Rabu, 06 Februari 2013

SEPASANG PEDANG IBLIS 4


Tiba-tiba terdengar suara bercuitan keras dibarengi menyambarnya benda­-benda yang mengeluarkan sinar ke arah Si Wanita berkerudung. Itulah senjata rahasia yang dilepas oleh kedua tangan Phang Kok Sek, Ketua Thian-liong-pang yang sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Sekaligus dia telah menyerang dengan senjata rahasia ber­bentuk bintang, senjata rahasia yang khas dari Thian-liong-Pang dan tentu sa­ja dalam mempergunakan senjata rahasia bintang ini, Phang Kok Sek merupakan seorang ahli yang pandai. Tujuh belas buah senjata rahasia terbang me­nyambar seperti berlumba menuju ke sasaran masing-masing yaitu tujuh belas jalan darah terpenting di bagian tubuh depan dari Si Wanita berkerudung.

Namun wanita berkerudung itu me­miliki kecepatan yang amat hebat. Betapapun cepat datangnya senjata-senjata rahasia yang menyerangnya, gerakannya mengelak lebih cepat lagi. Hanya tam­pak tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu ia telah lenyap. Ketika orang memandang ke atas, tubuhnya telah menempel di langit-langit ruangan itu seperti kelela­war besar bergantungan pada pohon.

Phang Kok Sek yang selain marah sekali juga maklum bahwa kalau tidak dapat segera melenyapkan wanita berke­rudung ini kedudukannya terancam, sudah meloncat ke atas dan mengirim pukulan dahsyat dengan kedua tangan terbuka, didorongkan ke arah tubuh lawan yang masih menempel di langit-langit.

“Braakkk!”

Hebat bukan main pukulan itu, pukulan Hwi-tok-ciang selain amat dahsyat juga mengandung hawa panas membakar dan berbisa pula. Langit-langit ruangan itu jebol dilanda hawa pukulan dahsyat ini. Akan tetapi, bagaikan seekor ca­pung ringannya, tubuh wanita berkeru­dung sudah mengelak dan melayang tu­run. Ketika tubuhnya lewat dekat tubuh Phang Kok Sek, wanita itu mengirim se­buah tendangan ke arah dada Phang Kok Sek.

Tingkat kepandaian Pang Kok Sek jauh lebih tinggi daripada tingkat kepan­daian dua orang sutenya yang tewas dan seorang sumoinya yang telah dikalahkan lawan. Tendangan itu cepat dan tidak terduga-duga, dilepas selagi tubuh mere­ka berada di tengah udara, akan tetapi dengan jalan melempar tubuh ke bela­kang dan berjungkir balik, Phang Kok Sek berhasil menyelamatkan nyawanya dan hanya ujung bajunya saja yang ro­bek kena diserempet ujung kaki lawan. Hal ini membuktikan betapa lihai wani­ta itu dan Phang Kok Sek sudah melon­cat ke bawah dengan muka berubah.

“Ji-wi Suheng! Siluman ini telah membunuh Ma-sute dan Liauw-sute, dan beberapa orang anak buah, apakah kali­an masih tinggal diam saja?” Sambil menegur kedua orang suhengnya, Phang Kok Sek sudah menyambar senjatanya yang hebat, yaitu sebatang tombak cagak bergagang baja yang besar dan berat dari sudut belakang tempat duduknya.

Karena wanita berkerudung itu adalah orang luar dan yang terang-terangan hendak merampas Thian-liong-pang, se­menjak tadi memang Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang mengang­gapnya sebagai musuh. Akan tetapi, mengingat akan kedudukan dan tingkat mereka yang sudah tinggi di dunia kang-­ouw, mereka masih merasa ragu-ragu dan malu untuk mengeroyok seorang wa­nita. Kini menyaksikan kelihaian wanita itu yang benar-benar amat luar biasa dan mendengar teguran Sang Ketua, kedua orang kakek ini sudah bangkit dan meloncat ke depan. Mereka tidak meme­gang senjata dan memang kedua orang kakek ini lebih mengandalkan kepada ka­ki tangannya daripada senjata. Biarpun bertangan kosong, namun kepandaian mereka hebat dan kaki tangan mereka ini jauh lebih berbahaya daripada segala macam senjata yang tajam runcing.

Sai-cu Lo-mo yang tertua di antara mereka bertiga dan juga sudah berpengalaman dan memiliki tingkat yang paling tinggi, kini berhadapan dengan wanita berkerudung, memandang tajam seperti hendak menembus kerudung itu dengan pandang matanya, lalu berkata,

“Nona, engkau masih begini muda te­lah memiliki kepandaian yang hebat dan sikap yang aneh sekali. Bukalah keru­dungmu, perkenalkan dirimu dan jelas­kan apa sebabnya engkau mengacau di Thian-liong-pang dan membunuh orang-­orang yang sama sekali tidak ada permusuhan denganmu?”

Sepasang mata di belakang dua lubang di kerudung itu bersinar-sinar dan biar­pun mulutnya tidak tampak, jelas dapat diduga bahwa wanita itu tersenyum. Ma­ta itu memandang kepada Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang bergantian, kemudian ber­kata,

“Sai-cu Lo-mo, dan Lui-hong Sin-­ciang Chie Kang, aku mengenal siapa kalian berdua dan tadi aku sudah mendengar kalian mengeluarkan isi hati kalian! Hanya kalian berdualah yang patut men­jadi Ketua dan Pimpinan Thian-liong-­pang, akan tetapi mengapa kalian tidak pernah mau menjadi Ketua? Aku tahu, karena kalian merasa enggan menjadi Ketua dari perkumpulan yang makin ru­sak oleh sepak terjang anak buahnya! Thian-liong-pang makin bobrok dan kali­an tidak mau nama kalian kelak terse­ret ke dalam lumpur kehinaan karena menjadi Ketuanya! Betapa pengecut! Be­tapapun juga, aku suka kalian memban­tuku kelak, maka aku tidak akan mem­bunuh kalian berdua. Tak perlu aku memperkenalkan diri, cukup kalau kalian ketahui bahwa akulah Ketua kalian yang baru, karena aku hendak memimpin Thian-liong-pang menjadi sebuah perkum­pulan yang besar dan kuat, lebih besar dan lebih kuat daripada para penghu­ni Pulau Es. Adapun Phang Kok Sek Si Raksasa tolol yang tidak segan-segan mengorbankan saudara-saudaranya untuk memperebutkan kursi ketua ini, dia tidak berguna dan akan kulenyapkan....”

“Siluman betina!” Phang Kok Sek su­dah menerjang maju, menusukkan tombak cagaknya yang panjang, besar dan berat ke arah perut wanita berkerudung itu.

“Takkk!” Wanita itu tidak mengelak, tidak berkisar dari tempat dia berdiri hanya mengangkat kaki kirinya dan ujung kakinya itu menendang ke arah tombak, tepat mengenai belakang mata tombak sehingga tusukan itu menyeleweng dan Phang Kok Seng merasa tangannya bergetar hebat.

Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang yang menjadi merah muka­nya mendengar ucapan wanita berkerudung itu sudah menerjang maju pula. Mereka merasa berkewajiban untuk me­nentang wanita ini, bukan sekali-kali un­tuk membantu demi keselamatan pribadi Phang Kok Sek, namun demi menjaga nama Thian-liong-pang dan sebagai to­koh-tokoh Thian-liong-pang melihat orang luar mengacau perkumpulan itu.

“Wussss.... ciattt!” Lui-hong Sin-ciang Chie Kang yang kepalanya gundul dan kelihatan lemah sekali seperti seorang sasterawan yang menjadi botak karena terlalu banyak berpikir dan menjadi bu­yuten tangannya karena terlalu banyak menulis, begitu menyerang telah memperlihatkan kedahsyatannya. Kedua tangannya bergerak dengan mantep dan mengandung tenaga yang dahsyat sekali sehingga serangannya itu membuat kedua tangannya seolah-olah berubah menjadi baja tajam yang membelah udara menge­luarkan suara mengerikan. Melihat keli­haian kakek gundul ini, diam-diam wani­ta berkerudung menjadi kagum karena ia maklum bahwa orang ini kalau menja­di pembantunya akan merupakan seorang pembantu yang boleh diandalkan!

Biarpun keadaan wanita berkerudung ini merupakan rahasia bagi semua orang Thian-liong-pang, namun kita tahu bah­wa dia itu bukan lain adalah Nirahai. Nirahai, puteri Kaisar ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, apalagi setelah digembleng oleh mendiang Nenek Maya (baca ceritaPendekar Super Sak­ti), tingkat kepandaiannya sudah hebat sekali. Tentu saja serangan Chie Kang itu baginya bukan apa-apa dan dengan mudah ia dapat mengelak ke kiri di mana dia tahu Sai-cu Lo-mo sudah siap dengan serangannya yang ia duga tentu tidak kalah hebatnya dengan Si Kakek gundul.

“Wirrr-wirrr-wirrr.... plak-plak-plak!”

Nirahai makin girang hatinya. Tiga serangan berantai yang diluncurkan Sai­-cu Lo-mo dengan ujung lengan bajunya itu hebat bukan main. Ujung lengan bajunya itu mengandung tenaga yang lebih kuat daripada kedua tangan Chie Kang dan dia maklum bahwa ujung lengan baju itu cukup dahsyat untuk menghancurkan batu karang ydng keras! Akan tetapi, Sai-cu Lo-mo lebih kaget lagi karena tiga kali ujung lengan bajunya ditangkis oleh ujung jari-jari tangan wanita itu dengan kibasan yang membuat dia mera­sa seluruh lengannya tergetar. Tahulah dia bahwa dia telah bertemu dengan la­wan yang jauh lebih kuat daripada dia dan para sutenya!

“Syuuutt.... serrr-serrr-serrr!” Tombak panjang menyambar dari belakang, menu­suk lambung Nirahai disusul meluncurnya tiga buah senjata rahasia bintang. Cara Phan Kok Sek menyerang ini saja sudah membuktikan akan kelicikan wataknya, menggunakan kesempatan selagi Nirahai menghadapi dua orang suhengnya yang lihai, menyerang dari be­lakang, bukan hanya dengan tombaknya yang dahsyat, juga dengan pelepasan am-gi (senjata rahasia).

Nirahai menjadi marah. Kedua tangannya bergerak cepat dan tahu-tahu tiga buah senjata rahasia itu telah ia tangkap dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyambar dan berha­sil menangkap leher tombak ketika ia miring ke kiri dan tombak itu meluncur dekat lambungnya. Tangan kirinya diayun dan tiga buah senjata rahasia itu me­nyambar ke arah pemiliknya!

Sebagai seorang ahli melepas senjata rahasia Sin-seng-ci tentu saja Phang Kok Sek dapat menghindarkan diri dan cepat meloncat ke atas dengan kedua kaki di atas dan kepala di bawah, kedua tangan masih memegangi gagang tombaknya. Gerakannya ini cepat dan indah sekali sehingga tiga batang Sin-seng-ci menyambar lewat di bawah tubuhnya. Akan tetapi dia tidak tahu akan kelihaian lawan. Begitu tubuhnya meloncat, Nirahai mengerahkan tenaga pada tangan kanannya yang memegang gagang tombak itu ke atas. Phang Kok Sek terkejut dan berusaha menahan dengan kedua tangan, namun dia kalah kuat dan terdengar te­riakan mengerikan ketika gagang tom­bak itu menerobos dan menusuk perut Phang Kok Sek sampai tembus ke punggungnya. Sekali menggerakkan tangan, Nirahai melemparkan tombak bersama tubuh Ketua Thian-liong-pang yang tak bernyawa lagi itu ke samping dan oto­matis kedua tangannya sudah menangkis dua serangan dari kanan kiri yang dilakukan Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang.

Dalam melakukan tangkisan ini, Nira­hai sudah mengerahkan tenaga pada te­lapak tangannya, maka begitu telapak tangannya bertemu dengan tangan kedua lawan, dua orang itu berseru kaget kare­na tangan mereka melekat pada telapak tangan yang berkulit halus itu, tak da­pat ditarik kembali. Mereka maklum bahwa wanita berkerudung ini sengaja menantang mereka mengadu sin-kang maka kedua kakek itu dengan kedua kaki terpentang lebar cepat mengerahkan sin-kang melalui tangan mereka untuk merobohkan lawan.

Terjadilah adu tenaga sin-kang yang hebat. Kedua kakek itu berdiri dengan kaki terpentang tubuh agak membungkuk, sedangkan Nirahai yang berdiri di tengah, kedua tangannya terkembang ke kanan kiri menahan tangan kedua lawan, kaki­nya terpentang sedikit dan tubuhnya te­gak. Semua orang menonton dengan ha­ti tegang, mengira bahwa wanita berke­rudung itu tentu akan terhimpit di te­ngah-tengah oleh dua kekuatan raksasa yang amat dahsyat!

Namun, Nirahai yang memiliki tingkatan lebih tinggi, bersikap tenang-tenang saja, dari kedua tangan lawan di kanan ki­rinya, menerobos tenaga sin-kang yang kuat sekali melalui kedua lengannya yang terkembang. Wanita cerdik ini tidak me­lawan sehingga kedua lawannya terkejut dan heran, tiba-tiba mereka tersentak kaget ketika ada tenaga amat kuat menahan dorongan sin-kang mereka, Seje­nak kedua orang itu mengerahkan semangat dan tenaga dalam dan ketika mereka melihat betapa wanita itu keli­hatannya enak-enak saja tanpa mengerahkan tenaga, barulah mereka sadar bahwa mereka kena diakali! Kiranya la­wan mereka itu sengaja mempertemukan kedua tenaga sakti dari kanan kiri sehingga Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang ber­tanding sendiri, saling dorong dengan tenaga sin-kang melalui tubuh Si Wanita berkerudung yang seolah-olah hanya me­nyediakan dirinya menjadi arena pertan­dingan sambil menonton seenaknya!

Mereka sadar dan cepat hendak me­narik tenaga sakti mereka, namun ter­lambat karena pada saat itu, Nirahai su­dah menggunakan tenaganya sendiri, menggunakan kesempatan selagi kedua orang saling dorong sehingga tenaga sin­-kang mereka terpusat kemudian mereka menarik kembali tenaga ketika sadar bahwa sesungguhnya mereka itu saling gempur antara saudara sendiri. Ketika kedua orang kakek itu menarik kembali tenaga sin-kang, saat itulah Nirahai me­nyerang mereka dengan tenaga sakti yang amat dahsyat. “Cukup, rebahlah!”

Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang tak dapat mempertahankan diri lagi, begitu Nirahai menarik kedua lengannya mereka roboh dan biarpun mereka sudah berusaha sekuatnya untuk tidak terguling, tetap saja mereka jatuh berlutut dan cepat memejamkan mata sambil mengatur pernapasan. Tenaga sin-kang mereka sendiri yang tadi mere­ka tarik telah menghantam dada mereka karena didorong oleh tenaga wanita ber­kerudung itu, membuat dada terasa sakit dan pernapasan menjadi sesak. Yang membuat mereka heran dan bingung ada­lah keadaan lengan kanan mereka yang menjadi lumpuh seolah-olah tulang pun­dak lengan dalam keadaan terkunci, sa­ma sekali tidak dapat digerakkan!

“Wi Siang, bantulah kedua orang Su­hengmu itu. Kautotok jalan darah Hong-hu-hiat di pundak kanan mereka masing-­masing dua kali.” Nirahai berkata kepada Tang Wi Siang yang berdiri menon­ton pertandingan tadi penuh kagum. Ia mengangguk, menghampiri kedua orang suhengnya dan tanpa ragu-ragu menotok belakang pundak kanan mereka dua kali seperti yang diperintahkan wanita berke­rudung itu.

Begitu terkena totokan dua kali, ja­lan darah mereka normal kembali dan lengan kanan dapat digerakkan. Kini, kedua orang kakek itu benar-benar tun­duk dan merasa yakin bahwa wanita ber­kerudung itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa. Timbul rasa kagum dan suka di hati mereka untuk mengangkatnya menjadi ketua, ka­rena dengan ketua sehebat ini, Thian-­liong-pang pasti akan menjadi sebuah per­kumpulan yang kuat dan terpandang. Maka mereka lalu berlutut di depan Nirahai sambil berkata,

“Pangcu!”

Terdengar sorak sorai dari para ang­gauta yang kini sudah pula berlutut menghadap Si Wanita berkerudung yang tersenyum di balik kerudungnya, Nirahai mengangkat, kedua lengan ke atas dan suara sorakan itu terhenti. Keadaan menjadi sunyi dan semua orang mendengarkan ucapan dari balik kerudung, ucapan yang halus merdu namun berwi­bawa,

“Mulai saat ini Thian-liong-pang di ba­wah pimpinanku harus menjadi sebuah perkumpulan yang kuat, dihormati dan disegani di seluruh dunia kang-ouw. Un­tuk dapat menjadi kuat, kalian semua harus menggembleng diri dan memper­tinggi tingkat ilmu silat yang akan kuajarkan kepada kalian semua, sesuai dengan tingkat masing-masing. Untuk men­jadi perkumpulan yang disegani, Thian­-liong-pang harus menunjukkan kegagahan dan kekuatannya menundukkan semua pi­hak yang menentang kita, dan untuk dapat dihormat, Thian-liong-pang harus bersih daripada segala perbuatan yang jahat. Tidak boleh ada penyelewengan lagi, tidak boleh ada perampokan, penin­dasan dan lain perbuatan jahat lagi. Semua perbuatan yang dilakukan oleh anggauta, harus sesuai dengan peraturan-­peraturan yang akan kuadakan. Setiap pelanggar akan menerima hukuman berat!”

Mendengar perintah pertama yang ke­luar dari mulut wanita berkerudung itu, diam-diam Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang menjadi girang se­kali. Sai-cu Lo-mo demikian kagum dan gembiranya sehingga ia mengangkat tangan kanan ke atas sambil berteriak, “Hidup Pangcu kita!”

Semua anggauta juga tertegun mende­ngar perintah tadi, tentu saja yang bi­asanya mengumbar nafsu, diam-diam menjadi gentar dan khawatir kalau-kalau dia akan mangalami nasib sial dan dihu­kum seperti para pimpinan mereka yang kini masih menggeletak di situ menjadi mayat. Maka, mendengar seruan Sai-cu Lo-mo, serentak semua anggauta berte­riak, “Hidup pangcu....!” Bahkan mereka yang tadinya suka mengandalkan nama besar Thian-liong-pang untuk melakukan penindasan dan perbuatan-perbuatan jahat, berteriak paling keras!

“Sekarang singkirkan dan urus jenazah mereka ini baik-baik, kuburkan seba­gaimana mestinya. Sai-cu Lo-mo, Lui­-hong Sin-ciang Chie Kang, kalian berdua kuangkat menjadi pembantu-pembantuku, sedangkan Tang Wi Siang, sesuai dengan kehendaknya sendiri menjadi pelayanku yang paling kupercaya. Mari kita masuk dan merundingkan segala urusan mengenai Thian-liong-pang. Aku ingin mende­ngar, hal apa saja yang dihadapi Thian-­liong-pang saat ini.”

Nirahai diiringkan oleh tiga orang pembantunya memasuki gedung menuju ke ruangan dalam. Tak seorang pun pela­yan diijinkan masuk ketika empat orang ini mengadakan perundingan, sedangkan para anak buah Thian-liong-pang sibuk mengurus mayat-mayat yang bergelim­pangan di ruangan tadi. Mereka, juga pa­ra pelayan, saling berbisik membicara­kan Ketua partai yang penuh rahasia itu.Nirahai dengan tenang mendengarkan pelaporan tiga orang pembantunya me­ngenai keadaan Thian-liong-pang. Segala macam urusan mengenai perkumpulan ini diceritakan oleh Sai-cu Lo-mo dan Lui­-hong Sin-ciang Chie Kang, sedangkan Tang Wi Siang yang duduk di dekat Ni­rahai hanya mendengarkan dan bersikap sebagai seorang pelayan.

“Tiga buah perkumpulan yang menen­tang kita, mudah dibereskan. Aku akan mendatangi mereka dan menundukkan mereka. Hal-hal lain dijalankan seperti biasa, akan tetapi harus disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang akan kuadakan. Hanya satu hal yang menghe­rankan hatiku. Kau tadi menceritakan tentang usaha Thian-liong-pang yang ga­gal dalam memperebutkan seorang anak bernama Gak Bun Beng. Benarkah utus­an kita itu dikalahkan oleh Pendekar Siluman dan anak itu akhirnya dibawa oleh Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai?”

“Benar, Pangcu,” jawab Sai-cu Lo-mo. Nirahai mengerutkan keningnya. “Anak ini.... Gak Bun Beng, ada hubungan apakah dengan Thian-liong-pang sehingga perkumpulan kita harus berusaha merebutnya?”

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang seperti jenggot singa itu. “Maaf, Pangcu. Se­sungguhnya, dengan perkumpulan kita tidak ada hubungan apa-apa dan mendiang Ketua kami hanya memenuhi permintaan saya, karena sesungguhnya sayalah yang mempunyai hubungan dengan anak itu. Anak itu masih cucu keponakan saya sendiri.”

“Hemmm..... begitukah? Coba jelaskan, siapa sebenarnya anak itu, dia anak si­apa dan bagaimana hubugannya dengan­mu, Lo-mo? Kalau kuanggap penting, percayalah, aku yang akan mendapatkan­nya untukmu. Tentang Pendekar Siluman, jangan khawatir, aku akan dapat mengha­dapinya!”

Bahkan Wi Siang sendiri diam-diam menjadi kaget mendengarkan ini. Berani menentang Pendekar Siluman? Benarkah Ketuanya yang baru ini memiliki kesak­tian yang demikian hebat sehingga berani menentang Pendekar Siluman? Baru mendengar cerita para anggauta Thian-liong-pang tentang Pendekar Siluman yang bisa pian-hoa (merobah diri) menja­di raksasa dan menjadi setan tanpa kepala saja sudah membuat semua orang gagah di Thian-liong-pang ngeri dan serem!

Sai-cu Lo-mo dan Chie Kang juga kaget dan sambil memandang wajah yang tertutup kerudung itu, Sai-cu Lo-mo menjawab, “Dia adalah putera dari kepo­nakan saya yang bernama Bhok Khim, murid Siauw-lim-pai.”

“Hemmm.... Bhok Kim yang berjuluk Bi-kiam, seorang di antara Kang-lam Sam-eng?”

“Betul, Pangcu,” jawab Sai-cu Lo-mo makin kagum dan terheran bagaimana wanita berkerudung ini agaknya tahu akan segala hal dan mengenal semua orang. Maka dia tidak menyembunyi­kan dirinya lagi dan menyambung, “Saya dahulu bernama Bhok Toan Kok, Bhok Kim adalah anak tunggal adikku....”

Akan tetapi agaknya Nirahai tidak mempedulikannya dan seperti orang me­lamun karena mengingat, berkata, “Dan bocah itu she Gak? Hem.... tentu anak dari Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak....”

Tiga orang tokoh Thian-liong-pang itu terbelalak, makin heran dan kagum. Sai-cu Lo-mo berteriak, “Bagaimana Pangcu dapat mengetahuinya....?”

Nirahai memandangnya. “Aku tahu, dan Gak Liat yang memperkosa Bhok Kim sehingga wanita itu dihukum di Siauw-lim-pai, kemudian melahirkan anak dan.... mereka berdua kemudian saling bunuh. Hemm.... jadi engkau ingin mengambil cucu keponakanmu itu, Sai-cu Lo-mo? Apa perlunya? Anak itu adalah keturunan Gak Liat, datuk kaum sesat!”

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang. “Betapapun juga, dia adalah cucu keponakan saya, Pangcu.”

Nirahai mengangguk, “Baiklah, urusan anak itu kita tunda dulu saja. Aku tidak ingin melibatkan Thian-liong-pang hanya karena urusan keturunan Gak Liat. Beta­papun juga, kalau engkau mendengar di mana adanya bocah itu sekarang, dan ada kemungkinan merebutnya, aku suka membantumu. Tahukah engkau di mana dia itu sekarang?”

“Dia menjadi murid di Siauw-lim-si.”

Nirahai menggeleng kepala. “Kalau Siauw-lim-si kita tidak dapat berbuat se­suatu, Lo-mo. Ibu anak itu adalah murid Siauw-lim-pai, sudah semestinya kalau anaknya menjadi murid Siauw-lim-pai pu­la. Jangan mengira bahwa aku takut menghadapi Siauw-lim-pai, akan tetapi apa perlunya kita menyeret perkumpulan menjadi musuh Siauw-lim-pai yang amat kuat hanya karena memperebutkan se­orang anak, apalagi anak keturunan seorang seperti Gak Liat?”

Diam-diam Sai-cu Lo-mo harus mem­benarkan pendapat pangcunya ini. Tiba­-tiba ia mengangkat kepala dan berkata, “Pangcu.... maaf.... hati saya akan selalu gelisah kalau tidak menyatakannya se­karang. Kalau saya tidak keliru menduga.... saya dapat mengenal siapa kiranya Pangcu!”

Nirahai menoleh ke arah Chie Kang dan bertanya, “Bagaimana dengan eng­kau, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang? Apa­kah engkau pun dapat menduga siapa aku?”

Chie Kang terkejut. Dia pun sedang berpikir-pikir. Kalau wanita berkerudung itu tidak memperlihatkan sikap mengenal semua orang, bahkan mengetahui segala hal yang bagi banyak tokoh kang-ouw merupakan rahasia, maka di dunia ini kiranya hanya ada seorang saja wanita seperti itu, akan tetapi diam-diam dia terkejut dan tidak percaya bahwa pang­cunya yang baru adalah orang itu! Kini dia makin gugup mendengar pertanyaan itu dan menjawab, “Saya.... saya hanya menduga-duga akan tetapi tidak berani memastikannya. Pribadi Pangcu penuh rahasia, sukar untuk diduga....”

Nirahai tersenyum di balik kerudung­nya. “Sai-cu Lo-mo, aku dapat menjenguk isi hatimu. Dugaanmu itu agaknya tidak keliru. Engkau den Chie Kang te­lah kuangkat menjadi pembantu-pemban­tuku yang setia dan boleh dipercaya, se­dangkan Wi Siang menjadi pelayan dan pengawalku. Hanya kalian bertiga saja­lah yang boleh mengetahui siapa sebe­narnya aku. Akan tetapi, kalau sampai seorang di antara kalian berani membo­corkan rahasiaku, tanganku sendiri yang akan membunuhnya! Nah, agar hati kalian tidak ragu-ragu lagi, kalian boleh mengenalku.” Berkata demikian, wanita berkerudung itu membuka kerudungnya, dan tampaklah wajahnya yang cantik je­lita, wajah puteri Kaisar Mancu. Puteri Nirahai yang pernah menggemparkan seluruh dunia kang-ouw sebagai pemimpin pasukan-pasukan pemerintah yang membasmi para pemberontak! Tiga orang to­koh Thian-liong-pang itu belum pernah bertemu muka sendiri dengan Nirahai, akan tetapi nama besar puteri ini sudah lama mereka dengar. Kini mendapat ke­nyataan bahwa yang menjadi Ketua mereka adalah puteri yang terkenal itu, yang berdiri dengan cantik dan agungnya, dengan sepasang mata yang amat berwi­bawa memandang kepada mereka dengan mulut yang berbentuk indah itu terse­nyum halus, mereka serta-merta menja­tuhkan diri berlutut di depan Nirahai.

“Harap Paduka suka mengampunkan hamba sekalian yang tidak mengenal Puteri yang mulia,” kata Sai-cu Lo-mo mewakili saudara-saudaranya.

“Bangunlah kalian!” Tiba-tiba Nirahai membentak dan ketika mereka dengan kaget bangkit berdiri memandang, Nira­hai telah memakai lagi kerudungnya, menutupi mukanya yang cantik, dan kini dari sepasang lubang di depan kerudung, matanya memandang marah.

“Mulai saat ini, kalian tidak boleh sekali-kali menyebutku Puteri, dan jangan membocorkan rahasia ini! Aku adalah Pangcu (Ketua) Thian-liong-pang dan kalian sebut saja aku Pangcu. Nah, mari kita duduk dan melanjutkan perundingan demi kemajuan perkumpulan kita.”

Demikianlah, semenjak hari itu, Nira­hai menjadi Ketua Thian-liong-pang. Ke­cuali tiga orang pembantunya itu, tak se­orang pun di antara para anggauta Thian-liong-pang mengetahui bahwa Ke­tua mereka yang diliputi penuh rahasia, yang selalu menyembunyikan muka di belakang kerudung, yang memiliki ilmu kepandaian hebat seperti iblis, sebenarnya adalah Puteri Nirahai yang dahulu amat terkenal itu. Nirahai menurunkan beberapa macam ilmu silat kepada tiga orang pembantunya sehingga dalam waktu dua tahun saja, Sai-cu Lo-mo, Lui­hong Sin-ciang Chie Kang, dan Tang Wi Siang telah memperoleh kemajuan yang amat hebat, tingkat mereka naik jauh lebih tinggi daripada sebelumnya, akan tetapi watak mereka pun berubah, penuh rahasia seperti watak Ketua mereka. Para anak buah Thian-liong-pang juga dilatih ilmu silat oleh tiga orang tokoh ini sehingga pasukan Thian-liong-pang kini menjadi pasukan yang hebat, setiap orang anggautanya memiliki kepandaian tinggi.

Seperti telah diceritakan di bagian depan tadinya Nirahai menitipkan pute­rinya, Milana, kepada Pangeran Jenghan di Kerajaan Mongol. Selama membangun dan memperkuat Thian-liong-pang bebe­rapa tahun, dia meninggalkan puterinya itu dan hanya kira-kira sebulan sekali dia pergi ke Mongol mengunjungi puteri­nya. Milana sama sekali tidak tahu bah­wa ibunya adalah Ketua Thian-liong­-pang yang amat terkenal itu. Baru sete­lah Nirahai mengajaknya ke Thian-liong-­pang anak perempuan ini tahu bahwa ibunya adalah wanita berkerudung, Ketua Thian-liong-pang yang menggemparkan dunia kang-ouw. Juga kini Milana tahu, dengan hati penuh kebanggaan namun ju­ga kedukaan, bahwa ayahnya adalah Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es yang agaknya berselisih paham dengan ibunya sehingga ayah bundanya itu sa­ling berpisah, bahkan timbul gejala sa­ling bertentangan!

Pertemuannya dengan suaminya, Suma Han, mendatangkan rasa duka yang hebat di hati Nirahai. Dia adalah seorang pu­teri kaisar, seorang wanita yang mempu­nyai harga diri tinggi sekali. Betapapun besar cinta kasihnya kepada Suma Han, namun sikap suaminya itu membuatnya berduka. Dia tidak mau menyembah­-nyembah minta dibawa, sungguh rasa rindunya kadang-kadang menyesak di dada. Dia ingin memperlihatkan bahwa kalau Suma Han tidak membutuhkan dia, dia pun tidak akan merangkak-rangkak mengejar suaminya! Keangkuhan ini mem­buat dia amat menderita, membuat cin­tanya kadang-kadang berubah menjadi kebencian, membuat dia ingin menan­dingi kebesaran suaminya, menandingi kepandaiannya. Dalam pertemuannya dua kali dengan Suma Han, pertama ketika tokoh-tokoh kang-ouw memperebutkan rahasia pusaka di Sungai Huang-ho, ke dua baru-baru ini, Nirahai maklum bah­wa dalam ilmu kesaktian dia masih belum mampu menandingi Suma Han. Biarpun Perkumpulan Thian-liong-pang kini menjadi amat kuat dan agaknya pa­ra pembantu dan anak buahnya tidak kalah hebat oleh anak buah Pulau Es, namun kalau dia sendiri tidak mampu menandingi Suma Han, semua akan sia-­sia belaka. Tidak ada seorang pun di Thian-liong-pang yang akan kuat bertan­ding dengan Suma Han. Maka dia harus mempertinggi ilmu-ilmunya.

Terutama sekali Nirahai ingin me­lihat puterinya, Milana menjadi se­orang yang lebih pandai daripadanya. Ke­inginan untuk menjadi seorang yang lebih sakti dari Suma Han inilah yang membuat Nirahai melakukan hal-hal yang amat berani, di antaranya ialah menculik to­koh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua per­kumpulan silat yang diundang atau kalau tidak mau dipaksa mengunjungi Thian-liong-pang! Untuk apa? Sebaiknya kita sekarang mengikuti perjalanan Gak Bun Beng yang sedang mengunjungi Thian-liong-pang dengan mengikuti bayangan dua orang tokoh Thian-liong-pang dengan hati-hati karena dia maklum bahwa ke­dua orang itu sedang memancingnya un­tuk memasuki markas besar perkumpul­an yang terkenal itu.

Markas Thian-liong-pang yang menja­di pusat perkumpulan itu merupakan se­kumpulan bangunan besar, dikelilingi oleh dinding batu yang tingginya dua kali tinggi manusia. Di tempat ujung dinding temboknya terdapat tempat di mana tampak penjaga yang melakukan penjaga­an siang malam sehingga sarang perkum­pulan itu seperti benteng tentara saja. Pintu gerbang yang lebar terbuat dari kayu tebal berlapis besi, dijaga pula oleh selosin orang.

Pintu gerbang terbuka ketika dua orang tokoh Thian-liong-pang tiba di situ, akan tetapi begitu kedua orang itu masuk melalui pintu gerbang, daun pintu tertutup kembali dari dalam. Bun Beng memeriksa keadaan pintu gerbang yang amat kuat dan dinding tembok yang tinggi. Ia tersenyum. Agaknya, orang-orang Thian-liong-pang itu terlalu me­mandang rendah kepadanya. Apa artinya dinding tembok setinggi itu baginya? Le­bih tinggi lagi pun dia akan mampu me­lompatinya. Dia maklum bahwa mereka tentu sudah menantinya, akan tetapi dia tidak takut. Dia harus memasuki sarang Thian-liong-pang, menolong Ketua Bu-tong-pai, mungkin menolong banyak orang lagi yang terculik dan menjadi tawanan di tempat itu. Pula, dia sudah mengambil keputusan bulat untuk mene­mui Ketua Thian-liong-pang dan mene­gurnya agar tidak melakukan penculikan-penculikan. Dia maklum bahwa orang-orang Thian-liong-pang amat lihai, apa­lagi ketuanya yang pernah ia lihat di pu­lau Sungai Huang-ho beberapa tahun yang lalu. Ia masih bergidik kalau teringat akan wanita berkerudung yang amat lihai itu. Akan tetapi, kepandaiannya sekarang ti­dak seperti dahulu, kini dia telah dewa­sa dan berilmu tinggi, kalau dia tidak menentang perbuatan sewenang-wenang ini, untuk apa dia mempelajari ilmu sampai bertahun-tahun? Pula, dia ter­ingat betapa tokoh wanita Thian-liong-pang dahulu bersikap baik kepadanya, dan rata-rata orang Thian-liong-pang tidak­lah seganas orang Pulau Neraka. Selain kenyataan itu, juga dalam perjalanannya dia tidak pernah mendengar Thian-liong-pang sebagai perkumpulan orang jahat, tidak pernah melakukan kejahatan. Kalau sekarang mereka menculik ketua-ketua perkumpulan dan tokoh-tokoh kang-ouw tentu ada rahasia di balik perbuatan mereka itu dan dia harus membongkar rahasia itu dan berusaha menghentikan perbuatan mereka.

Akan tetapi Bun Beng bukan seorang yang sembrono. Dia maklum bahwa me­loncat begitu saja pada siang hari itu merupakan perbuatan yang amat berba­haya. Tidak, dia tidak berani bersikap sembarangan. Maka dia mundur kembali dan mengintai dari jauh, menanti sampai malam tiba karena dia mengambil kepu­tusan untuk memasuki sarang naga itu setelah hari menjadi gelap.

Setelah hari berganti malam, Bun Beng berindap-indap mendekati dinding yang mengurung sarang Thian-liong-pang. Ia sudah memilih bagian kiri di ujung, sebelah kiri pintu gerbang, untuk melon­cat masuk. Tiba-tiba ia mendengar sua­ra tambur dan gembreng di sebelahda­lam. Ia berhenti di bawah dinding dan mendengarkan penuh perhatian. Apakah Thian-liong-pang mengadakan pesta? Hemm, bukan, bantah hatinya. Tambur dan gembreng itu dipukul seperti kalau dipergunakan untuk mengiringi orang bermain silat! Agaknya mereka sedang berlatih silat. Dia tidak akan merasa heran kalau mereka telah siap menanti­nya, bahkan dia menduga bahwa tentu gerak-geriknya sejak tadi telah diintai. Namun dia tidak peduli. Sekarang atau dia akan terlambat.

Dengan gerakan indah Bun Beng me­loncat. Tubuhnya melayang ke atas dan kedua kakinya hinggap di atas dua ujung tombak, gerakannya amat ringan seolah-olah seekor burung garuda yang besar. Ia merasa heran sekali karena tidak ada anak panah atau senjata orang menyam­butnya. Di bawah tidak tampak orang menjaga, hanya tampak genteng bangun­an-bangunan dan tampak sinar penerang­an yang besar, terutama di depan sebu­ah bangunan terbesar di situ. Tampak pula orang-orang hilir mudik, akan tetapi tidak ada yang menengok, seakan-akan mereka itu hanya orang-orang dusun yang tidak paham ilmu silat dan tidak tahu akan kedatangannya. Bun Beng merasa penasaran. Apakah pihak Thian-liong-pang menganggap dia begitu rendah se­hingga tidak pantas untuk menjaga dan menghebohkan kedatangannya? Ia mela­yang turun dari tembok, hinggap di atas genteng, kemudian melayang turun pula ke bagian samping bangunan besar yang agaknya saat itu menjadi pusat keramai­an.

Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, tahu-tahu di depannya telah ber­diri seorang kakek yang berkata tenang.

“Selamat datang, Siauw-hiap dari Siauw-lim-pai. Biarpun caramu masuk tidak selayaknya, namun mengingat bah­wa Siauw-hiap adalah seorang murid Siauw-lim-pai, Pangcu kami mempersila­kan Siauw-hiap untuk duduk sebagai tamu menonton pertunjukan kami. Ka­mi menerima Siauw-hiap sebagai se­orang tamu yang terhormat, ataukah.... Siauw-hiap lebih suka dianggap sebagai seorang pencuri yang rendah?”

Bun Beng memandang orang itu yang ternyata adalah seorang kakek berkepa­la gundul, berjenggot dan berkumis, pa­kaiannya seperti seorang sasterawan, usianya kurang lebih enam puluh tahun, suaranya tinggi nyaring akan tetapi si­kapnya halus dan seperti orang lemah. Mendengar ucapan itu, Bun Beng terse­nyum.

“Terserah kepada Thian-liong-pang akan menganggap aku sebagai apa. Akan tetapi karena aku ingin bertemu dengan Pangcu kalian, dan melihat betapa aku disambut sebagai tamu, biarlah aku me­nerima sambutan ini.”

“Kalau begitu, silakan Siauw-hiap!” kata kakek itu.

Bun Beng berjalan dengan sikap tenang menuju ke ruangan depan bangunan be­sar diiringkan oleh kakek gundul. Kini mengertilah dia mengapa dia tidak di­sambut sebagai musuh dan tidak diserang. Kiranya Thian-liong-pang agaknya merasa enggan bermusuhan dengan Siauw-lim-pai, dan hanya karena memandang Siauw-lim-pai maka dia disambut dengan manis budi. Dia mengerti bahwa andaikata kedua orang tokoh yang menawan Ke­tua Bu-tong-pai tadi tidak mengenal dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang ia miliki dan tidak melaporkan bahwa dia seorang murid Siauw-lim-pai, tentu penyambut­an mereka akan lain sekali.

Ketika kakek gundul itu mengajaknya memasuki ruangan depan yang luas dan diterangi banyak lampu gantung besar, dia cepat melayangkan pandang matanya menyapu keadaan di situ. Ruangan itu luas sekali dan terdapat anak tangga di sebelah dalam. Di atas anak tangga itu terdapat ruangan lain dan tampaklah se­orang wanita berkerudung duduk di atas sebuah kursi besar yang lantainya ditila­mi kulit seekor biruang. Wanita berkeru­dung yang dikenalnya sebagai Ketua Thian-liong-pang yang dahulu pernah da­tang ke Sungai Huang-ho itu duduk dengan sikap tenang, kedua kakinya mengin­jak kepala biruang yang berada di bawah kursinya, di sebelah kanan wanita ini du­duk seorang kakek yang mukanya seper­ti seekor singa, kursinya agak kecil dibandingkan dengan kursi Si Wanita ber­kerudung. Di sebelah kanan agak belakang Ketua Thian-liong-pang ini berdiri seorang wanita cantik yang dikenal pula oleh Bun Beng sebagai wanita yang dahulu mewakili Thian-liong-pang di Sungai Huang-ho. Sedangkan di belakang, agak mundur, berdiri seorang wanita lain yang juga cantik, pakaiannya seperti wanita lihai yang berdiri di sebelah kanan Ketua itu.

“Silakan duduk di sini, Siauw-hiap,” kata kakek gundul sambil mempersilakan Bun Beng duduk di atas kursi dekat anak tangga. Akan tetapi Bun Beng tidak segera duduk, hanya berdiri dengan terhe­ran-heran memandang ke arah para ta­mu yang duduk menghadap ke arah Ketua, dengan kursi-kursi yang diatur setengah lingkaran mengurung ruangan di bawah anak tangga, sedangkan para penabuh tambur dan gembreng berdiri paling ujung. Dia tidak peduli dan tidak melihat betapa Ketua Thian-lipng-pang sama sekali tidak mengacuhkannya, akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat Ang-lojin, Ketua Bu-tong-pai yang akan ditolongnya itu, duduk pula di antara para tamu de­ngan sikap tenang dan sama sekali ti­dak menoleh kepadanya! Mengapa orang itu seperti tidak mengenalinya? Mustahil kalau tidak mengenal atau tidak tahu bahwa kedatangannya untuk menolong ketua itu! Atau pura-pura tidak kenal? Ah, ini pun tidak mungkin. Bukankah dua orang tokoh Thian-liong-pang sudah tahu betapa di tengah jalan dia berusaha me­nolong Ketua Bu-tong-pai itu? Tentu hal ini sudah dilaporkannya pula kepada Ke­tua Thian-liong-pang. Apa perlunya lagi Ketua Bu-tong-pai berpura-pura? Dia pun tidak mau berpura-pura karena hal ini berarti bahwa dia takut, maka dia lalu menghampiri Ketua Bu-tong-pai dan me­negur.

“Ang-locianpwe, engkau baik-baik saja­kah?”

Kakek itu memandangnya akan teta­pi sinar matanya seperti tidak menge­nalnya sama sekali. Dia hanya mengang­guk tanpa menjawab! Bun Beng menjadi penasaran sekali. Mengapa Ketua Bu-tong-pai bersikap seperti ini? Padahal susah payah ia berusaha menolongnya dan di jalan tadi sikapnya tidak sedingin ini!

“Locianpwe, apakah kau lupa kepada­ku?” Ia menegur lagi.

Kakek itu kembali memandangnya dengan sikap tidak acuh, lalu menjawab dengan suara ragu-ragu, “Siapakah? Maaf, aku tidak mengenalmu.” Setelah berkata demikian kakek ini kembali membuang muka menonton dua orang yang sedang bertanding di bawah anak tang­ga, memandang penuh perhatian seperti yang dilakukan oleh semua orang yang duduk di situ. Makin heran Bun Beng ketika melihat betapa para tamu yang sebagian besar terdiri dari kakek-kakek yang kelihatannya berilmu tinggi itu sa­ma sekali tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia hanya seekor lalat saja! Dengan hati mengkal Bun Beng lalu du­duk di atas kursi yang ditunjuk oleh ka­kek gundul. Kakek ini pun duduk di atas sebuah kursi di sebelah kanan Bun Beng. Seorang pelayan datang menyuguhkan arak kepada Bun Beng, akan tetapi pemuda ini menolak dan menyuruh taruh arak dengan guci dan cawannya di atas meja. Pelayan itu lalu memenuhi meja di depan kakek gundul dan Bun Beng dengan hidangan-hidangan seperti yang memenuhi meja-meja lain pula.

Kini Bun Beng memperhatikan para tamu yang duduk di situ. Ada belasan orang, tepatnya empat belas orang tamu yang melihat sikapnya adalah orang-orang berkepandaian tinggi, akan tetapi sikap mereka dingin dan tak acuh seperti si­kap Ketua Bu-tong-pai. Di depan mere­ka ini pun terdapat meja penuh makan­an dan mereka semua menonton pertan­dingan sambil makan minum. Di bela­kang para tamu duduk pula banyak orang dan di antara mereka Bun Beng menge­nal dua orang tokoh yang pernah dila­wannya siang tadi, yaitu mereka yang menculik Ketua Bu-tong-pai. Sedangkan di belakang rombongan yang duduk ini, yang jumlahnya juga belasan orang, nampak puluhan orang berdiri menonton. Sepasang kakek kembar yang lihai dan yang menggotong kerangkeng Ketua Bu-tong-pai tampak di antara mereka yang berdiri. Diam-diam Bun Beng menduga-duga dan dia terkejut. Agaknya sepa­sang kakek kembar itu adalah anggauta­anggauta rendahan saja, sedangkan ka­kek muka tengkorak dan pemuda tam­pan adalah anggauta yang lebih tinggi. Kakek gundul yang duduk di sebelahnya yang tadi menyambutnya, tentu lebih tinggi kedudukannya, apalagi kakek mu­ka singa dan wanita cantik yang duduk dan berdiri di dekat Ketua Thian-liong-pang. Kalau sepasang kakek kembar yang demikian lihai itu saja menjadi anggau­ta rendahan, dapat dibayangkan betapa lihai kakek gundul di sebelahnya ini, apalagi kakek muka singa, dan lebih-lebih ketuanya! Bun Beng bersikap hati-hati dan tidak mau bergerak, hendak melihat perkembangannya karena dia sungguh-sungguh bingung dan terheran-heran mengapa Ang-lojin yang tadinya diculik sekarang menjadi tamu dan bersikap tidak mengenalnya? Kini Bun Beng mulai memperhatikan dua orang yang bertanding dan kembali dia tercengang. Yang bertanding dengan golok dan pedang itu bukanlah orang-orang sembarangan! Laki-i berusia empat puluh tahun yang berkepala besar dan bersenjata golok itu memiliki ilmu golok yang amat hebat, sedangkan kakek kurus yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih itu memi­liki ilmu pedang yang amat tinggi pula. Diam-diam ia menonton dan mencurah­kan perhatiannya. Bun Beng banyak mengenal ilmu silat, bahkan dahulu guru­nya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, telah membuka rahasia tentang dasar-dasar gerakan ilmu silat-ilmu silat ting­gi yang dimiliki oleh partai-partai besar. Maka setelah menonton belasan jurus, Bun Beng mengenal bahwa Si Pemain golok itu tentulah seorang tokoh Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti) yang amat terkenal karena kehebatan ilmu golok mereka, sedangkan Si Pemain pedang itu tidak salah lagi tentulah se­orang tokoh besar dari Hoa-san-pai kare­na ilmu pedang yang dimainkannya tidak salah lagi adalah Hoa-san Kiam-sut! Dia menjadi heran buka main. Mengapa dua orang tokoh dari Sin-to-pang dan Hoa-san-pai bertanding di tempat ini? Dan selain ditonton oleh banyak tamu dan orang-orang Thian-liong-pang sambil maka minum, juga diiringi tambur dan gembreng!

Pertandingan itu berjalan dengan seru dan jelas tampak betapa tokoh Sin-to-pang mulai terdesak, bahkan pundaknya telah terluka goresan pedang. Kalau semua tamu memandang dengan sikap dingin, demikian pula para tokoh Thian-liong-pang, hanya Bun Heng seoranglah yang menonton dengan hati tegang.

“Cukup....!” Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, namun penuh wibawa keluar dari balik kerudung yang me­nyembunyikan kepala Ketua Thian-liong-pang. Seketika tambur dan gembreng berhenti dan kedua orang yang bertan­ding itu pun meloncat mundur menghen­tikan gerakan masing-masing! Bahkan kini seorang kakek yang agaknya merupakan ahli pengobatan Thian-liong-pang, menghampiri tokoh Sin-to-pang yang seperti bekas lawannya telah duduk kembali di kursi masing-masing, kemudian mengobati luka di pundak tokoh ini.

Bun Beng memandang bengong. Ham­pir dia tidak dapat percaya akan dugaan­nya yang agaknya tidak dapat salah lagi. Kedua orang tokoh itu diadu! Seperti dua ekor jangkrik diadu! Betapa mungkin ini? Mengapa mereka sudi? Dan agaknya mereka berdua tadi bukanlah pasangan pertama yang diadu. Selagi ia menduga-duga dengan bingung, terdengar suara merdu dari balik kerudung.

“Ang-lojin dari Bu-tong-pai dan Tok-ciang Siucai dari Lam-hai-pang, harap suka maju dan memperlihatkan kepandai­an!”

Jantung Bun Beng berdebar tegang.

“Siauw-hiap, silakan mencoba hidang­an!” Tiba-tiba kakek gundul berkata.

“Terima kasih, aku tidak lapar,” jawab Bun Beng tanpa mengalihkan pan­dang matanya dari Ketua Bu-tong-pai yang kini telah bangkit berdiri dari kur­sinya dan melangkah maju ke tempat pertandingan dengan sikap tanpa ragu-ragu dan wajah tidak membayangkan sesuatu.

“Kalau begitu, silakan minum seca­wan arak sebagai penyambutan dari Pangcu kami,” kata pula kakek itu yang sudah bangkit dan menyodorkan secawan arak penuh kepada Bun Beng.

Mendengar ini, Bun Beng menoleh ke kiri, ke arah Ketua Thian-liong-pang dan ia melihat betapa sepasang mata di ba­lik lubang kerudung itu tertuju kepada­nya dengan sinar tajam. Tanpa menja­wab ia menerima cawan arak dan minum arak itu habis sekali teguk. Hampir ia tersedak, tubuhnya terasa nyaman hangat setelah ia minum arak tadi. Kepalanya menjadi agak pening sehingga diam-diam ia terkejut sekali. Tak mungkin secawan arak membuat ia mabok!

“Harap Siauw-hiap minum secawan lagi sebagai penyuguhan dari Thian-liong-pang,” kata pula kakek gundul.

“Cukup, aku tidak ingin minum lagi, ingin menonton pertandingan!” kata Bun Beng dengan hati-hati, dan biarpun ia menjadi curiga sekali, pikirannya dipu­tar untuk menduga apa yang terdapat di dalam arak yang diminumnya tadi, namun ia menujukan pandang matanya ke depan, ke arah Ketua Bu-tong-pai yang kini telah berhadapan dengan se­orang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi kurus tampan dengan pakaian seperti seorang siucai (gelar sasterawan).

“Harap Ji-wi suka mulai pertanding­an tangan kosong! Awas, Ang-lojin, lawanmu adalah seorang yang memiliki Tok-ciang (Tangan Beracun), harus dila­wan dengan jurus-jurus simpananmu!” Terdengar pula suara halus dingin Ketua Thian-liong-pang.

Betapa heran hati Bun Beng ketika ia melihat dua orang itu, seperti dua ekor jangkerik atau ayam aduan, telah mulai saling serang tanpa banyak cakap lagi! Pemuda yang dipanggil juluk­annya sebagai Tok-ciang Siucai (Sastera­wan Tangan Beracun) telah membuka serangan setelah menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan tangan terbuka dan telapak tangannya berwarna keme­rahan! Serangan pertama ini merupakan tamparan dengan tangan kiri ke arah muka lawan disusul dorongan telapak ta­ngan kanan ke arah dada! Cepat sekali gerakannya dan kalau diingat bahwa ke­dua telapak tangannya mengandung ha­wa beracun, dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahaya serangan ini.

Namun Ang-lojin adalah Ketua Bu-tong-pai yang tentu saja memiliki ting­kat ilmu silat yang sudah amat tinggi. Dengan tenang namun tidak kalah cepat­nya, ia mengelak dengan geseran kaki ke kiri sambil mengibaskan tangan ka­nan ke kanan menangkis dan dari sam­ping, tiba-tiba kaki kanannya melakukan tendangan menyerong ke arah perut siucai itu.

“Bagus sekali!” tiba-tiba kakek muka singa memuji tendangan itu dan memang Bun Beng juga dapat melihat betapa indah dan berbahayanya serangan balasan Ketua Bu-tong-pai yang dilakukan dengan cekat­an. Tok-siang Siucai ternyata juga lihai karena sambil merobah kaki melangkah mundur tangan kirinya dapat menangkis serangan itu dengan melemparkan ke kanan. Namun, tiba-tiba tendangan kaki ka­nan dari Ketua Bu-tong-pai itu telah disusul dengan tendangan kaki kiri yang digerakkan dengan memutar dari belakang, kembali tendangan ini menyerong dan yang diarah adalah lutut kanan lawan! Si Pemuda kaget, mundur selangkah menyelamatkan lututnya, akan tetapi Ketua Bu-tong-pai terus melakukan tendangan kedua kakinya, cepat dan kuat sekali se­hingga kedua kakinya yang kelihatan banyak saking cepatnya itu menimbulkan suara angin.

“Hemmmm.... Soan-hong-twi.... seperti itukah?” Ucapan Ketua Thian-liong-pang ini lirih sekali dan agaknya tidak terdengar oleh orang lain, akan tetapi Bui Beng yang sejak tadi memperhatikannya, biarpun hanya dengan pendengaran karena matanya ditujukan untuk mengikuti pertandingan, dapat menangkap kata-katanya. Jantung Bun Beng makin berdebar. Para tokoh kang-ouw itu, termasuk Ketua Bu-tong-pai yang baru saja ditawan, semua menjadi begitu jinak dan penurut dan.... arak yang secawan saja sudah membuat dia mabok.... bukan tidak mungkin ada hubungannya! Dia baru minum secawan saja sudah pening dan seolah-olah semangatnya mengendor, dan kakek gundul itu tadi berusaha membu­at dia minum lebih banyak! Kemudian, para tokoh yang saling bertanding mati-matian dan dengan bersungguh hati, Ke­tua Thian-liong-pang yang menonton dan memberi komentar! Hemm, seolah-olah ada sinar terang memasuki kepala Bun Beng, namun pengaruh arak membuat keningnya berdenyut-denyut sehingga sukar bagi dia untuk memutar otaknya, tidak seperti biasa. Betapapun juga, Bun Beng mengerahkan seluruh pikirannya un­tuk melakukan penyelidikan, mengambil kesimpulan-kesimpulan dan mengumpul­kan dugaan-dugaan.

Pertandingan antara Ketua Bu-tong-pai dan tokoh-tokoh Lam-hai-pang ber­langsung makin seru. Akan tetapi Bun Beng mendapat kenyataan yang menye­nangkan hatinya. Ternyata ayah Ang Siok Bi, yaitu Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, biarpun kini mau saja diadu seperti jangkerik, tetap memiliki watak yang baik, sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang ketua partai persilatan be­sar. Pemuda bertangan ganas itu jelas melakukan serangan-serangan berbahaya dan mematikan, namun Ketua Bu-tong-pai itu banyak mengalah dan biarpun terpaksa mengeluarkan jurus-jurus sim­panan dari Bu-tong-pai untuk menyela­matkan diri, namun serangan balasan­nya tidak bersungguh-sungguh seolah-olah dia enggan untuk mencelakai lawan, tidak mau melukai hebat, apalagi mem­bunuh. Hal ini tentu saja dapat ia lihat karena banyak lowongan baik tidak di­pergunakan oleh kakek itu. Kalau Ang-lojin menghendaki, tentu tidak sampai tiga puluh jurus lawannya dapat dirobohkan dengan pukulan-pukulan istimewanya.

Betapapun juga, tingkat pemuda itu kalah tinggi dan kini dia selalu terdesak mundur. Ketika sebuah tendangan kilat menyerempat pinggang pemuda itu dan membuatnya terhuyung miring, kalau Ang-lojin mau tentu mudah baginya menyerang dengan pukulan maut. Namun kakek ini hanya mendorong pundak pemuda itu dan membuatnya roboh terjengkang.

“Cukup!” teriak Ketua Thian-liong-pang. “Tok-ciang Siucai, harap mundur dan Pek-eng Sai-kong harap maju untuk melayani Ang-lojin dengan senjata. Ang-lojin, ilmu silat tangan kosong Bu-tong-pai hebat, harap perlihatkan ilmu silat­mu dengan senjata. Bukankah Siang-kiam (Sepasang Pedang) menjadi keistimewaan Bu-tong-pai? Silakan!”

Berkata demikian, Ketua Thian-liong-pang ini menggerakkan tangan kirinya dan sepasang pedang melayang ke arah Ang-lojin. Ketua Bu-tong-pai ini tidak menjawab melalnkan menerima sepasang pedang itu dengan gerakan indah. Bun Beng melihat munculnya seorang pende­ta berpakaian lebar dan bermuka penuh brewok telah menerima sebatang toya dari tangan kakek muka singa yang du­duk di sebelah kanan Ketua Thian-liong-pang.

“Pek-eng Sai-kong, kami telah me­nyaksikan dan mengagami ilmu toyamu. Harap jangan sungkan-sungkan, pergunakan jurus-jurus yang paling hebat, teru­tama jurus kedua puluh tujuh Pek-eng-coan-ci (Garuda Putih Menyabetkan Ekor). Hati-hati, ilmu siang-kiam Bu-tong-pai amat lihai!” Dalam suara dari balik ke­rudung itu terkandung kegembiraan be­sar. Bun Beng makin berdebar karena di dalam otaknya yang kacau oleh pe­ngaruh arak memabokkan, ia kini mulai dapat menyingkap tabir yang merahasia­kan semua peristiwa yang aneh yang dihadapinya.

Kembali terjadi pertandingan dan sekali ini lebih hebat menegangkan dari­pada tadi. Sai-kong itu amat kuat, toya­nya benar-benar berbahaya dan teringat­lah Bun Beng akan sebuah aliran yang menamakan dirinya Pek-eng-pang (Toya Garuda Putih) yang merupakan sekelom­pok orang gagah yang sesungguhnya me­miliki dasar ilmu toya Siauw-lim-pai namun telah dicampur-aduk dengan ilmu silat golongan hitam! Jadi saikong ini adalah seorang tokoh Pek-eng-pang! Ia memandang penuh perhatian karena dia­pun ingin sekali menyaksikan bagaimana ilmu toya Siauw-lim-pai yang telah diro­bah itu!

Terdengar suara nyaring berkali-kali ketika toya bertemu dengan pedang, dan tampaklah sinar toya yang kuning bergu­lung-gulung menjadi satu dengan sinar pedang yang putih. Sekali ini, Ketua Bu-tong-pai harus mengerahkan seluruh kepandaiannya karena yang menjadi la­wannya adalah orang terpandai dari Pek-eng-pang! Biarpun Ketua Bu-tong-pai ini tidak mempunyai hati yang kejam tidak ingin melukai apalagi membunuh lawan, namun sekali ini mau tidak mau dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan ke­pandaiannya, karena kalau tidak, dia sendiri yang akan menjadi korban toya yang ganas.

Bun Beng mengepal ujung lengan kur­sinya. Diam-diam ia telah siap sedia un­tuk menolong kalau Ketua Bu-tong-pai terancam bahaya. Biarpun dia kini dapat menduga bahwa saikong itu, seperti juga Ketua Bu-tong-pai, hanya berperan seperti dua ekor jangkerik aduan, namun tetap saja hatinya berpihak kepada Ang-lojin. Bukan semata-mata karena kakek itu adalah ayah Ang Siok Bi yang cantik, biarpun hal ini sedikit banyak menjadi sebab juga, akan tetapi terutama sekali karena ilmu toya Siauw-lim-pai yang te­lah berubah itu menurut keterangan su­hunya dibawa lari oleh seorang murid Siauw-lim-pai yang murtad!

“Hyaaatttt....!” Tiba-tiba saikong itu membentak keras dan Bun Beng diam-diam terkejut sekali sehingga tanpa disa­darinya ia telah meremas patah ujung lengan kursinya, siap untuk disambitkan kalau Ang-lojin terancam bahaya! Dan memang hebat sekali jurus yang kini di­pergunakan oleh Sai-kong itu dalam penyerangannya. Itulah jurus dari ilmu toya Siauw-lim-pai, hal ini diketahui jelas oleh Bun Beng, akan tetapi jurus itu telah dirobah sedemikian rupa sehing­ga selain lihai juga menjadi ganas dan licik sekali. Toya itu menyodok ke arah pusar lawan dengan cepatnya, dan begitu Ang-lojin menangkis dengan pedang kiri, tiba-tiba tubuh saikong itu tergu­ling ke depan, lalu tubuhnya menggelin­ding ke arah lawan, tongkat atau toya itu diputar menyerampang kaki lawan dilanjutkan dengan sodokan ke atas, mengarah mata dibarengi dengan tendangan ke arah anggauta tubuh di bawah pusar. Serangan yang mematikan!

Namun Ang-lojin tidak menjadi gugup menghadapi jurus yang oleh Ketua Thian-liong-pang disebut Pek-eng-coan-ci tadi dan terpaksa dia pun mengeluarkan ju­rus simpanannya. Kedua pedangnya mela­kukan gerakan menggunting dan begitu berhasil menjepit toya, tubuhnya terang­kat ke atas dengan kaki ke atas, kemu­dian ia berjungkir balik, melepaskan je­pitan toya dan sambil menukik turun, sepasang pedangnya melakukan gerakan menyerang dari kanan kiri, lagi-lagi menggunting bagian leher dan pinggang lawan denngan sepasang pedang!

“Heh, itukah Siang-in-toan-san (Sepa­sang Awan Memutuskan Gunung)?” terde­ngar Ketua Thian-liong-pang berseru li­rih namun dapat terdengar cukup jelas oleh Bun Beng.

Saikong itu kaget sekali dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang sambil memutar toya membentuk lingkaran melindungi tubuh ia dapat menyelamatkan diri, akan tetapi ia terkejut dan sampai terhuyung-huyung. Kini ia berteriak lagi dan tiba-tiba tubuhnya membalik, sikapnya seperti hendak me­nyerang, akan tetapi tiba-tiba sambil membalik ini toyanya meluncur terlepas dari tangan, merupakan anak panah rak­sasa yang menyambar ke arah tubuh Ang-lojin.

“Trakkk!” Toya itu menyeleweng dan menancap di atas lantai di depan Ang-lojin yang tadi saking tak menyangka hampir saja menjadi korban toya.

“Cukup! Harap Ji-wi kembali ke kur­si masing-masing!” Terdengar Ketua Thian-liong-pang berkata sambil meman­dang ke arah Bun Beng yang sudah bang­kit berdiri. Semua orang Thian-liong-pang kini menoleh ke arah Bun Beng, maklum bahwa Ketua mereka marah sekali kepada tamu muda yang dengan lancang telah menimpuk toya dengan ujung lengan kursi yang dipatahkan.

“Chie Kang, berapa cawankah tamu Siauw-lim-pai itu minum arak?” terde­ngar wanita berkerudung bertanya kepada kakek gundul. Bagi orang yang tidak tahu, tentu Ketua itu apakah tamu mudanya terlalu banyak minum arak se­hingga mabok dan melakukan kelancang­an itu. Akan tetapi Bun Beng yang su­dah dapat menduga, hanya tersenyum, apalagi ketika mendengar kakek gundul menjawab,

“Dia hanya minum secawan, menolak untuk minum lagi, Pangcu.”

“Dan untung bahwa aku hanya minum secawan, kalau tidak tentu aku pun akan kaujadikan jangkerik aduan, bukan begi­tu, Thian-liong-pangcu?” Bun Beng kini menghadapi Ketua itu dengan sikap tenang, sedikitpun tidak gentar, mulut­nya tersenyum mengejek.

Biarpun wajah itu tidak tampak, na­mun sepasang muta yang tampak dari kedua lubang itu mengeluarkan sinar berapi, tanda bahwa Ketua ini marah sekali. Sejenak hening di situ, hening yang penuh ketegangan, dirasakan be­nar oleh semua anggauta Thian-liong-pang. Kalau Ketua mereka sudah marah, tentu akan terjadi hal yang mengerikan.

“Orang muda, karena engkau adalah seorang murid Siauw-lim-pai dan kami tidak mempunyai permusuhan dengan Siauw-lim-pai, maka perbuatanmu menye­rang dua pembantu kami, kami maafkan. Bahkan kami menerimamu sebagai se­orang tamu terhormat, biarpun engkau masuk seperti seorang pencuri. Akan te­tapi jangan mengira bahwa karena eng­kau seorang murid Siauw-lim-pai lalu boleh berbuat sesuka hatimu dan lan­cang!”

Bun Beng mengangkat dadanya dan memandang Ketua itu dengan sikap menantang.

“Thian-liong-pangcu! Aku datang bu­kan sebagai utusan Siauw-lim-pai, me­melainkan atas nama pribadi yang ingin mengingatkanmu bahwa perbuatanmu ti­dak baik dan kuminta engkau segera menghentikan perbuatanmu itu!”

“Eh, bocah sombong. Perbuatan apa yang kau maksudkan?” Suara Ketua Thian-liong-pang mengandung keheranan karena dia benar-benar merasa bahwa di dunia ini terdapat seorang pemuda yang begini tidak tahu diri berapi menentangnya secara terang-terangan, bah­kan menegurnya seperti seorang dewasa menegur seorang kanak-kanak!

“Hemmm, perlukah dijelaskan lagi? Baiklah agar jangan aku dikatakan bica­ra mengawur dan menuduh kosong, baik kukatakan bahwa aku sudah mengetahui rahasia semua penculikan yang dilakukan Thian-liong-pang terhadap para tokoh kang-ouw. Engkau menculik mereka, ter­masuk Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, ke­mudian kauberi mereka minuman arak yang mengandung racun perampas ingat­an, mungkin yang pengaruhnya hanya un­tuk sementara saja. Kemudian, selagi para Locianpwe yang bernasib malang ini kehilangan ingatan mereka, kaujadikan mereka jangkerik-jangkerik aduan karena engkau ingin mengetahui rahasia ilmu silat simpanan mereka yang terpak­sa harus mereka pergunakan dalam pertandingan untuk menyelamatkan diri. Bukankah begitu?”

Keadaan makin tegang dan semua anggauta Thian-liong-pang menganggap pemuda lancang itu menjadi calon mayat, karena mana mungkin Ketua mere­ka membiarkan saja kekurangajaran se­perti itu? Akan tetapi, sikap dan ucap­an Bun Beng menimbulkan kekaguman di hati Nirahai, Ketua Thian-liong-pang itu. Memang wanita ini sebagai seorang sakti, akan selalu kagum terhadap orang yang gagah berani, yang menganggap nyawa sebagai hal yang ringan, menganggap kematian sebagai hal sepele, mengang­gap bahaya bukan apa-apa dalam mem­bela kebenaran yang dipercayanya. Hanya ada keraguan di hatinya apakah pemuda ini bersikap sedemikian berani terdorong sifat gagah yang aseli, ataukah hanya untuk bersombong saja terdorong oleh nama besar Siauw-lim-pai.

“Bocah sombong! Kalau benar begitu, mengapa? Apa kehendakmu?”

“Pangcu, aku hanya memperingatkan bahwa engkau main-main dengan api! Engkau menanam permusuhan dengan se­luruh dunia kang-ouw dengan perbuatan­mu ini. Aku minta agar engkau meng­hentikan perbuatan ini dan membebas­kan semua tawanan.”

“Hemm, tanpa kauminta, semua saha­bat yang menjadi tamuku akan kubebas­kan. Kau memperingatkan agar kami menghentikan perbuatan kami. Kalau aku menolak peringatanmu ini, habis kau mau apa?”

“Terpaksa aku akan menantangmu bertanding! Aku tahu bahwa engkau sakti, Thian-liong-pangcu, akan tetapi demi membela kebenaran, demi kesela­matan seluruh tokoh kang-ouw, aku siap mengorbankan nyawa!”

“Keparat cilik! Engkau sombong se­kali! Pangcu, ijinkan saya membasmi bocah sombong ini!” Tan Wi Siang sudah meloncat maju dengan marah sekali.

“Wi Siang, mundurlah!” Ketua Thian-liong-pang membentak, “Bocah ini mem­punyai ketabahan besar, atau memang hanya seorang bocah sombong yang mengandalkan nama Siauw-lim-pai. Biar Paman Chie Kang saja yang melayani­nya!”

“Baik, Pangcu!” Lui-hong Sin-ciang Chie Kang sudah meloncat maju. Kakek gudul ini sudah sejak tadi merasa marah menyaksikan sikap Bun Beng, “Eh, orang muda yang tidak mengenal kebaikan orang! Majulah, ingin kulihat sampai di mana kepandaianmu!” katanya dengan suara yang tinggi nyaring.

“Chie Kang, jangan bunuh dia, kau tahu apa yang harus kaulakukan!”

“Hemmm,” Bun Beng mengejek. “Aku pun tahu, Pangcu! Tentu engkau hendak mempelajari pula jurus-jurus simpanan dari Siauw-lim-pai, bukan? Ha, sekali ini engkau akan kecelik!”

Kembali Nirahai tertegun. Bocah ini selain memiliki keberanian yang luar bia­sa, juga amat cerdik seolah-olah menge­tahui semua isi hatinya. Terhadap bocah seperti ini, dia harus berlaku hati-hati. Diam-diam ia menduga-duga siapakah gerangan bocah ini. Apakah Ketua Siauw-lim-pai yang mendengar akan penculikan-penculikan yang dilakukannya, sengaja mengirim seorang muridnya yang dapat dipercaya untuk melakukan penye­lidikan? Dia maklum bahwa di Siauw-lim-pai terdapat banyak orang pandai, maka dia tidak pernah berurusan dengan Siauw-lim-pai, bahkan memesan kepada para anak buah untuk menjauhkan diri dari permusuhan dengan partai itu. Akan tetapi Ketua Siauw-lim-pai yang mengambil langkah pertama memusuhi Thian-liong-pang, hemmm, dia pun tidak takut!

Lui-hong Sin-ciang Chie Kang mak­lum akan maksud Ketuanya dan kata-kata Bun Beng yang dengan tepat membongkar niat Ketuanya membuat ia ma­kin marah. Sambil menggereng ia telah menerjang maju, sengaja mengeluarkan jurus berbahaya untuk memaksa lawan muda itu mengeluarkan jurus simpanan dari Siauw-lim-pai agar dapat dilihat oleh Ketuanya.

Memang apa yang dilontarkan oleh Bun Beng sebagai tuduhan tadi tepat sekali. Nirahai sengaja menculik tokoh-tokow kang-ouw, kemudian membius mereka dengan arak beracun, mengadu mereka untuk dapat mempelajari gerak­an yang aseli dari jurus-jurus terlihai semua partai yang hanya dikenalnya bagian teorinya saja. Dia ingin memperdalam ilmu silatnya sedemikian rupa da­lam persiapannya menghadapi suaminya, Suma Han atau Pendekar Siluman, juga Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es!

Menghadapi terjangan kakek gundul, Bun Beng terkejut. Hebat bukan main serangan lawannya yang menubruk de­ngan kedua tangan terbuka jarinya, mencengkeram dari atas dan bawah dengan getaran hawa yang membuktikan tenaga sin-kang kuat. Untuk menggunakan ilmu silat Siauw-lim-pai dia tidak mau, kare­na dia tidak ingin kalau Ketua Thian-liong-pang yang amat lihai itu “mencuri” jurus-jurus pilihan dengan melihat dia mainkan jurus itu. Akan tetapi terjang­an kakek gundul yang menjadi lawannya benar-benar amat berbahaya. Maka ia cepat mengerahkan gin-kangnya dan ha­nya mengelak ke sana ke mari tanpa mainkan jurus pilihan Siauw-lim-pai! Un­tung bahwa dalam hal gin-kang, dia da­pat mengatasi gerakan kakek itu sehing­ga sampai belasan jurus ia mampu meng­hindarkan semua terjangan kakek itu dengan hanya mengandalkan illmunya meringankan tubuh!

“Heh, kau masih keras kepala, ya?” Chie Kang mendengus marah menyaksi­kan lawannya itu benar-benar tidak mengeluarkan jurus Siauw-lim-pai dan hanya mengelak ke sana-sini. Ia mero­bah serangannya, kini dia mengerahkan sin-kang dan menyerang dengan gerakan lambat, namun kedua tangannya menda­tangkan angin yang bergulung-gulung menghadang semua jalan keluar Bun Beng! Pemuda itu terkejut, maklum bah­wa menghadapi penyerangan seperti itu tidak mungkin baginya untuk hanya mengandalkan gin-kang saja. Maka ia berseru keras, tubuhnya melakukan ge­rakan aneh sekali, tubuhnya menyeruduk ke depan, kedua tangannya membentuk lingkaran-lingkaran aneh sekaligus menghalau semua serangan lawan dan berbalik kedua tangannya yang seolah-olah berubah menjadi banyak sekali itu mengirim pukulan dari semua penjuru!

“Aihhhh....!” Chie Kang berteriak, berusaha mengelak namun tetap saja pundaknya terkena tangan Bun Beng sehingga ia terhuyung ke belakang, Bun Beng mendesak ke depan untuk mengirim pukulan yang akan merobohkan lawan.

Tiba-tiba tampak bayangan berkele­bat, kedua tangan Bun Beng tertolak ke samping, dan sebelum Bun Beng sempat menjaga diri, tahu-tahu ia telah terguling roboh. Tubuhnya jatuh terlentang dan tahu-tahu kaki kiri Ketua Thian-liong-pang telah menginjak dadanya! Bun Beng merasa betapa kaki yang kecil itu seperti gunung beratnya sehingga dia tidak mampu bergerak lagi, dan maklumlah pe­muda ini bahwa sekali wanita itu mengerahkan tenaga, dadanya akan pecah! Na­mun dia tidak takut dan memandang dengan mata melotot.

“Bocah sombong! Dari mana engkau mempelajari ilmu tadi?”

Biarpun dia sudah tidak berdaya dan hanya menanti maut yang berada di telapak kaki wanita itu, namun Bun Beng merasakan kegirangan dan kepuasan besar karena ia mendapat kenyataan bahwa wanita sakti ini tidak mengerti jurusnya tadi!

“Ha-ha-ha-ha! Thian-liong-pangcu, mau bunuh, lekas bunuhlah. Siapa takut mati dan siapa takut padamu? Engkau memang pandai seperti iblis, akan tetapi juga menyeleweng dan jahat seperti iblis. Memangengkau iblis, kalau tidak, tentu engkau tidak akan menyembunyikan mu­kamu di belakang kerudung! Akan tetapi, biarpun engkau iblis sendiri yang ma­sih belum puas dan ingin mencuri ilmu silat seluruh orang kang-ouw, tetap saja engkau tidak menang melawan Pendekar Siluman dari Pulau Es! Ha-ha-ha, eng­kau akan dipermainkan lagi seperti dulu di Sungai Fen-ho, seperti yang telah kusaksikan sendiri. Ha-ha-ha!”

Bun Beng merasa betapa kaki itu makin berat menindih dadanya. Ia meme­jamkan mata, menanti datangnya maut, akan tetapi kaki itu tidak menginjak te­rus, bahkan turun dari dadanya dan tiba-tiba rambutnya yang dikuncir itu terjam­bak, tubuhnya terangkat dan dipaksa bangkit. Ia kini berdiri di depan wanita itu, melihat sepasang mata di balik ke­rudung yang seolah-olah hendak memba­karnya.

“Siapa engkau? Siapa....?” Wanita itu membentak, kini suaranya tidak halus merdu lagi, melainkan melengking nya­ring penuh kemarahan.

“Aku akan mati, perlu apa menyem­buyikan nama? Aku Gak Bun Beng....”

“Ya Tuhan....!” Bun Beng mendengar suara ini dari atas anak tangga, akan tetapi dia tidak tahu siapa yang berseru kaget itu karena Ketua Thian-liong-pang di depannya tiba-tiba tertawa menghina.

“Hi-hik, kiranya anak haram, keturun­an Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak datuk kaum sesat? Pantas.... pan­tas....! Engkau jahat, melebihi Ayahmu yang tidak sah. Manusia macammu ini tidak layak hidup!”

Nirahai mengangkat tangan kanannya, siap menghantam kepala Bun Beng. Seka­li ini, karena Bun Beng sudah berdiri dan tidak seperti tadi, diinjak tak mam­pu berkutik, tentu saja tidak sudi mam­pus begitu saja tanpa melawan.

“Plakkk!” Hantaman dengan telapak wanita itu berhasil dia tangkis dengan jurus Sam-po-cin-keng dan biarpun tubuhnya terlempar sampai lima meter jauhnya, ia berhasil menangkis dan ti­dak terluka. Dia sudah meloncat bangun lagi, siap melawan mati-matian.

“Pangcu....!” Tiba-tiba terdengar te­riakan keras dan berkelebatlah tubuh ka­kek bermuka singa menghadang tubuh Nirahai yang sudah berjalan mengham­piri Bun Beng dengan mata berkilat penuh penasaran.

“Sai-cu Lo-mo, minggirlah engkau! Bocah ini harus kubunuh!” bentak ke­tuanya.

“Pangcu, ampunkanlah.... dia cucu kepo­nakan saya, satu-satunya keturunan saya, bagaimana Pangcu tega untuk mem­basmi keturunan saya? Ampunkanlah, atau Pangcu bunuh saya sekalian!”

Mendengar ini, tiba-tiba lemaslah tu­buh Nirahai dan ia memandang wajah pembantunya yang berlutut di depan kakinya. Bu Beng berdiri memandang de­ngan mata terbelalak! Dia cucu kepo­nakan kakek bermuka singa itu?

“Sudahlah! Tidak dibunuh pun tidak mengapa, akan tetapi harus suka menja­di anggauta kita.”

“Apa? Aku menjadi anggauta Thian-liong-pang, membantu kalian menculiki orang-orang gagah untuk dicuri kepandai­annya? Terima kasih, lebih baik mati!” Bun Beng membentak sambil membanting kakinya penuh kemarahan.

Sai-cu Lo-mo cepat meloncat ke de­pan Bun Beng sambil membentak penuh teguran, “Gak Bun Beng, engkau tidak boleh berkata begitu! Engkau adalah cu­cu keponakanku sendiri, harus mentaati kata-kataku.”

Bun Beng memandang kakek itu pe­nuh perhatian. “Locianpwe, sejak kapan­kah aku menjadi cucu keponakanmu dan siapakah Locianpwe?”

“Aku adalah Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok, mendiang Ibumu Bhok Khim, ada­lah keponakanku.”

Diam-diam Bun Beng merasa terha­ru. Baru sekali ini dia bertemu dengan orang yang ada hubungan keluarga dengannya, akan tetapi dia bertanya penuh rasa penasaran.

“Kalau benar demikian mengapa baru sekarang Locianpwe mengaku sebagai Pa­man Kakekku?”

Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang. “Engkau tidak tahu, Bun Beng. Aku telah berusaha merampasmu dengan me­ngirim anak buah Thian-liong-pang dahulu ke kuil tua, dekat Sungai Fen-ho, akan tetapi usahaku gagal, engkau di­rampas oleh Pendekar Siluman dan dibe­rikan kepada orang Siauw-lim-pai. Seka­rang kebetulan sekali kita dapat berkum­pul, engkau menurutlah, tinggal di sini menjadi anggauta kami, mempelajari ilmu dari Pangcu dan membuat jasa.”

“Maaf, Kakek, hal ini tidak dapat ku­lakukan. Bukan sekali-kali aku tidak me­mandang perhubungan keluarga antara kita. Aku tahu engkau seorang yang ba­ik dan telah berusaha menyelamatkan aku, akan tetapi untuk menjadi anggauta Thian-liong-pang aku tidak sudi. Terse­rah kepada Thian-liong-pangcu, hendak membebaskan aku bersama para tokoh kang-ouw di sini atau hendak membunuh­ku!”

“Sai-cu Lo-mo, mengingat dia cucu keponakanmu, aku tidak membunuhnya. Akan tetapi dia harus menjadi anggauta kita atau mati!” terdengar Nirahai ber­kata, suaranya dingin dan mengandung keputusan yang tidak dapat dibantah lagi.

Sai-cu Lo-mo menjadi bingung sekali. Dia ingin menyelamatkan keturunannya ini, akan tetapi maklum bahwa pemuda ini memiliki keberanian dan kenekatan yang sukar ditundukkan dan ia maklum pula bahwa kalau Pangcunya marah, ti­dak ada seorang pun berani membantah­nya. Lalu ia mendapatkan akal dan ber­kata.

“Pangcu, ampunkan saya dan ampun­kan dia yang masih muda. Kalau dia ti­dak mau, biar dia kita tawan dan perla­han-lahan saya akan membujuknya.”

Terdengar jawaban dengan suara ke­sal, “Sesukamulah.....”

Sai-cu Lo-mo menjadi girang sekali. “Bun Beng, dengarlah betapa baiknya Ketua kita. Engkau menurutlah, Cucuku!”

“Maaf, aku tidak mau menjadi anggauta Thian-liong-pang! Biarpun Ayahku yang tidak pernah kukenal itu disebut seorang datuk kaum sesat, namun aku bukanlah orang sesat!”

“Bocah bandel, kalau begitu aku akan menawanmu!” Sai-cu Lo-mo membentak dan menubruk ke depan hendak menang­kap Bun Beng. Akan tetapi, Bun Beng sudah mengelak cepat dan ketika kakek itu menyusul dengan serangan totokan untuk merobohkannya, dia cepat menangkis.

“Plak-plak!” Bun Beng terpental ke belakang dan Sai-cu Lo-mo terhuyung. Diam-diam Bun Beng terkejut, maklum bahwa orang yang mengaku kakeknya ini memang memiliki kepandaian dan tena­ga lebih hebat daripada kakek gundul yang berhasil ia kalahkan tadi.

Di lain pihak, Sai-cu Lo-mo juga ka­gum. Kiranya cucu keponakannya ini benar tangguh, pantas saja sutenya kalah. “Gak Bun Beng, berani engkau melawan kakekmu sendiri?”

“Aku tidak melawan seorang kakek­ku, melainkan melawan orang-orang Thian-liog-pang.” jawab Bun Beng tegas.

“Engkau benar tak tahu diri dan sombong!” Sai-cu Lo-mo kini menerjang dengan hebatnya. Bun Beng terpaksa menggerakkan kaki tangan melawan dan kembali dia menggunakan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng. Begitu ia mainkan ju­rus-jurus aneh ilmu silat ini, Sai-cu Lo-mo mengeluarkan seruan kaget dan kakek ini terdesak hebat! Melihat gerakan pe­muda itu Nirahai menjadi kagum dan tertarik sekali. Dia telah melihat dan mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi, akan tetapi belum pernah ia me­nyaksikan ilmu silat tangan kosong se­perti yang dimainkan pemuda itu. Sung­guhpun gerak kaki pemuda itu mempu­nyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang sudah matang, namun jurus itu bukanlah jurus ilmu silat Siauw-lim-pai.

“Wi Siang kaubantulah Lo-mo menang­kap bocah itu, pancing sedapatmu agar dia mengeluarkan seluruh ilmunya,” bisiknya dengan tertarik sekali sambil duduk kembali ke atas kursinya untuk menon­ton dan mempelajari jurus-jurus yang dimainkan Bun Beng.

Tang Wi Siang kini sudah mengenal Bun Beng sebagai anak yang dahulu per­nah menolongnya ketika ia bertanding melawan Thai Li Lama di pulau Sungai Huang-ho dan hampir celaka oleh ilmu sihir Lama itu. Dia meloncat dan me­nyerang Bun Beng dengan gerakan lin­cah sekali.

Bun Beng terkejut. Dia maklum bah­wa wanita ini memiliki gerakan yang ce­pat luar biasa dan mungkin lebih lihai daripada Sai-cu Lo-mo. Dan memang dugaannya benar, Tang Wi Siang menjadi orang yang paling disayang dan dipercaya oleh Nirahai di antara para pembantunya, maka wanita itu dia beri pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi daripada pembantu-pembantu lain, bahkan Tang Wi Siang telah dia beri Ilmu Silat Yancu-sinkun (Ilmu Silat Burung Walet) yang mengan­dalkan gerakan gin-kang tinggi sekali. Menghadapi Sai-cu Lo-mo saja dia sudah merasa berat, bukan hanya karena kakek itu lihai sekali, juga ia merasa enggan untuk melukai orang tua paman ibunya ini. Sekarang ditambah lagi dengan Tang Wi Siang, dia benar-benar menjadi ter­ancam hebat. Gerakan penyerangan Wi Siang demikian cepatnya seolah-olah ke­dua lengan wanita itu berubah menjadi enam dan karena Bun Beng harus menja­ga jangan sampai ia tertawan oleh ka­kek itu, sebuah totokan tangan kiri wa­nita itu ke arah lehernya tak dapat ia elakkan lagi. Akan tetapi, ternyata ta­ngan itu tidak dilanjutkan menotok, ha­nya mendorong pundaknya sehingga ia terpental dekat anak tangga. Ia melon­cat lagi dan sekilas pandang ia melihat muka berkerudung Ketua Thian-liong-pang yang sedang memandangnya penuh perhatian, ia menjadi terkejut sekali dan sadar bahwa Tang Wi Siang yang turun membantu Sai-cu Lo-mo tentu hanya mendesaknya agar dia mengeluarkan se­mua jurus ilmunya, yaitu Sam-po-cin-keng dan Si Ketua itu hendak menyaksi­kan dan mencuri ilmu itu dengan jalan melihat gerakan-gerakannya!

Bun Beng adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu bahwa betapapun juga, dia takkan mampu menang karena kalau Si Ketua sendiri turun tangan, be­tapapun dia melawan akan percuma sa­ja, maka dia mengambil keputusan untuk tidak memperlihatkan ilmunya agar tidak dicuri oleh Ketua itu. Tak mungkin eng­kau akan dapat mencuri jurus-jurus sim­panan Siauw-lim-pai dan Sam-po-cin-keng, pikirnya dan kini ia melawan de­ngan gerakan sederhana sehingga dalam belasan jurus saja ia telah roboh terto­tok oleh Sai-cu Lo-mo.

Nirahai menjadi terkejut, penasaran, dan marah. Dia pun mengerti bahwa pe­muda bandel itu sengaja tidak memper­lihatkan jurus-jurus aneh itu, dan senga­ja membiarkan dirinya tertangkap!

“Lempar dia ke dalam penjara di bawah tanah!” bentak Ketua Thian-liong-pang. “Jangan keluarkan sebelum dia mentaati perintah!”

Sai-cu Lo-mo terkejut dan meman­dang Ketuanya. Akan tetapi sinar mata ketuanya jelas menyatakan tidak mau dibantah. Terpaksa Sai-cu Lo-mo diam saja melihat tubuh pemuda itu diseret oleh dua orang petugas yang membawa ke tempat tahanan di bawah tanah yang letaknya di sebelah belakang kompleks bangunan-bangunan sarang Thian-liong-pang.

Biarpun tubuhnya sudah lemas terto­tok, ketika ia diseret pergi, Bun Beng masih mendengar ucapan Ketua Thian-liong-pang, “Lanjutkan pesta dan pertan­dingan!” Dia merasa puas dapat menang­kap kemarahan dan kejengkelan dalam suara itu. Dia telah kalah, dia telah gagal menolong para tokoh kang-ouw, namun sedikitnya dia telah berhasil membuat Ketua Thian-liong-pang kecewa, terhina dan marah-marah!

Tahanan di bawah tanah itu amat menyeramkan. Dua orang petugas yang kini menggotong tubuh Bun Beng, membawa pemuda itu memasuki lorong ba­wah tanah yang menurun melalui anak tanga batu. Lorong yang gelap dan di tiap tikungan terdapat pintu besi yang terjaga oleh dua orang anggauta Thian-liong-pang. Setelah melalui tujuh pintu, sampailah mereka di sebuah kamar tahanan dan tubuh Bun Beng dilempar ke dalam kamar ini.

Bun Beng tidak memperhatikan tem­pat itu, juga tidak peduli ketika pintu kamar itu ditutup dari luar. Dia sibuk mengatur pernapasan, dan berusaha membebaskan totokan agar jalan darah­nya mengalir normal kembali. Dia mak­lum bahwa tanpa usaha ini pun, akhir­nya totokan itu akan punah, akan tetapi, hal itu akan makan waktu beberapa jam lamanya. Akhirnya dia berhasil memu­lihkan kembali jalan darahnya dan ia bangkit duduk, bersila dan menghimpun tenaga karena mulai saat itu dia harus berlaku hati-hati dan tenaganya harus pulih untuk meghadapi segala kemungkin­an. Ktirang lebih sejam lamanya dia ber-siulian, tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Setelah tenaganya pulih dan batinnya tenang kembali, barulah Bun Beng menghentikan samadhinya dan membuka mata. Mula-mula yang ia da­pati adalah bahwa kamar itu agak gelap, remang-remang dan lembab. Kemudian setelah membiasakan matanya dalam cuaca yang remang-remang itu, ia bang­kit berdiri dan mulai menyelidiki kamar tahanan.

Sebuah kamar berdinding batu yang lebarnya tiga meter persegi, langit-langitnya juga batu, tingginya dari lan­tai ada empat meter. Tidak ada jendela­nya, hanya terdapat sebuah pintu dari mana dia dilempar masuk. Pintu ini kecil hanya cukup dimasuki satu orang, dan terbuat dari baja tebal yang masuk ke dalam dinding batu. Kokoh kuat pin­tu itu, tak mungkin dibongkar. Bun Beng menarik napas panjang karena sekali pan­dang saja dia maklum bahwa tidak mungkin lolos dari tempat ini mengguna­kan tenaga membongkar pintu atau men­jebol dinding. Harus mencari akal. Na­mun, andaikata dia dapat keluar, bagai­mana ia dapat lolos dari Thian-liong-pang? Lorong itu saja mempunyai tujuh buah pintu yang terjaga, belum lagi diingat bahwa kalau dapat keluar dari lo­rong bawah tanah, di atas sana masih ada tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang lihai, terutama sekali Ketuanya!

“Aku harus bersabar dan melihat per­kembangan selanjutnya,” akhirnya ia menghibur diri sendiri. Betapapun juga dia merasa yakin bahwa dia tidak akan dibunuh, ksrena selain Sai-cu Lo-mo mengaku sebagai kakeknya itu tidak su­ka melihat keturunannya terbunuh, juga Ketua Thian-liong-pang agaknya ingin se­kali mendapatkan ilmu silatnya, teruta­ma sekali Sam-po-cin-keng! Betapapun, dia masih memiliki ilmu sebagai “modal” untuk hidup! Dengan pikiran ini, hatinya menjadi lebih tenang dan Bun Beng lalu mencari tempat duduk di lantai yang enak. Akan tetapi, mana ada tempat du­duk yang enak? Lantai itu terbuat dari batu pula, kasar dan agak basah karena selalu ada air menitik turun dan di atas lantai tampak rangka-rangka manusia berserakan! Bun Beng mengerutkan ke­ningnya. Ada tujuh buah tengkorak ma­nusia di dalam kamar mereka itu. Siapa tahu mungkin lebih banyak lagi, tersem­bunyi di balik batu-batu berlumut. Dia tidak peduli, akan tetapi, rangka-rangka manusia di situ memperingatkannya bahwa kalau dia tidak mentaati perintah Ketua Thian-liong-pang dan tidak mau menjadi anggautanya, tanpa dibunuh pun dia akan mati di tempat ini, seperti rangka-rangka itu! Akan tetapi, mung­kinkah kakek muka singa yang telah bera­ni mati membelanya itu akan membiar­kan dia mati?

Tidak! Dia tidak boleh mati kela­paran di tempat ini. Dia harus ber­usaha untuk keluar dari neraka ini. Mulailah Bun Beng melakukan penyelidik­an. Mula-mula dia memeriksa pintu itu dan mencoba tenaganya. Namun segera mendapat kenyataan bahwa tidak mung­kin ia menjebol pintu yang amat kuat itu. Dia lalu memeriksa dinding batu. Dinding yang amat kokoh, batu bertum­puk dengan tanah yang keras. Kokoh ku­at tak mungkin dibongkar dengan ta­ngan kosong.

Siapa tahu, akan ada penjaga datang menyerahkan makanan, pikirnya. Kalau mereka, terutama kakek muka singa, ti­dak menghendaki dia mati, tentu mere­ka akan mengirim makanan dan minum­an. Dia merasa yakin bahwa dia tidak akan dibiarkan mati begitu saja sebelum dlbujuk. Maka ia menghentikan pemerik­saannya dan kembali duduk di sudut ka­mar itu, bersila dan bersamadhi. Ter­ingat ia akan semua pengalamannya di waktu kecil. Sudah berkali-kali, semen­jak terseret oleh pusaran maut air Su­rgai Huang-ho, dia terancam bahaya maut, bahkan terpaksa harus hidup di antara sekumpulan monyet, dibawa ter­bang burung raksasa dan jatuh terlepas ke atas laut, namun selalu dia tertolong! Kalau Thian menghendaki, sekali ini pun dia tentu akan selamat. Teringat akan kekuasaan Tuhan, Bun Beng menjadi te­nang. Manusia hidup tergantung dari ke­kuasaan Tuhan, mutlak dan seluruhnya! Tanpa kekuasaan Tuhan, manusia tak mungkin dapat hidup. Detik jantung yang memompa darah ke seluruh bagian tu­buh, pernapasan yang memberi makan darah, semua berjalan otomatis tanpa dikuasai manusia. Dalam tidur sekalipun, detik jantung dan pompa paru-paru te­tap bekerja, siapa yang mengerjakannya kalau bukan kekuasaan Tuhan?

Dalam keadaan sunyi gelap mengha­dapi ancaman maut ini, perasaan Bun Beng makin dekat dengan kekuasaan Tuhan. Teringatlah ia akan wejangan-wejangan gurunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, akan kekuasaan Tuhan dan betapa lemahnya manusia, betapa tidak ada artinya. Ingin ia tertawa karena geli hatinya kalau teringat akan wejang­an suhunya dahulu. Bagaimana pula yang dikatakan gurunya itu akan kelemahan manusia?

Orang yang merasa dirinya pandai dan berkuasa adalah sebodoh-bodoh orang, demikian antara lain gurunya pernah berkata. Manusia memiliki puluhan ribu rambut dan bulu di tubuhhya, namun mengatur pertumbuhan sehelai rambut atau bulunya saja dia tidak mampu! Jangankan mengatur pertumbuhan kuku, mengatur detik jantung, menentukan ma­ti hidupnya! Hanya oleh kehendak dan kekuasaan Tuhan sajalah manusia dapat hidup dan mati!

Pelajaran seperti ini memperkuat batin Bun Beng, memperbesar kepercayaannya kepada Tuhan sehingga dia tidak takut menghadapi ancaman bahaya maut, karena ia sudah merasa yakin sepenuh­nya, bahkan sudah berkali-kali menga­laminya dalam hidup, bahwa apa pun yang terjadi, baru dapat terjadi apabila Tuhan menghendaki. Katau Tuhan meng­hendaki dia mati, tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat menghin­darkannya dari kematian. Sebaliknya, apabila Tuhan menghendaki dia hidup, juga tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat membuat dia mati! Apalagi hanya kekuasaan manusia, biar dia sesakti Ketua Thian-liong-pang sekalipun. Teringat akan semua ini Bun Beng tertawa. Ingin dia bertanya kepada Ketua Thian-liong-pang yang sakti itu apakah dia mampu mengatur pertumbuhan ram­but-rambutnya, tidak usah semua, sehe­lai saja!

Betapapun juga, Tuhan takkan meno­long manusia yang tidak berusaha meno­long dirinya sendiri. Usaha atau iktiar merupakan kewajiban manusia yang se­kali-kali tidak boleh dihentikan selama dia hidup. Adapun akan jadinya, terse­rah kepada kekuasaan Tuhan, akan teta­pi dia harus berusaha menyelamatkan di­ri. Kalau Tuhan menghendaki dia mati akan matilah dia. Mati dibunuh Ketua Thian-liong-pang, atau mati kelaparan di situ, atau mati dalam usahanya me­nyelamatkan diri, semua itu hanya dija­dikan lantaran atau jalan, dipilih oleh Tuhan sebagai penyebab kematiannya.

Pikiran ini membuat Bun Beng men­jadi tenang sekali, sedikit pun dia tidak merasa khawatir karena hatinya telah bebas daripada keinginan hidup atau ma­ti, sudah ia serahkan seluruhnya kepada keputusan Thian. Ia hanya memutar otaknya mencari jalan keluar, bagaima­na harus menggunakan akal.

Setelah keadaan di dalam kamar tahan­an itu gelap pekat, tanda tentu di luar ada api penerangan yang dipadamkan, Bun Beng merebahkan dirinya, terlentang di atas lantai batu yang lembab dan ter­tidurlah dia karena hatinya tenang. Sinar yang membuat keadaan gelap pekat itu menjadi remang-remang membangunkannya. Ia menduga bahwa tentu malam telah terganti pagi karena cahaya yang kini sedikit menerangi kamar itu berbe­da dengan cahaya semalam, cahaya ma­tahari yang putih dengan cahaya lampu kemerahan.

Sebuah kepala nampak di balik jeruji baja di bagian atas pintu. Kepala Sai-cu Lo-mo! Kemudian, tangan kakek itu di­ulurkan di antara jeruji, membawa dua potong roti kering yang panjang dan se­guci air.

Bun Beng dapat menangkap getaran suara penuh haru dan harap dalam kata-kata kakek itu. Ia menahan kilas pikiran untuk menangkap kedua lengan kakek yang diulur masuk melalui jeruji besi. Apa gunanya? Dia tidak akan dapat me­maksa kakek ini, dan tidak dapat pula mencelakakannya. Ia menerima roti dan guci air.

“Terima kasih.” Tanpa berkata-kata lagi pemuda ini makan roti kering. Dua potong roti itu cukup baginya untuk me­ngenyangkan perutnya, kemudian ia mi­num air jernih yang menyegarkan tubuhnya. Selesai makan dan minum, Bun Beng yang melihat kakek itu masih berdiri di luar pintu dan sejak tadi memandangnya bertanya.

“Sampai berapa lama aku akan dita­han di sini? Apakah makanan dan mi­numan diberi racun perampas ingatan agar aku suka membuka rahasia ilmu si­lat untuk dipelajari Pangcumu?”

Sai-cu Lo-mo menggeleng kepalanya. “Tidak, Bun Beng. Engkau adalah cucu­ku, engkau dianggap sebagai orang sendi­ri, tidak perlu Pangcu mempelajari ilmu­mu yang kelak akan ditukar dengan il­mu yang lebih tinggi oleh Pangcu sendi­ri. Bun Beng, tidak tahukah engkau bah­wa kami bermaksud baik kepadamu? Engkau cucuku, hanya satu-satunya, maka engkau tidak akan dibunuh. Kalau engkau suka menjadi anggauta Thian-liong-pang, engkau malah akan mempero­leh kedudukan tinggi, sesuai dengan ke­pandaianmu.”

Bun Beng menggeleng kepala. Biar­pun dia harus berusaha meloloskan diri, akan tetapi tak pernah terpikir olehnya menukar keselamatannya dengan merendahkan diri menjadi anggauta Thian-liong-pang yang ia anggap amat jahat dan keji!

“Percuma saja engkau membujuk. Aku tidak akan suka menjadi angauta Thian-liong-pang, hanya untuk menyelamatkan nyawaku. Kalau aku berhasil keluar dari sini, aku tetap akan menentang Thian-liong-pang menculiki tokoh-tokoh kang-ouw.”

“Ahhh, engkau tidak tahu, Bun Beng. Pangcu adalah seorang yang bijak­sana, sama sekali bukan orang jahat. Bah­kan dia telah merobah Thian-liong-pang dari kesesatannya, kembali ke jalan benar. Kalau dia melakukan penculikan atas di­ri tokoh-tokoh kang-ouw itu sekali-kali bukan dengan niat mencelakakan mereka, melainkan hendak mempelajari dan me­nyaksikan jurus-jurus rahasia mereka yang telah diketahui Pangcu bagian teo­rinya saja. Kemudian mereka dibebaskan kembali. Pangcu adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat!”

“Hemmm, kalau memang sakti, mengapa masih ingin mencuri ilmu orang-orang lain?”

“Pangcu tidak akan menggunakan il­mu-ilmu itu, hanya ingin menghimpun, kemudian menciptakan ilmu baru untuk menandingi kehebatan To-cu Pulau Es.”

Bun Beng mengerutkan keningnya. “Justeru itulah yang aku tidak suka! Aku kagum dan suka kepada Pendekar Silu­man yang aku yakin adalah seorang yang selain sakti, juga amat bijaksana. Kalau Pangcumu memusuhi Pendekar Siluman, sudah pasti sekali aku berpihak kepada Majikan Pulau Es itu!”

Sai-cu Lo-mo kelihatan berduka. “Aihh, Bun Beng. Mengapa engkau me­nyusahkan hati seorang tua seperti aku? Apa perlunya engkau mencampuri sega­la urusan yang tiada sangkut-pautnya denganmu? Engkau menyerah dan taat­lah, dan aku bersumpah bahwa kelak engkau tidak akan menyesal. Akan kau lihat sendiri kebaikan Thian-liong-pang!”

“Maaf, aku tetap tidak mau menjadi anggauta Thian-liong-pang.”

“Bun Beng, engkau tidak akan dapat keluar dari sini. Jalan satu-satunya ada­lah mentaati Pangcu dan aku hanya di­perbolehkan membujukmu selama tiga hari. Kalau selama itu engkau belum menurut, engkau akan menjadi tahanan di sini selamanya! Dan engkau.... engkau akan mati dengan sia-sia....”

“Menyesal sekali. Aku lebih memilih bahaya mati daripada harus menuruti ke­hendak Pangcumu yang seperti iblis itu!”

Kakek itu menghela napas panjang, kemudian pergi dengan muka berduka. Selama tiga hari terus-menerus datang dan membujuk, namun tetap saja Bun Beng tidak mau menuruti bujukannya. Bahkan pemuda itu kini tekun dengan penyelidikannya. Dibongkarnya batu-batu di lantai di antara tulang-tulang rangka manusia dan ia menemukan sebuah ka­pak bergagang panjang. Tentu ini meru­pakan senjata dari seorang di antara mereka yang telah menjadi rangka itu. Kemudian ia memeriksa dinding, dinding di sebelah kanan pintu lebih berlumut dan dingin sekali. Kalau ia menempelkan telinganya di situ, mendengar bunyi air berkerosok. Hal ini menimbulkan du­gaan bahwa tentu dinding ini yang pa­ling tipis sehingga dia dapat mendengar bunyi air bergerak. Akan tetapi mengapa ada air di balik dinding ini?

Setelah hari ke tiga dan kakek muka singa menghabiskan bujukannya dengan sia-sia, kakek itu tidak muncul lagi. Se­tiap malam ada seorang penjaga melemparkan roti kering dan guci air ke da­lam kamar tahanan. Dan mulailah Bun Beng bekerja. Dengan kapak gagang pan­jang itu dimulai membongkar batu din­ding kanan sekuat tenaga. Dia bekerja setelah penjaga melemparkan makanan. Setelah menghabiskan roti dan air, mu­lailah dia menghantami dinding batu de­ngan kapaknya. Dia mempunyai waktu sehari semalam lamanya. Besok malam, barulah ada penjaga datang untuk mem­beri makanan dan minuman. Dia harus berhasil selama sehari semalam ini, ka­rena kalau tidak, tentu penjaga akan melihatnya dan dia akan ketahuan, yang berarti gagal!

Bun Beng bekerja dengan semangat menyala-nyala. Tak pernah sedetikpun ia beehenti dan dia tidak mempedulikan kedua telapak tangannya yang sudah le­cet-lecet dan otot-otot lengannya yang menggelepar-gelepar di dalam daging.

Ia terus menghantamkan kapaknya dan satu demi satu batu dinding dapat ia bongkar, batu itu keras sekali dan sema­lam suntuk dia hanya dapat membong­kar sedalam satu meter. Namun belum tampak tanda-tanda bahwa dinding itu telah menipis! Pada keesokan harinya Bun Beng masih terus bekerja, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi, seluruh pi­kiran, perhatian, dan tenaga dikerahkan untuk menghantami batu-batu dengan kapaknya. Dia tidak tahu berapa lama dia bekerja, hanya bahwa dia harus ber­lomba dengan waktu. Betapapun juga, hatinya mulai risau ketika dinding yang tadinya jelas itu mulai tampak suram tanda bahwa hari telah mulai sore dan sebentar lagi malam akan tiba dan ber­arti Si Penjaga akan datang mengantar roti dan air. Dia akan ketahuan dan akan gagal! Teringat akan ini, Bun Beng mem­perhebat ayunan kapaknya, menghantam dinding batu yang kini sudah ia gali se­dalam dua meter lebih, tingginya seukur­an tubuhnya. Batu-batu berserakan di dalam kamar itu, ia tendang-tendangi sehingga bertumpuk di kanan kiri dan belakangnya.

Malam tiba. Kegelapan cuaca kini diterangi seberkas cahaya kemerahan, sinar lampu penerangan seperti biasa. Tak lama lagi penjaga tentu muncul. Bun Beng menghentikan kapaknya yang menjadi panas karena terus menerus menghantam batu keras. Dia terduduk, terengah-engah dan menghapus peluh sambil mengasah otak. Bagaimana seka­rang? Dinding terkutuk itu tidak juga dapat ia tembus, agaknya setebal perut gunung! Dan Si Penjaga sebentar lagi datang! Akan terbuang sia-sialah usaha­nya yang mati-matian selama sehari se­malam! Tubuhnya penat sekali, perutnya lapar dan kerongkongannya kering, haus. Lapar dan haus! Teringat akan ini, Bun Beng meloncat bangun dan lari ke pintu, menempelkan tubuhnya ke pintu yang le­barnya hanya sebesar orang. Kedua le­ngannya ia keluarkan dari celah-celah jeruji baja, mukanya ia tempelkan pada jeruji dan matanya mengerling ke arah datangnya penjaga.

Ketika ia melihat penjaga datang membawa roti dan guci air, Bun Beng berteriak-teriak memaki, “Penjaga kepa­rat! Mengapa begitu lama? Aku sudah kelaparan dan hampir mati kehausan! Hayo cepat bawa roti dan air itu ke sini! Keparat jahanam engkau!”

Penjaga itu berhenti dan tertawa. “Ha-ha-ha, orang muda. Jangan kira aku tidak tahu akan akal bulusmu!”

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Bun Beng mendengar ini. Ia makin mera­pat pada jeruji pintu, menutupi seluruh celah jeruji uengan kedua lengan di ka­nan kiri mukanya. “Apa.... apa maksud­mu?”

Kembali penjaga itu tertawa dan ber­diri agak jauh sehingga Bun Beng tidak akan mampu menjangkau dengan tangan­nya. “Ha-ha-ha, apa kaukira aku bodoh? Engkau tentu ingin agar aku mendekat sehingga engkau dapat menangkapku dan membunuhku, bukan?”

Rasa lega menyelubungi hati Bun Beng. Ia membentak, “Memang aku ingin sekali mencekik lehermu dan mematahkan tulang punggungmu!”

“Jangan mimpi, aku lebih cerdik dari­mu. Begitu melihat engkau di pintu, aku sudah curiga karena biasanya engkau ti­dak mengacuhkan roti dan air yang kubawa untukmu. Tentu engkau hendak menggunakan akal, pikirku, maka aku ti­dak mau mendekat. Nah, nih, kau tangkap roti dan airmu. Ha-ha-ha!” Penjaga itu melemparkan roti dan guci air ke arah kedua tangan Bun Beng. Dengan sengaja Bun Beng bergerak lambat. Roti dapat ditangkapnya, akan tetapi guci air itu luput dan jatuh ke atas lantai di luar pintu, airnya tumpah.

“Jahanam, lekas ambilkan air untuk­ku. Aku haus sekali!” Bun Beng berte­riak-teriak akan tetapi penjaga itu ter­tawa.

“Rasakan kau!” katanya sambil ber­jalan pergi!

Bun Beng cepat mengambil kapak­nya dan lupa makan. Dia mulai lagi be­kerja, hatinya lega. Dia telah dapat memperpanjang waktu usahanya sehari se­malam lagi! Batu-batu itu mulai mudah dibongkar karena tanahnya lembek dan basah, bahkan kini ada air menetes-netes memasuki kamar. Dia menggali terus penuh semangat.

Pada keesokan harinya lewat pagi, air yang menetes makin banyak, bahkan kini jelas terdengar bunyi riak air. Bun Beng mengapak terus, tampak ada batu bergerak, kapaknya terayun ke arah ba­tu itu dan.... “krasak-krasak byuuuurrrr.”

Bun Beng cepat meloncat ke samping, melempar kapaknya dan mepet pada din­ding dekat lubang yang kini tiba-tiba pecah menjadi lebar terdorong oleh ma­suknya air seperti dituang. Bun Beng berdiri mepet dinding dengan muka pu­cat. Bahaya yang datang mengancamnya ini tidak kalah mengerikan. Memang be­nar dia telah berhasil membobol dinding, akan tetapi ternyata di belakang dinding itu adalah air yang entah berapa banyak­nya, yang kini membanjiri kamar tahan­an. Bun Beng tidak mau panik, dan otak otaknya bekerja cepat. Kalau dia menero­bos lubang itu, tidak mungkin dia kuat menghadapi tenaga air yang menerjang masuk, maka ia hanya mepet dinding de­kat lubang sambil mencengkeram dinding batu dengan kedua tangannya. Dia mak­lum bahwa kalau kamar itu telah penuh, air akan terus menerobos keluar melalui celah-celah jeruji pintu. Akan tetapi, mengingat bahwa lubang itu tidak begi­tu besar dan air yang menerobos tidak banyak, maka tekanan air dari luar lu­bang dinding tentu tidak begitu besar. Maka dengan kenekatan luar biasa, Bun Beng menanti sampai kamar itu penuh, air naik dengan cepatnya sampai ke le­her, dia memejamkan mata dan mengum­pulkan napas sepenuh paru-parunya sam­bil menanti.

Bun Beng memang cerdik. Kalau dia panik dan berusaha keluar dari lubang dinding selain air menerjang masuk, ten­tu dia akan terseret dan terbanting kem­bali sehingga membahayakan keselamatannya. Sebentar saja air menjadi penuh dan Bun Beng yang telah tenggelam di dalam air itu merasa betapa dorongan air dari lubang dinding yang jebol itu tidak begitu kuat lagi. Cepat ia melepaskan cengkeraman tangannya pada din­ding, berenang ke arah lubang dengan tangan meraba-raba karena ketika ia membuka matanya, dia tidak dapat melihat apa-apa, air itu keruh dan akhirnya ia dapat meraba dinding yang jebol. Ia merangkak, berpegangan pada pinggiran lubang, terus merayap keluar lubang itu. Ketika ia meluncur ke depan, tubuhnya terdorong ke atas dan tahulah dia bahwa dia berada di air yang dalam, entah te­laga, sungai atau laut! Tak mungkin la­utan, pikirnya, karena air tidak asin. Dia membiarkan dirinya meluncur ke atas, bahkan membantu dengan kaki ta­ngannya karena dia harus dapat tiba di permukaan air. Dadanya seperti akan meledak karena sudah terlalu lama dia menahan napas!

Betapa girang hati Bun Beng ketika akhirnya kepalanya tersembul di permukaan air. Ia membuka mulut dan menghi­sap napas banyak-banyak sampai dada­nya terasa nyeri. Ia terengah-engah, ber­ganti napas dan membuka kedua mata­nya. Kiranya ia telah tiba di permukaan sebuah sungai yang amat lebar, sungai yang selain lebar juga dalam, dan air­nya keruh. Demikian lebarnya sungai itu sehingga dari tempat ia muncul, yaitu di tengah-tengah, ia melihat kedua tepi­nya jauh sekali.

“Aduhh....!” Tiba-tiba secara otomatis Bun Beng mengerahkan sin-kang membu­at kakinya keras karena kakinya terasa digigit sesuatu dari bawah. Ia dapat menahan gigitan itu dengan sin-kangnya yang membuat kaki kirinya kebal, akan tetapi kini mahluk yang mengigitnya itu meronta dan hendak menyeretnya ke bawah.

Bun Beng menjadi marah. Cepat ia menarik kakinya dan tampaklah seekor ikan menggigit kakinya itu. Ikan yang besar sekali, sebantal besarnya.

“Ikan keparat!” Bun Beng membentak dan menendangkan kakinya. Ikan itu men­celat karena gigitannya terlepas dan ka­rena dia tidak dapat tahan lama di atas permukaan air. Akan tetapi kini Bun Beng melihat suara hiruk pikuk di kanan kirinya, air berguncang dan suaranya berkecipak, tampaklah kepala-kepala dan ekor-ekor banyak ikan besar mengurung­nya dan menyerangnya dari depan, kanan kiri dan belakang!

Bun Beng makin mendongkol. Dia mengenal ikan-ikan ini, semacam ikan lele yang tidak bersisik, kulitnya licin halus, kepalanya bulat mengkilap dan matanya seperti mata orang yang licik, gerakannya cepat sekali. Biasanya ikan macam ini merupakan bahan hidangan yang lezat, baik dipanggang maupun di­masak atau digoreng sekalipun. Biasanya melihat seekor ikan seperti ini di darat menimbulkan selera. Akan tetapi pada saat itu, agaknya selera ikan-ikan itulah yang timbul melihat tubuh Bun Beng! Dan ikan-ikan ini, berbeda dengan yang biasanya dilihat Bun Beng, amatlah be­sarnya. Belum pernah ia melihat ikan lele sedemikian besarnya, biasanya hanya sebesar betis. Mungkin bukan ikan-ikan lele, karena tidak mempunyai kumis!

Bun Beng tidak memusingkan ikan apa-apa yang mengeroyoknya dan dia mulai mengamuk. Dengan tangan kanan, ia memukul seekor ikan yang menyerang­nya dari depan sehingga tubuh ikan itu terlempar jauh di atas air, kemudian ka­ki tangannya bekerja memukul dan menendang ikan-ikan itu.

“Aupp....!” Karena lupa bahwa dia bu­kan sedang berada di darat, maka begitu dia main silat di air, tubuhnya tengge­lam dan dia gelagapan. Cepat ia menggerakkan kedua kakinya dan kini setelah tubuh atasnya timbul, ia hanya menggu­nakan kedua tangan saja untuk memukul dan mendorong ikan-ikan itu, sedangkan kedua kakinya dia pergunakan untuk men­ahan tubuhnya agar tidak tenggelam.

Bun Beng adalah seorang yang telah memiliki tingkat kepandaian tinggi, dan kalau hanya dikeroyok oleh ikan-ikan se­perti itu saja, agaknya dia akan dapat mengalahkan para pengeroyoknya dengan mudah. Akan tetapi itu kalau di darat. Kalau di air, dialah yang repot sekali. Kepandaiannya berenang di air amat terbatas, bukan termasuk ahli, tentu saja dibandingkan dengan ikan-ikan yang me­mang hidupnya di air dia kalah jauh dan sebentar saja Bun Beng menjadi gelagap­an dan sudah beberapa kali tubuhnya terkena gigitan ikan-ikan kelaparan itu.

Celaka, keluhnya. Baru saja terbebas dari kamar neraka, dia sudah diancam bahaya air, dan baru saja dia terbebas dari ancaman itu, kini dia kembali menghadapi maut di mulut ikan lele! Benar-benar menyebalkan bahaya yang sekali ini mengancamnya. Betapa tidak menyebalkan kalau dia harus mati di mulut ikan-ikan lele! Padahal, semestinya ikan-ikan lele itulah yang mati di mulut manusia. Betapa memalukan, se­orang pendekar mati dikeroyok ikan lele! Tidak, dia tidak mau mati begitu re­meh! Bun Beng melawan sedapatnya sambil berusaha berenang ke tepi sungai itu.

Tiba-tiba terdengar lengking nyaring disusul suara berkelepaknya sayap. Bun Beng mendengar ini, akan tetapi dia ti­dak dapat mengalihkan perhatiannya terhadap pengeroyokan ikan-ikan itu. Sekali ia memutar tubuh menghantam seekor ikan dengan tangan kanannya, membuat ikan itu terlempar dalam keadaan mati karena kepalanya pecah.

Tiba-tiba saja, seperti munculnya ta­di, ikan-ikan itu menyelam dan lenyap, kecuali beberapa ekor yang telah menjadi bangkai. Dan sebelum Bun Beng sem­pat sadar akan datangnva bahaya lain, tahu-tahu pundaknya terasa nyeri dan tubuhnya melayang ke atas!

Bun Beng terkejut sekali. Tubuhnya melayang tinggi dan di atas terdengar kelepak sayap burung! Ia memandang ke atas dan tepat seperti yang ia duga dan khawatirkan, pundaknya telah dicengke­ram oleh kaki seekor burung rajawali yang besar dan ia dibawa terbang ting­gi sekali!

“Sialan!” Bun Beng menyumpahi diri­nya. Terlepas dari mulut ikan lele, kini masuk ke dalam cengkeraman rajawali raksasa yang buas! Mengapa dirinya se­lalu ditimpa kemalangan dan diancam bahaya maut yang mengerikan? Teringat ia akan pengalamannya dahulu ketika ia diterbangkan seekor burung dan dia bersembunyi di dalam keranjang. Dia memandang penuh perhatian dan keningnya berkerut. Celaka! Burungnya yang itu, itu juga! Burung rajawali milik Pulau Neraka! Tak salah lagi, dia mengenal modelnya. Wah, wah, kalau burungnya ada, tentu pemiliknya ada. Bocah laki-laki menjemukan itu, bocah iblis yang keji dan sadis! Sekarang tentu sudah menjadi seorang pemuda, dan tentu lebih kejam daripada dahulu.

Hampir saja Bun Beng memukul kalau saja dia tidak ingat bahwa dia bukan di atas tanah. Ia melirik ke bawah dan menjadi ngeri. Burung itu terbang ting­gi sekali sehingga sungai yang besar itu kini tampak jelas seperti seekor naga jauh di bawah. Dan burung itu tidak lagi berada di atas sungai. Kalau dia memukul dan terlepas dari cengkeram­an, tentu dia akan jatuh terbanting ke atas tanah dan remuk semua tulangnya! Maka ia lalu meraih ke atas dan tangan­nya memegang kaki burung erat-erat sambil melepaskan cengkeraman kaki burung yang masih mencengkeram pun­daknya. Kini dialah yang memegang ka­ki burung, tidak berani melepaskan karena hal itu akan berarti kematian yang mengerikan baginya.

Tiba-tiba ia melihat seekor burung lain, juga amat besar, terbang cepat datang dari jauh. Sudah terdengar suara pekik burung itu melengking keras. Ce­laka, pikirnya, tak salah lagi tentulah bocah setan itu yang datang menung­gang burungnya. Masih terlalu jauh un­tuk dapat dilihat apakah burung yang terbang datang itu ada penunggangnya atau tidak. Dia memutar otaknya, men­cari akal apa yang harus dilakukannya kalau sampai pemuda setan itu betul-betul datang. Kalau saja dia bisa naik ke atas punggung burung ini, dia akan mendapat kesempatan untuk menghadapi lawan. Sama-sama menunggang burung, barulah ramai dan sebanding kalau bertempur. Kalau dia bergantung pada kaki burung, tentu saja dia tidak dapat melakukan perlawanan dengan baik, paling-paling dia hanya bisa melindungi tubuhnya dengan sebelah tangan yang sebelah lagi harus ia pergunakan untuk bergantungan pada kaki burung.

Tiba-tiba burung yang membawanya itu pun melengking keras, lengking tan­da kemarahan dan ketika burung yang terbang datang itu sudah tampak dekat, hati Bun Beng agak lega karena tidak tampak ada penunggangnya. Akan tetapi, kelegaan hatinya itu menjadi berubah seketika ketika kedua ekor burung itu sudah saling serang dengan hebatnya. Kini tampak jelas oleh Bun Beng bahwa burung yang baru datang adalah seekor burung garuda putih. Dia mengenal bu­rung itu. Burung tunggangan Pendekar Siluman. Burung garuda dari Pulau Es! Tentu saja dua ekor burung yang menjadi musuh lama itu kini saling terjang mati-matian, saling cakar, saling patuk, saling kabruk sambil mengeluarkan sua­ra melengking menulikan telinga.

Bun Beng yang celaka dalam perta­rungan antar dua ekor burung raksasa itu. Betapa tidak? Tubuhnya tergantung di kaki burung rajawali dan di dalam pertandingan itu, kedua ekor burung sa­ling terjang sehingga tubuh Bun Beng terbawa, terguncang, bahkan dia menjadi korban terkaman burung garuda yang tentu saja tidak dapat membedakan dia dari kaki burung lawan.

Bun Beng yang masih bergantung pa­da kaki rajawali menjadi serba salah. Mau membantu garuda putih dengan me­mukul tubuh rajawali, berarti dia seper­ti memukul diri sendiri. Kalau rajawali itu jatuh, bukankah berarti dia sendiri pun jatuh jatuh ke bawah? Mau memban­tu burung rajawali, dapat ia lakukan dengan jalan memukul garuda putih di waktu dua ekor burung itu saling kabruk, hatinya tidak mengijinkan karena dalam pertandingan antara kedua ekor burung itu otomatis dia berpihak kepada garuda putih yang menjadi peliharaan Pendekar Siluman yang ia kagumi. Membantu raja­wali salah, membantu garuda pun tidak mungkin. Diam saja juga tidak baik ka­rena dialah yang palnng payah dalam pertadingan angkasa itu.

Bun Beng benar-benar merasa tersiksa sekali, tersiksa lahir batin. Tubuhnya menjadi bulan-bulanan, montang-manting terdorong ke sana sini, kena patuk, kena cakar sehingga ia luka-luka dan tubuh­nya terasa sakit-sakit, pakaiannya banyak yang terkoyak. Ini benar-benar menyiksa hatinya. Dalam pertadingan biasa, biar­pun melawan musuh yang jauh lebih pan­dai, sedikitnya dia bisa melawan, balas menyerang, atau kalau sudah merasa kalah, dapat melarikan diri. Akan teta­pi sekarang ini sama sekali dia tidak berdaya. Membalas tidak bisa, melin­dungi tubuh sendiri pun tidak sempurna, melarikan diri pun.... mana mungkin? Habislah ikhtiar sebagai manusia dan dalam keadaan seperti itu, tidak lain jalan lagi kecuali menyerahkan nasib ke tangan Tuhan! Dia hanya dapat menggunakan sebelah tangan untuk menangkis setiap ada bahaya patukan, cengkeraman atau kabrukan sayap yang mempunyai tenaga kwintalan!

Dalam pertandingan angkasa yang ramai itu, Si rajawali raksasa akhirnya terdesak hebat. Banyak bulu sayapnya membodol dan kepalanya berdarah. Hal ini tidak mengherankan. Dalam keadaan biasa saja, garuda putih dari Pulau Es yang terlatih itu merupakan lawan be­rat baginya, apalagi sekarang sebelah kakinya diganduli orang, tentu saja hal ini membuat gerakannya kurang leluasa sehingga dia lebih banyak menerima pa­tukan dan cengkeraman. Karena itu, sambil mengeluarkan suara melengking bingung, seperti seekor ayam dikejar-kejar anak kecil, rajawali raksasa itu mulai menggerak-gerakkan kakinya yang diganduli Bun Beng, berusaha melepas­kan orang yang menjadi pengganggu ge­rakannya. Bun Beng maklum akan niat rajawali itu dan tentu saja dia tidak su­di disuruh turun begitu saja. Terlepas berarti melayang turun dari tempat yang tingginya ribuan kaki! Maka ia malah menggunakan tenaganya untuk memegang kaki rajawali itu sekuat mungkin se­hingga biarpun rajawali itu berusaha un­tuk menendangkan kakinya tubuh Bun Beng tetap saja tidak terlepas dari kaki­nya.

Namun, kini keadaan Bun Beng ma­kin payah. Kalau tadinya dia hanya menjaga diri dari serangan garuda putih yang sebetulnya menyerang Si rajawali dan tanpa disengaja menyerang Bun Beng pula, setelah rajawali itu kini berusaha melepaskannya, Bun Beng harus mengha­dapi dua serangan, yaitu dari garuda yang masih menyerang secara ngawur sehing­ga dirinya ikut diserang, dan dari raja­wali yang hendak menendang dirinya supaya terlepas.

Tubuh Bun Beng terayun-ayun dan beberapa kali hampir saja pegangannya terlepas. Betapapun juga, dia tidak bera­ni memegang kaki rajawali itu dengan dua tangannya, karena tangan yang kanan ia perlukan untuk menjaga diri, me­nangkis terjangan garuda. Kepalanya menjadi pening dan tangan kirinya tera­sa penat sekali. Kalau sudah tidak kuat, dia mengganti tangan kiri dengan tangan kanan yang menggandul, sedangkan ta­ngan kirinya yang penat itu ia perguna­kan untuk melindungi tubuhnya dari ter­jangan garuda putih.

Ketika burung garuda menyambar lagi, kini dari bawah, agaknya garuda yang cerdik itu melihat betapa lawannya sibuk dengan kakinya, paruh dan cakar garuda yang menerjang perut raja­wali itu otomatis mengabruk pula tubuh Bun Beng yang tergantung.

“Celaka....!” Pemuda itu berseru ke­ras dan betapapun ia hendak memperta­hankan, tak mungkin ia menangkis se­rangan garuda sehebat itu hanya dengan tangan yang sudah penat. Gerakan me­nyelamatkan dirinya secara otomatis membuat ia menggunakan pula tangan kanan, lupa bahwa tangan kanannya tak boleh dilepaskan dari kaki rajawali. Be­gitu ia menggerakkan tangan kanan me­lepaskan kaki rajawali, tentu saja tubuh­nya terlepas dan melayang ke bawah.

“Mampus aku sekarang....!” Ia mengo­mel karena jengkel akan kebodohannya sendiri, akan tetapi ia segera teringat dan disambungnya tenang, “....kalau Tuhan menghendaki....!”

Akan tetapi betapa mungkin ia akan dapat menyelamatkan diri dengan tubuh meluncur ke bawah sedemikian cepatnya, menuju ke arah tanah di bawah yang berbatu? Betapapun lihainya, tidak mungkin ia dapat menguasai tubuhnya yang meluncur turun cepat sekali, seperti ba­tu disambitkan.

Bukan main herannya rasa hati Bun Beng. Di saat kematian berada di depan mata ini seperti dalam mimpi ia meli­hat wajah yang berubah-ubah. Pertama wajah Milana, kemudian berubah menja­di wajah Kwi Hong, dan berubah lagi menjadi wajah Ang Siok Bi puteri Ketua Bu-tong-pai. Gila, ia menyumpah. Menga­pa dalam menghadapi maut yang agak­nya sekali ini tidak mungkin dapat ia elakkan lagi, pikirannya jadi kacau-balau dan ia teringat akan gadis-gadis itu? Ini­kah yang disebut watak mata keranjang seorang pria? Ayahnya memperkosa ibu­nya! Ayahnya dan ibunya saling bunuh! Anak haram, kata Ketua Thian-liong-pang. Anak seorang datuk kaum sesat, seringkali ia mendengarnya. Dan dia ma­sih cucu keponakan seorang tokoh Thian-liong-pang yang mukanya seperti singa. Orang macam apakah dia? Mati pun ti­dak ada yang kehilangan. Pikiran ini membuat dia makin tenang, karena ia berpendapat bahwa orang seperti dia ini kalau terus hidup pun hanya akan mengalami kesengsaraan dan penghina­an, mengalami tekanan batin dan tidak dihargai orang. Satu-satunya orang yang paling baik terhadapnya adalah suhunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio. Akan tetapi suhunya itu telah dibunuh secara mengerikan oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun koksu (guru negara) yang tinggi kurus itu bersama pembantu-pembantu­nya. Tidak, dia tidak boleh mati! Biar­pun kalau hidup ia mengalami kesengsa­raan batin, akan tetapi dia harus hidup untuk menuntut balas atas kematian Siauw Lam Hwesio yang demikian me­nyedihkan! Dan dia masih meninggalkan sepasang pedang pusaka yang belum diam­bilnya. Sayang kalau pedang itu tersia-sia hilang di tempat rahasia itu. Kini timbul keinginan hatinya untuk menye­rahkan pedang itu kepada Pendekar Silu­man, satu-satunya orang yang dikagumi­nya di antara seluruh tokoh sakti di du­nia ini.

“Aku tidak mau mati dulu!” Bun Beng berteriak diluar kesadarannya dan tiba-tiba ia melihat seekor burung raksasa lain di bawahnya. Celaka, apakah ia dikejar dua ekor burung tadi? Ah, tidak, burung ini berada di bawahnya, bergerak-gerak terbang menyongsongnya, tentu akan menyerangnya pula. Dalam keadaan melayang dan meluncur turun ini, se­dangkan menjaga jatuhnya saja dia tidak mampu, bagaimana ia akan dapat mem­pertahankan diri kalau burung raksasa ini menyerangnya? Ah, dia akan tertolong kalau dapat menangkap burung itu. Asal dapat menangkapnya, entah merangkul lehernya atau merangkul kakinya, pen­deknya dia harus dapat mengunakan bu­rung itu sebagai penyelamatnya dari ke­jatuhan yang tak dapat disangsikan lagi akan kehancuran tubuhnya. Kalau tadi timbul kengerian karena takut diserang burung baru ini, sekarang dia malah mengharap agar burung itu benar-benar menyerangnya. Karena kalau dia yang harus menuju ke burung itu, tentu saja tidak mungkin. Tanpa sayap mana mung­kin dia bisa mengatur meluncurnya itu?

Makin dekat.... dan Bun Beng kembali menyumpah, “Dasar awak sialan!” Yang disangkanya burung raksasa itu ternyata hanyalah sebuah layangan besar sekali. Memang bentuknya seperti burung, bah­kan dilukis seperti burung, akan tetapi tetap saja benda itu hanya sebuah layang-layang yang biasa menjadi permainan seorang kanak-kanak! Apa artinya sebu­ah layang-layang baginya dalam keadaan terancam bahaya maut seperti itu? Se­akan-akan malah mengejeknya, bergerak-gerak ke kanan kiri dipermainkan angin.

Melihat betapa layang-layang itu berge­rak-gerak seperti seekor burung yang menari-nari mengejeknya, timbul rasa panas di hati Bun Beng. Memang dia terancam bahaya maut, akan tetapi se­dikit pun dia tidak takut. Mengapa harus diejek? Karena dia tidak berdaya membalas, kalau dia dapat tentu akan ditang­kapnya layang-layang itu dan dicabik-cabiknya, maka Bun Beng hanya meme­jamkan matanya dan membiarkan tubuh­nya meluncur terus ke bawah.

Teringat ia ketika dahulu ia jatuh pula dari kaki burung rajawali terbang dan berada di dalam keranjang, akan te­tapi di bawahnya adalah laut luas sehing­ga dia terjatuh dengan empuk. Hanya satu perbedaannya, kalau dahulu di wak­tu dia masih kecil dia menjadi pingsan ketika meluncur turun, kini dia dapat mempertahankan diri dan tidak menjadi pingsan. Hal ini karena sin-kangnya su­dah bertambah jauh lebih kuat, maka ia merasa dadanya sesak dan sukar berna­pas namun ia masih dapat menahannya dan masih dalam keadaan sadar sepenuh­nya, merasakan betapa tubuhnya mela­yang turun dengan kecepatan yang me­ngerikan.

Tiba-tiba ia merasa kakinya nyeri dan luncuran tubuhnya tertahan, bahkan kini tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah. Ketika ia membuka mata, ia melihat bahwa kedua kakinya terlibat oleh sehelai tali yang cukup besar, sebe­sar kelingking. Tubuhnya yang bergan­tung itu bergoyang ke kanan kiri, akan tetapi tidak melucur ke bawah lagi. Ia melihat ke atas, di atas kepalanya, tidak begitu tinggi, hanya sejauh lima enam meter, tampak layang-layang rak­sasa tadi bergerak-gerak.

“Setan! Iblis! Siluman angkasa laknat! Engkau mengacau layang-layangku, si ke­parat!” Tiba-tiba Bun Beng mendengar suara makian dari atas dan dengan ma­ta terbelalak ia melihat bahwa di ba­wah layang-layang itu tampak seorang kakek berdiri di tali-temali layang-layang, seorang kakek yang bertubuh pen­dek, berjenggot panjang dengan rambut terurai lepas, melambai tertiup angin. Yang membuat ia terkejut adalah wajah­nya berwarna kekuningan mendekati pu­tih, hanya karena jenggot dan rambut­nya sudah berwarna putih perak maka wajahnya tampak menguning! Seorang tokoh Pulau Neraka! Tidak salah lagi. Orang dari mana lagi kalau bukan dari Pulau Neraka yang memiliki kulit kuning seperti dicat itu?

Timbul harapannya di hati Bun Beng. Kalau kakek itu dapat hidup di tali la­yang-layang, tentu ia pun dapat. Harap­an untuk hidup membuat Bun Beng sadar dan cepat-cepat ia menggunakan kedua tangannya memegang tali layang-layang dengan erat, kemudian melepaskan kaki­nya dari belitan dan membalikkan tubuh sehingga kini dia bergantung pada tali layang-layang itu, kedua tangannya me­megang erat dan kedua kakinya ia libat­kan. Gerakan-gerakannya ini membuat layang-layang itu makin kacau gerakan­nya, bergoyang ke kanan kiri, kadang-kadang menukik turun dengan kecepatan mengerikan dan mengeluarkan bunyi angin bercuitan.

“Setan! Bodoh! Kiranya engkau hanya seorang pemuda tolol. Dari mana kau datang mengacau layang-layangku, heh? Lekas.... wah celaka, pindahkan berat tu­buhmu ke kanan, injakkan kakimu pada tali dan enjot tubuhmu ke atas. Wah-wah.... celaka, bisa terus layang-layang ini. Sialan, kau merampas kegembiraan­ku!”

Tidak usah dimaki dan diperingatkan pun, Bun Beng sudah maklum betapa ba­hayanya “menunggang” layang-layang de­ngan bergantungan pada talinya. Ketika layang-layang itu menukik turun, dia menjadi ngeri sekali. Mengertilah dia bahwa kakek Pulau Neraka yang aneh itu tadi “mengemudikan” layang-layang secara aneh dan biarpun di dalam hati­nya dia tidak suka kepada tokoh Pulau Neraka yang dianggapnya jahat, namun mendengar perintah itu, otomatis dia mentaatinya. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada kawan atau lawan, yang ada hanyalah orang senasib sependeritaan, kalau gagal sama-sama mati kalau ber­hasil sama-sama selamat. Dia mengerah­kan tenaganya ke kanan menginjak tali layang-layang dan mengenjot tubuh ke atas. Benar saja, layang-layang yang ke­hilangan gandulan dan bobot di bawah itu segera menghentikan gerakan menu­kik ke bawah, kepalanya kgmbali ke atas dan kini layang-layang itu menjadi “odek” (bergoyang-goyang ke kanan kiri cepat sekali) membuat tubuh Bun Beng terbawa goyang-goyang membuat kepala­nya pening karena tubuhnya seperti diko­cok ke kanan kiri.

“Setan udara! Apakah engkau sudah bosan hidup? Jangan pegang erat-erat, layang-layang menjadi odek tidak karu­an, sialan!”

Biarpun dimaki-maki, Bun Beng yang maklum bahwa keselamatan mereka ber­dua tergantung dengan keahlian kakek itu, tidak menjadi marah dan bertanya.

“Habis bagaimana, Kakek yang baik?”

“Wah-wah, kau mulai menjilat-jilat, ya? Heiii, bukankah aku pernah melihat tampangmu?”

Bun Beng menjadi bengong. Setelah kini layang-layang itu tidak menukik ke bawah, dia mendapat kesempatan untuk memandang wajah kakek itu penuh perhatian dan.... teringatlah ia bersama Mi­lana ditolong oleh kakek muka kuning yang aneh. Kiranya inilah orangnya! Tak salah lagi. Biarpun kini kelihatan lebih tua dan memakai sepatu pula, tidak ber­telanjang kaki macam dulu, namun sikap aneh kakek itu malah bertambah dan si­kap inilah yang mengingatkan dia. Akan tetapi dia pun teringat betapa dalam pertemuan-pertemuan pertama itu dia telah mengakali kakek ini untuk dapat melarikan diri bersama Milana, maka ia menganggap bahwa tidaklah cerdik untuk mengakuinya.

“Aku tidak pernah berjumpa dengan Locianpwe.”

“Ahhh, bohong! Aku pernah melihat mukamu, hemm.... kalau saja engkau su­dah tua dan kepalamu botak.... heiii, kau mau ke mana?”

Bun Beng tidak mau melayani kakek gila itu lebih lama lagi. Dia melihat ke bawah dan maklum bahwa kalau dia me­rosot turun melalui tali layang-layang itu, dia akan dapat sampai ke bumi dan dapat membebaskan diri. Maka kini dia mulai melorot turun sambil berkata, “Locianpwe, aku mau turun, tidak kera­san di sini!”

“Eh, eh, enak saja! Mana bisa?” Ka­kek itu tertawa bergelak dan tiba-tiba layang-layang itu menukik ke kiri, kemu­dian membuat gerakan melingkar sehing­ga tali itu pun menggantung dan ikut pula berputar.

“Wuuuttt!”

“Aihhh....!” Bun Beng cepat mengelak dengan memindahkan tangan, bergantung pada tali agar jangan sampai terkena pa­tukan layang-layang yang menyambar ke arah tubuhnya! Serangan aneh layang-layang itu luput, akan tetapi Bun Beng maklum bahwa dengan kepandaiannya yang dahsyat, tentu kakek itu akhirnya akan dapat memaksa ia meloncat turun dan akan hancurlah tubuhnya. Ia lalu menggerak-gerakkan tubuhnya, menarik-narik tali layang-layang itu sehingga kembali layang-layang itu menjadi kacau balau gerakannya.­

“Eh.... Ohh.... setan cilik! Jangan kacau layanganku!” Kakek itu terkejut dan memaki-maki.

Bun Beng tersenyum. “Kalau Locian­pwe tetap menyerangku, aku pun akan tetap menarik-narik tali layangan sam­pai putus, biar kita berdua mampus!”

“Eh, jangan, eh.... nanti dulu. Kalau talinya putus, aku bagaimana?”

“Masa bodoh. Aku akan jatuh dan mati seketika, tidak menderita. Akan te­tapi Locianpwe akan terbawa terbang layang-layang putus, mungkin dibawa ke neraka!”

“Hahh-ho kalau neraka memang tem­patku. Akan tetapi jangan.... biarlah kita berjanji, aku tidak akan menyerangmu akan tetapi kau jangan menarik-narik talinya.”

“Aku berjanji tak akan menarik-narik talinya, akan tetapi Locianpwe jangan menghalangi aku turun.”

“Wah, perjanjian kentut! Mana bisa begitu? Aku tidak menyerangmu dan kau tidak menarik-narik tali, itu sudah satu lawan satu. Kalau ditambah lagi kau kubiarkan turun berarti kau minta dua memberi satu. Mana adil?”

“Kalau aku tidak boleh turun, apa ar­tinya perjanjian ini? Locianpwe mau me­nang sendiri saja. Aku hendak turun, Lo­cianpwe menghalang, maka aku menarik tali. Kalau Locianpwe tidak melayani aku turun, aku tidak akan menarik tali­nya, itu baru adil namanya.”

“Wah, monyet cilik. Engkau benar pokrol bambu kering busuk! Ha-ha-ha, nah, kau turunlah, hendak kulihat bagai­mana!” Tiba-tiba angin bertiup keras sekali membuat layang-layang itu terbang miring ke kiri.

“Wuuuutttt....!”

“Aihhh, celaka. Jangan erat-erat me­megang talinya, longgar-longgar saja, kau mengganggu kendaliku!” Kakek itu memindahkan berat tubuhnya dan melon­cat ke pinggir kanan layang-layang itu.

“Siuuuttt....!” Kini layang-layang mi­ring ke kanan dengan cepatnya sehing­ga tubuh Bun Beng terbawa melayang ke kiri kemudian ke kanan, membuat ke­palanya pening dan jantungnya berdebar penuh kengerian.

“Aku mau turun, Locianpwe. Akan tetapi Locianpwe harus bersumpah tidak akan menyerangku!” Di dalam hatinya, pemuda ini masih curiga kepada kakek yang ia tahu amat cerdik dan curang itu.

“Apa? Bersumpah?” Kakek itu terta­wa-tawa dan kini layang-layang kemba­li telah lurus dan tenang. “Boleh saja. Sudah sepuluh kali aku bersumpah dan lima puluh kali melanggarnya, kini di­tambah satu kali sumpah untuk dilang­gar lima kali, tidak mengapalah!”

“Wah, sumpah seperti itu apa harga­nya?” Bun Beng mendongkol sekali dan maklum bahwa sumpah kakek ini tidak boleh dipercaya. Diam-diam ia merasa geli juga. Kakek ini curang ataukah ju­jur? Mengapa kebiasaan melanggar sum­pah dia katakan secara terus terang ma­cam itu? Tidak curang tidak jujur, me­lainkan gila agaknya!

“Kalau begitu, biar kutarik putus ta­li ini!” katanya dan mulai menarik-narik lagi.

“Eit-eit-eiitt....! Jangan! Biarlah, tan­pa sumpah-sumpahan. Kau boleh turun tanpa kuhalangi, akan tetapi kau harus memberitahukan namamu.”

Bun Beng berpikir. Kabarnya ayahnya seorang datuk kaum sesat. Orang-orang Pulau Neraka tentulah bukan golongan bersih, maka apa salahnya kalau dia mengaku? Sesama kaum tentulah tidak ada pertentangan.

“Baiklah, Locianpwe. Aku bernama Gak Bun Beng....”

“Astaga! Engkau bocah yang dulu ku­cari-cari? Bocah yang ditinggalkan Ibumu di kuil tua di lembah Sungai Fen-ho? Ha-ha-ha, engkau putera Gak Liat Si Botak! Pantas saja aku seperti per­nah melihat macammu, kiranya anak Si Gak Liat, Si Setan Botak. Ha-ha-ha-heh-heh-heh!” Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal, tangan kanan memegangi tali layang-layang, tangan kiri menekan-nekan perutnya.

Mengkal sekali rasa hati Bun Beng menyaksikan lagak kakek itu. “Kakek gila, engkau terlalu menghina orang! Si­apa sih engkau yang begini sombong? Dan apa hubunganmu dengan Ayah Bun­daku?”

“Ha-ha-heh-heh-heh!” Kakek itu ma­sih terpingkal-pingkal bahkan saking geli hatinya, air matanya bercucuran di atas pipinya yang kuning. “Namaku Ngo Bouw Ek, di dunia kang-ouw aku dijuluki Kwi-bun Lo-mo akan tetapi aku baru bebera­pa tahun merantau. Dalam perantauanku yang pertama, kebetulan sekali aku ber­temu dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat Ayahmu, kami bertanding dan aku mem­buat dia payah sampai terkencing-ken­cing! Ha-ha, dia datuk kaum sesat, mengaku kalah dan dia mengangkat aku sebagai kakak angkat! Lalu dia menceritakan bahwa yang membuat dia sering kali tak dapat tidur adalah perbuatan­nya atas diri Bhok Kim murid Siauw-lim-pai. Dia mendengar kabar bahwa wanita itu melahirkan seorang putera sebagai akibat perbuatannya yang memperkosa wanita itu. Dia berpesan agar aku kelak mengambil anaknya itu sebagai anak angkat. Ha-ha-ha, biarpun hasil perkosa­an, namun Gak Liat amat sayang kepa­da anaknya karena memang dia tidak pernah punya keturunan. Demikianlah, ketika mendengar berita dia tewas ber­sama Ibumu, aku lalu menyuruh anak bu­ahku untuk merampasmu, akan tetapi....”

“Anak buahmu keok semua oleh Pen­dekar Siluman! Sudahlah, aku tidak per­lu mendengar lebih lanjut. Eh, apakah Locianpwe ini Majikan Pulau Neraka?”

Kakek itu mengangguk. “Aku memang Ketua Pulau Neraka.... eh, maksudku, be­kas ketua.”

Bun Beng tidak ingin tahu lebih ba­nyak tentang pulau itu, maka ia lalu melorot terus sambil berkata, “Sudahlah. Aku sudah mengaku namaku, sekarang aku akan turun.”

“Wah, mana bisa? Kalau kau turun kemudian kau memutuskan tali layang-layang dari bawah, bukankah aku yang cia-lat?”

Bun Beng berhenti dan memandang ke atas, alisnya terangkat. “Apakah Lo­cianpwe tidak percaya kepadaku? Aku bukanlah orang yang curang seperti Lo­cianpwe!”

“Heh-heh-heh, siapa tahu? Engkau anak Setan Botak dan dalam hal kelicik­an, kecurangan dan segala macam sifat busuk ini, di dunia tidak ada yang me­nyamai dia, siapa tahu sifat liciknya menurun kepadamu. Tunggu, aku pun akan turun!”

Bun Beng tidak peduli dan melanjut­kan usahanya merosot turun melalui tali layang-layang, akan tetapi tiba-tiba ka­kek itu berteriak.

“Wah, celaka tiga belas! Taufan da­tang....!”

Teriakan itu dikeluarkan dengan su­ara keras dan penuh rasa kaget, membuat Bun Beng menengok. Dari jauh tam­pak awan hitam datang cepat sekali dan tak lama kemudian, layang-layang itu meliuk ke kiri dengan kekuatan yang he­bat.

“Lekas kita turun, Locianpwe!”

“Tidak bisa, terlambat! Lekas kau na­ik ke sini kalau mau selamat!”

Bun Beng tidak mau menurut dan hendak merosot terus, akan tetapi tiba-tiba tali layang-layang itu menegang dan bergetar hebat sehingga hampir sa­ja ia tidak kuat bertahan memeganginya karena telapak tangannya terasa nyeri bukan main. Maklumlah ia bahwa kakek itu tidak membohong, maka kini dia mu­lai merayap naik melalui tali layang-layang.

“Cepat pegang tanganku!” Kakek itu berkata, napasnya agak terengah karena dia yang kini mengulurkan tangan untuk membantu Bun Beng naik, harus mengendalikan layang-layang yang menjadi liar itu dengan sebelah tangan saja. Bun Beng memegang tangan itu dan dia ditarik naik.

“Berdiri di sini, dan pegang tali-te­mali di atasmu dengan tangan, hati-hati jangan banyak bergerak dan jangan terla­lu erat. Turut dan contoh saja aku!” Kakek itu tidak dapat bicara banyak ka­rena kini angin taufan telah mengamuk hebat, membuat layang-layang itu men­jadi seperti seekor kuda binal dan tidak dapat dikendalikan lagi. Layang-layang itu kadang-kadang naik makin tinggi, tinggi sekali sampai melengkung seperti akan membalik dari arah angin, kemudi­an terdorong kembali ke belakang dan talinya menegang, meliuk ke kiri sampai seperti tak pernah berakhir, kemudian terdorong ke kanan dan ada kalanya me­nukik ke bawah secara mengerikan kare­na kecepatannya luar biasa. Suara angin bercuitan menulikan telinga, dan tali layang-layang itu juga mengeluarkan bu­nyi berdering-dering seperti sehelai tali yang-kim ditabuh, suaranya kadang-ka­dang rendah sesuai dengan tinggi rendah­nya getaran yang disebabkan oleh tarik­an layang-layang yang terbawa angin taufan.

Kakek itu memaki-maki Bun Beng. “Sialan! Bodoh seperti kerbau engkau! Begini lho! Tekan kaki kanan ke depan, cepat. Bantu aku dong! Bagaimana sih? Setan cilik tolol kau! Dengar baik-baik, jangan sampai layang-layang terus menu­kik, dan jangan sekali-kali menentang arah angin langsung. Bisa celaka kita! Pindahkan tenaga ke kaki kiri, kaki ka­nan lepas, tangan kanan menarik tali di atas, cepat! Nah, sekarang kaki kanan yang menekan, tangan kiri menarik. Hayo, seperti bermain layar, akan tetapi jauh lebih sukar, seratus kali lebih sukar!”

Payah juga Bun Beng mengikuti ge­rakan dan perintah kakek itu. Tenaga yang dipergunakan untuk melawan kekuatan angin ini merupakan tenaga selu­ruhnya, itu pun hampir tidak ada arti­nya terhadap kekuatan angin yang maha dahsyat itu. Kini kakek itu memerintah­kan agar tenaga dirobah-robah, bagaima­na mungkin begitu mudah? Hampir bebe­rapa detik harus dirobah lagi. Bun Beng merasa seluruh tubuhnya ngilu dan sakit-sakit, kedua kakinya menggigil dan ke­dua tangannya gemetar, hampir tak kuat memegang tali-temali layang-layang lebih lama lagi.

“Tolol! Jangan berhenti! Aku sendiri mana kuat mengemudikan layang-layang ini? Kalau tidak ada engkau di sini, ten­tu aku dapat, akan tetapi ditambah be­ratmu, benar-benar repot!”

Sementara itu, angin bertiup makin keras, kini malah disertai kilat menyam­bar-nyambar, halilintar bermain-main di atas dan kanan kiri mereka. Cuaca menjadi gelap, bahkan kini percikan air-air halus yang amat kuat sehingga seperti berubah menjadi laksaan jarum-jarum ke­cil menerjang mereka.

“Celaka.... celaka....!” Kakek itu ma­kin repot dan jelas bahwa dia ketakutan. Bun Beng yang biasanya senang mengha­dapi maut, menyaksikan sikap kakek itu ketularan rasa takut. Memang keadaan amat mengerikan, dibawa oleh layang-layang dan dipermainkan angin taufan, halilintar dan hujan seperti itu!

“Dengar baik-baik kalau kau tidak ingin mati turut perintahku dan pelajari agar jangan sampai gagal. Taufan ini berbahaya sekali, untuk turun sekarang tidak mungkin. Satu-satunya jalan hanya mengemudikan layang-layang ini sebaik mungkin agar tidak sampai menukik turun atau talinya putus.” Kakek itu su­kar sekali bicara dengan jelas karena kencangnya angin meniup terbang suara­nya. Terpaksa ia lalu merangkul Bun Beng dan berteriak.

“Rangkul aku dan dekatkan telinga­mu pada mulutku!”

Setelah Bun Beng melakukan perintah ini, Kwi-bun Lo-mo lalu membisikkan pe­lajaran sedikit demi sedikit caranya menggerakkan tenaga pada kaki dan ta­ngan, mengatur bobot, memindah-mindah­kan tenaga dalam untuk mengimbangi serangan angin yang amat dahsyat. Bun Beng mendengarkan dengan penuh perha­tian, kemudian sekalian mempraktekkan pelajaran itu mencontoh gerakan kakek aneh dan membantunya mengemudikan layang-layang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan berbahaya itu dia telah menerima pelajaran ilmu ra­hasia yang amat hebat, yaitu Ilmu Hoan-sin-kang (Memindahkan Tenaga Sakti) yang tidak hanya dapat dipergunakan untuk mengemudikan layang-layang me­lawan serangan angin taufan yang maha dahsyat, akan tetapi juga merupakan il­mu yang dapat dipergunakan untuk menghadapi lawan berat yang memiliki sin-kang amat kuat! Ilmu ini merupakan ilmu tingkat tinggi yang dimiliki Ketua atau Majikan Pulau Neraka, dan selain Si Ketua sendiri, hanya kakek inilah orang ke dua yang memilikinya, maka dia berani main-main dengan maut di tempat berbahaya itu, yaitu bermain dan mengemudikan layang-layang.

Mati-matian kedua orang itu bertem­pur dengan angin taufan, bersama-sama mengemudikan layang-layang yang mere­ka paksa untuk menuruti kehendak mere­ka, melawan kehendak angin. Sampai se­tengah hari lamanya angin taufan me­ngamuk dan selama setengah hari itu merupakan latihan yang amat hebat ba­gi Bun Beng, latihan terberat yang per­nah ia alami selama hidupnya, akan te­tapi karena keadaan yang memaksa, demi menolong nyawa, dalam ilmu sepen­dek itu dia telah berhasil memetik inti dari ilmu ini!

Menjelang senja, barulah angin tau­fan itu mereda, hujan pun berhenti. De­ngan pakaian basah kuyup, kedua orang itu terengah-engah berdiri di atas tali dan berpegang pada tali layang-layang yang juga basah semua dan luntur gam­barnya. Mereka kehabisan tenaga dan kini hanya mengandalkan kaki tangan yang sudah gemetar karena penat, tubuh menggigil kedinginan dan kehabisan tena­ga. Akan tetapi kakek itu menyeringai tersenyum lebar memandang Bun Beng.

“Engkau hebat, orang muda. Ha-ha-ha, tidak percuma engkau menjadi pute­ra Gak Liat, heh-heh-heh!”

Melihat betapa kakek itu bicara sebe­narnya, tidak mengolok-olok dan mema­ki-maki lagi, Bun Beng berkata sungguh-sungguh. “Locianpwe yang hebat dan aku kagum sekali. Sebetulnya, macam apa­kah mendiang Ayah itu?”

“Gak Liat? Ya begitulah, seorang manusia seperti aku dan engkau ini,” jawab kakek itu seenaknya.

“Tapi, banyak orang menyebutnya seorang jahat. Dan Locianpwe sendiri ta­di mengatakan dia seorang yang licik dan curang.”

“Memang dia licik dan curang, no­mor satu di dunia mengenai kelicikan­nya. Akan tetapi kalau tidak licik, ma­na mungkin dia menjadi datuk kaum se­sat? Tanpa kelicikan, mana mungkin da­pat menonjol di dunia hitam?” Biarpun kakek itu mulai memuji ayahnya, namun pujian ini mendatangkan rasa tak puas di hati Bun Beng. Bagaimana hatinya akan senang dan puas kalau ayahnya dipuji sebagai seorang yang paling licik di dunia, sebagai seorang to­koh, bahkan datuk kaum sesat?

“Sudahlah, Locianpwe. Terima kasih atas pertolonganmu, aku hendak turun sekarang.”

Setelah berkata demikian, Bun Beng merosot turun dan biarpun kedua tela­pak tangannya menjadi panas karena te­naganya sudah hambir habis, namun ra­sa nyeri itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan kesengsaraan selama se­tengah hari tadi dan ia merosot terus.

“He, tunggu! Apa kaukira aku selama­nya akan tinggal di sini? Aku pun mau turun!” Kakek itu bergegas turun pula dari tali layang-layang yang kini ter­bang dengan anteng dibawa angin semi­lir halus. Keduanya lalu merosot turun melalui tali layang-layang yang amat tinggi itu. Demikian tingginya layang-layang itu sehingga Bun Beng melihat pohon-pohon amat kecil di bawah, seper­ti rumput saja. Ia bergidik. Bukan main kakek bermuka kuning itu, main-main dengan maut seperti itu. Apa sih senang­nya bermain-main dengan layang-layang yang begitu tinggi? Memang menegang­kan, seperti seekor burung garuda terbang di angkasa, akan tetapi bagaimana kalau tali layang-layang putus? Bagaimana kalau kehabisan angin dan layang-layang itu melayang turun? Benar-benar perma­inan yang berbahaya dan gila!

“Ha, Bun Beng, aku girang sekali dapat bertemu denganmu. Aku akan da­pat memenuhi permintaan mendiang Ayahmu. Ikutlah bersamaku dan engkau akan memperoleh kepandaian hebat, apa­lagi kalau Pangcu kami bersedia mem­bimbingmu. Ketua kami adalah seorang yang memiliki kepandaian seperti....”

“Iblis!” Bun Beng menyambung. “Ke­tua Pulau Neraka tentu seorang iblis.”

“Ha-ha! Engkau seperti Ayahmu. Memang benar kepandaiannya hebat se­perti iblis sendiri.”

Bun Beng tidak menjawab dan menca­ri akal bagaimana dia akan dapat mem­bebaskan diri dari kakek yang melorot turun di atasnya itu. Dia tidak sudi menjadi anggauta Pulau Neraka seperti dia tidak mau menjadi anggauta Thian-liong-pang. Biar dia dijanji akan diberi pelajaran ilmu yang tinggi, yang tidak diragukannya lagi, akan tetapi satu-satu­nya yang ia mau menjadi gurunya hanya­lah Pendekar Siluman! Kalau Pendekar Siluman yang mengajaknya ke Pulau Es, tentu dia tidak akan menolak, bahkan akan menjadi girang sekali. Kini dia mencari akal bagaimana dapat melari­kan diri dari kakek itu. Dia mempercepat gerakan kaki tangannya melorot tu­run, akan tetapi kakek itu tetap berada dekat di atas kepalanya!

Tiba-tiba Kwi-bun Lo-mo berteriak sambil menggerak-gerakkan tangan ke bawah. “Heiii....! Bangkotan busuk, penge­cut laknat, jangan curang kau! Tunggu sampai aku turun dan kita boleh bertan­ding sampai selaksa jurus!”

Bun Beng cepat memandang ke ba­wah dan ia juga terkejut sekali. Di ba­wah sana, ia melihat bahwa tali layang-layang itu oleh Si Kakek aneh diikatkan pada sebatang pohon besar dan ujung ta­li malah dikaitkan kuat-kuat pada sebu­ah batu karang yang kokoh. Kiranya se­telah kakek itu berhasil menaikkan la­yang-layangnya sampai tinggi sekali, ia mengikat tali itu di sana kemudian agak­nya kakek itu lalu memanjat ke atas melalui tali layang-layang untuk kemudi­an bermain-main di atas! Dan kini di dekat pohon itu tampak seorang kakek bersorban dengan tubuh dibelit-belit ka­in kuning seperti mendiang Kakek Naya­kavhira pembuat pedang yang dahulu datang menunggang gajah dan juga per­nah bertanding dengan kakek muka ku­ning ini! Di belakang kakek ini tampak seorang laki-laki tampan dan yang membuat Bun Beng merasa terkejut adalah ketika melihat betapa kakek bersorban itu menghampiri tali layang-layang dan agaknya hendak memutus tali itu!

“Ha-ha-ha!” Kakek itu tertawa berge­lak dan agaknya Kwi-bun Lo-mo baru ta­hu bahwa kakek bersorban itu bukanlah kakek India penunggang gajah yang dulu pernah bertempur dengannya. Tentu sa­ja Bun Beng mengerti bahwa kakek di bawah itu bukan Nayakavhira karena biarpun hampir sama, kakek di bawah itu lebih tinggi dan kurus, juga kulitnya lebih hitam.

“Setan India! Jangan curang, tunggu aku turun kalau berani!” Kembali Kwi-bun Lo-mo berteriak sambil melorot ma­kin cepat mengikuti Bun Beng, akan te­tapi jarak antara mereka dengan tanah masih terlampau tinggi sehingga kalau sekarang tali itu diputus, mereka akan celaka!

“Bun Beng, kau melorot sambil bergantung. Jangan menghalangi aku. Kalau dia berani memutus tali, akan kuarah­kan jatuhku ke tubuh si keparat itu!” Kwi-bun Lo-mo berseru dan Bun Beng melanjutkan gerakannya merosot sambil bergantung ke bawah.

“Ha-ha-ha, kalian berdua bermain-main dengan maut. Nah, mampuslah!” Orang India yang tertawa-tawa itu meloncat dekat dan menggerakkan tangan hendak memutus tali layang-layang. Bun Beng sudah merasa ngeri, apalagi sete­lah kini mengenal kakek India itu sebagai kakek sakti yang pernah bertanding me­lawan Pendekar Siluman, pertadingan yang amat luar biasa di mana kedua orang sakti itu mempergunakan ilmu sihir sehingga yang bertanding adalah bayang­an atau semangat mereka! Celaka, pikir­nya, andaikata mereka dapat turun juga, ia merasa ragu-ragu apakah Kwi-bun Lo-mo mampu menandingi kakek yang memiliki ilmu sihir itu! Dan laki-laki yang berada di belakang kakek bersor­ban itu pun dia kenal, karena laki-laki itulah yang dahulu pernah menculik Kwi Hong, laki-laki berpakaian sasterawan yang setengah gila dan yang mencuri pe­dang pusaka buatan Kakek Nayakavhira!

Tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali dibarengi bentakan halus,

“Iblis tua keparat!”

Muncullah seorang dara yang gerakan­nya gesit sekali. Bayangannya didahului sinar dari pedangnya yang ia pergunakan untuk menerjang kakek bersorban dengan gerakan luar biasa, pedangnya memben­tuk lingkaran pada ujungnya seolah-olah hendak mengguratkan lingkaran pada dada kakek bersorban. Menghadapi se­rangan hebat ini, kakek ini berseru kaget dan cepat meloncat mundur, tidak men­dapat kesempatan untuk memutus tali layang-layang. Namun dara itu terus menyerangnya dengan gerakan luar bia­sa, pedangnya lenyap menjadi sinar bergulung-gulung yang seolah-olah merupa­kan awan atau kabut menggulung tubuh kakek bersorban!

“Hayo cepat turun!” Kwi-bun Lo-mo berseru. Tanpa diperintah pun Bun Beng sudah mempercepat gerakannya merosot terun dan bukan main lega hatinya sete­lah kedua kakinya merasai tanah yang teguh dan kuat. Hampir saja ia terhu­yung karena setelah kini menginjak ta­nah, tubuhnya masih terasa ringan seolah-olah tak berobah, seperti orang mabok arak. Akan tetapi semenjak tadi pan­dang matanya tidak terlepas dari dara yang masih menyerang kakek bersorban. Bukan main hebatnya terjangan gadis itu dan jantung Bun Beng berdebar tegang. Ketika ia mengenal dara itu. Biar­pun kini telah menjadi seorang gadis de­wasa yang amat cantik, namun tidak sa­lah iagi, dia itu adalah Giam Kwi Hong, murid atau juga keponakan Pendekar Siluman! Kakek bersorban itu, yang Bun Beng tahu amat sakti, sampai terdesak mundur, repot mengelak dari sambaran pedang di tangan Kwi Hong.

“Ha-ha-ha-ha, kiranya engkau bukan tua bangka penunggang gajah!” Kwi-bun Lo-mo tertawa dan pada saat Maharya, kakek India itu mencelat ke kanan un­tuk menjauhi sinar pedang Kwi Hong dan berada dekat dengannya, Kwi-bun Lo-mo cepat menghantamnya dengan kedua lengan didorongkan ke depan. Ter­dengar bunyi bersuit dan angin menyam­bar ke arah kakek bersorban yang cepat mendorongkan pula kedua tangannya me­nangkis.

“Dessss!” Dua tenaga sin-kang raksa­sa bertemu dan kedua orang kakek itu terpental ke belakang.

“Wah-wah, kau hebat juga....!” Kwi-bun Lo-mo berseru kaget.

“Mundur kalian bertiga....!” Tiba-tiba Maharya membentak, suaranya mengge­ledek penuh wibawa yang aneh dan ba­gaikan menanti perintah yang tak dapat dibantah lagi karena segala kemauan ha­ti mereka dikuasai perintah ini, Kwi-bun Lo-mo, Kwi Hong dan Bun Beng otoma­tis meloncat mundur sampai lima meter!

“Locianpwe, Nona Kwi Hong, awas dia mempunyai ilmu sihir! Jangan me­mandang matanya dan jangan mende­ngar suaranya!” Bun Beng cepat berteri­ak, kemudian ia mendahului menerjang laki-laki yang sejak tadi hanya menonton Maharya bertanding dengan Kwi Hong. Laki-laki ini bukan lain adalah Tan Ki atau Tan-siucai yang tadi bengong me­mandang Kwi Hong dengan penuh gairah. Dia tadi tidak membantu karena tentu saja ia percaya penuh akan kesaktian gu­runya. Akan tetapi melihat betapa dua orang yang secara aneh turun dari tali layang-layang itu bukan orang semba­rangan pula, apalagi kini Bun Beng me­loncat maju dan menyerangnya dengan gerakan dahsyat, dia terkekeh, meman­dang rendah pemuda itu dan mengelak sambil balas menyerang.

Bun Beng menjadi heran melihat gerakan lawan yang luar biasa, kedua kaki lawan tidak meninggalkan tanah, akan tetapi tubuhnya bisa meliuk-liuk dengan lemas, seperti sebatang pohon cemara pecut tertiup angin. Tubuh atas itu meliuk ke kiri, kemudian membalik sambil balas menye­rang dengan tangan kanan menghantam perutnya. Ketika ia menangkis dan menggeser kaki kanan, tahu-tahu tangan kiri lawan sudah mencengkeram kepalanya, hal yang luar biasa sekali mengi­ngat bahwa tangan kiri lawannya itu berada dalam posisi jauh. Tangan kiri itu tiba-tiba memanjang, seperti karet yang dapat mulur dan tahu-tahu jari-jari­nya telah dekat dengan kepalanya.

“Eh....!” Ia berseru dan cepat melon­cat mundur sambil melepas tendangan ke arah lengan yang sudah ditarik kem­bali oleh Tan-siucai sambil terkekeh-kekeh.

Sementara itu Kwi Hong yang terhe­ran-heran mendengar pemuda tampan itu menyebut namanya, teringat bahwa Maharya memang pandai ilmu sihir, ma­ka otomatis ia pun mentaati peringatan pemuda itu, tidak mau memandang ma­ta kakek bersorban dan dengan kekuatan batinnya ia “menulikan” telinga agar jangan mendengar bentakan Si Kakek tu­kang sihir yang mengandung penuh daya melumpuhkanitu. Ia sudah menerjang maju lagi dengan tusukan pedangnya, di­susul serangkaian serangan hebat yang membuat Maharya kembali terdesak.

Kwi-bun Lo-mo yang kini sudah da­pat menguasai dirinya kembali setelah tadi terpengaruh sihir Maharya, merasa kagum kepada Bun Beng yang semuda itu sudah tahu akan ilmu kakek bersor­ban. Dia pun maklum bahwa ilmu sihir semacam I-hun-to-hoat untuk mempenga­ruhi pikiran orang mengandalkan kekuat­an pandang mata dan getaran suara yang mengandung sin-kang kuat sekali, maka apabila dapat mengelakkan pandang ma­ta dan suara itu tentu sihir itu tidak akan mempunyai daya kekuatan. Maka iapun menutup pendengaran dan meng­hindarkan pertemuan pandang mata, lalu tertawa mengejek.

“Heh-heh-heh, kau dukun dari Hima­laya yang busuk, tanpa sebab kau hen­dak memutus tali layang-layangku. Se­karang kau kena kutuk para dewamu, bertemu dengan seorang pemuda yang cerdik, seorang dara yang lihai sekali, dan aku yang akan mengirim nyawamu kembali ke puncak Himalaya!”

Sambil mengejek demikian, Kwi-bun Lo-mo maju pula menerjang, membantu Kwi Hong. Karena tokoh Pulau Neraka ini pun maklum bahwa Maharya bukan­lah seorang lemah, bukan hanya mengan­dalkan ilmu sihirnya melainkan memiliki ilmu kepandaian hebat pula dan bertena­ga sin-kang kuat sekali, maka begitu menyerang ia pun mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus khas dari Pulau Neraka, kedua tangannya tiba-tiba berubah menjadi lunak seperti kapas, namun di balik telapak tangan yang menjadi lu­nak ini tersembunyi kekuatan dahsyat yang akan merusak sebelah dalam tubuh lawan jika bertemu dengan tangan lunak ini. Sesuai dengan namanya yaitu Toat-beng-bian-kun (Tangan Lemas Mencabut Nyawa), ilmu ini adalah ilmu baru yang diterimanya dari Ketua Pulau Neraka. Karena ilmu pukulan tangan kosong ini telah digabung dengan ilmu khas keturun­an Pulau Neraka, yaitu hawa dan tena­ga beracun yang membuat warna kulit mereka berubah, maka tentu saja pukul­an-pukulan tangan yang kelihatannya lemas tak bertenaga dan lunak itu mengandung bahaya mengerikan dan se­tiap gerakan merupakan maut bagi la­wan! Maharya yang biasanya memandang rendah setiap lawan, kini terkejut sekali. Biarpun tadi ia kelihatan terdesak oleh gulungan sinar pedang Kwi Hong yang seperti kilat menyambar-nyambar, na­mun dia tidak gentar dan menghadapi dengan tangan kosong saja. Akan tetapi, setelah sekali menangkis dan lengannya tersentuh tangan Kwi-bun Lo-mo yang mengandunng Ilmu Toat-beng-bian-kun dan membuat lengannya panas dan ga­tal, ia terkejut bukan main, berteriak keras dan melompat mundur sambil menggerakkan kedua tangannya ke sebe­lah dalam pakaiannya. Kini ia telah me­megang sepasang senjata yang amat aneh. Tangan kirinya kini telah memakai sarung tangan yang berkilauan seperti emas, sedangkan tangan kanannya meme­gang seekor ular putih yang kecil dan panjangnya hanya dua kaki, akan tetapi ular putih itu masih hidup!

“Ha-ha-ha, dukun hitam, apa engkau mau main sulap mencari uang kecil? Bukan di sini tempatnya, melainkan di pasar! Aku tidak mempunyai uang kecil sepeser pun, apalagi yang besar!” Sam­bil tertawa mengejek, Kwi-bun Lo-mo menerjang lagi dengan tangannya yang beracun, maklum bahwa pertemuan yang satu kali tadi, biarpun tentu saja tidak akan melukai lawan yang begitu pandai akan tetapi sedikitnya membuat hati la­wan gentar.

Kwi Hong yang tidak banyak bicara sudah menusukkan lagi pedangnya. Kini Maharya tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kiri yang bersa­rung tangan emas itu menangkap pedang. Bukan main kagetnya Kwi Hong karena merasa pedangnyatergetar. Ia menarik kembali pedangnya dan pada saat itu Maharya melepas pedang sambil menggunakan tenaga sin-kang mendorong.

“Aihhh!” Hanya dengan melempar tu­buh ke belakang dan berjungkir balik di udara sampai lima kali Kwi Hong dapat menghindarkan diri dari tolakan tenaga sin-kang yang dapat melukai isi dadanya itu! Ia terkejut dan maklum bahwa sela­in sarung tangan yang dipakai kakek India itu tidak mempan senjata, juga bahwa tenaga kakek itu masih jauh me­lampaui tenaganya sendiri! Kini Kwi-bun Lo-mo sudah menerjang maju mengguna­kan tangan kanan memukul dengan ta­ngan lunaknya yang beracun untuk memberi kesempatan gadis berpedang itu memulihkan kedudukannya. Maharya mengangkat tangan kiri, menangkis pukulan itu dan tangan kanannya digerak­kan.

“Plakkk!” Kedua tangan bertemu dan Kakek Kwi-bun Lo-mo terkejut karena tangan bersarung emas itu kiranya sang­gup menerima pukulan Toat-beng-bian-kun, dan kini secara tiba-tiba ular yang dipegang ekornya itu melayang dan me­nyambar lehernya dengan mulut terbuka lebar, mendesis dan menggigit! Ia cepat miringkan kepalanya akan tetapi tetap saja ular itu dapat menggigit pundaknya.

“Mampus kau!” Maharya berseru gi­rang.

“Ha-ha-ha, gigitan cacing itu enak sekali rasanya, menambah vitamin di tu­buhku. Suruh dia gigit lagi, dukun India! Ha-ha-ha!” Biarpun pundaknya mengelu­arkan sedikit darah, akan tetapi Kwi-bun Lo-mo masih tertawa-tawa. Di dalam tubuhnya yang berkulit kuning itu telah mengalir darah yang penuh racun, mana dia takut akan segala gigitan ular bera­cun?

Kakek India itu kaget dan dengan marah ia lalu menyerang kedua orang pengeroyoknya, bukan hanya ularnya yang terayun-ayun mengancam lawan dengan gigitan beracun, juga tangan kirinya yang tidak takut menghadapi senjata tajam atau pukulan beracun itu merupakan ta­ngan maut yang setiap saat menyambar hendak mencabut nyawa lawan.

Tan-siucai yang tadinya memandang rendah Bun Beng, menjadi terkejut bu­kan main ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar lihai se­kali ilmu silatnya. Tadinya ia mengang­gap bahwa seorang muda seperti itu akan mudah ia robohkan dengan ilmunya “tangan panjang,” yaitu lengan yang dapat ia ulur. sampai hampir dua kali panjang normal. Banyak sudah lawan yang roboh oleh ilmunya ini karena tidak menyangka-nyangka bahwa tangan itu dapat mu­lur seperti karet. Akan tetapi, pemuda itu hanya sebentar saja terkejut, kemu­dian sudah dapat menjaga diri dan mengirim serangan dengan jurus-jurus yang dahsyat, yang mendatangkan angin keras dan membuat Tan-siucai bingung. Maklum bahwa ia berhadapan dengan murid orang pandai, Tan-siucai berteriak keras dan tampaklah sinar hitam ketika ia mencabut pedangnya, sebatang pedang hitam yang mengeluarkan bau amis se­perti telur itik membusuk. Dengan pe­dangnya ini ia menerjang dan mengobat-abitkan pedang, merupakan sinar yang menyambar-nyambar ke arah tubuh Bun Beng.

Bun Beng memang tadinya terkejut menyaksikan lengan yang bisa mulur pan­jang. Akan tetapi kemudian ia menda­pat kenyataan bahwa lawannya itu biar­pun bertenaga kuat dan memiliki ilmu aneh tidaklah seberat yang ia kira dan tidak memiliki dasar ilmu silat yang tangguh. Maka ia sudah mendesak dengan jurus-jurus Siauw-lim-pai yang kuat se­hingga dua kali memukul bahu kanan dan menendang paha kiri lawan. Biarpun pu­kulan dan tendangan ini meleset dan tu­buh lawan memiliki kekebalan setidak­nya lawannya menjadi panik sehingga mencabut pedang hitam! Bun Beng tidak menjadi jerih, bahkan ia makin lega ha­tinya. Gerakan pedang itu lebih didorong rasa marah daripada gerakan ilmu pedang yang tinggi nilainya, maka bagi­nya, pedang hitam itu tidaklah sebahaya tangan kosong yang dapat mulur mungkret tadi. Biarpun lengan itu masih dapat mulur, akan tetapi karena disambung pedang, lebih mudah dapat dilihat arah gerakannya, tidak seperti kalau kosong dapat mencengkeram, menangkap mendo­rong atau memukul, sukar sekali diduga.

Namun, harus ia akui bahwa lawan­nya mainkan pedang secara aneh dan isti­mewa, dengan ilmu pedang yang tidak dikenalnya sama sekali. Pedang itu sela­lu datang menyerangnya dengan tiupan angin, dan bukan hanya pedang yang menyerangnya melainkan selalu dibarengi dengan pukulan atau tendangan, seolah-olah seluruh daya serang lawan dikum­pulkan untuk menghantamnya, Bun Beng harus mengandalkan kelincahan tu­buhnya yang segera pulih kembali begitu ia menghadapi bahaya. Kalau begini te­rus, bagaimana aku bisa menang, pikir­nya. Serangan lawan ini mengingatkan ia akan serangan angin taufan ketika ia berada di atas layang-layang bersama Kwi-bun Lo-mo. Serangan angin taufan! Tiba-tiba ia teringat akan pelajaran kakek Pulau Neraka itu untuk mengha­dapi serangan angin taufan. Perhatikan dari mana angin menyerang, jangan me­nentang, ikuti tiupannya akan tetapi ha­rus dapat kau kendalikan sehingga mu­dah untuk menyimpang. Pindahkan hawa dan tenaga sakti sesuai dengan serangan angin, jangan biarkan kita terseret akan tetapi berusaha selalu berada di atasnya, menunggang angin. Demikianlah antara lain inti pelajaran yang ia terima di atas layang-layang sambil mencontoh ge­rakan kakek Pulau Neraka. Kini, serang­an-serangan lawannya dengan pedang hi­tam itu seperti angin, mengapa tidak ia coba mengatasinya dengan pelajaran baru di atas layang-layang?

“Wuuuutttt!” Tan-siucai kembali me­nyerang dengan hebat, dengan semangat menyala dan keyakinan bahwa dia tentu akan dapat membunuh pemuda yang su­dah tak mampu balas menyerang itu. Pedang hitamnya menusuk dada, tangan kirinya mendorong dengan pukulan ke arah pusar, dan kaki kanannya sudah si­ap menyusulkan tendangan!

Bun Beng tidak menggunakan cara mengelak seperti tadi. Dengan ilmu ba­ru menundukkan angin taufan, tubuhnya yang tadinya miring, dengan kaki kanan di depan itu, ia pindahkan kaki dan te­naga pada kaki kiri, lalu kedua tangannya diangkat ke atas seolah-olah ia me­megangi tali-temali layang-layang dan tubuhnya meloncat ke atas tinggi sekali sehingga pukulan dan tusukan lewat di bawah kakinya yang ditekuk ke dada. Tendangan lawan menyusul, ia terima dengan kedua kakinya, menginjak kaki lawan yang menendang dan meminjam te­naga ini ia ayun tubuhnya ke atas dan meluncur ke depan melalui atas kepala lawan, kemudian membalik dan memin­dahkan tenaga lagi ke kaki kiri yang tu­run menginjak lawan.

“Plakk! Augg....!” pundak kanan Tan-siucai terkena injakan kaki Bun Beng, lumpuh rasa seluruh lengan kanannya dan pedang hitam itu terlepas. Bun Beng cepat turun menyambar dan pedang hi­tam telah berada di tangannya!

Tan-siucai membalik dan matanya merah saking marahnya memandang Bun Beng yang kini tersenyum-senyum me­megang pedang hitam! Ia girang sekali karena dengan ilmu barunya itu ia ber­hasil! Pemuda ini memang cerdik sekali sehingga dia dapat menggunakan ilmu baru yang bagi orang lain tentu hanya dapat dipergunakan untuk mengendalikan layang-layang melawan angin taufan itu untuk melawan musuh yang lihai.

Sambil tersenyum, ia lalu menubruk maju dan menyerang Tan-siucai dengan pedang hitam. Tan-siucai memekik, ta­ngan kirinya bergerak dan sinar putih yang amat terang menyilaukan mata ber­kelebat menangkis pedang.

“Cringggg!” kini Bun Beng yang ka­get bukan main karena pedang hitam rampasan itu telah patah menjadi dua!

“Hok-mo-kiam....!” Ia berseru keras dan cepat menjatuhkan diri bergulingan karena pedang putih yang kini berada di tangan lawan itu, setelah membabat patah pedangnya, sinarnya masih terus menerjangnya! Ia meloncat bangun dan memandang dengan mata terbelalak. Tak salah lagi, tentu itulah Hok-mo-kiam, pedang yang dibuat oleh Kakek Nayaka­vhira dan yang dicuri oleh pemuda sin­ting ini bersama gurunya, Kakek Mahar­ya! Gentar juga hati Bun Beng menyak­sikan pedang bersinar putih yang me­ngandung penuh wibawa mujijat itu, dan ia siap siaga berkelahi mati-matian, mengandalkan kelincahannya karena apa artinya pedang buntung yang toh patah lagi kalau bertemu dengan Hok-mo-kiam? Ia tahu bahwa Pendekar Siluman dan mendiang Kakek Nayakavhira mem­beri nama Hok-mo-kiam (Pedang Penak­luk Iblis) pada pedang itu, yang khusus dibuat untuk menundukkan Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis). Teringatlah ia akan sepasang pedang bersinar kilat yang ia simpan di dalam guha rahasia di tem­pat tinggal para pemuja Sun-go-kong.

“Kembalikan pedang itu!” Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Kwi Hong telah meninggalkan Kakek Maharya, menyerang Tan-siucai dengan pedang di tangannya. Serangan yang hebat seka­li, dilakukan dengan tubuh masih mela­yang di udara, dengan kecepatan seperti kilat menyambar didorong oleh tenaga sin-kang yang kuat sekali.

Biarpun otaknya sinting, Tan-siucai mengenal serangan maut, dia lalu meng­geser kaki ke kiri, menggerakkan pe­dangnya menangkis sambil mendorongkan tangan kirinya untuk mencegah dara per­kasa itu memukulnya.

“Tranggg!” Tampak bunga api mun­crat dan Tan-siucai memekik kaget, pe­dangnya terlepas akan tetapi cepat-cepat ia sambar kembali karena gadis itu ti­dak sempat menyerangnya lagi. Ternya­ta bahwa kini Kwi Hong juga hanya me­megang sebatang pedang buntung, persis seperti yang dialami Bun Beng. Dengan mata terbelalak, Kwi Hong memandang pedangnya dan diam-diam ia merasa amat kagum akan keampuhan Hok-mo-kiam yang dibuat oleh Kakek Nayaka­vhira itu. Pedangnya adalah pemberian pamannya, sebatang pedang pusaka yang cukup ampuh, namun sekali bertemu de­ngan Hok-mo-kiam menjadi patah! Pada­hal sudah jelas bahwa dia menang tenaga dan pedang di tangan Tan-siucai itu sampai terlepas. Ia makin marah dan penasaran, bertekad untuk merampas kembali pedang yang dahulu dicuri oleh orang itu, tubuhnya menerjang maju de­ngan pukulan-pukulan kilat yang biar­pun Tan-siucai memegang sebatang pe­dang pusaka, akan berbahaya sekali bagi sasterawan sinting itu.

“Plakkk!” Pukulan Kwi Hong tertang­kis oleh tangan Maharya yang bersarung tangan. Kiranya kakek ini sudah melon­cat meninggalkan Kwi-bun Lo-mo untuk melindungi muridnya, terutama menjaga agar pedang pusaka itu tidak terampas lawan.

“Ho-ho, kau hendak lari ke mana, dukun keparat?” Kwi-bun Lo-mo tertawa dan melompat pula mengejar. Kini per­tandingan menjadi kacau-balau dan akhir­nya kini Bun Beng dan Kwi-bun Lo-mo mengeroyok Maharya, sedangkan Kwi Hong masih bertanding melawan Tan-siucai. Karena maklum bahwa gadis itu berbahaya sekali, Tan-siucai memutar pedangnya dan berlindung di balik gu­lungan sinar pedang. Benar saja, sinar pedang itu demikian hebat dan mengan­dung wibawa yang amat kuat sehingga biar Kwi Hong lihai, gadis ini tidak be­rani sembrono mendesak maju, melain­kan berusaha mencari lowongan tanpa terancam sinar pedang yang ia tahu amat ampuh.

“Nona yang perkasa! Bun Beng, mun­dur!” Tiba-tiba Kwi-bun Lo-mo berteriak keras dan terdengarlah ledakan disusul membubungnya asap hitam yang tebal, menggelapkan keadaan di situ. Ternyata kakek Pulau Neraka ini telah melempar sebuah senjata rahasia khas Pulau Nera­ka, senjata peledak yang mengeluarkan asap hitam beracun.

Kwi Hong dan Bun Beng melompat mundur, melihat betapa di tempat berdi­rinya dua orang lawan itu kini tertutup oleh asap hitam. Ketika asap membuyar tertiup angin dan mereka memandang, ternyata Tan-siucai dan Maharya telah lenyap dari tempat itu, tanpa meninggalkan bekas.

Kwi-bun Lo-mo mengerutkan alisnya, mengomel. “Sialan! Mereka benar-benar amat lihai dapat menyelamatkan diri dari asap beracun. Dukun India itu be­nar-benar merupakan lawan yang lebih tangguh daripada dukun penunggang ga­jah. Hayaa....!”

Kwi Hong melangkah maju dan menu­dingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek itu. “Tua bangka lancang! Kenapa kau melenyapkan mereka?” Tanpa me­nanti jawaban, dengan pedang buntungnya ia menyerang Kwi-bun Lo-mo. Serangan­nya hebat sekali dan pedang buntungnya itu masih amat berbahaya, membabat ke arah perut kakek itu yang tentu akan tersayat robek kalau sampai terkena.

“Aihhh....!” Kwi-bun Lo-mo meloncat ke belakang dengan mata terbelalak dan balas menyerang sambil memaki, “Gadis liar, siluman galak!” Kwi Hong miring­kan tubuh dan membabat ke arah lengan yang memukulnya, akan tetapi kakek itu dapat menarik kembali lengannya.

“Tahan....!” Bun Beng berseru. “Nona Kwi Hong, dia bermaksud membantumu!”

“Membantu apa? Dia.... ah, mukanya berwarna, dia tentu iblis dari Pulau Nera­ka!”

“Hemm, memang aku dari Pulau Ne­raka, habis kau mau apa?” Kakek itu menantang dengan marah.

“Aku mau membasmi orang-orang Pulau Neraka, dan engkau lebih dulu!” Kembali Kwi Hong menyerang.

“Iblis betina tak tahu diri!” Kwi-bun Lo-mo mengelak lagi dan diam-diam ter­kejut karena biarpun pedangnya sudah buntung, nona ini merupakan lawan yang amat tangguh, gerakannya cepat, ilmu pedangnya aneh dan tenaga sin-kangnya amat kuat, dapat diduga dari suara ber­cuitan ketika pedang buntung menyam­bar. Terpaksa dia mencelat lagi ke ka­nan untuk menghindar.

“Tahan! Locianpwe, dia itu adalah murid Pendekar Siluman, To-cu dari Pu­lau Es!” Bun Beng berseru.

“Apa....?” Muka kakek itu berubah, matanya terbelalak. “Be.... betulkah....?”

“Aku mengenalnya, masa membo­hong?”

Kwi Hong makin marah dan menuding dengan pedang buntungnya. “Kakek sial­an! Apa kau pura-pura tidak mengenal aku yang pernah kalianculik ke Pulau Neraka?”

Kakek itu menggeleng kepala. “Aku mendengar akan peristiwa itu, akan teta­pi aku sedang merantau keluar pulau, tidak tahu.... maaf.... aku tidak berani mengganggu murid Pendekar Siluman tanpa seijin To-cu kami....”

“Tidak peduli, kau harus mampus!” Kwi Hong menyerang lagi. Kwi-bun Lo-mo meloncat jauh ke belakang, kemudi­an melarikan diri! Kakek ini pernah merasai kelihaian Pendekar Siluman ketika ia bertanding melawan Nayakavhira, maka kini mendengar bahwa gadis ini murid pendekar sakti itu, dia menyangka bah­wa tentu Pendekar Siluman berada pula di situ, pula tanpa seijin To-cu, Majikan­nya, mana dia berani mengganggu mu­rid Majikan Pulau Es?

Kwi Hong hendak mengejar, akan tetapi Bun Beng meloncat menghadang dan berkata, “Sudahlah, Nona, perlu apa dikejar orang yang tidak mau melawan? Dahulu pun, Pamanmu tidak mengejar­nya.”

Kwi Hong berhenti, karena maklum bahwa dia pun tak dapat menyusul kakek yang lari seperti terbang cepatnya itu, apalagi kalau ia ingat bahwa kakek itu memiliki senjata rahasia peledak yang mengandung asap beracun berbahaya.

“Hemm, aku mengenalmu sekarang,” katanya sambil memandang wajah pemu­da itu. “Engkau Gak Bun Beng....”

Bun Beng menjura sambil tersenyum. “Kuharap selama ini Nona dalam keada­an baik dan kulihat bahwa Nona telah mewarisi ilmu kepandaian hebat dari Pamanmu. Selamat!”

“Engkau mengejek?” Kwi Hong mem­bentak marah.

Bun Beng melongo dan memandang dengan mata terbelalak. Kenapa Nona ini marah-marah? Dia menggelengkan ke­pala tanpa dapat menjawab.

“Engkau mengejek, ya? Karena aku tidak mampu merampas kembali pedang itu, karena pedangku patah, karena aku tidak mampu membunuh kakek Pulau Neraka!” Pandang mata itu seperti me­ngeluarkan api yang menyerang Bun Beng, dia mundur ketika dara itu melangkah maju dengan muka merah saking jeng­kel oleh kegagalannya. “Hayo katakan engkau mengejekku, biar aku mempunyai alasan untuk menyerangmu!”

“Tidak! Tidak....! Wah, siapa menge­jek, Nona? Sama sekali aku tidak mengejek. Bukan salahmu kalau pedang Nona patah, dan kalau tidak dibantu gu­runya, kakek India itu, tentu Si Siucai gila sudah mampus olehmu dan pedang­nya terampas.”

Mendengar kata-kata ini, agak berku­rang kemarahan Kwi Hong. Ia memban­ting kaki dan memandang pedangnya yang buntung, lalu membantingnya ke atas tanah sambil mengomel. “Sialan! Tentu Paman akan marah kepadaku karena pedang ini!”

Melihat wajah cantik jelita yang menjadi merah, mata yang membayangkan penyesalan dan kedukaan besar, ha­ti Bun Beng tergerak. Teringatlah ia akan sepasang pedang yang ditinggalkan­nya di guha rahasia di tempat para pe­muja Sun-go-kong, maka serta merta ia berkata,

“Harap Nona jangan berduka, aku mempunyai sepasang pedang pusaka yang hebat, bahkan yang diperebutkan oleh seluruh tokoh kang-ouw.”

“Sepasang pedang yang.... Pedang Iblis?” Kwi Hong memotong, matanya terbelalak, kedukaannya lenyap seketika.

Bun Beng mengangguk. “Agaknya be­nar Sepasang Pedang Iblis yang kudapat­kan secara kebetulan sekali. Kini kusim­pan di dalam guha rahasia. Kalau Nona suka, akan kuberikan sebatang kepada Nona, yang pendek. Pedang itu mengelu­arkan sinar kilat yang mendirikan bulu roma sehingga aku tidak berani menca­but seluruhnya, agaknya tidak kalah am­puh oleh pedang yang dicuri Tan-siucai tadi.”

“Benarkah itu? Paman juga mencari-cari pedang itu! Benarkah akan kauberikan kepadaku?” Sikap Kwi Hong berubah sama sekali, agaknya dia tidak ingat la­gi akan kemarahan dan kedukaan hati­nya, wajahnya berseri dan sepasang ma­tanya mengeluarkan cahaya, amat indah­nya seperti sepasang bintang pagi dalam pandangan Bun Beng.

“Benar, Nona. Pedang itu sepasang, boleh untukmu sebatang dan untukku sebatang.”

Tiba-tiba wajah yang cerah itu kem­bali agak muram oleh berkerutnya sepa­sang alis yang hitam kecil melengkung itu. “Bun Beng, bagaimana engkau bisa mendapatkan Siang-mo-kiam? Seluruh dunia kang-ouw mencari dan mempere­butkannya. Bagaimana tiba-tiba kau bisa mengatakan kepadaku bahwa engkau me­nemukan pedang-pedang itu?” Dalam per­tanyaan ini terkandung keraguan dan ketidakpercayaan.

“Aku mendapatkannya secara kebetulan saja, Nona. Terjadinya ketika aku terja­tuh ke dalam pusaran maut di Sungai Huang-ho.” Dengan singkat Bun Beng menceritakan semua pengalamannya, akan tetapi sengaja dia tidak menyebutkan tempat ia menyimpan sepasang pedang itu, juga tidak tentang kitab Sam-po-cin-keng.

Kwi Hong mendengarkan dengan alis berkerut.

“Jadi ketika kita saling bertemu itu engkau telah menemukan Siang-mo-kiam?”

“Benar, aku tidak sempat bercerita, pula pada waktu itu memang aku hen­dak merahasiakannya dari siapapun juga.”

“Hemm, kalau begitu, mengapa seka­rang mendadak engkau ingin memberi­kan sebatang kepadaku? Apa sebabnya?” Sambil berkata demikian, Kwi Hong me­mandang dengan sinar mata tajam pe­nuh selidik. Bun Beng kagum bukan ma­in. Mata itu...., bukan kepalang indah­nya! Sejenak ia menentang pandang ma­ta itu penuh kagum, akan tetapi sinar mata itu seperti sepasang pedang iblis sendiri yang menusuk, menembus mata sampai ke jantung! Terpaksa ia menun­dukkan pandang matanya.

“Mengapa....? Aihh, tak terpikir olehku.... hemm, agaknya karena melihat pe­dangmu patah, Nona. Karena melihat engkau berduka tadi....”

“Heh, omong kosong! Mengapa menda­dak engkau menaruh perhatian seperti itu kepadaku? Apa hubungannya keduka­anku denganmu? Engkau merasa kasih­an? Alasan yang dangkal dan kosong!” Kembali di dalam suaranya terkandung kecurigaan dan ketidakpercayaan.

Cepat Bun Beng membantah. “Tidak! Tidak hanya itu, Nona. Sesungguhnya.... pertama karena Nona telah menyelamat­kan nyawaku tadi. Kalau tidak Nona keburu turun tangan, bukankah aku akan mati terjatuh dari atas kalau tali la­yangan itu diputus oleh kakek tadi? Un­tuk membalas budi Nona yang telah me­nyelamatkan nyawaku, apa artinya pem­berian sebatang pedang? Pula, kedua memang aku merasa amat kagum kepa­da Paman Nona, dan satu-satunya orang di dunia ini yang aku ingin agar pedang yang diperebutkan itu dimilikinya, ada­lah Paman Nona, Pendekar Super Sakti. Maka, kebetulan sekali aku bertemu dengan Nona, bahkan Nona telah menolong­ku sehingga ada alasan bagiku untuk menyerahkan pedang.”

Kwi Hong mengangguk-angguk, wajah­nya kembali cerah dan ia mulai percaya kepada Bun Beng. Pemuda ini girang se­kali menyaksikan perubahan wajah itu, memandang penuh kagum wajah cantik jelita yang matanya menunduk itu. Tiba-tiba wajah itu diangkat, pandang mata mereka saling bertaut dan dengan jan­tung berdebar Bun Beng melihat betapa alis yang bagus itu kembali dikerutkan, lalu terdengar suara gadis itu memben­tak marah.

“Aku tidak percaya kepadamu!”

Mula-mula Bun Beng tertegun, kemu­dian ia menarik napas panjang, wajahnya membayangkan kekesalan dan kedukaan hati. “Hemm, agaknya Nona curiga kepa­daku?”

“Siapa tahu kalau-kalau engkau ini amat licik dan curang dan sengaja hen­dak menipuku?”

Bun Beng merasa jantungnya perih seperti ditusukpedang. Ia mengangguk dan menjawab, “Aku mengerti, Nona. Tentu Nona curiga kepadaku mengingat bahwa aku adalah anak seorang tokoh hitam yang amat licik dan curang? Su­dah banyak aku mendengar makian itu.”

“Tidak peduli! Aku tidak mengatakan begitu dan tidak berpikir begitu. Hanya siapa mau percaya kepada seorang yang telah gulang-gulung bergaul dengan seo­rang iblis Pulau Neraka? Engkau datang bersama dia, tentu sahabat baiknya, atau siapa tahu engkau sudah menjadi anggau­ta Pulau Neraka. Mereka adalah iblis-iblis kejam, tentu engkau juga bukan orang baik-baik. Bagaimana aku dapat percaya?”

Lega hati Bun Beng. Nona ini satu-satunya orang yang tidak menyinggung ayahnya. Alasan yang diucapkan untuk kecurigaannya memang tepat. Maka ia cepat-cepat menuturkan pengalamannya semenjak ia ditawan oleh Thian-liong-pang sampai berhasil lolos, dikeroyok ikan, diterkam rajawali yang kemudian bertempur melawan garuda dan akhirnya terlepas.

“Ketika melayang jatuh itulah aku tersangkut pada tali layang-layang yang dikemudikan oleh kakek Pulau Neraka itu. Baru pertama itulah aku berkenalan dengan dia dan kami sama-sama turun setelah terhindar dari angin taufan dan terancam maut oleh kakek India yang akan memutus tali. Untung Nona muncul dan menyerangnya.”

Penuturan Bun Beng yang amat luar biasa seperti terjadi dalam dongeng itu membuat Kwi Hong melongo.

“Wah-wah.... hebat sekali pengalaman­mu!” Ia duduk di atas rumput. “Engkau menjadi tawanan Thian-liong-pang? Bu­ka main! Dan berhasil lolos? Eh, cerita­kanlah, Bun Beng. Bagaimana kau bisa lolos dari Thian-liong-pang yang terkenal sekali amat kuat itu? Aku mende­ngar banyak orang pandai dan sakti di sana, bahkan tidak kalah saktinya oleh orang-orang Pulau Neraka!”

Melihat wajah itu betul-betul sudah percaya kepadanya, sudah cerah dan bekas-bekas kecurigaan dan ketidakper­cayaan tidak tampak lagi, Bun Beng duduk pula di atas rumput. Mereka duduk berhadapan, bercakap-cakap dan merasa seperti telah menjadi sahabat lama.

Dengan terus terang Bun Beng men­ceritakan pengalamannya ketika berusa­ha menolong Ketua Bu-tong-pai dan me­lihat tokoh-tokoh kang-ouw itu diadu oleh Ketua Thian-liong-pang untuk dicu­ri jurus simpanan mereka yang terpaksa digunakan dalam pertandingan itu. Kemu­dian betapa dia diaku sebagai cucu kepo­nakan Si Muka Singa dan akan dijadikan anggauta. Akan tetapi ia menolak dan akhirnya di jebloskan dalam penjara di bawah tanah.

“Sama sekali aku tidak tahu bahwa dinding itu menembus ke sungai yang besar di mana banyak terdapat ikan rak­sasa yang hampir saja membunuhku. Ka­lau tahu begitu, agaknya belum tentu aku berani membobol dinding itu. Heran, sungai apakah itu?”

Kwi Hong yang tertarik sekali berka­ta. “Apakah kau tidak tahu? Kini kita berada di lembah Sungai Huang-ho, dan sarang Thian-liong-pang berada di kota Cie-bun, di sebelah utara kota Cin-an. Sudah lama aku mendengar akan perbu­atan Thian-liong-pang menculik orang-orang kang-ouw. Sayang Paman melarang aku bentrok dengan orang Thian-liong-pang, kalau tidak aku akan menyerbu ke sana. Hemm.... kalau Paman mendengar bahwa orang-orang kang-ouw itu diculik untuk dicuri ilmu mereka tentu Paman akan tertarik sekali. Eh, Bun Beng, di manakah adanya guha rahasia di mana engkau menyembunyikan Siang-mo-kiam?”

“Aku tidak tahu namanya, hanya aku tahu jalan ke sana kalau sudah melihat bentuk gunungnya. Kalau tidak salah, dekat dengan laut karang ketika aku di­bawa terbang burung rajawali yang ke­mudian bertanding dengan burung garuda yang kunaiki itu, dan aku terlepas ke bawah, aku jatuh ke dalam laut.”

Kwi Hong memutar otaknya. “Hemm, tentu di Laut Utara. Mari kita cari ke sana. Sayang burung kami telah dibunuh oleh siucai sinting dan gurunya, kalau tidak, tentu dengan mudah kita bisa mencari sambil menunggang pek-eng.”

“Apakah tidak ada garuda putih lagi di Pulau Es? Aku tadi melihat burung garuda putih menyerang rajawali yang mencengkeramku.”

“Benarkah? Tentu burung garuda liar. Kami tidak mempunyai garuda lagi. Aku baru saja keluar dari Pulau Es, baru mendapat ijin dari Paman setelah ber­ulang-ulang aku minta supaya diijinkan merantau. Aku ingin ke kota raja menca­ri dan menengok kuburan Ibuku. Akan tetapi sekarang bertemu denganmu, seba­iknya kita mencari Siang-mo-kiam, baru akan pergi ke kota raja. Marilah kita berangkat sebelum gelap, Bun Beng.”

“Baiklah, Nona.”

Mereka bangkit dan Kwi Hong berka­ta mencela. “Jangan sebut Nona, kenapa kau begini merendah? Menjemukann be­nar!”

“Habis, aku harus menyebut apa?”

“Apa kau tidak tahu namaku? Kalau kau mau bersahabat denganku, jangan merendah seolah-olah engkau ini orang bawahanku di Pulau Es. Sebut saja na­maku!”

“Baiklah.... Kwi Hong.” Hati Bun Beng girang sekali. Dara ini cantik menarik dan membuat hatinya berdebar aneh, membuat ia ingin selalu berdekatan dan bercakap-cakap dengannya. Pula, gadis inilah satu-satunya orang yang tidak me­nyebut-nyebut tentang kejahatan ayah­nya. Dan yang lebih dari semua itu, ga­dis ini adalah murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, orang yang dika­gumi dan dipuja di dalam hati. “Tempat itu dahulu kutemukan setelah aku terja­tuh ke dalam pusaran maut di Sungai Huang-ho, sebuah gunung yang aneh dan terletak dekat laut. Tentu tidak jauh dari muara sungai. Sebaiknya kita men­cari jejak mulai dari pulau di tengah muara sungai dari mana aku terlempar dan jatuh ke dalam pusaran maut.”

“Baik, memang mestinya begitu. Ka­lau tidak dapat menemukan tempat itu melalui darat, kita harus mengikutije­jakmu dahulu melalui pusaran maut.”

Bun Beng terbelalak. “Apa....? Wah, itu berbahaya sekali, Kwi Hong!”

Gadis itu memandangnya dan menggeleng kepala. “Engkau pun tidak mati, bu­kan? Nah, kalau di waktu masih kecil dahulu saja bisa sampai di tempat itu melalui pusaran maut dengan selamat, mengapa sekarang tidak?”

“Ah, dahulu lain lagi. Aku terlempar ke sana bukan atas kehendakku, dan aku setengah pingsan ketika terbawa pusar­an, agaknya memang Tuhan tidak meng­hendaki aku mati di waktu itu. Kalau sekarang aku harus terjun ke sana, hiiiiiih.... ngeri sekali, aku tidak berani.”

Kwi Hong cemberut. “Kalau kau ti­dak berani, aku berani! Pedang Siang-mo-kiam itu terlalu penting untuk dibi­arkan di tempat itu. Terlalu berharga untuk dicari dengan taruhan nyawa. Ka­lau bisa kudapatkan dan kuperlihatkan kepada Paman, tentu dia akan girang sekali karena Paman pernah bilang bah­wa kalau sepasang pedang iblis itu sam­pai muncul di dunia dalam tangan orang-orang sesat, sukar untuk ditundukkan dan di dunia pasti akan kacau balau dan kejahatan merajalela. Nah, kau tahu be­tapa besarnya arti kedua pedang itu, dan betapa pentingnya untuk didapatkan kembali.”

Mereka mulai melakukan perjalanan dan Kwi Hong yang menjadi penunjuk jalan sampai mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho. Akan tetapi malam sudah ti­ba ketika mereka sampai di tepi sungai.

“Kita bermalam di tepi sungai ini, besok baru kita melanjutkan,” kata ga­dis itu.

Bun Beng lalu mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun. Tepi sungai itu sunyi senyap, akan tetapi me­nyenangkan sekali bagi Bun Beng. Tem­patnya bersih, tanahnya tertutup rumput hijau seperti permadani, pohon-pohon dan bunga-bunga mendatangkan bau yang se­dap dan segar, dan bulan hampir bulat muncul tak lama kemudian, membuat tempat itu menjadi indah, romantis, dan menyenangkan. Tentu saja ia tidak sadar bahwa yang membuat keadaan menja­di demikian indah adalah hadirnya Kwi Hong karena kalau tidak ada gadis itu di sana, belum tentu tempat sunyi ini akan tampak seindah malam itu!

Mereka duduk menghadapi api unggun. Enak dan nyaman, hangat. Bun Beng duduk melamun, merasa betapa selama hidupnya, baru sekarang inilah ia menga­lami kebahagiaan, merasa betapa senang­nya hidup!

“Eh, Bun Beng, kenapa melamun saja kau?”

Bun Beng terkejut dan sadar dari la­munanpya yang mengangkatnya ke angka­sa. Ia memandang dan tidak dapat men­jawab karena sepasang mata yang terke­na sinar api unggun itu kelihatan begitu indah dan tajam berkilau.

“Apa perutmu tidak lapar?” Gadis itu bertanya ketika melihat pemuda itu ha­nya melongo.

Mendengar ini, kontan perut Bun Beng berbunyi, seolah-olah menjawab perta­nyaan itu. Dengan gugup ia menekan perut dengan tangannya sambil memaki dalam hati kepada perutnya yang tak ta­hu malu. Memang ia merasa lapar seka­li. Apalagi hawa begitu nyaman, peman­dangan begitu indah, membuat perut yang kosong terasa sekali.

“Heiii! Bagaimana?” Gadis itu kembali bertanya, menahan geli hatinya kare­na telinganya yang berpendengaran tajam dapat menangkap perut yang berkokok tadi.

“He? Apa?” Bun Beng bertanya gu­gup, masih merasa malu oleh perutnya.

“Lapar tidak?”

“Lapar sekali, Kwi Hong tapi.... ma­kan apa....?”

“Betapa bodohnya! Ikan berkeliaran di dalam sungai masih bertanya makan apa?”

Bun Beng teringat dan meloncat ba­ngun. “Tepat sekali! Mengapa aku begi­tu bodoh dan pelupa? Ikan-ikan yang mengeroyokku siang tadi! Aku harus membalas dendam, setidaknya kutangkap seekor, kupanggang sampai matang dan kita ganyang dagingnya!” Setelah berka­ta demikian, ia lari ke pinggir sungai dan langsung meloncat ke sungai.

“Byurrrr!” Air muncrat tinggi dan Kwi Hong terbelalak, kemudian tertawa ter­pingkal-pingkal dan menggeleng-geleng kepala. “Sungguh orang aneh,” gumamnya sambil berdiri di pinggir sungai menonton Bun Beng yang menyelam hendak menangkap ikan begitu saja dengan ke­dua tangan, lengkap dengan pakaiannya, bahkan sepatunya tidak dicopot!

Akan tetapi ia kagum ketika tak la­ma kemudian Bun Beng sudah muncul lagi, memondong seekor ikan yang besar­nya sebantal dan melemparkan ikan itu ke darat! Ikan itu menggelepar-gelepar di darat dan Bun Beng sudah berenang ke pinggir lalu mendarat pula, tersenyum lebar, pakaiannya basah kuyup, air mene­tes-netes dari seluruh pakaiannya, ram­butnya pun basah kuyup dan kuncirnya melibat leher.

“Aihh, ikan besar ini mana bisa kita menghabiskannya? Dan bagaimana pula membersihkan isi perutnya, kaulah yang melakukannya itu, nanti aku yang me­manggangnya.”

“Jangan khawatir, Kwi Hong. Kalau tidak ada pisau, batu karang pun cukup tajam dan runcing.” Dengan gembira Bun Beng lalu mencari batu karang yang keras, menghampiri ikan. Sekali pukul dengan batu pecahlah kepala ikan itu dan ia segera membelah perut ikan dengan batu yang tajam, membuang isi perutnya ke sungai dan membersihkan kulit ikan yang tak bersisik itu dengan gosokan batu karang.

Kwi Hong sudah menyediakan sebuah ranting, menusuk ikan besar itu dari mulut sampai menembus ekor, kemudian memanggangnya di atas api unggun sam­bil menanti Bun Beng mencuci tangan­nya ke air sungai. Setelah pemuda itu duduk dekat api, dia mencela.

“Kau ini aneh sekali, mengapa me­nangkap ikan begitu saja dengan mema­kai pakaian lengkap? Lihat, pakaian dan sepatumu basah kuyup, tentu dingin se­kali. Sebaiknya kaubuka dan peras pakai­anmu, panggang dekat api biar kering.”

Muka Bun Beng tiba-tiba berubah merah. Bagaimana dia bisa menanggal­kan pakaian di depan gadis itu? “Biar­lah, diperas begini pun bisa, dan kalau aku duduk dekat api, sebentar juga ke­ring.” Ia memeras rambut dan pakaian­nya, melepas sepatunya dan menggeser duduknya dekat api. Beberapa kali Kwi Hong melirik kepadanya dengan pandang mata penuh rasa heran. Pemuda ini aneh sekali. Kadang-kadang pendiam dan canggung, akan tetapi gerak-geriknya amat menarik hatinya.

Bau sedap daging ikan dipanggang menusuk hidung, langsung merangsang se­lera mulut dan menambah lapar perut. Setelah matang, kedua orang itu lalu menyerbu daging ikan yang terasa sedap dan gurih sekali. Hanya separuh terma­kan oleh mereka. Terpaksa sisanya me­reka buang lagi ke sungai.

“Sayang air sungai begitu kotor, ba­gaimana bisa minum?” Kwi Hong berta­nya sambil mencuci tangannya yang pe­nuh minyak ikan, juga mengusap bibir­nya dengan air sungai, kemudian meng­gosoknya dengan saputangan.

“Aku akan mencari buah!” Berkata demikian, Bun Beng meloncat dan lari pergi, mencari-cari pohon yang ada bu­ahnya. Sampai jauh ia meninggalkan te­pi sungai itu dan untung bahwa bulan bersinar terang sehingga akhirnya sete­lah payah mencari-cari, ia datang lagi membawa beberapa butir buah yang sudah masak.

Kemudian, keduanya duduk mengha­dapi api unggun yang menjadi makin besar setelah ditambah daun kering dan kayu oleh Kwi Hong. Hawa yang hangat, perut yang kenyang, membuat gadis itu merasa mengantuk dan ia menguap di belakang telapak tangannya.

“Ahhh, aku ingin tidur. Kau berjaga­lah dulu, Bun Beng sambil mengeringkan pakaianmu. Nanti aku giliran menjaga dan kau tidur. Di tempat seperti ini, apalagi baru saja kita bertemu dengan siucai sinting dan gurunya, tidak boleh kita berdua tidur semua tanpa ada yang menjaga.”

“Baik, kau tidurlah, Kwi Hong. Aku tidak mengantuk dan aku akan menjagamu.”

Kwi Hong mundur agak menjauhi api unggun, kemudian merebahkan dirinya, miring menghadapkan mukanya ke api unggun dan memejamkan kedua mata­nya. Bun Beng kini berani menatap wa­jah itu sepuas hatinya. Entah mengapa dia sendiri tidak mengerti, menyaksikan wajah yang kemerahan, dengan rambut yang agak mawut dan sebagian terurai menutup pipi dan dahi, melihat bulu ma­ta yang menjadi panjang dan tebal mem­bentuk bayang-bayang di pipi, hidung yang mancung dan cupingnya bergerak sedikit ketika bernapas dalam-dalam, bibir yang merah dan mengkilap terkena minyak daging ikan, ia merasa terharu sekali. Ia membandingkan wajah ini de­ngan wajah Ang Siok Bi, puteri Ketua Bu-tong-pai yang pernah menarik hati­nya. Keduanya sama cantik dan memi­liki daya tarik masing-masing. Akan te­tapi, melihat Kwi Hong tertidur tak jauh di depannya, ia harus mengaku bahwa Kwi Hong lebih cantik jelita. Teringat­lah ia betapa dalam keadaan mengha­dapi maut, hanya tiga wajah orang yang terbayang olehnya. Wajah Kwi Hong, wajah Siok Bi dan wajah Milana! Akan tetapi, ketika itu ia membayangkan wa­jah Kwi Hong dan Milana di waktu mere­ka masih kecil. Betapa jauh perbedaan­nya setelah ia bertemu dengan Kwi Hong sekarang, demikian cantik dan me­narik!

Tiba-tiba Bun Beng mengutuk diri sendiri di dalam batinnya. Mengapa ia membayangkan wajah wanita-wanita can­tik? Celaka, inikah yang membuat ayah­nya dahulu memperkosa ibunya? Ia bergi­dik ketika merasa betapa ada hasrat di hatinya untuk memeluk tubuh wanita yang berbaring di depannya itu, ingin mencium pipi itu, bibir itu! Keparat! Ingin ia menghantam kepalanya sendiri, menghancurkan kepala yang berisi pikir­an busuk itu. Apakah ia mewarisi watak ayahnya? Tidak! Ayahnya telah disebut datuk kaum sesat, tentu merupakan se­orang yang sesat kelakuannya. Buktinya sampai memperkosa ibunya! Dia tidak akan melakukan hal seperti itu! Biarpun dia tertarik akan wanita-wanita cantik, dia akan memerangi perasaannya sendiri dan mencegah agar jangan sampai ia melakukan perbuatan terkutuk! Ia harus memilih seorang di antara mereka, bukan untuk diperkosa, bukan untuk dipermain­kan, melainkan untuk dijadikan isteri! Kwi Hong ini! Ah, betapa akan bahagia hatinya kalau ia dapat memperisteri Kwi Hong.

Kwi Hong mengeluh perlahan dan menghela napas panjang, agaknya mimpi. Keluhan lirih dan helaan napas itu mem­buat dara itu tampak makin menarik sehingga Bun Beng terpaksa membuang muka, tidak kuat memandang lebih jauh karena jantungnya sudah berdenyut ke­ras.

Memang tidak terlalu dapat disalah­kan kalau Bun Beng diamuk nafsu bera­hi dan cinta. Usianya sudah cukup dewa­sa, sudah dua puluh dua tahun lebih. Dalam usia sebanyak itu, tentu saja tim­bul perasaan ini dan masih mengagum­kan bahwa dia dapat menahan diri kalau diingat bahwa sejak kecil dia tidak per­nah menerima pendidikan tentang susila, tidak pernah menerima pendidikan ayah bunda sendiri. Untung bahwa ia digem­bleng oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-pai sehingga batinnya cukup kuat, biarpun darahnya, darah ayahnya yang panas membuat ia condong untuk melakukan perbuatan menyeleweng. Namun, justeru nama buruk ayahnya membuat ia berke­ras hati untuk menebus semua kesalahan ayahnya dengan perbuatan baik, bukan menambah kotor nama ayahnya dengan perbuatan seperti yang pernah dilakukan ayahnya.

Betapa bahagianya kalau ia dapat menjadi suami Kwi Hong, pikirnya lagi setelah hatinya tenang dan dia berani lagi memandang wajah Kwi Hong. Gadis itu kini telah rebah terlentang sehingga nampak tonjolan dadanya yang turun naik kalau bernapas lembut. Bibir itu setengah terbuka, seperti tersenyum me­nantang!

Betapa cantik jelitanya, betapa ga­gah perkasanya. Tadi telah dia saksikan sendiri betapa lihai gadis ini. Dia sendi­ri meragukan apakah dia akan mampu melawan Kwi Hong. Betapa tidak gagah perkasa dan lihai kalau diingat bahwa dara ini adalah keponakan dan murid Pendekar Super Sakti! Tiba-tiba Bun Beng tertegun dan mengerutkan alisnya. Keponakan Pendekar Siluman! Aihhh, dia telah melamun terlalu jauh. Bagaimana mungkin dia dapat menjadi suami kepo­nakan Majikan Pulau Es? Mentertawa­kan! Dia, seorang anak yatim-piatu, bah­kan disebut anak haram, putera mendi­ang datuk kaum sesat yang disebut Setan Botak, mana mungkin berjodoh dengan keponakan Majikan Pulau Es yang ber­kedudukan tinggi?

“Aihhhh, pikiran yang bukan-bukan,” ia menarik napas panjang, berusaha mengusir keinginan hati yang tak mung­kin terpenuhi itu. Ia memaksa diri un­tuk mengalihkan keinginan hatinya. Ba­gaimana kalau Milana? Lebih tak masuk di akal! Tanpa disengaja, ia telah menyaksikan peristiwa hebat yang mungkin menjadi rahasia Pendekar Siluman, Mila­na adalah puteri Pendekar Siluman itu! Puterinya dari seorang ibu yang amat cantik dan amat sakti! Lebih tidak mungkin lagi. Baik Kwi Hong, apalagi Milana, tidak mungkin menjadi jodohnya. Kedudukan mereka terlalu tinggi bagi­nya, seperti merindukan bintang-bintang di langit saja! Tinggal seorang lagi, Ang Siok Bi! Dia itulah yang tidak begitu tinggi kedudukannya, akan tetapi hal ini kalau dibandingkan dengan Kwi Hong atau Milana, kalau dibandingkan dengan dia, bahkan Siok Bi masih terlalu tinggi untuknya. Puteri Ketua Bu-tong-pai! Aihh, dia mimpi di siang hari! Tidak ada harapan seujung rambut pun!

“Dasar manusia tak tahu diri engkau!” Bun Beng berbisik dan menjambak kun­cirnya, merasa terpukul dan rendah. Ia merenung memandang api unggun, diam-diam mengeluh dan menyalahkan ayah bundanya yang telah tiada.

“Sudahlah, aku manusia yang tiada harganya. Akan tetapi akan kubuktikan kepada mereka semua, kepada dunia kang-ouw bahwa biarpun ayahku seorang manusia sejahat-jahat dan serendah-rendahnya, aku tidaklah serendah itu. Aku akan membuktikan bahwa aku mampu melaku­kan hal-hal yang layak dilakukan seorang pendekar besar!”

Pikiran ini sedikitnya menghibur hati­nya yang perih. Terhiburlah dia bahwa kini dia akan menyerahkan sebuah di antara Siang-mo-kiam kepada murid dan keponakan Majikan Pulau Es. Sepasang pedang itu diperebutkan oleh orang sedu­nia kang-ouw, bahkan Pendekar Siluman sendiri mencari-cari tanpa hasil. Kini dia yang berhasil menemukannya dan menye­rahkan sebuah di antaranya kepada mu­rid dan keponakan Majikan Pulau Es, bukankah hal ini sudah merupakan jasa yang besar? Dan dia akan melangkah le­bih jauh lagi. Dia akan melakukan hal-hal yang besar, biarpun saat itu dia belum tahu apa gerangan hal-hal yang be­sar itu.

Bun Beng menambahkan kayu kering sehingga api unggun membesar. Pakaian­nya sudah kering dan ia merasa tubuh­nya hangat. Malam telah amat larut, akan tetapi dia tidak mau membangunkan Kwi Hong. Biarlah dia yang berjaga sam­pai pagi. Tidak tega dia mengganggu ga­dis itu yang tidur dengan nyenyaknya. Ia bersandar pada batang pohon, kadang-kadang menambah kayu pada api unggun, menjaga agar api itu tidak padam.

Pada keesokan harinya ketika terdengar kokok ayam hutan dan kegelapan malam mulai terusir oleh sinar matahari pagi yang kemerahan, Kwi Hong bangun dari tidurnya. Ia mengusap kedua mata­nya dan begitu membuka mata melihat bahwa malam telah berganti pagi, meli­hat pula Bun Beng masih duduk bersan­dar pohon dekat api unggun, ia melon­cat bangun dan membentak.

“Bun Beng, kau terlalu sekali!”

Bun Beng tersenyum, dia tidak mera­sa aneh lagi menyaksikan sikap gadis yang begitu mudah berubah seperti angin ini, tiba-tiba saja marah, kemudian marahnya berganti sikap ramah. Benar-benar seorang gadis yang penuh sema­ngat berapi-api, “Maaf, Kwi Hong, apakah salahku?”

“Masih bertanya apa salahnya lagi! Enak-enak duduk semalam suntuk, mem­biarkan orang tertidur sampai pagi. Mengapa tidak kaubangunkan aku agar aku berganti melakukan penjagaan?”

“Aah, tidak mengapa, Kwi Hong. Aku tidak mengantuk dan kau.... tidurmu enak benar, tidak tega aku membangunkanmu.”

Gadis itu memandang aneh. “Menga­pa kau menyiksa diri untukku? Kau ti­dak tidur sama sekali?”

Ucapan “karena aku cinta padamu” sudah berada di ujung lidah Bun Beng, na­mun cepat ditelannya kembali. “Aku du­duk beristirahat sama dengan tidur. Urusan kecil ini masa mesti dibesar-besarkan?”

“Biarpun urusan kecil, akan tetapi aku tidak mau dikatakan tidak adil. La­in kali aku tidak mau begini, engkau harus tidur lebih dulu. Kau membikin aku merasa tidak enak saja!” Dengan uring-uringan Kwi Hong lalu pergi men­cari sumber air untuk mencuci muka. Setelah ia kembali, ia melihat Bun Beng sudah mencuci muka di air Sungai Huang-ho.

“Mari kita melanjutkan perjalanan,” kata Kwi Hong dan berangkatlah mere­ka menuju ke jurusan timur, ke arah muara Sungai Huang-ho. Tak lama kemu­dian Bun Beng mengenal daerah di ma­na dahulu dia dan suhunya, mendiang Siauw Lam Hwesio, berperahu menuju ke muara sungai. Peristiwa beberapa ta­hun yang lalu seperti terjadi kemarin saja dan teringat akan nasib gurunya, mukanya menjadi berduka dan ia menarik napas panjang.

“Mengapa kau berduka?” Tiba-tiba Kwi Hong bertanya tidak galak lagi se­perti tadi, melainkan halus dan menaruh khawatir.

“Aku teringat kepada mendiang Guru­ku, Siauw Lam Hwesio. Dia tewas seca­ra menyedihkan sekali.” Dia lalu mence­ritakan tentang kematian gurunya di tangan koksu negara dan kaki tangannya. Kemudian menutup ceritanya, “Aku ha­rus membalas kematian Suhu. Kelak aku harus mencari Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan tiga orang pembantunya yang ikut membunuh Suhu, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Bhe Ti Kong!”

Kwi Hong mendengarkan penuh perha­tian, kemudian menghela napas panjang. “Wah, musuh-musuhmu bukanlah orang sembarangan. Kedua orang pendeta La­ma itu menurut Paman memiliki ilmu kepandaian tinggi apalagi Im-kan Seng-jin! Lawan-lawan yang amat berat dan sakti.”

“Aku tidak takut dan aku harus men­cari mereka.”

“Aku pun tidak takut, hanya bilang bahwa mereka lihai. Kelak aku akan membantumu, Bun Beng.”

Bun Beng menoleh dan mereka ber­pandangan. Melihat sinar mata penuh ra­sa syukur dan berterima kasih dari pe­muda itu, Si Dara membuang muka de­ngan perasaan jengah. “Biarpun mereka bukan musuhmu, aku pun akan menen­tang mereka dan Thian-liong-pang, dan Pulau Neraka!” katanya menambahkan, seolah-olah hendak mengalihkan perhati­an Bun Beng bahwa dia menentang mereka bukan semata-mata untuk memban­tu Si Pemuda.

Mereka berjalan terus, berjalan ce­pat karena mereka kini mempergunakan ilmu lari cepat setelah Bun Beng menga­takan bahwa pulau di muara sungai itu tidak jauh lagi.

“Nah, itu dia pulaunya, dan di sana­lah pusaran maut itu!” Bun Beng berteriak menuding dan mereka berlari cepat menghampiri pantai dari mana tampak pulau kecil di tengah muara yang dahu­lu menjadi medan pertempuran. Dari pantai itu tampak pula pusaran air dan Bun Beng masih bergidik ngeri melihat air berputar-putar itu, teringat akan pengalamannya beberapa tahun yang lalu.

“Lihat, Kwi Hong. Ketika terjadi per­tandingan di pulau itu, aku terlempar dari atas tebing itu, tepat jatuh di pu­saran maut.”

Kwi Hong mengerutkan alisnya. “Hemmm...., dan setelah kau keluar dari lorong air kau mendarat di lambung gu­nung katamu dahulu? Gunung yang de­kat dengan muara ini hanya sebelah sa­na itu. Kita harus menyeberang!”

Tempat itu sunyi sekali, akan tetapi dari jauh tampak layar-layar perahu ne­layan pencari ikan. Bun Beng yang lebih senang kalau mencari pedang-pedang itu tidak melalui pusaran air, cepat berlari ke bawah dan akhirnya dapat memanggil seorang tukang perahu. Dengan biaya ri­ngan mereka dapat diseberangkan oleh nelayan itu dan melanjutkan perjalanan mendaki gunung karang yang sukar dila­lui. Namun berkat kepandaian mereka, mereka dapat juga mendaki dan setelah tiba di sebuah puncak batu karang yang tinggi, Bun Beng meloncat naik dan me­mandang ke sekeliling, mencari-cari. Akhirnya ia berseru giiang. “Nah, di sa­na itu agaknya, di seberang jurang lebar itu. Benar, tak salah lagi, itu yang tampak seperti gerombolan tentulah hutan-hutan di mana mereka mencari akar dan daun obat! Dari sanalah aku diter­bangkan rajawali. Nah, sungai berada di sana dan gunung yang puncaknya tinggi itulah tempat aku melayang.... ahhh, ti­dak salah lagi. Mari kita ke sana!”

Akan tetapi, kegirangan Bun Beng yang mengenal tempat itu harus ditebus mahal sekali untuk menjadi kenyataan. Perjalanan amat sukar. Kadang-kadang mereka harus menuruni jurang yang amat dalam, melalui perjalanan yang curam dan kadang-kadang mereka harus menda­ki batu karang yang runcing tajam mengakibatkan luka-luka pada telapak tangan. Sepatu mereka juga pecah-pecah. Malam itu terpaksa mereka harus berma­lam di antara batu-batu karang gundul dan terpaksa melalui malam dingin seka­1i tanpa api unggun karena di daerah di mana mereka bermalam itu tidak terda­pat sepotong pun kayu. Juga perut mere­ka lapar bukan main, namun semangat mereka tetap tinggi. Kini Kwi Hong me­maksa Bun Beng supaya tidur lebih dulu, akan tetapi betapa mendongkol dan me­nyesal hati Bun Beng ketika dia terbangun, ternyata hari telah menjadi pagi dan dara itu “membalas dendam” tidak mau membangunkannya dan berjaga se­malam suntuk. Ia mendongkol dan juga terharu sekali. Mereka baru saja melaku­kan perjalanan yang melelahkan namun gadis itu bersikeras berjaga semalam suntuk.

“Aihh, Kwi Hong. Mengapa kau begi­ni sungkan, sedangkan kita telah menja­di sahabat dan mengalami kesukaran bersama?”

“Tidak akan puas hatiku kalau belum membalas. Aku paling tidak suka kalau merasa diri tidak adil. Setelah memba­las, tentu saja hatiku lega dan lain kali kau harus tidak bersikap mengalah dan sungkan pula seperti yang kaulakukan malam kemarin.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Ma­kin dekat tempat itu, makin yakinlah hati Bun Beng bahwa dia tidak keliru. Lewat tengah hari, kedua orang muda ini mendaki tebing tinggi menuju ke da­ratan di atas di mana dahulu para pemu­ja Sun-go-kong menyerahkan keranjang-keranjang obat kepada burung-burung ra­jawali dari Pulau Neraka! Baru saja mereka meloncat ke puncak yang datar itu, tiba-tiba menyambar banyak senjata rahasia yang ternyata adalah batu-batu karang kecil dari depan. Dengan mudah keduanya mengelak dan Bun Beng berte­riak.

“Harap Cu-wi tidak menyerang! Aku Gak Bun Beng!”

Dari balik semak-semak bermunculan delapan belas orang. Ketika mereka me­lihat Bun Beng, orang-orang itu berteri­ak sambil lari menghampiri dan semua menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pemuda itu. “Ah, kiranya Gak-inkong yang datang! Kami bersyukur sekali, In-kong. Kami melihat betapa In-kong diterbangkan burung rajawali dan mengira Gak-inkong sudah tewas....!”

Bun Beng tersenyum lebar. “Memang nyaris aku tewas, syukur Tuhan belum menghendaki demikian. Apakah Cu-wi baik-baik saja?”

“Terima kasih, In-kong. Semenjak pe­ristiwa dahulu itu, kami tidak lagi mengalami gangguan, agaknya Dewa Sun-go-kong melindungi kami.”

Mendengar ini, Bun Beng melirik ke­pada Kwi Hong dan gadis ini yang su­dah mendengar tentang para pemuja Si­luman Kera itu tersenyum. Gadis ini sebagai murid Pendekar Super Sakti, berhati polos dan jujur, maka tanpa ragu-ragu lagi ia berkata,

“Sun-go-kong hanyalah tokoh dalam dongeng See-yu, mengapa kalian me­nyembah dan memujanya? Betapa bodoh­nya kalian ini orang-orang tua memuja tokoh dongeng kanak-kanak!”

Delapan belas orang yang kini sudah bangkit berdiri memandang kepada Kwi Hong dengan alis berkerut tanda tidak senang hati. “Hemm, Nona yang masih muda...., kalau saja engkau tidak datang bersama Gak-inkong dan menjadi sahabat­nya, tentu kami tidak membiarkan kau berkata selancang itu. Semua dewa yang dipuja memang hanyalah tokoh dongeng. Yang penting bukanlah tokoh dongeng­nya, melainkan hati si pemujanya! Gak-inkong, apakah Nona ini sahabatmu? Ka­lau bukan, dia tidak kami perkenankan berada di sini!”

Bun Beng diam-diam merasa menye­sal mengapa Kwi Hong berlancang mu­lut, namun dia pun tidak dapat menyalahkan dara itu yang memang suka bica­ra terang-terangan menurutkan kata ha­tinya. “Dia sahabat baikku, harap Cu-wi suka memaafkannya.”

Wajah delapan belas orang itu menja­di cerah kembali dan mereka sudah me­maafkan Kwi Hong. Bahkan seorang di antara mereka, yang termuda, maju dan berkata sambil tertawa, “Sahabat baik Gak-inkong? Ha-ha cocok sekali. Cantik jelita dan patut menjadi sisihan In-kong yang tampan....”

“Plak! Aduh!” Orang itu terguling dan meraba pipinya yang sudah menjadi bengkak oleh tamparan Kwi Hong. Ge­rakan tangan dara itu cepat bukan ma­in sehingga orang yang ditamparnya hampir tidak tahu bahwa dia ditampar, disangkanya ada halilintar menyambar pipinya! Teman-temannya menjadi ma­rah dan mereka sudah mengepal tinju, siap mengeroyok Kwi Hong sungguhpun diam-diam mereka terheran-heran. Mere­ka telah mempelajari Ilmu Sin-kauw-kun-hoat yang diberikan oleh Dewa Sun-go-kong kepada mereka, dan ilmu silat ini mengutamakan kegesitan sehingga mere­ka semua adalah ahli-ahli mengelak pu­kulan. Mengapa teman mereka tadi begi­tu mudah kena ditampar oleh dara ini?

“Tahan, Cu-wi sekalian! Nona ini ada­lah murid Pendekar Super Sakti, To-cu Pulau Es, harap Cu-wi tidak menimbul­kan pertentangan!”

“Murid Pendekar Siluman....?” Terdengar seruan-seruan mereka dan semua orang memandang dengan mata terbela­lak. Sebagai pejuang, tentu saja mereka sudah mendengar nama Pendekar Silu­man yang dulu pernah menggegerkan musuh di Se-cuan dan orang tertua dari mereka segera mengangkat tangan mem­beri hormat kepada Kwi Hong sambil berkata,

“Mohon maaf, karena tidak menge­nal kami bersikap kurang hormat kepada Lihiap.” Kemudian ia menghadapi Bun Beng dan bertanya, “Setelah bertahun-tahun In-kong meninggalkan kami, seka­rang In-kong datang dengan tiba-tiba, apakah yang dapat kami lakukan untuk membantu In-kong dan Lihiap ini?”

Bun Beng tersenyum. “Terima kasih atas kebaikan Cu-wi sekalian. Aku da­tang hanya untuk menengok dan teruta­ma sekali untuk mengambil sesuatu yang dahulu kusimpan di tempat ini. Harap Cu-wi tidak repot dan aku bersama No­na ini akan mencari dan mengambil sen­diri benda yang kusimpan itu.”

Orang-orang itu saling pandang. Mereka tidak tahu benda apakah yang di­simpan oleh Bun Beng di situ, akan te­tapi orang tertua dari mereka menjawab, “Silakan In-kong.”

“Mari, Kwi Hong!” kata Bun Beng dengan sikap gembira. Nona itu pun me­rasa gembira dan hatinya tegang, me­lompat dan mengikuti Bun Beng mening­galkan tebing itu, berlari-lari ke arah gunung di mana terdapat guha-guha ba­tu yang sebagian besar tertutup alang-alang tinggi dan lebat.

Dengan hati berdebar Bun Beng mengajak gadis itu pergi ke daerah gu­ha ini yang jauh juga dari tebing sehing­ga sekumpulan orang pemuja Sun-go-kong itu tidak tampak lagi, kemudian dengan mudah ia mencari guha kecil yang ia tutup dengan tumpukan sehingga sama sekali tidak kelihatan dari luar. Tanpa berkata sesuatu ia membongkar batu-batu itu, dibantu oleh Kwi Hong yang juga menjadi tegang hatinya. Siapa yang tidak berdebar hatinya kalau mengi­ngat bahwa Sepasang Pedang Iblis itu berada di belakang tumpukan batu? Sepasang Pedang Iblis yang diperebutkan orang sedunia kang-ouw, bahkan yang di­cari-cari tanpa hasil oleh pamannya!

Setelah tumpukan batu yang menu­tupi guha itu terbongkar semua, Bun Beng berseru girang melihat bungkusan kain yang kuning dan kotor. Ia menge­nal itu, sehelai baju yang dipakai mem­bungkus sepasang pedang. Baju itu sudah rusak dan kotor sekali, akan tetapi dengan penuh gairah Bun Beng menariknya dan dengan kedua tangan gemetar ia membuka bungkusan kain butut. Ternya­ta sepasang pedang itu masih utuh, seba­tang agak pendek, sebatang lagi lebih panjang, akan tetapi bentuk gagang dan sarung pedangnya serupa. Ia menyerah­kan yang pendek kepada Kwi Hong tan­pa bicara.

Bersama-sama mereka meneliti pedang itu dan membaca huruf-huruf kecil yang terukir di dekat gagang.

“Yang pendek ini adalah Li-mo-kiam (Pedang Iblis Betina)....” kata Kwi Hong setelah membaca huruf-huruf di pedang­nya.

“Dan ini adalah Lam-mo-kiam (Pedang Iblis Jantan)....” kata Bun Beng.

“Tepat seperti yang diceritakan Pa­man, ini adalah sepasang....”

“Sepasang Pedang Iblis! Ha-ha-ha, harus diberikan kepadaku!”

Bun Beng dan Kwi Hong terkejut bukan main mendengar suara di belakang mereka itu. Mereka cepat membalikkan tubuh dan ternyata yang tertawa dan bi­cara tadi adalah kakek India bersorban bersama muridnya Si Siucai Sinting! Bun Beng maklum bahwa mereka menghadapi bahaya besar dan dalam beberapa detik saja otaknya bekerja cepat, lalu ia ber­bisik kepada Kwi Hong. “Kau bawa se­mua pedang ini, serahkan Pamanmu, bi­ar aku menahan....”

“Tidak....” Kwi Hong berbisik pula dan menolak pedang panjang yang diang­surkan kepadanya, “kita pergunakan pe­dang ini untuk melawan bersama. Pula, kalau kita masing-masing memegang sa­tu, pedang itu berpencar dan kalau terampas orang tidak keduanya.”

“Ha-ha-ha-ha! Orang-orang muda, su­dah lama aku mencari Sepasang Pedang Iblis, dan melihat gerak-gerikmu kema­rin, aku sudah curiga maka diam-diam kami membayangi kalian. Siapa kira, benar saja kalian telah menemukan Sepa­sang Pedang Iblis, ha-ha-ha-ha!”

“Maharya!” Tiba-tiba Kwi Hong mem­bentak marah. “Seorang tua bangka ma­cam engkau ini apakah tidak tahu pera­turan dunia kang-ouw? Dalam berlomba mencari pusaka, siapa yang mendapat­kannya berarti sudah berjodoh! Kami su­dah mendapatkannya dan pusaka ini adalah milik kami!”

“Ha-ha-ha, bocah perempuan sungguh tajam matamu, dapat mengenal aku! Akan tetapi engkau tidak tahu riwayat Sepasang Pedang Iblis. Sepasang pedang itu adalah hak milikku. Karena itu, su­dah semestinya kalian berikan kepada Maharya!” kakek India yang kini sudah pandai bicara bahasa daerah itu berkata dengan lidah kaku.

“Sombong dan pembohong besar eng­kau! Sepasang Pedang Iblis ini adalah milik pribadi Pendekar Wanita Sakti Mutiara Hitam yang menjadi pujaan Pa­manku, To-cu dari Pulau Es. Kemudian pusaka-pusaka ini diwariskan kepada ke­dua muridnya, kemudian ditemukan oleh Paman dan dikubur bersama jenazah ke­dua murid Mutiara Hitam. Setelah itu lenyap dan akhirnya kami yang menemu­kannya kembali. Bagaimana kau berani bilang menjadi milikmu? Tak tahu malu!”

Sasterawan sinting itu meloncat ke depan. “Ah, dia ini keponakan Suma Han si jahanam keparat? Guru, kita tangkap dia dan siksa sampai mati, biar terasa oleh Suma Han siluman keparat itu!”

Kwi Hong mendelik saking marahnya dan telunjuk kirinya menuding ke arah sasterawan itu. “Engkau Tan Ki orang gila! Paman sudah menceritakan kepada­ku tentang engkau! Tunanganmu, Lu Soan Li tewas dalam perjuangan sebagai se­orang wanita pendekar yang gagah per­kasa, akan tetapi engkau ini manusia gila telah menyalahkan Paman, bahkan menjadi murid kakek iblis ini membunuh Kakek Nayakavhira dan mencuri pedang Hok-mo-kiam. Sekarang harus kaukemba­likan pedang pusaka itu atau kau akan mampus di tanganku!”

“Ha-ha-ha! Bocah ini sombong sekali! Eh, bocah yang manis dan galak, engkau tidak tahu. Biarpun Sepasang Pedang Iblis itu dibuat atas perintah Mutiara Hitam, akan tetapi pembuatnya adalah Kakekku Mahendra, maka akulah yang berhak memilikinya. Lebih baik kalian berikan sepasang pedang itu dan aku akan dapat membujuk muridku untuk membebaskan kalian berdua.”

“Singggg!”

“Sratttt!”

Tampak dua sinar berkilat ketika Bun Beng dan Kwi Hong mencabut pe­dang masig-masing. Sinar ini amat terang sehingga mengejutkan Bun Beng dan Kwi Hong sendiri. Maharya terbelalak kagum dan tertawa lebar saking girangnya. “Sa­dhu! Sepasang Pedang Iblis yang mulia!” Ia berkata, kemudian menoleh kepada mu­ridnya, “Pergunakan Hok-mo-kiam, mari kita rampas sepasang pedang ini!” Ia sendiri sudah memakai sarung tangan emas dan mengeluarkan senjata hidup­nya, yaitu ular putih yang berbahaya.

“Kwi Hong, kauhadapi Siucai gila itu dan coba rampas pedangnya, biar aku menghalau kakek iblis ini!” kata Bun Beng dan tanpa menanti jawaban ia sudah menerjang maju, menyerang Maharya dengan Lam-mo-kiam yang mengeluarkan sinar seperti kilat me­nyambar. Maharya terkejut dan cepat meloncat ke belakang tidak berani sem­barangan menangkis karena ia maklum bahwa pedang buatan kakeknya itu be­nar-benar merupakan sebatang pedang yang amat ampuh. Bun Beng tidak memberi hati, meloncat ke depan dan mela­kukan serangan bertubi-tubi. Dia harus dapat menahan kakek ini untuk memberi kesempatan kepada Kwi Hong mengha­dapi Tan-siucai yang lebih lemah diban­dingkan dengan gurunya yang sakti ini.

Sementara itu, Tan-siucai sudah men­cabut Hok-mo-kiam dan tampak sinar kilat yang lebih terang daripada sinar Sepasang Pedang Iblis, akan tetapi tidak mendatangkan wibawa yang mendirikan bulu roma seperti sepasang pedang itu yang telah menghisap darah entah bera­pa ribu manusia. Kwi Hong cepat me­nerjang maju dengan Li-mo-kiam di ta­ngan, melakukan tusukan dan girang se­kali ketika merasa betapa pedang itu seolah-olah menambah tenaga pada ta­ngannya, begitu ringan dan seperti te­lah mendahului jurus yang ia mainkan untuk menyerang, seperti mempunyai nyawa dan terbang sendiri menuju ke arah lawan! Benar-benar sebatang pedang yang amat luar biasa!

“Cringggg....!” Bunga api berpijar me­nyilaukan mata ketika Li-mo-kiam bertemu dengan Hok-mo-kiam dan Kwi Hong terkejut karena merasa betapa pedang­nya tergetar, seolah-olah menggigil dan takut setelah bertemu dengan pedang la­wan. Padahal dia merasa bahwa dia ma­sih menang tenaga menghadapi Tan-siu­cai. Maka ia menjadi waspada dan teri­ngat bahwa pamannya dan mendiang Ka­kek Nayakavhira memang sengaja men­ciptakan Hok-mo-kiam untuk mengha­dapi dan melawan Sepasang Pedang Iblis! Di lain pihak, Tan-siucai terkejut sekali. Pedangnya hampir terlepas dari ta­ngannya ketika beradu dengan pedang la­wan, lengannya tergetar dan ia maklum bahwa ia harus berhati-hati sekali meng­hadapi keponakan Pendekar Siluman yang memiliki sin-kang amat kuat itu.

Setelah kini bertanding satu lawan satu dengan Kakek Maharya, Bun Beng harus mengaku dalam hati bahwa ting­kat kepandaiannya masih belum cukup untuk menandingi lawan yang sakti ini. Pantas saja kakek ini dahulu berani meng­hadapi Pendekar Siluman, kiranya memang memiliki gerakan aneh dan setiap gerakan tangannya mengandung hawa yang panas dan di balik hawa panas ini masih ada pengaruh mujijat yang membuat bu­lu tengkuk meremang seperti bukan ma­nusia yang ia lawan, melainkan iblis sen­diri. Bau harum aneh memuakkan yang keluar dari tubuh kakek tinggi kurus itu benar-benar membuat pikiran menjadi kacau. Untung bahwa sekali ini Bun Beng bersenjatakan Lam-mo-kiam yang juga memiliki wibawa amat mujijat seolah-olah dalam pedang itu ada penghuninya sehingga pengaruh pedang iblis ini sedikit banyak dapat mengimbangi pengaruh ka­kek India. Kalau dia tidak memegang senjata ampuh ini, agaknya dia tidak akan mampu melawan sampai lama menghadapi kakek yang selain mahir il­mu silat aneh juga mahir ilmu sihir itu. Bun Beng mainkan jurus-jurus ilmu pedang Siauw-lim-pai, mengerahkan se­luruh tenaga dan mainkan jurus-jurus pilihan yang jarang tandingnya, namun ka­kek itu selalu dapat mengelak dan me­nangkis dari samping dengan tangan kiri yang bersarung emas, sedangkan ular putih yang berbahaya itu menyambar-nyambar hendak menggigit, bahkan me­nyemburkan uap putih dengan suara men­desis-desis. Karena maklum bahwa sem­buran uap putih itu berbisa, Bun Beng kadang-kadang menahan napas dan mendorong dengan tangan kiri mengguna­kan hawa sin-kang untuk mengusir uap putih. Pertandingan berlangsung makin seru dan mati-matian. Bun Beng melihat mulut kakek itu berkemak-kemik, kemu­dian terdengar suara kakek itu tertawa bergelak. Ia terkejut bukan main, mera­sa betapa suara ketawa itu seolah-olah terdengar dari belakang punggungnya dan mendatangkan rasa dingin seperti es memasuki tulang punggung. Ia mengerah­kan sin-kang untuk menahan perasaan itu, dan ketika ia memecah tenaganya, kakek itu mendesak dengan serangan kedua tangannya. Ia menjadi sibuk dan tiba-tiba ketika kakek itu kembali terta­wa, ia terdorong oleh rasa yang amat kuat untuk ikut tertawa! Bun Beng yang cerdik masih ingat bahwa kakek ini mempergunakan sihir, maka ia melawan sekuat tenaga namun tetap saja mulut­nya tersenyum!

Mendadak sekali, suara ketawa kakek itu berubah menjadi tangis dan Bun Beng merasa jantungnya seperti disayat-sayat, perasaan terharu meliputi seluruh hatinya dan betapapun ia bertahan kuat-kuat, dua titik air mata jatuh ke atas pipinya. Ia makin kaget dan diam-diam berseru “celaka!” Maklum dia bahwa dia tidak akan menang menghadapi kakek ini dan biarpun dengan pedang Lam-mo-kiam ia akan dapat mempertahankan di­ri sampai lama, namun akhirnya ia akan kalah juga. Ia amat khawatir, bukan mengkhawatirkan dirinya melainkan mengkhawatirkan diri Kwi Hong.

“Kwi Hong....!” Ia berteriak, terengah-engah dan cepat membabat ke arah ular yang sudah mengancam leher. Ular itu ditarik kembali dan kini tangan yang bersarung emas itu mencengkeram ke arah pusarnya.

“Cringgg!” Pedangnya menangkis dan kakek Maharya berteriak kaget karena tangannya yang terlindung sarung tangan itu terasa panas.

“Kwi Hong, larilah cepat! Beri tahu Pamanmu....!” Bun Beng berteriak dan memutar pedangnya melindungi tubuh se­cepatnya. Ia mengerahkan kekuatan ba­tinnya untuk menulikan telinga terhadap suara yang keluar dari mulut Maharya, akan tetapi tidak mungkin ia menutup matanya sehingga kadang-kadang sinar matanya bersilang dengan sinar mata Ma­harya yang seolah-olah mengeluarkan api bernyala-nyala!

Kwi Hong mendengar teriakan Bun Beng, akan tetapi dia sama sekali tidak mau peduli. Mana mugkin dia melarikan diri? Dia sedang mendesak Tan-siucai yang biarpun memegang Hok-mo-kiam, namun tingkat ilmu silatnya masih kalah jauh olehnya. Kalau Sasterawan sinting itu tidak memegang Hok-mo-kiam, tentu sudah sejak tadi mampus di ujung Li-mo-kiam. Apalagi ketika gadis ini me­ngerling dengan sudut matanya dan me­lihat betapa Bun Beng terdesak hebat oleh Maharya, dia makin tidak mau me­larikan diri. Dia harus merobohkan Tan-siucai agar dapat membantu Bun Beng mengeroyok kakek yang sakti itu. Dia harus merampas Hok-mo-kiam dan hal ini amat penting, tidak kalah pentingnya dengan mempertahankan Sepasang Pedang Iblis, bahkan lebih penting daripada kese­lamatan Bun Beng yang terancam oleh kakek iblis yang sakti. Maka ia terus mendesak Tan-siucai yang kini memutar pedang Hok-mo-kiam sehingga berubah menjadi gulungan sinar kilat yang menyelimuti tubuhnya, membuat Kwi Hong agak sukar untuk menembusnya.

Tiba-tiba Tan-siucai tertawa aneh dan terdengar suaranya, “Ha-ha-hi-hi, Nona manis, engkau melawan siapa? Aku su­dah lenyap, bayanganku tidak tampak olehmu, siapa yang kaulawan? Apakah kau gila?”

Kwi Hong terkejut bukan main kare­na benar-benar bayangan lawannya itu le­nyap dan tidak tampak olehnya. Yang tampak hanya gulungan sinar pedang Hok-mo-kiam yang terang seperti caha­ya sinar matahari. Hampir saja sinar pedang mengenai lehernya kalau ia tidak cepat-cepat menjatuhkan diri karena dalam keadaan kaget dan bingung men­cari musuhnya tadi ia bersikap lengah. Terdengar suara tertawa Tan-siucai dan sukar bagi Kwi Hong untuk menentukan dari mana datangnya suara tertawa ini karena bayangan orangnya tidak kelihat­an. Ia teringat bahwa sebagai murid ka­kek sakti ahli sihir itu Tan-siucai pan­dai pula main sihir, maka ia mengerah­kan sin-kang sekuatnya, sin-kang yang di­latihnya di Pulau Es sehingga ia dapat menggabungkan hawa Im dan Yang di tu­buh, menguatkan hatinya dan kini tam­paklah olehnya bahwa Tan-siucai masih berada di tempatnya yang tadi, memutar pedang dan mendesaknya.

“Cring-trang-trang.... aihhh....!” Tan-siucai terkejut dan untung ia masih da­pat menangkis sambil terhuyung ke bela­kang. Ia maklum bahwa gadis itu dapat melihatnya, maka ia mengerahkan seluruh ilmu sihirnya sehingga kini bayangannya kadang-kadang lenyap, kadang-kadang tampak oleh Kwi Hong. Hal ini membu­at Kwi Hong terdesak hebat dan timbul rasa gentar di hatinya. Yang dilawannya memiliki ilmu setan, bagaimana ia da­pat melawan orang yang pandai menghi­lang? Sedikit saja ia mengurangi penge­rahan sin-kangnya, bayangan lawan lenyap. Terpaksa ia membagi tenaganya, sebagian untuk melawan pengaruh sihir sehingga kadang-kadang ia dapat melihat bayangan lawan, kadang-kadang tidak.

“Kwi Hong, larilah cepat.... laporkan Pamanmu....!” Kembali ia mendengar te­riakan Bun Beng.

“Ha-ha-ha, heh-heh, benar sekali. Kalau kau sudah mati nanti, terbangkan rohmu kepada Si Keparat Suma Han, suruh dia ke sini menerima kematian, ha-ha!”

“Iblis busuk!” Kwi Hong menyerang cepat sekali ketika ia dapat melihat bayangan Tan Ki yang tertawa-tawa. Siucai itu cepat menangkis, akan tetapi Kwi Hong hanya melakukan serangan tusukan sebagai pancingan saja, karena cepat sekali kakinya menendang.

“Desss! Aduhhh.... keparat!” Tan-siucai terkena tendangan di samping pinggulnya dan terlempar ke belakang. Kwi Hong cepat mengejar, akan tetapi kare­na tendangan itu tidak tepat kenanya dan hanya melemparkan tubuh Tan-siucai dan mengagetkan saja, maka Tan-siucai sudah dapat memutar pedang melindungi tubuhnya sambil meloncat bangun.

“Siapa yang kau serang? Aku lenyap sama sekali dari penglihatanmu!” Ucap­an ini berulang kali diucapkan Tan-siucai dengan suara menggetar dan kembali Kwi Hong kadang-kadang kehilangan ba­yangan lawan, membuat ia terdesak lagi.

“Kwi Hong.... larilah.... lekas....!” Bun Beng yang sudah pening oleh pengaruh sihir Maharya, berteriak sekuat tenaga. Ia mengandalkan ilmu pedang Siauw-lim-pai, mainkan bagian yang bertahan se­hingga tubuhnya terlindung gulungan si­nar pedang kilat. Dia dapat menahan serangan ular dan tangan bersarung emas, akan tetapi tekanan kekuatan mu­jijat dari sihir Maharya benar-benar membuat dia pening dan hanya dengan kebulatan tekadnya dan kemauannya saja untuk mempertahankan diri, pedang Lam-mo-kiam dan terutama melindungi Kwi Hong maka ia masih dapat berta­han.

Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan delapan belas orang pemuja Sun-go-kong yang mendengar pertempuran dan teriakan-teriakan Bun Beng kini telah berada di situ. Tanpa diminta dan tanpa komando, delapan belas orang ini sudah menerjang maju membantu Bun Beng dan Kwi Hong!

Akan tetapi, begitu sebagian besar mereka mengeroyok Maharya, kakek itu mengeluarkan gerengan keras yang meng­getarkan seluruh urat syaraf, dan terdengarlah teriakan-teriakan mengerikan dan lima orang sudah roboh susul-menyusul terkena hantaman tangan kiri bersarung emas sehingga pecah kepalanya dan se­bagian terkena gigitan ular putih di ta­ngan kanan kakek itu! Mereka yang mengeroyok Tan-siucai juga mengalami hal yang menyedihkan. Mereka menyer­bu, tidak tahu akan keampuhan sinar pedang Hok-mo-kiam sehingga begitu kena disambar sinar ini, tiga orang ro­boh dan tewas seketika! Delapan belas orang maju dan dalam sekejap mata sa­ja delapan orang dari mereka tewas! Sisanya, yang sepuluh orang, menjadi ka­get, berduka dan marah bukan main menyaksikan teman-teman mereka tewas sedemikian mudahnya, maka dengan ne­kat mereka maju untuk membalas den­dam atau untuk tewas sekalian.

“Cu-wi, mundur....!” Bun Beng mence­gah, akan tetapi sia-sia, mereka malah makin nekat.

“Ha-ha-ha, kalian yang sudah keha­bisa tenaga dan setengah lumpuh, mau melawanku?” Maharya berteriak.

“Jangan dengarkan!” Bun Beng yang melihat kakek itu membuka mulut lebar memperingatkan, namun terlambat. Sepu­luh orang itu tiba-tiba merasa kedua kaki mereka lemas tak bertenaga dan pa­da saat itu, menyambarlah sinar-sinar hitam dari tangan Tan-siucai dan Mahar­ya. Itulah jarum-jarum hitam beracun dan tentu saja sepuluh orang yang sudah terpengaruh sihir itu tidak mampu mengelak lagi. Mereka mengeluh dan roboh dengan muka berubah menghitam dan nyawa melayang menyusul delapan orang teman mereka. Dalam sekejap mata sa­ja, seluruh pemuja Sun-go-kong, bekas pejuang yang gigih tewas di tangan Ma­harya dan Tan-siucai dengan amat mudah dan secara sia-sia!

“Kakek iblis yang kejam!” Bun Beng berteriak marah, dan tiba-tiba permain­an pedangnya berubah, ia telah mainkan ilmu rahasia yang dipelajarinya dari Kitab Sam-po-cin-keng, dan ternyata aki­batnya hebat sekali. Maharya berteriak kaget, berusaha menangkis dengan tangan kirinya karena lingkaran-lingkaran aneh yang dibuat oleh sinar pedang Bun Beng membuat dia menjadi bingung.

“Brettt....! Ihhh!” Kakek Maharya mencelat mundur, wajahnya sebentar pucat sebentar merah, kemarahannya memuncak ketika ia melihat betapa sarung tangannya terobek sedikit dan tela­pak tangannya berdarah!

“Lihat api....!” Kakek itu membentak.

Karena girang melihat hasil serangannya, Bun Beng menjadi lengah sehingga ia mendengar suara ini, melihat pula be­tapa kakek itu menggerakkan tangan kiri sambil mendorong ke arahnya dan.... ia melihat pula api berkobar meluncur ke arah tubuhnya. Bun Beng terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi bola api itu terus mengejarnya dari atas, Bun Beng cepat memutar pedangnya dan pada sa­at ia sibuk melawan bola api yang se­perti hidup itu, tiba-tiba tangan bersa­rung emas telah menghantam punggung­nya dengan sebuah tamparan keras.

“Plakkk!” Bun Beng berseru kaget dan tubuhnya terguling-guling, napasnya seperti tersumbat. Sadarlah dia bahwa kembali dia menjadi korban sihir, dan bo­la api itu sebetulnya tidak ada maka dia sampai kena dipukul. Dengan marah ia melompat bangun dan jurus pertahan­an dari Sam-po-cin-keng telah menutup tubuhnya sehingga Maharya tidak dapat menyusulkan serangan maut kepada la­wan yang telah terluka itu.

“Kwi Hong.... lari....!” teriakan Bun Beng sekali ini terdengar lirih karena dadanya sesak dan napasnya terengah. Kwi Hong terkejut sekali, menoleh dan melihat betapa pemuda itu makin terde­sak hebat. Ia marah bukan main karena belum juga mampu mengalahkan Tan-siucai.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nya­ring dari atas disusul menyambarnya bayangan hitam yang besar. Bunyi kele­pak sayap bercampur dengan pekik me­lengking dan tertawa nyaring memenuhi udara ketika bayangan hitam itu me­nyambar ke arah Bun Beng dan Maharya yang sedang bertempur. Sinar putih pan­jang dua buah, seperti dua ekor ular putih yang amat panjang, menyambar ke arah tangan Bun Beng sedangkan paruh besar burung rajawali menyambar ke arah tangan Maharya yang memegang ular putih.

Bun Beng berteriak kaget ketika tiba-tiba tangan kanannya menjadi lemas ter­kena totokan sinar putih dan selagi dia belum sempat mengembalikan tenaga un­tuk memegang gagang pedang erat-erat, Pedang Lam-mo-kiam telah terlibat tali putih dan terlepas dari tangannya. Ju­ga Maharya berseru keras ketika tiba-tiba ia diserang oleh pukulan sayap dan selagi ia mengelak, ular putih telah ter­lempar dari tangannya. Dua orang yang sedang bertanding ini melompat mundur, memandang ke atas dan tampaklah oleh mereka seorang pemuda tampan menung­gang seekor rajawali raksasa sedang ter­tawa-tawa memegangi pedang Lam-mo-kiam di tangan kanan dan ular putih yang dirampas rajawali di tangan kiri!

“Iblis cilik dari Pulau Neraka!” Bun Beng memaki. “Kembalikan pedangku!”

Pemuda di atas punggung rajawali itu hanya tertawa mengejek dan pada saat itu, segumpal asap hitam yang dilepas oleh Maharya secara diam-diam menye­rang muka Bun Beng. Pemuda ini gelagap­an, menyedot asap hitam dan seketika kepalanya pening, pandang matanya ge­lap dan ia terhuyung-huyung.

“Desss!” Kembali punggungnya dihan­tam tangan kiri Maharya dan ia roboh terguling. Namun ia masih sempat berte­riak, “Kwi Hong, lari....!” Kemudian ia merangkak bangun duduk bersila meme­jamkan mata dan berusaha mengusir pe­ngaruh asap beracun yang membuatnya pening dan lemas, apalagi punggungnya yang telah dua kali dihantam oleh tangan kiri Maharya yang lihai membuat napas­nya sesak.

Maharya yang tadinya menyangka bahwa pemuda di punggung rajawali yang datang itu mungkin akan mengeroyok­nya, telah merobohkan Bun Beng lebih dulu, kemudian kini ia mengacungkan tangannya ke atas. “Bocah setan, tak peduli engkau dari Pulau Neraka, turunlah sebelum engkau dan rajawalimu mampus di tangan Pendeta Sakti Maharya!”

Pemuda itu bukan lain adalah Wan Keng In, putera To-cu Pulau Neraka. Ia tertawa dan memainkan ular putih di tangan kirinya. “Heh-heh, setan tua. Ular putihmu ini baik sekali, tentu kdu dapat­kan di Himalaya, bukan?”

Diam-diam Maharya terkejut juga. Ular putihnya itu adalah seekor binatang yang racunnya ampuh sekali. Jarang ada orang sakti yang akan mampu menahan racun binatang itu dan sudah bertahun-tahun ia memelihara dan melatihnya se­hingga ular itu akan menjadi ganas kalau dipegang orang lain. Mengapa kini di tangan pemuda itu, ularnya menjadi ji­nak sekali? Namun tidak peduli anak se­tan dari mana pemuda itu, dia harus merampas kembali Pedang Lam-mo-kiam dan ular putih. Ia menggerakkan tangan­nya dan sinar hitam menyambar ke arah burung rajawali yang terbang rendah.

Pemuda itu memutar pedang Lam-mo-kiam dan burung rajawali mengibas­kan sayapnya, namun tetap saja ada sebatang jarum mengenai kaki burung itu sehingga burung itu memekik keras dan terhuyung.

“Crakk!” Pedang Lam-mo-kiam berge­rak dan kaki burung yang terkena jarum hitam itu telah dibuntungi penunggang­nya!

“Setan tua itu membikin kakimu pu­tus, hek-tiauw (rajawali hitam), hayo ki­ta bunuh dia!” Pemuda itu berseru dan rajawali itu sudah menyambar turun de­ngan penuh kemarahan. Disambar oleh cakar dan paruh, dihantam oleh sayap yang besar ditambah lagi serangan pe­dang Lam-mo-kiam dan ular putihnya sendiri benar-benar Maharya menjadi ka­get bukan main. Ia menggulingkan tubuh­nya ke atas tanah dan hanya dengan ja­lan bergulingan ini ia terbebas dari baha­ya maut.

Sementara itu, ketika Kwi Hong me­lihat penunggang burung rajawali, muka­nya berubah dan ia merasa gelisah seka­li. Tentu saja dia mengenal Wan Keng In dan maklum bahwa pemuda Pulau Ne­raka itu merupakan musuh besar, sehing­ga tentu akan menambah lawannya. Sa­at itu ia melihat Bun Beng terguling dan mendengar pesan terakhir pemuda itu. Tidak baik melawan terus, pikirnya. Me­lawan berarti akan kalah dan pedang Li-mo-kiam akan terampas pula. Apa arti­nya melawan kalau tidak akan dapat menolong Bun Beng dan merampas kembali Pedang Lam-mo-kiam dan Pedang Hok-mo-kiam? Lebih baik seperti yang diminta Bun Beng, melarikan diri selagi ada ke­sempatan, kemudian melapor kepada pamannya karena kalau bukan pamannya sendiri yang turun tangan, bagaimana mungkin pedang-pedang itu dapat diram­pas kembali? Alisnya berkerut dan hati­nya terasa sakit sekali ketika mengerling ke arah Bun Beng yang terpaksa ha­rus ia tinggalkan. Ia berseru keras, pe­dangnya menyerang ganas sehingga Tan-siucai kaget dan meloncat mundur. Ke­tika ia memandang ke depan, gadis la­wannya itu telah meloncat-loncat jauh dan melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar gurunya berteriak,

“Tan Ki.... bantu aku....!”

Ia menengok dan terkejut sekali me­lihat pemuda yang menunggang burung rajawali itu sambil terkekeh-kekeh me­nyerang gurunya dari atas, menyambari gurunya seperti seekor burung memper­mainkan tikus! Ia menjadi marah dan ma­ju menyerang dengan pedangnya ketika pemuda di atas punggung rajawali itu kembali turun menyambar.

“Tranggg....! Bukk!” Pemuda di atas punggung rajawali itu berseru kaget dan rajawalinya memekik kesakitan dan terbang tinggi. Pemuda itu kaget karena pedang laki-laki yang menangkisnya itu ternyata dapat membuat Lam-mo-kiam terpental dan tangannya tergetar, se­dangkan pukulan tangan kiri bersarung emas Maharya telah mengenai paha ra­jawali itu. Wan Keng In yang sudah me­meriksa pedangnya dan maklum bahwa secara tidak terduga-duga dia telah men­dapatkan sebatang di antara Sepasang Pedang Iblis yang dicari-cari ibunya, ti­dak mau menempuh bahaya menghadapi dua orang di bawah yang ternyata lihai itu, apalagi kini rajawalinya terluka be­rat, sebelah kakinya buntung dan bercu­curan darah sedangkan pahanya juga ter­luka oleh hantaman kakek sakti itu. Belum tentu rajawalinya akan kuat mem­bawanya terbang ke Pulau Neraka, ma­ka ia lalu menyuruh rajawalinya terbang tinggi dan kembali ke Pulau Neraka.

Maharya menyumpah-nyumpah. “Anak Iblis! Keparat jahanam! Dia membawa lari ularku!”

“Dan Lam-mo-kiam juga dirampas­nya. Semua ini kesalahan pemuda sialan itu! Kita bunuh saja dia!” Ia melangkah lebar dan mengayun Hok-mo-kiam ke arah leher Bun Beng yang masih duduk bersi­la mengatur pernapasan. Karena tidak sanggup membela diri lagi, Bun Beng tetap tidak bergerak, menyerahkan nasibnya kepada Tuhan.

“Jangan!” Tiba-tiba Maharya berteri­ak dan Tan Ki menahan pedangnya, me­noleh dan memandang gurunya dengan heran.

“Mengapa? Apakah Guru menaruh ka­sihan kepada bedebah ini?”

“Ha-ha-ha, hatiku sakit sekali karena gara-gara dia sarung tanganku robek, ularku lenyap dan Lam-mo-kiam juga hi­lang. Aku senang bukan main melihat dia mampus, akan tetapi amat enaklah kalau kau membunuhnya begitu saja. Kita harus membuat dia mati perlahan-lahan, biar dia menderita sampai empat puluh hari, mati tidak hidup pun bukan, baru benar-benar mampus, ha-ha-ha!”

Tan-siucai tertawa geli. “Maksudmu bagaimana, Guru?”

“Begini!” Maharya menghampiri Bun Beng dari belakang dan tangan kirinya yang memakai sarung tangan bergerak, jari-jarinya menusuk. Bun Beng maklum bahwa dirinya diserang, akan tetapi tu­buhnya lemas, tenaganya habis sehingga melawan pun hanya akan menyiksa diri, maka dia diam saja menerima hantaman maut.

“Cusss! Cusss!” Dua kali Maharya menggerakkan jari-jarinya yang menotok di belakang pinggang, kanan kiri tulang punggung. Bun Beng tidak merasakan se­suatu, hanya rasa pegal di tempat yang ditotok.

“Ha-ha-ha, aku mengacaukan jalan darahnya, menindas hawa pusar dan membalikkan hawa kundalini, dia akan keracunan, kedua kakinya akan lumpuh, darahnya perlahan-lahan akan kotor dan menghitam dan dia setiap hari akan menderita hebat, sedikit demi sedikit nyawanya terancam, sampai empat puluh hari. Dia mati sekerat demi sekerat, ha-ha!”

Tan-siucai juga tertawa-tawa, akan tetapi hatinya tidak puas ketika melihat betapa dua kali totokan gurunya itu ti­dak membuat Bun Beng kesakitan. “Ter­lalu enak kalau dia tidak diberi rasa, dan hatiku tidak puas kalau tidak menyiksa­nya tanpa membunuhnya.”

Gurunya mengangguk. “Asal jangan kau pergunakan sin-kang agar tidak membunuhnya, sesukamulah.”

“Kalau tidak gara-gara dia, kita tidak kehilangan dan tentu keponakan Pende­kar Siluman sudah dapat kubekuk. Biar dia tahu rasa!” Tan-siucai mengayun kakinya, tanpa menggunakan tenaga sin-kang menendang ke arah ulu hati Bun Beng.

“Ngekkk!” Biarpun tidak mengguna­kan sin-kang, namun tendangan yang keras itu membuat Bun Beng terjungkal dan ia muntahkan darah segar.

“Desss!” Kini pipi kanan Bun Beng yang mukanya rebah miring itu diinjak sepatu. Ketika injakan yang keras ini membuat Bun Beng menggerakkan kepa­la sehingga bangkit duduk lagi, Tan-siucai menendang yang kiri.

“Desss!” Tendangan keras sekali ini membuat tubuh Bun Beng terjengkang, kepalanya pening, bibirnya berlepotan darah segar, mukanya bengkak-bengkak dan membiru.

Tan-siucai tertawa-tawa girang akan tetapi ia masih belum puas. Dengan langkah lebar ia menghampiri Bun Beng, dua kali kakinya bergerak ke arah kedua lutut Bun Beng, menendang keras sekali.

“Krak! Krak!”

Tanpa mengeluh Bun Beng terguling pingsan, sambungan kedua lututnya ter­lepas!

“Cukup, kalau terlalu berat dia tidak akan menderita sampai empat puluh hari. Mari kita pergi. Sayang sekali Sepasang Pedang Iblis terlepas dari tangan kita. Kita kejar bocah perempuan itu!” Guru dan murid itu sambil tertawa-tawa puas lalu berlari, bayangan mereka berkelebat dan tempat itu menjadi sunyi sekali. Tubuh Bun Beng menggeletak menelungkup dalam keadaan pingsan, sedangkan tak jauh dari situ delapan belas buah mayat para pemuja Sun-go-kong malang-melintang! Menyeramkan sekali keadaan di situ, apalagi ketika tampak beberapa ekor burung gagak hi­tam beterbangan dan berputaran di atas tempat itu, agaknya mereka sudah men­cium bau mayat dan darah.

Bun Beng sadar dan membuka mata­nya ketika ia merasa pipinya sakit se­perti ditusuk-tusuk pedang. Betapa men­dongkol dan marah hatinya ketika ia melihat dua ekor burung gagak mema­tuki darah dari pipinya. Sekali mengibas dengan tangan, dua ekor burung itu terpental dan mati seketika. Gerakan ini membuat burung-burung gagak yang lain terbang ke atas dan Bun Beng bergidik. Burung-burung keparat itu pesta mema­tuki mayat-mayat, makan daging dan darah dari luka-luka di tubuh mayat-mayat itu. Dengan hati terharu ia memandang ke sekeliling. Hatinya merasa sengsara sekali menyaksikan delapan be­las orang itu telah menjadi mayat, dan lebih sakit lagi hatinya karena dia tidak dapat mengubur jenazah mereka. Kedua kakinya tak dapat ia gerakkan, sambung­an lutut kedua kakinya terlepas dan nye­ri yang amat hebat menusuk tulang-tulangnya. Ia mengeluh dan bangkit du­duk. Dengan jari tangannya ia menotok jalan darah di paha untuk melenyapkan rasa nyeri di lututnya, kemudian sedapat mungkin ia mengurut lutut-lututnya. Ke­mudian ia menggerakkan kedua tangannya, mengesot dan setengah merangkak meninggalkan tempat itu. Dia harus per­gi dari situ, tidak tega ia menyaksikan mayat-mayat itu dimakan burung. Mere­ka telah mati dalam membelanya. Ia menoleh sebentar dengan air mata membasahi bulu matanya ia berbisik, “Sahabat-sahabatku sekalian, aku ber­sumpah kalau masih dapat sembuh dan hidup, aku akan membalas kematian ka­lian kepada Maharya dan Tan Ki.” Kemu­dian ia merangkak terus meninggalkan tempat itu. Akan tetapi seluruh tubuh­nya terasa sakit, terutama sekali dada dan perutnya. Ia maklum bahwa ia telah terluka hebat dan jalan darahnya menjadi kacau-balau, membuat setiap buku tulang terasa seperti ditusuki jarum.

Susah payah Bun Beng merangkak. Bagaimana ia dapat menuruni bukit yang terjal itu? Ah, bagaimana pula nasib Kwi Hong? Mudah-mudahan dia dapat melarikan diri, pikirnya dan ia menjadi agak lega. Biarpun dia mati, tentu Pen­dekar Super Sakti akan membalaskan sakit hatinya. Bertambah pula musuh-musuhnya, musuh yang amat sakti. Mu­suh-musuh pertamanya, Koksu Negara Im-kan Seng-jin dan para pembantunya sudah merupakan lawan yang berat dan belum dapat ia jumpai, kini muncul pu­la musuh-musuh yang tidak kalah sakti­nya, yaitu Tan Ki dan gurunya yang pan­dai ilmu sihir! Dan dia maklum bahwa guru dan murid itu telah membuat dia menjadi seorang cacad dan tinggal me­nunggu maut. Pukulan beracun itu tak­kan dapat ia obati, apalagi dengan kedua kaki tak dapat dipakai berjalan, apa da­yanya? Namun dia tidak putus asa, ti­dak mau putus asa. Selagi ia masih hi­dup, dia akan berusaha menyembuhkan luka-lukanya, berusaha pergi dari tem­pat berbahaya ini!

Malam itu Bun Beng mengalami ma­lam yang paling sengsara. Ia berusaha duduk bersila bersiulian, namun tetap saja ia tidak dapat mengerahkan tenaga­nya. Begitu ia mengerahkan sin-kang, perutnya terasa panas seperti dibakar dan seluruh tubuh terasa gatal-gatal. Ia hanya dapat melatih pernapasan, meng­hirup udara segar, itu pun tidak dapat ia tarik ke pusar seperti biasa karena hal ini juga menimbulkan rasa nyeri yang sama. Semalam ia tidak tidur dan kalau ia teringat akan malam penuh bahagia bersama Kwi Hong, ia tersenyum pahit. Baru kemarin ia mengalami malam yang paling bahagia selama hidupnya, duduk menghadapi api unggun, menatap wajah gadis itu yang tidur nyenyak dan mera­sa betapa dunia menjadi amat indah. Ki­ni perubahan itu seperti sorga dan nera­ka. Ia teringat akan wejangan Siauw Lam Hwesio bahwa memang demikian­lah hidup. Sorga dan neraka penghidupan muncul dan lenyap saling berganti!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi se­kali setelah terang tanah, Bun Beng me­lanjutkan usahanya menuruni bukit de­ngan merangkak perlahan-lahan. Betapa ia dapat melakukan perjalanan cepat kalau ia hanya mengandalkan kedua ta­ngannya untuk menarik tubuhnya secara mengesot?

Tubuhnya terasa makin panas. Darah yang mengalir ke kepalanya seolah-olah membakar kepala dan menjelang tengah hari ia tidak kuat lagi. Ia rebah di ba­wah sebatang pohon dalam keadaan sete­ngah pingsan. Ketika ia meletakkan pipi­nya yang masih membengkak dan nyeri berdenyut-denyut itu ke atas tanah berumput yang dingin basah, ia merasa betapa nikmatnya tidur seperti itu. Ingin ia tidak dapat bangun kembali, rebah se­perti itu untuk selamanya!

Sebuah kaki bersepatu membalikkan tubuhnya yangmenelungkup. Ia terlen­tang dan pandang matanya berkunang. Dalam keadaan setengah pingsan ia meli­hat beberapa orang berdiri mengeli­linginya dan jantungnya berdebar penuh kemarahan ketika ia mengenal seorang di antara mereka adalah pemuda Pulau Neraka, si penunggang rajawali! Bagai­mana pemuda ini bisa muncul kembali?

Pemuda yang datang bersama dua orang anggauta Pulau Neraka bermuka merah tua itu adalah Wan Keng In. Pe­muda ini tadinya hendak kembali ke Pulau Neraka menunggang rajawali yang terluka parah. Hatinya girang mendapat­kan Lam-mo-kiam, akan tetapi juga ke­cewa karena dia tidak dapat mengalah­kan kakek India dan sasterawan yang menjadi murid kakek itu. Kecewa karena dia tidak bisa mendapatkan pedang Li-mo-kiam karena ibunya tentu akan gi­rang sekali kalau dia bisa mendapatkan Sepasang Pedang Iblis itu, bukan hanya yang jantan, pula, dia pun ingin sekali mendapatkan pedang Si Sasterawan yang mampu menandingi Lam-mo-kiam.

Dengan hati girang Wan Keng In me­lihat seekor burung rajawalinya terbang di udara. Ia bersuit nyaring dan ketika rajawali itu terbang dekat, ia lalu pin­dah ke atas punggung rajawali yang sehat. Ketika ia terbang rendah di pantai, ia melihat sebuah perahu hitam, perahu Pulau Neraka. Cepat ia turun dan ter­nyata perahu itu adalah perahu yang ditumpangi dua orang anggauta Pulau Neraka bermuka merah. Biarpun ia agak ke­cewa mendapat kenyataan bahwa yang berada di perahu hanyalah dua orang anggauta rendahan yang tidak dapat ba­nyak diandalkan, namun ia girang juga dan cepat mengajak mereka untuk pergi ke bukit itu. Dia harus menyelidiki bu­kit itu. Siapa tahu pusaka-pusaka yang yang lain berada di situ.

Demikianlah, ketika di tengah jalan ia melihat Bun Beng yang menggeletak setengah pingsan, alisnya berkerut. “Ini­lah orangnya yang memegang pedang yang kurampas. Kepandaiannya lumayan juga. Eh, orang yang terluka parah, aku akan mengobatimu sampai sembuh, akan tetapi katakanlah, dari mana engkau mendapatkan Siang-mo-kiam? Dan mana yang sebatang lagi?”

Mendengar pertanyaan ini, Bun Beng menggeleng kepala tanpa menjawab. Biarpun benar-benar pemuda Pulau Neraka ini akan dapat menyembuhkannya, dia tetap tidak sudi memberi tahu kepada pemuda yang dibencinya itu tentang se­pasang pedang iblis yang kini telah dirampasnya sebatang. Lebih baik dia mati daripada memberi tahu bahwa pedang yang sebuah lagi dipegang Kwi Hong. Kalau pemuda ini naik burung rajawali mengejar dan mencari Kwi Hong dari atas, gadis itu bisa terancam bahaya!

“Apakah engkau mendapatkannya di bukit ini? Apakah ada pusaka lain lagi? Kitab pelajaran kuno? Kulihat engkau menderita pukulan beracun yang amat berbahaya!” Wan Keng In mendesak lagi, akan tetapi Bun Beng menggeleng kepa­la dan memejamkan mata, tidak menja­wab.

Keng In menggerakkan jari tangan­nya menotok pundak Bun Beng dan pemu­da yang sudah terluka parah ini sama sekali tidak mampu bergerak. “Kalian bawa dia ke perahu dan bawa ke pulau, tentu Ibu akan mendapat akal untuk mengorek rahasia darinya. Dia lihai, akan tetapi dia terluka parah dan sudah kuto­tok. Akan tetapi, kalian harus tetap ber­hati-hati membawanya, jangan sampai gagal. Aku akan menyelidiki keadaan bukit ini dulu, cukup mencurigakan.”

“Baik, Kong-cu (Tuan Muda).” Dua orang anggauta Pulau Neraka yang ber­muka merah itu lalu mengangkat tubuh Bun Beng, menggotongnya dan memba­wanya turun dari bukit. Semetara itu, Wan Keng In lalu mendaki puncak dan mencari-cari. Akan tetapi dia hanya me­nemukan mayat delapan belas orang ga­gah itu dan biarpun dia telah mencari sampai sehari penuh, dia tidak menemu­kan apa-apa kecuali sebuah kitab kecil pelajaran Ilmu Silat Sin-kauw-kun-hoat. Biarpun yang ditemukan sama sekali bu­kan pusaka-pusaka yang diharapkan na­mun kitab ini ia kantongi dan ia bawa pergi setelah ia bersuit memanggil bu­rung rajawali yang mengikuti perjalan­nya bersama dua orang anggauwnya da­ri atas.

Sementara itu Bun Beng digotong oleh dua orang Pulau Neraka menuju ke pantai sunyi di mana mereka menyembunyi­kan perahu mereka, kemudian merebah­kan Bun Beng di dekat perahu dan me­layarkan ke laut. Bun Beng masih ber­usaha sedapat mungkin untuk membebas­kan totokan. Dia memberontak di dalam hatinya. Tidak sudi ia dibawa ke Pulau Neraka! Dengan bujukan halus dari Kwi-bun Lo-mo saja dia masih tidak mau, apalagi menjadi tawanan yang luka be­rat seperti sekarang ini, dan dibawa ke sana hanya untuk dipaksa mengaku ten­tang Sepasang Pedang Iblis! Ia harus da­pat melepaskan diri, karena kalau sampai ia dibawa ke Pulau Neraka, habis­lah harapannya. Bagaimana ia akan da­pat keluar dari pulau itu? Daripada hi­dup tersiksa lahir batin di sana, lebih baik mati sekarang karena berusaha me­lepaskan diri. Memang sukar mencari ja­lan bebas mengingat akan luka-lukanya, tubuhnya yang lemah dan kakinya yang tak dapat dipergunakan. Akan tetapi dia tidak memusingkan hal itu, pertama-tama dia harus dapat membebaskan to­tokan itu lebih dulu. Kedua kakinya memang tak dapat dipergunakan, akan tetapi ia masih mempunyai kedua tangan!Lautan utara ini sunyi sekali. Hanya ada beberapa buah layar kecil tampak dari jauh, yaitu layar para nelayan yang untuk mencari nafkah hidupnya berani menempuh jarak jauh dan menentang an­caman bahaya maut di tengah laut yang kadang-kadang amat ganas itu. Setelah perahu meninggalkan pantai, barulah Bun Beng berhasil membebaskan diri dari to­tokan. Dia mengeluh karena setelah kini berada di perahu dan di tengah laut, an­daikata ia dapat membebaskan diri dari dua orang itu sekalipun, habis apa yang dapat ia lakukan? Dengan hati-hati Bun Beng merangkak mendekati langkan di pinggir geladak, menggunakan kesempat­an selagi dua orang itu sibuk dengan ke­mudi danlayar. Ia menjangkau langkan dan menarik tubuhnya ke atas untuk mengintai keluar. Sunyi di luar, tidak tampak perahu lain. Akan tetapi di ke­jauhan itu.... ah, ada sebuah perahu kecil di sana, dengan seorang penumpangnya.

Kalau saja ia dapat menarik perhatian orang itu, tentu orang itu seorang nela­yan biasa yang akan suka menolongnya. Untung bahwa perahu layar Pulau Nera­ka ini sedang meluncur menuju ke pe­rahu kecil di kejauhan itu.

“Heeiii.... kau mau ke mana....?” Se­orang bermuka merah yang kumisnya pan­jang melintang berteriak sambil meloncat dekat. Ia takut kalau-kalau tawanan itu meloncat keluar perahu. Kalau sampai mereka kehilangan tawanan itu, hidup atau mati tentu kong-cu akan marah se­kali dan mengingat akan hukumannya, mereka bergidik.

“Kau tidak boleh ke mana-mana, ha­yo kembali ke sini!” Si Muka Merah ber­kumis itu menggerakkan tangan hendak menangkap Bun Beng.

“Dessss! Augghhhh....!” Pukulan tangan kanan Bun Beng yang dilakukan secara tiba-tiba itu mengenai kepala Si Kumis Panjang dengan tepat. Biarpun Bun Beng terluka, namun pukulannya itu cukup ku­at untuk memecahkan kepala anggauta Pulau Neraka tingkat rendahan itu sehingga tubuhnya terjerembab dalam keadaan tak bernyawa lagi!

“Heiii.... keparat, apa yang kaulaku­kan?” Orang ke dua cepat meloncat ba­ngun tidak peduli lagi akan kemudi, pe­rahu mulai terombang-ambing. Ia lari mendekati, kaget menyaksikan temannya telah tewas dan dengan marah ia menca­but golok lalu menyerbu Bun Beng yang masih duduk bersandar langkan. Melihat serbuan golok ini, Bun Beng maklum bahwa dia harus bekerja cepat. Ia tidak mempedulikan dada dan perutnya yang menjadi panas dan nyeri sekali, terpak­sa ia mengerahkan tenaga seadanya dan tubuhnya mencelat ke atas, tangannya yang kiri memukul pergelangan tangan kanan lawan sehingga goloknya terlepas, tangan kanannya menampar pelipis.

“Plakk!” Orang itu roboh tanpa me­ngeluh. Bun Beng juga terbanting jatuh di atasgeladak. Ia melihat betapa pera­hu itu dengan layar berkembang tanpa kemudi, meluncur miring. Sekilas pandang ia melihat perahu kecil tadi tak jauh dari situ, maka sekali lagi ia mengerahkan tenaga, kedua tangannya menekan geladak dan tubuhnya mencelat ke atas keluar dari langkan.

“Jebuuuurrrr....!” Bun Beng terban­ting ke permukaan air laut dengan kepa­la lebih dulu. Bun Beng gelagapan, ber­usaha untuk berenang, akan tetapi orang yang kedua kakinya sudah tak dapat di­gerakkan, yang tubuhnya sudah terluka berat macam dia, mana mungkin dapat berenang? Dia hanya menggerak-gerakkan kedua lengannya karena pengerahan tena­ga tadi membuat napasnya terengah dan tubuhnya lemah sekali, tetap saja gerak­an tangannya kurang kuat dan beberapa kali ia tenggelam sehingga terpaksa mi­num air laut yang asin.

Tiba-tiba Bun Beng merasa rambutnya dijambak ke atas dan tubuhnya tim­bul kembali ke permukaan air, kini ti­dak tenggelam lagi sehingga ia dapat menggunakan kedua tangan untuk mengha­pus mukanya yang gelagapan. Kuncir rambutnya terlibat dan dijambak ke atas, terasa pedas akan tetapi dia tidak marah karena hal ini malah menolongnya, membuat dia tidak tenggelam. Akan tetapi ketika perlahan-lahan tubuhnya ditarik ke belakang dan ia menoleh, ma­tanya terbelalak dan ia mendongkol juga karena ternyata yang mengait rambut­nya adalah ujung pancing yang tangkai­nya dipegang oleh seorang wanita di atas sebuah perahu kecil! Dia memang dito­long, akan tetapi cara menolong itu be­nar-benar menghina sekali, seolah-olah dia hanya sebuah benda tak berharga, bahkan dia seperti menjadi seekor ikan aneh yang terkena pancing!

Betapapun juga, hatinya lega ketika tahu-tahu tubuhnya melayang dan terja­tuh ke dalam perahu, di atas geladak yang sempit. Ia terengah-engah, meme­jamkan mata, terasa betapa seluruh tu­buhnya sakit-sakit sehingga mau tak mau Bun Beng mengeluh lirih.

“Hemmm, engkau telah tiga perem­pat mati, rusak luar dalam.... hemmm, sungguh kasihan orang yang tak tahu di­ri, berani menentang Pulau Neraka. Aahh, kakinya lumpuh pula.... heran, da­lam keadaan begini, bagaimana dia bisa membunuh dua orang Pulau Neraka bermuka merah?”

Suara itu halus dan merdu sekali se­hingga Bun Beng merasa seolah-olah mimpi. Ia cepat membuka matanya dan.... segera dipejamkannya kembali. Sudah matikah dia? Beginikah rasanya mati dan bertemu bidadari? Kalau sudah mati, kenapa tubuhnya masih terasa nye­ri semua dan kakinya masih tak dapat ia gerakkan? Kalau masih hidup, bagaimana mungkin ia bertemu bidadari di tengah lautan? Celaka, jangan-jangan dewi pen­jaga lautan. Kalau manusia biasa, tak mungkin begitu cantik seperti bidadari, begitu halus, suaranyapun tidak seperti suara manusia, begitu merdu seperti orang bernyanyi, dan mungkinkah seorang manusia semuda dan secantik jelita itu seorang diri saja di tengah lautan?

“Eh, aku seperti pernah mengenal orang ini, akan tetapi tidak mungkin, mukanya rusak begini mana bisa dikenal? Aihhhh, dia terkena pukulan beracun yang luar biasa! Aduh kasihan sekali, siapa sih orang yang malang ini....?”

Mendengar suara halus merdu itu yang menyatakan kasihan kepadanya, tak terasa pula kedua mata Bun Beng men­jadi panas dan dua butir air mata berti­tik turun. Tanpa membuka matanya ia berkata, “Mohon pertolongan Pouwsat (Dewi).... hamba masih belum ingin mati karena masih banyak tugas yang harus hamba laksanakan....! Harap Pouwsat tidak kepalang menolong hamba....!”

“Aihhhh.... otaknya sudah miring pula. Sungguh kasihan. Agaknya penderitaan yang hebat ini membuat otaknya menja­di berubah miring. Tidak mengherankan, jarang ada orang di dunia ini masih dapat hidup setelah mengalami luka-luka pa­rah luar dalam seperti dia ini. Aihhhh, sungguh sialan. Memancing setengah ha­ri tidak mendapat ikan besar, hanya be­berapa ekor ikan kecil. Sekali dapat yang besar orang yang tidak waras luar dalam dan pikirannya, apa yang harus kulakukan dengan dia?”

Bun Beng menghentikan dugaannya yang bukan-bukan. Celaka dua belas, ki­ranya benar seorang manusia! Disangkanya Kwan Im Pouwsat! Mendengar ucap­an terakhir itu, ia menghela napas dan berkata,

“Kalau kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan, nah, lemparkan akukemba­li ke laut. Siapa sih yang minta pertolonganmu tadi?”

“Aihhh.... masih bisa marah? Jelas mi­ring otaknya! Hemmm, mengapa nasibku selalu harus bertemu dengan orang yang jatuh ke laut? Sungguh aneh jaman seka­rang ini banyak orang terapung-apung di laut.”

Kini Bun Beng membuka matanya dan kebetulan dara itu pun memandangnya. Memang Bun Beng boleh dimaafkan ka­lau tadi menyangka wanita ini dewi laut atau bidadari karena memang dia seorang dara yang luar biasa cantiknya. Tubuh­nya tinggi ramping dengan bentuk tubuh yang hebat, wajahnya begitu jelita se­perti gambar, kulitnya putih halus seper­ti salju, gerak-geriknya ketika berdiri di geladak begitu lemah gemulai seperti batang pohon liu tertiup angin, pakaian­nya indah sekali sesuai dengan orangnya, rambutnya yang hitam panjang dan halus itu digelung tinggi di atas kepalanya, dihias dengan hiasan rambut terbuat da­ri mutiara. Seorang dara yang.... bukan main.

Akan tetapi, begitu dua pasang mata itu saling pandang, hampir berbareng ke­duanya berseru,

“Nona Milana....!”

“Engkau.... Gak-twako.... aih, pantas aku seperti mengenalmu, kiranya engkau Gak Bun Beng! Aduh, bagaimana engkau sampai menjadi begini, Gak-twako?”

Bun Beng menarik napas panjang, lalu menggunakan kedua lengannya untuk bangkit duduk. Ia menyeringai kesakitan dan dengan sikap lemah lembut Milana membantunya duduk di atas geladak. Se­jenak mereka saling pandang. Milana de­ngan penuh rasa kasihan. Bun Beng dengan penuh rasa kagum dan juga tidak enak hati karena ia berjumpa dengan dara yang sejak kecil berwatak halus ini da­lam keadaan seperti itu. Dara itu kini telah dewasa, bagaikan setangkai bunga sedang mekar semerbak. Bukan main! Seorang dara tujuh belas tahun yang seper­ti dewi kahyangan! Debar jantung Bun Beng mengatasi segala rasa nyeri dan pemuda ini cepat mengalihkan pandang matanya, menunduk dan menghela napas panjang.

“Panjang sekali ceritanya, Nona. Akan tetapi yang jelas.... aku dilukai oleh se­orang kakek India bernama Maharya dan muridnya, Tan-siucai yang gila....”

“Ohhh? Mereka yang dulu membunuh Kakek Nayakavhira itu? Yang mencuri Pedang Hok-mo-kiam?”

“Benar, Nona Milana, engkau masih ingat itu semua? Ingat akan pengalaman kita bertahun-tahun yang lalu itu....?”

“Tentu saja aku ingat. Pengalaman hebat kita dengan kakek muka kuning, kemudian sampai kita berpisah kembali, selamanya tak dapat kulupa. Aihh, Gak-twako, kenapa mereka melukaimu seper­ti ini? Ini namanya sengaja menyiksa, mengapa kau tidak dibunuhnya akan tetapi disiksa seperti ini?”

“Gara-gara Sepasang Pedang Iblis....” jawabnya dan kembali ia merintih dan menyeringai karena dadanya terasa sakit sekali.

“Sepasang Pedang Iblis?” Milana ber­seru kaget sekali.

“Benar dan aauuggghh....” Bun Beng tak dapat bertahan lagi. Pengerahan te­naga tadi ketika melawan dua orang itu membuat dadanya sakit sekali dan ia ro­boh pingsan!

Ketika Bun Beng siuman kembali, ia berada di atas kuda, di belakangnya du­duk Milana. Rasa nyeri menguak ke se­luruh tubuhnya, akan tetapi tidak dapat mengatasi debar jantungnya ketika ia merasa betapa tubuhnya setengah ditahan dan dipeluk oleh Milana. Bukan main! Di atas segala rasa nyeri, terasa oleh­nya kehangatan dan kelunakan tubuh dara itu, membuatnya cepat memejamkan mata kembali dan ingin pingsan terus!

Akan tetapi dara itu agaknya telah dapat mengerti bahwa dia telah siuman. Didorongnya tubuh Bun Beng ke depan. “Bagaimana, Gak-twako? Apakah kau kuat menunggang kuda bersamaku? Harap kaupertahankan, engkau harus men­dapat perawatan yang baik. Agaknya Ibu akan dapat menolongmu....” Gadis itu bicara halus dan penuh iba.

Bun Beng memaksa tubuhnya untuk duduk tegak di atas kuda yang berjalan perlahan. “Aihhh.... aku menyusahkan eng­kau saja, Nona. Ibumu seorang sakti, akan tetapi aku merasa sangsi apakah Beliau akan dapat menyembuhkan aku. Menurut kata kakek India itu, dalam waktu empat puluh hari aku akan mati sekerat demi sekerat. Melihat rasanya tubuhku, dia agaknya tidak membohong. Darahku te­lah keracunan, tidak ada yang akan da­pat menyembuhkanku. Aahh, semua salah­ku sendiri, terlalu menurutkan kata ha­ti tanpa mempertimbangkan dan tanpa menyadari bahwa kepandaianku masih amat rendah. Aku berani mengacau Thian-liong-pang.... itulah mula-mula se­gala malapetaka yang menimpa diriku....”

“Apa? Kau mengacau Thian-liong-pang?” Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Milana mendengar ini. Thian-liong-pang adalah tempat tinggalnya karena ibunya adalah Ketua Thian-liong-pang. Akan tetapi hal ini harus dipegang rahasia, dan dia tidak dapat mencerita­kannya kepada siapapun juga. “Mengapa kau memusuhi Thian-liong-pang?”

“Perkumpulan iblis busuk itu! Jahat sekali! Mereka menangkap tokoh-tokoh kang-ouw untuk dicuri ilmu mereka. Hemm, dan Ketuanya amat ganas, ke­jam, licik dan sakti. Kiranya hanya Ayahmu, Pendekar Super Sakti To-cu Pulau Es saja yang akan dapat membas­mi Thian-liong-pang....!”

“Gak-twako, orang tidak perlu men­campuri urusan orang lain kalau belum diketahuinya betul keadaannya. Apakah engkau sudah mengenal Ketua Thian-liong-pang sehingga dia kaumaki ganas, kejam, licik dan sakti? Kurasa, orang seperti engkau sekalipun akan dapat salah sang­ka, maka sebaiknyalah kalau kau tidak mencampuri urusan orang-orang lain, ter­utama Thian-liong-pang atau Pulau Nera­ka. Mereka amat berpengaruh dan lihai, tidak ada perkumpulan lain atau seorang gagah pun berani lancang menentang mereka.”

Bun Beng mengerutkan alisnya. Me­ngapa puteri Pendekar Super Sakti, yang tentu memiliki ilmu yang tinggi seperti tadi dia saksikan sendiri ketika menolongnya dengan kail, mengeluarkan ucap­an begitu jerih terhadap Thian-liong-pang dan Pulau Neraka? Dia merasa penasar­an melihat sikap Milana seperti ketakutan.

“Nona, kalau engkau takut terhadap Thian-liong-pang dan Pulau Neraka, mengapa kau menolongku? Lebih baik kalau kautinggalkan aku di sini saja!”

Milana tersenyum sabar mendengar ucapan itu dan melihat betapa Bun Beng bergerak hendak turun dari kuda yang tentu merupakan hal yang sukar bagi pe­muda itu karena kakinya lumpuh dan te­naganya habis. “Gak-twako, engkau benar-benar seorang yang amat tinggi hati! Aku menolongmu dengan hati tulus ikhlas dan kosong tanpa pamrih, hanya berda­sarkan perasaan iba yang akan kulaku­kan terhadap siapapun juga yang membutuhkan pertolongan seperti engkau. Me­ngapa harus kudasarkan kepada perasaan takut atau tidak? Twako, apakah eng­kau menganggap aku seorang pengecut dan penakut yang akan membiarkan orang terluka parah seperti engkau begi­tu saja tanpa berusaha mengobati dan menolongmu?”

Ucapan itu dikeluarkan dengan suara yang halus, sama sekali tidak mengan­dung kemarahan atau penyesalan sehing­ga diam-diam Bun Beng merasa terkejut dan teringatlah ia betapa ucapannya ta­di kasar dan menyakitkan hati. Maka ia cepat berkata,

“Maafkan aku, Nona. Bukan sekali-kali aku bermaksud bahwa Nona seorang penakut, hanya.... aku telah dianggap musuh oleh Thian-liong-pang, bahkan ka­um Pulau Neraka agaknya juga memu­suhiku. Oleh karena itu, betapa hatiku akan merasa berdosa dan menyesal ka­lau engkau akan dimusuhi mereka pula karena engkau telah menolongku! Aku tidak ingin kau terseret dalam bahaya besar. Biarlah aku saja yang menjadi korban keganasan mereka, jangan sam­pai engkau terancam pula oleh bahaya.”

Milana tersenyum. “Jangan khawatir, Twako. Aku dapat menjaga diri, dan aku tidak akan membiarkan engkau dalam keadaan seperti ini terganggu oleh siapapun juga. Kurasa engkau belum mengenal betul Thian-liong-pang. Menurut penda­patku, Thian-liong-pang, kumaksudkan ketuanya, tidaklah begitu jahat seperti yang kau duga. Perbuatannya yang aneh seperti menculik tokoh-tokoh kang-ouw itu tentu ada latar belakangnya.”

“Aku sudah tahu! Dia menculik mereka untuk diberi minum racun sehingga dalam keadaan mabok dan tidak ingat apa-apa mereka mau saja diadu agar mereka mengeluarkan jurus-jurus simpanan dan dapat dicuri oleh Ketua itu! Dan engkau keliru kalau menganggap Thian-liong-pang tidak jahat! Anak buahnya adalah iblis-iblis yang kejam, yang suka membunuh orang tanpa berkejap mata.”

“Kurasa tidak demikian, Twako. Ka­lau anak buah Thian-liong-pang ada yang menyeleweng, hal itu tentu di luar pengetahuan Sang Ketua, karena tentu yang menyeleweng akan dihukum. Adapun Ke­tua itu sendiri, andaikata sampai mem­bunuh orang, tentu ada sebab-sebabnya yang memaksanya. Aku tidak percaya bahwa dia jahat seperti iblis. Hanya eng­kaulah yang belum mengenalnya betul.”

“Heii, kau seperti membelanya!” Bun Beng berkata penasaraan. “Engkau tidak tahu, aku telah ditahan dan dijebloskan dalam kamar tahanan di bawah tanah. Nyaris aku dibunuhnya kalau Si Kakek Muka Singa Sai-cu Lo-mo yang mengaku masih paman kakekku itu tidak membu­juk Ketua Thian-liong-pang!”

“Ahhh, jadi begitukah?” Milana benar-benar terkejut. Baru sekarang dia men­dengar bahwa pemuda ini adalah cucu keponakan Sai-cu Lo-mo!

“Nona, agaknya engkau mengenal be­tul keadaan Thian-liong-pang!”

“Sedikit banyak aku sudah mende­ngar tentang perkumpulan itu, Twako. Siapakah orangnya yang tidak mendengar tentang Thian-liong-pang yang terkenal? Sudahlah, engkau perlu cepat diobati. Aku mempunyai obat penguat badan, pencuci darah dan penyambung tulang patah. Akan tetapi, racun yang mengan­cam keselamatan nyawamu tak dapat ku­obati, agaknya Ibu akan dapat menolong­mu, akan tetapi....” Milana menjadi bingung dan sangsi. Betapa mungkin ibu­nya akan suka menolong pemuda yang sudah memusuhi Thian-liong-pang ini?

“Akan tetapi apa, Nona?”

“Aku.... aku harus mendapatkan air panas untuk mencuci luka-lukamu, dan obatku harus kugodok, maka kita mem­butuhkan alat dapur. Di depan ada se­buah dusun, di sana kau dapat beristira­hat, Twako.”

Kuda itu dilarikan cepat dan Bun Beng yang tidak dapat melihat wajah gadis yang duduk di belakangnya itu tidak me­lihat betapa wajah itu penuh kekhawa­tiran. Juga keadaannya tidak memung­kinkan dia setajam biasa, penglihatan maupun pendengarannya, sehingga dia tidak tahu bahwa mereka berdua diba­yangi oleh beberapa orang. Akan tetapi Milana tahu akan hal ini maka gadis itu menjadi gelisah, apalagi karena dari ge­rakan dan tanda para pengejar itu dia tahu bahwa mereka adalah orang-orang Thian-liong-pang, anak buah ibunya!

Dalam keadaan setengah sadar kare­na menderita luka hebat itu, Bun Beng diturunkan dari atas kuda oleh Milana, dibantu oleh seorang petani yang rumah­nya disewa gadis itu, dan dibaringkan di atas sebuah dipan kayu sederhana da­lam ruangan rumah yang sederhana pula. Setelah petani itu meninggalkan rumah­nya yang telah dibayar sewanya secara royal oleh Milana untuk waktu seminggu, Milana sibuk memasak obat, kemudian mencuci muka Bun Beng dengan air ha­ngat, membersihkan darah dari pipi dan bibir, menaruh obat luka di tempat yang terobek sepatu Tan-siucai kemudian memberi obat yang telah dimasaknya.

Bun Beng menjadi terharu, bukan oleh pertolongan yang dianggapnya wa­jar karena hal itu dapat ia harapkan da­ri setiap orang manusia yang masih me­miliki kasih sayang di antara manusia. Bukan, bukan pertolongan itu yang mengharukan hatinya, melainkan sentuhan-sentuhan jari tangan yang demikian lem­but, pandang mata yang demikian halus, perhatian yang demikian penuh dicurahkan kepada dirinya. Kalau wajah itu ti­dak demikian cantik jelita dan masih amat muda, tentu dia tidak akan yakin bahwa yang merawatnya itu bukan ibunya! Hanya ibunya sendiri sajalah agak­nya yang akan merawat anaknya seperti itu!

“Nah, biarpun obatku tak mungkin mengusir racun dari tubuhmu, setidak­nya engkau akan merasa tenang dan ti­dak begitu menderita nyeri lagi, Twako. Dan obat yang kugosokkan pada lutut­mu itu, dalam waktu sepekan tentu akan memulihkan kembali sambungan kedua lututmu sehingga engkau akan dapat berjalan lagi.”

“Nona Milana.... terima kasih. Engkau....!”

“Husshhh.... tidurlah, Twako. Aku akan masak bubur dan membuatkan minuman teh....” Gadis itu menjauhi dipan dan mulai sibuk membuat bubur dan membelakangi Bun Beng karena dia hendak menyembunyikan wajahnya yang penuh kegelisahan. Dia bukan seorang ahli pe­ngobatan, namun sedikit pengetahuan yang dimilikinya cukup membuat dia tahu bahwa pemuda itu menderita luka keracunan yang amat hebat. Biarpun dia tahu ibunya sakti, namun ibunya sendiri pun belum tentu dapat menyembuhkan pemuda itu. Yang membuat dia gelisah bukan main adalah kenyataan bahwa Bun Beng memusuhi Thian-liong-pang! Mungkinkah ibunya suka menolongnya?

Bun Beng dapat tidur pulas berkat obat Milana yang agaknya mengan­dung pula obat tidur. Hari telah mulai gelap dan Milana menyalakan tiga batang lilin di tempat lilin kuno yang tergantung di sudut ruangan. Beberapa kali dia meli­hat berkelebatnya bayangan orang di lu­ar rumah dan dia tahu bahwa itu adalah orang-orang Thian-liong-pang, anak buah ibunya. Bahkan dia mengenal pula siapa yang memimpin rombongan delapan orang Thian-liong-pang itu, ialah se­pasang kakak beradik kembar yang amat lihai. Dia tahu bahwa dua orang kembar itu, Su Kak Liong dan Su Kak Houw, adalah dua orang kepercayaan ibunya dan sudah sering diutus melaku­kan hal-hal berbahaya di luar perkum­pulan yang selalu dilaksanakan dengan hasil baik. Sejak kecil Milana tidak pernah diberi tahu oleh ibunya akan urusan Thian-liong-pang, namun karena dia di­gembleng ilmu oleh ibunya sendiri, dia tahu bahwa kepandaian dua orang kem­bar ini hanya bertingkat sedikit di ba­wah tingkat pembantu-pembantu ibunya seperti Lui-hong Sin-ciang Chie Kang atau Sai-cu Lo-mo sendiri! Apalagi Su Kak Houw, setelah lengan kanannya lum­puh dalam sebuah pertempuran melawan orang pandai, menerima sebuah ilmu pu­kulan yang amat dahsyat dari ibunya. Ilmu ini didasari latihan khusus pada jari dan telapak tangan kiri dengan pengerah­an sin-kang dan gerakan khusus pula, membuat tangan kiri Su Kak Houw ini luar biasa kuatnya, dapat dipakai me­nangkis senjata-senjata logam yang kuat dan tajam, bahkan tangan itu dapat dipa­kai membacok seperti sebatang golok ta­jam. Karena inilah maka dia terkenal sebagai Toat-beng-to (Golok Pencabut Nyawa). Sebuah julukan yang lucu dan aneh karena selamanya tokoh ini tidak pernah menggunakan golok dalam pertan­dingan, apalagi membunuh orang dengan golok. Dia hanya menggunakan lengan kirinya, namun lawannya yang terluka atau tewas, roboh dengan luka-luka se­perti dibacok sebatang golok besar yang tajam!

Biarpun maklum bahwa pondok yang disewanya itu dikurung oleh sedikitnya de­lapan orang termasuk Si Kembar, Mila­na bersikap tenang-tenang saja. Dia me­rasa yakin bahwa selama Bun Beng ber­ada bersamanya, tak ada seorang pun anggauta Thian-liong-pang yang akan be­rani turun tangan! Maka dia pura-pura tidak tahu akan kehadiran mereka, sung­guhpun dia tahu pula bahwa Si Kembar itu sengaja beberapa kali bergerak di depan jendela supaya terlihat oleh Mila­na dan supaya ditegur oleh puteri Ketua Thian-liong-pang itu. Namun, dia tidak mau menegur mereka dan terus melan­jutkan mempersiapkan makan dan minum sederhana untuk Bun Beng dan dia sen­diri.

Dugaan Milana tepat sekali. Kedua orang kembar she Su itu memimpin enam orang anggauta Thian-liong-pang tingkat pertengahan, bertugas melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap Gak Bun Beng yang berhasil lolos dari tempat tahanan di bawah tanah. Dapat dibayangkan betapa heran dan terkejut hati mereka ketika melihat pemuda itu dalam keadaan luka berat, naik kuda bersama puteri Ketua mereka! Tentu saja hal ini membuat mereka bingung dan tidak ber­gerak turun tangan, bahkan menegur saja mereka tidak berani! Mereka merasa ngeri memikirkan kemungkinan hu­kuman yang akan dijatuhkan Ketua Thian-liong-pang terhadap mereka kalau mereka mengganggu Milana! Sampai la­ma mereka memancing agar ditegur lebih dulu oleh Milana sehingga mereka dapat melapor akan tugas yang mereka terima dari Ketua Thian-liong-pang, akan tetapi sungguh membuat mereka makin bingung ketika dara itu sama sekali tidak peduli seolah-olah tidak melihat me­reka. Akhirnya, kedua orang saudara kembar itu mengambil keputusan untuk memasuki pondok dan langsung menghadap Milana!

Ketika dua orang laki-laki yang mu­kanya menyeramkan, rambutnya awut-awutan itu muncul dari pintu pondok pa­da keesokan harinya, Bun Beng sudah bangun dari tidurnya, merasa tubuhnya ti­dak begitu tersiksa lagi oleh rasa nyeri, sungguhpun kedua kakinya masih lumpuh tak dapat digerakkan. Tidur semalam dengan nyenyak memulihkan tenaga di tubuh bagian atas.

Tampak olehnya Milana sedang me­masak air di sudut pondok. Bun Beng me­narik napas panjang dan hal ini terde­ngar oleh dara itu yang segera menoleh memandang dan tersenyum manis.

“Engkau sudah bangun? Bagaimana tubuhmu?”

Sejenak Bun Beng tak mampu menja­wab, lehernya seperti tercekik. Sejak malam tadi, Milana kelihatan sibuk te­rus mengurus dan merawat dirinya. Apa­kah tidak tidur semalam? Dan melihat gadis itu di pagi hari ini, membuat Bun Beng terpesona. Belum pernah dia meli­hat wajah secantik itu. Bukan main! Me­remehkan segala kecantikan yang pernah dilihat sebelumnya. Milana memiliki ke­cantikan yang aneh, tidak seperti biasa dan mengadung sesuatu khas yang takkan terdapat pada wajah selaksa orang gadis cantik lainnya.

“Aihh, kenapa engkau diam saja, Twako?”

Bun Beng menjadi gugup dan kedua pipinya merah sekali. “Maaf.... eh, aku.... aku sedang memikirkan bahwa sesungguh­nya tidak perlu engkau bersusah payah untuk aku, Nona. Engkau terlalu baik dan aku merasa tidak layak menerima kebaik­an yang berlebihan ini, membuat aku berhutang budi dan.... bagaimana aku akan mampu membalasmu?”

Milana tersenyum lebar. “Ya jangan dibalas karena aku tidak menghutang­kan apa-apa!” Sebelum pemuda itu men­jawab, Milana mendahului dengan sikap dan suara bersungguh-sungguh, “Gak-twako, mengapa engkau masih saja memperlihatkan sikap sungkan? Bukan­kah kita berdua telah mengenal sejak kecil dahulu? Kalau seandainya aku yang tertimpa bencana seperti engkau sekarang ini dan bertemu denganmu, apakah engkau tidak akan sudi menolongku?”

“Ah, tentu saja!” jawab Bun Beng ce­pat.

“Kalau melihat engkau sungkan-sung­kan seperti ini, agaknya engkau pun ten­tu akan segan dan sungkan menolongku.”

“Demi Tuhan! Tidak, Nona. Aku akan melaksanakan apa saja, kalau perlu me­ngorbankan nyawa untuk menolongmu!”

Milana tersenyum lagi dan membung­kuk. “Terima kasih, Twako. Nah, kalau begitu kita sama-sama, bukan? Tidak ada hutang-pihutang budi, yang ada hanya kebetulan saja engkau yang membutuh­kan pertolongan dan aku yang dapat me­nolongmu dan.... ohhhh!” Milana cepat membalikkan tubuh memandang kepada dua orang pembantu ibunya yang mema­suki pondok itu dengan sikap takut-takut. Bun Beng juga bangkit duduk di atas di­pan, memandang kepada dua orang itu, sikapnya tenang.

“Kalian mau apa?” Milana yang merasa khawatir itu segera membentak. Dia tidak khawatir kalau orang-orang Thian-liong-pang ini menyerang Bun Beng, tentu tidak akan berani selama dia menjaga pemuda itu. Akan tetapi dia lebih khawatir kalau munculnya orang-orang itu akan membuka rahasianya, yaitu bahwa dia adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, bahwa ibunya yang su­dah dikenal Bun Beng sebagai isteri Pendekar Super Sakti itulah sesungguh­nya Ketua Thian-liong-pang!

Kedua orang itu cepat menjura de­ngan penuh kehormatan kepada Milana kemudian Su Kak Liong, yang tertua di antara mereka, tentu saja hanya lebih tua beberapa jam daripada Su Kak Houw, berkata hormat.

“Harap Siocia (nona) sudi memaafkan kami yang lancang. Akan tetapi, karena kami melaksanakan perintah Pangcu ter­paksa....”

“Cukup! Pergilah, aku tidak mau di­ganggu!” Milana membentak marah dan kedua orang itu menjadi pucat, saling memandang dengan bingung. Yang lebih bingung lagi adalah Bun Beng. Kini dia mengenal kedua orang itu yang hadir ketika dia berada di Thian-liong-pang. Tak salah lagi, mereka adalah dua orang to­koh Thian-liong-pang dan agaknya utus­an dari Ketua Thian-liong-pang, akan te­tapi mengapa mereka bersikap begitu hormat dan takut-takut terhadap Milana?

Su Kak Liong mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya, memperlihat­kannya kepada Milana yang seketika menjadi pucat. Dara itu menutup mulut dengan jari tangan seolah-olah hendak menahan jeritnya, matanya terbelalak memandang ke arah benda kecil di atas telapak tangan Su Kak Liong yang ter­nyata adalah sebuah benda besi hitam berbentuk tengkorak kecil sekali.

“Ohhh.... tidak....!” Milana berseru lirih.

“Siocia maklum apa artinya perintah ini. Kami harus membunuh dan mengha­dapi rintangan apa pun, karena kegagal­an kami harus kami tebus dengan nyawa. Sekali lagi, harap sudi memaafkan kelan­cangan kami yang hanya kami lakukan dengan terpaksa sekali, untuk melaksana­kan perintah Pangcu. Houw-te (Adik Houw), bunuh dia!”

Su Kak Houw sudah siap sejak tadi. Si Lengan Buntung ini pun maklum bah­wa sekali kakaknya mengeluarkan tanda perintah membunuh dari Ketua mereka, tentu puteri ketua ini sekalipun tidak akan berani menghalangi tugas mereka. Maka, begitu mendengar perintah kakaknya sebagai pemegang tanda perintah itu, dia cepat melompat mendekati pemba­ringan Bun Beng, dilanjutkan dengan ter­jangannya yang dahsyat, sekalipun meng­gunakan tangan kirinya membacok dengan gerakan dan pengerahan tenaga sakti. Bacokan tangan miring yang dapat mem­bacok putus baja dan besi, yang membu­at dia dijuluki Toat-beng-to karena se­olah-olah tangan kirinya berubah menja­di sebuah golok pusaka yang luar biasa ampuhnya!

Menghadapi serangan yang amat dah­syat ini, Bun Beng kehabisan akal dan biarpun dia mengambil keputusan untuk melawan dan tidak menyerahkan nyawa­nya begitu saja, namun ia maklum bah­wa dia terancam bahaya maut. Akan tetapi, angin pukulan yang amat hebat itu mengingatkan dia akan suara angin ketika dia bersama kakek muka kuning Pulau Neraka naik layang-layang dan di serang badai. Teringat ia akan pelajaran dari kakek itu cara menghadapi serang­an badai dan cara menyelamatkan layang-layang berikut dirinya.

“Menghadapi serangan angin yang le­bih kuat, jangan sekali-kali melawannya secara langsung.” demikian kakek muka kuning itu berteriak-teriak memberi pe­tunjuk untuk mengatasi. “Kosongkan te­nagamu dan turutilah gerak arus angin itu ke arah mana dia menyambar, kemu­dian belokkan dan buang ke depan. Pas­ti layang-layang ini akan dapat mengu­asainya.”

Teringat akan pelajaran yang berkele­bat di dalam benaknya pada detik nya­wanya terancam maut itu, Bun Beng cepat membuat gerakan otomatis untuk melaksanakan pelajaran itu. Dia memba­talkan niatnya hendak menangkis sam­baran tangan kiri tokoh Thian-liong-pang itu, bahkan ketika tangan itu menyambar, didahului arus angin amat kuat me­nyambar ke arah lehernya, otomatis tu­buhnya yang duduk itu meliuk ke bela­kang dan tenaganya sendiri cepat menga­lir ke bagian tubuhnya yang kiri bersa­ma arus tenaga yang datang itu. Ketika telapak tangan lawan itu sudah dekat dengan lehernya, tiba-tiba Bun Beng yang merasa betapa lengan di seluruh lengan kirinya sudah bergabung dengan tenaga yang datang tadi, persis seperti ketika mengemudikan layang-layang, dia cepat membuang tenaga itu melalui tangan ki­rinya ke depan, membabat turun dari atas ke arah lengan kiri lawan.

“Crakkkk....!” Terdengar jerit menge­rikan. Bun Beng melihat betapa Milana cepat meloncat ke samping dan tubuh lawannya terhuyung-huyung ke belakang. Dia ngeri sekali menyaksikan akibat dari gerakannya tadi, dan memandang dengan mata terbelalak ke arah lengan kiri la­wan itu yang kini telah buntung! Ternya­ta bahwa babatan tangan kirinya tadi telah dapat membuat lengan lawan itu buntung sebatas pangkalnya! Tanpa disadari, Bun Beng telah dapat mewarisi dan menggunakan ilmu mujijat dari Pu­lau Neraka, yaitu ilmu “memindahkan tenaga” yang amat hebat. Adapun korban pertama dari ilmunya itu, yang terjadi tanpa ia sengaja, adalah Su Kak Houw tokoh Thian-liong-pang, sungguhpun tadi dia tahu bahwa hal itu dapat terjadi karena adanya bantuan dari Milana. Ke­tika tadi Su Kak Houw melancarkan serangan, Milana yang maklum akan kehe­batan tangan kiri Su Kak Houw, cepat menyambar dari belakang dengan sebuah totokan kilat sehingga Su Kak Houw tadi terhenti. Andaikata tidak demikian, biarpun ilmu baru Bun Beng mujijat, na­mun pemuda itu tetap saja terancam bahaya terkena pukulan sebelum lengan Su Kak Houw buntung!

Su Kak Liong terkejut sekali, cepat meloncat ke depan dan menerima tubuh adik kembarnya yang pingsan, dan dia mengambil pula lengan kiri adiknya. De­ngan muka pucat Su Kak Liong meman­dang kepada Milana karena dia menduga bahwa tentu puteri Ketuanya itulah yang membuat lengan adiknya buntung. Dia tidak dapat melihat dan tak akan mau percaya bahwa pemuda yang sudah lum­puh kedua kakinya itu yang membuntung­kan lengan adiknya yang lihai.

“Kami hanya melaksanakan tugas pe­rintah Pangcu, akan tetapi Nona berlaku kejam. Kami tidak berani melawanmu, Nona, akan tetapi kami harus melapor­kan peristiwa ini kepada Pangcu dan mo­hon pengadilan.” Setelah berkata demiki­an, Su Kak Liong memondong tubuh adik kembarnya keluar dari pondok itu.

“Terima kasih atas pertolonganmu, Nona....” Bun Beng berkata, menahan-nahan rasa nyeri hebat yang menyesak­kan dada.

Milana menoleh kepadanya. “Aihh, Twako. Ilmu mujijat apakah yang kau pergunakan tadi....? Ehhh.... kau kena­pa....?” Gadis itu meloncat dekat pem­baringan di mana Bun Beng terengah-engah, kemudian pemuda itu menelung­kupkan mukanya ke pinggir pembaringan untuk muntahkan darah segar!

“Kau.... kau terluka....!” Milana berseru khawatir, duduk di tepi pembaringan dan menyusuti darah dari bibir Bun Beng yang terengah-engah itu dengan saputa­ngan.

Bun Beng merasa makin berterima kasih dan tidak enak. “Sudahlah, Nona.... lebih baik kautinggalkan aku di sini.... pengerahan tenaga tadi memperhebat penyakitku, dan.... kau akan dimusuhi Thian-liong-pang.... tinggalkan aku, aku tidak mau kalau Nona sampai tersangkut dan terancam bahaya karena aku, seorang yang sudah tiga perempat mati.”

“Tidak! Aku harus membawamu kepada orang yang akan dapat mengobatimu, dapat mengeluarkan racun dari tubuhmu. Kalau kau berada di bawah perlindunganku, jangankan orang-orang Thian-liong-pang, biar segala setan iblis di dunia ini akan mengganggu pasti akan kulawan!”

Biarpun dadanya terasa sesak dan nyeri, Bun Beng terpaksa tersenyum juga mendengar ucapan yang keluar dari mulut yang mungil dan manis itu. Ia memandang wajah itu melalui kunang­-kunang yang menari di depan matanya.

“Terserah kalau begitu, Nona Milana. Akan tetapi.... aku hanya akan suka mene­rima budimu dengan hati berat kalau engkau suka berterus terang pula. Orang-orang Thian-liong-pang tadi bukanlah orang-orang yang berkedudukan rendah, dan ilmu kepandaian mereka yang ting­gi membuktikan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh besar dari Thian-liong-pang. Akan tetapi, mengapa mereka itu amat menghormati dan takut kepada Nona? Ada hubungan apakah antara Nona dengan Thian-liong-pang? Harap Nona suka ber­terus terang agar aku tidak menjadi bi­ngung dan ragu-ragu.”

Milana menjadi merah mukanya. Sam­pai lama dia saling berpandangan dengan Bun Beng dan melihat sinar mata tajam dan membayangkan kemauan yang kokoh kuat itu, tahulah dia bahwa tiada guna­nya membohong terhadap pemuda ini, juga amat berbahaya kalau tidak berte­rus terang.

“Gak-twako, sesungguhnya hal ini me­rupakan rahasia besar bagiku. Akan teta­pi, karena engkau bukanlah orang luar, kumaksudkan bahwa dahulu di waktu kecil engkau telah mengetahui keadaan kami, dan mengingat akan keadaanmu sekarang, bahwa aku harus menolongmu dan engkau telah menyaksikan pula tadi sikap para tokoh Thian-liong-pang, se­baiknya keberitahukan rahasia besar ini, bahwa aku.... aku adalah puteri Ketua Thian-liong-pang. Ketua penuh rahasia yang mukanya selalu dikerudungi itu bu­kan lain adalah Ibuku sendiri.”

“Ohhhh....!” Pengakuan ini merupakan pukulan yang amat hebat bagi Bun Beng sehingga ia terjengkang dan rebah ping­san di atas pembaringannya!

Ketika siuman kembali Bun Beng me­rasa dadanya masih nyeri akan tetapi tidak begitu sesak lagi dan kedua kaki­nya seolah-olah makin mati. Tubuhnya tergoncang-goncang dan ketika ia mem­buka mata, kiranya ia telah berada di atas punggung kuda lagi, dan Milana duduk di belakangnya.

“Ohhhh.... engkau hendak membawaku ke mana, Nona?”

“Gak-twako, kenapa engkau masih selalu bersikap sungkan dan menyebutku Nona seolah-olah kita bukan sahabat lama? Gak-twako, setelah aku menyebut Twako (Kakak) padamu mengapa engkau tidak tidak mau menyebutku Adik?”

“Aihhh, mana aku berani, Nona Mila­na? Engkau adalah puteri Pendekar Su­per Sakti, Pendekar Siluman Majikan Pu­lau Es yang amat terhormat, sakti dari mulia. Engkau juga puteri Ketua Thian-liong-pang yang terkenal di seluruh du­nia! Aihhhh.... Nona, sungguh aku terke­jut setengah mati mendengar bahwa Ke­tua Thian-liong-pang adalah Ibumu. Seka­rang.... ah, makin keras permintaanku agar engkau tidak menolongku, Nona.”

“Hemm, kenapa? Karena engkau di­musuhi Thian-liong-pang? Tidak peduli! Aku tetap akan melindungimu dan men­carikan orang pandai yang akan dapat menyembuhkanmu.” Suara dara itu tetap halus namun menyembunyikan tekad yang amat besar, kemauan yang tak mungkin dibelokkan oleh apapun juga.

“Tapi Thian-liong-pang....?”

“Peduli amat! Kalau mereka datang hendak memaksakan kehendak mereka membunuhmu, akan kuhadapi mereka se­mua!”

“Akan tetapi, Nona. Tak mungkin demikian! Apakah engkau akan melawan Ibumu sendiri? Para tokoh Thian-liong-pang itu hanya melaksanakan tugas perin­tah Ibumu!”

“Tidak peduli!”

Ingin Bun Beng memandang wajah ga­dis itu, akan tetapi karena Milana du­duk di belakangnya, tentu saja tidak mungkin ia menoleh ke belakang karena hal itu akan terlalu tidak sopan dan muka mereka tentu akan saling berde­katan. Jantungnya berdebar tidak karuan ketika mendengar jawaban itu, maka un­tuk melepaskan keraguan hatinya yang berdebar tidak karuan itu, dia membera­nikan diri berkata,

“Nona Milana, engkau berkeras meno­longku dan menghadapi Ibumu sendiri? Ah, mengapa begini? Engkau membuat aku merasa tidak enak sekali! Ibumu tentu akan marah sekali kepadamu, Nona.”

“Biarlah, aku tidak takut.”

Hening sejenak, hanya suara derap kaki kuda yang mereka tunggangi itu terdengar memecah kesunyian hutan yang mereka lalui, namun bagi Bun Beng, de­tak jantungnya sendiri lebih keras dari­pada derap kaki kuda.

“Nona Milana....”

“Ah, telingaku menjadi sakit mende­ngar sebutanmu nona berkali-kali itu, Twako. Sebut saja namaku, tanpa nona.”

“Maaf, aku tidak berani. Nona Mila­na, kita bersama lahir sebagai manusia yang sejak kecil digembleng ilmu keke­rasan dan kita mengutamakan kejujuran dan kegagahan. Kini kita berdua mengha­dapi hal yang amat rumit, yang bahwa engkau sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang bertekad melindungi aku dari ke­inginan Ibumu sendiri yang mengutus orang-orangnya untuk membunuhku. Ku­harap kau suka menjawab dengan terus terang dan jujur, Nona. Mengapa engkau bersikap seperti ini?”

Hening pula sejenak, kemudian terde­ngar Milana balas bertanya,

“Apa maksudmu, Twako? Aku tidak mengerti.”

“Nona, mengapa engkau lebih membe­ratkan aku daripada Ibumu? Jelas bahwa aku bersalah besar terhadap Ibumu se­hingga kini Ibumu mengutus orang-orang­nya untuk membunuhku. Akan tetapi mengapa engkau melindungiku mati-matian dan tidak enggan melawan Ibumu sendi­ri? Mengapa engkau lebih memberatkan aku daripada Ibumu?”

Kini suasana menjadi hening, agak lama karena Milana memandang ke atas dengan alis berkerut, agaknya sukar ba­ginya menemukan jawaban untuk perta­nyaan Bun Beng itu. Berkali-kali ia menghela napas panjang, kemudian terde­ngar ia menjawab,

“Sukar sekali menjawab pertanyaan­mu, Twako. Akan tetapi setelah kupikir-pikir, agaknya aku sadar akan kekejam­an Thian-liong-pang, sadar akan kese­satan Ibu dan kesalahannya terhadap engkau yang tak berdosa. Karena kesadaran itu maka aku berusaha menentang dan kebetulan bertemu denganmu yang terancam oleh Thian-liong-pang. Nah, puaskah kau dengan jawabanku, Twako?”

Bun Beng menggeleng kepala. “Aku ti­dak puas, Nona, karena jawaban itu ter­lalu dicari-cari, dan bukan itu sebabnya. Mengapa untuk menjadi sadar engkau ha­rus menunggu sampai berjumpa dengan­ku? Pula, untuk menyadarkan seorang ibu, tentu cukup dengan menegur dan mengingatkan. Masa sampai menentang­nya dan membela orang lain. Maaf, No­na. Coba engkau bayangkan andaikata bukan aku yang kaujumpai, melainkan orang lain yang sama sekali tidak kau­kenal, apakah engkau juga akan membe­lanya dari Ibumu dan Thian-liong-pang? Begitu banyak orang pandai, diculik oleh Thian-liong-pang untuk dicuri ilmunya, mengapa engkau mendiamkannya saja dan tidak ada seorang pun yang kaubela? Mengapa justru aku yang kaubela sehing­ga kau siap menghadapi pertentangan dengan perkumpulan Ibumu? Harap kau suka menjelaskan, dan mengaku secara jujur, apa sebabnya, Nona?”

Kini lebih lama lagi keadaan menjadi sunyi. Bun Beng mendengarkan dan menanti dengan jantung berdebar tegang. Akan tetapi sunyi saja di belakangnya. Akhirnya terdengar Milana tertawa halus suara tertawa yang jelas sekali bagi Bun Beng adalah suara untuk menutupi kegugupannya. “Hi-hik, engkau ini aneh-aneh saja, Gak-twako. Aku sampai men­jadi bingung. Sudahlah, aku tak dapat menjawab karena aku sendiri tidak me­ngerti, mengapa aku tiba-tiba ingin membelamu mati-matian. Karena engkau bertanya dengan demikian mendesak, agaknya engkau yang tahu akan sebab­nya, Twako. Maka tolonglah engkau yang menjawabkan untukku.”

“Nona Milana, tidaklah mengherankan kalau engkau sendiri tidak tahu, karena memang hal ini amat sulit dimengerti, hanya terasa oleh hati. Engkau bertemu denganku, lalu timbul hasrat untuk me­nolongku, melindungiku mati-matian bah­kan rela bertentangan dengan Ibu sen­diri. Hal ini tidak lain adalah karena cinta!”

“Heiiiii.... aduuuhhh....!”

Tubuh Bun Beng terbanting dari atas punggung kuda karena dalam keadaan kaget setengah mati mendengar ucapan pemuda itu, Milana mengeluarkan suara melengking nyaring yang membuat kuda­nya meringkik dan mengangkat kaki de­pan ke atas dan tergulinglah tubuh Bun Beng yang kedua kakinya lumpuh itu!

“Ohhh, Twako.... kau tidak apa-apa?” Milana cepat meloncat turun dan berlu­tut di dekat Bun Beng yang sudah rebah terlentang.

Pemuda itu menggeleng kepala dan berusaha tersenyum, lalu ia bangkit du­duk dengan menekankan kedua tangan pada tanah. Mereka saling berpandang­an. “Aku mohon maaf sebesarnya atas ucapanku tadi, Nona. Bukan niatku untuk menghinamu, aku hanya bicara menurut­kan suara hati. Maafkanlah aku yang lan­cang mulut.”

“Engkau orang aneh!” Milana menyam­bar kedua lengan Bun Beng dan memba­wanya melompat ke atas kuda lagi. “Aku yang membikin kau terjatuh dari kuda, malah engkau yang minta maaf.”

“Tentu saja, karena aku jatuh oleh ka­getnya kuda, kuda kaget oleh lengkingan­mu, dan engkau melengking oleh ucapan­ku. Jadi biang keladinya adalah aku sen­diri, maka aku yang bersalah dan aku yang minta maaf.”

“Kata-katamu tadi tidak perlu dimin­takan maaf. Akan tetapi, aku menjadi makin heran. Aku tidak tahu apa-apa tentang cinta. Cinta yang bagaimana yang kaumaksudkan? Yang ada dalam ha­tiku hanyalah perasaan ingin menolong­mu. Apakah itu cinta yang mendorong­nya ataukah perasaan lain, aku tidak ta­hu. Aku melihatmu, teringat akan masa lalu, dan aku kasihan kepadamu, maka aku ingin menolongmu, Twako. Kalau orang-orang Thian-liong-pang tadi kula­wan, karena timbul penasaran dan kema­rahan di hatiku, mengapa engkau yang sudah terluka dan dalam keadaan teran­cam maut ini masih mereka ganggu. Apakah ini semua sebab cinta? Aku tidak tahu dan tak dapat menjawab. Agaknya engkau adalah seorang ahli ten­tang cinta, Twako, maka tolonglah beri penjelasan dan kuliah tentang cinta.”

Seketika merah kedua pipi Bun Beng dan ia menyeringai, tersenyum masam yang untung tidak tampak oleh dara yang duduk di belakangnya. “Wah, aku sendiri tidak tahu tentang itu, Nona, aku sendiri pun belum mengenal cinta....”

“Ah, kau bohong, Twako!”

“Sungguh mati!”

“Usiamu tentu telah banyak, setidak­nya beberapa tahun lebih tua daripada aku yang baru tujuh belas tahun.”

“Aku enam tahun lebih tua, Nona. Akan tetapi, aku.... aku belum pernah.... eh, maksudku mengalami cinta, dan.... eh, apa yang kita bicarakan ini? Sama-sama tidak tahu tentang cinta, akan te­tapi sudah berani bicara. Mana bisa?” Bun Beng tertawa dan Milana juga ter­tawa. Tiba-tiba Bun Beng merasa beta­pa gembira hatinya. Aneh sekali! Dia tahu bahwa dirinya terancam maut, se­dikit sekali harapan dapat tertolong. Mengapa dia tidak merasa takut, tidak merasa khawatir dan tidak merasa ber­duka, bahkan hatinya penuh rasa gembira? Kedua kakinya masih lumpuh, dada­nya masih nyeri, akan tetapi rasa gembi­ra mengalahkan semua ini.

“Kau benar, Twako. Sekarang lebih baik kau ceritakan semua pengalamanmu mengapa engkau sampai terluka hebat seperti ini, dan dari mana engkau datang, bagaimana pula engkau menjadi tawanan orang-orang Pulau Neraka di perahu itu.”

“Hemm, semua itu gara-gara Sepa­sang Pedang Iblis....”

“Ehhhh? Sepasang Pedang Iblis? Di mana kedua pedang pusaka itu?”

Bun Beng menarik napas panjang. Agaknya dara jelita ini pun terkena pu­la wabah “demam Sepasang Pedang Iblis” yang diderita semua orang kang-ouw sehingga terjadi perebutan sejak dahulu. “Sayang pedang-pedang itu tidak berada di tanganku lagi, sungguhpun akulah yang menemukannya. Kalau tidak terampas orang tentu yang sebuah akan kuberikan kepadamu, Nona.”

“Ahhh, suaramu itu! Apa kaukira aku terlalu ingin memperoleh pedang yang namanya saja begitu mengerikan? Tidak, Twako. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kalau Sepasang Pedang Iblis itu berada di tanganmu, sudah dapat ditentukan nyawamu akan tertolong!”

“Eh, kenapa begitu?”

“Ibu tentu akan girang sekali meneri­ma sepasang pedang itu, dan akan berte­rima kasih kepadamu. Ibu tentu akan su­ka mengampunimu bahkan akan mengo­batimu sampai sembuh. Betapapun juga kalau dapat mengatakan di mana adanya pedang-pedang itu saja, Ibu tentu sudah menjadi girang sekali. Ceritakanlah, Twako bagaimana pedang itu terampas orang dan bagaimana pula engkau ter­luka hebat?”

“Yang melukai aku adalah seorang sakti yang berilmu tinggi dari negeri barat, namanya Maharya dengan murid­nya....”

“Aihhhh....! Tan-siucai dan gurunya yang dahulu mencuri pedang Hok-mo-kiam buatan Kakek Nayakavhira dan yang membunuh burung-burung garuda dari Pulau Es itu?”

Bun Beng mengangguk. “Ya, mengenai sepasang pedang itu, yang betina ku­berikan kepada Nona Giam Kwi Hong dan....”

“Aihhhh! Enci Kwi Hong?” Milana berseru girang mendengar nama ini, akan tetapi suaranya tiba-tiba berubah lirih ketika melanjutkan, “Kau.... berikan pedang itu kepadanya?”

Bun Beng tidak mendengar perbedaan suara ini dan ia mengangguk. “Pedang betina kuberikan kepadanya, dan pedang jantan yang kubawa telah terampas....”

“Oleh Tan Ki dan Maharya?”

“Bukan, oleh pemuda iblis dari Pulau Neraka.”

“Ohhh....!” Kaget bukan main hati Milana mendengar ini. Ibunya tentu akan marah sekali mendengar bahwa Sepasang Pedang Iblis yang amat diinginkan itu ternyata telah terjatuh ke tangan Pulau Es dan Pulau Neraka! “Bagaimana bisa demikian?”

Bun Beng lalu menceritakan penga­lamannya semenjak bersama Kwi Hong dia mengambil sepasang pedang itu dari tempat ia menyembunyikannya, kemudian betapa mereka bertemu dengan Tan Ki dan Maharya, kemudian muncul pemu­da lihai dari Pulau Neraka yang berhasil merampas Lam-mo-kiam dari tangannya. Milana mendengarkan dengan hati terta­rik bercampur kecewa.

“Untung bahwa aku telah memberikan Li-mo-kiam kepada Nona Kwi Hong se­hingga dapat dibawanya lari. Sayang bah­wa Lam-mo-kiam terampas oleh pemuda iblis itu, kalau tidak, aku tentu dengan girang akan memberikan Lam-mo-kiam kepadamu, Nona Milana.”

Ucapan yang menutup penuturannya ini membuat Bun Beng terbayang akan wajah Kwi Hong dan teringatlah ia akan perjalanannya berdua dengan nona itu. Diam-diam ia membandingkan Kwi Hong segan Milana. Kwi Hong juga tidak mau disebut nona, bahkan marah-marah se­hingga terpaksa dia menyebut murid Pendekar Super Sakti itu dengan nama­nya saja. Akan tetapi sikap dan sifat Milana lain. Dara ini amat halus tutur sapa dan gerak-geriknya sehingga dia merasa sungkan untuk menyebut namanya begitu saja. Dara ini dengan sikap­nya yang halus lemah lembut, memiliki wibawa yang agung dan membuat dia tak berani untuk bersikap tidak hormat!

“Gak-twako, engkau tentu tahu bah­wa Sepasang Pedang Iblis itu menjadi rebutan seluruh dunia kang-ouw. Setelah secara kebetulan kau mendapatkan pusa­ka-pusaka itu, mengapa dengan mudah saja kauberikan sebuah kepada Enci Kwi Hong?”

Bun Beng termenung mendengar per­tanyaan ini dan diam-diam mukanya berubah tanpa dapat dilihat Milana yang duduk di belakangnya. Sejenak Bun Beng tak dapat menjawab, mengerutkan ke­ning berpikir, kemudian baru ia menja­wab setelah berpikir lama, “Kurasa tidak aneh, Nona. Untuk apakah aku memiliki dua batang pedang? Tidak ada buruknya kalau aku menyerahkan sebatang kepada Nona Kwi Hong, dan mengapa kepada dia kuserahkan Li-mo-kiam? Pertama, karena kebetulan menemaniku mengambil Sepasang Pedang Iblis. Ke dua, karena dia adalah murid Pendekar Super Sakti yang amat kukagumi dan muliakan. Itu­lah sebabnya.”

Hening sejenak sebelum Milana berta­nya lagi. “Gak-twako, apakah engkau mencintai Enci Kwi Hong?”

“Hahh....?” Pertanyaan yang keluar dengan suara halus seperti berbisik itu benar-benar tak disangka-sangka, terlalu tiba-tiba datangnya membuat Bun Beng gelagapan seolah-olah dia dibenamkan ke dalam air. “Apa.... apa maksudmu, No­na....?”

“Twako, semenjak masih kecil dahulu, sudah tampak betapa engkau dan Enci Kwi Hong cocok dan akrab sekali. Kini Pedang Li-mo-kiam adalah sebatang di antara Sepasang Pedang Iblis yang di­perebutkan seluruh orang kang-ouw. To­koh-tokoh besar di dunia kang-ouw akan rela mempertaruhkan nyawanya untuk men­dapatkan sebatang di antaranya. Akan te­tapi engkau dengan mudah saja menyerahkannya kepada Enci Kwi Hong. Kalau engkau mencinta Enci Kwi Hong, hal itu tidaklah aneh lagi. Aku hanya ingin tahu apakah engkau mencinta Enci Kwi Hong?”

“Ahhhh, Nona Milana! Engkau membu­at aku malu saja. Orang macam aku ini mana ada hak untuk mencinta seorang seperti dia? Dia adalah murid Pendekar Super Sakti, bahkan dia adalah keponak­an Beliau! Mana mungkin dan mana pan­tas aku jatuh cinta kepadaya? Tidak, Nona, harap tidak menyangka yang bukan-bukan. Aku menyerahkan Li-mo-kiam kepadanya hanya karena mengingat kepa­da gurunya dan pamannya, Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti, Maji­kan Pulu Es yang kuhormati.”

Tanpa terlihat oleh Bun Beng, pan­dang mata Milana termenung ketika ia mendengar jawaban itu. Sampai lama dia termenung sambil menjalankan kuda­nya menuruni lembah gunung, memasuki hutan ke dua yang besar dan agak ge­lap. Hatinya tenang saja karena dia mengenal hutan ini, tahu bahwa dia su­dah memasuki wilayah di luar kekuasaan Thian-liong-pang dan ia tahu benar bah­wa ibunya melarang anak buahnya mela­kukan sesuatu di luar wilayah kekuasaan­nya untuk menjaga nama Thian-liongpang, kecuali utusan-utusan khusus yang ditugaskan untuk suatu keperluan. Dia bermaksud pergi ke kota Siang-bun di sebelah selatan hutan besar itu, di sana ia mendengar tinggal seorang tabib yang pandai. Siapa tahu barangkali tabib itu akan dapat menolong Bun Beng.

“Engkau merasa terlalu rendah untuk mencinta Enci Kwi Hong, Twako?”

Kembali pertanyaan yang tiba-tiba datangnya dan tidak tersangka-sangka, sehingga Bun Beng menjadi terkejut dan menjawab gagap, “Ya.... ya.... begitulah.”

“Misalnya.... terhadap diriku, bagaima­na? Apakah engkau juga merasa terlalu rendah untuk jatuh cinta kepadaku? Ini hanya umpamanya saja, Twako.”

Bun Beng terbelalak, jantungnya berde­bar keras. Betapa jujur dan polos hati dara ini! Mukanya menjadi panas seperti dibakar rasanya. “Ahhh.... mana aku berani, Nona? Lebih-lebih terhadapmu! Engkau adalah puteri Pendekar Super Sakti, puteri Ketua Thian-liong-pang! Sedangkan aku...., aku hanya anak yang tidak syah dari seorang tokoh hitam, datuk kaum sesat!”

Milana merasa terharu. “Aihh, engkau terlalu merendahkan diri, Gak-twako. Bagiku, aku tidak menilai seseorang kare­na keturunannya, karena wajahnya mau­pun karena kepandaian atau kedudukan­nya. Cinta adalah urusan hati, bukan urus­an mata, urusan batin, bukan urusan lahir.”

Jantung Bun Beng makin berdebar. Kata-kata yang amat aneh terdengar olehnya, kata-kata yang sukar sekali un­tuk diselami dan dikenal bagaimana isi hati orang yang mengucapkannya. Dia menjadi ragu-ragu dan penasaran, maka dia memberanikan hatinya bertanya.

“Maaf, Nona Milana. Sekali lagi aku bermulut lancang mengajukan pertanya­an ini. Apakah Nona mencintaku?”

Bun Beng dapat merasakan dengan punggungnya yang bersentuhan dengan tu­buh dara itu betapa Milana agak geme­tar mendengar pertanyaan itu, akan te­tapi jawaban yang keluar dengan halus itu tetap tenang. “Aku tidak tahu, Twa­ko. Bagaimana aku tahu kalau aku sendiri tidak mengerti apa artinya cinta itu sendiri? Aku merasa suka kepadamu, dan merasa kasihan kepadamu. Hanya itulah yang terasa di hatiku, yang membuat aku mengambil keputusan bulat untuk mem­bela dan menolongmu. Aku tidak tahu apakah suka dan kasihan itu sama dengan cinta. Bagaimana pendapatmu, Twako? Tahukah engkau apa sebetulnya cinta?”

Bun Beng tidak dapat menjawab. Ku­da itu berjalan terus, perlahan-lahan dan keduanya diam, seolah-olah tenggelam dalam lamunan tentang cinta. Bun Beng memandang ke depan ke arah pohon-po­hon seolah-olah ingin mencari jawaban tentang arti cinta di antara daun-daun pohon, di antara sinar matahari dan ba­yangan benda-benda yang bersinar oleh cahaya matahari. Dahulu ketika ia me­ngenangkan wajah tiga orang wanita, wa­jah Kwi Hong, wajah Ang Siok Bi pute­ri Ketua Bu-tong-pai, wajah Milana, ia pernah merenungkan tentang cinta. Kemudian, ketika ia masih kecil, pertemu­an antara Pendekar Super Sakti dan iste­rinya, Nirahai yang ternyata adalah ibu kandung Milana, juga membuatnya ter­menung dan mulailah ia berpikir tentang cinta. Cinta antara pria dan wanita, apa itu?

“Cinta adalah penyakit!” Tiba-tiba saja ucapan ini keluar dari mulutnya, ti­dak hanya mengejutkan hati Milana, ju­ga mengagetkan Bun Beng sendiri kare­na kata-katanya sendiri itu seperti ter­lompat keluar tanpa disadarinya.

“Apa? Cinta adalah penyakit?” Mila­na berseru keras.

Karena sudah terlanjur, Bun Beng melanjutkan, mengikuti suara hatinya yang timbul di saat itu. “Cinta adalah sumber penyakit yang menciptakan pe­nyakit-penyakit baru. Cinta yang dike­nal pria dan wanita, sebenarnya tidak patut disebut cinta, bahkan mungkin bu­kan cinta yang sesungguhnya! Seorang wanita dan seorang pria saling berjumpa, saling mengagumi keelokan masing-masing, saling tertarik. Kemudian timbul hasrat ingin saling memiliki. Itulah cinta! Bukankah keinginan itu hanya nafsu be­laka? Nafsu mendapatkan sesuatu demi kesenangan dan kepuasan diri sendiri? Karena itu menjadi sumber penyakit. Kalau keinginan tidak terkabul, juga tim­bul penyakit-penyakit baru seperti cem­buru, kecewa dan lain-lain. Ketidakco­cokan pikiran dan watak mendatangkan pertengkaran dan ke mana larinya cinta? Ketidakpuasan dalam hubungan satu sama lain menimbulkan kekecewaan, ke mana larinya cinta? Cemburu yang me­nimbulkan kebencian, ke mana larinya cinta? Cinta yang dikenal sekarang, ter­utama oleh kaum pria, hanyalah nafsu dan si wanita hanyalah dijadikan alat penyenang hati dan badannya. Kalau ke­nyataan sebaliknya, terbanglah cinta­nya.”

Milana membelalakkan mata, bergi­dik ngeri. “Aihhh, kau terlalu kejam, Twako! Kurasa tidak demikian buruk se­perti yang kausangka, atau karena kau belum merngenal, kau lalu mengawur sa­ja tentang cinta. Cinta itu murni, halus, indah bagi wanita. Cinta itu bukan naf­su semata, lebih halus, lebih mendalam, mengenai perasaan hati. Wanita ingin dicinta, ingin dihargai, ingin dikagumi, ingin dimanja. Untuk itu, dia rela berkorban apa pun, rela menyerahkan badan dan nyawa untuk laki-laki yang mencintanya.”

“Hemm, di mana ada keinginan, tim­bullah kekecewaan. Keretakan pun terja­dilah seperti Ibu dan Ayahmu, eh, ma­af....!” Bun Beng terkejut dan tiba-tiba saja terbukalah matanya mengenai kere­takan hubungan antara Pendekar Super Sakti dan isterinya, Nirahai.

“Kau keliru. Kekecewaan pun akan diterima oleh wanita yang mencinta dan dicinta. Suka sama dinikmati, duka sa­ma dipikul. Itulah cinta....”

Bun Beng menarik napas panjang. “Ahhh, memang ada perbedaan pendapat tentang cinta antara pria dan wanita, akan tetapi justeru perbedaan pendapat itulah yang menciptakan seninya, seni untuk menyesuaikan diri. Setiap perju­angan menghadapi kenyataan pahit dan usaha untuk mengatasinya, itulah seni hidup. Wanita lebih menggunakan perasa­annya yang halus, karena itu cintanya lebih murni, tidak seperti pria yang meng­gunakan pikirannya sehingga timbullah dorongan-dorongan nafsu jasmani yang kadang-kadang berlebihan sehingga memancing datangnya pertentangan dan persoalan....”

“Sssstt.... ada orang....” Tiba-tiba Mi­lana berbisik dan ketika Bun Beng mengangkat muka, ternyata muncul lima orang Thian-liong-pang yang sikapnya keren dan menyeramkan.

Milana menahan kudanya dan mengha­dapi lima orang itu dengan pandang ma­ta penuh wibawa. Ia menggunakan lengan kiri dilingkarkan di pinggang Bun Beng, karena maklum bahwa sekali terguncang hebat, pemuda yang masih setengah lum­puh dari pinggang ke bawah itu akan dapat terpelanting dari atas punggung kuda. Tangan kanan memegang kendali kuda dan ia berkata nyaring,

“Kalian berlima menghadang perjalan­anku, ada maksud apakah?”

Seorang di antara mereka segera mengangkat kedua tangan memberi hor­mat sambil menjawab, “Harap Siocia suka memaafkan kami dan suka memak­lumi kedudukan dan keadaan kami seba­gai petugas dan utusan Pangcu. Kami diperintahkan untuk menangkap atau membunuh pemuda yang bernama Gak Bun Beng ini, dan kami sangat mengha­rapkan agar Siocia suka menyerahkan kepada kami, mengingat bahwa kami adalah utusan-utusan Pangcu yang ber­kuasa penuh.”

“Tidak. Aku juga bertugas sebagai manusia sudah mengambil keputusan me­lidungi Gak Bun Beng. Aku tidak mau menyerahkannya, dan tidak akan membo­lehkan kalian menangkap atau membu­nuhnya. Habis, kalian mau apa?”

“Srat-srat-sing-sing!” Tampak sinar kilat ketika lima orang itu mencabut golok masing-masing.

“Maaf, Siocia. Tidak melaksanakan perintah Pangcu berarti nyawa kami me­layarrg secara sia-sia. Kalau memaksa sehingga bertentangan dengan Siocia, andaikata kami tewas sekalipun, kami tewas dalam menjalankan tugas sebagai anggauta Thian-liong-pang yang setia. Tentu kami memilih mati sebagai ang­gauta setia daripada anggauta yang mur­tad tidak menurut perintah Ketua.”

“Hemm, jadi kalian hendak melawan­ku?” Milana membentak.

“Bukan melawan Siocia, hanya menja­lankan tugas kami.”

“Nona Milana, tinggalkan aku, harap jangan engkau turun tangan melawan orang-orangmu sendiri,” kata Bun Beng.

“Tidak! Aku akan melindugimu dengan taruhah apapun juga.”

“Kalau begitu, biarlah aku mengha­dapi mereka, kaularikan saja kuda ini!” bisik Bun Beng.

Lima orang itu sudah berpencar me­ngurung kuda mereka dengan golok di tangan. Tiba-tiba seorang di antara me­reka yang berada di sebelah kiri, menggerakkan goloknya membacok ke arah tu­buh Bun Beng. Pemuda ini yang menggan­tungkan tubuh di lengan Milana yang menahan pinggang, cepat mengikuti ge­rakan golok, menggunakan ilmu barunya, yaitu ilmu memindahkan tenaga, menggerakkan tubuh kemudian tangan kirinya bergerak membuang ke depan cepat me­ngenai punggung golok itu.

“Krekkk!” Golok itu patah menjadi dua, bahkan tangan yang memegang ga­gangnya menjadi kaku sehingga sisa go­lok itu terlepas pula. Orangnya melon­cat mundur sambit menjerit kaget. Orang ke dua menerjang, disusul orang ke tiga, ke empat dan ke lima. Gerakan mereka hebat, akan tetapi karena mereka itu tentu saja masih menjaga agar senjata mereka jangan sampai mengenai tubuh pu­teri Ketua mereka, maka gerakan mere­ka kaku dan tidak leluasa. Di lain pihak, Bun Beng yang melihat baik ilmunya yang baru itu, cepat menggunakan terus ilmu itu, tubuhnya mengikuti gerakan serangan golok dari atas, dari samping kanan atau kiri, kedua tangannya mem­babat dan memindahkan tenaga ayunan golok lawan untuk menyerang lawan itu sendiri.

Terdengar jerit-jerit kesakitan dan berturut-turut empat orang itu pun ter­huyung, ada yang patah tulang lengan­nya. Ketika mereka meloncat bangun, kuda itu telah dikaburkan cepat-cepat oleh Milana! Mereka hanya berdiri be­ngong, terheran-heran karena mereka tidak tahu mengapa senjata mereka patah-patah dan tulang lengan mereka ada yang patah. Belum pernah mereka menyaksikan ilmu seperti yang dimain­kan pemuda yang hanya dapat menggerak­kan tubuh bagian atas itu!

“Gak-twako, hebat bukan main ilmu pukulanmu tadi! Dalam keadaan lumpuh engkau masih mampu mengalahkan lima orang tokoh Thian-liong-pang yang sudah tinggi tingkatnya. Kalau engkau tidak lumpuh, aku sendiri agaknya tidak akan kuat melawanmu!”

Bun Beng menarik napas panjang. “Ahhh, engkau terlalu memuji, Nona. Lihat di depan itu, sekarang kita berte­mu lawan tangguh.”

Dara itu memandang dan ketika me­lihat seorang kakek tua yang bermuka bengis dan muka itu berwarna merah muda seperti dicat, terkejut dan berka­ta, “Wah, bukankah warna mukanya itu menunjukkan bahwa dia seorang dari Pulau Neraka?”

“Tidak salah lagi, dia seorang dari Pulau Neraka. Nona, lebih baik kauting­galkan aku, biar aku hadapi sendiri orang-orang yang hendak menyerangku. Aku hanya menyeret engkau ke dalam pertentangan-pertentangan yang amat berbahaya, tidak hanya dengan kaum Thian-liong-pang yang dipimpin oleh Ibumu sendiri bahkan dengan Pulau Neraka.”

“Sudah! Jangan ulangi lagi perminta­an seperti itu, Twako. Apa kaukira aku takut menghadapi Pulau Neraka? Kau­lihat saja!” Sambil berkata demikian, Milana mempercepat larinya kuda meng­hampiri kakek yang berdiri tegak itu.

“Berhenti!” Kakek itu membentak dengan pengerahan suara khi-kang sehing­ga terdengar suaranya melengking dan membuat pohon-pohon seperti tergetar dan tiba-tiba kuda itu meringkik dan me­nunduk, keempat kakinya gemetar, mata­nya liar ketakutan.

“Orang tua, apa kehendakmu menghen­tikan perjalananku?” Milana bertanya, sedikit pun tidak merasa takut.

Kakek itu memandang agak heran melihat betapa dara muda itu sama se­kali tidak terpengaruh oleh bentakannya tadi, bahkan sedikit pun tidak kelihatan gentar. Ia menudingkan tongkat hitam­nya ke arah Bun Beng dan berkata, “No­na muda, aku menghendaki bocah itu! Ketahuilah bahwa Kongcu dari Pulau Neraka memerintahkan aku menangkap bocah ini, dan sebaiknya engkau tidak menentang kehendak Tuan Muda dari Pulau Neraka.”

“Aku tidak peduli apakah engkau di­suruh setan muda ataukah setan tua da­ri Pulau Neraka, dan aku tidak menen­tang siapa-siapa. Pemuda ini adalah se­orang sahabatku, dan siapa pun tidak bo­leh mengganggunya. Pergilah dan jangan ganggu kami!”

Sinar mata kakek itu berapi-api, tan­da bahwa dia marah sekali. Tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw yang berilmu tinggi saja tidak berani memandang ren­dah Pulau Neraka, akan tetapi nona mu­da ini berani mengeluarkan kata-kata merendahkan dan menghina. Melihat si­kap ini, cepat Bun Beng yang bermak­sud menyelamatkan Milana berkata,

“Locianpwe dari Pulau Neraka agak­nya tidak tahu siapa Nona ini. Dia ada­lah puteri dari Thian-liong-pangcu.”

Sinar mata marah itu lenyap, tergan­ti oleh keheranan dan kekagetan. “Aahhhh? Puteri Pangcu dari Thian-liong-pang?”

Milana tersenyum. “Kalau benar, mengapa? Thian-liong-pang tidak pernah takut terhadap Pulau Neraka. Sahabatku yang sakit parah ini berada dalam perlindunganku, kalau kau hendak memaksa dan merampasnya, engkau harus dapat mengalahkan aku lebih dulu!”

Kakek bermuka merah muda itu men­jadi bimbang. Biarpun dia tidak pernah takut terhadap lawan yang bagaimana­pun, akan tetapi mendengar nama puteri Ketua Thian-liong-pang dia gentar juga. Kalau sampai ia salah tangan melukai puteri Ketua Thian-liong-pang, hal itu bukanlah persoalan kecil dan bukan ma­in-main! Bahkan dia tentu akan mendapat teguran hebat atau hukuman dari Majikan Pulau Neraka yang sudah me­mesan agar para anak buahnya, di luar perintahnya, jangan sampai menimbulkan bentrokan dengan orang-orang Thian-liong-pang dan Pulau Es. Dan sekarang, dia melakukan perintah untuk menangkap Gak Bun Beng, ternyata pemuda itu dilindungi oleh puteri Ketua Thian-liong-pang sendiri. Andaikata bukan puteri Ke­tua Thian-liong-pang, melainkan seorang tokoh biasa saja dari Thian-liong-pang, persolannya tentu tidak akan seberat dan segawat ini.

“Maaf, Nona,” akhirnya dia menjura, “Karena tidak tahu, aku bersikap kurang hormat. Aku tidak sekali-kali ingin ber­tentangan dengan Nona, akan tetapi orang muda ini amat dibutuhkan oleh Kongcu kami, oleh karena itu kuharap Nona suka menyerahkannya kepadaku. Kalau Kongcu mendengar laporanku akan kebaikan hati Nona, tentu Kongcu dan Majikan kami akan mennghaturkan teri­ma kasih kepadamu.”

“Aku tidak butuh terima kasih Kongcumu yang jahat! Minggirlah!” Milana menyendal kendali kudanya dan Bun Beng sudah siap untuk menghadapi, apabila to­koh Pulau Neraka itu menyerangnya.

Kakek itu tertawa bergelak, tiba-tiba tongkat hitamnya berkelebat, dipu­kulkan ke arah kepala Bun Beng. Pemu­da ini cepat mengikuti gerakan itu dan siap mempergunakan ilmu memindahkan tenaga, akan tetapi tiba-tiba tongkat hitam itu tidak dilanjutkan menyerang­nya, sebaliknya menghantam ke bawah.

“Prokkk!” Kepala kuda itu pecah dan Milana cepat meloncat sambil mengempit pinggang Bun Beng. Muka dara itu menjadi merah, matanya bersi­nar-sinar penuh kemarahan, tangannya bergerak dan sinar merah menyambar dibarengi bau harum menyengat hidung. Itulah belasan batang jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Harum) yang amat berbahaya. Sekaligus menyambar ke arah tujuh belas pusat jalan darah di tubuh kakek itu.

Kakek muka merah muda itu terke­jut sekali, cepat meloncat tinggi ke atas dan memutar tongkat, mengebutkan le­ngan baju kiri. Dengan gerakan ini barulah ia dapat terbebas daripada maut, akan tetapi ketika tubuhnya melayang turun, kembali tampak sinar-sinar me­rah menyambar dari tangan Milana.

“Ayaaa....!” Kakek itu berjungkir ba­lik, memutar tongkatnya, namun tetap saja sebatang jarum menancap di ram­butnya dan hampir saja menggores kulit kepala. Mukanya menjadi pucat sekali. Nyaris nyawanya melayang, hanya se­ujung rambut selisihnya! Ia mengeluar­kan pekik melengking dan muncullah dua orang lain, seorang kakek dan seorang nenek yang keduanya bermuka merah muda pula. Kiranya kakek itu memang­gil bala bantuan karena menghadapi pu­teri Ketua Thian-liong-pang yang amat lihai itu.

Melihat ini, Milana cepat meloncat sambil menggendong tubuh Bun Beng di belakangnya. Ia berlari cepat sekali se­perti terbang dan Bun Beng merasa amat tidak enak. Dia tahu bahwa Milana amat lihai, agaknya tidak akan kalah kalau hanya menghadapi tiga orang Pulau Neraka tadi. Akan tetapi karena dara itu merasa tidak leluasa menghadapi lawan sambil melindunginya yang sudah lumpuh, maka gadis ini cepat membawa­nya melarikan diri. Yang paling membu­at dia tidak enak, jengah dan terharu adalah betapa dara ini memaksanya un­tuk digendong di belakang punggung!

Cepat sekali Milana melarikan diri, akan tetapi tiga orang Pulau Neraka itu mengejar terus. Biarpun mereka merasa segan untuk memusuhi puteri Ketua Thian-liong-pang, namun mereka berte­kad untuk menangkap Bun Beng, pemuda yang tahu akan Sepasang Pedang Iblis yang hanya dapat dirampas sebatang oleh Kongcu mereka, dan pemuda ini malah telah membunuh dua orang Pulau Neraka. Mereka mengejar terus dengan cepat dan untung bagi mereka bahwa puteri Ketua Thian-liong-pang itu terhalang gerakannya karena menggendong tu­buh Bun Beng. Andaikata tidak demikian, tiga orang itu maklum bahwa tidak mungkin mereka dapat mengejar dara yang memiliki sin-kang sedemikian he­batnya itu.

“Nona, di depan itu kumelihat mena­ra tinggi, tentu sebuah kuil. Larilah ke sana. Kalau tidak terhalang olehku, ten­tu Nona akan mampu menghadapi mere­ka,” kata Bun Beng yang tidak berani lagi menyatakan isi hatinya, yaitu bah­wa Si Nona jangan melindunginya terus sehingga dia sendiri terancam bahaya.

“Aku sedang menuju ke sana,” jawab Milana “Lari mereka cepat sekali!”

Menara dari kuil tua itu sudah tam­pak akan tetapi jaraknya masih cukup jauh dan tiga orang pengejar itu makin dekat, berlari seperti terbang di sebe­lah belakangnya.

Ketika Milana sudah tiba di dekat kuil tua yang ada menara tingginya itu, tiga orang Pulau Neraka sudah dekat sekali, bahkan seorang di antara mereka berseru.

“Nona, lepaskan pemuda itu!” Dia sudah menggerakkan tangannya dan se­batang tali panjang seperti ular hidup menyambar dari belakang ke arah Milana, ujungnya menotok jalan darah. Bun Beng cepat menangkis dengan tangan ke­tika melihat tali seperti cambuk itu, akan tetapi begitu ditangkis, ujung tali itu bergerak membelit lehernya!

“Haiiiittt!” Milana sudah menghenti­kan kakinya, memutar tubuh dan tangan­nya cepat menangkap tali yang membe­lit leher Bun Beng, dengan mengerahkan tenaga sin-kang dia membetot dengan renggutan tiba-tiba.

“Brettt!” Tali itu putus dan tubuh ka­kek Pulau Neraka terhuyung ke depan. Milana tidak mempedulikan lagi, cepat membalik dan hendak lari, sedangkan ti­ga orang itu sudah meloncat dekat, sen­jata mereka bergerak-gerak. Kakek yang terhuyung itu memutar sisa tali di ta­ngannya sebagai senjata, kakek ke dua menggerakkan sebatang pedang, sedang­kan kakek pertama menggerakkan tong­kathya.

“Cuat-cuat-cuattt!” Tampak tiga benda bersinar terang menyambar dari atas menara dan tiga batang hui-to (go­lok terbang) menancap tepat di depan kaki tiga orang kakek Pulau Neraka itu, hanya sejengkal selisihnya dari kaki me­reka. Mereka tiba-tiba berhenti berge­rak, memandang gagang golok kecil yang bergoyang-goyang itu dengan mata ter­belalak dan muka pucat.

Milana yang menoleh dan melihat ini, menjadi kaget akan tetapi juga girang sekali. “Ibuku di sana....!” Ia berseru, ke­mudian mendaki sebuah tangga yang me­nuju ke atas menara. Menara itu tinggi sekali, akan tetapi puncaknya sudah rusak, tak terpelihara, hanya tinggal tembok­nya saja, agaknya atapnya sudah roboh. Ketika Bun Beng mendengar ini, jantung­nya berdebar tegang. Dia menoleh ke bawah dan melihat betapa tiga orang kakek Pulau Neraka itu sudah lari dari tempat itu tanpa berani menoleh lagi. Tentu mereka mengenal senjata rahasia itu! Ia tahu bahwa yang turun tangan mengancam mereka adalah Ketua Thian-liong-pang. Memang hebat sekali golok-golok terbang tadi, agaknya sengaja dilepas un­tuk mengusir mereka sehingga menancap di depan mereka dalam jarak sejengkal.

Kalau dikehendaki, tentu tiga batang hui-to itu sudah mengenai tubuh mereka dan merenggut nyawa mereka. Bun Beng teringat akan hui-to-hui-to yang dile­pas oleh Ketua Thian-liong-pang ketika diadakan pertemuan antara tokoh-tokoh besar dahulu di pulau Sungai Huang-ho. Hui-to yang berbentuk golok kecil atau pisau belati itu oleh Si Ketua yang berkerudung dipergunakan untuk menye­rang Pendekar Super Sakti. Dia bergidik setelah kini teringat bahwa wanita ber­kerudung itu bukan lain adalah ibu Mi­lana yang cantik jelita itu, isteri sendiri dari Pendekar Super Sakti! Diam-diam ia merasa heran sekali dan menaruh ka­sihan kepada Pendekar Siluman yang dipujanya. Mengapa hidupnya demikian penuh duka sehingga dimusuhi oleh iste­ri sendiri. Ia membayangkan pertemuan pendekar sakti itu dengan isterinya, mengenang kembali percekcokan mereka dan diam-diam ia menimbang-nimbang, menyesuaikan ucapan Milana tadi