Selasa, 05 Februari 2013

PENDEKAR BONGKOK (TAMAT)


“Kami kakak beradik seperguruan. Namaku Coa Bong Gan dan suci ini bernama Yauw Bi Sian. Kami datang ke tempat ini bukan sekedar melancong, melainkan hendak mencari seorang musuh besar kami yang bernama Sie Li­ong dan berjuluk Pendekar Bongkok....!”

Bi Sian memberi isyarat kepada sutenya agar diam, akan tetapi sudah terlambat karena sutenya telah memperke­nalkan nama mereka dan juga menyebut nama Pendekar Bongkok. Dan tiba-tiba saja sikap kedua orang itu berubah, a­lis mereka berkerut akan tetapi sikap mereka bahkan semakin ramah.

“Aih, kiranya ji-wi musuh Pendekar Bongkok? Kalau begitu, di antara kita terdapat ikatan yang kuat karena kamipun menganggap Pendekar Bongkok sebagai musuh besar kami! Adik Bi Sian dan adik Bong Gan, aku akan merasa senang sekali untuk bekerja sama dengan kalian menghadapi Pendekar Bongkok yang amat lihai itu!”

Akan tetapi Bi Sian mengerutkan alisnya. Biarpun Pek Lan dan Thai-yang Suhu memperlihatkan sikap yang ramah dan bersahabat, namun di dalam hatinya ia merasa tidak suka kepada mereka.

“Enci Pek Lan,” kata Bong Gan yang agaknya hendak bersikap ramah karena Pek Lan menyebut adik kepadanya dan kepada Bi Sian, “Kami tidak ingin bekerja sama dengan kalian, dan kami akan cukup berterima kasih kalau engkau dapat memberitahu kepada kami di mana adanya Pendekar Bongkok. Tahukah engkau di mana dia?” Pertanyaan ini berkenan di hati Bi Sian dan iapun mengangguk, menyatakan setuju dengan pertanyaan sute-nya itu.

Akan tetapi Pek Lan tersenyum manis sekali. “Kalian ini adik-adik yang gagah perkasa, mengapa sungkan dan ingin enak sendiri saja? Kalau kita hendak bekerja sama, tentu sebaiknya ka­lau ji-wi menerima undangan kami untuk mempererat perkenalan. Kalau kita su­dah menjadi sahabat yang akrab, tentu kami tidak akan ragu lagi untuk membagi semua rahasia, termasuk di mana adanya Pendekar Bongkok. Nah, kami ulangi undangan kami kepada ji-wi.”

Bong Gan menoleh kepada sucinya seperti orang minta pertimbangan, lalu terdengar dia berkata, “Suci, kita ti­dak mengenal daerah ini, maka kalau enci Pek Lan ini sudah berbaik hati un­tuk menunjukkan di mana adanya musuh besar itu, kurasa tidak ada salahnya kalau kita memenuhi undangannya. Tidak tahu bagaimana pendapatmu?”

Bi Sian tidak melihat pilihan la­in kecuali mengangguk. Ia menyarungkan pedangnya kembali. Thai-yang Suhu segera memberi hormat kepadanya. “Nona yang masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan juga seba­tang pedang pusaka yang ampuh sekali. Kalau boleh pinto mengetahui apa nama pedang pusaka itu, nona.”

Bi Sian merasa bangga dengan pe­dangnya. Ia menepuk gagang pedang di pinggangnya dan menjawab, “Totiang (bapak pendeta), pedangku ini adalah Pek-lian-kiam peninggalan ayahku.”

Makin giranglah rasa hati Thai-yang Suhu. Pek-lian-kiam, sebatang pedang yang patut menjadi miliknya, bah­kan menjadi lambang dari perkumpulan­nya, yaitu Pek-lian-kauw! Akan tetapi dia menyembunyikan kegirangan ini di dalam hatinya saja. Bagaimanapun juga, pedang itu harus dapat menjadi milik­nya!

Bong Gan dan Bi Sian merasa kagum sekali ketika memasuki gedung besar yang didirikan di antara pohon-pohon dalam hutan di lereng bukit itu. Sebu­ah gedung yang besar dan di dalamnya mewah sekali, seperti rumah raja-raja maja layaknya. Dan di sekeliling gedung itu terdapat banyak rumah-rumah, merupakan perkampungan yang dikelilingi tembok seperti sebuah benteng saja. Itulah tempat tinggal Pangeran Maranta Sing, pangeran Nepal yang menjadi buruan pemerintahnya, karena telah memberontak itu. Dia tinggal di perbatasan itu bersama anak buahnya, yaitu sisa-sisa para perajurit anggauta pasukan pembe­rontakan yang dipimpinnya dan telah gagal itu.

Bong Gan dan Bi Slan dijamu oleh Pangeran itu yang menyambut mereka de­ngan ramah dan hormat. Bong Gan memperlihatkan kegembiraannya dan Bi Sian a­khirnya juga merasa gembira karena pihak tuan rumah sungguh ramah kepada­nya.

“Harap jangan khawatir tentang Pendekar Bongkok,” kata Pangeran Maranta Sing sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih di balik mukanya yang kehitaman dan kumisnya yang melintang panjang itu bergerak-gerak ketika dia bicara. “Kalau dia berani datang ke daerah ini, sudah pasti kami dapat menangkapnya. Daerah ini telah kami kuasai bersama Kim-sim-pang, maka harap ji-wi tenang saja. Kita pasti akan da­pat menangkapnya.”

“Apa yang diucapkan Pangeran Ma­ranta Sing ini benar, adik-adikku yang baik,” kata Pek Lan. “Betapapun lihai­nya Pendekar Bongkok, dia tidak akan mampu menandingi Kim Sim Lama, apala­gi di sini terdapat ji-wi yang bekerja sama dengan kami. Nah, mari kita minum demi berhasilnya kita menangkap Pende­kar Bongkok!”

Mereka makan minum sambil berca­kap-cakap dengan gembira. Dari percakapan itu tahulah Bong Gan dan Bi Sian bahwa Pangeran Maranta Sing ini adalah seorang pangeran dari Nepal yang bersekutu dengan Kim-sim-pang, dan betapa Kim-sim-pang menentang pemeribtah Da­lai Lama di Tibet. Kalau diam-diam Bong Gan merasa amat tertarik oleh janji-janji dan harapan yang dibayangkan dalam percakapan itu oleh pangeran Ne­pal itu maupun Thai-yang Suhu dan Pek Lan, Bi Sian sendiri sama sekali tidak tertarik. Bahkan ia tidak ingin meli­batkan diri dalam pemberontakan itu, karena yang terpenting adalah menemu­kan Pendekar Bongkok dan membalas kematian ayahnya!

“Nona, cicipilah masakan ini!” kata Pangeran Nepal itu ketika melihat Bi Sian belum mencicipi masakan yang warnanya merah. Bong Gan sudah memakannya, akan tetapi gadis itu agaknya ti­dak mau mencicipi masakan yang asing baginya itu. “Ini adalah masakan aseli dari Nepal, lezat sekali dan merupakan masakan kehormatan bagi tamu yang dia­gungkan!”

Bi Sian tertarik, dan merasa ti­dak enak untuk tidak memperhatikan ka­rena dikatakan bahwa masakan itu ada­lah masakan kehormatan bagi tamu yang diagungkan!

“Pangeran, masakan ini terbuat dari apakah?” tanyanya, masih merasa ra­gu untuk mencicipinya karena warnanya yang merah seperti darah walaupun bau­nya sedap dan masih mengepul panas.

“Bahan masakan ini amat langka dan amat sukar diperoleh karena ini adalah sumsum di dalam tulang punggung biruang salju yang besar, kuat dan ganas! Karena merupakan sumber kekuatan sebuah binatang raksasa, maka masakan ini selain lezat, juga mengandung khasiat yang luar biasa untuk kekuatan dan kesehatan. Marilah nona, sebagai tamu agung, nona harus mencicipinya!” Pangeren itu mempergunakan sebuah sen­dok yang bersih, mengambilkan masakan itu dan menaruhnya ke dalam mangkok di depan Bi Sian. “Dan engkau juga, saudara Coa Bong Gan, mari ambil lagi masakan ini.”

Bong,Gan tersenyum. “Sudah sejak tadi saya memakannya dan memang lezat sekali, suci. Rasanya seperti otak, a­kan tetapi masakannya memakai bumbu yang aneh dan sedap bukan main. Juga terasa hangat di dalam dada dan perut. Cobalah, suci!”

Bi Sian semakin tertarik, juga untuk menghormati tuan rumah yang demikian ramah dan hormat, ia lalu mencoba mencicipi masakan itu. Memang lezat!

“Adik Yauw Bi Sian, harap jangan sungkan dan ragu. Ketahuilah bahwa Pa­ngeran Maranta Sing ini adalah seorang ahli obat dan ahli masak! Masakan sumsum tulang punggung biruang itu memang hebat dan aku sendiripun sudah mesana­kan khasiatnya!” kata Pek Lan.

“Siancai, memang benar sekali,” kata pula Thai-yang Suhu. “Pinto yang makan masakan itu merasa seperti muda kembali! Masakan itu tentu dapat membuat orang berumur panjang, dan dapat memperkuat tenaga sin-kang!”

Mendengar ucapan kedua orang itu, Bi Sian semakin tertarik dan iapun ti­dak berkeberatan lagi untuk makan ma­sakan itu cukup banyak. Karena ia dan Bong Gan yang menjadi tamu kehormatan, maka semangkok besar masakan merah itu diperuntukkan mereka berdua dan mereka pun memakannya sampai habis! Bi Sian mulai merasa bergembira dan merasa mendapatkan teman-teman yang menyenangkan. Maka iapun minum arak lebih banyak da­ri pada biasanya. Apalagi arak yang disuguhkan itu manis dan harum, terbuat dari anggur Nepal yang baik.

Setelah makan minum sampai kenyang, wajah Bi Sian yang cantik itu telah berubah kemerahan dan mulutnya­ pun hampir tak pernah hentinya tersenyum manis. Akan tetapi, ketika ia memegang kepalanya dan kepala itu terkulai ke atas meja, Bong Gan cepat bangkit dari tempat duduknya dan menghampirinya.

“Suci, kau kenapakah....?” katanya lembut sambil menyentuh pundak ga­dis itu.

Bi Sian mengangkat muka, tersenyum dan pandang matanya saja sudah jelas menunjukkan bahwa ia mabok! Dan juga pandang matanya itu aneh, begitu sayu dan penuh gairah.

“Sute.... aku.... ah, agaknya terlalu banyak minum anggur, kepalaku agak pening....”

Pek Lan memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Bong Gan, lalu berkata, “Adik Bong Gan, kasihan itu adik Bi Stan mabok. Ia butuh istirahat. Mari kuantar kalian ke kamar kalian.”

Pek Lan bangkit berdiri dan membantu Bong Gan memapah Bi Sian menuju ke sebelah dalam gedung itu, diikuti pandang mata Pangeran Maranta Sing yang tersenyum lebar dan Thai-yang Suhu mengangguk-angguk puas. Tidak percuma saja ia merupakan seorang ahli sihir dan ahli ramuan obat beracun. Ia telah mencampurkan pembius yang lembut pada anggur yang diminum Bi Sian, dan masakan yang disuguhkan Pangeran Maranta Sing itu mengandung pula obat perangsang yang amat kuat!

Pek Lan membawa mereka ke sebuah kamar yang besar dan mewah, di mana terdapat sebuah tempat tidur yang le­bar. Kembali Pek Lan memberi isyarat kedipan mata kepada Bong Gan dan pemu­da ini mengerti.

“Nah, inilah kamar kalian, adik Bong Gan. Biarkan adik Bi Sian beristirahat dan tidur, nanti peningnya tentu akan hilang. Dan engkau juga perlu beristirahat, engkaupun sudah minum terlalu banyak, adik Bong Gan. Kalian mengasolah!”

“Tapi, enci Pek Lan!” Bong Gan membantah. “Mengapa hanya satu kamar? Ka­mar ini untuk suci saja, akan tetapi di mana kamarku?”

“Pangeran hanya memberikan sebuah kamar saja untuk kalian berdua, dan kurasa kamar inipun cukup besar, tempat tidurnyapun cukup luas untuk kalian bardua. Nah, selamat tidur.” Pek Lan menutupkan daun pintu kamar itu dari luar sambil tersenyum kepada Bong Gan.

Bi Sian hanya mendengar sayup-sayup saja apa yang mereka bicarakan. Ia telah terlalu pening sehingga tidak perduli lagi bahwa ia berada sekamar dengan sutenya.

“Aku.... aku pening.... mau tidur....!” katanya dan ia hendak melangkah ke arah pembaringan, akan tetapi ia terhuyung dan tentu akan jatuh kalau tidak segera dirangkul oleh Bong Gan.

“Marilah, suci, mari kubantu engkau.... akupun agak pening.... mari kita beristirahat....!”

Bong Gan memapah suci-nya ke tempat tidur, lalu membantu sucinya berbaring. Dengan hati-hati dia lalu meraba kaki suci-nya melepaskan sepasang sepatunya. Bi Sian terbelalak ketika mera­sa kakinya diraba sute-nya dan sepatunya dilepaskan.

“Sute.... kenapa.... kau di sini....? Aku mau tidur, pergilah....”

Akan tetapi Bong Gan tidak mau tidur, bahkan duduk di tepi pembaringan sambil menatap wajah suci-nya yang rebah telentang. “Suci, kita mendapatkan satu kamar saja. Kamar ini untuk kita berdua.”

Dengan mata sayu Bi Sian menatap wajah pemuda itu. Gairah yang tidak wajar membakar dirinya dan wajah sute-nya itu tampak tampan luar biasa.

“.... kenapa begitu.... ah.... sudahlah, aku mau tidur....”

Tiba-tiba Bi Sian membuka matanya lagi karena merasa betapa wajahnya di­belai tangan orang. Ketika ia melihat tangan sute-nya meraba dun membelai ke­dua pipi dan dagunya, ia tidak meronta hanya menegur lembut.

“Sute.... jangan begitu....”

“Suci, alangkah cantiknya engkau. Aih, suci, aku cinta sekali kepadamu, suci!” Dan Bong Gan sudah memeluk, mendekap dan menciumi muka gadis itu.

Bi Sian dalam keadaan setengah sadar, akan tetapi obat perangsang telah mulai menguasai dirinya. “Jangan, sute.... jangan....” mulutnya mendesah, akan tetapi kedua lengannya balas merangkul leher pemuda itu.

Dan terjadilah apa yang selalu diharapkan dan dirindukan Bong Gan. Dia berhasil menguasai diri suci-nya, berhasil menggaulinya berkali-kali tanpa gadis itu menolak atau memberontak, bahkan gadis itu, di luar kesadaran­nya, telah membalas semua kemesraanya dengan penuh gairah. Akhirnya, jauh lewat tengah malam, keduanya tidur pulas kelelahan, masih saling rangkul.

Pada keesokan harinya, ketika pe­ngaruh obat bius dan obat perangsang meninggalkan kepala dan tubuh Bi Sian dan ketika gadis itu terbangun dari tidurnya, dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat dirinya dalam keadaan bu­gil tidur berangkulan dengan sutenya yang juga berbugil! Dan seketika terasalah olehnya kelainan dalam dirinya, tahulah ia apa yang telah terjadi! Ia telah melakukan hubungan dengan sute-nya, hubungan suami isteri! Dengan muka sebentar merah sebentar pucat, ia segera mengenakan pakaiannya, kemudian meloncat turun dari atas pembaringan.

Sekali tendang, pembaringan itu roboh dan Bong Gan terbangun gelagapan. Dia melihat sucinya sudah berpakaian dan berdiri membelakanginya, dengan pedang Pek-liam-kiam terhunus di tangannya.

“Sute, kenakan pakaianmu. Cepat!” Suara sucinya membentak dan jelas bah­wa sucinya marah bukan main.

“Ehh.... kenapa kita.... kenapa aku di sini.... kenapa tidur di sini dan.... eh, apa yang telah kita lakukan ini....?” Bong Gan bersandiwara, bicara dengan gagap dan ge­lisah.

“Cepat pakai pakaianmu kataku!” Bi Sian membentak lagi. Bong Gan segera mengenakan pakaiannya dan turun dari atas pembaringan. “Sudah.... sudah kupakai, suci....”

Bi Sian membalik dan pedangnya menyambar, dan sudah menempel di leher Bong Gan. Pemuda itu terbelalak dan wajahnya pucat.

“Suci.... kenapa.... kau hendak membunuhku....?”

“Coa Bong Gan!” Bi Sian membentak marah. “Apa yang telah kaulakukan terhadap diriku selagi aku mabok? Hayo katakan! Apa yang telah kaulakukan? Keparat engkau!”

“Suci! Apa.... apa yang kulakukan....? Suci, seharusnya suci bertanya apa yang kita lakukan! Aku.... aku sendiri tidak tahu, suci, aku tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi pada kita....” lalu dengan hati-hati dia menambahkan, “.... suci, sayup-sayup aku teringat.... bukankah engkaupun.... eh, mendukung terjadinya peristiwa itu semalam....?”

Wajah yang cantik itu menjadi me­rah sekali dan kini dari kedua matanya mengalir beberapa butir air mata. Akan tetapi pedangnya masih menempel di leher Bong Gan.

“Aku.... aku berada dalam pengaruh obat bius dan obat perangsang, hal itu kini aku yakin sekali. Dan kau.... kau menggunakan kesempatan itu untuk.... untuk....”

“Suci, engkau sungguh tidak adil! Kalau aku sejahat itu, tidak perlu menanti kemarahanmu, aku akan membunuh diriku sendiri! Akan tetapi, suci, kalau engkau terbius, mengapa aku tidak? Akupun sama saja seperti keadaanmu, suci. Aku tidak ingat apa-apa lagi, dalam keadaan setengah sadar seperti dalam mimpi saja semua itu terjadi. Suci, kenapa engkau menyalahkan aku kalau keadaan kita sama? Kita berdualah yang bertanggung jawab, dan aku.... eh, cinta padamu, suci....”

“Jangan sentuh aku!” bentak Bi Sian ketika tangan Bong Gan hendak menyentuh lengannya dan iapun kini menangis terisak-isak. Ia kini melihat kenyataan itu. Sutenya tidak bersalah. Sutenya juga minum pembius dan obat perangsang yang sama! Pek Lan! Ini semua gara-gara Pek Lan, wanita genit itu!

“Hemm, perempuan jahat itu harus mampus!” katanya dan iapun melompat ke arah pintu, mendorong daun pintu dan berlari keluar.

“Suci....!” Bong Gan berseru dan mengejar dari belakang. Akan teta­pi Bi Sian tidak berhenti, tidak meno­leh dan pada saat itu, kebetulan sekali ia melihat Pek Lan melangkah dengan tenangnya menuju ke arah mereka. Sepa­gi itu, Pek Lan sudah nampak rapi dan cantik, sudah mandi dan mengenakan pa­kaian bersih seperti baru. Ketika melihat Bi Sian dan Bong Gan, Pek Lan ter­senyum dan wajahnya berseri.

“Ah, ji-wi (kalian) sudah bangun? Selamat pagi....!” katanya dengan suara merdu dan gembira.

“Manusia jahat, cabut senjatamu dan lawanlah aku!” bentak Bi Sian de­ngan pedang melintang di depan dada.

Pek Lan terbelalak. “Adik Bi Sian, ada apakah ini? Apa artinya sikapmu i­ni?”

Bi Sian menudingkan pedangnya ke arah muka Pek Lan. “Tidak perlu berpura-pura lagi. Keluarkan senjatamu atau kalau tidak, aku akan membunuhmu begitu saja!”

“Tapi.... tapi kenapa, adik Bi Sian? Adik Bong Gan, kenapa kalian bersikap seperti ini terhadap aku? Bukan­kah sejak saling berkenalan, aku sela­lu bersikap baik terhadap kalian?” Pek Lan bertanya lagi, kini mendesak Bong Gan untuk memberi keterangan.

Bong Gan segera berkata, “Enci Pek Lan. Siapa orangnya tidak akan menjadi marah? Kemarin kami kauundang un­tuk makan minum. Setelah makan minum, kami berdua.... kehilangan kesadaran, terbius dan terangsang, sehingga.... kami melakukan pelanggaran....”

Bi Sian memandang dengan mata mencorong penuh kemarahan. “Pek Lan, eng­kau menipu kami, engkau membius kami, penghinaan ini hanya dapat ditebus de­ngan nyawa!” Ia sudah siap bergerak mengangkat kedua tangan ke atas.

“Nanti dulu, kedua orang adikku yang baik! Bi Sian, jangan terburu nafsu dan menuduh yang bukan-bukan kepadaku. Ingatlah, bahwa aku dan guruku Thai-yang Suhu juga hanya merupakan dua orang tamu saja di sini! Bagaimana mungkin kami yang melakukan itu? Makanan dan minuman itu bukan dari kami. Dan apa gunanya kami melakukan hal yang membuat kalian berdua melakukan hubungan suami isteri di luar kesadar­an kalian ini? Jelas, yang memberi o­bat bius dan obat perangsang dalam me­kanan dan minuman kalian bukan kami.”

“Maranta Sing! Dialah yang melakukan itu, suci! Bukan enci Pek Lan. Sekarang aku yakin, Pangeran Nepal itulah yang meracuni kita!” kata Bong Gan kepada suci-nya.

Bi Sian termenung, lalu iapun mengangguk-angguk, dan berkata, “Maafkan aku, enci Pek Lan. Kalau begitu, pange­ran keparat itu yang harus kubunuh! Aku akan mencarinya dan....”

Pek Lan menggeleng kepala. “Tahan dulu, adikku yang baik. Mari kita bicara di dalam kamarku. Harap jangan ter­buru nafsu. Ingat, kita berada di da­lam benteng di mana terdapat ratusan orang perajurit Nepal! Mari, mari, di kamarku kita dapat bicara dengan leluasa,” kata Pek Lan dan ia mendahului mereka menuju ke kamarnya yang tidak jauh dari situ. Terpaksa Bi Sian menahan kemarahannya dan bersama Bong Gan iapun mengikuti Pek Lan masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar itu tidak seluas kamar mereka, akan tetapi juga mewah dan prabot kamarnya serba indah. Begitu memasuki kamar, Bong Gan dan Bi Sian mencium bau semerbak harum.

Setelah mempersilakan kedua orang itu duduk, Pek Lan lalu duduk di tepi pembaringan, menghadapi mereka. “Keta­huilah kalian bahwa Pangeran Maranta Sing menyuguhkan makanan yang mengan­dung obat perangsang itu, bukan suatu kejahatan, bahkan dia sengaja melakukan hal itu untuk menyenangkan kalian yang dianggap sebagai tamu agung yang dihormati.”

Dua orang kakak beradik seperguruan itu terbelalak, lalu mereka saling pandang dengan penuh keheranzn. “Akan tetapi, enci Pek Lan!” seru Bong Gan. “Bagaimana mungkin kami dapat percaya itu? Memberi obat bius dan perangsang kepada kami sehingga kami berdua mela­kukan pelanggaran? Dan itu merupakan suatu penghormatan? Mustahil....”

“Aku tidak percaya!” Bi Sian juga berseru.

Pek Lan tersenyum. “Akan tetapi, sesungguhnyalah begitu, Memang lain bangsa lain pula kebiasaannya, lain negara lain pula peraturannya, dua orang adikku yang manis. Ketahuilah bahwa masakan sumsum tulang punggung biruang itu merupakan makanan langka yang luar biasa, dan mengandung daya rangsangan yang kuat. Biasanya hidangan ini diberikan kepada sepasang pengantin keluarga raja saja! Dan anggur merah itupun amat keras, hanya bekerjanya amat halus seperti obat bius. Akan tetapi keduanya merupakan hidangan yang mahal dan langka, hanya diperuntukkan tamu kehormatan.”

“Akan tetapi, kalau pangeran itu tahu akan pengaruh makanan dan minuman itu, mengapa dia menyuguhkan kepada kami? Dan kami diberi satu kamar pula? Apa maksudnya kalau bukan hendak menjerumuskan kami dan menghina kami?”

Pek Lan menggeleng kepalanya. “Sama sekali dia tidak bermaksud menghina kalian. Karena kalian merupakan dua o­rang muda yang melakukan perjalanan bersama, maka dia menganggap bahwa tentu kalian memiliki hubungan yang lebih erat. Kalian dianggapnya sebagai suami isteri atau dua orang yang sedang berpacaran, sehingga hidangan itu bahkan dianggapnya membantu dan menyenangkan kalian.”

“Akan tetapi dia sudah tahu bahwa kami adalah kakak dan adik seperguru­an!” Bi Sian berseru. “Kami belum menikah....!”

“Itu menurut pendapat dan kebiasaan kalian! Akan tetapi menurut kebiasaan di Nepal, kalau seorang pemuda dan seorang gadis melakukan perjalanan bersama selama berbulan-bulan, maka tidak ada pendapat lain kecuali bahwa mereka adalah suami isteri, baik sudah menikah atau belum. Karena itu, adik-adikku, harap kalian tenang. Pangeran Maranta Sing tidak bermaksdd buruk. Pula semua itu telah terjadi, dan kalau ku­lihat, kalian memang pantas untuk menjadi jodoh masing-masing. Kalau memang kalian saling mencinta, apa salahnya peristiwa yang terjadi semalam?”

“Tidak! Penghinaan ini hanya dapat ditebus dnegan nyawa! Noda ini hanya dapat ditebus dengan darah! Pangeran Maranta Sing harus mempertanggung jawabkannya! Aku mau mencarinya!” Bi Sian berteriak dan ia sudah bangkit berdiri dan meraba gagang pedangnya.

“Sabar dan ingatlah, adik Bi Sian! Selain pangeran itu tidak berniat jahat menurut pendapatnya, bahkan ingin berbuat menyenangkan tamu, juga kita berada di sini, di dalam bentengnya! Bagaimana mungkin engkau akan melawan ratusan orang perajurit Nepal! Bukankah itu sama halnya dengan bunuh diri?”

“Aku tidak perduli! Aku tidak takut! Bagiku, kehormatan lebih penting daripada nyawa!” Bi Sian berkata dengan air mata bercucuran kembali karena ia teringat akan nasibnya yang te­lah menderita aib.

“Suci.... ah, harap dengarkan apa yang dikatakan enci Pek Lan, suci. Kita berada di tengah benteng mereka, kita tidak mungkin mampu melawan mereka....” Bong Gan berkata.

Tiba-tiba Bi Sian membalik dan menghadapinya dengan mata berapi sa­king marahnya. “Sute! Engkau masih be­rani berkata demikian! Engkau takut mati! Huh, enak saja engkau. Engkau adalah seorang laki-laki, tentu tidak dapat merasakan penderitaun seorang wanita yang telah menderita aib dan noda seperti aku! Kalau engkau takut mati, biarlah aku sendiri yang akan menuntut kepada pangeran itu!”

Melihat sikap suci-nya itu, tiba-tiba saja Bong Gan menjatuhkan diri berlutut di depan suci-nya sambil menangis! “Suci, semua ini akulah yang bersalah! Aku telah menodaimu, aku menda­tangkan aib bagimu. Akulah yang membi­kin celaka sehingga kini suci mengha­dapi bahaya maut. Aku telah menghancurkan kehidupanmu, suci. Sungguh aku me­rasa menyesal sekali. Engkau adalah satu-satunya orang yang kumiliki, satu-satunya orang yang telah menolongku, dan baik kepadaku. Engkau satu-satunya orang yang kucinta sepenuh jiwa ragaku dan sekarang.... aku pula yang mencelakakanmu. Aih, suci, kalau begitu, engkau bunuhlah aku lebih dulu agar a­ku tidak lagi melihat penderitaanmu.”

“Sute, cukup....!” Bi Sian berseru dan tangisnya semakin menjadi-jadi. Melihat ini, Bong Gan maklum bahwa siasatnya berhasil baik, maka diapun memperkuat tangisnya.

“Suci, bagaimana mungkin aku da­pat hidup kalau melihat engkau sengsa­ra karena aku? Sudahlah, kalau engkau tidak mau membunuhku, biar aku sendiri yang akan menghabiskan nyawaku agar rasa penaaaran di hatimu berkurang, suci. Suci, selamat tinggal, suci....!” Bong Gan menyambar pedang milik Pek Lan di atas meja, mencabutnya dan menggerakkan pedang menggorok leher sendi­ri! Tentu saja semua ini sudah diatur sebelumnya dan merupakan siasat belaka. Pek Lan diam-siam sudah siap siaga mencegahnya kalau Bi Sian diam saja. Andaikata Bi Sian mendiamkan saja sute-nya membunuh diri, demikian siasat yang mereka atur sebelumnya, maka Pek Lan yang akan turun tangan mencegah sehingga bunuh diri itu nampak sungguh-sungguh.

Akan tetapi, permainan sandiwara itu berhasil mengelabui mata Bi Sian. Melihat kenekatan sute-nya yang dalam hal ini juga sama-sama menjadi korban obat bius dan perangsang, cepat Bi Sian menendang ke arah pergelangan ta­ngan sutenya yang memegang pedang. Pedang itu terlepas dari pegangan dan Bong Gan menutupi mukanya sambil menangis.

“Suci, kalau engkau tidak dapat mengampuni aku, kenapa engkau tidak membiarkan saja aku membunuh diri?” ratapnya. Bi Sian tidak menjawab, hanya menangis sesenggukan, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia memang suka sekali kepada sute-nya ini, bahkan mungkin juga ada peraaaan cinta, karena sute-nya pandai mengambil hati. Iapun tahu bahwa sutenya amat mencintanya dan kini, sutenya telah memperlihatkan perasaan cintanya yang amat mendalam. Ia merasa terharu sekali dan agak meredalah kemarahannya. Bagaimanapun juga, yang menodainya adalah sutenya sendiri, orang yang amat mencintanya, dan yang besar kemungkinan akan menjadi suaminya kelak. Kini, setelah peristiwa itu, bukan mungkin lagi bahkan sudah pasti pemuda ini akan menjadi suaminya.

“Aih, betapa mengharukan. Sudahlah, adik Bi Sian. Aku ikut terharu melihat besarnya cinta antara kalian, terutama sekali apa yang telah dibuktikan oleh adik Bong Gan. Sungguh, dia mencintamu dan biarpun dia itu sutemu, akan tetapi aku melihat bahwa dia lebih tua darimu dan kalian memang cocok untuk menjadi suami isteri kelak. Sebaiknya kalian berdua ikut bersama kami menghadap Kim Sim Lama. Kalau kalian bekerja sama dengan Kim-sim-pang, aku yang tanggung bahwa dalam waktu singkat kalian akan dapat bertemu dengan Pendekar Bongkok.”

Bong Gan sendiri terkejut mendengar ini. Apakah Pek Lan sudah mendengar dari anak buahnya tentang Pendekar Bongkok? Nada suara Pek Lan demikian meyakinkan seolah-olah Pendekar Bongkok sudah berada dalam kekuasaannya!

“Jangan main-main, enci!” kata Bi Sian sambil mengerutkan alisnya. “Aku baru mau bekerja sama denganmu atau rekan-rekanmu kalau benar kalian dapat menemukan Pendekar Bongkok. Benarkah engkau berani tanggung? Aku tidak mau tertipu!”

Pek Lan tersenyum manis. Tentu saja ia berani bertanggung jawab karena ia telah mendengar dari orang-orangnya bahwa Pendekar Bongkok telah menjadi tawanan Kim Sim Lama! “Aku tanggung. Bahkan aku berani menanggung bahwa kami akan dapat menawan Pendekar Bongkok untukmu, adik Bi Sian.”

Bi Sian memandang Bong Gan yang masih berlutut sambil menutupl muka­nya. “Sute, bangunlah. Memang benar, semua nasib manusia telah digariskan Tu­han. Aku tidak dapat mengingkari dan tidak ada gunanya menyesali hal yang telah lalu. Baiklah, kini tidak mung­kin lagi aku menolak cintamu, menolak pinanganmu. Aku bersedia menjadl isterimu....”

“Suci! Terima kasih....!” Bong Gan berseru gembira walaupun mukanya masih basah air mata. Dia masih berlutut akan tetapi tidak lagi menutupi mukanya.

“Hemm, sudah sewajarnya kalau ki­ta menjadi suami isteri. Akan tetapi tidak sekarang! Kelak, kalau kita su­dah berhasil membunuh Pendekar Bong­kok, baru kita malangsungkan pernikah­an. Akan tetapi sebelum itum engkau tidak boleh menjamahku. Mengerti?”

“Baik.... baik....” Bong Gan kini bangkit berdiri dan menatap wajah suci-nya itu dengan pandang mesra. “Akan tetapi, setelah kini kita bertunangan, bolehkah aku menyebutmu Sian-moi (dinda Sian)? Dan maukah kau menyebut aku Gan-koko (kanda Gan)?”

Wajah Bi Sian menjadi kemerahan akan tetapi untuk mencegah agar perso­alan itu tidak diperpanjang, iapun me­ngangguk. Melihat ini, Pek Lan girang bukan main dan iapun cepat memberi hormat kepada mereka bergantian sambil berseru, “Kionghi, kionghi (selamat, selamat)!”

Biarpun wajahnya berubah kemerah­an, Bi Sian terpaksa menerima pemberian selamat itu sambil menggumamkan terima kasih. Dan dengan wajah gembira bukan main Bong Gan juga menghaturkan terima kasih, ucapan terima kasih yang bukan sebagai basa-basi belaka karena dia bersungguh-sungguh merasa berterima kasih kepada Pek Lan. Pek lan yang telah mengatur kesemuanya itu, sehingga dia berhasil memiliki diri Bi Sian, dan dia berjanji di dalam hatinya untuk membalas jasa Pek Lan itu dengan pelayanan semesra mungkin.

“Nah, marilah kita berangkat sekarang juga. Untuk mencegah suasana tidak enak, ji-wi (kalian berdua) tidak perlu berpamit dari Pangeran Maranta Sing, biar kupamitkan nanti. Kalian bersiaplah, kita berangkat sekarang bersama suhu.”

Bi Sian merasa senang bahwa ia tidak perlu berpamit dari Pangeran Ma­ranta Sing, karena biarpun ia dapat mengerti bahwa pangeran itu tidak dapat terlalu dipersalahkan karena memang tidak berniat buruk, namun totap saja kalau ia bertemu dengan pangeran itu, tentu ia akan sukar menahan kemarahan­nya. Mereka berdua berkemas dan tak lama kemudian Pek Lan dan Thai-yang Suhu datang menjemput mereka. Berangkatlah mereka meninggalkan istana dalam benteng di lereng bukit dekat telaga Yam-so. Mereka menunggang empat ekor kuda dan di sepanjang perjalanan, pemandangan alam yang amat indah membuat Bi Si­an perlahan-lahan dapat melupakan peristiwa semalam yang dianggapnya sebagai malapetaka. Ia dapat menerima ke­nyataan itu dan menganggap bahwa memang sudah menjadi jodohnya untuk bersuamikan Coa Bong Gan maka terjadi peristiwa memalukan itu. Tak sedikit pun terlintas dalam pikirannya bahwa semua peristiwa itu adalah hasil rencana si­asat yang telah diatur oleh Pek Lan dan Bong Gan, dibantu oleh Thai-yang Suhu dan Pangeran Maranta Sing!



***



Sie Liong duduk bersila di dalam ruangan tahanan itu. Dia duduk bersila hanya karena naluri saja, atau karena tubuhnya sudah terbiasa dengan sikap duduk seperti itu. Dia duduk bersila seperti sebuah arca mati, tidak bergerak-gerak. Sudah hampir satu bulan lamanya dia menjadi seorang tawanan yang sama sekali tidak berdaya. Bukan hanya ingatannya hilang dan dia lupa segala, akan tetapi juga tubuhnya menjadi le­mah dan dia kehilangan tenaga sin-kangnya, atau kalau dia mencoba untuk mengerahkan tenaga, dadanya seperti ditusuk rasanya. Pernah dia mancoba untuk keluar dari kamar tahanan itu, akan tetapi setibanya di pintu, seorang penjaga menghadangnya.

“Hei, engkau tidak boleh keluar dari kamar ini tanpa ijin,” kata si penjaga. “Hayo masuk kembali. Makanan dan minuman akan diantar dari luar, dan kalau engkau hendak kencing atau berak, baru boleh keluar dari sini, akan tetapi juga kami kawal!”

Sie Liong tidak ingat mengapa dia berada di situ, bahkan dia tidak ingat siapa dirinya dan bagaimana asal mulanya! Dia banya tahu bahwa dia berada di sebuah kamar yang asing, dan dijaga oleh penjaga yang jumlahnya sampai belasan orang, menJaga di luar pintu kamar itu. Dia sudah mencoba mengerahkan ingatannya, namun gagal. Yang diingatnya sejak dia sadar, seperti orang bangun tidur dan tahu-tahu sudah berada dalam kamar itu.

“Aku mau keluar. Aku tidak suka di sini. Biarkan aku keluar dari sini,” katanya kepada penjaga.

“Tidak boleh! Hayo kau kembali, atau harus kupaksa?”

Sie Liong tidak ingat lagi bahwa dia adalah Pendekar Bongkok. Tidak ingat bahwa dia seorang yang berilmu tinggi. Dan memang pada dasarnya dia berwatak lembut dan tidak suka berkelahi, maka biarpun dia merasa tidak senang dengan cegahan itu, dia tetap bersikap lembut.

“Sobat, aku tidak mengenal engkau dan kawan-kawanmu itu. Aku tidak mempunyai uruman dengan kalian, maka kuharap engkau tidak menahanku lagi. Biar­kan aku keluar,” katanya dan dia nekat melangkah hendak keluar dari kamar ta­hanan itu.

“Tidak boleh keluar! Kembali ke dalam kamar!” bentak penjaga itu dan melihat Sie Liong nekat hendak melangkah keluar, dia lalu mendorong dada Sie Liong. Biarpun Sie Liong lupa bahwa dia pandai ilmu silat, namun naluri tubuhnya bergerak dan otomatis tenaga sin-kang dari pusar menerjang ke atas, ke arah dada. Akan tetapi, begitu tenaga sin-kang itu bergerak, dia mengeluh karena dadanya terasa nyeri dan otoma­tis dia membiarkan dirinya lemas lagi. Dorongan itu mengenai dadanya dan da­lam keadaan tidak bertenaga itu, dia­pun terjengkang dan jatuh telentang ke dalam kamar tahanan kembali! Penjaga itu tertawa.

“Ha-ha-ha, jangan harap engkau dapat keluar tanpa ijin. Sekali lagi, a­ku bukan hanya mendorong melainkan me­mukulmu!”

Sie Liong tidak menjawab. Ada kenyataan baru yang diketahuinya, yaitu bahwa dia berada dalam tahanan, dijaga oleh orang-orang yang kasar dan galak, dan bahwa tidak mungkin dia melawan karena begitu mengerahkan tenaga, dadanya terasa nyeri. Maka, diapun tidak begitu bodoh untuk mencari penyakit dan menyabarkan hatinya, lalu duduk bersila kembali di atas pembaringannya.

Obat penghilang ingatan yang dipaksakan masuk ke dalam perutnya oleh Thay Hok Lama mempunyai kekuatan selama satu bulan. Dalam beberapa hari lagi Sie Liong akan memperoleh kembali ingatannya. Akan tetapi apa gunanya? Selain racun penghilang ingatan, juga Thay Hok Lama telah memberinya minum racun yang membuat dia akan merasa nyeri di dada setiap kali mengerahkan sin-kang, dan kalau dipaksanya, berarti dia membunuh diri sendiri. Darahnya telah keracunan.

Sambil duduk bersila, pengaruh racun penghilang ingatan itu sudah agak menipis sehingga samar-samar Sie Li­ong mulai teringat akan dirinya sendiri. Dia mulai teringat bahwa namanya Sie Liong, bahwa dia ditangkap oleh para pendeta Lama. Hanya itu yang baru dapat diingatnya. Mungkin besok atau lusa, kalau pengaruh racun penghilang ingatan itu sudah hilang, baru dia akan dapat mengingat seluruhnya atau sebagian besar dari hal-hal yang lalu.

Akan tetapi, pada hari itu, datanglah Thai-yang Suhu, Pek Lan dan kedua orang muda yang hendak bekerja sama dengan Kim-sim-pang itu. Bi Sian dan Bong Gan melihat betapa tempat itu dari luar hanya seperti sebuah kuil biasa, kuil Kim-sim-pang yang dikunjungi banyak orang yang bersembahyang. Keti­ka mereka diajak masuk ke belakang kuil, melalui pintu yang terjaga oleh para pendeta Lama, barulah mereka tahu bahwa pusat Kim-sim-pang berada di be­lakang kuil, merupakan perkampungan yang dihuni para pendeta Lama.

Kim Sim Lama gembira sekali mane­rima dua orang tamunya, apalagi keti­ka mendengar laporan Pek Lan bahwa Bong Gan dan Bi Sian adalah dua orang muda yang memiliki kepandaian tinggi. Pek Lan sendiri sudah lebih dulu meng­gabungkan diri dengan Kim-sim-pang, dibawa oleh Thai-yang Suhu.

“Omitohud....! Kami sungguh merasa beruntung sekali dapat bekerja sama dengan ji-wi (kalian), dua orang muda yang lihai. Kalau perjuangan kami berhasil, tentu kami tidak akan melupakan jasa ji-wi dan akan memberi imbalan yang pantas,” kata Kim Sim Lama yang mengira bahwa mereka berdua itu, seperti halnya Pek Lan dan Thai-yang Suhu, adalah dua orang petualang yang mengharapkan imbalan jasa yang besar.

Mendengar ini, Bi Sian mengerut­kan alisnya. “Maaf, lo-suhu. Kami ber­dua datang dan menerima penawaran enci Pek Lan untuk bekerja sama bukan untuk mendapatkan imbalan. Kami tidak mencari imbalan jasa!”

Pek Lan cepat memberi penjelasan kepada Kim Sim Lama. “Hendaknya lo-suhu ketahui bahwa adik Bi Sian dan adik Bong Gan ini mengajak bekerja sama un­tuk menghadapi musuh besar mereka, ya­itu Pendekar Bongkok! Sudah kujanjikan kepada mereka bahwa kita akan membantu mereka menangkap Pendekar Bongkok, dan sebagai gantinya, mereka akan membantu perjuangan kita.”

Kim Sim Lama tertawa girang. “Ha-ha-ha, kiranya begitu? Bagus sekali! Ji-wi tidak datang di tempat yang keliru. Pinceng (saya) mempunyai berita yang amat baik bagi ji-wi. Apakah nona Pek Lan belum memberitakan kepada ji-wi tentang Pendekar Bongkok?”

Bi Sian menoleh kepada Pek Lan dan ia menggeleng kepala. Pek Lan ter­senyum. “Adik Bi Sian, lupakah engkau ketika aku berkata bahwa aku yang tanggung akan tertangkapnya Pendekar Bong­kok? Nah, ketahuilah bahwa Pendekar Bongkok sudah tertawan oleh lo-suhu Kim Sim Lama dan kini berada dalam tahan­an.”

Mendengar ini, Bong Gan menjadi girang bukan main. “Ah, benarkah itu? Kalau begitu, mari kita menemuinya, Sian-moi!

“Nanti dulu, aku masih belum per­caya benar bahwa dia telah tertawan di sini. Bagaimana demikian mudahnya?” Bi Sian meragu, khawatir kalau tertipu. Ia masih belum percaya benar kepada o­rang-orang yang baru dikenalnya.

“Omitohud.... nona itu terlalu bercuriga dan berprasangka. Nona Yauw, kalau ingin bertemu dengan Pendekar Bongkok Sie Liong, mari pinceng ikut mengantarkan.”

Bi Sian dan Bong Gan mengikuti Kim Sim Lama, Pek Lan dan Thai-yang Suhu menuju ke bagian belakang sarang Kim-sim-pang itu. Setelah tiba di luar kamar tahanan, Kim Sim Lama tersenyum.

“Nah, kalian berdua lihat baik-baik siapa yang berada di dalam kamar tahanan itu!”

Bong Gan dan Bi Blan memandang ke dalam kamar yang daun pintunya terbuka dan dijaga oleh beberapa orang pendeta Lama itu. Di atas pembaringan duduk seorang laki-laki bongkok yang bukan la­in adalah Sie Liong!

“Tidak mungkin....” Bi Sian barkata lirih melihat Sie Liong yang katanya ditahan itu ditahan begitu saja di dalam sebuah kamar yang dijaga beberapa orang pendeta Lama. “Bagaimana dia begitu.... begi­tu.... jinak?”

“Ha-ha-ha, tidak perlu heran, nona. Dia kehilangan ingatannya, dan juga kehilangan tenaganya. Dia menjadi seorang yang lemah, ha-ha!” Kim Sim Lama tertawa.

Mendengar ini, Bong Gan memandang dengan mata mencorong. Dia amat takut daa benci kepada Sie Liong karena dia dapat merasakan bahaya mengancam dari orang bongkok itu. Kalau sampai rahasianya terbongkar, tentu dia akan cela­ka. Akan tetapi kalau Sie Liong sudah tewas, tentu akan aman rahasianya bahwa dia yang membunuh Yauw Sun Kok, bukan Sie Liong. Kini, mendengar bahwa pendekar itu kehilangan ingatan dan kehi­langan tenaga, dia melihat kesempatan yang baik sekali untuk membunuhnya. Dilihatnya sebatang golok besar di atas meja depan kamar tahanan, agaknya itu adalah senjata milik seorang di antara para pendeta penjaga.

“Keparat Sie Liong, engkau tidak layak dibiarkan hidup!” bentaknya dan sebelum semua orang dapat mencegah, dia sudah menyambar golok itu, menerobos masuk ke dalam kamar tahanan mela­lui pintu terbuka.

Mendengar teriakan yang memanggil namanya ini, Sie Liong mumbuka mata. Dia terkejut melihat seorang laki-laki muda yang tidak dikenalnya, atau yang tidak diingatnya siapa, meloncat ke a­rah pembaringan dan mengayun golok menyerangnya! Gerakan orang itu sedemikian cepatnya sehingga Sie Liong tidak mempunyai kesempatan untuk menyingkir lagi. Hanya dengan gerakan naluri Sie Liong mengangkat lengan kirinya untuk menangkis.

“Jangan bunuh dia!” terdengar seruan Kim Sim Lama yang merasa terkejut sekali. Namun terlambat, go­lok di tangan Bong Gan itu sudah meluncur dengan cepatnya dan bertemu dengnn lengan kiri Sie Liong yang menangkisnya.

“Crokkkk!” Lengan kiri yang me­nangkis itu, lengan yang tidak mengan­dung tenaga sin-kang, mana mungkin kuat menahan golok besar yang amat tajam itu? Lengan itu terbabat buntung di atas siku, dan buntungan lengan terlempar ke atas lantai. Sie Liong terbelalak, tidak mengeluarkan keluhan, ha­nya memandang ke arah lengan kirinya yang buntung dan darah muncrat-muncrat dan diapun roboh pingsan di atas pembaringan!

Bong Gan hendak menyusulkan serangan maut ke arah tubuh yang sudah tidak mampu berkutik itu, akan tetapi nampak bayangan merah dan Kim Sim Lama telah memukul ke arah lengan kanan Bong Gan.

“Tranggg....!” golok yang berlumur darah itu terlepas dari pegangan tangan Bong Gan yang merasa nyeri le­ngannya dan terkejut sekali.

“Aih, adik Bong Gan, kenapa engkau lancang menyerangnya? Losuhu Kim Sim Lama membutuhkan dia hidup!” tegur Pek Lan, sementara itu Bi Sian meman­dang dengan mata terbelalak ke arah Sie Liong yang rebah pingsan di atas pembaringan, kini sedang diperiksa o­leh Kim Sim Lama. Ia tidak melihat be­tapa Pek Lan memberi isyarat teguran kepada Bong Gan dan pemuda ini nampak gelisah. Di dalam hatinya, ada perasa­an iba kepada pamannya itu, dan kema­rahan kepada Bong Gan yang secara cu­rang menyerang Sie Liong yang sedang kehilangan ingatan dan tenaga itu. Akan tetapi, ingatan bahwa Sie Liong membunuh ayahnya membuat perasaan iba itu menipis karena ia berkeras mengusirnya.

Kim Sim Lama menotok jalan darah di ketiak Sie Liong untuk menghentikan darah yang bercucuran keluar melalui lengan yang buntung, kemudian terde­ngar dia memanggil seorang penjaga dap menyuruhnya memanggil Camundi Lama de­ngan cepat.

Setelah petugas itu pergi, Kim Sim Lama bangkit dan memandang kepada Bong Gan, sinar matanya penuh penyesalan. “Orang muda, sungguh engkau lan­cang sekali. Bagaimanapun juga, Pendekar Bongkok ini adalah tawanan kami, dan engkau tidak berhak menyerangnya tanpa persetujuan kami. Sudah pinceng katakan bahwa dia kehilangan ingatan dan tenaga, kenapa engkau masih hendak membunuhnya?”

“Maafkan saya, Losuhu. Saya amat membencinya dan menjadi naik darah ketika melihatnya. Maafkan, saya mengaku salah. Akan tetapi, Losuhu, kalau dia tidak dibunuh, lalu untuk apa? Dia berbahaya sekali.”

Kim Sim Lama menyeringai. “Untung pinceng masih sempat menghalangi kelancanganmu sehingga dia tidak sampai terbunuh. Karena lukanya, terpaksa renca­na kami harus dipercepat. Kami hendak mempergunakan dia, maka sampai seka­rang kami menahannya dan sedang menca­ri kesempatan baik untuk mempergunakan dia.”

Karena Pendeta Lama yang tua itu jelas nampak tidak senang, Bong Gan tidak berani lagi banyak bertanya. Apalagi ketika pendeta itu menggumam kepada Pek Lan. “Untung bahwa dia bermak­sud membantu gerakan kita, kalau ti­dak, sukar bagi pinceng untuk memaafkannya.”

Penjaga yang diutus tadi sudah datang bersama seorang pendeta Lama yang kurus tinggi dan gerak-geriknya lem­but. Usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, dan pandang matanya lembut, akan tetapi dahinya penuh kerut merut seperti biasa terdapat pada wajah orang yang banyak menderita tekanan batin.

“Camundi Lama, cepat engkau obati luka di lengannya yang buntung itu. Kami tidak ingin melihat dia cepat-cepat mati.” Pendeta tua itu mengangguk tan­pa menjawab, lalu menghampiri Sie Li­ong dan memeriksanya. Setelah memeriksa beberapa lamanya, dia menarik na­pas panjang.

“Dia kehilangan cukup banyak da­rah, dan detik jantungnya amat lemah. Dia membutuhkan perawatan yang cermat. Pinceng akan merawatnya, harap kamar ini dikosongkan dan buntungan lengan itu disingkirkan. Juga bekas-bekas da­rah dibersihkan.”

Kim Sim Lama mengangguk dan berkata kepada semua orang, “Kita tinggal­kan dia bersama Camundi Lama, tabib kita yang pandai.” Dan kepada para penjaga dia memerintahkan agar membuang buntungan lengan dan membersihkan percik­an darah. Lalu dengan sikap masih tak senang Kim Sim Lama meninggalkan ka­mar itu.

Pek Lan memberi isyarat kepada Bong Gan dan Bi Sian untuk kembali ke kamar mereka. Thai-yang Suhu juga kem­bali ke kamarnya sendiri. Akan tetapi Pek Lan ikut masuk ke dalam kamar Bong Gan dan Bi Sian. Di dalam kamar yang disediakan untuk mereka berdua itu, Pek Lan diam-diam merasa geli. Di situ hanya ada sebuah saja tempat tidur, a­kan tetapi melihat betapa lantai kamar terdapat sebuah bantal, selimut dan buntalan pakaian Bong Gan, mengertilah ia bahwa Bi Sian memegang teguh pendi­riannya, yaitu ia tidak sudi dijamah Bong Gan sebelum mereka menikah, yaitu setelah mereka berhasil menemukan Pen­dekar Bongkok.

“Adik Bong Gan, yang sudah terja­di tadi sudahlah. Akan tetapi lain ka­li harap engkau suka bertanya-tanya dulu sebelum melakukan sesuatu. Untung bahwa Kim Sim Lama tidak marah tadi. Kalau dia marah, siapapun tidak akan mampu melindungi keselamatan nyawamu lagi.”

Wajah Bong Gan menjadi kemerahan dan di dalam hatinya, dia marah dan penasaran karena dipandang rendah. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyatakan kemarahannya, apalagi karena sejak tadi Bi Sian juga menghindarkan pertemuan pandang mata dengannya dan alis gadis itu selalu berkerut tanda bahwa hatinya tidak senang.

“Demikian lihaikah Kim Sim Lama itu?” dia bertanya, seolah-olah hendak membalas dan memandang rendah.

Pek Lan tersenyum memandang penu­da yang sejak masih remaja pernah men­jadi kekasihnya itu. “Aihh, adik Bong Gan. Engkau tidak tahu siapa losuhu Kim Sim Lama! Dia pernah menjadi orang ke dua di seluruh Tibet! Dan tentang kelihaiannya? Hemmm, biarpun kalian berdua juga amat lihai, namun aku per­nah mencoba kalian dan menurut pendapatku, kita bertiga ini mengeroyok Kim Sim Lama seorang diripun kita akan ka­lah.”

“Ah, demikian hebatkah dia?” Bong Gan berseru dan terbelalak kaget.

Bi Sian melirik kepada pemuda itu dan berkata dengan nada suara kesal. “Kalau tidak lihai, mana mungkin dia dapat menawan Pendekar Bongkok? Tidak seperti engkau yang menyerang orang yang sudah kehilangan ingatan dan tenaganya!”

“Aihh, Sian-moi, kenapa engkau berkata demikian? Bukankah semua itu kulakukan demi engkau! Demi membalas sakit hatimu terhadap dia?”

Bi Sian bersungut-sungut. “Aku paling tidak suka perbuatan yang pengecut dan curang. Suhu pasti tidak akan suka melihat perbuatanmu tadi! Kalau aku membalas dendam, tentu akan kulakukan dengan cara orang gagah!”

“Sian-moi, engkau tidak adil....”

“Sudahlah, untuk apa kalian ribut-ribut dan bertengkar? Peristiwa itu sudah terjadi dan bagaimanapun, adik Bong Gan belum membunuhnya. Tahukah kalian mengapa Kim Sim Lama melarang Bong Gan membunuh Pendekar Bongkok?”

“Kenapa, enci Pek Lan?” Bi Sian bertanya karena iapun tertarik sekali. Ia mulai merasa heran mengapa kini kebenciannya terhadap Sie Liong hampir tak terasa lagi, terganti rasa iba dan khawatir! Yang terbayang di depan matanya bukan pembunuhan atas diri ayah­nya, melainkan semua kebaikan dan si­kap penuh kasih sayang dari pamannya itu kepadanya sejak mereka masih kecil!

“Kim Sim Lama membutuhkan Pende­kar Bongkok hidup karena dia ingin melihat Pendekar Bongkok mati di Lasha, bukan di sini, sehingga Dalai Lama yang akan bertanggung jawab atas kema­tiannya, bukan Kim Sim Lama.”

“Kenapa begitu?” Bi Sian bertanya sambil mengerutkan alisnya. Hatinya sudah merasa tidak senang karena perbuatan itu dianggapnya licik dan curang.

Pek Lan tersenyum. “Kalian memang perlu diberi penjelasan agar kalian tahu siapa yang kalian bantu dan apa artinya perjuangan yang dilakukan Kim-sim-pang ini. Ceritanya panjang, akan tetapi sebaiknya kupersingkat saja. Ketika Dalai Lama masih kecil, Kim Sim Lama menjadi wakilnya dan semua urusan bahkan ditangani oleh Kim Sim Lama atas nama Dalai Lama. Akan tetapi setelah Dalai Lama semakin besar, semua tindakannya tidak cocok dengan pendapat Kim Sim Lama. Bahkan Dalai Lama mengutus para pembantunya untuk membu­nuhi banyak pertapa di Himalaya. Para pembantu utamanya adalah Tibet Ngo-houw. Karena perbuatan itu sesungguh­nya tidak disukai oleh Kim Sim Lama, maka akhirnya terjadi pertentangan dan Kim Sim Lama meninggalkan Lasha, membentuk Kim-sim-pang yang bertujuan menentang kelaliman Dalai Lama. Bahkan Tibet Ngo-houw akhirnya juga membantu perjuangan Kim Sim Lama.”

“Kalau begitu, Kim-sim-pang ada­lah perkumpulan pemberontak?” Bi Sian bertanya.

“Bagi Dalai Lama tentu begitu, a­kan tetapi bagi kami, kami sedang me­ngadakan gerakan perjuangan untuk me­nentang kelaliman Dalai Lama.”

“Akan tetapi, apa hubungannya dengan Pendekar Bongkok? Dan mangapa pu­la Kim Sim Lama menghendaki agar orang menduga bahwa Pendekar Bongkok terbu­nuh di Lasha oleh Dalai Lama?” Bi Sian mendesak karena ia merasa tertarik sekali.

“Pendekar Bongkok adalah utusan yang mewakili para tosu dan pertapa dari Himalaya yang pernah dikejar-kejar dan dibunuhi atas perintah Dalai Lama. Karena Pendekar Bongkok hanya tahu bahwa yang melakukannya terutama sekali Tibet Ngo-houw, maka dia mencari Tibet Mgo-houw sampai ke sini. Kim Sim Lama sudah menjelaskan bahwa Tibet Ngo-houw hanyalah petugas saja mentaati Dalai Lama, bahwa Dalai Lama yang bertanggung jawab. Bahkan Kim Sim Lama mengajak Pendekar Bongkok untuk bersama-sama membantu perjuangan menentang kelaliman Dalai Lama. Akan tetapi dia tidak mau bahkan menyerang Tibet Ngo-houw. Dia memang hebat, lihai bukan main dan baru dia dapat tertawan setelah Kim Sim Lama sendiri turun tangan. Begitulah keadaan yang sebenarnya. Karena Dalai Lama yang memusuhi para tosu, maka Kim Sim Lama tidak mau membunuh Pendekar Bongkok itu di sini. Kesalahannya harus ditimpakan kepada Dalai Lama yang menjadi biang keladi.”

Mendengar keterangan itu, diam-diam Bi Sian membayangkan keadaan pa­mannya itu. Jelas baginya bahwa pamannya seorang pendekar yang menjunjung perintah guru-gurunya, yaitu Himalaya Sam Lojin dan Pek Sim Sian-su. Pamannya adalah seorang pendekar yang melaksanakan tugas di Tibet ini dan kini ditim­pa malapetaka. Sedangkan ia? Ia diban­tu Bong Gan hanya untuk melampiaskan nafsu dendamnya kepada pamannya itu. “Aih, paman,” keluhnya di dalam hatinya, “kenapa engkau tega membunuh ayahku?”

“Enci Pek Lan, kapan Pendekar Bongkok itu akan dibunuh, dan bagaimana dengan rencana pembunuhan yang akan dilakukan di Lasha itu?” tanya Bong Gan dan sekali ini suara dan isi pertanyaan pemuda yang menjadi sutenya dan juga tunangannya itu terdengar amat tidak se­dap di telinga Bi Sian. Sedikit rasa suka dan kagum yang pernah mengeram di hatinya terhadap pemuda itu kini menipis, bahkan timbul kembali penyesalan yang mendalam bahwa ia dan sutenya itu menjadi korban obat bius dan perangsang sehingga ia terpaksa harus menja­di isteri Bong Gan karena dirinya te­lah ternoda oleh laki-laki itu!

Pertanyaan yang diajukan Bong Gan itu menarik pula perhatian Bi Sian yang kini ingin sekali mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya dengan pamannya itu. Melihat pamannya buntung lengan kirinya oleh sabetan golok Bong Gan dalam keadaan tak dapat melawan i­tu saja sudah membuat hatinya terasa sedih bukan main, bahkan kini ia mera­sa heran mengapa ia pernah begitu mem­benci pamannya dan ingin sekali membu­nuhnya!

“Hal itu masih dirahasiakan Kim Sim Lama, Bong Gun. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan terha­dap Pendekar Bongkok. Dan aku mengenal watak Kim Sim Lama, maka aku tidak be­rani bertanya. Hanya kalau kita dipanggil dan diberi tugas, kita harus melaksanakannya dengan baik. Nah, sekarang mengasolah dan harap jangan dilanjut­kan pertengkaran yang tidak ada gunanya itu.”

Akan tetapi Bong Gan merasa benar betapa berubah sikap suci-nya stau ca­lon isterinya itu terhadap dirinya se­telah terjadi peristiwa pembacokan ta­di. Bi Sian bersikap dingin, dan ja­rang sekali memandang kepadanya. Akan tetapi, diam-diam dia merasa girang karena setelah lengannya buntung, tentu makin tidak ada harapan bagi Sie Liong untuk melarikan diri. Dia tentu akan mati dibunuh Kim Sim Lama, dan amanlah rahasia pembunuhan yang dia lakukan terhadap Yauw Sun Kok itu. Betapapun juga, melihat sikap wanita yang pernah digaulinya, yang akan menjadi isteri­nya demikian dingin, hatinya merasa kesal dan mendongkol juga. Memang sejak terjadi hubungan badan antara mereka karena Bi Sian terpengaruh obat bius dan perangsang itu, dia selalu meme­gang janji dan tidak pernah dia berani menyentuh calon isterinya itu. Akan tetapi setidaknya, sikap Bi Sian biasa dan baik, tidak seperti malam ini. Kalau siang tadi Bi Sian menurunkan sebuah bantal, sehelai selimut di sudut kamar itu yang menjadi isyarat bahwa dia harus tidur di lantai malam itu, dia masih melihatnya dengan senyum saja. Akan tetapi sekarang, melihat Bi Sian rebah miring manghadap ke dinding mem­belakangi dia yang duduk di atas lan­tai, hatinya menjadi semakin mendongkol.

Melihat tubuh Bi Sian yang membelakanginya, teringatlah Bong Gan akan peristiwa yang penuh kamesraan baginya di malam itu, ketika dengan penuh gairah yang panas Bi Sian menyerahkan diri kepadanya! Tidak seperti Bi Sian yang terpengaruh obat bius sehingga dalam keadaan setengah sadar, dia sadar sepenuhnya dan menikmati perbuatan mereka itu sepenuhnya. Teringat akan peristiwa itu, timbullah gairah dalam hati Bong Gan dan diapun bangkit dan menghampiri pembaringan Bi Sian.

“Sian-moi....” panggilnya lirih. Tubuh itu tidak bergerak, masih menghadap ke dinding, membelakanginya.

“Sian-moi....” kembali dia memanggil lembut dan sekali ini dia duduk di tepi pembaringan, menjaga agar jangan sampai tubuhnya menyentuh ping­gul atau punggung Bi Sian.

Sekali ini Bi Stan melirik. “Hem, mau apa engkau? Jangan duduk di sini!”

“Sian-moi, masih marahkah engkau kepadaku? Apakah engkau tidak dapat memaafkan aku, Sian-moi? Aku merasa menyesal sekali, aku tidak ingin menyinggung hatimu, Sian-moi. Kau tahu betapa benar cintaku kepadamu....”

“Sudahlah, jangan bicarakan urus­an itu lagi. Pergi sana, tidur!”

“Sian-moi, jangan engkau begini kejam. Aku.... ah, betapa rinduku kepadamu, Sian-moi.... perkenankanlah aku menyentuhmu, aku.... ingin menciummu, satu kali saja, Sian-moi. Bukankah kita akan menjadi suami isteri?”

Bi Sian bangkit duduk, matanya bersinar marah. “Apa? Engkau hendak melanggar janji? Sudah kukatakan sebelum kita menikah, angkau tidak boleh me­nyentuhku!”

Bong Gan terkejut dan bangkit berdiri. “Akan tetapi aku belum menyentuhmu, Sian-moi. Aku memegang janji, aku hanya mengatakan bahwa aku rindu sekali. Bahkan akulah yang khawatir kalau-kalau engkau yang akan melanggar janjimu untuk menjadi isteriku setelah Sie Liong tewas.”

“Aku tidak sudi melanggar janji. Kalau Pendekar Bongkok sudah tewas, baru kita menghadap ibuku dan mohon per­kenan dan doa restunya, setelah itu baru kita melangsungkan pernikahan.”

“Tapi, Sian-moi, biarkan aku berdekatan sebentar denganmu, hanya untuk menunjukkan bahwa engkau benar sudah tidak marah lagi kepadaku....” Pemuda itu masih memohon.

“Sudahlah, kalau engkau masih merengek dan berani menyentuhku, baru a­ku akan menjadi marah benar! Kau tidurlah!”

Bong Gan sudah mengenal watak suci-nya itu yang tidak pernah mengeluar­kan ancaman kosong belaka. Hatinya menjadl kecewa sekali dan timbul kekesal­an hatinya. Dia adalah soorang pemuda yang tidak pernah ditolak wanita, dan kini dia ditolak oleh wanita yang su­dah jelas akan menjadi isterinya! Bu­kan hanya tidak boleh mencumbu rayu, bahkan menyentuhpun tidak diperkenan­kan. Sambil menarik napas panjang dia­pun mundur, lalu berkata dengan nada suara kesal.

“Daripada tersiksa tidur di lan­tai dan memandangmu tanpa boleh mendekat, lebih baik aku tidur di luar kamar.” Setelah berkata demikian, diapun keluar dari kamar itu, dan menutupkan kembali daun pintu kamar itu dari lu­ar.

Tadinya Bi Sian tidak perduli Bong Gan akan tidur di manapun juga. Akan tetapi, lapat-lapat ia mendengar suara ketawa lirih di luar kamar pada saat Bong Gan membuka pintu dan suara ketawa itu tidak terdengar lagi ketika daun pintu ditutup. Hal ini menimbul­kan kecurigaan hatinya. Juga ia khawa­tir kalau-kalau Bong Gan mendatangi lagi tempat tahanan untuk membunuh Sie Liong. Ia tidak ingin sute-nya itu atau ia sendiri membunuh Sie Liong begitu saja. Ia akan lebih dulu minta penjelasan kepada pamannya itu mengapa dia membunuh ayahnya. Setelah itu, untuk membalas dendam, barulah ia akan menantang Sie Liong, dengan bantuan Bong Gan. Itulah yang ia kehendaki ke­tika ia mencari Sie Liong. Bukan membunuhnya dalam keadaan yang tidak berda­ya seperti itu.

Kecurigaan dan kekhawatirannya membuat Bi Sian cepat meloncat turun dari atas pembaringan, dengan hati-ha­ti sekali sehingga tidak mangeluarkan suara dan iapun manghampiri pintu dan perlahan-lahan membuka sedikit daun pintu itu, mengintai keluar. Ia masih melihat Bong Gan dan Pek Lan di dekat tikungan lorong, saling rangkul dan berciuman sebelum mereka menghilang di balik tikungan itu.

Bi Sian menjadi bengong dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Berma­cam-macam perasaan mengaduk hatinya, terutama sekali kemarahan. Ia sama sekali tidak marah karena cemburu. Tidak! Ia tidak perduli apapun yang dilakukan Bong Gan kini. Akan tetapi mendapat kenyataan betapa pria yang terpaksa ha­rus diterimanya sebagai calon suaminya itu ternyata adalah seorang laki-laki yang rendah dan hina! Sebagai tamu orang berani berjina dengan wanita lain! Tadinya, ada dorongan untuk mengejar dan memaki-maki mereka berdua. Akan tetapi segera timbul pikiran lain. Mengapa ia harus marah? Ia menutupkan kembali daun pintu kamar itu, menguncinya dari dalam dan iapun duduk di sisi pembaringannya, melamun.

Tidak! Tidak mungkin ia menjaai isteri seorang laki-laki macam itu. Belum menjadi suaminya saja sudah berani melakukan penyelewengan di depan mata­nya! Dan ia telah ternoda oleh pria macam itu! Tak terasa lagi air matanya bercucuran turun membasahi kedua pipi­nya.

“Tidak!” Ia menahan suaranya yang ingin berteriak. “Aku tidak sudi menjadi isterinya!” Dan kembali ia teringat betapa ia telah ternoda oleh Bong Gan. Biarlah. Aku tidak akan menikah selama hidupku. Akan tetapi aku tidak akan menikah dengan Coa Bong Gan!

Tiba-tiba ia mengerutkan alisnya. Tangisnya terhenti walaupun mukanya masih basah air mata. Terbayang betapa Bong Gan dan Pek Lan saling rangkul dan saling berciuman tadi. Ah, itu hanya membuktikan bahwa sebelum malam ini memang pernah ada hubungan antara kedua orang itu. Dan peristiwa di malam jahanam itu, ketika ia terbius dan terang­sang oleh racun yang dicampurkan dalam makanan dan minuman, sehingga ia menyerahkan diri kepada Bong Gan di luar kesadarannya, ketika hal itu terjadi Pek Lan berada pula di dekat mereka. Hal ini menimbulkan kecurigaannya. Agaknya ada sesuatu antara Bong Gan dan Pek Lan, sesuatu yang busuk dan agaknya sudah berjalan lama di luar pengetahuan­nya.

Bagaimana juga, ia sudah mengam­bil keputusan untuj tidak mau menjadi isteri Bong Gan! Bagaimana kalau pemu­da itu menagih janji? Ah, mudah saja, pikirnya. Peritiwa malam ini dapat di­jadikan alasan mengapa ia membatalkan janjinya. Ia memperoleh alasan yang kuat sekali. Bi Sian tersenyum walaupun mukanya masih basah air mata. Sungguh aneh. Ia kini merasa seolah-olah bebas dari himpitan batu besar. Dan iapun menyadari bahwa kalau selama ini ia merasa tertekan dan selalu murung, ternyata yang menyebabkan adalah ingatan bahwa ia harus menjadi isteri Bong Gan! Kini, setelah ia memperoleh alasan ku­at untuk membatalkan janjinya, hatinya terasa ringan dan nyaman. Dan tak lama kemudian Bi Sian sudah tidur pulas, dengan beberapa butir air mata masih tergantung di bulu matanya akan tetapi dengan mulut tersenyum manis!

“Omitohud.... Orang muda yang malang....” berulang kali Camundi Lama berbisik ketika dia mengobati dan merawat Sie Liong di dalam kamar tahanannya. Camundi Lama adalah seorang pendeta yang usianya kurang lebih enam pu­luh lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan gerak geriknya lembut. Dia adalah seorang tabib yang amat pandai di Ti­bet dan dia sama sekali bukan seorang pendeta yang ingin memberontak terha­dap Dalai Lama. Sama sekali tidak. Kalau dia kini berada di situ adalah ka­rena dia memang diculik dan dipaksa o­leh Kim Sim Lama untuk bekerja di si­tu. Karena dia tidak dilibatkan dalam pemberontakan, dan tugasnya hanya men­jadi tabib untuk mengobati orang sa­kit, maka Camundi Lama juga menerima nasibnya dan menjadi tabib dalam Kim-sim-pang. Dia mendengar tentang beberapa perbuatan yang keras dan jahat dilakukan oleh orang-orang Kim-sim-pang, namun dia tidak mau ikut-ikut dan pura-pura tidak tahu saja. Akan tetapi, ketika dia mendengar tentang Pendekar Bongkok dan kini merawatnya, di dalam hatinya timbul perasaan kagum dan iba. Seorang pemuda yang tubuhnya cacat, bongkok, akan tetapi memiliki keberanian yang luar biasa di samping ilmu si­lat yang kabarnya setingkat dengan ke­pandaian Kim Sim Lama sendiri! Dan dia merasa kasihan sekali melihat betapa pemuda bongkok itu kini sama sekali tidak berdaya. Selain keracunan darahnya sehingga dia tidak mampu mengerahkan tenaga, juga dia telah minum racun penghilang ingatan, dan kini ditambah lagi buntung lengan kirinya!

“Kasihan, orang muda yang malang....” untuk ke sekian kalinya pendeta Lama itu berbisik.

Sie Liong membuka matanya. Ingat­annya masih belum pulih sama sekali, akan tetapi pengaruh racun penghilang ingatan itu sudah mulai berkurang. Wa­laupun dia belum ingat semua peristiwa yang lalu, namun dia mulai dapat mengingat apa yang terjadi dalam waktu dekat. Dia memandang ke kanan kiri.

“Ling Ling.... dimana Ling Ling....”

Camundi Lama membungkuk untuk memeriksa pandang mata pemuda itu. Pan­dang mata itu sudah agak jernih, pikirnya. “Siapakah Ling Ling, orang muda?”

Kini Sie Liong memandang kakek i­tu. Samar-samar dia teringat bahwa kakek ini yang mengobatinya. “Ah, Ling Ling....? Ia.... ia aku tidak ingat lagi, akan tetapi aku selalu ingat namanya dan.... ah, sudahlah, aku tidak ingat lagi....”

Pendeta Lama itu semakin iba. “Omitohud.... engkau sungguh seorang pemuda yang bernasib malang.”

Sie Liong yang tadi memejamkan mata, membukanya kembali. Dia sudah tahu ketika siuman untuk pertama kalinya bahwa lengan kirinya buntung, dan dia teringat bahwa buntungnya lengan kirinya itu adalah karena dia menangkis bacokan golok seorang pemuda yang tidak dikenalnya.

“Aku tidak bernasib malang, losuhu,” katanya dan dengan susah payah diapun bangkit duduk bersila.

“Ah? Tidak? Akan tetapi baru saja engkau kehilangan lengan kirimu, orang muda,” kata Camundi Lama, terheran-he­ran melihat sikap pemuda itu yang tenang saja, seolah-olah kehilangan sebuah lengan kiri hanya kehilangan sesuatu yang tidak berharga, dan tidak apa-apa!

Sie Liong memandang ke arah pangkal lengan kirinya yang buntung dan diapun tersenyum. “Kalau memang sudah hilang, perlu apa disesali dan disedihkan, losuhu? Lengan itu tidak akan tumbuh kembali karena disedihkan. Lengan hanya merupakan satu di antara prabot­-prabot perlengkapan badan saja.”

“Omitohud....! Banyak orang mengeluarkan ucapan seperti itu, dan su­dah sering pinceng (aku) mendengarnya akan tetapi semua ucapan mereka itu hanyalah pengertian teori belaka. Akan tetapi engkau, engkau benar-benar kehilangan lengan kirimu dan engkau masih dapat bersikap setenang dan seenak i­ni! Orang muda, engkau bukan hanya ke­hilangan lengan kiri, akan tetapi juga kehilangan ingatanmu, dan juga kehilangan tenagamu karena darahmu telah keracunan. Engkau tidak berdaya sama sekali, dan setiap saat nyawamu terancam. Nah, apakah engkau sekarang tidak akan merasa sedih dan menyesal?”

Sie Liong menggeleng kepala sam­bil tersenyum, demikian wajar dan ti­dak dibuat-buat. Semua penderitaan yang dialaminya itu seperti mendatang­kan suatu penerangan baginya, membuat dia seperti hidup baru.

“Kenapa sedih dan menyesal, los­hu? Badan ini hanya seperti bayangan saja, setiap saat pasti akan lenyap. Bahkan kalau seluruh badan ini matipun tidak perlu disesalkan, mengapa baru kehilangan yang sedikit itu harus ber­duka? Tidak, losuhu. Aku masih hidup dan akan tetap hidup, dan kalau Tuhan manghendeki, aku akan dapat mengatasi sagala kesulitan.”

“Omitohud.... semoga Sang Buddha memberi penerangan kepada seluruh manusia. Orang muda, ilmu apakah yang kau­pergunakan, bagaimana caranya maka engkau dapat menerima segala derita seng­sara ini dengan senyum di bibir?” Dia memandang penuh kagum.

“Tidak ada ilmunya, losuhu, hanya dengan cara penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kasih, menyerahkan segala-galanya kepada Tuhan sehingga apapun yang terjadi atas diriku adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada penyesalan apapun, yang ada hanya puji syukur karena semua ini sudah dikehendaki oleh Tuhan, dan segala kehendak Tuhan pun jadilah, dan tidak ada kekeliruan.”

Tiba-tiba kakek itu tersedu dan merangkul Sie Liong. Ada beberapa butir air mata membasahi mata kakek itu.

“Ah, orang muda, pinceng harus banyak belajar darimu.... jangan khawatir, pinceng akan mencoba untuk menolongmu. Racun penghilang ingatan itu sudah menipis dan akan lenyap sendiri pengaruhnya. Akan tetapi racun dalam darah yang membuat engkau terancam bahaya luka dalam kalau mengerahkan sin-kang, akan kucoba untuk menyembuhkannya. Nah, kauminumlah obat ini dulu, orang muda, untuk membuat luka di lenganmu cepat mengering, juga untuk mencegah luka itu keracunan dan membengkak. Aku akan membuatkan obat penawar racun di tubuhmu.”

Dengan taat Sie Liong meminum o­bat itu, kemudian dia tetap duduk ber­sila sedangkan kakek itu sibuk pula membuat ramuan obat baru untuk menghilangkan racun yang berada dalam darah Sie Liong.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki di luar kamar tahanan itu. Bukan langkah kaki para pendeta Lama yang bertu­gas jaga, melainkan langkah kaki yang mantap dan ternyata yang memasuki ka­mar itu adalah Kim Sim Lama bersama lima orang Tibet Ngo-houw! Thay Si Lama, orang ke dua dari Tibet Ngo-houw masih nampak agak pucat akan tetapi dia te­lah sembuh, disembuhkan oleh Camundi Lama pula dari luka di dalam tubuhnya ketika dia muntah darah dalam pertem­puran mengeroyok Sie Liong tempo hari. Melihat munculnya Kim Sim Lama, Camun­di Lama cepat memberi hormat. Satu-sa­tunya orang yang dihormati Camundi La­ma hanyalah Kim Sim Lama, bukan saja karena Kim Sim Lama yang memaksanya untuk menjadi tabib di Kim-sim-pang, juga karena Kim Sim Lama adalah bekas wakil Dalai Lama yang pantas dihormati.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Kim Sim Lama sambil lalu, dan dia melang­kah mondekati Sie Liong yang masih du­duk bersila, seolah-olah hendak meme­riksa luka di lengan kiri Sie Liong yang sudah dibalut kain putih oleh ta­bib itu.

“Sudah hampir kering,” jawab Camundi Lama.

Tiba-tiba tangan kanan Kim Sim Lama bergerak monotok ke arah pundak ki­ri Sie Liong. Pemuda itu melihat gerakan itu, akan tetapi karena lengan kirinya tidak ada, dia tidak mampu berbuat sesuatu dan begitu pundaknya terkena totokan jari tangan Kim Sin Lama, diapun terkulai lemas di atas pembaringan.

“Ehh? Kenapa....?” Camundi Lama berseru heran dan kaget.

Melihat Sie Liong sudah terkulai dan pingsan, Kim Sim Lama sagera berkata kepada Camundi Lama. “Camundi, sebagai seorang tabib, tentu engkau tidak akan menimbulkan kecurigaan kalau membawa janazah untuk dikuburkan di tanah kuburan di Lasha. Nah, engkau kami tugaskan untuk melaksanakan penguburan di kuburan umum di Lasha itu bersama beberapa orang yang akan memikul peti matinya. Jangan khawatir, Tibet Ngo-houw akan mengawalmu dan melindungimu.”

“Akan tetapi, siapakah yang meninggal dunia?” Camundi Lama bertanya heran.

Kim Sim Lama menunjuk ke arah tubuh Sie Liong yang terkulai di atas pembaringan. “Dia itu! Kami menghendaki agar tubuhnya dapat bertahan sampai beberapa hari lamanya, maka tidak kami bunuh dia. Dan engkau tidak perlu banyak bertanya, Camundi, semua ini demi berhasilnya perjuangan kita!”

Melihat sinar mata mencorong dari Kim Sim Lama, Camundi Lama menundukkan mukanya dan mengangguk taat. Dia memang tidak berani membantah dan tidak berani menentang kehendak Kim Sim Lama. Dia sama sekali tidak takut akan ancaman terhadap dirinya sendiri. Sama sekali tidak! Akan tetapi, dia dibuat tidak berdaya karena Kim Sim Lama mengancam akan membunuh seluruh keluarga­nya, saudara-saudaranya, keponakan-keponakannya, kalau sampai dia menentang kehendak Kim Sim Lama. Inilah yang membuat Camundi Lama tidak berdaya sama sekali dan selalu harus mentaati sega­la perintah bekas wakil Dalai Lama i­tu.

Empat orang pendeta Lama datang membawa sebuah peti mati yang tipis, dan atas pentunjuk Kim Sim Lama, tubuh Sie Liong yang pingsan itu dimasukkan dalam peti mati itu lalu ditutup.

“Agar tubuh itu tidak cepat rusak, harus ada lubang untuk memasukkan hawa,” kata Camundi Lama dengan sikap bersungguh-sungguh. Kim Sim Lama memenuhi permintaan ini dan dibuat sebuah lubang sebesar ibu jari kaki di peti itu, tepat di atas bagian kepala tubuh Sie Liong. Kemudian pada hari itu juga peti mati itu dipikul oleh empat orang pendeta, diiringkan belasan orang pendeta yang membaca doa dan di antara mereka itu terdapat Camundi Lama yang diharuskan memimpin penguburan. Camundi Lama memang sudah dikenal oleh semua orang sebagai seorang tabib yang pandai, maka tentu saja kalau dia yang mengawal peti mati yang akan dikubur, tak seorangpun menaruh curiga.

Karena orang-orang dapat menduga bahwa yang dimakamkan itu tentulah se­orang anggauta Kim-sim-pang, maka tak seorangpun berani bertanya-tanya, bah­kan mendekatpun tidak berani. Biarpun pihak pemerintah belum mengumumkan bahwa Kim-sim-pang adalah perkumpulan pemberontak karena Dalai Lama masih sungkan terhadap Kim Sim Lama, namun semua orang sudah tahu belaka bahwa Kim-sim-pang adalah suatu perkumpulan yang di­dirikan Kim Sim Lama dan perkumpulan ini menentang pemerintah, walaupun ti­dak secara terang-terangan.

Peti mati itu dikubur. Para pendeta Lama yang melakukan penguburan itu tidak ada yang bicara, bekerja seperti robot saja. Hanya Camundi Lama yang diam-diam merasa berduka. Dia merasa ka­gum, iba dan suka sekali kepada pemu­da bongkok itu, akan tetapi dia sendiri tidak mampu berbuat sesuatu. Tadi dia hanya memasukkan obatnya dengan paksa kepada Sie Liong yang masih pingsan, yaitu obat pemunah racun. Dia he­nya mengatakan kepada Kim Sim Lama bahwa obat itu adalah obat untuk membuat tubuh itu tidak segera rusak kalau su­dah menjadi mayat. Dan ketika penguburan berlangsung, Camundi Lama juga ti­dak dapat berbuat sesuatu untuk mence­gah, karena dia tahu bahwa secara sem­bunyi, lima pasang mata dari Tibet Ngo-houw tentu mengamati pelaksanaan penguburan itu.

Camundi Lama memasukkan sebuah tabung dari bambu yang sudah dilubangi ruasnya ke dalam peti mati dan ujung bambu itu mencuat keluar dari tanah, tersembunyi di antara tumpukan batu yang sengaja diletakkan di atas tanah kuburan. “Tabung ini untuk memasukkan hawa agar mayatnya tidak lekas rusak seperti dikehendaki oleh Kim Sim La­ma,” katanya kepada para pendeta Lama yang mengerjakan penguburan itu dan mereka semua tidak ada yang membantah karena mereka percaya sepenuhnya kepada tabib yang selalu menyembuhkan mereka kalau mereka terserang penyakit itu. Padahal, Camundi Lama melakukan semua itu untuk memberi kesempatan kepada Sie Liong mempertahankon hidupnya dan kalau mungkin membebaskan dia dari cengkeraman maut. Akan tetapi mana mungkin? Pemuda itu sudah kehilangan tenaganya, pikirnya dengan hati duka. Akan tetapi dia segera teringat akan ucapan pemuda bongkok itu. Menyerah ke­pada Tuhan! Dan kalau sudah menyerah, lalu dikehendaki Tuhan bahwa Sie Liong masih dibiarkan hidup, apa anehnya? Tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Maha Kuasa! Dan kalau kita sudah menyerah, kalau kita sudah menyerah sepenuhnya seperti mati, tidak sedikitpun ada usaha yang timbul dari nafsu hati dan akal pikoran, maka yang bakerja adalah kekuasaan-Nya! Teringat akan ini, mulut yang tadinya cemberut sedih itu mengembangkan senyum penuh harapan.

Para pendeta Lama itu sagera meninggalkan tanah kuburan, meninggalkan gundukan tanah kuburan baru itu dalam kesunyian. Tibet Ngo-houw yang mengamati dari jauh, sampai beberapa lamanya terus melakukan pengintaian sampai Ca­mundi Lama dan para pendeta lainnya meninggalkan tanah kuburan.

Kemudian, Tibet Ngo-houw juga per­gi setelah menyuruh seorang anak buah mereka melakukan pengamatan dari jauh. Pengamatan ini harus dilakukan terus menerus dan secara bergantian. Kemudi­an mereka kembali untuk memberi lapor­an kepada Kim Sim Lama.

Sebelum peti mati itu diangkur keluar, Pek Lan berlari-lari memasuki kamar Bi Sian dan Bong Gan. “Dia sudah mati.... dia sudah mati....” katanya dengan wajah berseri.

“Enci Pek Lan, siapa yang telah mati?” tanya Bong Gan, akan tetapi Bi Sian diam saja. Sikapnya amat dingin terhadap Bong Gan dan Pek Lan semenjak malam hari itu, akan tetapi ia tidak pernah menyinggung apa yang dilihatnya itu.

“Pendekar Bongkok, dia telah mati!” kata Pek Lan.

“Apa....?” Tiba-tiba Bi Sian bangkit berdiri dan dengan mata terbelalak den muka agak pucat ia memandang kepada Pek Lan. “Siapa yang membunuh­nya?” tanyanya dan suaranya agak geme­tar.

Melihat ini, teringat akan sikap calon isterinya yang dingin, Bong Gan segera menegur,”Sian-moi? Kalau dia matipun, mengapa? Mengapa engkau keli­hatan pucat dan suaramu gemetar? Apakah engkau berduka karena pamanmu itu meninggal dunia?”

“Tutup mulutmu!” Bi Sian membentak marah. “Aku merasa penasaran karena dia harus tewas di tanganku! Kenapa Kim Sim Lama membunuhnya? Aku akan menanyakan kepadanya!” Bi Sian sudah berlari keluar dari dalam kamarnya.

“Sian-moi....!” Bong Gan hendak mengejar, akan tetapi lengennya disam­bar oleh tangan Pek Lan dan sekali ta­rik, tubuh pemuda itu sudah berada da­lam rangkulannya.

“Biarkan dia pergi menemui Kim Sim Lama. Dia akan mampu menghadapinya. A­da aku do sini, perlu apa engkau mengejar calon isteri yang amat galak itu?”

Bong Gan tertawa dan balas merangkul.

Sementara itu, Bi Sian mencari Kim Sim Lama dan mendengar bahwa pendeta itu berada di dalam ruangan samadhi di belakang. Ia tidak perduli dan melihat ruangan itu terbuka pintunya, iapun melangkah masuk. Kiranya Kim Sim Lama sedang duduk bersila akan tetapi tidak bersamadhi, dihadapi oleh lima orang pendeta lain yang pernah diperkenalkan kepadanya sebagai Tibet Ngo-houw. Dengan sikap gagah Bi Sian masuk, akan tetapi iapun masih ingat bahwa ia seorang tamu di situ, maka iapun memberi hormat kepada Kim Sim Lama dan berkata.

“Losuhu, maafkan saya mangganggumu. Akan tetapi saya mendengar dari enci Pek Lan bahwa losuhu telah membunuh Pendekar Bongkok. Benarkah itu?”

Dengan sikap tenang Kim Sim Lama memandang Bi Sian sambil tersenyum. A­kan tetapi Tibet Ngo-houw menjadi marah. Melihat ini, Kim Sim Lama memberi isyarat kepada para pembantunya untuk tetap tenang dan diapun berkata kepa­da gadis itu,

“Nona Yauw Bi Sian, silakan duduk dan mari kita bicara sebagai tuan ru­mah dan tamunya yang sudah saling bersahahat.”

Bi Sian menyadari kekasarannya, maka iapun segera duduk di atas lantai karena ruangan samadhi itu tidak mempunyai kursi atau bangku, akan tetapi lantainya bertilamkan babut tebal yang halus.

“Nona Yauw, kalau benar pinceng membunuh Pendekar Bongkok, apakah hu­bungannya hal itu denganmu? Harap nona jelaskan,” kata Kim Sim Lama.

“Tentu saja ada hubungannya yang erat sekali, losuhu. Aku meninggalkan rumah demikian jauhnya hanya untuk mencari Pendekar Bongkok yang telah membunuh ayahku. Aku ingin lebih dulu mendengar dari dia mengapa dia membunuh ayahku yang masih cihu-nya (kakak iparnya) sendiri, setelah itu baru aku ingin membalas dendam kepadanya. Akan tetapi sekareng, tahu-tahu sekarang dia telah dibunuh!”

“Nona, dengarlah baik-baik. Pendekar Bongkok itu bukan hanya musuhmu, akan tetapi musuh kami juga. Bukan hanya engkau yang ingin membunuhnya, akan tetapi kami juga. Dan ketika engkau datang hendak bekerja sama dengan kami, Pendekar Bongkok telah menjadi tawanan kami. Kalau kami yang menawan, lalu sekarang kami yang membunuhnya, bukankah itu sudah menjadi hak kami? Kalau benar nona membencinya dan menganggapnya sebagai musuh besar, tentu nona kini berterima kasih sekali kepada kami yang telah menangkap dan membunuhnya. Tentu nona akan membalas jasa kami itu dengan bantuanmu terhadap perjuangan kami. Kalau nona tidak mau membalas jasa atas kematian Pendekar Bongkok, bahkan marah kepada kami, itu hanya berarti bahwa nona sebenarnya tidak membenci Pendekar Bongkok, melainkan malah hendak membelanya!”

“Tidak! Dia memang musuh besarku, dia telah membunuh ayahku. Akan tetapi aku ingin membunuh sendiri dengan tanganku....”

Pada saat itu terdengar suara di sebelah kiri, “Nona Yauw Bi Sian, engkau membenci Pendekar Bongkok, bukan?” Bi Sian menengok ke kiri dan ia berte­mu dengan lima buah wajah yang memiliki sinar mata mencorong dan ia merasa jantungnya bergetar hebat. Ia merasa dirinya lemah dan tidak berani menen­tang lagi karena lima pasang mata dari Tibet Ngo-houw itu mempunyai kekuatan melumpuhkan yang dahsyat. Ia tidak ta­hu bahwa sejak tadi Tibet Ngo-houw te­lah mengerahkan tenaga sihir mereka, mempersatukan tenaga dan mulai menguasainya.

“Aku.... aku membenci Pendekar Bongkok....” Jawabnya seperti bukan kehendaknya sendiri, atau kehendaknya sendiri akan tetapi hanya untuk membuat pengakuan yang wajar yang berten­tangan dengan suara hatinya! Ia sendl­ri memang percaya bahwa ia membenci Sie Liong. Mengapa tidak! Sie Liong telah membunuh ayah kandungnya! Ia memaksa diri sendiri untuk membenci Sie Li­ong walaupun suara hatinya membisikkan lain.

“Kalau begitu, engkau harus berterima kasih kepada Kim Sim Lama yang telah menewan dan membunuh musuh besarmu,” kata lagi suara itu, suara Thay Si Lama yang menjadi juru bicara karena di antara lima orang Harimau Tibet itu, Thay Si Lama memiliki ilmu sihir yang paling kuat.

Kemauan dalam batin Bi Sian menjadi lemah dan di luar kehendaknya sendiri, ia mengangguk dan berkata, “Aku berterima kasih....”

“Nona Yauw Bi Sian,” kini terdengar Kim Sim Lama berkata, suaranya yang lembut itu seperti menyusup ke da­lam kepala dan jantung Bi Sian rasa­nya, “Untuk menyatakan terima kasihmu, mulai saat ini engkau akan membantu Kim-sim-pang. Katakanlah!”

“Aku akan membantu Kim-sim-pang....” kata pula Bi Sian.

“Nona, engkau akan mentaati segala yang diperintahkan Kim Sim Lama!” terdengar suara kecil melengking tinggi dari kanan. Bi Sian menoleh dan melihat bahwa yang bicara itu adalah Thai-yang Suhu, pendeta Pek-lian-kauw itu. Entah bagaimana, mendengar ucapan itu, ia marasa setuju sekali dan iapun menjawab, suaranya bersungguh-sungguh.

“Aku akan mentaati sagala yang diperintahkan Kim Sim Lama.”

Gadis itu tidak tahu bahwa ia berada dalam cengkeraman pengaruh sihir yang amat kuat, karena pengaruh sihir itu datang dari penggabungan kekuatan sihir Kim Sim Lama, Tibet Ngo-houw, dan Thai-yang suhu.

“Nah, sekarang engkau boleh kembali ke kamarmu, nona Yauw,” kata pula Kim Sim Lama. Bi Sian mengangguk, bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu, kembali ke kamarnya sambil mulutnya berbisik-bisik seperti anak seko­lah menghafalkan pelajarannya. “Aku akan membantu Kim-sim-pang, aku akan mentaati Kim Sim Lama....”

Bi Sian menjadi seperti boneka hidup dan ketika melihat Bong Gan dan Pek Lan dengan pakaian dan rambut ku­sut keluar dari kamarnya, ia bahkan sama sekali tidak perduli, masuk ke da­lam kamar, merebahkan diri di pemba­ringan den memejamkan mata untuk ti­dur, mulutnya masih mengulang kedua kalimat itu, “Aku akan membantu Kim-sim-pang, aku akan mentaati Kim Sim Lama....”

Bong Gan dan Pek Lan dapat mendengar bisikan itu. Mereka berdua tersenyum, lalu bergandeng tangan menuju ke kamar Pek Lan untuk melanjutkan ke­mesraan yang tadi terganggu dengan kembalinya Bi Sian.



***



Camundi Lama tidak tahu betapa tepat dan benarnya, kebenaran yang mutlak dan tidak dapat dibantah pula, bahwa kekuasaan Tuhan dapat melakukan apa saja yang menurut akal pikiran tidak mungkinpun dapat terjadi dengan mudah­nya kalau Tuhan menghendaki. Kebenaran yang mutlak ini terjadi setiap saat di alam semesta, akan tetapi manusia ti­dak memperhatikannya, tidak sadar dan waspada sehingga mengira bahwa yang terjadi adalah akibat daripada usaha manusia. Camundi Lama hanya melihat kebenaran yang terkandung dalam ucapan Sie Liong, tidak melihat bahwa kebenaran itu sedang terjadi, telah terjadi dan akan selalu terjadi di sekeliling­nya. Dia tidak menyadari bahwa dirinya pun telah menjadi alat yang dipergunakan Tuhan untuk menyelamatkan Sie Liong. Ketika Sie Liong siuman dan membuka kedua matanya, dia tidak melihat a­pa-apa. Gelap pekat saja yang nampak. Dia memejamkan kedua matanya kembali dan mengingat-ingat. Tepat pada hari itu habislah sudah seluruh sisa penga­ruh racun penghilang pikiran dan ingatannya kembali lagi. Kewaspadaan timbul kembali, terasa di seluruh tubuh. Te­ringatlah dia bahwa dia sedang melaksanakan tugasnya menyelidik ke Kim-sim-pang, kemudian dia teringat akan perkelahian melawan Tibet Ngo-houw dan akhirnya dia roboh karena Kim Sim Lama membantu mengeroyoknya. Hanya sampai di situ saja ingatannya, kemudian dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya. Tahu-tahu dia berada di sini! Dia membuka mata lagi, akan tetapi sia-sia saja. Semuanya gelap. Sudah butakah kedua matanya? Dia menggerak­kan tangan, dan meraba-raba. Ternyata dia berada di dalam sebuah peti! Dia meraba-raba kedua matanya. Tidak, dia tidak buta, hanya berada di dalam sebuah peti yang teramat gelap. Kembali dia mencoba untuk mengingat-ingat dan samar-samar dia teringat bahwa dia ditawan dalam sebuah kamar, dijaga pendeta-pendeta Lama, dan teringat pula de­ngan hati terkejut bahwa dia pernah diserang searang pria dengan golok, di­tangkis dengan lengan kirinya dan le­ngan kiri itu buntung. Cepat tangan kanannya bergerak lagi meraba lengan kiri. Buntung! Lengan kirinya benar buntung! Tinggal sisa pangkal lengan saja sedikit.

“Ya Tuhan....!” Dia berseru lirih. Sampai beberapa lamanya dia berdiam diri, di dalam hatinya bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa lengan kiri­nya harus buntung. Akan tetapi, kemba­li dia menyandarkan diri kepada kekua­saan Tuhan. Kalau memang Tuhan menghendaki, jangankan hanya sebuah lengan kirinya, biar seluruh tubuhnya dihancur­kan, biar nyawanya dicabut, dia rela, dia menyerah penuh kepasrahan! Begitu ada penyerahan yang tulus ini, diapun merana aman dan tenteram. Pikirannya menjadi terang dan tenang sekali.

Tanpa mengingat sedikitpun lagi tentang lengan kiri yang buntung, dia menggunakan tangan kanan meraba-raba dan akhirnya dia menemukan lubang di atas kepalanya. Ada lubang sebesar ibu jari kaki pada peti itu dan ketika dia meraba dengan jari telunjuk, dia tahu bahwa lubang itu tersambung sebatang tabung ke atas dan agaknya itulah yang menyebabkan dia tidak mati kehabisan napas. Hawa udara segar masuk dari ta­bung itu! Dia mencoba untuk menggerak­kan tangan kanan dan kedua kakinya, untuk mancoba kekuatan peti itu. Akan tetapi ternyata tenaggnya lemah sekali. Dan teringatiah dia bahwa sebelum ini, kalau dia mengerahkan tenaga, bukan saja tenaganya lemah, akan tetapi juga dadanya terasa nyeri. Agaknya penyakit itu telah sembuh! Akan tetapi tenaga­nya masih tetap lemah, seolah-olah semua tenaga sin-kanghya lenyap. Dan dia pun kini teringat bahwa ada orang yang mengobatinya. Camundi Lama! Pendeta yang kurus tinggi itu, yang mengobatinya di dalam kamar tahanan. Ah, benar! Ketika itu tabib yang baik itu sedang mengobatinya, lalu muncul Kim Sim Lama dan Tibet Ngo-houw, dan Kim Sim Lama menotoknya!

“Hemm, mereka memasukkan aku ke dalam sebuah peti, seperti peti mati bentuknya, dan melihat gelapnya, dan mencium bauh tanah ini, dengan tabung memasukkan udara segar, hemm.... agaknya peti ini berada di dalam tanah!” Dia terbelalak, namun tetap saja gelap gulita. “Ah, merka telah menguburkan aku. Mereka mengubur aku hidup-hidup!” Kembali perasaan khawatir dan takut menghantuinya, namun hampir bar­bareng, kesadaran menyerahkan diri ke­pada Tuhan mengusir itu semua. Dia ha­rus panrah, percaya sepenuhnya akan kekuasaan Tuhan.

“Kekuasaan Tuhan berada di mana­pun juga,” demikian pernah Pek Sim Sian-su berkata, “di tempat yang paling tinggi maupun paling rendah, dalam benda yang paling besar sampai yang pa­ling kecil, di atas langit maupun di bawah bumi....”

“Di bawah bumi.... ah, di sini pun terdapat kekuasaan Tuhan! Ya Tuhan, hamba menyerah, hamba pasrah, apapun yang Tuhan kehendaki jadilah!” Hati Sie Liong bersorak dan pikirannya semakin terang. Dia mulai menggunakan pikirannya kembali. Jelas, dia berada di dalam sebuah peti dan peti itu dikubur. Entah mengapa, petinya berlubang dan ada tabung yang memasukkan hawa udara segar. Orang tidak menghendaki dia cepat mati. Tentu ini parbuatan Kim Sim Lama, akan tetapi untuk apa dia tidak tahu dan tidak berniat menyelidiki karena hal itu akan sia-sia sa­ja. Yang penting sekarang harus menca­ri jalan untuk keluar dari tempat ini. Kembali dia menggerakkan kedua kaki dan sebelah tangannya untuk mencoba memecahkan peti. Akan tetapi ruangan itu terlalu sempit, dan tenaganyapun terlalu kecil. Percuma saja, pikirnya. Dan pula, andaikata peti itu dapat dipecahkan, dia tetap masih di dalam tanah. Lebih celaka, kalau sampai tabung hawa itu patah dan kemasukan tanah, tentu dia tidak akan dapat bernapas lagi dan itu berarti kematian yang mengerikan. Tidak, dia tidak boleh terburu nafsu, tidak boleh putus harapan. Kalau orang memasang tabung itu, berarti mereka tidak menghendaki dia mati dan tentu merekapun akan mengeluarkannya lagi sebelum dia mati.

Dia mengingat-ingat percakapannya dengan tabib Tibet itu. Dia terkena racun penghilang ingatan, akan tetapi a­gaknya racun itu telah kehilangan daya kerjanya, maka sekarang dia dapat mengingat-ingat lagi. Dan menurut tabib i­tu, dia juga keracunan. Darahnya kera­cunan sehingga dia kehilangan tenaga sin-kangnya dan setiap kali mengerahkan tenaga, tadinya dadanya terasa nyeri. Sekarang, dada itu telah tidak nyeri lagi, namun tenaganya masih belum pulih. Tentu tabib itu telah berhasil mengobatinya, namun belum sembuh sama sekali sehingga baru rasa nyerinya yang hilang. Tenaga sin-kangnya belum kembali.

Kembali dia menggerakkan tangan kanan, menekan ke arah peti. “Krek.... krekk....!” Peti itu retak oleh dorongannya. Tenaga biasa, bukan tenaga sin-kang, akan tetapi karena memang dia memiliki tubuh yang terlatih, tenaganya cukup besar. Begitu terdengar suara berkeretekan, peti sedikit terbuka dan ada tanah dan pasir masuk dan me­nimpa mukanya! Dengan cepat dia memejamkan mata dan menggunakan tangan ka­nan membersihkan muka. Celaka, pikir­nya. Kalau dia berhasil memecahkan pe­ti itu, dia akan tertekan tanah dan pasir, dan akan mati kehabisan hawa uda­ra. Kini dia malah tidak berani barge­rak sama sekali karena setiap kali bergerak agak keras, ada tanah dan pasir jatuh ke dalam peti yang sudah retak itu.

Tenang, Sie Liong, tenanglah dan pergunakan akal budimu. Akal budi juga pemberian Tuhan yang harus diperguna­kan pada saat yang dibutuhkan, seperti sekarang ini! Dia memang sudah menyerah dan pasrah sepenuhnya kepada Tuhan namun di samping itu dia harus berikh­tiar, berusaha menggunakan segala alat yang ada padanya, pikirannya, akalnya, tenaganya yang ada pada seluruh tubuh. Kekuasaan Tuhan membimbing, akan teta­pi bimbingan itupun tentu disalurkan melalui alat-alat yang ada padanya.

Diapun mengingat-ingat. Dia berada di dalam bumi! Di dalam tanah. Dan tiba-tiba teringatlah dia akan pelajaran yang pernah diberikan Pek Sim Sian-su kepadanya, yaitu pelajaran tentang tenaga-tenaga mujijat yang berada dalam alam semesta ini. Tenaga dahsyat yang terdapat dalam api, dalam air, dalam hawa, dalam logam dan dalam tanah! Dalam tanah terdapat tenaga yang maha dahsyat, demikian kata gurunya itu. Tenaga Inti Bumi! Tenaga inilah yang menghasilkan segala zat, segala makan­an, segala benda di dunia ini. Yang menghidupkan tumbuh-tumbuhan, yang me­ngeluarkan hawa panas, yang mengeluarkan apa saja. Bumi nampak lemah dan diam. Namun segala yang nampak ini bera­sal dari bumi dan akan kembali ke bumi pada akhirnya! Bumi mengandung tenaga dan daya tarik yang hebat, mengandung energi yang maha dahsyat. Dalam bumi, dalam tanah, tedapat kekuasaan Tuhan, yaitu energi yang maha dahsyat itu! Dan dia hanya tinggal menyerah dengan pasrah, dan kalau Tuhan menghendaki, maka tentu dia akan kebagian sedikit tenaga dahsyat itu. Sedikit saja, cu­kup untuk membuat dia keluar dari dalam kurungan maut itu.

Mulailah Sie Liong mengatur pernapasan melalui lubang dalam tabung itu, mulai dia menghimpun hawa murni dan membangkitkan tenaga saktinya. Perlahan-lahan, dengan penuh penyerahan ke­pada Tuhan Yang Maha Kasih, dia mulai merasakan adanya hawa yang hangat memasuki tubuh melalui napas yang dihisap­nya. Hawa yang hangat ini berputar di dalam pusarnya, seolah membangkitkan kembali tenaga saktinya yang nampaknya tertidur itu, dan hawa murni yang ter­hisap olehnya itu kini bercampur de­ngan sesuatu yang belum pernah dirasakannya. Berbeda dengan hawa murni yang dihimpun ketika dia latihan di atas sana, di atas tanah. Kini ada sesuatu yang kadang panas kadang dingin, ka­dang menyesakkan dada, terbawa masuk ke dalam tubuhnya, berkumpul di dalam pusar. Dia tidak tahu bahwa tanpa disadarinya, tanpa disengaja, dia mulai menghimpun Tenaga Inti Bumi! Itulah kekuasaan Tuhan yang sudah diyakininya. Agaknya Tuhan menghendaki demikian sehingga tanpa disengaja, nampaknya secara kebetulan saja, Sie Liong dapat menghimpun Tenaga Inti Bumi sewaktu dia dikubur hidup-hidup dalam peti! Dan kebetulan sekali pula, sesungguh­nya bukan kebetulan melainkan sudah digariskan dan diatur oleh kekuasaan Tu­han, pada saat itu racun dalam darahnya mulai dibersihkan oleh obat yang dimasukkan ke dalam perutnya oleh Ca­mundi Lama. Darahnya sudah bersih kembali dan ketika tenaga sin-kangnya perlahan-lahan pulih, kebetulan saat itu dari pengaturan pernapasan, dia menghimpun Tenaga Inti Bumi yang segera bersatu dengan tenaga sin-kang yang sudah ada dalam tubuhnya!

Namun Sie Liong tidak merasakan semua itu. Dia hanya memusatkan perha­tian pada pernapasannya, sambil menye­rahkan segalanya kepada Tuhan, bagaikan orang yang benar-benar sudah mati.



***



Lie Bouw Tek memang seorang pria yang gagah perkasa dan penuh keberani­an. Dia berhasil menghadap Dalai Lama bersama Sie Lan Hong dan mendengarkan penjelasan. Kini tahulah dia bahwa se­mua peristiwa yang menimpa para tosu dari Himalaya yang mengungsi ke Kun-lun-san, juga yang menimpa Kun-lun-pai sendiri, adalah suatu muslihat belaka dari para pemberontak di Tibet untuk mengelabuhi mata umum dan melakukan fitnah kepada Dalai Lama, agar Dalai Lama dimusuhi banyak pihak!

Akan tetapi dia tidak perduli a­kan semua itu. Dia tidak hendak mencampuri urusan pemberontakan di Tibet, tidak membela Dalai Lama, juga tidak membantu para pemberontak. Dia hanya i­ngin mengajak Sie Lan Hong bertemu dengan adiknya yang dicari-carinya, yaitu Sie Liong, dan juga mencari puteri­nya, Yauw Bi Sian. Karena tidak ber­maksud mencampuri urusan pemberontakan malainkan urusan pribadi, maka Lie Bo­uw Tek tidak ragu-ragu atau takut-ta­kut untuk mengunjungi sarang Kim-sim-pang yang memberontak terhadap Dalai Lama! Dia terpaksa mengajak Sie Lan Hong yang tidak mau ditinggal dan ingin pula mencari sendiri adik dan puterinya.

Pria perkasa berusia tiga puluh e­nam tahun itu dan janda muda jelita berusia tiga puluh tiga tahun itu mela­kukan perjalanan dengan tenang dan tenteram. Mereka sudah yakin akan cinta kasih masing-masing, maka melakukan perjalanan berdua merupakan suatu hal yang selain membahagiakan, juga menda­tangkan perasaan tenteram dan penuh damai. Melakukan perjalanan berdua merupakan suatu kebahagiaan yang membuat sinar matahari lebih cerah, warna-war­na lebih terang, suara apapun majadi lebih merdu. Dunia nampak lebih indah daripada biasanya!

Pada pagi hari yang cerah itu, mereka tiba di lereng sebuah bukit. Dari lereng itu mereka dapat melihat ke bawah dan pemandangan alam di pagi ha­ri itu teramat indahnya. Dari lereng bukit itu mereka dapat melihat telaga Yam-so dengan airnya yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi. Bukit-bukit di sekitar telaga itu penuh dengan warna kehijauan dengan titik warna beraneka macam. Musim bunga telah tiba dan di bukit-bukit itu ditumbuhi ba­nyak sekali pohon yang berbunga indah.

Dari Kong Ka Lama mereka telah mendengar keterangan jelas tentang letak sarang Kim-sim-pang. Mereka tahu bahwa sarang itu berada di bukit ini. Dan perhitungan mereka memang tidak salah. Selagi mereka menikmati keindahan pemandangan alam di bukit itu, tiba-tiba terdengar suara banyak orang dan tempat itu sudah terkepung oleh belasan orang pendeta Lama yang memegang bermacam senjata. Wajah para pendeta ini tidak menyeramkan, namun cukup bengis.



Lie Bouw Tek berpura-pura kaget walaupun dia sudah dapat menduga bahwa mereka tentulah anak buah Kim-sim-pang. Dia menjura kepada mereka semua, lalu berkata, “Maafkan kalau kami menganggu cu-wi suhu (para pendeta sekalian). Kami adalah dua orang yang bermaksud pergi bersembahyang ke kuil Kim-sim-pang. Dapatkah cu-wi menunjukkan jalannya ke kuil itu?” Dari Kong Ka Lama Lie Bouw Tek sudah mendengar bahwa sarang Kim-sim-pang itu tersembunyi di bela­kang sebuah kuil Kim-sim-pang yang se­sungguhnya hanya merupakan kedok belaka. Oleh karena itu, dia tadi mengajak Lan Hong untuk mengambil jalan memu­tar, tidak datang dari depan, melain­kan hendak mencari jalan dari bela­kang kuil.

Mendengar ucapan Lie Bouw Tek, belasan orang pendeta Lama itu memandang dengan alis berkerut penuh kecurigaan, lalu seorang di antara mereka yang me­mimpin rombongan berkata, “Jalan menu­ju ke kuil adalah jalan raya yang su­dah ada dari kaki bukit. Kenapa ji-wi tidak mengambil jalan itu melainkan berkeliaran di tempat ini? Di sini me­rupakan wilayah kekuasaan kami, dan tidak seorangpun boleh berkunjung di si­ni tanpa seijin kami.”

Lie Bouw Tek mengangkat kedua ta­ngan memberi hormat. “Maafkan kami berdua. Kami tidak sengaja hendak melang­gar wilayah kekuasaan cu-wi. Karena tertarik oleh pemandangan yang indah dari sini, maka kami berdua tidak melalui jalan raya dan....”

“Katakan apa keperluan ji-wi yang sesungguhnya, kalau tidak, terpaksa kami harus menangkap ji-wi dan kami ajak menghadap pimpinan kami yang akan me­nentukan selanjutnya.”

Lie Bouw Tek sudah hendak marah, mukanya sudah menjadi kemerahan. Melihat ini, Lan Hong menyentuh lengannya dan iapun melangkah maju dan berkata dengan lembut. “Harap cu-wi suhu mema­afkan. Kami sama sekali tidak hendak mengganggu cu-wi (kalian). Kami datang selain untuk bersembahyang, juga untuk mencari seorang adikku. Dia seorang pemuda bongkok bernama Sie Liong dan....”

“Pendekar Bongkok!” seru seorang di antara mereka karena kaget. Mende­ngar ini, Lan Hong dan Bouw Tek girang sekali.

“Benar dia! Pendekar Bongkok! Dialah yang kami cari,” kata Lie Bouw Tek. “Dapatkan cuwi memberitahu di mana dia?”

Akan tetapi begitu mendengar bah­wa yang datang ini adalah keluarga Pendekar Bongkok, para pendeta itu sudah memandang Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong sebagai musuh yang tentu datang dengan maksud membebaskan Pendekar Bongkok yang pernah menjadi tawanan Kim-sim-pang. Mereka sudah mengepung dan seorang dari mereka lari menuju ke sarang untuk melapor. Melihat sikap mereka, mengacungkan senjata dan menge­pung, Lie Bouw Tek mengerutkan alisnya. Dia berdiri tegak dan berkata dengan suara lantang.

“Cu-wi tentulah orang-orang Kim-sim-pang! Ketahuilah bahwa aku bernama Lie Bouw Tek, seorang murid Kun-lun-pai, dan ini adalah Sie Lan Hong, kakak perempuan Pendekar Bongkok. Kami sama sekali tidak mempunyai urusan de­ngan Kim-sim-pani, kami hanya mencari adik kami itu!”

Akan tetapi, para pendeta itu mengepung semakin ketat. “Ji-wi harus menyerah untuk kami tawan dan kami hadapkan kepada pemimpin kami. Hanya beliau yang akan menentukan apakah ji-wi ber­salah ataukah tidak. Menyerahlah daripada kami harus menggunakan kekerasan!”

“Hemm, kalian ini orang-orang yang berpakaian pendeta, akan tetapi sikap dan tingkah laku kalian seperti peram­pok-perampok saja! Kami tidak bersalah apapun, bagaimana harus menyerah menjadi orang tangkapan? Kami tidak mau me­nyerah!” Barkata demikian, Lie Bouw Tek sudah mencabut pedangnya yang bersinar merah. Sie Lan Song juga menca­but pedangnya, karena ia tahu pula bahwa menyerah kepada orang-orang ini berarti membiarkan diri terancam baha­ya. Mereka adalah pemberontak, kalau sudah menawan orang tentu tidak mudah melepaskannya lagi begitu saja. Iapun siap mengamuk di samping Lie Bouw Tek untuk membela diri.

“Hemm, terpaksa kami menggunakan kekerasan!” bentak pemimpin rombongan dan empat orang sudah menerjang dengan senjata mereka kepada Lie Bouw Tek, dan dua orang juga menerjang ke arah Sie Lan Hong.

“Trang-trang-tranggg....!” Bunga api berpijar ketika Lie Bouw Tek meng­gerakkan pedangnya menangkis. Sinar merah berkelebaten dan empat orang pendeta itu berseru kaget dan berloncatan mundur karena senjata mereka telah buntung ketika bertemu dengan pedang di tangan pendekar Kun-lun-pai itu!

Dua orang yang menyerang Sie Lan Hong juga mendapatkan perlawanan ke­ras. Bukan saja wanita cantik itu mam­pu mengelak dan menangkis, bahkan mem­balas dengan hebat dan sebuah tandang­an kakinya sempat membuat seorang pe­ngeroyok terhuyung dan mamegangi perutnya.

Para pendeta itu menjadi marah sekali. Akan tetapi sebelum mereka itu menyerang lagi, tiba-tiba terdengar seruan yang amat berwibawa, “Tahan semua senjata....!”

Para pendeta mengenal suara Kim Sim Lama dan mereka segera berloncatan ke belakang dan menghenti­kan serangan mereka. Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong cepat berdiri saling men­dekati agar dapat saling bantu jika mereka dikeroyok lagi. Lie Bouw Tek yang amat mengkhawatirkan keselamatan Sie Lan Hong, menggunakan tangan kirinya menyentuh lengan wanita itu, seperti hendak menenangkan hatinya dan meyakinkan bahwa dia berada di situ dan akan selalu melindunginya. Dan kini mereka memandang kepada pendeta Lama yang tinggi kurus dan tua renta itu. Pende­ta Lama itu biarpun sudah tua, mukanya kemerahan dan segar seperti muka kanak-kanak, hampir sama merahnya dengan ju­bahnya yang lebar.

Lie Bouw Tek sudah mendengar pula keterangan dari Kong Ka Lama, pengawal Dalai Lama, maka dia dapat menduga de­ngan siapa dia kini berhadapan. Dia cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat dan melihat ini, Sie Lan Hong juga mencontohnya. Mereka memberi hormat kepada Kim Sim Lama, dan Lie Bouw Tek berkata dengan suara lantang namun mengandung penghormatan.

“Kalau kami tidak salah duga, locianpwe tentulah yang terhormat Kim Sim Lama. Terimalah hormat kami, locianpwe.”

Kim Sim Lama membungkuk sedikit. “Omitohud.... orang muda yang gagah sudah mengenal pinceng (aku) dan kalian berdua orang-orang muda secara berani sekali memasuki tempat larangan ka­mi. Siapakah kalian dan ada keperluan apa kalian berkeliaran di sini?” Tadi dia sudah mendengar pelaporan seorang anak buahnya. Karena mendengar bahwa pendekar yang dikeroyok itu seorang murid Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi, diapun cepat keluar melerai perkelahian itu dan kini Kim Sim Lama ingin mendengar sendiri pengakuan Lie Bouw Tek.

Dengan lantang Lie Bouw Tek mem­perkenalkan diri. “Saya bernama Lie Bouw Tek, murid Kun-lun-pai yang meneri­ma perintah para suhu di Kun-lun-pai untuk melakukan penyelidikan mengapa para pendeta Lama telah memusuhi Kun-lun-pai, disamping memusuhi para tosu dan pertapa lain. Dan sahabat saya ini bernama Sie Lan Hong, kakak kandung dari Pendekar Bongkok dan ia datang un­tuk mencari adiknya itu. Kini kami berhadapan dengan locianpwe Kim Sim Lama dan kami mengharap locianpwe akan sudi membantu kami dengan keterangan tentang kedua hal itu.”

Kim Sim Lama mengangguk-angguk dan mengeluarkan suara ketawa dikulum, lalu berkata, “Omitohud, tidak keliru kalau Lie-sicu berdua minta keterangan dari pinceng. Akan tetapi, tidak enak bicara di luar begini. Marilah, kalian ikut dengan pinceng, kita bicara di dalam dan pinceng akan maberi keterangan yang selengkapnya tentang ke­dua hal yang kalian pertanyakan itu.”

Biarpun dia maklum bahwa mereka berdua memasuki sarang harimau dan naga yang penuh bahaya, namun Lie Bouw Tek bersikap tenang. Dia yakin bahwa Kim Sim Lama tentu tidak akan melakukan tindakan yang sembarangan setelah mengetahui bahwa dia adalah utusan Kun-lun-pai. Bagaimanapun juga, dia yakin bahwa nama besar Kun-lun-pai masih memiliki wibawa yang cukup kuat.

Mereka diajak memasuki ruangan di belakang kuil di mana Kim Sim Lama mempersilakan mereka duduk. Kim Sim Lama duduk menghadapi mereka dan di belakang Kim Sim Lama duduk pula Tibet Ngo-houw dan Ki Tok Lama, sedangkan para pendeta lain tidak ada yang ikut mendengarkan. Setelah memperkenalkan enam orang pendeta Lama itu sebagai para pembantunya, Kim Sim Lama lalu berkata dengan suara tenang.

“Sicu (orang gagah), sekarang pinceng ingin lebih dulu menjelaskan tentang sikap bermusuhan yang diperlihatkan oleh para tokoh Lama dari Tibet kepada para tosu, pertapa dan bahkan Kun-lun-pai. Untuk itu, sebagai saksi, biarlah pinceng mengundang seorang pertapa dan tosu untuk hadir di sini. Ki Tok Lama, panggil Thay-yang Suhu ke sini.”

Ki Tok Lama, pendeta yang pendek kecil itu keluar dari ruangan dan tak lama kemudian dia sudah datang kembali bersama seorang tosu. Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong memandang kepada tosu itu. Seorang kakek berusia kurang lebih enam puluh tahun, kepalanya hampir gundul dengan rambut pendek, berjubah se­perti seorang tosu, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya tampan. Di punggungnya nampak sepasang pedang. Thai-yang Suhu memberi hormat kepada Kim Sim La­ma, lalu dipersilakan duduk di sebelah kanannya oleh pemimpin itu.

“Sicu Lie Bouw Tek dan toanio (nyonya) Sie Lan Hong, ini adalah sahabat kami yang bernama Thai-yang Suhu, dan dia adalah seorang tosu yang dahulu bertapa di Himalaya dan dia mengetahui segala hal yang telah terjadi.”

“Locianpwe, terus terang saja, yang ingin saya ketahui hanyalah mengapa para pendeta Lama memusuhi Kun-lun-pai, yang selamanya tidak pernah mencampuri urusan para pendeta Lama di Tibet. Urusan lain dengan pihak lain, kami dari Kun-lun-pai tidak berhak mencampuri,” kata Lie Bouw Tek.

“Omitohud, bersabarlah, sicu, semua ini ada hubungannya, dan karena pelaksana utama ketika Dalai Lama memusuhi para tosu, pertapa dan juga Kun-lun-pai hadir di sini, sebaiknya kalau sicu mendengarkan sendiri keterangan mereka. Thay Ku Lama, engkau wakili Tibet Ngo-houw untuk memberi penjelanan tentang tugas kalian yang merupakan perintah Dalai Lama.”

They Ku Lama yang berperut gen­dut, orang pertama dan tertua dari Ti­bet Ngo-houw, segera berkata dari tem­pat duduknya. “Sicu Lie Bouw Tek harap suka mendengarkan dengan sabar. Terus terang saja, sampai sekarang kami Ti­bet Ngo-houw masih merasa menyesal mengapa dulu itu kami mentaati perintah Dalai Lama yang makin lama menjadi semakin lalim itu. kami sudah mengingatkannya bahwa dahulu, di waktu masih kecil, dan dia ditunjuk sebagai calon Dalai Lama yang baru, dan pertapa Himalaya bermaksud membela penduduk dusun yang hendak mempertahankan dia. Bahwa para pertapa itu bermaksud baik walaupun dalam pertempuran i­tu akhirnya beberapa orang pendeta La­ma tewas. Akan tetapi, dia tidak perduli dan memaksa kami untuk menuntut balas, menyerang dan membunuhi para pertapa di Himalaya. Bahkan kemudian, ma­kin dewasa, Dalai Lama menjadi semakin buas dan dia memaksa kami untuk melakukan pengejaran terhadap para pertapa dan tosu Himalaya yang melarikan diri mengungsi ke Kun-lun-san. Karena itu­lah, maka kami sampai bentrok dengan Kun-lun-pai. Dan semua ini adalah gara-gara kelaliman Dalai Lama. Akhirnya kami menyadari hal itu dan kamipun me­ninggalkan Dalai Lama, bersama-sama membantu suhu Kim Sim Lama untuk menentang Dalai Lama yang lalim itu. Maka, ketahuilah bahwa kami hanyalah pelaksana, dan yang bertanggung jawab terha­dap para tosu, pertapa maupun Kun-lun-pai, sepenuhnya adalah Dalai Lama!”

Lie Bouw Tek mengerutkan alisnya. Sungguh keterangan ini merupakan kebalikan dari apa yang didengarnya dari Dalai Lama! Siapakah yang benar? Pada saat itu, Thai-yang Suhu berkata dengan suaranya yang lembut.

“Semua yang diceritakan Thay Ku Lama itu benar, Lie-sicu. Pinto (saya) sendiri dahulu merupakan seorang di antara para tosu pertapa yang pernah melarikan diri mengungsi dan bahkan men­jadi musuh Gobi Ngo-houw yang ketika itu menjadi petugas yang melaksanakan perintah Dalai Lama. Setelah mereka i­tu meninggalkan Dalai Lama, barulah kami bersahabat dan pinto menjadi saksi akan kelaliman Dalai Lama. Karena itu­lah maka pinto bersedia membantu gerakan Kim Sim Lama yang hendak menentang kelaliman Dalai Lama dan pinto harap­kan agar para pertapa dan tosu membantu pula untuk menghadapi Dalai Lama yang jahat.”

Lie Bouw Tek menjadi semakin ra­gu. Kalau Dalai Lama benar, kiranya tidak mungkin timbul pemberontakan dari para pendeta Lama ini. Apakah dia ha­rus menghadapi lagi Dalai Lama dan ber­tanya kembali? Selagi dia meragu, Sie Lan Hong yang ingin sekali mendengar tentang adiknya, bertanya.

“Locianpwe tadi mengatakan bah­wa locianpwe tahu tentang adik saya, yaitu Pendekar Bongkok Sie Liong. Mo­hon petunjuk locianpwe, dimana adanya adik saya itu sekarang.”

“Omitohud.... harap toanio menguatkan hati. Ada berita yang menye­dihkan tentang Pendekar Bongkok. Dia, sudah tewas oleh Dalai Lama dan kaki tangannya.”

“Ahhhhhh....!” Sepasang mata Lan Hong terbelalak dan wajahnya berubah pucat sekali.

“Tidak mungkin....!” Lie Bouw Tek juga berseru kaget sekali. Dia mendengar dari Lan Hong bahwa Pendekar Bongkok juga membawa tugas yang sama dengan dia. Kalau dia bertugas menyelidiki mengapa para pendeta Lama memusuh Kun-lun-pai, pendekar itupun menyelidiki kenapa Dalai Lama memusuhi para tosu dan pertapa.

“Omitohud.... pinceng selamanya tidak pernah berbohong. Pendekar Bongkok datang untuk membalaskan dan­dam para pertapa dan para tosu kepada Dalai Lama. Dia dikeroyok dan tewas. Kalau ji-wi (kalian) hendak membukti­kan, dapat kalian kunjungi makamnya.”

“Ahhh.... Liong-te (adik Liong).... benarkah.... engkau sudah tewas....?” Lan Hong menahan tangisnya, kemudian bertanya kepada Kim Sim Lama, “Di mana kuburan adik saya?”

“Marilah, pinto antarkan kalau ji-wi hendak menyaksikan sendiri. Ku­burannya masih baru!” kata Thai-yang Suhu. Mendengar ini, Lan Hong segera bangkit berdiri.

“Lie toako, aku ingin menengok kuburan adikku!”

Lie Bouw Tok merasa iba sekali kepada wanita yang dikasihinya itu. Bar­susah payah wanita itu melakukan perjalanan jauh untuk mencari adiknya, dan begitu bertemu hanya melihat kuburan­nya! Diapun mengangguk kepada Thai-yang Suhu.

“Totiang, terima kasih sebelumnya atas kebaikan totiang yang hendak mengantarkan kami. Mari kita berangkat.”

Keduanya memberi hormat kepada Kim Sim Lama, kemudian bersama Thai-yang Subu, mereka maninggalkan kuil itu lewat pintu samping. Di sepanjang perjalanan, Lan Hong diam saja, menahan tangisnya. Akan tetapi Lie Bouw Tek yang merasa penasaran, mencoba untuk menca­ri keterangan dari Thai-yang Suhu ba­gaimana sampai Pendekar Bongkok tewas di tangan Dalai Lama dan kaki tangan­nya.

“Siancai.... bagaimana pinto dapat mengetahuinya? Kami semua hanya mendengar saja bahwa Pendekar Bongkok menghadap Dalai Lama dan menuntut kepada Dalai Lama yang memusuhi para pertapa dan tosu Himalaya yang mangungsi ke Kun-lun-san. Dan tahu-tahu, Pendekar Bongkok telah tewas dan pinto melihat sendiri ketika jenazahnya dimakamkan di kuburan itu. Hanya itulah yang pin­to ketahui. Dalai Lama yang lebih mengetahui bagaimana matinya Pendekar Bongkok.”

“Liong-te....!” Lan Hong mengeluh dan ia menggunakan ujung langan baju untuk mengusap air matanya.

Akhirnya, mereka tiba di taman ku­buran itu. Sunyi sekali di situ karena teman kuburan itu memang terletak di luar kota, dan pada waktu itu bukan hari bersembahyang, maka tidak ada orang lain kecuali mereka bertiga yang her­kunjung ke situ. Sebelum meninggalkan kuil tadi, Thai-yang Suhu sudah memba­wa hio-swa (dupa biting) dan beberapa batang lilin. Dia mengeluarkan alat sembahyang sederhana itu dan Lie Bouw Tek bersama Sie Lan Hong melakuknn upacara sembahyang dengan sederhana, namun khidmat diiringi tangis Lan Hong perlahan-lahan.

Melihat kedukaan wanita itu, Lie Bouw Tek berdiri tegak memandang gun­dukan tanah kuburan itu sambil mengepal kedua tinjunya. Dia merasa penasaran sekali.

“Benarkah ini? Benarkah Pendekar Bongkok yang demikian terkenal itu te­was semudah ini? Benarkah yang berada di bawah gundukan tanah ini jenazah Pendekar Bongkok?”

Mendengar ucapan itu yang merupakan penumpahan resa penamaran yang tanpa disadarinya telah keluar dari mulut pendekar Kun-lun-pai itu, Thai-yang Suhu mengerutknn alisnya.

“Lie-sicu, apakah sicu masih meragukan kebenaran keterangan kami semuA? Kalau sicu masih belum percaya, seka­rang juga boleh sicu membongkar kuburan ini dan melihat apakah benar jena­zah Pendekar Bongkok yang berada di dalamnya atau bukan!”

Mendengar nada suara yang keras itu, Lie Bouw Tek memandang heran kepada tosu itu. Akan tetapi, Lan Hong su­dah hanyut pula dalam keharuan dan pe­nasaran, apalagi mendengar ucapan Lie Bouw Tek tadi. Ia menjatuhken diri berlutut di depan kuburan itu dan berkata dengan suara berduka.

“Adikku Sie Liong, kalau benar engkau telah mati, berilah tanda kepn­daku agar hatiku tidak menjadi ragu lagi. Adikku.... ah, adikku Sie Liong....!” Dan sekali ini Lan Hong yang sejak tadi sudah menahan-nahan tangisnya kini terisak-isak.

Sementara itu, di bawah gundukan tanah itupun terjadi peristiwa hebat yang tak diketahui seorangpun di luar. Sudah tujuh hari lamanya Sie Liong “bertapa” di dalam tanah, dikubur hidup-hidup! Dia dapat bernapas melalui lubang yang sengaja dipasang oleh tabib Camundi Lama yang merasa iba kepadanya. Dan selama tujuh hari tujuh malam itu dia pasrah kepada kekuasaan Tuhan! Kekuasaan Tuhan berada di manapun di dalam yang paling dalam, di luar yang paling luar, di dalam segala benda yang nampak maupun tidak, dan di dalam tanah itupun terdapat pula kekuasaan Tuhan! Bahkan kekuasamn Tuhan amatlah kuatnya di situ. Bukankah segala sesuatu yang berada di atas bumi itu berasal dari tanah! Bukankah kehidupan segala macam tumbuh-tumbuban juga bersumber pada tanah! Bumi yang nampak lemah dan tak bergerak itu sesungguhnya mengandung gerakan hidup yang dahsyat, maha dahsyat. Bumi mengandung energi, mengandung kekuatan yang menyedot segala apapun kembali kepadanya. Ada Tenaga Inti Bumi yang hebatnya tiada lawan.

Terkenang akan hal-hal yang per­nah diajarkan oleh Pek Sim Sian-su kepadanya, tentang Tenaga Inti Bumi, tentang kekuatan dahsyat yang timbul melalui kepesrahan kepada kekuasaan Tuhan, selama tujuh hari itu Sie Liong meng­himpun tenaga mujijat itu. Dia sudah pasrah. Tubuhnya lemah, lengan kirinya buntung, ingatannya hilang, darahnya keracunan. Dia pasrah dalam arti yang sedalam-dalamnya. Bukan pasrah namanya kalau di dalam batin masib mengandung pamrih. Bukan pasrah namanya kalau di dalam batin masih terdapat rasa takut. Pasrah berarti tidak bekerjanya hati dan pikiran, pasrah berarti tidak ada­nya nafsu. Yang ada hanya pasrah, penuh kesabaran, penuh ketawakalan, pe­nuh keikhlasan, menyerah kepada kekua­saan Tuhan.

Tuhan Maha Kuasa! Tuhan Maha Ka­sih! Tanpa diketahuinya sendiri, terjadi keajaiban di dalam tubuh Sie Liong, kemujijatan yang menjadi bukti kekuasaan Tuhan! Tenaga Inti Bumi, di luar kesadarannya, telah merasuk ke dalam tu­buhnya. Tenaga sakti yang dahsyat ini sekaligus mengusir semua hawa beracun, membersihkan darahnya, bukan saja memulihkan tenaga saktinya, bahkan menjadikannya beberapa kali lebih kuat. Mula-mula dia hanya merasa betapa tubuhnya seperti sebuah balon yang ditiup, te­rus ditiup sehingga rasanya menggem­bung, makin lama semakin kuat, sehingga rasanya seperti hendak meledak!

Dia tidak tahu betapa pada saat itu, di atas sana, kakak kandungnya, Sie Lan Hong, sedang menangis dan memanggil-manggil namanya, minta bukti dan tanda bahwa dia telah tewas. Dia hanya merasa tubuhnya seperti akan me­ledak, maka tanpa memperdulikan apapun yang akan terjadi, dia menggerakkan sebelah tangan dan kedua kakinya, meron­ta dan mendorong, menendang.

“Blaaaaarrrrr....!”

Dapat dibayangkan betapa kagetnya tiga orang yang berada di depan gundukan tanah kuburan itu ketika tiba-tiba terdengar suara keras seperti ledakan dan gundukan tanah itu pecah dan bagaikan ada bahan peledak yang amat kuat meledak dari dalam gundukan tanah, maka tanah dan batu berikil berhamburan. Sie Lan Hong menjerit, Lie Bouw Tek sudah menarik lengan wanita itu diajak bertiarap agar jangan terkena tanah dan batu kerikil yang muncrat berham­buran. Mereka masih melihat sesosok bayangan orang meloncat keluar dari da­lam lubang di bawah gundukan tanah itu, meluncur ke atas dan berjungkir balik lima kali sebelum melayang turun ke atas tanah.

“Keparat....! Kau.... iblis....!” Terdengar Thai-yang Suhu mem­bentak. Pendeta palsu inipun terkejut bukan main ketika melihat gundukan ta­nah itu tiba-tiba meledak dan dari da­lannya meloncat seorang yang dikenal­nya sebagai Pendekar Bongkok! Masih presis Pendekar Bongkok seminggu yang lalu, hanya pakaian dan rambutnya kusut dan kotor berlumpur dan kini mukanya merah seperti udang direbus, matanya mencorong seperti bukan mata manusia. Melihat ini, Thai-yang Suhu yang khawatir kalau rahasianya terbuka, se­gera meloncat maju dan menerjang dengan sepasang pedangnya! Dia langsung saja melakukan serangan maut, menusuk­kan pedang kanan ke arah tenggorokan dan pedang kiri ke arah lambung Pende­kar Bongkok!

Pada saat itu, Sie Liong masih belum mendapatkan kembali ingatannya se­penuhnya dan dia bergerak tanpa perhitungan pikiran lagi, melainkan digerakkan oleh kekuatan mujijat yang tar­himpun di dalam dirinya. Ketika pedang di tangan Thai-yang Suhu itu meluncur ke arah tenggorokan dan lambungnya, dia hanya mengeluarkan bentakan yang aneh, melengking panjang dan tangannya bergerak ke arah sinar pedang yang menyambarnya.

“Bresss....!” Tubuh Thai-yang Suhu terlempar beberapa meter jauhnya, terbanting dan tidak mampu bangkit kembali karena kedua pedang di tangannya yang tadi dia pergunakan untuk menye­rang, entah bagaimana telah membalik dan menancap di dada dan lehernya sendiri! Dia tewas seketika!

“Liong-te....!” Lan Hong meloncat menghampiri Sie Liong. Akan te­tapi, dengan sekali lompatan yang jauh sekali, Sie Liong melarikan diri. Dia balum ingat siapa wanita itu, dan dia tidak ingin terjdi wanita itu tewas seperti orang yang menyerangnya tadi. Dan begitu melompat, dia terkejut sen­diri karena lompatannya tidak seperti biasa, amat jauhnya seperti terbang saja! Melihat adiknya melarikan diri dengan lompatan yang luar biasa itu, Lan Hong berseru memanggil-manggil dan mengejar.

“Liong-te, tunggu....! Liong-te....!”

Akan tetapi dengan beberapa kali lompatan saja, bayangan Sie Liong telah lenyap dan Lan Hong berdiri bingung, tidak tahu ke mana adiknya tadi pergi. Lie Bouw Tek sudah berada di dekatnya dan pendekar Kun-lun-pai ini berkata.­

“Sudahlah, Hong-moi. Tidak ada gunanya dikejar. Dia sudah jauh sekali, entah di mana. Dia.... dia.... seperti dapat terbang saja dan tidak mungkin bagi kita untuk dapat menyusulnya.” Dia masih terpukau karena kagumnya menyaksikan kehebatan Pendekar Bongkok, adik wanita yang dikasihinya itu. Dia sudah mendangar bahwa Pendekar Bongkok memiliki ilmu kepandaian ting­gi, akan tetapi apa yang disaksikannya tadi jauh melampaui dugaannya. Terlalu dahsyat ilmu yang dimiliki Pendekar Bongkok itu, tidak lumrah manusia!

“Aih, Lie-toako.... apakah engkau tidak melihat lengan kirinya tadi? Dia.... dia buntung! Aihh, adikku, apa yang telah mereka lakukan kepada­mu? Aku harus mencari Kim Sim Lama, a­ku harus membalaskan adikku, akan kuminta pertaggungan jawabnya!” Lan Hong menangis.

“Tenanglah, Hong-moi. Yang penting, adikmu itu masih dalam keadaan selamat, bukan? Kalau kita kembali ke sana, tentu mereka tidak akan menerina kita sebaik tadi. Apalagi Thai-yang Suhu telah tewas. Kita bahkan harus cepat pergi dari sini. Aku hendak meng­hadap Dalai Lama dan melaporkan segalanya. Kim Sim Lama dan para pengikutnya itu jelas hendak melempar fitnah kepada Dalai Lama dan dia berbahaya seka­li. Mari, Hong-moi, mari kita pergi menghadap Dalai Lama. Kemudian baru kita mencari jejak adikmu Sie Liong dan puterimu....”

“Bi Sian....! Ah, di mana anakku Bi Sian? Apa yang telah terjadi de­ngannya? Melihat apa yang menimpa diri adikku, aku sungguh gelisah memikirkan anakku, toako.”

“Hong-moi, kita tetap berusaha untuk mencarinya, dan sementara itu, serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Ku­asa. Di samping berusaha mencarinya, kita hanya dapat berdoa, Hong-moi. Dan tenangkan hutimu karena bukankah menurut ceritamu, puterimu itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi? Kuraaa ia mampu menjaga diri sendiri.”

“Memang benar, toako. Ia lihai dalam ilmu silat. Akan tetapi, ia masih muda, kurang pengalaman, dan di dunia ini terdapat demikian banyak orang yang jahat dan keji.”

Lie Bouw Tek menghiburnya. Mereka berdua menjenguk ke dalam lubang bekas kuburan Sie Liong. Lubang dalam tanah itu kosong dan pendekar Kun-lun-pai i­tu menemukan sebuah tabung bambu yang sudah pecah-pecah. Dia mengerutkan alisnya, menduga-duga apa gunanya benda itu, lalu membuangnya jauh-jauh. Kemu­dian, dia menyeret mayat Thai-yang Su­hu dan mendorongnya ke dalam lubang bekas kuburan Sie Liong, kemudian, dibantu oleh Lan Hong, dia menimbuni lubang itu dengan tanah yang tadi berhamburan. Semua ini mereka kerjakan dengan tergesa-gesa karena khawatir kalau sampai ada yang melihatnya. Kemudian mereka cepat meninggalkan kuburan itu, pergi ke Istana Dalai Lama untuk menghadap pendeta kepala para Lama itu.



Gadis itu dikenal oleh semua o­rang yang biasa bekerja di Telaga Yam-so. Seorang gadis gila yang menjijikkan. Baru kurang lebih satu bulan ia muncul di sekitar tepi telaga itu. Seorang gadis atau wanita yang sebetulnya masih muda, akan tetapi keadaannya ko­tor dan seperti seorang jembel gila. Pakaiannya butut, kotor dan dekil, berbau apak lagi. Rambutnya lekat dan ko­tor, awut-awutan seperti rambut silum­an yang menakutkan, menutupi sebagian mukanya yang juga kotor sekali, penuh lumpur. Matanya kadang berputar-putar liar, kadang gelisah, kadang terbela­lak menakutkan, ada kalanya merah karena tangis. Orang melihat ia kadang me­nangis tersedu-sedu, kadang tertawa seorang diri, bicara seorang diri dengan kata-kata yang tidak jelas bahkan ti­dak karuan. Sekali lihat saja orang sudah tahu bahwa ia seorang wanita muda yang hidup terlantar, terlunta-lunta, seorang jembel menjijikkan yang gila! Makin dipandang, orang akan merasa se­makin jijik karena ulahnya. Tak seo­rang priapun yang dapat merasa terta­rik oleh seorang perempuan seperti wa­nita gila itu. Mereka bahkan menjauh, bukan saja jijik karena bau apak itu, melainkan juga jijik kalau-kalau wani­ta gila itu akan merangkul mereka!

Ia makan apa saja yang ia temukan. Ikan-ikan kering, sisa yang ditinggal­kan para nelayan. Ada kalanya ia meminta-minta dan hanya karena jijik, bukan karena iba, orang melemparkan makanan kepadanya. Tubuhnya kurus kering, sama sekali tidak menarik.

Tak seorangpun tahu bahwa baru sebulan yang lalu, wanita itu merupakon seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hitam manis, dengan bentuk tubuh yang menggairahkan. Dan tak seo­rangpun tahu bahwa gadis itu memang sengaja berpura-pura gila dan menjadi jembel menjijikkan! Ia adalah Sam Ling Ling, gadis peranakan Tibet Han yanig telah yatim piatu itu. Ia tadinya oleh Sie Liong dititipkan kepada Bibi Cili. Terpaksa Ling Ling membiarkan Sie Liong yang hendak melakukan penyelidikan itu pergi, walaupun ia merasa berat hati. Sie Liong berjanji dalam waktu bulan akan kembali menjemputnya. Setelah lewat sebulan dan Sie Liong belum juga datang, Ling Ling minggat dari rumah Bibi Cili dan pergi mencari Sie Liong, satu-satunya pria, bahkan satu-satunya manusia di dunia ini yang dicin­tainya!

Ling Ling maklum bahwa di dunia ini banyak berkeliaran laki-laki jahat. Terutama sekali bagi seorang wanita yang lemah, apa lagi yang memiliki kemudaan dan kecantikan, bahaya itu le­bib besar lagi mengancm dirinya. Oleh karena itu, ia menggunakan akal, berpura-pura gila, mengotori tubuh dan pa­kaiannya, bahkan melumuri mukanya dengan lumpur, kadang-kadang ia sengaja bergaya seperti orang gila yang menjijikkan dan menakutkan. Dengan cara demikian, benar saja tidak seorangpun pria sudi mendekatinya, apa lagi mengganggunya. Ia berkeliaran di sekitar pantai telaga yang besar itu, setiap hari mencari-cari dan memperhatikan setiap orang. Akan tetapi makin hari semakin berduka karena tidak pernah ia melihat orang yang dicari-carinya, yaitu seorang pemuda yang punggungnya bongkok. Untuk bertanya-tanya, ia ti­dak berani karena ia maklum bahwa Pen­dekar Bongkok amat dikenal orang dan kalau ia bertanya, tentu akan menimbulkan kecurigaan orang. Ia hanya mampu menangis dengan sedih, akan tetapi ka­lau ada orang melihat ia menangis, ia sengaja lalu memaksa diri untuk terta­wa. Menangis, tertawa, menangis, tertawa agar ia disangka gila dan bebas da­ri gangguan orang.

Makin hari ia semakin kurus karena makin berduka dan hampir tidak makan kalau tidak perutnya memaksanya sekali. Ia tidak pernah putus asa karena ia menaruh keyakinan besar bahwa Sie Liong tidak mungkin dapat melupakan­nya dan meninggalkannya begitu saja. Ia tahu bahwa Sie Liong hanya bongkok punggugnya, tidak bongkok hatinya. Ia tahu bahwa Sie Liong adalah seorang manusia yang berbudi luhur, dan ia sudah mengambil keputusan untuk hidup di samping Sie Liong selamanya, atau lebih baik ia mati kalau harus hidup tanpa pemuda bongkok itu.

“Liong-ko.... ah, Liong-koko.... engkau berada di mana? Apakah engkau tidak merasakan di hatimu betapa aku mencarimu, betapa aku mengkhawatirkan­mu, betapa aku merindukannu? Liong-koko....” demiklan ia meratap-ratap sambil menangis kalau tidak ada orang melihatnya.

Setiap hari ia mangharapkan. Kalau matahari muncul, muncul pula harapan baru di hatinya bahwa pada hari itu ia tentu akan bertemu dengan Sie Liong. Kalau malam tiba, iapun mengharap bah­wa besok hari ia akan bertemu dengan pria yang dikenangkannya itu. Ia tidak pernah putus asa. Tidak, ia keturunan Tibet yang tinggal di pegunungan, di lingkungan yang keras dan sukar, dan keadaan lingkungan yang sukar itu menggembleng bangsanya menjadi bangsa yang tidak pernah putus harapan! Hanya o­rang yang tidak pernah hidup dalam ke­kurangan, kekerasan dan kesukaran sajalah yang mudah putus asa.

Ia tidur di mana saja, jauh dari orang lain untuk menghindari gangguan. Di guha-guha, di bawah pohon di balik semak belukar. Mula-mula ia merasa takut sekali, akan tetapi lam­bat laun rasa takutnya menghilang, terganti perasaan pasrah. Satu-satunya pelita yang menerangi hidupnya hanyalah harapannya bertemu dengan Sie Liong.

Pada senja hari itu, ketika matahari mulai bersembunyi di balik bukit, ia menuju ke sebuah guha di tepi tela­ga. Guha kecil yang tertutup pohon dan ilalang, enak untuk melewatkan malam, tidak begitu dingin karena terlindung dari hembusan angin malam. Tubuhnya terasa nyaman karena sore tadi seorang pelancong sekeluarga yang membawa me­kanan dan makan di tepi telaga, membe­rikan sisa makanan bekal mereka kepadanya. Nasi putih dan lauk pauknya, cu­kup banyak. Ia makan dengan gembiranya.

Karena perutnya kenyang, dan ha­rapan baru muncul bahwa besok pagi ia akan melihat banyak orang dan siapa tahu di antara mereka terdapat Sie Liong. Karena hatinya penuh harapan dan tubuhnya segar, malam itu iapun tidur nyenyak. Bahkan ia bermimpi, bertemu dengan Sie Liong. Kalau ada yang dekat dengan guha kecil itu tentu dia akan mendengar betapa dalam mimpinya perempuan gila itu telah menangis terisak-isak. Tangis kebahagiaan yang dicurahkan di atas dada pria yang dikasihinya yang hanya terjadi dalam mimpi!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, baru saja matahari mengirim cahaya mudanya ke permukaan telaga, Ling Ling sudah berlutut di tepi telaga. Seperti biasa, ia hendak membersihkan badannya pada bagian tertentu saja. Ia tidak berani mandi sampai bersih. Bahkan setelah mencuci muka, segera ia melumuri kembali kedua pipi dan dahinya dengan lumpur! Ketika ia berlutut dan hendak memasukkan tangannya ke air, tiba-tiba ia melihat bayangannya sendiri. Hampir ia menjerit saking kagetnya. Wajahnya demiktan buruknya! Buruk sekali bahkan menjijikkan! Rambut itu! Muka itu! Seperti setan! Bagaimana kalau nanti Sie Liong melihatnya! Hari ini Sie Liong pasti dapat dijumpainya. Dan ka­lau Sie Liong melihat dirinya, tentu dia akan lupa dan bahkan mungkin akan jijik! Tak terasa, dua butir air mata meloncat keluar dari pelupuk matanya dan mengalir di kedua pipinya. Baru membayangkan Sie Liong jijik kepadanya saja, hatinya audah seperti diremas rasanya. Sakit bukan main! Tidak, Sie Liong tidak boleh melihat ia seperti ini! Sie Liong tidak boleh pangling pa­danya, tidak boleh jijik! Ia harus membersihkan dirinya pagi ini, karena nanti ia akan bertemu dengan Sie Liong!

“Liong-koko, engkau tidak boleh jijik padaku....” keluhnya dan seperti sudah berubah gila sungguh ia lalu meloncat ke dalam air yang amat di­ngin itu! Ia memang pandai renang. Ia lupa segala ketika tubuhnya sudah te­rendam air. Lupa bahwa pakaian yang menempel di tubuhnya itulah pakaian satu-satunya! Dan ia terjun dengan pakaiannya! Rasa segar menyejukkan seluruh tubuhnya dan ia merasa gembira sekali, seolah-olah ia hendak mandi sebersih­nya untuk menyambut perjumpaannya de­ngan Sie Liong. Ia mencuci rambutnya yang kotor penuh lumpur, bahkan ia me­nanggalkan pakaian butut itu dan mencucinya sekali. Tubuhnya yang padat dan ranum, biarpun agak kurus, kini nampak berkilauan, dengan kulit yang mulus dan agak gelap, hitam manis seperti tembaga digosok! Rambutnya kini tidak kumal dan kotor lagi, melainkan teru­rai panjang dan halus, dibiarkan teru­rai di depan tubuhnya menutupi payuda­ranya yang kini terbebas dari pakaian yang butut.

Dalam kegembiraannya karena ia hanya membayangkan pertemuannya yang a­mat membahagiakan dengan Sie Liong, Ling Ling lupa segala dan kehilangan kewaspadaannya. Ia tidak tahu betapa tak jauh dari situ, tiga orang pria muda yang baru pulang dari menjala ikan semalam suntuk berjalan beriringan lewat di situ, memanggul jala dan menjinjing keranjang ikan hasil pekerjaan mereka semalam. Ketika mereka lewat dekat guha kecil itu, mereka mendengar suara berkecipaknya air. Mereka menengok dan ketiganya berdiri bengong, terpukau seperti telah berubah menjadi tiga buah arca! Kemudian, mereka menyelinap di balik batang pohon dan mengintai dengan mata melotot.

“Gadis.... gila itu....!” bisik seorang di antara mereka.

“Benar, gadis gila. Lihat ia men­cuci pakaiannya yang butut.”

“Tapi.... ia cantik! Lihat wajahnya itu. Alangkah manisnya. Dan rambutnya, halus hitam dan panjang. Dan tubuhnya itu! Ah, betapa menarik dia.”

“Benar! Lihat dadanya itu.... hemmm....!”

Ling Ling sudah selesai mandi dan mencuci pakaiannya. Ia menengok ke ka­nan kiri. Setelah melihat bahwa di se­kitar tempat itu tidak nampak ada manusia lain, ia lalu naik ke darat. Tubuhnya yang telanjang hanya ditutup ram­but panjang terurai, dan pakaian yang basah dan sudah diperasnya itu dipergunakan untuk menutupi tubuhnya bagian depan. Lalu ia melangkah ke arah guha­nya. Tak tahu sama sekali ia betapa tiga pasang mata melahap ketelanjangan­nya dengan sinar mata yang berubah menjadi buas!

Ling Ling membuat api unggun di dalam guhanya. Api itu penting sekali, bukan saja untuk menghangatkan tubuh­nya yang agak kedinginan, akan tetapi juga perlu untuk mengeringkan pakaiannya yang cuma satu-satunya itu. Pakai­an itu masih jelek, robek sana sini, akan tetapi walaupun butut tidaklah se­kotor tadi. Dengan bertelanjang bulat dan mengurai rambutnya agar kering pu­la, ia membeberkan pakaiannya dekat a­pi agar kering. Wajahnya berseri dan sama sekali tidak berbekas lagi “kegi­laannya”.

Tiba-tiba in terbelalak dan ter­pekik ketika tiga orang laki-laki muda itu berloncatan memasuki guhanya yang kecil. Otomatis kedua tangannya menu­tupi tubuh bagian depan yang bugil, matanya terbelalak ketakutan seperti ma­ta seekor kelinci yang berada dalam cengkeraman harimau. Melihat keadaan gadis itu, tiga orang muda itu menelan ludah. Mereka bukanlah penjahat, melainkan nelayan-nelayan yang biasa mencari nafkah dari menjala atau mengail ikan. Kehidupan yang miskin dan sederhana. Mereka bukanlah orang-orang yang suka melakukan kejahatan, bukan pula pengganggu wanita. Akan tetapi, keadaan pada saat itu membuat mereka seperti gila oleh gairah nafsu yang mendadak berkobar menyala-nyala. Melihat betapa gadis yang biasanya dianggap gila itu, jembel gila menjijikkan, yang biasanya mereka hindari, kini ternyata berubah menjadi seorang gadis yang memiliki wajah manis dan tubuh yang indah menggairahkan, seketika daya-daya rendah saling berebutan menguasai hati dan pikiran. Dan sekali nafsu sudah menguasai diri, segala pertimbanganpun lenyap. Baik buruk menjadi kabur, dan yang ada hanyalah gairah yang mendorong orang melakukan pelampiasan untuk memuaskan dan menyalurkan nafsu yang berkobar.

“He-he, engkau cantik menggairahkan!” kata tiga orang yang sudah lupa diri itu.

“Tidak, tidak! Aku jelek, aku orang gila....! Jangan ganggu aku!”

Ling Ling berteriak-teriak, akan tetapi tiga orang itu sudah menubruk dan menangkapnya. Ada yang memegang lengan, ada yang memegang kaki, ada yang mencengkeram rambut panjang halus itu. Ling Ling ketakutan setengah mati. Ia menjerit-jerit, meronta, mencakar dan menggigit. Namun, perlawanannya ini tidak lagi menakutkan atau menjijikkan hati tiga orang pemuda itu, bahkan membuat nafsu berahi mereka semakin berkobar. Mereka tidak perduli lagi gadis ini gila atau tidak. Yang jelas bagi mereka, gadis ini cantik manis dan tubuhnya mulus!

Betapapun dengan nekatnya Ling Ling meronta, apa arti kekuatan seorang gadis berusia delapan belas tahun dibandingkan tenaga tiga orang pemuda yang kuat, yang setiap hari bekerja kasar? Tak lama lagi ia akan terkulai lemas, akan kehabisan tenaga dan akhirnya akan menjadi mangsa tiga pemuda yang bagaikan tiga ekor harimau kela­paran memperebutkan seekor kelinci i­tu. Tenaga Ling Ling mulai lemah, akan tetapi mulutnya masih terus berteriak-teriak.

“Jangan....! Lepaskan aku.... Aku orang gila, aku jelek.... aahhh.... toloooooong....!”

Seorang di antara tiga orang itu cepat mendekap mulut yang menjerit-jerit itu, dan pada saat bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut mengancam Ling Ling, pada saat terakhir ketika ia sudah ditelentangkan di lantai guha dan seorang di antara tiga pemuda buas itu menindihnya, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat ke dalam guha.

“Aduuuhh....!”

“Auhhh....!”

“Heiii, aduhh....!”

Demikian cepat terjadinya sehingga Ling Ling sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Tahu-tahu tiga pemuda itu telah melepaskan tangan-tangan mereka dari tubuhnya dan merekapun seperti terseret keluar dari dalam guha sambil mengaduh-aduh.

“Aku gila.... Jangan ganggu aku,..... aku jelek dan gila....!” Ia cepat meraih tanah dari sudut guha dan melumuri muka dan semua tubuhnya de­ngan tanah basah itu, juga rambutnya, bahkan ia menyambar pakaian yang sudah kering, menggosok-gosokkan pakaiannya pada dinding guha yang lembab, kemudi­an ia mengenakan kembali pakaiannya, dengan rambut yang kotor, muka yang kotor, lalu ia tertawa, menangis, berte­riak-teriak, berlagak kembali seperti orang gila!

Tiga orang pemuda itu tentu saja terkejut dan merasa ngeri ketika tadi tiba-tiba pundak mereka terpukul, mem­buat kedua lengan mereka seperti lum­puh, dan sebelum mereka dapat melihat jelas siapa yang melakukan penyerangan terhadap diri mereka, tahu-tahu rambut kepala mereka telah dijambak dan tubuh mereka diseret keluar dari dalam guha dengan kasar. Mereka meronta dan beru­saha melepaskan diri, namun sia-sia.

Bahkan, semakin keras mereka meronta, semakin nyeri rasanya, rambut kepala mereka seperti akan copot bersama ku­lit kepala mereka. Oleh karena itu, mereka tidak berani meronta lagi dan di­am saja diseret keluar dari dalam guha lalu terus diseret sampai jauh dari guha. Mereka merasa semakin ngeri ketika kini nampak bahwa yang menyeret mereka adalah seorang laki-laki yang tubuhnya bongkok, dan orang itu menggunakan sebelah tangan, yaitu tangan kanan, yang menjambak rambut mereka bertiga menja­di satu dan menyeret mereka dengan ri­ngan saja!

Melihat bahwa yang menyeret mere­ka hanyalah seorang laki-laki bongkok yang lengannya hanya sebelah, karena yang kiri nampaknya buntung, tiga o­rang pemuda itu menjadi marah sekali.

“Keparat busuk! Berani engkau! Lepaskan rambutku!” teriak mereka.

Orang itu bukan lain adalah Sie Liong! Hari itu tepat merupakan hari terakhir bekerjanya racun perampas i­ngatan di dalam kepalanya, dan dia kini mulai teringat siapa dirinya, teri­ngat pula mengapa lengan kirinya bun­tung. Dia mulai teringat semuanya. Ta­di, ketika dia berjalan perlahan-lahan di tepi telaga, kehilangan kebingungannya yang selama ini dideritanya, dia mendengar jerit wanita minta tolong. Dengan kecepatan yang sampai sekarang masih membuatnya sendiri terheran-he­ran, tubuhnya berkelebat dan ketika dia memasuki guha kecil itu dan melihat tiga orang pemuda sedang menggeluti seorang wanita yang bugil dan meron­ta-ronta, dia lalu turun tangan. De­ngan ketukan perlahan saja, mengguna­kan tangan tunggalnya, tiga orang pemuda itu melepaskan calon korban mereka, dan dengan cepat, tangan Sie Liong su­dah mencengkeram rambut kepala mereka dengan satu tangan, kemudian menyeret mereka keluar dari dalam guha.

Mendengar bentakan mereka, Sie Liong melepaskan jambakan tangannya. Ti­ga orang pemuda nelayan itu berloncat­an berdiri, kepala terasa nyeri dan pedas oleh jambakan tadi. Mereka marah bukan main, bukan saja karena kesenangan mereka terganggu dan gagal, akan tetapi juga karena mereka merasa diperlakukan dengan penghinaan. Tanpa banyak cakap lagi, tiga orang pemuda itu me­nerjang maju untuk menghajar pemuda bongkok yang lengannya hanya tinggal sebelah. Mereka mengeluarkan suara mendengus-dengus, dan serangan mereka itu penuh kemarahan.

“Ehhh....?” Mereka terbelalak karena yang diserangnya itu tiba-tiba saja lenyap dan yang nampak hanya bayangan berkelebat. Mereka membalik dan melihat bahwa pemuda bongkok itu sudah berada di belakang mereka. Mereka ber­gerak untuk menyerang lagi, akan teta­pi tiba-tiba Sie Liong menggerakkan lengan kanan. Tangannya menyambar dan tiga orang itupun terjengkang, terban­ting keras!

“Hemm, kalian ini tiga orang jahat, patut dilenyapkan dari muka bumi!” terdengar Sie Liong berkata lirih.

Tiga orang itu berusaha untuk bangun, akan tetapi setiap kali tubuh mereka bergerak hendak bangkit, ujung lengan baju kiri yang kosong itu menyambar, mengenai pipi atau leher dan mereka merasa seperti disambar petir. A­khirnya, tiga orang itu menjadi keta­kutan dan mereka berlutut minta-minta ampun.

“Ampunkan kami...., taihiap, ja­ngan bunuh kami....!” Mereka berlutut dan mengangkat kedua tangan ke atas, muka mereka sudah matang biru dan bengkak-bengkak.

Sie Liong mengerutkan alisnya. “Kalian penjahat atau perampok?” tanyanya ragu karena dia melihat betapa mereka berpakaian seperti nelayan biasa.

“Ampun, taihiap, kami.... kami bukan penjahat.... kami adalah nelayan yang baru pulang dari menjala i­kan....”

“Huh, kalian jahat!” kata Sie Li­ong. Akan tetapi di dalam hatinya, dia telah mengampuni mereka. “Pergilah!” Kakinya menendang tiga kali dan tiga orang itu terguling-guling, lalu mereka bangkit dan melarikan diri ketakutan.

Dia teringat kepada wanita yang hampir diperkosa oleh tiga orang pemu­da berandalan tadi, maka kakinya me­langkah perlahan menuju ke guha kecil di tepi telaga.

“Jangan ganggu.... aku jelek.... aku gila.... aku kotor, heh-heh-heh.... hi-hi-hik, jangan ganggu aku....”

Terdengar suara wanita itu dalam guha itu. Sie Liong cepat menyelinap di ba­lik sebatang pohon. Dia mengintai ketika wanita itu keluar dari guha dan alisnya berkerut. Seorang wanita jembel gila! Rambutnya kotor kusut, mukanya sebagian tertutup rambut, muka yang kotor berlumpur pula. Pakaiannya butut dan kotor. Sungguh seorang wanita yang kotor menjijikkan, gila lagi! Dan wanita inikah yang nyaris diperkosa tiga orang pemuda tadi? Gilakah mereka itu? Bagaimana mungkin ada pria yang bang­kit gairah berahinya melihat wanita jembel gila yang menjijikkan ini?

“Hi-hi-hik, aku gila.... ha-ha.... jangan ganggu aku.... ah, jangan ganggu aku....!” Wanita itu adalah Ling Ling. Setelah tiga orang pria yang mengganggunya tadi lenyap, dan setelah ia mengubah dirinya menjadi jembel gila lagi, baru ia berani keluar dan un­tuk melindungi dirinya dari gangguan, ia sudah tertawa-tawa lagi. Akan teta­pi, setelah ia melihat bahwa di situ tidak ada orang, ia menghentikan tawa­nya dan terjatuhlah ia berlutut dan menangis sesenggukan! Ia teringat akan peristiwa mengerikan tadi. Hampir saja ia menjadi korban perkosaan dan teri­ngat akan ini, ia menjadi ketakutan dan teringat ia betapa di situ tidak ada Sie Liong yang tentu akan selalu melindunginya.

Sementara itu, Sie Liong dari tempat pengintaiannya tadinya juga mengi­ra bahwa wanita itu memang jembel gi­la. Akan tetapi, ketika dia melihat wanita itu menengok ke kanan kiri, kemudian menghentikan tingkah gilanya dan suara ketawanya, bahkan lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis seseng­gukan, dia memandang heran dan alisnya berkerut. Dia adalah seorang yang cerdik dan tidak mudah ditipu. Tahulah dia bahwa wanita itu hanya pura-pura gila! Ketawanya tadi adalah palsu, dan tangisnya yang sekarang inilah baru aseli! Dia mendengarkan dengan ketajam­an pendengarannya ketika wanita yang menangis itu merintih dan mengeluh.

“Hu-huu.... Liong-ko.... ahhh, Liong-koko.... uhu-hu-hu.... kenapa engkau begitu tega.... Liong-ko.... uhu-huuu.... kalau ada engkau, tentu tidak ada.... yang berani mengangguku.... aih, Liong-koko.... di mana engkau....?”

Sie Llong merasa seperti kepala disambar kilat ketika dia mendengar rintihan dan keluh kesah ini. Bagaikan seekor kijang, tubuhnya sudah melompat dan meluncur ke arah wanita yang berlutut sambil menangis itu. Dipegangnya pundak wanita itu, diangkatnya mukanya lalu tangan yang tinggal sebelah itu menyingkap rambut yang kusut menutupi muka. Dipandangnya muka yang kotor i­tu. Sinar matahari pagi menyinari muka itu. Sie Liong menggunakan tangannya untuk mengusap lumpur dari pipi dan dia terbelalak.

“Ling-moi....! Ling Ling.... ah, Ling Ling.... kenapa engkau jadi begini....?” Sie Liong berlutut.

Ling Ling terbelalak, wajahnya pucat sekali, diamatinya muka laki-laki itu, lalu pandang matanya menurun, ke arah lengan kiri yang buntung.... lalu ke arah wajah itu kembali. Mata­nya terbelalak terus tanpa berkedip, bibirnya bergerak-gerak, tak mampu bersuara hanya mewek-mewek ke arah tangis dan butir-butir air mata menetes tu­run, dan dengan susah payah baru ia dapat bersuara.

“Liong-ko....? Engkau.... engkau....” matanya memandang lengan kiri yang buntung. “.... engkau Liong-koko....?”

“Ling-moi, ini aku, Sie Liong....”

“Liong-koko....!” Gadis itu menubruk, merangkul leher Sie Liong dan roboh pingsan dalam pelukan lengan kanan Sie Liong yang memangkunya.

“Ling-moi, ah, Ling-moi.... kaumaafkan aku, Ling-moi....!” Sie Liong merangkul dan mencimm pipi yang kotor dengan lumpur itu, dan air matanya pun jatuh membasahi pipi itu. Kecerdikannya membuka pikirannya dan dia dapat menduga apa yang terjadi. Ling Ling yang ditinggalkan pada bibi Cili, dan baru hari ini hal itu teringat olehnya lebih dari satu bulan, kurang lebih dua bulan yang lalu, tentu telah pergi meninggalkan rumah bibi Cili dan nekat pergi hendak mencarinya. Dan agaknya, dangan cerdik Ling Ling telah menyamar sebagai seorang jembel gila untuk menghindarkan godaan para pria yang jahat dan kurang ajar. Akan tetapi, mengapa tadi nyaris ia diperkosa tiga orang laki-laki muda, hal itu tidak dapat dia menduganya.

Dengan perlahan dan hati-hati, setelah merebahkan tubuh Ling Ling di a­tas rumput, Sie Liong mengurut tengkuknya. Ling Ling siuman kembali dan begitu membuka kedua matanya dan dapat bergerak, ia sudah berseru gelisah, “Liong-ko, di mana engkau....?” Dan ia­ pun serentak bangkit duduk.

Sie Liong merangkulnya dari sam­ping. “Aku di sini, Ling Ling....”

Ling Ling menoleh. “Aihhh, Liong-koko.... engkau benar Liong-koku....!”

Ia merangkul dan menangis seaunggukan di atas dada pemuda bongkok itu. Sie Liong membiarkan gadis itu menangis, membiarkan ia melepaskan semua kegeli­sahan dan kedukaan yang diderita sela­ma ini agar larut bersama tangisnya.

Setelah tangisnya mereda karena kehabisan air mata, Ling Ling mengang­kat mukanya dari dada Sie Liong dan memandang wajah pemuda itu. Wajahnya ti­dak begitu pucat lagi dan matanya ki­ni bersinar, tidak layu dan muram seperti tadi. “Liong-koko, kenapa eng­kau pergi begitu lama? Ah, Liong-ko­ko, jangan kau tinggal aku lagi. Lebih baik aku mati saja daripada harus kau tinggalkan lagi, Liong-koko....” Tiba-tiba in teringat, lalu memandang ke arah lengan kiri pemuda itu. Wajah­nya pucat kembali, matanya terbelalak dan dengan kedua tangannya ia menang­kap lengan baju kiri yang kosong, meraba-raba, mencari-cari isi lengan baju itu. “Liong-ko.... di mana lengan kirimu? Liong-koko, apa yang terjadi....? Engkau.... lengan kirimu.... buntung....?”

Sie Liong mengangguk, akan tetapi dia tersenyum. Dia tahu bahwa dia kehilangan lengan kiri, akan tetapi diapun sebagai gantinya mendapatkan ilmu yang amat hebat, sehingga kini dia memiliki tenaga yang jauh lebih kuat dibanding­kan sebelum kehilangan lengan kirinya. “Aku terjebak oleh musuh ketika melakukan penyelidikan. Mereka jahat dan kejam. Lengan kiriku buntung dan aku bahkan nyaris tewas. Tuhan masih melindungiku, Ling Ling, sehingga aku masih dapat bertemu dengan­mu.”

“Liong-koko.... ah, Liong-koko, kasihan sekali engkau....” gadis itu meraba-raba, lalu menyingkap baju pemuda itu. Melihat betapa lengan kiri itu buntung sampai dekat pundak, dan bekas tempat lengan itu kini merupakan luka yang berkeriput, ia merangkul dan menangis sambil menciumi pundak yang tanpa lengan itu, menciumi bekas luka itu. Ia seolah hendak membersihkan lu­ka itu dengan air matanya.

Sie Liong merangkulnya dengan terharu. “Ling-moi, kenapa engkau masih selalu mengharapkan aku, ingin hidup bersamaku? Lihat baik-baik, aku seo­rang laki-laki yang cacat ganda, ya bongkok ya buntung lengan kiriku. Apa yang kaulihat pada diri seorang cacat seperti aku? Apa yang kauharapkan dari seorang seperti aku?”

“Liong-koko, aku.... aku cinta padamu, koko. Biar, aku tidak malu mengaku bahwa aku cinta padamu. Aku memujamu, dan engkaulah satu-satunya laki-laki yang kucinta, bahkan satu-satunya manusia yang kumiliki. Engkau memang cacat, cacat tubuhmu, akan tetapi engkaulah orang yang sebaik-baiknya bagiku. Engkau matahari hidupku. Tanpa engkau, hidupku akan gulita. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku di sampingmu koko, tentu saja.... kalau.... kalau engkau sudi menerima aku, seorang gadis yang bodoh dan buruk, yatim piatu pula.”

“Ling Ling....” Sie Liong merangkul dan mendekap muka itu pada dadanya penuh kebahagiaan. Baru sekarang dia bertemu dengan seorang manusia lain yang demikian mencintanya. Dia dapat merasakan benar curahan kasih sayang Ling Ling melalui pandang matanya, melalui sikapnya, melalui suaranya, melalui sentuhannya. “Ling Ling, akupun cinta padamu. Aku.... aku ingin memperisterimu....”

“Liong-koko! Betapa bahagia hati­ku. Aku mau melakukan apa saja asal boleh mendampingimu selama hidupku!”

Sie Liong tersenyum. “Sekarang yang paling penting engkau membersihkan dirimu dulu dari lumpur itu, bereskan rambutmu dan pakaianmu. Nah, cepat, aku tunggu di sini. Setelah itu, kita pergi ke rumah bibi Cili dan bercakap-cakap.”

Ling Ling telah memperoleh kembali kegembiraannya. Ia bangkit, terse­nyum penuh kebahagiaan, menatap wajah Sie Liong dengan sinar mata membayang­kan cinta kasih sepenuhnya, kemudian ia berlari-lari menuruni tepi telaga, dan membersihkan muka dan leher, dan tangannya dari lumpur. Juga rambutnya.

Tak lama kemudian, mereka sudah pergi dari tempat itu. Biarpun pakaian Ling Ling masih butut, akan tetapi ti­dak terlalu kotor karena tadi sudah dicucinya, juga rambutnya disanggul. Ka­rena Sie Liong sendiri juga belum sem­pat berganti sejak keluar dari dalan kuburan, maka keduanya kelihatan seperti dua orang petani yang baru kembali dari sawah ladang, dengan pakaian ter­noda lumpur.

Sambil berjalan menuju ke rumah bibi Cili di Lasha sambil bercakap-ca­kap Ling Ling menceritakan semua pengalamannya, betapa karena gelisah memikirkan Sie Liong yang tak kunjung pulang, akhirnya ia melarikan diri meninggalkan rumah bibi Cili untuk mencari Sie Liong. Ia terpaksa menyamar sebagai seorang jembel gila untuk meng­hindarkan diri dari gangguan pria-pria jahat, presis seperti yang telah didu­ga oleh Sie Liong. Sampai kemudian dia diganggu tiga orang pemuda itu dan nyaris diperkosa.

“Akan tetapi, engkau sudah menyamar sebagai seorang jembel gila, bagaimana tiga orang itu masih ingin mengganggumu?” Sie Liong bertanya heran.

Ling Ling tersipu. “Salahku sendiri. Tadi malam aku bermimpi bertemu denganmu, Liong-ko. Karena itu, aku merasa yakin bahwa hari ini aku akan bertemu denganmu. Pagi tadi, melihat bayanganku di air, aku merasa terkejut dan khawatir membayangkan bertemu denganmu dalam keadaan seperti jembel gila yang kotor. Karena keadaan sunyi, aku lalu mandi bersih dan mencuci pakaianku, lalu memasuki guha. Agaknya, ketika man­di itu, mereka telah melihatku, dan ketika aku memasuki guha, mereka lalu menyerangku dan hendak memaksaku....”

“Ah, kita harus berterima kasih kepada Tuhan atas segala berkah-Nya kepada kita!” seru Sie Liong dan gadis itu demikian terheran sehingga ia ber­henti melangkah dan memandang wajah Sie Liong dengan heran.

“Berkah? Koko, engkau nyaris te­was, lengan kirimu buntung, dan aku menderita sengsara, menjadi jembel gila kemudian nyaris diperkosa orang, dan engkau mengatakan bahwa kita berterima kasih kepada Tuhan atas segala berkah-Nya?”

Sie Liong juga memandang kepada kekasihnya dan tersenyum sambil meng­angguk. “Benar, Ling-moi. Itulah ber­kah-Nya. Bagaimanapun juga ternyata ki­ta berdua masih selamat dan masih da­pat saling bertemu, dan yang lebih membahagiakan lagi bagiku, biarpun kini lengan kiriku buntung, engkau masih tetap mencintaku.”

“Liong-koko....” Ling Ling berkata penuh haru. “Sampai matipun cintaku kepadamu tidak akan pernah berku­rang, apalagi hilang. Akan tetapi pendapatmu tentang berkah Tuhan itu sung­guh membingungkan hatiku. Jelas bahwa kita berdua baru saja tertimpa kesengsaraan, dan engkau masih menganggapnya sebagai berkah.”

“Betapa tidak, Ling-moi? Kita hi­dup di dunia inipun merupakan berkah Tuhan! Lihat saja sinar matahari yang menghidupkan, hawa udara untuk berna­pas, lihat air, angin dan tanah yang menumbuhkan segala keperluan hidup ki­ta! Lihat panca indria kita, mata, te­linga, hidung, mulut dan segala perasaan, masih dilengkapi lagi dengan hati akal pikiran. Semua itu berlimpah dengan berkah-Nya. Apapun yang terjadi kepada diri kita sudah dikehendaki o­leh Tuhan! Dan segala kehendak Tuhan pun terjadilah! Dan segala kehendak Tuhan merupakan berkah. Otak kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengukur, untuk menilai, untuk membuka tabir raha­sia yang menyelubungi pekerjaan yang dilakukan kekuasaan Tuhan. Akal pikir­an kita bergelimang nafsu daya rendah, maka apabila kita menilai, penilaian itupun bergelimang nafsu dan tentu saja hanya ingin senang sendiri. Penilaian seperti itu menimbulkan baik buruk, untung rugi. Kita tidak tahu apakah ar­tinya suatu peristiwa yang menimpa di­ri kita. Yang nampak buruk belum tentu buruk, mungkin mengandung hikmah, me­ngandung berkah tersembunyi. Yang nam­pak baik belum tentu seperti yang di­nilainya, mungkin mengandung ancaman. Jadi, apapun yang terjadi pada diri kita, mari kita serahkan kepada kekuasa­an Tuhan dengan penuh kepasrahan, dan mari kita bersukur dan berterima kasih kepada Tuhan.”

Ling Ling hanya mengangguk, akan tetapi ia masih bingung untuk dapat menerima maksud dari ucapan itu.

Bibi Cili menerima mereka dengan gembira, akan tetapi juga dengan khawatir, takut kalau-kalau pemuda bongkok yang kini buntung pula lengan kirinya itu menjadi marah. Ia sudah tahu bahwa pemuda bongkok itu adalah Pendekar Bongkok yang lihai sekali. Walaupun kini lengan kirinya buntung, ia masih merasa takut.

“Aih, taihiap, nona Ling ini membikin saya bingung setengah mati. Ia pergi tanpa pamit dan saya tidak tahu ke mana ia pergi. Sekarang, tahu-tahu telah kembali dengan taihiap, dan.... ih, pakaiannya seperti ini....”

Sie Liong tersenyum. “Kami tidak menyalahkan engkau, bibi. Bahkan aku berterima kasih sekali kepadamu. Kedatangan kami ini pertama untuk minta bantuan agar mencarikan pakaian untuk kami, ke dua kalinya sekali lagi aku akan menitipkan Ling-moi di sini, hanya untuk beberapa hari saja.”

“Liong-koko! Apa artinya kata-ka­tamu ini? Engkau.... hendak menitipkan aku.... hendak meninggalkan aku lagi?” suara itu sudah mengandung isak dan wajah itu berubah pucat, matanya terbelalak penuh protes.

Sie Liong tersenyum dan berkata kepada bibi Cili. “Pergilah, bibi. Ca­rikan beberapa pasang pakaian untuk a­ku dan Ling-moi. Jangan khawatir, ka­lau urusanku sudah selesai, pasti har­ganya akan kuganti, juga akan kuberi imbalan tinggalnya Ling-moi di sini.”

“Aih, tidak usah sungkan, taihi­ap. Keponakanku pemilik rumah makan i­tu akan memberikan uang berapa saja yang kubutuhkan untuk keperluanmu.” Bibi Cili lalu pergi meninggalkan mereka. Setelah nyonya rumah pergi, barulah Sie Liong menarik tangan Ling Ling, dirangkulnya gadis yang masih nampak ge­lisah itu.

“Ling-moi, dengarkan baik-baik. Engkau tahu bahwa kita menghadapi orang-orang yang selain amat jahat akan tetapi juga lihai bukan main. Aku tidak mungkin dapat mendiamkan saja segerombolan manusia itu mengumbar nafsu melakukan kejahatan. Sudah menjadi tugasku untuk menentang mereka yang melakukan kejahatan. Oleh karena itu, aku harus menemui Kim Sim Lama dan membasmi gerombolannya. Dan sungguh tidak mungkin kalau aku harus membawamu serta. Amat berbahaya bagimu. Nah, karena itulah terpaksa aku harus meninggalkanmu lagi di sini, bukan untuk waktu bulanan atau berhari-hari. Aku berangkat pagi, sorenya tentu kembali.”

“Akan tetapi, Liong-ko.... setelah apa yang kita alami selama i­ni, tegakah engkau untuk meninggalkan aku lagi? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan dirimu?”

“Aku dapat menjaga diri, Ling Ling. Andaikata terjadi apa-apa dengan diriku, hal itu tentu sudah dikehendaki oleh Tuhan dan engkau atau aku atau siapapun juga tidak akan mampu mencegah­nya.”

“Biarpun aku tidak dapat menolongmu, akan tetapi aku dapat melihatmu, koko! Biar aku harus matipun, kalau bersamamu, aku tidak takut dan aku re­la! Koko, jangan tinggalkan aku, bawalah aku....”

Pada saat itu, seorang anak laki-­laki berusia belasan tahun masuk ke dalam rumah itu dengan muka pucat dan napas memburu. Ling Ling mengenalnya se­bagai anak laki-laki yang suka disuruh suruh bibi Cili, yaitu anak tetangga sebelah.

“A-kian, ada apakah?” tanyanya melepaskan rangkulan Sie Liong dari pundaknya.

“Ci-ci.... celaka, cici.... bibi Cici.... bibi.... Cili....”

“Ada apa dengan bibi Cili?” Sie Liong bertanya kepada anak itu.

“Ia.... ia tadi ditangkap oleh beberapa orang dan dipaksa naik sebuah kereta dan dilarikan keluar kota....”

Sie Liong segera dapat menduga siapa yang melakukan hal itu. Tentu anak buah Kim-sim-pang yang agaknya tahu a­kan hubungan antara dia dan bibi Cili, maka wanita itu ditangkap.

“Ling-moi, aku harus menyelamat­kan bibi Cili....” katanya dan sebe­lum Ling Ling mampu menjawab, Sie Li­ong sudah meloncat keluar dari rumah itu. Dia tahu ke mana harus mengejar. Tak salah lagi, wanita malang itu ten­tu akan dibawa ke sarang Kim-sim-pang!

Sementara itu, anak yang membawa kabar segera meninggalkan Ling Ling karena dia ketakutan dan bersembunyi ke dalam rumahaya sendiri. Ling Ling du­duk termenung. Ucapan terakhir Sie Liong masih terngiang di telinganya. Bagaimanapun juga, ia harus mengakui kebenaran ucapan itu. Bahkan kini sudah nampak bukti kebenarannya. Gerombolan penjahat itu telah menculik bibi Cili! Kalau Sie Liong diikutinya, tentu pendekar itu tidak akan mampu bergerak dengan leluasa. Ia harus tahu diri. Ia harus dapat memaklumi tugas seorang pendekar! Ia telah terlalu mementingkin diri sendiri. Tidak mungkin seorang pendekar menjadi miliknya sendiri. Seorang pendekar adalah milik masyara­kat, milik mereka yang tertindas, mereka yang lemah dan sengsara karena kejahatan orang lain.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh ber­kelebatnya bayangan orang. Tadinya de­ngan girang dan penuh harap ia bangkit menyambut karena disangkanya Sie Liong yang datang. Akan tetapi ternyata yang datang adalah seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. Seorang pemuda yang tampan dan memiliki sinar mata tajam dan aneh. Ling Ling hendak menjerit akan tetapi sekali pemuda itu menggerakkan tangan, ia roboh terkulai dalam keadaan tertotok lemas dan tidak mampu bersuara. Di lain saat, tubuhnya sudah dipondong oleh pemuda itu yang membawanya lari melalui pintu bela­kang dengan gerakan cepat sekali.

Sie Liong melakukan pengejaran dengan cepat keluar kota. Tak lama kemu­dian, tepat diduganya, dia melihat se­buah kereta kecil yang ditarik dua ekor kuda dilarikan keluar kota. Dia mempercepat larinya dan sebentar saja dia sudah berhasil menyusul dan sekali dia melompat, dia telah berada di de­pan kuda yang menarik kereta dan biarpun dia hanya mempunyai sebuah tangan saja, namun tangan yang mengandung tenaga dahsyat itu sekali tangkap telah membuat kuda terbesar berhenti dan meringkik ketakutan.

Dari dalam kereta berlompatan ke­luar empat orang laki-laki, juga kusir kereta itu melompat turun. Mereka bar­lima sudah memegang senjata golok dan tanpa banyak cakap lagi, mereka sudah menyerang dan mengeroyok Sie Liong! A­kan tetapi, pendekar ini menggerakkan lengan baju kiri yang kosong, tubuhnya berputar seperti sebuah gasing.

“Plak-plak-plak-plak-plak....!”

Lima orang itu bergelimpangan dan roboh tak mampu bangkit kembali. Sambaran ujung lengan baju tadi telah membuat mereka mengalami patang tulang pundak atau rahang. Golok mereka beterbangan dan mereka hanya mengaduh-aduh dan tidak mampu atau tidak berani bangkit lagi. Sie Liong tidak memperdulikan mereka, lalu menghampiri kereta dan membuka pintunya. Bibi Cili duduk di dalam kereta ketakutan dan menangis.

Sie Liong membimbingnya turun dari kereta. “Jangan takut, bibi. Mari kita pulang,” katanya. Wanita itu hanya mengangguk, dan berjalan secepat­nya untuk meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumahnya. Sie Liong mengikutinya. Mereka tidak bercakap-cakap. Bibi Cili masih ketakutan, dan Sie Liong menduga-duga, mengapa gerombolan itu hendak menculik bibi Cili.

Setelah mereka memasuki rumah bibi Cili, barulah Sie Liong tahu bahwa dia telah tertipu! Ling Ling telah lenyap! Dan sebagai gantinya, dia menda­patkan sehelai kertas di atas meja, tertancap sebatang pisau belati. Cepat direnggutnya kertas itu dan dibaca tu­lisannya.



Pendekar Bongkok!



Kalau engkau menghendaki kekasihmu selamat, datanglah ke kuil kami!



Kim Sim Lama



Sie Liong mengepal surat itu da­lam tangan kanannya. Matanya mengeluarkan sinar mencorong dan dia berkata lirih, “Kim Sim Lama, kalau engkau mengganggu Ling Ling, demi Tuhan, kubunuh engkau!” Dan tubuhnya berkelebat le­nyap dari depan bibi Cili yang menjadi semakin ketakutan.



***



“Omitnhud.... sampai sedemikian jauhkah tindakan yang dilakukan oleh Kim Sim Lama? Kalau begitu, demi kea­manan dan ketertiban dalam kehidupan rakyat di Tibet, terpaksa kami harus mengambil tindakan.”

Dalai Lama bicara dengan nada su­ara serius, setelah dia mendengarkan pelaporan Lie Bouw Tek yang datang meng­hadap bersama Sie Lan Hong. Setelah mereka meninggalkan kuburan, di mana me­reka melihat kuburan Sie Liong meledak dan melihat Sie Liong yang kini buntung lengan kirinya itu membunuh Thai-yang Suhu kemudian melarikan diri, Lie Bouw Tek mengajak Sie Lan Hong untuk pergi menghadap Dalai Lama kembali. Dalai Lama adalah seorang pendeta kepala yang tentu saja tidak menuruti gejolak hati yang dikuasai amarah. Akan tetapi mendengar laporan dari Lie Bouw Tek tentang perbuatan Kim Sim Lama yang sengaja melempar fitnah kepadanya, apa lagi mendengar betapa Kim Sim Lama kini membentuk gerombolan pemberontak dan bar­buat kejam terhadap rakyat, dia tidak dapat tinggal diam saja.

Dalal Lama lalu memerintahkan Kong Ka Lama untuk memanggil semua tokoh Lama yang berkedudukan dan berkepandaian tinggi. Berkumpullah puluhan orang Lama dan diam-diam Lie Bouw Tek kagum. Ternyata Dalai Lama memiliki banyak o­rang pandai. Dia dan Sie Lan Hong mendapat kehormatan untuk ikut dalam pe­rundingan itu, karena pendekar Kun-lun-pai ini telah dianggap berjasa besar memberi keterangan tentang sepak terjang Kim Sim Lama.

Tidak kurang dari duapuluh empat orang pimpinan Lama, dikepalai oleh Konga Sang sendiri, memimpin kurang le­bih seratus orang pendeta Lama pilihan dan mereka lalu berangkat menuju ke sarang Kim-sim-pai. Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong juga berada di antara para pimpinan. Dan di belakang, menyusul kemudian lima ratus orang pasukan bergerak menuju ke sarang itu pula, mengam­bil jalan lain untuk melakukan penge­pungan.

Di pihak Kim-sim-pang juga para pimpinannya membuat persiapan, akan tetapi persiapan untuk menghadapi Pendekar Bongkok. Ketika Kim Sim Lama mendengar dari para penyelidik bahwa Thai-yang Suhu tewas dan berada di dalam kuburan Pendekar Bongkok yang sudah ko­song, sedangkan Pendekar Bongkok tidak nampak di sana, dia menyebar para pe­nyelidik untuk mencari di mana adanya Pehdekar Bongkok.

Para penyelidik ini yang melihat kemunculan Pendekar Bongkok ketika dia menolong wanita jembel gila dari gang­guan tiga orang nalayan. Mereka mela­porkan hal ini kepada Kim Sim Lama yang cepat mengatur siasat bersama pa­ra pembantunya yang lihai. Dia marah sekali mendengar bahwa Pendekar Bong­kok masih hidup dan dapat keluar dari dalam kuburan! Bahkan telah membunuh Thai-yang Suhu! Tadinya, ketika mendengar bahwa mayat Thai-yang Suhu berada di dalam kuburan dan mayat Pendekar Bongkok lenyap, dia manduga bahwa ten­tu tokoh Kun-lun-pai itu yang melaku­kan pembunuhan terhadap pembantunya i­tu dan melarikan mayat Pendekar Bongkok. Akan tetapi, ketika dia mendengar laporan para anak buahnya tentang ke­munculan Pendekar Bongkok yang meno­long gadis jembel gila, dia terkejut bukan main. Dia segera memanggil semua pembantunya untuk merundingkan hal itu.

“Ahh, bagaimana mungkin dia hidup kembali?” Thai Hok Lama, orang ke em­pat Tibet Ngo-houw dan ahli racun itu berseru. “Mungkin saja dia dapat disembuhkan dari pengaruh racun, akan teta­pi bagaimana mungkin dia hidup kalau dikubur dan tidak dapat bernapas sela­ma beberapa hari? Ini tentu ada yang menolongnya ketika dia dikubur. Dan yang tahu akan hal itu tentu Camundi Lama!”

“Hemmm, benar sekali!” kata pula Ki Tok Lama, sute dari Lima Harimau Tibet itu. “Kami memang sejak dahulu ti­dak percaya kepadanya. Dia seorang yang setia kepada Dalai Lama. Hanya karena dia pandai ilmu pengobatan saja kita tidak membunuhnya.”

Kim Sim Lama mengangguk-angguk. Diapun curiga kepada Camundi Lama. “Panggil Camundi Lama ke sini!” teriaknya kepada pengawal.

Sementara itu, mendengar akan lo­losnya Pendekar Bongkok, bukan main kaget dan marahnya hati Coa Bong Gan. Lolosnya Pendekar Bongkok bukan saja membahayakan Kim Sim Lama karena rahasia­nya tentu akan bocor, akan tetapi juga amat berbahaya baginya sendiri. Dia telah membacok buntung lengan kiri pendekar itu, dan tentu dia tidak akan tinggal diam saja, dan tentu akan membalas dendam. Pendekar Bongkok harus didahu­lui!

“Locianpwe, Pendekar Bongkok harus dapat dibasmi, dan saya tahu bagaimana caranya!” kata Coa Bong Gan. Yauw Bi Sian yang hadir di situ tidak ba­nyak bicara. Memang ia masih merasa menyesal bahwa calon suaminya membuntungi lengan kiri Sie Liong, akan tetapi kini ia semangatnya lemah, dan pula bagaimanapun juga, Pendekar Bongkok a­dalah pembunuh ayah kandungnya.

“Bagaimana cara itu?” tanya Kim Sim Lama, tertarik.

“Dia harus dipaksa datang ke si­ni. Saya akan memancingnya keluar dari rumah pondokannya, kemudian saya akan menculik gadis jembel gila itu, dan kalau dia sudah tiba di sini, mudah saja untuk membunuhnya!”

Kim Sim Lama tersenyum cerah. “Bagus sekali! Lengan kirinya sudah kau­buntungi, betapapun lihainya, dia ti­dak ada artinya lagi. Lakukanlah sia­sat itu sekarang juga!”

Coa Bong Gan cepat pergi sambil mengajak empat orang pendeta Lama, membawa pula sebuah kereta kecil. Untuk memancing Sie Liong keluar meninggal­kan rumah bibi Cili, dia menyuruh em­pat orang pembantunya itu menculik bi­bi Cili di tempat ramai. Hal ini disengajanya agar Sie Liong diberitakan o­rang tentang penculikan itu. Dan tepat seperti yang telah dia perhitungkan, Sie Liong berlari cepat sekali dari dalam rumah ketika mendengar bahwa bibi Cili diculik orang. Kesempatan itulah yang dipergunakan Bong Gan untuk mema­suki rumah dan menculik Ling Ling, sambil meninggalkan surat tantangan dari Kim Sim Lama kepada Sie Liong, Si Pen­dekar Bongkok.

Ketika Camundi Lama dihadapkan kepada Kim Sim Lama, pendeta ahli pengo­batan itu menghadap sambil tersenyum. Dia sudah mendengar berita tentang lo­losnya Pendekar Bongkok dari dalam ku­buran. Tidak sia-sialah usahanya menyelamatkan pendekar itu dan dia sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau Kim Sim Lama mencurigainya.

“Camundi Lama!” bentak Kim Sim Lama dengan sinar mata tajam mencorong. “Engkau pengkhianat! Apa yang telah kaulakukan ketika engkau memimpin penguburan Pendekar Bongkok?”

Camundi Lama tersenyum dan merangkap kedua tangan di depan dadanya. “Omitohud.... pinceng (aku) hanya melakukan yang benar. Kim Sim La­ma, engkau telah menjadi hamba kemurkaan dan kejahatan. Engkaulah yang menjadi pengkhianat, mengkhianati Dalai La­ma, mengkhianati kebenaran, mengkhia­nati manusia dan Tuhan! Pinceng hanya mencegah terjadinya pembunuhan keji terhadap diri Pendekar Bongkok. Pin­ceng memasang tabung ketika dia dikubur hidup-hidup sehingga dia dapat bernapas melalui tabung.”

“Keparat jahanam!” Thay Ku Lama, orang pertama dari Tibet Ngo-houw berseru marah. Kim Sim Lama juga marah sekali mendengar pengakuan Camundi Lama itu.

“Tangkap dia! Akan kusiksa sendi­ri dia sampai mati!”

Akan tetapi, ketika para pembantu Kim Sim Lama bangkit hendak bergerak, Camundi Lama tertawa. “Ha-ha-ha, tidak perlu kalian repot-repot. Sekarangpun pinceng akan meninggalkan kalian o­rang-orang yang menjadi hamba nafsu sendiri. Kim Sim Lama, engkau telah menyebar benih kejahatan yang kelak ha­nya akan meracuni dirimu sendiri lahir batin.” Setelah berkata demikian, Ca­mundi Lama roboh dan ketika semua o­rang memeriksanya, dia telah tewas! Ternyata ketika dipanggil menghadap, kakek ahli pengobatan ini telah mengambil keputusan untuk menelan racun yang kerjanya halus namun pasti.

Ketika Coa Bong Gan datang memondong Ling Ling, Kim Sim Lama menjadi girang sekali. “Ah, pantas kalau Pendekar Bongkok mencinta gadis ini,” kata­nya sambil memandang Ling Ling yang nampak ketakutan. “Kiranya gadis ini bukan jembel gila, melainkan seorang gadis yang cantik dan manis. Coa-sicu, biar kami serahkan gadis ini dalam pe­ngawasanau. Jangan sampai ia dapat lo­los sebelum Pendekar Bongkok datang memenuhi tantangan kami.”

Coa Bong Gan mengangguk girang dan membawa Ling Ling pergi ke kamarnya. Yauw Bi Sian hanya memandang dengan a­lis berkerut, namun tidak perduli. Kini ia tidak perduli apa-apa lagi, ti­dak perduli apa yang dilakukan Coa Bong Gan. Ia tidak tahu bahwa semangatnya menjadi lemah karena ia selalu di­kuasai oleh kekuatan sihir dari para pendeta Lama pengikut Kim Sim Lama yang selain ahli dalam ilmu silat, ju­ga ahli dalam ilmu sihir. Sebetulnya, sebagai murid terkasih dari Koay Tojin tidak mudah gadis perkasa ini dikuasai ilmu sihir. Akan tetapi, pada saat i­tu, hatinya sedang risau dan bimbang, perasaannya kacau balau. Sebagian ia merasa dendam dan benci kepada Sie Liong, akan tetapi sebagian pula dari perasaannya ia merasa iba. Juga perasaannya terhadap Bong Gan bercampur aduk dengan kacau. Ada rasa suka yang tim­bul dari nafsu berahinya sendiri, akan tetapi juga perasaan muak dan benci, bukan saja melihat bahwa Bong Gan seorang pria yang cabul dan khianat, ber­main gila dengan Pek Lan. Dan perasaan benci ini semakin kuat karena melihat kecurangan Bong Gan yang menyerang dan membuntungi lengan kiri Sie Liong selagi pemuda itu berada dalam keadaan ti­dak berdaya sama sekali.

Kini Kim Sim Lama, dan para pem­bantunya, juga Bi Sian, menanti dengan hati diliputi ketegangan. Beranikah Pendekar Bongkok datang memenuhi tan­tangan Kim Sim Lama untuk menyelamat­kan Ling Ling? Agaknya, Kim Sim Lama yakin akan hal ini. Akan tetapi Bi Si­an sendiri diam-diam meragukannya. Be­gaimana Sie Liong akan berani datang? Selain Kim Sim Lama dan para pembantu­nya terlampau kuat bagi Sie Liong, ju­ga kini Pendekar Bongkok telah buntung lengan kirinya sehingga tentu saja kelihaiannya berkurang banyak! Selain i­tu, mengapa pula pamannya itu akan ma­ti-matian mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan seorang gadis peranakan Tibet yang juga tidak amat cantik itu, bahkan kulitnya agak gelap? Bagaimanapun juga, ia ikut merasa tegang menan­ti kemunculan Sie Liong, Si Pendekar Bongkok.

Akhirnya, saat menegangkan yang mereka tunggu-tunggu itupun tibalah. Dan munculnya Pendekar Bongkok sung­guh mengejutkan semua orang, termasuk Kim Sim Lama sendiri. Semenjak pencu­likan terhadap Ling Ling dilakukan dan semenjak kemunculan Sie Liong si Pendekar Bongkok dinanti, kuil Kim-sim-pang ditutup untuk sementara. Semua a­nak buah pendeta Lama dikerahkan untuk melakukan penjagaan ketat.

Akan tetapi betapa mengejutkan! Ketika Kim Sim Lama dan para pembantu­nya sedang duduk di dalam ruangan belakang, ruangan luas yang juga dipergunakan sebagai ruangan berlatih silat, duduk berunding untuk mengatur siasat kalau Pendekar Bongkok berani muncul, tiba-tiba saja terdengar suara keras pecahnya genteng di atas ruangan itu dan sesosok bayangan melayang turun dari atas, melalui atap yang berlubang. Dan bayangan ini bukan lain adalah Pendekar Bongkok yang sudah buntung lengan kirinya!

Sie Liong kini yakin bahwa penga­lamannya di dalam kuburan telah menda­tangkan suatu tenaga sakti yang luar biasa baginya. Dia telah dapat menyerap tenaga sakti Intisari Bumi! Dengan tenaga sakti yang dahsyat itu, dia mampu bergerak dangan kecepatan yang berlipat ganda dibandingkan sebelum dia menguasainya. Karena itu, maka dia me­rasa yakin akan dirinya karena walaupun sebelah lengannya telah buntung, namun keadaannya jauh lebih kuat daripada sebelum lengan kirinya buntung. Dengan tenaga sakti dahsyat itu, dia dapat bergerak ringan bagaikan burung sehingga dia mampu menyelinap cepat memasuki sarang para pemberontak itu tanpa diketahui para penjaga dan setelah mengetahui bahwa Kim Sim Lama dan para pembantunya berada di ruangan silat, diapun meloncat naik ke atas genteng, lalu memasuki ruangan itu memalui atap yang dijebolnya.

“Kim Sim Lama, aku telah datang memenuhi undanganmu. Harap segera kau bebaskan Ling Ling!” kata Sie Liong, suaranya juga mengandung wibawa dan karena suara itu dikeluarkan dengan pe­ngerahan tenaga sakti, maka suara itu melengking dan bergema di ruangan itu, mengandung tenaga yang menggetarkan i­si dada Kim Sim Lama dan para pembantunya. Sikapnya tenang saja walaupun dia melihat hadirnya Bi Sian dan Bong Gan di situ. Dan karena dia belum sempat berganti pakaian, maka pakaian yang melekat di tubuhnya masih pakaian ketika dia dikubur hidup-hidup, dan pakaian itu sudah kotor terkena lumpur. Lengan baju sebelah kiri tergantung lemas dan kosong.

Sejenak, ucapannya itu bergema di dalam ruangan dan setelah gema itu menghilang, suasana menjadi sunyi sekali, sunyi yang menegangkan. Akhirnya Kim Sim Lama dapat menguasai kekagetannya dan diapun mengeluarkan suara ter­tawa untuk mengusir ketegangan dan wi­bawa Pendekar Bongkok. Ketika tertawa, Kim Sim Lama bukan sembarang tertawa, melainkan mengisinya dengan khi-kang, sehingga suara ketawanya juga bergema dan menggetarkan jantung.

“Ha-ha-ha-ha, Pendekar Bongkok, atau sekarang menjadi Pendekar Buntung atau Pendekar Bongkok Buntung? Bagus sekali, engkau datang menyerahkan nyawamu. Sekarang hatiku akan yakin bahwa engkau akan benar-benar mati, karena sekali ini kami tidak ingin gagal. Engkau akan mati di tanganku sendiri!”

Biarpun menghadapi ancaman dan berhadapan dengan Kim Sim Lama bersama banyak sekali pembantunya, belum lagi anak buahnya yang puluhan orang banyaknya di luar ruangan, namun Sie Liong masih bersikap tenang.

“Kim Sim Lama, engkau telah menculik Ling Ling, menggunakannya sebagai umpan untuk memancing aku datang. Nah, aku sudah datang memenuhi undanganmu. Bersikaplah sebagai laki-laki sejati, keluarkan Ling Ling!”

“Orang she Sie yang sombong!” Ti­ba-tiba Thay Bo Lama, orang termuda Tibet Ngo-houw yang terkenal berangasan itu sudah moloncat dan memaki. “Tidak perlu engkau menjual lagak. Bukankah engkau datang ke Tibet untuk mencari Tibet Ngo-houw? Nah, kami berlima sudah berada di depanmu. Tidak perlu pemimpin kami yang maju. Hayo kami Tibet Ngo-ho­uw yang mempertanggung jawabkan semua perbuatan kami. Engkau mau apa? Sekali ini engkau tentu akan mati, bahkan tidak kebagian kuburan lagi!”

Empat orang saudaranya sudah pula bangkit. Mereka semua setuju dengan sikap Thay Bo Lama. Biarpun pernah mere­ka berlima mengeroyok namun tidak da­pat memperoleh kemenangan, dan baru setelah Kim Sim Lama yang maju mereka semua berhasil menangkap Sie Liong, akan tetapi kini mereka sama sekali tidak takut. Mereka bahkan memandang rendah pendekar itu dan mereka ingin menebus kekalahan mereka. Kini setelah pende­kar itu kehilangan lengan kiri, mereka yakin bahwa mereka akan mampu meroboh­kan dan membunuh Pendekar Bongkok.

Sie Liong memandang kepada mereka sejenak, kemudian dia menoleh kepada Kim Sim Lama. “Kim Sim Lama, apakah o­mongan Tibet Ngo-houw dan engkau sendiri dapat kupercaya? Tibet Ngo-houw hen­dak mengeroyok aku, apakah engkaupun akan turun tangan lagi membantu mereka? Lebih baik dari sekarang berterus te­rang apakah engkau ingin maju sendiri dan mengeroyokku dengan semua pembantumu yang berada di sini? Dan mengerahkan pula semua anak buahmu!” Sie Liong kini menyapa semua orang dengan pan­dang matanya dan sejenak pandang matanya hinggap di wajah Bi Sian. Wanita itu menundukkan mukanya yang berubah agak pucat. Nyeri rasa hati Sie Liong melihat kehadiran keponakannya sebagai seorang di antara anak buah Kim Sim Lama! Ucapan ini mengobarkan kemarahan dalam hati Thay Ku Lama, orang perta­ma dari Tibet Ngo-houw. Memang dia ha­rus mengakui bahwa seorang diri saja, dia pernah dikalahkan Pendekar Bong­kok. Akan tetapi sekarang, Pendekar Bongkok kehilangan lengan kirinya! Ja­ngankan dia maju berlima, bahkan seo­rang diripun agaknya dia akan mampu merobohkan Pendekar Bongkok!

“Pendekar Bongkok, dengarlah! Kami, Tibet Ngo-houw, akan membunuhmu tanpa bantuan siapapun! Biarlah kami berlima mampus di tanganmu kalau sampai ada yang membantu kami. Kau yang sudah hampir mampus ini masih berani bertingkah dan mengeluarkan omongan besar! Nah, terimalah....!” Thay Ku Lama meloncat ke depan, dan tiba-tiba dia merendahkan tubuhnya sampai hampir berjongkok. Terdengar suara berkokokan dari dalam perutnya yang gendut itu. Kedua lengannya digerakkan menyilang dan selain perutnya yang gendut, juga kedua kakinya mengeluarkan suara berkerotokan kemudian tiba-tiba saja dia meloncat ke depan, kedua lengannya menyerang dengan dorongan kedua telapak ta­ngan ke arah dada Sie Liong! Sesungguhnya, orang-orang dengan kepandaian se­tingkat Tibet Ngo-houw ini sudah lang­ka sekali dan sukar dicari tandingan mereka. Tingkat ilmu mereka, baik ilmu silat atau ilmu batin, sudah amat tinggi. Dan ilmu pukulan yang dipergunakan Thay Ku Lama itu adalah Hek-in Tai-hong-ciang (Tangan Awan Hitam dan Ba­dai). Kekuatan yang luar biasa terkum­pul di dalam perutnya yang gendut dan seperti seekor katak beracun, begitu kekuatan dari perut itu dilepaskan, maka terciptalah gerak serangan yang a­mat dahsyat. Seketika angin menyambar dahsyat dibarengi uap hitam mengepul ketika dua tangan yang terbuka itu meluncur ke arah dada Sie Liong.

Sejak tadi Sie Liong dapat menduga bahwa orang pertama Tibet Ngo-houw itu menyerangnya dengan pengerahan tenaga sakti yang hebat. Dia tidak merasa takut, bahkan tanpa mengelak dia lalu mendorongkan tangan kanannya menyambut.

“Desss....! Plakkk!” Lengan baju kiri itu menyusul dengan kecepatan kilat ketika tangan kanannya menyambut serangan lawan. Pertemuan tenaga sakti yang amat hebat terjadi ketika tangan kanan Pendekar Bongkok bertemu dengan kedua tangan Thai Ku Lama, dan pada saat itu, Thay Ku Lama terkejut sekali, wajahnya seketika pucat dan mulutnya menyeringai kesakitan. Dia merasa seolah semua tenaganya membalik dan menghantam isi perutnya sendiri. Pada saat itu, nampak sinar putih menyambar dan mengenai tengkuknya. Itulah sambaran lengan baju yang kosong, dan begitu terkena lecutan ujung lengan baju ini, Thay Ku Lama terjungkal dan muntah darah! Ketika empat orang adiknya meme­riksa, ternyata orang pertama Tibet Ngo-houw itu telah tewas! Dalam segebrakan saja, Thay Ku Lama, orang pertama Tibet Ngo-houw, telah tewas di ta­ngan Pendekar Bongkok yang hanya memi­liki tangan tunggal, yaitu yang kanan saja. Empat orang pendeta Lama itu se­lain terkejut, juga marah bukin main. They Si Lama sudah mencabut cambuknya, Thay Pek Lama mencabut sepasang pedang. Thay Hok Lama melolos rantai bajanya, dan Thay Bo Lama juga menyambar tombaknya. Mereka berempat lalu mengepung dan menerjang dengan ganas.

Somentara itu, Kim Sim Lama memandang dengan wajah agak berubah. Apa yang baru saja terjadi sungguh mengejukan hatinya bukan main. Dia tahu betapa lihainya Thay Ku Lama, orang per­tama Tibet Ngo-houw dangan ilmu pukulan Hek-in Tai-hong-ciang itu. Akan tetapi dalam segebrakan saja, Thay Ku Lama tewas di tangan Pendekar Bongkok. Padahal, Pendekar Bongkok sudah tidak berlengan kiri lagi. Bagaimana hal ini mungkin terjadi, pikirnya. Sebelum le­ngan kirinya buntungpun, Pendekar Bongkok tidak mungkin dapat menewaskan Thay Ku Lama seperti itu. Mungkinkah dia mendapatkan ilmu baru? Rasanya hal itu tidak mungkin terjadi. Baru beberapa hari saja lewat sejak Pendekar Bongkok buntung lengan kirinya. Sagaimana mungkin dalam waktu beberapa hari saja sudah memperoleh ilmu yang demikian dahsyatnya!

Akan tetapi, kini sepasang mata­nya terbelalak penuh kekagetan dan ke­heranan. Pendekar Bongkok memang jelas bukan Pendekar Bongkok yang tempo hari sebelum lengan kirinya buntung! Menghadapi hujan serangan empat orang yang sedang marah dan sakit hati itu, Pendekar Bongkok hanya menggerakkan tangan kanan yang mendorong-dorong, dan le­ngan baju kirinya menyambar-nyambar. Hebatnya, semua senjata empat orang Harimau Tibet itu selalu terdorong membalik sebelum bertemu dengan tangan ka­nan, dan setiap kali bertemu ujung le­ngan baju kiri, seolah-olah dari tubuh Pendekar Bongkok keluar semacam tenaga sakti yang dahsyat dan yang merupakan perisai yang melindungi tubuhnya. Setelah Pendekar Bongkok selalu menangkis pengeroyokan lawan seolah hendak menguji tenaga mereka, tiba-tiba Pendekar Bongkok mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya membungkuk ke de­pan, kaki kanan ditarik ke belakang dan tubuh atasnya yang bongkok itu lu­rus ke depan. Tangan kanannya menceng­keram ke depan, dan lengan baju kiri yang tadinya ditarik ke belakang, mem­bentuk garis lurus seperti seekor naga meluncur, tiba-tiba ujung lengan baju kiri yang agaknya membentuk ekor naga itu menyambar ke depan.

Terdengar suara bersiutan dan di­susul pekik dan robohnya ernpat orang pendeta Lama itu susul menyusul. Kim Sim Lama terbelalak ketika melihat be­tapa empat orang pembantunya itu roboh untuk tidak bangun kembali karena ter­nyata mereka telah tewas! Juga para pembantunya yang lain terbelalak, ham­pir tidak percaya akan apa yang mereka lihat. Betapa mungkin pemuda bongkok yang lengan kirinya sudah buntung itu mampu membunuh lima orang Tibet Ngo-houw yang terkenal sakti itu dalam waktu demikian singkatnya?

Kim Sim Lama sendiri menjadi gentar melihat kesaktian luar biasa yang dimiliki Pendekar Bongkok. Kalau Tibet Ngo-houw roboh dalam waktu demikian singkatnya, dia sendiripun akan sukar untuk dapat menandingi Pendekar Bong­kok. Maka tanpa malu-malu lagi dia la­lu mengeluarkan aba-aba, memerintahkan para pembantunya untuk maju mengero­yok. Juga dia berseru agar pasukan yang berada di luar bersiap-siap mengepung!

“Kim Sim Lama, bebaskan Ling Ling dan aku tidak akan mencampuri urusanmu!” bentak Sie Liong, bukan khawatir akan pengeroyokan terhadap dirinya me­lainkan khawatir akan nasib Ling Ling yang terjatuh ke dalam tangan para pemberontak Tibet ini.

Akan tetapi tentu saja Kim Sim Lama tidak memperdulikan permintaan ini. Pemuda ini terlalu berbahaya baginya, apalagi sudah membunuh Tibet Ngo-houw, pembantu-pembantu utamanya yang merupakan tangan kanan baginya. Pendekar Bongkok harus dibasmi!

“Bunuh dia!” perintahnya sambil menggerakkan tangan, matanya berkilat marah. Semua pembantunya sudah menghu­nus senjata, kecuali Yauw Bi Sian. Ia hanya duduk termenung. Ia terkejut dan kagum bukan main melihat pamannya yang dapat membunuh Tibet Ngo-houw sedemiki­an mudahnya. Pamannya yang telah bun­tung lengan kirinya itu ternyata menjadi semakin sakti! Diam-diam ada perasaan girang menyelinap di hatinya. Ah, kalau saja pamannya itu tidak membunuh ayah kandungnya, ingin rasanya ia mencabut senjata untuk membantu pamannya menghadapi pengeroyokan semua orang i­tu! Ia akan rela mengorbankan nyawanya untuk membela pamannya yang dikasihi­nya itu. Akan tetapi, pamannya telah menjadi musuh besarnya, telah membunuh ayahnya, kini ia termangu. Tidak mau ia ikut mengeroyok. Memang, ia telah bersumpah untuk membunuh Sie Liong, untuk membalaskan dendam ayahnya, akan tetapi ia tidak sudi mengeroyok Pende­kar Bongkok bersama orang-orang yang sesat itu.

Akan tetapi pada saat Sie Liong menghadapi pengepung para pembantu Kim Sim Lama yang terdiri dari orang-orang pandai, di antaranya terdapat Coa Bong Gan, Pek Lan, Ki Tok Lama, dan belas­an orang pendeta Lama lain, tiba-tiba terdengar sorak sorai gegap gempita di luar sarang gerombolan pemberontak i­tu, disusul suara pertempuran besar.

Kim Sim Lama terkejut, apalagi ketika seorang perajurit tergopoh-go­poh melapor bahwa sarang mereka diser­bu oleh pasukan yang dipimpin oleh pa­ra pendeta anak buah Dalai Lama, Kim Sim Lama cepat melompat keluar dari ruangan itu, diikuti oleh para pendeta Lama lainnya! Keadaan menjadi geger dan orang-orang agaknya demikian bi­ngung dan panik mendengar bahwa tempat itu diserbu pasukan Dalai Lama sehing­ga mereka seperti telah melupakan Pendekar Bongkok.

Sie Liong juga tidak tahu harus berbuat apa. Orang-orang itu berlompatan pergi, juga Coa Bong Gan dan yang tinggal di situ akhirnya ha­nya dia dan Yauw Bi Sian! Mereka berdiri saling pandang, dan melihat pandang mata penuh kebencian dari gadis itu, Sie Liong menghela napas panjang.

“Bi Sian....” kata Sie Liong lirih.

Akan tetapi, saat itu, ketika me­reka berdiri hanya berdua saja di da­lam ruangan yang luas itu, Bi Sian teringat akan nasibnya, teringat betapa ayahnya terbunuh oleh pemuda bongkok i­ni. Bahkan pemuda bongkok ini yang membuat ia meninggalkan ibunya, merantau sampai bertemu dengan Song Gan dan a­khirnya ia ternoda oleh Coa Bong Gan, sutenya sendiri. Semua ini membuat ha­tinya terasa perih, dan semua ini gara-gara Sie Liong! Kalau saja pamannya i­tu tidak membunuh ayahnya, tentu tidak akan sampai terjadi semua ini!

“Sie Liong, akhirnya kita dapat berhadapan satu lawan satu. Engkau ha­rus menebus nyawa ayah, Bersiaplah!” Bi Sian mencabut pedang Pek-lian-kiam. Akan tetapi, Sie Liong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala dengan sinar mata duka. Dia maklum bahwa Bi Sian masih menuduh dia sebagai pembunuh Yauw Sun Kok, ayah gadis itu, suami encinya. Percuma saja dia menyangkal.

“Bi Sian, tolonglah aku. Katakan di mana Ling Ling. Aku akan membebaskannya kemudian pergi dari sini.”

Pada saat itu, Bong Gan memasuki ruangan sambil berseru, “Suci, mari kita pergi!”

Melihat betapa pemuda itu memegang lengan Ling Ling, Sie Liong segera menghampirinya. “Lepaskan Ling Ling....!”

Bong Gan tersenyum mengejek. “Mundur kamu, bongkok! Atau.... akan kubunuh gadis ini di depan matamu!”

Mendengar ancaman itu, Sie Liong terkejut dan diapun menahan langkahnya. Dia dapat menyerang Bong Gan, akan tetapi dia khawatir kalau-kalau pemuda jahat itu akan lebih dulu membunuh Ling Ling. Melihat sutenya hendak men­jadikan gadis peranakan Tibet itu men­jadi sandera, Bi Sian mengerutkan alisnya.

“Sute, lepaskan gadis itu!”

“Aih, tidak bisa, suci! Dia lihai sekali, kalau dia bergerak, aku akan bunuh gadis ini lebih dulu!” Tanpa malu-malu Bong Gan berseru.

“Pengecut!” Bi Sian memaki. “Aku­pun tidak membutuhkan bantuanmu kalau engkau takut kepada Sie Liong. Biar a­ku sendiri yang akan menuntut balas atas kematian ayahku. Bebaskan gadis i­tu kataku!”

Bong Gan memandang dengan bi­ngung. Dia menoleh ke luar dan mende­ngarkan suara pertempuran yang tengah berlangsung di luar. “Baiklah. Pendekar Bongkok, Sie Liong, janjilah lebih dahulu bahwa engkau tidak akan menye­rangku kalau aku bebaskan gadis ini!” Tentu saja dia merasa takut karena ta­di dia melihat sendiri betapa Pendekar Bongkok telah dapat membunuh lima o­rang Tibet Ngo-houw dengan mudahnya. Dia tahu bahwa dia bukanlah lawan Pen­dekar Bongkok yang kini menjadi amat sakti itu. Dan dia sudah membuntungi lengan kiri Pendekar Bongkok, maka dia merasa jerih kalau-kalau Pendekar Bongkok akan membalas dendam dan membunuhnya.

Sie Liong menatap wajah Coa Bong Gan dengan sinar mata mencorong. “Ka­lau engkau tidak mengganggu gadis itu dan membebaskannya, aku tidak akan menyerangmu. Akan tetapi kalau engkau mengganggunya atau membunuhnya, demi Tuhan, lari ke manapun engkau, akan kukejar sampai dapat!”

Bong Gan bergidik melihat mata yang mencorong itu dan dia mendorong tubuh Ling Ling ke arah Sie Liong. Ga­dis itu yang sejak tadi diam saja, ha­nya memandang kepada Sie Liong dengan suka pucat, terhuyung ke arah Sie Li­ong yang segera menyambut dengan rang­kulan penuh kasih sayang.

“Ling Ling....”

“Liong-koko.... ahh, Liong-koko....!” Dan tiba-tiba saja Ling Ling menangis tersedu-sedan di atas dada Sie Liong. Air matanya membanjir seperti bendungan pecah. Kalau tadi ia hanya diam saja dengan muka pucat, kini tangisnya tak dapat ditahan lagi, mem­buatnya sesenggukan dan tersedu-sedu.

“Suci, mari kita pergi. Pertempuran terjadi di luar. Dalai Lama dan pa­sukannya telah menyerbu. Kalau terlam­bat, kita celaka!” kata Bong Gan.

“Pengecut, engkau boleh pergi. A­ku tidak akan pergi, aku harus memba­laskan kematian ayahku. Dia telah mem­bunuh ayah, maka dia harus menebus nyawa ayah, aku akan mati pula di tangannya!”

“Bi Sian, aku tidak membunuh ayahmu....” Sie Liong yang masih mendekap Ling Ling yang menangis itu, membantah lemah.

“Tidak perlu bohong! Tidak perlu menyangkal, Apakah engkau juga ingin menjadi pengecut yang tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu? Sie Liong, engkau pembunuh ayahku, maka bersiaplah, mari kita selesaikan dengan mengadu nyawa!”

“Sie Liong bukan pembunuh ayahmu, Bi Sian!” Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dan muncullah Sie Lan Hong bersama Lie Bouw Tek di pintu ruangan itu!

“Ibuuu....!” Bi Sian berseru, memburu kepada ibunya. Mereka saling rangkul. “Ibu, apa artinya ucapanmu tadi?”

“Bi Sian, anakku. Percayalah, Sie Liong bukan pembunuh ayahmu! Aku yakin akan hal itu!”

“Ibu....!” Bi Sian memandang kepada ibunya penasaran. “Kalau bukan dia yang membunuh ayah, habis siapa?”

“Engkau mau tahu siapa pembunuh ayahmu? Dialah orangnya!” Sie Lan Hong menunjuk ke arah Coa Bong Gan yang se­ketika pucat dan terbelalak. Karena semua mata kini ditujukan kepadanya, dia menjadi gentar dan tanpa disadarinya, dia melangkah mundur sampai mepet ke dinding.

“Ibu, apa artinya ini? Sute Coa Bong Gan yang membunuh ayah? Bagaimana pula ini? Ibu, aku bingung, aku tidak mengerti....” Bi Sian masih meragu karena hal itu dianggapnya tidak masuk akal.

“Tidak benar, suci, itu fitnah saja!” Bong Gan mencoba untuk membantah, walaupun wajahnya sudah menjadi pucat sekali.

“Diam kau!” bentak Bi Sian. “Ibu tidak akan menuduh dengan fitnah! Ibu, jelaskanlah agar aku dapat mengerti.”

“Bi Sian, setelah engkau pergi, aku lalu melakukan penyelidikan tentang kematian ayahmu. Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Malam itu, ayahmu pergi ke rumah pelesir, tempat para pelacur dan ayahmu di tempat itu minum sampai mabok. Akan tetapi, menurut keterangan para pelacur di sana, sebelum ayahmu tiba, di sana ada seorang tamu lain. Ayahmu melihat tamu itu, dan tamu itu­lah yang telah membunuh ayahmu.”

“Siapa...., siapa dia, ibu?”

“Tamu itu adalah dia, Coa Bong Gan ini!”

“Bohong!” teriak Bong Gan. “Apa perlunya aku membunuh ayahmu, suci?”

“Hemm, apa perlunya?” Sie Lan Hong berkata. “Suamiku telah melihatmu di rumah pelacuran. Dan engkau tentu merasa takut kalau sampai suamiku menceri­takan kelakuanmu yang hina itu kepada puteriku. Engkau jatuh cinta kepada puteriku ini, bukan? Tentu engkau tidak ingin puteriku mendengar bahwa engkau berkeliaran dan bermain gila di rumah pelacuran, maka engkau membunuh suami­ku yang sedang mabok. Dan untuk menghilangkan jejak, engkau menyamar sebagai adikku dan melempar kedok itu di dekat kamar Sie Liong!”

“Aihh, pantas dia bersikeras untuk membunuhku, dan telah berhasil membuntungi lengan kiriku. Tentu untuk menghilangkan sama sekali jejaknya.” kata Sie Liong yang masih merangkul Ling Ling.

Bi Sian kini menjadi pucat, sepasang matanya terbelalak memandang kepada Bong Gan, saking kagetnya, herannya dan marahnya ia sampai merasa hampir pingsan.

Ling Ling meronta lepas dari rangkulan Sie Liong ketika mendengar ucap­an Sie Liong. “Liong-koko, jadi dia i­tulah yang telah membuntungi lenganmu? Keparat jahanam....!” Ling Ling berlari menghampiri Bong Gan dengan sikap seperti seekor singa betina yang hendak menyerang dengan cakaran dan gigitan.

“Ling Ling, ke sinilah....!”

Namun, seruan Sie Liong itu terlambat. Bong Gan secepat kilat sudah menyambar lengan Ling Ling dan menelikungnya. Dia kini tersenyum menyeringai dan memandang kepada semua orang dengan sikap menantang. “Kalian semua mundur! Kalau ada yang berani maju, akan kubunuh gadis ini!”

Melihat betapa Ling Ling kembali menjadi tawanan Bong Gan, tentu saja Pendekar Bongkok tidak berani berkutik. Juga Sie Lan Hong dan Lie Bouw Tek yang keduanya sudah memegang pedang masing-masing, tidak berani maju. Akan tetapi, Bi Sian tidak perduli. Ia melangkah mnju menghampiri sutenya, pe­dang Pek-lian-kiam masih di tangannya, matanya tak pernah berkedip, terbela­lak memandang kepada pemuda itu.

“Coa Bong Gan.... kau.... kau..... yang telah membunuh ayah?” katanya lirih, seperti orang bertanya juga seperti orang meragu dan tidak per­caya.

“Suci, mundur kau! Akan kubunuh gadis ini kalau engkau tidak mau mun­dur!” bentak Bong Gan.

“Bunuh aku! Keparat jahanam kau! Bunuh aku!” Ling Ling meronta, lalu setelah lengan sebelah terlepas, ia ne­kat meneakar dan menggigit. “Hayo bu­nuh aku! Jahanam busuk kau, bunuh aku! Engkau telah membuntungi lengan Liong-koko! Hayo kau bunuh aku....!” Dan bagaikan gila Ling Ling menubruk ke arah pedang yang dipegang Bong Gan. Pemuda ini kewalahan juga ketika Ling Ling meronta, mencakar dan menggigit. Ketika dia hendak menggerakkan tangan kiri untuk menotok, hal yang tidak mudah karena tubuh gadis itu meronta dan menggeliat-geliat, tiba-tiba Ling Ling de­ngan nekat menubruk ke arah pedang. Pedang yang runcing itu memasuki perutnya dan darah muncrat ketika dengan lunglai, Ling Ling roboh. Bong Gan terbelalak dan meloncat ke belakang sambil menarik pedangnya.

“Ling-moi....!” Secepat kilat Pendekar Bongkok meloncat dan menyambar tubuh Ling Ling yang mandi datah. Sekali memeriksa, tahulah dia bahwa sia-sia saja menolong gadis itu. Gadis itu dalam sekarat!

“Ling Ling.... ahhh, Ling Ling.... kenapa kaulakukan itu....?” Sie Liong menangis, mengguncang tubuh gadis itu dan menciumi mukanya.

Ling Ling menggerakkan bibirnya, berkata lirih. “.... aku.... aku lebih baik mati.... koko.... aku tidak berharga lagi.... dia.... dia telah monodaiku....” Dan iapun terkulai, tewas dan tak bernyawa lagi.

“Ling-moi.... Ling-moi....!” Sie Liong mendekap mayat yang masih hangat itu dan menangis sesenggukan di atas muka dan lehernya yang basah oleh air matanya. Dia tidak perduli betapa pakaian dan tubuhnya penuh darah yang mengalir keluar dari luka di perut Ling Ling. Dia merasa seolah-olah nya­wanya sendiri yang melayang. Baru dia menyadari betapa dia amat menyayang gadis ini, betapa amat berat berpisahan dengannya.

“Jahanam engkau, Coa Bong Gan!” sekali meloncat, Bi Sian telah berada di depan pemuda itu, sepasang matanya seperti dua bola api yang bernyala. “Engkau sungguh seorang manusia berha­ti iblis! Aku yang dahulu membujuk suhu untuk menolongmu dan mengambilmu sebagai murid! Ternyata engkau lebih rendah daripada seekor binatang! Eagkau telah membunuh ayahku, engkau telah membuntungi lengan kiri tangan kiri paman Sie Liong! Engkau telah menodai a­ku dengan tipu muslihat, kini aku ta­hu! Dan engkau masih begitu keji untuk menodai Ling Ling yang menjadi tawan­an. Coa Bong Gan, kalau aku tidak membunuhmu, aku akan menjadi setan penasaran!”

Kini Bong Gan kelihatan ketakutan sekali. Dia tadi hendak mempergunakan Ling Ling sebagai sandera untuk menyelamatkan diri, akan tetapi tak disangkanya, Ling Ling dengan nekat membunuh diri. Dia menolch ke arah satu-satunya pintu di ruangan itu. Di situ telah berdiri Sie Lan Hong dan Lie Bouw Tek dengan pedang di tangan, siap untuk menghadangnya dan mencegah dia melarikan diri. Dan Pendekar Bongkok yang ditakutinya itu masih menangis sambil mendekap mayat Ling Ling! Kalau saja dia dapat merobohkan sucinya, masih ada harapan baginya untuk menyelamatkan diri selagi Pendekar Bongkok asyik menangisi kematian kekasihnya. Yang ditakuti hanya Pendekar Bongkok. Biarpun dia tahu akan kelihaian sucinya, bagaimanapun juga dia sanggup menandinginya.

“Bi Sian, ingat, engkau sudah menjadi isteriku! Mari kita pergi dari sini, melupakan segalanya dan hidup sebagai suami isteri yang berbahagia berdua....” Dia masih mencoba untuk membujuk, akan tetapi pada saat itu, pedangnya bergerak menusuk ke arah dada Bi Sian. Memang pemuda ini curang sekali, dan amat licik. Dia sengaja bicara untuk membuat Bi Sian lengah dan hampir dia berhasil. Bi Sian yang mendengar ajakannya itu merasa begitu muak sehingga ia menjadi lengah dan ketika Bong Gan menusukkan pedangnya secara tiba-tiba, ia terkejut. Tidak ada kesempatan lagi untuk menangkis dan ia segera melempar diri ke samping untuk menghindar. Akan tetapi ujung pundak, pada pangkal lengan, masih tercium mata pedang yang membuat baju dan kulit di bagian itu terobek dan berdarah.

“Jahanam!” Bi Sian memaki dan kini ia menyerang dengan pedangnya. Demikian marahnya Bi Sian sehingga serangannya amat ganas dan dahsyat. Bong Gan yang sebetulnya jerih itu, menangkis dan balas menyerang. Terjadilah pertandingan pedang yang seru dan mati-matian antara suci dan sute ini, antara dua orang muda yang tadinya akan menjadi suami isteri. Bi Sian menggerakkan pedangnya penuh semangat dan penuh kebencian, dengan nafsu membunuh berko­bar-kobar. Sebaliknya Bong Gan melawan dengan peraaaan gentar dan bingung. Dia mengharapkan dapat bertahan cukup lama agar memberi kesempatan kepada kawan-kawannya untuk datang membantunya.

Bong Gan sama sekali tidak tahu bahwa keadaan Kim Sim Lama dan anak buahnya tidak lebih baik daripada keadaannya. Mereka itu sudah terkepung dan kini Kim Sim Lama bahkan sudah dikeroyok oleh Kong Ka Lama sendiri yang di­bantu banyak pendeta Lama yang berke­pandaian tinggi. Dan anak buah pembe­rontak itupun sudah terhimpit oleh pa­sukan Dalai Lama, banyak yang roboh dan banyak pula yang terpaksa menyerah karena tidak mampu melawan lagi.

Sie Liong telah mampu menguasai dirinya lagi. Dia masih memangku ma­yat Ling Ling, dan kini dia tidak lagi menangis. Dia mengangkat muka meman­dang perkelahian yang terjadi antara Bi Sian dan Bong Gan. Dia merasa iba sekali kepada Bi Sian. Dia tadi mende­ngar pula pengakuan Bi Sian bahwa keponakannya itu telah pula dinodai oleh Bong Gan. Betapa jahatnya pemuda itu. Kalau saja pemuda itu tidak sedang berkelahi mati-matian melawan Bi Sian, tentu dia sudah menerjangnya. Pemuda itu terlampau jahat untuk dibiarkan hidup. Akan terlalu banyak orang yang a­kan menjadi korban kejahatannya. Akan tetapi, dia tidak bergerak untuk mem­bantu Bi Sian. Dia dapat melihat beta­pa pemuda itu tidak akan mampu menga­lahkan Bi Sian. Biarlah, biarlah Bi Sian yang akan menghukumnya. Gadis itu lebih berhak.

Sie Lan Hong yang berdiri di am­bang pintu untuk menghadang larinya Bong Gan, ditemani oleh Lie Bouw Tek, memandang ke arah perkelahian itu de­ngan mata basah dan wajah pucat. Iapun merasa iba kepada puterinya. Puterinya telah ditipu oleh sutenya sendiri yang jahat, bukan hanya puterinya memusuhi Sie Liong yang tidak berdosa, bahkan puterinya telah dinodai pemuda itu yang ternyata adalah pembunuh suami­nya. Ia dapat merasakan betapa pedih hati puterinya. Tadi ia hendak melon­cat dan membantu puterinya, akan teta­pi lengannya dipegang oleh Lie Bouw Tek. Ketika ia menoleh, pendekar Kun­-lun-pai itu menggeleng kepalanya.

“Tingkat kepandaian mereka terlalu tinggi. Berbahaya bagimu dan bagi puterimu sendiri kalau engkau membantu. Kulihat puterimu tidak akan kalah,” demikian kata Lie Bouw Tek. Dia sendiri juga tidak berani membantu karena kalau hal ini dia lakukan, dia bukan memban­tu Bi Sian, sebaliknya malah akan men­jadi penghalang gerakan gadis yang a­mat lihai itu. Namun dia tetap berjaga-jaga dan tentu akan membantu kalau sampai puteri wanita yang dicintainya itu terancam bahaya kekalahan.

Pertempuran antara Bi Sian dan Bong Gan kini sudah mencapai puncaknya. Sudah empat puluh jurus mereka saling serang, dan walaupun Bi Sian selalu berada di pihak yang mendesak, namun Bong Gan masih mampu mempertahankan diri dan belum juga roboh walaupun paha kirinya telah terobek kulitnya, dan juga pangkal lengan kanannya sudah tersayat. Bi Sian sendiri hanya mengalami luka yang pertama tadi, ketika pangkal lengan kirinya robek kulitnya oleh se­rangan pertama yang curang. Kini pe­dang Pek-lian-kiam lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung dan yang menghimpit lawan se­hingga sinar pedang yang dimainkan Bong Gan semakin menyempit. Pemuda itu didesak terus, berputar-putaran di da­lam ruangan yang luas itu. Dia maklum bahwa tidak ada jalan keluar melarikan diri, maka diapun melawan mati-matian dan dengan nekat.

“Haiiiittt....!” Untuk ke sekian kalinya, pedang Pek-lian-kiam yang bergulung-gulung sinarnya itu meluncur dan mencuat ke arah leher Bong Gan, kemudian bertubi-tubi pedang itu menusuk ke arah dada pemuda itu.

Dasar ilmu pedang yang dimainkan Bi Sian adalah ilmu tongkat Ta-kui tung-hoat (Ilmu Tongkat Pemukul Setan) dari Koay Tojin. Dan jurus yang dimainkannya itu adalah jurus yang disebut Menghitung Tulang Iga. Tentu saja Bong Gan juga mengenal jurus ini, dan dia sudah memutar pedangnya untuk melin­dungi bagian dada yang dihujani pedang suci-nya yang ditangkisnya, pada saat itu, Bi Sian menggerakkan tangan kirinya dan dengan jurus pukulan Menghan­curkan Kepala Setan, tangan kiri gadis itu dengan tenaga sepenuhnya menghan­tam ke arah kepala Bong Gan!

“Plakkk!” Biarpun Bong Gan sudah miringkan kepalanya, tetap saja pelipisnya terkena hantaman itu. Dia mengeluarkan jerit mengerikan dan tubuhaya terpelanting. Saat itu, Bi Sian menu­bruk dan melihat ini, Sie Liong berse­ru kaget dan heran.

“Bi Sian, jangan....!”

Namun terlambat, ketika Bi Sian menubruk, Bong Gan yang matanya melo­tot besar itu menusukkan pedangnya.

“Cappp....!” Pedang itu menembus dada Bi Sian dan keduanya lalu roboh terkulai. Bong Gan tewas seketika, dan Bi Sian merintih-rintih.

“Bi Sian....!” Sie Lan Hong lari menubruk puterinya yang tidak merintih lagi, melainkan memandang kepada ibunya.

“Ibu.... maafkan.... aku....”

“Bi Sian.... anakku....!”

Sie Lan Hong menjadi lemas dan ia pun pingsan dalam rangkulan Lie Bouw Tek. Sie Liong juga sudah berlutut di dekat Bi Sian dan kini ia memangku kepala Bi Sian seperti yang dilakukan kepada Ling Ling tadi. Setelah dia memeriksa, diapun menarik napas panjang. Pedang di tangan Bong Gan tadi telah masuk terlalu dalam dan sukar menyelamatkan nyawa gadis itu.

“Bi Sian, kenapa kaulakukan i­tu?” tegur Sie Liong. Dia tahu bahwa gadis itu sengaja membiarkan dadanya ditusuk pedang. Gerakan gadis yang ta­di menubruk merupakan bunuh diri dan dia melihatnya dengan jelas.

“Aku.... untuk apa aku.... hidup lebih lama....? Paman.... kau.... kau mau memaafkan aku....?”

Sie Liong menunduk dan mencium dahi itu. “Tentu saja.... engkau keponakanku tersayang....”

Bi Sian tersenyum walaupun wajahnya pucat sekali. Terlalu banyak darah membanjir keluar dari dadanya. “Paman.... kalau aku hidup.... aku hanya akan menderita siksa batin.... menyesali kebodohanku.... aku.... aku ingin mati.... akan kuceritakan kepada ayah.... engkau tidak membunuhnya, engkau.... engkau pamanku yang baik....”

“Bi Sian....” Sie Liong memeluk dan mendekap kepala keponakannya itu. “Sudahlah.... jangan banyak cakap.... aku memaafkanmu, engkau keponakanku yang baik....”

“Paman, engkau amat mencinta.... Ling Ling....?”

Diingatkan kepada Ling Ling yang menggeletak tak bernyawa di dekat si­tu, Sie Liong menoleh lalu memejamkan mata. Beberapa butir air mata mengaliri kedua pipinya. Dia mengangguk. “Aku.... cinta padanya, Bi Sian. Aku.... aku cinta....”

“Dan.... aku? Kau.... sayang padaku, paman....? Bukan? Kausayang kepadaku....?”

Dalam ucapannya itu terkandung permohonan yang demikian mendalam se­hingga bagi Sie Liong merupakan tusukan pedang yang membuatnya tak dapat menahan tangisnya. Dia mengangguk-angguk saja mengangguk-angguk tanpa mampu menjawab.

“Bi Sian anakku....!” Sie Lan Hong yang baru saja siuman, mengeluh dan menubruk Bi Sian yang masih dirangkul Sie Liong. Wanita ini menangis terisak-isak.

“Ibu.... katakanlah, engkau.... memaafkan aku, ibu. Paman.... paman Liong juga.... sudah memaafkan aku....”

Bi Sian merangkul di antara isak­nya ia berbisik. “Ibu memaafkanmu.... nak....” Dan terdengar Bi Sian melepas napas panjang seperti orang yang merasa lega, akan tetapi itu merupakan nafas terakhir.

“Bi Sian....!” Sie Lan Hong kembali jatuh pingsan.



***



Pertempuran telah selesai. Kim Sim Lama dalam keadaan luka-luka berat menjadi tawanan. Dia akan menjalani hukuman di dalam tempat hukuman khusus di Tibet. Dihukum dan dikeram sampai akhir hidupnya. Dalai Lama sendiri da­tang melayat ketika jenazah Bi Sian dan Ling Ling sudah dimasukkan peti mati dan disembahyangi.

Juga para pendeta Lama datang melayat ketika dua buah peti itu dimakamkan. Setelah semua pendeta Lama yang melayat berpamit dan meninggalkan ta­nah kuburan, yang tinggal di situ ha­nya Sie Liong, Sie Lan Hong dan Lie Bouw Tek.

Mereka masih duduk di atas tanah, di depan kedua makam itu. Mayat para pemberontak yang tewas dalam pertempuran ditanam di sarang mereka yang kini berubah menjadi kuburan yang menyeram­kan. Kini tiga orang itu duduk, tak berani mengeluarkan suara, tidak berani mengganggu keheningan saat itu, sete­lah semua orang yang berlayat pergi. Mereka melamun dalam alam pikiran masing-masing.

Sie Lan Hong melamun dan menge­nangkan semua riwayat hidupnya yang penuh duri. Sejak ia seorang gadis rema­ja, dipaksa menjadi isteri Yauw Sun Kok, sampai melahirkan Bi Sian. Hidupnya hampir tak pernah bahagia. Bahkan akhir-akhir ini hidupnya menderita sengsara. Suaminya kembali ke dalam kehidupannya yang sesat. Kemudian suaminya terbunuh. Puterinya yang tadinya lenyap dan kembali menjadi gadis perkasa, menuduh Sie Liong menjadi pembunuh ayahnya dan gadis itu minggat untuk mencari Sie Liong dan membalas dendam. Betapa ia selalu gelisah dan berduka. Sampai ia berjumpa dengan Lie Bouw Tek dan timbul harapan baru dalam hidupnya. Akan tetapi, perjumpaannya dengan puterinya hanya untuk melihat puterinya tewas! Begitu pahit dan penuh kesengsaraan batin. Akan tetapi, kini ia hidup sebatangkara, dan ada Lie Bouw Tek di sampingnya. Akan datangkah masa baha­gia dalam hidupnya? Ia melirik ke arah pria itu. Lie Bouw Tek juga tengah melamun. Alangkah jantannya pria itu. Dan ia tahu betapa pendekar Kun-lun-pai itu amat menyayang dan mencintanya. Semoga jalan hidupnya di depan akan lancar dan mulus, penuh kebahagiaan untuk menebus masa lalu yang penuh derita.

Lie Bouw Tek juga melamun. Dia juga membayangkan keadaan Sie Lan Hong, janda menarik yang dicintanya. Sungguh malang nasibnya, dan dia merasa semakin sayang karena timbul iba hati terhadap wanita itu. Seorang wanita yang tabah, bertanggung jawab. Seorang wanita yang akan menjadi isteri yang amat baik. Dan sudah terlalu lama ia hidup menyendiri. Dia juga membutuhkan kelembutan seorang wanita, membutuhkan perhatian dan sentuhan cinta kasih seorang wanita. Selama ini dia tidak pernah tertarik kepada wanita, dan baru setelah bertemu Sie Lan Hong, dia bukan hanya tertarik, bahkan jatuh cinta. Pada diri Lan Hong dia menemukan segala syarat bagi seorang calon isteri! Dia ingin membahagiakan hidup wanita itu! Hidupnya kini mempunyai suatu a­rah, suatu tujuan. Ada seseorang yang membutuhkan dirinya! Dia merasa ada gunanya hidup di dunia ini!

Betapa setiap orang manusia sela­lu INGIN menjadi sesuatu, ingin ada artinya, ingin menonjol, ingin diakui keadaan dan kepribadiannya. Betapa seti­ap orang manusia haus akan hal ini. Dari seorang kanak-kanak sampai tua ren­ta, semua membutuhkan perhatian, membutuhkan pengakuan. Semua orang takut a­kan kehilangan arti dirinya, takut un­tuk menjadi sesuatu yang BUKAN APA-APA. Semua orang berlumba untuk menjadi apa-apa, menjadi yang terpenting, terpan­dai, terkuasa, tertinggi, terbesar. Justeru keinginan inilah yang menimbulkan konflik dalam kehidupan, menimbul­kan konflik dan perebutan, persaingan dan permusuhan antara manusia. Justeru keinginan untuk menjadi yang “ter” inilah yang menjauhkan manusia dari Tuhannya. Ingin menjadi sesuatu yang berar­ti ini pekerjaan nafsu daya rendah. Keinginan nafsu daya rendah ini bagaikan air kotor yang memenuhi botol, sehingga air suci tidak dapat memasukinya. Mungkinkah selagi hidup ini tidak ingin menjadi sesuatu yang menonjol, tidak menginginkan sesuatu yang tidak a­da, melainkan menerima apa adanya sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kasih? Mungkinkah membiarkan diri kosong dan bersih sehingga cahaya kekuasaan dan cinta kasih Tuhan dapat memenuhi­nya? Dengan penyerahan diri, menyerah dengan penuh keikhlasan, penuh kesabaran dan penuh ketawakalan? Mungkinkah selagi hidup ini memiliki kerendahan hati yang membuat kita sadar sepenuh­nya bahwa kita ini sesungguhnya “bukan apa-apa”, bahwa yang kita manjakan ini, yang kita namakan “aku” ini hanya­lah segumpal darah daging penuh nafsu daya randah? Mungkinkah membersihkan semua kotoran itu dari jiwa yang ditimbuninya, agar jiwa yang berasal dari Tuhan itu dapat memperoleh kembali hu­bungan kontak dengan Tuhan? Kecerdikan pikiran jelas tidak akan mampu melaku­kan ini, karena pikiran hanyalah alat, alat untuk kehidupan jasmari, dan alat inipun sudah bergelimang nafsu daya rendah!

Sie Liong juga termenung. Selesailah sudah, pikirnya. Habislah sudah. Demikianlah hidup. Semua itu hanya ba­yangan, seperti awan berarak di angka­sa, hanya selewat saja. Segala cita, segala harapan, segala kesenangan, ha­nya selewat. Bukan, bukan itulah hake­kat hidup. Semua yang terjadi itu ha­nyalah permainan nafsu atas badan. A­khirnya, semua itu akan musna, seperti gelembung-gelembung udara dalam air. Apa yang dicarinya dalam hidup ini? Dan apa yang telah diperolehnya selama i­ni? Hanya kepahitan, hanya penderitaan lahir batin. Dia tidak perlu mencari apa-apa. Yang dicari itu semua bukan, hanya khayalan kosong belaka. Bayangan kesenangan hanyalah muka kembar ke dua dari kesusahan, mereka nampaknya bertolak belakang, namun tak terpisahkan.

Apakah dia harus menjadi patah semangat, menjadi mandeg dan mogok, ma­las melanjutkan kehidupan? Tidak, sama sekali tidak! Bahkan dia harus dapat menikmati kehidupan ini, saat demi sa­at. Dia harus hidup sepenuhnya, selengkapnya, seutuhnya. Dia akan berjalan terus dengan tegak dan mantap, tak mengharapkan apa-apa di luar jangkauannya, menikmati setiap langkah hidupnya. ­Apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan, patut disyukuri, tak perlu dike­luhkan. Kehendak Tuhan jadilah! Dia melangkah terus dalam kehidupan, dengan batin sepenuhnya menyerah kepada Tuhan. Kekuasaan Tuhan akan menggantikan hati dan akal pikirannya. Kekuasaan Tuhan yang akan membimbingnya, dan kekuasaan Tuhan yang akan membebaskannya dari pada kekuasaan natsu daya rendah. Kekua­saan Tuhan yang akan membangkitkan jiwanya, sehingga dia akan hidup sebagai seorang manusia yang seutuhnya, bukan sekedar segumpal darah daging yang di­jadikan boneka oleh nafsu daya rendah.

“Sie-taihiap!”

Panggilan itu menariknya kembali dari alam lamunan. Dia monoleh dan me­mandang. Lie Bouw Tek yang memanggil­nya. Dia mengerutkau alisnya, tidak mengenal siapa laki-laki gagah perkasa ini. Dia hanya tahu bahwa pria ini da­tang bersama enci-nya, dan melihat pu­la betapa pria itu akrab dengan enci-nya, bersikap mencinta dan melindungi.

“Maaf, aku belum mengenal siapa toako....” katanya ragu.

Enci-nya menghampirinya, dan duduk di dekatnya, memegang lengan kanannya sambil mengamati pundak kiri yang tak berlengan itu. “Adikku, aku tadi belum sempat minta maaf kapadamu. Maafkan encimu ini yang pernah meragukan kebersihan hatimu, Liong-te. Aku pernah meragukan engkau yang kusangka telah membunuh ayah Bi Sian untuk membalas dendam kematian orang tua kita....”

Sie Liong menarik napas panjang dan seketika manghalau semua kenangan itu. Tidak ada gunanya! “Sudahlah, enci Hong. Tidak perlu kita membicarakan hal yang telah lalu. Bagaimana engkau bisa sampai ke tempat sejauh ini dan siapa pula toako ini?”

Dengan singkat Lan Hong menceritakan tentang penyelidikannya kemudian tentang perjalannya ke Tibet untuk mencari adiknya dan puterinya.

“Dalam perjalanan itu, ketika diserang oleh segerombolan penjahat, Lie-toako ini menyelamatkan aku, Liong-te. Bahkan kemudian Lie-toako mengantar aku sampai ke Lasha dan membantuku untuk mencari engkau dan Bi Sian. Lie-toako mewakili Kun-lun-pai untuk melakukan penyelidikan mengapa Tibet Ngo-houw memusuhi Kun-lun-pai dan selanjutnya kita bertemu di sini.”

Sie Liong mengangguk-angguk, tidak tertarik lagi akan cerita mesa la­lu yang hanya terisi banyak kenangan yang menyedihkan hatinya. Dia lalu bangkit dan memberi hormat kepada Lie Bouw Tek sambil berkata, “Kalau begitu terimalah hormatku dan terima kasihku bahwa engkau telah menolong enciku, Lie-toako.”

“Ah, jangan sungkan, taihiap. Sebagai seorang pendekar besar tentu engkau tahu bahwa tidak ada pertolongan, yang ada hanyalah pelaksanaan tugas menentang kejahatan dan membantu yang menjadi korban kejahatan.”

“Lie-toako, setelah apa yang kau­lakukan kepada enciku, harap jangan lagi menyebut taihiap kepadaku. Namaku Sie Liong.”

“Baiklah, adik Liong, dan terina kasih atas keramahanmu. Kalau boleh aku bertanya, setelah semua peristiwa ini lewat, engkau lalu hendak pergi ke manakah?”

“Liong-te, mari kita pulang saja ke timur. Sudah terlalu lama kita enci dan adik berpisah, dan terlalu banyak kita berdua menderita kesengsaraan. Sudah tiba waktunya bagi kita berdua untuk hidup bersama dengan bahagia, adikku,” Kata pula Sie Lan Hong dengan suara lembut membujuk.

Akan tetapi Sie Liong menggeleng kepala dan manghela napas panjang.

“Maafkan aku, enci. Akan tetapi, aku ingin bebas. Aku ingin manuruti suara hatiku, aku ingin mengikuti gerak langkahku, aku pasrah kepada Tuhan ke manapun aku akan dibimbing.”

“Akan tetapi, adikku. Aku ingin berdekatan denganmu. Aku ingin mencurahkan kasih sayangku sebagai enci-mu, ingin menghiburmu....”

Sie Liong tersenyum, bukan senyum bahkan wajahnya nampak cerah. “Pandanglah aku, enci. Apakah aku membutuhkan hiburan? Semua telah terjadi dan aku tidak merasa menyesal. Kehen­dak Tuhan terjadilah! Aku tidak tahu mengapa semua ini terjadi kepadaku, a­kan tetapi Tuhan sudah menghendaki de­mikian dan aku hanya dapat menerima, penuh keikhlasan dan ketawakalan. Enci Lan Hong, aku tidak khawatir meninggalkan engkau, karena aku melihat bahwa ada seorang yang patut kausayangi, kauhormati, dan kauharapkan perlindungan­nya.” Sie Liong menatap wajah Lie Bouw Tek yang menjadi kemerahan. Pendekar Kun-lun-pai ini tersenyum malu-malu, lalu menarik napas panjang dan diapun kini menatap wajah Sie Liong dengan sinar mata jujur.

“Liong-te, sungguh aku kagum sekali. Engkau selain memiliki ilmu yang amat hebat, juga memiliki kewaspadaan. Baiklah, aku ingin berterus terang saja. Tepat seperti yang agak­nya telah dapat kauduga, aku jatuh cinta kepada enci-mu. Dan mengingat bahwa ia tidak memiliki anggauta keluarga lainnya, maka aku ingin menggunakan ke­sempatan terakhir ini untuk minta per­setujuanmu. Setujukah engkau jika aku melamar adik Sie Lan Hong menjadi isteriku?”

Sie Liong tersenyum gembira dan diam-diam dia semakin suka dan kagum kepada Lie Bouw Tek. Seorang laki-laki yang jantan. Seorang pendekar yang ga­gah perkasa dan jujur. Cepat dia memberi hormat kepada pendekar itu.

“Lie-toako, aku akan merasa berbahagia sekali kalau engkau menjadi cihu-ku (kakak iparku). Tentu saja aku merasa setuju sepenuhnya. Akan tetapi, se­mua keputusan kuserahkan kepada enci Lan Hong. Harap engkau ajukan sendiri lamaranmu kepada enci Lan Hong.”

Biarpun dia merasa rikuh bukan main, namun sebagai seorang laki-laki yang gagah dan jujur, Lie Bouw Tek lalu menghadapi Lan Hong yang sejak tadi menundukkan mukanya yang menjadi keme­rahan.

“Hong-moi, engkau sudah mendengar sendiri percakapan antara aku dan adikmu. Nah, biar aku mempergunakan kesem­patan ini, disaksikan oleh adikmu, un­tuk mengajukan pinangan kepadamu. Hong-moi, sudikah engkau menjadi isteriku?”

Kepala itu semakin menunduk, dan muka itu menjadi semakin kemerahan. Kemudian, ia mengangkat muka, memandang sedetik kepada Lie Bouw Tek, lalu ia menoleh kepada Sie Liong. Akhirnya, wanita itu lari dan menubruk Sie Liong sambil menangis!

Sie Liong merangkul dan menepuk-nepuk pundak encinya, tanpa bicara. Dia membiarkan encinya menangis di pundaknya, pencurahan dari semua keharuan dari hati encinya. Setelah tangis itu mereda, dia berbisik dekat telinga en­cinya.

“Enci Hong, aku percaya bahwa sekali ini engkau tidak salah pilih. Ki­onghi (selamat), enciku yang baik.”

Lan Hong mengusap air matanya. “Liong-te, marilah engkau ikut bersama kami, hidup berbahagia bersama kami...” Biarpun Lan Hong belum menjawab lamar­an Lie Bouw Tek, namun ucapan “hidup bersama kami” itu saja sudah merupakan jawaban yang jelas.

Dengan lembut Sie Liong melepas­kan rangkulan encinya. “Terima kasih, enci Hong. Aku harus melanjutkan per­jalanan hidupku. Kuharap kalian dapat mengerti. Biarlah aku menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepa­da kalian. Semoga Tuhan selalu memberi berkah dan bimbingan kepada kalian. Cihu (kakak ipar), harap jaga baik-baik enciku yang kusayang ini, Enci Hong, selamat tinggal. Aku harus pergi seka­rang.”

“Liong-te....!” Lan Hong berseru akan tetapi ia dan Bouw Tek hanya melihat bayangan berkelebat dan Pendekar Bongkok sudah lenyap dari depan mereka.

“Liong-te....!” Lan Hong berseru dengan isak, dan Bouw Tek sudah merangkul pundaknya.

“Sudahlah, Hong-moi. Biarkan dia menikmati kebebasannya dan jangan memberati dia dengan tangis. Mari, mari kita menyongsong hidup baru. Engkaupun berhak untuk menikmati kebahagiaan hi­dup, Hong-moi, bersamaku.”

Mereka lalu perlahan-lahan melangkah pergi meninggalkan kuburan itu. Masa depan mereka terbentang luas di ma­na mereka dapat hidup berbahagia sete­lah masa lalu yang suram mereka lewati.

Pemberontakan yang dipimpin Kim Sim Lama itupun habis riwayatnya. Kim Sim Lama ditawan dan menjalani hukuman. Semua pembantunya, termasuk pula Pek Lan, tewas dalam pertempuran melawan para pendeta Lama dan pasukan pengi­kut Dalai Lama. Juga pasukan Dalai La­ma menyerang dan memukul mundur pasu­kan pemberontak Nepal yang dipimpin Pangeran Maranta Sing dan mengusir mere­ka dari daerah Tibet. Daerah Tibet seluruhnya menjadi aman dan rakyat mulai dapat hidup tenteram.

Di lembah bukit-bukit yang sunyi, berjalanlah Pendekar Bongkok Sie Liong seorang diri. Keheningan menyelimuti seluruh alam di sekitarnya, namun Sie Liong tidak merasa kesepian. Hening a­kan tetapi tidak kesepian. Dia merasa menyatu dengan alam sekitarnya. Kekua­saan Tuhan berada di mana-mana, di da­lam dan di luar dirinya sehingga dia tidak merasa terpisah, tidak merasa kesepian.

Nama Pendekar Bongkok kemudian dikenal di seluruh dunia persilatan, wa­laupun jarang ada yang pernah bertemu dengan dia. Hal ini adalah karena Pen­dekar Bongkok tidak pernah mau kembali ke selatan. Dia merantau di sepanjang gurun Gobi dan di manapun dia berada, dia selalu menentang kejahatan, membe­la yang benar dan lemah. Para pedagang dan mereka yang melakukan perjalanan di daerah Gobi, yang pernah mendapat­kan pertolongan Pendekar Bongkok keti­ka mereka mengalami marabahaya, ketika mereka diancam gerombolan perampok, mereka itulah yang mengabarkan nama be­sar Pendekar Bongkok di dunia kang-ouw di selatan. Namun Pendekar Bongkok sendiri tidak pernah mau meninggalkan Gu­run Gobi, bahkan dia tidak pernah mau memperkenalkan diri atau namanya se­hingga orang-orang yang tidak mau mem­pergunakan julukan ejekan Pendekar Bongkok itu lalu menyebutnya Gobi Bu-beng Lojin (Orang Tua Tanpa Nama dari Gobi).

Sie Liong memang maklum sepenuhnya akan keadaan dirinya. Dia bukan saja bongkok, akan tetapi juga lengan kirinya buntung. Orang tapadaksa seperti dia hanya akan menerima ejekan dan penghinaan saja di dunia ramai. Juga dia tidak lagi mengharapkan kasih sa­yang wanita, karena dia maklum sepenuhnya bahwa cinta antara pria dan wanita adalah cinta nafsu, cinta berahi yang selalu menuntut keindahan rupa, daya tarik lahiriah. Dan untuk itu, dia su­dah tidak mempunyai daya tarik sama sekali. Tidak mudah menemukan seorang wanita seperti Ling Ling, atau seperti Bi Sian, yang tidak begitu terpengaruh oleh keindahan rupa. Tidak, dia tidak akan melibatkan diri dengan seorang wanita! Tentu saja lain halnya kalau me­mang Tuhan menghendaki lain. Dia hanya pasrah.

Hanya kalau nafsu daya rendah yang membentuk si-aku tidak lagi menguasai diri, hanya kalau hati dan akal pikir­an tidak lagi bersimaharajalela, jiwa akan mendapatkan kembali kontaknya dangan kekuasaan Tuhan! Dan kalau sudah begitu, kekuasaan Tuban akan bekerja dalam diri. Keadaan seperti ini tidak mungkin dapat ditimbulkan karena usaha pikiran, karena pikiran adalah si-aku, yang lapuk, si-aku yang mengaku-aku. Hanya dengan melenyapkan diri yang me­ngaku-aku, merendahkan dan mengecilkan diri, hanya dengan pasrah yang tulus ikhlas, maka diri lahir batin akan dibersihkan oleh kekuasaan Tuhan, kemudian kekuasaan Tuhan akan bersemayam, membangkitkan jiwa. Hanya kalau sudah demikian, maka kita dapat htdup seutuhnya, bebas daripada cengkeraman nafsu daya rendah yang telah kembali kepada kedudukan dan tugasnya semula, yaitu menjadi alat dan pelayan.

Demikianlah, kisah ini ditutup dengan harapan pengarang, semoga ada suatu manfaat yang dapat dipetik, dan semoga Tuhan memberkahi dan membimbing kita sekalian. Sampai jumpa di lain kisah.