Selasa, 05 Februari 2013

MUTIARA HITAM 2


Tentu saja Hauw Lam menjadi marah dan mendongkol sekali. Akan tetapi Kwi Lan lebih marah lagi. Tadinya ia tidak mengerti apa artinya ucapan mereka, akan tetapi karena mereka bertujuh se­mua memandang kepadanya dan menuding-nudingkan telunjuk ke arahnya, tahulah ia bahwa dia sesungguhnya yang disebut kuda betina putih kuning! Ia disamakan dengan kuda! Keparat! Bagaikan seekor harimau ia meloncat bangun, kedua ta­ngannya bergerak dan melesatlah sinar hijau dari kedua tangannya menyambar ke arah muka tujuh orang itu.

Seketika lenyap suara ketawa mereka, terganti suara jeritan dan mereka ber­tujuh terguling roboh dari atas kuda! Namun dengan gerakan yang amat ce­katan mereka bertujuh sudah meloncat bangun lagi dan ramailah mereka berkata-kata dalam bahasa yang tidak dimengerti Hauw Lam maupun Kwi Lan. Kini Hauw Lam yang melongo dan memandang me­reka dengan muka terheran-heran. Kira­nya sinar kehijauan yang melesat dari kedua tangan Mutiara Hitam tadi adalah rumput-rumput yang tadi dicabutinya sam­bil duduk di atas akar pohon. Dalam ke­marahannya gadis itu telah menyerang tujuh orang Khitan dengan rumput-rum­put itu. Biarpun hanya rumput hijau, namun di tangan dara perkasa ini beru­bah menjadi senjata rahasia yang amat ampuh dan menggiriskan hati. Batang­-batang rumput itu meluncur melebihi anak panah cepatnya dan tak terhindarkan lagi oleh tujuh orang Khitan itu. Tahu-tahu muka mereka telah terkena rumput yang menempel pada kulit muka mereka, menimbulkan rasa perih dan pedas, se­dangkan tadi ketika rumput-rumput itu menyerang, mereka terdorong oleh angin pukulan yang membuat mereka terjungkal dari atas kuda. Kini mereka berdiri dan berusaha melepaskan rumput-rumput yang menempel muka mereka.

Aneh bin ajaib! Sampai meringis-ringis mereka berusaha mengambil rumput yang menempel di kulit muka. Sia-sia belaka! Rumput-rumput itu menempel seakan­-akan diberi lem perekat ajaib, seakan-akan telah tumbuh menjadi satu dengan kulit. Seorang di antara mereka agak menggunakan kekerasan untuk mengupas rumput, akan tetapi kulit pipinya ikut terkelupas, nyeri dan perih bukan main dan darah menetes-netes! Mereka ter­heran-heran dan juga kesakitan, terutama sekali rasa jerih membuat wajah mereka pucat. Bagi Hauw Lam, penglihatan itu amatlah lucu. Melihat mereka berusaha mengupas rumput dari muka meringis-ringis kesakitan, melihat betapa rumput itu merupakan pleister-pleister hijau “menghias” muka, apalagi orang yang tadi menghina Mutiara Hitam, rumput melintang di atas kulit hidungnya se­hingga wajahnya tampak lucu sekali, membuat Hauw Lam tak dapat menahan ketawanya.

“Hua-ha-ha-ha! Lucu sekali....! Lucu sekali....! Muka kalian bertujuh ditambal-tambal seperti badut dan delapan ekor kuda ini begini bagus. Tentu kalian hen­dak main komidi kuda, ya? Bagus...., bagus....!” Hauw Lam bertepuk-tepuk ta­ngan dan berjingkrak-jingkrak, membuat tujuh orang itu mendongkol bukan main. Akan tetapi karena mereka dapat men­duga bahwa dua orang muda-mudi itu tentu bukan orang sembarangan, mereka tidak mau lagi meladeni dengan kata­-kata. Serentak tangan mereka bergerak dan tujuh orang itu sudah mencabut golok masing-masing lalu mengurung dengan sikap mengancam.

“Aih.... aih.... kalian masih belum kapok? Kalau tadi Nona muda kalian ini menghendaki nyawa kalian, apakah kalian tidak menjadi bangkai?” Hauw Lam ber­seru sambil melangkah maju, kemudian menoleh kepada Kwi Lan. “Biarlah aku yang kini menikmati permainan dengan mereka!”

Kwi Lan diam saja, sikapnya tidakacuh. Ia tidak memandang mata kepada tujuh orang itu, akan tetapi mengingat bahwa mereka adalah orang-orang Khitan, rakyat dari ibu kandungnya, ia tadi tidak mau membunuh mereka. Kini ia hendak menyaksikan sampai di mana kepandaian Berandal, karena dari gerak-gerik tujuh orang itu ia dapat menduga bahwa mereka memiliki ilmu silat yang tinggi juga.

“Mengalahkan mereka tanpa membu­nuh barulah hebat,” Kwi Lan sengaja berkata, nada suaranya mengejek, pada­hal di dalam hati ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda berandalan itu mem­bunuh rakyat ibu kandungnya.

“Oho, mudah saja, kaulihat!” Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian membusungkan perutnya ke depan, menantang.

“Hayo kalian maju, tunggu apalagi? Bukankah golok kalian sudah terhunus? Di sini tidak ada babi untuk ditusuk perutnya, tidak ada kambing untuk di­sembelih lehernya. Nih perutku, boleh kalian tusuk, atau leher nih, boleh pilih!” Ia menantang dengan cara mengejek sekali, meramkan kedua mata, mengulur leher membusungkan perut dan menaruh kedua tangan di punggung! Diam-diam Kwi Lan geli menyaksikan sikap ini, juga merasa betapa sikap ini keterlaluan dan berbahaya. Coba dia yang ditantang se­cara itu, tentu sekali bergerak akan dapat merobohkan pemuda ugal-ugalan itu.

Agaknya tujuh orang yang sudah amat marah itupun berpikir demikian. Mereka tadi sudah marah dan penasaran sekali, merasa mengalami penghinaan yang luar biasa maka kini menyaksikan sikap dan tantangan Hauw Lam, mereka sampai tak dapat mengeluarkan kata-kata saking marahnya. Tujuh orang Ini bukan orang sembarangan, merupakan jagoan-jagoan yang berkepandaian tinggi, bagaimana sekarang menghadapi dua orang bocah saja mereka tidak berdaya dan sampai mengalami hinaan? Kini melihat sikap Hauw Lam, mereka serentak menerjang untuk membalas penghinaan yang mereka alami.

“Cring-cring-trang-traaanggg....!” Tujuh batang golok yang menerjang dalam detik bersamaan dengan sebuah saja sasaran, tentu saja tak dapat terhindar lagi saling beradu ketika sasarannya tiba­-tiba lenyap dari tempatnya. Cepat me­reka meloncat dan membalikkan tubuh. Kiranya pemuda ugal-ugalan itu sudah berada di belakang mereka dan kembali pemuda itu mengulur leher membusung­kan perut, akan tetapi sekarang tangan­nya memegang sebatang golok pula, golok yang pendek dan lebar seperti golok tukang babi! Akan tetapi melihat sinar putih bersinar dari mata golok, dapat diduga bahwa golok buruk bentuk­nya itu ternyata terbuat daripada logam yang ampuh dan terpilih.

“Hayo tusuk lagi, bacok lagi, kenapa ragu-ragu? Perut dan leherku sudah gatal-gatal nih!” Hauw Lam mengejek, menggoyang-goyangkan perutnya yang sengaja ia busungkan ke depan.

Kemarahan tujuh orang Khitan itu memuncak. Sambil memaki-maki dalam bahasa sendiri kembali mereka menerjang maju, melakukan serangan dahsyat penuh kemarahan. Kali ini tampak sinar putih yang amat lebar menyilaukan mata ber­gulung-gulung menyambut mereka.

Terdengar suara nyaring beradunya senjata diikuti tujuh batang golok ter­lempar dalam keadaan patah menjadi dua, disusul pekik tujuh orang itu dan memberebetnya kain robek. Dalam se­kejap mata saja tujuh orang itu tida hanya kehilangan golok, akan tetapi juga baju mereka robek dari leher sampai ke perut! Wajah mereka kini menjadi pucat sekali karena mereka maklum bahwa kalau pemuda itu menghendaki, dalam segebrakan saja tadi tentu mereka akan terobek perut mereka!

Si Gigi Ompong lalu menjura dan berkata, “Kami telah kesalahan terhadap Taihiap, mohon maaf, mengingat bahwa kami jauh dari utara hendak mengunjungi Thian-liong-pang.”

Hauw Lam tertawa akan tetapi se­belum ia menjawab, Kwi Lan melompat maju dan menghardik, “Masih banyak cakap lagi? Kalian ini orang-orang Khi­tan yang tidak baik! Lekas pergi dan tinggalkan kuda hitam!”

Si Gigi Ompong kaget bukan main dan dengan suara gemetar ia menter­jemahkan ucapan ini. Kawan-kawannya juga nampak kaget dan memprotes. Si Gigi Ompong kini menghadapi Kwi Lan dan berkata,

“Tidak mungkin, Nona! Kuda hitam ini adalah persembahan kepada kami untuk dihadiahkan kepada ketua Thian-liong-pang sebagai tanda persahabatan. Bagai­mana kami berani meninggalkannya di sini? Hal ini berarti akan hilangnya nya­wa kami sebagai penggantinya!”

“Huh! Siapa peduli nyawa anjing ka­lian? Katakan saja kepada Ratumu bah­wa yang mengambil kuda hitam adalah Mutiara Hitam. Habis perkara!”

Kini Hauw Lam mendengarkan dengan mulut ternganga. Dara itu terlalu lan­cang, terlalu berani. Tadi berani meng­hina dan memandang rendah Bu-tek Siu­-lam, kini malah berani menantang Ratu Khitan yang selain terkenal sebagai ratu, juga terkenal memiliki ilmu kesaktian hebat dan mempunyai banyak anak buah yang berilmu tinggi! Apakah yang di­andalkan dara ini maka bersikap sede­mikian angkuh dan berani menghina orang-orang golongan atas? Kepandaian­nya memang hebat dan melihat cara melempar rumput yang sampai kini menem­pel di muka ketujuh orang Khitan itu, terbukti akan kelihaiannya. Akan tetapi belum tampak ilmu silatnya dan ia me­rasa ragu-ragu apakah dara semuda ini akan mampu menandingi tokoh-tokoh besar itu?

Akan tetapi mendengar ucapan gadis yang memandang rendah Ratu Khitan, tujuh orang itu tidak menjadi marah setelah Si Ompbng menterjemahkannya, bahkan nampak heran dan girang. Si Ompong lalu berkata sambil menjura, “Aha, kiranya masih sepaham! Nona yang gagah perkasa, ketahuilah bahwa kami adalah anak buah Pak-sin-ong....”

“Tidak peduli siapa itu Pak-sin-ong!” bentak Kwi Lan tidak sabar lagi. Akan tetapi Hauw Lam sudah menjadi kaget sekali dan bertanya,

“Apa? Kalian ini anak buah Jin-cam Khoa-ong (Raja Algojo Manusia) yang juga disebut Pak-sin-ong (Raja Sakti dari Utara)?”

Si Ompong berseri wajahnya, akan tetapi jadi menyeringai buruk karena wajahnya masih pucat dan masih ter­tempel rumput. “Betul...., betul....! Nona, agaknya Nona belum mengenal nama besar Tai-ong kami yang juga memusuhi Ratu Khitan dan....”

“Bedebah....!” Bentakan ini keluar dari mulut Kwi Lan, disusul berkelebatnya sinar kehijauan dan terciumlah bau yang harum. Akan tetapi tujuh orang Khitan itu menjerit, darah muncrat dan di lain saat Kwi Lan sudah berdiri tegak kem­bali, sikapnya keren dan mulutnya membentak,

“Lekas pergi dari sini!”

Hauw Lam melongo. Sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu saja ia dapat melihat gerakan gadis itu yang luar biasacepatnya. Ia melihat betapa gadis itu mencabut se­batang pedang yang sinarnya kehijauan dan mengeluarkan ganda harum semerbak, melihat pula betapa dengan gerakan yang amat aneh, dahsyat dan secepat kilat pedang di tangan gadis berkelebat dan dengan persis membabat putus te­linga kanan ketujuh orang Khitan itu sebelum mereka mampu mengelak atau melawan! Melihat pula betapa dengan gerakan yang masih sama cepatnya gadis itu telah menyimpan kembali pedangnya sebelum darah yang muncrat dari pinggir kepala tujuh orang itu menyentuh tanah. Sebuah gerakan yang luar biasa sekali, yang aneh, dahsyat akan tetapi juga ganas dan kejam!

Tujuh orang Khitan yang tadinya ke­girangan karena mengira bahwa mereka itu sefihak dengan nona ini dalam hal memusuhi Ratu Khitan, tentu saja men­jadi kaget dan kesakitan. Sambil menu­tupi telinga kanan yang sudah tak ber­daun lagi, mereka memandang dengan wajah pucat dan mata terbelalak, sejenak lupa akan rasa perih dan nyeri pada telinganya.

“Kami telah menerima pengajaran,” kata Si Ompong sambil meringis, “harap Nona suka memberitahukan nama agar tidak mudah kami melupakannya....“

“Eh-eh, masih banyak tingkah lagi?” Hauw Lam yang khawatir kalau-kalau nona itu makin marah dan membunuh mereka, memotong. “Dia ini bernama Mutiara Hitam, apakah kalian buta? Dan aku adalah Berandal. Hayo pergi dan jangan membuka mulut busuk lagi!”

Tujuh orang Khitan itu melompat ke atas kuda, sekali lagi mereka menoleh dengan pandang mata penuh kebencian dan sakit hati, kemudian membalapkan kuda mereka pergi dari tempat itu. Kuda hitam ditinggalkan begitu saja dan kuda ini kelihatan tenang makan rumput, ken­dalinya terlepas dan terseret di atas tanah.

Hauw Lam cepat mengambil kendali itu dan kini kuda itu diam saja ketika ditepuk-tepuk lehernya. Agaknya kuda itu tahu bahwa siapa yang memegang kendali adalah majikannya. “Kuda bagus, kuda hebat....!” Hauw Lam menepuk-nepuknya dan membawanya dekat kepada Kwi Lan.

“Pilihanmu tepat, Mutiara Hitam. Julukanmu Hitam maka tepatlah kalau kau menunggang kuda hitam ini.”

“Siapa yang menginginkan kuda? Aku hanya minta kuda ini agar ada alasan mengunjungi Thian-liong-pang.

“Apa? Bagaimana maksudmu?”

Kwi Lan tersenyum mengejek. “Bo­doh! Kalau kita datang ke sana dan membawa kuda ini sebagai barang sumbangan, bukankah namanya sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat? Maksud Si Raja Algojo yang kau sebut-sebut itu mempersembahkan kuda kepada Thian­-liong-pang tak berhasil, berarti dia sudah kalah satu nol melawan kita. Ke dua, dengan hadiah ini, masa kita tidak akan diterima sebagai tamu agung oleh Thian­-liong-pang?”

Hauw Lam membelalakkan matanya kemudian berjingkrak dan bertepuk ta­ngan, “Wah, bagus! Kau ternyata pintar sekali. Tapi sesungguhnya sayang kalau kuda sebaik ini dilepaskan kembali ke­pada orang lain.”

“Hal ini dapat diputuskan nanti. Kalau kulihat Thian-liong-pang tidak berharga memiliki kuda in!, bisa saja kita ambil kembali.”

Diam-diam Hauw Lam merasa kha­watir. Gadis ini memang harus diakui memiliki ilmu kepandaian hebat. Akan tetapi terlalu ceroboh, terlalu sembrono dan terlalu memandang rendah orang lain.

“Ahh, Mutiara Hitam. Engkau benar-benar belum banyak mengenal orang! Engkau tidak tahu siapa dia.Jin-cam Khoa-ong.”

“Siapa sih Algojo itu?”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan tokoh menyeramkan itu, akan tetapi sepanjang pendengaranku, dia tidak kalah terkenalnya daripada, Bu-tek Siu-lam sendiri! Kabarnya dia datang dari daerah Mongol, paling suka membunuh orang. Semua orang yang pernah bentrok dengan dia tidak akan dapat keluar hidup-hidup, semua itu, betapapun gagahnya, tewas di bawah senjatanya yang mengeri­kan, yaitu berbentuk gergaji berkait. Dia mengangkat diri dengan sebutan Pak-sin-ong untuk memperkenalkan asalnya dari utara, akan tetapi karena kekejamannya yang melewati batas, di dunia kang­ouw dia dijuluki orang Jin-cam Khoa-ong si Raja Algojo Manusia!”

“Huh, makin besar julukannya, makin kosong melompong! Aku tidak takut!”

“Dan Thian-liong-pang sungguh tidak boleh dibuat permainan! Bahkan kini me­rupakan perkumpulan yang paling besar, paling berpengaruh dan paling banyak ang­gautanya untuk golongan hitam. Karena itulah, para tokoh golongan hitam yang tidak mempunyai perkumpulan besar, masih memandang kepada Thian-liong­pang....“

"Sudahlah! Kalau engkau takut, tidak perlu kau banyak mengoceh lagi. Aku pun tidak mengajak engkau. Kaukira aku takut untuk pergi sendiri? Sambil ber­kata demikian, Kwi Lan menyambar kendali kuda dari tangan Hauw Lam, lalu pergi menuntun kuda hitam itu mening­galkan Hauw Lam yang berdiri melongo. Akan tetapi karena selama hidupnya Kwi Lan belum pernah mempunyai kuda, apa­lagi menunggang kuda, ia canggung sekali dan kuda hitam itu agaknya juga dapat merasakan hal ini. Kuda itu mulai meronta dan mogok jalan. Kwi Lan me­narik-narik kendali kuda sambil mem­bentak,

"Kau juga hendak mogok? Kuda si­alan! Kupenggal lehermu nanti, kubawa bangkaimu ke Thian-liong-pang, hendak kulihat apakah kau berani mogok lagi!"

"Wah-wah-wah...., kenapa kau begini galak, Mutiara Hitam? Apa kau marah kepadaku? Aku sama sekali tidak takut, hanya aku heran menyaksikan keberanian­mu menentang semua tokoh-tokoh besar. Mari, biarlah kita pergi bersama. Dan kuda itu.... kenapa repot-repot amat? Lebih baik kautunggangi dia, kan enak?"

Watak Kwi Lan memang aneh, agak­nya ia tiru dari Sian Eng. Ia keras sekali kalau perlu, akan tetapi bisa juga men­jadi lunak, bisa gembira dan jenaka, akan tetapi tidak pernah mengenal duka mau­pun takut. Melihat pemuda itu mengham­piri dan wajahnya sungguh-sungguh, ia tersenyum. "Aku belum pernah menung­gang kuda!" katanya.

Kembali Hauw Lam terheran. Seorang gadis yang begini tinggi ilmunya, belum pernah menunggang kuda? Benar-benar luar biasa sekali ini. "Belum pernah? Kalau begitu berbahaya, dong. Kau harus belajar dulu. Seekor kuda yang baik selalu akan memberontak kalau ditunggangi orang yang takut-takut me­nunggang kuda."

"Aku memang belum pernah menung­gang kuda, akan tetapi siapa bilang aku takut? Kaulihat saja!" Sekali menggerak­kan tubuhnya, Kwi Lan sudah meloncat dan duduk di atas punggung kuda, dengan kedua kaki di samping kiri perut kuda itu. Canggung dan kaku sekali. Benar saja, kuda hitam itu tidak memberontak, karena kuda itu hanya memberontak apabila yang menunggangnya takut-takut, sedangkan Kwi Lan tidak takut.

"Ah, keliru kalau begitu menunggang­nya. Mana bisa tahan lama kalau kuda itu membalap?"

"Siapa bilang tidak bisa? Kaulihat!" Kwi Lan menarik kendali kuda dan kuda hitam itu meloncat ke depan lalu lari cepat. Kwi Lan terangkat-angkat dari atas punggung kuda dan karena duduknya miring, maka hampir saja ia jatuh. Cepat ia berseru keras dan tubuhnya sudah meloncat ke atas kemudian turun di atas punggung kuda dalam keadaan berdiri!

Hauw Lam sudah mengejar dan me­megang kendali kuda, mengeluarkan suara menyuruh berhenti. Setelah kuda berhenti, ia menggeleng-geleng kepala. "Wah-wah, memang kau hebat sekali, Mutiara Hitam. Akan tetapi mana ada di dunia ini orang naik kuda dengan berdiri di atas punggungnya? Engkau akan menjadi tontonan orang di sepanjang jalan, dan juga keadaan itu amat melelahkan. Be­ginilah cara menunggang kuda. Lihat, kuberi contohnya!"

Karena memang Kwi Lan seorang yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka pelajaran menunggang kuda ini dapat ia kuasai sebentar saja. Ber­angkatlah kedua orang muda itu melaku­kan perjalanan menuju Yen-an. Kwi Lan menunggang kuda sedangkan Hauw Lam berjalan kaki sambil meniup sulingnya. Kadang-kadang Kwi Lan yang meloncat turun dan berjalan kaki, menyuruh pe­muda itu berganti menunggang kuda. Kalau Hauw Lam menolak, ia tentu akan marah. Begitu pula, kadang-kadang gadis yang berhati polos itu menyuruh Hauw Lam duduk di belakangnya di atas pung­gung kuda. Hauw Lam juga menuruti kehendaknya sehingga dalam waktu bebe­rapa hari saja melakukan perjalanan, keduanya telah menjadi sahabat yang amat akrab dan diam_ diam Kwi Lan makin merasa cocok dan suka kepada putera bibi pengasuhnya ini.

***

Kota Yen-an terletak di kaki Pegunungan Lu-liang-san sebelah barat, di Propinsi Shen-si. Kota ini cukup besar dan ramai dan dahulu merupakan daerah Kerajaan Hou-han yang kini sudah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung dan menjadi wilayah Kerajaan Sung.

Kerajaan Hou-han dahulu terkenal sebagai kerajaan yang kecil tapi amat kuat. Terutama sekali ketika seorang di antara panglima perangnya adalah mendiang Jenderal Kam Si Ek yang amat pandai mengatur siasat perang. Setelah jenderal ini mengundurkan diri keadaan kerajaan mengalami kemunduran pula. Akan tetapi keadaannya masih amat kuat karena beberapa tahun kemudian di dalam istana kerajaan terdapat Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian, seorang wanita sakti yang menjadi "tante girang" di dalam istana mengumbar nafsu dengan para pangeran dan para panglima muda yang tampan, Di samping Tok-siauw-kwi (ibu kandung Suling Emas) ini terdapat pula selir raja yang juga amat lihai, yang kemudian berjuluk, Siang-mou Sin-ni Coa Kim Bwee. Akan tetapi semenjak kedua orang wanita sakti ini tidak ada kerajaan makin mundur dan akhirnya penyerbuan bala tentara Kerajaan Sung menjatuhkan kerajaan kecil ini.

Tokoh-tokoh yang dikalahkan biasanya kalau tidak dipakai lagi tenaganya lalu berkumpul dan merupakan kelompok yang menentang si Pemenang secara diam-diam. Demiklan pula keadaan di bekas Kerajaan Hou-han ini. Orang-­orang yang memiliki ilmu kepandaian lalu mengadakan persatuan dan bersembunyi di balik papan nama perkumpulan menjadi golongan dunia hitam yang diam-diam mencari kesempatan untuk melawan atau setidaknya merongrong pemerintahan yang tak disukainya. Di antara perkumpulan-perkumpulan semacam itu, Thian-liong-pang merupakan perkumpulan terbesar, bahkan boleh dibilang menjadi semacam induk perkumpulan. Hal ini adalah karena bekas para panglima dan tokoh Kerajaan Hou­-han banyak yang menggabungkan diri dalam perkumpulan ini. Namun karena kesempatan untuk melawan pemerintahan Sung tidak ada, apalagi setelah para panglima yang benar-benar berjiwa pa­triotik meninggal dunia, jiwa perkumpul­an Thian-liong-pang mengalami perubahan hebat. Dasar yang semula patriotik tadi­nya terdorong setia kepada kerajaan berubah, berubah menjadi dasar dunia hitam, dan tujuan yang menyeleweng jauh terdorong oleh nafsu angkara murka untuk menguasai dunia, harta benda, nama besar dan kemenangan mengandal­kan kekuatan.

Sisa para panglima Hou-han melihat ini sebanyak yang mengundurkan diri dan hidup bersunyi di dusun-dusun dan pegunungan menanti maut datang menjemput. Semenjak Thian-liong-pang seluruhnya dikuasai oleh tokoh-tokoh dunia hitam. Yang menjadi Ketua Thian­-liong-pang adalah seorang bekas pendeta yang berjuluk Sin-seng Losu (Kakek Bintang Sakti). Pendeta yang berasal dari barat ini selain sakti, juga amat terkenal di dunia hitam dan biarpun jahat, namun ternyata ia pandai memimpin sehingga di bawah asuhannya, Thian-liong-pang menja­di perkumpulan yang amat kuat. Semua anggauta Thian-liong-pang rata-rata di­ gembleng ilmu silat tinggi. Apalagi murid kakek itu sendiri, benar-benar terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa. Murid-murid kepala sebanyak dua belas orang sedemikian terkenalnya di dunia kang-ouw sehingga tokoh-tokoh yang besar sekalipun tidak akan berani memandang rendah Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) dari Thian-liong-pang! Dua belas orang murid kepala yang menjadi murid kesayangan Kakek Sin-seng Losu ini telah mewarisi kepandaian kakek itu menurut bakat masing-masing. Dan yang menambah ketenaran mereka adalah senjata rahasia Sin-seng-ci (Peluru Bintang Sakti).

Oleh karena Kakek Sin-seng Losu sudah terlalu tua dan pikun, juga sudah mulai lemah karena tuanya, maka sebagai penggantinya ditunjuk muridnya yang paling tua, seorang laki-laki tinggi besar bercambang bauk yang bertenaga besar seperti gajah, dan sesuai dengan tenaganya, ia berjuluk Thai-lek-kwi (Setan Tenaga Besar) bernama Ma Kiu. Ma Kiu ini dulunya seorang jagal babi, kemudian pernah tinggal di selatan dan menjadi anggauta Beng-kauw. Semenjak muda suka belajar ilmu silat, maka ketika menjadi anggauta Beng-kauw ia sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi. Karena penyelewengan peraturan, ia takut akan bayangan sendiri dan takutpula akan hukuman dari para pimpinan Beng-kauw yang terkenal keras, maka ia melarikan diri ke utara. Di Yen-an ia memasuki Thian-liong-pang, berhasil menarik hati ketuanyadan menjadi muridnya. Karena memang tingkatnya sudah tinggi, maka ia segera menduduki seorang diantara murid kepala yang lihai, bahkan kemudian terpilih menjadi murid nomor satu dan kemudian malah ditunjuk sebagai pengganti gurunya yang sudah tua, yaitu menjadi ketua baru Thian-liong-pang!

Gedung besar yang menjadi markas Thian-liong-pang terletak megah di ujung kota Yen-an. Agak janggal nampaknya bahwa jalan besar dimana gedung ini berdiri kelihatan sunyi, bahkan gedung itu jauh dari tetangga. Namun orang tidak akan merasa heran kalau mendengar bahwa para tetangga yang tadinya tinggal dekat gedung itu berangsur-angsur diri sehingga rumah-rumah kosong di sekitar jalan itu merupakan daerah yang dianggap tidak aman bagi penduduk Yen-an. Hal ini dipergunakan oleh Thian-liong-pang untuk memperluas markas mereka dengan membeli murah secara paksa rumah-rumah dan pekarang­an yang ditinggalkan.

Pada hari pengangkatan ketua baru Thian-liong-pang, keadaan di situ lebih ramai diripada biasanya. Banyak tamu hilir mudik mengunjungi Thian-liong-pang dan para penduduk Yen-an hari itu mera­sa ketakutan selalu karena di kota Yen-an berkeliaran banyak orang-orang aneh dan sikapnya menyeramkan. Karena itu biarpun tidak tahu pasti, namun sudah dapat menduga bahwa para tamu luar kota yang hari itu mengunjungi Yen-an, tentulah tamu dari Thian-liong-pang dan tentulah terdiri dari bukan orang baik-­baik. Memang dugaan ini tepat. Sebagian besar yang datang mengunjungi Thian-liong-pang adalah orang-orang dari dunia hitam, golongan liok-lin dan kang-ouw (hutan lebat dan sungai telaga), yaitu para perampok, bajak, gerombolan-ge­rombolan yang mengabdi kepada hukum rimba mengandalkan kekuatan untuk me­lakukan perbuatan apa saja yang mereka kehendaki.

Hari itu semenjak pagi sekali telah banyak orang-orang yang dandanannya aneh-aneh memasuki kota Yen-an. Men­jelang siang hari, orang-orang yang de­ngan hati berdebar tidak enak menonton keramaian dan iring-iringan tamu ini, tertarik sekali melihat dua orang muda yang keadaannya tidak kalah anehnya daripada orang-orang yang menyeramkan lainnya, akan tetapi dua orang muda ini sama sekali tidak kelihatan menyeram­kan. Bahkan sebaliknya, dara remaja yang menunggang kuda hitam itu, biarpun pinggangnya digantungi pedang dan ga­gang pedang indah, namun harus diakui cantik jelita, menarik hati dan sama sekali tidak menyeramkan, melainkan amat mengagumkan hati setiap orang pria yang memandangnya. Adapun teman­nya, seorang pemuda remaja pula, juga berwajah tampan dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri, mulutnya tersenyum-senyum. Bahkan ketika me­masuki kota Yen-an, pemuda ini dengan wajah berseri lalu meniup suling sambil berjalan di samping kuda hitam! Seba­tang golok besar dengan sarung pedang aneh, tidak kelihatan menyeramkan se­baliknya malah tampak lucu, seakan-akan, pemuda itu sengaja membadut dan menggantungkan golok untuk main-main saja.

Wajah Kwi Lan, dara yang menung­gang kuda hitam, kelihatan gembira pula. Setelah beberapa pekan lamanya melaku­kan perjalanan bersama Hauw Lam, ia benar-benar mengenal watak pemuda ini sebagai seorang pemuda yang selalu gembira, jenaka, ugal-ugalan namun pada dasarnya gagah perkasa, tak kenal takut, berbudi dan.... selalu mengalah kepada­nya. Harus dimengerti bahwa sejak kecil Kwi Lan jarang bergaul dengan orang lain, apalagi dengan orang mudanya. Teman satu-satunya hanyalah Suma Kiat, dan ia tidak suka kepada suheng ini, yang kadang-kadang memperlihatkan sikap terlalu manis berlebih-lebihan kepadanya akan tetapi kadang-kadang juga pemarah dan tak acuh. Tidak mengheran­kan apabila Kwi Lan merasa suka sekali kepada Hauw Lam dan dalam waktu yang tidak lama itu mereka telah menjadi sa­habat yang akrab. Sukar bagi seseorang untuk tidak ikut bergembira apabila me­lakukan perjalanan dengan Hauw Lam. Apalagi seorang seperti Kwi Lan yang pada dasarnya memang lincah, jenaka dan suka bergembira.

Melihat betapa temannya memasuki kota Yen-an sambil meniup suling dan dengan lenggang dibuat-buat seperti seorang penari atau seperti orang berbaris, Kwi Lan tersenyum geli. Ia maklum bah­wa kedatangan mereka ke Yen-an bukan­lah sekedar pelesir, melainkan untuk mencari pengalaman dan lebih mendekati petualangan karena yang akan mereka masuki adalah sarang penjahat atau dunia hitam yang amat berbahaya! Akan tetapi melihat pemuda itu sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut, ia menjadi kagum dan juga menjadi gembira. Banyak penduduk Yen-an, terutama orang-orang mudanya yang tertarik melihat sepasang muda-mudi yang elok ini, mengikuti dari belakang sambil memandang kagum dan tersenyum-senyum. Akan tetapi melihat bahwa dua orang itu menuju ke markas Thian-liong-pang di pinggir kota, sebelum dekat mereka yang mengikuti sudah ber­henti dan membalikkan tubuh meninggal­kan tempat itu.

Setelah tiba di depan rumah gedung besar yang dihias arca singa batu dan papan nama perkumpulan itu, Kwi Lan menghentikan kudanya dan Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya. Dari luar gedung saja sudah terdengar suara ba­nyak orang di sebelah dalam. Beberapa orang penjaga menyambut mereka dengan menjura dan di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang mukanya penuh cambang bauk dan yang kelihatan terke­jut sekali melihat dua orang muda itu. Akan tetapi wajahnya yang tadinya ter­kejut itu berubah merah dan ia segera menjura dan berkata.

“Ah, kiranya Nona Mutiara Hitam dan Tuan.... Berandal yang datang berkunjung! Silakan masuk....!” Melihat sikap Si Bre­wok ini, teman-temannya juga cepat memberi hormat kepada Kwi Lan dan Hauw Lam, dan mendengar nama julukan pemuda tampan itu, diam-diam mereka merasa geli.

“Ha-ha-ha!” Kiranya Si Ouw Kiu! Eng­kau masih hidup? Syukurlah kalau pan­jang umur. Kami datang memenuhi janji hendak menonton keramaian sekalian menyampaikan sumbangan kepada ketua baru Thian-liong-pang!” Teman-teman Ouw Kiu tercengang mendengar ucapan dan menyaksikan sikap pemuda ini. Bica­ranya begitu seenaknya seperti kepada seorang sahabat baik saja. Mereka makin heran melihat betapa Ouw Kiu yang ter­kenal jagoan di antara mereka, begitu menaruh hormat yang berlebihan terha­dap seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang masih amat muda. Kalau semua temannya terheran, adalah Ouw Kiu yang menjadi merah mukanya. Peris­tiwa di dalam hutan dua pekan yang lalu hanya ia ceritakan kepada para pimpinan Thian-liong-pang dan para anak buah tidak ada yang boleh mendengar karena hal itu merendahkan nama besar per­kumpulan. Oleh karena itulah maka keti­ka tadi ia menyebut nama Mutiara Hi­tam dan Berandal, teman-temannya tidak tahu bahwa dua orang inilah yang mem­bunuh seorang anak murid Thian-liong-pang. Dengan menahan kemarahan Ouw Kiu lalu berkata lagi.

“Ah, Ji-wi ternyata memegang janji. Silakan masuk! Nona, biarlah orang-orang kami merawat kuda Nona itu. Silakan turun dan masuk ke dalam!”

“Mana bisa barang sumbangan diting­galkan di luar?” Kwi Lan berkata.

“Barang sumbangan....? Apakah mak­sud Nona....?”

Kwi Lan tersenyum. “Justeru kuda inilah barang sumbangannya untuk disam­paikan kepada Ketua Thian-liong-pang!”

“Ah.... kuda bagus.... kuda hebat....!”

Ouw Kiu tiba-tiba memuji setelah tahu bahwa kuda yang besar dan memang he­bat ini akan dipersembahkan kepada ke­tuanya. Kiranya dua orang muda yang lihai ini telah merendahkan diri dan hen­dak menyenangkan hati ketuanya dengan hadiah seekor kuda pilihan, pikirnya. Akan tetapi jangan kira bahwa kalian akan dapat lolos dari sini, biarpun telah menyogok dengan seekor kuda.

Melihat Ouw Kiu memuji-muji sambil menjura.... seorang lain memberi isyarat dengan kedua tangan mempersilakan me­reka dan yang lain-lain juga menjura. Kwi Lan lalu berkata, “Hayo, Berandal kita masuk saja. Hek-ma (Kuda Hitam) ini pun tentu suka mencicip arak wangi Thian-liong-pang!”

“Hayo, tunggu apa lagi?” Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian ia me­nempelkan suling pada mulutnya dan me­langkah maju sambil meniup suling. Ada­pun Kwi Lan tanpa mempedulikan gerak protes mulut, mata, dan tangan para penjaga sudah menarik kendali dan me­maksa kuda hitamnya untuk menaiki anak tangga, terus menjalankan kudanya memasuki ruangan depan menuju ke dalam!

Tentu saja para penjaga kaget dan bergerak hendak mencegah, akan tetapi Ouw Kiu berbisik kepada teman-teman­nya dan kagetlah mereka, berdiri dengan wajah sebentar pucat karena gentar dan sebentar merah karena marah. Baru sekarang mereka tahu bahwa dua orang itulah yang membunuh seorang kawan mereka.

“Jangan sembarangan bergerak, mere­ka lihai sekali!” bisik Ouw Kiu. “Biar­kan Pangcu yang membereskan mereka!” Setelah berkata demikian, melalui pintu samping Ouw Kiu mendahului masuk dan diam-diam melaporkan kepada pimpinan Thian-liong-pang.

Pada waktu itu, Kakek Sin-seng Losu masih duduk di kursi ketua sambil me­lenggut mengantuk. Akhir-akhir ini, ka­kek yang sudah tua renta dan pikun ini sering kali melenggut dan banyak me­ngantuk. Kini ia telah mengenakan pa­kaian khusus untuk upacara. Jubahnya baru dan indah di bagian dadanya terda­pat gambar sebuah timbangan. Inilah tanda bahwa dia sudah meninggalkan ke­dudukan ketua dan kini menjadi penasihat yang mempertimbangkan dan memutuskan segala macam perkara yang tak dapat diputuskan oleh ketua baru. Di sebelah kanannya duduk Thai-lek-kwi Ma Kiu, murid kepala bekas tukang jagal babi itu. Wajah murid kepala yang usianya sudah lima puluh tahun ini keren, apalagi jeng­got dan kumisnya kaku seperti kawat, matanya melotot lebar seakan-akan sela­lu mengeluarkan sinar mengancam. Di sebelah kanan Thai-lek-kwi Ma Kiu calon ketua baru ini duduk atau berdiri sebelas­ orang adik-adik seperguruannya yang ter­diri dari bermacam-macam orang. Ada Hwesio gundul, ada tosu, ada yang seper­ti petani, ada yang tua dan ada yang muda. Di belakang kursi kakek Sin-seng Losu berdiri seorang petugas yang mem­bawa bendera Thian-liong-pang, bergam­bar naga terbang.

Para tamu yang lebih lima puluh itu semuanya sudah memenuhi ruangan, du­duk di bangku-bangku memutari meja bundar yang sudah disediakan. Pelayan-pelayan sibuk melayani mereka dengan minuman dan makanan. Saat itu, upacara sudah hendak dilakukan, akan tetapi Thai-lek-kwi Ma Kiu mencari-cari dengan pandang matanya, kelihatan tak senang hatinya. Kemudian ia berbisik kepada suhunya yang masih melenggut, setengah tidur setengah bersamadhi.

“Suhu, tamu sudah lengkap, Apakah tidak lebih baik dilakukan sekarang upacaranya?”

“Hemmm....?” kakek itu membuka mata malas-malasan, kemudian menoleh ke arah kirinya, di mana terdapat sebuah bangku yang kosong. “Dia belum datang?” Ma Kiu mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya. “Suhu, sudah sejam lebih kita menanti, akan tetapi Siauw-te (Adik Seperguruan Kecil) masih juga belum muncul. Dia, suka pergi ber­buru binatang, suka pergi bermain-main, siapa tahu dia tidak akan datang karena lupa akan urusan hari ini.”

“Kita tunggu sebentar lagi.” bantah Si Kakek. “Betapapun juga, Siangkoan Li adalah anak tunggal mendiang puteraku, dia cucuku satu-satunya. Sebagai wakil ayahnya yang sudah tidak ada, sepatut­nya dia menyaksikan upacara penting hari ini.”

Biarpun di dalam hatinya merasa mendongkol sekali terhadap Siangkoan Li yang memperlambat upacara pengangkat­annya menjadi Ketua Thian-liong-pang namun Ma Kiu tidak berani membantah kehendak gurunya. Siangkoan Li adalah cucu Sin-seng Losu, semenjak kecil anak ini sudah ditinggal mati ayah bun­danya yang tewas dalam pertandingan. Kemudian ia dididik oleh kakeknya dan biarpun ia cucu kakek ini, namun ia juga murid, maka dua belas orang murid ke­pala atau lebih terkenal Dua Belas Naga Thian-liong-pang itu memanggil dia sute (adik seperguruan). Padahal Siangkoan Li masih amat muda, baru dua puluh tahun usianya.

Pada saat itulah Ouw Kiu si Brewok datang melapor. Karena Sin-seng Losu sudah melenggut lagi di atas kursinya, Ouw Kiu lalu melapor kepada Thai-lek-kwi Ma Kiu tentang kedatangan dua orang muda tadi. Tentu saja Thai-lek-kwi Ma Kiu marah sekali, mendengar bahwa dua orang muda yang mengaku berjuluk Mutiara Hitam dan Berandal dan telah membunuh seorang anggauta Thian­-liong-pang berani muncul. Akan tetapi oleh karena saat pengangkatannya seba­gai ketua sudah tiba, ia tidak ingin urus­an yang amat penting artinya bagi diri­nya itu terganggu atau terkacau keribut­an, maka ia menyabarkan hatinya yang panas. Apalagi ketika mendengar laporan Ouw Kiu bahwa dua orang itu datang untuk menonton upacara dan membawa hadiah seekor kuda yang bagus. Maka dia segera berdiri dan menyambut. Melihat kakak tertua ini bangkit, otomatis sebe­las orang adik seperguruan itu bergerak pula dan mengikutinya menyambut.

Terdengar suara nyaring kaki kuda menginjak-injak lantai dan para tamu serentak menengok, disusul suara mereka riuh membicarakan tamu yang baru mun­cul. Tentu saja cara Kwi Lan memasuki ruangan sambil menunggang seekor kuda yang tinggi besar berbulu hitam, amat menarik perhatian dan selain mendatang­kan kaget, juga heran. Akan tetapi di­samping ini, sebagian besar mata para tamu terbelalak kagum karena tidak saja kuda itu amat indah dan gagah, namun penunggangnya lebih menarik lagi, cantik jelita dengan mata bersinar-sinar dan pipi kemerahan, bibir manis tersenyum simpul. Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya, lalu menjura ke arah tuan rumah, diam-diam ia memperhatikan Ma Kiu dan sebelas orang adik seperguruan­nya. Biarpun belum pernah bertemu de­ngan mereka, namun jumlah ini menim­bulkan dugaan di hati bahwa tentu inilah yang disebut Cap-ji-liong yang ditakuti orang itu. Ia tersenyum dan berseru de­ngan suara nyaring.

“Kami, Dewi Mutiara Hitam dan Dewa Berandal....” Sampai di sini Hauw Lam menoleh kepada Kwi Lan yang tersenyum pula lalu melirik kepada semua tamu yang mengeluarkan seruan heran men­dengar sebutan dewa dan dewi tadi, ke­mudian melanjutkan setelah keadaan men­jadi sunyi senyap karena semua orang memasang telinga penuh perhatian untuk mendengarkan apa yang ia katakan selanjutnya, “..... secara kebetulan lewat di Yen-an dan mendengar nama besar Thian-liong-pang yang katanya hendak mengadakan upacara pengangkatan ketua baru. Maka kami ingin sekali menonton keramaian dan Sang Dewi Mutiara Hitam ini berkenan memberi hadiah kuda hitam­nya untuk Thian-liong-pang!”

Mendengar dirinya disebut-sebut se­bagai Sang Dewi Kwi Lan mengerutkan alisnya dan cemberut, melompat turun dari kuda dan berkata, “Harap jangan dengarkan obrolan Berandal ini! Kuda ini memang hendak kusampaikan kepada Thian-liong-pang, akan tetapi bukan ha­diah dariku, melainkan hadiah dari Khi­tan untuk Thian-liong-pang!”

Mendengar ucapan Kwi Lan berubah air muka dua belas orang “naga” dari Thian-liong-pang itu. Ma Kiu segera ber­kata, suaranya berubah ramah, “Ah, ki­ranya Ji-wi adalah utusan dari Pak-sin-ong? Sungguh merupakan penghormatan besar sekali terhadap Thian-liong-pang dan salah paham yang terjadi beberapa pekan yang lalu adalah kesalahan anak buah kami, mohon Ji-wi sudi memaaf­kan.”

“Aku tidak tahu apa yang kaumaksud­kan.” kata Kwi Lan setelah bertukar pandang dengan Hauw Lam. “Akan tetapi yang jelas, kuda ini bukan sembarangan kuda, melainkan kuda keturunan kuda pribadi Ratu Khitan. Harap Thian-liong-pang suka menerima. anugerah dari Ratu Khitan ini.”

Kwi Lan bicara sejujurnya, karena di dalam hati ia tetap condong untuk mem­bela Ratu Khitan yang menurut penutur­an guru dan bibinya adalah ibu kandung­nya sendiri. Akan tetapi Ma Kiu men­dengar ini, mengangguk-angguk dan ber­tukar pandang dengan sebelas orang saudaranya.

“Kami mengerti.... kami mengerti dan terima kasih banyak.... katanya. Tentu saja Kwi Lan tidak mengerti apa yang ia maksudkan, akan tetapi melihat Hauw Lam berkedip kepadanya, ia pun diam saja. Ia lalu melompat turun dari kuda­nya dan memberikan kendali kuda kepada Ma Kiu. Calon ketua itu menggapai se­orang anggauta Thian-liong-pang yang tinggi besar.

“Bawa kuda ini ke kandang dan pe­lihara baik-baik beri makan minum se­cukupnya!”

Orang tinggi besar itu memberi hor­mat dan menerima kendali. Akan tetapi begitu ia menarik kendali, kuda hitam itu yang mencium bau orang baru dan merasai tarikan keras, segera mering­kik, membuka mulut dan menerjang orang tinggi besar itu! Si Tinggi Besar terkejut dan berusaha mengelak, namun terlambat, pundaknya kena digigit sehing­ga ia berkaok-kaok kesakitan dan ketika kuda itu melepaskan gigitannya, daging pundak berikut baju sudah robek dan da­rah membasahi semua bajunya! Tentu saja anggauta ini menjadi kaget dan melepaskan kendali kudanya. Hauw Lam tertawa bergelak. “Sudah kuberitahu, kuda ini bukan kuda sembarangan!”

“Hemm, memang kuda pilihan. Twa-suheng, biarlah aku yang membawanya ke kandang.” Seorang laki-laki berusia ham­pir empat puluh tahun, bertubuh kecil kurus, melangkah maju, Dia ini adalah seorang di antara Cap-ji-liong dan begitu Ma Kiu menganggukkan kepala, Si Kurus sudah menyambar kendali kuda, lalu tu­buhnya melayang naik ke punggung kuda hitam. Kuda itu meringkik-ringkik dan meronta-ronta, namun dengan menjepit­kan kedua kaki ke perut kuda, Si Kecil Kurus tetap duduk dengan tenang, bahkan lalu membetot-betot kendali kuda. Kuda hitam makin marah, melonjak-lonjak dan meloncat-loncat tinggi menggerak-gerak­kan punggungnya. Kalau orang biasa ten­tu akan terlempar dari punggung kuda, akan tetapi ternyata Si Kecil Kurus itu lihai sekali. Tubuhnya mendoyong ke sana ke mari, namun ia dapat duduk tegak dan tetap. Akhirnya, setelah hidung dan bibir kuda mengeluarkan darah karena tertarik kendali, baru kuda hitam itu kelelahan dan menurut saja disuruh berjalan keluar dari dalam ruangan tamu!

Ma Kiu lalu mempersilakan dua orang tamu mudanya untuk duduk di bagian depan. Hauw Lam berbisik. “Mereka mengira bahwa kita ini tokoh-tokoh ke­percayaan Jin-cam Khoa-ong dan me­mang biasanya orang-orang Pak-sin-ong ini melakukan perjalanan sambil me­nyamar dan merahasiakan diri, karena selalu menjadi incaran orang pemerintah­an Khitan. Tentu Si Brewok tadi mengira kita berpura-pura menghadapi banyak tamu, maka ia bilang mengerti!” Pemu­da itu tertawa dan Kwi Lan juga ter­tawa geli. Pelayan datang dengan cepat membawa minuman arak wangi dan masakan-masakan lezat dan mahal. Kare­na memang sudah lapar dan sudah lama tidak bertemu makanan lezat, Hauw Lam dan Kwi Lan tidak sungkan-sungkan lagi. Kiranya pemuda jenaka itu adalah se­orang ahli makanan. Sambil mencoba dan mencicipi belasan macam masakan yang datang membanjir! meja mereka Hauw Lam tiada hentinya mengoceh untuk memperkenalkan tiap masakan kepada Kwi Lan.

“Ini kodok goreng istimewa. Kodok macam ini hanya terdapat dalam rawa-rawa dan daerah selatan saja, dagingnya empuk, gurih dan harum sedap. Maka harganya pun amat mahal. Sayang ini yang jantan, kalau yang betina lebih lezat. Akan tetapi kodok betina jarang disembelih orang karena dibutuhkan te­lurnya. Hanya Kaisar yang suka menyu­ruh buatkan kodok betina goreng!” Me­mang luar biasa masakan kodok goreng itu. Berbeda dengan swike biasa, kodok ini digoreng berikut kulitnya yang loreng-loreng, akan tetapi justeru kulitnya itu yang enak, kemripik seperti krupuk udang. Juga berbeda dengan swike biasa, tulangnya enak pula dimakan, tidak ke­ras.

“Wah, ini sop buntut menjangan na­manya! Dimasak sop dengan campuran kacang polong dan jamur kuning. Hebat! Tapi kalau terlalu banyak membuat badan panas dan darah mengalir cepat. Sedikit cukup untuk menghangatkan tu­buh. Dan ini masak tim kaki burung raja air! Kau tahu apa itu burung raja air? Bebek! Ini tim kaki bebek. Enak kenyil­kenyil dan gurih. Wah, yang di sana itu panggang ayam angkasa. Sedap!”

“Apa itu ayam angkasa?” Kwi Lan bertanya, gembira oleh penjelasan yang lucu ini.

“Ayam angkasa? Masa tidak tahu? Burung dara! Enak juga, cobalah.”

Sampai kenyang sekali perut Kwi Lan karena pandainya Hauw Lam memper­kenalkan setiap masakan sehingga tak dapat ia bertahan untuk tidak mencicipi­nya.

“Eh, ini masakan apa? Mengapa dagingnya bundar-bundar tapi bukan bakso? Licin....!”

Hauw Lam mengulur leher menjenguk, lalu mengorek dengan sumpit untuk me­meriksa. “Ini....? Waaahh.... gila amat! Ini.... ini bukan makanan wanita! Celaka! yang begini dikeluarkan. Sialan benar!” Ia mengomel panjang pendek tanpa men­jawab pertanyaan Kwi Lan.

Gadis itu tentu saja menjadi tertarik sekali, “Masakan apa sih? Kenapa bukan makanan wanita?”

Heran sekali. Tiba-tiba muka Hauw Lam menjadi merah dan ia tampak ga­gap-gugup dalam menjawab. Padahal biasanya pemuda ini paling pandai bicara. “Masakan.... waaahhh, bagaimana ini....? Ini masakan.... masakan....hemmmm....!” Karena mereka berdua tadi bicara keras tanpa mempedulikan orang lain, tentu saja percakapan terakhir ini pun terde­ngar pula oleh para tamu yang duduk berdekatan. Mereka mulai tertawa-tawa geli menyaksikan sikap Hauw Lam ini.

“Ih, kenapa kau? Sudah mabokkah? Masa menjawab masakan saja begitu sukar? Kalau tidak mengenal, bilang saja terus terang, mengapa susah-susah amat?” Kwi Lan menegur.

“Siapa bilang aku tidak mengenal ma­sakan ini? Semua masakan di dunia per­nah kumakan. Aku pernah memasuki dapur kaisar, pernah ikut dalam perjamu­an Beng-kauw di selatan! Ini masakan.... daging kambing saus tomat!”

“Uhh, hanya daging kambing saja ke­napa tidak dari tadi menyebutnya? Kau bohong agaknya! Kalau benar hanya da­ging kambing, mengapa bentuknya bulat seperti ini? Dan mengapa pula tadi kau hilang ini bukan makanan wanita?”

“Ha-ha-ha-ha! Itu bukan daging kam­bing, melainkan.... peluru kambing. Ha-ha-ha!” Riuh rendah suara ketawa itu.

Hauw Lam dan Kwi Lan menengok. Sejak tadi mereka sudah tahu bahwa tidak jauh dari meja mereka, dalam ja­rak lima meter, terdapat enam orang anggauta pengemis baju bersih yang duduk mengelilingi meja dan sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Enam orang pengemis itu rata-rata sudah ber­usia enam puluh tahun lebih, hanya yang dua inilah mereka masih muda dan kini dua orang inilah yang tertawa-tawa oleh ucapan seorang di antara mereka tadi. Pada saat itu, Kwi Lan dengan sumpit­nya telah menusuk dua potong daging kambing itu yang memang berbentuk bundar telur sebesar telur ayam.

“Hanya kambing jantan yang memiliki peluru itu, kambing betina tentu saja tidak punya. Akan tetapi keliru kalau orang bilang wanita tidak boleh mema­kannya, malah sebetulnya itu makanan wanita, apalagi wanita cantik....! Ha-ha-ha-ha!” komentar pengemis muda yang ke dua dan kembali dua orang yang duduknya menghadap kepada meja Kwi Lan tertawa-tawa sambil terang-terangan memandang kepada gadis itu.

Akan tetapi, mendadak dua orang pengemis muda yang sedang tertawa berkakakan itu terhenti ketawanya sete­lah mengeluarkan suara “ha-haaauupp!” dan mata mereka mendelik, tangan kiri mencekik leher dan tangan kanan menun­juk-nunjuk kebingungan ke arah mulut mereka yang ternganga. Tanpa diketahui orang lain saking cepatnya gerakan tangan Kwi Lan, dua buah daging bulat yang tadi berada di ujung sepasang sum­pitnya kini telah menyusup masuk ke tenggorokan dua orang itu melalui mulut yang tadi terbuka lebar-lebar.

Empat orang pengemis lain yang mengira bahwa dua orang temannya ini, tersedak makanan sibuk menolong, menepuk-nepuk punggung mereka dengan keras sambil bertanya-tanya. Akan te­tapi dua orang itu hanya dapat menge­luarkan suara seperti orang gagu karena kerongkongannya tersumbat. Akhirnya seorang di antara mereka terbatuk dan meloncat keluarlah daging bulat seperti telur ayam itu, sedangkan seorang lagi, karena daging itu belum keluar dan ia merasa napasnya hampir putus, dengan nekat lalu memasukkan sumpit ke mulut­nya dan mendorong daging di kerong­kongannya itu terus masuk! Akal ini menolong juga dan terhindarlah ia dari­pada bahaya maut tercekik.

Kwi Lan yang telah memberi hukum­an kepada dua orang pengemis muda yang berani mentertawakannya itu, kedua pipinya menjadi merah. Tidak hanya ka­rena marah, juga karena jengah setelah ia mendengar apa sebetulnya daging bulat-bulat itu. Diam-diam ia memaki tuan rumah yang mengeluarkan hidangan macam itu. Gadis ini memang masih asing dengan segala masakan-masakan kota, apalagi masakan-masakan yang begitu mewah. Semenjak kecil ia hanya makan masakan sederhana yang dibuat Bibi Bi Li. Kini untuk mengalihkan perha­tian dari masakan yang dianggapnya tidak pantas itu, lalu bertanya kepada Hauw Lam yang masih tertawa-tawa, mentertawakan keadaan dua orang pengemis tadi.

“Dan ini, apakah ini? Untuk apa? Kelihatannya seperti darah.”

“Bukan darah. Itu namanya kecap, untuk bumbu menambah asin atau manis masakan.”

Sementara itu, dua orang pengemis muda yang sudah bebas daripada daging-daging bulat, kelihatan marah-marah, ber­diri dan memandang ke arah meja Kwi Lan sambil melotot. Empat orang kawan­nya yang lebih tua juga sudah menengok semua dan mereka bicara berbisik-bisik satu kepada yang lain, wajah mereka mengancam. Agaknya mereka sedang mempertimbangkan apa yang akan me­reka lakukan terhadap dua orang muda itu tanpa mengganggu jalannya pesta. Mereka berenam hanyalah tokoh-tokoh biasa saja yang datang mewakili penge­mis golongan hitam, maka tentu saja mereka segan untuk membuat gaduh dan kacau dalam pesta perayaan pengangkat­an Ketua Thian-liong-pang. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk me­nanti sampai upacara berakhir, barulah akan memberi hajaran kepada dua orang muda kurang ajar itu.

Pada saat itu terdengar ribut-ribut di luar, bentakan suara laki-laki mengiringi tangis wanita. Semua tamu menengok dan muncullah seorang laki-laki tinggi besar berjubah seperti pendeta, akan te­tapi rambutnya panjang riap-riapan dan mukanya seperti seekor singa, matanya lebar dan bersinar liar. Laki-laki berusia lima puluhan tahun ini memegang seba­tang cambuk panjang dan dengan cambuk ini ia menggiring dua belas orang wanita muda-muda dan cantik-cantik seperti se­orang penggembala menggiring ternak saja.Beberapa orang di antara wanita inilah yang mengeluarkan suara tangisan, dan yang lain berjalan dengan muka pucat dan mata penuh kecemasan.

Begitu memasuki ruangan itu, kakek ini tertawa dan wajahnya menjadi makin menyeramkan. Rambutnya yang riap-riap­an dan terhias bunga-bunga cilan, sema­cam bunga yang wangi, bergerak-gerak ketika ia tertawa. Melihat tamu ini,Thai-lek-kwi Ma Kiu berubah air mukanya, menjadi girang dan segera turun sendiri menyambut dan menjura.

“Wah, kiranya sahabat Ci-lan Sai­kong yang datang berkunjung. Sungguh merupakan kehormatan besar bagi kami.”

“Huah-ha-ha-ha! Thian-liong-pang ter­kenal dengan Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) yang sungguh gagah perkasa. Kini yang tertua di antaranya akan menjadi ketua, benar-benar menambah keangkeran Thian-liong-pang. Pinceng (aku) datang. untuk memberi hormat kepada Sin-seng Losuhu, dan memberi selamat kepada Thian-liong-pang dengan ketua barunya, dan karena pinceng seorang miskin yang hanya suka mengumpulkan bunga-bunga harum maka pinceng hanya dapat mem­beri sumbangan dua belas tangkai bunga harum ini untuk hiasan kamar Dua Belas Naga dari Thian-liong-pang sehingga ka­mar mereka menjadi harum dan membuat mereka enak tidur. Ha-ha-ha!” Kemudian kakek itu membunyikan cambuknya di atas kepala dua belas orang gadis tawan­annya sambil membentak, “Hayo kalian lekas berlutut di depan majikan-majikan baru kalian!” Karena agaknya sudah tahu akan kekejaman kakek itu, dua belas orang gadis ini lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menundukkan muka.

Para tamu yang hadir terdiri dari orang-orang golongan hitam, maka peris­tiwa ini tidaklah mengherankan hati me­reka, malah banyak di antara mereka. tertawa-tawa dan terdengar komentar di sana-sini memuji dua belas orang gadis itu dan menyatakan betapa senangnya menerima sumbangan benda hidup seperti itu. Juga Thai-lek-kwi Ma Kiu dan adik-adik seperguruannya serta para anggauta Thian-liong-pang menganggap hal ini biasa dan sewajarnya saja. Akan tetapi karena saat itu adalah saat yang penting dan di situ terdapat banyak tamu, Ma Kiu merasa malu dan jengah juga. Ia kembali menjura dan berkata.

“Ah, Saudara Ci-lan Sai-kong mengapa begitu sungkan? Kami tidak mengharap­kan sumbangan. Kedatanganmu saja sudah cukup menggirangkan hati kami!” Sung­guhpun tidak menolak secara berterang, namun kata-kata ini menyatakan ketidak­senangan hati dengan sumbangan itu, karena diberikan bukan pada saatnya yang tepat.

“Ha-ha-ha-ha!” Kakek itu tertawa sambil mengelus jenggotnya yang kaku. “Sudah kukatakan tadi, pinceng orang miskin dan hanya suka mengumpulkan cilan. Karena mendengar bahwa para pimpinan Thian-liong-pang mempunyai kesukaan yang sama dengan pinceng maka pinceng membawa dua belas tang­kai kembang ini. Jangan Sicu (Tuan yang Gagah) khawatir, bunga-bunga ini masih murni, datang dari keluarga baik-baik dan sengaja kupilih untuk Sicu sekalian!”

Pada saat itu, Si Tua Renta Sin-seng Losu yang tadinya duduk melenggut mengantuk di atas kursi, kini tiba-tiba nampak segar, dan tidak mengantuk lagi. Ia duduk tegak di kursinya, matanya yang setengah lamur itu dilebar-lebarkan untuk memandangi dua belas orang gadis yang berlutut di atas lantai. Kemudian seperti seorang mimpi ia berkata,

“Sumbangan paling berharga diberikan orang, kenapa banyak rewel? Kalau tidak suka, boleh giring semua ke kamarku!”

“Huah-ha-ha-ha!” Ci-lan Sai-kong ter­tawa bergelak sambil berdongak sehingga perutnya yang besar bergerak-gerak turun naik, “Sin-seng Losu benar-benar menga­gumkan sekali. Orang boleh tua tapi hati harus tetap muda! Kalau Losuhu meng­hendaki, lain kali boleh pinceng kirim beberapa tangkai bunga yang lebih muda, lebih cantik dan lebih harum!”

“Heh-heh, terima kasih.... ini sudah cukup.... banyak ....”

Biarpun dia sendiri seorang yang tidak pantang melakukan segala macam mak­siat, namun sebagai calon ketua perkum­pulan besar, Ma Kiu merasa malu juga mendengar percakapan kasar ini. Maka untuk mencegah agar suhunya yang sudah pikun dan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) Ci-lan Sai-kong itu tidak menge­luarkan omongan-omongan yang tidak patut lagi, ia segera menjura.

“Banyak terima kasih atas sumbangan­mu, kami persilakan duduk dan menik­mati hidangan sekadarnya!” sambil me­nyuruh adik-adik seperguruannya memba­wa para gadis itu ke belakang, ia sendiri lalu mengantar tamu ini ke tempat du­duknya.

Hauw Lam mengerutkan alisnya, mu­kanya yang tampan dan biasa bergembira itu berubah sama sekali, sepasang mata­nya memancarkan sinar kemarahan Kwi Lan melihat hal ini dan merasa heran. Mengapa pemuda, ini marah-marah?

“Kau kenapa?” Ia bertanya lirih.

“Kenapa? Hemm, tidakkah kaulihat mereka tadi....?” Hauw Lam menjawab dengan pertanyaan pula. “Ci-lan Sai-kong itu, jai-hwa-cat terkutuk....”

“Apa itu jai-hwa-cat?”

Dalam kemarahannya, Hauw Lam berubah gemas dan mengomel. “Kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa! Tidak mengenal masakan masih tidak aneh, akan tetapi seorang dara dengan kepan­daian seperti kau ini yang patut menjagoi dunia kang-ouw, tidak tahu apa itu jai-hwa-cat benar-benar bikin hati men­dongkol. Sekan-akan kau mempermainkan aku dan pura-pura tidak tahu!”

Kwi Lan makin heran melihat pemuda ini bertambah kemarahannya. “Eh, kau kenapa sih? Mabok agaknya, ya? Aku benar-benar tidak tahu, kau marah-ma­rah. Hayo jelaskan, apa sih yang dinama­kan jai-hwa-cat itu? Kakek itu menjemukan, buruk kasar dan menjijikkan, tapi ia seperti seorang pendeta. Apakah jai-hwa-cat itu seorang pendeta? Setahuku, pendeta suka memetik daun-daun dan menggali, akar-akar untuk obat. Memetik bunga (jai-hwa) untuk apa?”

“Kau benar bodoh, Mutiara Hitam !

Pendeta itu hanya berkedok pendeta, akan tetapi di balik kedoknya, ia pen­jahat yang sejahat-jahatnya. Yang dimaksudkan bunga adalah seorang gadis atau seorang wanita muda. Dia bukan meme­tik bunga biasa, melainkan tukang culik dan ganggu gadis-gadis muda, Kaulihat dua belas gadis itu....”

“Hemm, mereka itu orang-orang tidak punya guna. Mereka mau saja dijadikan barang sumbangan. Perlu apa dipikirkan boneka-boneka hidup itu?”

“Mereka dipaksa!”

“Ih, aku tidak melihat mereka dipaksa. Mereka berjalan dengan sukarela sama sekali tidak melawan.”

“Mereka orang-orang lemah, bagaima­na berani melawan?”

Kwi Lan mengangkat kedua pundak. Ia tetap tidak mengerti dan tidak mem­pedulikan nasib dua belas orang wanita tadi. Hauw Lam makin mendongkol. Ga­dis aneh yang telah merampas hatinya ini agaknya selain berwatak luar biasa, juga, hatinya keras dan tidak mempeduli­kan nasib orang lain.

Tiba-tiba terjadi keributan kembali dan masuklah dari ruangan depan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih tinggi kurus dan wajahnya tampang sikapnya agung dan pakaiannya biarpun tidak baru, namun bersih dengan potongan pakaian pelajar. Di pinggang orang ini tergantung sebatang pedang. Begitu ma­suk, semua orang tahu bahwa pelajar tua ini sedang marah, sepasang matanya yang tajam mengeluarkan sinar. Ia lang­sung melangkah lebar ke dalam ruangan tamu, berhenti di depan Sin-seng Losu lalu menudingkan telunjuknya dan ber­teriak.

“Sin-eng Losu! Bagaimana pertang­gunganjawabmu terhadap Thian-liong-pang? Kulihat betapa Thlan-liong-pang berubah menjadi perkumpulan iblis yang jahat dan yang mengotorkan nama kami para patriot Hou-han! Tadinya melihat muka mantumu, Siangkoan Bu yang gagah perkasa dan dapat membawa Thian-liong-pang ke jalan benar, aku masih bersabar menyaksikan sepak terjangmu. Akan te­tapi setelah Siangkoan Bu meninggal, kau dan murid-muridmu makin merajalela melakukan kejahatan-kejahatan yang keji, menyeret nama bersih Thian-liong-pang sebagai tempat perkumpulan para patriot Hou-han menjadi perkumpulan bangsat-bangsat dan penjahat-penjahat!”

Mendengar ucapan ini Ma Kiu melompat bangun diturut sebelas orang adik seperguruannya. “Heh, orang she Ciam! Engkau dahulu memang tokoh Thian­-liong-pang, akan tetapi dengan kehendak­mu sendiri kau pergi mengundurkan diri sehingga kalau tidak ada Suhu kami, tentu Thian-liong-pang sudah bubar dan hancur diperhina orang lain. Kini Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang besar, dihormati orang di dunia kang­ouw, dan kau berani datang bersikap kurang ajar terhadap Suhu? Apakah kau sudah bosan hidup?”

“Ciam-sicu, mengingat engkau masih bekas pemimpin Thian-liong-pang dan mengingat akan hubungan kita yang lalu, biarlah kumaafkan kata-katamu yang kasar tadi.” Terdengar Sin-seng Losu berkata tenang. “Akan tetapi katakanlah mengapa datang-datang kau memaki dan marah-marah? Bukankah anak buahku sudah pula memberi kabar kepadamu dan memberi undangan?”

“Aku tidak peduli akan upacara peng­angkatan ketua baru, asal saja Thian-liong-pang dibawa ke jalan benar. Akan tetapi, aku sedang mengejar Ci-lan Sai-kong Si Penjahat Pemetik Bunga yang terkutuk, yang telah menculik belasan orang gadis. Siapa kira, dua belas orang gadis itu diculiknya untuk diantarkan ke sini! Hayo menyangkallah kalau bisa! Bukankah Sai-kong keparat itu mengan­tarkan mereka ke sini sebagai sumbangan? Beginikah wataknya para pimpinan Thian-liong-pang sekarang? Begini rendah dan bejat?”

“He-heh, Ciam-sicu. Apa pun yang di­persembahkan orang, kalau itu merupakan sumbangan, tidak baik untuk ditolak. Menolaknya berarti menghina dan tidak menghargai maksud baik orang lain. Memang kami telah menerima sumbangan Ci-lan Sai-kong. Akan tetapi kalau kau menghendaki mereka, biarlah kuberikan mereka kepadamu,” Kembali Ketua Thian-liong-pang itu berkata penuh kesabaran. Ia sebetulnya tidak takut terhadap orang she Ciam itu, akan tetapi mengalah karena mengingat akan perhubungan me­reka yang lalu. Ciam Goan ini dahulu adalah seorang di antara pimpinan Thian­-liong-pang dan terkenal aktif serta setia terhadap perkumpulan. Baru sepuluh tahun yang lalu, karena makin tidak suka akan sepak terjang pimpinan baru ia mengundurkan diri dan tidak pernah mencampuri Thian-liong-pang. Baru sekarang ia tiba-tiba muncul dan marah­-marah karena melihat betapa penjahat pemetik bunga yang dikejar-kejarnya itu memberikan gadis-gadis culikannya seba­gai sumbangan kepada pimpinan Thian-liong-pang!

“Sin-seng Losu! Kau masih mempunyai rasa malu, itu bagus. Lekas bebaskan dua belas orang gadis itu dan selanjutnya aku tidak akan mencampuri urusan Thian-liong-pang lagi karena semenjak saat ini, aku bersumpah takkan sudi lagi menginjak lantai ini!”

Mendengar kata-kata ini, Sin-seng Losu menoleh ke arah dua belas orang muridnya. Sikapnya jelas hendak menga­lah dan gerakan mukanya merupakan perintah agar murid-muridnya membebas­kan dua belas orang gadis sumbangan Ci­-lan Sai-kong. Di dalam hatinya Ma Kiu dan adik-adiknya merasa mendongkol dan marah sekali. Mereka memang suka dengan wanita-wanita cantik, akan tetapi bagi mereka amat mudah mendapatkan wanita cantik, baik dengan mengandalkan uang, kedudukan, maupun kepandaian dan tentu saja mereka tidak begitu kukuh,untuk menahan dua belas orang gadis tadi. Akan tetapi, sikap Ciam Goan amat merendahkan mereka dan kalau mereka mengalah, mereka merasa malu kepada para tamu. Selain itu, mereka pun tahu bahwa gurunya mengalah hanya karena mengingat bahwa Ciam Goan ini dahulu bekas pemimpin Thian-liong-pang. Soal kepandaian, sungguhpun Ciam Goan cukup lihai, namun mereka tidak gentar meng­hadapinya. Karena inilah, Ma Kiu menja­di ragu-ragu untuk menyetujui sikap gurunya yang mengalah.

Pada saat itu, terdengar suara ketawa keras dan Ci-lan Sai-kong sudah me­lompat bangun menghadapi Ciam Goan. Sambil bertolak pinggang orang tinggi besar itu tertawa dan berkata. “Huah­-ha-ha-ha! Cacing kurus yang bicara besar dan sombong! Engkau bilang mengejar dan mencari pinceng? Dua belas tangkai bunga itu adalah pinceng yang menyum­bangkan kepada dua belas orang gagah Thian-liong-pang, dan karena pinceng masih berada di tempat ini, masih menjadi tanggung jawab pinceng!”

“Bagus! Memang aku akan membunuhmu, jai-hwa-cat!” bentak Ciam Goan de­ngan marah. Bekas tokoh Hou-han ini ti­dak peduli akan semua tamu lain karena kemarahannya sudah meluap-luap. Yang membuat marah sekali bukan hanya meli­hat penjahat cabul penculik gadis-gadis remaja itu, melainkan terutama sekali ka­rena melihat betapa Thian-liong-pang yang tadinya menjadi harapan para patriot Hou-han untuk membangun kembali ke­rajaan yang sudah runtuh, kini ternyata menyeleweng menjadi sarang penjahat kejam terkutuk. Maka kini dengan kema­rahan meluap ia mencabut pedangnya dan langsung menerjang Sai-kong itu dengan tusukan kilat ke arah dada, Harus dike­tahui bahwa Ciam Goan ini adalah putera tunggal mendiang Ciam-ciangkun seorang panglima Kerajaan Hou-han dan dalam hal ilmu pedang, ia telah digem­bleng oleh seorang pamannya, adik ibu­nya, juga seorang panglima, yaitu Pang­lima Giam Siong yang terkenal jagoan. Ilmu pedangnya bersumber kepada ilmu pedang Kun-lun-pai, maka mengutamakan kecepatan gerak dan perubahan.

Mendengar suara angin pedang ber­desing dan melihat serangan yang cepat ini, Ci-lan Sai-kong tidak berani meman­dang rendah. Sambil berseru keras ia sudah meloncat mundur sambil mengibas­kan lengan bajunya yang lebar dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sudah menghunus keluar sebatang golok tipis yang mengkilap saking tajamnya.

Ujung pedang di tangan Ciam Goan sudah datang lagi dengan tusukan kearah leher. Kini Ci-lan Sai-kong menggerakkan goloknya menangkis sambil me­ngerahkan tenaganya. Sai-kong ini adalah seorang ahli gwa-kang (tenaga luar) se­hingga tenaganya amat besar. Terdengar bunyi nyaring ketika dua senjata beradu. Diam-diam Ciam Goan terkejut sekali. Untung tadi sudah menduga akan be­sarnya tenaga lawan, sehingga ia telah mengerahkan Iwee-kang dan ketika pedangnya ditangkis, ia dapat menghadapi tenaga keras dengan tenaga lemas. De­ngan cara ini, walaupun tertangkis keras,pedangnya tidak terpental melainkan menempel pada golok sehingga tidak ada bahaya terlepas atau rusak.

Selagi Sai-kong itu terkejut karena tangkisannya yang keras tidak berhasil membuat pedang lawan terpukul jatuh, Ciam Goan sudah membuat pedangnya meleset dan langsung dengan gerakan nyerong pedangnya itu menyambar ke arah lengan kanan lawan. Inilah jurus ilmu pedang Kun-lun yang bernama Hun­in-toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung), amat berbahaya karena yang diserang bukan bagian tubuh lain melain­kan lengan kanan yang memegang golok! Hebatnya jurus ini adalah karena pedang itu akan terus mengulang gerakannya membabat dari kanan ke kiri dan sebalik­nya tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang. Kecepat­annya mengandalkan kepada gerak per­gelangan tangan, maka cepatnya bukan main dan lawan yang diserang tentu akan menjadi bingung.

Demikian pula dengan Ci-lan Sai-kong. Melihat pedang lawannya memba­bat ke arah lengan kanannya, ia kaget sekali dan cepat ia menarik lengan kanannya sambil memutar golok, siap membalas. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedang yang lewat ke sebelah kirinya itu kini membalik dengan kece­patan kilat dan telah membabat lagi ke arah pinggangnya! Tak disangkanya lawan akan dapat mengulangi serangan sedemikian cepatnya, maka ia pun menggerak­kan golok menangkis. Namun tetap saja Ciam Goan dapat terus menyambung serangannya, begitu tertangkis, pedangnya membalik dan meluncur dengan babatan dari samping, demikian pula kalau di­elakkan sehingga Sai-kong itu mengalami penyerangan berantai yang membuat dia repot menyelamatkan diri.

Akan tetapi, Ci-lan Sai-kong juga bukan seorang lemah. Selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, juga ia sudah kenyang akan pengalaman bertanding. Inilah sebabnya maka menghadapi serangan Hun-in-toan-san yang amat lihai ini ia pun tidak kekurangan akal. Melihat beta­pa pedang lawan selalu membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya, sedangkan yang diserang adalah pinggang ke atas, tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan keras dan tubuhnya lalu rebah dan menggelin­ding ke atas tanah. Ia tidak hanya meng­gelinding untuk menyelamatkan diri, me­lainkan juga berguling untuk mendekati lawan dan goloknya menyambar-nyambar dari bawah, membabat kaki lawan dan juga ada kalanya menusuk ke arah perut. Inilah Tee-tong-to (Ilmu Golok Berguling­an) yang amat berbahaya. Segera keada­an menjadi berubah. Kalau tadi Ciam Goan berada di pihak penyerang dan pendesak dengan jurus Hun-in-toan-san, kini Si Penjahat Pemetik Bunga itu yang mendesak dengan Tee-tong-to. Ciam Goan menjadi repot sekali, harus melon­cat ke sana ke mari dan pedangnya melindungi tubuh bagian bawah, bagian yang amat sulit dilindungi dengan pedang.

“Wah, ramai betul!” Hauw Lam berkata dengan wajah gembira. “Kalau tidak hati-hati orang she Ciam itu tentu akan celaka.”

“Tidak mungkin!” bantah Kwi Lan.

“Biarpun ilmu pedangnya hanya permainan kanak-kanak, sedikitnya ia lebih baik daripada brewok itu.”

“Hauw Lam melirik ke arah gadis ini. Terlalu sombongkah gadis ini, atau me­mang betul-betul berkepandaian begitu tinggi sehingga menganggap ilmu pedang Ciam Goan yang jelas bersumber ilmu pedang Kun-lun itu dianggap permainan kanak-kanak.

“Kumaksudkan bukan dalam pertan­dingan melawan Sai-kong itu. Melawan dia, kiranya takkan kalah karena kulihat Sai-kong itu hanya luarnya saja kelihatan kuat, akan tetapi dalamnya sudah lapok seperti pohon tua, napasnya sudah hampir putus. Yang kukhawatirkan adalah orang-orang Thian-liong-pang. Lihat saja sikap Dua Belas Naga itu dan kurasa Ciam Goan belum tentu akan dapat meninggal­kan tempat ini dengan selamat.”

Kini Kwi Lan yang merasa heran. Ia tidak berkata apa-apa, akan tetapi hati­nya penasaran. Ia belum berpengalaman seperti Hauw Lam, tidak mengenal watak orang-orang kang-ouw.

Sementara itu, pertandingan antara dua orang itu makin seru. Kini Ci-lan Sai-kong tidak lagi menggunakan Tee-tong-to karena setelah puluhan jurus ia lakukan tanpa hasil, ia menjadi kelelahan sendiri. Memang Tee-tong-to sungguhpun lihai dan berbahaya bagi lawan, namun untuk memainkannya membutuhkan te­naga dan napas panjang. Adapun Ci-­lan Sai-kong, sungguhpun terlatih baik dan banyak pengalaman, namun tepat seperti dikatakan Hauw Lam tadi di sebelah dalam tubuhnya ia sudah lemah. Sai-kong ini adalah seorang abdi nafsu, seorang yang selalu mengumbar nafsu sehingga tentu saja kekuatan-kekuatan sebelah dalam tubuhnya menjadi lemah dan mana ia mampu bertahan melawan seorang yang ulet dan kuat seperti Ciam Goan? Kini keringatnya sudah membasahi muka dan leher, napasnya mulai ter­engah-engah seperti orang dikejar setan.

Melihat keadaan lawan ini, Ciam Goan lalu mendesak dan menerjang de­ngan jurus Seng-siok-hut-si (Musim Panas Kebut Kipas). Jurus ini amat gencar seperti gerakan kipas di tangan, bahkan lebih gencar serangannya daripada jurus Hun-in-toan-san tadi. Tiga kali Sai-kong itu mengelak dan menangkis, keempat kalinya ketika ujung pedang menotok iga kiri, ia cepat melakukan jurus Hwai-tiong-po-gwat (Peluk Bulan Depan Dada) untuk melindungi iganya dengan golok sambil tangan kirinya bergerak memukul dada lawan. Namun siapa kira, Ciam Goan sudah merobah gerakan pedangnya, ia tidak jadi menotok iga, melainkan memutar pedangnya ke kanan dan.... “crakkkk!” lengan kiri Sai-kong itu terba­bat putus sebatas siku!

“Aduhh....!” Sai-kong itu terhuyung dan Ciam Goan sudah menerjang maju untuk mengirim tusukan terakhir. Akan tetapi pada saat itu tampak sinar putih meluncur cepat dan “traanggg....!” pe­dang di tangan Ciam Goan terpental dan lepas dari pegangannya. Sebatang sumpit gading yang tadi menghantam pedang itu jatuh ke atas lantai di depannya.

Pucat wajah Ciam Goan. Kiranya Ma Kiu yang menyambitkan sumpit itu untuk menangkis pedangnya dan menyelamatkan nyawa Ci-lan Sai-kong. Lemparan sumpit saja sudah dapat meruntuhkan pedangnya. Baru lemparan sumpit begitu hebat, apa­lagi kalau orangnya maju! Ciam Goan menghela napas dan berkata,

“Kepandaian Thai-lek-kwi memang hebat. Seorang saja sudah sehebat itu, apalagi kalau Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang maju bersama. Akan tetapi aku Ciam Goan seorang laki-laki yang tidak takut mati. Majulah kalian semua dan mari kita mengadu nyawa di sini!” Sikap Ciam Goan benar-benar amat ga­gah sehingga diam-diam Kwi Lan menjadi kagum sekali. Diam-diam gadis ini sudah siap-siap untuk membela orang gagah itu. Ia mendengar kawannya berbisik, “Kalau dia. dikeroyok, hemmm.... akan kucabuti semua rambut dari muka Ma Kiu berikut bulu-bulu hidungnya!” Mau tidak mau Kwi Lan tertawa geli mendengar ucapan ini. Karena gadis wajar dan polos, maka suara ketawanya tidak ia tahan-tahan. Padahal waktu itu, keadaan sudah amat tegang dan amat sunyi. Tidak ada suara keluar dari para tamu yang menanti perkembangan selanjutnya yang mene­gangkan. Tentu saja suara ketawa gadis ini terdengar jelas.

Sin-seng Losu lalu bangkit berdiri. Suara ketawa Kwi Lan tadi seakan-akan menampar mukanya dan ia berkata, “Sudahlah kami sedang hendak melakukan upacara penting tidak perlu pertandingan dilanjutkan berlarut-larut. Apalagi, kami tidaklah serendah itu untuk melakukan pengeroyokan terhadap seorang yang tidak berapa pandai seperti Ciam-sicu, kau sudah berhasil mengalahkan Ci-lan Sai-kong, nah, tidak lekas pergi dari sini mau tunggu apa lagi?”

Ciam Goan menghela napas dan ber­kata, “Aku harus tahu diri, tak mungkin dapat melawan kalian. Biarlah dua belas orang gadis ini tersiksa di sini, aku tidak berdaya menolong. Akan tetapi ingat, Ciam Goan bukan seorang yang mudah melupakan kejahatan macam ini. Lain kali kita bertemu pula!” Setelah berkata demikian, Ciam Goan memungut pedang­nya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ci-lan Sai-kong sudah ditolong dan diobati lengannya yang buntung, tempat itu sudah dibersihkan oleh pelayan dan Ci­-lan Sai-kong sudah disuruh mengaso di kamar belakang.

“Cu-wi sekalian dipersilakan berdiri, upacara akan dilakukan sekarang juga!” Sin-seng Losu berseru keras dan semua tamu bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing. Biarpun merasa tak se­nang, Kwi Lan yang melihat Hauw Lam berdiri dengan muka melucu, terpaksa bangkit juga. Suasana kembali menjadi sunyi sehingga langkah seorang murid kepala Thian-liong-pang yang membawa panci, diikuti saudara-saudaranya, ter­dengar nyata. Sambil berlutut murid itu memberikan panci kepada Sin-seng Losu yang sudah bangkit berdiri dari kursinya. Dengan kedua tangan ia memegang panci itu dan pada saat itu Thai-lek-kwi Ma Kiu maju dan berlutut menghadap para tamu. Seorang murid lain datang pula dari be­lakang dan terdengarlah hiruk-pikuk suara anjing menggonggong. Kiranya murid ini datang menyeret seekor anjing hitam ke depan gurunya. Tanpa berkata sesuatu Sin-seng Losu menggerakkan tangan kiri dengan dua jari terbuka, menusuk leher anjing hitam itu. Terdengar anjing itu menguik keras akan tetapi oleh murid tadi ekornya dipegang dan tubuhnya di­angkat ke atas. Dari lehernya yang ber­lubang bercucuran darah yang ditampung oleh Sin-seng Losu ke dalam panci tadi. Anjing tadi meronta-ronta dan menguik­nguik, akhirnya darahnya habis dan ia berhenti berkelojotan. Bangkainya lalu dilemparkan ke sudut oleh Si Murid yang lalu mengundurkan diri. Beberapa orang pelayan lalu mengangkat bangkai itu ke belakang dan Kwi Lan mendengar suara Hauw Lam berbisik di belakangnya, “Hemm, tentu dimasak daging anjing itu.”

“Ihhh....!” Kwi Lan berseru kaget, akan tetapi mereka lalu mengalihkan perhatian lagi ke tengah ruangan di ma­na Sin-seng Losu memegang panci berisi darah anjing hitam. Kakek ini lalu meng­angkat panci tinggi-tinggi dan berkata.

“Dengan disaksikan oleh Cu-wi seka­lian, dan dengan syarat sudah ditentukan dalam perkumpulan Thian-liong-pang ka­mi, saat ini aku menyerahkan kedudukan Pangcu (Ketua) kepada muridku yang pertama, Ma Kiu. Nyawa anjing hitam itu menjadi saksi dan darahnya mengha­lau semua iblis yang hendak mengganggu tugasnya!” Setelah berkata demikian, Sin­seng Losu menyiramkan darah anjing hitam itu ke atas kepala Ma Kiu yang botak!

“Ihhh....!” kembali Kwi Lan berseru dan seperti terpesona ia pun menuangkan kecap dari botol ke dalam cangkirnya sampai penuh! Kecap itu kental dan me­rah seperti darah.

“Hemmm, benar-benar keji dan ko­tor.” bisik Hauw Lam di belakangnya. “Mutiara Hitam, aku sudah muak dan gatal-gatal tanganku diam saja sejak tadi di sini. Apakah menyaksikan lagak badut-badut ini kita harus diam saja? Hayo kau ramaikan tontonan di sini, kautarik perhatian mereka dan aku akan masuk menolong gadis-gadis tadi. Atau aku yang memancing keributan sedangkan kau yang menolong ....?”

“Ah, peduli amat dengan mereka. Kalau kau mau menolong, pergilah. Aku.... aku ingin mencoba sampai di mana kelihaian mereka ini!”

Hauw Lam mengangguk lalu diam-diam ia menyelinap pergi menggunakan kesempatan selagi semua orang mencurahkan perhatian kepada upacara peng­angkatan ketua baru. Kwi Lan yang memang sejak tadi mendongkol dan tidak senang, mendengar niat Hauw Lam hen­dak menolong dua belas orang gadis-gadis itu, entah mengapa hatinya makin tidak senang lagi. Dan kini ia ingin menum­pahkan kemarahan hatinya kepada orang-orang Thian-liong-pang. Ia membawa cangkir kecap itu menuju ke depan, lalu berkata.

“Pangcu yang baru diangkat dengan siraman darah anjing. Kalau dia suka darah biarlah aku mengucapkan selamat dengan darah naga ini!” Kwi Lan ter­senyum manis dan begitu ia menggerak­kan tangan kanan, “darah” dalam cang­kirnya menyiram keluar dan dengan ke­cepatan luar biasa menyambar kepala dan muka Ma Kiu yang masih berlepotan darah akan tetapi sudah duduk di kursi ketua yang tadi diduduki suhunya!

Namun Ma Kiu memang lihai. Tanpa turun dari kursinya, ia mengerahkan te­naga dan.... berikut kursi yang diduduki­nya ia telah meloncat kursinya itu telah pindah ke kiri sejauh satu meter! Akan tetapi karena sambaran kecap itu luar biasa cepatnya, ia tidak dapat menghindarkan lagi sebagian kecap me­nyiram pipinya dan memasuki mulutnya. Ketika ia tahu bahwa yang menyiram mukanya adalah kecap, mengertilah Ma Kiu bahwa gadis itu sengaja mencari gara-gara. Akan tetapi karena tadi mengira bahwa gadis itu adalah utusan Jin-cam Khoa-ong, Ma Kiu masih menahan kemarahannya, lalu berseru dengan nada marah.

“Nona sebagai tamu yang kami hor­mati, sebagai utusan Pak-sin-ong yang kami muliakan, apakah arti perbuatanmu ini?”

Kwi Lan tersenyum mengejek. Sejak tadi ia sudah tidak senang kepada mereka, terutama Ma Kiu. Ia memang tidak peduli akan nasib dua belas orang wanita muda tadi, akan tetapi mereka itu ia anggap terlalu sombong, tidak memandang mata kepadanya sehingga melakukan apa saja di depannya seakan-akan ia tidak akan bisa berbuat sesuatu! Memang watak Kwi Lan aneh sekali dan ia hanya selalu menurutkan perasaan hatinya. Kalau perasaan hatinya suka, seperti terhadap Hauw Lam, ia pun akan bersikap baik.

“Artinya, Brewok, bahwa aku setuju dengan ucapan orang she Ciam tadi, bahwa Thian-liong-pang dipimpin oleh orang-orang yang busuk! Bahwa kuanggap engkau seorang yang suka mandi darah anjing hitam, tak patut menjadi Ketua Thian-liong-pang, patutnya menjadi tukang jagal anjing!”

Semua orang terbelalak kaget mendengar ini dan semua tamu menahan napas. Omongan itu merupakan penghina­an yang tiada taranya! Apalagi bagi me­reka yang mengenal bahwa dahulunya Ma Kiu adalah seorang tukang jagal, maka omongan gadis itu yang entah disengaja atau tidak mereka tidak tahu tentu amat menyakitkan hati ketua baru Thian-liong-pang ini. Dan memang sesungguhnyalah, setelah sesaat terbelalak seperti arca saking kaget dan herannya, wajah Ma Kiu perlahan-lahan menjadi merah sekali sampai ke telinganya. Kedua tangannya mencengkeram lengan kursinya dan kalau ia tidak ingat bahwa kursi itu adalah kursi ketua tentu telah diterkamnya hancur lengan kursi itu untuk melampiaskan kemarahannya.

“Bocah kurang ajar!” bentaknya, Suaranya menggetar saking marahnya. “Biarpun engkau utusan dari utara, apa kaukira kau boleh bersembunyi di balik nama Jin-Cam Khoa-ong untuk menghinaku?”

Kwi Lan tertawa, menggunakan tangan kanannya secara main-main meremas cangkir bekas kecap tadi sehingga cangkir itu hancur lebur menjadi tepung dalam genggaman tangannya yang berkulit halus lalu berkata.

“Siapa bilang aku kaki tangan Jin-cam Khoa-ong? Biar dia algojo manusia maupun algojo anjing seperti engkau, aku sama sekali tidak mengenalnya. Sia­pa kesudian bersembunyi di belakang namanya?”

Mendengar ini, kembali semua orang melengak kaget. Kalau dara remaja itu tadi bersikap ugal-ugalan dan kurang ajar, mereka semua mengira bah­wa gadis itu adalah kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan hal itu tidaklah begi­tu aneh. Akah tetapi setelah kini gadis itu sendiri menyangkal menjadi orang Pak-sin-ong dan berani menghina tokoh besar itu pula di depan orang banyak, benar-benar mereka menjadi kaget dan heran sekali. Gilakah dara remaja ini? Kalau gila, alangkah sayangnya, dara re­maja begitu cantik jelita!

Lebih-lebih lagi Ma Kiu sendiri. Ke­marahannya meluap-luap dan diam-diam ia pun lega bahwa dara ini bukan utusan Jin-cam Khoa-ong, karena dengan ke­nyataan ini ia boleh berbuat sesuka hati­nya, terhadap gadis ini. “Bagus!” teriak­nya sambil bangkit berdiri. “Kalau begi­tu, biarlah kau menjadi tawanan kami dan akan kaurasakan penderitaan yang akan membuat kau merindukan kemati­an!” Dalam suara ini terkandung ancaman yang hebat dan mengerikan. Akan tetapi Kwi Lan tidak mengenal apa itu artinya takut danngeri. Ia malah tertawa.

“Sudah, jangan membadut lagi. Sudah sejak tadi aku muak mendengar dan me­lihat segala yang terjadi di sini. Lekas keluarkan kuda hitamku, Nonamu hendak pergi!” Sambil berkata demikian Kwi Lan menggunakan tangan kiri untuk menge­but-ngebutkan bajunya. Karena ia baru saja melakukan perjalanan jauh bersama Hauw Lam dengan naik kuda, tentu saja pakaiannya banyak debunya dan begitu ia kebut-kebutkan, debu mengepul ke seke­lilingnya dan mengotori meja-meja tamu lainnya.

“Wanita keparat! Kau belum tahu lihainya tuan besarmu!” Thai-lek-kwi Ma Kiu sudah tak dapat menahan kemarah­annya lagi dan kini hendak melangkah maju. Akan tetapi terdengar suara Sin­-seng Losu di belakangnya.

“Seorang ketua tidak sepatutnya melayani segala anak kecil. Apakah Thian-liong-pang sudah tidak ada orang lain untuk membereskan kuda betina liar ini? Hayo, siapa berani maju menangkapnya? Tangkap dan bawa ke kamarku, aku butuh yang liar macam ini untuk menambah semangatku!”

Untung bahwa Kwi Lan masih hijau dan tidak tahu apa yang dimaksudkan kakek ini. Kalau ia tahu tentu ia takkan dapat menahan kemarahannya lagi. Tiba­-tiba dari golongan tamu melompat keluar seorang laki-laki muda yang berpakaian tambal-tambalan namun bersih. Pengemis muda ini menjura ke arah kursi ketua dan berkata.

“Betul apa yang dikatakan Losuhu tadi. Thian-liong-pang tidak perlu repot-repot, di antara tamu-tamu yang hadir masih banyak yang sanggup menangkap bocah ini. Biarlah saya menangkap siluman cantik ini untuk Thian-liong-pang!”

“Ha-ha-ha, sahabat-sahabat dari Hek-coa Kai-pang memang selalu merupakan sahabat-sahabat baik kami. Tidak per­cuma bersahabat dengan Hek-coa Kai-pang. Silakan Siauw-sicu” kata Sin-seng Losu.

Pengemis muda itu dengan lagak sombong, mengangkat muka dan membusungkan dadanya, melangkah maju menghampiri Kwi Lan. Dia adalah seorang di antara dua pengemis muda yang tadi di­paksa menelan daging kambing oleh Kwi Lan, maka tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalas penghinaan tadi. Akan tetapi karena wataknya memang mata keranjang, begitu melihat wajah jelita, hatinya sudah ber­debar-debar dan timbul niat hatinya untuk mempermainkan Kwi Lan. Ia ter­senyum dibuat-buat, matanya memandang kurang ajar, dan berkata,

“Nona kecil bermulut besar! Kau ti­dak tahu tingginya langit lebarnya bumi! Berani mengacau Thian-liong-pang dan tidak memandang sebelah mata kepada para tamunya. Dosamu besar sekali dan sudah sepatutnya kau dihukum mati. Akan tetapi tuan mudamu yang melihat bahwa kau masih muda remaja dan cantik jelita, bersedia memberi ampun asal saja kau suka berlutut dan menganggukkan kepala delapan kali lalu berjanji akan melayani dengan manis segala kehendak Sin-seng Losuhu dan.... aduuuhhh....” Pengemis muda itu tidak melanjutkan kata-katanya karena ia keburu mati dengan gosong dan tulang-tulangnya remuk.

Pukulan Kwi Lan yang disertai kemarahan hebat itu membuat ia terlempar sampai menimpa meja di depan Ma Kiu si ketua baru!

Kagetlah semua yang hadir di situ. Terutama sekali lima orang pengemis anggauta Hek-coa Kai-pang yang melihat seorang saudaranya dalam segebrakan saja terpukul tewas, segera me­lompat bangun dari tempat duduk masing-masing. Saudara muda mereka tadi, biarpun bukan anggauta pimpinan teratas dari Hek-coa Kai-pang, namun merupakan seorang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi juga. Bagaimanakah dapat roboh binasa hanya sekali pukul oleh gadis remaja itu? Sekali melompat mereka tiba di dekat meja Ketua Thian-liong-pang yang tertimpa tubuh saudara muda me­reka dan begitu melihat dada dan muka pengemis muda itu biru menghitam, me­reka mengeluarkan seruan kaget dan marah. Hek-coa Kai-pang adalah per­kumpulan pengemis dunia hitam yang terkenal akan kelihaian mereka bermain racun. Kini seorang anggauta mereka tewas oleh pukulan yang mengandung racun hebat!

“Thian-liong-pangcu, maafkan kami yang terpaksa harus turun tangan terha­dap siluman betina ini!” berkata seorang di antara lima orang pengemis itu kepada Ma Kiu. Setelah berkata demikian lima orang pengemis ini sudah meloncat dan mengurung Kwi Lan yang berdiri dengan sikap tenang. Di tangan mereka tampak pedang yang sudah siap untuk menerjang dan mengeroyok. Akan tetapi melihat pukulan beracun yang hebat itu, pula mendengar bahwa gadis itu tadi menyangkal sebagai utusan Pak-sin-ong, pengemis tertua berlaku hati-hati dan berkata.

“Nona muda, engkau sudah berani lancang tangan membunuh seorang di antara saudara kami. Hayo mengaku, siapakah engkau dan dari partai mana agar kami dapat mempertimbangkan tin­dakan kami selanjutnya terhadap dirimu.” Kata-kata ini mengangkat kedudukan para pengemis itu ke tempat atas dan memang inilah yang dimaksudkan oleh pengemis itu untuk menutup rasa malu karena mereka berlima mengurung se­orang nona muda.

“Apakah kau tuli? Tadi sudah diperke­nalkan namaku Mutiara Hitam, bukan dari partai manapun juga. Saudaramu mampus oleh tingkahnya sendiri. Apakah masih ada lagi yang sudah ingin mam­pus? Kalau ada, boleh maju biar aku membantunya pergi ke neraka agar dunia ini tidak terlalu kotor. Kalau tidak ada, hayo keluarkan kuda hitam, Nonamu sudah jemu dan ingin pergi dari sini.”

Pengemis tua itu tak dapat menahan kemarahannya dan berseru. “Saudara-saudara, kalau kita tidak dapat memba­las kematian saudara muda kita, percuma saja menjadi anggauta Hek-coa Kai-pang!” Seruan ini merupakan komando bagi teman-temannya dan serentak mereka menggerakkan pedang mengirim se­rangan. Akan tetapi lima orang pengemis ini hanya melihat Si Nona tidak berpin­dah tempat melainkan menggerakkan kedua tangannya dan.... pedang mereka membalik dan menghantam diri mereka sendiri. Benar-benar amat luar biasa gerakan kedua tangan Kwi Lan ini. Se­tiap sambaran pedang ia sambut dengan tangan terbuka dan dengan gerakan aneh yang mengeluarkan hawa pukulan amat kuatnya, pedang yang menyambar dada­nya membalik ke dada Si Pemegang Pe­dang, yang menyambar pundak membalik ke pundak Si Penyerang dan demikian seterusnya sehingga terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika lima orang pengemis ini roboh berturut-turut oleh bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mereka sendiri!

Melihat gerakan luar biasa yang men­datangkan akibat aneh itu, Ma Kiu yang berkepandaian tinggi maklum bahwa biarpun masih amat muda, gadis itu benar­benar lihai sekali. Kalau tidak lekas turun tangan membekuk atau membinasa­kan gadis yang mengacau perkumpulannya ini tentu setidaknya akan mengurangi keangkeran Thian-liong-pang, demikian pikirnya. Maka ia lalu berseru. “Tangkap siluman ini!” Ia memberi isyarat dan sebelas orang adik seperguruannya mengikuti gerakannya menghampiri Kwi Lan. Gadis ini teringat akan cerita Hauw Lam akan kehebatan Cap-ji-liong yang katanya disegani oleh tokoh-tokoh kang-ouw, maka ia bersikap hati-hati namun wajah­nya tetap berseri dan bibirnya tersenyum mengejek.

“Inikah yang disebut Dua Belas Ekor Naga dari Thian-liong-pang? Hemm, Sungguh gagah!” kata Kwi Lan sambil tersenyum.

Merah muka Ma Kiu. Sebagai ketua baru Thian-liong-pang, sungguh amat memalukan kalau ia harus maju bersama sebelas orang sutenya untuk mengeroyok seorang gadis remaja. Nama Cap-ji-liong sudah tersohor. Masa kini menghadapi seorang gadis remaja mereka harus maju bersama? Akan tetapi gadis ini aneh ilmu silatnya, dan kalau sekali tu­run tangan Cap-ji-liong tidak mampu merobohkannya, hal itu akan lebih me­malukan lagi.

“Bocah, kalau kau sudah mendengar tentang Cap-ji-liong, mengapa banyak tingkah? Cap-ji-liong selamanya maju bersama. Karena kau menjadi tamu, ber­arti kami kurang sopan kalau turun ta­ngan di sini. Jika engkau benar-benar berani kami menantangmu untuk mengadu kepandaian di ruangan silat!”

Ucapan ini sedikit banyak menghapus rasa malu pihak Thian-liong-pang karena berarti bahwa dua belas orang tokohnya bukan sekali-kali hendak mengeroyok begitu saja, melainkan telah melakukan tantangan secara berterang. Kalau gadis ini tahu diri dan menolak tantangan lalu pergi meninggalkan tempat itu tentu Cap-ji-liong tidak akan menghalanginya. Semua tamu menduga bahwa, tentu gadis itu akan mempergunakan kesempatan ini untuk pergi menyelamatkan diri, karena melawan Cap-ji-liong berarti mencari mati. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika melihat gadis itu terse­nyum lebar dan menjawab,

“Kalian menantangku? Boleh, siapa takut akan pengeroyokan kalian? Hayo, hendak kulihat seperti apa kepandaian Cap-ji-liong!” Kwi Lan yang tidak me­ngenal apa artinya takut, tentu saja tidak dapat menolak tantangan ini, yang diucapkan dengan kata-kata “kalau ia berani!” Ia seorang gadis remaja yang baru saja turun ke dunia ramai sama sekali belum berpengalaman hanya meng­andalkan kepandaian luar biasa dan kebe­ranian saja. Kalau ia berpengalaman, tentu ia akan menaruh curiga mengapa Cap-ji-liong menantangnya dengan memi­lih tempat.

“Bagus!” seru Ma Kiu. “Mari ke lian-bu-thia (ruangan silat), biarlah para tamu yang terhormat menjadi saksi bahwa kau menerima tantangan Cap-ji-liong untuk bertanding di lian-bu-thia!”

Sambil membusungkan dada, sedikit pun tidak gentar, Kwi Lan berjalan mengikuti Ma Kiu ke ruangan belakang di mana terdapat ruangan silat yang luas dan berbentuk bundar. Sebelas orang adik seperguruan Ma Kiu berjalan di belakangnya, kemudian berbondong-bondong para tamu yang ingin menyaksikan per­tandingan itu membanjiri ruangan silat pula.

Kini mereka telah berhadapan. Kwi Lan memperhatikan mereka. Ma Kiu yang menjadi pimpinan berdiri di tengah sedangkan sebelas orang lain berdiri di kanan kirinya. Mereka tampak gagah dan keren dan melihat gerak-gerik mereka, memang dapat dibayangkan bahwa Cap-ji-liong rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Juga usia dan pakaian mereka bermacam-macam. Ada yang sudah tua, ada yang masih amat muda. Ada yang berpakaian seperti tosu, ada yang gundul seperti hwesio, dan ada yang berpakaian seperti pelajar. Anehnya, kini mereka telah memakai sebuah tali yang mengikat kepala mereka, tali yang dipasangi se­buah batu permata kuning dan terpasang di atas dahi mereka. Juga Ma Kiu kini memakai tali semacamitu. Ia tidak tahu bahwa itulah tanda khas tokoh Thian-liong-pang dan batu kuning itu diberi nama mustika naga.

“Majulah!” Kwi Lan menantang, sikap­nya acuh tak acuh.

Terdengar suara “set-set-set!” teratur ketika kaki dua belas orang itu mulai bergeser dengan cepat mengatur barisan mengurung. Mereka tidak melangkah, tidak mengangkat kaki melainkan berge­ser sehingga sepatu mereka menimbulkan suara di atas lantai. Keadaan menjadi hening dan tegang semua tamu meman­dang ke arah Kwi Lan yang menjadi pusat perhatian karena nona ini sudah terkurung di tengah-tengah!

Dua belas orang itu masih terus ber­gerak menggeser kaki sehingga tubuh mereka bergerak mengitari Kwi Lan, suara geseran kaki mereka kini berbunyi susul-menyusul seperti desis ular, Kwi Lan masih berdiri diam tak bergerak, hanya biji matanya yang bergerak-gerak, mengerling dan mengikuti gerakan me­reka di sebelah depan. Kedua telinganya memperhatikan gerakan di belakangnya dengan seksama, setiap urat syaraf di tubuhnya menegang, siap sedia, akan tetapi wajahnya masih tenang dengan senyumnya mengejek

Tiba-tiba saat yang dinanti-nantikan oleh semua orang tiba. Dengan teriakan nyaring seorang anggauta Cap-ji-liong yang muda, bertubuh tinggi kurus ber­muka seperti tikus, menerjang Kwi Lan dari sebelah belakang. Agaknya laki-laki muda ini tertarik oleh kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh Kwi Lan sehingga ia menyerang bukan memukul, melainkan memeluk ke arah pinggang dengan kedua lengannya. Namun gerakan­nya ini mendatangkan angin hebat dan tak boleh dipandang ringan. Pada detik berikutnya, anggauta lain, seorang tosu, mengulur tangan dari sebelah kiri untuk mencengkeram pundak, disusul serangan saudaranya dari depan, kanan, dan ke­mudian dua belas orang itu sudah ber­gerak serentak susul-menyusul dengan teratur baik sekali. Gerakan mereka yang teratur itu lebih merupakan gerakan dalam sebuah barisan dan sekaligus me­reka telah menutup semua jalan keluar bagi Kwi Lan! Kiranya Ma Kiu dan adik-adiknya tidak mau menyia-nyiakan waktu dan sekali turun tangan mereka tidak main-main lagi.

Pendengaran Kwi Lan yang tajam me­wakili matanya. Ia tahu bahwa penye­rang pertama datang dari belakang. De­ngan mudah ia mendoyongkan tubuh mengelak, kemudian secara tiba-tiba kaki kanannya menendang ke arah tangan tosu yang mencengkeram pundak kirinya, di­sambut dengan gerakan meloncat ke atas dan melihat betapa para pengeroyoknya turun tangan secara bergiliran, tubuhnya yang meloncat ke atas itu tiba-tiba me­lakukan gerak berputaran secara cepat sekali. Hebat bukan main gerakan gadis ini, cepat dan aneh. Karena gerakan memutar di udara ini sukar diikuti gerakan tangan dan kakinya, akan tetapi tahu-tahu ia telah menangkis semua serangan lawan dengan tangan atau dengan kaki, bahkan masih berkesempatan membagi pukulan dan tendangan yang mengenai empat orang lawannya. Mereka mengaduh dan berseru kaget, tak menyangka bahwa selain dapat bergerak cepat itu, bekas tangan atau kaki gadis itu amat berat menimpa pundak dan dada. Sesaat baris­an itu kacau, akan tetapi Ma Kiu berseru keras dan barisan menjadi rapi kembali pada saat gadis itu sudah menurunkan tubuhnya dan berdiri di tengahkurungan. Ia tersenyum-senyum karena dalam ge­brakan pertama ini ia berhasil memper­lihatkan kelihaiannya!

Kini para tamu menjadi berisik sekali. Mereka kagum dan kaget bukan main. Ketika tadi dua belas orang itu menye­rang secara bertubi-tubi dan setiap se­rangan merupakan pukulan dan cengke­raman yang lihai, diam-diam mereka menduga bahwa gadis ini mencari mati. Akan tetapi siapa kira, gadis itu dapat bergerak seperti kilat cepatnya dan ham­pir sukar dipercaya betapa gadis itu bukan hanya dapat menangkis semua serangan, juga dapat memukul dan menendang empat orang pengeroyoknya, biarpun hal itu dilakukan cepat-cepat dan tergesa­-gesa sehingga tidak tepat kenanya.

Gerakan pertama ini membuka mata Ma Kiu. Ia maklum bahwa biarpun dalam hal tenaga, mereka semua tidak akan kalah oleh lawan. Akan tetapi dalam hal kecepatan gerak maupun dalam hal ilmu silat yang luar biasa, gadis itu benar-benar merupakan lawan tangguh. Dia tadi berlaku sungkan sehingga mengeluar­kan komando untuk bergerak satu-satu secara bergiliran, siapa tahu, karena ia sungkan empat orang adiknya mengalami pukulan dan tendangan. Sekali lagi ia berseru keras dan kali ini dua belas orang itu menerjang maju secara berba­reng! Hanya lima orang yang menyerang langsung ke arah tubuh Kwi Lan. Sedang­kan yang tujuh orang menghantam ke tengah, ke atas, ke bawah dan sekitar tempat Kwi Lan berdiri sehingga me­reka telah menutup semua jalan keluar. Kemana pun gadis ini hendak bergerak, ia akan disambut hantaman yang dilaku­kan dengan pengerahan Iwee-kang!

Hal ini sama sekali tak diduga oleh Kwi Lan. Gadis ini terkejut juga, mak­lum bahwa keadaannya berbahaya. Baru ia tahu bahwa Cap-ji-liong benar-benar hebat dan tangguh. Biarpun kalau melawan mereka satu-satu, ia sanggup merobohkan mereka itu dalam waktu singkat, akan tetapi kalau mereka maju berbareng amatlah sukardilawan. Ia berseru keras, tidak bergerak dari tempatnya, melainkan menggunakan kaki tangan menangkis dan jari tangannya menotok ke arah pergelangan tangan lima orang yang menyerangnya secara berturut-turut. Akan tetapi tiba-tiba lima orang penyerang itu menarik kembali penyerangan mereka dan barisan bergeser terus, disusul lima orang lain yang menyerang secara tiba-tiba, dibantu tujuh orang yang mencegat jalan keluar! Setiap menyerang, lima orang itu mengambil kedudukan ngo-heng, dan setiap kali melihat bahwa serangan itu akan gagal, barisan yang terus bergeser itu menarik kembali serangan untuk di ulang dengan perubahan-perubahan mendadak yang sukar untuk diduga sebelumnya.

Kwi Lan merasa kewalahan. Dahinya yang putih halus itu mulai berkeringat. Ia takut, akan tetapi jengkel dan penasaran sekali! Ketika untuk kesekian kalinya lima orang lawan menyerangnya dan kepalanya sudah mulai pening karena mencurahkan perhatian dan menduga-duga perubahan, ia berseru keras, mencabut pedangnya dan memutar pedang itu ke sekelilingnya.

Tidak tampak gerakannya ini saking cepatnya. Tahu-tahu dua belas orang itu mencium bau yang wangi dan tampak oleh mereka sinar hijau bergulung-gulung seperti naga sakti bermain di angkasa, seperti hawa yang dingin sekali.

“Awas.... mundur dan siapkan senjata....!” Ma Kiu berseru keras. Barisannya melebar dengan cepat, namun masih saja ada dua orang yang terkena serempetan ujung pedang Siang-bhok-kiam sehingga pangkal lengan mereka terluka mengeluarkan darah. Lagi-lagi kurang tepat kenanya karena Kwi Lan tidak menggunakan pencurahan perhatian sepenuhnya dan tadi hasilnya inipun hanya kebetulan saja. Bagaimana ia dapat mencurahkan perhatiannya dalam sebuah serangan kalau lawannya yang dua belas orang banyak­nya itu selalu bergerak secara membi­ngungkan? Kini terdengar suara nyaring dan semua anggauta Cap-ji-liong sudah memegang senjata masing-masing. Ada yang memegang toya, ada yang memba­wa pedang, golok, thi-pian (pecut besi), siang-kek (sepasang tombak cagak), poan-koan-pit (senjata penotok jalan darah seperti pena bulu), tombak tiat-kauw (gaetan besi) dan lain-lain. Ma Kiu sen­diri bersenjatakan sepasang pedang pan­jang yang kelihatan berat.

Para tamu makin tegang. Setelah kini kedua pihak menggunakan senjata, tak dapat disangsikan lagi gadis itu tentu akan mati dalam keadaan tubuh tidak utuh. Setiap anggauta Cap-ji-liong memiliki ilmu kepandaian khusus, bahkan sebe­lum menjadi murid Sin-seng Losu mereka itu adalah ahli-ahli silat kelas satu. Kini mereka maju bersama, dapat dibayangkan betapa hebatnya.

“Ha-ha-ha-ha! Sayang sekali kau akan tercincang mati.... bunga liar seperti engkau sukar dicari....!” Tiba-tiba ter­dengar suara Sin-seng Losu yang tadi kelihatan bersungut-sungut ketika bebera­pa orang di antara murid-muridnya ada yang terluka. Kakek ini sejak tadi me­lenggut di atas kursi, menonton pertan­dingan sambil merem-melek. Kelihatan­nya saja ia melenggut dan mengantuk tak acuh, padahal sebenarnya ia menon­ton dengan hati penuh penasaran karena semenjak tadi, belum juga ia dapat me­ngetahui dari aliran mana ilmu silat gadis ini! Hal ini benar-benar membuat ia kaget dan heran. Biarpun ia sudah terlalu tua sehingga tenaga dan napasnya sudah berkurang banyak dan kalau ber­tanding, dia sendiri tidak akan dapat mengatasi keampuhan Cap-ji-liong, akan tetapi pengetahuannya dalam ilmu silat sudah amat dalam. Hampir semua aliran ilmu silat di dunia ini! Ia kenal baik akan tetapi mengapa sekali ini, setelah melihat gadis itu bersilat sampai puluhan jurus, ia sama sekali tidak mengenal aliran ilmu silat yang dimainkan? Ia anggap luar biasa sekali ilmu silat gadis itu. Mirip-mirip ilmu silat Kun-lun-pai, gerakan pedang seperti Kong-thong-pai, akan tetapi ketika menotok hampir sama dengan ilmu totok Im-yang-tiam-hoat yang lihai dari Siauw-lim-pai. Akan teta­pi semua itu hanya mirip saja, dan sama sekali bukan aselinya, bahkan kadang-kadang berlawanan dengan aselinya!

Hal ini memang tidak mengherankan kalau orang mengenal dari mana Kwi Lan mendapatkan semua ilmu yang aneh itu. Gurunya adalah seorang wanita yang luar biasa, yang puluhan tahun menyem­bunyikan diri dan menelan segala macam ilmu tanpa ada yang menuntun. Dalam istana bawah tanah terdapat banyak se­kali kitab pelajaran ilmu silat peninggal­an mendiang Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian yang mencuri kitab-kitab itu dari partai-partai besar. Karena jiwa Kam Sian Eng, guru Kwi Lan, memang tidak sehat alias tidak normal, maka ketika mempe­lajari semua ilmu itu ia telah menyele­weng dan ilmu yang aseli berubah, men­jadi ilmu aneh dan ganas. Kwi Lan juga mempelajari kitab-kitab itu sendirian saja, hanya menerima petunjuk-petunjuk dari gurunya, justeru sedikit petunjuk itu menyeleweng daripada aselinya, maka dapat dibayangkan betapa hasil ilmu yang ia kuasai tentu saja lebih aneh dan lebih menyimpang dari aselinya! Jangankan Sin­seng Losu, biar tokoh-tokoh dari partai yang memiliki kitab yang tercuri itu sendiri melihat cara Kwi Lan bersilat tentu takkan mampu mengenal ilmunya sendiri.

Ucapan mengejek dari Sin-seng Losu tidaklah berlebihan. Memang ilmu pedang Kwi Lan hebat dan luar biasa. Baru pedangnya, sebatang pedang kayu wangi, sudah membuktikan bahwa gadis ini biar­pun masih remaja, namun sudah menca­pai tingkat yang dinamakan tingkat “yang lunak mengalahkan yang keras” yaitu tingkat ahli pedang yang sudah pandai mengatur, tenaga yang dikendalikan hawa sakti sehingga setiap benda lemas dapat dipergunakan untuk melawan senjata keras. Akan tetapi, menghadapi pengu­rungan dua belas Cap-Ji-liong yang mem­pergunakan dua belas macam senjata ini, Kwi Lan benar-benar terdesak hebat. Senjata lawan menyambarnya seperti hujan dan hanya dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan ilmu pedangnya yang aneh maka sementara itu ia masih mampu bertahan. Seperti juga tadi, dua belas orang pengeroyoknya itu tidak me­ngeroyok, secara serampangan saja, me­lainkan mengurungnya dengan membentuk barisan yang kokoh kuat. Perlahan akan tetapi tentu mereka mulai menekan dan mendesak.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari sebelah dalam. Teriak-teriakan orang terdengar.

“Kebakaran....! Kebakaran....!”

“Tangkap bocah setan....!”

“Celaka, tawanan gadis-gadis itu di­larikan....!”

Semua tamu terkejut dan dua belas orang Cap-ji-liong yang sudah mulai mengurung dan mendesak Kwi Lan, ter­pengaruh oleh teriakan-teriakan ini se­hingga tekanan kepada gadis itu agak mengendur. Pada saat itu, berkelebat bayangan yang tertawa-tawa, “Ha­-ha-ha, sungguh memalukan. Dua belas ekor monyet tua mengeroyok seorang gadis jelita! Dua belas ekor naga kini menjadi dua belas ekor monyet buntung!”

Kiranya bayangan ini bukan lain ada­lah Hauw Lam yang dengan gerakan cepat sudah meloncat dan memutar go­loknya menerjang barisan pengepung se­hingga terbukalah barisan itu. Melihat ini, Ma Kiu mengeluarkan aba-aba. Ba­risan yang diterjang Hauw Lam sengaja membuka “pintu” dan pemuda ini pun sekarang masuk ke dalam pengurungan dua belas orang tangguh itu.

“Eh, Mutiara Hitam. Kita datang ber­sama, mana bisa sekarang engkau berpes­ta-pora sendiri saja melabrak dua belas ekor monyet tua ini? Aku ikut. Hayo ­kita sekarang berlumba. Kita beradu punggung dan lihat pedangmu, atau go­lokku yang lebih dulu membabat mampus mereka ini!”

Kwi Lantersenyum. Ia tadi sudah tertekan dan terdesak hebat. Namun seujung rambut ia tidak merasagentar. Ia tadi sudah siap-siap, kalau sampai ia kalah dan harus roboh di tangan dua belas orang pengeroyoknya, ia tentu akan menyeret beberapa orang di antaranya terutama sekali Ma Kiu, untuk tewas bersamanya! Untuk niat ini ia sudah menggenggam tujuh jarum hijau di tangan kirinya! Sekarang melihat munculnya Hauw Lam yang mengajak ia berlumba, timbul kegembiraannya dan ia berseru.

“Berandal cilik! Kaulihat betapa aku merobohkan mereka!” Setelah berkata demikian, Kwi Lan mainkan pedangnya menerjang maju. Empat orang di depan­nya cepat mengangkat senjata untuk menangkis dan balas menyerang, akan tetapi pada saat itu tangan kiri Kwi Lan bergerak dan sinar hijau menyambar ke depan.

“Awas....!” Ma Kiu berseru memper­ingatkan adik-adiknya. Namun, jarum-jarum hijau yang halus itu disambitkan dari jarak dekat sehingga biarpun empat orang itu berusaha mengelak, dua orang di antara mereka kurang cepat dan ro­bohlah mereka sambil mengeluarkan je­ritan kesakitan. Murid-murid Thian-liong-pang segera menolong mereka ini dan kini sepuluh orang pengeroyok menerjang dengan marah sekali. Hauw Lam tertawa-tawa dan sambil berdiri saling membela­kangi, dia dan Kwi Lan memutar senjata menghadapi para pengeroyok. Lega hati Kwi Lan setelah kini ia dibantu Hauw Lam. Tadi yang membuat ia amat repot adalah penyerangan lawan yang berada di belakangnya. Akan tetapi kini ia tidak usah lagi memperhatikan bagian bela­kang, maka ia kini mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Setiap ada se­rangan datang ia tidak mengelak, akan tetapi langsung menyambut serangan ini dengan tusukan atau totokan yang men­dahului sehingga Si Penyerang terpaksa menarik kembali serangannya.

“Semua mundur....!” tiba-tiba Ma Kiu berteriak keras memberi perintah kepada adik-adiknya

Sepuluh orang itu serentak melompat mundur sambil menggerakkan tangan kiri. Maka berhamburanlah senjata-senjata rahasia yang berbentuk peluru bintang, bagaikan hujan menyerang Hauw Lam dan Kwi Lan. Dua orang muda itu cepat memutar golok dan pedang, memukul runtuh semua senjata rahasia.

“Wah, kau yang mengajar monyet­-monyet itu. Sekarang mereka membalas. Lebih baik kita lekas pergi dari sini!”

Hauw Lam mengomel. Kwi Lan yang maklum betapa besar bahayanya kalau pihak lawan mulai menyerang dari jauh dengan senjata rahasia, setuju akan usul ini. Akan tetapi sebelum mereka sempat mendapatkan jalan keluar untuk melarikan diri, tiba-tiba lantai yang mereka injak tergetar dan dengan suara keras lantai itu terbuka, nyeplos ke bawah.

“Celaka....!” Hauw Lam berseru dan bersama Kwi Lan tubuhnya terjeblos ke bawah tanpa dapat dicegah lagi!

“Cari pegangan....!” Hauw Lam ber­seru pula dan merentangkan kedua ta­ngannya. Goloknya ia tusuk-tusukkan ke samping dan akhirnya tangan kirinya berhasil merabadinding. Ia menggerakkan tubuh sehingga tubuhnya yang meluncur itu terbanting ke kiri, menubruk dinding dan di lain saat tubuhnya tergantung pada gagang golok yang dipegangnya erat-erat.

Akan tetapi Kwi Lan yang memiliki gin-kang luar biasa itu, dengan mengge­rak-gerakkan kaki tangannya dapat memperlambat luncuran tubuhnya, bahkan ketika kedua kakinya menyentuh dasar sumur, tubuhnya membalik lagi ke atas sampai dua meter lebih, seakan-akan di kedua kakinya dipasangi per yang lemas sekali.

“Mutiara Hitam.... kau di mana....?” Terdengar suara Hauw Lam di atas.

Kwi Lan sudah duduk di atas tanah berbatu dan menjawab, “Di bawah sini. Turunlah. Mau apa kau bergantungan disitu?”

Hauw Lam menengok ke bawah. Sinar yang masuk dari atas memberi penerang­an suram, akan tetapi ia dapat melihat betapa gadis itu sudah duduk enak-enak­an di sebelah bawah, kira-kira tiga me­ter dari tempat ia bergantung. Ia mengerahkan tenaga, mencabut goloknya dan meloncat turun di dekat gadis itu. Pada saat itu, terdengar suara berderit keras dan lobang di sebelah atas itu tertutup rapat kembali. Keadaan menjadi gelap gulita, melihat tangan sendiri pun tak tampak!

“Wah, kita seperti dua ekor tikus masuk perangkap!” Hauw Lam berkata berusaha untuk tertawa, akan tetapi me­nahannya karena khawatir kalau-kalau membuat gadis itu tak senang.

“Kau kenapa? Mau tertawa, tertawa­lah. Mengapa memandang kepadaku se­perti orang ragu-ragu? Kaukira aku ta­kut? Huh, enak di sini!” kata Kwi Lan yang segera duduk melonjorkan kedua kakinya.

Hauw Lam terkejut. “Apa kaubi­lang....? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku.... eh, Mutiara Hitam, apakah engkau mempunyai nama seperti kucing?”

“Hemm, kalau aku kucing, engkau tikus! Sudahlah, jangan rewel dan lebih balk kau ceritakan apa yang kaulakukan tadi.”

Tentu saja Hauw Lam tidak tahu bahwa gadis ini semenjak kecil tinggal di bawah tanah, di dalam istana bawah tanah sehingga ia merasa enak berada di bawah tanah! Karena semenjak kecil biasa hidup di tempat gelap Kwi Lan memiliki mata yang sudah biasa dengan kegelapan dan dapat melihat benda di dalam gelap, setidaknya lebih awas daripada orang biasa. Mendengar suara gadis itu tidak dibuat-buat, diam-diam ia merasa sema­kin kagum dan suka. Gadis ini benar-benar hebat, pikirnya. Selain cantik jelita seperti dewi, juga wajar dan polos, ditambah kepandaian yang amat tinggi. Tadi ketika dikeroyok Cap-ji-liong, gadis ini sudah memperlihatkan bahwa ia me­miliki kepandaian yang benar luar biasa. Jarang ada tokoh yang mampu memper­tahankan diri dari pengeroyokan Cap-ji-liong, apalagi melukai dua orang di antara mereka dalam pengeroyokan. Dan sekarang, biarpun telah terjebak masuk ke dalam sumur, gadis ini masih bersikap tenang dan enak saja, sama sekali tidak membayangkan sikap takut-takut.

“Nanti dulu, paling penting aku harus menyelidiki keadaan tempat ini, mencari jalan keluar.” kata Hauw Lam sambil mengulur kedua lengan ke depan, mera­ba-raba.

“Tak usah kauselidiki lagi. Percuma, sumur ini sengaja dibuat untuk menjebak musuh. Dindingnya terbuat dari batu tebal, tingginya lima tombak lebih dan di atas ditutup lembaran besi yang atasnya dipasangi tegel, dan dapat terbuka atau tertutup sendiri dengan alat rahasia.”

Kembali Hauw Lam menjadi heran. Gadis ini bicara seakan-akan tidak ber­ada di dalam gelap, seperti menceritakan keadaan yang dilihatnya dengan nyata. Ia tidak percaya lalu kedua tangannya me­raba-raba dinding. Dan memang betul apa yang dikatakan gadis itu. Dinding sumur itu segi empat, lebarnya tiga meter tiap segi, dan terbuat daripada batu tebal. Karena bagi Hauw Lam tempat itu amat gelap, ia tidak dapat melihat apa-apa ketika meraba-raba sehingga tiba-tiba ia meraba kepala gadis itu!

“Eh-eh, mau apa kau? Seperti orang buta saja!” Gadis itu membentak.

“Wah, maaf.... aku.... aku memang se­perti buta di sini....”

“Duduklah dan jangan berkeliaran.”

Hauw Lam lalu duduk di atas lantai sumur. Tanah padas berbatu itu agak basah. Betapapun juga, ia tidak dapat bersikap masa bodoh seperti gadis ini. Masa mereka harus menerima kematian seperti dua ekor tikus dalam sumur? Ia harus berdaya untuk keluar dari dalam sumur ini. “Mutiara, aku tidak mengerti bagaimana kau dapat mengetahui keadaan sumur ini. Akan tetapi kalau dalamnya benar lima tombak, tak mungkin kita meloncat keluar dari sini. Biarpun begitu, dengan bantuan golok dan pedangmu, aku dapat meloncat-loncat sambil menancap­kan golok dan pedang bergantian pada dinding, terus sampai keluar. Setelah itu, aku akan mencari tambang untuk mena­rikmu keluar pula.”

“Eh, takutkah engkau di sini?”

“Bukan takut! Akan tetapi kita harus mencari jalan keluar.”

“Hemm, bagaimana kau akan membu­ka penutup besi di atas itu? Pula, siapa tahu begitu kau keluar, hujan senjata akan menyambutmu?”

Hauw Lam terkejut. Beralasan juga kata-kata gadis ini. “Habis.... bagaimana.”

“Kita menanti kesempatan dan semen­tara itu, duduk mengaso di sini dan kau­ceritakan apa yang terjadi tadi.”

Malu juga rasa hati Hauw Lam men­dengar suara gadis itu yang amattenang. Ia lalu bercerita. Ketika tadi melihat datangnya Ci-lan Sai-kong yang menggi­ring dua belas orang gadis-gadis muda yang diculik, Hauw Lam marah bukan main. Akan tetapi ia menahan-nahan perasaan hatinya dan setelah mendapat kesempatan ia lalu menyelinap ke dalam pada saat perhatian semua orang tertarik oleh perbuatan Kwi Lan yang amat be­rani. Setelah tiba di ruangan belakang, ia menyergap dan menotok seorang anggau­ta Thian-liong-pang. Dari orang inilah ia mendapat keterangan tentang dua belas orang gadis itu yang ditahan di kamar belakang, dijaga oleh empat orang ang­gauta Thian-liong-pang. Ia menotok lumpuh orang itu kemudian melanjutkan penyelidikannya. Tekad hatinya akan me­nolong dan membebaskan dua belas orang gadis itu. Dengan kepandaiannya yang tinggi, secara mudah ia merobohkan em­pat orang penjaga dan pada saat itulah dari atas genteng melayang turun se­orang laki-laki yang ternyata adalah Ciam Goan, bekas tokoh Thian-liong-pang yang tadi diusir oleh Ma Kiu.

Girang hati Hauw Lam dan diam-diam ia kagum menyaksikan keberanian Ciam Goan. Biarpun sudah jelas bahwa orang gagah itu tak mungkin dapat melawan para pimpinan Thian-liong-pang dan tadi pun sudah dikalahkan, namun orang she Ciam itu masih berani dan berusaha menolong dua belas orang gadis tawanan. Tanpa banyak cakap mereka lalu mema­suki kamar, membebaskan dua belas orang gadis itu. Hauw Lam menyerahkan dua belas orang gadis itu kepada Ciam Goan untuk diajak melarikan diri, se­dangkan dia sendiri memancing perhatian orang dengan jalan membakar bangunan samping bagian belakang. Akalnya berha­sil baik. Semua orang lari ke tempat kebakaran dan mengeroyoknya, sehingga Ciam Goam dan dua belas orang gadis tawanan itu dapat pergi dengan aman. Hauw Lam sendiri lalu memancing mere­ka yang mengeroyoknya ke sebelah dalam gedung, bahkan ia lalu menggabung de­ngan Kwi Lan yang sudah terdesak oleh Cap-ji-liong sehingga akhirnya mereka berdua terjeblos ke dalam sumur perang­kap.

“Begitulah.” Hauw Lam mengakhiri ceritanya. “Kuharap saja orang she Ciam itu berhasil melarikan dan menyelamat­kan dua belas orang gadis itu. Dan kau sendiri, apa yang kaulakukan tadi? Wah, kepandaianmu hebat bukan main, Mutiara Hitam. Aku takluk setelah menyaksikan betapa kau melawan pengeroyokan Cap­-ji-liong!”

“Hemm, mereka memang kuat sekali kalau maju bersama. Sebelum kau datang membantu, hampir aku roboh.” Mutiara Hitam atau Kwi Lan lalu menceritakan pengalamannya. Hauw Lam kagum sekali dan diam-diam di lubuk hatinya ia mera­sa puas dan tidak akan penasaran kalau mengalami kematian bersama nona ini di dalam sumur!

“Sekarang bagaimana? Aku bukannya takut terkurung seperti ini, akan tetapi kita tidak boleh tinggal diam saja. Kita harus keluar dari sini, terutama sekali engkau....” katanya.

“Mengapa aku? Kalau kau bagai­mana?”

“Aku juga harus dapat keluar, akan tetapi yang paling penting engkau, Nona. Kau seorang wanita, karena itu harus didahulukan keselamatanmu....”

“Huh, laki-laki dan wanita apa beda­nya?”

Hauw Lam tidak mau membantah tentang itu. “Biar kucoba untuk merayap atau meloncat naik.”

“Percuma, kita tunggu kesempatan. Kalau ada yang membuka penutup besi di atas itu, sudah kupersiapkan jarum-ja­rumku. Begitu ada orang di atas, kuse­rang dengan jarum dan kau boleh me­lompat dengan bantuan golokmu ditan­capkan pada dinding.”

“Bagaimana kalau tidak ada yang membuka penutup besi di atas?”

“Kalau begitu, hemm.... kita tinggal di sini selamanya sampai mati”

Mendengar kata-kata yang dikeluarkan seenaknya dan tenang-tenang saja itu, Hauw Lam bergidik. Akan tetapi hatinya menjadi hangat ketika ia ingat betapa gadis itu agaknya senang saja tinggal berdua dengan dia di situ selamanya sampal mati! Ia menjadi terharu dan baru sekali ini selama hidupnya Hauw Lam merasa hatinya terharu sekali dan juga bahagia! Suaranya menjadi gemetar ketika ia berkata, lenyap nadanya yang suka bergurau, suaranya kini bersungguh-sungguh.

“Nona.... aku...., aku pun rela mati di sini, rela tinggal di sini selama hidupku, bahkan aku akan berbahagia sekali.... berdua di sampingmu selamanya....”

“Ihhh! apa maksud kata-katamu yang aneh ini?” Kwi Lan yang tentu saja masih bodoh dalam hal asmara, bertanya heran. Nada suara gadis ini menyadarkan Hauw Lam, membuat mukanya merah sekali, membuat ia merasa malu sekali. Untung bahwa tempat itu gelap sehingga ia tidak usah menentang pandang mata Kwi Lan, dan kegelapan ini sesungguhnya yang membuat ia berani melanjutkan kata-katanya yang membisikkan suara hatinya.

“Mutiara.... biarpun belum lama aku mengenalmu, bahkan namamu yang se­sungguhnya pun aku belum tahu.... akan tetapi.... aku tidak merasa begitu. Bagiku engkau sudah kukenal selama hidupku. Tadinya aku sebatang kara di dunia ini... setelah bertemu denganmu, aku merasa tidak sebatang kara lagi. Mutiara.... ah, aku harus berterus terang.... aku.... aku cinta padamu....”

Saking kaget dan herannya mendengar ucapan yang lama sekali belum pernah didengarnya dan yang baru ia raba-raba maksud sebenarnya ini, Kwi Lan duduk termenung dan menggigit jarum yang dipegangnya. Ia seperti orang terpesona, tidak peduli bahwa pada saat itu, sinar terang menerobos masuk dari atas dan penutup lubang sumur itu dibuka orang! Hauw Lam melihat ini dan cepat melompat, siap untuk menerjang ke atas dan berseru.

“Mutiara.... lekas serang dia....”

Akan tetapi Kwi Lan hanya meman­dangnya dan berkata bingung, “Ada apa....?”

“Ssstt.... naiklah....!” Tiba-tiba orang yang membuka penutup sumur itu berka­ta, kemudian seutas tambang meluncur turun dari atas.

Hauw Lam dan Kwi Lan melihat bah­wa yang muncul dan melemparkan tambang itu adalah seorang yang berkeru­dung kain hitam, akan tetapi dari suara­nya dapat diketahui bahwa dia seorang laki-laki. Begitu melempar tambang, bayangan itu lenyap kembali.

“Mari kita naik!” Hauw Lam berkata dan cepat-cepat pemuda ini merayap naik melalui tambang seperti seekor kera cepatnya, Kwi Lan juga sudah merayap baik dan sebentar saja keduanya sudah melompat keluar dari sumur. Sejenak mata Hauw Lam menjadi silau karena tiba-tiba dari tempat gelap berada diterang. Ia mengejap-ngejapkan matanya, kemudian ketika matanya bertemu dengan Kwi Lan, tiba-tiba pemuda ini men­jadi merah seluruh mukanya!

“Pergi dari sini cepat!” Hauw Lam berkata dan mereka lalu melompat ke­luar dari ruangan silat yang kini sudah sunyi. Akan tetapi begitu mereka keluar dari ruangan silat dan berada di ruangan tengah, dari kanan kiri berlompatan ke­luar beberapa orang anggauta Cap-ji­liong!

“Celaka! Mereka lolos! Kepung.... tangkap....!” Mereka berteriak-teriak dan empat orang sudah menerjang Hauw Lam dan Kwi Lan.

Akan tetapi, keampuhan Cap-ji-liong adalah kalau mereka maju bersama. Kini hanya ada empat orang di antara mere­ka, tentu saja bukan tandingan Hauw Lam dan Kwi Lan. Begitu sepasang orang muda ini menggerakkan senjata empat orang itu sudah melompat mundur untuk menghindarkan bahaya maut. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hauw Lam dan Kwi Lan untuk berlari terus. Karena dari depan berbondong datang para anggauta Thian-liong-pang, Hauw Lam lalu menarik tangan Kwi Lan, diajak lari melalui ruangan belakang. Mereka lari masuk ke ruangan dalam, terus ke belakang. Bebe­rapa orang anggauta Thian-liong-pang yang bertemu dengan mereka dan berusaha menghalangi, mereka robohkan de­ngan tendangan atau pukulan tangan kiri.

Untung bagi mereka bahwa para pim­pinan Thian-liong-pang pada saat itu sedang sibuk membuat persiapan untuk mengunjungi pertemuan antara tokoh-tokoh dunia hitam yang akan di­adakan di Puncak Cheng-liong-san untuk memilih jagoan nomor satu di dunia. Ma Kiu ketua baru, juga Sin-seng Losu sen­diri bersama murid-muridnya bersama be­berapa orang tamu penting sudah me­ninggalkan gedung untuk mengunjungi kota Tai-goan untuk ikut menyambut da­tangnya seorang tokoh besar yang ter­kenal dengan julukan Siauw-bin Lo-mo (Iblis Tua Tertawa). Karena tokoh besar ini masih terhitung paman guru Sin-song Losu, tentu saja oleh Thian-liong-pang dianggap sebagai kakek guru dan mereka mengharapkan kakek guru ini akan men­jadi jagoan nomor satu sehingga nama Thian-liong-pang akan ikut terangkat tinggi. Karena kesibukan ini mereka ha­nya meninggalkan empat orang murid kepala bersama murid-murid bawahan untuk menjaga gedung. Sama sekali me­reka tidak menduga bahwa dua orang muda tawanan mereka akan dapat melo­loskan diri dan menganggap mereka itu tentu akan tewas kelaparan di dalam sumur.

How Lam dan Kwi Lan maklum bahwa kalau para pimpinan Thian-liong-pang keburu datang mengeroyok, keadaan mereka akan berbahaya. Karena mereka datang ke tempat itu hanya untuk “main-main” dan tidak mempunyai urusan ter­tentu dengan perkumpulan ini, mereka pun tidak ada niat untuk melanjutkan pengacauan. Dihadang oleh murid-murid bawahan Thian-liong-pang tentu saja me­reka dengan enak merobohkan semua penghadang, terus lari ke belakang, men­cari kandang kuda dan setelah dapat menemukan kuda hitam yang mereka “sum­bangkan” tadi, mereka lalu menunggang kuda berdua dan membalapkan kuda itu keluar dari Yen-an. Terdengar derap kaki kuda yang ditungganggi para anak buah Thian-liong-pang mengejar, namun tak seekor pun kuda mampu menandingi lari­nya kuda hitam dari Khitan itu.

Setelah kota Yen-an jauh ditinggalkan dan tak tampak adanya pengejar lagi, Kwi Lan yang duduk di depan tiba-tiba menahan kudanya. Mereka berhenti di jalan simpang empat.

“Di sini kita berpisah. Kau turunlah.”

Hauw Lam meloncat turun dan me­mandang gadis itu dengan muka terkejut. Tak disangkanya bahwa secara tiba-tiba gadis itu mengajak mereka saling berpi­sah. Namun nona itu menundukkan muka, tidak membalas pandang matanya.

“Mutiara Hitam.... Nona...., mengapa kita harus berpisah?” Suara Hauw Lam gemetar, tidak seperti biasa. Jantung Kwi Lan berdebaraneh. Ia marah dan juga bingung.

“Nona, apakah engkau marah karena pengakuanku di dalam sumur tadi? Maaf­kanlah, aku bukan bermaksud menying­gung perasaanmu atau menghinamu, aku hanya mengeluarkan isi hatiku sejujurnya. Biarpun kau akan menjadi marah dan membunuhku, aku tak dapat menyangkal bahwa aku.... cinta padamu, Mutiara Hi­tam.”

Kwi Lan menarik napaspanjang. Ia tidak bisa marah kepada pemuda ini, dan sebetulnya ia senang mendengar pengaku­an itu. Akan tetapi ia tidak ingin sela­manya berada di samping Hauw Lam. Ia ingin menyendiri.

“Hauw Lam, ada hal yang lebih pen­ting bagimu. Engkau harus pergi kepada Ibu kandungmu.”

Terbelalak mata Hauw Lam meman­dang. “Apa....? Apa yang kaumaksud­kan....?”

“Bukankah Ayahmu bernama Tang Sun dan Ibumu bernama Phang Bi Li?”

Hauw Lam melangkah maju dan memegang tangan Kwi Lan. “Mutiara! Bica­ralah yang jujur! Bagaimana kau tahu akan nama Ayahku? Memang Ayahku bernama Tang Sun. Nama Ibu aku tidak pernah dengar, akan tetapi engkau.... bagaimana bisa tahu?”

Kwi Lan yang kini melihat betapa wajah Hauw Lam menjadi pucat dan agaknya amat tertarik tersenyum. “Kau pantas menjadi kakakku. Ibumu adalah Bibi Bi Li yang menganggap aku anak sendiri. Ayahmu.... Ayahmu telah tewas, aku melihat sendiri. Ibumu masih hidup, namanya Phang Bi Li dan kini tinggal di Hutan Iblis.”

Makin pucat wajah Hauw Lam. “Di Hutan Iblis....? Ayahku mati....?” Ia me­rasa mimpi mendengar keterangan ini dan tentu ia tidak akan percaya kalau saja ia tidak yakin bahwa gadis yang baru dikenalnya beberapa hari ini tak pernah membohong seperti juga tak per­nah merasa takut.

“Pergilah, carilah Ibumu dan kau akan mendengar semua. Ibumu hanya tahu bahwa puteranya bernama Tang Hauw Lam. Kau pergilah ke Lembah Air Hijau, di kaki Pegunungan Pek-liu-san sebelah utara, di sana terdapat hutan yang oleh orang-orang disebut Hutan Iblis. Nah, Ibumu tinggal seorang diri di dalam pon­dok di hutan itu, menanti-nanti keda­tanganmu. Selamat tinggal, kelak kita berjumpa pula.” Setelah berkata demi­kian, Kwi Lan membalapkan kudanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Hauw Lam yang masih berdiri seperti arca dengan muka pucat.

“Ibuku.... Ibu kandungku.... Ibuku....” Pemuda yang biasanya periang itu kini hanya berbisik-bisik dengan sepasang ma­ta basah. Pandang matanya mengikuti bayangan Kwi Lan di atas kudanya. dan semangatnya serasa terbawa terbang pergi.

***

Kwi Lan menjalankan kudanya sambil melamun. Begitu berpisah dari Hauw Lam ia merasa betapa ia kehilangan seorang teman seperjalanan yang selalu mendatangkan suasana gembira. Akan te­tapi kalau ia teringat akan pernyataan cinta kasih Hauw Lam, ia menjadi kece­wa. Hal ini melenyapkan rasa gembiranya dan membuatnya menjadi tak enak, hatinya berdebaran dan ia menjadi malu, tak ingin bertemu kembali dengan pemuda itu. Ada hal lain yang sejak tadi ia pi­kirkan. Siapakah orang yang menolongnya ketika ia bersama Hauw Lam berada dalam sumur jebakan? Apakah orang gagah she Ciam yang telah menolong dua belas orang gadis tawanan? Rasanya tidak mungkin karena biarpun gagah be­ran, orang she Ciam itu tidak begitu tinggi kepandaiannya. Penolong tadi tentu orang yang sudah kenal akan keadaan dan rahasia Thian-liong-pang.

Kwi Lan yang tidak mengenal jalan, tidak tahu bahwa kudanya itu berlari menuju ke arah Sungai Kuning yang mengalir di sebelah timur Yen-an. Ia juga tidak tahu bahwa jalan ini pula yang diambil oleh rombongan Sin-seng Losu pagi tadi, menuju ke Tai-goan!

Hari telah menjelangsenja. Ia segera membalapkan kudanya ketika melihat se­buah dusun jauh di depan. Perkampungan ini cukup besar dan Kwi Lan bermalam di rumah penginapan dusun itu. Semua orang kagum melihat gadis yang cantik jelita dan yang menunggang seekor kuda hitam yang indah ini, namun Kwi Lan tidak ambil peduli. Setelah pengalaman­nya di Thian-liong-pang, Kwi Lan bersi­kap hati-hati dan tidak mau mencari perkara. Mulailah ia tahu bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat orang-orang yang berilmutinggi. Ia ingin bertemu dengan ibu kandungnya dan menurut pe­nuturan Hauw Lam, di Khitan banyak terdapat orang-orang pandai sehingga seorang tokoh hitam seperti Jin-cam Khoa-ong itu pun menjadi buronan Khi­tan. Ia akan menemui Ibu kandungnya dan kalau mungkin, memperdalam kepandaiannya.

Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan dan hari telah lewat senja ketika ia menghentikan kudanya di tepi Sungai Kuning yang airnya melimpah-limpah dan amatlebar. Ia duduk di atas ku­danya sambil termenung. Bagaimana ia dapat melanjutkan perjalanan? Tidak ada jembatan, tidak ada perahu, dan tempat itu amat sunyi, tak tampak seorang pun manusia. Hanya dapat dilihat dari situ perahu-perahu nelayan jauh sekali dan ada di antara mereka yang sudah menya­lakan lampupenerangan. Ia lalu menja­lankan kudanya menyusuri sungai menuju ke kiri untuk mencari perahu yang kira­nya akan dapat menyeberangkannya atau kalau tidak, ia akan mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam dan besok baru berusaha menyeberang.

Tiba-tiba dari jauh ia melihat sebuah perahu kecil meluncur cepat ke pantai. Itu tentu seorang nelayan, pikirnya. Mungkin dia bisa menolongku mencarikan sebuah perahu besar untuk menyeberang. Perahu kecil macam itu mana dapat menyeberangkan kudanya? Kwi Lan mempercepat larinya kuda ke arah pan­tai. Akan tetapi ia terlambat karena dari dalam perahu itu meloncat keluar ba­yangan hitam yang kemudian berla­ri amat cepatnya ke darat. Kwi Lan terkejut. Terang itu bukan nelayan biasa, pikirnya. Nelayan biasa mana bisa memi­liki gin-kang yang sedemikianbaiknya. Ia pun cepat membelokkan kudanya, meng­ikuti arah larinya orang itu. Cuaca sudah mulai gelap dan Kwi Lan yang merasa tertarik, melanjutkan kudanya ke depan sambil mencari-cari dengan pandang matanya.

Bayangan itu lenyap sudah. Gerakan­nya terlalu cepat dan melakukan penge­jaran sambil menunggang kuda amat sukar. Selain itu, juga Kwi Lan meragu untuk mengejar secarasungguh-sungguh. Ia tidak tahu siapa orang itu dan menga­pa berlari-lari dengan cepatnya. Terang bukan nelayan dan ia tidak mempunyai keperluan sesuatu dengan orang itu. Ha­nya ia tadi ingin bertanya kalau-kalau orang itu dapat menunjukkan di mana ia dapat menyewa perahu untuk menyebe­rang bersama kudanya.

Sinar terang yang keluar dari kumpulan batu-batu gunung di pantai sebelah depan menarik perhatiannya. Sinar yang ber­gerak-gerak besar kecil itu tentulah sinar api unggun yang dinyalakan orang. Ada api unggun tentu ada orang dan kalau ada orang berarti ia akan bisa mendapat­kan keterangan dan petunjuk yang diharapkan. Kini kuda hitam yang ditungganginya sudah mendekati deretan batu-batu padas yang tinggi dan dijalankan perlahan.

Ternyata api unggun itu dinyalakan orang di dalam sebuah guha batu yang amat lebar. Ketika Kwi Lan yang masih duduk di atas kudanya tiba di depan mulut guha, ia melihat lima orang laki-laki di dalam guha. Kedatangannya agak­nya sudah dinanti mereka karena mereka sudah berdiri dan tangan kanan mereka sudah meraba gagang senjata masing-masing. Yang paling depan adalah se­orang pemuda yang berambut panjang, berpakaian hitam dan berwajah tampan sekali. Kepalanya diikat tali dan di dahi­nya besinar sebuah batu permata kuning, Tiga orang yang lain juga sudah siap dan memandang kepadanya dengan mata ter­belalak kaget dan marah. Adapun orang ke lima adalah seorang pendeta yang jenggotnya kasar dan jarang seperti ka­wat, tubuhnya tinggi besar dan di bela­kang punggungnya tampak gagang seba­tang pedang.

“Siauw-ya (Tuan Muda), dia adalah Mutiara Hitam yang mengacau di Thian­-liong-pang....!” Seorang di antara tiga orang di belakang pemuda tampan itu berseru.

Pemuda itu memandang dengan mata bersinar tajam, lalu membentak ke arah Kwi Lan, suaranya nyaring. “Mau apa engkau datang ke sini?”

Kwi Lantersenyum. Ia tidak meman­dang mata kepada orang-orang Thian­-liong-pang ini dan melihat batu permata di dahi Si Pemuda Tampan, Ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu se­orang tokoh pula. Akan tetapi ia sedikit pun tidak takut dan karena ia kemarin tidak melihat pemuda ini di antara yang mengeroyoknya, ia pun tiada nafsu untuk melayani mereka.

“Aku tidak butuh kalian, aku hanya perlu seorang nelayan yang dapat menye­berangkan aku dan kudaku.” jawabnya, suaranya dingin. Biarpun ia tidak mengharapkan bantuan mereka ini, namun siapa tahu mereka dapat memberi kete­rangan tentang nelayan yang ia butuhkan.

Sebelum pemuda dan tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu menjawab, pendeta sai-kong yang berdiri paling belakang itu mengangkat tangan kiri ke atas, dan berkata.

“Siangkoan-kongcu, biarkan lohu menghadapinya!” Dengan langkah lebar pendeta ini maju. Setelah berhadapan dengan Kwi Lan, ia menjura dengan hor­mat, tersenyum-senyum dan jenggotnya yang kaku bergerak-gerak, matanya ber­kejap-kejap.

“Nona, sungguh Nona yang masih begini muda amat mengagumkan. Tadi lohu sudah mendengar penuturan saudara-saudara Thian-liong-pang akan sepak ter­jang Nona yang berani menghadapi Cap-ji-liong. Ha-ha-ha, sungguh gagah! Se­orang muda segagah Nona ini patut dikagumi dan sama sekali tidak pantas di­musuhi. Orang gagah mengutamakan per­sahabatan sesama orang gagah, maka terimalah rasa kagum lohu!”

Kwi Lan yang melihat kakek ini me­rangkapkan kedua tangan, membawa ke­dua tangan ke depan dada sambil bergerak memberi hormat, tersenyum meng­ejek. Dengan gerakan ringan sekali tu­buhnya sudah meloncat turun dari atas punggung kudanya, menghadapi kakek itu dan menjura sambil berkata.

“Kau orang tua terlalu merendah!”

Biarpun kelihatannya seperti orang menjura dan memberi hormat, namun kedua tangan sai-kong itu bergerak ke depan dan menyambarlah angin pukulan dahsyat ke arah dada Kwi Lan. Gadis itu hanya menjura dengan bibir tersenyum, agaknya seperti tidak tahu akan penye­rangan orang, akan tetapi kakek itu me­rasa betapa tenaga dorongan kedua ta­ngannya tadi seakan-akan membentur api dan membalik, menimbulkan rasa panas padadadanya. Ia kaget sekali, akan te­tapi masih merasa penasaran dan sambil tertawa dan berkata, “Nona benar-benar hebat....!” Kedua tangannya membuka jari-jari tangan dan bergerak ke depan, yang kiri menotok ke arah pundak dan yang kanan menotok ke arah pergelangan tangan! Hebat serangan ini, namun masih saja tampak seakan-akan orang yang memuji dan menyentuh karena sayang dan kagum, sama sekali tidak kelihatan seperti orang menyerang. Padahal serang­an itu kalau tepat mengenai sasaran, akan membuat tubuh Kwi Lan seketika lumpuh dan lemas.

“Totiang (panggilan pendeta) mengapa sungkan-sungkan!” kata Kwi Lan dan kedua tangannya bergerak ke depan pula seperti orang mencegah. Hanya tampak­nya saja seperti mencegah, akan tetapi sebenarnya dengan cepat seperti kilat menyambar, jari tangan Kwi Lan sudah siap menerima kedua tangan kakek itu. Kalau kakek itu melanjutkan serangan­nya, maka kedua telapak tangannya tentu akan bertemu dengan jari tangan Kwi Lan sehingga sebelum dapat menotok orang, Ia sendiri sudah akan terkena totokan lawan!

“Ahhh....!“ Sai-kong itu menarik kembali kedua tangannya dan melangkah mundur kemudian ia tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, semuda ini sudah me­miliki kepandaian hebat, benar-benar membuat lohu kagum dan takluk, Nona ingin menyeberang? Biarlah lohu antar­kan!”

Girang hati Kwi Lan mendengar ini. “Kau mempunyai perahu, Totiang?”

“Ha-ha, tentu saja ada, harap Nona jangan khawatir. Marilah!” Kakek itu dengan langkah lebar keluar dari dalam guha, diikuti oleh Kwi Lan.

“Tahan! Mutiara Hitam, engkau sudah mengacau Thian-liong-pang, bagaimana kami dapat membiarkan kau pergi begitu saja?” teriak seorang di antara anggauta­anggauta Thian-liong-pang sambil melom­pat maju dan mencabut pedang. Akan tetapi pemuda tampan tadi mencegah dan menghardik.

“Nona sudah ikut bersama Huang­-ho Tai-ong (Raja Sungai Huang-ho), mau apa kau ribut-ribut?”

Kalau saja Kwi Lan sudah banyak pengalaman merantau, tentu ia akan ter­kejut sekali mendengar nama ini. Huang­-ho Tai-ong adalah nama julukan kepala bajak Sungai Huang-ho yang terkenal sekali. Akan tetapi gadis ini selain ku­rang pengalaman, juga tidak mengenal takut, maka ucapan Si Pemuda ini sama sekali tidak adaartinya. Ia mengikuti sai-kong itu yang terus berjalan mende­kati pantai, kemudian kakek itu menge­luarkan teriakan melengking nyaring tinggi sambil menengadahkan kepalanya. Terdengar suitan balasan dari arah kiri dan tidak lama kemudian, muncullah se­buah perahu dalam sinar bintang-bintang di langit yang suram muram. Kiranya perahu itu bercat hitam, cukup besar dan didayung oleh empat orang tinggi besar.

“Silakan, Nona. Lohu sendiri akan menemanimu menyeberang.” kata sai­kong tadi sambil tersenyum.

“Terima kasih. Kau baik sekali, To­tiang.” jawab Kwi Lan yang menuntun kuda hitamnya ke atas papan perahu, Kakek itu pun melompat naik, memberi aba-aba dan empat orang anak buahnya kembali mendayung perahu ke tengah. Ketika Kwi Lan menengok, ia melihat pemuda tampan tadi bersama teman-temannya berdiri di pinggir sungai dan memandang.

Karena tidak mengerti, Kwi Lan sama sekali tidak merasa heran mengapa layar perahu itu tidak dipasang. Untuk menye­berangi sungai sebesar Sungai Kuning ini, tentu dibutuhkan layar agar penyeberang­an dapat berjalan cepat. Akan tetapi empat orang itu hanya mendayung saja sehingga perahu bergerak lambat, malah hanyut oleh air. Kuda hitam yang tinggi besar dan gagah itu pun mendengus-dengus dan meringkik, keempat kakinya menggigil ketika melihat air yang hitam berombak. Akan tetapi, Kwi Lan berdiri tegak memegangi kendali, sedikit pun tidak merasa takut!

“Nona, orang-orang Thian-liong-pang tadi menceritakan tentang sepak terjang Nona di Thian-liong-pang dan menyebut Nona Mutiara Hitam. Bolehkah lohu tahu, siapa sesungguhnya namamu dan dari perguruan manakah? Lohu sendiri disebut orang Huang-ho Tai-ong, bernama Ma Hoan.”

Kwi Lan tidak menaruh curiga kepada kakek ini, juga tidak memperhatikan nama maupun julukannya, akan tetapi karena kakek ini menolongnya menyebe­rang, ia menganggapnya orang baik. De­ngan acuh ia menjawab, “Si Berandal su­dah menjuluki aku Mutiara Hitam, biar­lah selanjutnya orang mengenalku dengan nama itu juga. Aku tidak terikat dengan perguruan mana pun.”

Kakek ini mengerutkan alisnya. Gadis yang cantik jelita, akan tetapi sombong sekali, pikirnya. “Mutiara Hitam, julukan yang bagus. Nona, kenapa engkau menga­cau Thian-liong-pang? Mengapa memu­suhinya?”

“Aku tidak memusuhi Thian-liong-pang dan tidak ada urusan apa-apa anta­ra mereka dan aku. Hanya aku tahu bahwa orang-orang Thian-liong-pang bu­kan manusia baik-baik, pula pengecut. Beraninya hanya melakukan pengeroyokan dan menggunakan perangkap!”

Pada saat itu, Ma Hoan tertawa ber­gelak dan terdengarlah bunyi banyak dayung memukul air. Ketika Kwi Lan melihat ke kanan kiri, ia mengerutkan alisnya. Kiranya tanpa ia ketahui, telah muncul empat buah perahu kecil yang mengurung perahu yang ditumpanginya. Perahu-perahu kecil itu juga bercat hitam dan setiap buah perahu ditumpangi enam orang bersenjata golok.

“Ha-ha-ha, Mutiara Hitam, engkau terlalu cantik jelita, akan tetapi terlalu sombong! Engkau sudah berada dalam cengkeramanku, masih bermulut besar mencaci maki Thian-liong-pang? Ketua Thian-liong-pang adalah Kakakku, tahukah kau?”

Kwi Lan memandang tajam dan ter­ingatlah ia sekarang. Orang ini bernama Ma Hoan, kiranya adik Ma Kiu Ketua Thian-liong-pang. Julukannya Tai-ong dan kini tampak banyak anak buahnya, tentu kepala bajak sungai dan dia berada da­lam bahaya!

“Bagus, kalau begitu kau sudah bosan hidup!” kata Kwi Lan dan sekali tangan kanannya bergerak, Siang-bhok-kiam telah tercabut dan menerjang, merupakan sinar kehijauan menyambar ke arah Huang-ho Tai-ong Ma Hoan dan empat orang pendayung perahu. Kuda hitam meringkik ketakutan, empat orang itu berteriak keras dan terjungkal keluar dari perahu, akan tetapi dengan gerakan cepat sekali Ma Hoan sudah meloncat dan tubuhnya melayang ke atas sebuah diantara pera­hu-perahu kecil yang mengurung perahu besar.

“Tangkap dia, gulingkan perahu!” Ma Hoan berseru, memberi komando kepada anak buahnya. Kwi Lan mendengar ini menjadi kaget juga. Kalau lawan meng­gunakan akal menggullngkan perahu, dia dan kudanya celaka! Karena itu, sebelum mereka turun tangan, tubuhnya sudah lebih dulu mencelat ke atas sebuah pe­rahu kecil terdekat. Sambil meloncat, ia memutar pedangnya. Enam orang dengan golok di tangan menyambutnya. Ter­dengar suara keras dan enam buah golok itu terlempar ke dalam air dan seorang di antara mereka malah roboh dengan lengan kanan terbabat putus! Lima orang lainnya cepat-cepat meloncat ke dalam air dengan panik.

Begitu perahu kecil yang diinjak­nya itu terus bergoyang-goyang dan miring Kwi Lan sudah mengenjot tubuh­nya lagi, kini meloncat ke arah perahu yang ditumpangi Ma Hoan. Ia maklum bahwa kalau ia tidak cepat menawan Ma Hoan. Ia tentu akan celaka. Di darat, ia tidak akan peduli akan pengeroyokan tiga puluh orang itu, akan tetapi di air! Me­lawan seorang di antara mereka saja belum tentu ia menang.

Ma Hoan tidak akan berjuluk Raja Sungai Kuning dan tidak akan menjadi kepala bajak kalau ia tidak lihai ilmu silatnya dan pandai bermain di air. Me­lihat tubuh gadis, perkasa itu berkelebat meloncat ke arah perahunya, ia mengenal bahaya dan.... cepat-cepat ia melempar diri ke dalam air! Dua orang anak buah­nya di perahu itu yang tidak keburu terjun, menjadi korban babatan pedang Kwi Lan dan terjungkal di air.

Keadaan menjadi kacau-balau. Dalam cuaca suram gelap Kwi Lan mengamuk, meloncat dari perahu ke perahu. Namun para bajak itu sudah lebih dahulu terjun ke air dan mulailah mereka berusaha menggulingkan perahu di mana Kwi Lan berdiri. Gadis ini tentu saja tidak, mau digulingkan ke dalamair. Ia bermain loncat-loncatan dari perahu ke perahu. Akan tetapi karena perahu-perahu yang tidak dikemudikan itu berputaran dan hanyut, apalagi karena bajak-bajak meng­gulingkan semua perahu, akhirnya Kwi Lan yang sudah berdiri di atas perahu yang terbalik, tidak mempunyai tempat lagi untuk meloncat. Kuda hitam besar sudah terjungkal ke dalam air ketika perahu besar digulingkan. Ketika perahu terbalik yang ia injak itu tiba-tiba me­nyelam, ia masih dapat meloncat ke atas dan.... tak dapat dicegahnya lagi tubuhnya jatuh terbanting ke dalam air yang ber­gelombang!

Kwi Lan pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya setelah setelah ia terbanting ke air. Ketika ia siuman kembali, ia mendapatkan dirinya lemas dan lumpuh kaki tangannya! Tahulah Kwi Lan bahwa ia telah tertotok lumpuh. Tu­buhnya terasa dingin dan basah. Ketika ia membuka mata, ia melihat api unggun dan ternyata ia telah berada di dalam guha besar tadi, menggeletak di atas rumput kering dan tubuhnya tidak tertutup pa­kaian sama sekali! Kenyataan ini mem­buat Kwi Lan merasa kaget setengah mati dan cepat-cepat ia menutupkan kedua matanya lagi, pura-pura pingsan atau hampir pingsan lagi sakingkaget­nya. Ia tahu bahwa ia telah tertawan, dan bahwa orang telah menanggalkan semua pakaian dari tubuhnya. Kemudian ia mendengar betapa di situ terdapat banyak orang, bahkan ada suara orang berbantahan. Dengan jantung berdebar ketakutan, baru sekali ini Kwi Lan me­ngenal rasa takut, ia mendengarkan, tanpa membuka matanya.

“Ma-totiang, aku tahu bahwa urusan ini adalah urusan pribadimu dan sekali lagi kunyatakan bahwa antara Nona itu dan aku tidak ada sangkut-paut apa-apa! Akan tetapi kedua hal itu bukan menjadi halangan bagiku untuk mencegah terjadi­nya hal yang memalukan ini. Betapapun juga, Kakakmu, Ma Kiu Suheng adalah ketua kami, kalau sekarang engkau me­lakukdn perbuatan hina dan rendah, bukankah hal itu berarti akan menodai nama besar Thian-liong-pang?”

“Eh, Siangkoan-kongcu! Sejak kapan Thian-liong-pang melarang seorang laki-laki mengambil seorang wanita yang disukanya? Engkau hendak menghalangiku, berarti engkau iri hati dan engkau sen­diri suka kepada wanita pengacau itu. Betulkah?”

“Tidak, Ma-totiang. Laki-laki boleh mengambil wanita mana saja yang disu­kainya, akan tetapi kalau wanita itu mau. Engkau merobohkannya dengan akal curang, dan hendak memaksanya secara keji. Mendiang Ayahku, seorang Ketua Thian-liong-pang tidak pantang melakukan apa saja kecuali sikap curang dan penge­cut. Kalau kau mengalahkan dia dengan kepandaianmu, maka menjadi hakmulah untuk memperlakukan orang yang kauka­lahkan sesuka hatimu. Akan tetapi me­lihat betapa tadi dia dilawan secara licik dan sekarang hendak diperlakukan keji, sungguh sebagai seorang gagah aku tidak akan mendiamkan saja. Ma-totiang, agar jangan kita menjadi bahan ejekan di dunia kang-ouw, kaubebaskan dia!”

“Bocah, berani engkau membuka mulut besar? Siangkoan Li! Kau menganggap kau ini siapa dan aku ini orang macam apa, bisa kauperintah sesukamu? Biarpun mendiang Ayahmu pernah menjadi ketua Thian-liong-pang, akan tetapi Ayahmu bukanlah sahabatku! Hanya mengingat engkau masih cucu luar Sin-seng Losu dan masih adik seperguruan Twako (Kakak) Ma Kiu, aku masih menganggapmu orang sendiri! Akan tetapi jangan kau keterlaluan karena menjadi cucu Sin-seng Losu, karena semua saudara Cap-ji-liong juga tidak suka akan sepak terjangmu yang menyimpang dengan jalan mereka!”

Hening sejenak. Kwi Lan memandang dari balik bulu matanya dan melihat bahwa yang bertengkar adalah pemuda tampan berambut panjang dan sai-kong yang menawan dirinya. Tiga orang ang­gauta Thian-liong-pang berdiri di sudut, memandang dan melihat pandang mata mereka terhadap pemuda itu, agaknya mereka ini tidak berpihak kepada Si Pemuda. Kwi Lan lalu menutupkan mata­nya kembali, menekan perasaannya yang seperti akan melesak itu, kemudian ia diam-diam mengerahkan tenaganya untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan. Akan tetapi kaki tangannya tetap lumpuh dan karena dadanya penuh hawa amarah yang hebat, sukar baginya untuk me­ngumpulkan hawa murni.

“Ma-totiang, bicara tentang sepak terjang, bukan aku yang menyimpang, melainkan orang lain yang menyeleweng! Akan tetapi cukuplah tentang Thian-liong-pang. Kita bicara tentang perbuatan­mu sekarang. Ma-totiang, engkau adalah seorang bekas pendeta, sedikit banyak pernah belajar tentang kebajikan. Engkau adalah seorang yang memiliki ilmu ke­pandaian tinggi, sedikit banyak mengerti tentang kegagahan. Engkau adalah se­orang yang sudah tua, mengapa masih menuruti nafsu binatang hendak memper­kosa seorang gadis....?”

“Huh, bocah bermulut lancang! Siapa hendak memperkosa? Lancang kau menu­duh orang....”

“Engkau masih berani menyangkal? Melihat keadaan Nona ini....“

“Ha-ha-ha! Memang, dia kutelanjangi, akan tetapi aku tidak berniat memperko­sanya. Mungkin anak buah Thian-liong-pang itu mempunyai niat demikian, me­lihat pandang mata mereka! Ha-ha, aku sama sekali bukan hendak memperkosa, melainkan ingin menggunakan dia mem­bantu menyempurnakan ilmu silat yang sedang kucipta! Dia seorang gadis yang memiliki Iwee-kang tinggi, memiliki hawa sakti yang kuat dan darah yang sehat. Dia juga telah mengacau Thian-liong-pang, maka baik sekali kuambil semua kekuatan Im-kang dari tubuhnya....”

“Keji! Aku tahu, Ma-totiang, orang mengabarkan bahwa engkau sedang men­cipta dan melatih Ilmu Bi-ciong-kun (Ilmu Silat Menyesatkan) yang kaulengkapi dengan pukulan Tok-hiat-ciang (Pukulan Darah Beracun)...., akan tetapi mengapa menggunakan Im-kang seorang gadis....?”

“Ha-ha-ha, Siangkoan Li! Kaukira akan mudah saja mencari rahasia ilmuku itu? Tidak perlu, hanya perlu kauketahui bahwa aku perlu hawa murni dan darah gadis ini untuk I-kin Swe-jwe (Ganti Obat Cuci Sumsum). Sudahlah, kau pergi dan jangan menggangguku lagi.”

“Tidak! Kalau engkau lebih dulu mem­bebaskan Nona ini, kemudian bertanding dengannya secara jantan, biar dia kalah dan mati di tanganmu, aku Siangkoan Li bersumpah tidak akan turut campur. Akan tetapi melihat dia ditawan dengan akal keji dan kini akan menjadi korban ilmu iblismu, aku tidak akan tinggal diam saja!”

“Bagus! Memang anak tidak akan ber­beda dengan ayahnya! Ayahmu penyele­weng dari Thian-liong-pang, engkaupun....”

“Tutup mulut, jangan membawa-bawa nama Ayah!” bentak Siangkoan Li yang sudah mencabut pedangnya.

Huang-to Tai-ong Ma Hoan berteriak keras seperti seekor harimau terluka, mencabut pedangnya dan menyerang pe­muda itu. Karena guha itu kurang luas untuk bertanding, sedangkan ia maklum akan kelihaian lawannya, pemuda yang bernama Siangkoan Li itu lalu meloncat keluar guha dikejar oleh Ma Hoan. Sege­ra terjadi pertandingan hebat di luar guha, di bawah sinar bintang-bintang di langit. Suara senjata mereka saling ber­adu, terdengar nyaring oleh Kwi Lan yang masih berusaha menekan kemarah­annya dan membebaskan diri daripada totokan.

“Sam-sute, bagaimana baiknya seka­rang?” Terdengar seorang di antara tiga anggauta Thian-liong-pang berkata. Me­reka bertiga masih berada di dalam guha itu, kini memandang ke arah Kwi Lan dengan mata terbelalak penuh kagum dan gairah.

“Biarkan saja mereka bertempur.” kata suara lain yang parau. “Ma-totiang adalah adik kandung Pangcu (Ketua), dan Siangkoan-kongcu adalah cucu luar Lo­-pangcu, bagaimana kita boleh campur tangan? Lihat alangkah hebatnya Nona ini, hemm.... selagi mereka bertanding, mengapa kita sia-siakan kesempatan ba­gus ini?”

“Sam-suheng benar!” kata suara ke tiga. Aku pun selama hidupku belum per­nah melihat yang seindah ini. Aku rela nanti dimarahi Ma-totiang atau Siang­koan-kongcu....”

Tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu menghampiri Kwi Lan dengan wajah menyeringai penuh nafsu. Sebetulnya me­reka itu bukanlah kaum jai-hwa-cat ma­cam Ci-lan Sai-kong, bukan pula orang-orang mata keranjang, sungguhpun mere­ka juga tak dapat disebut orang baik-baik. Akan tetapi melihat keadaan Kwi Lan, menyaksikan kecantikan wajah yang memang jarang bandingannya, melihat bentuk tubuh yang demikian menggairah­kan, mereka tak dapat lagi menguasai hati dan menyerah kepada bujukan iblis nafsunya.

Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati Kwi Lan ketika melihat tiga wajah yang berkeringat dengan mata berkilat-kilat seperti mata binatang kelaparan itu makinmendekatinya. Ia tidak pernah mengenal takut menghadapi ancaman maut sekalipun, akan tetapi hati kecilnya membisikkan bahwa kini ia terancam malapetaka yang jauh lebih mengerikan daripada maut sendiri! Ia sudah mengerahkan tenaga, namun perhatiannya tak dapat terkumpul bulat-bulat sehingga belum juga ia berhasil. Kedua tangan dan kakinya masih lemas, lumpuh tak bertenaga.

“Sam-sute, Hok-sute, kalian mundur­lah. Aku sebagai Suheng kalian, paling tua dan biarkan aku mendekati dia lebih dulu.”

“Ah, tidak, Suheng! Aku yang meng­usulkan lebih dulu!”

“Sam-suheng, aku yang paling muda lebih cocok dengan dia!”

Tiga orang murid Thian-liong-pang yang hati serta pikirannya sudah hitam dan gelap kotor oleh nafsu iblis itu kini saling berebut! Dari pertengkaran mulut, mereka kini saling betot dan agaknya mereka akan saling jotos karena sudah mulai memaki. Melihat ini, Kwi Lan maklum betapa dirinya diperebutkan oleh tiga orang manusia yang seperti anjing-anjing kelaparan itu, maka ia merasa hatinya makin berdebar gelisah, perasa­annya seperti ditusuk-tusuk. Makin rusak­lah pengerahan tenaga dan hawa murni di tubuhnya sehingga akhirnya ia meng­hela napas dan mengeluarkan suara rin­tihan karena putus harapan.

Tiba-tiba dari luar guha menyambar dua sinar hitam yang tepat sekali me­ngenai jalan darah di leher dan pinggang Kwi Lan. Kiranya dua sinar itu adalah dua buah batu kecil yang tepat telah menotok jalan darahnya dan.... seketika Kwi Lan merasa betapa jalan darahnya pulih kembali! Kaki tangannya dapat ia gerakkan dan biarpun masih kesemut­an, namun ia segera melompat bangun, bagaikan kilat cepatnya ia sudah me­nyambar pakaiannya yang tadi ia lihat bertumpuk di sudut guha. Dengan jari­jari tangan gemetar saking lega dan girang hatinya tertolong pada detik-detik berbahaya itu, namun dengan amat cepat Kwi Lan mengenakan pakaiannya dan tubuhnya yang kini sudah berpakaian itu berkelebat cepat ke arah pintu guha ketika ia melihat tiga orang Thian-liong­-pang berusaha lari keluar. Kejadian ini amat cepatnya. Ketika tiga orang Thian­-liong-pang tadi bertengkar untuk memperebutkan Kwi Lan, mereka tidak tahu bahwa calon korban mereka itu sudah melompat bangun dan berpakaian. Setelah akhirnya seorang di antara mereka me­lihat Kwi Lan dan berteriak kaget, me­reka semua menoleh dan serentak mereka kini berlumba lari ke arah pintu guha untuk menjauhkan diri dari gadis yang mereka tahu amat lihai itu. Namun tiba-tiba di depan mata mereka berkelebat bayangan orang dan tercium bau harum, tahu-tahu mereka sudah melihat Kwi Lan menghadang di depan pintu guha dengan pedang Siang-bhok-kiam yang harum di tangan! Wajah yang cantik jelita itu tersenyum, senyum manis sekali, akan tetapi sinar matanya tajam bagaikan pedang dan dingin seperti salju! Tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu me­langkah mundur dengan muka pucat dan bergidik ngeri. Jalan mundur tidak ada lagi. Satu-satunya jalan keluar untuk lari telah dihadang oleh Mutiara Hitam.

Gadis itu melihat tiga orang lawannya mundur-mundur ketakutan, kini melang­kah maju pulaperlahan-lahan. Ia sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata, namun pandang matanya dan senyumnya telah membayangkan ancaman yang menyeramkan, dan tiada caci maki dari mulut lebih jelas membayangkan kema­rahan yang meluap-luap itu. Tiga orang yang mundur terus akhirnya sampai me­pet di dinding batu guha. Terpaksa me­reka berhenti, saling pandang dengan muka pucat, mata terbelalak dan tubuh menggigil. Mereka tersudut seperti tiga ekor tikus menghadapi seekor kucing yang hendak mempermainkan mereka lebih dahulu sebelum menjatuhkan terkaman maut.

Tiga orang itu saking takutnya men­jadi nekat. Mereka merogoh saku dan mengeluarkan senjata rahasia mereka, yaitu perluru-peluru bintang Sin-seng-piauw yang menjadi senjata utama para anak buah Thian-liong-pang. Tidak semua anggauta Thian-liong-pang mewarisi ilmu silat Sin-seng Losu, akan tetapi mereka semua diharuskan melatih penggunaan senjata rahasia Sin-seng-piauw ini. Senja­ta rahasia ini bentuknya seperti bintang, kecil namun berat dan pada ujungnya yang runcing diberi racun.

Seperti mendapat aba-aba saja, tiga orang itu menggerakkan tangan menyam­bit dengan Sin-seng-piauw. Belasan buah peluru bintang ini menyambar ke arah Kwi Lan. Namun sekali memutar Siang­-bhok-kiam, semua senjata itu runtuh, menancap di atas lantai atau dinding ka­nan kiri gadis itu. Tiga orang anak buah Thian-liong-pang itu adalah anggauta-anggauta tingkat rendah kepandaian me­reka masih terlalu rendah bagi Kwi Lan. Mereka menjadi makin ketakutan dan menghamburkan senjata-senjata raha­sia mereka sampai habis. Sebuah pun tidak ada yang menyentuh pakaian Kwi Lan. Gadis ini memperlebar senyumnya

Sambil berteriak-teriak seperti orang gila saking takut dan nekat, tiga orang itu lalu menerjang maju, memutar golok dan membacok sejadinya asal cepat dan kuat. Kwi Lan menggerakkan pedangnya yang berkelebatan seperti kilat menyam­bar. “Trangg.... tranggg.... tranggg....!”

Tiga batang golok itu patah-patah dan yang berada di tangan mereka hanya tinggal gagangnya saja! Kembali mereka mundur-mundur sampai mepet dinding dan rasa takut mereka ini memuncak. Melihat betapa gadis itu sambil terse­nyum-senyum melangkah maju dengan pedang di tangan, mereka bertiga hampir menjadi gila. Lutut mereka menggigil dan akhirnya mereka tak dapat menahan diri lagi, jatuh berlutut sambil memohon-mohon ampun dan menangis!

“Menjijikkan!” Kwi Lan berkata perla­han akan tetapi pedangnya bergerak cepat sekali sampai lenyap berubah gulungan sinar hijau menyambar-nyambar. Terdengar jeritan-jeritan menyayat hati dan ketika gadis itu melangkah keluar dari dalam guha, di bawah penerangan api unggun tampak tiga tubuh manusia ber­gelimpangan di atas lantai guha itu, tanpa tangan dan kaki lagi! Darah membanjir merah. Mengerikan sekali tubuh yang hanya tinggal kepala dan badan itu, kaki tangan mereka buntung dari pang­kalnya! Kini tiga orang itu hanya bisa menggerak-gerakkan kepala dengan mulut mengerang kesakitan dan mata terbelalak, masih ketakutan. Namun satu-satunya bagian tubuh yang masih dapat bergerak, kepala itu, tentu takkan lama bergerak karena mereka tak mungkin dapat hidup lagi dengan darah mengalir keluar seperti pancuran itu.

Kwi Lan mendengar betapa di luar masih terjadi pertarungan hebat. Kini terdengar suara bersuitan keras dan ke­tika ia meloncat keluar dari dalam guha, ia melihat betapa pemuda tampan yang menolongnya tadi dikeroyok oleh banyak orang yang membantu Huang-ho Tai-ong Ma Hoan! Pemuda itu hebat sekali per­mainan pedangnya dan biarpun Ma Hoan mengeroyoknya dengan bantuan tujuh orang anak buahnya, namun pemuda itu masih saja menekan mereka dengan ge­rakan-gerakan pedang yang amat kuat. Belasan orang anak buah bajak bersuwit­an dan mengurung. Biarpun ilmu pedang­nya hebat, pemuda itu terkurung oleh banyak sekali bajak yang rata-rata me­miliki kepandaian lumayan.

Kwi Lan melompat, pedang Siang-bhok-kiam berkelebat dan terdengarlah jerit susul menyusul di antara anak buah bajak yang mengurung. Keadaan menjadi kacau-balau dan Kwi Lan yang merasa benci sekali kepada Ma Hoa, berhasil membuka jalan darah mendekati Ma Hoan dan langsung mengirim tikaman berantai ke arah dua puluh tujuh jalan darah lawan.

“Hayaaaa....!” Ma Hoan terkejut se­kali seperti disambar petir. Repot ia menggerakkan pedang untuk menangkis dan mengelak. Setiap tangkisan membuat pundak kanannya tergetar dan dadanya panas, sedangkan setiap elakannya hanya berselisih sedikit sekali dari sambaran pedang lawan sehingga berkali-kali ia berteriak kaget dan mencium bau harum pedang lawan yang menyeramkan hati­nya. Betapa pun lihainya Ma Hoan, na­mun menghadapi ilmu pedang Kwi Lan yang amat aneh, ia hanya mampu mem­pertahankan diri dan terhuyung-huyung mundur sambil berteriak-teriak memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok. Adapun pemuda itu sekarang juga sudah dikeroyok banyak bajak su­ngai, namun mereka ini bukanlah lawan Si Pemuda yang gagah perkasa. Sebentar saja mereka berseru kesakitan dan ba­nyak di antara mereka yang mundur. Namun tak seorang pun terluka berat karena pemuda ini sengaja tidak mau menurunkan tangan maut.

Biarpun dikeroyok banyak orang, Kwi Lan menggmuk dan sudah lima orang anak buah bajak roboh tewas oleh pedangnya. Ketika ada empat orang bajak menubruknya dengan golok dari depan sedangkan Ma Hoan meloncat mundur bersembunyi di belakang empat orang ini, agaknya hendak lari, Kwi Lan mengeluar­kan suara melengking nyaring . Seketika empat orang di depannya itu menjadi lemas dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kwi Lan untuk meloncati kepala mereka mengejar Ma Hoan! Sebelum tu­buhnya turun, pedangnya sudah menyam­bar ke arah leher lawan yang amat di­bencinya ini.

Ma Hoan terkejut sekali dan menge­rahkan tenaga menangkis dengan pedang­nya.

“Tranggg....!”

“Celaka....!” seru Ma Hoan ketika pe­dangnya menjadi patah oleh pedang gadis itu dan pundaknya terasa sakit karena tertusukpedang. Ia cepat menggulingkan tubuhnya ke bawah dan terus berguling­an, sedangkan para anak buahnya kembali maju menyerbu Kwi Lan. Dengan demi­kian, kepala bajak itu tertolong dan se­kali tubuhnya meloncat, is lenyap dalam gelap. Dengan pundak berdarah, Ma Hoan berlari cepat menuju kesungai. Ia pikir kalau ia bisa sampai ke sungai, berarti nyawanya selamat karena sekali terjun ke air, gadis itu tentu takkan dapat mengejarnya lagi. Ia bergidik kalau mengingat betapa hebat ilmu kepandaian gadis itu dan juga menyesal mengapa ia gagal mendapatkan hawa murni Im-kang dari gadis yang sehebat itu. Diam-diam ia marah dan gemas kepada Siangkoan Li.

Hatinya girang setelah ia mendengar suara air. Sungai Kuning terbentang di depan dan ia mempercepat larinya meng­hampiripantai. Ia melihat di dalam gelap sesosok bayangan hitam di pantai dan dikiranya bayangan itu seorang di antara anak buahnya, maka ia mengham­piri sambil berteriak, “Lekas sediakan perahu....!”

Akan tetapi kata-katanya terhenti dan ia berdiri melongo, tengkuknya terasa dingin dan rambutnya berdiri satu-satu. Bayangan itu kini melangkah maju dan bukan lain adalah Kwi Lan, Si Mutiara Hitam! Gadis ini tersenyum manis dan pedang di tangannya tergetar.

Huang-ho Tai-ong Ma Hoan bukanlah seorang penakut. Sebagai kepala bajak yang sudah belasan tahun merajalela disepanjang Sungai Kuning, entah sudah berapa banyaknya manusia tewas di ta­ngannya dan ia dapat membunuh orang tanpa berkedip mata. Akan tetapi se­karang menghadapi seorang gadis yang tersenyum-senyum manis di depannya, ia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali! Baru sekarang ia merasa apa yang dirasakan oleh para korbannya, rasa takut dan ngeri meng­hadapi bahaya maut. Akan tetapi sebagai seorang jagoan, ia segera dapat mengubah rasa takut ini menjadi kemarahan dan kenekatan. Sambil mengeluarkan suara menggereng seperti suara srigala marah, ia menerjang maju dan kedua telapak tangannya memukul berbareng dari kanan kiri lambung. Inilah sebuah jurus Bi­-ciong-kun dan dari kedua telapak tangan­nya keluar tenaga Tok-hiat-ciang. Biar­pun ilmu yang ganas ini belum terlatih sempurna, apalagi tenaga beracun Tok­-hiat-ciang belum jadi sepenuhnya, namun sudah hebat bukan main. Seorang lawan yang tanggung-tanggung saja kepandaian­nya, mungkin masih dapat menangkis atau mengelak dari pukulan, namun sukar untuk menyelamatkan diri daripada hawa pukulan yang beracun itu.

Kwi Lan menghadapi pukulan ini dengan tenang. Melihat lawannya tidak bersenjata lagi, ia pun tidak mengguna­kan Siang-bhok-kiam di tangannya. De­ngan pengerahan tenaga dalam, tangan kirinya menyampok dan hawa pukulan­nya menyambut serangan lawan, kemu­dian kakinya menendang. Tubuh Huang-ho Tai-ong terlempar ke belakang! Kaget bukan main kepala bajak ini. Bukan ha­nya gadis itu dapat menahan pukulannya, bahkan secara aneh sekali kakinya sudah menendangnya sampai terjengkang bebera­pa meterjauhnya. Ia makin panik dan ta­kut, lalu melompat bangun dan.... membalikkan tubuhnya lari kembali ke tempat tadi. Setidaknya di tempat pertempuran tadi, ia masih dapat mengharapkan anak buahnya untuk membantunya, daripada menghadapi gadis setan ini sendirian saja di pinggir sungai dan jalan untuk menye­lamatkan diri terjun ke air sudah ditutup oleh Mutiara Hitam!

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan bingung hati kepala bajak ini ketika ia tiba di depan guha tadi, di situ telah sunyi, tidak ada lagi pertempuran dan tidak tampak seorang pun anggauta bajak sungai! Selagi ia hendak lari lagi ke kiri, tahu-tahu ada bayangan berkele­bat dan.... lagi-lagi Si Gadis jelita telah berada di depannya.

“Perempuan siluman!” Ia membentak dan dengan nekat menubruk maju dengan kedua lengan terpentang, untuk memeluk dan kalau perlu mengajak mati bersama. Tampak sinar hijau berkelebat, disusul pekik mengerikan dari kepala bajak itu dan darah menyambur keluar dari dada­nya ketika Huang-ho Tai-ong Ma Hoan roboh tersungkur, mendekap dada dengan kedua tangan, berkelojotan dan tewas tak lama kemudian.

Kwi Lan berdiri memandang korban­nya. Baru lenyap sekarang sinar matanya yang berkilat-kilat dan senyumnya yang dingin. Sambil menarik napas panjang, ia memasukkan Siang-bhok-kiam ke dalam sarungnya.

“Mereka memang jahat, Huang-ho Tai-ong memang layak mati, akan tetapi kau terlalu ganas, Nona.”

Kwi Lan cepat membalikkan tubuh­nya. Ia melihat pemuda tampan yang rambutnya dibiarkan terurai di atas punggung itu, pemuda yang bernama Siangkoan Li, yang tadi telah menolong­nya dari bahaya yang lebih hebat daripa­da maut. Pemuda itu berdiri di mulut guha dan tampak gagah membelakangi sinar api unggun yang agaknya masih menyala di dalam guha itu. Teguran ini seketika mendatangkan rasa marah di hati Kwi Lan, akan tetapi mengingat bahwa pemuda ini sudah menolongnya, ia menekan perasaan marahnya dan berta­nya, suaranya ketus.

“Aku membunuh dia dengan sebuah tusukan, mengapa kaubilang ganas? Apa yang kaumaksudkan?”

Pemuda itu mengerutkan keningnya dan wajahnya yang tampan itu tampak makin sungguh-sungguh. “Huang-ho Tai-ong sudah layak mati dan tusukan pada jantungnya sudah tepat. Yang kumaksud­kan adalah pembunuhan yang kaulakukan kepada tiga orang anggauta Thian-liong­-pang. Mengapa kau begitu ganas mem­buntungkan kaki tangan mereka, mem­biarkan mereka menderita hebat sebelum mati?”

Pertanyaan yang penuh teguran ini bagi Kwi Lan dirasakan sepertitantang­an. Ia segera membusungkan dada, me­negangkan leher dan memandang tajam.

“Hemm, kulihat engkau memakai peng­ikat kepala dan permata kuning seperti yang dipakai Cap-ji-liong. Engkau seorang tokoh Thian-liong-pang. Apakah engkau kini hendak membalas atas kematian tiga ekor anjing di dalam guha itu?”

Pemuda itu memandang marah. Dua pasang mata saling pandang dan saling tentang, akan tetapi pemuda itu lebih dahulu menurunkan pandang matanya, menghela napas dan berkata, nada suara­nya penuh penyesalan.

“Engkau membunuh Huang-ho Tai-ong memang sudah sepatutnya karena dia mempunyai niat buruk terhadap dirimu. Akan tetapi tiga orang Thian-liong-pang di dalam guha itu, mengapa kau menyiksa mereka? Dan mengapa pula engkau dan temanmu membikin kacau di Thian-liong-pang ketika diadakan upacara pengang­katan ketua baru?”

“Huh! Orang sendiri biar kotor diang­gap bersih selalu! Tiga orang itu bukan manusia, mereka hanya tiga ekor anjing busuk yang patut dibunuh seratus kali! Mereka itu hendak.... hendak.... berbuat kurang ajar, mereka seperti anjing-anjing yang kotor....!”

Pemuda itu menghela napas. “Ah, sudah kusangka demikian....! Makin lama makin rusaklah nama Thian-liong-pang bersama rusaknya watak mereka....! Ah, Nona, sekarang aku tahu mengapa kau membunuh mereka, akan tetapi tetap saja kau terlalu ganas. Membunuh dengan dorongan kebencian dan kemarahan bu­kanlah sikap seorang gagah.”

Kwi Lan makin marah dan penasaran. Ia membanting kaki kanannya dan meng­hardik.

“Kau ini seorang tokoh Thian-liong-pang, apa kaukira seorang gagah? Apakah Thian-liong-pang perkumpulan orang gagah? Huh! Kulihat dengan mata sendiri bahwa Thian-liong-pang hanyalah perkum­pulan orang-orang jahat. Dalam pesta perayaan untuk mengangkat ketua baru, yang datang adalah orang-orang dari golongan hitam. Bahkan ada yang me­nyumbangkan dua belas orang gadis cu­likan! Dan ketuanya diangkat dengan upacara penyembelihan dan penyiraman darah anjing. Perkumpulan apa ini? Dan kau yang menjadi tokohnya masih berani bicara tentang sikap seorang gagah?”

Aneh sekali. Pemuda yang tadinya bersikap marah dan penuh teguran kepa­da Kwi Lan, setelah menghadapi kata-kata yang pedas ini tiba-tiba saja ber­ubah airmukanya. Ia mengerutkan ke­ningnya, wajahnya yang tampan menjadi gelap, kemudian ia menjatuhkan diri duduk di atas tanah, menarik napas pan­jang berkali-kali dan mengeluh. “Disalah­gunakan.... disalahgunakan....!” Dan ia pun menangis!

Kwi Lan tercengang menyaksikan pe­rubahan ini. Dia sendiri memang keras hati, mau membawa kehendak sendiri dan berwatak aneh, namun dia bukan seorang yang tidak mengenal budi. Melihat ke­adaan pemuda ini, hatinya pun menjadi lunak, dan tanpa disadarinya, ia sudah duduk pula di atas sebuah batu, di depan pemuda itu lalu berkata.

“Aku tidak bermaksud memaki dan menyinggungmu. Aku hanya memaki Thian-liong-pang. Biarpun kau seorang tokoh Thian-liong-pang, kulihat engkau lain daripada mereka. Engkau sudah me­nolongku tadi dan budimu itu sungguh amat besar, membuat aku bersyukur dan berterima kasih sekali. Engkau sudah menentang Huang-ho Tai-ong, dan dalam keadaan terancam bahaya hebat, engkau sudah memulihkan totokan pada tubuhku dengan sambitan batu kerikil.”

Pemuda itu menyusut air matanya dan mengangkat muka memandang Kwi Lan. Kemudian berkata dengan suara berduka. “Aku tidak peduli andaikata kau mencaci maki diriku. Dan aku tentu akan menyerangmu andaikata makianmu terha­dap Thian-liong-pang tidak benar. Akan tetapi apa yang kaukatakan adalah benar dan keadaan Thian-liong-pang seperti itulah yang menghancurkan hatiku. Aku rela mati untuk Thian-liong-pang, akan tetapi dengan keadaan Thian-liong-pang seperti sekarang ini.... bagaimana mungkin aku membelanya? Aku malu sekali, sedih, tapi.... tidak berdaya....!”

Timbul rasa suka di hati Kwi Lan terhadap pemuda ini. Ternyata pemuda ini selain memiliki ilmu kepandaian ting­gi seperti telah dibuktikannya tadi de­ngan sambitan kerikil dan dengan sepak terjangnya dikeroyok oleh Huang-ho Tai-ong dan anak buahnya, juga memiliki kesetiaan namun tidak ikut menyeleweng seperti tokoh-tokoh lain dari perkumpul­annya itu. Dengan suara halus ia ber­kata.

“Dari percakapan tiga ekor anjing tadi aku mendengar bahwa kau bernama Siangkoan Li dan menjadi cucu luar Si Kakek Sin-seng Losu. Seorang seperti kau ini bagaimanakah bisa berada di tengah-tengah mereka yang kotor seperti me­reka itu?”

Siangkoan Li menundukkan mukanya. “Nona, bagaimana aku dapat bercerita tentang keadaanku sebagai seorang di antara tokoh-tokoh dunia hitam kepada seorang gadis gagah perkasa, seorang pendekar seperti engkau ini?”

“Pendekar? Siapa bilang aku pende­kar?”

“Ah, tidak perlu kau merendahkan diri. Kau tentulah seorang Lihiap (Pende­kar Wanita) dari perguruan tinggi yang terkenal maka kau berani menentang Thian-liong-pang. Kau hidup di dunia yang bersih, yang menjujung tinggi kega­gahan, yang selalu bertindak membela kebenaran dan keadilan, menentang keja­hatan. Sebaliknya aku, aku hidup berge­limang dosa dan kejahatan, hidup di du­nia kotor dan hitam....”

“Ihhh, kau ngaco tidak karuan. Siapa bilang aku pendekar? Aku sama sekali bukan seorang lihiap. Aku seorang peran­tau, tidak datang dari perguruan mana­pun juga. Guruku bukan orang terkenal, dan andaikata kuberitahukan juga engkau pasti tak pernah mendengar namanya.

Aku lama sekali bukan penegak kebenar­an dan keadilan, bukan pendekar dan aku hanya bertindak menurut suara hatiku saja. Yang memusuhi aku, tentu akan kumusuhi kembali, yang baik kepadaku, tentu akan kubaiki kembali. Engkau baik kepadaku, telah menolongku, tentu saja tidak mungkin kau kuanggap musuh. Siangkoan Li, aku ingin sekali mendengar bagaimana kau bisa terlibat dalam Thian­liong-pang.”

Mula-mula pemuda itu memandang Kwi Lan dengan sinar mata heran dan tidak percaya, kemudian berkata perla­han.

“Ah, kalau begitu ada persamaan antara kita. Hanya bedanya, engkau be­bas dan aku terikat....” Ia meraba permata kuning yang menghias dahinya. Ke­mudian ia melonjorkan kakinya, duduk dengan enak dan mulai bercerita.

Thian-liong-pang tadinya merupakan perkumpulan orang-orang gagah, sisa dari Kerajaan Hou-han yang telah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung. Orang-orang gagah yang berjiwa patriot membentuk perkum­pulan Thian-liong-pang dengan cita-cita merebut kembali wilayah Hou-han yang sudah tertumpas musuh. Perkumpulan ini dipimpin oleh seorang muda yang gagah perkasa, yang bernama Siangkoan Bu, putera seorang bekas panglima Kerajaan Hou-han. Di bawah pimpinan Siangkoan Bu inilah para orang gagah di Hou-han mengadakan pertempuran gerilya dan se­ring kali melakukan pengrongrongan ter­hadap Kerajaan Sung. Karena perkumpul­lan ini membutuhkan banyak tenaga orang-orang gagah, tentu saja sukar un­tuk mengadakan penyaringan sehingga banyak pula orang-orang dari dunia hi­tam yang memiliki kepandaian, masuk pula menjadi anggauta. Di antara mereka ini terdapat seorang pelarian dari barat, bekas seorang pendeta yang bukan lain adalah Sin-seng Losu bersama puterinya yang cantik dan berkepandaian tinggi pula. Hal yang lumrah terjadilah, Siang­koan Bu jatuh cinta kepada puteri Sin­seng Losu dan kemudian mereka meni­kah. Dari pernikahan ini lahirlah Siang­koan Li.

Sin-seng Losu memiliki ilmu kepandai­an yang amat tinggi sehingga Ketua Thian-liong-pang yaitu mantunya sendiri, mengangkatnya sebagai guru untuk para anggauta Thian-liong-pang. Dengan kedudukan ini, ditambah kenyataan bahwa dia adalah ayah mertua Siangkoan Bu, maka Sin-seng Losu merupakan orang ke dua setelah mantunya di dalam perkum­pulan. Kekuasaannya tinggi dan mulailah timbul penjilat-penjilat, yaitu orang-orang dari dunia hitam yang menyelundup ma­suk ke dalam Thian-liong-pang. Mulailah Sin-seng Losu menyimpang daripada jalan bersih menjadi hamba nafsu dan makin tua menjadi makin gila.

Orang-orang gagah yang melihat ge­jala-gejala busuk mulai tumbuh dalam Thian-liong-pang, menjadi marah dan tidak senang sekali. Akan tetapi oleh karena segan terhadap Siangkoan Bu, seorang patriot sejati yang dihormat dan disegani, mereka masih dapat menahan sabar. Tentu saja, sebagai seorang yang bijaksana, Siangkoan Bu maklum pula akan keadaan ayah mertuanya yang menyeleweng dan didukung oleh banyak anggauta yang berasal dari dunia hitam. Orang gagah ini menjadi serba susah. Mau ditindak, kakek itu adalah ayah mer­tuanya. Tidak ditindak, dapat merusak nama baik perkumpulan. Akhirnya, Siang­koan Bu yang pada suatu hari berhasil merampas tiga belas butir permata ku­ning milik pembesar tinggi yang berkuasa di Hou-han dan yang menjadi boneka Kerajaan Sung, lalu menggunakan perma­ta-permata kuning itu sebagai tandakekuasan. Ia memilih tiga belas orang tokoh pimpinan Thian-liong-pang, di anta­ranya dia sendiri dan ayah mertuanya di tambah sebelas orang tokoh lain yang ia tahu adalah orang-orang gagah dan pa­triot-patriot sejati, sebagai dewan pimpimpinan yang memakai hiasan dari permata kuning dan mereka yang memakai tanda ini berhak untuk mengambil kepu­tusan demi kebaikan Thian-liong-pang, di antaranya berhak menghukum para ang­gauta yang menyeleweng!

Dengan adanya peraturan ini, Sin-seng Losu merasa tersudut dan tidak berani lagi melakukan penyelewengan­penyelewengan secara berterang. Akan tetapi malapetaka menimpa keluarga Siangkoan Bu dan Thian-liong-pang pada umumnya. Ketika terjadi bentrokan de­ngan jagoan-jagoan Kerajaan Sung, Siang­koan Bu dan isterinya tewas dalam per­tempuran hebat.

Semenjak itulah, kekuasaan tertinggi jatuh ke tangan Sin-seng Losu. Dan ka­rena ilmu kepandaiannya paling tinggi ditambah dua belas orang muridnya yang paling ia sayang, yaitu para penjilat ter­diri dari Thai-lek-kwi Ma Kiu dan yang lain-lain, tidak ada tokoh lain yang be­rani menentangnya. Bahkan satu demi satu para patriot mengundurkan diri se­hingga tiga belas buah permata kuning terjatuh ke tangan Sin-seng Losu yang mengangkat diri menjadi Ketua Thian-liong-pang.

“Demikianlah, Nona. Sebuah permata, yaitu bekas milik Ayah, oleh Gwa-kong (Kakek Luar) diberikan kepadaku untuk kupakai, sedangkan yang dua belas dibe­rikan kepada para suheng, murid Gwa­kong.”

“Cap-ji-liong itu?”

“Benar, kami diharuskan sumpah setia sebelum menerima permata ini, dan hal itu memang menjadi peraturan perkum­pulan kami.”

Hening sejenak setelah pemuda itu selesai bercerita. Diam-diam Kwi Lan merasa kasihan kepada Siangkoan Li. Pemuda ini yatim piatu dan terpaksa hidup di antara orang-orang jahat dan merasa tidak berdaya karena yang me­ngepalai orang-orang jahat itu adalah kakek luarnya sendiri! Di samping kenya­taan ini, juga ia telah bersumpah setia sebagai pemakai permata kuning, setia terhadap Thian-liong-pang yang kini beru­bah menjadi dunia hitam! Pantas saja pemuda ini selalu bersedih, wajahnya tak pernah berseri karena batinnya tertekan selalu.

“Aku seorang anggauta dunia hitam, Nona. Bahkan seorang tokohnya karena aku masih cucu luar orang pertama Thian­-liong-pang. Sebetulnya tidak patut bagi seorang macam aku untuk menceritakan semua ini kepada seorang seperti Nona.

Akan tetapi.... aku tidak bisa diam saja melihat kau dirobohkan orang dengan cara pengecut, karena itu.... biarpun me­rupakan penghinaan terhadap perkumpul­an, aku.... aku nekat turun tangan....”

Kwi Lan memegang kedua tangan pemuda itu. “Siangkoan Li, kalau begi­tu.... yang menolong aku dan Berandal keluar dari sumur itu.... engkaulah orang­nya?”

Siangkoan Li menundukkan mukanya yang menjadi merah. “Aku seorang peng­khianat kotor.... aku.... aku akan menebus dosa, akan menanti sampai Gwa-kong kembali....! Hidup bagiku sudah memuakkan, lebih baik menyusul Ayah Ibu....”

“Siangkoan Li, mengapa seorang gagah seperti kau ini bisa mengucapkan kata­-kata pengecut seperti itu? Orang yang bosan hidup, yang mengharapkan kemati­an, adalah seorang pengecut yang tidak berani menentang kesulitan hidup, demi­kian kata Guruku. Biarpun semua orang menganggapmu sebagai seorang tokoh dunia hitam, akan tetapi aku, Kam Kwi Lan, menganggapmu seorang sahabat yang baik dan gagah!”

“Kam Kwi Lan? Itukah namamu, Nona....?”

Kwi Lan terkejut. Karena merasa ka­sihan, ia sampai memperkenalkan nama­nya secara tak sadar. Karena sudah ter­lanjur, ia lalu berkata, “Benar, itulah namaku. Nama julukan Mutiara Hitam adalah pemberian Si Berandal.”

“Si Berandal? Pemuda tampan yang datang bersamamu? Dia tampan dan lihai sekali. Di mana dia sekarang?”

“Dia pergi mencari Ibu kandungnya. Siangkoan Li, kau tadi mengatakan bah­wa kau akan menebus dosa menanti kembalinya Sin-seng Losu. Apa yang hendak kaulakukan?”

Dalam percakapan tadi ketika Si No­na memperkenalkan nama, pada wajah yang tampan itu tampak sedikit cahaya gembira, akan tetapi mendengar perta­nyaan itu, kembali wajahnya menjadi muram. Sejenak ia tidak menjawab, melainkan memandang ke arah pohon-pohon yang mulai tampak karena tanpa mereka sadari, sang malam telah mulai diusir oleh sinar matahari pagi. Kicau burung menyambut datangnya fajar.

“Aku harus mengakui perbuatanku di depan mereka, harus berani menebus dosaku dan menerima hukuman.”

“Ah, mengapa begitu? Tinggalkan saja Thian-liong-pang dan mereka yang hidup bergelimang kejahatan!” teriak Kwi Lan penasaran.

Tiba-tiba Siangkoan Li melompat ba­ngun. “Tidak! Tak mungkini Thian-liong-pang adalah perkumpulan yang didirikan oleh mendiang Ayahku. Ayah Ibuku telah menyerahkan nyawa mereka untuk Thian-liong-pang. Masa aku harus melarikan diri? Meninggalkan Thian-liong-pang? Tidak, Kwi Lan. Aku takkan mundur biar­pun harus menghadapi kematian.”

“Tapi, orang tuamu mati untuk Thian-liong-pang dalam membela Hou-han, me­reka mati sebagai pahlawan-pahlawan utama. Akan tetapi kau...., kau hendak menyerahkan nyawa sebagai seorang pengkhianat Thian-liong-pang? Selagi Thian-liong-pang dikuasai orang-orang jahat?”

Siangkoan Li menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Betapapun juga, masih ada Sin-seng Losu di situ dan kau harus ingat, dia adalah Gwakong (Kakek Luar) bagiku. Andaikata tidak ada dia, tentu aku sudah akan mengadu nyawa dengan Cap-ji-liong untuk membasmi mereka dari Thian-liong-pang!”

“Marilah kita berdua sekarang juga menghadapi mereka. Siangkoan Li, kau percayalah, kita berdua akan dapat meng­hancurkan mereka! Kulihat kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada Cap-ji-liong....”

Siangkoan Li mengangguk. “Memang, terhadap Cap-ji-liong aku tidak takut. Biarpun mereka itu terhitung Suheng-suhengku sendiri karena aku pun men­dapat pelajaran ilmu silat dari Gwakong, akan tetapi aku masih mempunyai dua orang Guru yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada kepandaian Gwa­kong.”

“Siapakah mereka itu?” Kwi Lan ber­tanya kagum.

Siangkoan Li menggeleng kepala. “Ti­dak boleh kusebut, sungguhpun andaikata kukatakan juga, kau takkan mengenalnya. Agaknya antara gurumu dan guruku ada persamaan keanehan dalam hal nama ini. Kau bilang gurumu tidak terkenal sama sekali. Akan tetapi kurasa gurumu masih jauh lebih terkenal daripada guruku yang benar-benar tak ada seorang pun menge­nalnya.” Tiba-tiba Siangkoan Li meman­dang ke depan dan wajahnya menegang. Kemudian ia memegang tangan Kwi Lan, menggenggam tangan yang kecil halus itu sejenak sambil berkata,

“Sudahlah, Kwi Lan. Mereka sudah datang. Selamat berpisah. Kau percaya­lah, pertemuan ini merupakan satu-satu­nya hal yang paling menyenangkan hatiku selama hidupku dan sampai mati pun aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Se­telah berkata demikian, Siangkoan Li melepaskan pegangan tangannya dan de­ngan langkah lebar ia pergi meninggalkan Kwi Lan.

Kwi Lan berdiri di depan guha dengan hati bimbang. Biarpun pemuda itu sudah dua kali menolongnya, akan tetapi pe­muda itu bukan apa-apanya. Orang lain yang kebetulan bertemu di situ. Urusan pribadi pemuda itu tiada sangkut-pautnya dengan dirinya. Kalau pemuda itu begitu setia kepada Thian-liong-pang dan begitu bodoh untuk menyerahkan diri minta di­hukum, peduli apakah dengan dia? Ber­pikir demikian, Kwi Lan juga mulai berjalan meninggalkan tempatitu. Ia masih gemas kala mengingat kuda hitamnya yang hilang. Matikah kuda itu? Hanyut dan tenggelam? Ataukah terampas para bajak?

Pemuda yang aneh, kembali ia ber­pikir tentang diri Siangkoan Li. Tidak mudah baginya untuk melupakan pemuda itu begitu saja. Masih terngiang di te­linganya ucapan pemuda itu ketika hen­dak berpisah, ucapan yang agak gemetar. Pertemuan yang paling menyenangkan hatinya selama hidupnya! Sampai mati pun pemuda itu takkan melupakannya! Hemmm, Kwi Lan merasa betapa muka­nya menjadi padas. Jantungnya berdebar aneh, seperti ketika Hauw Lam si Be­randal menyatakan cinta kasihnya kepadanya di dalam sumur.

Siangkoan Li merupakan pemuda yang aneh. Akan tetapi ada perbedaan men­colok dalam sikap mereka. Hauw Lam selalu gembira dan jenaka, nakal dan lucu. Sebaliknya, Siangkoan Li selalu muram dan sedih. Mengenangkan Hauw Lam menimbulkan kegembiraan. Menge­nangkan Siangkoan Li menimbulkan ke­haruan. Akan tetapi keduanya sama baik­nya. Sama tampan, sama lihai dan ke­duanya sama amat baik kepadanya! Hauw Lam sedang pergi mencari ibu kandung­nya, dan Siangkoan Li.... pergi mencari maut! Ah, tidak boleh begini! Ia harus melarangnya, harus mencegahnya!

Kwi Lan lalu pergi mengejar. Siang­koan Li sudah tak tampak lagi bayangan­nya akan tetapi karena waktu itu mata­hari telah mulai muncul mengusir ke­gelapan, ia dapat lebih mudah mencari pemudaitu. Ia mendapatkan pemuda itu di tepi Sungai Huang-ho dalam keadaan.... terbelenggu kedua tangannya dan sedang dimaki-maki oleh Sin-seng Losu, disaksi­kan oleh seorang di antara Cap-ji-liong dan seorang kakek kurus berjenggot lebat.

Siangkoan Li hanya menundukkan muka­nya dengan kening berkerut, kelihatan berduka sekali. Melihat keadaan pemuda ini, darah Kwi Lan sudah bergolak saking marahnya. Di situ hanya terdapat tiga orang Thian-liong-pang, biarpun yang seorang adalah tokoh terbesar, Sin-seng Losu. Andaikata Cap-ji-liong lengkap berada di situ sekalipun, ia tidak akan gentar menghadapi mereka untuk me­nolong Siangkoan Li. Pemuda itu telah dua tiga kali menolongnya, tidak hanya menolongnya daripada bahaya maut, bah­kan dari bahaya yang lebih hebat dari pada maut!

“Sin-seng Losu tua bangka jahat! Hayo bebaskan Siangkoan Li!” bentaknya sambil muncul dari belakang batang po­hon dengan pedang di tangan.

Seorang di antara Cap-ji-liong yang memakai mutiara kuning di dahi seperti Siangkoan Li, menoleh dan mukanya menjadi marah sekali ketika ia mengenal Kwi Lan. Bagaikan kilat cepatnya, ta­ngan kirinya bergerak dan pada saat itu Siangkoan Li berseru,

“Thio-suheng.... jangan....! Nona Kam, jangan turut campur....!”

Namun terlambat. Tiga buah Sin-seng-piauw sudah menyambar ke arah tubuh Kwi Lan, akan tetapi gadis ini mengge­rakkan pedang menyampok runtuh tiga batang Sin-seng-piauw sedangkan tangan kirinya sudah menyebar jarumnya ke arah anggauta Cap-ji-liong itu. Orang she Thio ini cepat meloncat untuk mengelak, na­mun kurang cepat karena Kwi Lan me­lepas jarum secara luar biasa sekali. Ia melepas dengan gerakan sekaligus, namun ternyata jarum-jarum di tangannya telah terpecah menjadi dua rombongan. Rom­bongan pertama menyerang cepat sekali sedangkan rombongan kedua, biarpun disambitkan dalam waktu yang sama, lebih lambat dan merupakan jarum pe­nutup jalan keluar sehingga ke mana pun juga lawan mengelak, tentu akan di­sambut oleh jarum-jarum rombongan ke dua ini. Anggauta Cap-ji-liong itu kaget namun terlambat. Pahanya tertusuk se­batang jarum yang amblas sampai tidak tampak menembus celana, kulit dan dagingnya. Seketika tubuhnya menjadi kaku dan ia roboh pingsan!

“Wuuuttt.... singgg....!”

Masih untung bahwa Kwi Lan mem­punyai kegesitan yang mengagumkan dan gerakan yang aneh. Otomatis tubuhnya mencelat ke kiri sampai hampir menyen­tuh tanah untuk mengelak sambaran pe­dang yang amat luar biasa itu. Ketika ia berjungkir balik memandang, kiranya yang menyerangnya adalah orang kurus berjenggot lebat. Diam-diam Kwi Lan terkejut juga. Gerakan pedang orang ini hebat sekali, jauh lebih hebat daripada orang-orang Cap-ji-liong! Padahal Cap-ji-liong adalah orang-orang Thian-liong-pang yang menduduki tingkat satu. Kalau begitu orang itu tentu bukan orang Thian-liong-pang.

Ia memandang penuh perhatian. Orang itu tinggi kurus mukanya pucat kehijau­an, tanda bahwa dia telah melatih se­macam ilmu Iweekang yang aneh dan dalam. Rambut dan jenggotnya awut-awutan tak terpelihara, juga kotor seperti seorang pengemis terlantar. Namun pakaiannya bukan seperti pakaian penge­mis. Agaknya seorang pertapa yang sudah tidak peduli akan kebersihan dirinya lagi. Mukanya kurus tak berdaging, hanya kulit pembungkus tengkorak. Tentu usianya sudah tua sekali. Orang ini berdiri me­mandangnya dengan muka seperti kedok, sedikit pun tidak membayangkan perasaan sesuatu, juga mulutnya tidak mengeluar­kan kata-kata.

“Susiok, harap jangan layani dia! Nona Kam, kau pergilah....!” Kalimat terakhir itu ditujukan kepada Kwi Lan dengan pandang mata penuh kedukaan. Makin tidak tega hati Kwi Lan, maka ia meng­hadapi kakek berpedang itu sambil me­ngejek,

“Kalian bebaskan dia atau.... pedangku harus bicara?”

“Sute (Adik Seperguruan), kau wakili aku hajar siluman ini!” Sin-seng Losu berkata.

Kini tahulah Kwi Lan bahwa kakek kotor ini adalah adik seperguruan Sin­seng Losu, pantas saja Siangkoan Li me­nyebutnya pamanguru. Ia melihat betapa orang itu menggetarkan pedangnya di tangan kanan sedangkan tangan kirinya tergetar hebat lalu menjadi kaku dengan jari-jari membentuk cakar garuda. Ke­mudian tubuh orang itu menubruk ke de­pan, pedangnya membabat ke arah ping­gang sedangkan tangan kirinya mencakar ke arah mukanya. Sukar dikatakan mana yang lebih berbahaya, pedang itu ataukah jari-jari tangan kiri itu. Keduanya me­ngeluarkan angin pukulan yang bersuitan dan amat kuatnya.

Sambutan Kwi Lan atas serangan dahsyat dan aneh ini tidak kalah luar biasanya. Gerakan Kwi Lan memang aneh dan tidak terduga-duga. Bahkan sudah menjadi inti daripada ilmu silat Kam Sian Eng bahwa setiap serangan lawan merupakan pintu yang terbuka dan me­rupakan kesempatan untuk dibalas serang­an yang mematikan! Tanpa mempedulikan keselamatan sendiri, Kwi Lan sudah me­loncat tinggi ke atas sehingga pedang lawan lewat di bawah kedua kakinya dan berbareng pedang Siang-bhok-kiam di ta­ngannya bergerak menyambar ke bawah membabat tangan kiri lawan yang men­cakarnya tadi.

Kakek itu membelalakkan mata dan agaknya hanya gerakan mata ini sajalah yang menyatakan bahwa ia merasa kaget sekali karena bagian muka yang lain tetap seperti kedok. Namun ternyata ia lihai sekali. Karena tidak keburu menarik kembali lengan kirinya yang kini menjadi sasaran pedang lawan, ia segera mem­buang diri ke belakang sehingga roboh terlentang sambil memutar pedang di depan dada dan bergulingan. Secepat kilat ia sudah bangun kembali dan kini mereka sudah berhadapan lagi. Keduanya sama maklum bahwa lawan adalah se­orang yang lihai. Namun Kwi Lan tetap tersenyum mengejek, menanti serangan lawan.

Kakek itu kini menerjang kembali sambil memutar pedang dengan gerakan dahsyat sekali. Pedangnya membacok­bacok secara bertubi, kiri kanan atas bawah, diselang-seling namun tak pernah berhenti, mengikuti bayangan dan gerak­an lawan. Kwi Lan memperlihatkan ke­gesitannya, terus mengelak dengan se­dikit miringkan tubuh sehingga pedang lawan menyambar-nyambar di samping tubuhnya, bahkan kadang-kadang kelihat­an seperti sudah menyerempetnya! Makin lama makin gencar serangan aneh dan hebat ini. Pedang itu seakan-akan di­gerakkan oleh mesin, tak pernah berhenti menyerang dan setiap bacokan disertai tenaga dahsyat.

Setelah dua puluh jurus lewat Kwi Lan hanya menghadapinya dengan elakan-elakan segesit burung walet, gadis ini lalu berseru nyaring dan pedang Siang­-bhok-kiam berubah menjadi sinar hijau bergulung-gulung yang makin lama makin luas lingkarannya dan betapa pun lawan­nya memutar pedang setelah lewat lima puluh jurus, sinar hijau mulai menggulung dan melibat sinar pedang kakek itu.

Kakek ini sebenarnya bukan orang sembarangan. Dia bernama Yo Cat, mu­rid dari tokoh besar Siauw-bin Lo-mo paman guru Sin-seng Losu. Di dalam du­nia hitam, ia sudah menduduki tingkat tinggi, sejajar dengan Sin-seng Losu.

Karenanya jarang ia bertemu tanding. Siapa kira, hari ini, selagi ia ikut dengan suhengnya itu untuk mempersiapkan tem­pat istirahat bagi gurunya yang akan datang berkunjung ke Yen-an, ia bertemu seorang gadis muda belia yang tidak hanya mampu menandinginya, bahkan kini mendesaknya dengan ilmu pedang yang hebat dan luar biasa, dimainkan dengan sebatang pedang kayu pula!

“Auuuggghhhh....!” Hebat sekali pekik yang keluar dari dalam perut melalui kerongkongan Yo Cat ini, bukan seperti suara manusia lagi, dahsyat dan liar,lebih mirip suara binatang buas atau suara iblis. Kwi Lan adalah seorang gadis gemblengan yang telah mempelajari pel­bagai ilmu yang aneh-aneh dengan cara yang aneh pula. Namun menghadapi Yo Cat yang terlatih puluhan tahun lamanya dan sudah menjadi ahli sebelum gadis ini terlahir, apalagi menghadapi ilmu hitam Koai-houw Ho-kang (Auman Harimau Iblis) ini, jantungnya tergetar dan tubuh­nya menggigil. Gerakan pedangnya kacau dan ia terhuyung-huyung ke belakang.

Lebih hebat lagi, setelah mengeluarkan ilmu menggereng yang dahsyat itu, Yo Cat terus menerjang maju dan melakukan tekanan-tekanan berat!

Ada satu hal yang menguntungkan Kwi Lan, yaitu wataknya yang tabah dan hatinya yang tidak pernah mau kenal apa artinya takut. Kalau ia merasa takut, celakalah ia karena kelemahan orang menghadapi ilmu semacam Koai-houw Ho-kang itu adalah perasaan takut. Kalau hati merasa gentar, makin hebat penga­ruh ilmu itu sehingga mungkin tanpa bertanding lagi orang sudah bertekuk lutut. Karena hatinya sama sekali tidak gentar, pengaruh gerengan dahsyat itu sebentar saja dan Kwi Lan sudah dapat menetap­kan perasaannya lagi. Pedangnya mulai memperhebat lagi gerakannya dan dalam waktu singkat saja kembali ia telah me­ngurung dan mendesak. Yo Cat boleh jadi lihai dan banyak pengalamannya, namun menghadapi ilmu pedang tingkat tinggi yang dilatih di bawah bimbingan seorang jago wanita gila, tentu saja ia menjadi bingung sekali, tak dapat men­duga-duga bagaimana perubahan pedang itu sehingga menjadi mati kutu!

“Eh, budak cilik, kau kurang ajar se­kali!”

Seruan ini keluar dari mulut Sin-seng Losu yang sudah melompat ke depan dan sekali tangan kirinya bergerak, tampak sinar berkilauan menyambar ke arah Kwi Lan. Sinar ini adalah senjata rahasia Sin­-seng-piauw, namun jauh bedanya dengan piauw yang dilepas oleh semua anak murid Thian-liong-pang. Piauw ini memang bentuknya seperti bintang, akan tetapi terbuat daripada perak berkilauan dan karena kakek ini yang menciptakan senjata rahasia itu, tentu saja cara menggunakannya pun hebat luar biasa!

“Gwakong (Kakek Luar), jangan....!” Terdengar Siangkoan Li berseru kaget.

Kwi Lan maklum bahwa ia diserang dengan senjata rahasia. Karena ia masih menghadapi pedang Yo Cat yang tak boleh dipandang ringan, maka perhatian­nya kurang sepenuhnya terhadap datang­nya serangan Sin-eng-piauw. Ketika ia melirik, ia kaget sekali melihat sinar­-sinar berkeredepan menyambarnya dari kanan kiri bawah dan atas, sinar-sinar yang menyambar tanpa mengeluarkan bunyi akan tetapi yang kecepatannya menyilaukan mata.

Celaka, Kwi Lan berseru kaget dalam hati. Ia cepat meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya, namun bagai­kan ada matanya, piauw-piauw perak itu melejit dan menyambar seperti gila. Ketika ia berseru keras dan meloncat tinggi, semua piauw lewat di bawah kakinya kecuali sebuah yang secara aneh telah menancap betis kaki kirinya. Un­tung baginya bahwa tadi Kwi Lan sudah bersiap-siap dan begitu merasa kakinya disambar ia telah menutup jalan darah dan mengerahkan Iwee-kang sehingga senjata rahasia itu hanya separuhnya saja menancap di daging betisnya. Pada saat tubuhnya masih di udara, Yo Cat mener­jang maju dengan tusukan pedangnya, dan lebih hebat lagi, Sin-seng Losu sudah mengerahkan sin-kang di lengan kanannya dan mengirim pukulan jarak jauh yang amat hebat dan sukar ditangkis!

“Auhhhh.... hehhh.... kau berani.... be­rani....?” Terdengar Sin-seng Losu ter­engah-engah dan tubuhnya terdorong mundur dan terhuyung-huyung. Kiranya pukulannya telah ditangkis oleh kedua tangan Siangkoan Li yang terbelenggu! Melihat ini, Kwi Lan yang tubuhnya ma­sih di udara dan menghadapi terjangan Yo Cat, mengeluarkan lengking tinggi dan tiba-tiba tubuhnya bagaikan seekor ular raja menggeliat aneh di udara na­mun pedang lawan menyelinap di bawah ketiak kirinya, langsung ia kempit dan pedangnya sendiri menyambar ke lengan kanan lawan.

“Iihhh....!” Suara ini keluar dari mulut Yo Cat yang cepat melepaskan pedang­nya dan menarik lengannya, namun ku­rang cepat sehingga lengannya dekat siku terkena serempetan pedang, terluka dan darahnya bercucuran Si Muka Mayat ini meloncat ke belakang dan memegangi lengan kanan, agaknya khawatir kalau-kalau gadis yang perkasa itu mendesak­nya dengan serangan maut.

Akan tetapi Kwi Lan menengok ke arah Siangkoan Li yang sudah menjatuhkan diri berlutut sambil menangis! “Gwa­kong.... kau tak boleh membunuhnya.... tak boleh....!” Pemuda itu mengeluh ber­kali-kali.

“Anak keparat, cucu durhaka.... heh­hehhh.... berani kau.... huh-huhh.... kubunuh kau....!”

Sekali meloncat, tubuh Kwi Lan ber­kelebat dan ia sudah berdiri menghadang di depan Siangkoan Li, mulutnya terse­nyum dan matanya memandang kakek itu dengan penuh ancaman. Akan tetapi ke­khawatirannya hilang ketika ia melihat betapa kakek itu berdiri dengan muka pucat, dengan napas senin kamis dan di ujung mulutnya menetes-netes darah se­gar! Diam-diam Kwi Lan terkejut sekali dan kagum. Jelas bahwa Sin-seng Losu bukan seorang lemah. Sambitannya Peluru Bintang Sakti tadi sudah amat berbahaya, kemudian pukulannya jarak jauh juga hebat. Mengapa sekali ditangkis oleh Siangkoan Li, kakek itu menderita luka dalam yang tidak ringan? Sampai di ma­nakah tingkat kepandaian pemuda yang berkali-kali menolongnya ini?

“Kalian ini dua orang tua bangka yang bosan hidup! Hari ini nonamu akan mengantar kalian ke neraka!” Kwi Lan menyerbu dengan pedangnya, akan tetapi tiba-tiba lengan kirinya dipegang orang dari belakang. Ternyata Siangkoan Li yang memegangnya dan pemuda itu ber­kata dengan nada sedih.

“Jangan, Kwi Lan. Dan lekas kauke­luarkan obat pemunah jarummu untuk Suhengku. Lekaslah, harap, kau sudi me­lihat mukaku dan menolongnya.”

Kwi Lan melongo. Pemuda aneh se­kali! Jelas bahwa ia diperlakukan tidak baik, mengapa masih nekad hendak menolong mereka? Akan tetapi mengingat bahwa sudah berkali-kali ia ditolong, tidak enaklah hatinya untuk menolak permintaan itu. Dengan bersungut-sungut tak puas ia mengeluarkan sebungkus kecil obat bubuk dan berkata,

“Robek kulitnya, keluarkan jarum dan pakai obat ini pada lukanya.”

Siangkoan Li menerima bungkusan itu, memberikan kepada suhengnya. “Thio­-suheng, kaupakailah ini!” Akan tetapi suhengnya membuang muka dan menghar­dik.

“Tutup mulutmu, pengkhianat!”

Siangkoan Li mengerutkan keningnya lalu meletakkan bungkusan di dekat kaki suhengnya yang masih rebah tak dapat bangun. Kemudian ia menghampiri Kwi Lan dan berkata.

“Nona Kam, harap engkau sekarang segera pergi dari sini. Kalau sampai para suhengku datang, engkau tentu akan ce­laka dan aku tidak akan mampu meno­longmu lagi.”

Kwi Lan mengeluarkan suara men­dengus di hidungnya. “Huh, kau tidak takut mati, apa kau kira aku pun takut mati? Biarlah mereka membunuhku kalau mereka mampu.”

“Nona...., Kwi Lan...., aku tidak ingin melihat kau mati karena aku!”

“Aku pun tidak ingin melihat kau mati. Aku mau pergi kalau engkau pun mau pergi bersama meninggalkan tempat ini!”

“Jahanam besar kau, Siangkoan Li! Kau membikin mayat Ayahmu membalik di dalam kuburnya! Berani main cinta-cintaan dengan seorang musuh perkumpulan. Hah, bocah macam apa ini!” Sin-seng Losu sudah memaki-maki lagi.

“Kwi Lan, aku seorang anak Thian-liong-pang, harus tunduk dan setia. Aku sudah berdosa, biarlah aku menerima hukuman. Akan tetapi kau orang luar, kau pergilah dan jangan membikin aku mati penasaran karena kau menderita celaka.”

Kini Kwi Lan menjadi marah. De­ngan pedang di tangan ia memben­tak, “Siangkoan Li! Engkau ini pemuda macam apa begini lemah dan buta? Me­mang benar kau adalah orang Thian-liong­-pang, akan tetapi Ayahmu dahulu adalah seorang patriot sejati, seorang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan bukan golongan orang jahat. Terhadap perkum­pulan seperti ketika dipimpin Ayahmu itu, aku tidak akan merasa heran apabila engkau mengambil sikap seperti ini, ber­setia sampai mati. Siangkoan Li, engkau melihat sikap Ciam Goan? Nah, dialah orang gagah sejati, yang melihat betapa Thian-liong-pang menjadi busuk di bawah pimpinan Gwakongmu yang berjiwa kotor ini rela meninggalkan Thian-liong-pang dan kalau perlu memusuhinya. Bukan me­musuhi perkumpulannya, melainkan orang orangnya yang menyeleweng daripada kegagahan. Siangkoan Li, aku tidak bisa bicara banyak dan pengetahuanku pun sedikit. Akan tetapi karena kau seorang yang sudah melepas budi berkali-kali kepadaku, aku harus membelamu dengan taruhan nyawaku. Pernah Guruku bilang bahwa orang hidup tentu akhirnya mati. Akan tetapi kematian yang paling memalukan adalah kematian seorang pengecut yang tidak berani menentang kelaliman! Demi untuk kebenaran, jangankan hanya perkumpulan atau teman-teman, biar orang tua sendiri kalau perlu boleh saja dilawan!”

Hebat kata-kata ini, apalagi kalimat yang terakhir. Pada jaman itu, kebaktian merupakan kebajikan mutlak dan nomor satu. Tidak ada kejahatan yang buruk daripada kemurtadan anak terhadap orang tua demi membela kebenaran! Ini hanya dapat diucapkan oleh seorang yang otak­nya tidak waras!

“Dengar....! Dengar itu omongan iblis betina! Omongan perempuan gila! Siang­ koan Li, kau berani murtad terhadap Kakekmu?”

Sambil berlutut Siangkoan Li berkata, “Tidak, Gwakong, aku tidak berani....! Kemudian ia menoleh ke arah Kwi Lan. “Kwi Lan, kau pergilah. Lekas mereka telah datang....!”

“Biarkan mereka datang. Biar aku mati aku tidak mau pergi tanpa kau ikut pergi. Kau sudah menolong nyawaku, aku harus membalasnya sedikitnya satu kali!” kata Kwi Lan dengan suara tetap.

“Celaka....! Kwi Lan, kau tahu, siapa kakek itu?” Ia menuding ke arah kakek yang terluka lengan kanannya. “Dia itu susiok Yo Cat, dia itu murid sucouw yang akan datang pula bersama Cap-ji-liong! Biar ada lima orang engkau dan aku belum tentu akan dapat melawan­nya.”

Akan tetapi Kwi Lan hanya terse­nyum saja. Makin lama Siangkoan Li makin bingung dan kini dari jauh tampak layar beberapa buah perahu. Siangkoan Li meloncat bangun, menghampiri Kwi Lan, memegang lengannya dan berseru. “Kalau begitu, demi keselamatanmu, kita per­gi....!”

Kwi Lan ikut berlari, membiarkan dirinya ditarik. Siangkoan Li. Tak lama kemudian ia berseru, “Eh, eh, kenapa lari ketakutan? Mari kita lawan bersama.”

“Hushhh.... diamlah. Aku tahu jalan rahasia yang tak mungkin dapat mereka kejar dan cari. Mari....!”

Mereka lari memasuki sebuah hutan yang gelap dan memang pemuda itu ti­dak bohong. Ia melalui jalan menyusup-nyusup yang amat sukar, bukan jalan ma­nusia lagi dan kalau bukan orang yang sudah mengenal jalan tentu amat sukar memasuki hutan melalui jalan ini.

Akhirnya setelah lari setengah hari lamanya Siangkoan Li nampak tenang dan mengajak gadis itu duduk di pinggir se­buah sungai kecil dalam hutan. Keadaan di situ teduh dan sejuk sekali. Sinar matahari yang amat terik ditangkis oleh daun-daun pohon yang lebat.

“Mari kuputuskan belenggu.” kata Kwi Lan sambil menarik tangan Siangkoan Li.

Akan tetapi pemuda itu merenggut kem­bali tangannya.

“Untuk apa? Setelah menyelamatkan engkau, aku akan kembali menyerahkan diri.”

Kwi Lan marahsekali. Ia meloncat bangun dari tempat duduknya dan me­nudingkan telunjuknya kepada Siangkoan Li. “Engkau boleh berkepala batu, aku pun berhati baja! Akan tetapi engkau berkeras secara ngawur. Siangkoan Li, engkau seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa begini le­mah? Kalau kau memang amat mencinta Thian-liong-pang, mengapa kau tidak mengumpulkan orang-orang seperti Ciam Goan untuk membersihkan Thian-liong­pang dari oknum-oknum macam Ma Kiu dan lain-lain? Kalau kaulakukan itu dan Thian-liong-pang menjadi perkumpulan orang gagah kembali, barulah kau se­orang yang berbakti kepada mendiang Ayahmu, menjujung tinggi nama baik orang tua dan perkumpulan. Yang kau­lakukan sekarang ini hanya membuktikan bahwa kau pengecut dan picik. Baiklah, kalau kau berkukuh hendak mengerahkan diri, aku pun berkukuh hendak membasmi Thian-liong-pang sendirian saja. Kita akan sama-sama mati, akan tetapi mati­ku seribu kali lebih berharga daripada matimu yang seperti kematian seekor kacoa!”

Pucat wajah Siangkoan Li mendengar ini. Ia meloncat bangun, sejenak ia me­mandang dengan mata melotot. Kedua orang muda itu saling pandang untuk be­berapa lama. Kemudian Siangkoan Li menarik napas panjang. “Aku bingung dan ragu-ragu.... agaknya engkau benar.... biarlah akan kutemui kedua orang Suhuku dan minta nasihat mereka....! Thian-liong-pang, untuk sementara ini aku Siangkoan Li menjadi pengkhianat!” Se­telah berkata demikian, tiba-tiba ia mengerahkan tenaga menggerakkan kedua tangannya. Terdengar suara keras dan.... belenggu besi itu rontok semua dan pu­tus-putus!

Kwi Lan tersenyum girang dan ka­gum. Tak salah dugaannya, pemuda ini memiliki kepandaian tinggi, yang jelas adalah tenaganya yang istimewa. Pantas saja kekeknya yang sudah tua itu sekali ditangkis terluka.

“Bagus Siangkoan Li. Begitu barulah seorang gagah sejati! Akan tetapi aku masih belum percaya betul. Bagaimana kalau kaulakukan ini hanya untuk menge­labuhi aku? Sebelum aku yakin akan keputusan hatimu, aku hendak mengikuti sepak terjangmu beberapa lama. Sekarang engkau hendak ke mana?”

“Ucapan-ucapanmu mulai membekas di hatiku, Kwi Lan. Akan tetapi aku masih bimbang ragu. Karena itu, jalan satu-satunya adalah bertanya kepada kedua orang Guruku. Aku hendak mengunjungi mereka.”

“Kedua orang Gurumu tentu orang-orang luar biasa. Aku pun ingin bertemu dengan mereka. Aku ikut!”

“Eh, tidak bisa, Kwi Lan. Mereka itu orang-orang luar biasa sekali dan tidak suka bertemu dengan orang lain. Ke­cuali itu, juga tempatnya amat sukar didatangi orang, bagaimana aku bisa mengajakmu ke sana?”

Kwi Lan tersenyum. “Kata-katamu makin membuat aku curiga. Siangkoan Li, sudah kukatakan tadi. Engkau telah berkali-kali menolongku, maka aku sudah mengambil keputusan, sebelum kau yakin akan kekeliruanmu mengenai sikapmu terhadap Thian-liong-pang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau kau bisa mengunjungi mereka, mengapa aku tidak? Marilah kita berangkat!”

Siangkoan Li mengerutkan keningnya. Gadis ini amat keras hati dan ia tahu bahwa Kwi Lan tentu akan melakukan apa yang diucapkannya.

“Baiklah, Kwi Lan. Akan tetapi kau sudah kuperingatkan. Jangan persalahkan padaku kalau kau terbawa-bawa ke dalam lembah hitam karena kau pergi bersama aku yang sejak kecil bergelimang dalam dunia yang kotor.”

Berangkatlah dua orang itu melanjut­kan perjalanan. Melakukan perjalanan bersama Siangkoan Li bedanya sejauh bumi dengan langit kalau dibanding­kan dengan perjalanan bersama Hauw Lam. Perjalanan di samping Hauw Lam merupakan perjalanan yang penuh tawa dan gurau, gembira karena pemuda itu memandang dunia dari sudut yang terang dan lucu. Akan tetapi sebaliknya, Siang­koan Li adalah seorang pemuda yang pendiam dan wajah yang tampan itu hampir selalu muram diselimuti awan kedukaan. Di sepanjang jalan, dua orang yang melakukan perjalanan cepat ini jarang sekali bicara. Kalau tidak diajak bicara, Siangkoan Li tak pernah mem­buka mulut! Akan tetapi Kwi Lan tidak merasakecewa. Ia maklum akan isi hati pemuda ini dan sinar mata pemuda itu di waktu memandangnya, penuh perasaan, sudah cukup baginya. Sinar mata pemuda ini tiada bedanya dengan sinar mata Hauw Lam di waktu menatapnya. Ada sesuatu dalam sinar mata kedua pemuda itu yang mendatangkan kehangatan di hatinya.

***

Sebelas hari lamanya mereka berdua melakukan perjalanan yang sukar, naik turun Pegunungan Lu-liang-san, masuk ke­luar hutan-hutan lebat. Pada hari ke dua belas, setelah selama itu tak pernah bertemu dengan manusia karena agaknya Siangkoan Li memang memakai jalan yang liar dan tak pernah diinjak orang, sampailah mereka di sebuah dusun kecil di lereng bukit. Dusun ini hanya diting­gali beberapa puluh keluarga petani, akan tetapi di ujung dusun itu berdiri sebuah rumah makan yang kecil dan sederhana sekali.

“Kita sudah sampai.” Kata Siangkoan Li.

“Apa? Di dusun ini?”

Siangkoan Li menggeleng kepala dan menudingkan telunjuknya ke depan. “Di puncak sana itu.”

Kwi Lan memandang dan benar saja. Tak jauh dari dusun itu menjulang tinggi puncak bukit dan samar-samar tampak tembok putih panjang melingkari bangun­an-bangunan kuno.

“Bangunan apakah itu?” tanya Kwi Lan.

“Itulah kuil dan markas Lu-liang-pai. Di sana tinggal para hwesio Lu-liang­-pai yang merupakan partai persilatan besar di daerah ini.”

“Ahhh, kedua orang Gurumu itu hwe­sio-hwesio yang tinggal di sana?”

Siangkoan Li menggeleng kepala dan keningnya berkerut, agaknya pertanyaan ini menimbulkan kekesalan hatinya.

“Apakah dugaanku keliru?”

Pemuda itu mengangguk dan menghela napas panjang. “Kedua orang Guruku adalah.... orang-orang hukuman di kuil itu....!”

“Apa....?” Kwi Lan benar-benar ka­get karena hal ini sama sekali tidak per­nah diduganya. “Kenapa mereka dihukum? Apakah mereka itu anggauta-anggauta Lu-liang-pai yang menyeleweng?”

“Bukan. Mereka bukan hwesio, tapi.... entah mengapa mereka menjadi orang-orang hukuman di sana, tak pernah me­reka mau katakan kepadaku. Akan tetapi, Kwi Lan. Tidak mudah menemui mereka di sana, kalau, ketahuan para hwesio, tentu aku akan ditangkap. Karena itu, kuharap kau suka menanti di dusun ini dan biarlah aku seorang diri pergi meng­hadap kedua orang Guruku.”

Kwi Lan mengajak pemuda itu duduk di tepi jalan, di atas akar pohon yang menonjol keluar, “Siangkoan Li, keadaan Gurumu itu aneh sekali. Bagaimana kau dapat menjadi muridnya kalau mereka itu orang-orang hukuman di Kuil Lu-liang-pai?”

Setelah berulang-ulang menghela napas, pemuda berwajah muram ini laluberce­rita. Ia tidak pandai bicara, ceritanya singkat namun menarik perhatian Kwi Lan karena cerita itu amat aneh.

“Terjadinya ketika ayahnya masih hidup. Ayah adalah Ketua Thian-liong-pang yang pada waktu itu masih bernama harum sebagai perkumpulan kaum patriot Hou-han. Ayah mengenal baik dengan para pimpinan hwesio Lu-liang-pai dan pada suatu hari Ayah datang ke Lu-liang-pai mengunjungi mereka. Aku baru berusia tiga belas tahun dan diajak oleh Ayah.” Siangkoan, Li mulai ceritanya yang didengarkan oleh Kwi Lan dengan tertarik. Kemudian ia melanjutkan.

Sebagai seorang anak kecil berusia ti­ga belas tahun, Siangkoan Li menjadi bosan mendengar percakapan antara ayahnya dan para pimpinan Lu-liang-pai, maka diam-diam ia menyelinap pergi dan bermain-main di kebun belakang. Para hwesio dan ayahnya tidak melarangnya karena di kebun belakang memang ter­dapat taman bunga yang amat indah. Hawa pegunungan yang sejuk memungkin­kan segala macam kembang hidup subur di situ. Akan tetapi Siangkoan Li ternya­ta bukan hanya bermain-main di taman bunga, melainkan bermain terus lebih jauh lagi ke sebelah belakang bangunan Kuil Lu-liang-pai. Dilihatnya sebatang kali kecil di belakang taman, kali yang lebar­nya empat meter lebih. Di seberang kali terdapat tanaman liar dan kali itu tidak dipasangi jembatan.

Dasar Siangkoan Li seorang anak yang ingin sekali mengetahui segalanya dan ia selalu merasa penasaran kalau belum ter­penuhi keinginannya, maka biarpun sungai itu terlalu lebar untuk ia lompati, ia segera mendapatkanakal. Ia tak pandai renang, melompati tak mungkin, akan tetapi ia ingin sekali menyeberang. Di­carinya sebatang bambu dan dengan ban­tuan bambu panjang ini yang ia pakai sebagai gala loncatan, sampai jugalah ia ,di seberang dengan kaki dan pakaian berlepotan lumpur.

Ia berjalan terus ke atas pegunungan kecil dan setelah tiba di puncak, tiba-tiba tubuhnya menginjak lubang yang ter­tutup rumput alang-alang. Tubuhnya terjeblos dan melayang ke bawah! Dia se­orang anak pemberani dan karena ketika terbanting di dasar lubang ia tidak mengalami cedera, juga tidak terlalu nyeri karena dasar lubang juga berlum­pur, ia tidak berteriak minta tolong. Malah di dalam gelap, ia meraba-raba dan terus berjalan maju ketika menda­patkan bahwa lubang itu mempunyai te­rowongan. Akhirnya setelah melalui te­rowongan yang berliku-liku, tibalah ia di ruangan bawah tanah dan melihat dua orang kakek di balik kerangkeng besi. Dua orang kakek yang bukan seperti manusia lagi. Mereka itu sudah tua dan pakaian mereka compang-camping penuh tambalan. Yang seorang berwajah seperti seekor harimau, rambutnya kasar riap-riapan, demikian pula cambang dan ku­misnya. Orang ke dua kurus sekali se­hingga kaki dan tangan yang tak ter­bungkus pakaian itu merupakan tulang­tulang terbungkus kulit belaka. Kepalanya botak, hanya bagian atas telinga dan atas tengkuk saja ditumbuhi rambut pan­jang. Akan tetapi jenggotnya, lebat dan panjang. Keduanya sama tua dan sama liar, dan perbedaan yang mencolok di antara mereka selain rambut itu, juga pada muka mereka. Si Wajah Harimau itu mukanya merah sekali sedangkan yang botak itu wajahnya pucat seputih tem­bok!

“Heh-heh, Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), kau bilanglah. Apakah kita se­karang sudah mampus dan berada di ne­raka berjumpa seorang iblis cilik?” Si Muka Merah berkata sambil terkekeh­-kekeh.

“Huh, sebelum lewat tujuh tahun lagi mana aku mau mati?” kata Si Muka Putih dengan nada dingin dan mengejek.

Melihat keadaan mereka dan men­dengar kata-kata itu, biarpun Siangkoan Li seorang anak yang pemberani, ia merasa serem juga. Akan tetapi di balik rasa takutnya terselip rasa kasihan me­lihat dua orang kakek dikurung macam binatang-binatang buas saja, maka ia memberanikan hati dan menghampiri kerangkeng. Setelah memandang penuh perhatian dan jelas bahwa dua orang itu benar-benar manusia yang sangat tua, ia lalu bertanya.

“Kakek berdua, siapakah dan mengapa dikerangkeng di sini?”

Dua orang- kakek itu saling pandang, yang muka merah tertawa ha-hah-he-heh sedangkan yang muka putih bersungut-sungut. “Kau bocah dari mana? Mengapa berani masuk ke sini? Apakah kau kacung Lu-liang-pai?” tanya yang muka putih.

Siangkoan Li terkejut. Suara itu se­akan-akan menyusup ke dalam dadanya dan membuat jantungnya berhenti ber­detik dan terasa dingin sekali sampai­-sampai ia menggigil dan mukanya pucat. Cepat ia menggeleng kepala.

“Bukan. Aku bernama Siangkoan Li dan bersama Ayahku berkunjung kepada para Losuhu di Lu-Lang-pai. Aku berjalan-jalan sampai ke sini dan terjeblos ke lubang.” Kemudian ia menceritakan siapa ayahnya dan bagaimana ia sampai ke tempat itu.

“Ayahmu Siangkoan Bu Ketua Thian-liong-pang? Ha-ha-ha!” Kakek muka me­rah itu tiba-tiba bergerak maju dan.... menyusup keluar dari kerangkeng! Juga kakek muka putih berjalan maju dan tubuhnya menyusup keluar dari kerangkeng dengan amat mudahnya, seakan-akan kerangkeng itu merupakan pintu lebar. Padahal besi-besi kerangkeng itu amat sempit. Seorang anak seperti Siang­koan Li saja tak mungkin dapat lolos keluar. Bagaimana dua orang kakek itu dapat meloloskan diri tanpa banyak su­sah?

Siangkoan Li adalah putera seorang pangcu (ketua) dan tentu saja sejak kecil ia sudah dilatih silat. Melihat keadaan ini, sungguhpun ia tidak mengerti dan terheran-heran, namun ia kini sudah tahu bahwa dua orang kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat! Maka serta-merta ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Harap suka memaafkan teecu yang berani bersikap kurang ajar. Kiranya Ji­wi Locianpwe adalah orang-orang sakti. Teecu masuk tidak sengaja, mohon maaf!”

Si Muka Merah tertawa tergelak. “Ha-ha-ha! Apa artinya Ilmu Sia-kut-hoat (Ilmu Lepas Tulang Lemaskan Tubuh) seperti itu? Kau putera Siangkoan Bu? Bagus! Eh, bocah, maukah engkau menjadi murid kami?”

Siangkoan Li kaget, dan juga girang sekali. Sudah seringkali ia mendengar dari ayahnya tentang orang-orang sakti di dunia persilatan dan seringkali mimpi betapa akan senangnya kalau dapat men­jadi murid orang-orang sakti. Kini tanpa disengaja ia berhadapan dengan dua orang sakti yang ingin mengangkatnya menjadi murid! Ia menjadi girang sekali dan tentu ayahnya juga akan girang ka­lau mendengar akan hal ini. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengangguk-anggukkan kepala, “Teecu akan merasa girang dan bahagia sekali, Ji-wi Suhu (Guru Ber­dua)!”

“Ang-bin Siauwte ( Adik Muka Me­rah), mudah saja engkau menetapkan dia sebagai murid kita, bagaimana kalau kelak ternyata salah pilih?” tegur Si Muka Putih.

“Heh-heh-heh! Dia ini keturunan se­orang patriot dan ketua perkumpulan besar. Mana bisa salah pilih? Kalau kelak ternyata dia menyeleweng, apa susahnya kita mengambil nyawanya? Eh, Siangkoan Li, kau sendiri sudah menetapkan men­jadi murid kami. Seorang murid tak bo­leh membantah perintah guru. Mulai detik ini, kau tinggal di sini menemani kami sambil belajar!”

Siangkoan Li terkejut sekali. “Tapi.... tapi.... teecu belum memberitahukan hal ini kepada Ayah....!” bantahnya dengan muka pucat.

Si Muka Putih mengeluarkan suara mendengus di hidungnya. Si Muka Merah tersenyum lebar. “Hah, boleh kaucoba pergi dari sini. Sebelum keluar dari lu­bang, nyawamu akan lebih dulu mela­yang!”

Siangkoan Li takut sekali akan tetapi akhirnya ia mengambil keputusan untuk mati hidup mentaati kedua orang gurunya. Mulai saat itu dia digembleng oleh kedua orang gurunya yang aneh. Setiap hari dari lubang itu turun makanan yang ter­nyata dikirim oleh hwesio-hwesio Lu-liang-pai.

“Demikianlah, Kwi Lan. Sampai empat tahun aku dilatih ilmu oleh kedua orang Guruku itu.” Siangkoan Li melanjutkan penuturannya kepada Kwi Lan yang men­dengarkan dengan muka amat tertarik. “Selama itu belum pernah kedua orang, suhu itu memberitahukan nama mereka. Dan ketika aku diperkenankan keluar, yaitu dua tahun yang lalu, aku segera pulang ke Yen-an akan tetapi ternyata Ayah telah meninggal dunia dan Thian-liong-pang telah dipegang oleh Gwakong. Karena aku tidak mempunyai ayah ibu lagi, Gwakong menjadi pengganti orang tuaku dan aku harus tunduk dan berbakti kepadanya, juga kepada Thian-liong-pang di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Bagaimana aku dapat mengkhianati Thian-liong-pang dan bagaimana aku berani melawan Gwakong?”

Kini Kwi Lan mulai mengerti akan keadaan hati Siangkoan Li. Ia menjadi kasihan dan berkata, “Memang sudah paling tepat kalau engkau menemui ke­dua orang Gurumu itu untuk minta per­timbangan dan nasihat mereka. Aku be­rani bertaruh bahwa mereka tentu lebih cocok dengan pendapatku, yakni bahwa kau harus mengumpulkan orang-orang gagah yang telah mengundurkan diri dari Thian-liong-pang, kemudian melakukan pembersihan di perkumpulan itu dan mendirikan kembali Thian-liong-pang yang sudah runtuh nama baiknya itu, Cap-ji-liong harus dibasmi. Kakekmu harus diinsyafkan. Dan selain itu, aku ingin sekali bertemu dengan kedua orang aneh yang menjadi gurumu. Maka aku akan ikut denganmu, Siankoan Li.”

“Eh, jangan....! Berbahaya sekali....!”

Kwi Lan mencibirkan bibirnya. “Ber­bahaya? Kalau kau bisa, kenapa aku tidak mampu? Kita boleh lihat saja!”

“Bukan, bukan itu maksudku. Kepan­daianmu hebat, tentu saja kau dapat sampai ke tempat itu tanpa diketahui para hwesio Lu-liang-pai. Akan tetapi.... kedua orang Guruku itu wataknya aneh sekali. Siapa tahu mereka akan marah kalau melihatmu.”

“Betapa pun anehnya mereka, belum tentu seaneh Guruku. Dan aku tidak takut. Kalau mereka itu begitu gila un­tuk marah-marah kepadaku tanpa sebab, biarkan mereka marah, aku tidak