entah bagaimana cara "kuda" itu menerima anak-anak panah yang kelihatannya masih menancap pada tubuhnya, karena
tubuh itu masih tertutup baju yang dikerobongkan di kepala ! Setelah tiba di lapangan memanah, tiba-tiba "kuda"
itu lari congklang, bukan main cepatnya, agaknya tidak kalah cepatnya oleh larinya kuda !
Tentu saja kenyataan itu membuat para penonton menjadi kaget, kagum, heran, dan gembira sehingga meledaklah
sorak-sorai mereka, melebihi yang sudah-sudah, Raja Kulu-khan sampai bangkit dari kursinya, Puteri Mahkota
Tayami bertukar pandang dengan Salinga, para panglima berbisik-bisik. Yang lucu adalah Kalisani. Panglima tua
ini meloncat-loncat seperti anak kecil kegirangan dan mulutnya tiada hentinya berteriak.
"Hebat... ! Mereka orang-orang sakti ! Ah, mana bisa kepandaian kita dibandingkan dengan mereka?"
Hanya Bayisan yang mukanya menjadi pucat dan matanya menyinarkan kemarahan. Pada saat itu ia mendekati seorang
pangeran yang juga merupakan putera Raja Kulu-khan dari selir, tapi lebih tua daripada Bayisan yang bernama
Pangeran Kubakan. Pangeran ini pucat mukanya, lalu berbisik-bisik dengan Bayisan.
"Siapakah mereka...?" tanya Kubakan. "Aku tidak tahu..." jawab Bayisan bingung.
"Jangan-jangan..." Kubakan menoleh ke arah ayahnya yang berdiri dan memandang kagum ke arah lapangan, malah
kini kedua tangan raja itu ikut pula bertepuk tangan memuji bersama semua penonton.
"Ah, agaknya Sribaginda pun tidak mengenalnya. Akan tetapi siapa tahu ? Malam ini kita harus turun tangan..."
Kembali Kubakan menoleh ke arah ayahnya, lalu mengangguk-angguk. Sekali lagi dua orang pangeran ini bertukar
pandang, kemudian mereka berpisah. Bayisan lari ke arah lapangan untuk menyaksikan dua orang aneh itu dari
dekat.
Setelah lari cepat seputaran dengan cara berloncatan seperti kuda, kakek yang menggendong Kwee Seng itu tiba di
depan sasaran, jaraknya sama dengan jarak para peserta tadi. Tiba-tiba Kwee Seng mengeluarkan seruan bentakan
yang nyaring sekali sehingga beberapa orang penonton yang jaraknya terlalu dekat roboh terguling. Berbareng
dengan seruan ini tubuhnya meloncat turun dari punggung "kuda" dan sekali tubuhnya itu terbang cepat ke arah
sasaran.
"Cap-cap-cap-cap!!!" Cepat sekali anak-anak panah itu terbang susul-menyusul menancap pada sasaran, tak
sebatang pun luput. Akan tetapi para penonton memandang bingung karena tidak tampak bekasnya. Setelah mata yang
memandang ridak begitu kabur lagi oleh berkelebatnya anak-anak panah itu, tampaklah oleh mereka betapa semua
anak panah yang dilepaskan oleh Kwee Seng itu telah menancap di atas gagang tiga belas buah pisau terbang
papnglima muda ! Gegerlah semua penonton saking kagum dan herannya, akan tetapi diam-diam Bayisan menjadi pucat
mukanya. Terang bahwa "orang gila" itu memusuhinya, buktinya anak-anak panah itu menancap di gagang hui-to yang
tadi ia lepaskan.
Tiba-tiba terdengar suara berkakakan dan "kuda" itu meloncat berdiri di atas dua kaki belakangnya dan tampaklah
seorang kakek cebol yang wajahnya seperti wajah patung dewa di kelenteng, kedua tangannya sudah menggenggam
banyak sekali anak panah sambil masih tertawa-tawa bergelak, keuda tangannya bergerak ke depan dan meluncurlah
anak-anak panah itu beterbangan ke arah sasaran. Anehnya, anak-anak panah itu terbangnya masih berkelompok dan
setelah dekat dengan boneka lalu terpisah menjadi lima rombongan yang menyambar ke leher, kedua pundak dan
kedua pangkal lengannya, dan kedua kakinya telah patah !
Tanpa mempedulikan keributan semua orang di situ, Kwee Seng kini berdiri dengan kakek aneh. Kakek itu tertawa
bergelak-gelak, Kwee Seng pringas-pringis menyeringai aneh, keduanya orang-orang aneh atau mungkin juga
keduanya sudah miring otaknya !
"Hoa-ha-hah, jembel muda bau busuk, kau lumayan juga ! Aku harus mencobamu!"
"Kakek cebol menjemukan ! Siapa gentar menghadapi kesombonganmu?" Kwee Seng menjawab, karena betapapun juga, ia
mendongkol melihat kakek ini amat jumawa (tekebur). Biarpun Kwee Seng berdiri acuh tak acuh, sama sekali tidak
memasang kuda-kuda seperti ahli silat, seperti juga kakek itu yang berdiri dengan kaki dibengkokkan lucu, namun
diam-diam Kwee Seng siap dan waspada karena maklum bahwa seorang sakti seperti kakek ini, sekali menyerang
tentulah amat hebat sekali.
Akan tetapi pada saat itu. Bayisan sudah mengerahkan pasukannya, siap mengurung dan menyerang dua orang ini
yang dianggapnya mengacau dan hendak membikun rusuh. Melihat ini, kakek cebol tertawa bergelak. "Aha-ha-ha !
Sudah cukup main-main hari ini, jembel muda bau, kakekmu tidak ada waktu laagi, sudah lapar dan mengantuk.
Biarlah lain hari aku akan mencarimu dan tak mau sudah sebelum kau terkencing-kencing oleh pukulanku!" Setelah
berkata demikian, kakek itu melompat-lompat, makinlama makin itnggi lompatannya yang modelnya seperti katak
melompat. Akhirnya ia melompat demikian tingginya sampai melewati kepala orang-orang banyak. Celaka bagi mereka
yang terinjak kepala atau pundaknya oleh kaki itu, karena ia lalu dipergunakan seperti batu loncatan oleh Si
Kakek Aneh sehingga kepala dan pundak mereka menjadi kotor oleh debu dan lumpur, malah hebat dan lucunya,
sambil menjejak kepala dan pundak orang, kadang-kadang Si Kakek melepas kentut yang nyaring sekali sambil
tertawa terbahak-bahak !
Kwee Seng juga segera melompat, melampaui kepala banyak orang, kemudian mempercepat larinya menjauhkan diri
dari tempat itu dan lenyap di antara pohon-pohon yang lebat tumbuh di lembah Sungai Huang-ho. Gegerlah keadaan
di situ dan Bayisan cepat mengatur pasukannya untuk melakukan penjagaan keras pada hari itu dan seterusnya.
Kalisani mendekatinya dan berkata, "Bayisan, mengapa kau ribut-ribut sendiri ? Jelas bahwa dua orang sakti itu
adalah petualang-petualang yang tidak mempunyai niat buruk terhadap kita, bahkan gaknya mereka berdua itu pun
tidak saling mengenal. Menghadapi orang-orang seperti itu, lebih baik kita menyambut mereka sebagai tamu agung
untuk dijadikan sahabat. Mengapa kita harus menjaga dan mengejar-ngejar mereka seperti maling?"
Dengan wajah berkerut, Bayisan menjawab, "Paman Kalisani, pandangan kita dalam hal ini berbeda. Betapapun juga,
aku tidak bisa mengabaikan kewajibanku menjaga keamanan Sribaginda. Malam ini harus aku sendiri yang melakkukan
perondaan di dalam istana. Siapa tahu, mereka itu akan datang dengan niat busuk, dan mereka amatlah lihai."
Setelah berkata demikian, Bayisan meninggalkan Kalisani yang masih terpengaruh oleh kepandaian dua orang itu
dan kadang-kadang tertawa sendiri mengingat akan kelucuan sepak terjang mereka. Juga diam-diam ia ingin sekali
bertemu dan berkenalan dengan mereka. Kalisani biarpun seorang tokoh Khitan, namun pengalamannya sudah luas
sekali. Sudah bertahun-tahun ia merantau ke selatan, mengenal baik ilmu silat selatan, bahkan ia seorang ahli
silat yang pandai pula. Namun belum pernah ia mendengar tentang seorang pemuda gila dan kakek cebol yang begitu
aneh.
Malam itu indah sekali. Tiada angin mengusik daun. Alam tenang tentram pada malam hari itu setelah siangnya
tadi terdengar sorak-sorai menggetarkan air sungai. Bulan purnama memenuhi permukaan bumi dengan sinarnya yang
tenang redup, membuat air Sungai Huang-ho berkilauan seperti kaca. Agaknya sudah terlalu letih semua penduduk
Paoto setelah sehari penuh tadi berpesta dan menonton keramaian, sehingga malam ini mereka tidak mempunyai
nafsu lagi untuk menikmati keindahan sinar bulan. Kecuali, tentu saja anak-anak dan orang-orang muda yang masih
selalu haus akan kesenangan.
Di tepi sungai sebelah barat kota yang sunyi, terdapat dua orang menunggang kuda perlahan-lahan, menyusuri tepi
pantai sungai yang amat lebar itu. Mereka itu sepasang orang muda, yang perempuan cantik jelita dengan rambut
disanggul ke atas, kudanya berwarna kuning, yang pria tampan gagah, memakai topi terhias bulu, kudanya berbulu
seputih salju. Mereka ini adalah Salinga dan Tayami.
"Betapa bahagianya hatiku, hanya bulan yang mengetahuinya, Dinda Tayami," terdengar pemuda itu berkata,
suaranya seperti orang bersyair. "Lihat bulan selalu tersenyum-senyum kepadaku!"
"Sudah semestinya kita berbahagia, Kanda Salinga, setelah tadi kita merasa gelisah dan bimbang. Oh, kau tidak
tahu betapa tadi aku menggigil ketika kau mengajukan permintaanmu kepada ayah. Aku tahu bahwa yang akan kau
minta tentulah diriku namun aku amat kuatir kalau-kalau ayah merubah pendiriannya selama ini. Setelah ayah
mengabulkan permintaanmu, barulah hatiku lega sekali." Mereka menghentikan kuda di bawah pohon di tepi sungai,
saling pandang penuh mesra.
"Sesungguhnyalah Adinda, aku pun tadi merasa betapa jantungku berdebar, serasa hendak pecah menanti keputusan
Sribaginda. Memang kesempatan yang amat bagus. Aku diterima menjadi calon panglima, kemudian disuruh memilih
pahala. Di depan semua panglima dan ponggawa, tentu saja aku segera memilih tanganmu sehingga persetujuan
Sribaginda merupakan keputusan Sang Ayah, banyak saksinya. Alangkah bahagia hatiku...."
Akan tetapi wajah Tayami membayangkan kekuatiran. "Betapapun juga Kanda Salinga, kita harus waspada terhadap
Kanda Panglima Bayisan. Kau lihat tadi sinar matanya ketika mendengar keputusan ayah menerima kau sebagai calon
mantunya ? Aku masih merasa ngeri kalau mengingat sinar matanya, seolah-olah memancarkan cahaya berapi."
"Ah, dia kan masih kakak tirimu sendiri. Cinta kasihnya terhadapmu tentu lebih condong kepada cinta kasih
seorang kakak terhadap adiknya."
"Kau tidak tahu, Kanda Salinga. Sudahlah, aku teringat akan dua orang aneh tadi. Apakah maksud mereka datang
mengacaukan perlombaan bangsa kita ? Si Pengemis Muda itu terang seorang Han dari selatan, entah kalau Si Kakek
Cebol. Betapapun juga, mereka berdua memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Siapa gerangan mereka?"
"Memang aneh-aneh watak orang sakti di dunia ini. Sudah banyak aku mendengar akan hal itu. Tak perlu kuatir,
mereka itu kurasa bukanlah orang-orang jahat. Dinda Tayami, lihat, betapa indahnya air sungai, betapa tenang
dan bening seperti kaca. Mari kita berperahu. Di sana ada perahu kecil."
Tanpa menjawab Tayami menuruti permintaan kekasihnya. Mereka berdua meloncat turun dari kuda, menambatkan
kendali kuda, menambatkan kendali kuda pada batang pohon, kemudian kembali bergandengan tangan dan
bernisik-bisik mesra keduanya berjalan menuju ke pinggir sungai, memasuki perahu kecil, melepaskan ikatan
perahu dan tak lama kemudian perahu itu meluncurlah ke tengah. Salinga mendayung perahu, Tayami duduk bersandar
kepadanya, merebahkan kepala pada dadanya yang bidang.
Kwee Seng berdiri di belakang pohon, memandang dengan melongo, mata terbelalak lebar dan mulut ternganga.
Memang hebat pemandangan itu, muda-mudi berkecimpung dalam madu asmara, di bawah sinar bulan purnama di dalam
biduk kecil yang diombang-ambingkan alunan air sungai sehalus kaca, rambut halus juita terurai di atas dada,
kata-kata bermadu dibisikkan, sayup-sayup sampai mendesir di telinga Kwee Seng bagaikan nyanyian sorgaloka.
Tanpa disadarinya, dua titik air mata menetes turun membasahi pipi Kwee Seng. Pikirannya menjadi kabur,
ingatannya melayang-layang jauh di masa lampau, membayangkan wajah Liu Lu Sian, wajah Ang-siauw-hwa, membuat ia
tersenyum-senyum dengan mata berkaca-kaca basah. Kemudian terbayang wajah nenek di Neraka Bumi dan tiba-tiba
Kwee Seng mengeluh, memaki diri sendiri dan menampari mukanya sambil tertawa setengah menangis. Gilanya kumat
kalau ia teringat kepada nenek itu karena tiap kali teringat akan segala yang ia perbuat dengan nenek itu di
dalam Neraka Bumi, dadanya seperti diaduk-aduk dengan pelbagai macam perasaan. Ada rasa malu, kecewa, menyesal,
bercampur dengan rasa girang, rindu muncul silih berganti, maka tidak heran kalau ia menjadi seperti orang
gila.
Mendadak Kwee Seng sadar kembali. Telinganya yang amat tajam menangkap suara-suara yang tidak wajar, suara
orang berbisik-bisik tak jauh dari sini. Cepat ia menyelinap, mendekat. Di bawah bayangan pohon yang amat
gelap, ia melihat tiga orang laki-laki, orang-orang Khitan yang berpakaian hitam.
"Ah, mengapa justeru kita yang mendapat tugas berat ini...?" Seorang di antara mereka mengeluh. "Mereka tidak
pandai berenang."
"Goblok ! Apa kau hendak membantah perintahnya ? Justeru mereka tidak pandai berenang, maka memudahkan tugas
kita. Ingat, kita menggulingkan perahu, lalu menarik perahu agar hanyut sehingga besok orang-orang hanya akan
tahu bahwa mereka berdua yang sedang main-main di perahu tertimpa malapetaka, perahu terguling dan mereka mati
tenggelam.."
"Ahhh...!" Kembali yang seorang mengeluh, yaitu orang yang tubuhnya tinggi kurus, tidak seperti yang dua orang
temannya, yang bertubuh kokoh kekar.
"Sudahlah, tak usah banyak ribut, mari kita mulai!" Tiga orang itu lalu turun ke dalam air perlahan-lahan,
kemudian mereka menyelam dan berenang dengan cepat. Kwee Seng maklum bahwa mereka bertiga adalah ahli-ahli
berenang, dan maklum pula bahwa ada komplotan jahat hendak berkhianat dan membunuh kedua orang muda yang asyik
dimabok cinta itu. Ia menarik napas berkali-kali kemudian dengan hati mangkal karena perasaannya amat terganggu
oleh peristiwa ini, karena suara hatinya tidak membolehkan dia berpeluk tangan saja, ia lalu menghantam
sebatang pohon terdekat dengan tangan dimiringkan.
"Krakkkk!" Batang pohon itu tidak dapat menahan hantaman tangan Kwee Seng yang amat ampuh, bagian yang dihantam
pecah remuk dan patah, membuat pohon itu tumbang seketika !
"Eh, apa itu...?" terdengar dari jauh suara Salinga ketika mendengar suara keras robohnya batang pohon.
"Aiihhh, Kanda... celaka...!" Disusul jeritan Tayami karena pada saat itu, perahu mereka tiba-tiba terguling
membalik dan mereka berdua terlempar ke dalam air ! Perahu itu meluncur cepat dalam keadaan tertelungkup menuju
ke tengah dan diseret arus air menjauhi mereka.
Dua orang itu megap-megap, meronta-ronta dengan kaki tangan mereka, akan tetapi karena tidak pandai berenang,
banyak sudah air yang memasuki mulut.
"Tolonggg...!" Tayami menjerit akan tetapi suaranya terhenti oleh air yang memasuki hidung dan mulut.
"Dinda...!" "Kanda Salinga... ooohh...!" Mereka saling menangkap tangan, akan tetapi justeru ini membuat
gerakan mereka mengurang dan tubuh mereka tenggelam kembali. Cepat-cepat mereka menendang-nendang dengan kaki
dan muncul lagi gelagapan. Pada saat itu, entah darimana datangnya, sebatang pohon meluncur di dekat mereka.
"Dinda Tayami, cepat pegang ini...!" Salinga berseru girang. Tak lama kemudian mereka sudah berhasil menangkap
batang pohon itu. Dengan bantuan Salinga, Tayami sudah duduk di atas batang pohon sambil muntahkan air yang
telah banyak diminumnya. Salinga sendiri memeluk batang pohon itu agar jangan bergulingan. Pakaian mereka basah
kuyup, rambut mereka terurai, akan tetapi untuk sementara mereka selamat.
"Kanda... mengapa perahu kita terguling..?" "Entahlah, tidak perlu dipikirkan sekarang. Paling penting kita
harus dapat mendayung batang ini ke pinggir..." Dengan susah payah Salinga berusaha menggerak-gerakkan batang
itu ke pinggir akan tetapi karena tidak didayung, batang pohon itu bergerak perlahan menurutkan arus sungai.
Pada saat itu, terdengar suara "huuukk.. huuukkk...!" dan menyambarlah seekor burung yang matanya berkilauan
seperti mata kucing.
"Ihhh... burung hantu...!" seru Tayami dengan perasaan ngeri. Sudah menjadi kepercayaan di daerah itu bahwa
burung hantu ini pembawa berita kematian, maka siapa bertemu dengannya tentu akan kematian seorang keluarga.
Ia... membawa bungkusan...!" seru pula Salinga terheran-heran.
Betul saja. Kuku burung itu mencengkram tali di mana tergantung sebuah bungkusan kecil. Anehnya, begitu melihat
mereka, burung itu menyambar turun dan sayapnya hampir saja mengenai muka Tayami kalau saja gadis ini tidak
cepat-cepat mengelak sambil berseru jijik. Akan tetapi burung itu bukannya menyerang, melainkan melepas tali
dan bungkusan itu jatuhlah ke depan Tayami, tepat di atas batang pohon !
"Ada tulisannya!" Tayami berseru heran melihat tulisan huruf-huruf besar dan jelas di atas bungkusan. Kalau
huruf-huruf itu tidak jelas tentu takkan dapat terbaca di bawah sinar bulan.
"LEKAS PULANG DAN ISI BUNGKUSAN INI PAKAI SEBAGAI BEDAK BARU MALAPETAKA DAPAT DICEGAH."
Tayami membaca dengan keras sehingga terdengar pula oleh Salinga. "Apa artinya ini?" "Entahlah, Dinda. Semua
terjadi serba aneh. Perahu kita terguling. Kita hampir celaka lalu tiba-tiba ada batang pohon ini yang menolong
kita. Lalu muncul burung hantu yang memberi bungkusan dan surat. Ihhh, benar-benar menyeramkan sekali.
Kausimpan bungkusan itu, mari bantu aku mendayung batang pohon itu dengan kaki agar dapat minggir." Mereka
segera bekerja dan betul saja, sedikit demi sedikit batang kayu itu bergerak ke pinggir.
Sementara itu, tiga orang Khitan yang telah selesai melakukan pekerjaan jahat itu, cepat-cepat menyelam dan
berenang ke pinggir kembali. Akan tetapi begitu mereka muncul di pinggir dan meloncat ke darat, mereka kaget
sekali karena di depan mereka telah berdiri seorang yang terkekeh-kekeh dan ketika mereka mengenal laki-laki
gila yang pagi tadi mengacaukan perlombaan, mereka menjadi ngeri.
"Heh-heh-heh, setelah membunuh lalu lari, ya?" Kwee Seng menegur. Tentu saja mereka bertiga terkejut bukan
main. Pekerjaan mereka tadi mencelakai dan membunuh puteri mahkota adalah perbuatan yang amat berbahaya. Kalau
diketahui orang, tentu mereka akan celaka, maka sekarang mendengar bahwa jembel gila ini sudah melihat
perbuatan mereka, serentak dua orang yang bertubuh tinggi besar itu mencabut golok dan menerjang Kwee Seng !
Cepat gerakan mereka ini, dan cepat pula hasil ayunan golok mereka, yaitu kepala mereka sendiri terbelah oleh
golok masing-masing sampai hampir menjadi dua dan tubuh mereka masuk ke dalam sungai dan hanyut. Hanya dengan
sentilan jari tangannya Kwee Seng telah membuat golok yang menyerangnya itu membalik dan "makan tuan". Sejenak
ia memandang dua buah mayat yang menggantikan tempat Tayami dan Salinga itu, kemudian sekali berkelebat ia
telah meloncat dan menangkap tengkuk orang ke tiga yang melarikan diri ketakutan.
"Ke mana kau hendak lari?" "Am... ampun... hamba tahu pekerjaan itu terkutuk... akan tetapi hamba terpaksa...
kalau tidak mau melakukan tentu akan dibunuh..."
"Hemm, aku mendengar tadi keraguan melakukan perbuatan itu. Siapa yang memaksamu melakukannya?"
"Panglima Muda Bayisan..." "Mengapa ? Mengapa Puteri Mahkota dan Salinga akan dibunuh?" "Hamba... hamba tidak
tahu... mungkin karena cemburu setelah ... Sribaginda menerima Salinga menjadi calon mantu..."
"Hemmm..." Kwee Seng mengangguk-angguk, kemudian tangannya bergerak cepat, tahu-tahu orang Khitan itu telah
roboh tertotok, lumpuh seluruh tubuhnya. Kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dalam kegelapan malam.
Setelah berhasil mendarat, Salinga dan Tayami segera lari ke arah kuda mereka, meloncat ke punggung kuda
setelah melepaskan kendali dari pohon, lalu membalapkan kuda kembali ke kota raja.
"Aku merasa kuatir sekali akan terjadi sesuatu di kota raja." Kata Salinga.
Akan tetapi ketika mereka tiba di kota raja, keadaan sunyi saja dan biasa, tidak ada tanda-tanda terjadi
sesuatu yang luar biasa. Karena pakaian mereka masih basah dan hati mereka masih tegang oleh peristiwa tadi,
mereka langsung melarikan kuda sampai depan istana. "Kau pulanglah, Kanda Salinga. Urusan tadi tak perlu kau
ceritakan siapapun juga. Biar besok kita bertemu lagi dan kita bicarakan peristiwa itu!" Salinga mengangguk.
Tentu saja ia tidak mau bicara dengan siapa juga tentang peristiwa itu sebelum ia dapat membuka rahasianya.
Peristiwa yang penuh keanehan. Akan tetapi sebelum ia memutar kudanya pergi, ia berkata.
"Adinda, sebaiknya kau jangan tergesa-gesa memakai isi bungkusan sebagai bedak. Lebih baik suruh selidiki dulu
oleh ahli obat."
Tayami mengangguk dan mereka pun berpisah. Tayami menyerahkan kuda kepada pelayan lalu berlari-lari memasuki
istana, langsung ke kamarnya untuk bertukar pakaian. Sedangkan Salinga melarikan kuda menuju ke rumahnya.
Setelah para pelayan sibuk membuka pakaian basah sang puteri cantik ini, menyusuti tubuhnya sampai kering
kemudian menggantikan pakaian bersih, lalu hendak menyanggul rambut yang belum kering benar itu, Tayami
mengusir mereka, "Keluarlah kalian semua, aku ingin mengaso seorang diri."
Sambil tersenyum-senyum maklum para pelayan itu berlari-lari ke luar dan Tayami duduk di atas pembaringan
dengan rambut terurai, seluruh tubuh terasa segar karena habis digosoki. Bungkusan yang dijatuhkan burung hantu
tadi ia buka perlahan-lahan. Ternyata isinya adalah sejenis obat bubuk yang halus sekali berwarna kuning.
Begitu dibuka tercium bau yang amat harum oleh Tayami. Ganda harum ini dan tulisan yang menganjurkan agar ia
memakainya sebagai bedak untuk mencegah malapetaka, membuat tangannya gatal-gatal untuk memakainya. Akan tetapi
pesan kekasihnya Salinga, bergema di telinganya. Salinga benar juga, pikirnya. Aku tidak tahu siapa yang
memberi bedak ini, dan mencegah malapetaka apakah ? Di sini aman saja. Puteri Tayami bimbang antara
kepercayaannya akan tahyul dan pesan kekasihnya. Bungkusannya yang sudah terbuka itu ia taruh di atas meja
dekat pembaringan.
Gadis puteri raja ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada dua pasang mata mengintai, penuh kekaguman.
Mana ia bisa tahu kalau dua orang yang mengintainya itu datang seperti setan, tanpa menimbulkan suara
sedikitpun ketika kaki mereka menginjak genteng ? Dan dua pasang mata itu memandang kagum ke dalam kamar pun
tak dapat dipersalahkan. Siapa orangnya, apalagi kalau ia laki-laki, takkan terpesona dan kaagum melihat gadis
puteri mahkota yang cantik jelita itu ? Melihat di ditukar pakaiannya oleh para dayang keraton, kemudian kini
dengan pakaian tidur yang longgar dan tipis, duduk termenung seorang diri di dalam kamar yang indah.
Kwee Seng yang datang terlebih dulu karena sejak tadi ia dari jauh mengikuti puteri ini, bersembunyi di sudut
atas, maka ia pun tahu akan kedatangan sesosok bayangan yang gesit dan ringan sekali, bayangan yang membuka
genting dan mengintai ke dalam pula, seperti dia ! Berdebar hatinya ketika mengenal orang itu, yang bukan lain
adalah Bayisan, orang yang dicarinya untuk dibalas kecurangannya beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi karena
ia pun terpesona oleh keindahan di dalam kamar itu, Kwee Seng tidak segera turun tangan, ingin melihat dulu apa
yang dikehendaki Bayisan. Pula, melihat kecantikan Puteri Khitan, teringatlah ia kepada Liu Lu Sian dan
Ang-siauw-hwa, membuatnya termenung dan penyakitnya hampir kumat !
Tayami yang sedang termenung di dalam kamarnya, mengenang peristiwa di sungai tadi. Teringat akan kekasihnya,
ia tersenyum. Akan tetapi ketika ia teringat akan peristiwa yang amat berbahaya, ia bergidik, lalu ia memandang
bubukan obat. Apakah maksudnya pengirim obat ini ? Benarkah burung itu bukan burung biasa ? Ataukah disuruh
oleh orang sakti ? Sungguh harum baunya bedak ini. Dan kalau memang bedak ini dipakai untuk menolak malapetaka,
apa salahnya ? Tentu pengirimannya berniat baik. Tidak akan ada salahnya kalau aku pakai sedikit untuk
coba-coba. Berpikir demikian, jari-jari tangan yang halus runcing itu bergerak mendekati kertas, hendak
menjumput bedak. Akan tetapi tiba-tiba gerakannya tertahan karena melihat bayangan berkelebat, api lilin
bergoyang-goyang. Cepat Tayami menggunakan tangan kiri merapatkan bajunya yang terbuka lebar sambil membalikkan
tubuhnya. Terbelalak matanya saking kaget melihat bahwa di dalam kamar itu telah berdiri seorang laki-laki yang
tersenyum-senyum, Bayisan !
"Kanda Panglima Bayisan...! Apa artinya ini ? Mengapa kau masuk ke sini secara begini?" tayami bertanya gagap.
Bayisan memandang dengan sinar mata seakan-akan hendak menelan bulat-bulat gadis di depannya, mulutnya
menyeringai lalu terdengar ia berkata, suaranya gemetar penuh perasaan, "Alangkah indahnya rambutmu, Tayami...
alangkah cantik engkau...., bisa gila aku karena berahi melihatmu...."
Tiba-tiba Tayami bangkit dan matanya memancarkan sinar kemerahan. "Kanda Panglima ! Apakah kau sudah gila ?
Berani kau bersikap kurang ajar seperti ini di depanku ? Pergi kau keluar ! Kau tahu apa yang akan kauhadapi
kalau kuadukan kekurangajaranmu ini kepada ayah!"
Bayisan tertawa mengejek. "Huh ! Ayahmu juga ayahku. Biarlah ia tahu asal malam ini kau sudah menjadi milikku.
Tayami, kita sama-sama memiliki darah Raja Khitan, kau lebih patut menjadi isteriku daripada menjadi isteri
seorang berdarah seorang berdarah pelayan rendah. Tayami, kekasihku, marilah... aku sudah terlalu lama menahan
rindu berahiku...!" Bayisan melangkah maju, kedua tangannya dikembangkan seperti akan memeluk, mataya yang agak
kemerahan karena nafsu itu disipitkan, mulutnya menyeringai.
"Bayisan, berhenti ! Kalau tidak, sekali aku menjerit kamar ini akan penuh pelayan dan penjaga. Ke mana hendak
kau taruh mukamu?"
"Heh-heh-heh, menjeritlah manis. Para pelayan dan penjaga sudah kutidurkan pulas dengan totokan-totokanku yang
lihai. Lebih baik kau menurut saja kepadaku, kau layani cinta kasihku dengan suka rela karena... karena
terhadapmu aku tidak suka menggunakan kekerasan."
Mengingat akan kemungkinan ucapan Bayisan yang memang ia tahu amat lihai. Tayami menjadi makin panik. Sambil
berseru keras ia melompat ke samping, menyambar pedangnya, yaitu pedang Besi Kuning yang tergantung di dinding,
lalu tanpa banyak cakap lagi ia menerjang Bayisan dengan bacokan maut mengarah leher. Cepat bacokan ini dan
dilakukan dengan tenaga yang cukup hebat, karena Tayami adalah seorang puteri mahkota yang terlatih, menguasai
ilmu pedang yang cukup tinggi. Akan tetapi, tentu saja silat puteri mahkota ini tak ada artinya.
"Heh-heh, Tayami yang manis. Kau seranglah, makin ganas kau menyerang, akan makin sedap rasanya kalau nanti kau
menyerahkan diri kepadaku!"
"Keparat ! Jahanam berhenti iblis ! Tak ingatkah kau bahwa kita ini seayah ? Tak ingatkah kau bahwa aku ini
Puteri Mahkota dan kau ini Panglima Muda ? Lupakah kau bahwa pagi tadi ayah telah menjodohkan aku dengan
Salinga ? Bayisan, sadarlah dan pergi dari sini sebelum kupenggal lehermu!"
"Heh-heh-heh, Tayami bidadari jelita. Kau hendak memenggal leherku, kau penggallah, sayang. Tanpa kepala pun
aku masih akan mencintaimu!" Bayisan mengejek dan betul-betul ia mengulur leher mendekatkan kepalanya, malah
mukanya akan mencium pipi gadis itu.
Tayami marah sekali, pedangnya berkelebat, benar-benar hendak memenggal leher itu dengan gerakan cepat sambil
mengerahkan seluruh tenaganya. Bayisan tertawa, miringkan tubuh menarik kembali kepalanya. Pedang menyambar
lewat, jari tangan Bayisan bergerak menotok pergelangan lengan dan... pedang itu terlepas dari pegangan Tayami,
terlempar ke sudut kamar !
Bayisan sudah mencengkeram rambut yang panjang riap-riapan itu ke depan mukanya, mencium rambut sambil berkata
lirih, "Alangkah indahnya rambutmu... halus... ah, harumnya..."
Tayami kaget sekali, tangan kirinya diayun memukul kepala, akan tetapi dengan mudah saja Bayisan menangkap
tangan ini dan ketika tangan kanan Tayami juga datang memukul, kembali tangan ini ditangkap. Kedua tangan gadis
itu kini tertangkap oleh tangan kanan Bayisan yang tertawa menyeringai.
"Kaulihat, alangkah mudahnya aku membuat kau tidak berdaya!" Tangan kirinya mengelus-elis dagu yang halus. "Kau
baru tahu sekarang bahwa aku amat kuat, amat kosen, jauh lebih lihai dari Salinga, dari laki-laki manapun juga
di Khitan ini!" Sekali mendorong, ia melepaskan pegangan tangannya dan tubuh Tayami terguling ke atas
pembaringan.
Gadis itu takut setengah mati, lalu nekat, menerjang maju lagi sambil melompat dari atas pembaringan. Akan
tetapi tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas ketika jari tangan Bayisan menotok jalan darah bagian thian-hu-hiat
yang membuat seluruh tubuhnya menjadi seperti lumpuh ! Dengan lagak tengik Bayisan kembali mengusap pipi gadis
itu sambil tertawa.
"Heh-heh, betapa mudahnya kalau aku mau menggunakan kekerasan. Kau tak dapat bergerak sama sekali, bukan ? Akan
tetapi aku tidak menghendaki demikian, juitaku. Aku ingin kau menyerahkan diri secara sukarela kepadaku, ingin
kau membalas cinta kasihku, bukan menyerah karena terpaksa dan tak berdaya. Nah, bebaslah dan kuberi kesempatan
berpikir." Tangannya menotok lagi dan benar saja. Tayami dapat bergerak kembali. Muka gadis ini sudah pucat
sekali, akan tetapi sepasang matanya berapi-api saking marahnya. Ia akan melawan sampai mati, tidak nanti ai
mau menyerah ! Baru sekarang ia teringat untuk menjerit, karena tadinya, selain terpengaruh oleh ucapan Bayisan
yang katanya telah merobohkan semua penjaga dan pelayan, juga tadinya ia merasa malu kalau peristiwa ini
diketahui orang luar. Akan tetapi melihat kenekatan Bayisan yang seperti gila itu, ia tidak peduli lagi dan
tiba-tiba Tayami menjerit sekuatnya. Aneh dan kagetlah ia ketika tiba-tiba lehernya terasa sakit dan sama
sekali ia tidak dapat mengeluarkan suara!
"Heh-heh-heh, jalan darahmu di leher kutotok, membuat kau menjadi gagau ! Nah, insyaflah, Tayami, betapa
mudahnya bagiku. Dengan tertotok lemas dan gagu, apa yang dapat kaulakukan untuk menolak kehendakku ? Akan
tetapi aku tidak mau begitu... aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya, berikut hatimu. Manis, kau balaslah
cintaku...." Bayisan melangkah maju lalu memeluk.
Tayami memukul-mukulkan kedua tangannya, akan tetapi pukulan-pukulan itu sama sekali tidak terasa agaknya oleh
Bayisan. Pemuda Khitan yang seperti gila ini menciumi muka Tayami, mebujuk-bujuk dan terdengar kain robek.
Terengah-engah Tayami ketika Bayisan untuk sejenak melepaskannya sambil memandang dengan mulut menyeringai.
Baju Tayami bagian atas sudah robek, wajah gadis ini pucat sekali.
Celaka pikirnya. Tidak ada senjata lagi. Tiba-tiba Tayami teringat akan bungkusan bedak di atas meja. Kalau
bedak itu mengenai mata, tentu untuk sesaat Bayisan takkan dapat membuka matanya, mungkin ada kesempatan
baginya untuk lari ke luar kamar.
Bayisan sudah hendak memeluk lagi. "Tayami sayang, aku cinta kepadamu... kau layanilah hasratku...."
Tiba-tiba Tayami memukulkan tangan kirinya ke arah ulu hati Bayisan. Melihat pukulan itu keras juga dan
mengarah bagian berbahaya, sambil tertawa Bayisan menangkap tangan ini dan hendak mendekap tubuh Tayami.
Mendadak tangan Tayami yang kanan menyambar dan segumpak uap putih menghantammuka Bayisan yang sama sekali
tidak menyangka-nyangka itu. Begitu melihat sambitannya mengenai sasaran, Tayami cepat melompat ke belakang
sampai mepet dinding belakang pembaringan.
"Kau... kau apakan mukaku ? Tayami... kau gunakan apa ini...?" Ia terhuyung-huyung menuju ke meja rias di mana
terdapat sebuah cermin. Ketika ia memandang wajahnya pada cermin itu, keluar teriakan liar seperti bukan suara
manusia lagi.
Tayami yang sudah tak dapat menahan ngerinya, menutupi mukanya dengan kedua tangannya tak sanggup ia melihat
lebih lama lagi. Ia memang seorang gadis perkasa, tak gentar menghadapi perang, sudah biasa melihat mayat
bertumpukan sebagai korban perang, melihat orang terluka parah. Akan tetapi peristiwa yang mereka hadapi
sekarang ini benar-benar mengerikan sekali, apalagi kalau ia ingat betapa tadi sebelum Bayisan datang, hampir
saja ia menggunakan bedak beracun itu untuk membedaki mukanya. Menggigil kengerian ia kalau membayangkan betapa
kulit mukanya yang halus itu akan digerogoti perlahan-lahan oleh racun itu, betapa mukanya akan tak berkulit
lagi, seperti muka iblis yang seburuk-buruknya.
Kembali Bayisan menggereng seperti binatang liar ketika ia membalikkan tubuh menghadapi pembaringan di mana
Tayami duduk bersimpuh kengerian dan ketakutan.
"Kau... kau... setan betina... kucekik lehermu sampai mampus..." Ia menubruk maju, akan tetapi tiba-tiba ia
berseru kesakitan dan terhuyung ke belakang, tangan kirinya meraih ke arah pundak kanannya yang terasa sakit,
lumpuh dan gatal panas. Ketika ia berhasil mencabut jarum hitam yang menancap di pundak kanannya, ia berteriak
kaget, mundur beberapa langkah dan berdongak ke atas. Di sana, di celah-celah genteng, tampaklah sebuah muka
menyeringai, muka seorang muda yang rambutnya riap-riapan. Bayisan tentu saja mengenal jarum hitamnya, maka
tadi ia kaget setengah mati melihat pundaknya dilukai orang dengan jarumnya sendiri, kini melihat muka itu,
muka jembel muda yang siang tadi membikin kacau, teringatlah ia akan muka Kwee Seng, teringatlah ia akan semua
peristiwa di puncak Liong-kwi-san.
"Liong... kwi.... san ...." Bayisan mengeluh, mukanya pucat sekali dan tahulah ia bahwa tidak harapan baginya
untuk menghadapi pemuda gila yang ternyata Kwee Seng adanya itu. Tahu pula ia bahwa tak mungkin ia dapat
tinggal di istana setelah apa yang ia lakukan terhadap Tayami, setelah kini mukanya menjadi seperti muka iblis
yang mengerikan. Terdengar ia melengking panjang seperti lolong seekor srigala hutan yang kelaparan ketika
tubuhnya berkelebat ke arah jendela dan lenyaplah Bayisan di dalam kegelapan malam.
Kwee Seng tersenyum puas. Tak perlu ia membunuh Bayisan, cukup dengan mengembalikan jarumnya di tempat yang
sama. Ia puas melihat Bayisan sudah cukup terhukum oleh perbuatannya sendiri yang jahat. Siapa kira, bungkusan
yang ia duga dikirim kakek cebol untuk puteri mahkota Khitan itu, ternyata berisi bedak beracun dan secara
tidak sengaja telah dapat memberi hukuman mengerikan kepada Bayisan si manusia jahat ! Akan tetapi kakek cebol
itu juga jahat. Bagaimana seandainya bedak itu dipergunakan oleh puteri mahkota ? Kwee Seng bergidik. Tak
sampai hatinya membayangkan hal ini. Dia amat sayang akan segala yang indah-indah, kalau sampai wajah yang
jelita itu, dikupas kulitnya oleh bedak beracun, hiiiih !
"Kakek cebol, kau tua bangka iblis, tak dapat kudiamkan saja perbuatanmu ini!" kata Kwee Seng di dalam hatinya
dan ia pun meloncat turun dari atas genteng, menghilang di dalam gelap
Pada keesokan harinya, kota raja bangsa Khitan itu geger ketika Pangeran Kubakan mengumumkan bahwa Raja Kulu
-khan telah meninggal dunia dengan mendadak karena terserang sakit setelah menghadiri pesta perlombaan kemarin.
Tentu saja hal ini mengejutkan bangsa Khitan yang merasa sayang kepada raja yang adil itu. Semua orang
berkabung untuk kematian yang tak tersangka-sangka ini.
Adapun di dalam istana sendiri, tidak kurang hebatnya pukulan yang tak tersangka-sangka ini. Tayami mengisi
jenazah ayahnya dan para panglima hanya saling pandang dengan penuh pengertian. Tidak ada tanda-tanda
penganiayaan, akan tetapi tahu-tahu raja telah meninggal dunia di atas pembaringannya, tidak ada tanda luka,
tidak ada tanda minuman atau makanan beracun. Akan tetapi bagi pandang mata yang awas dari para panglima yang
tahu akan ilmu silat tinggi, yaitu misalnya Kalisani Si Panglima Tua, atau juga panglima-panglima kosen seperti
Pek-bin Ciangkun (Panglima Muka Putih) dan Salinga, dapat menduga bahwa kematian raja mereka itu adalah akibat
pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang dengan hawa beracun. Dari sembilan lubang di tubuh raja itu
keluar darah menghitam, ini tandanya keracunan hebat oleh pukulan yang merusak tubuh sebelah dalam.
Ketidak hadiran Bayisan menimbulkan dugaan mereka ini bahwa Bayisan itulah yang telah membunuh raja, ayahnya
sendiri! Mungkin karena tak senang dengan pengangkatan Salinga sebagai calon panglima dan mantu raja. Akan
tetapi, setelah mereka mendengar penuturan puteri mahkota tentang kekurangajaran Bayisan memasuki kamar Sang
Puteri lalu dapat diusir oleh Puteri Tayami dengan bubuk beracun sehingga Bayisan menghilang, para panglima itu
tidak mau membicarakan hal ini di luaran. Hanya diam-diam mereka mencari Bayisan untuk membalas dendam atas
kematian raja, namun semenjak saat itu Bayisan menghilang sehingga orang menyangka bekas panglima itu tentu
telah tewas oleh racun.
Sejak kematian Raja Kulu-khan itulah, timbul perebutan kedudukan raja di Khitan. Tentu saja menurut sepatutnya
karena yang menjadi puteri mahkota adalah Tayami, maka puteri inilah yang menggantikan kedudukan raja. Akan
tetapi ia seorang wanita yang merasa kurang mampu mengendalikan pemerintahan, sedangkan calon suaminya hanyalah
keturunan pelayan, maka hal ini menjadi perdebatan sengit di antara mereka yang pro dan yang kontra. Sayangnya
bagi Tayami, yang pro dengannya tidaklah banyak. Terutama sekali yang mendukungnya adalah panglima tua
Kalisani, yang bicara penuh semangat di depan sidang.
"Biarpun tak dapat disangkal bahwa pimpinan puteri tidaklah sekuat pimpinan putera, akan tetapi apa gunanya
kita semua menjadi pembantu raja? Kalau ada urusan, cukup ada kita yang akan maju dengan persetujuan raja.
Puteri Tayami adalah puteri mahkota, hal ini mendiang raja sendiri yang menetapkan. Kalau kita sekarang tidak
mengangkat beliau menjadi pengganti raja, bukankah itu berarti kita tidak mentaati perintah mendiang raja
kita?" Demikian antara lain Kalisani membela kedudukan Puteri Tayami!
Akan tetapi, pihak lain membantah dengan sama kerasnya. "Kita semua maklum bahwa bangsa Khitan menghadapi
banyak tantangan di selatan. Kalau kita sebagai bangsa yang gagah perkasa tidak sekarang mencari tempat di
selatan mau tunggu sampai kapan lagi? Dan penyerbuan itu membutuhkan bimbingan seorang raja yang gagah berani,
seorang laki-laki sejati. Kita percaya bahwa Paduka Puteri Tayami juga seorang wanita jantan yang gagah
perkasa, akan tetapi betapapun juga, langkah seorang wanita tidak selebar laki-laki. Biarlah Puteri Tayami juga
tinggal dalam kedudukannya sebagai puteri mahkota yang kita hormati, akan tetapi pimpinan kerajaan harus berada
di tangan seorang pangeran."
Perdebatan sengit terjadi, akan tetapi akhirnya Kalisani kalah suara. Sebagian besar para panglima dan ponggawa
memilih Pangeran Kubakan untuk mengganti kedudukan ayahnya menjadi raja di Khitan! Hal ini mengecewakan hati
Kalisani yang amat tidak suka melihat perebutan kekuasaan yang bukan haknya itu, apalagi karena dengan adanya
perdebatan itu, setelah ia mengalami kekalahan, tentu saja golongan raja ini akan membencinya. Maka pada hari
itu juga ia meletakkan jabatan dan meninggalkan Khitan untuk melakukan perantauan yang menjadi kesukaannya
sejak dahulu. Karena kesukaannya akan merantau ini pula agaknya yang membuat Kalisani tidak juga mau menikah.
Sebelum pergi meninggalkan Khitan, Kalisani hanya minta diri kepada Puteri Tayami.
"Harap Paduka menjaga diri baik-baik. Setelah ayah Paduka wafat, belum tentu keadaan pemerintahan akan sebaik
sebelumnya. Terutama sekali, harap Paduka berhati-hati terhadap Bayisan, kalau-kalau dia kembali lagi. Selamat
tinggal, Tuan Puteri. Selamanya saya akan berdoa untuk kebaikan Paduka."
Tentu saja Tayami telah maklum bahwa Kalisani sejak dahulu juga menaruh hati cinta kepadanya. Ia menjadi
terharu sekali karena maklum bahwa perasaan cinta panglima tua ini benar-benar perasaan yang jujur dan tulus
ihklas, yang murni. Ia maklum pula akan pembelaan Kalisani kepadanya di dalam sidang. Mengingat betapa
sekaligus ia ditinggal pergi ayahnya dan Kalisani, dua orang yang benar-benar menaruh sayang kepadanya, tak
terasa pula Tayami menangis. Puteri ini lalu mengambil dua buah roda emas yang menjadi berang permainan dan
kesayangannya sejak kecil, menyerahkannya kepada Kalisani sambil berkata.
"Terima kasih atas segala kebaikan yang telah kaulimpahkan kepadaku, Kalisani. Semoga para dewa yang akan
membalasnya dan terimalah sepasang roda emas milikku ini sebagai kenangan-kenangan."
Kalisani mengejap-mengejapkan kedua matanya yang menjadi basah, menerima sepasang roda emas, mencium kedua
benda mengkilap itu, lalu mengundurkan diri sambil berkata, "Sampai mati aku takkan berpisah dari sepasang roda
emas ini..."
Biarpun kemudian Kubakan menjadi raja bangsa Khitan, namun Puteri Tayami masih mendampingi kakak tirinya ini
dan kekuasaan puteri mahkota ini masih besar sekali. Raja Kubakan yang baru tidak berani mengganggu Tayami,
karena sungguhpun para panglima membenarkan dia yang menggantikan raja, namun boleh dibilang semua panglima
masih bersetia penuh kepada puteri mahkota. Raja Kubakan merasa kehilangan sekali karena Bayisan pergi tanpa
pamit dan tidak ada orang tahu entah kemana perginya. Kalau seandainya ada Bayisan di sampingnya, tentu rasa
ini akan merasa lebih kuat dan ada yang diandalkan.
Demikianlah, secara singkat dituturkan di sini bahwa Puteri Mahkota Tayami menikah dengan Salinga dan mereka
berdua hidup rukun dan saling mencinta. Tidak terjadi sesuatu di antara raja baru dan Puteri Tayami maupun
suaminya karena mereka tidak saling menganggu, bahkan di waktu bangsa Khitan berperang menghadapi musuh,
keduanya berjuang bersama-sama. Akan tetapi, sesungguhnya di dalam hati mereka itu terdapat semacam "perang
dingin".
Kita kembali kepada Kwee Seng yang meninggalkan istana dan terus keluar dari kota raja. Sambil menggerogoti
sepotong paha kambing panggang yang ia sambar secara sambil lalu dari dapur istana sebelum keluar, ia berjalan
seenaknya di malam hari itu. Tak pernah ia mengaso karena bagi Kwee Seng yang kondisi tubuhnya sudah luar biasa
anehnya itu, tidak tidur selama seminggu atau tidak makan selama sebulan bukan apa-apa lagi, juga sebaliknya ia
bisa saja tidur tiga hari tiga malam terus-menerus atau sekali makan menghabiskan makanan sepuluh orang!
Kwee Seng masih enak-enak berjalan memasuki hutan setelah matahari muncul mengusir kegelapan malam. Dan pada
saat itulah ia mendengar suara orang tertawa-tawa, suara tergelak-gelak yang amat dikenalnya karena itulah
suara Si Kakek Cebol! Mendengar suara Si Cebol, bangkitlah amarah di hati Kwee Seng. Si Kakek Cebol yang kejam!
Sekejam-kejamnyalah orang yang berniat merusak muka yang demikian cantiknya seperti muka Puteri Mahkota Tayami!
Kakek iblis itu harus diberi hajaran. Dengan tangan kanan memegang tulang paha kambing, tangan kiri menyambar
sehelai daun yang kaku dan lebar, Kwee Seng lalu mempercepat langkahnya menghampiri arah suara ketawa.
Kakek cebol itu tampak berdiri dibawah sebatang pohon besar, tertawa-tawa sabil memeriksa muka seorang yang
menggeletak di depqn kakinya. Ketika Kwee Seng mengenal orang yang menggeletak itu, ia terheran-heran dan
kaget, karena orang itu bukan lain adalah Bayisan ! Memang aneh kakek itu, ia membungkuk, mengamat-amati muka
Bayisan yang rusak, lalu terpingkal-pingkal ketawa lagi, membungkuk lagi, memeriksa dengan jari-jari tangan,
lalu terkekeh-kekeh lagi seperti orang gila.
"Huah-hah-hah, lucu perbuatan si tangan jail iblis siluman ! Muka Si Cantik halus yang kuarah, kiranya malah
bocah tolol ini yang terkena ! Heh-heh-heh!"
Makin yakin kin hati Kwee Seng bahwa kakek cebol ini sengaja mengirim obat bubuk beracun untuk merusak muka
Tayami, maka ia menjadi makin marah. Di samping kemarahannya, ia pun ingin sekali mengerti mengapa kakek itu
hendak berbuat sedemikian kejinya terhadap Tayami. Untuk melihat apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh kakek
itu Kwee Seng menanti sesaat. Bayisan agaknya pingsan, atau mungkin sudah mati, karena tubuhnya tidak bergerak
sama sekali.
Tiba-tiba kakek itu berseru. "Aiiihhh, bau... bau...! Bau jembel tengik... !"
Terkejutlah Kwee Seng, dengan kening berkerut ia menggerakkan muka ke kana kiri, hidungnya kembang-kempis
mencium-cium. Benar-benarkah ia berbau begitu tengik sehingga kehadirannya tercium oleh kakek itu ? Tentu saja
pakaiannya yang sudah butut itu tak enak baunya, akan tetapi tidaklah begitu tengik sehingga dapat tercium dari
jarak sepuluh meter jauhnya. Ia mendongkol dan berbareng juga kagum. Kakek cebol itu tentu sengaja memakinya
dan kenyataan bahwa kakek itu dapat mengetahui kehadirannya menunjukkan kelihaiannya. Terpaksa ia muncul dari
balik pohon dan melangkah maju menghampiri.
Kakek itu berdiri membelakanginya dan kini kakek itu mencak-mencak berjingkrakan sambil mengoceh. "Wah, baunya,
baunya makin keras ! Jembel busuk tengik ini kalau tidak cepat dicuci bersih, bisa meracuni keadaan
sekelilingnya. Wah, bau... bau... tak tertahankan... !" Kakek itu lalu berbangkis-bangkis.
Rasa mendongkol di dalam hati Kwee Seng seperti membakar, "Kakek cebol tua bangka tak sedap dipandang!" Ia
memaki. "Sudah mukamu seperti monyet tua, tubuhmu cebol, mulutmu kotor watakmu pun keji seperti ular berbisa !"
Kakek itu kini membalikkan tubuhnya dan menghadapi Kwee Seng, matanya dibelalakkan lebar, mengintai dari balik
alisnya yang panjang dan berjuntai ke bawah menutupi mata. "Jembel tengik, jembel bau, kiranya benar engkau
yang mengotori hawa udara di sini ! Ucapanmu tentang muka, tubuh dan mulutku tidak keliru. Memang mukaku
seperti monyet, apakah kau mengira bahwa muka monyet itu lebih buruk daripada muka orang. Hah-hah-hah, coba kau
tanya kepada monyet betina, muka monyet siapa yang lebih gagah menarik, muka monyet jantan berbulu ataukah
mukamu yang licin menjijikkan ! Tubuhku memang cebol, lebih baik cebol daripada merasa tubuhnya besar dan gagah
sendiri tapi tanpa isi seperti tubuh yang menggeletak di sini. Tentang mulut kotor, memang kau benar. Mulut
manusia mana yang tidak kotor ? Segala macam bangkai dimasukkan ke mulut, sedangkan yang keluar dari mulut pun
selalu kotoran-kotoran melulu. Bukankah segala penyakit disebabkan oleh yang masuk melalu mulut, dan bukankah
segala cekcok dan ribut disebabkan oleh apa yang keluar melalui mulut? Memang mulut manusia kotor dan bau pula!
Huah-hah-hah! Tapi tentang watak keji seperti ular berbisa? Eh, jangan kau menuduh dan memaki sembarangan,
bocah jembel!"
Kwee Seng tersenyum mengejek dan menggerogoti sisa daging yang menempel di tulang paha, sedangkan dengan daun
lebar ia mengipasi lehernya, padahal hawa udara di pagi hari itu amat dingin.
"Kakek cebol, omonganmu memang tidak keliru dan mendengar omonganmu tadi, agaknya kau tahu juga akan kebenaran.
Akan tetapi, kau menyangkal watakmu yang keji berbisa, padahal sudah ada dua macam bukti di depan mata."
Kakek itu meloncat-loncat dan membanting-bantingkan kakinya di atas tanah, mukanya memperlihatkan kejengkelan
dan kemarahan. "Iihh... oohh... aku adalah Bu Tek Lojin! Selamanya belum pernah ada orang berani memaki kepada
Bu Tek Lojin. Tapi hari ini kau jembel muda busuk tengik berani bilang bahwa Bu Tek Lojin berwatak keji dan dua
buktinya. Heh, bocah, jangan main-main dengan Bu Tek Lojin. Hayo katakan, apa buktinya?"
Diam-diam Kwee Seng terheran-heran. Kakek ini memiliki nama yang hampir sama dengan Bu Kek Siansu, manusia
setengah dewa yang suci dan yang tidak membutuhkan apa-apa lagi, yang sudah hampir dapat membebaskan diri
sepenuhnya daripada ikatan lahir. Akan tetapi kakek ini namanya saja sudah membayangkan kesombongan. Bu Tek
Lojin ! Orang Tua Tanpa Tanding! Belum pernah Kwee Seng mendengar nama ini. Banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang
sakti ia kenal, baik mengenal muka maupun hanya mengenal nama, akan tetapi tak pernah ia mendengar nama Bu Tek
Lojin! Ada Sin-jiu Couw Pa Ong, Ban-pi Lo-cia, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, Hui-kiam-eng Tan Hui, Kim-tung Lo-kai,
disamping tokoh-tokoh besar yang menjadi ketua partai persilatan seperti Kian Hi Hosiang Ketua Siauw-lim-pai,
Kim Gan Sianjin Ketua Kun-lun pai, dan lain-lain. Dari mana munculnya kakek cebol yang mengaku bernama Orang
Tua Tanpa Tanding ini?
"Huh, tua bangka sombong, kau masih hendak berpura-pura lagi? Bukti pertama sudah jelas tampak di depan mata
pada saat ini pun juga. Kau lihat yang menggeletak di depan kakimu itu! Siapa dia? Kau agaknya malah hendak
menolongnya, bukan? Tadi kulihat betapa kau menotok beberapa jalan darah untuk mencegah menjalarnya racun di
mukanya. Mengapa kau menolong seorang busuk dan jahat seperti Bayisan? Bukankah orang-orang gagah tahu bahwa
membantu
pekerjaan penjahat sama artinya dengan diri sandiri melakukan kejahatan ? Bukti pertama sudah jelas, kau
membantu Bayisan Si Jahat !"
Tiba-tiba kakek cebol yang mengaku bernama Bu Tek Lojin itu tertawa bergelak, kembali tubuhnya meloncat-loncat
berjingkrakan seperti seorang anak kecil diberi kembang gula. "Ho-ho-ho-hah! Ada anak ayam mengejar terbang
seekor garuda! Kau anak ayamnya dan aku garudanya!" Ia tertawa-tawa lagi.
Kwee Seng mendongkol sekali. Kakek ini selain lihai ilmunya, juga lihai mulutnya, seperti anak yang nakal
sekali. Akan tetapi ia diam saja mendengarkan.
"Bocah, kau tahu apa tentang membantu? Tahu apa tentang menolong? Tahu apa tentang jahat dan baik? Membantu
tidak sama dengan menolong, akan tetapi jahat tidak ada bedanya dengan baik, kau tahu??"
Kwee Seng seakan-akan menghadapi teka-teki. "Kakek sombong, apa bedanya membantu dan menolong?"
"Uuhhh, goblok! Kalau dia ini melakukan sesuatu dan aku ikut-ikutan mendorong agar apa yang ia lakukan itu
berhasil, itu namanya membantu. Melihat lebih dulu sebab dan akibat sebelum berbuat, itulah membantu. Tanpa
mempedulikan sebab dan akibatnya lalu turun tangan, itulah menolong. Siapapun juga dia, apa sebabnya dan
bagaimana akibatnya, tidak peduli, pendeknya harus turun tangan, itulah penolong yang sejati!" Kakek itu
bicaranya seperti orang membaca sajak, pakai irama dan berlagu pula sukar dimengerti. Akan tetapi Kwee Seng
terkejut karena mengenal filsafat ini, biarpun diucapkan seperti sajak berkelakar, namun adalah kata-kata
filsafat yang amat dalam! Mulailah ia kagum dan tidak lagi main-main.
"Bu Tek Lojin, sekarang aku ingin tahu, mengapa kaukatakan bahwa jahat tidak ada bedanya dengan baik?"
"Ho-ho-hah-hah, memang kau bodoh dan goblok! Semua menusia bodoh dan tolol, termasuk aku! Semua manusia goblok
itu merasa diri pintar, termasuk aku! Apa bedanya baik dan buruk? Apa bedanya siang dan malam? Apa bedanya ada
tidak ada? Kalau tidak ada matahari, mana ada siang malam? Kalau tidak tahu, mana bisa ada atau tidak ada?
Kalau tidak menyayang diri sendiri, mana ada buruk dan baik? Ha-ha-ha! Eh bocah, siapa namamu?"
"Aku yang muda dan bodoh bernama... Kim-mo Taisu!" Kwee Seng sengaja memakai nama ini untuk menandingi
kesombongan Si Kakek. Ia memang telah mempunyai nama poyokan Kim-mo-eng (Pendekar Aneh Berhati Emas), akan
tetapi untuk mempergunakan nama Kim-mo-eng, berarti memperkenalkan dirinya sendiri, padahal ia sudah merasa
malu untuk menghidupkan lagi nama Kwee Seng yang di anggap sudah mati terpendam di Neraka Bumi, maka kini ia
sengaja menamakan dirinya Kim-mo Taisu yang berarti Guru Besar Setan Emas!"
"Wah, wah, namamu hebat! Pandai kau memilih nama, memang memilih nama bebas, boleh pakai apa saja. Dalam hal
ini kita cocok, maka aku pun memilih nama Bu Tek Lojin, huah-hah-hah! Eh. Kim-mo Taisu yang tidak patut bernama
Kim-mo Taisu karena masih muda, aku Tanya, apakah kau seorang baik?"
Ditanya begini Kwee Seng melengak dan tak dapat menjawab.
"Ha-ha-ha, tentu saja dalam hatimu kau menjawab bahwa kau ini seorang baik. Tidak ada di dunia ini orang yang
mengaku dirinya orang jahat. Biarpun mulutnya bilang jahat, hatinya tetap mengaku baik. Jadi, siapakah dia yang
baik? Yang baik adalah dirinya sendiri, dan orang yang melakukan sesuatu yang menyenangkan dirinya sendiri,
dianggap orang baik pula. Siapakah dia yang dinamakan orang jahat? Yang jahat adalah orang yang melakukan
sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya sendiri, nah, mereka ini tentu akan disebut jahat. Baik dan jahat tidak
ada, sama saja, yang ada hanya penilaian di hati orang yang membedakan demi kesenangan diri sendiri. Yang
menyenangkan diri dianggap baik, yang tidak menyenangkan diri dianggap buruk. Ha-ha-ha-ha! Menolong yang
dianggap baik, itu bukan menolong namanya! Bukan menolong orang, melainkan menolong diri sendiri, menyenangkan
perasaan sendiri. Mengertikah kau, Kim-mo Taisu yang goblok?"
Di dalam hatinya Kwee Seng kembali terkejut. Kakek cebol ini kiranya bukan sembarangan orang! Betapapun juga,
hatinya tidak puas. Kakek ini sifatnya terlalu berandalan, terlalu liar dan bahkan mungkin keliarannya dan suka
menggunakan aturannya sendiri itu dapat menimbulkan bahaya bagi orang lain.
"Bu Tek Lojin, kau boleh mengeluarkan alasan apapun juga, boleh kau membongkar-bongkar filsafat untuk mencari
kebenaran, sendiri. Akan tetapi aku melihat sendiri betapa kau memberi sebungkus bubuk racun kepada Puteri
Mahkota Tayami dengan nasihat supaya dia memakai bubuk itu membedaki mukanya. Apa kau mau bilang bahwa
perbuatanmu ini termasuk baik? Kau hendak membikin rusak muka yang begitu cantik bukankah itu perbuatan keji
sekali? Kalau kau masih mengaku seorang manusia, di mana perikemanusiaanmu?"
"Huah-hah-hah! Memang aku bukan manusia biasa, aku setengah dewa! Tentang pengiriman obat itu, memang ku
sengaja, dan memang maksudku baik. Baik sekali! Kau tahu apa yang menyebabkan semua keributan itu? Apa yang
menyebabkan pemuda-pemuda tolol itu berlomba dan saling membenci? Tak lain untuk memperebutkan hati Puteri
Mahkota! Dan mengapa mereka berlomba memperebutkan hati Puteri Mahkota? Karena dia cantik jelita! Ha-ha-ha!
Karena itu aku berusaha melenyapkan kecantikannya. Kecantikan hanya sebatas kulit muka! Kalau obatku dapat
mengupas kulit mukanya, hendak kulihat apakah para pemuda itu akan mau memperebutkannya. Inilah namanya
menghilangkan akibat dengan membongkar sebabnya!"
"Hemm, membongkar sebab secara merusak tanpa mengenal kasihan seperti itu, benar-benar mencerminkan hatimu yang
keji. Kau tua bangka yang benar-benar berhati iblis!"
"Uwaaaahh! Kim-mo Taisu, mulutmu lancang benar! Apa kau mau mengajak aku berkelahi?" "Bukan mau berkelahi,
melainkan mau memberi hajaran kepadamu!" "Wah-wah, kau mau menghajar aku? Heh-heh-heh! Ada ular kecil mau
menghajar seekor naga. Lucu... lucu....!"
Makin mendongkol hati Kwee Seng. Benar sombong kakek ini, tadi menyamakan dia anak ayam dan dirinya sendiri
garuda, sekarang memaki dia ular kecil dan mengangkat dirinya sendiri seekor naga! "Biarpun naga, kalau matanya
buta dan merusak sana-sini, apa boleh buat, wajib dihajar!"
"Bagus, mari kaulayani aku beberapa jurus!" Kakek itu berkata, lalu meloncat ke kiri dan memasang kuda-kuda
yang aneh, kedua sikunya mepet pinggang, jari-jari tangan terbuka dan miring, tubuhnya doyong ke depan,
pundaknya diangkat pula ke depan, matanya melirak-lirik, persis gaya seekor jago aduan yang akan
dipersabungkan! Melihat kakek itu tidak bersenjata, Kwee Seng menyelipkan tulang paha kambing dan daun ke
pinggangnya, kemudian ia pun menghampiri kakek itu, memasang kuda-kuda dan diam-diam ia mengerahkan sin-kangnya
seperti yang ia pelajari di Neraka Bumi karena ia cukup maklum bahwa betapapun aneh dan lucu sikap kakek itu,
namun sudah terbukti kemarin betapa kakek ini memiliki lwee-kang yang amat kuat serta gin-kang yang amat
tinggi. Lawan ini amat berbahaya, dan dengan cerdik Kwee Seng lalu menanti sambil siap siaga, tidak mau
menyerang lebih dulu.
Bu Tek Lojin, sekarang aku ingin tahu, mengapa kaukatakan bahwa jahat tidak ada bedanya dengan baik?"
"Ho-ho-hah-hah, memang kau bodoh dan goblok! Semua menusia bodoh dan tolol, termasuk aku! Semua manusia goblok
itu merasa diri pintar, termasuk aku! Apa bedanya baik dan buruk? Apa bedanya siang dan malam? Apa bedanya ada
tidak ada? Kalau tidak ada matahari, mana ada siang malam? Kalau tidak tahu, mana bisa ada atau tidak ada?
Kalau tidak menyayang diri sendiri, mana ada buruk dan baik? Ha-ha-ha! Eh bocah, siapa namamu?"
"Aku yang muda dan bodoh bernama... Kim-mo Taisu!" Kwee Seng sengaja memakai nama ini untuk menandingi
kesombongan Si Kakek. Ia memang telah mempunyai nama poyokan Kim-mo-eng (Pendekar Aneh Berhati Emas), akan
tetapi untuk mempergunakan nama Kim-mo-eng, berarti memperkenalkan dirinya sendiri, padahal ia sudah merasa
malu untuk menghidupkan lagi nama Kwee Seng yang di anggap sudah mati terpendam di Neraka Bumi, maka kini ia
sengaja menamakan dirinya Kim-mo Taisu yang berarti Guru Besar Setan Emas!"
"Wah, wah, namamu hebat! Pandai kau memilih nama, memang memilih nama bebas, boleh pakai apa saja. Dalam hal
ini kita cocok, maka aku pun memilih nama Bu Tek Lojin, huah-hah-hah! Eh. Kim-mo Taisu yang tidak patut bernama
Kim-mo Taisu karena masih muda, aku Tanya, apakah kau seorang baik?"
Ditanya begini Kwee Seng melengak dan tak dapat menjawab.
"Ha-ha-ha, tentu saja dalam hatimu kau menjawab bahwa kau ini seorang baik. Tidak ada di dunia ini orang yang
mengaku dirinya orang jahat. Biarpun mulutnya bilang jahat, hatinya tetap mengaku baik. Jadi, siapakah dia yang
baik? Yang baik adalah dirinya sendiri, dan orang yang melakukan sesuatu yang menyenangkan dirinya sendiri,
dianggap orang baik pula. Siapakah dia yang dinamakan orang jahat? Yang jahat adalah orang yang melakukan
sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya sendiri, nah, mereka ini tentu akan disebut jahat. Baik dan jahat tidak
ada, sama saja, yang ada hanya penilaian di hati orang yang membedakan demi kesenangan diri sendiri. Yang
menyenangkan diri dianggap baik, yang tidak menyenangkan diri dianggap buruk. Ha-ha-ha-ha! Menolong yang
dianggap baik, itu bukan menolong namanya! Bukan menolong orang, melainkan menolong diri sendiri, menyenangkan
perasaan sendiri. Mengertikah kau, Kim-mo Taisu yang goblok?"
Di dalam hatinya Kwee Seng kembali terkejut. Kakek cebol ini kiranya bukan sembarangan orang! Betapapun juga,
hatinya tidak puas. Kakek ini sifatnya terlalu berandalan, terlalu liar dan bahkan mungkin keliarannya dan suka
menggunakan aturannya sendiri itu dapat menimbulkan bahaya bagi orang lain.
"Bu Tek Lojin, kau boleh mengeluarkan alasan apapun juga, boleh kau membongkar-bongkar filsafat untuk mencari
kebenaran, sendiri. Akan tetapi aku melihat sendiri betapa kau memberi sebungkus bubuk racun kepada Puteri
Mahkota Tayami dengan nasihat supaya dia memakai bubuk itu membedaki mukanya. Apa kau mau bilang bahwa
perbuatanmu ini termasuk baik? Kau hendak membikin rusak muka yang begitu cantik bukankah itu perbuatan keji
sekali? Kalau kau masih mengaku seorang manusia, di mana perikemanusiaanmu?"
"Huah-hah-hah! Memang aku bukan manusia biasa, aku setengah dewa! Tentang pengiriman obat itu, memang ku
sengaja, dan memang maksudku baik. Baik sekali! Kau tahu apa yang menyebabkan semua keributan itu? Apa yang
menyebabkan pemuda-pemuda tolol itu berlomba dan saling membenci? Tak lain untuk memperebutkan hati Puteri
Mahkota! Dan mengapa mereka berlomba memperebutkan hati Puteri Mahkota? Karena dia cantik jelita! Ha-ha-ha!
Karena itu aku berusaha melenyapkan kecantikannya. Kecantikan hanya sebatas kulit muka! Kalau obatku dapat
mengupas kulit mukanya, hendak kulihat apakah para pemuda itu akan mau memperebutkannya. Inilah namanya
menghilangkan akibat dengan membongkar sebabnya!"
"Hemm, membongkar sebab secara merusak tanpa mengenal kasihan seperti itu, benar-benar mencerminkan hatimu yang
keji. Kau tua bangka yang benar-benar berhati iblis!"
"Uwaaaahh! Kim-mo Taisu, mulutmu lancang benar! Apa kau mau mengajak aku berkelahi?" "Bukan mau berkelahi,
melainkan mau memberi hajaran kepadamu!" "Wah-wah, kau mau menghajar aku? Heh-heh-heh! Ada ular kecil mau
menghajar seekor naga. Lucu... lucu....!"
Makin mendongkol hati Kwee Seng. Benar sombong kakek ini, tadi menyamakan dia anak ayam dan dirinya sendiri
garuda, sekarang memaki dia ular kecil dan mengangkat dirinya sendiri seekor naga! "Biarpun naga, kalau matanya
buta dan merusak sana-sini, apa boleh buat, wajib dihajar!"
"Bagus, mari kaulayani aku beberapa jurus!" Kakek itu berkata, lalu meloncat ke kiri dan memasang kuda-kuda
yang aneh, kedua sikunya mepet pinggang, jari-jari tangan terbuka dan miring, tubuhnya doyong ke depan,
pundaknya diangkat pula ke depan, matanya melirak-lirik, persis gaya seekor jago aduan yang akan
dipersabungkan! Melihat kakek itu tidak bersenjata, Kwee Seng menyelipkan tulang paha kambing dan daun ke
pinggangnya, kemudian ia pun menghampiri kakek itu, memasang kuda-kuda dan diam-diam ia mengerahkan sin-kangnya
seperti yang ia pelajari di Neraka Bumi karena ia cukup maklum bahwa betapapun aneh dan lucu sikap kakek itu,
namun sudah terbukti kemarin betapa kakek ini memiliki lwee-kang yang amat kuat serta gin-kang yang amat
tinggi. Lawan ini amat berbahaya, dan dengan cerdik Kwee Seng lalu menanti sambil siap siaga, tidak mau
menyerang lebih dulu.
Akan tetapi kakek itu juga tak kunjung datang serangannya. Hanya kepalanya bergerak ke kanan kiri, matanya
lirak-lirik seperti ayam jago sedang menaksir-naksir kekuatan lawan, kemudian kakinya melangkah-langkah
berputar mengelilingi Kwee Seng! Tentu saja Kwee Seng juga segera mengubah kedudukan kaki dan mengatur langkah
mengikuti Si Kakek yang aneh. Ia melihat betapa jari-jari kakek itu yang telanjang seperti kakinya sendiri,
terpentang seperti cakar ayam. Benar-benar kuda-kuda ilmu silat yang aneh sekali. Apakah kakek ini menciptakan
ilmunya berdasarkan gerakan ayam jago? Ataukah semacam burung? Ia menaksir-naksir akan tetapi tetap waspada.
Tiba-tiba kakek itu berseru, "Awas !" dan tubuhnya mencelat ke depan, menerjang, kedua tangannya menggampar
dari kanan kiri, kedua kakinya menendang. Biarpun kelihatan hanya sebuah terjangan kasar, namun jari-jari
kakinya serta jari-jari tangannya melakukan totokan di tujuh bagian hiato(jalan darah) yang berbahaya! Kwee
Seng kaget sekali, tak mungkin mengelak dari terjangan liar ini, maka cepat ia menggerakkan kakinya melangkah
mundur lalu kedua tangannya membuat gerakan membentuk lingkaran-lingkaran dan sekaligus ia dapat menangkis dua
pasang tangan kaki kakek itu.
"Dukkk!" Tubuh Bu Tek Lojin mencelat ke belakang membuat salto dua kali, akan tetapi kedudukan kaki Kwee Seng
juga tergempur sehingga dia terhuyung-huyung ke belakang. Kagetlah Kwee Seng. Tenaganya setelah berlatih di
Neraka Bumi, mengalami kemajuan pesat sekali. Namun kini ia ketemu batunya. Kakek yang menerjang di tengah
udara itu ternyata mampu membuatnya terhuyung-huyung, dan kedua lengannya yang menangkis tadi seakan-akan
bertemu dengan benda yang antep dan keras.
"Heh-heh, kau boleh juga!" Kakek itu memuji, kemudian mengulangi lagi pasangannya seperti ayam jago,
berputar-putar sehingga terpaksa Kwee Seng juga berputaran. Kembali Bu Tak Lojin menerjang maju dan kali ini
terjangannya disusul serangkaian serangan yang ganas, memukul dan menendang bergantian, semua mengarah jalan
darah yang berbahaya. Kwee Seng berlaku cepat, tubuhnya mencelat ke sana-sini dan ia pun membalas dengan
pukulan tanpa memakai sungkan-sungkan lagi. Maka lenyaplah bayangan kedua orang ahli silat yang mengerahkan
gin-kang ini, berkelebatan seperti petir menyambar. Berkali-kali mereka beradu tangan dan selalu Kwee Seng
terdesak mundur. Terang bahwa ia kalah kuat dalam hal tenaga dalam, akan tetapi karena Kwee Seng memang
memiliki ilmu silat yang tinggi maka penjagaannya rapat sekali. Setelah mengalami benturan tangan belasan kali
yang membuat kedua lengannya terasa sakit-sakit, Kwee Seng segera mengerahkan Ilmu Silat Bian-sin-kun (Tangan
Kapas Sakti). Kedua tangannya menjadi lunak seperti kapas dan kapas dan tenaga kakek itu seperti amblas kalau
bertemu dengan tangannya, sehingga ia tidak mengalami rasa nyeri lagi, malah dengan ilmunya ini ia dapat
membalas serangan dengan mendadak dan cepat, membuat kakek itu berkali-kali mengeluarkan seruan memuji dan
penasaran.
Tiba-tiba kakek cebol itu mengganti dan gerakannya yang tadinya amat cepat lincah itu, menjadi gerakan lambat.
Malah kedua kakinya seakan-akan tidak bertenaga, seperti mengambang di atas air saja. Namun hebatnya, begitu
mereka beradu lengan, Kwee Seng terlempar ke belakang sedangkan kakek itu hanya menari-nari dengan kedua kaki
seperti tidak menginjak tanah.
Kwee Seng terkejut sekali, ia melihat kakek itu tadi hanya membuat gerakan mendorong dengan kedua tangan,
mengapa begitu beradu tangan ia terlempar sampai tiga meter ke belakang? Seakan-akan dari kedua tangan kakek
itu mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya, padahal gerakan kakek itu lambat dan kelihatan lemah serta
kosong? Ia tidak tahu bahwa ini ilmu ciptaan Bu Tek Lo-jin yang dinamainya Khong-in-ban-kin (Awan Kosong
Mengandung Kekuatan Selaksa Kati)! Adapun ilmu ini adalah ilmu sin-kang yang mendasarkan ilmu memanfaatkan yang
kosong seperti seringkali disebut-sebut oleh Nabi Locu dalam kitabnya To-tik-keng sehingga merupakan
penggabungan ilmu silat dan ilmu batin yang tinggi.
Karena maklum bahwa kalu ia terus melayani kakek sakti ini dengan tangan kosong tentu ia akan kalah, Kwee Seng
lalu mencabut tulang paha kambing dan daun lebar dari ikat pinggangnya. "Bu Tek Lojin, dengan tangan kosong aku
kalah, marilah kita gunakan senjata!"
Bu Tek Lojin bukanlah orang buta. Melihat lawannya yang muda mengeluarkan senjata yang begitu sederhana dan
aneh, ia tahu bahwa lawannya ini benar-benar merupakan lawan yang tangguh sekali. Tadi pun diam-diam ia sudah
terheran-heran mengapa ada orang muda yang begitu lihai. Selama hidupnya, belum pernah ia bertemu tanding yang
semuda ini. Akan tetapi memang wataknya tinggi hati, tidak memandang mata kepada lawan manapun juga, maka ia
tertawa sambil berkata, "Jembel tengik, keluarkan saja semua kepandaianmu untuk kulihat!"
Setelah berkata demikian kakek cebol itu langsung menyerang lagi dan kini kembali ilmu silatnya sudah berubah,
tenaganya masih sehebat tadi namun kedua tangannya membuat gerakan yang membentuk lingkaran-lingkaran lebar
dengan tangan kirinya, sedangkan yang kanan membentuk lingkaran-lingkaran sempit. Pukulan-pukulan dan
tendangan-tendangannya datang bergulung-gulung seperti ombak samudera menerjang habis segala yang
merintanginya. Melihat hebatnya gerakan ini, Kwee Seng segera memutar ulang paha kambing yang ia gunakan
seperti pedang, untuk melindungi tubuh, sedangkan daun di tangan kiri mulai ia kebut-kebutkan yang juga
mengeluarkan angin pukulan yang amat dahsyat.
Tiba-tiba terdengar suara keras, "Bagus, Bu Tek Lojin, kauhajar mampus bocah itu. Kalau kau kalah, baru aku
yang maju!" Suara itu terdengar dari jauh akan tetapi nyaring dan jelas sekali, kemudian sebelum suara itu
lenyap kumandangnya, orangnya sudah berkelebat datang. Seorang raksasa tinggi besar berkepala gundul yang
segera dikenal Kwee Seng sebagai musuh lamanya, Ban-pi Lo-cia!
Sejenak kakek cebol menghentikan serangannya, membanting-banting kaki dan memaki, "Kau bilang kalau aku kalah?
Kuda gundul, kau lihat saja aku menjatuhkan jembel tengik ini, kalau sudah, biar kau punya selaksa lengan
(ban-pi), pasti kedua tanganku yang hanya dua ini akan kenyang menempilingi gundulmu sampai kau berkuik-kuik
dan berkaing-kaing!" Setelah berkata demikian, kakek cebol itu segera menyerang Kwee Seng lagi dengan hebatnya.
Kwee Seng mencelat ke kiri sambil memutar tulang paha kambing. "Stop dulu, Bu Tek Lojin. Dia itu musuh lamaku,
biarkan aku membuat perhitungan dengan dia! Heh, manusia cabul, rasakan pembalasanku atas kematian
Ang-siauw-hwa...!" Kwee Seng hendak menyerang Ban-pi Lo-cia, akan tetapi kakek cebol itu merintangi, bahkan
menyerangnya lagi sambil mengomel.
"Kau belum kalah olehku, bagaimana bisa berhenti dan melawan orang lain?"
Karena serangan kakek cebol ini memang hebat sekali, Kwee Seng tidak dapat memecah perhatian dan terpaksa ia
melayani lagi dengan hati mendongkol. Ia tahu bahwa percuma saja bicara dengan kakek cebol ini. Jalan
satu-satunya mengalahkan Si Cebol ini lebih dulu, baru nanti menghadapi Ban-pi Lo-cia. Akan tetapi ini hanya
rencana saja, pelaksanaannya sukar setengah mati karena Si Cebol ini benar-benar sakti luar biasa.
Sementara itu, baru sekarang Ban-pi Lo-cia melihat tubuh Bayisan yang menggeletak di atas tanah. Ia kaget
sekali dan tidak mempedulikan lagi mereka yang sedang bertempur. Cepat ia berlutut di dekat muridnya dan
setelah melihat muka muridnya ia mengeluarkan suara tertahan, menotok dan mengurut sana-sini. Akhirnya Bayisan
dapat bicara.
"Suhu (Guru) ..." ia mengeluh. "Muridku, siapa yang melakukan ini padamu? Hayo katakan, siapa? Akan kubeset
kulit mukanya!"
Dengan suara terputus-putus Bayisan bercerita terus terang kepada gurunya bagaimana ia tergila-gila kepada
Tayami dan memasuki kamarnya, kemudian puteri mahkota itu menggunakan bubuk beracun mengenai mukanya. Ketika
bicara agak panjang ini, Bayisan telah terlalu banyak mengerahkan tenaganya, maka begitu habis bicara, ia jatuh
pingsan lagi. Ban-pi Lo-cia menarik napas panjang, menggeleng kepala dan berkata. "Ahhh, banyak wanita cantik
di dunia ini, mengapa kau memilih Puteri Mahkota bangsa sendiri? Ah, tidak bisa aku menggangu Puteri Tayami.
Tayami anak Kulu-khan, mengapa engkau begini kejam? Muridku, jangan penasaran. Aku akan menurunkan semua
kepandaianku kepadamu agar kelak kau dapat menjagoi dan menjadi orang nomor satu di Khitan!" Setelah berkata
demikian, Ban-pi Lo-cia memondong tubuh muridnya itu dan lari meninggalkan tempat itu tanpa peduli lagi kepada
dua orang yang sedang bertanding.
"Ban-pi Lo-cia, kau hendak lari kemana?" Kwee Seng menusukkan tulang paha dengan jurus maut Pat-sian-toat-beng
(Delapan Dewa Mencabut Nyawa) dari Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat. Baru sekarang ia menggunakan jurus Pat-sian
Kiam-hoat karena tadi dalam menghadapi Bu Tek Lojin ia belum mau mempegunakan ilmunya ini yang telah diperbaiki
dahulu oleh Bu Kek Siansu, sekarang ia ingin sekali mengejar Ban-pi Lo-cia, terpaksa ia menggunakan jurus ini.
Kagetlah Bu Tek Lojin. Serangan ini memang hebat sekali dan tak mungkin ditangkis atau dielakkan. Tulang itu
ujungnya tahu-tahu sudah mengancam ulu hati. Terpaksa Bu Tek Lojin menggunakan gerakan yang sebetulnya kalau
tidak terpaksa, ahli silat tinggi enggan melakukannya, yaitu membuang diri ke belakang seperti batang pohon
tumbang, lalu bergulingan di atas tanah.
Akan tetapi Kwee Seng memang hanya ingin membuat kakek cebol ini untuk sementara menjauhkan diri, langsung ia
meloncat dengan gin-kangnya yang hebat ke arah Ban-pi Lo-cia yang sedang melarikan diri membawa muridnya,
tulangnya menghantam ke arah lambung Ban-pi Lo-cia. Kakek gundul ini mendengar desir angin, menangkis dengan
lengan karena tahu bahwa senjata lawan itu tidak tajam.
Dukkk!!" Tubuh Ban-pi Lo-cia terguling! Bukan main kagetnya hati Si Gundul, karena sama sekali tidak
disangkanya Kwee Seng akan sekuat itu, jauh lebih kuat daripada beberapa tahun yang lalu. Tulang lengannya
tidak patah akan tetapi rasa nyeri menusuk sampai ke jantung. Ia tidak berani main-main lagi dan karena ia
memang amat kuat, sekali meloncat ia telah berada jauh di depan, lalu menggunakan ilmu lari cepatnya
meninggalkan tempat itu.
Kwee Seng hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar geraman hebat dan kakek cebol sudah menerjangnya
penuh kemarahan karena tadi dipaksa harus bergulingan sehingga pakaian dan rambut serta jenggotnya terkena
debu. Terpaksa Kwee Seng mencurahkan perhatiannya kepada kakek cebol lagi dan karena mendongkol, kini ia segera
mainkan Pat-sian Kiam-hoat dengan tulang di tangan kanan, sedangkan daun lebar di tangan kiri ia mainkan dengan
Ilmu Silat Lo-hai-san-hoat. Kalau tiga empat tahun yang lalu saja sepasang ilmu ini dapat membuat ia terkenal
dengan sebutan Kim-mo-eng, apalagi sekarang setelah ia memperoleh kemajuan pesat di Neraka Bumi. Hebat bukan
main permainan pedang dan kipasnya. Dalam segebrakan saja Bu-tek Lojin sudah terdesak sampai sepuluh jurus
lebih. Kwee Seng mengerahkan seluruh kepandaian karena maklum bahwa menghadapi kakek itu, sukar baginya untuk
dapat mengalahkannya. Dalam hal tenaga sin-kang maupun keringanan tubuh, kakek cebol ini hebat sekali.
"Eh... ohh... tahan dulu...!" Sambil mencelat ke sana-sini menghindarkan diri dari sambaran daun dan tulang, Bu
Tek Lojin berteriak-teriak. Sebagai seorang pendekar, tentu saja Kwee Seng menurut dan menghentikan
serangannya.
"Mau bicara apa lagi. Bukankah kau yang tadi mendesakku untuk bertanding sampai mati?" Kwee Seng menegur marah
dan mendongkol.
"Mengapa gaya permainan silatmu seperti itu? Apakah kau murid Bu... Bu Kek ... Siansu ...?"
Kwee Seng tersenyum. "Bukan, akan tetapi beliau pernah memberi petunjuk kepadaku.."
"Wah... celaka... cukuplah kita main-main." Kakek cebol itu lalu bersuit panjang dan datanglah burung hantu
melayang-layang di atas kepalanya, kemudian ia lari meninggalkan Kwee Seng diikuti dari atas oleh burung hantu.
Sejenak Kwee Seng terlongong heran, kemudian ia pernasaran dan berlari pula mengejar. Ternyata ilmu lari cepat
kakek itu hebat, sukar baginya untuk dapat menyusul. Ia tahu bahwa kakek itu belum kalah, bahkan agaknya kalau
dilanjutkan dia sendirilah yang akan kalah. Akan tetapi mengapa Bu Tek Lojin menjadi seperti orang jerih dan
lari?
Bayangan kakek itu telah lenyap. Hanya tampak burung hantu merupakan titik hitam kecil jauh di depan. Kwee Seng
kehilangan semangat untuk mengejar terus maka ia menghentikan larinya dan berjalan biasa menuju ke depan.
Ketika ia memasuki hutan, tiba-tiba ia mendengar suara orang tertawa, suara ketawa Bu Tek Lojin! Ia menjadi
heran dan lari lagi memasuki hutan.
Apa yang dilihatnya membuat Kwee Seng berhenti dan menyelinap di belakang pohon. Kiranya kakek cebol itu sudah
berdiri sambil tertawa bergelak, sedangkan didepannya tampak seorang laki-laki bangsa Khitan yang bertubuh
pendek pula akan tetapi kuat, yang ia kenal sebagai seorang tokoh Khitan yang kata orang adalah panglima tua!
Memang, laki-laki ini bukan lain adalah Kalisani yang telah meninggalkan kota raja dengan maksud merantau ke
selatan. Kebetulan sekali di dalam hutan itu Kalisani bertemu dengan kakek cebol yang amat ia kagumi sepak
terjangnya ketika kakek itu menggegerkan pesta perlombaan Khitan. Begitu melihat Si Kakek Cebol, tanpa
ragu-ragu lagi Kalisani lalu menjatuhkan diri berlutut sambil berkata.
"Locianpwe (Orang Tua Gagah) sudilah Locianpwe menerima teecu (murid) sebagai murid. Apa pun yang locianpwe
perintahkan, akan teecu taati dengan taruhan jiwa raga teecu."
Inilah yang membuat Bu Tek Lojin tertawa bergelak-gelak sehingga terdengar tadi oleh Kwee Seng. Kakek cebol itu
setelah tertawa berkata, "Aku akan membikin kepalamu seperti kepala Ban-pi Lo-cia, hendak kulihat apakah kau
masih nekat mau mengangkat aku sebagai gurumu!" Setelah berkata demikian, kakek cebol itu menggerakkan telapak
tangannya ke arah kepala Kalisani. Bekas Panglima Khitan ini terkejut sekali ketika merasa hawa panas menyambar
kepalanya. Celaka, pikirnya, mati aku sekali ini! Akan tetapi karena ia telah terlanjur berjanji akan patuh
menurut, ia meramkan matanya dan menguatkan hatinya, kalau perlu mati, apa boleh buat!
Kwee Seng yang mengintai juga kaget sekali. Telapak tangan kakek cebol itu bukannya memukul, melainkan mengusap
kepala Kalisani dan ketika ia mengangkat kembali tangannya, semua rambut bagian atas kepala Kalisani rontok
semua sehingga kepala itu menjadi gundul kelimis bagian atasnya, botak tidak kepalang! Diam-diam Kwee Seng
memaki atas kekejaman kakek cebol itu.
Kalisani meringis , kulit kepalanya terasa panas dan sakit, akan tetapi tidak tembus sampai menembus ke dalam,
hanya terasa seperti dibakar. Melihat rambutnya rontok semua, ia kaget dan makin teguh hatinya untuk belajar
ilmu kepada kakek yang amat sakti ini. Ia segera mengangguk-angguk sampai jidatnya membentur tanah sambil
berkata, "Jangan lagi begini, biar nyawa teecu kalau memang Suhu membutuhkan, teecu serahkan!"
Bu Tek Lojin tercengang menyaksikan kebulatan tekad hati orang. Ia mengelus-elus jenggotnya dan menarik napas
panjang. "Kau boleh juga. Bukankah kau panglima di Khitan, mengapa kau mengikuti aku dan hendak menjadi murid?"
"Sekarang teecu bukanlah prajurit Khitan lagi, teecu sudah meninggalkan kerajaan karena jemu menyaksikan
perebutan kekuasaan dan melihat betapa Khitan akan menjadi tidak beres. Karena amat kagum akan kesaktian suhu,
maka teecu hanya mempunyai satu niat di hati, yaitu menjadi murid suhu."
"Hah-hah-hah, selamanya aku tidak menerima murid. Akan tetapi, hemmm, dia sudah menurunkan kepandaian kepada
jembel tengik, mengapa aku tidak? Eh, Botak, baiklah kau menjadi muridku. Nah, hayo kau gendong aku dan jangan
berhenti sebelum kuminta, biarpun kedua kakimu akan patah-patah!"
Bukan main girangnya hati Kalisani. Setelah memberi hormat berlutut dan mengangguk sampai delapan kali, ia
menggendong kakek cebol itu dan lari congklang seperti kuda. Si Kakek Cebol tertawa bergelak-gelak lalu
berkata, "Hayo kau pun tertawa yang keras! Menjadi muridku harus gembira selalu, kalau tidak kau akan kubunuh!"
Dan terdengarlah suara Kalisani tertawa pula, terkekeh-kekeh menyaingi suara ketawa gurunya! Kalau ada orang
melihat mereka, tentu orang itu akan lari terbirit-birit atau berdiri terlongong keheranan karena keadaan
mereka itu hanya akan menimbulkan dua macam dugaan, pertama, mereka adalah dua iblis neraka atau yang kedua,
mereka adalah sepasang orang gila yang liar. Yang menggendong seorang berkepala botak dan tertawa
terkekeh-kekeh, yang digendong seorang kakek cebol tertawa bergelak-gelak sepanjang jalan. Dan di atas mereka,
terbanglah si Burung Hantu sambil mengeluarkan suara seperti tertawa pula, hanya saja suara itu akan membuat
orang menggigil serem di waktu malam!
Kwee Seng keluar dari balik pohon, menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang. Aneh-aneh di dunia ini,
memang! Kemudian ia lalu melanjutkan perjalanan meninggalkan Khitan. Urusannya di Khitan sudah selesai. Bayisan
telah terhukum, sungguhpun bukan langsung dari tangannya, adapun Ban-pi Lo-cia, biarlah lain kali kalau ada
kesempatan berjumpa, akan ia tantang untuk membereskan perhitungan, karena betapapun juga, matinya
Ang-siauw-hwa karena perbuatan keji Ban-pi Lo-cia, tak dapat terhapus begitu saja dari ingatannya.
Dalam perantauannya ini yang menjelajah belasan propinsi dan puluhan kota ratusan desa, tiada hentinya Kwee
Seng mengulurkan tangan melakukan darma baktinya sebagai seorang berilmu. Tak terhitung lagi jumlahnya penjahat
yang mengenal betapa keras dan ampuhnya telapak tangan kanannya, dan sebaliknya entah berapa banyaknya
orang-orang tertindas mengenal betapa lunak halus dan terbukanya telapak tangan kirinya! Di mana-mana Kwee Seng
melakukan perbuatan gagah perkasa dan kini masih saja ia sembunyi, tak suka menonjolkan namanya, dan hanya
beberapa kali karena terpaksa ia memperkenalkan namanya sebagai Kim-mo Taisu. Namun tak seorang pun dapat
menduga bahwa orang yang berpakaian compang-camping penuh tambalan, yang rambutnya riap-riapan dan tertawa-tawa
di sepanjang jalan, orang gila ini sebenarnya adalah Kim-mo Taisu Si Pendekar Budiman!
Berbahayalah orang yang terlalu lemah menghadapi racun asmara seperti halnya Kwee Seng. Pendekar ini seorang
yang kuat lahir batin, namun menghadapi pengaruh asmara, ia roboh. Perasaannya menjadi lemah dan lunak seperti
lilin cair dipermainkan tangan-tangan asmara yang jahil. Kegagalan cinta kasihnya terhadap Ang-siauw-hwa,
kemudian pukulan batin oleh asmara yang nakal ketika terjadi peristiwa dengan nenek di Neraka Bumi, benar-benar
membuatnya runtuh. Rasa sesal dan malu bercampur aduk sehingga membuat kelakuannya seperti orang gila. Membuat
ia merantau tanpa tujuan sampai bertahun-tahun lamanya.
Memang sesungguhnya, tiada seorang pun manusia di dunia ini yang terluput dari pada serangan dan dorongan nafsu
yang merobah diri menjadi cinta. Tak seorang pun boleh mengingkari atau menghindarinya, karena hal ini sudahlah
wajar. Namun, betapa hebat cinta kasih merangsang hatinya, manusia tetap harus tenang waspada, jangan
membiarkan diri diperhamba nafsu, harus tetap berada di atas nafsu dan dapat mengendalikannya. Nafsu seumpama
kuda. Badan wadag (jasmani) seumpama kereta. Nafsulah yang menarik jasmani ke depan sehingga berhasil
memperoleh kemajuan jasmani, seperti halnya kuda menarik kereta sehingga dapat maju dengan lancar. Akan tetapi,
tanpa ada Sang Kusir yang menguasai kuda itu maka akan berbahayalah jadinya. Sifat kuda memang liar, ganas dan
tidak mudah ditundukkan. Sang Kusir inilah rohani yang harus diperkuat dengan kesadaran. Apabila Sang Kusir
kuat dan dapat menguasai keliaran kuda nafsu, maka kuda itu akan dapat dibikin jinak, dapat dikendalikan untuk
maju menarik kereta jasmani ke arah jalan yang benar. Sebaliknya, apabila Sang Kusir itu lemah, maka kuda nafsu
yang akan menguasai perjalanan, dan akibatnya dapat mengerikan. Kuda liar dapat menarik kereta beserta kusirnya
tanpa aturan lagi dan besar kemungkinan akan membawa kereta masuk jurang!
Betapapun juga, terlalu meremehkan cinta kasih seperti halnya Liu Lu Sian, juga berbahaya sekali. Sekali
meremehkan cinta kasih murni antara suami isteri, besar kemungkinan orang akan terseret kepada sifat tinggi
hati dan memandang cinta sebagai barang permainan dan iseng-iseng belaka! Sifat ini akan menyeret orang untuk
berkecimpung ke dalam percintaan hewani yang terdorong oleh nafsu berahi semata.
Liu Lu Sian telah melakukan kesalah itu. Ia memandang rendah akan cinta kasih suami isteri sehingga ia rela
meninggalkan kam Si Ek dan puteranya, mencari kebebasan. Memang hal ini tidak mungkin. Siapapun juga yang telah
mengikatkan diri dengan perjodohan, berarti ia mengikatkan diri pula dengan pelbagai kewajiban, tak mungkin
dapat bebas lagi kalau ia mau menjadi seorang isteri atau suami yang baik. Lu Sian lari daripada
kewajiban-kewajiban yang dianggapnya berat tak menyenangkan itu. Ia lari mencari kebebasan, kebebasan total,
juga kebebasan cinta!
Ada juga rasa sesal di hatinya ketika ia meninggalkan rumah, namun rasa ini ia buang jauh-jauh dengan bayangan
yang menyenangkan. Betapa pun ia akan bertualang sesuka hatinya. Pergi ke mana pun ia suka. Agak berat hatinya
kalau ia teringat kepada Bu Song. Namun, bantah hatinya, Bu Song sudah besar, dan di sana ada ayahnya. Tentu
anak itu takkan terlantar. Pula, ia memang hendak mempertinggi ilmunya untuk kelak diwariskan kepada Bu Song.
Puteranya harus menjadi ahli silat nomor satu di dunia ini!
Lu Sian berangkat menuju rumah ayahnya di Nan-cao. Ia harus memberitahukan ayahnya tentang perceraiannya dengan
Kam Si Ek. Kalau tidak diberitahu dan ayahnya itu datang menjenguknya di rumah Kam Si Ek, tentu ayahnya akan
mendapat malu. Selain ini, untuk mempertinggi ilmunya ia harus minta bantuan ayahnya. Ia maklum betapa ayahnya
amat kikir dalam hal menurunkan kepandaiannya. Ketika ayahnya bertanding melawan Kwee Seng, ayahnya dapat
mengimbangi kelihaian pendekar itu, sedangkan dia sama sekali tidak berdaya menghadapi Kwee Seng. Kalau ayahnya
masih bersikap kikir, ia tahu di mana ayahnya menyimpan kitab-kitab itu, kalau perlu dicurinya.
Ia tidak tergesa-gesa dalam perjalanannya yang amat jauh itu, karena ia hendak menikmati "kebebasannya". Bukan
main gembira hatinya ketika ia melihat betapa semua mata, terutama laki-laki, di sepanjang perjalanan
menelannya dengan lahap. Teringat ia akan keadaannya dahulu sebelum menjadi isteri Kam Si Ek, di mana semua
laki-laki memuja dan memperebutkan cintanya. Alangkah senangnya dalam keadaan seperti itu. Ia merasa dirinya
terangkat tinggi sekali, merasa amat berharga, tidak seperti kalau berada di rumah Kam Si Ek di mana ia hanya
terikat oleh kewajiban melayani suaminya seorang dan merawat anaknya.
Akan tetapi, beberapa bulan kemudian mulailah Lu Sian merasa kesepian. Mulai ia merasa rindu akan belaian dan
cumbu rayu, akan kasih sayang seorang pria. Ia merasa rindu sekali kepada Kam Si Ek, suaminya yang selalu
memperlihatkan kasih sayang mesra terhadap dirinya.
Pada pagi hari itu, Lu Sian duduk termenung di dalam rumah makan. Semalam ia sama sekali tidak tidur dalam
rumah penginapan tak jauh dari rumah makan itu. Gelisah semalam suntuk ia bergulingan di atas pembaringan,
hatinya penuh rindu berahi kepada suami yang telah ia tinggalkan. Ia malah sampai menangis penuh penyesalan
mengapa ia tinggalkan suami dan anaknya. Akan tetapi hatinya yang keras melarangnya untuk kembali, karena ia
maklum bahwa di rumah suaminya, segala akan berubah lagi menjadi hambar, sehari-hari hanya berkeliaran di dalam
rumah tak pernah dapat menikmati alam bebas.
Hanya semangkok bubur dan daging asin dapat memasuki perutnya. Sehabis makan ia termenung, tak merasa betapa
tiga pasang mata pelayan melahap kecantikannya. Rumah makan itu masih kosong, belum ada tamu sepagi itu.
"Bung pelayan, beri aku dua mangkok bubur panas dan arak panas dan arak hangat!" tiba-tiba suara ini
menyadarkan Lu Sian dari lamunannya. Ia melirik ke kanan dan tampak olehnya seorang laki-laki sudah duduk di
depan meja sebelah kanannya, dekat pintu rumah makan. Karena tenggelam dalam lamunannya, ia sampai tidak tahu
bahwa ada tamu memasuki rumah makan itu. Pelayan cepat melayani tamu baru ini dan laki-laki itu makan dengan
lahapnya, kelihatannya lapar sekali.
Dari sudut matanya, Lu Sian melihat bahwa laki-laki itu berusia tiga puluh lebih, sikapnya tenang dan wajahnya
tampan gagah, akan tetapi seperti diliputi awan kedukaan dan kekuatiran. Tubuh laki-laki itu tegap dan di
pinggangnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya lapuk, akan tetapi gagangnya yang licin karena sering
dipergunakan itu berukirkan kepala burung dewata, Lu Sian dapat menduga bahwa laki-laki itu tentulah seorang
yang pandai ilmu silat, akan tetapi seperti biasa, ia memandang rendah karena selama perjalanan, terlalu banyak
ia melihat laki-laki berpedang namun yang tingkat kepandaiannya hanya begitu-begitu saja. Hanya wajah orang itu
agak menarik perhatiannya, wajah yang benar-benar gagah, dagunya membayangkan kekerasan hati, wajah yang
memiliki kegagahan seperti wajah Kam Si Ek, suaminya.
Pada saat itu terdengar suara nyanyian yang parau dan serak, datangnya dari jalan besar, diselingi suara
berketuknya tongkat di atas tanah berbatu. Lapat-lapat terdengar kata-kata dalam nyanyian bersama dari beberapa
orang itu, membuat Lu Sian terkejut dan cepat memandang ke luar.
Beratap langit berlantai bumi

Disanalah tempat tinggal kami

Kami tidak punya apa-apa

Makan pakaian kami tinggal minta!
Kekagetan Lu Sian ada sebabnya. Pernah ia mendengar nyanyian sederhana ini dari mulut ayahnya yang memuji
nyanyian itu sebagai syair yang baik dan berisi dari Perkumpulan Pengemis Hati Kosong (Khong-sim Kai-pang).
Menurut penuturan ayahnya, diantara perkumpulan-perkumpulan pengemis yang besar-besar, yang paling terkenal dan
amat banyak anggotanya, adalah Khong-sim Kai-pang itulah. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang
tinggi dan biarpun hanya perkumpulan pengemis, namun sesungguhnya merupakan orang-orang yang menjadi penganut
agama gabungan Buddha dan Locu. Karena filsafat Locu, maka mereka namakan diri Pengemis Hati Kosong, dan karena
pengaruh ajaran Budhha, maka mereka mengemis ke sana ke mari, hidup sederhana sekali! Lu Sian masih teringat
beberapa tahun yang lalu ayahnya menyatakan bahwa ketua perkumpulan Pengemis Hati Kosong ini adalah Yu Jin
Tianglo, seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, ahli bermain toya dan tongkat. Biarpun tidak secara resmi,
namun pada umumnya para perkumpulan pengemis lain di beberapa propinsi mengakui Khong-sim Kai-pang sebagai
partai induk dan semua peraturan mengenai "dunia pengemis" bersumber kepada perkumpulan Pengemis Hati Kosong
inilah. Kiranya hanya perkumpulan pengemis Ban-hwa-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Selaksa Bunga) di pantai
timur sajalah yang dapat menandingi kebesaran nama Khong-sim Kai-pang.
Pada saat Lu Sian termenung mengingat cerita ayahnya, suara nyanyian mereka sudah berhenti, tinggal suara
ketukan tongkat di atas batu-batu jalan saja yang terdengar, makin lama makin dekat. Ketika Lu Sian melirik ke
arah laki-laki gagah di dekat pintu, orang itu juga menggeser kursinya menghadap pintu, akan tetapi wajahnya
tidak membayangkan sesuatu, tetap tenang dengan awan kedukaan menyelimutinya. Orang itu masih tetap makan
buburnya dengan sumpit, sebentar-sebentar diseling minum araknya. Karena penggeseran kursi itu, maka kini Lu
Sian duduknya berhadapan dengan laki-laki itu dan diam-diam ia harus mengakui bahwa laki-laki itu tampan dan
gagah, amat menarik hati.
Muncullah kini rombongan penyanyi itu di depan pintu. Mereka terdiri dari tiga orang pengemis, pakaian mereka
bermacam-macam akan tetapi kesemuanya sudah rombeng, penuh tambalan, bahkan ada seorang di antara mereka yang
kaki celana sebelah kiri buntung sampai di atas lutut. Ada pula yang kaki kanannya telanjang sedangkan kaki
kiri bersepatu baru. Orang ke tiga masih muda, biarpun pakaiannya tambal-tambalan dan robek-robek, namun
kainnya bersih sekali dan jelas tampak pengemis muda ini "pasang aksi" ketika matanya memandang Lu Sian.
Tiga orang pengemis ini kelihatan tercengang kaget ketika melihat laki-laki tadi, dan segera mereka maju ke
depan, mata mereka tiba-tiba mengandung sinar kemarahan, akan tetapi mulut mereka masih senyum-senyum. Hanya Si
Pengemis Muda saja yang kadang-kadang melirik tajam ke arah Lu Sian, agaknya perhatiannya terhadap laki-laki
tadi amat terganggu oleh hadirnya Lu Sian yang membetot semangatnya. Pengemis yang bersepatu sebelah itu
mengetuk-ngetukkan tongkat berirama, lalu membuka mulutnya bernyanyi, suaranya parau dan dalam seperti suara
seekor katak besar.
"Tamu tak diundang datang kemari

apakah hendak menyerahkan diri?"
Laki-laki gagah itu menghabiskan buburnya, lalu berteriak memanggil pelayan dengan suara tenang, "Heii, Bung
Pelayan. Tolong tambah bubur setengah mangkok lagi." Pelayan segera datang, akan tetapi ketika melirik keluar
pintu ia menjadi marah. Setelah mengisi mangkok kosong dengan bubur dan menghidangkannya ke meja Si Laki-laki
gagah, pelayan itu lalu mendamprat ke luar pintu.
"Eh, kalian ini bagaimana berani tak tahu aturan begini? Ada tamu sedang dahar, jangan diganggu! Nanti sore
saja datang kalau hendak minta sisa..." Tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya ketika melihat betapa pengemis
termuda telah mengambil batu dan meremasnya hancur seperti orang meremas tepung saja! Pelayan itu mengenal
gelagat, tahu bahwa tiga orang pengemis itu bukan pengemis biasa, maka mukanya menjadi pucat ketika ia menoleh
ke arah tamunya yang enak-enak makan kemudian cepat-cepat ia pergi menjauhi. Pengemis muda itu dengan lagak
sombong membuang hancuran batu ke atas tanah, matanya melirik ke arah Lu Sian mengharapkan pujian. Akan tetapi
gadis ini melirik pun tidak, melainkan terus memperhatikan Si Laki-laki Gagah, dan di dalam hatinya siap untuk
membantu kalu laki-laki itu menghadapi bahaya.
Tanpa mempedulikan teguran pimpinan tadi, pengemis ke dua yang kaki celananya panjang sebelah, menyambung
nyanyiannya.
"Menyerahkan diri membayar hutang

baru si Kecil diantar pulang!"
Pengemis muda segera menyambung nyanyian ini, suaranya dibuat-buat dan memang suaranya merdu, matanya melirik
Lu Sian dan bibirnya tersenyum-senyum.
"Diantar pulang ke rumah siapa?

Apakah si Manis ada yang punya?"
Mendengar nyanyian terakhir ini, tiba-tiba lelaki itu menoleh ke arah Lu Sian dan dalam beberapa detik dua
pasang mata bertemu. Muka lelaki itu menjadi merah, sinar matanya tampak terpesona lalu bingung. Namun jelas
bahwa dengan kekerasan hati laki-laki itu dapat menyadarkan kembali kebingungannya karena terpesona oleh
kecantikan wajah Lu Sian yang sejak tadi tidak dilihatnya. Ia memaksa mukanya kembali menunduk dan
tenang-tenang saja makan buburnya dengan sumpit.
Juga hati Lu Sian berdebar aneh, ketika mereka bertemu pandang tadi. Melihat pandang mata orang itu, ia seperti
dapat menjeguk isi hatinya! Jelas sekali laki-laki itu kagum kepadanya. Biasanya, semua laki-laki yang
memandangnya tentu kagum dan jatuh hati, akan tetapi hal itu malah membuat Lu Sian kadang-kadang tersenyum
mengejek di samping kebanggaannya. Sekali ini tidak. Ia merasa girang sekali!
Tiga orang pengemis itu jelas menujukan nyanyian mereka kepada orang itu, kecuali pengemis muda yang
menyelewengkan nyanyian ke arah Lu Sian. Kini melihat orang itu sama sekali tidak peduli mereka menjadi marah.
Si Pengemis Muda menggerakkan tangannya dan menyambarlah sinar kehitaman ke arah leher laki-laki gagah. Lu Sian
diam-diam kaget sekali, tahu bahwa itu adalah senjata rahasia, yang biarpun tidak terlalu hebat namun cukup
berbahaya kalau Si Laki-laki tidak dapat menghindarkan diri. Akan tetapi hatinya lega dan kagum ketika melihat
laki-laki itu mengangkat sumpitnya dan... paku hitam yang menyambar lehernya telah terjepit di antara sepasang
sumpit! Kemudian tangan yang memegang sumpit bergerak, paku hitam menyambar dengan kecepatan beberapa kali
lipat daripada tadi ke arah Si Penyerang.
"Auuuhhh...!" Pengemis muda yang aksi itu meloncat-loncat dengan kaki kanan sambil mengaduh-aduh dan memegangi
kaki kirinya yang diangka-angkat. Paku tadi, pakunya sendiri yang biasanya ia sombongkan sehingga ia memakai
julukan Tou-hiat-teng (Si Paku Penembus Jalan Darah), kini telah menancap di paha kirinya sampai tidak
kelihatan lagi kepalanya!
Dua orang pengemis melihat ini menjadi marah sekali. Si Celana Panjang Sebelah menerjang dengan tongkatnya yang
ditusukkan ke arah muka sedangkan pengemis sepatu tunggal itu mencabut golok lalu membacok ke arah leher. Namun
orang itu masih enak-enak makan buburnya yang belum habis, membiarkan dua senjata itu menyambar sampai dekat
sekali. Kali ini Lu Sian benar-benar kaget. Sungguh berbahaya sekali ketenangan yang berlebih-lebihan itu,
pikirnya. Cepat tangannya menyambar sumpit yang tadi ia pakai makan, sekali tangannya bergerak sepasang sumpit
itu meluncur ke depan seperti anak panah melesat dari busurnya.
"Tranggg! Aduhhh! Aduhhh...!" Peristiwa yang menjadi beberapa detik mengherankan sekali. Secara tiba-tiba,
laki-laki yang dijadikan sasaran tongkat dan golok itu lenyap dari atas kursinya sehingga golok dan tongkat
saling bertemu di udara, kemudian dalam detik selanjutnya, tangan dua orang pengemis yang memegang senjata itu
telah tertusuk sumpit, tembus di telapak tangan sehingga senjata mereka terlepas dari pegangan, mereka
berteriak-teriak kesakitan sambil menggunakan tangan kiri memijit-mijit tangan kanan.
"Lee-hi-ta-teng (Ikan Lee Meloncat) yang bagus!" "Sambitan yang luar biasa!" Pujian yang keluar dari mulut Lu
Sian dan orang gagah itu keluar dalam waktu bersamaan, mereka saling pandang pula. Hanya beberapa detik,
pandang mata penuh kagum dan "ada rasa"! akan tetapi laki-laki itu segera melangkah keluar menghadapi tiga
orang pengemis yang masih mengaduh-aduh, lalu berkata dengan suara lantang berwibawa.
"Aku Tan Hui adalah laki-laki tidak suka berlaku pengecut! Setahun yang lalu urusanku dengan Kong-sim Kai-pang
sudah kubereskan dengan Yu Jin Tianglo, kami berdua saling menghargai dan bersahabat. Kenapa sekarang tanpa
alasan Kong-sim Kai-pang mengganggu anak kecil? Kalu ada urusan silahkan Yu Jin Tianglo menemui aku, mengapa
mengutus segala macam anjing kecil macam kalian? Hayo katakana kepada Yu Jin Tianglo bahwa aku Tan Hui ingin
bicara dengan dia sendiri. Pergilah!" Dengan tangan kanannya laki-laki yang bernama Tan Hui itu mendorong. Hawa
dorongan ini menimbulkan angin dan tiga orang pengemis yang sudah terluka itu roboh terguling! Mereka merangkak
bangun, meringis kesakitan, lalu yang sebelah kakinya telanjang memandang dengan mata melotot kepada Lu Sian.
"Nona, kau siapakah dan mengapa mencampuri urusan kami? Apa hubunganmu dengan Hui-kiam-eng Tan Hui?"
Lu Sian tersenyum, manis sekali senyumnya sehingga pengemis muda yang pahanya terluka itu untuk sejenak
melupakan rasa nyerinya. "Aku bukan apa-apa dengan orang gagah ini, adapun namaku Lu Sian. Karena jemu
menyaksikan sikap tengik kalian, maka aku menjadi muak. Masih untung sumpitku tidak kutujukan kepada kepala
kalian!"
Tiga orang pengemis itu memandang dengan mata melotot, kemudian mereka membalikkan tubuh dan sambil menuntun
pengemis muda yang terpincang-pincang mereka meninggalkan tempat itu.
Lu Sian tadi kaget juga mendengar laki-laki itu memperkenalkan namanya. Tentu saja ia sudah mendengar akan
Hui-kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang) yang amat terkenal di daerah timur ini, seorang yang kabarnya amat lihai
ilmu pedangnya dan terutama sekali gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dimilikinya tak pernah menemui
tanding. Tadi ia sudah menyaksikan gerakan yang biasa saja, namun dilakukan oleh Tan Hui dengan hebat luar
biasa. Dia sendiri tak mungkin dapat melakukan gerakan ini secepat itu.
Di lain pihak, Tan Hui mengingat-ingat dan ia tak pernah mendengar nama seorang pendekar wanita bernama Sian
dengan nama keturunan Lu. Akan tetapi sambitan sumpit tadi jelas membuktikan bahwa wanita cantik jelita seperti
bidadari di hadapannya ini adalah seorang ahli silat yang berilmu tinggi. Ketika ia memandang wajah yang
tersenyum itu, sepasang mata yang bagaikan bintang begitu bercahaya, bening dan berbentuk indah sekali, hidung
mancung dan bibir merah basah, rambut sinom yang terurai di kening, benar-benar membuatnya terpesona dan dengan
gagap ia berkata sambil mengangkat kedua tangan di depan dada.
"Nona, banyak terima kasih atas bantuanmu tadi." Lu Sian tersenyum, tampaklah deretan gigi yang laksana
mutiara, kemudian bibirnya bergerak-gerak ketika bicara, matanya bersinar-sinar. "ah, itu bukanlah bantuan
namanya dan tidak ada artinya. Kita mempunyai perasaan yang sama, bukan? Sama-sama sebal menyaksikan tiga orang
jembel tadi..."
Hening sejenak, dan tiba-tiba Lu Sian menahan tawanya melihat betapa orang itu memandangnya dengan melongo,
jelas terpesona dan seperti lupa keadaan.
"Eh, Tan-enghiong, kau kenapa....?" Tegurnya, tersenyum manis.
Tan Hui gelagapan. Selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan wanita begini cantik jelita, yang bibirnya
bergerak-gerak dan matanya bersinar-sinar. "Eh... oh... kau... kau hebat sekali..."
Kembali Lu Sian tersenyum lebar dan untuk sesaat mereka hanya berdiri saling pandang dengan kaku. Akhirnya Lu
Sian berkata, "Apkah kita akan terus bicara sambil berdiri saja?"
Kembali Tan Hui baru sadar akan keadaan yang serba canggung itu, maka ia menjadi malu, merah sekali mukanya
ketika ia berkata. "ah..., silakan, Nona. Mari silakan duduk."
Mereka duduk semeja, saling berhadapan. "Sudah lama aku mendengar tentang Khong-sim Kai-pang. Kabarnya
perkumpulan pengemis itu terkenal sebagai perkumpulan baik-baik, diketuai oleh Yu Jin Tianglo yang lihai dan
terkenal sebagai tokoh baik-baik. Mengapa kau di musuhi mereka?"
Tan Hui menarik napas panjang dan kembali wajahnya yang sejenak tadi kehilangan bayangan duka, kini menjadi
keruh kembali. "Panjang ceritanya, nona. Akan tetapi aku yakin bahwa kita segolongan, maka tidak ada salahnya
kalau aku ceritakan hal ini kepadamu. Eh, Bung Pelayan, tolong kauantarkan seguci arak dan daging sekati."
Pelayan menghampiri mereka. Pelayan ini tersenyum-senyum dan terbongkok-bongkok penuh hormat. "Maaf, Taihiap.
Kami tidak tahu bahwa Tuan adalah Tan-taihiap yang terkenal budiman. Dasar pengemis-pengemis itu tidak tahu
diri, berani main gila terhadap Hui-kiam-eng Tan Hui Taihiap (Pendekar Besar)!"
"Sudahlah tolong kau sediakan pesananku." Pelayan itu tersenyum-senyum ramah, lalu berlari pergi untuk
mempersiapkan pesanan itu. Adapun pelayan lain melihat rumah itu masih belum banyak tamu, menggunakan
kesempatan menganggur ini lari ke luar rumah makan untuk membual tentang kehadiran pendekar budiman
Hui-kiam-eng Tan Hui di tempat kerjanya!
"Aku mempunyai banyak musuh." Tan Hui mulai bercerita setelah menarik napas panjang, semua karena salahku. Aku
terlalu lancang tangan dan suka mencampuri urusan lain orang. Tak tahan aku melihat orang ditindas atau
kejahatan berlalu saja tanpa orang membenciku...."
"Sudah selayaknya orang gagah dibenci orang jahat." Lu Sian berkata menghibur, karena ia anggap hal seperti itu
bukanlah hal yang patut disusahkan. Orang ini gagah sekali dan sikapnya jantan, amat menarik hati. Akan tetapi
wajahnya selalu membayangkan kerisauan hati.
Tan Hui mengangguk. "Cocok! Memang begitulah pendirianku pula, Nona. Karena itulah maka aku tak pernah berhenti
dengan tugasku, selalu kubela kebenaran dan kutegakkan keadilan, kalau perlu kugunakan kekerasan untuk
menghantam mereka yang sewenang-wenang. Dan ini pula sebabnya mengapa aku mempunyai urusan dengan Khong-sim
Kai-pang. Lima orang angguta Khong-sim Kai-pang melakukan penyelewengan setahun yang lalu di kota Tong-an.
Mereka minta derma secara paksa, tidak itu saja, malah seorang di antara mereka telah menculik puteri seorang
hartawan dan memperkosanya. Aku kebetulan lewat di kota itu, lalu turun tangan memberi hajaran kepada mereka
dan malah membunuh Si Penculik."
"Kenapa tidak dibunuh semua saja?" Lu Sian memotong. Tan Hui menghela napas. "Kalau kubunuh semua, kiranya
tidak akan muncul akibat begini panjang. Akan tetapi mengingat bahwa selamanya Khong-sim Kai-pang terkenal
baik, apalagi aku memandang muka ketuanya, maka kuampunkan mereka dan hanya membunuh seorang yang paling jahat.
Aku sangka urusan hanya berhenti sampai di situ. Tidak tahunya, ketika kau melakukan perjalanan, aku dihadang
dan dikeroyok tiga puluh orang Khong-sim Kai-pang yang memendam atas kematian seorang temannya. Terjadi
pertempuran dan biarpun aku merobohkan dan melukai banyak di antara mereka, namun aku menjaga sehingga tidak
seorang pun tewas. Aku lalu pergi langsung mencari Yu Jin Tianglo, menceritakan semua urusan itu. Yu Jin
Tianglo marah sekali kepada anak buahnya, malah menghukum mereka dengan penurunan tingkat. Urusan itu sudah
beres sampai... setengah bulan yang lalu..." Sampai di sini Tan Hui berhenti dan wajahnya memperlihatkan
kemuraman.
"Lalu mereka mengganggumu? Kalau hanya pengemis-pengemis itu saja, takut apakah? Biar mereka datang mencari
mati. Yu Jin Tianglo kalau membela anak buahnya yang mencari perkara, dia pun tidak benar dan perlu diberi
hajaran!"
Tan Hui tercengang keheranan menyaksikan Lu Sian bicara penuh semangat dan marah-marah. Urusan ini tidak ada
sangkut-pautnya denga Lu Sian, mengapa gadis ini menjadi begitu marah?
"Sungguh tidak enak terhadap Yu Jin Tianglo..." "Tidak enak bagaimana? Anak buahnya yang tak tahu aturan yang
mencari-cari perkara! Apakah kau takut menghadapi orang tua itu? Tan-enghiong, jangan kuatir, aku akan
membantumu. Aku tidak takut menghadapi orang tua itu kalau ia banyak bertingkah membantu anak buahnya yang
tidak benar!"
Tan Hui tentu saja tidak mengenal watak Lu Sian maka ia makin terheran-heran. Memang watak Lu Sian amat ganas
menghadapi orang-orang yang ia anggap memusuhinya atau memusuhi orang yang disukainya. Dan Tan Hui otomatis
telah menarik perhatiannya dan menimbulkan rasa sukanya!
Dengan muka masih terheran Tan Hui bangkit berdiri dan menjura. "Terima kasih atas perhatian Nona terhadap
perkaraku."
"Ah, kita sudah menjadi sahabat. Bukankah kau katakan tadi bahwa kita orang segolongan? Tak perlu
sungkan-sungkan lagi." Jawab Lu Sian.
Tan Hui duduk kembali dan menarik napas panjang, lalu menghirup araknya. "Persoalannya tidaklah begitu
sederhana. Kalau hanya para anggota Khong-sim Kai-pang yang masih penasaran, hal itu tidaklah menguatirkan.
Akan tetapi dua pekan yang lalu... aku hidup sebatang kara, mengapa mereka mengganggu anakku? Mereka menculik
anakku yang baru berusia lima tahun..."
Lu Sian terkejut dan merasa agak kecewa. "Tan-enghiong! Kau bilang hidup sebatang kara... tapi kau... mempunyai
anak?"
Melihat kekagetan orang, Tan Hui tersenyum duka. "Memang aku sebatang kara... semenjak isteriku meninggal dua
tahun yang lalu. Aku seorang duda dengan seorang anak yang kutitipkan kepada pamannya. Itu pula sebabnya
orang-orang jahat itu dapat menculik puteriku. Kalau dia berada bersamaku, tak mungkin mereka dapat
melakukannya! Ah, aku menyesal sekali mengapa aku suka merantau seorang diri dan menitipkan kepada kakak
isteriku. Pada suatu malam, serombongan anggota Khong-sim kai-pang mendatangi rumah itu dan menggunakan
kekerasan menculik pergi anakku. Iparku tidak dapat berbuat apa-apa dan mereka meninggalkan pesan bahwa kalau
aku menghendaki anakku selamat, aku harus menyerahkan diri kepada mereka!"
"Ah... begitukah? Jahanam benar mereka! Di manakah adanya Yu Jin Tianglo sekarang? Dia seoranglah yang harus
bertanggungjawab menghadapi semua ini. Minta anak itu dari tangannya, kalau tidak diberikan, berarti dia
menantang!"
"Markas Khong-sim Kai-pang berada di kota Kang-hu, hanya dua puluh li dari sini jauhnya. Adapun Yu Jin Tianglo
biasanya berdiam dalam sebuah kuil tua di luar kota itu. Karena itu pula aku hari ini sampai di sini, siapa
tahu, agaknya Yu Jin Tianglo sudah menyuruh anak buahnya sengaja datang untuk menentang!"
"Tak usah takut! Kita serbu saja ke sana. Mari kita ke sana, aku akan membantumu, Tan-enghiong!"
"Nona Lu..., bukan aku tidak menghargai penawaranmu yang amat berharga itu. Akan tetapi... urusan ini mengenai
pribadiku sendiri, sedangkan Yu Jin Tianglo amat lihai, belum lagi anak buahnya yang banyak..."
"Aku tidak takut!" "Aku percaya, Nona. Kepandaianmu tinggi. Akan tetapi... aku seorang duda yang mencari
anaknya, sedangkan kau... kau seorang Nona terhormat, seorang gadis muda yang baru saja kujumpai. Kalau orang
luar melihat, tentu... ah, kiranya amat tidak baik untuk namamu kelak...."
Tiba-tiba Lu Sian serentak bangun berdiri, alisnya berkerut matanya berkilat. "Apa peduliku akan pendapat orang
luar! Aku suka membantumu, siapa melarangmu? Tentang kau seorang duda, apa salahnya? Aku pun seorang... janda!
Kita maju bersama untuk menghadapi Khong-sim Kai-pang, seorang duda dan seorang janda mana yang lebih cocok
lagi?"
Tan Hui tertegun dan diam-diam berdebar hatinya. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan wanita begini
cantik jelita, begini berani dan terbuka, kata-kata yang keluar dari mulutnya mencerminkan isi hatinya, tinggi
ilmu silatnya. Seorang janda pula!
Pada saat itu terdengar bentakan dari luar rumah makan. "Orang she Tan! Keluarlah dan lekas berlutut untuk kami
tangkap dan hadapkan kepada ketua kami!"
"Hemm, mereka benar-benar amat tak sabar. Heran aku mengapa Khong-sim Kai-pang dalam waktu setahun telah begini
berubah!"
"Kaulihat saja bagaimana aku menghajar mereka!" Sekali menggerakkan kakinya Lu Sian sudah meloncat keluar
menghadapi dua orang pengemis tua yang berdiri di depan rumah makan. Akan tetapi Lu Sian mendengar desir angin
dan tahu-tahu Tan Hui sudah pula berada di sampingnya. Kembali ia kagum bukan main dan harus ia akui bahwa nama
besar Hui-kiam-eng sebagai jago gin-kang nomor satu benar-benar bukanlah omong kosong belaka. Ia tadi sudah
sengaja mengerahkan ilmunya meringankan tubuh ketika meloncat, sebagian untuk pamer kepada Tan Hui, juga untuk
membikin jerih kedua orang pengemis tua. Siapa kira, gerakannya itu bagi Tan Hui agaknya kurang cepat karena
dalam sekejap mata ia tersusul!
"Nanti dulu, adik Sian!" bisik Tan Hui yang kini tidak tahu harus menyebut apa kepada Lu Sian. Menyebut Nona
tidak tepat karena Lu Sian ternyata bukan seorang gadis, melainkan seorang janda seperti pengakuannya. Menyebut
Nyonya, wanita ini masih amat muda, maka ia merasa paling tepat menyebut adik saja. "Biarkan aku bicara dulu
dengan mereka."
Tanpa memberi kesempatan kepada Lu Sian yang hendak membantah, Tan Hui sudah menjura kepada dua orang pengemis
tua itu sambil berkata,
"Melihat ikat pinggang putih yang Jiwi (Tuan Berdua) pakai, kiranya Ji-wi termasuk pimpinan Khong-sim Kai-pang,
aku dapat bicara dengan baik, tidak seperti tiga orang anggotanya tadi yang datang-datang lantas menyerang.
Mungkin Ji-wi sudah tahu bahwa di antara Khong-sim Kai-pang dan aku, tidak ada urusan permusuhan semenjak aku
bertemu dengan Yu Jin Tianglo setahun yang lalu. Oleh karena itu, kuharap Ji-wi suka menghadapkan aku kepada
orang tua itu agar urusan di antara kita dapat diselesaikan baik-baik. Ingin benar aku mendengar kata-kata
orang tua itu tentang main-main dari Khong-sim Kai-pang dengan anakku ini!"
Di dalam ucapan Tan Hui ini, biarpun terdengar sopan dan lunak, namun terkandung kekerasan tersembunyi,
sehingga sama sekali tak boleh dikatakan pendekar ini merendahkan diri. Betapapun juga, Lu Sian tidak puas.
Menurut kata hatinya, lebih baik menggunakan pedang daripada menggunakan lidah dalam menghadapi orang-orang
macam itu.
Dua orang pengemis itu sudah tua, usia mereka lima puluh tahun lebih. Keduanya bersikap sombong dan memandang
rendah, apalagi yang memegang tongkat berbentuk ular. Mukanya yang penuh keriput itu kelihatan pucat, akan
tetapi selalu membayangkan senyum mengejek dan pandang matanya seperti pandang mata seorang bangsawan melihat
pengemis. Dengan gerakan mulut yang kedua ujungnya ditarik ke bawah, Si Tongkat Ular ini berkata,
"Inikah orang muda sombong bernama Tan Hui yang telah membunuh dan menghina anak buah Khong-sim Kai-pang?"
Sambil berkata demikian, ia menggoyang-goyangkan tongkatnya berbentuk ular itu di depan dada dengan gerakan
penuh aksi!
Akan tetapi pengemis ke dua yang mempunyai kepala besar sekali, sikapnya biar sombong namun lebih
sungguh-sungguh dan berwibawa. Ia berkata dengan suara membayangkan ketinggian hati. "Hui-kiam-eng Tan Hui!
Setahun yang lalu kau menggunakan kelemahan bekas pangcu (ketua) kami, mengandalkan kepandaian untuk membunuh
dan menghina anak buah kami. Sekarang, kami telah mempunyai pangcu baru yang tidak mau membiarkan Khong-sim
Kai-pang dihina orang. Oleh karena itu, kalau kau menghendaki anakmu selamat, pangcu kami minta kau datang
menghadap kepada beliau di Kang-hu!" Setelah berkata demikian, pengemis berkepala besar ini membalikkan tubuh
hendak pergi.
"Heh-heh, mungkin dengan minta-minta ampun dan mengajak dia ini menghadap Pangcu, kau akan diampuni!" kata Si
Pengemis Bertongkat Ular yang lalu membalikkan tubuh pula, kemudian dengan langkah dibuat-buat ia meninggalkan
tempat itu, setelah melirik-lirik ke arah Lu Sian.
Tan Hui terkejut sekali dan termenung. Kiranya Yu Jin Tianglo sudah tidak menjadi Ketua Khong-sim Kai-pang,
sudah diganti. Pantas timbul urusan ini, pikirnya. Akan tetapi, ke manakah perginya Yu Jin Tianglo? Dan siapa
penggantinya? Ia harus lekas-lekas datang ke Kang-hu dan semua pertanyaan itu tentu akan terjawab. Terhadap
sikap dua orang pengemis tua itu, Tan Hui sama sekali tidak ambil peduli.
Boleh jadi Tan Hui menganggap mereka itu tidak perlu dilayani. Akan tetapi tidak demikian dengan Lu Sian. Dia
masih dapat menahan kesabarannya melihat dua orang itu memandang rendah Tan Hui, akan tetapi ketika pengemis
kurus bertongkat ular itu membawa-bawa dia yang jelas sekali mengandung maksud kotor dan kurang ajar, mana
mungkin Lu Sian berlaku sabar lagi?
"Eh, eh, nanti dulu, Lo-kai (Pengemis Tua) yang baik, aku mau bicara denganmu!" Dengan langkah cepat Lu Sian
mengejar. Tan Hui mengerutkan keningnya. Sahabat barunya ini benar-benar seorang wanita yang tidak tahu bahaya,
pikirnya. Melihat ikat pinggang putih lebar yang dipakai kedua orang pengemis itu, terbukti bahwa mereka adalah
pimpinan Khong-sim Kai-pang dan sudah terkenal bahwa para pimpinan Khong-sim Kai-pang adalah orang-orang yang
memiliki ilmu silat tinggi. Sekelebatan saja ia tadi dapat menerka bahwa Si Kepala Besar adalah seorang ahli
lwee-kang yang amat kuat, sedangkan Si Kurus itu agaknya seorang ahli bermin ilmu tongkat. Ia dapat menduga
bahwa Lu Sian tentu hendak mencari perkara, maka diam-diam ia merasa kuatir, akan tetapi juga ingin sekali ia
tahu sampai di mana kelihaian dua orang pengemis itu dan terutama wanita yang menarik hatinya ini. Tadi ia
hanya menaksir kelihaian Lu Sian melihat cara ia menyambit dengan sumpit, akan tetapi sesungguhnya hal itu
belum dapat dijadikan ukuran. Karena keinginan tahu inilah maka ia tidak menghalangi Lu Sian, melainkan
mendekat agar dalam waktu keadaan berbahaya, ia dapat memberikan pertolongan dengan cepat.
Kedua orang pengemis itu berhenti, Si Kepala Besar tidak bergerak, hanya membalikkan tubuhnya, akan tetapi Si
Kurus sudah melangkah lebar menghadapi Lu Sian sambil memutar-mutar tongkat ularnya dan menyeringai. "Nona mau
bicara apakah?" Ia melangkah maju sampai dekat sekali sehingga terpaksa Lu Sian mundur dua langkah.
"Harum... sedap...!" Si Pengemis mengembang-kempiskan hidungnya karena memang tercium keharuman luar biasa
ketika ia mendekati Lu Sian.
Diam-diam Tan Hui mendongkol sekali terhadap pengemis itu. Memang ia sendiri diam-diam sudah menjadi heran
ketika ia mencium keharuman dari tubuh Lu Sian, akan tetapi mendengar seruan kurang ajar itu ia merasa panas
dadanya. Benar-benar tidak patut sikap seorang pimpinan Khong-sim Kai-pang seceriwis itu!
Lu Sian sengaja melempar senyum manis, matanya bergerak-gerak dengan kerling tajam, kemudian ia berkata, "Orang
tua yang baik, kau tadi bilang kepada Tan-enghiong supaya mengajak aku menghadap pangcumu agar mendapat
pengampunan, apa artinya itu?"
Si Pengemis tertawa ha-hah-he-heh. "Nona seorang yang cantik luar biasa seperti bidadari, harum seperti mawar
hutan. Pangcu baru kami masih muda, tentu girang hatinya bertemu dengan orang seperti Nona, dan mungkin
kemarahannya terhadap orang she Tan akan mencair."
Di dalam hati Lu Sian mendongkol. Siapa sudi mendapat pujian dari seorang kakek jembel buruk seperti ini? Akan
tetapi wajahnya yang jelita itu tersenyum manis. "Pengemis tua, kau seorang pimpinan Khong-sim Kai-pang tentu
lihai dan terkenal sekali. Bolehkah aku mendengar namamu yang mulia dan terkenal?"
Si Kurus kegirangan, terkekeh sampai keluar air matanya. "Wah, namaku sih tidak terlalu besar akan tetapi di
dunia kang-ouw tentu cukup dikenal, cukup menggemparkan. Julukanku adalah Sin-coa Koai-tung (Tongkat Aneh Ular
Sakti)!"
Kakek jembel itu mengharapkan Lu Sian menjadi kagum, akan tetapi ia sejenak tercengang ketika melihat gadis itu
bertepuk tangan memuji. Hanya sejenak ia bingung melihat cara menyatakan kagum seperti ini, akan tetapi hatinya
lalu membengkak besar saking bangganya. "Hebat, Kakek Jembel, hebat namamu! Pantas kaugoyang-goyang selalu
tongkatmu seperti ular itu! Kiranya julukanmu Ular Sakti. Wah, hebat, seperti halilintar di tengah hari panas!"
Kembali pengemis itu melengak. "Seperti halilintar di tengah hari? Wah, baru sekali ini aku mendengar pujian begitu."
"Kau tahu, bukan? Halilintar yang menyambar-nyambar mengeluarkan suara keras, takkan mendatangkan hujan! Namamu
seperti gentong kosong berbunyi nyaring! Seperti perut kosong kebanyakan angin, maka angin busuk pula yang
dikeluarkan!"
Tan Hui tak dapat menahan senyumnya. Wah, Lu Sian ini terlalu berani, terlalu bebas dan liar, akan tetapi juga
terlalu... menarik hati! Sebaliknya, Sin-coa Koai-tung marah bukan main. Tahu-tahulah ia sekarang bahwa ia
telah dipermainkan oleh wanita cantik ini.
"Uh-uh, bocah kemarin sore berani kau memandang rendah tongkatku dan nama besarku?"
"Ah, sama sekali tidak. Sin-coa Koai-tung! Hanya mengingat nama julukanmu istimewa, tentu kau pun mempunyai
keistimewaan pula."
"Memang, aku mempunyai dua keistimewaan. Pertama, sekali tongkatku ini bergerak, jiwa seorang manusia melayang!
Dan sekali aku melihat wanita sejelita seperti kau ini, sekaligus hatiku lemas!" Ternyata kakek ini tidak hanya
lihai julukannya, juga lihai pula mulutnya sehingga serentak ia mampu membalas.
Namun ia menghadapi Liu Lu Sian, gadis yang lincah jenaka, liar ganas dan pandai bicara. "Sayang sekali, tua
bangka jembel, mulai hari ini julukanmu akan terganti dengan Tongkat Buntung Ular Buduk!" Kata-kata ini ditutup
dengan gerakan tangan dan "singgg!" pedang Toa-hong-kiam sudah berada di tangan kanan sedangkan tangan kirinya
di saat itu juga sudah mengipatkan tujuh batang Siang-tok-ciam yang hanya tampak sebagai kilatan sinar merah
menuju semuanya ke arah muka Si Pengemis Kurus!
"Aiiihhh!" Pengemis itu kaget bukan main, akan tetapi ia lihai, karena dalam kegugupannya, tongkatnya sudah
diputar cepat melindungi mukanya sehingga jarum merah itu kena dipukul runtuh.
"Monyet tua, makan pedangku!" Lu Sian sudah menerjang lagi dengan pedangnya. Ia menggunakan Ilmu Pedang
Toa-hong Kiam-hoat, cepatnya bukan main, dahsyat bagaikan angin badai, sesuai dengan sifat dan namanya. Seperti
badai mengeluarkan kilat bertubi-tubi, dalam serentetan serangan pedangnya sudah menyambar ke arah lima jalan
darah berturut-turut!
"Eh... orang...! Oh... ting... cring-cring-cring....!" Lima kali pengemis itu menangkis dengan tongkatnya,
keringat dingin mengucur membasahi mukanya karena hampir saja ia tak dapat menahan serbuan hebat itu. Baiknya
ilmu tongkatnya memang lihai maka setelah berhasil menangkis lima kali sambil mengeluarkan seruan kaget, ia
melompat ke belakang menjauhkan diri agar terlepas daripada rangkaian kilat menyambar itu. Lu Sian berdiri
tersenyum memandang dengan sinar mata berseri-seri mengejek.
"Ular Buduk, apakah kau tidak lekas berlutut minta ampun?"
Kalau tadinya pengemis kurus tua itu tertarik oleh kecantikan Lu Sian yang berhasil membangkitkan darah tuanya
yang sudah hampir mendingin, kini kakek itu menjadi demikian marahnya sehingga serasa dadanya hampir meledak
dan ia mengeluarkan kata-kata. Setelah menelan ludah beberapa kali, barulah ia berteriak-teriak. "Bocah setan,
agaknya kau sudah bosan hidup!" Berkata demikian ia lalu memutar tongkatnya dan menerjang maju. Tongkatnya
menusuk dengan gerakan aneh dan karena ujung tongkat yang bergerak-gerak tak menentu itu sukar diduga ke mana
hendak menyerang.
Sejak tadi Tan Hui melongo kagum menyaksikan kehebatan ilmu pedang dan ilmu melepas jarum wanita itu. Kini ia
makin kagum lagi setelah menyaksikan betapa Lu Sian menghadapi tongkat yang digerakkan sedemikian lihainya
dengan cara sembarangan dan main-main saja. Pedang di tangan Lu Sian membentuk garis-garis segi delapan seperti
pat-kwa. Akan tetapi anehnya, ke mana pun ujung tongkat pengemis itu meluncur, ia pasti bertemu dengan garis
pedang sehingga tongkatnya terpental kembali.
"Hebat wanita ini!" diam-diam Tan Hui berpikir. Ia mencoba untuk memperhatikan dan mengenal ilmu pedang itu,
namun sia-sia. Sifatnya seperti Pat-kwa-kun, akan tetapi ada kalanya mirip Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat yang
tersohor, namun ini hanya mirip belaka karena sifatnya benar amat berlainan. Ilmu pedang ini aneh dan
menyembunyikan sifat yang amat ganas. Dalam waktu singkat saja Sin-coa Koai-tung merasai keganasan ini karena
tiba-tiba garis-garis itu berobah menjadi lingkaran berputar-putar dan tiba-tiba dari kedudukan mempertahankan,
pedang itu berobah menjadi fihak penyerang karena setiap tangkisan dilanjutkan dengan tusukan yang kesemuanya
mengarah bagian berbahaya. Mulailah pengemis itu terdesak dan celakanya, tangan kiri Lu Sian terus menerus
bergerak, sekali bergerak menyambarlah sebatang jarum merah yang berbau wangi. Sambaran jarum dibarengi tusukan
pedang. Serangan Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat ciptaan Pat-jiu Sin-ong saja sudah hebat apalagi kini ditambah
dengan serangan Siang-tok-ciam, tentu saja ia menjadi repot sekali.
"Menarilah, Ular Buduk, menarilah!" Lu Sian berkata mengejek dan menyerang makin gencar dengan jarum dan
pedangnya. Sengaja ia menutup jalan bawah dengan serangan jarum bertubi-tubi sedangkan pedangnya merangsang ke
arah muka sehingga keadaan pengemis itu seperti seekor kera dikeroyok tawon. Ia meloncat-loncat menghindarkan
kakinya dari sambaran jarum, sedangkan sedapat mungkin ia melindungi mukanya dari ancaman pedang dengan
pemutaran tongkatnya yang sudah tidak karuan lagi gerakannya!
Tiba-tiba Lu Sian membentak, disusul teriakan kesakitan. Cepat sekali hal ini terjadi, tahu-tahu pengemis itu
roboh dengan paha tertusuk jarum dan telinganya menggelinding ke dekat kaki Lu Sian dan sekali bacok, tongkat
itupun buntung!
"Nah, bukankah kau sekarang menjadi Tongkat Buntung Ular Buduk?" Lu Sian mengejek.
Kebetulan saat itu Lu Sian berdiri membelakangi pengemis kepala besar, dan agaknya ia tidak tahu betapa dengan
penuh kemarahan kakek pengemis itu sudah melompat maju dan mengirim pukulan dengan tangan kosong yang
menimbulkan angin bersiutan!
"Jangan curang!" Tiba-tiba Tan Hui berseru. Tempat ia berdiri cukup jauh, akan tetapi sekali kakinya menjejak
tanah, tubuhnya berkelebat cepat luar biasa dan di lain saat ia telah menangkis pukulan jarak jauh yang
dilakukan pengemis kepala besar.
"Dukkk!" Dua buah lengan yang kuat bertemu dan terus menempel. Alangkah kaget hati Tan Hui ketika mendapat
kenyataan betapa lengannya seakan-akan lekat dan tak dapat ditarik kembali. Ia maklum bahwa pengemis itu
mempergunakan lweekang yang amat tinggi, maka terpaksa ia pun lalu mengerahkan lweekangnya untuk melawan.
Mereka bertanding tanpa bergerak, hanya kedua lengan saling tempel, saling mendorong dengan pengerahan tenaga
lweekang. Pertandingan macam ini selalu lebih berbahaya daripada pertandingan ilmu silat yang setiap serangan
masih dapat dielakkan. Akan tetapi adu tenaga macam ini, yang kalah tentu akan menderita luka dalam yang amat
berbahaya. Ketika merasa betapa tenaga pengemis itu benar-benar amat kuat, makin lama dorongan dan tekanannya
makin berat, diam-diam Tan Hui mengeluh. Kalau mengandalkan ilmu silat, kiranya takkan sukar mengalahkan lawan
ini, akan tetapi sekarang sudah terlanjur mengadu tenaga, sukar baginya untuk mundur lagi. Maju payah, mundur
berbahaya! Terpaksa ia nekat dan mengerahkan terus tenaga dalamnya.
"Koko, mengapa begini sabar melayani dia?" Tiba-tiba Lu Sian berkata halus di belakang Tan Hui sambil menepuk
pundak pendekar itu. Tan Hui kaget. Tepukan itu biarpun perlahan namun dapat mengganggu pengerahan tenaga
lweekangnya, karena tepukan itu agaknya mengarah punggung dekat pundak. Namun untuk menghindarkan diri tak
mungkin. Celaka, pikirnya, apakah Lu Sian ini hendak mencelakai aku? Tapi suaranya begitu merdu, panggilannya
"koko" begitu mesra.
"Plakkk!" Benar-benar Lu Sian menepuk punggungnya, tempat dimana hawa sin-kang lewat dan menjurus ke lengannya
yang menempel dengan lengan lawan. Akan tetapi anehnya, tenaganya bukannya buyar melainkan menjadi makin kuat
dan tahu-tahu kakek berkepala besar itu mencelat ke belakang sampai tiga meter jauhnya, lalu bergulingan
beberapa kali baru meloncat berdiri dengan muka pucat!
"Kalian yang curang!!" Kakek itu memaki dan begitu kedua tangannya bergerak, ia sudah menyambar sebuah batu
besar di sampingnya dan melontarkannya ke arah Tan Hui dan Lu Sian. Batu itu besar sekali, beratnya tentu tidak
kurang dari lima ratus kati, akan tetapi tidak begitu mudah dilontarkan seperti orang melontarkan sekepal batu
saja!
Hebat serangan ini, karena jarak di antara mereka hanya empat meter sedangkan batu itu menyambar amat cepat. Lu
Sian berseru keras dan tubuhnya lalu ia banting ke belakang, terus ia bergulingan menjauhi tempat itu. Ia
melihat dengan penuh kekaguman betapa tubuh Tan Hui mencelat ke depan agak tinggi dan tepat pendekar itu
hinggap di atas batu yang menyambar lewat, seperti seekor burung saja gerakan ini, kemudian ia "menunggang"
batu itu dan ketika batu jatuh ke tanah, ia pun meloncat turun!
"Wah, kalau aku memiliki ginkang seperti itu, barulah puas hidupku!" Tanpa terasa lagi Lu Sian berseru penuh
kekaguman.
Kakek berkepala besar itu telah menderita luka dalam. Ia menjura lalu berkata, "Hui-kiam-eng, kepandaianmu dan
temanmu memang hebat. Akan tetapi kalau kau berani mendatangi tempat pangcu kami di Kang-hu untuk menerima
puterimu atau menerima kematiamu, barulah kami benar-benar kagum!" Ia lalu menghampiri temannya yang masih
merintih-rintih, dan menyeretnya pergi dari situ.
Adik Lu Sian, hebat bukan main kepandaianmu! Benar-benar tak pernah kusangka. Kiam-hoatmu aneh dan hebat,
adapun tenaga lweekangmu... ah, benar-benar aku seperti tidak bermata tak tahu bahwa aku berhadapan dengan
seorang pendekar wanita yang sakti!"
Lu Sian tersenyum, girang sekali hatinya. "Ah, Tan Hui Koko, mengapa kau begitu memuji setinggi langit? Kalau
mau bicara tentang kelihaian, kaulah orangnya. Terutama sekali ginkangmu, benar-benar membuat aku tunduk dan
kagum. Kalau saja aku dapat memiliki ginkang seperti itu, ahh.. alangkah akan bahagia hatiku."
"Bagi seorang seperti kau ini, Adik Lu Sian, tidak ada lagi yang tak mungkin di dunia. Apa sukarnya mempelajari
ginkang bagi kau uang sudah mampu mempelajari ilmu silat sehebat itu?"
"Benarkah? Benarkah, Kakak yang baik? Kau suka untuk mengajarkan ginkangmu kepadaku? Ah, terima kasih... kau
baik sekali, baik sekali..." saking girangnya Lu Sian memegang lengan Tan Hui dengan kedua tangannya. Sejenak
mereka berdiri seperti itu, mata saling pandang, dan di dalam hati masing-masing makin tertarik. Semenjak dua
tahun yang lalu isterinya meninggal dunia karena sakit, Tan Hui hidup penuh dengan kesunyian. Hal itu biarpun
amat mendukakan hatinya, namun dapat ia tahan, karena Tan Hui adalah seorang jantan yang berbatin kuat. Tidak
mudah hatinya tergoda oleh kecantikan wanita, maka selama ini ia pun tinggal menduda, sedikit pun tidak pernah
menoleh ke arah wanita lain, menekuni kesunyian hidupnya. Akan tetapi pertemuannya dengan Lu Sian ini adalah
luar biasa. Wanita ini luar biasa cantiknya, luar biasa pula kepandaiannya. Tidaklah heran kalau Tan Hui
menjadi tertarik. Hati seorang kakek pendeta sekalipun mungkin akan tergetar kalau melihat Lu Sian yang cantik
jelita, yang semerbak harum, berlagak memikat hati. Bagi Tan Hui, Lu Sian merupakan wanita yang amat menarik,
apalagi kalau diingat bahwa mendiang isterinya adalah seorang wanita lemah, berbeda sekali dengan Lu Sian ini
yang dalam hal kepandaian, tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri!
"Bagaimana, Koko? Tentu kau mau mengajarku ginkang, bukan?"
Sudah berada di ujung lidah Tan Hui untuk menyanggupi, akan tetapi mengingat bahwa ilmu pedang dan ilmu
ginkangnya adalah kepandaian yang merupakan ilmu turunan, ia merasa agak meragu. "Aku tidak keberatan... eh,
tapi... ilmu itu belum pernah diturunkan kepada orang luar... eh, maksudku, itu adalah ilmu turunan..."
Lu Sian yang masih memegang lengan Tan Hui, merapatkan tubuhnya sehingga Tan Hui terpaksa meramkan mata karena
keharuman yang menyengat hidungnya membuat hatinya berguncang keras. "Apakah kau tidak mau menganggap aku orang
dalam...?" Suaranya merdu lirih seperti berbisik.
Pada saat itu, sudah banyak orang berkumpul karena tadi tertarik oleh keributan di depan rumah makan. Melihat
ini, Tan Hui segera berkata perlahan.
"Moi-moi, tak baik bicara di sini seperti ini. Di manakah kau tinggal? Mari kita bereskan perhitungan dengan
rumah makan dulu."
"Aku tinggal di penginapan sebelah rumah makan. Biarkan aku yang membayar, Tan-koko..."
Akan tetapi sebelum mereka memasuki rumah makan, serombongan orang kelihatan berlari mendatangi. Pakaian mereka
adalah pakaian ahli silat, seperti yang biasa dipakai oleh orang-orang yang pekerjaannya pengawal atau tukang
pukul. Akan tetapi begitu tiba di depan Tan Hui, tujuh orang itu segera menjatuhkan diri berlutut dan setelah
dekat tampaklah bahwa mereka adalah para piauwsu (pengawal barang berharga) yang mukanya penuh debu dan
keringat, bahkan di antara mereka ada yang terluka sehingga pakaian mereka berlumur darah.
"Tan-taihiap (Pendekar Besar Tan), mohon suka memberi pertolongan kepada kami para piauwsu yang celaka....!"
Seorang diantara mereka yang tertua dan pundaknya terluka bacokan, segera berkata dengan suara penuh
permohonan. "Kebetulan sekali kami yang bercelaka mendengar akan kehadiran Taihiap di sini, maka kami segera
menghadap Taihiap untuk mohon pertolongan. Kalau Taihiap tidak suka menolong, berarti kami sekeluarga akan
mati...."
Tan Hui mengerutkan keningnya. Tidak patut para piauwsu yang termasuk golongan orang gagah bersikap selemah
ini. "Kalian ini rombongan piauwsu dari manakah dan apa yang terjadi sehingga kalian merengek-rengek seperti
anak kecil?" tanyanya berisikan teguran.
"Maaf, Taihiap, kalau sikap kami menjemukan Taihiap. Akan tetapi karena kami sudah putus harapan. Ketahuilah,
Tan-hiap. Kami dari perusahaan pengantar barang Hong-ma-piauwkiok (Perusahaan Pengantar Kuda Angin). Kali ini
kami ditugaskan mengantar lima peti barang-barang berharga milik seorang pembesar yang pindah tempat, yang
katanya berharga ribuan tali emas. Karena perjalanan menuju kota Sui-kiang biasanya aman, kami tidak merasa
kuatir apa-apa. Ternyata, di luar dugaan, di lereng bukit itu, hanya empat puluh li dari sini, kami dihadang
perampok, barang-barang kami dirampas semua, bahkan diantara kami ada yang tewas dan luka-luka. Gerombolan
perampok itu agaknya masih baru di sana, dipimpin oleh kepalanya yang lihai. Tan-taihiap, harap tuan sudi
menolong kami, karena kami tidak mampu merampas kembali lima buah peti itu pasti perusahaan kami akan bangkrut,
dan kami semua akan diseret ke penjara!"
"Kalian tidak becus melawan perampok, mengapa berani menjadi piauwsu?" Tiba-tiba Lu Sian membentak mereka.
"Memang piauwsu lawannya perampok, siapa kalah harus berani menanggung resikonya, mengapa kalian ribut
merengek-rengek minta bantuan orang lain? Tak tahu malu! Hayo pergi, jangan ganggu lagi, kami punya urusan yang
lebih penting!"
Tujuh orang piauwsu itu kaget sekali. Mereka bingung karena tidak tahu siapa adanya wanita cantik jelita yang
galak itu. Akan tetapi karena melihat wanita itu berada di situ bersama Tan Hui, mereka lalu
membentur-benturkan jidat ke tanah sambil memohon-mohon dengan suara pilu.
"Sudah bertahun-tahun mendengar nama besar Tan-taihiap sebagai pendekar budiman yang selalu mengulurkan tangan
menolong mereka yang menghadapi melapetaka! Kini kami mohon dengan segala kerendahan hati..."
"Hemmm, sudahlah jangan banyak ribut lagi. Biar kubereskan sebentar urusan kecil itu. Di mana adanya si
perampok?"
"Koko! Kau hendak memenuhi permintaan mereka yang cerewet ini? Bukan urusan kita..."
"Hanya sebentar, Sian-moi. Bukit itu tampak dari sini, dan membereskan segala macam perampok hina apa sih
sukarnya? Hanya makan waktu beberapa jam juga beres."
"Aku tidak sudi mencampuri urusan piauwsu-piauwsu tengik ini!" Lu Sian cemberut. Tan Hui tersenyum. "Biarlah
aku sendiri yang mengurus hal ini, harap kau suka menanti. Tak lama aku kembali."
Lu Sian tidak menjawab, keningnya berkerut dan matanya memandang ke arah para piauwsu dengan marah. Kemudian ia
membalikkan tubuh memasuki rumah makan. Setelah Tan Hui pergi dengan cepatnya diikuti para piauwsu yang
seakan-akan hidup kembali karena mendapat harapan besar tertolong. Lu Sian lalu dengan sikap uring-uringan
membayar harga makanan, menyuruh pelayan rumah makan mengambil alat tulils, lalu ditulisnya beberapa huruf di
atas kertas yang kemudian dilipatnya dan diserahkannya kepada pengurus rumah makan.
"Kalau Tan Hiap datang, kauberikan surat ini kepadanya. Awas, jangan sampai lupa, surat ini sama harganya
dengan sepasang telingamu!" Pengurus itu yang tadi melihat betapa wanita kosen ini membikin buntung telinga
seorang pengemis lihai, menjadi ngeri dan hanya dapat memandang dengan lidah keluar ketika Lu Sian dengan
langkah gesit keluar dari situ
Mengapa terjadi keanehan pada perkumpulan Khong-sim Kai-pang? Dahulu perkumpulan ini terkenal sebagai
perkumpulan pengemis yang mengutamakan kegagahan dan kebaikan, di bawah pimpinan Yu Jin Tianglo yang terkenal
bijaksana dan keras terhadap anak buahnya sehingga jarang terjadi anak buah perkumpulan ini berani melakukan
penyelewengan.
Akan tetapai, memang terjadi perubahan hebat sejak tiga bulan yang lalu. Seorang laki-laki berusia tiga puluh
tahun lebih bernama Pouw Kee Lui, berasal dari pantai Lautan Po-hai, datang membuat gara-gara. Pouw Kee Lui ini