Rabu, 06 Februari 2013

SEPASANG PEDANG IBLIS 3


meloncat-loncat dengan selalu dike­jar lebah-lebah yanng terbang cepat, tentu saja dia tidak dapat memperhati­kan arah lagi dan dia hanya berloncatan cepat dengan niat keluar dari hutan dan mencari tempat terbuka di mana dia akan dapat menghalau lebah-lebah itu dengan mudah. Sambil berloncatan dan kadang-kadang memutar lengan kiri un­tuk meruntuhkan lebah-lebah itu, diam­-diam ia memuji dan mulailah dia tidak berani memandang rendah para penghuni Pulau Neraka!

Akhirnya dia berhasil juga keluar da­ri hutan itu, di tempat terbuka dan de­ngan hati lega ia mendapat kenyataan bahwa gerombolan anjing srigala su­dah tak tampak lagi, tentu tidak sang­gup mengejar dia yang berloncatan dari pohon ke pohon sedemikian cepatnya dan kehilangan jejak penciuman. Akan tetapi, kawanan lebah itu masih terus menge­jarnya. Suma Han meloncat turun dari pohon terakhir dan sudah siap. Ketika lebah-lebah itu terbang datang, dia lalu menanggalkan jubahnya dan memutar jubah dengan tangan kanannya sedang­kan tangan kiri tetap memegangi tong­katnya. Kalau dengan tangan saja gerak­an Suma Han sudah mampu mendatang­kan angin yang menyambar dahsyat apa­lagi kini menggunakan jubah. Angin bertiup keras dan lebah-lebah itu terbawa angin yang digerakkan oleh jubah di ta­ngan Suma Han, sama sekali tidak mam­pu mendekati pendekar itu, bahkan ketika Suma Han membuat gerakan memu­tar dengan tangannya, jubahnya menim­bulkan angin berpusing yang membuat lebah-lebah itu terseret angin yang ber­putaran ke atas sampai tinggi!

Tiba-tiba terdengar bunyi lengking tinggi nyaring dan halus, bunyi suling di­tiup secara istimewa dan menyusul suara ini, datanglah berbondong-bondong lebah-lebah hitam dari segenap penjuru mengeroyok dan mengurung Suma Han!

“Setan....!” Suma Han mengomel, maklum bahwa suara suling itu dapat menge­mudi perasaan lebah-lebah ini dan hal itu amat berbahaya karena kalau lebah­-lebah itu datang makin banyak, mana mungkin dia dapat menghindarkan diri tanpa membasmi mereka, hal yang tak diinginkannya. Dengan hati mengkal Suma Han lalu mengerahkan khi-kangnya dan keluarlah lengkingan yang tinggi dan lebih nyaring daripada suara suling itu sambil jubah di tangannya masih te­rus diputarnya. Usahanya berhasil baik sekali karena lebah-lebah itu menjadi kacau-balau. Makin nyaring lengking yang keluar dari dalam dada Suma Han, ma­kin kacaulah mereka tidak tentu lagi arah terbangnya. Ada yang terbang ke atas, ada yang ke bawah, ke kanan kiri depan belakang, bahkan ada yang terbang membalik dari arah mereka datang! Adapun lebah-lebah yang terlalu dekat dengan Suma Han, membubung tinggi dan menjadi pening sehingga lebah-lebah itu berjatuhan, bergerak-gerak dan merayap­rayap di atas tanah karena untuk semen­tara mereka tidak kuasa terbang, bah­kan merayappun berputaran seperti anak-­anak yang mabok setelah bermain putar-­putaran!

Suara suling terhenti dan melihat bahwa lebah-lebah itu kini sudah pergi dalam keadaan kacau, Suma Han meng­hentikan lengkingannya dan putaran jubahnya, lalu tubuhnya mencelat lagi ke depan. Melihat hutan yang ditinggalkan dan letak matahari, hatinya mendongkol karena ternyata dalam melarikan diri ta­di, dia tidak lari ke utara melainkan tersesat lari ke barat!

Karena tidak ingin tersesat lagi dan ingin melihat keadaan, ia melompat ke atas pohon di pinggir hutan yang baru di­tinggalkan. Ketika ia memandang ke utara, hatinya girang karena dari tem­pat itu dia sudah dapat melihat sekelom­pok bangunan berwarna hitam. Akan tetapi, dari tempat itu menuju ke bangunan terdapat pasukan-pasukan menghadang jalan.

“Hemm, kini kalian tidak mengandalkan binatang-binatang lagi, melainkan maju sendiri menyambutku. Bagus!” Dia lalu melayang turun dan mempergunakan ilmunya berloncatan cepat menuju ke utara. Ternyata di sepanjang jalan tidak ada lagi rintangan dan akhirnya ia tiba di lapangan luas dan berhadapan dengan dua puluh tujuh orang yang mukanya berwarna biru muda. Mereka berpakaian seragam dan membentuk barisan sembilan kali tiga, bersenjatakan tombak pan­jang yang ada rantainya di ujung.

Suma Han sudah mendengar bahwa kedudukan dan tingkat kepandaian para anak buah Pulau Neraka ditentukan oleh warna muka mereka, makin terang warna mukanya, makin tinggi tingkatnya. Kini menghadapi dua puluh tujuh orang bermuka biru muda, Suma Han mengo­mel di dalam hatinya.

“Orang-orang Pulau Neraka sungguh memandang rendah kepadaku!”

Sebagai To-cu dari Pulau Es, tentu saja dia merasa terhina kalau kedatang­annya hanya disambut oleh pasukan ber­muka biru muda, warna yang tentu hanya menduduki tingkat ke empat atau ke lima. Maka diapun tidak mau bicara me­layani mereka, melainkan terus saja me­langkah dengan kaki tunggalnya ke depan seolah-olah dua puluh tujuh orang itu hanya arca-arca yang tidak bernyawa dan tidak ada artinya!

Melihat sikap pendatang yang ditakuti ini, terdengar seorang di antara mereka berseru aneh memberi aba-aba dan tiga pasukan dari sembilan orang berjumlah dua puluh tujuh orang itu menggerakkan senjata, ada yang menye­rang dengan tombak, ada pula yang membalikkan tombak dan menyabat dengan rantai baja di ujung gagang tombak. Se­rangan mereka amat cepat dan kuat se­hingga terdengar angin bersuitan me­nyambar ke arah Suma Han yang menja­di sasaran dari tombak-tombak runcing dan rantai-rantai berat itu.

Namun, Suma Han masih berloncatan terus ke depan seolah-olah tidak peduli akan serangan mereka, akan tetapi sete­lah senjata-senjata itu datang dekat, dia memutar tongkatnya. Terdengarlah suara hiruk pikuk ketika semua senjata itu bertemu tongkat, bertemu dan terus melekat, rantai membelit-belit tongkat dan ujung tombak tak dapat ditarik kembali, bahkan kini mereka berteriak kesakitan dan terpaksa melepaskan sen­jata karena telapak tangan mereka tera­sa dingin membeku. Yang bersikeras mempertahankan senjatanya, menjerit dan memegangi tangan yang terpaksa mele­paskan tombak karena kulit telapak ta­ngan mereka berdarah! Dengan tenang Suma Han melangkah terus, menggerakkan tongkatnya dan belasan batang tombak terpelanting ke kanan ki­ri, terpelanting keras sekali, ada yang meluncur seperti anak panah dan hilang di antara pohon-pohon, ada pula yang menancap di atas tanah sampai setengah­nya lebih!

Mereka yang telah menyerang, belas­an orang itu, meritih-rintih, dan mereka yang belum menyerang berdiri bengong menyaksikan kejadian yang luar biasa itu. Karena maklum bahwa menyerang seperti kawan-kawannya tadi tidak akan berhasil sedangkan lawan telah melewati hadangan pasukan mereka, belasan orang sisa yang kehilangan tombak lalu meng­gerakkan tombak mereka, melontarkan kuat-kuat sehingga kini ada belasan yang meluncur ke depan, mengeluarkan suara berdesing menyerang ke arah tubuh be­lakang Suma Han!

Seperti tadi, Suma Han tenang-tenang saja, tidak menengok sama sekali sehing­ga seolah-olah sekali ini dia akan cela­ka oleh belasan batang tombak yang meluncur secara kuat, cepat dan tepat ke arah punggungnya. Akan tetapi sete­lah ujung tombak-tombak itu tinggal be­berapa senti lagi dari punggungnya, tubuhnya membalik, tangan kanannya mengibas ke depan dan.... belasan batang tombak itu runtuh dan semua menancap ke atas tanah di depan kakinya, berja­jar-jajar rapi seperti diatur. Kemudian ia membalikkan tubuh lagi dan berjalan maju terpincang-pincang dibantu tongkatnya, tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

“Pendekar Siluman.... kepandaiannya seperti iblis....” Pasukan muka biru muda itu berbisik dan saling pandang de­ngan mata terbelalak.

Kini pada sebuah tikungan, Suma Han melihat sebuah pasukan lain lagi, pasu­kan yang terdiri dari dua kali sembilan orang bermuka hijau pupus. Hemm, pi­kirnya, setingkat lebih tinggi, akan teta­pi tetap saja dia tidak puas dan merasa dipandang rendah. Dia dapat menduga bahwa tingkat tertinggi tentu berwarna putih, dan warna yang mendekati putih adalah warna kuning. Kalau Si Ketua merasa terlalu tinggi untuk menghadang sendiri, sedikitnya dia harus mengutus tokoh-tokoh bermuka kuning untuk meng­hadapinya. Akan tetapi muka hijau pu­pus? Hemmm, kalian terlalu memandang rendah To-cu Pulau Es, padahal orang­-orang Pulau Neraka dahulunya hanyalah orang-orang buangan dari Pulau Es!

“Haiii! Berhenti! Apakah yang datang ini Pendekar Siluman dari Pulau Es?” Seorang di antara mereka bertanya.

Akan tetapi, seperti juga tadi, Suma Han tidak mau melayani mereka bicara melainkan melangkah maju terpincang-­pincang ke depan, tidak mempedulikan delapan belas orang yang bersenjata masing-masing sebatang golok besar itu, sedangkan tangan kiri mereka siap mendekati kantung di pinggang yang ia du­ga tentu berisi senjata rahasia berbisa!

Melihat sikap Suma Han, delapan belas orang itu lalu membuka barisan dan mengurung. Akan tetapi sikap tidak peduli dari Pendekar Super Sakti itu membuat mereka hati-hati sekali sehingga kurungan itu mengikuti gerakan Su­ma Han yang melangkah maju. Tiba-tiba seorang diantara mereka berseru keras dan terdengar goloknya berdesing me­nyambar, diikuti oleh golok-golok lain yang menyambar secara berturut-turut. Hemm, kepandaian mereka ini sedikit­nya tiga kali lipat daripada tingkat pasu­kan pertama yang bermuka biru muda tadi, pikir Suma Han. Ketika semua go­lok menyerangnya, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas sedemikian cepatnya sehingga delapan belas orang yang tiba-­tiba kehilangan lawan itu mengira dia pandai menghilang! Akan tetapi mereka segera melihat ke atas dan delapan be­las buah tangan kiri bergerak.

“Ciat-ciat-ciatt!” Belasan batang pi­sau hitam mencuat gemerlapan melayang ke arah seluruh bagian tubuh Suma Han.

“Trang-cring-cring-trang....!” Semua pisau itu terpental dan melayang jauh ke segenap penjuru karena ditangkis oleh segulung sinar dari tongkat yang diputar sedangkan tubuh Suma Han sudah mela­yang turun lagi. Delapan belas orang itu kembali menerjang, sinar golok mereka berkeredepan menyilaukan mata. Suma Han memutar tongkatnya sambil menge­rahkan tenaga. Terdengar suara hiruk pi­kuk dan setelah suara itu lenyap, delapan belas orang itu berdiri bengong meman­dangi gagang golok di tangan yang sudah tidak ada goloknya lagi karena senjata mereka telah patah semua!

Ketika mereka memandang ke depan, mereka melihat pendekar kaki buntung itu sudah berloncatan ke depan. Me­reka tidak berani mengejar karena selain mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan pendekar itu, juga di depan terdapat pasukan penjaga lain yang lebih tinggi tingkat­nya.

Kini Suma Han melihat pasukan ter­diri dari sembilan orang yang bermuka merah muda, yaitu tiga wanita dan enam pria, masing-masing memegang senjata Siang-kiam (Sepasang Pedang).

“To-cu dari Pulau Es, perlahan dulu!” seorang di antara mereka yang usianya sudah lima puluh tahun lebih dan berambut panjang riap-riapan sampai ke pundak, menegurnya.

“Kalian ini anak buah Pulau Neraka tingkat berapakah?” Suma Han bertanya, sikapnya tenang dan dingin dengan suara yang dikeluarkan sambil mengerahkan Im-kang sehingga sembilan orang yang mendengar suara ini, tergetar jantung­nya dan menggigil kedinginan. Akan te­tapi dengan pengerahan sin-kang, mereka dapat mengusir rasa dingin itu dan kini pasukan itu terpecah menjadi tiga, ma­sing-masing tiga orang, seorang wanita dan dua orang pria, lalu tiga rombongan kecil ini mengurung Suma Han dari de­pan, kanan dan kiri.

“Kami adalah murid-murid tingkat dua!” jawab kakek itu.

“Hemm, Ketua kalian membuang-­buang waktu saja. Mengapa tidak dia sen­diri saja yang maju untuk melawan aku agar lebih cepat dibuktikan siapa yang lebih kuat?”

“Orang muda yang sombong!” Seorang wanita di rombongan sebelah kirinya menudingkan pedang. Wanita itu usianya sekitar empat puluh tahun, cantik akan tetapi sinar matanya liar dan ganas. “Biarpun engkau To-cu Pulau Es, akan tetapi engkau masih muda, ka­kimu buntung, tidak selayaknya bersikap sombong seperti itu. Lihat pedang!” Wanita itu sudah menyerang, disusul dua orang temannya.

Melihat gerakan mereka, Suma Han terheran. Itulah jurus ilmu pedang dari kitab-kitab peninggalan Koai-Lojin atau Kam Han Ki di Pulau Es! Jurus yang ampuh akan tetapi sayang bahwa gerak­an mereka kurang sempurna.

“Hemmm, mengapa begitu melakukan jurus Siang-liong-jio-seng (Sepasang Na­ga Berebut Bintang)?” Dengan tongkat­nya ia menangkis enam batang pedang itu, tangan kanannya meraih dan secara aneh sekali sepasang pedang di tangan wanita galak itu telah pindah ke tangan Suma Han! Pendekar ini menancapkan tongkatnya dan memutar sepasang pe­dang dengan kedua tangan. “Beginilah mestinya! Dalam perebutan antara sepa­sang naga, yang kanan harus mengalah karena biasanya lawan memperhatikan tangan kanan sehingga yang kiri dapat melakukan serangan tiba-tiba yang me­ngacaukan lawan. Jangan menitik berat­kan gerakan pedang kanan!”

Sementara itu, delapan orang yang melihat betapa senjata seorang kawan mereka terampas dan yang dua orang lagi terpental ketika ditangkis kini cepat menerjang dengan pedang mereka. Suma Han masih terus menggerakkan sepasang pedang dengan jurus Siang-liong-jio-seng yang amat dikenal oleh mereka itu dan anehnya, biarpun mereka mengenal baik jurus ini, berturut-turut mereka berseru kaget karena terdengar kain robek dan tiba-tiba tubuh lawan yang dikepung itu berkelebat lenyap, yang tinggal hanya sepasang pedang rampasan itu menancap di tanah, den ketika mereka saling pan­dang, tampaklah betapa pakaian mereka telah robek dan berlubang di dua tem­pat, yaitu di ulu hati dan perut! Sebagai ahli-ahli pedang yang sudah tinggi ting­katnya, sembilan orang bermuka merah muda ini maklum bahwa kalau Pendekar Siluman menghendaki, mereka tentu telah roboh dengan jantung tertembus pedang dan sudah tewas semua! Maka mereka hanya dapat menghela napas dan memandang pendekar kaki buntung yang kini telah berjalan terpincang-pincang menuju ke penjagaan terakhir, yaitu empat orang kakek bermuka kuning.

Empat orang kakek itu usianya rata-­rata sudah lima puluh tahun lebih, sikap­nya gagah dan angker, pakaiannya seder­hana, dengan jubah panjang dan rambut serta jenggot mereka panjang, kaki me­reka telanjang tak bersepatu den tangan mereka hanya bersenjatakan sebatang tongkat kecil yang panjangnya satu sete­ngah meter, terbuat dari kayu hitam atau ranting yang lemas. Melihat ke­adaan ini, Suma Han bersikap hati­-hati karena dia dapat menduga bahwa tentu empat orang kakek ini adalah to­koh-tokoh tingkat satu, hanya di bawah Sang Ketua dan telah memiliki ilmu ke­pandaian yang amat tinggi. Hanya ia merasa heran mengapa jumlah mereka ada empat orang, tidak enam atau tiga karena semenjak pasukan pertama, peng­huni Pulau Neraka itu menggunakan bentuk barisan tiga bintang yang dapat diluaskan menjadi masing-masing pasu­kan sembilan orang namun pada dasarnya masih mempergunakan bentuk baris­an tiga bintang dengan gerakan segi tiga. Dia tidak tahu bahwa sebetulnya jumlah tokoh tingkat satu bermuka kuning itu ada enam orang, yang seorang telah me­ninggal dunia sedangkan yang seorang lagi kini sedang merantau atas perintah Ketua mereka untuk menyelidiki keada­an kang-ouw yang geger karena hilang­nya pusaka-pusaka yang diperebutkan setelah pasukan Pulau Neraka mengalami kegagalan di muara Sungai Huang-ho dahulu. Oleh karena itu, kini hanya ting­gal empat orang saja yang menghadapi­nya sebagai penjagaan terakhir dan me­reka pun kini menjaga di depan bangun­an besar yang menjadi istana dari maji­kan Pulau Neraka.

Setelah melayangkan pandang ke arah istana hitam yang angker itu, Suma Han lalu menghadapi empat orang itu dan berkata,

“Melalui garuda betina peliharaanku, Pulau Neraka telah mengundang aku da­tang, dan sekarang aku datang untuk menjemput muridku. Harap Su-wi Lo­cianpwe suka menyampaikan kepada To­-cu Pulau Neraka agar mengembalikan muridku kepadaku.”

Empat orang kakek itu memandang dengan penuh perhatian, memandang pen­dekar buntung itu dari kaki sampai ke kepala dengan penuh takjub karena baru sekarang mereka melihat pendekar yang terkenal di seluruh dunia itu, yang ternyata tidak kelihatan luar biasa, bahkan hanya merupakan seorang pemuda yang cacad! Betapapun juga, melihat sikap dan sinar matanya, mereka bergidik dan maklum bahwa pemuda di depan mereka ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian amat hebat. Seorang di anta­ra mereka yang rambutnya sudah ham­pir putih semua, segera mengangkat ke­dua tangan depan dada sambil berkata, “To-cu dari Pulau Es sudah dapat tiba di sini membuktikan bahwa nama besarnya bukan omong kosong belaka. Akan tetapi, sudah menjadi tugas kami untuk menjaga di sini dan kalau To-cu hendak menjemput murid dan bertemu dengan To-cu kami, harus melalui tong­kat kecil kami.”

Suma Han mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk. “Hemm.... agaknya To-cu Pulau Neraka terlalu memandang rendah orang! Kalian hendak menguji kepandaianku? Nah, lihat baik-baik, biar­pun kalian berempat, apakah aku kalah banyak?” Suara Suma Han mengandung getaran yang dahsyat dan berpengaruh. Tiba-tiba empat orang kakek itu meman­dang terbelalak dan bingung karena di depan mereka kini bukan hanya ada se­orang pemuda kaki buntung, melainkan pemuda itu telah berubah menjadi dela­pan orang kembar! Tentu saja mereka terkejut sekali dan betapa pun mereka mengerahkan sin-kang untuk melawan pengaruh mujijat itu, tetap saja pandang­an mereka tidak berubah, lawan telah menjadi dua kali lipat lebih banyak dari­pada jumlah mereka! Karena bingung, empat orang kakek itu lalu menggerakkan ranting di tangan mereka, menghan­tam Suma Han yang terdekat. Akan tetapi, biarpun ranting mereka mengenai tepat tubuh lawan, mereka seolah-olah menghantam bayangan saja dan ranting itu “lewat” menembus tubuh orang yang diserang. Hal ini memang tidak menghe­rankan karena yang mereka serang itu bukanlah tubuh Suma Han yang aseli, melainkan bayangan yang timbul karena pengaruh kekuatan ilmu merampas se­mangat dan pikiran orang yang dilaku­kan Suma Han. Selagi mereka terheran-heran, Suma Han yang aseli telah meng­gerakkan tongkatnya, empat kali meno­tok dan empat orang kakek itu mengeluh dan jatuh terduduk di atas tanah dalam keadaan lumpuh!

“Sudah kalian lihat kepandaian To-cu dari Pulau Es?” Suma Han berkata dan kini empat orang kakek melihat bahwa lawannya hanya seorang saja, berdiri di depan mereka, bersandar pada tongkat dan tangan kanan bertolak pinggang!

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari dalam istana hitam yang daun pintunya tertutup itu, “Kalau To-cu Pulau Es memang gagah perkasa dan super sakti, jangan mengandalkan ilmu silu­man!”

Suma Han memandang ke arah pintu istana hitam itu dengan mata terbelalak saking herannya. Tadinya ia mengira bahwa melihat keadaan empat orang kakek tingkat satu ini, tentu To-cu dari Pulau Neraka merupakan seorang kakek yang menyeramkan dan lebih mendekati iblis daripada manusia. Akan tetapi suara yang keluar dari istana hitam itu, yang ia duga tentulah seorang To-cu pulau itu, adalah suara seorang wanita, suara yang nyaring dan merdu! Bukan suara seorang kakek kasar, juga pasti bukan suara seorang nenek-nenek karena suara seperti itu tentu hanya dimiliki seorang wanita yang masih muda. Mungkinkah ini? Mungkinkah Ketua atau Majikan Pulau Neraka seorang wanita muda? Suma Han tidak akan percaya kalau saja dia tidak teringat akan Ketua Thion-liong-pang. Bu­kankah Ketua Thian-liong-pang yang berkerudung itu pun wanita muda dan yang dia kini yakin tentu Lulu, adik angkatnya? Kalau benar demikian, maka dua perkumpulan yang paling terkenal dan kuat kini dipimpin oleh wanita-wani­ta muda! Benar-benar merupakan hal yang sukar dipercaya. Betapapun juga, mendengar ucapan itu wajahnya menjadi merah. Dia tadi memang memperguna­kan kekuatan batinnya yang menguasai empat orang lawan melalui sinar mata dan suaranya dan hal itu dia lakukan ha­nya karena dia enggan bertanding mela­wan mereka. Menghadapi pasukan-pasukan tingkat rendahan tadi, dia masih dapat melalui mereka tanpa melukai seorang pun. Akan tetapi, dari gerakan empat orang kakek ini dia maklum bahwa dia menghadapi empat orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan untuk me­ngalahkan empat orang ini tanpa melu­kainya merupakan hal yang tidak mudah ia lakukan. Maka ia mengambil cara pa­ling mudah, yaitu mengalahkan mereka dengan mengandalkan ilmu kepandaian­nya yang mujijat, yang kini telah menca­pai tingkat amat tinggi setelah ia menerima gemblengan dan petunjuk terakhir dari manusia dewa Koai Lojin. Sekarang To-cu Pulau Neraka mencela dan menge­jeknya, kalau dia tidak memperlihatkan kepandaiannya, tentu saja dia akan merasa malu sekali.

“Begitukah yang kalian kehendaki? Nah, Su-wi Locianpwe, bangunlah!” Tong­katnya bergerak dan empat orang kakek muka kuning itu dapat bergerak kembali dan mereka melompat bangun. Kini me­reka bersikap hati-hati sekali. To-cu Pulau Es ini benar-benar hebat. Sebagai To-cu Pulau Es yang kenamaan, menye­but mereka “locianpwe” ini saja sudah membuktikan bahwa To-cu Pulau Es ini adalah seorang yang rendah hati dan karenanya dapat dibayangkan betapa ting­gi ilmunya.

“Maaf, kami hanya pelaksana tugas!” Kakek beruban berkata sebagai pernyata­an kesungkanan hati mereka, juga ucap­an ini merupakan pembuka serangan kare­na secepat kilat empat orang itu sudah menyerang Suma Han dari empat pen­juru!

Suma Han cepat menggerakkan tubuh­nya, menggunakan Soan-hong-lui-kun un­tuk mengelak, akan tetapi tiga orang di antara mereka mengayun tongkat ke atas dan menghujankan serangan ke atas tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk turun! Sedangkan yang seorang tetap “menutup” bagian bawah dengan serangan cepat, rantingnya diputar se­perti kitiran sehingga berubah menjadi gulungan sinar. Suma Han terkejut bu­kan main. Teringat ia akan gaya serang­an bibi gurunya, Maya, ketika mengha­dapi ibu gurunya, Khu Siauw Bwee. Mungkinkah tiga orang kakek ini telah mempelajari ilmu yang khusus dicipta oleh Maya untuk menghadapi Soan-hong­-lui-kun? Namun dia tidak diberi kesem­patan untuk banyak berheran, terpaksa ia menggerakkan tongkatnya menotok ranting yang terdekat dan menggunakan tenaga pertemuan senjata itu untuk men­celat lagi ke samping, kemudian sambil memutar tongkat menangkis keempat senjata lawan ia turun lagi ke atas ta­nah. Segera ia dikurung dan diserang lagi. Suma Han memutar tongkat melin­dungi tubuh sambil memperhatikan gaya permainan para pengeroyoknya dan me­ngukur tingkat kepandaian mereka.

Dia kagum sekali. Ranting di tangan mereka itu kadang-kadang berubah mene­gang keras seperti baja, kadang-kadang lemas seperti cambuk dan gerakan mere­ka amat ringan dan cepat, tenaga sin-kang mereka pun amat kuat. Dibandingkan dengan pembantunya, Yap Sun, agaknya tingkat setiap orang kakek muka kuning ini lebih tinggi, akan tetapi dibanding­kan dengan Phoa Chok Lin yang dia gembleng sendiri, pembantu utamanya itu lebih menang setingkat. Betapapun juga, kalau Ciok Lin yang menghadapi pengeroyokan ini, tentu pembantunya itu akan kalah!

Yang amat membikin dia penasaran dan kewalahan adalah ilmu silat mereka yang istimewa digerakkan untuk mengha­dapi Soan-hong-lui-kun. Biasanya, dengan ilmu gerak kilatnya ini, dengan mudah dia akan dapat menguasai lawan-lawan yang mengeroyoknya. Akan tetapi sekarang, biarpun dia memiliki gerakan kilat yang jauh lebih cepat daripada ge­rakan mereka, namun keempat orang itu selalu mendahuluinya, menutup lubang-lubang ke mana dia dapat mencelat sehingga Soan-hong-lui-kun tak dapat ia mainkan dengan leluasa, bahkan se­ringkali macet dan tertutup di tengah jalan. Terpaksa Suma Han mengeluarkan kepandaiannya, memutar tongkatnya melindungi tubuh sehingga beberapa kali terdengar suara keras bertemunya tong­kat dengan empat batang ranting itu.

Kalau begini keadaannya, aku hanya akan dapat menang dengan merobohkan mereka, dan hal ini berarti bahwa em­pat orang itu akan terluka. Dia tidak menghendaki hal ini terjadi, maka sam­bil mengeluarkan lengking panjang, tiba-­tiba tubuh Suma Han mencelat ke bela­kang, membiarkan empat orang itu me­ngejarnya dan dengan gerakan cepat ia menancapkan tongkat di tanah kemudi­an kedua lengannya ia lonjorkan dengan tangan terbuka dan telapak tangan menghadap ke depan lalu membuat gerakan mendorong.

“Aihhh....!” Empat orang yang sedang menerjang maju itu terhenti gerakannya dan terpental mundur sampai dua lang­kah. Tubuh mereka menggigil karena ada hawa dingin menyambar mereka. Cepat mereka pun berdiri melonjorkan kedua lengan sambil mengerahkan sin-kang. Dengan mempersatukan tenaga, mereka mampu mengusir hawa dingin yang menyerang, bahkan berusaha mem­balas dengan pukulan sin-kang jarak jauh. Akan tetapi, tiba-tiba mereka terkejut sekali karena dorongan hawa dingin yang menekan dan yang berhasil mereka lawan itu tiba-tiba berubah menjadi hawa yang amat panas seperti ada api menerjang mereka. Cepat mereka menyesuaikan diri dengan pengerahan sin-kang men­cipta tenaga dingin. Namun kembali serangan hawa sin-kang dari majikan Pulau Es itu berubah dingin, dan sebelum mereka berempat menyesuaikan diri kembali berubah dan terus berubah-ubah sehingga keempat orang itu akhirnya menjadi kacau pengerahan sin-kangnya, mempengaruhi jalan darah dan mereka terhuyung-huyung lalu roboh pingsan! Suma Han menghentikan pengerahan sin-kangnya dan tiba-tiba dari dalam is­tana itu menyambar sesosok tubuh manu­sia berpakaian hitam dengan kecepatan yang luar biasa.

Menduga bahwa orang yang gerakan­nya secepat kilat ini tentu Ketua Pulau Neraka, maka melihat tubuh itu melun­cur dan mengirim pukulan ke arah dada­nya, Suma Han tidak berani memandang rendah dan cepat ia mengangkat tangan kanan menangkis.

“Dukkk!” Ia terkejut karena orang itu pun mempergunakan Im-kang yang amat kuat sehingga terasa olehnya hawa dingin menyerangnya. Pertemuan dua lengan yang sama-sama mempergunakan Im-kang itu hebat sekali, membuat Suma Han terpental selangkah ke belakang akan tetapi lawannya juga terpental tiga langkah! Sebelum Suma Han dapat meli­hat jelas, orang itu telah menubruk lagi dengan pukulan kedua tangan terbuka. Dia cepat mengangkat kedua tangannya menerima telapak tangan lawan.

“Plakkk!” Dua pasang telapak tangan bertemu dan melekat, dua muka berha­dapan dan dua pasang mata bertemu pandang.

Kalau ada halilintar menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Suma Han akan sekaget ketika ia melihat wajah yang putih itu. Ia menarik kembali kedua tangannya, meloncat mundur dengan kaki tunggalnya, wajahnya pucat, matanya terbelalak dan bibirnya bergerak me­manggil.

“Lulu....!” Kaki tunggalnya menggigil sehingga ia jatuh berlutut memegang tongkatnya.

“Han-koko....!” Wanita bermuka putih yang bukan lain adalah Lulu itu menu­bruk maju dan berlutut pula.

“Lulu.... Moi-moi....!” Suma Han memandang wajah cantik yang kini menjadi putih warnanya, memandang sepasang mata bintang yang bercucuran air mata. “Lulu Adikku....”

“Aku bukan adikmu Han-koko!”

“Ohhh....” Suma Han mengeluh, mereka saling pandang kemudian saling me­meluk, berdekapan seolah-olah hendak menumpahkan semua rasa rindu yang selama ini menyesak dada. Akan tetapi Suma Han segera dapat menguasai hatinya dan melepaskan pelukan, memegang kedua pundak Lulu dan memandang wa­jah itu.

“Lulu-moi-moi.... jadi engkaukah To-cu Pulau Neraka? Ahhh.... Moi-moi, mengapa begini....?”

“Karena engkau, Koko! Karena engkau kejam, engkau tega kepadaku!”

“Lulu, jangan berkata demikian. Engkau satu-satunya orang yang kusayang di dunia ini, sejak dahulu sampai seka­rang. Mengapa engkau melarikan diri meninggalkan suamimu? Tahukah engkau bahwa dia menjadi sengsara dan mem­bunuh diri dengan berjuang sampai mati? Ahhh, Lulu....!”

“Aku tahu! Dan semua itu terjadi karena engkau, Koko. Engkau kejam dan tega kepadaku, meninggalkan aku! Kita sama dibesarkan di Pulau Es, akan teta­pi engkau tinggal di sana melupakan aku, padahal seharusnya kita berdua yang tinggal di sana. Engkau memaksa aku menikah dengan orang yang tidak kucinta, engkau meninggalkan aku dengan hati remuk, juga membuat hatiku han­cur, kebahagiaanku musnah. Butakah engkau, atau pura-pura tidak tahu bahwa semenjak dahulu, hanya engkau satu­satunya pria yang kucita?”

“Ahh.... Lulu....!”

“Dan perasaanku meyakinkan bahwa engkau pun cinta kepadaku.... Tidak! Jangan katakan bahwa cintamu adalah cinta saudara! Engkau menipu hati sen­diri dan sebaliknya daripada menyambung cinta kasih antara kita menjadi perjodoh­an engkau malah memaksa aku berjodoh dengan orang lain, sedangkan engkau sendiri rela pergi dengan hati hancur! Engkau menghancurkan kebahagiaan hati kita berdua! Pura-pura tidak tahukah eng­kau bahwa semenjak dahulu, sampai sekarang, ya, sampai saat ini, aku ha­nya akan bahagia kalau menjadi iste­rimu! Koko Han Han, jawablah, engkau tentu ingin menerima aku sebagai isterimu, bukan?”

Suma Han, Pendekar Super Sakti yang telah memiliki kekuatan batin luar biasa itu, kini hampir pingsan. Cinta merupa­kan kekuatan yang maha hebat, yang mengalahkan segala kekuatan di dunia ini. Jantungnya seperti diremas-remas, seluruh tubuhnya menggigil dan kedua matanya basah.

“Lulu.... aku.... aku telah dijodohkan oleh Subo dengan Nirahai.... dan dia.... diapun meninggalkan aku....”

Lulu meloncat berdiri dan melangkah mundur, sejenak dadanya berombak me­nahan kemarahan yang timbul karena cemburu. “Hemmm.... dan engkau lebih mencinta Suci Nirahai daripada aku?”

Suma Han juga bangkit berdiri dengan kaki lemas. Dia memandang wajah Lulu kemudian menghela napas dan menunduk, “Lulu.... aku.... aku...., ahh, bagaimana aku harus menjawab? Semenjak dahulu aku cinta padamu, cinta lahir baiin, dengan seluruh jiwa ragaku. Akan tetapi engkau adikku, maka aku mengalah. Ke­mudian, Subo menjodohkan aku dengan Nirahai, dan dia.... dia mirip denganmu. Karena sudah menjadi isteriku, bagaima­na aku tidak mencinta dia? Akan tetapi engkau.... ahhhh, aku mencinta kalian berdua, Lulu.... sungguhpun cintaku terha­dapmu tiada bandingnya di dunia ini.... akan tetapi engkau.... ah, engkau adalah isteri Sin Kiat dan....”

“Han-koko! Engkau masih lemah se­perti dulu! Ahhhh, pria mulia yang bo­doh! Pria gagah perkasa yang lemah! Selalu mengalah, membiarkan diri sendiri merana, berniat membahagiakan orang dengan pengorbanan diri akan tetapi ma­lah menimbulkan kesengsaraan kepada semua orang! Aku mencintamu, Koko, akan tetapi aku adalah seorang wanita! Aku tidak sudi lagi bertekuk lutut dan meminta-minta! Tidak, lebih baik mati! Aku sudah bersumpah untuk memilih dua kenyataan dalam hidupku. Menjadi isteri­mu atau menjadi musuhmu! Tidak ada pilihan lain!”

“Lulu.... Lulu....!” Suma Han menge­luh, hatinya bingung bukan main.

“Ibu....!”

“Paman....!”

Keng In dan Kwi Hong berlari-lari keluar dari istana hitam. Keng In meng­hampiri ibunya dan Kwi Hong mengham­piri pamannya. Kehadiran kedua orang anak ini mengembalikan kesadaran dan ketenangan Suma Han dan Lulu. Suma Han memandang keponakan atau murid­nya itu, menegur,

“Bagus sekali perbuatanmu, ya!”

Kwi Hong berlutut di depan paman­nya dan berkata penuh rasa takut, “Pa­man.... aku tadinya sudah akan pulang, akan tetapi ditangkap Bibi ini. Harap Paman maafkan aku dan memberi hajar­an kepadanya!”

“Ibu, apakah dia ini To-cu Pulau Es, Pendekar Siluman? Mengapa Ibu tidak menghajarnya?” Keng In bertanya kepa­da ibunya.

Lulu tidak menjawab, hanya meraba kepala anaknya dan pandang matanya tidak pernah lepas dari wajah Suma Han. Suma Han menghela napas dan berkata kepada Kwi Hong. “Berdirilah, mari kita pulang.” Dia lalu mengeluarkan suara melengking tinggi memanggil burung ga­ruda. Tak lama kemudian, tampaklah dua ekor burung itu terbang dengan ce­pat ke tempat itu lalu meluncur turun di depan Suma Han.

“Lulu, aku pergi....”

Lulu tidak menjawab, hanya meng­angguk, sinar matanya membuat Suma Han tidak kuat memandang lebih lama lagi. Ia menghela napas lagi, meloncat ke punggung garuda jantan sedangkan Kwi Hong meloncat ke punggung garuda betina, kemudian dua ekor burung itu terbang cepat meninggalkan pulau, di­ikuti pandang mata Lulu dan Keng In.

“Ibu, mengapa membiarkan mereka pergi?”

Lulu menunduk, tidak menjawab, ha­tinya tertusuk oleh pertanyaan itu. Mengapa dia membiarkan Suma Han per­gi? Membiarkan harapan dan kebahagia­annya terbawa pergi bersama orang yang dicintanya itu?

“Toanio, mengapa Pendekar Siluman dibiarkan pergi?” Tiba-tiba seorang di antara empat kakek bermuka kuning bertanya. Kiranya empat orang itu kini te­lah siuman dari pingsannya dan melihat Suma Han bersama Kwi Hong naik dua ekor burung garuda yang terbang pergi dari tempat itu.

Lulu memandang mereka. “Dia datang seorang diri, apa baiknya kalau kita me­ngalahkan dia dengan pengeroyokan di tempat kita sendiri? Alangkah rendah dan memalukan. Lain kali masih banyak waktu untuk kuhancurkan dia. Dia itu musuhku! Musuhku....!” Akan tetapi Lulu cepat membalikkan tubuh, menggandeng tangan Keng In dan berjalan memasuki istananya. Setelah ia berada seorang diri kamarnya, Ketua Pulau Neraka ini me­lempar diri di atas pembaringan, mene­lungkup dan menyembunyikan mukanya yang menangis itu di atas bantal.

“Koko.... ahhhh, Han-koko.... engkau masih lemah seperti dulu....! Kalau eng­kau tidak mau berkeras memperisteri aku, biarlah aku mati di tanganmu.... kau tunggu saja....!”

Mengapa Lulu tiba-tiba menjadi ma­jikan Pulau Neraka? Agar tidak membingungkan, sebaiknya kita mengikuti perjalanannya semenjak dia lari pergi meninggalkan suaminya, Wan Sin Kiat atau yang terkenal dengan julukan Hoa-san Gi-hiap (Pendekar Budiman dari Hoa­san).

Semenjak Lulu melangsungkan pernikahannya dengan Hoa-san Gi-hiap Wan Sin Kiat, kemudian ditinggal pergi oleh Suma Han, dia mengantar kepergian Su­ma Han dengan ratap tangis dan mera­sa betapa semangatnya dan seluruh keba­hagiaan hatinya terbawa pergi oleh ka­kak angkatnya itu (baca ceritaPende­kar Super Sakti). Semenjak itu, dia hi­dup menderita kesengsaraan batin dan barulah ia sadar bahwa sesungguhnya hanya kakak angkatnya itu pria yang dicintanya dan betapa dia telah melaku­kan kesalahan yang besar dalam hidupnya dengan menerima dijodohkan dengan Wan Sin Kiat. Dia suka kepada Sin Kiat dan kagum akan kegagahan pemuda yang menjadi suaminya ini, akan tetapi dia tidak dapat mencintanya sebagai seorang isteri mencinta suami karena kini dia merasa yakin bahwa dia hanya dapat mencinta Suma Han seorang yang tak mungkin diganti dengan pria lain. Akan tetapi, karena dia sudah dinikahkan de­ngan Sin Kiat, sudah bersumpah di depan meja sembahyang, Lulu memaksa hatinya mempergunakan kebijaksanaan dan ber­usaha untuk mencinta suaminya, melaya­ninya sebagaimana kewajiban seorang isteri yang baik. Namun, sampai dia me­lahirkan seorang anak, tetap saja dia tidak dapat mencinta Sin Kiat, tidak dapat melupakan Suma Han, bahkan ma­kin berat penderitaan batinnya yang menjerit-jerit ingin dekat dengan pria yang dicintanya itu. Suaminya juga mak­lum dan merasa akan keadaan isterinya itu, dan akhirnya, karena tidak kuat la­gi, Lulu membawa anaknya pergi me­ninggalkan suaminya.

Dengan niat hati hendak mencari Suma Han yang dia duga tentu kembali ke Pulau Es, dia melakukan perjalanan yang jauh dan sukar ke utara. Akan te­tapi Lulu sekarang tidak seperti dahulu ketika masih kanak-kanak bersama Han Han (Suma Han) melakukan perjalanan, kini setelah menjadi murid Maya, ilmu kepandaiannya hebat dan dia dapat me­lakukan perjalanan cepat.

Betapapun juga, tidak ada orang lain yang tahu di mana letaknya Pulau Es. Maka Lulu yang tidak bertanya kepada orang lain, hanya melanjutkan perjalanannya dengan mengira-ira saja, sambil mengingat-ingat perjalanannya dahulu ketika meninggalkan Pulau Es bersama Suma Han. Banyak daerah yang sudah ia lupakan, maka di luar tahunya, dia tersesat sampai memasuki daerah Khitan! Pada suatu pagi, dia melihat se­buah tanah kuburan yang luas, tanah ku­buran yang megah dan terawat baik. Dia tidak tahu bahwa tanah kuburan itu adalah tanah kuburan keluarga Suling Emas! Baru dia tahu ketika melihat seorang ka­kek bongkok yang lihai bertanding mela­wan seorang tinggi besar kurus berkulit hitam memakai sorban. Ia teringat akan penuturan sucinya, Puteri Nirahai, tentang penjaga kuburan keluarga Suling Emas yang lihai dan bongkok benama Gu Toan. Kini melihat kakek bongkok itu dan keadaan tanah kuburan, ia sege­ra menduga bahwa tentu inilah kuburan keluarga Suling Emas yang terkenal. Ia segera merasa berpihak kepada kakek bongkok. Setelah menggendong Keng In erat-erat di punggungnya, Lulu menca­but pedangnya dan meloncat ke gelang­gang pertempuran sambil berseru,

“Apakah Locianpwe yang bernama Gu Toan?”

Kakek bongkok itu sedang didesak he­bat oleh orang India tinggi kurus yang amat lihai, namun dia masih sempat bertanya tanpa menoleh. “Bagaimana engkau bisa tahu?”

“Suci Nirahai yang menceritakan. Aku adalah sumoinya, murid Subo Maya.”

“Ahhh.... kebetulan sekali! Cepat kau pergi menyelamatkan pusaka-pusaka dan pergi dari sini. Bawa pusaka-pusaka itu.”

Lulu tertegun dan bingung. “Pusaka apa....?”

“Dessss!” Tubuh Gu Toan terguling-­guling karena dia terkena pukulan di pundaknya oleh tangan kakek India yang lihai. Akan tetapi ia meloncat bangun lagi dan mulutnya menyemburkan darah segar.

Melihat ini, Lulu menerjang dengan pedangnya. Akan tetapi orang India itu mendorongkan tangan kiri ke depan dan Lulu terhuyung-huyung!

“Jangan bantu aku! Lekas kaubuka batu di belakang kuburan Suling Emas, ambil semua pusaka dan bawa pergi. Cepat....!” Kakek Gu Toan kembali ber­kata dan menerjang orang India itu de­ngan nekat. Kakek itu mempergunakan bahasa selatan yang dimengerti oleh Lulu, akan tetapi agaknya tidak dime­ngerti oleh kakek India itu yang menja­di marah dan mengamuk dengan kaki tangannya yang panjang-panjang.

Maklum bahwa menyelamatkan pusaka agaknya lebih penting daripada nya­wa kakek bongkok itu, apalagi teringat bahwa pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas adalah pusaka yang diperebutkan semua orang kang-ouw, Lulu cepat me­loncat dan meneliti batu nisan kuburan satu demi satu. Akan tetapi tidak sukar dan tidak lama dia mencari karena batu nisan kuburan Suling Emas adalah yang terbesar dan berada di tengah-tengah. Cepat dia menyelinap di belakang nisan atau gundukan tanah kuburan dan dengan tenaga sin-kang dia mendorong batu besar yang berada di situ. Batu tergeser dan di bawahnya terdapat sebuah lubang. Cepat diraihnya sebuah peti kuning yang berada di situ dan dikempitnya. Ketika ia meloncat bangun, ia melihat Si Bong­kok kembali terhuyung-huyung terkena pukulan lawannya yang lihai. Dia ingin membantu akan tetapi Si Bongkok ber­seru.

“Lekas pergi! Lekas lari.... pusaka itu menjadi milikmu....!”

Mendengar ini dan karena kalau dia melawan dia mengkhawatirkan kesela­matan anak di gendongannya, Lulu lalu meloncat dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu. Beberapa hari kemudian ketika ia membuka peti kuning, ia men­dapatkan kitab-kitab pelajaran ilmu silat tinggi, yaitu ilmu-ilmu yang dipelajari Suling Emas dari Bu Kek Siansu dan telah ditulis sebagai kitab oleh Suling Emas. Ilmu silat Kim-kong-sin-hoat, Hong-in-bun-hoat, Pat-sian-kiam-hoat dan Lo-hai-san-hoat. Selain empat buah ki­tab ilmu silat tinggi ini, terdapat pula sebuah kipas, kipas pusaka milik mendi­ang Suling Emas! Lulu teringat bahwa pusaka Suling Emas dahulu dipinjam oleh Nirahai. Dia menjadi girang sekali dan sambil melanjutkan perjalanannya menca­ri Pulau Es yang ternyata tersesat ke Khitan, mulailah ia mempelajari ilmu-­ilmu itu. Karena dia telah menerima gemblengan ilmu-ilmu yang tinggi dan pada dasarnya dia memiliki sin-kang luar biasa dari latihan-latihan di Pulau Es, maka ilmu-ilmu itu cepat dapat dikuasai­nya.

Akhirnya, setelah melakukan perjalan­an berbulan-bulan menempuh segala ma­cam kesukaran, tibalah dia di tepi laut yang ia ingat menjadi tempat dia dan Suma Han mendarat dahulu ketika mere­ka meninggalkan Pulau Es (Baca ceritaPendekar Super Sakti). Tempat itu su­nyi sekali, tidak ada manusia dan tentu saja tidak tampak nelayan, maka dengan tekun dan sabar Lulu membuat sebuah perahu dari batang pohon. Biarpun dia memiliki tenaga yang hebat, namun se­bagai seorang wanita yang tidak pernah melakukan pekerjaan berat, tentu saja pembuatan perahu ini memakan waktu berbulan-bulan. Dengan nekat ia lalu me­luncurkan perahunya ke tengah lautan dan hanya mengandalkan dayung dan kedua tangannya untuk mendayung perahu, pergi mencari Pulau Es, atau lebih te­pat lagi, pergi mencari Suma Han, laki­-laki yang dicintanya. Tekadnya, kalau tidak dapat mencari Suma Han dan hidup di samping pria ini, lebih baik mati saja!

Dalam pelayaran dengan perahu yang tidak memenuhi syarat ini, ditambah ke­tidakmampuan mengemudikan perahu, pelayaran ini merupakan penderitaan hebat bagi Lulu dan anaknya, jauh lebih hebat daripada ketika dia melakukan perjalanan darat. Beberapa kali badai dan taufan mengancam nyawa, mengombang­-ambingkan perahu hampir tenggelam. Dalam keadaan seperti itu, Lulu hanya dapat menangis, mendekap puteranya dan menyebut-nyebut nama Suma Han, seolah-olah dia minta pertolongan dari orang yang dicintanya itu. Sungguh ajaib sekali, kalau Tuhan belum menghendaki dia mati, biarpun badai seperti itu, Lulu dan puteranya tetap selamat!

Karena serangan badai dan ombak Lulu menjadi bingung, tidak tahu di mana arah tujuannya, dan tidak tahu di mana adanya Pulau Es! Jangankan itu, bahkan dia tidak tahu lagi di mana letaknya daratan yang sudah tidak tampak lagi dari tengah lautan. Dia tidak takut ke­laparan karena dengan kepandaiannya, mudah saja baginya untuk menangkap ikan dan memanggang dagingnya, minuman pun tidak kurang karena kini selain air hujan, ia dapat pula minum dari gumpal­an es yang kadang-kadang terdapat di atas permukaan air laut. Hanya mengha­dapi amukan badai, dia benar-benar ti­dak berdaya dan hanya mampu menangis, menyebut-nyebut nama Suma Han.

Pada suatu pagi, tiba-tiba dia mende­ngar suara melengking di atas perahu dan betapa kagetnya ketika ia melihat seekor burung rajawali yang besar sekali beterbangan di atas perahu sambil me­ngeluarkan suara melengking-lengking panjang. Tiba-tiba burung itu menyam­bar ke bawah, agaknya hendak mener­kam Keng In yang berada di atas papan perahu.

“Prakkk!” Dayung di tangan Lulu han­cur, akan tetapi burung itu pun terpen­tal dan terbang ke atas sambil meme­kik marah.

“Keparat jahanam! Burung sialan! Kupatahkan batang lehermu. Hayo turun kalau kau berani!” Lulu marah sekali dan menantang-nantang sambil memaki­-maki. Dia menyambar Keng In, teringat akan peti terisi pusaka-pusaka, maka anak dan peti itu dia ikat kuat-kuat di punggungnya, tangannya mencabut pe­dang, siap menghadapi burung rajawali yang agaknya masih penasaran dan beterbangan mengelilingi atas perahu kecil.

Burung rajawali itu kembali menyambar, kini menyerang Lulu yang telah menyakitinya. Lulu mengayun pedangnya membabat ke arah kaki burung itu. Akan tetapi, sungguh tidak disangkanya bahwa burung itu ternyata kuat dan juga pan­dai sekali bertempur, karena kuku-kuku jari kakinya diulur seperti pisau-pisau runcing menangkis sambil mencengkeram.

“Crakkkk.... aihhh!” Lulu menjerit dan meloncat ke belakang. Kuku jari kaki kiri burung itu patah terbabat pedang, akan tetapi cengkeraman kaki kanannya berhasil merampas pedang dan melukai sedikit lengan tangan Lulu! Sambil ter­bang berputaran, burung itu memekik-­mekik kesakitan dan juga saking marah­nya pedang rampasan dilepaskan dan jatuh ke dalam laut, kemudian ia siap untuk menyerang lagi.

Biarpun marah sekali, Lulu tidak kehilangan ketenangannya dan ia berlaku cerdik. Dilolosnya sabuk sutera dari ping­gang dan begitu burung itu menyambar turun, Lulu menggerakkan sabuknya yang meluncur ke atas merupakan sinar putih, ujung sabuk dengan tepat melibat leher burung dan ia meloncat ke atas menga­yun dirinya dengan sabuk itu. Di lain sa­at, Lulu telah duduk di atas punggung rajawali, menarik sabuknya kuat-kuat se­hingga leher burung itu tercekik!

“Menyerahlah! Kalau tidak, biar kita mati bersama. Kucekik lehermu sampai patah!” Lulu membentak keras, tangan kirinya mencengkeram bulu leher, se­dangkan tangan kanannya menarik ujung sabuk yang telah melibat leher burung. Burung itu meronta-ronta, berusaha memutar kepala untuk mematuk orang yang menduduki punggungnya, namun Lulu lebih cepat lagi menghantam kepala bu­rung itu dengan telapak tangan kiri. Se­telah burung itu megap-megap hampir kehabisan napas, Lulu mengendurkan ce­kikannya dan kembali membentak.

“Hayo terbang baik-baik kalau tidak ingin mampus!”

Setelah beberapa kali dicekik dan dipukul kepalanya, binatang itu agaknya merasa bahwa dia telah bertemu mah­luk yang lebih kuat, maka sambil menge­luh panjang ia tidak meronta lagi, melainkan terbang dengan lurus dan cepat menuju ke utara. Lulu girang bukan main. Kalau burung ini sudah menyerah, tentu saja lebih mudah mencari Pulau Es dengan menunggang burung raksasa ini daripada naik perahu kecil yang sela­lu dilanda ombak!

“Eh, Tiauw-ko (Kakak Rajawali) yang baik! Kita sekarang bersahabat. Tolong­lah terbangkan aku ke Pulau Es. Pulau Es, kau tahu?”

Akan tetapi burung bukan manusia, mana dapat diajak bicara? Kalau dia mengalami kesukaran dan kekagetan, tempat pertama yang akan didatangi adalah sarangnya, maka biarpun kini dia tidak berani lagi membantah atau melawan penunggangnya, otomatis dia terbang secepatnya menuju ke sarangnya, yaitu di Pulau Neraka!

Pada waktu itu, Pulau Neraka merupakan tempat yang asing dan tidak dikenal orang. Para penghuninya, biarpun memiliki ilmu kepandaian yang lihai namun merupakan keturunan orang-orang buangan yang selamanya mengasingkan diri di tempat ini. Pemimpin mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian paling tinggi, dan pada waktu itu, yang menjadi pimpinan adalah enam orang bermuka kuning yang ilmunya tinggi sekali. Seorang di antara mereka yang paling tua menjadi pemimpin pertama sedangkan lima orang lain menjadi pem­bantu-pembantunya. Karena hidup ter­asing, keadaan mereka lebih menyerupai kehidupan orang-orang yang masih biadab, pakaian yang menutupi tubuh hanya ter­buat daripada kulit-kulit binatang atau kulit pohon. Namun mereka rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, bahkan banyak di antara mereka yang turun-temurun mempelajari huruf-huruf sehingga pada waktu itu mereka mengenal huruf-huruf yang kuno yang dipergunakan ratusan ta­hun yang lalu dan yang sekarang mengalami banyak perubahan.

Ketika Lulu melihat burung yang di­tungganginya itu terbang di atas sebuah pulau hitam yang kelihatan dari atas mengerikan, dia berkata, “Tiauw-ko, itu bukan Pulau Es! Pulau Es kelihatan putih bersih, tidak seperti ini. Kau ke­liru memilih tempat!”

Akan tetapi rajawali yang tidak me­ngerti kata-kata ini, tetap saja terbang merendah dan tiba-tiba Lulu melihat gerakan orang-orang di atas pulau, juga dia melihat bangunan-bangunan aneh. Melihat di bawah ada orang, dia girang sekali. Mungkin sekali penghuni pulau di bawah ini akan dapat memberi kete­rangan tentang Pulau Es, dan siapa tahu kalau-kalau Pulau Es sudah dekat dan dia dapat minta mereka mengantar de­ngan perahu. Menunggang rajawali yang tidak mengerti perintahnya ini pun amat berbahaya!

“Turunlah! Turun ke tempat orang­-orang itu!” Lulu menepuk-nepuk leher rajawali dan burung itu menukik turun dengan amat cepatnya sehingga Lulu cepat merangkul lehernya. Anaknya mu­lai menangis.

“Diamlah, Nak. Diamlah, kita turun dan bertemu dengan orang-orang....” Lulu menghibur dan menepuk-nepuk paha anaknya yang ia gendong di punggung.

Akan tetapi betapa kaget dan heran­nya ketika burung rajawali sudah ter­bang rendah, ia melihat betapa kulit tubuh dan muka orang-orang di bawah itu bermacam-macam warnanya, tidak lumrah manusia karena ada yang hitam, merah, hijau, biru dan kuning! Akan tetapi karena burung itu sudah hinggap di atas tanah, ia lalu melompat turun de­ngan gerakan ringan dan dalam keadaan siap waspada. Burung rajawali yang merasa punggungnya tidak ditunggangi lagi, memekik girang lalu terbang ke atas membubung tinggi, masih memekik-mekik.

Orang-orang yang aneh itu mengha­dapi Lulu dan memandang penuh perha­tian. Enam orang kakek yang bermuka kuning melangkah maju dan seorang di antara mereka yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih berkata, suaranya ka­ku dan aneh, akan tetapi Lulu masih dapat menangkap artinya.

“Toanio siapakah? Apakah seorang buangan baru dari Pulau Es?”

Kini Lulu yang terbelalak keheranan. “Orang buangan dari Pulau Es? Apa mak­sudmu? Aku justeru mencari Pulau Es. Tahukah kalian di mana pulau itu?”

“Kami tidak tahu dan mau apa eng­kau mencari Pulau Es?”

“Aku mau mencari sahabatku di sana!”

“Sahabatnya di Pulau Es!” Orang-orang itu berteriak dan sikap mereka berubah, kini memandang Lulu dengan geram. Hal ini mengejutkan hati Lulu. Celaka, agaknya mereka ini adalah orang-orang yang membenci Pulau Es, entah apa se­babnya. Melihat mereka sudah siap-siap dengan mencabut bermacam senjata, Lulu cepat bertanya,

“Kalian siapakah? Dan pulau apakah ini?”

Kakek itu menjawab, “Kami adalah keturunan orang-orang buangan dari Pu­lau Es. Pulau ini adalah Pulau Neraka. Kami mendendam kepada Pulau Es, dan sekali waktu, pasti kami akan menyerbu dan membasmi musuh-musuh kami di Pulau Es!”

Hati Lulu makin terkejut, akan tetapi dia mempunyai pikiran yang baik. Han Han (Suma Han) telah bersikap kejam dan tega kepadanya. Biarpun dia me­rasa yakin bahwa kakak angkatnya itu pun mencintainya, namun telah tega mengawinkan dia dengan orang lain! Se­karang setelah ia melarikan diri dari sua­minya, mengingat akan watak kakak ang­katnya itu, tentu dia akan dimarahi dan belum tentu kakak angkat itu mau me­nerimanya. Akan tetapi kalau dia dapat menguasai orang-orang ini! Dia kelak akan dapat memperlihatkan bahwa dia pun bukan orang sembarangan, dan dia akan menginsafkan kakak angkatnya itu! Apalagi karena sekarang dia telah menjadi pewaris pusaka-pusaka peninggal­an Suling Emas.

“Bagus!” tiba-tiba Lulu berkata kepada kakek itu. “Kalau begitu, biarlah aku akan memimpin kalian untuk me­nyerbu Pulau Es!”

Terdengar suara ketawa di sana-sini, dan kakek itu berkata, “Engkau katakan tadi bahwa engkau hendak mencari saha­batmu di Pulau Es?”

“Benar, akan tetapi dia telah menyakiti hatiku. Bagaimana pendapat kalian? Aku akan memimpin kalian, mengajari ilmu dan mengatur agar kalian menjadi orang pandai dan beradab, tidak seperti sekarang ini!”

“Perempuan muda, bicaramu tekebur sekali! Engkau anggap kami ini orang apa mudah saja mengangkat seorang pemimpin seperti engkau? Biarpun engkau da­tang secara aneh menunggang rajawali liar, akan tetapi tentang kepandaian, hemm.... agaknya melawan orang tingkat terendah dari kami saja belum tentu engkau menang!”

Semenjak gadis muda, Lulu memiliki watak keras, berani dan tinggi hati. Kini mendengar kata-kata itu, naik darahnya. “Siapa yang paling tinggi tingkatnya di sini?”

Kakek bermuka kuning itu tertawa.

“Aku!”

“Baik. Kalau begitu aku akan mengalahkan engkau, dan kalau kau kalah, apa­kah aku cukup berharga menjadi ketua di sini?”

Kembali terdengar suara ketawa di sana sini yang memanaskan perut Lulu. Kakek itu mengelus jenggotnya dan ber­kata, “Perempuan muda, engkau sungguh lancang. Akan tetapi begitulah, siapa yang paling pandai di sini dia diangkat menjadi pemimpin. Aku orang pertama di sini, kalau engkau bisa mengalahkan aku, tentu saja engkau patut menjadi pemimpin.”

“Bagus! Kalau begitu, kautunggu se­bentar!” Lulu lalu menurunkan peti dan anaknya. Keng In, anaknya yang baru berusia setahun lebih itu menangis kare­na lapar, maka dia lalu menyusui anak­nya, ditonton oleh semua orang yang berada di situ dengan heran. Kebiasaan di situ, tidak ada anak yang disusui ka­rena Sang Ibu yang sudah berubah warna kulitnya berarti telah mempunyai darah yang beracun sehingga anak-anak diberi makanan buah-buahan sejak kecil, dan diberi bahan makanan lain.

Setelah menyusui anaknya yang lan­tas tertidur saking lelahnya, Lulu melon­cat bangun dan menggulung lengan baju­nya, menghadapi kakek itu. Dia teringat pedangnya yang sudah jatuh ke laut, maka dia bertanya,

“Engkau hendak bertanding dengan senjata apa?”

“Perempuan muda, senjataku adalah ranting ini, akan tetapi karena engkau tidak bersenjata, biarlah kuhadapi eng­kau dengan tangan kosong pula. Bahkan kalau engkau bersenjata pun, aku sang­gup menghadapimu dengan tangan ko­song!” Setelah berkata demikian, kakek muka kuning itu lalu menancapkan ran­tingnya di atas tanah, kemudian kakinya yang telanjang itu melangkah maju menghampiri Lulu.

“Bagus, kiranya engkau masih memiliki sikap gagah. Nah, maju dan serang­lah!” Biarpun Lulu mempergunakan kata­-kata dan sikap sombong, namun sebenarnya dia cerdik dan diam-diam dia waspa­da karena dia dapat menduga bahwa orang-orang aneh ini tentu memiliki kepandaian yang aneh pula.

“Perempuan muda, jaga seranganku!” Kakek itu lalu melangkah maju, tangan kirinya menyambar.

“Wuuuuttt!” Angin keras menyambar ke arah kepala Lulu sehingga dia kaget karena tepat seperti telah diduganya, orang ini memiliki tenaga sin-kang yang hebat. Namun dia tidak gentar dan dengan mudah ia mengelak dengan loncatan ringan kemudian dari samping kakinya menendang ke arah lambung lawan.“Plakk!” Kakek itu menangkis dan dia berseru kaget. Sama sekali tidak di­sangkanya bahwa perempuan muda itu memiliki tendangan yang demikian he­bat sehingga tangkisannya yang dapat mematahkan balok itu ketika mengenai kaki, terasa nyeri sedangkan wanita itu terhuyung pun tidak! Tahulah dia bahwa wanita itu tidak bersombong kosong, maka mulai dia menerjang bagaikan angin ribut, cepat dan kuat setiap pukulannya. Lulu merasa girang. Tangkisan tadi sengaja dia terima dengan kaki untuk mengukur tenaga dan biarpun kakinya juga terasa nyeri, namun dia tahu bah­wa sin-kangnya yang dilatih di Pulau Es dahulu tidak takut menandingi tenaga ka­kek ini. Maka dia pun kini melawan de­ngan pengerahan tenaga, bahkan dia mu­lai mainkan ilmu-ilmu silat baru yang ia pelajari dari kitab peninggalan Suling Emas. Berkali-kali kakek itu berseru kaget dan heran ketika mengenal ilmu si­lat yang dasarnya sama dengan ilmunya sendiri, hanya dia tidak mengenal perubahan-perubahannya yang jauh lebih he­bat daripada kepandaiannya. Ketika Lulu mencoba untuk mainkan Kim-kong Sin-kun, dia masih mampu menahan, akan tetapi ketika Lulu merobah ilmunya dan mencoba mainkan Hong-in-bun-hoat, ka­kek itu berseru kaget dan terdesak hebat.

Dia hanya melihat wanita muda itu menggerak-gerakkan kedua tangan seperti orang menulis huruf-huruf indah di udara, akan tetapi daya serangan kedua tangan itu luar biasa sekali, dan kuat­nya bukan main sehingga angin pukulan­nya saja membuat dia tergetar. Memang demikianlah sifat Hong-in-bun-hoat (Silat Sastera Angin dan Awan), yang dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan pedang. Ilmu ini mendasarkan pergerakan dengan menulis huruf-huruf dan seperti menjadi sifat huruf-huruf itu, coretannya sesuai dengan makna hurufnya seperti lukisan, akan tetapi kalau coretan-coretan itu dilakukan sebagai gerakan menyerang, hebatnya bukan ma­in!

Setelah mempertahankan diri sampai seratus jurus, sebuah “coretan” tak ter­sangka-sangka dengan jari tangan kiri Lulu berhasil memasuki pertahanan Si Kakek dan jari-jari yang lembut itu me­ngenai pangkal lengan.

“Cusss!”

“Aduhhh....!” Kakek itu terhuyung-­huyung ke belakang dan dari pangkal lengannya keluar darah. Baju kulit hari­mau beserta kulit dan daging pangkal lengan itu terkuak oleh jari tangan Lulu!

“Toanio, tidak kusangka ilmu kepan­daianmu hebat bukan main! Akan tetapi aku belum kalah! Hadapi rantingku ini!” Setelah berkata demikian, dengan gerakan gesit sekali kakek yang sudah terlu­ka itu menyambar rantingnya lalu me­nerjang maju.

“Cuittt.... tar-tar-tar....!” Senjata yang hanya merupakan ranting kayu itu ternyata lemas sekali seperti ujung pecut yang dapat meledak-ledak dan mengan­cam kepala Lulu dari empat penjuru!

Kalau saja Lulu tahu bahwa sekali terke­na ujung ranting itu dia akan menderita luka berbisa yang berbahaya, tentu dia akan menjadi gugup dan mendatangkan bahaya. Untung dia tidak tahu sehingga dia dapat bersikap tenang, mengelak ke sana sini sambil berusaha merampas ran­ting!

Akan tetapi tiba-tiba ranting itu menjadi kaku seperti baja dan langsung dipergunakan untuk menusuk perutnya. Lulu mengelak dengan loncatan ke kiri, dan ranting itu sudah meledak lagi ber­ubah lemas menyambarnya seperti lecut­an cambuk. Diserang secara aneh oleh senjata yang dapat lemas dan berubah kaku ini, Lulu menjadi sibuk sekali. Un­tung bahwa dia pernah digembleng oleh Maya dalam hal ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sehingga kini tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar senjata istimewa lawan itu.

Para penghuni Pulau Neraka yang tadinya memandang rendah kepada Lulu, kini menjadi bengong dan terbelalak kagum. Biarpun wanita itu terdesak, namun jelas tampak oleh mereka betapa wanita itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali dan lebih tinggi ting­katnya daripada kakek yang menjadi ke­tua mereka!

Payah juga Lulu menghindarkan diri dari desakan kakek itu. Ia menjadi pena­saran dan marah karena sama sekali ti­dak mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Tubuhnya terus dikejar ujung ranting yang menghalangi dia melakukan serangan. Sayang dia tidak mempunyai senjata. Tiba-tiba ia teringat. Di dalam peti kuning terdapat sebuah senjata kipas peninggalan Suling Emas! Dan dia pun sudah mempelajari ilmu Silat Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) dari sebuah di antara kitab-kitab dan sudah pula berlatih mainkan kipas itu, Teringat akan ini, dia berseru. “Tahan senjata!”

Kakek itu berhenti, napasnya empas-empis. Dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, namun belum pernah ujung rantingnya menyentuh tubuh lawan! Ka­rena dia menyerang terus menerus dan belum pernah ia melakukan pertandingan selama itu, napasnya memburu dan ham­pir putus, mukanya sebentar merah se­bentar pucat, membuat muka yang ber­warna kuning itu sebentar tua sebentar muda warnanya.

“Apakah engkau menyerah kalah?” kakek itu menegur.

Lulu meloncat mendekati petinya, membuka dan mengambil kipas, lalu ber­diri lagi menghadapi lawannya. “Belum ada setitik darahku keluar, bagaimana aku menyerah kalah? Tidak, engkaulah yang sebaiknya menyerah dan menjadi pembantuku, karena kalau aku mengguna­kan senjataku ini, engkau pasti akan kalah.”

“Senjata.... kipas....?” Kakek itu mengerti kipas dari dongeng nenek moyang dan sebagian besar penghuni di pulau itu belum pernah melihat kipas selama­nya, juga mendengar pun belum, maka mereka memandang terheran-heran.

“Benar, inilah senjataku saat ini!”

“Toanio, engkau lihai, akan tetapi jangan main-main. Menurut dongeng nenek moyang, kipas hanyalah dipergunakan oleh para siucai (mahasiswa) dan wanita cantik untuk menyilirkan badan dan me­nuliskan sajak serta gambar. Bagaimana kini akan kaupergunakan sebagai sen­jata?”

“Lopek, engkau lupa bahwa engkau sendiri mempergunakan senjata yang ti­dak semestinya, hanya sebatang ranting. Karena itu tentu engkau mengerti bahwa makin sederhana senjatanya, makin berbahaya. Awaslah terhadap kipas pusa­kaku ini. Ingat, Kwan Im Pouwsat dengan kipasnya sanggup menundukkan seribu satu macam siluman!”

Kakek itu melotot marah dan sambil mengeluarkan suara melengking-lengking dia menerjang maju. Jantung Lulu terge­tar hebat oleh suara lengkingan itu, ma­ka tahulah dia bahwa kakek itu memper­gunakan khi-kang untuk mempengaruhi­nya. Hanya orang yang sudah tinggi il­munya saja yang mampu mengeluarkan suara seperti itu, suara yang dimiliki binatang-binatang besar tanpa latihan, seperti yang dimiliki singa atau harimau sehingga sekali menggereng, jantung calon korbannya tergetar dan kakinya le­mas tak mampu lari lagi. Lulu juga mengeluarkan suara teriakan melengking yang tinggi mengatasi suara kakek itu dan dia cepat menggerakkan kipasnya ketika ranting itu menerjangnya. Dan ternyatalah bahwa senjata kipas ini amat tepat untuk menghadapi senjata ranting yang kadang-kadang menjadi pecut kadang­-kadang menjadi tombak baja itu! Dengan ilmu sakti Lo-hai-san-hoat, kipasnya da­pat dikembangkan dan dikebutkan mengha­lau ujung ranting, kemudian disusul de­ngan totokan-totokan mengunakan ujung gagang kipas.

Kakek yang sudah hampir kehabisan napas itu menjadi makin repot. Kini dia­lah yang terdesak karena rantingnya ka­lau dibuat lemas, selalu terdorong angin kebutan kipas sehingga gerakannya ka­cau bahkan tak dapat ia kuasai lagi, se­dangkan kalau dibikin kaku, tangkisan gagang kipas membuat kedua telapak tangannya panas dan perih.

Dengan gerengan marah kakek itu menusukkan rantingnya yang menjadi kaku. Lulu sudah mendengar anaknya menangis lagi, agaknya sadar dari tidurnya, maka dia ingin mempercepat keme­nangannya. Melihat ujung ranting datang, dia cepat menggerakkan kipasnya dengan kedua gagang menggunting dengan jurus ilmu kipas yang disebut Siang-in-toan­-san (Sepasang Awan Memotong Gunung). Ujung ranting itu terjepit dan tidak da­pat dicabut kembali! Kakek itu terkejut, menggereng dan hanya menggunakan ta­ngan kiri memegang ranting sedangkan tangan kanannya melayang ke depan di­barengi langkah kakinya, langsung mengi­rim pukulan ke arah dada Lulu. Pukulan yang antep sekali karena kakek itu mengerahkan sin-kangnya!

“Hemmm!” Lulu mendengus, tangan kirinya didorongkan ke depan, telapak tangannya menerima kepalan lawan sam­bil mengerahkan sin-kang yang dilatih di Pulau Es dan yang ini telah men­capai tingkat tinggi.

“Desss!” Kepalan tangan kakek itu menempel di telapak tangan Lulu. Lulu mengerahkan napas memperkuat Im-kang. Tiba-tiba kakek itu menggigil tubuhnya, menarik tangannya, terhuyung ke belakang dan “uaaakkk!” dia muntah darah dan ro­boh terguling dalam keadaan pingsan!

Keadaan menjadi sunyi sekali. Tak seorang pun bergerak, hanya memandang penuh takjub seolah-olah belum dapat percaya bahwa pemimpin mereka dikalahkan wanita muda itu! Yang terdengar ha­nya tangis Keng In. Lulu berdiri tegak. Kipas terkembang di depan dada, tangan kiri terbuka jarinya di atas kepala, si­kapnya gagah dan menyeramkan.

“Masih adakah yang tidak mau mene­rima aku menjadi Ketua Pulau Neraka?” Suaranya dikeluarkan dengan pengerahan khi-kang sehingga menggetarkan jantung semua orang.

Para penghuni Pulau Neraka itu tidak ada yang bergerak, semua memandang kepada lima orang kakek bermuka ku­ning yang menjadi pemimpin mereka. Akan tetapi lima orang kakek ini juga tidak bergerak melainkan memandang kepada yang roboh pingsan. Perlahan-lahan kakek tua itu siuman, membuka mata, bangkit duduk dan memandang ke­pada Lulu, kemudian ia berlutut dan berkata,

“Mulai saat ini, Toanio adalah pe­mimpin kami!”

Mendengar ini, lima orang kakek mu­ka kuning lalu menjatuhkan diri berlutut diikuti semua penghuni Pulau Neraka dan terdengarlah seruan-seruan mereka.

“Toanio....!”

“To-cu....!”

Lulu tersenyum. “Baiklah, aku girang sekali bahwa kalian suka mengangkat aku menjadi ketua. Aku berjanji akan me­mimpin kalian dan menurunkan ilmu se­hingga tidak saja kalian akan mempero­leh kemajuan, juga akan menjadi penghu­ni Pulau Neraka yang akan meng­gemparkan dunia! Sekarang, lebih dulu aku minta makanan untuk aku dan anak­ku.”

Demikianlah, mulai saat itu Lulu menjadi ketua mereka. Dia menjalankan peraturan baru, menghapuskan pantangan keluar pulau, bahkan dia menyebarkan pembantu-pembantunya yang pandai un­tuk keluar pulau dan mencari bahan pa­kaian untuk mereka semua, mencari kebutuhan-kebutuhan hidup sebagaimana layaknya manusia-manusia beradab.

Dia menurunkan ilmu silat tinggi, akan tetapi ilmu-ilmu dari keempat ki­tab dia simpan sebagai kepandaian priba­dinya. Bahkan dia melatih diri dan mempelajari ilmu keturunan penghuni Pulau Neraka sehingga dia melatih sin-kang dengan minum racun-racun tumbuh-tum­buhan dan binatang-binatang di pulau itu sehingga setelah mencapai tingkat ter­tinggi, dalam beberapa tahun saja wajah­nya berwarna putih kapur! Juga dia men­didik Keng In dengan penuh kasih sayang sehingga bocah ini menjadi manja. Burung-burung rajawali juga ia taklukkan sehingga dapat dipergunakan untuk bina­tang tunggangannya.

Kemajuan yang dicapai oleh Pulau Neraka amat hebat. Karena Lulu mengu­tus pasukan-pasukannya keluar pulau, sebentar saja mereka terlibat dengan orang-orang kang-ouw dan mulailah nama Pulau Neraka terkenal sebagai kekuatan yang menakutkan.

Ketika puteranya yang bertugas mengumpulkan akar dan daun obat un­tuk keperluan penghuni menolak bahaya dari keracunan datang melapor akan munculnya seorang anak perempuan murid Majikan Pulau Es, Lulu cepat berangkat sendiri dan menangkap Kwi Hong. Sudah lama ia berkeinginan mengunjungi Pulau Es, akan tetapi karena merasa belum cukup kuat, ia selalu menunda. Dari penyelidikan orang-orangnya, ia mendengar bahwa Suma Han telah menjadi majikan Pulau Es dan bahwa di sana terdapat banyak anak buahnya, banyak pula terda­pat wanita-wanita cantik yang gagah perkasa dan betapa Pulau Es seolah-olah merupakan sebuah kerajaan kecil. Mende­ngar ini, makin sakit rasa hati Lulu ka­rena dia menganggap bahwa Han Han (Suma Han) kejam dan lupa kepadanya. Bukankah sepantasnya kalau Suma Han mencari dan mengajak dia hidup baha­gia di Pulau Es? Dialah yang berhak tinggal di Pulau Es, di samping Suma Han!

Ketika ia memancing Suma Han se­hingga Pendekar Super Sakti itu datang berkunjung ke Pulau Neraka, mengalah­kan semua orangnya, dia melihat betapa Suma Han masih selemah dahulu. Jelas bahwa pria itu mencintanya, akan tetapi pria itu tidak memperlihatkan kejantan­an, tidak memperlihatkan kekuasaannya untuk menundukkannya, bahkan seperti juga dulu, rela pergi dengan hati menderita!

Herankah kita apabila Lulu menangis terisak-isak semalam itu dan di dalam hatinya berjanji untuk memusuhi Suma Han yang telah merampas hatinya, ke­mudian mengecewakan hatinya dan menghancurkan harapan serta kebahagia­annya? Apalagi ketika dia mendengar bahwa pria idaman hatinya itu telah dijodohkan dengan Nirahai, sucinya. Dia akan memusuhi Suma Han, dan akan mencari Nirahai. Dia tidak takut seka­rang terhadap sucinya yang lihai itu, bahkan dia pun tidak takut terhadap Suma Han yang belum sempat diujinya itu. Setelah dia mewarisi ilmu-ilmu dari Suling Emas, dia tidak takut terhadap siapapun juga! Rasa kemarahan yang bangkit karena cemburu ini akhirnya mengalahkan kesedihannya dan membuat majikan Pulau Neraka yang digambarkan seperti iblis itu dapat tidur pulas dengan bantal masih basah air mata!

***

“Siuuuutttt.... byurrrr!”

“Lihat, Paman Pangeran, apa yang jatuh dari langit itu?” Seorang gadis cilik yang berpakaian serba merah, ber­usia kurang lebih sembilan tahun, berseru sambil menunjuk ke arah benda yang jatuh dari langit dan tampak mengapung di atas lautan.

“Hemmm, manakah? Ahhh, kau be­nar. Benda apakah itu? Hiiii, Ciangkun, suruh dekatkan perahu dan coba kau am­bil benda itu!” kata laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang berpakaian me­wah dan berwajah tampan itu. Mereka berada di atas sebuah perahu yang me­wah dan indah, dengan hiasan bendera sebagai tanda bahwa penumpangnya adalah seorang bangsawan.

Memang demikianlah kenyataannya. Laki-laki tampan berpakaian mewah itu adalah seorang pangeran Mongol yang bernama Pangeran Jenghan yang pada waktu itu sedang berpesiar di laut­an utara di atas perahunya, dikawal oleh pasukan Mongol yang menumpangi tiga buah perahu lain. Adapun gadis cilik berpakaian merah yang berwajah cantik jelita berusia sembilan tahun itu adalah keponakannya yang bernama Milana.

Atas perintah kepala pengawal, seorang kakek yang memakai topi caping lebar seperti para pengawal lain yang berada di perahu besar, perahu yang di­tumpangi pangeran itu didayung mende­kati benda yang terapung di laut. Sete­lah agak dekat, Milana berseru, “Sebuah keranjang! Dan ada orangnya di dalam!”

“Hemmm, agaknya dia sudah mati....!” Pangeran Jenghan berseru melihat se­orang anak laki-laki rebah meringkuk di keranjang tak bergerak-gerak seperti tak bernyawa lagi.

Memang itulah keranjang berisi Bun Beng yang jatuh dari angkasa ketika ke­ ranjangnya dilepas oleh cengkeraman burung rajawali. Ketika keranjang melun­cur dengan cepatnya, Bun Beng pingsan. Keranjang itu jatuh ke laut dan mengapung sehingga menyelamatkan nyawa Bun Beng. Namun kalau saja ada ke­betulan kedua, yang pertama jatuhnya keranjang ke laut, yaitu kalau tidak ke­betulan lagi dia jatuh tidak di dekat perahu itu, tentu keranjangnya sebentar lagi akan tenggelam dan dia tidak akan tertolong.

Kepala pengawal segera menggerak­kan tangan kanannya dan tampaklah sehe­lai tali meluncur seperti seekor ular panjang, menuju ke arah keranjang. Dengan tepat sekali ujung tali itu mem­belit keranjang pada saat Bun Beng siuman dari pingsannya. Anak ini terke­jut ketika membuka matanya melihat bahwa dia berada di tengah laut. Lebih lagi kagetnya ketika tiba-tiba keranjang yang didudukinya itu terangkat ke atas seperti ada yang menerbangkan. Celaka, pikirnya, agaknya dia telah disambar la­gi oleh burung rajawali!

“Brukkkk!” Keranjang yang diterbang­kan oleh tali yang dilepas secara lihai oleh kepala pengawal Mongol itu terban­ting ke atas papan dan tubuh Bun Beng terlempar keluar, bergulingan di atas papan. Ia merangkak bangun de­ngan kepala pening, bangkit berdiri terhu­yung-huyung. Karena pandang matanya berkunang, dia cepat berlutut dan meme­gangi kepala dengan kedua tangan, menutupi mukanya dan memejamkan mata­nya.

“Sungguh ajaib! Eh, anak, engkau sia­pakah dan mengapa bisa jatuh dari la­ngit dalam sebuah keranjang?”

Suara yang terdengar asing dan kaku mempergunakan bahasa pedalaman ini membuat Bun Beng menurunkan kedua tangannya, mengangkat muka dan mem­buka mata memandang. Dilihatnya se­orang laki-laki berpakaian indah berdiri di depannya, dan di samping laki-laki itu berdiri seorang anak perempuan yang cantik jelita berpakaian merah. Ia memandang ke sekeliling. Kiranya dia ber­ada di atas sebuah perahu besar dan tak jauh dari situ kelihatan tiga buah pera­hu lain. Mengertilah dia bahwa keran­jangnya jatuh ke laut dan bahwa dia telah ditolong oleh orang-orang ini. Ma­ka perlahan dia bangkit berdiri, kemudi­an membungkuk dan menjawab.

“Namaku Gak Bun Beng. Tadinya aku digondol burung rajawali dan dilepaskan dari atas. Aku pingsan dan tidak tahu apa-apa, baru siuman ketika keranjang dinaikkan ke sini. Aku telah menerima budi pertolongan kalian, sudilah meneri­ma ucapan terima kasihku.”

Sejenak semua orang yang berada di situ tertegun dan keadaan menjadi su­nyi. Cerita anak ini terlalu aneh, apalagi melihat anak yang berwajah tampan, bersikap sederhana dan halus akan teta­pi menggunakan bahasa yang sederhana pula, sama sekali tidak bersikap hormat kepada Pangeran Jenghan! Para penga­wal sudah mengerutkan alis hendak ma­rah karena dianggapnya sikap anak ini kurang ajar dan tidak menghormat kepada junjungannya. Akan tetapi Pangeran itu tersenyum dan mengangkat kedua lengan ke atas.

“Ajaib....! Ajaib....! Seolah-olah engkau dijatuhkan dari langit oleh para dewa untuk bertemu dengan aku! Eh, Gak Bun Beng, bagaimana engkau sampai bisa terbawa terbang dalam keranjang oleh seekor burung raksasa? Amat aneh ceri­tamu, sukar dipercaya!”

Bun Beng berpikir. Memang pengalamannya amat aneh dan sukar diperca­ya. Orang ini telah menyelamatkan nyawanya. Kalau dia menceritakan semua pengalamannya, semenjak terlempar ke air berpusing sampai hidup di antara ka­wanan kera kemudian bertemu dengan para pemuja Sun Go Kong dan bertemu dengan murid Pendekar Siluman yang bertanding sambil menunggang garuda melawan anak iblis dari Pulau Neraka, agaknya ceritanya akan lebih tidak di­percaya lagi. Dia tidak suka bercerita banyak tentang dirinya karena hal itu hanya akan menimbulkan kesulitan saja, maka ia lalu mengarang cerita yang lebih masuk akal.

“Saya sedang mencari rumput untuk makanan kuda dan di dalam hutan saya tertidur dalam keranjang ini. Tiba-tiba saya terkejut dan ternyata bahwa ke­ranjang yang saya tiduri telah berada di angkasa, dicengkeram oleh seekor burung besar. Karena ketakutan, saya meronta­-ronta dan akhirnya keranjang itu dilepas­kan dan saya jatuh ke sini.”

Pangeran Jenghan mengangguk-angguk, akan tetapi melihat pandang matanya yang penuh selidik dan kerutan alisnya, ternyata bahwa di dalam hatinya Pange­ran ini masih kurang percaya. Akan tetapi dia berkata, “Hemm, engkau ten­tu kaget dan lelah, juga lapar. Pakaian­mu robek-robek. Ciangkun, beri dia ma­kan dan suruh istirahat di bagian bela­kang kapal.”

Bun Beng lalu mengikuti pengawal itu. Dia disuruh makan hidangan yang amat lengkap dan serba mahal. Kemudi­an dia diperbolehkan mengaso. Karena memang merasa lelah sekali, tak lama kemudian Bun Beng tertidur di atas papan perahu di bagian belakang.

Bun Beng terbangun oleh suara nya­nyian merdu. Ia membuka mata dan me­noleh. Kiranya yang sedang bernyanyi adalah anak perempuan berpakaian me­rah yang dilihatnya tadi. Anak itu berdi­ri di atas papan, di pinggir perahu, me­mandang ke angkasa yang biru indah, dan suaranya amat merdu ketika bernya­nyi. Akan tetapi, bagi Bun Beng, yang amat mengherankan adalah nyanyian itu. Kata-kata dalam nyanyian itu bukanlah nyanyian kanak-kanak bahkan mengan­dung makna dalam seperti sajak dalam kitab-kitab kuno. Ia mendengarkan pe­nuh perhatian tanpa menggerakkan tu­buhnya yang masih terlentang.

“Betapa ajaib alam dunia segala sesuatu bergerak sewajarnya menuju ke arah titik sempurna matahari memindahkan air samudra memenuhi segala kebutuhan di darat dibantu hembusan angin yang kuat setelah melaksanakan tugas mulia air kembali ke asalnya semua itu digerakkan oleh cinta apa akan jadinya dengan alam semesta tanpa cinta?”

Bun Beng mengerutkan alisnya. Anak ini masih terlalu kecil untuk menyanyi­kan kata-kata seperti itu! Mungkin hanya seperti burung saja yang meniru kata-­kata tanpa tahu artinya.

“Gak Bun Beng, engkau sudah sadar dari tadi, mengapa pura-pura masih ti­dur?”

Bun Beng terkejut dan bangkit duduk, matanya terbelalak. Bagaimana anak perempuan itu bisa tahu bahwa dia su­dah terbangun? Padahal dia tidak mengeluarkan suara dan anak itu tidak pernah menengok bahkan ketika menegurnya pun tidak membalikkan tubuh.

“Eh, apa engkau mempunyai mata di belakang kepalamu?” Bun Beng melom­pat berdiri dan bertanya.

Anak perempuan itu kini membalikkan tubuhnya, memandang dengan sepa­sang mata yang mengingatkan Bun Beng akan sepasang mata burung garuda tunggangan murid Pendekar Siluman. Anak itu tersenyum dan Bun Beng terseret dalam senyum itu, tanpa disadari ia pun meringis tersenyum.

“Apa kaukira aku ini siluman yang mempunyai mata di belakang kepala?”

“Kalau tidak mempunyai mata di be­lakang, bagaimana engkau bisa tahu bah­wa aku telah bangun dari tidur?”

“Bunyi pernapasan orang tidur dan orang sadar jauh bedanya, dan biarpun se­dikit, gerakan tubuhmu terdengar oleh­ku.”

Bun Beng bengong. Wah, kiranya anak perempuan yang kelihatan lemah lembut dan pandai bernyanyi dengan suara mer­du ini memiliki pendengaran yang tajam luar biasa. Ah, ini hanya menandakan bahwa anak ini telah berlatih sin-kang! Teringatlah ia akan cara pengawal me­naikkan keranjangnya. Tak salah lagi, tentu penumpang perahu ini merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan anak ini bukan anak sembarangan, dapat dibandingkan dengan murid Pendekar Siluman, atau anak laki-laki Pulau Neraka itu! Akan tetapi, kare­na dia sendiri pun sejak kecil telah di­gembleng orang-orang pandai, Bun Beng memandang rendah dan tidak memperli­hatkan kekagumannya, bahkan pura-pura tidak tahu bahwa anak perempuan ini memiliki kepandaian.

“Nyanyianmu tadi sungguh ngawur!” Karena tidak tahan melihat betapa sinar mata anak perempuan itu memandang­nya seperti orang mentertawakan, Bun Beng lalu mengambil sikap menyerang dengan mencela untuk memancing perde­batan agar dia dapat dikenal sebagai seorang yang lebih pandai daripada anak itu!

Bun Beng merasa kecelik kalau dia memancing kemarahan anak itu, karena anak itu sama sekali tidak marah, bah­kan tersenyum manis sekali dan bertanya. “Bagian manakah yang kau katakan nga­wur?”

“Semuanya! Maksudku, engkau bernya­nyi seperti burung, tanpa mengerti ar­tinya! Misalnya kalimat yang mengata­kan bahwa semua itu digerakkan oleh cinta, aku tanggung engkau tidak mengerti apa artinya. Bocah sebesar engkau ini mana tahu tentang cinta?”

Mata itu bersinar lembut ketika men­jawab, “Gak Bun Beng, ketika aku di­ajar menyanyikan kata-kata itu, aku telah diberi penjelasan. Tentu saja aku tahu dan aku heran sekali kalau engkau tidak tahu arti cinta. Cinta adalah ka­sih sayang murni yang menguasai selu­ruh alam. Tanpa cinta atau kasih sayang ini, kehidupan akan tiada! Segala macam benda dan mahluk, baik yang bergerak maupun yang tidak, seluruhnya dapat hi­dup oleh kasih sayang ini. Cinta adalah sifat daripada Tuhan yang menguasai seluruh alam!”

Kembali Bun Beng menjadi bengong. Tidak salahkah pendengarannya? Ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang anak perempuan yang masih.... ingusan! Ia penasaran dan menyerang lagi.

“Engkau hanya meniru-niru, belum ten­tu engkau mengerti betul tentang cinta. Kalau benar mengerti, coba kau beri penjelasan dan contoh-contoh!”

Kini anak itu memandang wajah Bun Beng dan kelihatan sinar mata membaysngksn perasaan kasihan! “Bun Beng, benarkah engkau tidak mengenal arti cinta itu? Aih, sungguh patut dikasihani! Sinar matahari yang memberi kehidupan itu adalah kuasa cinta! Air laut yang mengandung garam, yang menjadi awan dan hujan mengaliri segala yang mem­butuhkan air di darat, angin yang bertiup, hawa udara yang kita hisap, tanah yang kita injak dan menghasilkan tum­buh-tumbuhan, semua itu adalah kuasa cinta! Darahmu yang mengalir di selu­ruh tubuhmu tanpa kau sengaja, perna­pasanmu yang terus bekerja tanpa kausa­dari dalam tidurpun, semua itu digerak­kan oleh apa kalau tidak oleh kekuasaan yang penuh kasih sayang? Bibit bertunas menjadi pohon tanpa bergerak, tanah dan air menghidupkannya, angin dan hawa menyegarkannya, sampai berdaun dan berbunga. Bunga tanpa bergerak mencip­takan buah, dan buahpun akan jatuh sen­diri dan bersemi menjadi bibit, demikian seterusnya. Benda-benda itu tanpa bergerak telah teratur sendiri, bukankah itu bukti nyata betapa maha besarnya cinta kasih yang dimiliki Tuhan? Dan engkau masih bertanya akan bukti?”

Kini Bun Beng terbelalak memandang wajah yang semringah kemerahan itu. Bukan main!

“Eh.... oh.... maafkan, kiranya engkau benar-benar hebat! Siapakah yang menga­jarkan kepadamu akan semua pengetahu­an itu?” Ia berhenti sebentar lalu mene­ngok ke arah bilik perahu besar. “Ten­tu.... laki-laki yang berpakaian mewah tadi, ya?”

Akan tetapi anak perempuan itu menggeleng kepala. “Bukan dia. Yang mengajarkan semua itu adalah Ibuku sen­diri. Banyak hal lain yang diajarkan Ibu kepadaku, akan tetapi tentang cinta ini, ada sebuah nyanyian yang kudengar se­ringkali dinyanyikan Ibu, yang aku tidak mengerti artinya. Kalau kutanyakan, Ibu selalu menggeleng kepala tanpa menja­wab. Dan kau tahu.... Ibu selalu mengu­curkan air matanya kalau menyanyikan itu.”

Bun Beng tertarik sekali. Anak ini mempunyai sikap yang amat menarik dan watak yang begitu halus! Tentu ibu­nya orang luar biasa pula. “Benarkah? Bagaimana nyanyian itu?”

“Sebetulnya tidak boleh aku beritahukan orang lain. Akan tetapi engkau se­orang anak yang aneh, yang datang tiba-tiba saja dari langit, dikirim oleh Tuhan sendiri melalui kekuasaan cinta kasih­nya.”

“Aihh, mengapa begitu? Sudah kuceritakan bahwa aku diterkam....”

“Burung rajawali yang menerbangkanmu ke atas, bukan? Engkau lupa! Ke­kuasaan apa yang membuat burung itu mampu terbang? Kemudian, kekuasaan apa yang membuat engkau kebetulan di­jatuhkan di atas laut, dekat dengan perahu Paman sehingga engkau terto­long? Tanpa kekuasaan cinta kasih itu, kita dapat berbuat apakah?”

Bun Beng terdesak. “Baiklah.... baiklah...., engkau benar. Akan tetapi, orang sepandai engkau masih tidak mengerti arti nyanyian yang dinyanyikan Ibumu sambil menangis. Coba perdengarkan nyanyian itu, kalau engkau tidak menger­ti artinya, tentu aku mengerti,” Bun Beng membusungkan dadanya karena ki­ni timbul kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa dia lebih pandai. Kalau gadis cilik yang aneh ini tidak tahu artinya kemudian dia bisa mengarti­kannya, berarti dia menang!

Anak perempuan itu ragu-ragu seje­nak, memandang wajah Bun Beng penuh selidik. Kemudian dia menghela napas dan berkata, “Sudah kukatakan bahwa engkau seorang anak luar biasa dan aku percaya kepadamu. Akan tetapi, berjan­jilah bahwa engkau takkan menceritakan kepada siapapun juga tentang nyanyian Ibu ini, karena kalau Ibu mengetahui, tentu Ibu akan menyesal sekali kepada­ku.”

“Engkau takut dimarahi?”

“Tidak. Kalau Ibuku memarahiku, hal itu biasa saja. Akan tetapi kalau sam­pai Ibu menyesal dan berduka karena perbuatanku, hal ini amat menyedihkan hatiku.”

Keharuan meliputi hati Bun Beng. Ah, kalau saja dia mempunyai ibu, dia akan mencontoh anak ini! Rasa takut da­lam hati seorang anak melihat ibunya marah, bukanlah cinta kasih. Namun ra­sa sedih dalam hati seorang anak meli­hat ibunya berduka dan menyesal, barulah timbul dari cinta kasih yang murni!

Dia menelan ludah, “Engkau.... engkau seorang anak yang baik sekali! Aku ber­janji, aku bersumpah tidak akan mence­ritakan kepada lain orang.”

Anak perempuan itu tersenyum. “Aku percaya kepadamu dan kepercayaanku tidak akan sia-sia. Nah, dengarlah nya­nyian istimewa Ibuku!”

“Cinta kasih menguasai alam semes­ta suci murni dan penuh mesra namun mengapa....

hatiku merana....

jiwaku dahaga akan cinta....?

aihhh.... haruskah aku menjadi ikan dalam air mati kehausan?

cinta.... cintaku....

mengapa engkau begitu tega....?”

Bun Beng berdiri bengong dan dua titik air mata turun membasahi pipinya ketika ia melihat betapa air mata bercu­curan dari sepasang mata anak perem­puan itu yang kini terisak-isak.

“Engkau.... engkau menangis....?” ta­nyanya, suaranya serak.

Anak perempuan itu menoleh, mengu­sap air matanya dan mengangguk, “Aku.... aku teringat kepada Ibu. Aku kasihan mengingat dia berduka dan aku sedih karena tidak mengerti mengapa dia menangis dan apa artinya nyanyiannya itu.”

Bun Beng mengerutkan alisnya, berpi­kir. Kemudian ia berkata, “Ahh, aku mengerti! Ibumu tentu mencinta seseorang! Tentu saja seorang pria! Ehhh.... maaf, tentu mencinta Ayahmu. Di mana Ayah­mu?”

Anak perempuan itu bengong dan mengangguk-angguk. “Aihhh.... agaknya engkau benar, Bun Beng. Terima kasih! Kalau aku menanyakan Ayahku. Ibu sela­lu kelihatan berduka dan hanya mengata­kan bahwa Ayah pergi amat jauh, bahwa Ayah adalah seorang pendekar besar. Akan tetapi Ibu tidak pernah mau me­ngatakan di mana adanya Ayah dan sia­pa namanya, hanya menyuruh aku bersa­bar karena kelak tentu akan bertemu dengan Ayah.”

“Nah, benar kalau begitu! Ibumu mencinta Ayahmu, merindukan Ayahmu yang lama pergi! Eh, siapakah namamu?”

“Namaku Milana.”

“Bagus sekali!”

“Apakah yang bagus?”

“Namamu itu. Tentu engkau puteri bangsawan, bukan?”

Milana menggeleng kepala, “Ibu melarang aku menganggap diriku keturunan bangsawan, biarpun Paman Jenghan ada­lah seorang pangeran Mongol. Aku disu­ruh ikut di Kerajaan Mongol untuk mem­pelajari ilmu. Ibu sendiri entah pergi ke mana akan tetapi sering kali, sedikitnya sebulan sekali, Ibu tentu datang menje­ngukku dan menurunkan pelajaran-pela­jaran kepadaku. Kini, Paman Pangeran Jenghan berpesiar ke laut ini dan mengajakku, tidak kusangka akan bertemu dengan engkau, Bun Beng.”

“Ibumu tentu seorang yang hebat! Dan engkau di samping pandai bernya­nyi dan mempelajari kesusasteraan, ten­tu engkau belajar ilmu silat pula.”

“Benar, keluarga istana Mongol pe­nuh dengan orang yang berilmu tinggi. Akan tetapi menurut Paman Pangeran, tidak ada yang melebihi ilmu kepandai­an Ibu yang amat tinggi. Hanya aku belum pernah menyaksikan sendiri kepan­daian Ibu, kecuali kalau dia datang dan pergi lagi dari kamarku dengan kecepat­an seperti menghilang. Kadang-kadang aku bahkan menduga apakah Ibu itu se­bangsa dewi, bukan manusia biasa....”

“Milana....!”

Mereka terkejut dan menengok. “Pa­man memanggilku.” Anak perempuan itu berlari menuju ke bilik perahu besar, di­ikuti oleh Bun Beng. Mereka melihat ke­sibukan di perahu itu dan semua penga­wal memegang senjata. Juga para penga­wal di tiga buah perahu kecil siap de­ngan senjata mereka.

Pangeran Jenghan menyongsong keponakannya. “Lekas kau sembunyi di bilik kapal. Engkau juga, Bun Beng. Jangan sekali-kali keluar dari bilik kalau belum aman.”

“Apakah yang terjadi, Paman?” Milana bertanya.

“Kita akan diserang sekawanan bajak! Perahu-perahu mereka sudah tampak da­tang. Cepat sembunyi!” Pangeran itu memegang lengan Milana dan ditariknya keponakan itu memasuki bilik kapal, di­ikuti oleh Bun Beng. Kemudian pintu bi­lik ditutup dan Pangeran itu meloncat keluar.

“Mau apakah bajak-bajak laut itu?” Di dalam bilik, Milana bertanya kepada Bun Beng.

“Hemm, namanya juga bajak, tentu mau membajak, merampas kapal atau membakarnya, dan membunuh kita.”

Mata yang bening itu terbelalak, mu­ka yang manis itu menjadi agak pucat.

“Mengapa? Bukankah mereka itu juga manusia?”

Bun Beng tersenyum pahit. “Pujian­mu tentang cinta kasih itu akan hancur kalau jatuh ke tangan manusia, Milana. Tidak ada mahluk di dunia ini yang se­jahat, sekejam, dan seganas manusia.”

“Ohhh....! Akan tetapi.... aku tidak pernah menyaksikan kekejaman manusia.”

“Kalau begitu engkau belum berpe­ngalaman, Milana. Berhati-hatilah kalau engkau berhadapan dengan sesama manu­sia dan simpan saja kepercayaanmu ten­tang cinta kasih itu di dalam hati. Tu­han memang bersifat Maha Kasih, kasih sayangnya melimpah, akan tetapi manu­sia hanya menghancurkan kasih sayang murni itu. Mengapa Pamanmu menyem­bunyikan kita? Kalau memang ada serbu­an bajak, aku lebih suka berada di luar dan membantu menghadapi mereka. Seri­bu kali lebih baik mati sebagai seekor harimau yang melakukan perlawanan mati-matian di luar sana daripada mati sebagai tikus-tikus terjepit di tempat ini!”

“Aku.... aku tidak pernah bertempur!”

“Kulihat kepandaianmu sudah baik, dan kau belum pernah bertempur?”

Milana menggeleng kepala. “Aku.... aku tidak mau bertempur, tidak mau menggunakan ilmu silat yang kupelajari untuk melukai dan membunuh manusia lain!”

“Dan kalau mereka menerjang ke sini dan membunuhmu?”

“Lebih baik dibunuh daripada mem­bunuh.”

Bun Beng membelalakkan mata dan menggeleng-geleng kepalanya. “Wah-wah­-wah, bagaimana ini? Habis, untuk apa Ibumu mengajar ilmu silat tinggi kepa­damu?”

“Kata Ibu untuk menjaga diri dari marabahaya.”

“Nah, sekarang marabahaya tiba. Mari kita pergunakan untuk menjaga diri!”

“Tapi dengan membunuh bajak? Aku tidak mau!”

“Mari kita keluar, Milana. Akulah yang akan menjaga dan melindungimu. Biarlah aku yang akan membunuh mereka kalau mereka berani mengganggu kita.”

“Kau.... kau berani membunuh orang?”

“Tentu saja kalau orang itu juga mau membunuhku. Membela diri, bukan?”

“Bun Beng, pernahkah ada orang yang hendak membunuhmu?”

Bun Beng tertawa. “Tak terhitung banyaknya! Engkau belum mengenal ke­kejaman manusia. Mari kita keluar. Dengar, sudah ada suara pertempuran!” Dan memang pada saat itu sudah terdengar teriakan-teriakan di antara berdencing­nya senjata-senjata yang beradu.

Ketika kedua orang anak itu tiba di luar, Milana mengeluarkan jerit tertahan melihat betapa empat buah perahu me­reka telah dikurung dan tampak banyak sekali anak buah bajak menyerang. Pa­mannya dan para pengawal melakukan perlawanan dengan gigih dan karena ke­pandaian Pangeran Jenghan dan para pengawalnya memang tinggi, banyak anak buah bajak yang menyerbu itu roboh dan jatuh ke laut dalam keadaan terlu­ka atau tewas. Akan tetapi, jumlah anak buah bajak itu banyak sekali dan mere­ka mulai menggunakan api untuk memba­kar empat buah perahu itu! Keadaan menjadi kacau balau dan para pengawal kewalahan karena selain menghadapi ser­buan bajak yang amat banyak, juga me­reka harus memadamkan api yang mulai membakar di sana-sini sambil meroboh­kan para bajak yang membakari perahu.

“Paman Pangeran....!” Milana menjerit melihat pamannya dikeroyok enam orang bajak laut. Melihat seorang bajak laut dengan tombak di tangan lari menyerbu dari belakang Pangeran itu, Bun Beng meloncat dan tanpa disadarinya dia menghantam dengan jurus dari ilmu si­lat yang dipelajari dari tiga buah kitab rahasia Sam-po-cin-keng. Kebetulan seka­li jurusnya ini adalah jurus pukulan yang menggunakan tenaga sin-kang yang dipusatkan pada telapak tangan.

“Bukkk!” Tangannya yang kecil itu tepat sekali menghantam punggung bajak selagi tubuh Bun Beng masih meloncat. Bajak itu memekik, tombaknya terlepas dan mulutnya muntahkan darah segar, lalu tubuhnya terguling roboh berkelojot­an!

Melihat ini, Pangeran Jenghan terke­jut dan kagum, lalu berteriak, “Lekas kauselamatkan Milana dengan perahu darurat di pinggir kiri itu!” Sambil ber­teriak begini, Pangeran itu memutar pedangnya menangkis hujan senjata para bajak.

Bun Beng mengerti bahwa melihat keadaannya, perahu itu akan terbakar dan akan celakalah mereka semua. Memang sebaiknya menyelamatkan Milana lebih dulu. Cepat ia menyambar lengan Milana, diajaknya lari ke pinggir kiri. Di situ memang terdapat sebuah perahu kecil yang biasanya dipergunakan untuk para pengawal mencari ikan, atau me­mang disediakan kalau sewaktu-waktu keadaan membutuhkan. Bun Beng mele­paskan ikatan perahu itu, menyeretnya ke pinggir, lalu ia melempar perahu ke bawah. Tanpa menghiraukan jeritan Mi­lana yang merasa ngeri, ia menyambar tangan anak perempuan itu dan dibawa­nya meloncat ke bawah menyusul pera­hu kecil. Untung bahwa Bun Beng bersi­kap tenang sehingga loncatannya tepat jatuh di tengah perahu kecil. Dilepaskan­nya dua batang dayung yang terikat di pinggir perahu dan ia mulai mendayung perahu itu melawan ombak menjauhi perahu besar yang mulai terbakar.

“Paman....! Paman Pangeran....!” Mila­na berteriak dan menangis.

“Milana, dalam keadaan seperti ini kita harus masing-masing mencari kese­lamatan sendiri.”

“Tapi.... tapi Paman Pengeran....”

“Dia seorang berilmu tinggi, tentu akan dapat menyelamatkan diri. Andai­kata kita menolong pun tiada gunanya. Duduklah yang tenang, akan kucoba me­larikan perahu sebelum terlihat oleh bajak-bajak itu.”

Dengan sepenuh tenaganya Bun Beng mendayung perahu, sedangkan Milana memandang ke arah asap-asap mengepul hitam yang menutupi perahu-perahu be­sar pamannya sambil menangis. Mereka sudah berada agak jauh dari perahu­-perahu yang kebakaran ketika tiba-tiba Milana menjerit. Bun Beng memandang dan ia pun terkejut melihat dua buah tangan manusia muncul dan air dan memegang pinggiran perahu kecil. Ketika kepala orang itu muncul, tahulah dia bahwa orang itu adalah seorang di anta­ra para anak buah bajak laut yang jatuh ke laut. Orang itu tidak terluka dan pandang matanya beringas menyeramkan.

“Lepas!” Bun Beng membentak, menggunakan dayungnya menghantam ke arah tangan terdekat!

“Aughhh....!” Orang itu berteriak ke­sakitan dan melepaskan tangan kirinya yang kena pukul dan dari bibir perahu Bun Beng mengayun dayungnya lagi, me­mukul ke arah tangan kanan yang masih memegangi pinggiran perahu. Gerakan-­gerakan ini membuat perahu kecil menjadi oleng. Akan tetapi sekali ini, bukan tangan itu yang terkena hantaman da­yung bahkan dayungnya tertangkap oleh tangan kanan bajak itu, terus ditarik kuat-kuat sehingga tubuh Bun Beng ter­seret dan jatuh ke air!

“Bun Beng....!” Milana menjerit.

Bun Beng marah sekali. Biarpun bu­kan ahli, namun dia pandai berenang, ma­ka ia menggerakkan kedua kakinya dan mengayun dayung yang masih dipegang­nya.

“Plakkk!” Dayungnya menghantam mu­ka orang itu sehingga kembali bajak itu memekik dan terdorong mundur. Mata­nya melotot marah penuh dengan sinar kebencian dan kalau anak itu dapat di­terkamnya, tentu akan dibunuhnya. Bun Beng sudah dapat menangkap pinggiran perahu lagi. Karena gugup dan hendak cepat-cepat naik ke perahu, dayungnya terlepas dan hanyut, sedangkan bajak itu sambil memaki-maki berenang cepat se­kali mengejarnya. Dalam hal ilmu renang tentu saja Bun Beng tidak dapat mela­wan kepandaian seorang bajak laut! Ma­ka ia bergegas hendak naik ke perahu agar dari dalam perahu dia dapat mela­wan orang yang masih berada di air itu.

“Heh-heh-heh!” Tiba-tiba, entah dari­mana datangnya, seorang kakek yang tertawa-tawa meloncat ke ujung perahu. Begitu tubuhnya tiba di ujung perahu, ujung yang lain di mana Bun Beng dan Milana berada, terangkat tinggi ke atas seolah-olah kakek itu beratnya melebihi berat seekor gajah bengkak! Bun Beng cepat memegang lengan Milana yang hampir terlempar ke luar, sambil dengan sebelah tangan memegangi pinggiran pe­rahu erat-erat dan matanya memandang kakek aneh itu dengan terbelalak.

“Heh-heh-heh!” Tiba-tiba ujung di mana Bun Beng dan Milana duduk, me­luncur lagi ke bawah dengan cepat se­kali.

“Prakkk!” Ujung perahu ini turun tepat menghantam kepala anak buah bajak sehingga pecah berantakan dan mayatnya terapung, kepalanya sudah tidak merupa­kan kepala lagi melainkan berubah se­onggok benda putih berlepotan darah.

“Ihhhh....!” Milana yang melihat mayat itu menutupi muka dengan kedua ta­ngan sambil menangis.

“He-he-he, takut? He-he-he!” Kakek itu tertawa-tawa seolah-olah merasa senang sekali melihat Milana ketakutan. “Aku akan membikin kalian lebih takut lagi, ha-ha-ha!” Dan dengan sebatang ran­ting yang berada di tangan kirinya, kakek itu mendayung perahu dan.... perahu itu meluncur dengan kecepatan luar biasa!

Bun Beng memandang penuh perhatian. Kakek itu pakaiannya sederhana dan longgar, kedua kakinya telanjang. Usia­nya tentu sudah tujuh puluh lebih, dengan rambut dan jenggot putih riap-riap­an, matanya melotot lebar dan selalu tertawa-tawa. Akan tetapi yang amat luar biasa adalah kulit tubuhnya! Dari muka, tangan dan kakinya, semua ber­kulit kuning sekali! Bukan kuning seperti kulit orang biasa, melainkan kuning yang aneh, seperti dicat, kuning sampai ke kukunya dan warna matanya! Maka ter­ingatlah Bun Beng akan keanehan warna kulit orang-orang Pulau Neraka dan ia menduga bahwa kakek ini tentulah se­orang tokoh Pulau Neraka.

Dugaan Bun Beng memang tepat. Ka­kek ini adalah seorang di antara lima orang kakek kulit kuning yang merupa­kan tokoh-tokoh tingkat tertinggi di Pulau Neraka, di bawah ketuanya. Dan memang dia adalah seorang tokoh sakti yang diutus oleh Majikan Pulau Neraka untuk mengadakan penyelidikan di luar pulau. Kakek ini selain sakti, juga me­miliki watak yang amat aneh, mendekati gila sehingga sering kali melakukan hal-­hal yang menggegerkan dunia kang-ouw. Kini melihat dua orang anak dalam pe­rahu, timbul keanehan wataknya dan dia seolah-olah hendak menakut-nakuti ke­dua orang bocah itu.

Perahu itu meluncur cepat mendekati tempat pertempuran! Bukan hanya cepat, malah sengaja dibikin oleng ke kanan-kiri, ada kalanya ujungnya seperti akan teng­gelam, ada kalanya ujung yang diduduki dua orang anak-anak itu terangkat ting­gi kemudian dihempaskan ke bawah se­perti akan tenggelam! Milana menjerit-­jerit dan memeluk Bun Beng yang berpe­gang kuat-kuat pada pinggiran perahu.

“Heh-heh-heh, pemandangan indah....! Indah....!” Kakek itu terkekeh-kekeh keti­ka perahunya meluncur cepat mengeli­lingi tempat pertempuran.

Biarpun keadaannya sendiri berbaha­ya dan perahu itu sewaktu-waktu dapat membuat mereka terlempar ke luar, Bun Beng masih sempat memperhatikan ke­adaan pertempuran dan melihat betapa pangeran dan para pengawal masih melakukan perlawanan mati-matian namun perahu mereka telah terbakar sebagian.

“Kakek, apakah engkau tidak kenal takut?” Bun Beng tiba-tiba bertanya.

“Aku? Takut? Ha-ha-ha-ha! Heh-heh-­heh!”

Sambil berkata demikian, perahu me­luncur cepat sekali menuju ke sebuah yang terbakar! Milana menjerit melihat betapa perahu kecil itu akan menubruk perahu yang bernyala-nyala, bahkan Bun Beng sendiri yang berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tenang, menjadi pucat dan memandang terbelalak ke depan, melihat betapa perahu terbakar itu se­olah-olah mulut seekor naga mengeluar­kan api hendak menelan perahu mereka.

“Celaka....!” teriak Bun Beng.

“Ha-ha-ha-heh-heh-heh!” Kakek itu tertawa dan tiba-tiba perahu itu membelok dengan kecepatan luar biasa sehing­ga miring dan hampir terguling, akan tetapi dapat menghindari tabrakan de­ngan perahu terbakar.

“Ha-ha-ha! Aku takut?”

“Memang beranimu hanya menakut-nakuti anak kecil, Kakek yang nakal! Aku tidak percaya bahwa engkau tidak kenal takut. Misalnya terhadap bajak-­bajak laut yang demikian ganas, kejam dan jumlahnya amat banyak. Aku be­rani memastikan bahwa engkau tentu takut mengganggu mereka dan kalau engkau yang melawan mereka di atas perahu yang terbakar itu, tentu engkau akan terkencing-kencing di celanamu, kencing kuning pula!”

Tiba-tiba kakek itu meloncat berdiri dan mencak-mencak. “Memang kencing­ku kuning! Kau bilang aku takut kepada segala bajak cacing tanah itu? Kau tung­gu dan lihat saja betapa mudah aku membasmi mereka!” Setelah berkata de­mikian, kakek itu menggerakkan kaki dan tubuhnya sudah melesat ke arah perahu besar yang terbakar, di mana Pangeran Jenghan bersama pengawalnya masih mati-matian melawan serbuan para bajak.

Tentu saja hati Bun Beng menjadi girang bukan main. Cepat ia menyam­bar sepotong dayung dari banyak kayu-kayu pecahan perahu yang terapung di dekat perahunya, kemudian secepat mungkin dia mendayung perahu kecil menjauhi pertempuran. Tanpa menghiraukan kedua tangannya yang menjadi le­lah sekali, Bun Beng mendayung terus dan tiba-tiba datang ombak-ombak besar yang menghanyutkan perahunya. Menda­yung lagi tidak mungkin dan apa yang ia lakukan hanya menggunakan dayung untuk mencegah perahunya terguling. Milana tidak menangis lagi, bahkan anak ini pun sudah menyambar sebatang da­yung dan ia membantu Bun Beng men­dayung. Kini melihat perahu diombang­-ambingkan ombak, dia membantu Bun Beng menahan agar perahu tidak tergu­ling. Akan tetapi dia tidak kelihatan takut, padahal keadaan mereka waktu itu tidaklah kalah berbahaya daripada tadi. Hal ini mengherankan hati Bun Beng dan ia bertanya dengan suara keras untuk mengatasi suara angin ribut.

“Milana, engkau tidak takut?”

Milana memandangnya, tersenyum dan menggeleng kepala.

Bun Beng menjadi heran. “Kalau tadi, kenapa ketakutan dan menangis?”

Milana membuka mulut menjawab, akan tetapi suaranya lenyap ditelan angin sehingga Bun Beng berteriak, “Bi­cara yang keras, aku tidak dengar!”

Milana tertawa, “Ribut-ribut begini kau mengajak orang mengobrol!”

Bun Beng mendongkol akan tetapi ju­ga geli hatinya. Anak ini benar-benar amat luar biasa, “Katakanlah mengapa sekarang engkau menjadi begini tabah?”

“Tadi bukan penakut sekarang pun bukan tabah. Aku ngeri menyaksikan ke­kejaman manusia saling bunuh. Aku percaya kepada alam yang maha kasih, an­daikata ombak-ombak ini menelan kita pun sama sekali tidak mengandung hati benci atau marah!”

Bun Beng bengong sehingga lupa me­ngerjakan dayungnya. Perahu terputar, hampir terguling dan mendengar Mila­na malah tertawa-tawa. Cepat ia menggerakkan dayung dan mengomel.

“Bocah ajaib dia ini!”

Setelah ombak mereda, perahu itu tiba di dekat daratan. Bun Beng menja­di girang dan bersama Milana dia lalu mendayung perahu ke darat. Mereka berdua melompat turun dan lari ke darat, meninggalkan perahu kecil itu dan keduanya duduk di atas pasir.

“Di mana kita ini?” Bun Beng berta­nya.

“Aku pun tidak tahu. Akan tetapi mari kita berjalan. Kalau bertemu orang tentu akan dapat menceritakan di mana letaknya Kerajaan Mongol. Ahhh, semoga Paman Pangeran dan para pengawal selamat.”

“Jangan khawatir. Mereka itu lihai dan dengan bantuan kakek gila itu, tentu para bajak akan terbasmi dan mereka selamat.”

Tiba-tiba Milana tertawa geli.

“Eh, kenapa tertawa?”

“Kakek itu tidak gila, akan tetapi lucu sekali dan kepandaiannya hebat. Ibu tentu akan tertarik sekali kalau kelak kuceritakan.”

“Tentu saja dia lihai karena dia adalah seorang tokoh Pulau Neraka.”

“Ihhh....! Pulau Neraka? Aku sudah mendengar itu, penghuninya adalah manusia-manusia aneh seperti iblis. Bagaimana kau bisa tahu dia dari Pulau Neraka?”

“Kulit tubuhnya yang berwarna itu! Aku sudah bertemu dengan orang-orang Pulau Neraka.”

“Eh, betulkah? Engkau benar luar biasa, Bun Beng.”

“Tidak, biasa saja. Mari kita pergi.”

“Engkau hendak ke mana?”

“Eh, bagaimana lagi? Mengantar engkau sampai engkau dapat pulang, kemudian.... kemudian.... hem.... aku tidak tahu ke mana nanti.”

“Eh, bagaimana ini? Apakah engkau tidak hendak pulang?”

“Pulang ke mana?”

“Ke mana lagi? Ke rumahmu tentu!”

“Aku tidak punya rumah.”

Milana menghentikan langkahnya dan memandang wajah Bun Beng. “Tidak punya rumah? Dan Ayah Bundamu....?”

“Aku tidak punya, Ayah Bundaku sudah mati semua.”

“Aihhh....!” Milana memegang kedua tangan Bun Beng, wajahnya membayangkan perasaan iba yang mendalam. “Kasihan engkau, Bun Beng. Dan tidak mempunyai saudara?”

Bun Beng merasa panas dadanya. Dia tidak ingin dikasihani orang, bahkan dia tidak merasa kasihan kepada dirinya sendiri! “Aku tidak punya siapa-siapa, apa salahnya dengan itu?” Dia menunjuk ke arah seekor burung camar yang terbang. “Dia itu pun tidak punya siapa-siapa, toh dapat hidup. Dan pohon itu tidak punya siapa-siapa, tetap tumbuh segar.”

“Ahhhh, burung itu tentu punya sarang dan pohon itu banyak saudara-saudaranya di sekelilingnya. Engkau menjadi pahit karena tidak mempunyai siapa-siapa. Bun Beng, aku mau menjadi saudaramu, dan biarlah Ibuku juga menjadi Ibumu, Pamanku menjadi Pamanmu....”

“Sudahlah, Milana. Aku tidak ingin apa-apa. Engkau anak yang amat baik hati. Mari kita lanjutkan perjalanan. Di sebelah kanan itu ada pegunungan, tentu di sana ada penghuninya yang dapat memberi keterangan kepada kita dan menunjukkan jalan.”

Mereka berjalan lagi dan Milana menggandeng tangannya. Bun Beng tidak menolak dan diam-diam dia merasa suka sekali kepada anak yang amat baik hati ini. Akan tetapi setelah mereka mendaki pegunungan itu, ternyata gunung itu penuh dengan batu-batu besar dan tidak nampak dusun di situ.

“Begini sunyi.... tidak ada tampak rumah orang....” kata Milana, kecewa.

“Nanti dulu! Lihat di sana itu. Ada orang.... eh, malah ada orang menunggang binatang yang besar luar biasa!” Milana menengok dan ia pun berseru girang, “Benar! Ada orang dan dia me­nunggang seekor gajah! Sunguh luar biasa!”

“Gajah? Aku sudah pernah mendengar namanya. Gajahkah binatang itu?”

“Benar. Raja Mongol memelihara dua ekor, akan tetapi tidak sebesar yang ditunggangi orang itu.”

“Hebat! Binatang raksasa itu memiliki tenaga melebihi seratus ekor kuda. Mari kita lihat!” Mereka berlari menu­runi puncak pegunungan batu kapur itu. Ketika merea sudah tiba dekat, tiba-tiba Bun Beng berhenti dan Milana juga berhenti. Keduanya terkejut bukan main menyaksikan pemandangan di depan itu sehingga sampai lama mereka tidak mampu mengeluarkan suara. Akhirnya Milana berbisik dengan napas tertahan, “Lihat...., dia.... kakek Pulau Neraka itu....”

“Sssttt....!” Bun Beng berbisik pula menyentuh pinggang Milana dari bela­kang. “Jangan ribut..... orang berkaki tunggal itu.... dia Pendekar Siluman To-cu Pulau Es.... dan itu muridnya.....”

Memang amat mengherankan kedua orang anak itu apa yang tampak oleh mereka. Kakek bermuka kuning yang mereka temui di tengah lautan itu kini ber­hadapan dengan seorang kakek tua ren­ta yang bersorban dan berjenggot pan­jang, tangan kiri memegang sebuah sen­jata yang aneh, gagangnya berduri dan ujungnya merupakan bulan sabit, menung­gang seekor gajah yang amat besar. Akan tetapi kakek muka kuning tidak kalah anehnya. Agaknya untuk mengim­bangi kedudukan kakek bersorban yang tinggi di atas punggung gajah, dia kini menggunakan jangkungan atau egrang. Yaitu dua batang bambu panjang yang di tengahnya diberi cabang untuk injak­an kaki. Dengan berdiri di cabang itu dan menggunakan dua batang bambu se­bagai pengganti kedua kaki, dia kini sa­ma tingginya dengan Si Kakek Bersorban! Mereka agaknya sedang bertengkar sedangkan di atas sebuah batu berdiri Pendekar Siluman dengan sikap tenang sebagai penonton, menggandeng tangan seorang anak perempuan yang dikenal Bun Beng sebagai anak perempuan pe­nunggang garuda yang berkelahi dengan anak Pulau Neraka dahulu!

Kwi Hong, murid Suma Han menoleh dan melihat kedatangan Bun Beng dan Milana, akan tetapi karena kini kedua orang kakek aneh yang berhadapan itu sudah saling serang, dia tertarik dan menengok lagi menonton pertandingan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Suma Han menyusul ke Pulau Nera­ka dan berhasil membawa muridnya itu. Mereka meninggalkan Pulau Neraka me­nunggang dua ekor burung garuda dan ketika dari atas Suma Han melihat orang menunggang gajah, hatinya tertarik ma­ka dia lalu turun di pegunungan itu, dan bersama Kwi-Hong diam-diam menghampiri dan menonton pertandingan yang amat menarik hatinya antara kakek penunggang gajah dan kakek muka kuning yang gerak-geriknya lucu dan lihai!

“Heh-heh-heh!” Kakek muka kuning tertawa sambil menggerak-gerakkan ke­dua bambu yang telah menyambung ka­kinya. “Kita sudah sama tinggi sekarang. Hayo, kau mau apa? Lekas turun dan berikan gajah itu kepadaku, baru kau benar-benar seorang sahabat dan aku akan mengampunimu!”

“Sadhu-sadhu-sadhu!” Kakek bersor­ban itu berkata lirih. “Berbulan-bulan da­ri negara barat sejauh itu, belum pernah bertemu orang yang begini nekad. Sahabat, gajah tunggangan ini adalah sahabatku yang telah berjasa besar, ma­ti hidup dia bersamaku, tidak mungkin kuberikan kepadamu. Pergilah, sahabat, dan jangan pergunakan kepandaian yang kaupelajari puluhan tahun itu untuk me­lakukan hal yang tidak baik.”

“Heh-heh-heh! Apa tidak baik? Apa baik? Yang menguntungkan dan menye­nangkan, itu baik! Yang merugikan dan menyusahkan itu tidak baik! Kalau eng­kau berikan gajah itu kepadaku, engkau baik. Kalau tidak kauberikan, engkau ti­dak baik dan terpaksa kurampas, heh­-heh-heh-heh!”

“Aahh, betapa dangkal dan sesat pandangan itu, sahabat. Pandanganmu terba­lik sama sekali. Justeru yang mengun­tungkan dan menyenangkan diri pribadi itulah sumber segala ketidakbaikan.”

“Waaaah, cerewet! Aku tidak butuh engkau kuliahi dengan wejangan-wejang­anmu. Hayo turun!”

Kakek muka kuning menggerakkan tangan kanan dan tiba-tiba bambu pan­jang yang kanan menyambar ke arah kepala kakek bersorban itu. Akan tetapi, kakek itu menekuk tubuh ke depan se­hingga sambaran bambu itu luput dan lewat di atas kepalanya.

“Sadhu-sadhu-sadhu, terpaksa aku membela diri!” Kakek bersorban mengge­rakkan tangan kanan, dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan. Angin pu­kulan yang dahsyat menyambar dan biarpun kakek muka kuning sudah menggerakkan bambu memutar tubuh ke kanan, tetap saja terdorong dan terhuyung-­huyung, kedua bambunya bergoyang­-goyang.

Karena ia memutar tubuh ke kanan inilah maka tiba-tiba dia meiihat Suma Han yang berdiri menonton dengan te­nang. Setelah mendapat kanyataan bah­wa orang Pulau Neraka itu hendak me­rampas binatang tunggangan orang, Suma Han merasa tidak senang. Apalagi kalau mengingat bahwa orang itu adalah pem­bantu Lulu, dia makin penasaran. Masa Lulu dibantu oleh orang yang berwatak perampok hina, mau merampas binatang tunggangan seorang kakek yang datang dari jauh? Tongkatnya bergerak men­congkel batu dua kali.

“Trak! Trak!”

Kakek muka kuning berseru kaget ke­tika tiba-tiba bambu yang menyambung kedua kakinya itu patah disambar dua buah kerikil, dan seruannya ini pun sebagian karena dia mengenal Pendekar Siluman yang biarpun belum pernah dijumpainya, akan tetapi sudah banyak didengarnya. Ia cepat meloncat turun se­belum terbanting jatuh karena kedua bambunya patah, kemudian dia meloncat-loncat jauh melarikan diri tanpa menengok lagi.

Melihat itu, Kwi Hong tertawa dan bersorak. Akan tetapi tiba-tiba ia ber­henti bersorak ketika melihat gajah be­sar itu terhuyung dan roboh ke depan, membawa tubuh kakek bersorban ikut roboh! Tubuh Suma Han melesat ke depan bagaikan seekor burung garuda dan dia sudah berhasil menyambar tubuh kakek bersorban itu dari bahaya terban­ting dan tertindih tubuh gajah yang kini berkelojotan lalu diam, tak bernyawa lagi. Dan dengan kaget Suma Han men­dapat kenyataan bahwa kakek bersorban itu ternyata lumpuh kedua kakinya!

“Ah, gajahku yang baik, engkau mendahuluiku?” Kakek itu mengeluh, kemudian berkata kepada Suma Han. “Orang muda yang gagah perkasa, turunkanlah aku.”

Suma Han menurunkan kakek itu yang kedua kakinya amat kecil dan selalu bersilang. Kakek itu duduk di atas ta­nah, wajahnya pucat dan napasnya ter­engah, “Gajah itu.... dia memang sudah sakit.... dia menderita karena lelah.... melakukan tugasnya sampai mati. Akan tetapi aku.... ah, aku pun hampir mati akan tetapi tugasku jauh daripada se­lesai....! Aku hampir kehabisan tenaga saking lelah, perjalanan ini terlalu jauh untuk orang setua aku, dan tadi.... ter­paksa aku mengerahkan tenaga dalam yang amat kuperlukan untuk kesehatan­ku. Aihhh, orang muda perkasa, sinar matamu membuktikan bahwa engkau bu­kan manusia biasa. Siapakah engkau yang begini lihai?”

“Kakek yang baik, aku adalah penghuni Pulau Es....”

“Hah? Pendekar Super Sakti? Pendekar Siluman To-cu dari Pulau Es? Ya Tuhan, kalau engkau mempertemukan hamba dengan dia ini untuk melanjutkan tugas hamba, hamba akan mati tenteram!”

Suma Han mengerutkan alisnya, “Kakek, siapakah engkau dan urusan apa yang membuatmu susah payah melakukan perjalanan begitu jauh?”

“Aku Nayakavhira.... aku keturunan dari Mahendra pembuat Sepasang Pedang Iblis.... adikku, Maharya telah mendahu­luiku untuk mencari sepasang pedang itu. Kalau terjatuh ke tangannya, akan gegerlah dunia dan terancamlah banyak nyawa manusia! Aku.... aku berkewajiban untuk merampas dan memusnahkan Sepa­sang Pedang Iblis. Akan tetapi.... aku tidak sanggup lagi.... ahh, Pendekar Super Sakti, engkau tolonglah aku....”

Kembali Suma Han mengerutkan alisnya, “Bagaimana aku harus menolongmu, Nayakayhira?”

“Senjataku ini.... terbuat dari logam yang akan menandingi dan mengalahkan Sepasang Pedang Iblis. Akan tetapi kare­na bentuknya seperti ini, tidak akan ada orang di sini yang dapat memainkannya. Akan kubuat menjadi pedang.... biarlah kelak kauberikan kepada siapa yang ber­jodoh untuk menindih dan menaklukkan Sepasang Pedang Iblis.... kaubantulah aku.... buatkan pondok, perapian.... aku tidak kuat lagi, engkau tolonglah aku, buatlah sebatang pedang dari senjataku ini....”

Suma Han mengangguk-angguk. Tidak disangkanya bahwa sepasang pedang yang dahulu dia tanam bersama jenazah kakek dan nenek yang saling bunuh, akan mendatangkan urusan begini hebat! “Aku suka menolongmu, akan tetapi aku tidak bisa membuat pedang.”

“Aku adalah ahli membuat pedang.... seperti nenek moyangku.... aku yang akan memberi petunjuk, engkau yang mem­buat. Tolonglah.... Taihiap.... demi.... demi perikemanusian!”

“Kakek yang baik, biarlah aku mem­bantumu!” Tiba-tiba Bun Beng meloncat maju mendekati kakek itu. Kakek ber­sorban itu membelalakkan mata meman­dang Bun Beng dengan heran, Suma Han menengok. Dia sudah tahu akan kehadir­an kedua orang anak itu akan tetapi ka­rena terjadi perkara besar, dia lebih mementingkan kakek itu dan belum me­nanya dua orang anak yang datang di tempat itu secara aneh. Kini melihat sikap anak laki-laki itu, diam-diam ia memperhatikan dan menjadi kagum. Di lain pihak, ketika melihat sinar mata Pen­dekar Siluman itu ditujukan kepadanya dan mereka bertemu pandang, kuncuplah hati Bun Beng dan otomatis dia menjatuhkan diri berlutut.

“Siapakah engkau?”

“Paman, dia adalah anak laki-laki yang telah menolongku ketika aku dike­royok rajawali. Bocah dalam keranjang!”

Suma Han makin tertarik. Kwi Hong sudah menceritakan betapa ketika Kwi Hong diserang putera Lulu dengan raja­wali dan dikeroyok muncul seekor burung rajawali yang mencengkeram keranjang berisi seorang anak laki-laki yang mem­bantunya dengan memukul rajawali itu sehingga cengkeraman rajawali terlepas dan keranjang bersama anak itu jatuh ke laut! Kini tiba-tiba anak itu muncul dan dengan suara yang mengandung ke­sungguhan menawarkan jasa baiknya hen­dak membantu Si Kakek India membuat pedang. Bukan main!

“Siapa namamu?” Tanyanya, dalam suaranya terkandung rasa sayang karena dia melihat suatu yang luar biasa pada diri anak laki-laki ini.

“Saya adalah anak yang dahulu dito­long oleh Taihiap dari dalam kuil tua tepi Sungai Fen-ho di lembah Pegunung­an Tai-hang-san dan Lu-liang-san....”

Suma Han benar-benar terkejut se­hingga ia bangkit berdiri. “Kau....?”

“Benar, Taihiap. Saya adalah Gak Bun Beng.”

Suma Han menarik napas panjang dan menengadah ke langit. Benar-benar amat luar biasa pertemuan ini! “Di ma­na suhumu Siauw Lam Hwesio?”

“Suhu.... telah meninggal dunia, terbu­nuh oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama, dan Bhe Ti Kong panglima Mancu!” Ucapan ini dikeluarkan dengan suara sengit oleh Bun Beng.

“Sadhu-sadhu-sadhu....” Tiba-tiba kakek itu berkata, “Bhong Ji Kun ada­lah Koksu Pemerintah Mancu.... dia.... dia itu adalah muridku....”

“Kau....!” Bun Beng meloncat bangun, kedua tangannya dikepal.

“Bun Beng, jangan lancang!” Tiba-tiba Suma Han membentak dan Bun Beng menjatuhkan diri berlutut lagi. “Tai­hiap.... teecu harus membalas kematian Suhu!”

“Hemmm, sungguh tidak baik masih kanak-kanak sudah mendendam. Dendam menimbulkan watak kejam sehingga sembarangan saja engkau akan mencelaka­kan orang tanpa pertimbangan lagi.”

Sementara itu, kakek tua itu mena­rik napas panjang. Sungguh ajaib, dapat bertemu dengan anak ini! Muridku itu memang telah menyeleweng dan perja­lananku ini di samping hendak mencari Sepasang Pedang Iblis juga tadinya akan kupergunakan untuk mengingatkan dia, kalau perlu menghukumnya. Bagaimana, Taihiap, sukakah engkau menolongku?”

Suma Han tidak menjawab, melain­kan bertanya kepada Bun Beng, “Bagaimana dengan engkau, Bun Beng? Apakah engkau masih suka menolong Kakek ini sekarang?”

“Teecu sudah berjanji, tentu teecu penuhi!”

Suma Han tersenyum. “Baiklah. Nayakavhira, kami akan membantumu. Siapa­kah anak perempuan itu, Bun Beng?”

Milana yang sejak tadi mendengarkan menjadi tertarik sekali akan kata-kata Suma Han. Dia sudah menghampiri dan memandang Suma Han penuh perhatian. Tadi dia mendengar dari Bun Beng bah­wa laki-laki gagah perkasa berkaki satu yang rambutnya putih semua dan wajah­nya muram menimbulkan iba itu adalah Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es yang amat terkenal!

“Apakah engkau yang berjuluk Pende­kar Siluman yang hebat itu?” Tanyanya, suaranya halus dan wajahnya berseri. Suma Han tersenyum, sekaligus tertarik rasa sukanya kepada bocah yang cantik jelita itu.

“Benar, anak manis. Engkau siapa­kah?”

“Namaku Milana, aku keponakan Pangeran Jenghan dari Kerajaan Mongol. Kami sedang berpesiar di kapal, diserbu bajak laut dan aku diselamatkan oleh Bun Beng.”

Hati Suma makin kagum kepada Bun Beng. Hemm, biarpun putera seorang datuk kaum sesat seperti Kang-thouw-­kwi Gak Liat dan dilahirkan karena da­tuk itu memperkosa Bhok Kim, namun ternyata bocah ini mempunyai bakat la­hir batin yang baik. Tentu menuruni wa­tak ibunya, seorang di antara Kang-lam Sam-eng tokoh Siauw-lim-pai yang perkasa itu (baca ceritaPendekar Super Sakti).

“Marilah kalian ikut bersamaku mem­bantu Nayakavhira. Kwi Hong, kau ajaklah dua orang anak ini.”

Suma Han memondong tubuh kakek bersorban dan mencari tempat yang ada pohonnya. Di situ dia lalu membangun sebuah pondok, mempersiapkan landasan dan keperluan pembuatan pedang. Bun Beng yang sudah berjanji membantu itu ditugaskan mengumpulkan kayu bakar karena menurut Nayakavhira pembuatan pedang itu membutuhkan banyak sekali kayu bakar untuk membuat api yang se­panas-panasnya.

Berhari-hari lamanya Suma Han sibuk di dalam pondok membuat pedang di bawah petunjuk kakek Nayakavhira yang lumpuh. Tiga orang anak itu sama sekali tidak boleh memasuki pondok yang pa­nasnya luar biasa karena api besar di­nyalakan siang malam tak pernah ber­henti. Bun Beng juga bekerja setiap hari mencari kayu bakar, sedangkan Kwi Hong bermain-main dengan Milana yang berwa­tak halus dan sebentar saja sudah dapat menarik rasa sayang di hati Kwi Hong yang wataknya kasar. Kedua orang anak perempuan ini jauh berbeda wataknya. Kwi Hong yang lebih tua beberapa tahun, berwatak jenaka, riang gembira, galak dan pandai bicara. Sebaliknya Mi­lana berwatak halus, lemah lembut dan pendiam, hati-hati dalam bicara agar ja­ngan sampai menyingung perasaan orang lain. Namun, berkat kehalusan budi Mila­na yang pandai mengalah, mereka berdua dapat bersahabat dengan rukun.

Di dalam pondok itu terjadi hal yang tentu akan amat mengherankan tiga orang anak itu kalau saja mereka dapat melihatnya. Kakek Nakavhira duduk bersila di atas tanah, seperti arca tidak bergerak dan hawa panas di dalam pon­dok itu tak mungkin akan dapat terta­han oleh manusia biasa. Suma Han menanggalkan baju atasnya dan sibuk membakar senjata yang bentuknya seper­ti bulan sabit itu di dalam api. Sudah tiga hari tiga malam logam itu dibakar, tetap saja masih utuh, tidak dapat mem­bara. Kakek itu berkali-kali minta di­tambah api karena kurang besar sehing­ga setiap tumpukan kayu bakar yang di­kumpulkan Bun Beng, selalu habis sehing­ga tidak ada cadangan sama sekali, membuat anak itu tidak berani berhenti karena khawatir kehabisan kayu bakar!

Kakek Nayakavhira mengeluarkan be­berapa macam obat yang dioleskan pada logam putih itu, namun setelah lewat lima hari tetap juga logam itu belum membara. Kakek itu menjadi bingung dan prihatin sekali.

“Ya Tuhan, akan gagalkah usaha ham­ba?” Keluhnya berkali-kali sehingga Su­ma Han menjadi kasihan. Juga pendekar ini merasa penasaran sekali. Sedangkan batu bintang saja dapat dibakar sampai mencair, yaitu ketika dia masih kecil dan menjadi pelayan Kang-thouw-kwi Gak Liat (baca ceritaPendekar Super Sakti), masa logam ini dibakar dalam api sampai lima hari lima malam belum juga membara? Teringat akan masa ke­cilnya, ia teringat kepada Bun Beng yang sibuk mengumpulkan kayu di luar pondok. Dahulu dia menjadi pelayan Gak Liat, dan sekarang, secara kebetulan, putera Gak Liat itu bekerja keras mela­yaninya! Demikianlah nasib mempermain­kan manusia!

Ia teringat akan batu bintang, ter­ingat akan latihan Hwi-yang Sin-ciang. Hwi-yang Sin-ciang! Bukankah sin-kang yang mujijat dan yang sudah dikuasainya dengan sempurna itu mengandung hawa panas yang mujijat? Mengapa tidak ia pergunakan untuk coba-coba? Dia meme­gang gagang senjata kakek yang aneh itu. Senjata itu terbuat daripada baja yang aneh sebagai gagang berduri, ada­pun ujungnya yang berbentuk bulan sabit berwarna putih itulah yang akan diolah menjadi pedang. Suma Han mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang sehingga wajahnya yang selama lima hari lima malam berdekatan dengan api tidak berubah apa­-apa, kini setelah mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang sekuatnya, muka itu berubah merah. Dan perlahan-lahan, logam putih berbentuk bulan sabit itu menjadi merah membara!

“Kakek Nayakavhira, aku berhasil!” Teriaknya girang.

Kakek yang sudah kehabisan semangat itu membuka matanya dan seketika wajahnya berseri! “Hebat....! Biarkan sampai merah tua seluruhnya, baru digembleng!” Teriaknya dan semangatnya kembali. Ma­tanya bersinar-sinar.

Suma Han tidak mau bicara tentang penggunaan Hwi-yang Sin-ciang dan kini setelah logam itu dapat membara, pa­nasnya api sudah cukup untuk membikin bara menjadi tua. Tak lama kemudian logam itu sudah menjadi merah sekali.

“Cepat letakkan di landasan dan gembleng sampai bentuknya menjadi pan­jang membungkus gagang senjataku.”

“Membungkus gagang?” Suma Han bertanya.

“Benar. Logam putih itu hanya merupakan lapisan luar saja. Gembleng sampai lebar dan tipis sepanjang sete­ngah kaki. Cepat!” Suara kakek itu ge­metar penuh gairah.

Otomatis Suma Han mematuhi perintah ini karena dia sendiri sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang pembuatan pedang. Biarpun dia bukan seorang pandai besi, bahkan memegang martil dan menggembleng logam memba­ra pun baru sekali itu selama hidupnya, namun pendekar ini memiliki tenaga yang melebihi tenaga seratus orang dengan sin-kangnya yang hebat, maka tentu sa­ja gemblengannya juga amat kuat sehing­ga tak lama kemudian logam yang mem­bara itu sudah menjadi lebar tipis sepan­jang tiga setengah kaki.

“Bagus! Hebat....! Untuk menggembleng itu biarpun dalam keadaan sehat, tentu baru dapat kuselesaikan dalam waktu tiga hari. Akan tetapi engkau hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Benar-benar sukar dicari pendekar sakti seperti engkau, Suma-taihiap. Logam itu telah mendingin, bakar lagi sampai membara dan akulah yang akan menggemblengnya membungkus gagang.”

Kembali Suma Han menurut dan sekali ini, karena logam itu sudah pernah membara, panasnya api cukup membuat logam itu menjadi merah lagi. Akan te­tapi kakek itu mengatakan belum cukup. “Dia harus dibakar selama satu malam sampai melunak agar mudah digem­bleng membungkus gagang, apalagi tena­gaku sekarang banyak berkurang.”

Pada keesokan harinya, ketika terdengar bunyi martil menghimpit logam di atas besi landasan sampai berdentang-­dentang, dikerjakan sendiri oleh Kakek Nayakavhira yang dibuatkan tempat du­duk tinggi oleh Suma Han dan ditonton oleh pendekar sakti itu. Selama menyaksikan kakek itu bekerja, diam-diam Suma Han merasa kagum dan barulah dia tahu betapa sulitnya membuat sebatang pe­dang pusaka! Dalam menempa dan menggembleng ini, kakek itu bekerja seperti dalam samadhi sehingga setiap tempaan merupakan gerakan suci seperti seorang bersembahyang. Maka Suma Han menonton penuh perhatian dan penuh hor­mat.

“Bun Beng, mengasolah. Lihat, tum­pukan kayu di belakang pondok sudah cukup banyak. Dan mendengar suara ber­dentang itu, agaknya mereka tidak mem­butuhkan terlalu banyak kayu lagi. Lihat sepagi ini tubuhmu sudah berkeringat!” Kwi Hong menegur Bun Beng yang bertelanjang baju dan sejak pagi buta telah menebangi kayu.

“Benarkah? Ah, kalau begitu aku mau beristirahat sebentar!” Bun Beng lalu du­duk di atas batu dan menyusuti peluh­nya.

“Aku akan masak air, tunggu saja. Aku akan membuatkan minuman untuk­mu!” Kwi Hong lalu berlari-lari kecil meninggalkan Bun Beng. Setelah bekerja keras sejak pagi, tubuhnya lelah dan ki­ni duduk bersandar batu disiliri angin pagi, Bun Beng merasa nyaman sekali sehingga tak terasa lagi ia memejamkan matanya. Sudah hampir setengah bulan dia berada di situ sejak pertemuannya dengan Pendekar Siluman dan Kakek Nayakavhira, dan selama itu setiap hari dia bekerja keras dalam usahanya mem­bantu kakek itu membuat pedang pusaka. Kini ia merasa lelah sekali dan mengan­tuk.

Entah berapa lama ia tertidur, tiba­-tiba ia merasa pundaknya diguncang tangan halus dan terdengar suara Kwi Hong. “Ihhh, pemalas. Berhenti sebentar saja sudah tertidur pulas! Bun Beng, mi­numlah ini. Bukan air teh akan tetapi daun ini lebih sedap dan kata Paman da­pat memulihkan tenaga. Minumlah!”

Bun Beng merasa malas untuk bangun, akan tetapi pundaknya ditarik sehingga ia terduduk dan ketika ia membuka se­dikit matanya, ia melihat Kwi Hong yang membangunkannya bahkan kini anak pe­rempuan itu menempelkan secawan mi­numan ke bibirnya!

“Bun Beng, lihat betapa indahnya bunga ini.... indah harum kupetik untuk­mu....” Tiba-tiba Milana menghentikan kata-kata dan langkah kakinya ketika melihat Kwi Hong sedang memberi mi­num Bun Beng dengan sikap mesra. Mi­lana memandang sejenak, kemudian memejamkan mata, membuang muka, me­lempar kembang di tangannya kemudian membalikkan tubuh dan pergi dari situ tanpa berkata-kata. Sambil melangkah pergi dia cepat-cepat menghapus dua butir air mata yang bergantung di bulu matanya. Anak perempuan ini sama sekali tidak mengerti mengapa dia menjadi berduka, dan dia tidak tahu sama sekali bahwa setan cemburu yang selalu siap menggoda hati manusia, terutama sekali hati wanita, telah mulai menyentuh ha­tinya. Dia hanya merasa kecewa karena pagi itu dia sengaja mencari bunga yang paling indah di dalam hutan untuk dipe­tiknya dan diberikan kepada Bun Beng yang ia tahu tentu sedang bekerja keras. Dengan hati penuh kegembiraan dia membawa bunga itu dan berlari-lari mencari Bun Beng, membayangkan beta­pa girangnya Bun Beng menerima pemberiannya, betapa anak laki-laki itu akan tersenyum kepadanya, memandang dengan matanya yang tajam dan tentu akan ter­pancing kata-kata pujian dari Bun Beng kepadanya. Dia tidak pernah merasa bo­san mendengar pujian-pujian dari mulut Bun Beng. “Milana, engkau baik sekali! Milana engkau manis sekali!” dan seba­gainya. Akan tetapi kegembiraannya mem­buyar seperti awan tipis ditiup angin ke­tika tiba di tempat itu, dia melihat Kwi Hong dengan sikap mesra memberi minum Bun Beng!

Milana sendiri tidak mengerti me­ngapa dia harus kecewa. Dia bersahabat baik dengan Kwi Hong yang dianggapnya seperti encinya sendiri, yang dianggap­nya sebagai seorang saudara yang lebih tua darinya, lebih pandai dan dia pun ta­hu bahwa sebagai murid Pendekar Silu­man, Kwi Hong memiliki kepandaian si­lat jauh lebih tinggi dari padanya, bah­kan menurut pengakuan Bun Beng, jauh lebih tinggi daripada kepandaian Bun Beng! Mengapa kini hatinya menjadi ke­cewa dan demikian tidak enak menyak­sikan sikap mesra Kwi Hong kepada Bun Beng?

Bun Beng yang masih setengah mengan­tuk dan tadi menurut saja diberi minum, dengan mata setengah terpejam, dapat melihat bayangan Milana yang pergi lagi sambil membuang bunga setangkai di atas tanah. Matanya terbuka lebar me­mandang bunga itu dan dia lalu sadar akan keadaan dirinya yang seperti anak kecil diberi minum.

“Terima kasih, Kwi Hong, biar kuminum sendiri,” katanya sambil menerima cawan minuman itu. Kwi Hong memberi­kan cawannya dan memandang dengan wajah berseri ketika Bun Beng minum dan kelihatan nikmat. Tentu saja nikmat minum-minuman sedap hangat itu di pa­gi hari.

“Eh, mana dia tadi?” Kwi Hong bertanya sambil menengok.

“Siapa?” Bun Beng pura-pura bertanya.

“Milana! Aku mendengar dia datang tadi. Mana dia?”

“Ah, aku tidak melihat dia,” kata Bun Beng sambil menutupi muka dengan cawan, meneguk habis minumannya se­dangkan matanya melirik ke arah setangkai bunga yang terletak sunyi di atas tanah.

“Terima kasih, Kwi Hong. Engkau baik sekali.” Bun Beng mengembalikan cawan kosong yang diterima Kwi Hong dengan wajah girang. Memang itulah yang dinanti-nantinya. Untuk menerima pujian Bun Beng itu, dia mau melakukan pekerjaan yang lebih berat daripada membuatkan secawan minuman!

“Bun Beng, mulai sekarang, engkau tidak perlu mencari kayu bakar lagi.”

“Ahh, mengapa?”

“Pedang pusaka itu sudah selesai! Paman tadi berpesan agar engkau tidak perlu mengumpulkan kayu bakar lagi, akan tetapi pedang itu akan ditapai oleh Kakek Nayakavhira beberapa hari lamanya. Paman telah pergi karena Kakek itu tidak mau diganggu, dan Paman per­gi mencari sepasang garuda kami karena dipanggil-panggil tak kunjung datang.”

“Dan kita....?”

“Kita harus menunggu di sini sampai Paman kembali. Eh, Bun Beng, setelah pedang selesai, engkau tentu akan ikut Paman ke Pulau Es, bukan?”

Bun Beng berpikir sejenak. Alangkah akan senang hatinya kalau dapat pergi ke tempat Pendekar Siluman dan menja­di muridnya. Akan tetapi ia teringat kepada Milana. Mana mungkin dia me­ninggalkan Milana di tempat itu begitu saja? Dia ingin sekali pergi bersama Pendekar Siluman, akan tetapi dia tidak boleh meninggalkan anak perempuan itu. Lebih dulu dia harus mengantarkan Mila­na sampai dapat pulang ke tempat tinggalnya, yaitu di Kerajaan Mongol.

“Aku harus mengantar Milana lebih dulu pulang ke Mongol,” katanya.

Kwi Hong tertawa. “Apa sukarnya? Dengan adanya Paman dan dengan me­nunggang garuda, sebentar saja kita akan dapat mengantar Milana. Eh, di mana anak, itu? Milana....! Milana....!”

“Aku di sini....! Aku datang....!” terdengar jawaban Milana dan tampaklah anak itu datang berlari menghampiri mereka. Wajahnya sudah cerah kembali karena panggilan suara Kwi Hong sudah mengu­sir rasa kecewa hatinya.

“Milana, pedang telah selesai dibuat dan sekarang Bun Beng tidak perlu men­cari kayu bakar lagi. Kita dapat bermain-main sambil menanti sampai Kakek itu selesai menapai pedang pusaka. Biar kusimpan dulu cawan ini!” Kwi Hong berlari pergi membawa cawan kosong.

Bun Beng memakai bajunya, lalu mengambil setangkai bunga dari atas ta­nah, mencium bunga yang indah itu sam­bil berkata, “Milana, terima kasih atas pemberian bunga ini. Engkau sungguh seorang anak yang baik hati....”

Wajah Milana berseri kemudian ber­ubah merah ketika Bun Beng mendekatinya.

“Kalau sudah selesai, tentu engkau akan diajak pergi oleh Suma-taihiap.” kata Milana perlahan. “Engkau akan se­kaligus mendapatkan seorang sahabat yang manis seperti Kwi Hong.”

“Ah, mana mungkin! Aku harus mengantarmu lebih dulu pulang ke Mo­ngol,” jawab Bun Beng tiba-tiba merasa kasihan kepada anak itu dan mendekati.

“Biarkanlah, aku capat mencari jalan pulang sendiri.”

“Tidak Milana. Sebelum mengantar engkau pulang, aku tidak mau pergi me­ninggalkanmu di sini. Pula, kurasa Suma-­taihiap akan suka mengantarmu pulang dengan naik burung garudanya. Setelah kau tiba dengan selamat di sana, baru­lah aku akan suka ikut dan belajar ilmu kepadanya.”

“Bun Beng, mengapa engkau begini baik kepadaku?” Milana bertanya, meng­angkat muka memandang dengan hati terharu.

Bun Beng tersenyum. “Apa kaukira engkau kalah baik? Engkaulah yang ber­sikap amat baik terhadap aku. Engkau keluarga istana raja, dan aku hanya se­orang anak sebatangkara yang miskin, namun sikapmu baik sekali. Bagaimana aku tidak akan bersikap baik kepadamu? Lupakah kau akan pelajaran tentang cin­ta kasih? Kalau engkau menganjurkan cinta kasih antara manusia, agaknya ma­nusia seperti inilah yang paling pantas dicinta.”

Percakapan mereka adalah percakapan kanak-kanak yang meniru-niru pela­jaran filsafat, maka tentu saja “cinta” yang mereka sebut-sebut tidak ada hu­bungannya dengan cinta antara laki-laki dan perempuan dewasa. Betapapun juga, ada sesuatu yang aneh terasa di hati mereka.

“Mengapa begitu, Bun Beng? Apa bedanya aku dengan orang lain?”

“Hemm, entahlah. Mungkin karena engkau.... manis sekali.”

Milana makin girang dan ia tersenyum tidak tahu betapa Kwi Hong telah da­tang dan melihat mereka berdiri berha­dapan demikian akrab dan melihat Bun Beng memegangi setangkai bunga indah dan mereka tidak tahu betapa Kwi Hong yang keras hati itu meman­dang dengan mata bersinar-sinar penuh iri dan cemburu! Kwi Hong sendiri be­lum tahu tentang arti cinta antara pria dan wanita, namun tanpa disengaja dia merasa amat tidak senang menyaksikan keakraban antara Bun Beng dan Milana!

Akan tetapi Kwi Hong menyembunyi­kan rasa tidak senangnya ketika ia berlari menghampiri mereka dan berkata. “Nah, sekarang tiba waktunya kita ber­main-main dan marilah kita memperlihat­kan ilmu yang kita pelajari. Aku ingin sekali melihat ilmu silatmu, Milana. Agaknya engkau tentu telah mempela­jari ilmu silat yang tinggi. Gerakan ka­kimu amat ringan dan tanganmu cekat­an. Marilah kita main-main dan mengu­kur kepandaian masing-masing untuk me­nambah pengalaman dan pengetahuan.”

“Ah, mana mungkin aku dapat me­nandingimu, Kwi Hong? Engkau adalah murid To-cu dari Pulau Es yang terke­nal, Pendekar Super sakti, sedangkan aku hanya seorang yang sebulan sekali saja menerima latihan dari Ibu. Dalam satu dua jurus saja aku tentu akan ro­boh!”

“Aihhh, mengapa kau merendahkan diri, Milana? Aku yakin kepandaianmu tentu sudah cukup tinggi. Pula, kita ha­nya main-main dan hitung-hitung berla­tih, tidak bertanding sungguh-sungguh, mana perlu saling merobohkan?”

“Kwi Hong, ilmu silat adalah ilmu untuk menjaga diri, ada unsur bertahan akan tetapi juga selalu mengandung unsur menyerang. Kalau dipergunakan da­lam pertandingan, mana bisa main-main lagi? Kepalan tangan dan tendangan ka­ki tidak mempunyai mata. Pula, selama hidupku, belum pernah aku mengguna­kan ilmu yang kupelajari untuk bertan­ding. Tidak, aku mengaku kalah!”

Kwi Hong menjadi kecewa sekali. Ti­dak ada seujung rambut dalam hatinya ingin merobohkan atau melukai Milana, hanya memang dia ingin mengalahkan anak itu di depan Bun Beng untuk menda­pat pujian! “Milana, untuk apa engkau mempelajari ilmu kalau kau takut mempergunakan?” Ia mendesak.

Bun Beng yang sudah mengenal wa­tak halus Milana, merasa kasihan. Dia tidak menyalahkan Kwi Hong, karena ia maklum bahwa orang yang mempelajari ilmu silat tentu senang bertanding silat dan ia pun tahu bahwa bukan niat Kwi Hong untuk melukai Milana. Tentu saja Kwi Hong belum mengenal watak Mila­na yang sama sekali berlawanan dengan ilmu silat itu maka ia melangkah maju dan berkata,

“Kwi Hong, Milana tidak mau bertanding mengadu ilmu. Wataknya terlalu ha­lus untuk bertanding. Kalau engkau ingin berlatih, marilah kulayani, biar terbuka mataku dan bertambah pengetahuanku menerima pelajaran dari murid Suma­-taihiap yang sakti.”

Dalam ucapan ini, Bun Beng sama sekali tidak menyalahkan Kwi Hong, ha­nya ingin menolong Milana yang kelihat­an terpojok. Akan tetapi, hati Kwi Hong tersinggung dengan kata-kata bahwa wa­tak Milana terlalu halus, sama dengan mengatakan bahwa wataknya adalah kasar! Dengan kedua pipi merah ia lalu menjawab singkat.

“Baiklah. Mari!” Setelah berkata demikian ia lalu menerjang maju dengan serangan ke arah dada Bun Beng!

Bun Beng cepat mengelak dan melompat ke belakang, akan tetapi gerak­an Kwi Hong amat cepatnya dan anak ini sudah melanjutkan serangannya dengan pukulan lain yang amat cepat. Bun Beng terkejut, tak sempat mengelak lagi ma­ka ia lalu menggerakkan tangan menang­kis.

“Dukk!” Kwi Hong merasa lengannya agak nyeri, akan tetapi Bun Beng terhuyung ke belakang. Dalam hal tenaga sin-kang dia kalah kuat oleh Kwi Hong yang menerima latihan sin-kang istimewa dari Suma Han di Pulau Es! Dan Kwi Hong yang merasa lengannya nyeri itu menja­di penasaran mengira bahwa Bun Beng agaknya memiliki kepandaian tinggi ma­ka dia lalu menyerang terus dengan gencar.

Bun Beng menggerakkan kaki tangan, mempertahankan diri dengan ilmu silat dari Siauw-lim-pai yang ia pelajari dari mendiang suhunya, Siauw Lam Hwesio. Akan tetapi lewat belasan jurus, dia ter­desak hebat dan setiap kali terpaksa menangkis, dia terpental atau terhuyung.

“Wah, Kwi Hong.... aku menyerah ka­lah!” Bun Beng berseru sambil menangkis lagi.

“Dukk!” Kembali Kwi Hong merasa lengannya nyeri. Biarpun sin-kangnya lebih kuat, namun kulit lengannya tidak sekeras dan sekuat Bun Beng yang sela­ma setengah tahun hidup seperti kera liar dalam keadaan telanjang bulat. Ia makin penasaran.“Mengadu ilmu tidak perlu mengalah. Bun Beng, keluarkan kepandaianmu, ba­laslah menyerang, jangan mempertahan­kan saja!” Kwi Hong melanjutkan serang­annya lebih cepat lagi sehingga Bun Beng menjadi repot sekali. Karena serangan bertubi-tubi itu amat cepat dan dahsyat, terpaksa ia dalam keadaan setengah sa­dar, telah menggerakkan kaki tangannya menurutkan ilmu dalam tiga kitab Sam­-po-cin-keng. Dia menangkis dengan gerakan membentuk lingkaran dengan kaki tangannya dan dari samping ia mengirim pukulan balasan, hanya mendorong ke arah pundak Kwi Hong dan dia berhasil! Pundak Kwi Hong terkena dorongannya sehingga anak perempuan itu terhuyung.

“Kau hebat juga!” Biarpun mulutnya memuji, namun hati Kwi Hong menjadi panas. Dia menerjang lagi lebih hebat. Memang watak Kwi Hong keras dan tidak mau kalah. Dia merasa bahwa seba­gai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti dia tidak akan terkalahkan oleh anak-anak lain!

Bun Beng menjadi sibuk sekali. Biarpun dia mainkan ilmu silat yang dipela­jari dari kitab orang sakti yang ia temu­kan di dalam sumber air panas di guha rahasia, namun isi kitab itu lebih ia kua­sai teorinya saja, sedangkan isinya be­lum ia mengerti benar. Apalagi kini Kwi Hong benar-benar mengeluarkan kepan­daiannya. Ilmu silat yang dia pelajari da­ri Suma Han adalah ilmu silat tingkat tinggi dan anak ini setiap hari berlatih dengan para penghuni Pulau Es maka tentu saja serangan-serangannya amat hebat!

“Plakkk!” Punggung Bun Beng kena ditampar. Dia terhuyung akan tetapi ber­kat semua penderitaan tubuhnya yang membuat tubuhnya kuat, dia tidak roboh dan dapat menangkis pukulan susulan. Kembali dia didesak hebat sampai mun­dur-mundur dan hanya mampu mengelak menangkis, sedangkan Kwi Hong seperti seekor harimau betina mem­punyai keinginan untuk merobohkan Bun Beng. Kalau sudah kalah, tentu Bun Beng tidak berani merendahkannya dan akan menghargainya seperti yang ia inginkan!

“Kwi Hong, sudahlah....!” berkali-kali Milana menjerit ketika melihat betapa Bun Beng mulai terkena pukulan bebera­pa kali. Biarpun bukan pukulan yang membahayakan, namun cukup membuat Bun Beng beberapa kali terhuyung dan mengaduh. Tiba-tiba Bun Beng menerjang dengan nekat! Sudah menjadi watak Bun Beng sebagai seorang anak yang ti­dak mengenal takut dan pantang menye­rah! Apa lagi baru menerima pukulan-pukulan seperti itu, biarpun diancam maut sekalipun dia pantang menyerah dan akan melakukan perlawanan. Dia sudah mengalah, akan tetapi karena Kwi Hong agaknya bersikeras untuk meroboh­kannya, dia menjadi naik darah dan kini Bun Beng menerjang hebat dengan ilmu barunya secara sedapat-dapatnya. Biar­pun gerakannya seperti ngawur, namun kakinya berhasil mengenai lutut Kwi Hong sehingga gadis cilik yang merasa kaki kirinya tiba-tiba lemas itu hampir jatuh! Dia meloncat tinggi kemudian menukik turun dan menyerang Bun Beng dari atas dengan kedua tangan. Bun Beng terkejut, berusaha menangkis, namun ha­nya berhasil menangkis serangan tangan kanan sedangkan tangan kirinya dapat menotok pundak Bun Beng, membuat pemuda cilik itu terguling.

“Kwi Hong, jangan lukai Bun Beng!” Tiba-tiba Milana yang sejak tadi ber­teriak-teriak mencegah pertandingan, sudah menerjang maju.

“Wuuuut....! Plakkk!” Terjangan Mila­na cepat sekali, akan tetapi Kwi Hong masih sempat menangkis sehingga kedua­nya terhuyung mundur.

“Hemm, kiranya engkau boleh juga!” Kwi Hong yang sudah menjadi marah karena menyesal bahwa dia telah merobohkan Bun Beng dan tentu Bun Beng akan marah kepadanya, sebaliknya suka kepada Milana yang membelanya, kini menyerang Milana yang cepat mengelak dan balas menyerang! Kiranya anak yang berwatak halus ini memiliki gerak­an yang indah dan ringan sekali sehing­ga pukulan-pukulan Kwi Hong dapat ia elakkan semua. Betapapun juga, dia se­gera terdesak hebat karena agaknya da­lam keringanan tubuh saja dia dapat menandingi, sedangkan dalam ilmu silat dan tenaga, dia kalah banyak.

Biarpun Milana bergerak dengan ge­sit, tidak urung dia terkena dorongan ta­ngan Kwi Hong yang mengenai pinggang­nya sehingga ia terpelanting jatuh.

“Kwi Hong, kau terlalu!” Bun Beng menubruk Kwi Hong, akan tetapi cepat Kwi Hong mengelak menjatuhkan diri sambil menendang.

“Bukk!” Paha Bun Beng terkena tendangan dan untuk kedua kalinya dia ja­tuh tersungkur.

“Kwi Hong! Apa yang kaulakukan ini?” Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Suma Han telah berada di situ. Melihat pamannya, seketika lenyap kemarahan dari hati Kwi Hong, terganti rasa takut. “Paman, kami hanya main­-main....”

“Main-main?” Suma Han memandang Bun Beng yang telah bangun dan menge­but-ngebutkan pakaiannya yang kotor. Juga Milana telah bangun dan meman­dang dengan wajah tenang.

“Karena menganggur, kami berlatih silat.” kata pula Kwi Hong.

“Hemm....” Suma Han tetap memandang Bun Beng dan Milana penuh seli­dik. Melihat sikap pendekar itu dan me­lihat betapa Kwi Hong ketakutan, Bun Beng lalu cepat berkata.

“Kami hanya berlatih.”

Milana juga berkata, “Kwi Hong ha­nya melatih saya, Suma-taihiap.”

Suma Han mengerutkan keningnya, wa­jahnya yang biasanya sudah muram itu kini tampak seolah-olah ada sesuatu yang mengesalkan hatinya. Tanpa menjawab ia lalu meloncat dan tubuhnya berkele­bat memasuki pondok.

Kwi Hong memandang kepada Bun Beng dan Milana, kemudian dengan suara penuh penyesalan berkata, “Maafkan aku, kalian baik sekali.”

Tiba-tiba terdengar bunyi lengking keras dari dalam pondok dan tubuh Suma Han meloncat keluar, tahu-tahu sudah tiba di dekat mereka bertiga, matanya mengeluarkan sinar marah ketika ia me­negur.

“Kalian tidak melihat orang datang ke pondok?”

Tiga orang anak itu memandang Suma Han dengan heran, kemudian menggeleng kepala, Suma Han menghela napas panjung. “Kalian hanya bermain-main sa­ja, sedangkan sepasang garuda dibunuh orang dan pedang pusaka lenyap dari pondok.”

Tiga orang anak itu terkejut bukan main, “Pek-eng dibunuh....?” Kwi Hong bertanya dan suaranya terdengar bahwa dia menahan tangisnya.

“Mati terpanah. Tidak mudah kedua burung itu dipanah, tentu pemanahnya seorang yang berilmu tinggi. Dan selagi kalian main-main, pedang pusaka dicuri orang.”

“Kakek Nayakavhira....?” Tanya Milana.

“Dia telah meninggal dunia.”

“Ohh! Dia dibunuh?” Bun Beng berte­riak kaget.

Suma Han menggeleng kepala. “Dia mati selagi bersamadhi. Sungguh celaka, ada orang berani mempermainkan aku secara keterlaluan. Kalian di sini saja, jangan main-main, bantu aku pasang ma­ta, lihat-lihat kalau ada orang. Aku akan memperabukan jenazah Nayakavhira.” Suma Han lalu membakar pondok itu setelah menumpuk sisa kayu bakar ke dalam pondok dan meletakkan jenazah kakek yang masih bersila itu di atasnya.

Pondok terbakar oleh api yang bernyala-nyala besar. Suma Han berdiri te­gak memandang, dan tiga orang itu juga memandang dengan hati kecut. Sungguh tidak mereka sangka terjadi hal-hal yang demikian hebat. Selain dua ekor burung garuda terbunuh orang, juga pedang pusaka yang dibuat sedemikian susah pa­yah itu dicuri orang dari pondok tanpa mereka ketahui sama sekali. Timbul pe­nyesalan besar di dalam hati Kwi Hong karena andaikata dia tidak memaksa Bun Beng dan Milana bertempur, tentu mereka lebih waspada dan dapat meli­hat orang yang memasuki pondok dan mencuri pedang pusaka. Andaikata mere­ka bertiga tidak dapat mencegah pencu­ri itu melarikan pedang, sedikitnya me­reka akan dapat menceritakan pamannya bagaimana macamnya orang yang mencu­ri pedang. Sekarang pedang tercuri tan­pa diketahui siapa pencurinya!

Keadaan di situ menjadi sunyi sekali karena Suma Han dan tiga orang anak itu tidak bergerak, memandang pondok yang dibakar. Hanya suara api memba­kar kayu terdengar jelas mengantar asap yang membubung tinggi ke atas. Tiba-­tiba tiga orang anak terkejut ketika mendengar suara ketawa melengking yang menggetarkan isi dada mereka. Pantas­nya iblis sendiri yang mengeluarkan sua­ra seperti itu, yang datang dari timur seperti terbawa angin, bergema di seki­tar daerah itu. Lebih kaget lagi hati mereka bertiga ketika melihat tubuh Suma Han berkelebat cepat dan lenyap dari situ, meninggalkan suara perlahan namun jelas terdengar oleh mereka. “Ka­lian tinggal di sini, jangan pergi!”

Selagi tiga orang itu bengong saling pandang dengan muka khawatir, tiba-tiba terdengar suara tertawa halus dan berkelebat bayangan orang. Tahu-tahu di situ muncul seorang laki-laki yang berwajah tampan, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian seperti siucai dan di punggungnya tampak sebatang pedang. Melihat munculnya orang yang tertawa-­tawa ini, Bun Beng memandang penuh perhatian dan dia melihat sebatang pedang bersinar putih tanpa gagang terse­lip di ikat pinggang orang itu. Anak yang cerdik ini segera dapat menduga bahwa tentu orang ini mencuri pedang, dan pedang bersinar putih yang terselip dan ditutupi jubah namun masih tampak se­dikit itu adalah pedang pusaka yang dicurinya.

“Engkau pencuri pedang!” Bentaknya marah dan tanpa mempedulikan sesuatu, Bun Beng sudah menubruk ke depan. Akan tetapi sebuah tendangan tepat mendorong dadanya dan ia roboh terjeng­kang.

“Ha-ha-ha! Memang aku yang mengam­bil pedang pusaka. Dan siapa di antara kalian berdua yang menjadi murid pe­rempuan Pendekar Siluman?”

Kwi Hong yang mendengar pengakuan itu sudah menjadi marah sekali. Ini­lah orangnya yang membikin kacau dan membikin marah gurunya atau pamannya, pikirnya. Ia bergerak maju sambil mem­bentak,

“Aku adalah murid Pendekar Super Sakti! Maling hina, kembalikan pedang!”

Akan tetapi sambil tertawa-tawa, laki-laki tampan itu membiarkan Kwi Hong memukulnya dan ketika kepalan tangan gadis cilik itu mengenai perutnya, Kwi Hong merasa seperti memukul kapas saja. Ia terkejut, akan tetapi tiba-tiba lengannya sudah ditangkap, tubuhnya di­kempit dan sambil tertawa laki-laki itu sudah meloncat dan lari pergi.

“Tahan....!” Milana berseru dan meloncat ke depan, akan tetapi sekali orang itu mengibaskan lengan kirinya, tubuk Milana terpelanting dan roboh terguling. Bun Beng sudah bangkit lagi, tidak peduli akan kepeningan kepalanya dan dia mengejar secepat mungkin. Namun, laki­-laki itu berloncatan cepat sekali dan su­dah menghilang. Bun Beng teringat akan suara ketawa dari arah timur tadi, ma­ka dia lalu mengejar ke timur.

Milana merangkak bangun, menggo­yang-goyang kepalanya yang pening. Ia mengangkat muka memandang, akan te­tapi tidak tampak lagi laki-laki yang menculik Kwi Hong, juga tidak tampak bayangan Bun Beng. Dia menduga tentu Bun Beng melakukan pengejaran, maka dia pun meloncat bangun dan mengejar ke timur karena seperti Bun Beng, dia tadi mendengar suara ketawa dari timur.

Tentu saja baik Bun Beng maupun Milana tertinggal jauh sekali oleh laki-­laki yang menculik Kwi Hong karena orang itu memiliki ilmu kepandaian ting­gi sehingga kedua orang anak itu selain tertinggal juga masing-masing melaku­kan pengejaran secara ngawur tanpa me­ngetahui ke mana larinya si penculik dan pencuri pedang itu.

Penculik berpakaian sasterawan itu bukan lain adalah Tan Ki atau Tan­-siucai yang sudah miring otaknya! Sete­lah berhasil membunuh Im-yang Seng-cu yang dipersalahkan karena Im-yang Seng­-cu tidak membalas dendam dan membu­nuh Pendekar Siluman, Tan-siucai bersama gurunya yang aneh dan amat lihai itu lalu melanjutkan perjalanan mencari Pendekar Siluman yang kabarnya menja­di To-cu Pulau Es. Secara kebetulan sekali, ketika mereka berjalan di sepan­jang pesisir lautan utara untuk menyeli­diki di mana adanya Pulau Es, pada sua­tu hari mereka melihat dua ekor burung garuda putih beterbangan.

“Guru, bukankah burung-burung itu adalah garuda putih yang amat besar­-besar. Seperti kita dengar, tunggangan Suma Han juga burung garuda putih. Sia­pa tahu burung-burung itu adalah tunggangannya?” Kata Tan-siucai.

“Hemm, burung yang indah dan he­bat. Sebaiknya ditangkap!” Kata Mahar­ya memandang kagum, kemudian ia mengambil sebuah batu sebesar geng­gaman tangan dan melontarkan batu itu ke arah seekor daripada dua burung garu­da putih yang terbang rendah. Dua ekor burung itu memang benar burung-burung peliharaan Suma Han yang ditinggalkan di tempat itu ketika Kwi Hong hendak menonton kakek menunggang gajah. Ka­rena lama majikan mereka tidak me­manggil, kedua burung garuda itu menja­di kesal dan beterbangan sambil menyam­bari ikan yang berani mengambang di permukaan laut, juga mencari binatang-­binatang kecil yang dapat mereka jadi­kan mangsa.

Lontaran batu dari tangan Maharya amat kuatnya sehingga batu itu melun­cur seperti peluru ke arah burung garu­da betina. Burung ini sudah terlatih, melibat ada sinar menyambar ke arahnya, ia lalu menangkis dengan cakarnya. Akan tetapi, biarpun batu itu hancur oleh cakarnya, burung itu memekik kesa­kitan karena tenaga lontaran yang kuat itu membuat kakinya terluka. Dia menja­di marah sekali, mengeluarkan lengking panjang sebagai tanda marah dan me­nyambar turun ke bawah dengan kecepatan kilat, mencengkeram kepala Ma­harya yang berani mengganggunya!

“Eh, burung jahanam!” Maharya me­nyumpah ketika terjangan itu membuat ia terkejut dan hampir jatuh, sungguh­pun dia dapat mengelak dengan loncatan ke kiri.

“Tidak salah lagi, tentu tunggangan Pendekar Siluman!” Kata Tan-siucai. “Kalau burung liar mana mungkin begitu lihai? Guru, kita bunuh saja burung­burung ini!” Setelah berkata demikian, Tan Ki mengeluarkan sebatang panah, memasang pada sebuah gendewa kecil. Menjepretlah tali gendewa dan sebatang anak panah meluncur dengan kecepatan kilat menyambar burung garuda betina yang masih terbang rendah. Burung itu berusaha mengelak dan menangkis dengan sayapnya, namun anak panah itu dilepas oleh tangan yang kuat sekali, menembus sayap dan menancap dada! Burung itu memekik dan melayang jatuh, terbanting di atas tanah, berkelojotan dan mati!

Burung garuda jantan menjadi marah sekali, mengeluarkan pekik nyaring dan menyambar ke bawah hendak menyerang Tan-siucai. Namun sambil tertawa, Tan Ki sudah melepas sebatang anak panah lagi. Garuda ini pun mencengkeram, namun anak panah itu tetap saja menem­bus dadanya dan burung ini pun roboh tewas! Dua ekor burung garuda yang terjatuh kini tewas di tangan seorang berotak miring yang lihai sekali.

Tan-siucai dan gurunya kini merasa yakin bahwa tentu kedua ekor burung garuda itu adalah binatang tunggangan Pendekar Siluman seperti yang mereka dengar diceritakan orang-orang kang-ouw. Maka mereka berlaku hati-hati, menyelidiki daerah itu dan akhirnya dari jauh mereka melihat pondok di mana menge­pul asap dan terdengar bunyi martil ber­dencing. Mereka tidak berlaku sembrono, hanya mengintip dengan sabar dan da­pat menduga bahwa Pendekar Siluman tentu berada di pondok itu, sedangkan seorang di antara dua orang anak perempuan yang bermain-main di luar dengan seorang anak laki-laki tentulah muridnya seperti yang dikabarkan orang.

Tadinya Tan-siucai hendak mengajak gurunya menyerbu dan membunuh musuh yang dibencinya itu, yang dianggap te­lah merampas tunangannya. Akan tetapi ketika Maharya mendapatkan bangkai gajah besar tak jauh dari tempat itu, dia menahan niat ini.

“Kalau tidak salah, gajah ini adalah binatang tunggangan kakakku Nayakavhira! Jangan-jangan tua bangka itu pun ber­ada di dalam pondok bersama Pendekar Siluman. Aahhh, tidak salah lagi, tentu dia. Dan suara berdencing itu. Tentu Si Tua Bangka membuatkan pedang pusaka untuk Pendekar Siluman! Huh, dia selalu menentangku! Kalau aku tidak bisa mem­bunuhnya, tentu dia akan mendahului aku merampas Sepasang Pedang Iblis! Kita harus berhati-hati. Aku tidak takut menghadapi Pendekar Siluman kaki bun­tung yang disohorkan orang itu. Akan tetapi tua bangka Nayakavhira itu lihai sekali dan terhadap dia kita tidak dapat menggunakan ilmu sihir. Kita menanti saja dan kalau ada kesempatan baik, baru kita menyerbu.”

Ketika melihat Suma Han keluar da­ri pondok dan meninggalkan tiga orang anak, Maharya lalu mengajak muridnya diam-diam, menggunakan kesempatan selagi tiga orang anak itu bertempur untuk menyelundup ke dalam pondok. “Dia tentu sedang samadhi menapai pe­dang, inilah kesempatan baik karena Pendekar Siluman sedang keluar. Kau ambil pedangnya, biar aku yang mengha­dapi Nayakavhira!”

Akan tetapi, ketika mereka mema­suki pondok, mereka melihat bahwa Nayakavhira telah mati dalam keadaan masih duduk bersila di pondok, di depan­nya menggeletak sebatang pedang ber­sinar putih yang belum ada gagangnya. Tentu saja Maharya menjadi girang seka­li dan Tan-siucai mengambil pedang pusaka itu. Diam-diam mereka keluar dari pondok dan mengintai dari tempat persembunyian mereka. Mereka melihat Suma Han datang lagi kemudian melihat Suma Han membakar pondok untuk memperabukan ­jenazah Nayakavhira.

“Bagus! Sekarang biar aku memancing dia pergi, hendak kucoba sampai di mana kepandaiannya. Kau menjaga di sini, kalau dia sudah pergi, kauculik mu­ridnya. Dengan demikian, akan lebih mu­dah engkau membalas dendam.”

Demikianlah, dari tempat jauh di sebelah timur Maharya mengeluarkan suara ketawa sehingga memancing da­tangnya Suma Han, sedangkan Tan-siucai berhasil menculik Kwi Hong! Pada hake­katnya, Tan-siucai bukanlah seorang yang jahat atau kejam. Akan tetapi pada wak­tu itu, otaknya sudah miring karena den­damnya dan karena dia memaksa diri mempelajari ilmu sihir dari Maharya. Maka dia pun tidak membunuh Bun Beng dan Milana, hal yang akan mudah dan dapat ia lakukan kalau dia berhati ke­jam. Dia mengempit tubuh Kwi Hong sambil lari menyusul gurunya dan terke­keh mengerikan.

“Lepaskan aku! Keparat, lepaskan aku! Kalau tidak, Pamanku akan menghancurkan kepalamu!”

“Heh-heh-heh, Pamanmu? Gurumu se­kalipun, Si Pendekar Buntung kakinya itu, tidak akan mampu membunuhku, bahkan dia yang kini akan mampus di ta­ngan Guruku. Siapa Pamanmu, heh?”

“Tolol! Pamanku ialah guruku Suma Han Pendekar Super Sakti, To-cu dari Pulau Es! Lepaskan aku!”

Saking herannya bahwa anak perempuan itu bukan hanya murid, akan tetapi juga keponakan musuh besar­nya, Tan-siucai melepaskan Kwi Hong dan memandang dengan mata terbelalak. “Engkau keponakannya? Keponakan dari mana, heh?”

Kwi Hong mengira bahwa orang gila ini takut mendengar bahwa dia keponak­an gurunya, maka dia berkata, “Guruku adalah adik kandung mendiang Ibuku.”

Tan-siucai tertawa. “Ha-ha-ha-ha! Ke­betulan sekali! Dia telah membunuh ke­kasihku, tunanganku, calon isteriku. Biar dia lihat bagaimana rasanya melihat keponakannya kubunuh di depan matanya. Heh-heh-heh!”

Kwi Hong memandang marah. “Setan keparat! Engkau gila! Diriku tidak mem­bunuh siapa-siapa dan jangan kira engkau akan dapat terlepas dari tangannya kalau kau berani menggangguku!”

“Engkau mau lari? Heh-heh-heh, lari­lah kalau mampu. Lihat, api dari tangan­ku sudah mengurungmu, bagaimana kau bisa lari?”

Kwi Hong memandang dan ia terpekik kaget melihat betapa kedua tangan yang dikembangkan itu benar-benar mengelu­arkan api yang menyala-nyala dan mengurung di sekelilingnya! “Setan.... engkau setan....!” Ia memaki akan tetapi hatinya merasa takut dan ngeri.

“Ha-ha-ha, hayo ikut bersamaku. Aku tidak mau terlambat melihat musuh be­sarku mati di tangan Guruku!”

Tan-siucai menubruk hendak menang­kap Kwi Hong. Anak ini menjerit dan tanpa mempedulikan api yang bernyala-­nyala di sekelilingnya, ia meloncat me­nerjang api. Dan terjadilah hal yang mengherankan hatinya. Ketika mener­jang, api itu tidak membakarnya, bah­kan tidak ada lagi! Seolah-olah melihat api tadi hanya terjadi dalam mimpi! Ma­ka ia berbesar hati lari terus.

“Hei-hei.... mau lari ke mana, heh?” Tan-siucai mengejar dan agaknya dalam kegilaannya ia merasa senang memper­mainkan Kwi Hong, mengejar sambil menggertak menakut-nakuti, tidak sege­ra menangkapnya, padahal kalau dia mau, tentu saja dia dapat menangkap dengan mudah dan cepat. Lagaknya seperti se­ekor kucing yang hendak mempermain­kan seekor tikus. Membiarkannya lari du­lu untuk kemudian ditangkap dan diga­nyangnya.

Tan-siucai hanya hendak menakut-nakuti saja karena anak itu adalah keponakan dan murid musuh besarnya, tidak mempunyai maksud sedikit pun juga di hatinya untuk melakukan sesuatu yang tidak baik. Mungkin dia akan benar-benar membunuh Kwi Hong di depan Suma Han, namun hal itu pun akan dilakukan semata-mata untuk menyakiti hati mu­suh besar yang telah merampas dan dianggap membunuh kekasihnya!

“Heh-heh-heh, mau lari ke mana kau?” Sekali meloncat, tiba-tiba tubuh­nya melesat ke depan dan sambil terta­wa-tawa ia telah tiba menghadang di depan Kwi Hong!

“Ihhhhh!” Kwi Hong menjerit kaget penuh kengerian, akan tetapi dia tidak takut dan menghantam perut orang itu.

“Cessss!” Tangannya mengenai perut yang lunak seolah-olah tenaganya amblas ke dalam air, maka Kwi Hong lalu mem­balikkan tubuh dan melarikan diri ke lain jurusan.

“Heh-heh-heh, larilah yang cepat, larilah kuda cilik, lari! Ha-ha-ha!” Tan-siucai tertawa-tawa dan mengejar lagi dari belakang. Berkali-kali ia mempermainkan Kwi Hong dengan loncat mengha­dang di depan anak itu.

Ketika ia sudah merasa puas mem­permainkan sehingga Kwi Hong mulai terengah-engah kelelahan, tiba-tiba Tan-siucai tersentak kaget karena tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang wanita yang mukanya berkerudung menyeram­kan!

Biarpun Tan-siucai kini telah menjadi seorang yang berkepandaian tinggi, na­mun kemiringan otaknya membuat dia kadang-kadang seperti kanak-kanak. Be­gitu melihat munculnya seorang wanita berkerudung, agaknya ia teringat akan cerita-cerita yang dibacanya tentang setan-setan dan iblis, maka mukanya berubah pucat dan ia membalikkan tubuh­nya melarikan diri sambil menjerit, “Ada setan....!”

“Aduhhh....!” Ia menjerit dan tubuh­nya terpental karena pinggulnya telah ditendang dari belakang. Kini wanita berkerudung itulah yang keheranan. Ten­dangannya tadi disertai sin-kang yang ku­at, yang akan meremukkan batu karang dan orang di dunia kang-ouw jarang ada yang sanggup menerima tendangannya itu tanpa menderita luka berat atau bah­kan mati. Akan tetapi orang gila itu hanya menjerit tanpa menderita luka sedikit pun. Bahkan kakinya merasakan pinggul yang lunak seperti karet busa!

“Eh, kau.... kau bukan setan? Kakimu menginjak tanah, terang bukan setan! Ke­parat, kau berani menendang aku? Tung­gu ya, aku akan menangkap dulu anak itu!” Tan-siucai melangkah hendak me­nangkap lengan Kwi Hong yang masih berdiri terengah-engah dan juga memandang wanita berkerudung itu dengan ma­ta terbelalak.

“Jangan ganggu dia!” Tiba-tiba wanita itu membentak, suaranya merdu namun dingin dan mengandung getaran kuat.

Tan-siucai sadar bahwa wanita ini agaknya memang sengaja hendak menen­tangnya maka ia membusungkan dada dan menudingkan telunjuknya. “Aihh, ki­ranya engkau hendak menentangku, ya? Sungguh berani mati. Engkau tidak tahu aku siapa? Awas, kalau aku sudah ma­rah, tidak peduli lagi apakah engkau wa­nita atau pria, berkerudung atau tidak, sekali bergerak aku akan mencabut nya­wamu!”

Wanita berkerudung itu mendengus penuh hinaan, “Siapa takut padamu? Ten­tu saja aku tahu engkau siapa. Engkau adalah seorang yang tidak waras, berotak miring yang menakut-nakuti seorang anak perempuan. Kalau aku tidak ingat bah­wa engkau adalah seorang gila, apakah kaukira tidak sudah tadi-tadi kupukul kau sampai mampus? Nah, pergilah. Aku memaafkanmu karena engkau gila dan tinggalkan anak ini.”

Tan-siucai sudah lenyap kegilaannya dan ia marah sekali. “Engkau yang gila! Engkau perempuan lancang, hendak mencampuri urusan orang lain dan eng­kau memakai kerudung penutup muka. Hayo buka kerudungmu dan lekas minta ampun kepadaku!”

“Agaknya selain gila, engkau pun su­dah bosan hidup. Nah, mampuslah!” Tiba-tiba wanita berkerudung itu menerjang maju dengan cepat sekali, tahu-tahu tangannya sudah mengirim totokan maut ke arah ulu hati Tan-siucai. Tan-siucai telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun dia terkejut sekali karena mak­lum bahwa totokan itu dapat membunuh­nya dan bahwa gerakan wanita itu sela­in cepat seperti kilat juga mengandung sin-kang yang luar biasa! Dia tidak bera­ni main-main lagi, tahu bahwa lawannya adalah seorang pandai, maka cepat ia menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga.

“Desss!” Tubuh Tan-siucai terguling saking hebatnya benturan tenaga itu dan ia cepat meloncat bangun sambil mengi­rim serangan balasan penuh marah.

“Hemm, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian!” Wanita berkerudung itu berseru dan menyambut pukulan Tan-siucai dengan sambaran tangan ke arah pergelangan lawan. Tan-siucai tidak mau lengannya ditangkap maka ia menghenti­kan pukulannya dan tiba-tiba kakinya menendang, sebuah tendangan yang men­datangkan angin keras mengarah pusar lawan.

“Wuuuttt!” Wanita itu miringkan tu­buh membiarkan tendangan lewat dan secepat kilat kakinya mendorong bela­kang kaki yang sedang menendang itu. Gerakan ini amat aneh dan Tan-siucai tak dapat mengelak lagi. Kakinya yang luput menendang itu terdorong ke atas, membawa tubuhnya sehingga ia terlem­par ke atas seperti dilontarkan.

“Aiiihhh....!” Tan-siucai berteriak akan tetapi wanita itu kagum juga me­nyaksikan betapa lawannya yang gila itu ternyata memiliki gin-kang yang tinggi sehingga mampu berjungkir balik di uda­ra dan turun ke tanah dengan keadaan kakinya tegak berdiri.

Adapun Tan-siucai yang makin kaget dan heran menyaksikan gerakan wanita berkerudung itu, teringat akan sesuatu dan membentak, “Aku mendengar bah­wa Ketua Thian-liong-pang adalah....”

“Akulah Ketua Thian-liong-pang!” Wa­nita itu memotong dan menerjang lagi, gerakannya cepat sekali sehingga sukar diikuti pandang mata dan Tan-siucai terpaksa meloncat mundur dengan kaget.

“Singggg....!” Tampak sinar hitam ber­kelebat dan tahu-tahu tangan Tan-siucai telah mencabut pedang hitamnya, tam­pak sinar hitam bergulung-gulung dengan dahsyatnya.

Diam-diam Ketua Thian-liong-pang itu kaget dan heran. Bagaimana tiba-tiba muncul seorang siucai gila seperti ini padahal di dunia kang-ouw tidak per­nah terdengar namanya. Namun dia ti­dak gentar sedikitpun juga. Dia maklum bahwa tingkat kepandaian siucai tampan yang gila ini amat tinggi, akan tetapi tidak terlampau tinggi. Maka ia pun menghadapinya dengan kedua tangan kosong saja. Tubuhnya berkelebatan menyelinap di antara sinar pedang hitam dan mengirim pukulan sin-kang bertubi-tubi sehingga hawa pukulan itu saja cukup membuat Tan-siucai terhuyung mundur dan kacau permainan pedangnya! Ketika dengan rasa penasaran ia membabat kedua kaki wanita itu, Ketua Thian-liong-pang mencelat ke atas, ujung kakinya menen­dang tenggorokan lawan, Tan-siucai mi­ringkan kepala dengan kaget sekali.

“Aduhhh....!” Ia menjerit dan roboh terguling-guling, tulang pundaknya yang tersentuh ujung sepatu wanita terasa hendak copot, nyeri sampai menusuk ke jantung rasanya.

“Pangcu dari Thian-liong-pang, lihat baik-baik siapa aku! Engkau takut dan lemas, berlututlah!” tiba-tiba Tan-siucai menuding dengan pedangnya, melakukan ilmu hitamnya, untuk menguasai sema­ngat dan pikiran lawannya melalui ge­rakan, suara dan pandang matanya. Namun, Ketua Thian-liodg-pang itu me­makai kerudung di depan mukanya sehingga tidak dapat dikuasai oleh pandang matanya, adapun suaranya yang mengan­dung getaran khi-kang hebat itu masih kalah kuat oleh sin-kang lawan. Kini wanita itu tertawa merdu, ketawa yang bukan sembarang ketawa karena suara ketawanya digerakkan dengan sin-kang dari pusar sehingga membawa getaran yang amat kuat. Gelombang getaran ini menyentuh hati Tan-siucai sehingga dia ikut pula tertawa bergelak di luar ke­mauannya. Mendengar suara ketawanya sendiri, Tan-siucai terkejut dan cepat ia menindas rasa ingin ketawa itu, pe­dangnya membacok dari atas!

“Manusia berbahaya perlu dibasmi!” Tiba-tiba Ketua Thian-liorg-pang itu ber­kata dan tangan kirinya bergerak dari atas, ketika pedang itu tiba ia menjepit pedang dari atas dengan jari tangannya yang ditekuk! Bukan main hebatnya ilmu ini yang tentu saja hanya mampu dilaku­kan oleh orang yang kepandaiannya sudah tinggi sekali dan sin-kangnya sudah amat kuat. Tan-siucai terkejut, berusaha me­narik pedang namun pedang itu seperti dijepit oleh tang baja dan sama sekali tidak mampu ia gerakkan. Saat itu Ketua Thian-liong-pang sudah menyodokkan jari-jari tangan kanannya ke arah perut Tan-siucai yang kalau mengenai sasaran tentu akan mengoyak kulit perut!

“Aiihhhh....!” Tiba-tiba Ketua Thian-liong-pang itu memekik, pekik seorang wanita yang terkejut dan ngeri, kemudi­an tubuhnya meloncat jauh ke belakang, sepasang mata di balik kerudung itu terbelalak.

Tan-siucai yang tadinya sudah hilang harapan dan maklum bahwa dia teran­cam bahaya maut, menjadi kaget dan girang sekali melihat wanita sakti itu meloncat mundur, tidak jadi membunuh­nya. Saking girangnya, gilanya kumat dan ia meloncat pergi sambil tertawa-tawa, “Ha-ha-ha, engkau tidak tega membunuhku, ha-ha-ha!”

Ketua itu masih bengong dan mem­biarkan Si Gila pergi. Tentu saja dia tadi meloncat ke belakang bukan karena tidak tega membunuh Tan-siucai, mela­inkan ketika tangannya hampir mengenai perut lawan, tiba-tiba ada sinar putih yang luar biasa keluar dari balik jubah bagian perut. Sinar putih ini mengandung hawa mujijat sehingga mengagetkan Ke­tua Thian-liong-pang yang maklum bahwa sinar yang mengandung hawa seperti itu hanyalah dimiliki sebuah pusaka yang maha ampuh!

“Sayang engkau melepaskan Si Gila itu,” Kwi Hong berkata ketika melihat Tan-siucai menghilang.

Ketua Thian-liong-pang itu agaknya baru sadar akan kehadiran Kwi Hong. Dia menoleh dan memandang anak itu, di dalam hatinya merasa suka dan ka­gum. Anak yang bertulang baik, berhati keras dan penuh keberanian.

“Sudah cukup kalau engkau terbebas darinya,” ia berkata. “Anak, engkau sia­pakah dan mengapa engkau ditangkap Si Gila?”

“Aku tidak tahu dengan orang apa aku bicara. Apakah engkau tidak mau membuka kerudungmu sehingga aku da­pat memanggilmu dengan tepat?” Kwi Hong bertanya, memandang muka berke­rudung itu dan diam-diam ia kagum ka­rena dia sudah mendengar akan nama besar Thian-liong-pang dan tadi pun sudah menyaksikan sendiri kelihatan wani­ta ini sehingga timbul keinginan untuk melihat bagaimana kalau wanita ini ber­tanding melawan pamannya!

Wanita itu menggeleng kepala. “Tidak seorang pun boleh melihat mukaku, ke­cuali.... kecuali.... yah, tak perlu kau tahu. Sebut saja aku Bibi. Engkau siapa­kah?”

“Bibi yang perkasa, aku adalah Giam Kwi Hong, murid dan juga keponakan dari To-cu Pulau Es.”

“Pendekar Siluman....!” Wanita berke­rudung itu bertanya, jelas kelihatan ter­kejut bukan main. Besar rasa hati Kwi Hong. Semua orang mengenal pamannya, mengenal dan takut. Agaknya wanita perkasa ini tidak terkecuali, maka ia menjadi bangga, tersenyum dan mengang­guk.

“Benar, dan Si Gila itu tadi sengaja menculikku karena dia memusuhi Paman Suma Han. Katanya Pamanku membunuh kekasihnya, tunangannya. Kurasa dia bohong karena dia gila. Kalau saja Pa­man tidak dipancing pergi, mana dia mampu menculikku?”

“Di mana Pamanmu sekarang? Apa yang terjadi?”

“Paman sedang membuat pedang pu­saka bersama kakek yang bernama Naya­kavhira. Pedang sudah jadi dan karena Kakek itu hendak menapai pedang, Pa­man pergi untuk mencari garuda kami. Paman datang dan mengatakan bahwa se­pasang garuda dibunuh orang, kemudian ternyata bahwa pedang pusaka itu lenyap. Baru tadi kuketahui bahwa pedang yang baru jadi diambil oleh Si Gila. Maka sayang tadi kaulepaskan dia, seharusnya pedang itu dirampas dulu, Bibi.”

“Ahhhh....!” Ketua Thian-liong-pang itu kagum bukan main. Kiranya benar dugaannya. Si Gila itu menyelipkan seba­tang pedang pusaka yang amat ampuh di pinggangnya. Dia menyesal mengapa ta­di tidak mengejar dan merampas pedang itu.

“Ketika Paman membakar pondok untuk memperabukan jenazah Nayakavhira yang kedapatan sudah mati tua di pondok, ada suara ketawa. Paman cepat pergi mencari dan tiba-tiba muncul Si Gila itu, dan aku diculik.....”

“Hemm.... kalau begitu Pamanmu tidak jauh dari sini. Mari kuantar engkau me­nyusulnya.” Tanpa menanti jawaban, wa­nita itu memegang lengan Kwi Hong dan anak ini kagum bukan main. Kembali dia membandingkan wanita ini dengan pa­mannya, karena digandeng dan dibawa lari seperti terbang seperti sekarang ini hanya pernah ia alami ketika dia diba­wa lari pamannya.

Tiba-tiba wanita itu berhenti dan me­nuding ke depan. Kwi Hong memandang dan terbelalak heran menyaksikan pa­mannya itu sedang duduk bersila di atas tanah, tongkatnya melintang di atas ka­ki tunggal, kedua tangannya dengan ta­ngan terbuka dilonjorkan, matanya terpe­jam dan dari kepalanya keluar uap putih yang tebal! Adapun kira-kira sepuluh me­ter di depannya tampak seorang kakek bersorban seperti Nayakavhira, hanya be­danya kalau Kakek Nayakavhira berkulit putih, orang ini berkulit hitam arang, memakai anting-anting di telinga, hidungnya seperti paruh kakatua, jenggotnya panjang dan dia pun bersila seperti Suma Han dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada dan matanya melo­tot lebar, juga dari kepalanya keluar uap tebal. Baik Suma Han maupun kakek hitam itu sama sekali tidak bergerak se­olah-olah mereka telah menjadi dua bu­ah arca batu!

“Paman....!” Tiba-tiba mulut Kwi Hong didekap tangan Ketua Thian-liong-pang yang berbisik.

“Anak bodoh, tidak tahukah engkau bahwa Pamanmu sedang bertempur mati-matian melawan kakek sakti itu? Mere­ka mengadu sihir dan kalau engkau mengganggu Pamanmu, dia bisa celaka. Kau tunggu saja di sini sampai pertem­puran selesai, baru boleh mendekati Pamanmu. Aku mau pergi!” Setelah berka­ta demikian, sekali berkelebat, Ketua Thian-liong-pang itu lenyap dari belakang Kwi Hong yang tidak mempedulikannya lagi karena perhatiannya tertumpah ke­pada pamannya.

Kwi Hong sama sekali tidak tahu bahwa sebelum dia tiba di tempat itu, Bun Beng telah lebih dulu melihat per­tandingan yang amat luar biasa itu, ber­sembunyi di tempat lain dan memandang dengan napas tertahan dan mata terbe­lalak. Dibandingkan dengan Kwi Hong, dia jauh lebih terheran karena apa yang dilihatnya tidaklah sama dengan apa yang dilihat Kwi Hong! Kalau Kwi Hong ha­nya melihat pamannya duduk bersila melonjorkan kedua lengan ke depan mengha­dapi kakek hitam yang bersila dan merangkapkan tangan depan dada, Bun Beng melihat betapa di antara kedua orang sakti yang duduk bersila tak bergerak seperti arca itu terdapat seorang Suma Han ke dua yang sedang bertanding dengan hebatnya melawan seorang kakek hitam ke dua pula, seolah-olah bayangan mereka yang sedang bertanding!

Mengapa bisa begitu? Mengapa kalau Kwi Hong tidak melihat ada yang bertanding? Karena dia baru saja tiba sehingga dia tidak dikuasai pengaruh mujijat seperti yang dialami Bun Beng. Ketika Bun Beng berlari secepatnya mengejar Tan-siucai yang menculik Kwi Hong secara ngawur ke timur karena dia sudah tertinggal jauh sehingga penculik itu ti­dak tampak bayangannya lagi dan na­pasnya mulai memburu, dia melihat Su­ma Han sedang bertanding melawan se­orang kakek hitam. Pertandingan yang amat hebat dan cepat sekali sehingga pandang mata Bun Beng menjadi kabur dan kepalanya pening. Dia melihat beta­pa tubuh Pendekar Siluman itu mencelat ke sana ke mari sedangkan tubuh kakek hitam itu berputaran seperti sebuah gasing. Begitu cepat pertandingan itu se­hingga dia tidak dapat mengikuti dengan pandang matanya. Dia tidak berani mem­perlihatkan diri biarpun ketika melihat Suma Han dia menjadi girang sekali dan ingin menceritakan tentang Kwi Hong yang diculik orang. Menyaksikan pertan­dingan yang hebat itu dia lupa segala, lupa akan Kwi Hong yang diculik orang dan ia menonton sambil bersembunyi de­ngan mata terbelalak.

Tiba-tiba kakek itu terlempar sam­pai sepuluh meter jauhnya dan terdengar kakek itu berkata, “Pendekar Siluman, engkau hebat sekali. Tetapi aku masih belum kalah. Lihat ini!” Kakek itu lalu duduk bersila, merangkapkan kedua ta­ngan depan dada sambil mengeluarkan bunyi menggereng hebat sekali dan.... hampir Bun Beng berseru kaget ketika melihat betapa dari kepala kakek itu mengepul uap kehitaman tebal dan mun­cul seorang kakek ke dua, persis seperti seorang kakek itu sendiri!

“Maharya, engkau hendak mengadu kekuatan batin? Baik, aku sanggup mela­yanimu!” Kata Suma Han yang segera duduk bersila dan juga dari kepalanya mengepul uap putih yang tebal dan dari uap ini terbentuklah seorang Suma Han kedua yang bergerak maju menghadapi “bayangan” kakek hitam, kemudian kedua bayangan itu bertanding dengan hebat! Suma Han melonjorkan kedua tangan ke depan dan gerakan bayangannya menjadi makin cepat dan kuat! Bun Beng yang terkena getaran pengaruh mujijat, dapat melihat kedua bayangan yang bertanding itu, yang tidak dapat tampak oleh Kwi Hong yang baru tiba.

Bun Beng yang dapat menyaksikan pertandingan aneh itu, dengan mata ter­belalak dan muka pucat menonton. Ia melihat gerakan bayangan kakek itu aneh, berloncatan menyerang bayangan Suma Han dengan jari-jari tangannya. Kedua tangan hanya menggunakan dua buah jari, telunjuk dan tengah, untuk menusuk-nusuk dengan cepat sekali, sedangkan kedua ka­kinya berloncatan seperti gerakan kaki katak. Terdengar bunyi angin bercuitan ketika kedua tangannya menusuk-nusuk. Namun gerakan bayangan Suma Han yang tidak bertongkat itu tetap tenang biarpun cepatnya membuat mata Bun Beng sukar mengikutinya. Bayangan Pen­dekar Super Sakti ini mencelat ke sana-sini menghindarkan semua tusukan jari tangan lawan, bahkan membalas dengan pukulan kedua tangan yang mendatang­kan angin sehingga kain panjang lebar yang menjadi pakaian kakek hitam, hanya dibelitkan, berkibar oleh angin pukulan itu.

Tubuh kedua bayangan itu seolah-olah tidak menginjak tanah, kadang-kadang keduanya membubung tinggi dan bertan­ding di udara, kemudian turun lagi ke atas tanah. Bun Beng yang menonton pertandingan itu menjadi bingung, sukar mengikuti gerakan kedua bayangan itu sehingga dia tidak tahu siapa yang men­desak dan siapa yang terdesak. Hanya dia melihat Suma Han yang bersila itu masih duduk tenang tak bergerak sedikit juga, kedua mata dipejamkan. Sedangkan kakek hitam yang bersila itu matanya makin melotot mukanya mulai berpeluh dan kedua tangan yang dirangkapkan di depan dada itu bergoyang menggigil se­dikit. Dan biarpun ada pertempuran yang demikian hebatnya, tidak terdengar suara sedikit pun juga. Keadaan sunyi sekali, sama sunyinya seperti yang dirasakan Kwi Hong yang hanya melihat dua orang sakti itu duduk bersila berhadapan tanpa bergerak. Baik Kwi Hong maupun Bun Beng yang masing-masing bersembunyi di tempat terpisah dan tidak saling melihat, merasa khawatir karena saking sunyinya, mereka itu hanya mendengar suara pernapasan mereka sendiri yang tertahan-tahan!

Sementara itu, mereka yang saling bertanding mengadu kesaktian mengerah­kan seluruh kekuatan batin untuk meng­himpit lawan. Diam-diam Maharya terke­jut bukan main. Kalau tadi, ketika ia memancing Pendekar Siluman ke tempat itu kemudian ia tantang dan serang, da­lam pertandingan silat dia terdesak bah­kan sampai terdorong dan terlempar ja­uh, dia tidak menjadi penasaran karena memang dia sudah mendengar berita bahwa Pendekar Siluman memiliki ilmu silat yang luar biasa dan tenaga sin-kang yang dahsyat. Maka dia lalu mengambil cara lain, yaitu menghadapi lawannya dengan ilmu sihir dan ia merasa yakin pasti akan dapat menang. Dia terkenal di negaranya sebagai seorang ahli sihir yang tangguh. Akan tetapi, betapa ka­getnya ketika ia melihat Pendekar Silu­man menandinginya dengan ilmu yang sama, bahkan kini ia merasa betapa kekuatan batinnya terdesak hebat!

Kakek ini merasa penasaran sekali. Dalam hal mengadu kekuatan raga, dia tidak pernah menemui tanding, apalagi dalam mengadu kekuatan batin. Kini, berhadapan dengan seorang lawan muda yang patut menjadi cucunya, dia selalu tertindih kalah lahir batin! Hampir dia tidak mau percaya akan kenyataan itu dan dengan geram ia menggerakkan mu­lut yang tertutup kumis itu berkemak-kemik, mengerahkan segala kekuatannya dan pandang mata yang melotot itu se­olah-olah mengeluarkan api!

Bun Beng yang kebetulan memandang kakek yang duduk bersila itu hampir berteriak kaget melihat betapa sepasang mata kakek itu seperti mengeluarkan api! Dia cepat menengok ke arah Suma Han dan melihat betapa pendekar itu ke­lihatan mengerutkan alis, tidak tenang seperti tadi, dan kedua lengannya yang dilonjorkan itu tergetar seolah-olah hen­dak menambah tenaga yang keluar dari sepasang telapak tangannya.

Memang Suma Han juga terkejut se­kali ketika tiba-tiba ia merasa betapa kekuatan kakek lawannya itu menjadi berlipat! Hawa panas menyerangnya se­hingga ia cepat mengerahkan inti sari dari Swat-im Sin-kang. Setelah kedua te­naga panas dan dingin itu saling dorong-mendorong, akhirnya dia merasa betapa hawa panas berkurang. Keningnya tidak berkerut lagi, akan tetapi tampak bebe­rapa tetes keringat membasahi dahi Su­ma Han. Benar-benar hebat lawannya itu, pikirnya. Belum pernah selama hi­dupnya dia bertemu dengan seorang la­wan sehebat Kakek Maharya ini! Kalau dalam hal ilmu silat dia hanya memang sedikit saja, dalam hal ilmu yang didasari kekuatan batin, dia tidak berani menga­takan lebih kuat! Hanya yang mengun­tungkan dirinya, kekuatan batin yang di­milikinya adalah pembawaan dirinya, dibentuk oleh kekuatan alam dan dima­tangkan dengan ilmu sin-kang dan pela­jaran yang ia terima menurut petunjuk Koai-lojin. Sedangkan kekuatan batin kakek lawannya itu dikuasainya oleh la­tihan-latihan yang puluhan tahun lama­nya. Betapapun hebat usaha manusia, mana mampu menandingi kekuatan dan kekuasaan alam? Maka dalam pertanding­an ini, Suma Han yang mengandalkan te­naga batin dari kekuasaan alam, sukar untuk dikalahkan oleh kakek yang telah menjadi datuk dalam ilmu sihir itu.

Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan tampak tiga sinar putih yang menyilaukan mata menyambar ke arah tubuh kakek hitam itu, menyambar muka di antara mata, ulu hati dan pusar!

“Eigghhhh....!” Kakek itu mengeluar­kan suara menggereng seperti harimau, tangannya yang tadinya dirangkap di de­pan dada bergerak dan mulutnya terbuka. Bun Beng terbelalak menyaksikan betapa kakek itu telah menangkap tiga sinar itu yang ternyata adalah tiga batang pi­sau, ditangkap dengan kedua tangan, sedangkan yang menyambar muka telah digigitnya! Bayangan kakek yang bertan­ding melawan bayangan Suma Han telah lenyap masuk kembali ke kepala kakek itu, demikian pula bayangan Suma Han telah lenyap. Sekali menggerakkan tubuh, kakek itu sudah meloncat berdiri dan tampak tiga sinar menyambar ke arah kirinya ketika ia melontarkan tiga ba­tang pisau itu ke arah dari mana da­tangnya pisau-pisau tadi. Kemudian ia meloncat jauh dan lenyap, hanya terde­ngar suaranya.

“Pendekar Siluman! Lain kali kita lanjutkan!”

Sunyi keadaan di situ setelah kakek itu menghilang. Suma Han bangkit berdi­ri bersandar kepada tongkatnya, meno­leh ke arah dari mana datangnya pisau-pisau tadi dan berkata, suaranya dingin dan penuh wibawa seperti orang marah.

“Siapa yang telah berani lancang tu­run tangan tanpa diminta?”

Daun bunga bergerak dan muncullah seorang wanita amat cantik jelita dari balik rumpun, berdiri di depan Suma Han tanpa berkata-kata. Keduanya sa­ling pandang dan berseru, suaranya menggetar penuh perasaan,

“Nirahai....!”

“Han Han....!”

Keduanya berdiri saling pandang dan sungguhpun dalam suara mereka terkan­dung kerinduan yang mendalam, namun keduanya hanya saling pandang dan dari kedua mata wanita cantik itu menetes air mata berlinang-linang.

“Han Han, bertahun-tahun aku menan­ti akan tetapi engkau tidak kunjung da­tang menyusulku. Sampai kapankah aku harus menanti? Sampai dunia kiamat? Han Han, aku isterimu!”

“Nirahai, engkau.... telah pergi me­ninggalkan aku, membuat hatiku mera­na....”

“Memang aku pergi, akan tetapi eng­kau tidak melarang!”

“Aku.... ah, aku tidak ingin memaksa­mu.... aku.... ahh....”

“Han Han, engkau laki-laki lemah! Engkau suami yang hanya tunduk dan mengekor kepada isteri, engkau pria yang tidak tahu isi hati wanita. Engkau.... ahh, sakit hatiku melihatmu....!”

“Nirahai....!” Suma Han melangkah maju dan merangkul wanita itu. Nirahai tersedu dan menyembunyikan muka di dada suaminya, membiarkan Suma Han mengelus rambutnya, “Nirahai, aku cinta padamu. Demi Tuhan, aku cinta padamu.... akan tetapi karena engkau mempu­nyai cita-cita, aku merelakan engkau pergi....”

“Ibuuuu....!” Terdengar teriakan girang dan muncullah Milana berlarian. Mende­ngar teriakan ini, Nirahai melepaskan pelukan Suma Han dan menyambut Milana dengan tangan terbuka, lalu memon­dong anak itu dan menciuminya penuh kegirangan, “Milana....! Anakku....! Ahhh, sukur engkau selamat. Betapa gelisah ha­tiku mendengar laporan Pamanmu tentang malapetaka di laut itu!”

Suma Han memandang dengan wajah pucat sekali. “Milana!” Dia membentak, suaranya mengguntur, mengagetkan Kwi Hong dan Bun Beng di tempat persembunyian masing-masing di mana kedua orang anak ini tertegun menyaksikan adegan pertemuan antara Suma Han dan isterinya yang tidak mereka sangka-sangka itu. “Engkau perempuan rendah, isteri tidak setia! Engkau meninggalkan aku dan tahu-tahu telah mempunyai se­orang anak! Ahhh, betapa menyesal ha­tiku telah mentaati perintah mendiang Subo....!” Setelah berkata demikian dengan pandang mata penuh jijik dan kebencian, Suma Han membalikkan tubuhnya dan pergi berjalan terpincang-pincang me­ninggalkan Nirahai. Nirahai menjadi pu­cat, terbelalak dan menurunkan Milana yang berdiri memeluk pinggang ibunya dan bertanya.

“Ibu....! Dia siapa....? Mengapa To-cu Pulau Es itu marah-marah kepadamu?”

Nirahai menangis mengguguk. “Dia.... dia Ayahmu....” Suaranya gemetar dan ia menutupi mukanya dengan kedua ta­ngan, menangis tersedu-sedu.

Milana cepat menoleh, kemudian lari meninggalkan ibunya, mengejar Suma Han sambil menjerit. “Ayaaahhh....! Ayah....!”

Mendengar jeritan anak itu, cepat Suma Han membalik, mengira bahwa dia tentu akan melihat munculnya laki-laki yang menjadi ayah dari anak Nirahai itu. Akan tetapi, ia menjadi bingung dan terheran-heran ketika melihat anak itu mengejarnya, kemudian menjatuhkan diri berlutut dan memeluk kakinya sambil menangis dan memanggil-manggil. “Ayaahh.... ayaahku....!”

Suma Han terbelalak memandang bo­cah yang menangis memeluki kaki tung­galnya, kemudian mengangkat muka memandang Nirahai yang masih menangis tersedu-sedu menutupi muka dengan ke­dua tangan sambil berlutut di atas ta­nah.

“Heh....! Apa....! Bagaimana....? Eng­kau.... anak siapa....?”

“Ayah.... engkau Ayahku.... aku anak Ayah dan Ibu.....” Milana mengangkat muka.

Tubuh Suma Han menggigil dan ia menyambar tubuh Milana, diangkat dan dipondongnya. “Anakku? Engkau.... anak­ku....?” Ia menciumi muka bocah itu. Milana tertawa dengan air mata bercu­curan, merangkul leher pendekar yang dikagumi dan yang dirindukan itu.

Suma Han berpincang melangkah ke depan Nirahai. “Nirahai.... benarkah ini? Dia.... dia ini.... anakku....?”

Nirahai mengangguk, mengusap air matanya. “Ketika kita saling berpisah.... aku mengandung dan.... terlahirlah Mila­na.... anak kita....”

“Nirahai, engkau kejam, engkau tidak adil. Diam-diam saja engkau memeliha­ra anak kita sampai begini besar. Tidak memberitahukan kepadaku, tidak menyu­sulku. Betapa kejam engkau.”

Nirahai meloncat bangun, pandang ma­tanya penuh penasaran. “Siapa yang ke­jam? Engkaulah yang kejam, lemah dan canggung! Engkau tidak pernah menca­riku, tidak pernah menyusulku ke Mongol!”

Melihat ayah bundanya cekcok, Mila­na yang berada di pondongan ayahnya itu berkata. “Ayah, marilah engkau ikut bersama kami....”

“Dan menjadi seorang Pangeran Mo­ngol? Ha-ha, nanti dulu! Aku tidak sudi! Semestinya ibumu yang ikut bersamaku ke Pulau Es. Nirahai, maukah engkau?”

Akan tetapi Nirahai memandang de­ngan muka merah dan berapi. “Tidak sudi! Kini aku tidak mau menyembah-nyembah minta kaubawa. Dan hanya de­ngan paksaan saja engkau akan dapat membawaku ke sana. Dengan paksaan, kau dengar? Aku sudah cukup menderita dan sakit hati karena kaubiarkan, seolah-olah aku bukan isterimu. Engkau laki-laki lemah! Milana, mari kita pergi!”

“Tidak boleh, Nirahai. Milana ini anakku. Sudah terlalu lama dia kaupeli­hara sendiri, terlalu lama kaupisahkan dari Ayahnya. Aku akan membawa dia, tak peduli engkau suka ikut atau tidak!”

“Ayah....! Aku tidak mau meninggal­kan Ibu!” Milana merosot turun dari pon­dongan dan hendak lari kepada ibunya. Akan tetapi Suma Han mendengus ma­rah, lengan kanannya menyambar tubuh Milana, dikempitnya dan dia lalu pergi dengan cepat meninggalkan Nirahai.

“Han Han....!” Nirahai menjerit dan mengejar. Namun Suma Han tidak pedu­li, wajahnya keruh, matanya hampir ter­pejam, kaki tunggalnya melangkah terus ke depan.

“Lepaskan aku! Ayahhhh.... aku tidak mau meninggalkan Ibu....!” Milana men­jerit-jerit. Akan tetapi Suma Han terus saja melangkah tanpa mempedulikan jerit anaknya.

Tiba-tiba Bun Beng meloncat dan menghadang di depan Suma Han, berdiri tegak dan suaranya nyaring penuh rasa penasaran, “Suma-taihiap! Seorang pen­dekar seperti Taihiap tidak boleh berla­ku begini! Memisahkan anak dari ibunya adalah perbuatan jahat! Kalau Taihiap berkepandaian, mengapa tidak memba­wa Ibunya sekalian?”

Suma Han terbelalak, mukanya ber­ubah merah saking marahnya. “Gak Bun Beng! Engkau anak tidak syah dari da­tuk kaum sesat Kang-touw-kwi Gak Liat, berani engkau bersikap seperti ini kepadaku! Sebelum menutup mata, Ibumu berpesan kepadaku untuk menyelamatkanmu, dan sekarang engkau mengatakan aku jahat?”

Jantung Bun Beng seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan ini. Ayahnya seorang datuk kaum sesat? Dia anak tidak syah? Tidak ada ucapan yang le­bih menyakiti hatinya dari pada ini dan tidak ada kenyataan yang akan lebih menghancurkan hatinya. Namun kekerasan hati Bun Beng membuat ia tetap ber­diri tegak dan berkata,

“Keturunan orang macam apa adanya aku, Suma-taihiap, tetap saja aku mela­rang engkau memisahkan Milana dari Ibunya! Biar akan kaubunuh aku siap!” Sikap Bun Beng gagah sekali biarpun kedua matanya kini mengalirkan butiran-butiran air mata.

“Han Han....! Kaubunuh aku dulu sebe­lum melarikan anakku!” Nirahai telah meloncat menghadang pula di depan Su­ma Han, mencabut sebatang pedang siap untuk mengadu nyawa! Juga kedua mata wanita cantik ini bercucuran air mata.

“Paman....!” Kwi Hong yang sejak ta­di memandang dengan tubuh gemetar saking tegang hatinya, kini berani melon­cat keluar dan menghampiri Suma Han, berlutut sambil menangis.

“Ayah.... aku tidak mau berpisah dari Ibu....!” Milana yang masih dikempit oleh lengan ayahnya itu pun meratap sambil menangis.

Suma Han berdiri seperti berubah menjadi arca. Suara isak tangis menusuk-nusuk telinganya terus ke hati, linangan air mata seperti butiran-butiran mutiara itu mempesonanya. Kekuatan batin dan kekerasan hatinya mencair, seperti salju tertimpa sinar matahari.

Tidak ada suara bagi manusia di du­nia ini melebihi kekuasaan suara tangis! Tangis adalah suara jeritan hati dan ji­wa. Tangis adalah suara pertama yang dikenal dan suara pertama yang keluar dari mulut manusia. Tangis merupakan suara pertama dari manusia tanpa dipelajarinya. Begitu terlahir, suara perta­ma dari manusia adalah tangis. Tangis merupakan suara langsung dari dalam sehingga setiap orang anak yang terlahir di segenap penjuru dunia mempunyai suara tangis yang sama. Tangis adalah satu-satunya suara yang mampu menem­bus jantung dan menyentuh batin manusia, juga dengan ratap tangis orang berusaha menghubungkan diri dengan Tuhan!

Lemas seluruh urat syaraf di tubuh Suma Han mendengar isak tangis empat orang manusia itu. Tubuh Milana dilepaskan dan anak ini berlari kepada ibunya, merangkul dan menangis. Nirahai lalu memondong puterinya, memandang kepa­da Suma Han dan berkata,

“Selama engkau masih menjadi se­orang laki-laki yang berwatak lemah, aku tidak akan sudi turut bersamamu bahkan aku akan mengimbangi kerajaan­mu di Pulau Es!” Setelah berkata demi­kian, Nirahai meloncat dan berlari ce­pat sekali, sebentar saja lenyap dari situ.

Suma Han menundukkan mukanya. Untuk ke dua kalinya dia terpukul. Per­tama kali ketika bertemu dengan Lulu yang kini menjadi Majikan Pulau Neraka. Dia dicela dan dimarahi. Kini, bertemu dengan isterinya, Nirahai, kembali dia dicela dan dimusuhi. Benar-benar dia tidak mengerti isi hati wanita!

“Kwi Hong, kita pulang!” Dia berka­ta, menggandeng tangan Kwi Hong dan berlari pergi cepat.

Bun Beng menjadi bengong. Dia tidak menyesal ditinggal seorang diri, akan te­tapi dia masih merasa sakit hatinya mendengar ucapan Suma Han tadi. Masih terngiang di telinga kata-kata pendekar yang tadinya amat dikaguminya itu, “Engkau anak tidak syah dari datuk ka­um sesat Kang-thouw-kwi Gak Liat!”

Bun Beng menunduk, mencari-cari jawaban ke bawah akan tetapi rumput dan tanah yang diinjaknya tidak dapat memberi jawaban. Ayahnya seorang datuk kaum sesat? Dan dia anak tidak syah? Apa artinya ini?

“Ah, mengapa aku menjadi lemah begi­ni? Apa peduliku tentang asal-usulku? Aku adalah seorang manusia, dan aku menjadi mausia bukan atas kehendakku! Aku sudah ada dan aku harus bangga dengan keadaanku, harus berjuang mem­pertahankan keadaanku dan menyempurnakan keadaanku! Mereka itu pun hanya manusia-manusia yang ternyata bukan terbebas daripada derita, bukan bersih daripada cacad! Kekalahanku dari orang-orang sakti seperti Pendekar Siluman, isterinya, pencuri pedang, dan kakek-kakek sakti seperti mendiang Nayakavhira dan Maharya tadi hanyalah kalah pandai dalam penguasaan ilmu! Akan tetapi ilmu dapat dipelajari! Mereka semua itu, dahulu sebelum mempelajari ilmu pun tidak bisa apa-apa seperti dia! Dan dia masih muda, apalagi sedikit-sedikit per­nah mempelajari ilmu, dan ada kitab yang telah dihafal namun belum dilatih­nya dengan sempurna, ada sepasang pedang yang disembunyikan di puncak tebing. Sepasang pedang pusaka! Pedang yang mengeluarkan sinar mengerikan, seperti pedang yang dibuat oleh Suma Han. Jangan-jangan itu adalah Sepasang Pedang Iblis yang mereka cari-cari bahkan yang khusus dibuatkan pedang lawannya oleh Nayakavhira. Biarlah. Biar, andaikata sepasang pedang itu adalah Sepasang Pedang Iblis, kelak dia akan memperli­hatkan kepada dunia bahwa di tangannya, sepasang pedang itu tidak akan menjadi senjata yang dipakai melakukan perbuatan jahat!

Bangkit semangat Bun Beng dan mulailah dia meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Siauw-lim-pai. Dia harus melapor akan kematian suhunya kepada pimpinan Siauw-lim-si dan mempelajari ilmu dengan tekun karena menurut penu­turan mendiang suhunya, kalau mempela­jari benar-benar secara sempurna dan memang ada jodoh ilmu silat dari Siauw-lim-pai tidak kalah oleh ilmu silat lain di dunia ini. Pernah gurunya bercerita tentang tokoh Siauw-lim-pai bernama Kian Ti Hosiang yang memiliki tingkat kepandaian luar biasa tingginya sehing­ga saking tinggi ilmu kepandaiannya, sampai tidak mau lagi melayani orang bertanding, bahkan tidak mau membalas andaikata dia dilukai atau dibunuh seka­lipun! Pernah pula gurunya bercerita tentang manusia dewa Bu Kek Siansu yang selain tidak mau bertempur melu­kai apalagi membunuh orang lain, bahkan sering kali menurunkan ilmunya kepada siapa saja yang kebetulan bertemu de­ngannya, yang dianggap sudah jodoh, tanpa memandang apakah orang itu ter­masuk golongan baik ataupun jahat, ber­sih ataupun kotor! Sikap manusia dewa ini seperti sikap kasih sayang alam, di mana sinar matahari tidak menyembu­nyikan sinarnya dari atas kepada orang jahat maupun orang baik, di mana po­hon-pohon tidak menyembunyikan bunga dan buahnya dari uluran tangan orang jahat maupun orang baik! Kemudian gu­runya bercerita pula tentang manusia aneh Koai-lojin yang kabarnya malah masih suka muncul biarpun belum tentu ada seorang di antara sepuluh ribu to­koh kang-ouw yang dijumpai manusia aneh ini, yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang seperti dewa pula na­mun tidak mau bertempur, melukai, apa­lagi membunuh orang.

Dia masih muda. Dunia masih lebar. Masa depannya masih terbentang luas. Mengapa langkah hidupnya harus terha­lang oleh masa lalu mengenai diri orang tuanya! Baik maupun jahat orang tua­nya, biarlah. Hal itu sudah lalu dan yang ia hadapi adalah masa depan. Masa lalu penuh kejahatan akan tetapi masa depan penuh kebaikan, bukankah hal itu jauh lebih menang daripada masa lalu penuh kebaikan namun masa depan penuh kejahatan? Apa arti bersih masa lalu akan tetapi amat kotor di masa depan, dan biarlah dia menganggap masa lalu seba­gai alam mimpi, sungguhpun dia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi di masa lalu, yang terjadi dengan ayah bun­danya.

Makin dijalankan pikirannya, makin lapanglah dadanya dan langkahnya pun tegap, wajahnya berseri dan sepasang matanya bersinar. Setelah dia berhasil tiba di kuil Siauw-lim-si dan mencerita­kan tentang kematian suhunya, berita ini diterima dingin oleh para hwesio pimpinan Siauw-lim-pai yang mengang­gap bahwa kakek itu sudah bukan se­orang anggauta Siauw-lim-pai lagi. Akan tetapi mengingat bahwa Gak Bun Beng adalah putera seorang tokoh wanita Siauw-lim-pai, dan betapapun juga Siauw Lam Hwesio adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang berilmu tinggi, para pim­pinan Siauw-lim-pai tidak berkeberatan menerima Bun Beng. Pemuda cilik itu mulai berlatih dengan giat disamping bekerja keras seperti yang pernah dilakukan gurunya, yaitu menjadi pelayan, tu­kang kebun, dan pekerjaan apa saja un­tuk melayani keperluan kuil dan mem­bantu para hwesio.

Nirahai, bekas puteri Raja Mancu yang berwatak keras dan berilmu tinggi itu kini sudah berhenti menangis. Ke­kerasan hatinya dapat menindih kedukaan dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk menghadapi orang yang dicintanya namun yang selalu mengalah dan berwa­tak lemah itu dengan kekerasan. Di tengah jalan, dia menurunkan puterinya untuk memakai sebuah kerudung menutupi kepalanya. Melihat ini, Milana ter­kejut dan heran.

“Ibu, mengapa Ibu memakai itu?”

Dari dalam kerudung itu terdengar ja­waban suara dingin seolah-olah ibunya telah berubah tiba-tiba setelah berkerudung, “Milana, mulai saat ini engkau akan turut bersamaku, tidak akan kembali ke Mongol lagi. Ketahuilah, ibumu adalah Ketua Thian-liong-pang dan tidak seorang pun boleh melihat mukaku kecuali engkau.”

Milana memandang kepala berkeru­dung itu dengan mata terbelalak, “Ibu....! Engkau Ketua Thian-liong-pang yang ter­kenal itu....? Akan tetapi mengapa....?” Hati anak ini ngeri karena Thian-liong-pang disohorkan sebagai perkumpulan yang tidak segan-segan melakukan sega­la macam kekejaman sehingga ditakuti dunia kang-ouw.

“Diamlah. Kalau kita tidak kuat, orang tidak akan memandang kepada ki­ta! Engkau ikut bersamaku dan belajar ilmu sampai melebihi Ibumu. Hayo!” Dia menggandeng tangan Milana dan lari cepat sekali.

Adapun Suma Han yang membawa lari murid atau keponakannya, di sepan­jang jalan tidak pernah bicara. Wajah­nya muram dan dalam beberapa pekan saja bertambah garis-garis derita pada wajahnya. Karena sepasang burung garuda sudah tewas, mereka melakukan perja­lanan darat dan setelah tiba di pantai, Suma Han mencari sebuah perahu yag dibelinya dari nelayan, kemudian memperkuat perahu dan mulailah dia berlayar bersama Kwi Hong menuju ke pulau tempat tinggalnya, yaitu Pulau Es.

Dalam pelayaran ini, barulah Suma Han mengajak bicara keponakannya. Dia mendengarkan cerita Kwi Hong tentang peristiwa yang terjadi di hutan, betapa pencuri pedang pusaka adalah seorang siucai gila yang lihai sekali, bahkan siu­cai itu tadinya menculiknya yang kemudi­an dikalahkan oleh Nirahai dan melari­kan diri membawa pedang pusaka.

“Aihhhh.... kiranya dia....!” Suma Han menghela napas penuh penyesalan karena segala yang dialaminya di masa dahulu agaknya hanya menimbulkan bencana saja bagi dirinya sendiri dan orang lain. Apa­kah dia yang harus menebus dosa yang dilakukan nenek moyangnya, keluarga Suma yang luar biasa jahatnya?

“Apakah Paman mengenal Siucai gila itu?”

“Banyak yang sudah kauketahui, Kwi Hong. Engkau tentu mengenal siapa Pa­manmu sekarang, seorang yang penuh no­da dalam hidupnya. Orang gila itu agak­nya tidak salah lagi tentu yang disebut Tan-siucai dan menjadi murid Maharya. Aku belum pernah melihat orangnya, akan tetapi namanya sudah kudengar.”

“Paman, dia bilang bahwa Paman telah membunuh kekasihnya, tunangan atau calon isterinya. Tentu Si Gila itu bohong!”

Suma Han menggeleng kepala dan menghela napas panjang. Terbayang di depan matanya seorang gadis yang cantik dan gagah perkasa, yang dalam keadaan hampir tewas karena tubuhnya penuh dengan anak panah yang menancap di seluruh tubuh, berbisik dalam pelukan­nya bahwa gadis itu rela mati untuknya karena gadis itu mencintanya. Hoa-san Kiam-li Lu Soan Li, murid Im-yang Seng-cu yang perkasa, yang telah ber­korban untuk dia, dan sebelum menghem­buskan napas terakhir mengaku cinta. Gadis itu adalah tunangan Tan-siucai! Dia sudah diberi tahu oleh Im-yang Seng-cu, akan tetapi tadinya dia tidak peduli. Siapa mengira, begitu muncul Tan-siucai telah mencuri pedang pusa­ka, hampir berhasil menculik Kwi Hong, dan gurunya demikian saktinya sehingga kalau dia tidak memiliki kekuatan batin yang kuat, agaknya dia akan tewas di tangan Maharya!

“Dia tidak membohong, Kwi Hong. Biarpun aku tidak membunuh tunangan­nya, akan tetapi dapat dikatakan bahwa tunangannya itu tewas karena membela aku. Ahh, sungguh aku menyesal sekali. Akan tetapi, kalau Tan-siucai sudah menjadi gila, dia telah merampas pedang pusaka, dia berbahaya sekali. Pedang itu sengaja dibuat untuk menundukkan Sepa­sang Pedang Iblis.”

“Kenapa Paman hendak pulang? Bu­kankah lebih baik mengejar dia sampai berhasil merampas kembali pedang itu?”

Kembali Suma Han menggeleng kepa­la. “Semangatku lemah, aku tidak mem­punyai nafsu untuk berbuat apa-apa, ke­cuali pulang dan beristirahat. Kwi Hong, mulai sekarang engkau harus berlatih diri dengan tekun dan rajin. Tugasmu di masa mendatang amat berat dengan munculnya banyak orang pandai. Jangan sekali-kali kau melarikan diri dari pulau lagi karena aku tidak akan mengampun­kanmu lagi.”

Demikianlah, dengan semangat lemah dan hati remuk akibat pertemuan-perte­muannya dengan Lulu dan Nirahai, dua orang wanita yang dicintanya, yang per­tama karena dicintanya semenjak kecil, yang ke dua karena telah menjadi iste­rinya, bahkan menjadi ibu dari anaknya, Suma Han mengajak keponakannya pu­lang ke Pulau Es. Dia lalu memerintah­kan anak buahnya untuk tidak mencam­puri urusan luar, hanya melatih diri dan memperkuat penjagaan di pulau sendiri. Kemudian, mulai hari itu dia melatih il­mu kepada Kwi Hong dengan penuh ke­tekunan sehingga anak perempuan ini memperolah kemajuan yang pesat sekali.

***

Semenjak jatuhnya pertahanan ter­akhir dari Bu Sam Kwi di Se-cuan seba­gai sisa kekuatan dari Kerajaan Beng-tiauw yang jatuh beberapa tahun setelah Bu Sam Kwi tewas, yaitu pada tahun 1681, terjadilah perubahan besar di da­ratan Tiongkok yang kini dikuasai seluruh­nya oleh Kerajaan Ceng, yaitu pemerin­tah yang dipimpin oleh Bangsa Mancu. Sebentar saja kekuatan bangsa Mancu makin berakar dan lambat laun makin berkuranglah rasa kebencian dan permu­suhan dari rakyat terhadap pemerintah penjajah ini. Hal ini adalah terutama sekali disebabkan bangsa Mancu amat pandai menyesuaikan diri dengan keada­an dan kebudayaan di Tiongkok. Mereka itu biarpun menjadi penjajah menyaksi­kan kenyataan betapa besar dan hebat kebudayaan daratan yang dijajahnya, menerima kebudayaan itu bahkan melebur diri mereka seperti kedaan para pribu­mi. Mereka mempelajari bahasa pribumi, bahkan anak isterinya mempergunakan bahasa ini sehingga dalam satu keturun­an saja anak-anak mereka sudah tidak pandai lagi berbahasa Mancu dan meng­anggap bahasa Han sebagai bahasa me­reka sendiri!

Kerajaan Ceng-tiauw yang dipimpin oleh bangsa Mancu ini makin berkembang dan mencapai puncak kecemerlang­annya di bawah pimpinan Kaisar Kang Hsi yang memerintah dari tahun 1663 sampai 1722. Kaisar ini adalah seorang ahli negara yang cakap, pandai dan bijaksana. Di samping ini dia pun seorang ahli perang yang mengagumkan sehingga semua operasinya berhasil dengan baik, juga tidak terdapat rasa tidak puas di antara petugas-petugas bawahannya. Di samping ini, dia pun penggemar kebuda­yaan sehingga berhasil menarik pula hati para sasterawan pribumi yang men­dapat penghargaan dalam bidangnya.

Di bawah pimpinan Kaisar ini, Tiong­kok mencapai kekuasaan yang amat be­sar, jauh lebih besar daripada kerajaan-kerajaan sebelumnya dan kiranya malah lebih besar daripada keadaan Tiongkok di waktu Kerajaan Tang. Pertama-tama Kaisar Kang Hsi mengerahkan perhatian untuk membasmi gerombolan-gerombolan dan pemberontak-pemberotak, menghabis­kan semua perlawanan sehingga perang dihentikan dan keamanan dapat dikem­balikan. Dalam keadaan aman, rakyat dapat bekerja dengan tenang dan pemba­ngunan dapat dilaksanakan sebaiknya. Namun, setelah gerombolan-gerombolan di dalam negeri dapat ditumpas semua, Kaisar Kang Hsi harus menghadapi perlawanan dari negara-negara tetangga yang tidak mengakui kedaulatan keraja­an baru ini. Maka dikirimnyalah tentara besar sampai jauh ke selatan dan barat daya sehingga banyak negara di selatan dan barat daya ditundukkan dan terpak­sa mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng, bahkan mengaku takluk dan setiap tahun membayar atau mengirim upeti sebagai tanda takluk. Di antara negara-negara ini termasuk Afganistan, Kasmir, Birma, Muangthai, Vietnam, Kamboja, bahkan termasuk pula Malaysia!

Akan tetapi, selagi Kaisar Kang Hsi sibuk mengatur kesejahteraan dalam nege­ri untuk memakmurkan kehidupan rak­yat yang baru saja dilanda perang itu, meningkatkan dan memperkembangkan kesenian melukis, sastera, dan lain-lain di samping mempergiat pembangunan, datang lagi gangguan yang memaksa Kaisar ini menggerakkan bala tentara dan mencurahkan sebagian perhatiannya ke utara, di mana bangsa Mongol mulai ber­gerak dan memberontak terhadap peme­rintah Mancu. Seperti telah diceritakan dan menjadi catatan sejarah, ketika bangsa Mancu mulai bergerak ke selatan, mereka dibantu dengan gigih oleh bang­sa Mongol sebagai bangsa yang pernah lama menjajah Tiongkok dan masih ingin menguasai kembali bekas tanah jajahan itu. Karena kekuatannya sendiri sudah hancur, bangsa Mongol tahu diri dan membonceng bangsa Mancu, namun ha­rus diakui bahwa kekuatan bala tentara menjadi amat besar dan hebat berkat bantuan pasukan-pasukan Mongol ini. Akan tetapi, setelah bangsa Mancu ber­kuasa dan membangun Kerajaan Ceng, dengan tidak melupakan dan memberi kedudukan istimewa kepada bangsa Mo­ngol sebagai bangsa serumpun dan se­tingkat, mulailah bangsa Mongol merasa kecewa. Bangsa Mongol melihat kecen­derungan bangsa Mancu yang melebur diri dengan kebiasaan orang-orang Han sehingga makin lama mereka itu menja­di makin erat hubungannya dengan rak­yat, sedangkan rakyat masih tidak dapat melupakan penjajahan bangsa Mongol yang banyak menyengsarakan rakyat da­hulu. Maka bangsa Mongol merasa ma­kin lama makin tersudut, maka mulailah pemberontakan bangsa ini terhadap bang­sa Mancu.

Pemberontakan meletus pada tahun 1680 pada saat Se-cuan sudah tiba di ambang kekalahannya. Sehingga begitu Se-cuan sudah dijatuhkan, kembali peme­rintah Mancu yang dipimpin oleh Kaisar Kang Hsi itu harus menghadapi pembe­rontakan yang besar dan gigih yang dipimpin oleh seorang pangeran Mongol yang bernama Galdan.

Sepuluh tahun lewat dengan cepatnya semenjak peristiwa pertemuan antara Pendekar Super Sakti Suma Han dan Nirahai isterinya, pertemuan yang amat menyedihkan dan mengharukan. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek, na­mun juga tak dapat dikatakan waktu yang lama, tergantung dari pendapat masing-masing bertalian dengan keadaan dan pengalaman. Dalam waktu selama itu, banyak memang yang telah terjadi di dunia, khususnya di dunia kang-ouw yang kembali menjadi kacau dan geger berhu­bung dengan adanya perang antara pemerintah melawan bangsa Mongol. Kem­bali dunia kang-ouw terpecah belah, ada yang membela Pemerintah Ceng, ada pu­la yang membantu pemberontak, bukan karena suka kepada bangsa Mongol, melainkan kesempatan itu mereka perguna­kan untuk melawan penjajah. Akan teta­pi karena tidak ada peristiwa penting terjadi atas diri para tokoh penting ce­rita ini yang berdiam di tempat masing-masing menggembleng murid atau anak masing-masing, maka biarlah waktu sepu­luh tahun itu kita lewati saja.

Pemberontakan bangsa Mongol sudah berjalan belasan tahun. Perang menjadi berlarut-larut karena selain bangsa Mo­ngol memang memiliki bala tentara yang terlatih dan kuat, mereka dibantu banyak orang pandai dari dunia kang-ouw. Bah­kan banyak pula orang sakti dari negara-negara tetangga yang dipaksa mengirim upeti kepada Pemerintah Ceng, diam-diam membantu bangsa Mongol dalam usaha mereka membalas dendam atas kekalahan negaranya.

Di dunia persilatan memang terjadi perubahan akan kekacauan seperti telah diceritakan tadi. Diam-diam di antara mereka pun mengadakan “perang” sendiri, menggunakan kesempatan selagi pemerin­tah kurang memperhatikan keadaan me­reka karena pemerintah sendiri sedang sibuk menghadapi musuh kuatnya, yaitu pasukan-pasukan Mongol. Pula, pemerin­tah juga mempunyai banyak kaki tangan di antara golongan kang-ouw ini sehingga mereka menyerahkan penguasaan keada­an kepada kaki tangan mereka yang da­lam hal ini diwakili dan dipimpin oleh Koksu sendiri dengan para pembantunya yang lain!

Namun yang lebih menonjol dan yang menggegerkan dunia persilatan adalah nama besar Thian-liong-pang yang kabar­nya makin kuat saja sehingga tidak ada pihak yang berani main-main kalau bertemu dengan orang Thian-liong-pang. Bahkan banyak yang sudah menjadi jerih kalau mendengar nama Thian-liong-pang yang diketuai seorang wanita aneh ber­kerudung yang memiliki ilmu silat dah­syat. Banyak sudah ketua-ketua partai persilatan merasai kelihaian Thian-liong-pang. Banyak yang dikalahkan oleh to­koh-tokoh Thian-liong-pang, padahal ke­tuanya sendiri belum pernah maju, juga wakilnya dan para pelayan wanita yang kabarnya memiliki ilmu yang sukar dica­ri bandingnya! Terdengar berita bahwa Thian-liong-pang mempunyai niat meng­gabungkan partai-partai persilatan di bawah naungan Thian-liong-pang, seolah-olah perkumpulan ini hendak menyaingi gerakan Pemerintah Ceng yang menaklukkan negara-negara tetangga yang tak­luk dan mengakui kedaulatannya serta berlindung di bawah naungannya dengan membayar upeti setiap tahun! Tentu sa­ja niat ini menemukan banyak tentang­an. Terutama partai-partai besar yang sudah berdiri ratusan tahun seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain partai persilatan besar, tentu saja mereka ini tidak sudi menja­di “anak buah” Thian-liong-pang!

Selagi dunia kang-ouw geger karena sepak terjang Thian-liong-pang, tersiar lagi berita yang menimbulkan heboh dengan munculnya orang-orang Pulau Neraka yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah muncul lagi. Orang-orang Pulau Neraka dengan warna-warni muka mereka yang aneh menimbulkan kegon­cangan di mana-mana karena mereka itu memang sengaja mendarat untuk menguji ilmu-ilmu mereka dengan tokoh-tokoh kang-ouw!

Yang tetap tidak terdengar hanya Pu­lau Es. Tidak ada lagi orang kang-ouw melihat munculnya orang dari Pulau Es bahkan mendengar berita pun tidak, ka­rena Pulau Es agaknya sudah mutus­kan hubungan mereka dengan dunia luar pulau mereka bertahun-tahun.

Di antara partai-partai persilatan be­sar yang heboh oleh berita-berita itu, ­Siauw-lim-pai sendiri tetap tenang-tenang saja. Memang Siauw-lim-pai adalah sebuah partai persilatan yang amat besar, paling banyak cabang-cabangnya, paling banyak kuil-kuilnya, tersebar di mana-mana dan memiliki jumlah anak murid yang amat banyak pula. Belum pernah ada partai lain berani mengganggu Siauw-lim-pai. Bahkan orang-orang Thian­liong-pang agaknya juga tidak berani sembarangan main gila terhadap Siauw-lim-pai! Kalau toh terjadi bentrokan, hal itu hanya terjadi antara anak murid sa­ja dan pihak Siauw-lim-pai yang meme­gang keras disiplin di antara anak murid­nya, dengan biiaksana dapat memadam­kan bentrokan-bentrokan kecil itu dengan menghukum anak murid sendiri yang me­lakukan pelanggaran.

Pada waktu itu, yang menjadi Ketua Siauw-lim-pai adalah seorang hwesio tinggi besar berusia lima puluh lima ta­hun lebih berjuluk Ceng Jin Hosiang. Biarpun tubuhnya tinggi besar menyeram­kan, namun wataknya halus dan hwesio tua ini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kitab-kitab rahasia Siauw-lim-pai banyak sekali, dan kitab-kitab kuno yang mengandung pelajaran ilmu-ilmu amat tinggi, sukar sekali dipelajari sehingga hanya sedikit saja yang mampu menguasai isi­nya. Ketika Kian Ti Hosiang masih hi­dup, dialah satu-satunya hwesio di Siauw-lim-pai yang benar-benar telah menguasai sebagian besar ilmu yang tinggi-tinggi dan sukar dipelajari itu. Ki­ni, karena bakatnya dan menurut keperca­yaan lingkungan Siauw-lim-pai, karena jodoh, ketua inilah yang dapat mengua­sai sebagian dari isi kitab-kitab su­ci dan rahasia itu. Sungguhpun belum dapat dibandingkan dengan Kian Ti Hosiang, namun setidaknya tingkat kepandaian Ceng Jin Hosiang jauh melampaui saudara-saudaranya, bahkan dia memiliki tingkat lebih tinggi daripada mendiang Ceng San Hwesio Ketua Siauw-lim-pai yang lalu.

Selain lihai ilmu silatnya dan tinggi ilmu batinnya, Ceng Jin Hosiang memi­liki kewaspadaan. Pada suatu hari dia datang ke kuil cabang Siauw-lim-pai di mana Bun Beng bekerja sebagai pelayan. Melihat Bun Beng dia tertarik sekali, apalagi ketika mendengar bahwa anak itu adalah putera mendiang Siauw-lim Bi-kiam Bhok- Kim, seorang di antara Kang-lam Sam-eng segera Ketua Siauw-lim-pai ini menyuruh Bun Beng untuk ikut bersamanya ke kuil pusat Siauw-lim-pai. Ceng Jin Hosiang melihat ba­kat yang baik sekali, juga hati nurani­nya membisikkan bahwa anak ini “berjo­doh” dengannya, maka dia lalu mengam­bil Bun Beng sebagai murid. Selama dela­pan tahun dia menggembleng Bun Beng yang sebelumnya sudah menerima gem­blengan dasar dari Siauw Lam Hwesio, maka tentu saja anak ini memperoleh kemajuan yang luar biasa.

“Bun Beng, kini tiba saatnya yang telah lama kaunanti-nanti dan baru seka­rang pinceng ijinkan, yaitu engkau boleh keluar dari kuil untuk maluaskan pengetahuan dan mengambil jalanmu sendiri tanpa kekangan dari peraturan di sini yang pinceng adakan,” kata Ketua Siauw-lim-pai yang duduk bersila dihadap muridnya yang ia panggil menghadap.

Dapat dibayangkan betapa girang hati Bun Beng mendengar ini. Sudah lama sekali ia ingin untuk diperbolehkan kelu­ar dari kuil, namun gurunya selalu me­larang dan mengatakan belum tiba saat­nya. Padahal semua ilmu yang diajarkan gurunya telah dipelajarinya semua.

“Terima kasih, Suhu. Sesungguhnya teecu merasa gembira sekali.”

Hwesio tua itu mengangguk dan ter­tawa. “Pinceng tahu dan tidak menya­lahkan engkau. Usiamu sudah dua puluh dua tahun dan sebagai seorang pemuda, engkau yang tidak berbakat sebagai pen­deta tentu bernafsu sekali untuk berke­lana di dunia ramai. Kepandaianmu sudah mencapai tingkat lumayan, bahkan tidak ada ilmu yang kuketahui belum kuajar­kan kepadamu. Engkau hanya kurang pengalaman dan kurang matang latihan, akan tetapi kalau engkau rajin, dalam beberapa tahun lagi engkau sudah akan melampaui aku.”

“Teecu berhutang budi kepada Suhu, semua kemajuan teecu adalah berkat bimbingan Suhu.”

“Sudahlah, tidak perlu semua pujian itu. Sekarang kita bicara tentang hal yang amat penting. Setelah engkau ber­hasil mempelajari ilmu dari pinceng, su­dah menguasai ilmu-ilmu itu, lalu sete­lah engkau meninggalkan ini, semua il­mu yang kaukuasai itu hendak kauper­gunakan apakah?”

Ditanya secara mendadak seperti itu, Bun Beng gelagapan! Yah, un­tuk apakah dia mempelajari semua ilmu itu dengan susah payah selama bertahun-tahun? Tiba-tiba teringat akan kematian Siauw Lam Hwesio, gurunya yang perta­ma, yang juga terhitung supek dari Ceng Jin Hosiang, maka dengan hati tetap ia menjawab,

“Ilmu yang teecu kuasai berkat bim­bingan Suhu akan teecu pergunakan un­tuk mencari musuh-musuh mendiang Suhu Siauw Lam Hwesio dan membalas dendam kematiannya di tangan mereka!”

“Omitohud...., sudah kuduga engkau akan menjawab seperti itu. Akan tetapi engkau keliru kalau memiliki niat seper­ti itu, Bun Beng. Dan pinceng akan me­larangmu meninggalkan kuil kalau seperti itu pendapat dan cita-citamu.”

Bun Beng terkejut bukan main, ce­pat ia membungkuk sampai dahinya me­nyentuh lantai sambil berkata, “Mohon maaf sebanyaknya, Suhu. Teecu bodoh dan mohon petunjuk Suhu bagaimana ba­iknya.”

Hwesio itu tertawa. “Kalau pinceng tahu bahwa kepandaian yang pinceng ajarkan kepadamu itu hanya akan kau­pergunakan untuk membunuh orang, ha­nya untuk membalas dendam, sudah pasti pinceng tidak akan suka mengajarkan­nya. Tidak, Bun Beng. Menaruh dendam menimbulkan kebencian, dan kebencian melahirkan perbuatan-perbuatan kejam dan jahat! Orang gagah tidak boleh di­permainkan oleh perasaan pribadi, tidak boleh menjadi mata gelap karena den­dam. Kalau kau bicara tentang dendam, mengapa kau tidak mendendam atas kematian Ayahmu dan Ibumu?”

Bun Beng tertegun. Tak pernah ter­pikirkan hal ini olehnya, apalagi setelah ia mendengar kata-kata Pendekar Silu­man bahwa ayahnya adalah seorang datuk kaum sesat! “Karena teecu tidak ta­hu bagaimana Ayah Bunda teecu tewas dan mengapa.”

“Kalau kau tahu bahwa ayahmu dan ibumu mati terbunuh orang, apakah eng­kau juga akan mendendam dan akan mencari pembunuh mereka untuk kauba­las dan bunuh pula?”

Bun Beng terkejut dan karena kini menyangkut kematian orang tuanya, tan­pa ragu-ragu ia menjawab, “Agaknya begitulah!”

“Baik, sekarang kaubalaslah. Pinceng beri tahu siapa pembunuhnya. Ayahmu telah tewas dibunuh Ibumu, dan Ibumu juga tewas di tangan Ayahmu. Nah, bagaimana?”

Biarpun Bun Beng sudah menerima gemblengan lahir batin dan hatinya su­dah kuat sekali, tidak urung mukanya berubah sedikit mendengar keterangan ini. Dia tidak mampu menjawab dan ha­nya menunduk, penuh pemasrahan kepa­da suhunya.

“Omitohud....! Seorang gagah tidak bo­leh menurutkan nafsu hati, melainkan harus selalu tenang seperti air telaga yang dalam. Jika pikiran tenang, maka nafsu tidak akan mudah mengganggu dan segala tindakan kita dapat dilakukan dengan tepat, menurutkan hasil pertim­bangan pikiran dan akal budi. Sekarang kau melihat contoh tidak baiknya orang mendendam karena kematian orang tua atau pun guru. Orang tua maupun guru hanyalah manusia-manusia biasa. Bagai­mana kalau kematian mereka itu dikare­nakan perbuatan mereka yang jahat? Andaikata orang tuamu menjadi penjahat besar yang terbunuh oleh pendekar budi­man, apakah engkau juga lalu mencari untuk membalas dendam kepada pendekar itu? Kalau demikian, engkau sama sekali bukan anak berbakti, melainkan sebalik­nya karena engkau makin mencemarkan nama orang tua yang sudah cemar. Dan engkau bukan orang gagah karena eng­kau telah menyimpang dari hukum tak tertulis dalam jiwa orang gagah yaitu membela kebenaran! Karena itu, hapus­kan dendam dari hatimu, sedikitpun ti­dak boleh ada sisanya. Kalau kelak engkau terpaksa membunuh orang-orang yang dahulu membunuh Supek Siauw Lam Hwesio karena engkau membela kebenar­an dan karena mereka orang-orang ja­hat, hal itu lain lagi, bukan membunuh karena balas dendam.”

Bun Beng cepat memeluk kaki guru­nya. “Ah, ampunkan teecu. Teecu jadi se­perti buta, tidak melihat kenyataan itu, Suhu. Teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah Suhu.”

“Aahhh, pinceng sebetulnya merasa perih di hati kalau bicara tentang bunuh-membunuh. Akan tetapi, kehidupan se­orang gagah di dunia kang-ouw di mana terdapat kekacauan yang disebabkan orang-orang sesat, agaknya hal itu tidak dapat dicegah lagi. Kalau mungkin, Bun Beng, jauhilah perbuatan membunuh. Engkau akan lebih berjasa mengingatkan seorang sesat kembali ke jalan benar da­ripada membunuhnya. Nah, kiranya cukup. Hanya satu lagi pesan pinceng. Ja­ngan sekali-kali engkau melibatkan diri dalam perang, karena Siauw-lim-pai me­nentang perang. Dan jangan sekali-kali engkau melibatkan nama Siauw-lim-pai dengan permusuhan dengan pihak lain. Mengerti?”

“Baik Suhu, teecu akan mentaati pe­rintah Suhu.”

“Hemm...., kalau sampai kaulanggar, agaknya pinceng sendiri yang akan tu­run tangan menghukummu, Bun Beng. Nah, berangkatlah dan hati-hatilah.”

Bun Beng minta diri kepada semua hwesio di kuil, kemudian dia berangkat membawa bungkusan pakaian dan bekal sedikit perak, tanpa membawa senjata. Dengan memiliki kepandaian seperti ting­katnya sekarang, dia tidak membutuhkan senjata lagi.

Setelah jauh meninggalkan kuil, Bun Beng teringat akan sepasang pedang yang disimpannya di puncak tebing tempat tinggal para bekas pejuang penyembah Sun Go Kong. Juga kitab-kitab pelajaran Sam-po-cin-keng yang sudah dihafalnya dan yang sekarang secara diam-diam telah dilatihnya sampai mahir. Setelah dia menerima gemblengan ilmu-ilmu si­lat tinggi dari Ceng Jin Hosiang, tidak sukar baginya untuk menyelami Sam-po- cin-keng dan dia tidak berani berterus terang kepada suhunya karena ilmu silat itu amat ganas dan pantasnya hanya di­pelajari kaum sesat! Akan tetapi, hebat bukan main ilmu itu sehingga di luar pengetahuannya sendiri, kalau dia mem­pergunakan iimu itu, agaknya Ceng Jin Hosiang sendiri belum tentu akan dapat menandinginya!

Di dalam perantauannya ini, Bun Beng membuka telinga dan tiada bosan­nya dia bertanya-tanya tentang keadaan dunia kang-ouw. Dia terkejut sekali ke­tika mendengar akan sepak terjang kaum Thian-liong-pang yang katanya mulai menculik tokoh-tokoh penting dari partai-partai persilatan! Juga dia mendengar akan munculnya tokoh-tokoh aneh dari Pulau Neraka yang sudah beberapa kali dahulu ia jumpai, maka diam-diam ia mengambil keputusan bahwa kalau dia bertemu dengan kaum Thian-liong-pang dan Pulau Neraka, dia akan menentang mereka! Hatinya bersyukur ketika ia men­dengar keterangan bahwa kini tidak ada terdengar pergerakan dari Pulau Es, tanda bahwa Pendekar Siluman benar-benar tidak mau mencampuri segala keributan itu. Juga heboh tentang Pedang Iblis dan kitab-kitab peninggalan Bu Kek Sian­su yang lenyap, yang dahulu diperebut­kan, kini tidak terdengar lagi.

Yang amat menarik hatinya adalah perbuatan kaum Thian-liong-pang. Mengapa mereka itu menculik tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua partai untuk beberapa hari lamanya kemudian mereka itu dibe­baskan kembali? Apa yang tersembunyi di balik perbuatan aneh ini? Untuk mengambil sepasang pedangnya terlam­pau jauh, maka dia akan lebih dulu me­nyelidiki keadaan Thian-liong-pang dan kalau memang mereka itu melakukan penculikan-penculikan, hal ini akan di­tentangnya. Inilah kewajiban pertama dalam perjalanannya sebagai seorang pendekar!

Dalam perjalanannya menuju ke Thian-liong-pang dia bermalam dalam sebuah rumah penginapan di kota kecil Teng-li-bun. Dia telah melakukan perjalanan jauh dan perlu beristirahat. Niat­nya akan bermalam di situ semalam, baru besok pagi akan melanjutkan perja­lanan karena malam itu hujan membuat dia segan untuk bermalam di luar seperti biasanya dia bermalam di hutan atau di gubuk-gubuk sawah. Dia ingin makan kenyang dan minum sedikit arak, kemu­dian tidur nyenyak dalam sebuah bilik tanpa gangguan.

Akan tetapi menjelang tengah malam, telinganya yang amat terlatih mendengar suara isak tangis tertahan. Dia terbangun, memasang telinga dan mendapat kenya­taan bahwa tangis itu adalah tangis se­orang wanita yang ditahan-tahan, suara­nya seperti tertutup bantal. Dia menja­di bingung. Tentu telah terjadi sesuatu yang membutuhkan pertolongannya. Akan tetapi yang perlu ditolong adalah seorang wanita, dan hari telah tengah malam, bagaimana mungkin dia boleh memasuki kamar seorang wanita? Dia sudah me­masang telinga baik-baik dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada orang lain dalam kamar sebelah itu, hanya si wanita yang menangis. Karena suara isak ter­tahan itu seperti menggelitik hatinya, Bun Beng tak dapat menahan lagi lalu membuka jendela kamar dan tubuhnya melesat keluar jendela terus melayang ke atas genteng. Dia berniat untuk mengintai dari atas dan melihat apakah yang terjadi dan mengapa wanita itu menangis.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak ada suara terdengar ketika ia me­layang ke atas genteng sehingga tidak mengganggu para tamu rumah penginap­an. Dia membuka genteng di atas kamar sebelah dengan hati-hati sekali. Akan te­tapi baru saja dia menjenguk ke dalam dan melihat seorang wanita muda rebah di atas pembaringan, tiba-tiba lilin di kamar itu padam dan dia mendengar bersiutnya angin senjata rahasia dengan cepat dan kuat serta tepat sekali me­nyambar ke arah lubang genteng!

“Ciut-ciut-ciuutt!” Tiga batang piauw menyambar dan berturut-turut Bun Beng menangkap tiga batang piauw itu dengan tangan kirinya.

“Bangsat Thian-liong-pang, aku akan mengadu nyawa denganmu!” terdengar suara wanita memaki disusul menyam­barnya sesosok tubuh ke atas dan lubang itu jebol ditabrak seorang gadis yang berpakaian serba kuning. Gerakan gadis itu cepat dan ringan sekali, kini sudah berdiri di depan Bun Beng dengan pedang di tangan dan langsung mengirim tusuk­an ke arah dada Bun Beng.

“Wuuuttt.... plakkk!” Dengan tangan kanannya Bun Beng menampar pedang itu dari samping dan telapak tangannya kini tepat mengenai pedang yang me­nempel pada telapak tangannya! Gadis itu berseru kaget, berusaha menarik kembali pedangnya namun sia-sia. Pedang­nya melekat di telapak tangan pemuda tampan yang berdiri tenang memandang­nya itu. Juga di bawah sinar bulan yang muncul setelah hujan berhenti tadi, ga­dis itu melihat tiga batang piauwnya berada di tangan kiri pemuda itu. Cela­ka, pikirnya! Yang datang adalah seorang tokoh Thian-liong pang yang memiliki il­mu kepandaian tinggi sekali.

“Mau apa lagi? Bunuhlah aku!” tiba-tiba gadis itu berkata penuh kebencian.

“Tenang dan sabarlah, Nona. Aku bukan orang Thian-liong-pang, sama se­kali bukan!”

Nona yang usianya kurang lebih dela­pan belas tahun itu memandang penuh perhatian lalu membentak, “Siapa mau percaya?”

Bun Beng tersenyum dan menghela napas, melepaskan pedang dan menyerah­kan tiga batang piauw yang diterima oleh gadis itu dengan sambaran cepat seolah-olah ia khawatir kalau-kalau itu hanya siasat. Bun Beng menggulung le­ngan bajunya, dan berkata, “Periksalah! Adakah gambar naga di lengan kanan­ku? Bukankah kata orang, semua anggau­ta Thian-liong-pang dicacah lengan ka­nannya dengan gambar naga kecil?”

“Huh!” Gadis itu mendengus setelah dia melirik juga ke arah kulit yang ha­lus itu sehingga ia terheran mengapa pemuda halus itu dapat memiliki sin-kang yang demikian hebat, “Kalau bukan ang­gauta Thian-liong-pang, agaknya engkau seorang yang lebih hina lagi, seorang jai-hwa-cat!”

Bun Beng mengangkat kedua alisnya dan dia memandangi pakaiannya. “Aihhh! Jai-hwa-cat? Adakah tampangku seper­ti penjahat cabul? Dan pakaianku? Aih, engkau terlalu sekali, Nona. Ataukah engkau hanya main-main?”

“Kalau bukan jai-hwa-cat atau penja­hat, mau apa tengah malam buta mem­buka genteng kamar orang dan mengin­tai ke dalam?” Gadis itu menyerang dengan kata-kata sungguhpun dia gendiri mulai ragu-ragu apakah orang muda yang bersikap wajar dan halus ini seorang penjahat.

Bun Beng tertawa. “Salahku...., salah­ku....! Puas kau sekarang!” Dia menunjuk hidung sendiri. “Inilah upahnya kalau terlalu ingin memperhatikan orang lain! Terus terang saja, Nona, aku tadi sedang tidur nyenyak ketika terganggu.... eh, maaf, memang telingaku terlalu perasa, terlalu peka sehingga aku terbangun oleh tangismu. Aku menjadi curiga dan ingir sekali tahu mengapa di tengah malam buta ada wanita menangis. Aku hendak mengintai untuk melihat apa yang terja­di, sama sekali bukan berniat jahat, bolehkah aku mengetahui, mengapa kau menangis? Ahh, tentu ada hubungannya dengan Thian-liong-pang. Buktinya, eng­kau menyangka aku orang Thian-liong-pang....”

Bun Bang menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba wanita itu menangis terisak-isak!

“Eh, eh, bagaimana ini....? Salahkah omonganku sehlngga menyinggung perasa­anmu?”

Gadis itu masih menangis lalu men­jatuhkan diri berlutut di depan Bun Beng. Tentu saja Bun Beng menjadi bingung sekali, hendak mengangkat ba­ngun, merasa tidak pantas menyentuh tu­buh seorang gadis. “Eh, eh...., Nona. Bangkitlah, jangan begitu....!”

“Mohon maaf atas kesalahanku tadi.... dan mohon pertolongan Taihiap yang berkepandaian tinggi untuk menyelamatkan Ayahku.....”

“Aku bukan seorang taihiap (pendekar besar), Nona. Akan tetapi aku ber­janji akan menolong. Ayahmu mengapakah? Harap kau suka berdiri agar enak kita bicara.”

Gadis itu bangkit berdiri sambil mengusap air matanya.

“Nah, ceritakanlah apa yang terjadi,” kata pula Bun Beng. Kini sinar bulan makin terang dan tampak oleh pemuda ini betapa gadis itu amat manis wajah­nya, wajah manis yang membayangkan kegagahan yang agak pudar oleh tangis tadi.

“Namaku adalah Ang Siok Bi....”

“Nama yang bagus....” Tiba-tiba Bun Beng melihat sinar mata nona itu me­mandangnya tajam penuh kecurigaan dan alis yang hitam itu berkerut, maka ter­ingatlah ia betapa tidak tepatnya ucap­an yang tiba-tiba saja meluncur dari mulutnya itu karena ia kagum meman­dang wajah yang manis.

“Eh, maksudku.... teruskan ceritamu, Nona Ang....” Sambungnya cepat-cepat dan gugup.

“Ayahku adalah Ang Thian Pa yang lebih dikenal dengan sebutan Ang Lojin, Ketua Bu-tong-pai....”

“Aihh! Kiranya Nona adalah puteri ketua partai besar, maaf kalau aku berlaku kurang hormat....” Bun Beng memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada sambil membungkuk.

Siok Bi, gadis itu biarpun baru ber­usia delapan belas tahun, namun dia su­dah banyak merantau dan sebagai se­orang pendekar wanita yang muda dan cantik, tentu dia banyak mengalami gangguan dan banyak mengenal sikap laki-laki. Maka kini alisnya berkerut ke­tika ia menyaksikan sikap Bun Beng yang agaknya sama sekali tidak mempeduli­kan ceritanya, melainkan tertarik dan kagum kepadanya! Tadi telah ia saksi­kan kelihaian pemuda itu dan timbul harapannya untuk minta pertolongannya, akan tetapi kini melihat sikap Bun Beng, dia mulai ragu-ragu jangan-jangan pemu­da ini adalah seorang jai-hwa-cat yang bersikap halus dan yang sedang mempermainkannya!

“Taihiap, harap berterus terang saja. Engkau ini seorang pendekar yang suka mengulur tangan menolong orang yang sedang tertimpa malapetaka ataukah seorang dari kaum sesat?”

Bun Beng yang tadinya tersenyum de­ngan hati tertarik memperhatikan gerak-gerik dan terutama sekali gerakan bibir yang membuat wajah itu kelihatan amat manis, menjadi gelagapan mendengar pertanyaan itu. Dia tentu saja tidak sa­dar akan sikapnya sendiri karena memang tidak dibuat-buat. Selama bertahun-tahun dia berada di dalam kuil mempelajari ilmu, tiap hari hanya bergaul dan berte­mu dengan para hwesio. Yang dilihatnya hanyalah muka para hwesio dengan kepa­la gundul, sama sekali tidak indah da­lam pandangannya. Kini, sekali keluar mengembara bertemu dengan wajah be­gini manis, hati siapa tidak akan terpi­kat?

“Ang-siocia, ada apakah? Mengapa engkau kelihatan marah kepadaku?”

“Pandang matamu itulah!” Mau tidak mau Siok Bi membuang muka dan kedua pipinya menjadi merah. Betapapun gagah wataknya sebagai pendekar wanita, na­mun dia masih seorang gadis remaja sehingga dia pun tidak terbebas daripa­da sifat wanita yang ingin dipuji dan di­kagumi, apalagi oleh seorang pemuda setampan dan segagah Bun Beng!

“Pandang mataku? Aihhh.... apakah aku tidak boleh memandang? Kenapakah? Engkau aneh sekali, Nona. Baiklah aku akan memejamkan mata. Nah, teruskan ceritamu!” Dan Bun Beng benar-benar memejamkan kedua matanya.

“Ketika ayahku dan aku melakukan perjalanan menuju ke Siang-tan, sampai di dalam hutan di luar kota ini kami berhenti dan beristirahat, yaitu pagi ha­ri tadi.” Gadis itu berhenti bercerita. Bun Beng yang masih memejamkan ma­tanya itu menanti sebentar, lalu sebagai komentar dia hanya bisa mengeluarkan suara,

“Hemmm....!” Lalu menanti lagi, akan tetapi lanjutan ceritanya tak kunjung datang.

“Mengapa diam?”

“Agaknya Taihiap tidak menaruh per­hatian, perlu apa kulanjutkan? Kalau Taihiap tidak sudi menolong, aku.... aku pun tidak mau memaksa.” Suara itu ter­dengar menjauh dan ketika Bun Beng membuka matanya, nona itu sudah ber­lari pergi!

Sekali menggerakkan tubuhnya, Bun Beng sudah menyusul dan menghadang di depan Siok Bi. “Eh-eh, bagaimana ini? Kau aneh sekali, Nona! Aku cukup memperhatikan ceritamu dan ingin menolong Ayahmu.”

Diam-diam Siok Bi terkejut dan ka­gum. Dia hanya melihat bayangan berke­lebat dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada di depannya! Akan tetapi ia cemberut dan berkata,

“Aku bicara kepada orang yang meme­jamkan mata seolah-olah tidak peduli, mana.... enak hatiku?”

Tiba-tiba Bun Beng tertawa saking geli hatinya. Memang pemuda ini memi­liki watak periang. Ia menggaruk-garuk belakang telinganya dan berkata, “Wah, benar-benar aku tidak mengerti, Nona! Kalau aku memperhatikan ceritamu de­ngan membuka mata, pandang mataku mengganggumu. Kalau aku memejamkan mata, kauanggap aku tidak peduli, ha­bis bagaimana? Harap kau lanjutkan. Percayalah, aku tidak mempunyai niat hati yang tidak baik terhadapmu! Ayah­mu dan engkau pagi tadi beristirahat dalam hutan di luar kota ini. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?”

Kini sinar bulan sepenuhnya menimpa wajah Bun Beng sehingga Siok Bi dapat memandang jelas. Wajah yang tampan dan mulutnya seperti selalu tersenyum. Pada saat itu, Bun Beng bicara sungguh-sungguh, akan tetapi matanya bersinar-sinar gembira dan bibirnya seperti orang tersenyum. Kini mengertilah Siok Bi bahwa memang pemuda ini memiliki ma­ta dan bibir yang seolah-olah selalu gembira dan tersenyum, sehingga tadi ia mengira bahwa mata pemuda itu “na­kal” dan bibirnya tersenyum kurang ajar. Maka hatinya pun lega dan ia melanjut­kan.

“Selagi kami beristirahat dan makan di bawah pohon, datang rombongan Thian-liong-pang. Ketika mereka mengenal ayah sebagai Ketua Bu-tong-pai, me­reka lalu memaksa Ayah ikut dengan mereka untuk menghadap Ketua Thian-liong-pang!”

“Hemm, sungguh kurang ajar!” Bun Beng membentak dan gadis itu menda­pat kenyataan betapa dalam keadaan marah pun pemuda itu seperti orang ter­senyum. “Tentu engkau dan Ayahmu menghajar mereka!”

“Itulah yang menyusahkan hatiku, Taihiap. Mereka lihai sekali. Ayah dike­royok dan dirobohkan, lalu ditangkap dan dimasukkan ke kerangkeng.”

“Apa? Dikerangkeng dan kau diam saja?”

Kalau belum mulai mengenal cara bicara Bun Beng seperti orang main-main, tentu gadis itu sudah marah lagi. “Tentu saja aku melawan mati-matian, akan tetapi mereka amat lihai. Aku ro­boh tertotok, tak mampu berkutik. Setelah mereka pergi lama sekali, baru aku dapat bergerak. Mengejar sampai sore namun tak berhasil dan akhirnya aku sampai di sini dengan maksud besok akan melanjutkan perjalanan, mengumpulkan semua anggota Bu-tong-pai untuk me­nyerbu ke Thian-liong-pang membebas­kan Ayah. Akan tetapi.... ah, akan ma­kan waktu lama, mungkin terlambat.... dan aku sangsi apakah aku dapat mela­wan Thian-liong-pang yang amat kuat itu?”

“Ke mana Ayahmu dibawa lari? Ke jurusan mana?”

“Di luar kota ini di sebelah utara terdapat hutan, dan mereka membawa Ayah terus ke utara....”

“Aku akan mengejar mereka!” Bun Beng berkelebat dan pergi dari depan gadis itu.

Siok Bi bingung dan terkejut, mengira bahwa pemuda itu pandai menghilang. Ia berteriak, “Tunggu, Taihiap! Aku be­lum tahu namamu dan aku ikut....!”

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Bun Beng dari bawah karena pemuda ini memasuki kamar mengambil bungkusan pakaian dan bekalnya. “Jangan ikut, kau­ tunggu saja di sini, Nona. Namaku Gak Bun Beng!”

Mendengar suara dari dalam kamar di sebelah kamarnya, Siok Bi meloncat ke bawah dan memasuki kamar Bun Beng, akan tetapi pemuda itu sudah tidak ada dan ketika ia melompat lagi ke atas genteng, dia tidak melihat bayangan pe­muda itu! Ia menarik napas panjang. “Hebat dia....!” Kemudian ia pun mengam­bil pakaian dari kamarnya dan malam itu juga ia meninggalkan penginapan un­tuk mengejar ke utara. Benar juga pe­muda itu, pikirnya. Kalau aku ikut, ten­tu perjalanannya tidak dapat dilakukan secepat kalau pemuda itu mengejar sendiri. Hatinya menjadi besar dan ia mem­bayangkan wajah tampan yang selalu tersenyum bibirnya dan berseri wajah dan matanya itu. Kekhawatirannya ten­tang diri ayahnya agak berkurang kare­na ia percaya bahwa pemuda itu amat lihai dan tentu akan dapat menolong ayahnya. Gak Bun Beng! Dia mengingat-ingat, akan tetapi tidak pernah merasa mendengar nama ini di dunia kang-ouw.­ Benar kata ayahnya bahwa sekarang ba­nyak bermunculan orang-orang aneh yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa, tentu termasuk pemuda itu.

Bun Beng merasa penasaran dan marah sekali. Kiranya benar seperti be­rita yang didengarnya. Thian-liong-pang mengacau dunia kang-ouw, secara kurang ajar berani menculik seorang Ketua Bu-tong-pai di siang hari. Benar-benar ke­terlaluan, seolah-olah di dunia ini sudah tidak ada hukum dan seolah-olah hanya Thian-liong-pang yang paling kuat. Dia harus menentangnya dan menolong Ke­tua Bu-tong-pai, ayah dari gadis yang amat manis wajahnya itu.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Bun Beng melakukan pengejaran. Dia mempergunakan ilmu lari cepat Cio-siang-hui yang dipelajarinya dari Ceng Jin Hosiang sehingga tubuhnya seperti terbang di atas rumput seolah-olah ti­dak menginjak tanah dan tubuhnya lenyap, yang tampak hanya berkelebatnya bayangannya yang meluncur cepat menuju ke utara!

Akan tetapi karena ia ketinggalan waktu selama sehari, pada keesokan ha­rinya menjelang senja, barulah ia dapat menyusul rombongan orang Thian-liong-pang yang menawan Ketua Bu-tong-pai. Dari jauh ia sudah melihat serombongan orang, sebanyak empat orang mendorong sebuah kereta kecil berbentuk kerang­keng di mana yang tampak hanya sebu­ah kepala yang bertudung lebar dan kedua tangan yang terbelenggu. Hanya ke­pala dan kedua tangan yang tampak ke­luar dari dalam kerangkeng yang terbu­at daripada papan tebal dan beroda dua.

Bun Beng mempercepat larinya, se­bentar saja dia telah melewati rombong­an empat orang itu, membalikkan tubuh dan menghadang, berdiri dengan tegak dan bertolak pinggang. Melihat sikap pemuda yang datang dengan cepat sekali itu, rombongan itu berhenti dan empat orang itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian. Juga orang tua bermu­ka gagah yang berada dalam kerangkeng memandang kepada Bun Beng.

Ketika Bun Beng memperhatikan empat orang itu diam-diam terkejut. Me­mang benarlah berita yang ia dengar. Orang-orang Thian-liong-pang amat aneh dan sikapnya menyeramkan. Empat orang ini saja sudah menunjukkan bphwa mere­ka tentulah orang-orang yang berilmu tinggi, dan sikap mereka itu rata-rata angkuh. Seorang di antara mereka ada­lah seorang kakek yang mukanya pucat seolah-olah tidak berdarah, seperti muka mayat yang amat kurus sehingga muka­nya itu mirip tengkorak, namun sepa­sang mata yang sipit itu mengeluarkan sinar tajam, dan di punggungnya tampak tergantung sebatang pedang. Orang ke dua masih muda, paling banyak tiga puluh lima tahun usianya, tampan dan gagah, rambutnya terurai di atas kedua pundak dan punggungnya, kepalanya diikat sehe­lai tali yang mengkilap seperti sutera, alisnya selalu berkerut dan sinar mata­nya membayangkan keangkuhan dan kekejaman, juga di punggungnya tampak terselip sebatang pedang. Biarpun kedua orang ini tidak banyak bergerak, namun dapat diduga bahwa tentu ilmunya tinggi, dan membuat hati mereka tinggi pula.

Akan tetapi dua orang yang lain benar-benar menimbulkan ngeri kepada Bun Beng. Sukar membedakan kedua orang itu karena baik pakaian, bentuk tubuh dan muka mereka kembar! Dan kedua­nya pun memegang sepasang senjata ge­lang yang dipasangi lima duri meruncing dan mengkilap. Berbeda dengan sikap kedua orang yang pendiam dan angkuh itu, dua orang kembar yang tinggi besar ini sikapnya kasar, seperti binatang bu­as dan merekalah yang langsung melon­cat maju menghadapi Bun Beng. Seorang di antara mereka membentak,

“Bocah sinting, siapa kau berani ber­sikap kurang ajar?”

“Minggir kau sebelum kupatahkan ke­dua kakimu!” Orang ke dua membentak pula.

Bun Beng memperlebar senyumnya dan tetap bertolak pinggang. Sambil me­lirik ke arah kerangkeng, dia bertanya, “Apakah kalian ini penculik-penculik dari Thian-liong-pang? Dan apakah Locianpwe yang tertawan itu Ang Lojin Ketua Bu-tong-pai?”

“Benar orang muda. Aku adalah Ang Lojin. Hati-hatilah, jangan mencampuri urusan ini. Lebih baik pergilah karena aku sudah merasar kalah dan ingin menghadap Ketua Thian-liong-pang!” Kakek di kerangkeng itu berkata.

“Bocah tak tahu diri! Ketahuilah bah­wa kami benar dari Thian-liong-pang. Nah, setelah mendengar nama perkum­pulan kami, engkau tidak lekas mengge­linding pergi?”

Bun Beng dengan sikap tenang meng­gerakkan pundaknya, memandang kepada kedua orang kakek kembar yang muka­nya bengis mengerikan itu sambil berka­ta, “Sebenarnya aku mau pergi, akan tetapi sayang, empat orang sahabatku yang berada di sini tidak membolehkan aku pergi sebelum kalian membebaskan Ang Lojin!”

Mendengar ini, empat orang Thian-liong-pang itu cepat memandang ke se­keliling mereka. Mereka terkejut sekali mendengar bahwa pemuda kurang ajar ini mempunyai empat orang sahabat. Kalau empat orang itu hadir di sekitar mereka tanpa mereka ketahui, dapat dibayangkan betapa lihai empat orang itu. Apalagi setelah mereka memandang ke sekeliling tidak dapat melihat gerak-gerik orang di situ, mereka menjadi ma­kin hati-hati karena hal itu hanya me­nandakan bahwa empat orang sahabat pemuda ini benar-benar lihai.

“Orang muda, lekas suruh empat orang sahabatmu keluar agar kami dapat bica­ra dengan mereka!” Seorang di antara kakek kembar berkata, sedangkan tokoh Thian-liong-pang muda sudah menggeser kaki mendekati kerangkeng sedangkan kakek bermuka tengkorak, sekali meng­gerakkan kaki tubuhnya sudah melayang ke atas tempat yang agak tinggi, di atas batu-batu. Agaknya seorang muda menja­ga kerangkeng itu dan si kakek bermuka tengkorak menjadi penjaga di tempat tinggi. Sikap mereka yang tenang dan muka yang angkuh itu menimbulkan dugaan di hati Bun Beng bahwa tingkat mereka berdua itulah yang sesungguhnya tinggi, lebih tinggi daripada tingkat se­pasang kakek kembar yang menghadapi­nya. Hal ini pun menjadi tanda bahwa mereka memandang rendah kepadanya sehingga untuk menghadapinya cukup oleh kedua kakek kembar yang rendah ting­katnya!

Bun Beng tertawa dan berkata, “Mau berkenalan dengan empat orang sahabat­ku? Awas, mereka lihai sekali, kalau ka­lian berkenalan dengan mereka, tentu kalian akan mereka robohkan dengan mu­dah!”

“Tak perla banyak menggertak!” Ben­tak kakek kembar ke dua, akan tetapi tidak urung dia dan saudara kembarnya diam-diam melirik ke kanan kiri dengan sikap agak gentar. “Lekas suruh mereka keluar!”

“Mereka sudah berada di sini, di de­panmu, apakah kalian buta?”

Kini kedua kakek kembar itu terbela­lak, dan benar-benar menjadi jerih. Ka­lau ada empat orang berada di depan mereka tanpa mereka dapat melihatnya, hal itu hanya berarti bahwa empat orang itu bukanlah manusia, melainkan iblis-iblis. Teringatlah mereka akan orang­orang Pulau Neraka, musuh utama mere­ka yang mereka takuti, akan tetapi pe­muda ini kulit mukanya biasa saja, ten­tu bukan anggauta Pulau Neraka. Ah, tentu hanya gertakan saja, akal bulus, akal kanak-kanak untuk menakut-nakuti mereka!

“Bocah, jangan main-main engkau!” Se­orang di antara mereka membentak.

“Inilah mereka!” Bun Beng melonjor­kan kaki tangannya bergantian ke depan.

Muka kedua kakek kembar itu menja­di merah, mata mereka melotot dan karena kepala mereka botak, Bun Beng teringat akan kera-kera baboon yang pernah menjadi kawan-kawannya. Muka kedua orang kakek kembar ini mirip kera-kera itu!

Akan tetapi sebagai anggauta-anggau­ta Thian-liong-pang yang banyak penga­laman, menyaksikan sikap pemuda yang berani mempermainkan mereka dan yang amat tenang itu, dua orang kakek kembar tidak mau sembrono. Seorang di antara mereka melangkah maju dan me­negur.

“Orang muda, engkau siapakah berani mati mempermainkan kami dari Thian-liong-pang? Apa yang kauperbuat ini hanya dapat dicuci dengan darahmu dan ditebus dengan nyawamu. Maka sebelum mampus, mengakulah siapa engkau!”

Bun Beng menggelengkan kepala. “Terlalu enak untuk kalian! Sudah terang kalian yang akan kalah, dan andaikata aku sampai mati pun, biarlah namaku menjadi rahasia dan setan penasaran, rohku akan mengejar-ngejar Thian-liong-pang!”

“Keparat!” Kakek yang berada di de­pannya sudah menerjang dengan senjata­nya yang aneh dan kiranya senjata ge­lang berduri itu digenggam dengan duri-durinya di depan, digerakkan secara ce­pat dan kuat sekali menghantam ke arah muka Bun Beng yang masih bertolak pinggang.

“Heeitt! Memang orang-orang Thian-liong-pang berhati kejam,” kata Bun Beng, dengan mudah ia mengelak ke kanan dan biarpun matanya melirik ke arah orang di depannya sambil tersenyum mengejek, namun telinganya dicurahkan untuk mengikuti gerakan kakek ke dua yang telah melompat ke belakangnya.

Ketua Bu-tong-pai yang sudah mera­sai kelihaian orang-orang itu, menjadi gelisah sekali. Ia berterima kasih dan kagum akan munculnya pemuda tak ter­kenal yang jelas hendak menolongnya itu, akan tetapi ia merasa yakin bahwa pemuda itu tentu akan celaka. Pemuda itu akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia saja dan hal inilah yang menggeli­sahkan hatinya, sama sekali bukan dia tidak mempunyai harapan tertolong. Su­dah banyak tokoh kang-ouw yang ditawan secara paksa oleh orang-orang Thian-liong-pang untuk dihadapkan Ketua me­reka. Belum pernah ada tokoh yang dibu­nuh, maka dia tidak merasa khawatir akan keselamatan dirinya sungguhpun ada hal yang lebih hebat lagi dalam pe­ristiwa ini, lebih hebat dan penting dari­pada keselamatan dirinya, yaitu kesela­matan nama besar Bu-tong-pai yang terancam dan dihina! Kini pemuda yang hendak menolong dirinya itu terlalu sem­brono dan berani mati mempermainkan orang-orang Thian-liong-pang, maka dia tidak akan merasa heran kalau nanti me­lihat pemuda itu roboh dan tewas di de­pan matanya.

“Orang muda, awas senjata itu bera­cun dan berbahaya! Larilah!” teriaknya ketika melihat betapa pemuda itu dise­rang dari depan dan belakang dengan dahsyat.

“Jangan khawatir, Locianpwe. Dua ekor kera ini hanya pandai menakut-na­kuti anak kecil saja!” Jawab Bun Beng sambil menggunakan gin-kangnya untuk melesat ke sana ke mari mengelak sam­bil tersenyum. Dia sudah melihat bahwa biarpun ilmu silat kedua kakek itu aneh sekali, gerakannya cepat dan bertenaga, namun tidak terlalu cepat dan kuat bagi­nya dan dia yakin akan dapat mengatasi mereka dengan mudah walaupun dia ber­tangan kosong.

Ketua Bu-tong-pai menjadi bengong. Sungguh kagum dia karena pemuda itu benar-benar bukan hanya pandai mem­permainkan orang, melainkan juga memi­liki gerakan yang amat kuat dan cepat, dua kakinya dapat melangkah dengan ba­ik sekali sehingga semua serangan kedua orang itu selalu mengenai angin kosong.

“Wuuuttt! Wah, galak amat!” Bun Beng miringkan kepala untuk menghin­darkan hantaman gelang berduri dari belakang, berbareng ia mengirim ten­dangan ke depan mengarah sambungan lutut lawan di depan jari tangannya menyentil senjata yang melayang di depan hidungnya, menggunakan jari telunjuk menyentil ke arah sebuah di antara lima dari duri-duri gelang sam­bil mengerahkan sin-kang sekuatnya.

“Cringgg!” Dan kakek itu memekik kaget. Ternyata duri yang disentil jari itu telah patah dan telapak tangannya terasa panas dan perih sekali. Hampir saja ia melepaskan sebuah gelangnya dan ia melompat ke belakang. Juga ka­kek di depan Bun Beng yang diserang tendangan tadi cepat melompat ke bela­kang. Mereka menjadi marah dan penasaran. Kakek yang di belakangnya lalu mengeluarkan gerengan marah, tangan kirinya bergerak dan gelang berduri yang kehilangan sebuah durinya itu tiba-tiba meluncur ke arah Bun Beng, berputaran dan mengeluarkan suara bercuitan.

“Bagus....!” Bun Beng diam-diam ka­gum juga. Kiranya, senjata ini bukan ha­nya dipergunakan untuk menyerang de­ngan dipegangi, melainkan juga dapat menjadi senjata rahasia yang dilontarkan. Dia mengelak dan lebih kagum lagi ha­tinya melihat betapa gelang yang ber­putaran menyambar kepalanya itu sete­lah luput dari sasarannya, kini dapat membalik dan kembali ke tangan pemi­liknya!

Dia cepat membalik dan pada saat kakek itu menerima kembali senjatanya, Bun Beng sudah memukul dengan tela­pak tangannya, pukulan jarak jauh dengan pengerahan sin-kangnya.

“Wuuuttt!” Angin pukulan yang kuat membuat kakek itu terhuyung-huyung mundur. Akan tetapi kakek ke dua yang kini berada di belakang Bun Beng sudah melontarkan gelang kanan ke arah pung­gung pemuda itu.

“Awasss....!” Ketua Bu-tong-pai berte­riak kaget. Namun tanpa memutar tu­buhnya, Bun Beng mengulur tangan dan berhasil menangkap senjata itu, seolah-olah di belakang tubuhnya terdapat mata ke tiga!

“Senjata yang buruk!” Bun Beng kini memutar senjata itu dengan gerakan yang mahir seolah-olah sejak kecil dia memang sudah biasa menggunakan senja­ta itu! Tentu saja bukan demikian kenya­taannya. Hanya karena dia telah digem­bleng oleh Ketua Siauw-lim-pai dan te­lah mempelajari delapan belas macam senjata, dan pernah pula diajar cara mempergunakan senjata gelang yang jarang dipakai di dunia kang-ouw, maka dia tidak asing dengan senjata ini, pula karena memang bakat yang dimiliki pemuda itu luar biasa sekali.

“Trang-cring-tranggg....!” Tiga kali ge­lang berduri di tangan kedua orang ka­kek itu bertemu dan gelang kiri kakek yang di belakangnya patah menjadi tiga bertemu dengan gelang di tangan Bun Beng.

“Heh-heh-heh, sekarang kita masing-masing mempunyai sebuah gelang, jadi adil namanya, seorang satu! Masih mau dilanjutkan?” Dia menantang dan mengejek.

“Tahan dulu!” Tiba-tiba kakek tua yang bermuka tengkorak melayang da­tang dan gerakannya membuat Bun Beng bersikap hati-hati karena melihat cara meloncatnya saja tingkat kepandaian kakek muka tengkorak ini sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan sepasang kakek kembar yang kasar.

Akan tetapi dasar watak Bun Beng suka main-main, dia menyambut kakek itu dengan tertawa, “Apakah engkau mau mengeroyok pula? Marilah, biar lebih ramai!”

Kakek muka tengkorak itu tidak ma­rah, hanya tetap tenang dan dingin keti­ka berkata, “Thian-liong-pang tidak per­nah memusuhi Siauw-lim-pai, apakah kini Siauw-lim-pai mendahului langkah mengu­mumkan perang terhadap Thian-liong-pang?”

Mendengar ini Bun Beng terkejut. Ah, kiranya kakek ini demikian tajam pan­dang matanya sehingga mengenal bahwa dia adalah murid Siauw-lim-pai. Juga ka­kek Ketua Bu-tong-pai terkejut dan ce­pat berkata,

“Orang muda yang gagah. Kalau eng­kau seorang murid Siuw-lim-pai, harap menyingkir. Aku tidak mau membawa-bawa Siauw-lim-pai terlibat dalam urus­an ini.”

Bun Beng merasa penasaran. Dia sen­diri sudah dipesan oleh gurunya agar ja­ngan melibatkan Siauw-lim-pai dengan permusuhan. Akan tetapi haruskah ia mundur dan membiarkan Kakek Bu-tong-pai itu tertawan dan yang terutama se­kali, haruskah dia mengecewakan Siok Bi yang berwajah manis itu? Memba­yangkan betapa sinar mata yang indah itu menjadi kecewa, murung dan bahkan mungkin menangis lagi, dia tidak tahan dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, siapa membawa-bawa Siauw-lim-pai? Ilmu silat di dunia ini tidak terhitung banyaknya, akan tetapi sumbernya hanya satu, yaitu mendasar segala gerakan pada pembe­laan diri dan penyerangan. Kalau ada gerakan yang mirip dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, apa anehnya?”

Akan tetapi kakek bermuka tengko­rak itu tidak puas. “Orang muda, apa­kah engkau hendak menyangkal bahwa engkau adalah murid Siauw-lim-pai?”

“Aku tidak menyangkal apa-apa.”

“Kalau begitu mengakulah, engkau murid partai mana?”

“Aku pun tidak mengaku apa-apa. Guruku banyak sekali, tak terhitung ba­nyaknya sehingga aku lupa satu-satunya. Akan tetapi lihat, apakah ini ilmu silat Siauw-lim-pai?” Setelah berkata demiki­an, Bun Beng menggerakkan gelang ber­duri di tangannya, sekali memutar lengan dia telah menyerang dua orang kakek kembar sekaligus.

“Trang-cring....!” Dua kakek kembar itu menangkis kaget dan.... kedua senjata mereka patah-patah.

“Ah.... ini adalah jurus ilmu silat ka­mi....!” Kakek kembar berseru dan cepat menerjang marah dengan gelang mereka yang tinggal sepotong di tangan.

Bun Beng tersenyum dan menghadapi mereka dengan gerakan-gerakan aneh se­perti yang dilakukan dua orang kakek itu. Benarkah bahwa Bun Beng pernah mempelajari ilmu silat gelang berduri dua orang kakek kembar itu? Tentu sa­ja tidak. Melihat pun baru sekali itu. Akan tetapi Bun Beng memiliki daya ingatan yang kuat sekali sehingga sekali melihat dia sudah mengerti dan dapat mengingat serta menirunya! Dia tadi ke­tika menghadapi pengeroyokan kedua orang kakek yang tingkatnya masih jauh lebih rendah darinya, mendapat banyak kesempatan untuk memperhatikan gerak­an mereka sehingga kini ia dapat meni­runya dengan baik, sungguhpun tentu saja hanya kelihatannya saja sama, pada­hal dasar yang menjadi landasan jurus-jurus itu lain sama sekali!

Kalau dua orang kakek kembar men­jadi terkejut dan marah karena pemuda itu selain merampas senjata mereka, ju­ga memukul mereka dengan ilmu mere­ka sendiri, adalah kakek muka tengkorak menjadi heran sekali. Kalau murid Siauw-lim-pai, yang rata-rata angkuh dan mengandalkan ilmu sendiri, tidak mungkin mau melakukan jurus-jurus ilmu silat dua orang kakek kembar itu. Dia pun menda­pat kenyataan bahwa kakek kembar bu­kan lawan pemuda ini, maka dia lalu memberi tanda dengan mata kepada kawan-kawannya.

Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan tubuh tokoh Thian-liong-pang muda itu sudah menyambar, didahului sinar hi­jau pedangnya, bagaikan bintang jatuh, sinar ini menyerbu ke arah Bun Beng.

“Bagus!” Bun Beng memuji, benar-be­nar memuji karena gerakan orang yang tampan itu tangkas sekali. Namun dengan mudah ia dapat mengelak. Kakek muka tengkorak juga menggerakkan pedangnya yang bersinar kuning sehingga dalam se­kejap mata Bun Beng sudah harus melesat ke sana-sini menghindarkan dirinya ditem­bus dua sinar pedang yang amat dahsyat. Dia masih sempat memperhatikan dengan hati cemas ketika melihat bahwa kakek kembar sudah meninggalkannya dan mendorong pergi kerangkeng di mana Ketua Bu-tong-pai tertawan.

“Berhenti!” Bun Beng berteriak dan gelang berduri di tangannya meluncur cepat, berputaran mengeluarkan suara berdesing menyambar ke arah kerangkeng.

“Krakkkk!” Roda itu patah sehingga kerangkeng tak dapat didorong lagi. Akan tetapi, dua orang kakek kembar itu tidak kehilangan akal, mereka lalu mengangkat kerangkeng, menggotongnya dan berlari pergi secepatnya. Bun Beng tak dapat mengejar karena dia didesak oleh dua sinar pedang yang amat cepat dan berbahaya sehingga dia harus mencurahkan perhatiannya untuk melawan dua orang pengeroyok baru yang lihai ini.

Dua orang itu menjadi heran dan kagum bukan main. Mereka telah menge­rahkan kepandaiannya, dengan pedangnya mengeroyok pemuda yang bertangan ko­song ini, namun tetap saja pemuda itu tidak dapat didesak karena selalu dapat mengelak cepat, bahkan balas menyerang mereka dengan pukulan-pukulan ampuh. Mereka makin memperketat pengepungan dan mempercepat serangan dengan niat agar pemuda itu mengeluarkan ilmu silat Siauw-lim-pai. Namun Bun Beng ti­dak mau dipancing dan tiba-tiba ia ber­seru keras, tubuhnya berkelebatan di antara sinar-sinar itu dan ia menyerang dengan ilmu silat yang ganasnya seperti ilmu setan! Dua orang itu terdesak mun­dur dan makin terheran. Pemuda ini me­miliki ilmu silat yang aneh, pikir mere­ka. Biarpun agak “berbau” dasar ilmu si­lat Siauw-lim-pai, namun jelas bukan ilmu silat Siauw-lim-pai karena melihat keganasannya lebih mirip ilmu silat go­longan sesat! Tentu dia seorang tokoh yang amat lihai dan tinggi kedudukannya, pikir mereka.

Memang Bun Beng telah memperguna­kan jurus-jurus ilmu silat dari Sam-po-cin-keng yang bernama Kong-jiu-jib-tin (Dengan Tangan Kosong Menyerbu Baris­an) sehingga kedua orang itu tentu saja tidak mengenal ilmu ciptaan pendiri Beng-kauw ini! Dua orang itu memberi isyarat lalu Si Kakek berkata. “Kami tidak ingin bermusuhan dengan Siauw-lim-pai!” Setelah berkata demiki­an, mereka melesat jauh dan lari pergi.

Bun Beng penasaran. Dia tidak ber­nafsu untuk mengalahkan dua orang itu, apalagi membunuhnya, akan tetapi dia harus menolong Ketua Bu-tong-pai. Ma­ka dia pun lalu melompat dan mengejar, akan tetapi sengaja tidak menyusul me­reka, hanya membayangi dari jauh. Agaknya kedua orang itu juga sengaja memancing Bun Beng karena mereka itu berlari tidak secepat yang mereka dapat lakukan. Hal ini pertama untuk memberi kesempatan kepada kakek kembar untuk lebih dulu sampai ke sarang mereka, ke dua kalinya karena memancing pemuda lihai itu yang tentu akan menarik perha­tian Ketua mereka!

Bun Beng bukan seorang bodoh. Dia cerdik sekali dan dapat memperhitung­kan keadaan, maka dia pun dapat men­duga bahwa tentu dua orang itu sengaja memancingnya. Namun dia tidak takut. Malah kebetulan, pikirnya. Aku tidak perlu susah payah mencari sarang mere­ka. Akan kutemui Ketua mereka, kupaksa agar membebaskan Ang Lojin dan lain-lain tawanan, dan kalau ada, dan memaksanya berjanji agar menghentikan perbuatan-perbuatan menculik orang-orang penting itu!

Sebetulnya apakah yang terjadi de­ngan Thian-liong-pang sehingga kini per­kumpulan besar itu melakukan perbuatan aneh itu, menculiki tokoh-tokoh kang-ouw dan ketua partai persilatan? Sesungguhnya, tidaklah terjadi perubahan di Thian-liong-pang. Ketuanya masih tetap Si Wa­nita berkerudung yang makin lama makin hebat ilmu kepandaiannya itu. Seperti kita ketahui, wanita berkerudung yang aneh dan penuh rahasia ini, yang mukanya tidak pernah kelihatan oleh siapa pun juga, bahkan para pembantunya yang bertingkat paling tinggi pun tidak ada yang pernah melihatnya, bukan lain ada­lah Nirahai, puteri Kaisar Kang Hsi sen­diri yang terlahir dari selir berdarah Khitan campuran Mongol!

Ketika ia dijodohkan oleh kedua orang nenek sakti yang menjadi gurunya dan bibi gurunya, yaitu Nenek Maya dan Khu Siauw Bwee, menjadi isteri Suma Han, hatinya girang bukan main. Diam-diam ia telah jatuh cinta kepada Pende­kar Super Sakti yang berkaki tunggal itu. Namun betapa kecewanya ketika ia mendapat kenyataan bahwa suami yang dicintainya itu tidak menyetujui cita-citanya pergi ke Mongol sehingga mere­ka berpisah dengan hati hancur (baca ceritaPendekar Super Sakti). Dengan rasa hati berat karena sesungguhnya wa­nita ini amat mencinta suaminya, Nirahai berangkat ke Mongol. Terlambat ia mengetahui bahwa ia telah mengandung! Ingin ia kembali ke selatan mencari sua­minya untuk memberi tahu hal ini, na­mun keangkuhannya sebagai bekas puteri kaisar mencegahnya. Dia amat mencinta Suma Han, bahkan telah berkorban de­ngan kehilangan haknya sebagai puteri kaisar. Dia telah kecewa karena setelah berjuang untuk kerajaan ayahnya, akhir­nya dia menjadi seorang buruan! Pukul­an batin ke dua yang lebih kecewa lagi bahwa suami yang dibelanya itu ternya­ta tidak ikut bersama dia! Namun masih timbul harapan di hatinya bahwa cinta kasih dalam hati Suma Han akan mem­buat suaminya itu kelak menyusulnya ke Mongol.

Namun harapannya ini buyar. Sampai dia melahirkan anak perempuan, sampai bertahun-tahun ia menanti dan tinggal di istana Kerajaan Mongol, tetap saja tidak ada kabar berita dari suaminya! Betapa­pun juga, wanita yang keras hati ini te­tap tidak mau pergi mencari suaminya. Kalau memang suaminya tidak mencin­tainya, dengan bukti tidak pernah menyu­sulnya, biarlah dia akan memperlihatkan bahwa dia tidak kalah keras hati! Maka dia lalu meninggalkan puterinya kepada Pangeran Jenghan yaitu keponakan yang berkekuasaan besar dari Pangeran Galdan, dan dia sendiri merantau ke selatan. Ka­rena dia mendengar bahwa suaminya telah menjadi Majikan Pulau Es, maka dia la­lu membuat perkumpulan yang kelak da­pat ia pergunakan untuk menandingi na­ma besar Pulau Es, dan dipilihlah Per­kumpulan Thian-liong-pang.

Di dalam cerita “Pendekar Super Sakti” telah diceritakan tentang watak dan sifat Puteri Nirahai yang gagah perkasa, angkuh dan tidak pernah mau kalah, di samping kecantikannya yang luar biasa dan ilmu kepandaiannya yang amat ting­gi. Mati-matian ia membela Suma Han yang dicintainya, bahkan ia telah mengor­bankan nama, kedudukan dan kehormat­annya untuk pendekar kaki tunggal yang dikaguminya itu. Sebesar itu cintanya, sebesar itu pula sakit hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa suaminya itu tidak mempedulikannya, tidak menyu­sulnya, bahkan tak pernah mencarinya sampai dia melahirkan seorang puteri! Rasa sakit hati membuat Nirahai ingin memperlihatkan bahwa dalam hal kepan­daian dan kebesaran, dia tidak mau kalah oleh suaminya! Pergilah wanita sakti ini meninggalkan Mongol, merantau ke selatan dan ia menjatuhkan pilihan­nya kepada Perkumpulan Thian-liong-pang!

Perkumpulan Thian-liong-pang adalah sebuah perkumpulan besar yang pernah mengalami jatuh bangun seperti juga perkumpulan-perkumpulan lain dan meru­pakan sebuah perkumpulan yang cukup tua usianya. Usianya sudah lebih dari seratus tahun dan pendirinya dahulu ada­lah seorang kakek yang berjuluk Sin Seng Losu (Kakek Bintang Sakti) yang beril­mu tinggi karena dia adalah murid ke­ponakan dari Siauw-bin Lo-mo, seorang di antara datuk kaum sesat yang amat sakti. Ketika perkumpulan ini terjatuh ke tangan mantu Sin Seng Losu yang bernama Siangkoan Bu, perkumpulan itu kembali ke jalan lurus dan tergolong perkumpulan bersih yang mengutamakan kegagahan dan berjiwa pendekar. Akan tetapi, setelah Siangkoan Bu tewas dan perkumpulan itu dipimpin oleh murid Sin Seng Losu yang bernama Ma Kiu berju­luk Thai-lek-kwi dan dibantu oleh sebe­las orang sutenya maka kembali Thian-liong-pang menjadi sebuah partai persilatan yang amat ditakuti karena tidak segan melakukan kejahatan mengandal­kan kekuasaan mereka. Terutama sekalr Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) amat terkenal. Mereka adalah Ma Kiu dan sute-sutenya yang merajalela di dunia kang-ouw. Dalam keadaan seperti itu muncullah Siangkoan Li, putera men­diang Siangkoan Bu atau cucu dari Sin Seng Losu yang dengan bantuan Mutiara Hitam menentang para paman gurunya (baca ceritaMutiara Hitam). Siangkoan Li ini lihai bukan main karena dia telah diterima menjadi murid dua orang kakek sakti yang setengah gila, yang berjuluk Pek-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Hanya sayang sekali, Siangkoan Li yang tadinya merupakan seorang pemuda tampan yang gagah perkasa, bahkan menjadi sahabat baik Mutiara Hitam dan jatuh cinta ke­pada pendekar wanita perkasa itu, tidak hanya mewarisi kesaktian kedua orang gu­runya, akan tetapi juga mewarisi kega­nasan dan kegilaannya!

Siangkoan Li mengamuk dan berhasil merampas Thian-liong-pang di mana dia menjadi ketuanya dan semenjak itu Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang penuh rahasia. Perkumpulan ini tidak pernah menonjol di dunia kang-ouw, akan tetapi tidak ada yang berani lancang tangan mencari perkara dengan orang-orang Thian-liong-pang yang hidup­nya aneh dan penuh rahasia. Ilmu silat para anggauta Thian-liong-pang rata-rata amat tinggi dan dasar ilmu kepandaian mereka bersumber ilmu-ilmu yang aneh dan luar biasa dari Pek-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, atau lebih tepat dari Siangkoan Li yang menyebarkan kepan­daian itu kepada para anak buah dan murid-muridnya. Setelah Siangkoan Li meninggal dunia dalam keadaan mende­rita batin karena cintanya yang gagal terhadap Mutiara Hitam dan selamanya tidak mau menikah, dalam puluhan ta­hun terjadilah pergantian ketua baru beberapa kali dan mulailah terjadi ke­kacauan di dalam perkumpulan ini kare­na perebutan kursi ketua! Dan semenjak itu, selalu ada ketegangan di antara para murid-murid kepala atau dewan pimpinan mereka yang selalu berusaha memperkuat diri untuk merampas kedudukan ketua.

Keadaan ini menimbulkan peraturan baru yang dipegang teguh oleh mereka, yaitu setiap tahun diadakan pemilihan ketua baru dengan jalan berpibu, menga­du kepandaian dan siapa yang paling pandai di antara mereka, tidak peduli wanita atau pria, tidak peduli saudara tua atau saudara muda dalam perguruan, dia yang berhak menjadi ketua sampai lain tahun diadakan pibu lagi di mana dia harus mempertahankan kedudukannya dengan taruhan nyawa! Ya, dalam pibu antara orang-orang liar ini sering kali terjadi pembunuhan. Mereka tidak segan saling membunuh di antara saudara sen­diri untuk memperebutkan kursi ketua yang amat mereka rindukan karena kur­si itu berarti kemuliaan, kemewahan, kehormatan dan nama besar!

Ketika Nirahai mendatangi perkum­pulan yang hendak dipilihnya sebagai syarat untuk menandingi kebesaran Pu­lau Es yang dipimpin oleh Suma Han, suaminya yang dianggapnya menyia-nyia­kan dan menyakitkan hatinya itu tepat terjadi di waktu Thian-liong-pang sedang mengadakan pibu tahunan yang selalu terjadi di ruangan belakang gedung perkumpulan yang amat luas dan terkurung pagar tembok yang tinggi dan atasnya dipasangi tombak-tombak runcing sehing­ga orang yang berkepandaian tinggi seka­lipun jarang ada yang dapat melompat pagar tembok itu. Seperti biasa, pibu diadakan di pekarangan luas yang diku­rung oleh anak buah Thian-liong-pang yang menonton dengan penuh perhatian, ketegangan dan juga kegembiraan kare­na mereka itu tentu saja mempunyai pi­lihan calon ketua masing-masing sehing­ga keadaan hampir sama dengan orang-orang yang menonton adu jago. Bahkan di antara anak buah itu ada yang berta­ruh, bukan hanya bertaruh uang dan barang berharga, bahkan ada yang mempertaruhkan isterinya!

Pada waktu itu, Thian-liong-pang yang tidak hanya berganti-ganti ketua akan tetapi juga berpindah-pindah tempat itu berpusat di kota kecil Cin-bun yang le­taknya di lembah Sungai Huang-ho, di sebelah utara kota Cin-bun di Propinsi Shantung. Para penduduk Cin-bun mendengar akan pemilihan ketua, akan tetapi tidak ada yang berani mencampuri, bah­kan mendekati kelompok bangunan besar yang dilingkungi pagar tembok bertom­bak itu pun merupakan hal yang berba­haya bagi mereka. Para pembesar peme­rintah Mancu pun tidak ada yang berani mencampuri, dan mereka ini sudah me­nerima perintah dari atasan bahwa pe­merintah tidak ingin menciptakan permusuhan dengan perkumpulan yang kuat ini, maka pemerintah daerah yang mengawasi gerak-gerik mereka dan selama perkum­pulan itu tidak melakukan perbuatan yang menentang pemerintah, pemerintah pun lebih suka untuk berbaik dengan mereka. Menentang pun berarti tentu akan menimbulkan pemberontakan baru dan pemerintah tidak menghendaki hal ini karena setiap pemberontakan merupakan bahaya besar, dapat merupakan api yang membakar semangat perlawanan rakyat yang dijajah.

Pada waktu itu, Thian-liong-pang mempunyai anak buah yang jumlahnya dua ratus orang lebih, sebagian besar tinggal di Cin-bun, akan tetapi ada pula yang tinggal di dusun-dusun sekitar Propinsi Shantung dan membuka cabang-cabang Thian-liong-pang. Akan tetapi pada waktu itu, semua pimpinan cabang berkumpul pula di pusat untuk menyak­sikan pemilihan ketua baru melalui pibu, bahkan di antara mereka ada yang ingin ­melihat-lihat barangkali tingkat kepan­daian mereka sudah cukup untuk dicoba mengadu untung ikut dalam pibu.

Dua ratus orang lebih anggauta Thian-liong-pang sudah berkumpul dan suasana menjadi riang gembira karena para anggauta itu sibuk saling bertaruh memilih jago masing-masing. Para pim­pinan rendahan yang mendapat tempat di bangku rendah yang berjajar di depan anak buah itu hanya mendengarkan ting­kah anak buah mereka sambil tersenyum-senyum. Mereka ini tentu saja tidak be­rani bertaruh seperti yang dilakukan anak buah mereka, hanya diam-diam mereka pun mempunyai pilihan masing-masing karena mereka sendiri masih merasa terlalu rendah tingkat kepandaiannya untuk coba-coba berpibu yang berarti mempertaruhkan nyawa.

Adapun pimpinan yang tingkatnya tinggi sudah pula berkumpul di atas kur­si-kursi di tingkat atas ruangan yang dipisahkan dari pekarangan tempat pibu itu oleh lima buah anak tangga di mana ditaruh kursi gading untuk Sang Ketua, diapit-apit beberapa buah kursi untuk para pimpinan yang tinggi tingkatnya dan mereka inilah yang menjadi calon-calon penantang ketua lama. Pada wak­tu itu tampak lima orang pemimpin ting­gi yang telah duduk dengan tubuh tegak dan sikap angkuh, sinar mata mereka berseri seolah-olah mereka itu masing-masing telah merasa yakin akan mem­peroleh kemenangan dalam pibu yang hendak diadakan. Kursi gading untuk Ketua masih kosong karena Ketuanya belum keluar, sedangkan seperangkat alat tetabuhan yang dipukul perlahan menyemarakkan suasana seperti dalam pesta.

Orang pertama dari para pimpinan tinggi adalah seorang kakek yang menye­ramkan. Mukanya seperti muka singa karena rambut di kedua pelipisnya di­sambung dengan jenggot yang melingkari wajahnya, kumisnya juga tipis seperti ku­mis singa. Tubuhnya kekar penuh membayangkan tenaga yang amat kuat biar­pun kakek ini usianya sudah mendekati enam puluh tahun. Rambut dan cambang bauknya sudah berwarna putih, namun warna ini menambah keangkerannya kare­na membuat mukanya lebih mirip muka singa. Sepasang matenya yang lebar menyinarkan cahaya kilat menyeramkan, namun sikapnya pendiam, pakaiannya se­derhana dan dia duduk seperti seekor si­nga kekenyangan yang mengantuk! Kakek ini sebenarnya merupakan saudara seper­guruan tertua dan bahkan menjadi suheng dari Ketua yang sekarang, namun kare­na dia seorang berjiwa perantau dan petualang, maka dia tidak mempunyai nafsu untuk merebut kedudukan ketua, sungguhpun dalam hal kepandaian, masih sukar ditentukan siapa yang lebih unggul antara dia dan Sang Ketua. Kakek ini sudah tidak dikenal lagi nama aselinya, lebih dikenal julukannya yang menyeramkan, yaitu Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Ber­muka Singa)!

Orang ke dua juga seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih, kepala­nya gundul akan tetapi dia bukanlah se­orang hwesio karena dia berjenggot dan berkumis dan berpakaian seperti seorang pelajar, bersikap halus namun matanya liar seperti mata orang yang tidak wa­ras pikirannya. Kelihatannya kakek gun­dul ini lemah, duduk memegangi lengan kursi dan kadang-kadang kedua tangannya bergerak menggigil seperti orang buyuten, kepalanya bergerak-gerak sendi­ri tanpa disadari mengangguk-angguk dan mulutnya kadang-kadang tersenyum geli seolah-olah ada setan tak tampak membadut di depannya. Namun jangan dianggap remeh kakek ini karena dia pun merupakan suheng dari Sang Ketua, dan sute dari Sai-cu Lo-mo. Namanya Chie Kang dan julukannya tidak kalah menye­ramkan dari suhengnya karena di dunia kang-ouw dia dikenal sebagai Lui-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Angin dan Kilat)!

Orang ke tiga adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tinggi besar tubuhnya, wajahnya merah seperti orang sakit darah tinggi, matanya me­lotot jarang berkedip, hidungnya besar merah tanda sifat gila perempuan, pa­kaiannya seperti seorang jago silat dan di punggungnya tampak gagang sebatang golok besar. Inilah Twa-to Sin-seng (Bin­tang Sakti Golok Besar) Ma Chun yang amat disegani dan ditakuti karena watak­nya yang kasar, terbuka, dan kurang ajar terhadap wanita tanpa tedeng aling-aling lagi!

Orang ke empat adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, wa­jahya tampan sekali, bahkan begitu ha­lus gerak-geriknya, begitu merah bibir­nya dan begitu tajam memikat kerling matanya sehingga dia lebih mirip seorang wanita! Sepasang pedang tergantung di pinggangnya, pakaiannya biru, dari ba­han sutera halus dan laki-laki tampan ini termasuk seorang yang pesolek. Sa­yangnya, sinar matanya yang bagus itu mengandung kekejaman dan juga kesombongan yang memandang rendah semua orang! Dia ini pun bukan orang biasa dan merupakan di antara para pemimpin tinggi yang telah membuat nama Thian-­liong-pang menjadi nama besar dan te­nar.

Pedangnya amat ditakuti orang dan dia dijuluki Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Arwah), namanya Liauw It Ban. Kalau suhengnya, Ma Chun, terkenal sebagai seorang laki-laki gila perempuan dan suka mempermainkan wanita, Liauw It Ban ini lebih hebat lagi karena dia seorang mata keranjang yang berwatak sadis, senang sekali menyiksa wanita yang menjadi korbannya! Betapapun juga, dia dan suhengnya tidak pernah mengumbar hawa nafsu iblis itu di daerah sendiri karena mereka tunduk akan perintah ketua mereka agar tidak mengotorkan nama Thian-liong-pang di daerah sendiri sehingga tidak mendapat kesan buruk terhadap pemerintah. Karena itu, namanya lebih tersohor di daerah lain di luar propinsi.

Orang ke lima akan mendatangkan rasa heran bagi orang luar Thian-liong-­pang karena dia paling tidak patut men­jadi anggauta dewan pimpinan perkum­pulan besar itu. Dia adalah seorang wa­nita yang masih muda, kurang lebih dua puluh tujuh tahun usianya, cantik manis dengan pakaian sederhana namun tidak dapat menyembunyikan lekuk lengkung tubuhnya yang sudah matang. Wanita ini merupakan saudara seperguruan termuda, namun dia memiliki ilmu kepandaian di luar ilmu keturunan ilmu para Pim­pinan Thian-liong-pang karena dia telah menerima ilmu-ilmu dari mendiang suaminya, seorang murid dari Bu-tong-pai yang lihai. Suaminya tewas setahun yang lalu ketika berusaha memasuki pibu memperebutkan kedudukan ketua sehing­ga wanita ini yang bernama Tang Wi Siang, adalah seorang janda kembang yang harum dan membuat banyak pria tertarik dan ingin sekali memetiknya. Teruta­ma sekali kedua orang suhengnya sendi­ri, Ma Chun dan Liauw It Ban yang pa­da waktu itu pun seringkali melayang­kan sinar mata ke arahnya. Bahkan beberapa kali Ma Chun menelan ludah kalau pandang matanya menyapu tubuh sumoi­nya yang penuh gairah. Liauw It Ban ju­ga memandang dengan sinar mata penuh gairah, akan tetapi ia tersenyum-senyum dan memasang aksi setampan mungkin untuk menundukkan hati sumoinya yang sudah menjadi janda itu. Namun, Tang Wi Siang duduk dengan tenang dan sikap­nya dingin sekali, seperti sebongkah es membeku. Namun, di luar tahu lain orang, diam-diam ia menyapukan pan­dang matanya yang tajam itu ke arah Liauw It Ban, suhengnya yang tampan. Dahulu sebelum suaminya tewas, dia ti­dak mempedulikan suhengnya yang tam­pan ini, bahkan sebelum ia menikah, ia tidak pernah melayani rayuan suheng­nya. Akan tetapi sekarang, setelah seta­hun lamanya dia menjanda, setelah me­rasa tersiksa hatinya karena kehilangan rayuan dan cinta kasih seorang pria yang pernah dinikmatinya hanya beberapa ta­hun lamanya, diam-diam sering jantung­nya berdebar kalau membayangkan su­hengnya yang tampan itu menggantikan mendiang suaminya!

Lima orang inilah, bersama Sang Ketua sendiri, yang menjadi tokoh-tokoh utama dari Thian-liong-pang dan memang mereka berenam memiliki kepandaian yang tinggi, memiliki keistimewaan masing-­masing sehingga sukar untuk dikatakan siapa di antara mereka yang paling lihai. Dan kini, sudah dapat dibayangkan bah­wa dalam pibu perebutan kedudukan ke­tua, lima orang inilah yang akan berani maju untuk berpibu melawan Sang Ke­tua, karena selain mereka, siapa lagi yang akan berani maju?

Tiba-tiba tetabuhan dipukul keras dan terdengar aba-aba dari komandan upacara, yaitu seorang pemimpin rendahan yang memberi tahu akan munculnya Sang Ke­tua. Semua anggauta Thian-liong-pang serentak bangkit memberi hormat, dan lima orang itulah yang berdiri dengan tenang dan biasa menyambut munculnya Si Ketua yang ditunggu-tunggu sejak tadi. Orang takkan merasa heran setelah melihat munculnya Ketua Thian-liong-pang karena memang patutlah orang ini menjadi ketua. Tubuhnya tinggi besar se­perti raksasa sehingga Ma Chun yang tinggi besar itu hanya setinggi pundaknya! Ketua Thian-liong-pang ini tinggi­nya seimbang dengan besar tubuhnya. Langkahnya lebar dan berat seperti lang­kah seekor gajah, lantai sampai terge­tar dibuatnya. Pakaiannya mentereng akan tetapi ketat dan membayangkan tonjolan otot-otot yang besar. Kedua lengannya sampai ke jari tangannya pe­nuh bulu hitam kasar, kepalanya yang besar juga berambut hitam kasar seperti kawat-kawat baja. Alisnya tebal hampir persegi, matanya bulat dengan manik mata hitam amat kecil sehingga kelihatannnya mata itu putih semua, hidungnya kecil akan tetapi mulutnya besar seperti terobek kedua ujungnya. Jenggot dan ku­misnya dipotong pendek, kaku seperti si­kat kawat! Kulitnya yang kelihatannya tebal seperti kulit badak itu berkerut-­kerut, agak hitam mengingatkan orang akan kulit buaya yang tebal, keras, dan lebat! Inilah dia Phang Kok Sek, Ketua Thian-liong-pang yang telah mewarisi Hwi-tok-ciang (Tangan Racun Api) dari leluhur Thian-liong-pang, yaitu Lam-kek Sian-ong! Tahun yang lalu, dalam pibu dia telah menewaskan ketua lama yang menjadi paman gurunya sendiri, mene­waskan pula suami Tan Wi Siang dan beberapa orang lain lagi, bahkan melukai Ma Chun yang menjadi sutenya.

Dengan gerakan kedua tangannya yang kaku Ketua ini mempersilakan sau­dara-saudara seperguruannya untuk duduk kembali. Dia sendiri menduduki kur­si gading, dan semua anak buah lalu du­duk pula, para pemimpin rendah duduk di bangku dan para anggauta duduk di atas lantai yang terbuat dan batu perse­gi yang lebar, keras dan berwarna hitam. Seperti biasa, mereka itu merupa­kan setengah lingkaran menghadap ke arah tempat para pimpinan duduk, ya­itu di atas anak tangga dan di depan atau sebelah bawah anak tangga itu me­rupakan ruangan yang sengaja dikosong­kan karena di situlah biasanya diadakan pibu antara pimpinan untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ketua baru karena memiliki ilmu kepandaian tertinggi. Tempat pibu yang berbahaya karena lantai ubin batu itu amat keras sehing­ga sekali terbanting, tulang bisa patah, apalagi kalau kepala yang terbanting bisa pecah!

Seperti sudah menjadi kebiasaan setiap diadakan pibu pemilihan ketua baru, Thian-liong-pangcu yang bertubuh seper­ti raksasa memberi isyarat dengan kedua tangan ke atas, menyuruh semua orang tidak mengeluarkan suara berisik. Sete­lah keadaan menjadi hening, dia bangkit berdiri dan mengucapkan kata-kata yang sudah dikenal baik oleh semua anggauta.

“Saudara sekalian, hari ini kita berkumpul untuk mengadakan pemilihan ke­tua baru seperti yang tiap kali diadakan sesuai dengan kehendak dewan pimpinan. Aku sendiri sebagai ketua, kedua orang Suheng, dua orang Sute, dan Sumoiku sebagai anggauta dewan pimpinan telah bersepakat untuk mengadakan pemilihan ketua baru pada hari ini sesuai dengan kebiasaan dan peraturan perkumpulan kita. Seperti telah menjadi kebiasaan Thian-liong-pang pula, aku sebagai ketua harus mempertahankan kedudukanku se­bagai ketua dan dia yang dapat mengalahkan aku dan kemudian keluar sebagai orang terkuat, dialah yang berhak men­jadi ketua baru tanpa ada tantangan da­ri siapapun juga dan memiliki hak mutlak untuk menjadi Ketua Thian-liong-pang. Luka atau mati dalam pibu tidak boleh mengakibatkan dendam dan kebencian di antara saudara seperkumpulan, karena pibu ini diadakan bukan karena urusan pribadi, melainkan untuk pemilihan ke­tua dan demi kepentingan dan nama besar Thian-liong-pang. Aku sudah selesai bicara dan di antara para anggauta bia­sa dan pimpinan yang ingin memasuki pibu, harap berdiri dan menyatakan pendapatnya.” Setelah berkata demikian, Ketua yang bertubuh seperti raksasa itu duduk kembali, kedua lengannya yang besar ditaruh di atas lengan kursi gading, tubuhnya memenuhi kursi itu dan pandang matanya menyapu semua orang yang hadir penuh tantangan. Namun diam-diam ia melirik ke arah dua orang suhengnya, yaitu Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang. Ketua ini tidak gentar menghadapi dua orang su­tenya dan seorang sumoinya karena merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan mereka. Namun dia me­ngerti bahwa kalau dua orang suhengnya itu memasuki pibu, dia harus berhati-­hati karena akan bertemu lawan yang berat.

Sai-cu Lo-mo yang sudah berusia enam puluh tahun itu adalah seorang perantau dan sejak dahulu tidak pernah memasuki pibu perebutan kursi ketua karena baginya, menjadi ketua berarti harus selalu berada di Thian-liong-pang dan agaknya dia tidak mau mengorban­kan kesukaannya merantau dengan men­jadi ketua. Adapun Lui-hong Sin-ciang Chie Kang adalah seorang yang sama sekali tidak mempunyai ambisi, belum pernah mengikuti pibu pemilihan ketua, lebih senang duduk termenung, atau ber­samadhi atau diam-diam melatih ilmu silatnya, kalau tidak tentu dia tengge­lam dalam kitab-kitab kuno karena dia adalah seorang kutu buku yang karena terlalu suka membaca tanpa mempedulikan waktu, sampai kadang-kadang mata­nya basah dan merah, sedangkan kedua tangannya menggigil buyuten! Betapapun juga, Phang Kok Sek maklum bahwa suhengnya yang ke dua ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia masih belum berani memastikan apakah dia akan menang melawan Ji-suhengnya ini.

Karena ada kekhawatiran ini, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat twa-suhengnya, Sai-cu Lo-mo sebagai orang pertama yang bangkit ber­diri dari kursi di ujung sebelah kanan­nya. Juga para anggauta menjadi heran dan tegang karena maklum bahwa kalau yang tua-tua ini sudah ikut pibu, tentu akan ramai sekali pertandingan antara saudara-saudara seperguruan itu.

Sai-cu Lo-mo mengelus brewoknya yang putih sambil tersenyum sebelum bi­cara, kemudian ia berkata, “Harap semua saudara jangan salah menduga. Aku le­bih suka merantau di alam bebas daripa­da harus terikat di atas kursi gading sebagai ketua! Sekarang pun aku masih belum mengubah kesenanganku dan aku tidak akan mengikuti pibu pemilihan ketua, hanya ada sedikit hal yang perlu kuke­mukakan. Siapa pun yang akan menjadi ketua baru, mulai sekarang harus dapat mengendalikan Thian-liong-pang dengan baik, mencegah penyelewengan para ang­gauta yang hanya akan merusak nama besar Thiang-liong-pang. Hentikan per­buatan-perbuatan maksiat yang rendah dan yang menyeret Thian-liong-pang ke lembah kehinaan, karena kita bukanlah angauta-anggauta perkumpulan rendah, bukan segerombolan penjahat-penjahat kecil yang mengandalkan nama perkumpulan untuk melakukan perbuatan menji­jikkan seperti yang sering kudengar yaitu berlaku sewenang-wenang, memperkosa wanita, dan sebagainya. Kalau perbuatan-­perbuatan ini tidak dihentikan, kalau Ketua baru tidak mampu mengendalikan, hemmm.... aku tidak mengancam, akan tetapi terpaksa aku akan turun tangan menantangnya dan mungkin akan timbul hasratku untuk menjadi ketua!” Setelah berkata demikian, kakek muka singa itu duduk kembali dan melenggut seperti orang hendak tidur!

Keadaan menjadi sunyi, kemudian terdengar bisik-bisik di antara para ang­gauta yang sebagian besar merasa ter­singgung dan tidak senang dengan ucap­an itu. Adapun Phang Kok Sek, Sang Ketua, menjadi merah mukanya, terasa panas seperti baru saja menerima tamparan.

“Cocok sekali!” Tiba-tiba Lui-hong Sin-ciang Chie Kang berseru dan bangkit dari kursinya, suaranya tinggi nyaring sungguh tidak sesuai dengan sikapnya yang tenang dan kelihatan lemah. “Ja­ngan membikin malu nenek moyang kita yang gagah perkasa, Siangkoan Li Su-couw yang pernah menjadi sahabat baik pendekar wanita sakti Mutiara Hitam!” Setelah berkata demikian, Lui-hong Sin­ciang Chie Kang duduk kembali.

Biarpun ucapan kedua orang suhengnya itu merupakan tamparan dan teguran ter­sembunyi, yang ditujukan kepadanya, na­mun hati Phang Kok Sek menjadi lega karena jelas bahwa kedua orang suheng­nya itu tidak mau memasuki pibu mem­perebutkan kursi ketua! Kini tinggal dua orang sutenya dan seorang sumoinya, karena selain mereka bertiga, siapa lagi yang berani memasuki pibu? Dia meli­rik ke arah kedua orang sutenya dan su­moinya.

Hampir berbareng, Twa-to Sin-seng Ma Chun dan Cui-beng-kiam Liauw It Ban bangkit berdiri memandang ketua mereka juga suheng mereka sambil ber­kata,

“Aku hendak memasuki pibu!” kata Ma Chun.

“Dan aku juga ingin mencoba-coba, memasuki pibu pemilihan ketua baru!” kata Liauw It Ban.

Setelah kedua orang itu duduk kembali, Tang Wi Siang bangkit berdiri. Jan­da muda yang cantik jelita ini berkata tenang, “Aku ingin memasuki pibu, akan tetapi hendaknya Pangcu dan sekalian Suheng dan saudara sekalian maklum bahwa aku merasa tidak cukup untuk menjadi ketua....”

“Sumoi, aku bersedia membantumu mengatur pekerjaan ketua!” Tiba-tiba Liauw It Ban berseru dan matanya memandang dengan sinar penuh arti. Kedua pipi wanita itu berubah merah, jantung­nya berdebar karena maklum apa yang tersembunyi di balik ucapan itu, apalagi ketika ia melihat banyak mulut terse­nyum-senyum maklum, membuat dia merasa lebih jengah lagi.

“Terima kasih, Liauw-suheng. Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi ketua, juga jangan disalah artikan bahwa aku memasuki pibu karena mendendam atas kematian mendiang suamiku. Sama sekali tidak, aku memasuki pibu setelah sela­ma ini aku melatih diri memperdalam ilmu silat dan semata-mata hanya untuk mempertebal keyakinan bahwa orang yang menjadi ketua perkumpulan kita memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dariku sehingga boleh dipercaya dan di­andaikan utuk menjunjung nama dan ke­hormatan Thian-liong-pang!”

Girang sekali hati Phang Kok Sek mendengar ini dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk memaafkan sumoinya yang cantik itu dan tidak membu­nuhnya. Akan tetapi kedua orang sute­nya Ma Chun dan Liauw It Ban harus ia tewaskan dalam pibu itu karena kalau sekali ini mereka gagal, pada lain ke­sempatan tentu mereka itu akan menco­ba lagi dan hal ini merupakan bahaya terus-menerus bagi kedudukannya. Ia se­gera bangkit berdiri dan berkata,

“Terima kasih atas wejangan kedua Suheng dan tentu saya akan berusaha memperbaiki keadaan perkumpulan kita. Seperti saudara sekalian telah mende­ngar, yang memasuki pibu untuk kedu­dukan ketua baru hanyalah Ma-sute dan Liauw-sute, sedangkan Sumoi hanya akan menguji kepandaian Ketua baru yang berhasil keluar sebagai pemenang dalam pibu ini. Kurasa tidak ada orang lain la­gi yang akan memasuki pibu hari ini!”

“Ada!” Tiba-tiba terdengar suara yang bening merdu, suara wanita! “Akulah yang akan memasuki pibu memperebut­kan kedudukan ketua Thian-liong-pang!”

Semua orang menengok dan memandang dengan penuh keheranan kepada seorang wanita yang kepalanya berkerudung sutera putih dan tahu-tahu telah berdiri di dalam ruangan itu. Bagaimana mungkin orang ini masuk? Semua pintu masih tertutup, dan tempat itu dikelilingi tembok yang tinggi dan atasnva di­pasangi tombak-tombak runcing mengandung racun!

“Engkau siapa?” Phang Kok Sek mem­bentak dengan suara menggeledek kare­na marah.

Terdengar suara ketawa kecil di ba­lik kerudung sutera itu dan dengan lang­kah tenang wanita berkerudung itu me­masuki ruangan sampai di bagian tengah yang kosong, di bawah anak tangga ke­mudian berkata,

“Pangcu, siapa aku bukanlah hal pen­ting. Akan tetapi kalau kalian semua ingin tahu juga, akulah calon Ketua ba­ru dari Thian-liong-pang, calon Ketua kalian. Aku memasuki pibu untuk mendapatkan kedudukkan Ketua Thian-liong-­pang.”

Phang Kok Sek bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah wanita berkerudung itu. “Tidak mungkin! Eng­kau telah melakukan dua pelanggaran. Pertama, engkau sebagai orang luar be­rani memasuki tempat ini tanpa ijin, ke­salahan ini saja sudah patut dihukum dengan kematian. Ke dua, pibu keduduk­an Ketua Thian-liong-pang hanya dilaku­kan di antara anggauta sendiri, tidak bo­leh dicampuri orang dari luar! Hayo, buka kedokmu dan perkenalkan dirimu. Karena engkau seorang wanita, mungkin sekali kami dapat memberi ampun.”

Kembali wanita itu tertawa, halus merdu dan penuh ejekan namun cukup membuat tulang punggung yang mendengarnya terasa dingin. “Phang Kok Sek, biarpun engkau telah menjadi Ketua Thian-liong-pang, ternyata engkau agaknya tidak tahu atau lupa akan seja­rah Thian-liong-pang dan riwayat tokoh­-tokoh besarnya di waktu dahulu. Dahulu, pendekar besar Siongkoan Li telah diusir dari Thian-liong-pang, dan dianggap seba­gai orang luar karena perbuatan-perbuat­annya yang menentang Thian-liong-pang dan karena menjadi murid dari kedua Sian-ong Kutub Utara dan Selatan. Akan tetapi kemudian dia kembali dan meram­pas Thian-liong-pang menjadi ketuanya! Bukankah itu berarti seorang luar dapat menjadi Ketua Thian-liong-pang? Dan lu­pakah engkau kepada Gurumu sendiri, Guru semua anggauta dewan pimpinan Thian-liong-pang ini? Siapakah Guru ka­lian? Bukankah guru kalian mendiang Kim-sin-to Sai-kong adalah seorang per­tapa dari Kun-lun-san yang sama sekali bukan anggauta Thian-liong-pang tadi­nya?”

Keenam pimpinan Thian-liong-pang terkejut sekali. Bagaimana orang ini dapat mengetahui semua rahasia itu yang menjadi rahasia moyang para pimpinan Thian-liong-pang?

“Siapakah engkau?” Kembali Phang Kok Sek bertanya.

“Aku adalah calon Thian-liong-pang­cu,” wanita berkerudung menjawab.

Tiba-tiba Sai-cu Lo-mo berkata sete­lah menatap sepasang mata di balik ke­rudung itu dengan tajam. “Toanio, siapa pun adanya engkau, caramu masuk dan sikapmu menunjukkan bahwa engkau se­orang pemberani. Akan tetapi ketahuilah bahwa seorang yang ingin menjadi Ketua Thian-liong-pang bukanlah melalui pibu, melainkan merupakan perampas perkum­pulan yang harus lebih dahulu mengalahkan seluruh pimpinan....”

“Memang aku datang untuk mengalahkan kalian semua atau siapa saja yang menentangku menjadi Ketua Thian-liong­-pang!” Wanita itu menjawab seenaknya. “Nah, aku menyatakan diriku sebagai Ketua Thian-liong-pang yang baru! Siapa yang akan menentang? Boleh maju!”

Para anggauta Thian-liong-pang memandang dengan hati tegang dan juga gembira karena mereka merasa yakin bahwa munculnya wanita aneh ini akan mengakibatkan pertandingan yang amat menarik. Tadinya mereka sudah merasa kecewa ketika mendengar ucapan Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang karena maklum bahwa dua orang tua itu tidak memasuki pibu sehingga pertan­dingan yang akan terjadi di antara Ketua dan dua orang sutenya dan seorang su­moinya tidak akan menarik hati.

Sementara itu, melihat sikap wanita berkerudung, enam orang pimpinan Thian-liong-pang menjadi marah dan diam-diam Phang Kok Sek memberi tan­da dengan matanya kepada Cui-beng-­kiam Liauw It Ban. Mereka berenam adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi pula, maka biarpun mereka ditan­tang, mereka merasa malu untuk maju mengeroyok. Pula, Phang Kok Sek yang cerdik sengaja menyuruh sutenya maju, selain untuk menyaksikan dan mengukur kepandaian wanita berkerudung juga an­daikata terjadi sesuatu dengan diri Liauw It Ban hanya berarti bahwa dia kehilang­an seorang di antara saingan-saingannya!

Akan tetapi betapa kaget hatinya, dan juga para pimpinan lain ketika wanita itu mendahului Liauw It Ban yang hendak bangun menghadapi Si Pedang Pengejar Roh itu sambil berkata, “Nah, engkau sudah menerima perintah Suheng­mu untuk melawan aku. Majulah!”

Bukan main tajamnya pandang mata di balik kerudung sutera itu sehingga isyarat Sang Ketua dengan matanya da­pat ia tangkap! Liauw It Ban meloncat bangun dan ketika tangan kanannya ber­gerak, tampak sinar berkelebat, pedangnya telah berada di tangan kanan. Ia tersenyum mengejek, melintangkan pe­dang depan dada dan menggunakan telun­juk kirinya menuding ke arah muka berkerudung itu.

“Perempuan sombong! Agaknya engkau belum mengenal aku, maka engkau bera­ni membuka mulut besar! Lebih selamat bagimu kalau engkau membuka kerudung­mu agar dapat kulihat wajahmu. Kalau wajahmu sehebat tubuhmu, hemm.... agaknya aku masih dapat mengampuni­mu asal engkau tahu bagaimana harus membalas budi, ha-ha!”

Betapa kagetnya ketika laki-laki ber­usia tiga puluh tahun yang tampan dan pesolek ini mendengar suara dari balik kerudung, suara yang merdu namun me­ngandung ejekan,

“Cui-beng-kiam Liauw It Ban, siapa tidak mengenal orang rendah seperti engkau ini? Engkau orang ke lima dari enam Pimpinan Thian-liong-pang, dan sudah cu­kup engkau mengotorkan Thian-liong-pang dengan perbuatan-perbuatanmu yang kotor, memperkosa wanita-wanita baik-­baik, menyiksa orang. Engkau seorang penjahat cabul yang berhati keji dan se­sungguhnya engkau tidak patut menjadi tokoh Thian-liong-pang. Kedatanganku memang untuk menjadi Ketua Thian­-liong-pang dan sekaligus membersihkan Thian-liong-pang dari monyet-monyet ko­tor macam engkau!”

“Singggg....!” Tampak sinar kilat keti­ka pedang di tangan Liauw It Ban me­nyambar ke arah leher wanita berkeru­dung. Namun, dengan gerakan mudah seka­li wanita itu mengelak, bahkan terdengar tertawa mengejek. Tidak percuma Liauw It Ban mendapat julukan Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) karena begitu pe­dangnya luput, sudah membalik lagi dengan serangan ke dua yang merupakan sebuah tusukan ke arah dada wanita berkerudung itu.

Semua pimpinan Thian-liong-pang terbelalak kaget ketika menyaksikan gerak­an wanita berkerudung itu. Wanita itu mengangkat tangan kirinya dan dua buah jari tangannya, telunjuk dan ibu jari, menjepit ujung pedang yang menusuk­nya dengan mudah sekali dan.... betapa pun Liauw It Ban menarik, pedangnya tidak dapat terlepas dari jepitan dua buah jari itu!

“Begini sajakah Pedang Pengejar Roh? Tentu roh tikus saja yang dapat dikejarnya. Hi-hik!” Wanita berkerudung itu mengejek.

“Perempuan siluman!” Liauw It Ban membentak, tangan kanannya menyam­bar ke depan, menghantam ke arah muka wanita yang tertutup kerudung su­tera itu.

“Plakk! Krekkk.... aduuuhhhh!” Liauw It Ban menjerit kesakitan ketika tangan kanan wanita itu menyambut pukulannya dengen telapak tangan, terus menceng­keram sehingga tulang-tulang jari tangan Liauw It Ban yang terkepal itu patah-­patah dan remuk!

“Krak.... cepppp! Auggghhh....” Wanita itu tidak berhenti sampai di situ sa­ja, tangan kirinya yang menjepit ujung pedang membuat gerakan, pedang patah ujungnya dan sekali mengibaskan tangan kiri, ujung pedang itu meluncur dan am­blas memasuki dada Liauw It Ban sam­pai tembus ke punggung. Liauw It Ban melepaskan pedang mendekap dadanya dan roboh terjengkang, tewas di saat itu juga. Wanita berkerudung menendang dan mayat itu melayang ke atas anak tangga, ke arah Ketua Thian-liong-pang!

Phang Kok Sek menyambut mayat itu, memeriksa sebentar dan mukanya menjadi merah saking marahnya. Kalau saja Liauw It Ban tewas dalam sebuah pertandingan yang dapat membuka rahasia gerakan wanita itu dan yang kiranya dapat ia tandingi tentu ia akan merasa girang kehilangan seorang saingan. Akan tetapi kematian sutenya itu demikian aneh, hanya dalam dua gebrakan saja sehingga dia sama sekali tidak dapat mengukur sampai di mana tingginya ke­pandaian wanita itu, dan hal ini merupa­kan penghinaan bagi Thian-liong-pang yang ditakuti oleh semua tokoh kang-ouw. Biarpun dia belum dapat mengukur dan mengenal ilmu wanita berkerudung, na­mun ia tahu bahwa wanita itu amat sakti, kalau tidak tak mungkin sutenya yang ilmu kepandaiannya tidak kalah jauh olehnya itu dapat tewas semudah itu. Maka ia cepat memberi isyarat dan berseru.

“Serbu....!”

Dua ratus orang anak buah Thian-liong-pang dipimpin oleh komandan ma­sing-masing, serentak bangkit. Tiba-tiba terdengar suara lengking panjang yang menulikan telinga, disusul oleh berkele­batnya bayangan yang berputar ke arah mereka yang mengurungnya dan.... semua orang terbelalak memandang dua belas orang yang roboh di atas lantai tanpa nyawa lagi! Kiranya wanita itu sudah bergerak cepat dan merobohkan setiap orang yang berada paling depan dari para pengurung, entah bagaimana cara­nya karena dua belas orang yang roboh dan tewas itu tidak terluka sama sekali.

“Para anggauta Thian-liong-pang, dengarlah! Aku datang bukan untuk membunuh kalian, melainkan untuk memimpin kalian. Kalau aku datang akan membasmi, betapa mudahnya! Aku akan menjadikan Thian-liong-pang sebuah per­kumpulan terbesar dan terkuat di selu­ruh dunia, sekuat Pulau Es dengan peng­huni-penghuninya!”

Mendengar ini, terutama melihat cara wanita itu merobohkan dua belas orang teman mereka, para anggauta itu serentak mundur dan menjadi ragu-ragu. Hal ini menimbulkan kemarahan besar di hati para pimpinan.

“Perempuan rendah, berani engkau membunuh Suteku?” Twa-to Sin-seng Ma Chun berteriak dan tangan kirinya bergerak.

“Cuit-cuit-cuit.... cap-cap-cappp!” Tiga batang senjata rahasia berbentuk bintang menyambar ke arah tubuh wanita berke­rudung, namun semua dapat ditangkap oleh wanita itu dengan jepitan jari-jari tangannya. Wanita itu terkekeh, mengum­pulkan tiga buah senjata rahasia itu di tangan kirinya, mengepal dan terdengar suara keras. Ketika ia membuka tangan­nya, tiga buah senjata rahasia bintang yang terbuat dari baja dan diberi racun itu telah hancur berkeping-keping dan dibuang ke atas lantai!

Twa-to Sin-seng Ma Chun marah se­kali, mencabut golok besarnya dan me­nerjang maju. Tang Wi Siang yang meli­hat Liauw It Ban, suheng yang mengge­rakkan gairahnya itu terbunuh, menjadi marah dan ia pun sudah mencabut pe­dang dan membantu Ma Chun mengero­yok wanita itu.

Sinar golok dan pedang menyambar-nyambar seperti kilat, mengurung tubuh wanita berkerudung, akan tetapi anehnya, tak pernah kedua senjata ini menyentuh ujung baju Si Wanita yang bergerak de­ngan mudah dan ringan seolah-olah tubuhnya berubah menjadi uap. Dikeroyok oleh dua orang yang lihai itu wanita ini malah terkekeh-kekeh dan masih dapat berkata-kata sambil mengelak ke sana ke mari.

“Twa-to Sin-ceng Ma Chun, engkau pun bukan manusia baik-baik. Engkau mata keranjang, sombong, kasar dan mengan­dalkan kepandaian yang tidak seberapa....”

“Perempuan rendah! Kalau aku dapat menangkapmu, aku bersumpah akan me­nelanjangimu dan memperkosamu di depan mata seluruh anggauta Thian­-liong-pang.... aughhh....!” Tubuh yang tinggi besar itu terlempar, goloknya terpental dan ketika semua orang meman­dang, tampak tanda tiga buah jari mem­biru di dahi Ma Chun yang sudah tewas itu!

“Engkau.... manusia kejam....!” Tang Wi Siang menjerit dan pedangnya mener­jang dengan hebatnya. Tingkat kepandai­an Tang Wi Siang kalau dibandingkan tingkat Ma Chun dan Liauw It Ban, da­pat dikatakan sama, akan tetapi setelah ia mempelajari ilmu pedang dari suami­nya yang telah tiada, ia dapat memperhebat ilmu pedangnya dengan gerakan dasar dari Bu-tong-pai. Maka sekali ini dalam keadaan marah, pedangnya mengeluarkan bunyi berdesing-desing dan menyerang wanita berkerudung itu secara bertubi-tubi.

“Tang Wi Siang, bagus sekali engkau telah mempelajari ilmu dasar dari Bu­-tong-pai. Aku tidak akan membunuhmu karena aku memilih engkau menjadi wa­kilku dalam memimpin Thian-liong-pang!”

“Tutup mulutmu! Aku baru mengakui orang kalau sudah dapat mengalahkan aku!”

“Wanita bodoh, tak tahukah engkau, betapa mudahnya itu? Kau tadi menga­takan bahwa engkau akan menguji kepan­daian setiap Ketua Thian-liong-pang­, nah, sekarang boleh menguji aku yang akan menjadi junjunganmu dan juga gurumu. Lihat baik-baik, dalam tiga ju­rus aku akan mengalahkanmu!”

Biarpun pada saat itu juga dia sudah yakin betapa saktinya wanita berkerudung itu, namun di dalam hatinya Tang Wi Siang menjadi penasaran. Wanita aneh itu te­lah mengenal baik-baik keadaan Thian-­liong-pang, mengenal riwayat perkumpulan ini, bahkan mengenal semua nama dan julukan para pimpinan Thian-liong­-pang berikut watak mereka. Dan kini menantangnya akan mengalahkan dalam tiga jurus! Apakah dia dianggap seorang anak kecil yang tidak mempunyai kepan­daian apa-apa? Rasa penasaran membu­at dia marah dan merasa dianggap ren­dah dan hina, maka ia berteriak keras,

“Manusia yang bersembunyi di bela­kang kerudung seperti siluman! Kalau kau dapat mengalahkan aku dalam tiga jurus, aku tidak patut menjadi wakilmu, lebih patut mampus atau menjadi pela­yanmu!”

“Bagus! Engkau sendiri yang memilih menjadi pelayan!” Wanita aneh itu tidak menjawab akan tetapi pada saat itu Tang Wi Siang sudah menerjang dengan pedangnya, menggunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air Terjun Terbang Bianglala Melengkung). Jurus ini adalah jurus ilmu pedang Bu-tong-pai yang amat indah dan berbahaya, menjadi aneh dan lebih berbahaya lagi karena gerakannya telah dicampur dengan gerakan ilmu aseli dari Thian-liong-pang, yaitu ketika pedang menyambar membacok ke arah muka la­wan dilanjutkan dengan gerakan memba­bat leher dari kanan ke kiri dengan gerakan melengkung, tangan kiri Tang Wi Siang menyusul dengan pukulan sakti yang disebut Touw-sim-ciang (Pukulan Menembus Jantung), semacam pukulan yang digerakkan dengan tenaga sin-kang dan dapat menggetarkan isi dada meng­hancurkan jantung dan paru-paru!

“Siuuuttt.... wirr-wirrr-wirrrr....!” Wi Siang hanya melihat berkelebatnya ba­yangan wanita berkerudung itu ke kanan, kiri dan serangannya luput! Dengan kaget dan penasaran ia melanjutkan serangan­nya secara beruntun, yaitu dengan jurus Sian-li-touw-so (Sang Dewi Menenun) dan terakhir dengan jurus Sian-li-sia-kwi (Sang Dewi Memanah Setan). Mula-mula pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang melingkar-lingkar mengurung tubuh wanita berkerudung dan menye­rangnya dari arah yang mengelilingi la­wan itu. Wi Siang maklum bahwa lawan­nya memiliki gin-kang yang luar biasa, dapat bergerak cepat seperti terbang, maka ia berusaha mengurungnya dengan sinar pedang. Seperti yang telah diduga­nya, wanita itu tiba-tiba mencelat ke atas untuk menghindarkan diri dari ling­karan sinar pedang. Saat ini sudah dinanti-nanti oleh Wi Siang maka ia lalu menyerang dengan jurus ke tiga, jurus ter­akhir jurus Sian-li-sia-kwi ini hebat seka­li, dilakukan dengan melontarkan pedang ke arah bayangan lawan yang mencelat ke atas, Wi Siang amat cerdik. Dia diba­tasi hanya sampai tiga jurus. Kalau da­lam tiga jurus wanita berkerudung itu tidak mampu mengalahkannya, berarti dia dianggap menang! Inilah yang menye­babkan dia mengambil keputusan untuk menggunakan jurus Sian-li-sia-kwi dalam jurus terakhir karena selagi mencelat di udara dan diserang oleh pedangnya yang meluncur seperti anak panah, bagaimana wanita itu dapat merobohkannya?

Betapa kaget, heran dan juga girang­nya ketika ia melihat lawannya itu, agaknya berkeinginan keras untuk mengalahkannya dalam jurus ini malah melun­cur turun dan menyambut pedang yang menyambar itu! Makin girang lagi hati Wi Siang melihat pedangnya tepat me­ngenai dada Si Wanita berkerudung sehingga ia tertawa girang penuh kemenangan.

Tiba-tiba suara ketawanya terhenti dan tubuhnya terguling ke atas lantai tanpa dapat bangun lagi karena seluruh kaki tangannya lemas setelah jalan darah di pundak terkena totokan wanita itu! Ketika pedangnya tadi mengenai dada Si Wanita berkerudung, terdengar bunyi keras dan pedangnya telah patah, kemu­dian sebelum ia dapat memulihkan keka­getan hatinya, tahu-tahu tangan wanita berkerudung telah menotok pundaknya dengan tubuh masih meluncur dari atas. Tang Wi Siang bukanlah seorang bodoh. Kini dia merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benar-benar memi­liki kesaktian yang luar biasa, bahkan ia dapat menduga bahwa biarpun seluruh anggauta dan pimpinan Thian-liong-pang maju mengeroyok sekali pun, mereka ti­dak akan dapat mengalahkan wanita ini.

“Bangkitlah, Wi Siang!” Wanita berkerudung yang sudah mengenalnya itu menggerakkan tangan dan tiba-tiba Wi Siang merasa tenaganya sudah pulih kembali. Dia tidak meloncat bangun, me­lainkan bangkit berlutut di depan wani­ta itu sambil berkata.

“Saya menyatakan takluk dan siap memenuhi semua perintah Pangcu!”