Senin, 04 Februari 2013

CINTA BERNODA DARAH 2


KHO PING HOO
Home
Kreasi Informasi
Blogger Template
Tempat Download
Google Search
Serial Bukek Siansu
  
Serial Bukek Siansu.1
Suling Emas
  
Serial Bukek Siansu.2
Cinta Bernoda Darah
  
Serial Bukek Siansu.3
Mutiara Hitam
  
Serial Bukek Siansu.4
Istana Pulau Es
  
Serial Bukek Siansu.5
Pendekar Bongkok
  
Serial Bukek Siansu.6
Pendekar Super Sakti
  
Serial Bukek Siansu.7
Sepasang Pedang Iblis
  
Serial Bukek Siansu.8
Kisah Sepasang Rajawali
  
Serial Bukek Siansu.9
Jodoh Rajawali
  
Serial Bukek Siansu.10
Suling Emas Naga Siluman
  
Serial Bukek Siansu.11
Kisah Para Pendekar Pulau Es
  
Serial Bukek Siansu.12
Suling Naga
  
Serial Bukek Siansu.13
Kisah Sibangau Putih
  
Serial Bukek Siansu.15
Kisah Sibangau Merah
  
Serial Bukek Siansu.16
Si Tangan Sakti
  
Serial Bukek Siansu.17
Pusaka Pulau Es
  
Serial Bukek Siansu.17
My Blog List
Selamat datang para penggemar cerita silat "" Kho Ping Hoo "" nikmati cerita yang ada di blog kami tetapi ingat jangan lupa Tugas karena ke asyikan baca cerita tersebut , jangan lupa berikan komentar anda di blog ini
Tampilkan posting dengan label Cinta bernoda darah 2. Tampilkan semua posting
kamis, 28 agustus 2008
Cinta Bernoda Darah
“Belum tentu.... belum tentu....!” Suma Boan menggeleng kepalanya, “dia lihai sekali. Heran aku, siapakah dua orang bocah tadi? Apakah kaki tangan orang Khitan?”

Sambil bersunggut-sunggut dan me­nyumpah-nyumpah Suma Boan melompat turun diikuti oleh si jenggot panjang, Ciok Kam, masuk ke dalam gedung. Se­bentar saja para pelayan menyambutnya, keadaan menjadi ribut karena orang-orang mendengar tentang penyerbuan musuh di atas genteng. Akan tetapi, Suma Boan membentak, “Tidak ada apa-apa, mundur semua!” Pelayan-pelayan itu, kecuali selirnya yang melayani minum, mundur ketakutan, kembali ke tempat masing-masing.

Suami isteri bersama Bu Sin dan Sian Eng yang bersembunyi melihat semua itu. Bu Sin dan adiknya amat bingung me­mikirkan Lin Lin, akan tetapi laki-laki itu berkata.

“Adikmu tidak berada di dalam ge­dung. Tadi kami melihat dia dibawa lari Seng-jin. Lebih baik kalian lekas pergi dari sini, amat berbahaya di sini. Kami berterima kasih bahwa kalian sudah me­naruh perhatian akan urusan kami. Biar­pun kalian anak-anak keluarga Kam, tidak percuma kalian menjadi orang-orang dari wilayah Hou-han. Nah, kita berpisah di sini.”

“Nanti dulu....!” Bu Sin mencegah. “Siapakah Seng-jin yang membawa adik kami? Dan siapa kalian ini? Urusan apakah yang menimbulkan semua keributan ini?”

Wanita itu yang menjawab kini, ter­senyum duka, “Dituturkan tidak ada guna­nya, juga tidak ada waktu. Kau takkan mengerti, orang muda. Tentang adikmu, dia tadi dibawa Kim-lun Seng-jin, se­orang sakti yang aneh. Percuma kau mencarinya, tak mungkin mengikuti je­jak seorang seperti Kim-lun Seng-jin. Tentang kami.... hemmm, cukup kauketahui bahwa kami adalah orang-orang Hou-han dan bekerja untuk Kerajaan Hou-han. Selamat tinggal, jangan lama-lama berada di sini, pergi cepat. Ber­bahaya!”

Setelah berkata demikian, suami isteri itu berkelebat dan menghilang di dalam gelap. Bu Sin dan Sian Eng saling pan­dang, mereka bingung sekali memikirkan tentang diri Lin Lin. Akan tetapi mere­ka pun tahu bahwa kepandaian mereka masih jauh daripada cukup untuk dapat mencari Lin Lin yang katanya dibawa lari Kim-lun Seng-jin. Sedangkan meng­hadapi si jenggot panjang dan orang muda jangkung di dalam gedung ini saja sudah terlalu berat bagi mereka, apalagi It-gan Kai-ong ada di situ! Tidak ada jalan lain bagi Bu Sin dan adiknya kecuali segera menyelinap pergi dari tempat itu, lari keluar menyelinap-nyelinap di dalam kegelapan malam.

Dengan hati pepat dan gelisah mereka kembali ke kamar rumah penginapan dan alangkah heran akan tetapi juga lega hati mereka ketika mereka melihat tulis­an Lin Lin di atas meja, tulisan dalam sebuah kertas berlipat yang singkat saja.

Sin-ko dan Eng-cici,

Terpaksa aku pergi dulu berpisah de­ngan kalian. Kakek gundul yang me­nolongku memaksa aku ikut dia sendiri saja. Akan tetapi dia baik dan bilang bahwa dia dapat membawaku ke tem­pat pembunuh orang tua kita.

Sampai jumpa pula,

Lin Lin

Bu Sin menarik napas panjang, lega hatinya. Tentu yang dimaksudkan di da­lam surat, yang disebut oleh Lin Lin “kakek gundul” itu adalah Kim-lun Seng-jin yang tadi diceritakan oleh suami isteri dari Hou-han. Ia tersenyum geli. Kakek gundul yang bernama Kim-lun Seng-jin boleh saja disebut aneh, akan tetapi kakek itu akan “ketemu batunya” kalau melakukan perjalanan bersama Lin Lin. Adik angkatnya ini kadang-kadang mempunyai perangai yang luar biasa sekali, sukar dikendalikan, aneh dan ten­tu kakek gundul itu akan menjadi banyak pusing olehnya.

“Dia diberi petunjuk orang sakti akan jejak musuh besar kita, baik sekali. Mu­dah-mudahan dia berhasil dan selamat,” katanya sambil merobek-robek surat itu.

“Kita sendiri bagaimana, Sin-ko? Ke mana kita harus mencari atau mengikuti Lin Lin?”

“Dia sendiri saja kalau sudah minggat mana kita mampu mengejarnya, apalagi sekarang bersama seorang sakti. Kita tidak perlu mencarinya, kita melanjutkan perjalanan ke kota raja. Agaknya akan lebih baik kalau kita mencari Kakak Bu Song lebih dulu, karena sebagai seorang yang lama tinggal di kota raja, tentu dia mempunyai banyak pengalaman dan akan dapat memberi petunjuk kepada kita.”

Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bu Sin dan Sian Eng sudah meninggalkan kota An-sui, menuju ke kota raja.

***

Apakah yang terjadi dengan Lin Lin? Gadis remaja ini mengalami hal yang amat luar biasa. Seperti kita ketahui, ketika Bu Sin dan Sian Eng mengintai ke dalam ruangan gedung itu dengan cara menggantungkan kaki dengan kepala di bawah, Lin Lin berjongkok di atas genteng sambil melihat kedua saudaranya itu. Kaget ia ketika melihat Bu Sin dan Sian Eng berloncatan ke atas kemudian kedua orang itu roboh ke bawah genteng.

Akan tetapi, selagi ia kebingungan dan khawatir, tiba-tiba serangkum angin pu­kulan yang dilontarkan oleh It-gan Kai-ong menyerangnya, membuat dia terlempar dan tentu ia pun akan terguling roboh ke bawah kalau saja tidak terjadi hal yang amat aneh. Ia tidak tahu meng­apa dan bagaimana, akan tetapi tubuhnya yang sudah terjengkang itu tiba-tiba dapat terapung ke atas, lalu tubuhnya itu seperti dibawa angin terbang melalui genteng, cepat bukan main. Tentu saja ia takut sekali dan berusaha memulihkan keseimbangan tubuhnya agar kalau jatuh ke bawah tidak terbanting, namun ia sama sekali tak dapat menggerakkan kaki tangannya dan ia “terbang” dengan tubuh telentang. Kalau ia tidak mengalami sendiri, tentu ia tidak akan mau percaya bahkan pada saat itu ia mengira bahwa ia sedang mimpi.

Entah berapa lama ia berada dalam keadaan melayang ini, namun ia merasa bahwa ia diterbangkan tubuhnya dan ketika kedua kakinya menginjak tanah, ia telah berada di luar kota An-sui!

“Heh-heh-heh, untung kau tidak men­jadi korban It-gan Kai-ong,” terdengar suara terkekeh bicara.

Lin Lin membalikkan tubuh, ke kanan kiri, memutar tubuh melihat ke sekeliling­nya. Akan tetapi tidak tampak seorang pun manusia. Bulu tengkuknya mulai berdiri dan kedua lututnya gemetar. Ia seorang gadis yang tabah dan menghadapi siapa pun juga ia takkan mundur, takkan mengenal takut. Namun kejadian kali ini membuat ia yakin bahwa ia sedang di­ganggu iblis dan dongeng-dongeng ten­tang iblis yang pernah ia dengar mem­buat ia ketakutan.

“Siapa kau?”

“Siapa aku? Aku siapa? Heh-heh, aku sendiri tidak kenal siapa aku ini dan dari mana asalku, apalagi kau bocah ingusan. Heh-heh-heh! Aku dan kau sama saja!”

Suara itu tepat di belakangnya, maka secepat kilat Lin Lin memutar tubuh dengan gerakan Hek-yan-tiauw-wi (Burung Walet Sabet Buntut), gerakannya cepat bukan main dan ia sengaja mengerahkan gin-kangnya. Akan tetapi, kembali ia hanya melihat tempat kosong, tidak ada bayangan, apalagi orangnya!

Suara itu masih terkekeh-kekeh, “Heh-heh-heh, siapa aku? Siapa aku? Hayo cari dan tebak, di mana dan siapa aku, heh-heh-heh!” Suara itu tertawa-tawa geli seperti seorang kanak-kanak bermain kucing-kucingan.

Panas juga dada Lin Lin. Ia yakin sekarang bahwa yang bicara itu tentu seorang manusia biasa, biarpun seorang manusia yang memiliki kepandaian yang luar biasa. Masa aku tidak dapat men­carimu? Demikian pikirnya dengan gemas. Cepat ia melompat lagi, berputaran dan mengeluarkan kepandaiannya untuk membalik sana berputar sini, lari berputaran seperti kitiran cepatnya. Namun tak pernah ia dapat melihat bayangan di sekeliling dirinya, padahal suara itu terus-menerus berbunyi, tertawa-tawa di bela­kang, kanan dan kirinya!

“Heh-heh-heh! Kau seperti seekor an­jing hendak menggigit buntut sendiri berputaran. Heh-heh.... lucu.... lucu.... lagi, Nona. Sekali lagi, lucu benar....!”

Tentu saja Lin Lin tidak sudi ber­putar lagi, malah ia cepat berhenti dan membanting kakinya. Hampir ia menangis. “Kau ini setan apa manusia? Kalau ma­nusia perlihatkan dirimu. Kalau setan minggat dari sini, aku tidak butub setan!” bentaknya sambil bertolak pinggang.

“Heh-heh, lebih baik jadi setan, biarpun selalu melakukan kejahatan akan tetapi memang itu kewajibannya, kalau tidak melakukan yang jahat-jahat mana disebut setan? Setidaknya setan meng­akui kejahatannya, sebaliknya manusia banyak yang pura-pura suci dan bersih, padahal lebih jahat dan kotor daripada setan sendiri. Heh-heh, Nona, aku di be­lakangmu, masa kau tidak dapat melihat?” Lin Lin membalikkan tubuhnya dan.... tidak melihat apa-apa.

“Kau main kucing-kucingan? Aku tidak sudi main-main denganmu.”

“Lho, aku di sini, lihat baik-baik.”

Lin Lin menurunkan pandang matanya dan benar saja. Di depannya berdiri seorang kakek yang.... tubuhnya pendek, hanya setinggi dadanya dan karena kakek itu tadi jongkok tentu saja tidak kelihatan. Sekarang kakek ini ber­diri, kedua kakinya yang pendek itu tidak bersepatu, lucu sekali tampaknya. Badan­nya agak gemuk, kepalanya bundar seperti bola karet, licin tidak berambut se­helai pun juga. Tapi alisnya tebal sekali, dan rambut alisnya itu berdiri menjulang ke atas. Kumis dan jenggotnya panjang melambai sampai ke dada. Kedua daun telinganya lebar seperti telinga area Ji-lai-hud dihiasi sepasang anting-anting perak. Melihat orang seperti itu anehnya, Lin Lin tak dapat menahan ketawanya.

“Hi-hi-hik, kau ini golongan apa? Apakah pemain wayang?” Lin Lin tertawa dan menutupi mulutnya.

“Memang dunia ini panggung wayang dan kita anak wayangnya. Bagaimana la­konnya dan apa peran apa yang harus kita pegang terserah Sang Sutradara. Heh-heh-heh, dan agaknya Sang Sutradara menghendaki supaya aku menjalankan peran menolong kau dari ancaman It-gan Kai-ong si pengemis busuk.”

“Kakek pendek, bagaimana kau tadi bisa membawa aku terbang? Dan bagai­mana kau tadi bisa menghilang? Aku sudah belajar ilmu gin-kang bertahun-tahun akan tetapi belum ada sekuku hitam dibandingkan dengan gerakanmu. Apakah kau tadi menggunakan ilmu sihir?”

“Heh-heh, bocah nakal seperti kau ini, baru belajar jalan sudah berani mendaki gunung menyeberangi lautan! Aku tang­gung, dengan kepandaianmu yang baru kelas nol itu, kau akan selalu bertemu bahaya dan akhirnya kau akan roboh! Gerakanmu masih begitu kaku dan lam­bat, kau namakan itu ilmu gin-kang? Ho-heh-hoh, lucu amat!”

Panas perut Lin Lin, bibirnya cemberut, matanya bersinar marah. Akan tetapi kakek itu malah tertawa-tawa, memegangi perut dan berjingkrakan seperti tak dapat menahan lagi kegelian hatinya. “Dan pedang itu.... heh-heh-heh, bawa-bawa pedang macam itu untuk apa? Apakah untuk mengiris bawang ataukah untuk menyembelih ayam? Heh-heh, untuk itupun kurang tajam, baiknya untuk menakut-nakuti tikus. Heh-heh, kau takut tikus, kan?”

Lin Lin membanting kakinya. “Kakek pendek, cebol, gundul pacul! Sudah tua ompong masih sombong....!”

Kakek itu tiba-tiba meringis, mem­perlihatkan isi mulutnya. Hebat giginya berderet rapi seperti gigi Lin Lin sendiri. “Kaulihat, siapa ompong? Gigiku tidak kalah dengan gigimu? Hayo kau meringis, kita lihat gigi siapa lebih putih, lebih mengkilap!”

Geli juga hati Lin Lin. Memang gadis inipun wataknya aneh, mudah marah, mudah gembira. Mudah menangis mudah tertawa. Melihat betapa kakek itu meringis memamerkan giginya, mau tidak mau ia tertawa juga. “Ihhh, jijik ah! Gigimu kuning-kuning begitu!”

Kakek itu kelabakan. “Masa? Ah, mana bisa? Sedikitnya dua kali sehari kugosok dengan bata. Kau bohong....!”

Tampak oleh Lin Lin kakek itu mengulur tangan kepadanya. Ia cepat melangkah mundur, akan tetapi tahu-tahu gelung rambutnya sebelah kiri yang terbungkus sutera itu terlepas karena tusuk kondenya dari perak telah berada di tangan kakek itu. Untuk apa kakek itu merampas tusuk kondenya? Untuk ber­cermin! Bunga perak pada tusuk konde itu sebesar kuku jari dan kakek itu ber­usaha untuk bercermin memeriksa giginya dari pantulan sinar bintang yang me­nimpa bunga perak. Tentu saja hasilnya sia-sia.

Diam-diam Lin Lin terkejut bukan main. Bagaimana kakek itu dapat me­rampas tusuk kondenya sedemikian cepat­nya sehingga sama sekali tidak terasa olehnya? Terang bahwa kakek ini me­miliki kesaktian yang hebat. Kalau saja mau menurunkan kepandaian itu kepada­nya!

“Kek, mengapa kau menolong aku dari tangan It-gan Kai-ong? Mau apa kau membawa aku ke sini?” akhirnya dia ber­tanya.

Kakek itu mengomel, “Gigiku putih.... tidak kuning....!”

“Mengapa kau menolong aku?”

“Siapa bilang gigiku kuning, memalu­kan!” Kakek itu bersungut-sungut.

Lin Lin hendak marah, akan tetapi melihat sikap kakek itu seperti seorang anak kecil merajuk, ia tertawa lagi. “Memang gigimu putih, siapa bilang kuning?”

“Kau tadi yang bilang!”

“Dan kau percaya? Ih, bodohmu sen­diri mengapa percaya. Gigimu putih seperti.... seperti kapur.”

Kakek itu nampak girang. Kapur me­mang putih sekali, maka ia girang men­dengar ucapan ini. Tangannya bergerak dan sinar putih berkelebat menyambar ke arah kepala Lin Lin. Gadis ini tak sem­pat mengelak, ketika ia meraba gelung­nya, tusuk konde itu sudah berada di tempatnya lagi dan ia sama sekali tidak merasakannya! Makin kagum hatinya.

“Kek, kenapa kau menolongku dan mau apa kau membawa aku ke sini?”

“Karena kau cantik, seperti anakku dahulu.”

Rasa haru sejenak menyelinap di hati Lin Lin. “Di mana anakmu, Kek?”

“Di mana? Di.... mana, ya? Sang Sutradara sudah lama membebaskannya daripada tugas di panggung wayang. Dia tidak MAIN lagi.”

Makin terharu hati Lin Lin. “Anakmu sudah mati?”

Kakek itu tidak menjawab, melainkan tertawa lagi. “Kau gadis bangsaku heh-heh, tak salah lagi, karena itu aku suka kepadamu, aku menolongmu dan kalau kau mau, biar kuberi bekal padamu agar kelak tidak ada orang berani menghina­mu.”

“Aku bangsamu? Bangsa apa Kek?”

“Lihat hidungmu, coba kan sama dengan hidungku? Juga gigimu, sama dengan gigiku. Kau bangsa Khitan, tidak salah lagi.”

Otomatis, terpengaruh oleh ucapan itu, Lin Lin memandang ujung hidungnya. Tentu saja, biarpun kedua matanya sam­pai juling ke tengah semua, tetap saja ia tidak berhasil memandang hidungnya sendiri. Apalagi memandang giginya! Betapapun juga, ucapan ini menusuk pe­rasaannya, membuat jantungnya berdebar tegang. Dia terang bukan anak keluarga Kam karena ia hanya anak pungut. Ayahnya atau siapa pun juga tidak pernah memberi tahu kepadanya, siapa gerangan ayah ibunya yang sejati. Karena ini pula ia amat ingin bertemu dengan Bu Song, anak sulung ayah angkatnya itu karena ia menduga bahwa Bu Song tentu tahu akan hal dirinya. Sekarang mendengar kakek ini menyatakan bahwa dia bangsa Khitan, biarpun ia tidak bisa percaya dan tidak percaya, hatinya berdebar juga. Akan tetapi, yang paling menggirangkan hati­nya adalah pernyataan kakek itu hendak memberinya bekal kepandaian.

“Kau betul-betul hendak mengajarku ilmu kepandaian, Kek? Wah, terima kasih sebelumnya. Aku amat membutuhkan itu, untuk mengalahkan musuh besarku.”

“Heh-heh, tiada musuh besar di dunia ini yang lebih besar daripada nafsu sendiri. Siapa musuh besarmu?”

“Sayang, aku sendiri tidak tahu Kek,” Lin Lin menggeleng kepalanya. “Ayah angkat dan sekeluarganya dibunuh orang yang tidak dikenal. Ibu angkatku hanya meninggalkan ucapan terakhir bahwa musuh besar itu bersuling.”

Tiba-tiba kakek itu melompat tinggi sekali, lenyap dari depan Lin Lin. Ketika Lin Lin mendongak dan hendak memang­gil, tubuh pendek itu melayang turun dari atas dan sudah berdiri di depannya lagi. “Suling Emas? Suling Emas mem­bunuh orang tuamu? Siapa orang tuamu?”

“Orang tua angkat, Kek. Ayah angkatku namanya Kam Si Ek....”

“Ha-ha-ha-ha, Kam Si Ek Jenderal Hou-han?”

“Kau kenal Ayah angkatku, Kek?”

Kakek itu menggeleng kepalanya. Alisnya yang amat tebal itu berkerut dan bergerak-gerak. Bibirnya juga bergerak-gerak, lalu terdengar kata-katanya. “Aneh tapi nyata. Mungkin sekali Suling Emas....”

Jantung Lin Lin berdegupan. “Apa? Musuh besarku betul Suling Emas itu, Kek? Kau tahu di mana dia? Kalau betul dia, akan kuajak bertanding mengadu nyawa.”

Seketika kakek itu memandang ke­padanya seperti terkejut, kemudian ia tertawa terkekeh-kekeh sambil memegangi perutnya, terbungkuk-bungkuk saking kerasnya ia tertawa. Lin Lin marah. “Apa yang lucu? Jangan mentertawai aku, Kek. Tak enak melihat kau tertawa, gigimu kuning....!”

Seketika kakek itu berhenti tertawa. “Apa kau bilang? Gigiku putih seperti.... seperti....”

“.... seperti kapur!” kata Lin Lin tersenyum. “Nah, jangan tertawa saja, apa sih yang lucu?”

“Kau hendak bertanding dengan Suling Emas? Aha, biar kauperas dan kuras habis kepandaianmu, belum tentu kau bisa menang.”

“Tidak peduli. Aku akan menemuinya. Bawa aku kepadanya, Kek, dan kau tentu suka membantuku kalau aku kalah. Kan hidung dan gigi kita sama, bukan?”

“Betul, betul! Kita sebangsa, sesuku, aku akan bantu aku. Awas dia kalau berani ganggu kau!”

Senang hati Lin Lin. Ia berhutang budi kepada keluarga Kam, den jalan satu-satunya untuk membalas budi, hanya­lah membalasken dendam kduarga itu.

“Tapi aku tidak bisa meninggalkan kedua kakakku begitu saja, Kek. Mereka tentu akan gelisah dan mencariku ke mana-mana.”

“Kalau Jenderal Kam ayah angkatmu, mereka tentu saudara-saudara angkat pula, bukan? Kenapa repot-repot?”

“Ih, jangan gitu, Kek. Biarpun saudara angkat mereka itu baik sekali kepadaku, seperti kepada adik kandung sendiri.”

“Baiklah, mari kau bonceng di punggungku, kita meninggalkan pesan di ka­mar mereka.”

Lin Lin maklum bahwa kakek itu adalah seorang yang sakti, aneh, dan sikapnya masih kekanak-kanakan. Tanpa ragu-ragu dan sungkan-sungkan lagi ia lalu melompat ke punggung kakek itu dan di saat berikutnya ia harus meme­gang pundak kakek itu kuat-kuat karena tubuhnya segera melayang seperti ter­bang cepatnya!

Setelah menulis sepucuk surat untuk Bu Sin dan Sian Eng, Lin Lin lalu pergi keluar kota An-sui bersama kakek itu.

Mereka kini berjalan dan bercakap-cakap. Lin Lin disuruh mengerahkan kepandaiannya, akan tetapi ia melihat betapa kakek pendek itu berjalan seenaknya saja di sebelahnya akan tetapi tak pernah ter­tinggal.

“Kalau merayap seperti keong begini, kapan bisa sampai di sana?” Kakek itu bersungut-sungut.

“Kau maksudkan sampai di tempat Suling Emas, Kek?”

“Di mana lagi? Bukankah kita men­cari dia? Tapi kau harus belajar ilmu pukulan lebih dulu untuk menghadapinya. Mari!” Kakek itu menyambar tangan Lin Lin dan tiba-tiba Lin Lin merasa betapa larinya menjadi cepat bukan main, dua kali lebih cepat daripada biasanya.

Menjelang pagi mereka berhenti di sebelah hutan yang kecil tapi amat in­dah. Bermacam bunga memenuhi hutan. Musim semi kali ini benar-benar telah merata sampai di hutan-hutan dan mem­biarkan seribu satu macam bunga ber­kembang amat indahnya.

“Heh-heh, bagus di sini. Kita main-main di sini!” Kakek itu cepat sekali memilin akar-akar pohon menjadi tambang dan beberapa menit kemudian ia sudah berayun-ayun, duduk di atas sepotong kayu yang diikat dan digantung oleh dua helai tambang pada cabang pohon. Per­sis seperti anak kecil main ayun-ayunan.

Melihat kakek itu main ayunan sambil tertawa-tawa gembira, Lin Lin menegur, “Kek, katanya hendak mengajar ilmu kepadaku?”

“Aku sedang mengajarmu sekarang. Kaulihat baik-baik!”

Lin Lin mengerutkan alisnya. Celaka sekali, kakek ini main-main selalu. Masa ia akan diajari main ayunan? Kalau saja ia tidak menyaksikan dan membuktikan sendiri betapa kakek itu dapat lari se­perti terbang, memiliki gerakan tangan yang luar biasa cepatnya ketika memin­jam tusuk kondenya, tentu ia tidak per­caya bahwa kakek ini seorang sakti. Jangan-jangan kakek ini hanya mempu­nyai kepandaian lari cepat saja, dan hendak mempermainkannya? Betulkah dia orang sakti? Kenapa begini? Tidak bersepatu, pakai anting-anting seperti pe­rempuan, dan wataknya seperti anak kecil.

“Kek, kau ini sebenarnya siapakah? Namamu saja aku belum tahu.”

“Heh-heh, aku pun belum tahu nama­mu. Apa sih artinya nama? Waktu lahir kita tidak membawa nama, kan?”

Lin Lin tidak mau pedulikan lagi fil­safat yang aneh-aneh dari kakek itu. “Kek, namaku Lin, sheku tentu saja....” Lin Lin hendak mengatakan “Kam”, akan tetapi kakek itu sudah mendahuluinya.

“.... tidak ada karena kau bukan she Kam. Aku siapa, ya? Orang-orang me­nyebutku Kim-lun Seng-jin. Gagah nama­ku, ya? Heh-heh, Kim-lun adalah roda emas. Nah, ini dia.” Ketika tangannya bergerak dan tahu-tahu ia telah menge­luarkan sepasang gelang emas. Disebut gelang bukan gelang, karena tengahnya dipasangi ruji-ruji seperti roda. Garis tengahnya satu kaki. Agaknya sepasang roda emas ini tadi disembunyikan di balik baju. Seperti ketika mengeluarkan tadi, sekali bergerak roda itu sudah le­nyap lagi. Begitu cepatnya seperti sulapan saja.

“Namaku Roda Emas, memang hidup ini berputaran seperti roda. Cocok sekali, kan? Heh, A-lin, apakah kau sudah mem­perhatikan pelajaran ini?”

Lin Lin terkejut, juga geli mendengar ia dipanggil “A-lin”. Ketika mengeluarkan sepasang roda atau gelang tadi, amat cepat. Akan tetapi apakah benda-benda itu mcrupakan senjata? Andaikata dijadi­kan senjata, tadi pun tidak dimainkan. Kakek itu tiada hentinya berayun, bagai­mana bisa bilang memberi pelajaran?

“Pelajaran yang mana, Kek?”

“Hehhh! Hidung dan gigimu bagus, seratus prosen Khitan, tapi otakmu sudah ditulari kebodohan orang kota! Lihat baik-baik!”

Lin Lin melihat baik-baik. Baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu bukanlah berayun sembarang berayun. Tubuhnya sama sekali tidak tampak bergerak, kakinya tidak dipakai mengayun, akan tetapi tambang itu terus berayun seperti ada yang mendorohg. Anehnya, kadang-kadang ayunan itu ter­henti di tengah jalan, baik sedang terayun ke belakang maupun sedang ter­ayun ke depan. Dengan duduk di ayunan mampu menghentikan gerakan ayunan, inilah hebat, seperti main sulap saja.

“Nah, kau sudah lihat sekarang? Untuk dapat berayun begini, kau harus memiliki Ilmu Khong-in-ban-kin (Awan Kosong Selaksa Kati). Biarpun kosong, namun mengandung tenaga laksaan kati biarpun berat dan kuat, namun kosong. Inti pe­lajaran ini kelak dapat membuat tubuh­mu menjadi ringan atau berat menurut sesukamu, dan lari terbang bukan men­jadi lamunan kosong lagi.”

Mulailah Lin Lin menerima gembleng­an dari kakek aneh itu. Kim-lun Seng-jin adalah seorang sakti yang jarang muncul di dunia kang-ouw, selalu ber­sembunyi dan tidak suka mencari per­kara. Orangnya aneh, selalu bergerak sendiri tidak mau terikat oleh perkum­pulan atau oleh negara. Munculnya tiba-tiba, akan tetapi selalu meninggalkan kesan mendalam pada para tokoh kang-ouw dan biarpun tidak ada orang yang dapat menduga sampai berapa dalamnya ilmu kakek ini karena ia tidak pernah mau melibatkan diri dalam pertandingan dan permusuhan, namun mereka itu yakin bahwa kakek ini tak boleh dibuat main-main. Bahkan Thian-te-liok-koai, Si Enam Jahat atau Enam Setan Dunia sendiri tidak berani main-main terhadap Kim-lun Seng-jin.

Pada masa itu, dunia kang-ouw hanya mengenal Thian-te-liok-koai dan para ketua partai persilatan besar sebagai tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian. Akhir-akhir ini muncul Suling Emas se­bagai tokoh sakti yang termuda. Namun diri Suling Emas ini diliputi penuh rahasia dan jarang sekali Suling Emas keluar memperlihatkan diri. Keadaannya penuh rahasia, dan ia boleh dijajarkan dengan orang-orang aneh lain, yaitu Kim-lun Seng-jin, Bu Kek Siansu, dan seorang aneh lain yang hanya dikenal dengan sebutan Empek Gan! Tentu saja Bu Kek Siansu berada di tingkat paling tinggi, bukan hanya karena usianya, namun juga kerena belum pernah terdengar ada tokoh yang melebihi kesaktiannya daripada kakek ini.

Lin Lin boleh dianggap beruntung dapat menarik hati Kim-lun Seng-jin karena kakek sakti yang aneh ini selama­nya tak pernah mau menerinna murid. Dengan amat tekun gadis ini menerima latihan ilmu meringankan tubuh yang hebat, yaitu Khong-in-ban-kin yang se­kaligus merupakan lwee-kang yang luar biasa. Di samping ini, juga kakek aneh itu menurunkan ilmu silat yang disebut Khong-in-liu-san (Awan Kosong Mengurung Gunung). Kim-lun Seng-jin agaknya takut bertemu orang, ia membawa Lin Lin merantau ke gunung-gunung dan hutan-hutan, kadang-kadang mereka berlatih di pinggir sungai yang amat sunyi. Aneh dua orang ini, seorang gadis remaja se­orang lagi kakek tua, tiap hari mereka cekcok, tapi Lin Lin selalu membuat kakek itu mengalah karena gadis inilah yang dapat menyenangkan hatinya dengan wataknya yang lincah serta terutama sekali dapat menyenangkan perutnya dengan masak-masakan yang lezat. Lin Lin pandai sekali mengambil hati kakek itu dengan panggang daging binatang hu­tan yang lezat. Dari kakek ini ia menge­nal pula banyak tokoh sakti dalam dunia persilatan.

Ternyata Kim-lun Seng-jin amat luas pengetahuannya dalam dunia kang-ouw. Ia mengenal semua tokoh, malah ia me­ngenal pula ayah Li Lin. Beberapa kali Lin Lin bertanya tentang ayahnya, dan baru pada saat Lin Lin memanggang daging kelinci yang amat gurih baunya, kakek itu memenuhi jawaban pertanyaan ini.

“Kam-goanswe? Heh, Ayah angkatmu itu seorang yang keras hati, seorang perajurit sejati yang jujur dan setia. Ke­jujuran dan kesetiaannya ditambah ke­kerasan hatinya itulah yang mombuat ia dipandang orang, kepandaiannya sih tidak ada artinya. Akan tetapi ia pernah meng­gemparkan dunia kang-ouw ketika ia da­hulu berhasil mencuri hati Liu Lu Sian, seorang gadis sakti yang berjuluk Tok-siauw-kwi (Setan Cantik Beracun).”

“Lalu bagaimana, Kek?” tanya Lin Lin, dapat menduga bahwa Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian ini tentulah ibu Bu Song yang oleh Kui Lan Nikouw disebut wa­nita dari golongan hitam yang telah ber­cerai dari ayah angkatnya.

“Entah bagaimana selanjutnya aku tidak dengar lagi. Akan tetapi perkawin­an mereka menggemparkan. Setan cantik itu adalah anak seorang Kepala Agama Beng-kauw yang amat sakti, seorang berpengaruh besar sekali dan masih ada hubungan keluarga dengan raja-raja di Nan-cao (Yu-nan Barat). Liu Gan, se­orang sakti ini, tidak setuju puterinya menikah dengan Ayah angkatmu, akan tetapi kerena Liu Lu Sian amat keras hati dan nekat, orang tua itupun tak dapat berbuat apa-apa. Akan tetapi ke­dengar hubungan antara ayah dan puteri­nya ini menjadi putus. Selanjutnya entah.”

***

Lin Lin tahu selanjutnya. Liu Lu Sian melahirkan seorang putera, yaitu yang bernama Kam Bu Song dan yang sekarang sedang ia cari, dan Liu Lu Sian telah bercerai dari ayah angkatnya.

“Di mana sekarang adanya Liu Lu Sian dan ayahnya yang bernama Liu Gan itu, Kek?”

“Heh, mana aku tahu? Bukankah Liu Lu Sian itu Ibu angkatmu?”

“Bukan. Dia sudah bercerai lama sekali, meninggalkan seorang putera yang sekarang pergi pula, entah ke mana. Kalau ada orang yang amat benci Ayah, agaknya Liu Gan itu, Kek. Di mana dia sekarang?”

“Mana aku tahu? Dia orang yang amat tinggi kedudukannya. Kemudian ia menghilang, tidak ada kabarnya lagi. Pula, aku tidak ada hubungan dengannya, aku pun tidak sudi menyelidiki. Dia orang.... hemmm, orang golongan hitam, aku takut kedua tanganku menjadi hitam juga kalau berhubungan dengannya.”

Daging itu sudah matang. Kim-lun Seng-jin menelan air liurnya dan dengan lahap ia menyambar daging paha kelinci yang diangsurkan Lin Lin terus diganyang panas-panas.

“Wah, kau hebat! Heran aku, kenapa kalau aku yang memanggang tidak bisa begini sedap dan gurih? Tanganmu me­mang luar biasa!” katanya sambil me­nikmati daging panas. Lin Lin tersenyum. Bukan tangannya yang membikin daging itu menjadi sedap dan gurih, melainkan garam dan bumbu, terutama daun harum dan kayu manis yang ia dapatkan di hutan itu, yang ia pergunakan sebagai bumbu. Agaknya kakek yang pandai ma­kan ini tidak pandai masak, buta akan rahasia bumbu masak.

“Aku sudah masak seenak-enaknya untukmu, tapi apa balasanmu?”

“Ihhh, bukankah aku setiap hari me­latihmu dengan ilmu-ilmu itu?”

“Segala Ilmu Khong-in (Awan Kosong), agaknya juga kosong gunanya. Apa arti­nya kalau dipakai menghadapi musuh besarku, Si Suling Emas?”

Kakek itu mencak-mencak, tapi masih menggerogoti daging, “Kaupandang ren­dah sekali, ya? Hendak kulihat, kalau Suling Emas mampu menangkapmu, aku berani mempertaruhkan kedua mataku! Jangan kau main-main, bocah nakal. Dengan Khong-in-ban-kin sudah terlatih sempurna, biar It-gan Kai-ong takkan mampu mengejarmu, tahu?”

“Jadi, aku hanya akan mampu melari­kan diri saja? Kau melatihku untuk berlari-lari menyelamatkan diri kalau ber­temu orang sakti?”

“Heh, apa kaukira hal itu tidak perlu? Itulah yang paling penting, menyelamat­kan diri lebih dulu. Apa artinya pandai memukul orang kalau akhirnya kita pun kena pukul mampus? Ilmu pukulan Khong-in-liu-san itu, jangan kaupandang ringan. Dengan mempelajari ini, sekarang ke­pandaianmu sudah lipat menjadi sepuluh kali daripada yang sudah-sudah, kau tahu?”

Tentu saja Lin Lin tidak percaya akan hal ini, akan tetapi diam-diam ia girang juga.

“Apa kaukira sekarang aku sudah dapat melawan Suling Emas?”

Kim-lun Seng-jin membelalakkan kedua matanya dengan alis diangkat.

“Enak saja bicara! Melawan segala macam penjahat masih boleh, tapi meng­hadapi dia? Kaukira orang macam apa Suling Emas itu?”

“Orang apa sih dia? Bagaimana kepandaiannya?”

“Dia sih orang biasa saja, tapi ilmu kepandaiannya hebat. Sukar dipegang ekornya. Dia orang yang seperti juga aku, tidak mau berdekatan dengan ke­ramaian. Selalu bekerja dengan diam-diam secara rahasia. Aku sendiri pun hanya mengetahuinya sebagai Suling Emas, orang muda yang amat lihai, tapi siapa dia sebetulnya tidak ada orang tahu. Entah dari mana datangnya, hanya dunia kang-ouw mengenalnya selama tujuh de­lapan tahun ini.”

“Kenapa kau mengira bahwa mungkin dia yang membunuh orang tua angkatku, Kek?”

“Orang macam dia itu bisa berbuat apa saja. Pendeknya, tidak ada yang mengherankan andaikata mendengar pada suatu hari bahwa Suling Emas mem­bunuh Kaisar, atau membunuh ketua Kun-lun-pai. Sepak terjangnya tidak da­pat diikuti orang. Mungkin orang tuamu dibunuhnya karena ada kesalahan ter­hadapnya, mungkin juga karena sikap Ayahmu terhadap kerajaan, atau pun karena urusan lain, siapa bisa tahu?”

“Kek apakah dia benar-benar lihai?”

“Dia hebat.”

“Kau takut terhadap Suling Emas?”

Kakek itu mencak-mencak lagi, tu­lang kelinci yang sudah tak berdaging lagi digigit pecah dan disedot sumsum­nya. “Takut apa? Kim-lun Seng-jin tidak pernah mengenal takut.”

“Kalau begitu kau berani melawannya? Kau dan dia siapa lebih lihai, Kek? Apa kau bisa menangkan dia?”

Kakek itu duduk kembali, menarik napas. “Jangan kaukira bisa mengadu aku dengan Suling Emas. Tentu saja kalau dia mengganggumu, aku akan turun tangan. Akan tetapi aku tidak bisa memastikan apakah aku akan menang. Betapapun juga saat ini ingin aku mencoba kepandaiannya.”

Girang hati Lin lin. “Kalau begitu, mari cepat kita mencarinya di kota raja, Kek. Kau bilang dia berada di sana, bukan?”

“Kira-kira begitulah. Akan tetapi orang macam dia memang sukar diikuti bayangannya. Kita lihat saja nanti, di kota raja kita dapat mencari keterangan tentang dia. Sebaiknya kau melatih lagi ilmu pukulan itu.”

Demikianlah, sambil melakukan perjalanan mencari Suling Emas, Lin Lin terus dilatih ilmu silat oleh Kim-lun Seng-jin dan tanpa disadarinya sendiri kepandaian Lin Lin meningkat dengan cepat. Gadis ini sama sekali tidak sadar bahwa Kim-lun Seng-jin sengaja mengambil jalan memutar, melalui gunung-gunung dan hutan-hutan sehingga waktu yang mereka pergunakan untuk sampai di kota raja menjadi lima kali lebih panjang, perjalanan menjadi amat jauh dan sukar. Kakek ini sengaja berbuat demikian karena ia ingin melihat Lin Lin dapat melatih diri sampai matang dalam ilmu silat itu sehingga keselamatan Lin Lin dapat terjaga. Sering kali, di waktu mereka tidur dalam hutan, kakek itu duduk dan memandang wajah Lin Lin sampai berjam-jam. Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. “Serupa benar.... serupa benar....”

***

Kita tinggalkan dulu Lin Lin yang melakukan perjalanan bersama Kim-lun Seng-jin dan mari kita menengok keadaan Bu Sin dan Sian Eng. Kakak beradik ini juga cepat meninggalkan An-sui, menuju ke kota raja untuk mencari kakak mereka yang selamanya belum pernah mereka lihat, seorang yang bernama Kam Bu Song.

Dua orang ini melakukan perjalanan dengan cepat, akan tetapi sekarang jauh berkuranglah kegembiraan mereka di perjalanan setelah Lin Lin tidak berada di dekat mereka. Malah keduanya agak muram wajahnya, karena biarpun Lin Lin hanya seorang adik angkat, namun me­reka amat mengasihinya. Terutama sekali Bu Sin selalu berkerut keningnya. Dia adalah saudara tertua dan dialah yang merasa bertanggung jawab atas kesela­matan Lin Lin. Sekarang gadis itu pergi tanpa diketahuinya ke mana. Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak baik, bukankah dia yang bertanggung jawab dan pula dia yang kelak disalahkan, baik oleh kakak tirinya, Kam Bu Song, maupun oleh bibi gurunya yaitu Kui Lan Nikouw. Akan tetapi teringat akan bunyi surat yang ditinggalkan Lin Lin di kamar penginapan, dan mengingat akan pesan suami isteri Hou-han itu yang menyatakan bahwa Kim-lun Seng-jin adalah seorang sakti, hatinya menjadi agak lega.

Kota raja Kerajaan Sung tidak jauh lagi dan dengan melakukan perjalanan cepat, dalam waktu sepekan saja Bu Sin dan Sian Eng sudah memasuki kota raja. Ketika masih tinggal bersama ayahnya di Pegunungan Cin-ling-san di dusun Ting-chun sebelum ayahnya tewas, bekas Jen­deral Kam sering kali mendongeng ke­pada tiga orang anaknya tentang keadaan kota raja yang amat ramai dan indah. Memang dahulu, Jenderal Kam Si Ek biarpun bertugas di Shan-si, namun ia adalah seorang pejabat pemerintah Kera­jaan Sung karena pada masa itu, Keraja­an Hou-han belum bangkit dan wilayah Shan-si masih termasuk wilayah Sung.

Oleh karena pernah mendengar ten­tang kota raja ini, ketika memasuki kota raja, Bu Sin dan adiknya merasa gembira dan kagum, akan tetapi tidak terheran-heran seperti orang-orang desa yang baru pertama kali selama hidupnya memasuki kota raja yang besar. Mereka berdua mencari rumah penginapan, kemudian mulailah mereka dengan penyelidikan mereka, bertanya ke sana ke mari, ten­tang diri seorang pemuda bernama Bu Song, she Liu. Bu Sin dan adiknya masih teringat akan penuturan bibi guru mereka betapa Bu Song pernah menempuh ujian di kota raja ini dengan menggunakan she Liu, yaitu she ibunya.

Orang pertama yang mereka tanyai adalah seorang guru sastra yang membuka sekolah bagi calon-calon pengikut ujian seorang laki-laki yang sudah ber­usia enam puluh tahun lebih. Memang Bu Sin selalu berhati-hati dan ia amat cer­dik dan pandai mencari keterangan. Ti­dak ada orang yang lebih tepat dimintai keterangan tentang seorang penempuh ujian belasan tahun yang lalu di kota raja selain seorang guru sastra yang sudah tua.

Akan tetapi guru sastra itu meng­geleng kepalanya dan mengerutkan kening. “Sungguh menyesal aku tidak ingat lagi akan semua nama-nama itu. Ada ratusan orang banyaknya she Liu, dan semenjak empat belas tahun sampai sekarang, en­tah sudah ada berapa ribu orang pelajar yang menempuh ujian.”

Bu Sin dan Sian Eng kelihatan kecewa dan menyesal sekali. Malah Sian Eng hampir menangis kalau ia ingat betapa perjalanan mereka selain sia-sia belaka, juga mereka malah kehilangan Lin Lin. Mencari seorang kakak belum dapat di­temukan, sekarang malah kehilangan seorang adik dan mendengar jawaban guru tua ini, agaknya memang tak mung­kin mencari seorang yang berada di kota raja ini dan menjadi penempuh ujian pada empat belas tahun yang lalu!

Pada saat mereka hampir putus asa itu, kakek guru tua tadi berkata meng­hiburnya, “Masih ada satu jalan untuk mencari orang itu. Pada empat belas tahun yang lalu, yang menjabat sebagai kepala ujian adalah Pangeran Suma Kong yang sekarang tinggal di kota An-sui. Kalian coba saja menghadap beliau dan mohon pertolongannya, karena kurasa pangeran itu mempunyai catatan tentang para pengikut ujian dan siapa tahu beliau akan dapat memberi keterangan di mana adanya Liu Bu Song itu.”

Wajah kakak beradik itu berubah dan mereka saling lirik ketika mendengar kata-kata ini. Pangeran Suma di An-sui? Itulah keluarga yang gedungnya mereka datangi, dan di sana pula Lin Lin lenyap. Di sana malah terdapat It-gan Kai-ong dan pemuda lihai yang mereka dengar disebut Suma-kongcu. Karena pikiran ini membuat merasa bingung dan tegang, Bu Sin segera menghaturkan terima kasih dan minta diri.

Setelah keluar dari rumah kakek guru itu, Bu Sin menarik napas panjang.

“Apakah kita harus pergi ke rumah itu? Tempat yang amat berbahaya itu, bagaimana kalau mereka yang berada di sana, terutama It-gan Kai-ong, mengenal kita? Bukankah itu sama halnya dengan memasuki gua naga dan harimau?”

“Sin-ko, dengan mereka kita tidak mempunyai permusuhan. Kalau Pangeran Suma orang satu-satunya yang dapat menolong kita, mengapa kita meragu? Lebih baik kita mencoba, siapa tahu pangeran tua itu mengerti di mana ada­nya Kakak Bu Song. Kalau bukan ber­tanya dia, siapa lagi? Kakek guru itu saja tidak dapat menolong kita, apalagi orang lain?”

“Dengan keluarga Pangeran Suma memang kita tidak ada permusuhan, akan tetapi kau harus ingat It-gan Kai-ong yang berada di sana. Kita pernah ribut dengan para pengemis.”

“Bukankah dia sudah memaafkan kita setelah diberi uang perak oleh Lin Lin? Kalau memang dia berniat jahat, kiranya dia sudah turun tangan sejak dulu.”

Akhirnya Bu Sin mengambil keputusan dan berkata, “Baiklah, kita ke An-sui, bertanya dan minta tolong kepada Pange­ran Suma Kong. Apapun yang akan ter­jadi, harus kita hadapi karena ini men­jadi kewajiban kita memenuhi pesan ter­akhir dari Ayah untuk mencari Kakak Bu Song. Mari, Eng-moi, kita kembali ke An-sui.”

Hanya semalam mereka di kota raja dan pada keesokan harinya, kembali me­reka melakukan perjalanan ke An-sui dengan cepat. Begitu tiba di An-sui be­berapa hari kemudian di waktu siang, mereka berdua langsung menuju ke ru­mah gedung yang pernah mereka kenal di suatu malam itu, memasuki halaman rumah yang luas. Hati mereka berdebar tegang ketika pelayan yang mereka mintai tolong untuk melaporkan kepada Pa­ngeran Suma bahwa mereka berdua mo­hon menghadap, memasuki pintu depan yang besar.

Akhirnya pintu terbuka dan alangkah kaget dan tegang hati mereka. Yang muncul keluar bukanlah seorang pangeran tua, melainkan seorang pemuda tinggi tegap dan tampan berhidung bengkok bermata tajam seperti burung hantu. Ini adalah pemuda yang mereka lihat malam itu, Suma-kongcu atau Suma Boan! Lebih-lebih Sian Eng tergetar hatinya ketika melihat sepasang mata pemuda itu me­mandangmya seakan-akan hendak me­nelannya bulat-bulat dan mulut yang membayangkan kelicikan itu tersenyum-senyum. Di belakang pemuda ini keluar pula belasan orang laki-laki tinggi besar dan sekali lihat saja dapat menduga bah­wa mereka adalah perajurit-perajurit pengawal karena pakaian mereka seragam. Suma-kongcu memberi isyarat dan belasan orang pengawal itu masuk kembali ke dalam, kemudian pemuda itu membalas penghormatan kedua orang tamunya de­ngan menjura dan berkata.

“Menurut laporan pelayan, Nona dan saudara hendak menghadap Pangeran Suma. Kebetulan sekali Ayah sedang tidur siang, akan tetapi kalau ada urusan, boleh Ji-wi (Kalian) bicarakan dengan saya, karena semua urusan Ayah telah diwakilkan kepada saya. Apakah keperlu­an Ji-wi datang menghadap Ayah?”

Karena bagi Bu Sin sama saja, baik Pangeran Suma maupun puteranya asal dapat memberi keterangan tentang ka­kaknya, maka ia segera berkata dengan hormat.

“Maafkan kalau kami mengganggu waktu yang berharga, Suma-kongcu. Ke­datangan kami mohon menghadap Pange­ran Suma adalah dengan maksud mohon pertolongan, karena untuk urusan kami ini, kiranya hanya Pangeran Suma yang dapat menolong.”

Wajah Suma Boan berubah ramah, tapi pandang matanya penuh selidik dan seperti tadi, sekilas ia memandang ke arah pedang yang tergantung di pinggang dan punggung kedua orang muda itu. “Heran sekali, kami tidak pernah menge­nal Ji-wi, pertolongan apakah yang kami lakukan?”

“Begini, Kongcu. Kami mencari se­orang pengikut ujian yang berada di kota raja dan mengikuti ujian empat belas tahun yang lalu. Karena pada waktu itu kami mendapat keterangan bahwa Pange­ran Suma yang menjabat kepala penguji, maka kiranya sudi memberi keterangan kepada kami apakah beliau mengetahui di mana adanya pelajar itu sekarang.”

“Siapakah namanya pelajar itu? Em­pat belas tahun yang lalu? Hemmm, agaknya dapat dilihat dalam buku catat­an tentang pelajar.”

“Pada waktu itu, ia memasukkan namanya sebagai Liu Bu Song....”

“Bu Song....?” Suma-kongcu kelihatan kaget bukan main dan wajahnya seketika berubah merah, matanya terbelalak lebar. “Apamukah dia itu?” per­tanyaannya kini tidak halus lagi.

Bu Sin dan Sian Eng kaget melihat perubahan ini, akan tetapi karena tidak dapat menduga apa yang menyebabkan Suma-kongcu berubah demikian, Bu Sin menjawab sejujurnya, “Dia adalah kakak kami....”

“Bagus....!” Suma-kongcu melompat bangun lalu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, Bu Song! Kau telah mengirim dua orang adikmu, bagus! Adik laki-laki boleh menggantikan hukumanmu, adik perempuan hemmm.... cukup cantik membayar penghinaanmu. Ha-ha-ha!” Suma-kongcu ber­tepuk tangan dan belasan orang pengawal muncul dengan cepat sekali. “Tangkap me­reka!”

Bukan main kagetnya Bu Sin dan Sian Eng melihat sikap Suma-kongcu dan men­dengar perintah ini. Tanpa menanti lebih lama lagi mereka segera meloncat mun­dur sambil mencabut pedang. Namun gerakan Suma Boan bukan main cepat­nya. Bagaikan seekor burung elang me­nyambar ia telah menerjang Bu Sin dan Sian Eng, kedua tangannya bergerak me­lakukan serangan. Bu Sin dan Sian Eng belum sempat menarik pedang, terpaksa mereka menangkis karena serangan ini cepat dan berbahaya sekali. Kedua ta­ngan Suma Boan bertemu dengan tang­kisan tangan Bu Sin dan Sian Eng. Aki­batnya, Bu Sin terhuyung mundur dan Sian Eng terguling! Kaget sekali kakak beradik ini. Sian Eng cepat hendak me­loncat bangun, namun sebuah totokan dengan dua jari tangan Suma Boan telah mengenai jalan darahnya dengan cepat, membuat ia tidak mampu berkutik lagi! Sambil tertawa-tawa Suma Boan me­nyambar tubuh Sian Eng dan memondong­nya.

“Lepaskan adikku!” Bu Sin membentak, pedangnya yang sekarang sudah ia cabut menyambar ke arah Suma Boan. Per­mainan pedang Bu Sin bukanlah lemah. Pedang itu meluncur cepat dan Suma Boan terpaksa menghindarkan diri sambil melompat ke samping. Akan tetapi pe­dang Bu Sin mengejar terus.

Pada saat itu, para pengawal sudah mengepung Bu Sin sehingga pemuda ini tidak mampu lagi menolong adiknya. Terpaksa dengan kemarahan meluap-luap ia memutar pedangnya melayani belasan orang pengawal itu. Menghadapi para pengawal ini, biarpun dikeroyok, baru tampak kelihaian ilmu pedang Bu Sin. Sebentar saja tiga orang pengawal roboh terluka. Pengawal-pengawal lainnya men­jadi gentar juga. Tak mereka sangka ilmu pedang pemuda ini demikian hebat. Kini mereka tidak berani mendekat rapat. Melihat ini, Suma Boan menjadi habis sabar. Ia merebahkan tubuh Sian Eng ke atas dipan di sudut ruangan, kemudian ia melompat ke medan pertandingan sambil membentak.

“Mundur kalian, orang-orang tiada guna dan lihat bagaimana aku menangkap cacing ini!”

Para pengawal menjadi lega hati mereka. Cepat mereka mundur sambil menolong tiga orang kawan mereka yang terluka. Adapun Bu Sin ketika melihat Suma Boan, segera membentak nyaring dan menerjang maju. Ia bermaksud me­robohkan kongcu itu untuk dapat me­nolong adiknya yang ia lihat masih rebah di atas dipan, tak dapat bergerak.

“Orang jahat she Suma! Apa kesalah­an kami maka kau melakukan penangkap­an?”

“Ha-ha-ha, Bu Song, kakakmu itu mu­suh besarku. Menyerahlah!”

“Sebelum mati takkan menyerah. Li­hat pedang.”

Suma Boan tetap tertawa sambil me­ngelak dari sambaran pedang. Di lain saat kedua tangannya sudah bergerak menyodok dan menotok sebagai penye­rangan balasan. Putera pangeran ini menghadapi Bu Sin dengan tangan kosong saja. Memang dia seorang ciang-hoat (silat tangan kosong) yang amat lihat, mewarisi ilmu silat tinggi dari It-gan Kai-ong, Bu Sin bukanlah lawannya, ka­rena dibandingkan dengan putera pange­ran ini, ilmu kepandaian Bu Sin masih amat rendah, kalau beberapa tingkat! Tidaklah mengherankan apabila dalam beberapa belas jurus saja, pergelangan tangan kanan Bu Sin kena disabet dengan tangan miring sehingga pedangnya ter­pental jauh, kemudian sebelum Bu Sin sempat menyelamatkan diri, ia telah tertotok roboh dan segera ditubruk dan diringkus oleh para pengawal. Beberapa orang pengawal yang marah karena pe­muda ini sudah melukai tiga orang ka­wan mereka, menghujankan pukulan-pukul­an. Bu Sin tentu akan tewas kalau saja Suma Boan tidak menghardik orang-orang­nya. “Jangan sentuh dia! Aku sendiri yang akan menghukumnya. Hemm, orang-orang tiada guna, kalau kalian memukuli sampai mati, nyawa kalian gantinya!” Akan tetapi Bu Sin tidak mati, hanya pingsan saja.

Suma Boan menengok ke arah dipan dan alangkah kagetnya ketika melihat dipan itu kosong. Sian Eng si cantik manis yang tadi telah tertotok dan tak mampu bergerak, rebah di atas dipan, kini tidak tampak lagi, lenyap dari tempat itu tanpa bekas!

“Keparat, di mana dia....?” Suma Boan dengan sekali lompat sudah tiba di dekat dipan dan sepasang matanya melotot, mukanya pucat ketika ia melihat sebuah benda tertancap di atas dipan sebagai ganti gadis cantik itu. Benda ini adalah sebuah bendera kecil, gagangnya dari kayu hitam menancap pada dipan, benderanya berbentuk segi tiga berdasar hitam dengan gambar Hek-giam-lo si malaikat maut yang memegang sabit, tersulam dengan benang warna kuning emas!

“Hek-giam-lo....!” bibir Suma Boan berbisik, lalu ia menggertak gigi, “lagi-lagi Hek-giam-lo mengganggu, keparat....!”

Akan tetapi ia maklum bahwa tak mung­kin ia dapat mengejar setan itu yang telah menculik tawanannya. Kemarahan­nya ia tumpahkan kepada Bu Sin. “Seret ia ke dalam kebun belakang!”

Para pengawal menyeret tubuh Bu Sin yang sudah siuman dari pingsannya tapi tidak berdaya lagi itu ke belakang. Atas perintah Suma Boan, mereka mendirikan dua batang balok yang dipasang menyi­lang, kemudian mengikat tubuh Bu Sin di atas balok bersilang itu.

Bu Sin sudah siuman, maklum akan bahaya maut yang mengancam nyawanya. Namun ia seorang pemuda gagah perkasa, sedikit pun tidak takut. Dengan pandang mata tajam ia menatap Suma Boan yang berdiri di depannya dan di kanan kiri berdiri para pengawal.

“Orang she Suma!” Kata Bu Sin de­ngan juara ketus dan nyaring. “Antara kau dan aku tidak ada permusuhan, akan tetapi kaukatakan bahwa kakakku Bu Song adalah musuh besarmu. Baik, aku sebagai adiknya siap menerima hukuman apa saja. Sayang kepandaianku terlalu rendah, kalau tidak tentu aku akan me­wakili kakakku itu memberi hajaran ke­padamu, manusia rendah.”

“Ha-ha, kematian sudah di depan mata dan masih berlagak!” dengus Suma Boan dan sekali ia meroboh saku, ia telah mengeluarkan enam batang anak panah. “Sebentar lagi kau mampus.”

“Siapa takut mati? Seorang gagah se­kali-kali tidak berkedip menghadapi ke­matian, asal saja ia mati dalam kebenar­an! Akan tetapi, ceritakan mengapa ka­kakku memusuhi orang macam kau, agar aku tahu untuk apa aku mati.”

“Bu Song seorang jahanam besar. Ia telah ditolong oleh Ayah, ujiannya diberi angka baik agar ia lulus, kemudian ka­rena tertarik oleh kepintarannya Ayah telah memberinya kedudukan baik sebagai pembantu pribadi. Siapa kira, kakakmu manusia rendah itu tidak tahu akan ke­dudukannya sebagai hamba, berani main gila dengan adik perempuanku. Dia sudah kuikat seperti kau sekarang ini, meng­alami cambukan seratus kali, tapi agak­nya tubuhnya yang sudah hampir menjadi bangkai itu dibawa setan, atau mungkin juga dimakan setan sampai habis. Ha-ha-ha, dan sekarang kau adiknya datang untuk melanjutkan hukumannya. Tidak puas hatiku ketika itu, sekarang barulah aku puas. Penghinaan atas diri adikku akan kubalas himpas hemmm.... kalau saja perempuan itu tidak lenyap....”

“Di mana adikku, Sian Eng? Suma-kongcu, kita sama-sama lelaki, kau mau membalas, silakan, aku akan menerima dengan mata melek. Akan tetapi, kau­bebaskan adikku. Dia wanita, tidak ber­tanggung jawab akan perbuatan kakakku.”

“Ha-ha-ha, adikmu akan kurusak, kemudian kuserahkan kepada para pengawal, penghinaan ini harus dibayar sampai ha­bis, berikut bunganya.”

Pucat wajah Bu Sin, akan tetapi ia tidak mau membuka mulut. Ia tahu bah­wa percuma saja membujuk orang macam ini, malah akan mendapat penghinaan yang menyakitkan hati. Apapun yang akan dialami oleh Sian Eng, paling hebat tentu kematian dan ia percaya bahwa Sian Eng tentu akan mempergunakan setiap kesempatan untuk meloloskan diri atau untuk membunuh diri dari pada dijamah tangan-tangan kotor itu.

“Pengecut, siapa takut ancamanmu? Mau bunuh lekas buhuh!” bentaknya.

Tangan kiri Suma Boan bergerak dan meluncurlah sebatang anak panah, me­nancap ke paha kiri Bu Sin. Terasa nyeri dan perih, namun Bu Sin tetap meman­dang dengan mata marah, berkedip pun tidak pemuda perkasa ini.

“Kalian lihat, semua anak panah ini akan mengenai sasaran tanpa membunuh korbannya. Dan hati-hati, dia harus di­biarkan tersiksa sampai mati kehabisan darah, semua harus bergiliran menjaga malam ini. Aku tidak mau kehilangan dia seperti belasan tahun yang lalu. Besok pagi akan kulihat bangkainya tetap ter­gantung di sini.”

“Baik, Kongcu, hamba sekalian akan menjaganya, harap Kongcu jangan kha­watir.” Serempak para pengawal men­jawab sambil memberi hormat.

Dengan senyum keji dan mata berapi, Suma Boan lalu berturut-turut melepas­kan anak panah dengan kedua tangannya. Cepat anak-anak panah itu meluncur dan dengan tepat menancap di paha kanan, kedua lengan dan di kedua pundak. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Bu Sin. Rasa nyeri pada kaki tangan den pundaknya masih dapat ia pertahankan dengan menggigit bibir, sedikit pun ke­luhan tidak ada yang keluar dari mulut­nya. Namun penghinaan ini benar-benar amat menyakitkan hatinya, hampir ia tidak kuat menahan hati untuk memaki-maki dan berteriak-teriak. Kalau ia terus dibunuh, itu masih tidak mengapa. Akan tetapi dijadikan sasaran anak panah lalu dibiarkan terpanggang di situ menjadi tontonan, benar-benar menyakitkan hati sekali.

Suma Boan tertawa-tawa mengejek, lalu meludahi muka Bu Sin sebelum per­gi meninggalkan tempat itu. Bu Sin ha­nya membuang muka ke samping, akan tetapi tak dapat mencegah pipi kirinya terkena sambaran ludah. Ia merasa pipi itu panas dan sakit sehingga diam-diam ia harus mengakui kehebatan putera pa­ngeran ini yang memiliki lwee-kang amat kuatnya. Namun sakit di hatinya lebih hebat.

“Jaga baik-baik, awas, jangan sampai ada yang mencuri calon mayat ini,” pe­san Suma Boan kepada anak buahnya. Mereka memberi hormat lagi dengan sikap menjilat-jilat, menyatakan kesang­gupan mereka.

Setelah kongcu itu pergi, para penga­wal yang dua belas orang banyaknya itu duduk mengelilingi balok bersilang di mana tubuh Bu Sin tergantung. Mereka bercakap-cakap dan merasa yakin bahwa penjagaan mereka amat kuat. Pedang dan golok mereka terletak di atas tanah, dekat tangan, siap untuk dipergunakan sewaktu-waktu.

Bu Sin merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit. Bagian yang tertusuk anak panah terasa panas dan kejang. Akan tetapi ia segera melupakan rasa nyeri ini, malah ia tidak mendengarkan percakapan para penjaga. Pikirannya sibuk memikirkan kakaknya. Tahulah ia sekarang mengapa kakaknya lenyap dari kota raja tak dapat ditemukan ayahnya. Kiranya kakaknya itu tadinya diangkat oleh Pangeran Suma menjadi pembantunya, kemudian kakaknya agaknya bermain cinta dengan puteri pangeran, ketahuan dan ditangkap lalu disiksa seperti yang ia alami sekarang. Akan tetapi kakaknya lenyap pada malam hari. Ke mana? Benarkah sudah mati? Ah, masa dimakan setan? Ditolong setan juga tak mungkin. Siapakah yang mau menolong kakaknya? Seperti juga dia sendiri sekarang ini, siapa yang mau menolongnya?

Tiba-tiba matanya terbelalak kaget. Ia berusaha mengikuti sinar berkelebatan dengan matanya, namun tetap saja mata­nya silau dan tak dapat melihat apa yang berkelebatan itu. Tahu-tahu para penjaga yang tadinya duduk bercakap-cakap sudah rebah malang-melintang, tak bergerak lagi, entah mati entah masih hidup. Dan tahu-tahu, seperti main sulap saja, bayangan berkelebat di dekatnya dan dalam sedetik ikatan kaki tangannya terlepas, kemudian anak-anak panah yang enam buah banyaknya itu tercabut. Da­rah bercucuran keluar dan Bu Sin tidak ingat lagi. Ia pingsan dan tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya.

Ketika Bu Sin sadar kembali, ia men­dapatkan dirinya sudah berada di sebuah hutan, dibaringkan di bawah sebatang pohon besar. Di dekatnya ada sebuah api unggun yang masih bernyala, akan tetapi tidak seorang pun manusia di situ. Bu Sin cepat bangkit duduk, memeriksa luka-lukanya. Kiranya enam buah luka di tubuhnya sudah diobati orang dan dibalut dengan kain putih dan bersih, rasanya nyaman tidak nyeri lagi. Cepat ia me­lompat berdiri, dilihatnya pedangnya terletak di dekat api, segera dipungutnya. Ketika memungut pedang inilah pandang matanya bertemu dengan tanah yang di­coret-coret merupakan huruf-huruf.

ADIKMU DIBAWA HEK-GIAM-LO, AKU BERUSAHA MENGEJARNYA.

Bu Sin terduduk kembali. Agaknya orang yang menolongnya ini sejak tadi menjaganya di situ dan melihat ia sium­an, baru orang itu pergi sambil meninggalkan tulisan di dekat api dan pedang. Siapa gerangan orang itu? Kepandaiannya hebat, tidak seperti manusia. Setankah dia? Tiba-tiba ia teringat akan penuturan Suma-kongcu. Apakah setan ini pula yang belasan tahun yang lalu telah menolong kakaknya, Bu Song? Ia merasa menyesal sekali, mengapa penolongnya itu melaku­kan ini secara bersembunyi sehingga ia sama sekali tidak dapat menduga-duga siapa gerangan penolongnya. Lebih kha­watir lagi hatinya ketika mendapat ke­nyataan bahwa Sian Eng dibawa lari Hek-giam-lo. Ia tidak tahu siapa itu Hek-giam-lo. Tiba-tiba ia teringat. Pernah ia mendengar nama ini disebut orang. Ia mengingat-ingat, lalu terbayang dalam benaknya pengalamannya bersama Lin Lin dan Sian Eng ketika mereka bertiga ber­sembunyi di dalam hutan, di atas pohon besar kemudian mereka terancam oleh It-gan Kai-ong. Betapa kemudian ter­dengar suara melengking tinggi yang membuat It-gan Kai-ong agaknya lari ketakutan, kemudian orang yang menge­luarkan lengking tinggi tampak punggung­nya dan menyebut-nyebut nama Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni, dan Bu Kek Siansu. Dan sekarang Hek-giam-lo yang disebut-sebut itu telah membawa lari Sian Eng! Siapa dan apa itu Hek-giam-lo ia tidak tahu, akan tetapi melihat namanya, Hek-giam-lo berarti Iblis Maut Hitam!

Bu Sin termenung, bingung karena tidak tahu harus berbuat apa. Lin Lin dibawa lari seorang sakti yang bernama Kim-lun Seng-jin, sekarang Sian Eng dibawa lari Hek-giam-lo. Kedua orang adiknya tidak ia ketahui bagaimana nasibnya dan berada di mana sekarang. Men­cari kakaknya belum juga bertemu, ha­nya mendengar nasibnya yang buruk, di­siksa hampir mati dan lenyap. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Dengan pikiran bingung dan gelisah sekali Bu Sin terpaksa meninggalkan tempat itu, menyusup-nyusup hutan kare­na ia maklum bahwa ia tentu dikejar oleh Suma-kongcu dan sekali lagi terjatuh di tangannya berarti akan hilang nyawanya.

***

Ke mana lenyapnya Sian Eng yang tadinya berada dalam keadaan tertotok jalan darahnya, tak dapat bergerak ter­baring di atas dipan? Gadis ini biarpun sudah tak dapat bergerak karena jalan darah thian-hu-hiat tertotok membuatnya lemas kehilangan tenaga, namun ingatan­nya masih berjalan baik dan panca in­deranya tidak terpengaruh. Ia berusaha sedapat mungkin untuk mengumpulkan tenaga lwee-kang untuk membebaskan diri daripada totokan, namun usahanya belum juga berhasil. Hatinya gelisah bukan main melihat kakaknya dikeroyok itu.

Tiba-tiba sesosok bayangan nitam berkelebat dan tahu-tahu ia merasa diri­nya diterbangkan dari tempat itu. Demi­kian cepatnya gerakan yang menolongnya sehingga ia tidak dapat melihat orang ataukah setan penolongnya itu. Ia dipondong dan karena masih dalam ke­adaan tertotok, ia tidak dapat meng­gerakkan kepala untuk memandang pe­mondongnya. Pakaian orang ini dari sutera hitam dan ia mengingat-ingat. Tiba-tiba jantungnya berdebar keras. Orang yang dahulu melengking tinggi mengejar It-gan Kai-ong, yang hanya terlihat punggungnya, juga berpakaian hitam. Orang yang membawa suling dan yang mereka duga adalah Suling Emas, dan juga pem­bunuh orang tua mereka! Celaka, pikirnya, kalau pembunuh orang tuanya, mu­suh besar ini yang sekarang menculiknya pergi, tentu tidak bermaksud baik. Ia tidak tahu dibawa ke jurusan mana, ce­pat sekali larinya seperti terbang saja. Menjelang senja mereka tiba di lereng gunung.

Sian Eng sekarang sudah mampu meng­gerakkan kepala karena urat lehernya sudah mulai terbebas daripada totokan, jalan darahnya sudah mulai mengalir kembali. Akan tetapi biarpun ia menengok dan memutar leher, tetap saja ia tidak dapat memandang muka pemondongnya yang berjubah hitam, karena kepalanya berada di punggung orang itu. Ketika ia memandang ke sekitarnya mdalui kedua pundak pemondongnya, ia terkejut dan merasa ngeri. Kiranya mereka telah ber­ada di sebuah tempat kuburan kuno yang amat luas. Agaknya kuburan orang besar, karena selain luas, juga amat indah. Bongpai (batu nisan) besar-besar dan megah berdiri di sana, di dalam ling­kungan pagar tembok dan di sana sini berdiri patung-patung yang terukir indah. Jalan menuju ke batu nisan itu menanjak. Agaknya penolongnya hendak membawa­nya ke batu nisan itu. Akan tetapi ternyata tidak. Ia dibawa memasuki sebuah terowongan melalui sebuah pintu rahasia di balik batu nisan. Terowongan yang gelap sekali. Tak lama kemudian sampai­lah mereka di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas dan tidak gelap, agaknya sinar matahari dapat masuk ke ruangan ini. Sian Eng dilempar ke atas sebuah bangku panjang, akan tetapi ia tidak terbanting, melainkan jatuh terduduk. Ini kembali membuktikan bahwa penolong atau penculiknya itu adalah se­orang yang amat tinggi kepandaiannya.

Sian Eng yang sudah dapat bergerak lagi cepat menoleh dan.... gadis itu hampir saja menjerit kalau tidak lekas-lekas menutupi mulut dengan kedua tangannya. Ia hanya duduk dengan mata terbelalak lebar memandang ke depan, kepada orang yang memondongnya tadi. Sehelai demi sehelai bulu di tubuhnya berdiri, dan gadis ini hampir pingsan karena kaget, takut, dan ngeri. Ternyata yang memondongnya tadi bukanlah manusia! Tengkorak hidup! Jubah hitam itu menutup sampai kepalanya, yang tampak hanya muka tengkorak dengan kedua lubang mata yang lebar, lubang hidung yang kecil dan bekas mulut yang amat lebar, masih bergigi. Mengerikan! Di tempat seperti itu, yakni di bawah tanah, bawah kuburan bertemu dengan mahluk seperti ini, benar-berar membutuhkan syaraf membaja untuk tidak menjerit-jerit ketakutan.

Kemudian mahluk itu yang berdiri tak bergerak seperti patung, mengeluarkan suaranya yang terdengar bergema namun seperti dari jauh datangnya, suara yang tidak pantas menjadi suara manusia hi­dup, “Nona datang dari Ting-chun, di kaki Gunung Cin-ling-san puteri Jenderal Kam Si Ek?”

Karena masih dicekam kengerian, Sian Eng belum mampu mengeluarkan suara, hanya mengangguk dan sepasang matanya yang bening itu terbelalak lebar, beberapa kali menelan ludah untuk membasahi ke­rongkongannya yang mendadak menjadi kering sekali.

Mendadak terjadi hal yang aneh dalam pandangan Sian Eng. Mahluk itu, yang kini ia dapat menduga tentulah seorang manusia yang memakai to­peng tengkorak, tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut di depan bangku itu, di mana Sian Eng sudah bangkit berdiri!

“Aduhai Sang Puteri.... bertahun-tahun hambamu seluruh rakyat menanti kehadiran Paduka Puteri, bertahun-tahun hamba yang hina mencari dengan susah payah. Akhirnya hamba mendapatkan jejak Jenderal Kam di Ting-chun, akan tetapi Paduka sudah pergi.... ah, siapa duga hamba dapat bertemu dengan Pa­duka di sini. Rakyat telah menanti untuk menjemput Paduka sebagai ratu....” Sampai di sini, si kedok tengkorak itu lalu menangis sesenggukan.

Dapat dibayangkan betapa Sian Eng melongo keheranan, bulu tengkuknya berdiri kaku karena ia menganggap bah­wa kedok iblis ini tentulah seorang yang miring otaknya! Akan tetapi suara tangis­an kedok iblis itu demikian mengharukan hati sehingga dalam takutnya Sian Eng ikut terharu dan tak dapat menahan lagi membanjirnya air matanya. Ia ikut pula menangis!

Kedok iblis itu segera membentur-benturkan jidat tengkoraknya ke atas lantai sambil berkata, “Wahai, Paduka Puteri junjungan hamba...., betapa bahagianya hati hamba, betapa bahagianya rakyat kita, setelah bertahun-tahun di­kuasai raja yang tak berhak. Kini Paduka telah muncul, bagaikan Sang Matahari muncul untuk mengusir awan hitam yang gelap. Jangan Paduka khawatir, ada ham­ba Hek-giam-lo yang akan membantu Paduka merampas kembali mahkota dan singgasana yang memang menjadi hak Paduka....”

Tentu saja Sian Eng makin tidak me­ngerti dan menganggap orang yang mi­ring otaknya ini sedang kambuh gilanya maka bicaranya makin tidak karuan. Pada saat itu terdengar suara mirip ta­ngisan yang melengking tinggi menembus sampai ke ruangan di bawah tanah itu. Lapat-lapat terdengar suara memanggil nama Hek-giam-lo disusul maki-makian.

Hek-giam-lo mengangguk-anggukkan kepala tengkoraknya di depan kaki Sian Eng, lalu berkata halus, “Mohon perkenan Paduka untuk menghalau pengacau yang berada di luar istana.”

Mau tak mau Sian Eng menggigil. Tempat kuburan mengerikan seperti ini dianggap istana dan ia hendak dijadikan ratunya. Celaka! Akan tetapi untuk mem­bantah, ia tidak berani karena maklum bahwa orang gila yang menyeramkan ini memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Ia hanya mengangguk dan agar orang gila itu tidak kecewa dan marah ia berkata lirih, “Pergilah....”

Tampak bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu Hek-giam-lo telah lenyap dari depannya. Sian Eng menggosok-gosok kedua mata dengan punggung tangan. Mimpikah ia? Ataukah semua itu tadi peristiwa yang benar terjadi? Kalau be­gitu, agaknya bukan manusia si kedok tadi, jangan-jangan memang benar teng­korak hidup. Kalau manusia, masa pandai menghilang seperti itu?

Di sebelah atas, depan bongpai (batu nisan) yag besar dan megah itu, berdiri seorang wanita yang rambutnya panjang riap-riapan sampai ke kaki. Seorang wa­nita cantik sekali, rambutnya hitam halus dan mengeluarkan keharuman yang me­wakili taman bunga, baju luarnya putih bersih dari sutera halus. Seorang wanita cantik namun menyeramkan. Sukar me­ngira-ngira usianya. Melihat wajah halus mata jeli bibir merah itu orang akan mengira ia masih amat muda, akan te­tapi sikap, gerak-gerik dan pandang ma­tanya membayangkan kematangan lahir batin di samping watak yang mendirikan bulu roma. Siang-mou Sin-ni (Wanita Sakti Rambut Harum)! Telah kita kenal wataknya yang aneh dan kekejamannya yang melewati batas pada permulaan cerita ini. Ia sekarang berdiri di depan batu nisan besar sambil memaki-maki dengan suara nyaring, diseling lengking tinggi seperti orang menangis.

“Hek-giam-lo, tengkorak busuk bau bangkai! Keluarlah jangan sembunyi seperti cacing tanah! Kalau kau tidak lekas ke­luar, lihat saja kau! Batu nisan yang bagus-bagus ini kubikin remuk. Hendak kulihat apakah kau masih tidak akan muncul!”

Tentu saja ucapan ini membikin marah Hek-giam-lo yang tepat muncul dari sebuah lubang di depan batu nisan se­telah membuka penutup lubang itu dari bawah. Orang biasa tentu akan kaget setengah mati dan lari terkencing-kencing ketakutan kalau melihat mahluk seperti Hek-giam-lo tiba-tiba muncul dari lubang di depan batu nisan itu. Akan tetapi Siang-mou Sin-ni bukanlah orang biasa. Ia segera menyambut munculnya Hek-giam-lo dengan makian sambil menudingkan telunjuk kirinya yang runcing dan tangan kanan bertolak pinggang.

“Hek-giam-lo tengkorak busuk! Hayo lekas kauserahkan padaku surat yang kaucuri dari gerombolan It-gan Kai-ong si jembel tua bangka!”

Hek-giam-lo tidak menjawab akan tetapi segera melompat keluar dan meng­hadapi Siang-mou Sin-ni dengan marah. “Sin-ni, antara kita sudah terdapat saling pengertian, karena jalan hidup kita tidak bersimpangan. Kau tahu bahwa aku harus membela negaraku, surat itu amat penting bagi negaraku. Kerajaan Sung selalu memusuhi Khitan, dan sekarang, setelah aku menemukan kembali Puteri Mahkota calon ratu, surat itu terlebih penting. Dengan memperlihatkannya kepada Kerajaan Sung, tentu mempererat hubungan antara Khitan dan Sung. Mau apa kau pinta surat itu?”

“Tengkorak busuk! Kaukira hanya kau seorang yang mau mengambil peran se­bagai patriot pembela bangsa dan negara? Cih, bangsa Khitan, perantau tak tentu tanah airnya, berlagak patriot segala! Surat itu adalah surat persekutuan antara Nan-cao dan Hou-han. Apa sangkut-paut­nya dengan Khitan? Dan kau harus tahu bahwa aku adalah pembela Hou-han. Surat itu harus kudapatkan kembali dan kuserahkan kembali kepada yang berhak yaitu Kerajaan Hou-han atau Nan-cao yang wajib menerimanya. Biarpun untuk itu aku harus mengadu ilmu dengan patriot-patriot Khitan, aku tidak akan un­dur setapak pun!”

“Hemmm, kau perempuan mau main politik segala? Siang-mou Sin-ni, namamu cukup terkenal sebagai seorang di antara Thian-te Liok-koai. Lebih baik kaupertahankan nama itu dan ja­ngan mencampuri urusan negara. Urusan ini adalah bagian laki-laki.”

“Cerewet! Kau ini selamanya pakai kedok tengkorak, siapa tahu kau perem­puan atau laki-laki? Hayo kembalikan!” Siang-mou Sin-ni menggertak dan rambut-rambut hitam panjang di kepalanya itu sudah bergoyang-goyang. Rambutnya me­rupakan senjatanya yang paling ampuh dan memang rambutnya itulah yang amat ditakuti di dunia kang-ouw. Bagi wanita biasa, agaknya rambut yang hitam pan­jang halus dan harum itu akan menjadi kebanggaan dan akan disukai banyak orang, terutama kaum pria. Akan tetapi rambut Siang-mou Sin-ni yang harum ini merupakan cengkeraman-cengkeraman maut yang entah sudah menewaskan nya­wa beberapa banyak orang!

“Sin-ni, kau tahu aturan antara kita. Surat ini kudapatken dengan jalan meng­gunakan kepandaian, tentu saja tidak mungkin kuberikan kepadamu begini saja.”

Sambil berkata demikian, Hek-giam-lo sudah mengeluarkan sabitnya, juga tangan kirinya mengeluarkan sehelai surat yang ia rampas dari tangan Suma Boan tanpa diketahui orangnya.

Melihat surat itu di tangan Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni mengeluarkan lengking tangis yang menggetarkan kalbu, rambutnya seakan-akan hidup menyambar untuk merampas surat sedangkan sebagian rambutnya yang lain lagi menyambar ke arah jalan darah di dada, leher, pangkal lengan dan pergelangan yang maksudnya selain merobohkan lawan juga merampas sabit!

“Uhhh!” Hek-giam-lo membentak, surat itu sudah lenyap di saku bajunya lagi dan sabitnya hilang, berubah menjadi sinar putih yang menyilaukan mata, tubuhnya menjadi bayangan hitam yang bergulung-gulung dengan sinar sabitnya. Pada detik-detik berikutnya, Hek-giam-lo dan Siang-mou Sin-ni sudah saling terjang dengan ganas sehingga terjadilah perkelahian yang luar biasa. Kalau kebetulan ada orang melihat pertempuran ini, tentu mengira bahwa iblis-iblis kuburanlah yang sedang bertanding ini. Kadang-kadang mereka bertanding di atas lantai depan batu bisa, kadang-kadang dengan gerakan ringan dan cepat keduanya berlompatan dan berkejaran di atas bongpai (batu nisan), melayang di antara pohon-pohon untuk kembali ke lantai lagi, melanjutkan pertandingan yang amat hebatnya.

Namun keduanya sama kuat. Perta­hanan masing-masing terlampau kokoh dan rapat sehingga sukar bagi mereka untuk mencari lubang dan memasuki serangan mematikan.

“Hi-hik, tengkorak busuk. Mana pela­jaranmu dari Bu Kek Siansu? Untuk apa kaurampas setengah kitabnya? Hayo ke­luarkan, kulihat jurus-jurusmu adalah yang dulu juga, sudah lapuk dan kuno!” ejek Siang-mou Sin-ni.

Hek-giam-lo mendengus dan memutar sabitnya. “Kau merampas alat tetabuhan khim untuk apa pula? Tidak perlu cere­wet, rampaslah suratmu kakau kau me­mang becus!”

“Keparat, hari ini Hek-giam-lo mam­pus di tanganku!” Siang-mou Sin-ni mem­perhebat gerakannya dan kini mereka bertanding lebih seru lagi, berusaha mencari kemenangan dengan mengeluarkan jurus-jurus mematikan.

Sementara itu, Sian Eng ketika melihat dirinya ditinggalkan sendiri oleh Hek-giam-lo, segera timbul keberaniannya. Kesempatan baik sekali untuk melarikan diri. Cepat ia melompat turun dari atas bangku panjang, menyambar pedangnya yang tadi dibawa pula agaknya oleh Hek-giam-lo, dan berjalanlah ia melalui lorong di bawah tanah yang gelap. Seberapa kali ia salah jalan. Kiranya lorong itu mempunyai banyak jalan simpangan yang menyesatkan. Setelah meraba sana, merayap ke sini, akhirnya Sian Eng berhasil melihat sinar matahari melalui sebuah lubang. Pengharapannya menebal dan cepat ia merayap ke arah sinar itu yang ternyata masuk dari sebuah lubang yang cukup besar. Ia mengerahkan gin-kang dan melompat keluar dari lubang.

Sejenak kedua matanya silau dan ter­paksa ia berdiri sambil memejamkan mata. Baru saja keluar dari tempat gelap ke tempat terang memang amat menyi­laukan mata, hampir ia tak dapat percaya apa yang dilihatnya. Ternyata ia telah berada di depan batu-batu nisan besar dan di situ berkelebatan dua orang yang sedang bertanding dengan hebat dan aneh. Yang seorang adalah Hek-giam-lo, yang mempergunakan sebuah sabit yang mengerikan. Orang ke dua adalah seorang wanita cantik sekali, akan tetapi cara bertempur wanita itu aneh karena wanita itu selalu menggunakan rambutnya yang panjang dan gemuk hitam sebagai senjata!

Sian Eng tidak tahu apa yang harus dilakukannya menghadapi pertandingan itu. Hek-giam-lo dianggapnya seorang miring otak yang menganggap dia sebagai seorang Puteri calon ratu, akan tetapi ia masih tidak tahu apakah iblis hitam itu mengandung niat baik ataukah buruk terhadap dirinya. Adapun wanita cantik yang bertempur melawan Hek-giam-lo itupun ia tidak kenal, tidak tahu pula mengapa bertempur melawan Hek-giam-lo. Oleh karena ini, Sian Eng tidak mem­pedulikan pertempuran itu dan mendapat­kan kesempatan baik ini ia segera me­larikan diri.

Akan tetapi Sian Eng benar-benar keliru kalau dia mengira bahwa dua orang itu tidak melihatnya dan tidak tahu bah­wa ia melarikan diri. Dua orang itu ada­lah orang-orang sakti yang tentu saja melihat dia keluar dari lubang tadi. Be­lum jauh Sian Eng melarikan diri, Hek-giam-lo mendengus.

“Sin-ni, lain waktu kita lanjutkan. Aku harus mengejar dia.”

“Hik-hik, tinggalkan dulu surat itu, baru aku memberi ampun padamu!”

Sabit di tangan Hek-giam-lo menyambar sepenuh tenaga, namun dengan mu­dah Siang-mou Sin-ni mengelak dan mem­balas dengan sambaran rambutnya.

“Keparat kau! Aku perlu sekali dengan gadis itu!” kembali Hek-giam-lo berkata, minta pertandingan dihentikan.

“Aku pun perlu sekali dengan surat itu. Sebelum kauserahkan kepadaku, jangan harap kau bisa mendapatkan gadis itu. Hi-hik.”

Kewalahan Hek-giam-lo menghadapi lawannya yang selain pandai bertempur, juga amat pandai berdebat ini. “Nah, kaumakanlah suratmu!” Hek-giam-lo sudah mengeluarkan surat itu dan melemparkannya ke arah Siang-mou Sin-ni, kemudian melompat jauh untuk mengejar Sian Eng.

Adapun Siang-mou Sin-ni melihat menyambarnya benda putih, segera ditangkapnya dan ia terkekeh girang melihat bahwa benda itu memang benar merupakan surat persekutuan antara Pemerintah Nan-cao dan Pemerintah Hou-han. Sambil tersenyum manis ia memasukkan surat itu ke dalam saku jubahnya, kemudian bersenandung lirih dan membalikkan tubuh hendak pergi dari tempat itu. Akan tetapi ketika ia membalikkan tubuh, matanya memandang ke arah sebuah di antara jajaran patung yang kebetulan berada di depannya. Sebuah patung sebesar patung seorang sastrawan kuno. Wajah patung itu amat ­halus buatannya, seperti manusia hidup saja.

“Ih, tampan juga kau!” Siang-mou Sin-ni tersenyum. “Sayang kau hanya batu, tidak punya darah dan daging. Ih, mata­mu terlalu tajam, lebih baik lehermu kupatahkan sebelum aku pergi.”

Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya, segumpal rambut panjang me­nyambar ke arah leher patung. “Plakkk!” Rambut itu terpental kembali dan leher patung tidak apa-apa. Jangankan patah, gempil pun tidak.

Sepasang mata jeli bening itu ter­belalak. Biasanya, hantaman rambutnya akan mampu memecahkan batu hitam, masa sekarang mematahkan leher patung saja tidak kuat? Sekali lagi ia meng­gerakkan kepala, kini setengah rambutnya semua menyambar, merupakan gumpalan yang cukup besar.

“Plakkk!” Kali ini tubuh Siang-mou Sin-ni tergetar karena kekuatan yang ia pergunakan tadi lebih besar sehingga ketika terpental, lebih hebat pula terasa olehnya.

Wanita ini berubah wajahnya. Matanya melirik ke arah patung itu, lalu kepada patung-patung lain yang berjajar di situ. Kalau semua patung itu sekuat ini, agak­nya memiliki kesaktian, hiiiiih, Siang-mou Sin-ni merasa bulu tengkuknya ba­ngun dan ia cepat-cepat meninggalkan tempat itu! Seorang wanita yang terkenal ganas seperti iblis sekarang lari ketakut­an, mengira bahwa patung-patung itu sudah menjadi iblis. Mungkin menghadapi sesama manusia, iblis wanita rambut panjang itu tidak akan gentar seujung rambut pun, akan tetapi menghadapi patung batu yang dapat tahan menghadapi dua kali hantaman rambutnya, benar-benar melewati batas ketabahannya.

Kalau saja Siang-mou Sin-ni tahu betapa sepeninggalnya patung yang dihantamnya tadi dapat bergerak-gerak, tentu ia tidak akan lari malah akan diserang mati-matian! Setelah iblis wanita rambut panjang itu pergi, “patung” itu menarik napas panjang, melemparkan selubung kain putih dan tampaklah seorang pemuda tinggi besar berpakaian seperti sastrawan, pakaian berwarna hi­tam. Suling Emas! Seperti juga Siang-mou Sin-ni, Suling Emas yang menyamar sebagai patung itu berkelebat lenyap ke arah perginya Hek-giam-lo.

Sian Eng sudah girang hatinya dapat terbebas. Ia lari sekuat tenaga dan me­masuki hutan besar. Napasnya terengah-engah dan setelah masuk di bagian hutan yang gelap, merasa dirinya aman, gadis ini memperlambat langkahnya untuk me­ngaso dan mengatur napas. Akan tetapi, dapat dibayangkannya betapa kagetnya, sampai mukanya menjadi pucat tak ber­darah lagi, ketika ia menoleh di depannya berdiri.... Hek-giam-lo!

“Paduka hendak ke mana, Sang Puteri? Harap hati-hati, tanpa hamba yang melindungi, sebaiknya Paduka jangan pergi ke mana-mana. Banyak berkeliaran musuh-musuh kita,” terdengar Hek-giam-lo ber­kata dengan suaranya yang menyeramkan.

“Tidak.... tidak.... biarkan aku pergi sendiri. Jangan ganggu aku!” teriak Sian Eng yang ketakutan, dan ia hendak lari.

Akan tetapi iblis itu sekali berkelebat telah berada di depannya. Sian Eng menjadi nekat dan menggunakan pedangnya membacok. Akan tetapi entah bagaimana pedangnya seperti bertemu benda keras dan terpental jauh kemudian tubuhnya terangkat dan ia sudah dibawa lari se­perti terbang cepatnya tanpa dapat meronta sedikit pun. Sian Eng menggigil ketakutan dan pingsan dalam pondongan Hek-giam-lo.

***

Lin Lin membanting-banting kedua kakinya seperti anak kecil tidak dituruti permintaannya. “Kek, kau membohongi aku! Kau bilang dia berada di kota raja, mana dia sekarang? Hayo katakan, mana dia? Sudah sepekan kita berada di sini, setiap malam berkeliaran semalam sun­tuk, kalau siang tidur di kuil tua, persis seperti kelelawar, malam berkeliaran siang tidur. Dan Suling Emas belum juga tampak batang hidungnya!”

Kakek gundul pelontos itu, Kim-lun Seng-jin, duduk di atas lantai kuil tua yang kotor, bersandar dinding yang sudah retak-retak, tertawa lebar memperlihat­kan giginya yang putih dan mengkilap tertimpa sinar api unggun yang dibuat­nya, sehingga keadaan dalam kuil yang gelap itu menjadi terang.

“Heh-heh-heh, Lin Lin, sudah kukata­kan kepadamu bahwa orang macam Su­ling Emas itu sukar dipegang buntutnya.”

“Apa dia bukan manusia, Kek?”

“Heh? Manusia tapi seperti iblis. Ya, dia manusia seperti kita.”

Melihat dara remaja itu mengajukan pertanyaan dengan muka sungguh-sungguh, meledak ketawa Kim-lun Seng-jin. “Uuhh, kau benar-benar masih hijau. Masa tidak mengerti apa yang kumaksudkan? Sukar dipegang buntutnya berarti sukar diikuti ke mana perginya.”

“Wah, kalau begitu, sia-sia saja kita berkeliaran di kota raja ini, Kek?” Lin Lin kembali timbul marahnya dan mem­banting kaki.

“Tidak ada yang sia-sia di dunia ini, semuanya berguna dan ada manfaatnya, asal saja kita tahu bagaimana memper­gunakannya dan memetik manfaatnya. Kita sudah berada di kota raja, bukalah matamu baik-baik. Bukankah kau me­nemui keadaan yang baru bagimu? Tidak­kah kau ingin melihat istana raja dari dalam? Aku selalu singgah di istana ka­lau datang ke sini dan tak pernah lupa menjenguk dapurnya. Heh-heh, sudah lama tidak kunikmati masakan istana.”

Seketika kemurungan hati Lin Lin lenyap. Wajahnya yang jelita berseri, matanya berkilat dan seketika itu juga perutnya mendadak menjadi lapar sekali. “Wah, mari kita ke sana, Kek, ada ma­sakan apa saja di sana? Aduh perutku lapar sekali!”

Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal agaknya senang sekali melihat watak yang mudah berubah dan aneh dari gadis remaja itu. “Heh-heh-heh, serupa benar kau, serupa benar.”

“Serupa siapa, Kek?”

“Serupa dengan orang yang sudah tidak ada. Lin Lin, kau boleh ikut aku ke istana dan menikmati masakan dapur yang selama hidupmu belum pernah kau­makan atau lihat. Akan tetapi amat ber­bahaya, banyak penjaganya yang pandai.”

“Aku tidak takut!”

“Bukan soal berani atau takut, melainkan kepandaianmu yang kuragukan.”

“Eh, eh, kau mencela aku sama dengan mencela dirimu sendiri, Kek. Bu­kankah kau sudah memberi pelajaran serba kosong itu?” cela Lin Lin. Kakek itu tersenyum masam. Cara gadis itu menyebut ilmu yang ia ajarkan benar-benar amat memandang rendah. Disebut­nya “serba kosong”, memang nama ilmu yang ia turunkan adalah Khong-in (Mega Kosong).

“Biarpun kau sudah menerima pelajaran dariku, akan tetapi aku belum yakin apakah kau sudah berlatih sampai matang betul.”

Marah Lin Lin. Kepalanya dikedikkan, dadanya dibusungkan. “Pagi siang sore malam kausuruh aku berlatih, tak pernah membiarkan aku mengaso, sampai lupa makan lupa tidur lupa tempat, masih kau bilang aku belum berlatih matang, Kek? Kau benar-benar seorang yang kurang terima sekali. Wah, celaka, dapat se­orang teman satu kali saja begini tak ingat budi dan jerih payah orang!”

“Huah-ha-ha-ha!” Kakek itu terping­kal-pingkal. Benar-benar gila. Dia yang mengajar ilmu kesaktian, eh, bocah ini malah memarahinya dan seakan-akan bocah ini yang memberi sesuatu kepada­nya karena sudah rajin berlatih. Benar-benar pintar memutarbalikkan kenyataan. “Ya sudahlah, aku setuju kau berlatih keras selama ini. Akan tetapi, untuk dapat menyelinap masuk ke dapur istana, harus benar-benar mahir Khong-in-ban-kin. Coba kauperlihatkan padaku sekali lagi ilmu Khong-in-liu-san yang kau­pelajari sambil mengerahkan tenaga dan gin-kang. Kau kurasa sudah cukup, sekarang juga kita pergi ke istana, makan besar, pesta-pora tanpa bayar!”

Lin Lin girang sekali, lalu mencabut pedangnya dan besilat penuh semangat. Akan tetapi pada jurus ke tujuh, ia terlalu keras menggunakan tenaga sin-kang dan “krakkk!” pedang yang diayunnya patah menjadi tiga potong! Gadis itu ter­kejut dan berdiri tertegun, kecewa dan menyesal melihat tangan kanannya hanya memegang gagang pedang sedangkan pedangnya sudah runtuh ke bawah.

Akan tetapi Kim-lun Seng-jin bersorak dan bertepuk tangan sambil menari-nari kegirangan. Lin Lin mengerutkan kening, mulutnya cemberut, matanya merah, mengira bahwa kakek itu mengejeknya.

“Bagus, bagus....! Kaulihat sendiri, cucuku, dengan tenaga Khong-in-ban-kin, pedangmu yang buruk itu patah men­jadi tiga potong. Ha-ha-ha, sudah hebat tenagamu, hanya belum mampu kau mengendalikan sehingga membikin rusak senjata sendiri. Cukup dan marilah ikut ke istana, tidak hanya pesta besar kita, juga kau akan bisa memilih sendiri se­batang pedang pusaka dalam kamar pu­saka.”

Seketika lenyap kemarahan Lin Lin seperti awan tipis disapu angin. Ia me­loncat dekat kakek itu merangkul pundaknya. “Betulkah, Kek? Hayo, lekas kita berangkat kalau begitu!”

Sambil tertawa riang keduanya lalu berkelebat lenyap dalam kegelapan malam. Kim-lun Seng-jin tidak membual ketika ia menyatakan bahwa setiap kali datang ke kota raja ia pasti mampir ke istana dan memasuki dapur istana. Memang, kesukaan kakek ini hanya makan, makan enak, apalagi masakan-masakan lezat mahal di dapur istana yang dapat dipilihnya tanpa bayar!

Kakek itu membuktikan omongannya dengan pengetahuannya yang luas tentang seluk-beluk istana. Hafal betul ia akan jalan menuju ke istana, malah ia dapat memilih dinding pagar mana yang tidak begitu keras penjagaannya. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa ia memang sudah menjadi “langganan” tempat terlarang itu. Dari sebelah selatan, tembok yang mengurung kompleks istana memang amat sunyi. Pintu gerbang sudah tertutup dan beberapa orang penjaga bercakap-cakap di dalam gubuk penjagaan. Ada pula yang meronda pagar tembok, membawa tombak dan pedang.

Jengkel juga Kim-lun Seng-jin melihat para penjaga itu terus-menerus meronda pagar tembok yang dipilihnya untuk me­lompat masuk. Pagar tembok itu amat tinggi, tidak kurang dari tujuh meter tingginya. Akan tetapi yang ia pilih itu adalah tempat di mana tumbuh sebatang pohon tidak jauh dari tembok, hanya dua meter jaraknya dari cabang terdekat dengan tembok. Kalau saja ia tidak pergi bersama Lin Lin, tentu saja ia bisa me­milih tembok yang mana saja. Diambil­nya sebuah batu dan disambitnya ke arah kiri. Terdengar suara orang mengaduh di sebelah kiri. Ternyata seorang penjaga yang sedang berdiri tegak di dekat pintu gerbang, terkena sambitan batu itu, te­pat pada tulang keringnya di kaki, mem­buat ia meloncat-loncat dan mengaduh-aduh sambil memegangi tulang kering yang dicium batu. Teman-temannya segera lari menghampiri, termasuk me­reka yang meronda. Kesempatan ini di­pergunakan oleh Kim-lun Seng-jin, mem­beri isyarat kepada Lin Lin untuk melompat dan mengikutinya. Mula-mula kakek itu melompat ke atas cabang po­hon terdekat dengan tembok, ia me­lompat ke atas tembok. Lin Lin agak ngeri juga melihat dari tempat yang tinggi itu.

***

Akan tetapi ia mengeraskan hati dan melompat bagaikan seekor walet. Ia heran mendapat kenyataan bahwa lompatannya amat ringan dan mudah. Mengertilah ia sekarang bahwa ini adalah hasil latihan Ilmu Khong-in-ban-kin, maka diam-diam ia amat berterima kasih kepada kakek itu.

Dengan mudah mereka melompat ke sebelah dalam dari atas tembok dan tibalah mereka di daerah istana. “Siapa tahu di sini kita akan bertemu dengan Suling Emas, Kek,” kata Lin Lin, mengagumi bangunan-bangunan besar yang dihias lampu-lampu beraneka warna.

“Boleh jadi, boleh jadi....” Kakek itu mengangguk-angguk. “Orang macam dia itu bisa berada di manapun juga.”

“Apa dia itu hebat sekali, Kek? Apakah kau pernah bertempur dengan dia?”

Kakek itu menggeleng kepala. “Belum pernah, bertemu pun belum. Akan tetapi dalam beberapa tahun ini, ia telah mem­buat nama besar, jauh melebihi aku yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia kang-ouw. Aku.... aku tidak suka membuat nama besar, bikin repot saja. Nah, itu di sana dapurnya, mari!”

Kim-lun Seng-jin memegang tangan Lin Lin dan keduanya melompat naik ke atas genteng. Tanpa mengeluarkan suara seperti dua ekor kucing saja, kakek dan dara remaja itu berloncatan di atas gen­teng. Kakek itu mengajak berhenti di atas genteng yang agak rendah, membuka genteng, mematahkan kayu penyangga genteng, lalu menytisup ke dalam, diikuti oleh Lin Lin. Mereka telah berada di atas langit-langit dapur. Dengan gerakan perlahan, Kim-lun Seng-jin membuka langit-langit di pojok yang agaknya me­mang sudah lama terbuka.

“Ini pintu rahasiaku, kubuat belasan tahun yang lalu,” bisiknya sambil ter­senyum lebar. Lin Lin menjadi geli juga hatinya. Kakek ini benar-benar seperti seekor kucing hendak mencari daging, pikirnya. Dari lubang itu mereka meng­intip ke bawah dan bau yang sedap ma­suk melalui lubang itu menyambut hidung mereka.

“Ehhhmmmm, waaahhhhh, sedapnya....!” Kim-lun Seng-jin menyedot-nyedot dengan hidungnya. Juga Lin Lin merasa amat lapar sekarang. “Di bawah tidak ada orang, sisa-sisa hidangan Kaisar sudah dipanaskan lagi, mari!” Ia mem­buka lubang itu dan melayang ke bawah, diikuti oleh Lin Lin.

Dapur itu tidak menyerupai dapur bagi Lin Lin. Terlalu bersih, terlalu me­wah. Lebih bersih daripada kamar tidurnya di rumah orang tuanya sana. Yang begini disebut dapur? Lantainya meng­kilap, dindingnya dari batu marmer putih, lemari-lemarinya yang indah berdiri ber­jajar di sudut, penuh dengan panci-panci dan mangkok-mangkok besar. Tempat perapian untuk masak berada di sebelah kiri. Betul kata kakek itu, panci dan mangkok-mangkok itu masih nampak mengebulkan uap, tanpa bahwa isinya masih panas.

Kakek itu sudah tidak mau memper­hatikan atau mempedulikan Lin Lin lagi karena ia sudah sibuk membuka dan memeriksa isi panci dan mangkok. Di tangannya sudah terdapat sepasang sum­pit gading yang ia ambil dari sebuah lemari. Sekarang tangan yang memegang sumpit ini kewalahan melayani mulutnya yang melalap dan cepat menghabiskan segala yang dimasukkannya. Nyumpit sana, nyumpit sini, lari ke lemari sana, kemudian ke lemari sini, kakek itu benar-benar berpesta-pora! Tangan kirinya me­nyambar guci arak yang berada di atas lemari terciumlah bau arak wangi ketika ia mendorong makanan di mulutnya itu dengan arak. Mulutnya mengeluarkan bunyi seperti babi makan ketika mengu­nyah makanan, bibirnya mengecap-ngecap penuh nikmat.

Lin Lin juga ikut berpesta-pora sung­guhpun tidak selahap kakek itu. Namun ia pun gembira bukan main karena ba­nyak sekali macamnya masakan yang luar biasa di situ. Karena ia tidak mengenal masakan-masakan itu, ia menyumpit ma­sakan yang disebut oleh kakek itu sebagai masakan istimewa.

“Ini sop sarang burung, ini tim lidah harimau, ini sop hiu masak kecap, dan ini.... wah, ini panggang ikan lele!” Tiada hentinya ia menyebut nama-nama masakan dan Lin Lin harus akui bahwa yang disebut oleh kakek itu memang benar nikmat dan lezat. Saking gembira­nya, Lin Lip juga ikut-ikutan minum arak merah yang tidak begitu keras, namun hangat di perut. Tanpa mereka sadari perut mereka menjadi penuh dan sang perut yang tak sanggup mengikuti selera lidah. Lin Lin yang minta ampun lebih dulu duduk terhenyak di atas kursi, ter­engah kekenyangan. Dasar dara remaja yang masih kekanakan, tanpa malu-malu ia membelakangi kakek itu untuk mengendurkan tali pinggang dalam dan luar!

“Heh-heh-heh, puas sekali ini. Wah, Kaisar amat royal hari ini, ada apa ge­rangan? Dasar rejekimu besar, Lin Lin!” Kakek itupun tak mampu lagi mengisi perutnya. Agaknya makanan sudah memenuhi perutnya sampai ke leher se­hingga tiada ruangan kosong lagi untuk menampung masakan. Ia menjatuhkan diri di lantai, bersandar dinding dan minum arak keras sedikit demi sedikit sambil mengecap-ngecapkan bibirnya.

Terdengar suara orang bicara dan langkah kaki mendatangi. Cepat bagai­ka maling konangan (ketahuan orang) Lin Lin sudah melompat dan menerobos ke dalam lubang di atas langit-langit. Kakek itu mengikutinya sambil terkekeh dan sambil mengintai dari atas ia berbisik.

“Ihhh, kenapa kau begini penakut?”

Lin Lin tidak menjawab, mukanya merah. Bukan takut, tapi siapa tidak menjadi malu kalau mencuri makanan ketahuan pemiliknya? Hatinya berdebar-debar gelisah. Selama hidupnya, baru kali ini ia melakukan pencurian. Menjadi maling makanan, alangkah rendahnya dan memalukan! Dengan muka masih merah ia ikut mengintai, hendak melihat siapa­kah mereka yang memasuki dapur itu. Apakah kaisar sendiri? Ataukah permai­suri? Makin berdebar jantungnya.

Tiga orang memasuki dapur istana itu. Kiranya hanyalah tukang-tukang da­pur saja, melihat pakaian mereka. Begitu memasuki dapur, ketiganya berhenti bicara dan memandang ke arah lemari dengan mata terbelalak. Seorang di an­tara mereka lari mendekati lemari dan terdengarlah ia berseru kaget.

“Celaka, masakan-masakannya ada yang curi! Ada yang makan, lihat nih, ada yang tumpah di lantai!”

“Wah-wah, celaka, tentu ada yang mencuri masuk!”

Tiga orang itu mencari sana-sini, memandang ke seluruh penjuru, lalu ber­dongak ke atas. Lin Lin makin berdebar jantungnya, merasa seakan-akan tiga orang itu telah mengetahui tempat persembunyiannya.

“Agaknya kucing! Kalau orang, mana berani main gila di dapur istana!”

“Masa kucing bisa mengganyang habis begini banyak masakan?”

“Siapa tahu kucing siluman!”

Ribut-ribut tiga orang tukang masak itu. “Lekas laporkan kepada penjaga, eh.... ke komandan jaga saja, biar di­kerahkan semua pengawal menangkap kucing laknat. Kalau tidak tertangkap yang makan masakan-masakan ini, celaka kita, tentu mendapat hukuman dari Sri Baginda!”

Seorang di antara mereka lari keluar, agaknya hendak melapor. Lin Lin makin gelisah, akan tetapi ia lihat Kim-lun Seng-jin malah tidur mendengkur per­lahan di bawah genteng! Agaknya kakek ini kekenyangan dan tertidur, sama sekali tidak tahu akan keributan di dalam dapur.

“Tentu kucing, entah berapa ekor yang masuk dan mencuri masakan,” kata lagi tukang masak yang gendut perutnya. “Hemmm, kalau tertangkap, akan ku­sembelih dia, kutarik keluar jantungnya, kumasak dengan jahe dan tape ketan. Baik untuk menguatkan jantung menam­bah darah.”

Pucat muka Lin Lin mendengar an­caman ini dan saking gelisahnya, ketika menggeser lebih dekat ke arah lubang untuk mengintai lebih jelas, kepalanya terantuk genteng mengeluarkan bunyi. Dua tukang masak di bawah mendengar ini dan mereka berdongak memandang penuh curiga.

“Wah, kucingnya di atas sana!” seorang menuding.

“Mana bisa? Tidak ada lubang, dari mana dia masuk?”

“Siapa tahu kucing siluman?”

Si gendut menudingkan telunjuknya ke atas, tepat ke arah Lin Lin, lalu mem­bentak, “He! Siapa di atas sana? Kucing atau manusia, atau setan?”

Tidak ada jawaban.

“Agaknya pencuri!” kata temannya.

“Lebih baik panggil para pengawal, biar ditangkap dan dihujani anak panah.”

“Nanti dulu, siapa tahu kalau hanya tikus atau kucing.” Kembali ia meman­dang ke arah Lin Lin sambil berseru, “Heee! Siapa sembunyi di atas langit-langit? Kalau setan atau manusia, jangan jawab. Kalau kucing, jawablah!”

Lin Lin mendengarkan penuh perhatian, dengan seluruh perasaan, menegang dan jantung berdebar. Mendengar per­tanyaan ini, otomatis mulutnya menjawab, “.... kucing...., eh meeooonggg....!” Ia gugup sekali sehingga jawabannya kacau-balau.

“Lho! Kucing bisa bicara! Wah, celaka.... setan....!” Dua orang tukang masak itu lari tunggang-langgang dan di ambang pintu mereka bertabrakan sampai jatuh bangun.

“Heh-heh-heh!” Kim-lun Seng-jin ter­tawa dan menarik tangan Lin Lin, diajak melompat naik ke atas genteng. “Kau lucu sekali, masa kucing bisa berkata seperti manusia!”

Merah muka Lin Lin, mulutnya cem­berut. “Aku tidak sengaja. Habis, aku bingung, kau enak-enak ngorok sih, Kek!”

“Mari kita ke gudang pusaka!”

Gudang pusaka dijaga kuat. Memang gudang ini selalu dijaga, siang malam, karena di dalamnya terdapat simpanan senjata-senjata pusaka dan bendera-bendera milik istana. “Kau yang masuk, biar aku merobohkan lima orang penjaga itu, dan sementara kau di dalam, aku yang menjaga di luar. Lekas pilih pedang yang kausukai, tapi hati-hati, banyak jebakan di sana. Aku percaya kau mampu menjaga diri.”

Lin Lin mengangguk dan bagaikan dua ekor burung walet, kakek dan dara re­maja itu melayang turun. Lima orang penjaga serentak melongo ketika tiba-tiba di depan mereka berdiri seorang kakek gundul yang berjenggot panjang bersama seorang wanita muda secantik bidadari. Sedetik mereka mengira bahwa mereka dikunjungi sebangsa iblis dan peri, akan tetapi pada detik lain mereka sudah bergerak hendak menangkap. Namun mereka kalah cepat. Kedua tangan kakek itu bergerak dan lima orang itu roboh tertotok, tak berkutik lagi. Dengan dorongan tangannya, Kim-lun Seng-jin berhasil membuka daun pintu yang ter­kunci.

Lin Lin cepat melompat masuk, akan tetapi baru saja kakinya menginjak lan­tai di sebelah dalam gedung itu, dari kanan kiri menyambar dua batang anak panah. Baiknya dara ini sudah melatih Khong-in-ban-kin secara tekun sehingga gin-kangnya sudah jauh lebih tinggi daripada dahulu, sudah lipat entah berapa kali. Anak-anak panah itu cepat sambar­annya, namun ia lebih cepat lagi, dengan gerakan gesit ia telah melompat maju di antara sambaran anak panah, terus ke depan sehingga anak-anak panah dari kanan kiri itu meluncur lewat di bela­kang punggungnya! Tanpa menghiraukan lagi anak-anak panah itu, kini Lin Lin berdiri kagum memandang senjata-senjata yang dipasang berderet-deret di sepanjang dinding. Bukan main indahnya sen­jata-senjata itu. Tombak-tombaknya, ru­yung, golok, pedang, toya dan banyak sekali macamnya, rata-rata merupakan senjata pilihan, kuno dan terbuat dari­pada besi aji yang mempunyai cahaya dan hawa yang ampuh. Akan tetapi pandang mata Lin Lin lekat pada sebatang pedang tipis yang tergantung di dinding sebelah kiri. Pedang ini kecil dan tipis, sarungnya daripada kulit harimau, gagang­nya kecil dan dihias ronce-ronce merah. Seperti dalam mimpi, kedua kakinya ber­gerak menghampiri dinding sebelah kiri, kemudian ia mengulur tangan kanan, merenggut pedang yang tergantung pada dinding itu. Ringan sekali pedang ini, akan tetapi begitu ia tarik dari dinding, tiba-tiba dari atas melayang turun sebuah benda besar dan berat, meluncur cepat akan menghantam dirinya!

Karena benda itu cepat sekali datang­nya, Lin Lin yang sudah memegang pe­dang di tangan kanan, tak sempat meng­elak lagi. Terpaksa ia mengerahkan te­naga Khong-in-ban-kin, tangan kirinya menangkis dan.... terdengar suara keras, batu besar yang meluncur turun itu pe­cah oleh tangkisan Lin Lin yang disertai tenaga Khong-in-ban-kin!

Saking kagetnva karena pecahnya batu itu menerbitkan suara keras dan berisik, Lin Lin cepat melompat keluar lagi dari gudang itu dan di lain detik ia sudah tiba di luar kamar.

“Kek, aku pilih pedang ini....” katanya terengah-engah.

Kim-lun Seng-jin membelalakan kedua matanya. “Tepat! Kau tahu pedang ini? Inliah Pedang Besi Kuning pedang ram­pasan dari bangsa Khitan ratusan tahun yang lalu! Wah-wah, kalau ini tidak ajaib namanya, tak tahu lagi aku harus di­sebut bagaimana.”

Pada saat itu terdengar suara gem­breng dipukuli gencar tanda bahaya!

“Hayo kita pergi!” Kim-lun Seng-jin maklum akan adanya bahaya kalau para jagoan istana ke luar, maka ia tidak mau main-main lagi. Tangannya menyambar Pergelangan tangan Lin Lin dan mereka melesat lari secepat terbang menuju ke pagar tembok, melompati pagar tembok dan melayang keluar. Kiranya di luar sudah berkumpul para penjaga yang me­lakukan pengepungan. Namun beberapa kali kakek itu menggerakkan tangan, banyak penjaga roboh dan mereka dapat lari menghilang dalam gelap. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam kuil kuno kembali.

Mereka duduk dekat api unggun. Ka­kek itu menghunus pedang dan tampak sinar kuning menyilaukan mata. Dan mendadak tampak sepasang mata kakek itu berlinang air mata, kemudian ia men­cium mata pedang itu. Lin Lin memandang dengan heran.

“Kek, kau pernah mengatakan bahwa aku seperti seorang gadis Khitan. Kau sendiri bilang mempunyai gigi dan hidung bangsa Khitan. Kemudian pedang ini kaukatakan dahulu berasal dari bangsa Khitan. Kakek yang baik, apakah artinya ini semua? Bangsa apakah Khitan itu? Apakah kau mengenal pedang ini?”

Kakek itu mengusap dua butir air matanya, lalu memasukkan pedang tipis tadi ke dalam sarung, menyerahkannya kepada Lin Lin. “Kau simpan baik-baik pedang ini dan sembunyikan di balik jubahmu. Sekarang kaudengarkan ceritaku. Bangsa Khitan ada­lah bangsa yang gagah perkasa, bangsa yang selalu merantau karena ingin menikmati kebebasan alam, tidak mau terikat oleh apa pun juga. Mereka adalah bangsa besar, hidup bahagia dan tidak mau diperbudak oleh harta dunia dan kemuliaan duniawi. Akan tetapi sayang, betapapun juga, masih saja nafsu setan menguasai hati, dan tim­bullah perebutan kekuasaan, yang kuat ingin menjadi pemimpin. Dahulu, puteri kepala suku bangsa Khitan adalah muridku. Tayami, ah, anak baik dia, gagah perkasa dan aku tidak kecewa mempunyai murid seperti dia. Dia itu puteri tunggal raja kami yang bijaksana, gagah dan adil, tidak mau tunduk kepada raja-raja lain, memimpin suku bangsanya dengan penuh kasih sayang, membawanya ke daerah-daerah yang subur. Akan tetapi, dia mempunyai banyak saudara, dan para saudaranya inilah yang menaruh iri hati, ingin merebut kekuasaan sehingga selalu terjadi perebutan kekuasaan. Aku sendiri tidak sudi terlibat, tidak suka aku akan pengumbaran nafsu hendak menjadi pe­nguasa dan mencari kemuliaan keduduk­an. Pernah kuanjurkan raja yang menjadi ayah muridku itu untuk mengalah saja, memberikan kedudukan pemimpin kepada adiknya yang amat ingin menjadi raja. Akan tetapi, dia tidak mau, malah men­curigaiku.” Sampai di sini kakek itu me­narik napas panjang.

“Lalu bagaimana, Kek?”

“Aku masih terhitung paman luarnya, aku tersinggung lalu aku pergi mening­galkan suku bangsaku, merantau seorang diri tidak mau meributkan persoalan dunia ramai lagi. Betapa besar kedukaan­ku mendengar bahwa bangsaku masih saling gasak, sehingga pertumpahan da­rah sering kali terjadi antara para pe­nguasa. Akhirnya terjadi perang antara suku bangsa Khitan dengan Kerajaan Sung. Perang besar terjadi di Shan-si. Agaknya adik raja berkhianat, bersekutu dengan musuh dan raja kami gugur, juga puterinya. Tayami, muridku yang ter­sayang. Kasihan dia, suaminya, seorang gagah perajurit pilihan Khitan, juga gu­gur. Kabarnya Tayami ikut pula bertem­pur dengan gagah perkasa, sambil memondong puterinya yang masih kecil. Aku menyesal sekali mengapa kutinggalkan dia, sehingga tahu-tahu aku mendengar dia gugur dan puterinya itu hilang.” Ka­kek itu memandang wajah Lin Lin de­ngan sepasang mata tajam penuh selidik.

Meremang bulu tengkuk Lin Lin. Be­lum pernah kakek itu memandangnya se­cara begini. “Ada apa, Kek?”

“Kau....! Kaulah puteri Tayami, tak salah lagi. Wajahmu, suaramu, watakmu, serupa benar dengan muridku. Kau cucu raja kami, kau keturunan langsung.”

Lin Lin meloncat berdiri. “Tak mung­kin, Kek!”

“Siapa bilang tidak mungkin? Kau anak pungut Jenderal Kam, dan pada waktu terjadi perang, justeru Jenderal Kam Si Ek yang menjadi jago dan komandan di Shan-si, yang melakukan perlawanan hebat dan mengalahkan bangsa Khitan. Dia seorang laki-laki yang perkasa pula, siapa tahu dia melihat kau dalam gendongan Ibumu yang berjuang dengan gigih, merasa tertarik, kagum dan kemudian mengambilmu sebagai puterinya. Tak salah lagi, kaulah Yalina, puteri Tayami. Namamu juga Lin Lin, dan wajahmu serupa dia. Juga pedang itu.... bukanlah terlalu kebetulan kalau di anta­ra sekian banyaknya pusaka, kau justeru memilih pusaka Khitan? Lin Lin, tidak salah lagi, kau adalah puteri Tayami yang hilang, yang sampai sekarang dicari-cari oleh para pengikut setia dari Ka­kekmu mendiang raja Kulukan.”

“Dicari-cari? Untuk apa, Kek?”

Kim-lun Seng-jin tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Memang aneh me­reka itu terlalu kukuh. Karena kekukuhan mereka, terjadilah hal-hal yang menyedihkan, perebutan kursi, saling mendukung pilihan mereka. Itulah sebabnya mengapa aku menjauhkan diri Lin Lin, kau dicari oleh mereka yang tidak suka kepada raja sekarang, untuk mengangkatmu sebagai ratu dan melawan raja yang sekarang berkuasa, yaitu Pamanmu, Kubakan, Raja Khitan yang sekarang.”

“Apa....?” Lin Lin terbelalak memandang Kim-lun Seng-jin, kemudian ia membantah, “Aku masih tidak percaya, Kek. Tak mungkin aku seorang puteri bangsa Khitan karena sepatah kata pun bahasa Khitan tidak kumengerti. Ah, kau hanya mengkhayal, Kek. Hal ini harus ada buktinya. Ahhhhh.... satu-satunya orang yang akan dapat memberi ke­terangan tentu dia!”

“Dia siapa?”

“Putera sulung Ayah angkatku, Kam Bu Song. Kek, kaubantulah aku mencari Kakak Kam Bu Song, tidak saja hal ini untuk memenuhi pesan terakhir Ayah angkatku, juga kalau dapat bertemu dengan dia kiranya dia akan dapat bercerita, anak siapa sebenarnya aku ini.”

Lin Lin lalu menceritakan pesan ter­akhir dari Jenderal Kam. Kim-lun Seng-jin mengangguk-angguk. “Mungkin Kam Bu Song itu dapat bercerita. Akan tetapi, Lin Lin, jangan kaukira bahwa andaikata kau benar Puteri Khitan seperti persang­kaanku, aku menghendaki kau benar-benar menjadi ratu dan memerangi Pa­manmu sendiri. Aku lebih senang melihat kau bebas seperti sekarang ini, menik­mati kebahagiaan hidup tanpa ikatan sesuatu yang hanya akan menimbulkan pertumpahan darah di antara saudara dan bangsa sendiri.”

“Kalau aku betul keturunan Raja Khi­tan, tentu saja akan kujungkalkan peng­khianat yang telah merampas tahta Ke­rajaan Khitan, Kek!”

Jawaban tiba-tiba ini mengejutkan Kim-lun Seng-jin sehingga ia duduk melongo memandang Lin Lin. Akan tetapi Lin Lin segera tertawa. “Jangan kau gelisah, Kek. Aku bukanlah puteri raja, aku orang biasa. Setelah mencari Suling Emas tidak bertemu, aku akan mencari Kakak Kam Bu Song sambil menanti da­tangnya kedua orang kakakku, Sin-ko dan Enci Eng.”

Mendadak kakek itu meloncat dan menyambar tangan Lin Lin. “Hayo kita lari keluar kota raja. Berbahaya di sini!”

Lin Lin kaget dan hendak membantah. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayang­an-bayangan yang amat gesit, lalu ter­dengar bentakan, “Maling keparat, kem­balikan pedang pusaka!”

Mendengar ini, maklumlah Lin Lin bahwa mereka telah dikejar pengawal-pengawal istana yang berkepandaian ting­gi. Akan tetapi mengapa harus melarikan diri?

“Kek, kita lawan saja....!” serunya sambil berusaha melepaskan tangannya. Akan tetapi Kim-lun Seng-jin malah me­nariknya untuk diajak lari cepat sekali menuju ke pinggir kota raja. Lin Lin tidak dapat melepaskan diri. Dengan gerakan yang luar biasa, Kim-lun Seng-jin sudah membawa Lin Lin melompati dinding tembok yang mengelilingi kota raja dan para pengejar tadi makin ter­tinggal jauh.

“Kek, kenapa kita mesti lari-lari seperti dua ekor tikus dikejar kucing? Me­malukan sekali!” Lin Lin mencela ketika mereka sudah turun di luar tembok kota raja dan tangannya dilepaskan oleh Kim-lun Seng-jin. Kakek itu tertawa.

“Bukan takut, melainkan aku tidak mau menyeretmu ke dalam kesulitan. Kau masih muda, Lin Lin, dan kau ke­turunan Raja Khitan. Kalau mereka me­ngetahui akan hal ini, kau akan dikejar-kejar terus dan selanjutnya kau takkan dapat hidup dengan tenteram. Pergilan, lanjutkan usahamu mencari kakakmu. Kita berpisah di sini. Latih baik-baik Khong-in-ban-kin dan Khong-in-liu-san, dan kau takkan kecewa kelak. Tentang Suling Emas jangan khawatir. Kalau aku kebetulan bertemu dengannya, akan ku­tanyai dia apakah betul dia membunuh orang tua angkatmu. Kalau betul, percayalah, dia akan kuajak bertempur sam­pai sepuluh ribu jurus! Sekarang cepat kau pergi, mereka sudah datang!”

“Dan tinggalkan kau seorang diri menghadapi anjing-anjing dari istana itu, Kek? Tidak nanti!” Lin Lin berdiri tegak, malah segera mencabut pedangnya.

“Wah, keras kepala, seperti Tayami!” Kakek itu bersungut-sungut, tiba-tiba tangannya bergerak dan tahu-tahu ia telah menotok pundak kiri Lin Lin. Kare­na dara ini sama sekali tidak pernah menduga bahwa kakek itu akan menye­rangnya tentu saja ia tidak dapat menghindarkan diri dan seketika ia merasa tubuhnya lemas sekali. Kakek itu tertawa bergelak, lalu tubuhnya melesat ke de­pan, menyambut datangnya para pengejar. Lin Lin tidak berdaya. Ingin ia lari membantu tapi tubuhnya lemas dan ia maklum dalam keadaan seperti ini, kalau bertempur, baru sejurus saja melawan orang biasa, tentu ia akan roboh. Karena itu, ia hanya berdiri diam saja dan men­dengar betapa kakek itu dikepung dan dikeroyok oleh para musuh yang berteri­ak-teriak. Agaknya, kakek itu sengaja mempermainkan mereka, karena ia berlari-lari, membiarkan dirinya dikejar-kejar dan akhirnya Lin Lin tidak men­dengar suara apa-apa lagi. Sunyi di sekelilingnya. Kakek itu sengaja memancing para musuhnya untuk mengejarnya, men­jauhi Lin Lin. Dara itu maklum akan hal ini dan ia menarik napas panjang. Baru sekarang ia merasa betapa baiknya Kim-lun Seng-jin terhadapnya. Kalau dekat dengan kakek itu, mereka sering kali cekcok dan berbantahan akan tetapi se­telah berpisah, tak dapat Lin Lin me­nahan dua air matanya menitik turun.

Tak sampai seperempat jam, totokan pada pundaknya itu buyar dengan sendiri­nya. Lin Lin lalu menggerakkan pedang curian, mainkan Ilmu Silat Khong-in-liu-san. Pedang itu mengeluarkan suara bercuitan dan sinar kuning bergulung-gulung di malam buta. Ia merasa puas sekali karena pedang yang tipis dan kecil ri­ngan itu terasa amat enak dimainkan. Amat cocok dengan ilmu pedang yang ia warisi dari Kim-lun Seng-jin. Ia baru berhenti bermain silat setelah fajar ber­ada di ambang pintu langit timur. Kegelapan malam sudah terusir, terganti cuaca remang-remang berkabut, berwarna kelabu, ia memandang pedangnya. Pedang yang amat indah, terbuat daripada logam yang kekuning-kuningan, akan tetapi bukan emas.

“Hemmm, Pedang Besi Kuning, pusaka Khitan?” Lin Lin berpikir sambil meman­dangi pedangnya. “Dan aku Puteri Khi­tan? Seperti dongeng saja!” Melihat bah­wa yang aneh pada pedang itu hanyalah ronce-ronce merah yang panjang itu, Lin Lin segera melepas kedua ronce merah itu dan menyimpannya dalam saku jubah­nya. Betapapun juga, pedang ini adalah pedang curian, pikirnya. Kalau terlalu menyolok mata dan dilihat orang, tentu sepanjang jalan hanya akan menimbulkan keributan belaka.

Dengan hati bungah (senang) ia lalu berjalan menjauhi kota raja. Ia ingin menanti munculnya kedua orang kakak­nya, yang tentu akan menuju ke kota raja pula. Untuk kembali ke kota raja sekarang terlalu berbahaya. Memang, tidak ada seorang pun yang melihat dia memasuki istana, akan tetapi keadaan di kota raja tentu sedang kacau, penjagaan diperkuat dan orang-orang yang datang dari luar tentu dicurigai. Jangan-jangan pedangnya akan dikenal dan ia akan me­ngalami kesukaran kalau masuk kota raja. Lebih baik menanti munculnya kedua orang kakaknya itu di luar kota.

Di sebelah barat kota raja terdapat sebuah hutan yang kecil tapi amat indah. Pohon-pohon di situ tampak subur dan seakan-akan teratur. Memang hutan ini adalah hutan tempat para anggauta is­tana menghibur diri kalau keluar kota. Lin Lin tidak tahu akan hal ini dan gi­rang hatinya ketika memasuki hutan ini. Ia berjalan seenaknya memasuki hutan, mendengarkan kicau burung yang me­nyambut datangnya pagi. Lin Lin me­mang memiliki watak periang. Melihat suasana indah dan mendengar kicau bu­rung yang berloncatan di cabang-cabang dan ranting-ranting pohon, kegembiraan­nya timbul. Kadang-kadang ia terkekeh ketawa melihat seekor kelinci muncul dari belukar, menggerak-gerakkan sepasang telinga yang panjang dan main­kan bola mata yang bening lebar. Ada kalanya ia berloncatan gembira meniru burung kecil yang berloncatan di daun-daun sambil berkicau.

Tiba-tiba Lin Lin terkejut mendengar suara orang tertawa. Karena ia amat gembira dan memperhatikan burung-burung di atas pohon, tidak diketahuinya bahwa sejak tadi ada dua orang laki-laki mem­perhatikannya. Dua orang laki-laki itu kini menghadang di depannya sambil tertawa. Ketika Lin Lin memandang, kiranya mereka adalah dua orang pendeta yang berkepala gundul. Dua orang hwesio yang masih muda, pakaian pendetanya bersih, gundul kepalanya kurang bersih, karena sudah mulai ditumbuhi rambut baru, sikap mereka riang dan wajah me­reka berseri gembira, sama sekali tidak patut menjadi wajah pendeta yang biasa­nya serius dan alim. Melihat bahwa yang tertawa adalah dua orang pendeta, Lin Lin tersenyum. Pendeta-pendeta tidak perlu ditakuti dan kegembiraannya tim­bul kembali.

“Selamat pagi, Ji-wi Suhu (Bapak Pendeta Berdua)!” serunya riang. “Pagi yang indah sekali, bukan?”

Dua orang hwesio itu saling pandang, dan tertawa lebar. Seorang di antara mereka, yang alis matanya tebal, maju selangkah. “Selamat pagi. Memang pagi yang indah sekali, agaknya karena ada Nona yang cantik manis maka suasana begini menyenangkan. Siapakah nama Nona? Kami berdua senang sekali dapat berkenalan dengan Nona cantik jelita. Bukankah begitu, Suheng (Kakak Seperguruan)?”

Hwesio ke dua mengangguk-angguk dan mulutnya menyeringai, memperlihat­kan gigi besar-besar berwarna kuning. “Memang betul, dan hari ini kita tidak perlu tergesa-gesa kembali ke kelenteng, lebih senang main-main dengan Nona ini di sini.”

Seketika keriangan Lin Lin lenyap, terganti oleh kemarahan yang membuat kedua pipinya menjadi merah, sepasang matanya yang bening seakan-akan mengeluarkan sinar berapi. “Ihhh, kalian ini dua orang bajingan yang menyamar se­bagai pendeta, ataukah pendeta-pendeta yang kemasukan iblis? Bagaimana dua orang gundul berpakaian pendeta begini kurang ajar? Minggir, biarkan aku lewat, aku tidak sudi bicara dengan kalian lagi!”

“Ho-ho-hooo, nanti dulu, Manis!” Si Alis Tebal cepat membentangkan kedua lengannya menghadang di tengah jalan. “Bukan kebetulan kita saling bertemu di sini, agaknya memang antara kita bertiga sudah ada jodoh! Kalau tergesa-gesa mau pergi juga, harus memberi ciuman dulu kepada kami, seorang tiga kali. Bukankah begitu, Suheng?”

“Ya-ya, betul itu! Di tempat sunyi begini, tak usah malu-malu, Nona!” kata Si Gigi Kuning.

“Jahanam bermulut busuk!” Lin Lin membentak, tubuhnya berkelebat dan se­kali kedua tangannya mendorong dengan jurus dari ilmu silatnya Khong-in-liu-san, dua orang hwesio itu terjengkang roboh ke kanan kiri. Kini Lin Lin yang mendapat giliran tertawa nyaring bernada penuh ejekan.

“Hi-hik, kiranya kalian hanyalah dua ekor monyet gundul yang hanya pandai pentang mulut menghina wanita!”

Dua orang hwesio muda itu kaget sekali, sama sekali tidak pernah mengira bahwa dara remaja itu dapat melakukan penyerangan yang sedemikian dahsyat dan tiba-tiba. Mereka marah sekali dan le­nyaplah keinginan hati mereka untuk mempermainkan Lin Lin, kini dengan mata merah mereka meloncat bangun, penuh nafsu menyakiti gadis ini. Gerakan mereka cepat dan tahu-tahu mereka telah melolos sebatang cambuk dari ikat pinggang. Cambuk hitam yang panjang dan melihat gerakan cambuk di tangan, dapat diduga bahwa mereka adalah ahli-ahli bermain cambuk yang mahir sekali.

“Bocah setan, berani kau main gila terhadap pinceng (aku)?” seru Si Alis Tebal.

“Sute, kita cambuki pakaiannya sam­pai ia telanjang bulat!” kata Si Gigi Kuning dengan nada gemas.

“Tar-tar-tar-tar!” dari depan dan be­lakang, dua batang cambuk itu mengeluarkan bunyi dan menyambar-nyambar di atas kepala Lin Lin. Namun seujung ram­but pun gadis ini tidak menjadi gentar. Malah kemarahannya memuncak.

“Hemmm, monyet-monyet gundul tak tahu diri. Hajaran tadi masih belum cu­kup bagi kalian, ya? Manusia-manusia berwatak kotor macam kalian kalau tidak dibasmi, hanya akan mengotorkan dunia dan mengganggu wanita saja!” Setelah berkata demikian, Lin Lin menggerakkan tangan kanan dan “srattt!” tampak sinar kuning menyilaukan mata karena Pedang Besi Kuning sudah berada di tangannya.

“Bagus, kau berani melawan? Rasakan cambukan ini!” Cambuk dari depan me­nyambar, disusul cambuk dari belakang dan di lain saat tubuh Lin Lin sudah ter­kurung dua batang cambuk yang me­nyambar-nyambar bagaikan dua ekor ular hidup. Kiranya dua orang hwesio muda itu tidak terlalu menyombong. Permainan cambuk mereka memang hebat, cepat dan kuat sekali. Namun kali ini mereka bertemu dengan Lin Lin, yang baru saja mewarisi Ilmu Khong-in-ban-kin, ilmu yang membuat ia dapat mengerahkan gin-kang yang hebat sehingga tubuhnya berubah ringan dan cepat laksana gerakan seekor burung walet. Betapapun cepatnya dua batang cambuk itu melecut dan menyam­bar, tubuh Lin Lin lebih cepat lagi ber­gerak, berkelebat di antara sambaran cambuk diselimuti gulungan sinar kuning dari pedangnya.

Memang hebat sekaii Lin Lin setelah ia mewarisi ilmu dari Kim-lun Seng-jin. Apalagi di tangannya sekarang ada se­batahg pedang pusaka terbuat daripada besi aji yang amat ampuh. Dengan sinar yang menyilaukan mata, pedangnya berkelebat dan.... dua orang hwesio muda itu berteriak kesakitan ketika cambuk-cambuk di tangan mereka itu putus se­mua berikut ujung lengan baju dan se­bagian daripada kulit dan daging lengan mereka, semua terbabat oleh sinar pe­dang yang menyilaukan dan berhawa dingin itu! Tentu saja mereka terkejut dan ketakutan, lalu melarikan diri sambil memegangi kepala seakan-akan merasa khawatir kalau-kalau kepala mereka pun akan terbabat putus!

“Bagus sekali. Benar-benar kiam-hoat (ilmu pedang) yang amat indah dan lihai!”

Lin Lin cepat menengok. Kiranya tak jauh dari tempat pertempuran itu tampak seorang laki-laki muda duduk di atas punggung kudanya. Pemuda ini berusia dua puluh tahun lebih, bermuka bundar dengan jidat lebar, sepasang matanya lebar den menyinarkan kejujuran, alisnya tebal, hidungnya agak pesek, mulutnya membayangkan keramahan. Biarpun bukan wajah yang dapat disebut tampan, namun ia tidak buruk rupa, bahkan wajahya yang sederhana ini menyenangkan hati orang. Pakaiannya pun sederhana dan bersih, rambutnya digelung ke atas den dibungkus sutera berkembang. Gagang sebuah pedang yang tampak menandakan bahwa ia pun seorang yang tidak asing akan senjata tajam. Juga bentuk tubuh­nya yang kekar membayangkan tenaga besar.

Lin Lin masih marah. Sehabis ber­temu dengan dua orang hwesio muda yang bermulut kotor dan lancang tadi, ia mempunyai prasangka buruk terhadap pemuda ini. Kalau laki-laki yang sudah menjadi hwesio-hwesio saja seperti tadi kurang ajarnya, apalagi yang masih muda seperti ini! Dengan muka merah den mulut cemberut ia membalikkan tubuh menghadapi pemuda itu, lalu menghardik.

“Memang kiam-hoatku indah den lihai, juga pedangku ini cukup tajam untuk memenggal leher setiap orang laki-laki ceriwis den kurang ajar! Kau mau apa ikut campur?”

Ada semenit pemuda itu melongo. Matanya yang lebar itu makin melebar ketika ia memandang Lin Lin. Terbayang pada matanya itu kekaguman luar biasa den sesungguhnya, ia memang kagum se­kali setelah dara ini sekarang menghadapi­nya. Wajah Lin Lin seakan-akan menyihirnya, membuat jantungnya jungkir balik dan kepalanya puyeng, matanya ber­kunang-kunang. Belum pernah selama hi­dupnya ia melihat seorang dara seperti ini, dan belum pernah ia mengalami gun­cangan seperti ini pula menghadapi se­orang gadis.

Lin Lin makin tidak sabar. Agaknya laki-laki ini kurang ajar pula, duduk di atas punggung kuda dan memandangnya tanpa berkata apa-apa, memandangnya tanpa berkedip. Ia membanting kaki dan memaki, “Apa kaukira aku ini barang tontonan maka matamu melotot terus memandangku?”

Pemuda itu tersenyum. “Bukan barang tontonan, Nona, akan tetapi tidak ada tontonan yang lebih indah, lebih mempesona, lebih....”

“Kau lebih kurang ajar lagi!” bentak Lin Lin dan tubuhnya sudah melesat ke depan sambil mengirim serangan dengan pedangnya.

“Uiiihhhhh, ganas....!” pemuda itu cepat sekali membuang diri dari atas punggung kuda, berjumpalitan beberapa kali dan ketika kedua kakinya sudah berdiri di atas tanah, ternyata ia telah mencabut pedangnya yang berkilauan seperti perak. “Baiklah, Nona. Kalau kau ingin mencoba kepandaian, mari kulayani. Agaknya kau murid orang pandai dan patut menjadi lawanku bertanding pedang.” Ia melambaikan tangan kiri menantang.

Dari gerakan pemuda tadi yang amat mengagumkan hati Lin Lin, gadis inipun maklum bahwa lawannya kali ini bukan­lah seorang sembarangan, bukan macam dua orang hwesio tadi. Akan tetapi ia tidak takut! Dan perasaannya ini ia ke­luarkan melalui bibirnya yang merah, “Biar ada sepuluh orang macam engkau, aku tidak gentar!”

“Ha-ha-ha, ada satu saja orang ma­cam aku sudah terlalu repot bagimu, apalagi ada sepuluh orang!” pemuda itu berkelakar, akan tetapi ia harus cepat-cepat menggerakkan pedangnya menang­kis karena dengan gerakan seperti seekor burung walet, gadis itu sudah menerjangnya.

“Trang-trang-tranggggg....!” Tiga kali pedang mereka saling beradu, menimbul­kan bunga api yang muncrat ke sana-sini. Keduanya cepat menarik pedang masing-masing dan lega hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa pe­dang mereka tidak rusak oleh pertemuan keras lawan keras tadi. Masing-masing ­kagum dan juga kaget. Apalagi Lin Lin. Tadi ia sudah mengerahkan tenaga Khong-in-ban-kin, dan ia maklum bahwa tenaga yang terdapat dalam ilmu ini luar biasa besarnya. Tadi ia gunakan sedikit saja untuk menghadapi dua orang hwesio, sekali babat saja cambuk-cambuk itu putus semua. Sekarang ia pergunakan tenaga ilmu ini dalam mengadu pedang, sedangkan di tangannya adalah pedang pusaka pula, mengapa pedang lawannya tidak menjadi rusak dan tidak terpental? Ini hanya menjadi bukti bahwa pemuda pesek ini selain memiliki pedang yang ampuh juga memiliki kepandaian tinggi, dapat melawan terjangan tenaga Khong-in-ban-kin. Apakah kakek gundul pelontos Kim-lun Seng-jin yang membohonginya dan membual tentang kelihaian Khong-in-ban-kin? Kakek itu bilang bahwa ja­rang ada lawan yang akan dapat mengimbangi kecepatan dan kekuatan tenaga dalamnya kalau ia mengerahkan Khong-in-ban-kin, akan tetapi sekarang, baru saja bertemu dengan seorang pemuda pesek, ilmunya itu seakan-akan tiada artinya lagi.

Di lain fihak, Si Pemuda juga kaget dan tercengang di samping kekagumannya yang menjadi-jadi. Tadinya ia mengira bahwa dara lincah itu hanya memiliki gerakan yang amat cepat dan ilmu pe­dang yang tinggi saja, maka dengan mu­dah dapat mengalahkan dua orang hwe­sio kurang ajar tadi. Siapa kira, dalam pertemuan pedang tadi ia mendapat ke­nyataan bahwa dalam hal tenaga, gadis itu tidak usah mengaku kalah terhadap­nya, juga pedang di tangannya itu adalah pedang ampuh yang dapat menahan pu­sakanya sendiri. Padahal pusakanya ini adalah pedang Goat-kong-kiam (Pedang Sinar Bulan) yang jarang bandingannya, pedang pusaka pemberian suhunya.

“Wah karena pedangmu ampuh kau jadi sombong, ya? Awas lehermu!” Lin Lin membentak dan segera gadis ini mainkan Khong-in-liu-san untuk mener­jang lawannya. Hebat terjangannya ini, pedangnya berubah menjadi sinar kuning bergulung-gulung, makin lama makin tebal merupakan segunduk awan bergerak perlahan mengurung diri pemuda itu dari segala jurusan.

Pemuda itu mengeluarkan seruan tertahan. Benar-benar tak disangkanya gadis ini sedemikian lihainya. Ia pun lalu ber­silat dengan pedangnya, ilmu silat yang aneh, gerakan-gerakannya lucu dengan tubuh megal-megol seperti seorang pe­lawak beraksi di atas panggung wayang. Hampir saja Lin Lin tak dapat menahan ketawanya menyaksikan gerakan aneh dan lucu ini. Akan tetapi ia pun terheran-heran karena ke manapun juga pedangnya menyambar, selalu dapat dielakkan atau ditangkis oleh pemuda yang gerak-gerik­nya aneh ini. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pemuda itu banyak mengalah, hanya mempertahankan diri daripada serangan-serangannya yang dahsyat, tidak berusaha membalas sungguh-sungguh. Memang pemuda itu tidak ingin meroboh­kan Lin Lin, kekagumannya terhadap gadis itu membuat ia mengalah dan ha­nya ingin menguji kepandaian orang.

“Hebat...., hebat.... kiam-hoat yang luar biasa!” berkali-kali pemuda itu me­muji. Akan tetapi, makin dipuji makin marahlah Lin Lin karena pujian itu ia anggap sebagai ejekan. Mana bisa ilmu pedangnya dipuji kalau sama sekali tidak mampu mendesak lawan?

“Balaslah! Seranglah! Kaukira aku takut? Kalau kau bisa mengalahkan aku, baru kau laki-laki sejati!” Ia menantang. Ia berbesar hati karena ia memiliki ilmu Khong-in-ban-kin dan dengan ilmu ini ia dapat menggunakan gin-kang yang sem­purna sehingga ia tidak khawatir akan termakan pedang lawan.

Seperempat jam sudah mereka bertanding. Kuda tunggangan pemuda itu menjadi gelisah, berkali-kali meringkik ketakutan. Pemuda itu gemas juga. Gadis ini amat menarik hatinya, dan ia tidak tega untuk merobohkan atau mengalah­kannya. Akan tetapi kalau tidak “diberi rasa”, tentu tidak tahu akan kelihaian­nya, demikian ia pikir, bangkit harga dirinya sebagai seorang laki-laki.

“Baiklah, Nona, lihat pedangku!” Ia memutar pedangnya cepat sekali dan mengerahkan tenaga untuk mendesak dan menindih gulungan sinar pedang lawan.

Memang hebat pemuda ini. Amat kuat tenaga desakan hawa dan sinar pedangnya, mengejutkan hati Lin Lin. Namun cepat gadis ini menggunakan Khong-in-ban-kin, tubuhnya begitu seakan-akan bayangan, dengan lincahnya ia menyelinap di antara sinar pedang. Sungguhpun harus ia akui bahwa semua serangannya sekarang gagal dan buyar, tidak ada kesempatan lagi, namun ia tetap dapat mempertahankan diri daripada desakan lawan. Makin keras pemuda itu menekan, makin lincah gerakan Lin Lin sehingga pemuda itu selain kaget juga heran dan bingung. Tahulah ia sekarang bahwa dara lincah ini adalah murid seorang sakti, karena hanya beberapa orang saja di dunia kang-ouw, boleh dihitung dengan jari jumlahnya, yang akan dapat menghindarkan diri daripada tekanan pedangnya seperti ini.

Pada saat itu, terdengar bentakan keras, “Susiok (Paman Guru), inilah iblis betina liar itu!”

“Hemmm, hemmm, agaknya meng­andalkan kecantikannya. Lihat pinceng menangkapnya!”

“Mari kita berlumba, Sute, aku pun timbul kegembiraan hendak menangkap gadis liar ini!” sambung suara ke dua.

“Hee, Sicu (Orang Gagah), harap mun­dur. Biarkan pinceng berdua main-main dengan budak ini!”

Pemuda itu dan Lin Lin biarpun ma­sih saling gempur, otomatis kini mengen­durkan gerakan dan melirik. Kiranya yang datang adalah dua orang hwesio muda yang tadi, yang berdiri agak jauh, akan tetapi kini mereka datang bersama dua orang hwesio setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan keduanya me­megang sebatang tongkat hwesio yang panjang dan terbuat daripada baja. Kedua orang hwesio ini sombong sekali lagaknya dan agaknya mereka memandang rendah kepada pemuda itu dan Lin Lin.

Tanpa memberi kesempatan lagi, dua orang hwesio setengah tua itu menerjang maju dari kanan kiri mengeroyok Lin Lin! Benar-benar tak tahu malu, pikir Lin Lin, suaranya saja hendak berlumba untuk menangkapnya, kiranya mereka itu hanya ingin mengeroyok mengandalkan senjata yang panjang dan berat. Mana ada orang yang hendak “menangkap” menggunakan tongkat yang begitu pan­jang dan berat?

Akan tetapi ketika ia mengayun pe­dang dengan putaran lebar, sekaligus me­nangkis dua batang tongkat itu, terde­ngar suara keras, bunga api berpijar dan Lin Lin merasa betapa telapak tangannya tergetar. Ia kaget dan diam-diam ia mengeluh. Kiranya di samping kesombongan mereka, dua orang hwesio ini me­miliki tenaga lwee-kang yang hebat! Ce­pat ia menggerakkan tubuh dan dengan mengandalkan kelincahannya, kini ia menghadapi dua orang pengeroyoknya, lupa bahwa lawan lamanya, pemuda itu, kini berdiri menonton dan tidak menye­rangnya lagi.

“Tahan senjata! Melihat gerakan, Ji-wi Suhu adalah hwesio-hwesio Siauw-lim. Betulkah?”

Dua orang hwesio setengah tua itu melompat mundur, menahan tongkat me­reka lalu memandang pemuda itu. Lin Lin tidak peduli, akan tetapi ia pun ti­dak sudi menyerang orang yang menarik senjatanya, maka dengan pedang melin­tang di depan dada, ia hanya memandang, sikapnya gagah.

“Kami memang betul hwesio-hwesio Siauw-lim. Kau siapakah, Sicu, dan apa yang hendak kaukatakan kepada kami?”

Pemuda itu mengerutkan keningnya. “Siauw-lim-pai adalah partai persilatan yang selalu menjunjung kebenaran dan keadilan, yang selalu bersih dan terkenal sebagai pusat orang-orang beribadat yang berilmu tinggi. Akan tetapi mengapa Ji-wi Suhu datang-datang menyerang se­orang wanita?”

“Gadis liar ini menghina murid-murid keponakan kami!”

“Hemmm, pemutarbalikan fakta yang menjijikkan! Adalah dua orang hwesio itulah yang kurang ajar, mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan terhadap wanita terhormat. Ji-wi Suhu akan mem­bersihkan nama partai kalau sekarang juga memberi hukuman kepada murid-murid sendiri, daripada menyerang orang yang tidak berdosa.”

“Orang muda, kau siapakah, berani bicara lancang, memberi kuliah kepada kami?”

Pemuda itu tersenyum. “Aku she Lie bernama Bok Liong, orang biasa saja. Akan tetapi aku mengenal baik Cheng Han Losuhu, dan pedangku Goat-kong-kiam ini selalu menghendaki kebenaran dibela oleh orang-orang gagah.”

Cheng Han Hwesio adalah ketua Siauw-lim-pai, maka mendengar disebut­nya nama ini, kedua orang hwesio itu menjadi kaget sekali. Mereka khawatir kalau-kalau pemuda ini akan mengadu, dan memang akhir-akhir ini banyak sekali anak buah para hwesio yang tersesat, mabuk oleh kesenangan duniawi dan mempergunakan kesempatan selagi negara kacau dan ketua dari pusat tidak sempat melakukan pengawasan, mereka mengum­bar nafsu jahatnya. Terutama sekali yang menimbulkan keadaan memalukan dan buruk ini adalah para penjahat dan pelarian yang menyembunyikan diri dengan jalan mencukur rambutnya dan memakai jubah pendeta, tinggal bersembunyi di kelenteng-kelenteng. Merekalah yang menjadi “guru” dan menyeret para hwesio muda yang belum teguh batinnya dan masih lemah imannya ke jalan sesat. Dua orang hwesio ini hanya merupakan kepala dari sebuah kelenteng kecil, sudah terlalu lama berkecimpung di dalam ke­duniaan, maka hanya pada lahirnya saja seperti pendeta, namun batinnya sudah menjadi penjahat-penjahat hamba nafsu buruk.

“Keparat, kau benar kurang ajar! Kaukira kami takut padamu? Sute, kau­hajar dia ini, biar pinceng menangkap Nona liar. Kalau tidak diberi hajaran, tidak akan kapok orang-orang muda kepala batu ini!”

Dua orang hwesio Siauw-lim-pai itu terlalu memandang rendah orang muda. Mereka mengandalkan kepandaian yang tinggi dan senjata tongkat yang berat, pula, memang ilmu tongkat atau ilmu toya dari Siauw-lim-pai amat terkenal kuat. Namun, pemuda itu adalah murid orang sakti, juga Lin Lin telah menerima gemblengan dari seorang sakti yang ting­katnya sejajar dengan ketua Siauw-lim-pai di pusat sendiri! Maka kalau mau dibuat perbandingan, tingkat dua orang hwesio itu masih jauh di bawah.

“Aku tidak ingin kaubantu!” seru Lin Lin sambil menggerakkan pedang meng­hadapi serangan seorang hwesio.

“Siapa membantumu, Nona? Aku pun diserang oleh hwesio palsu ini!” jawab pemuda yang bernama Lie Bok Liong itu sambil menggerakkan pedang pula menan­dingi lawannya.

Pertempuran seru terjadi, terpecah menjadi dua. “Nona, adu ilmu antara kita boleh ditentukan sekarang. Siapa yang lebih dulu mengalahkan lawan, dia yang lebih unggul antara kita!” pemuda itu berseru.

“Baik, seorang laki-laki tidak melanggar janjinya!” seru Lin Lin girang. Gadis ini sebentar saja dapat melihat kelemah­an lawan dan ia yakin akan dapat me­robohkannya dalam waktu cepat, maka usul pemuda itu diterimanya dengan gi­rang. Melihat tongkat itu menyodok ke arah dadanya, Lin Lin sengaja berlaku lambat, membiarkan lawan lengah dan kegirangan. Beberapa senti meter se­belum ujung tongkat mengenai dadanya, tiba-tiba ia miringkan tubuhnya meng­gunakan jurus Pek-wan-hian-ko (Lutung Putih Berikan Buah) dari ilmu silat ayah­nya, tangan kirinya menangkis dengan jari-jari terbuka, dan pedangnya bergerak cepat ke depan. Inilah gerakan dari Khong-in-liu-san, yang tidak terduga dan amat cepat datangnya. Hwesio lawannya itu menjerit kesakitan, tongkatnya terlepas dan pangkal lengannya terobek pedang sampai kelihatan tulangnya.

Sambil tersenyum manis tapi penuh ejekan, Lin Lin membalikkan tubuh me­mandang ke arah pemuda pesek itu, siap untuk mengejek dan berbangga akan ke­menangannya. Akan tetapi tiba-tiba wa­jahnya berubah merah sekali. Apa yang dilihatnya? Pemuda itu ternyata sudah lebih dulu merobohkan lawannya, hwesio lawan pemuda itu sudah rebah dengan pundak berdarah!

Akan tetapi pemuda itu berkata, “Nona, kita berhasil dalam waktu yang sa­ma. Hayo kita berlumba merobohkan dua orang hwesio ceriwis itu!”

Lin Lin melihat betapa hwesio muda yang dua orang tadi telah melarikan diri tunggang-langgang melihat betapa kedua orang paman guru mereka telah roboh! Karena dua orang hwesio muda itu yang menjadi biang keladi pertempuran, dan dua orang hwesio itu yang sebenarnya amat kurang ajar, Lin Lin menjadi marah sekali dan tubuhnya berkelebat melaku­kan pengejaran. Ia melihat sesosok ba­yangan dengan cepat juga berkelebat di sampingnya. Tahu bahwa pemuda pesek itu tidak mau kalah, Lin Lin mengerah­kan gin-kangnya dan di lain saat ia sudah tiba di belakang dua orang hwesio itu. Pedangnya menyambar dan dua orang hwesio itu menjerit, roboh terguling. Dua orang hwesio muda itu terluka pahanya.

Karena menganggap bahwa dua orang hwesio itu jahat sekali, Lin Lin kembali menggerakkan pedang hendak membunuh mereka.

“Tranggg!” Bunga api berpijar ketika pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Lie Bok Liong.

“Nona, harap jangan bunuh mereka. Mereka adalah hwesio-hwesio Siauw-lim!”

“Hwesio Siauw-lim atau hwesio-hwesio langit, siapa takut? Mereka ini jahat, kalau hwesio-hwesio tua Siauw-lim-pai membela mereka, berarti mereka pun jahat!”

“Omitohud.... kasar akan tetapi harus diakui kebenarannya....” terdengar seruan suara halus dan tahu-tahu di depan me­reka telah berdiri seorang hwesio tua yang putih semua jenggotnya, akan tetapi mukanya masih segar kemerahan seperti seorang muda. Hwesio ini berjubah ku­ning, memegang sebuah tongkat pendeta dan sinar matanya berpengaruh penuh wibawa. Melihat hwesio ini, Lie Bok Liong segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.

“Cheng Hie Losuhu! Kebetulan sekali Losuhu datang. Kami dua orang muda telah berselisih faham dengan beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai, harap Losuhu memberi kebijaksanaan.”

Hwesio tua itu tertawa perlahan. “Lie-sicu tak perlu bersikap sungkan. Pinceng (aku) yang tua sudah melihat dan mendengar semua. Memang sudah pinceng dengar kenakalan empat orang anak murid ini, akan tetapi baru se­karang pinceng melihat buktinya.” Kemudian ia mengalihkan pandang mata kepada Lin Lin dan berkata, “Nona, ke­pandaianmu hebat bagi seorang semuda Nona. Memang pantas sekali Pedang Besi Kuning berada di tanganmu! Dua orang anak murid Siauw-lim-pai yang durhaka ini telah melakukan kesalahan kepadamu, harap Nona sudi memberi maaf, biar pinceng nanti yang akan menghukum mereka.”

Lin Lin kaget bukan main. Hwesio tua ini dapat mengetahui segalanya, bah­kan tahu pula tentang pedangnya, pedang curian dari gudang istana. Tentu seorang yang berilmu tinggi, pikirnya. Ia me­mang marah kepada dua orang hwesio yang kurang ajar itu, akan tetapi sekarang sudah ada pentolan Siauw-lim-pai yang mengurus dan hendak meng­hukum, hatinya puas.

“Terserah kepada Losuhu. Aku percaya Losuhu akan benar-benar memberi hukuman berat, kalau tidak, berarti Lo­suhu membantu orang jahat!”

Muka hwesio tua itu berubah agak pucat, akan tetapi ia hanya tertawa dan menjura. Lie Bok Liong lalu mengajak Lin Lin pergi, “Marilah, setelah ada Cheng Hie Losuhu, tentu mereka akan mendapat bagian mereka. Cheng Hie Losuhu terkenal sebagai pengawal tindak-tanduk dan sepak terjang para anak mu­rid Siauw-lim-pai dan dunia kang-ouw mengenal belaka kebijaksanaan dan ke­adilannya. Losuhu, perkenankan kami pergi.”

Cheng Hie Hwesio menggerakkan tangannya, mengangguk-angguk. “Pergilah.... pergilah dengan hati-hati, orang-orang muda. Doa restu dan berkahku mengiringi kalian berdua....”

Lin Lin tercengang, hendak marah kepada pemuda pesek itu. Enak saja, pikirnya, ajak-ajak seakan-akan dia itu memang teman seperjalanan. Kenal pun tidak! Akan tetapip melihat sikap hwesio yang amat halus dan baik itu, tak enak hatinya menimbulkan ribut di depannya. Ia pun mengangguk dan berjalan pergi bersama Lie Bok Liong yang menuntun kudanya.

Sampai lama mereka jalan berendeng, diam saja, tidak berkata-kata, juga saling lirik saja tidak. Seakan-akan mereka saling tidak ingat lagi bahwa di sebelah mereka berjalan seorang lain. Tentu saja tidak demikian hal yang sebetulnya. Bok Liong sekaligus terbetot semangatnya oleh gadis lincah ini, dan ia berjalan sambil merenung, terheran-heran atas perubahan di dalam hatinya sendiri, meng­apa ia merasakan hal yang aneh ini, hal yang selama ia hidup belum pernah ia rasai. Adapun Lin Lin, ia sedang me­ngumpul-ngumpulkan kata-kata untuk menyerang pemuda pesek lancang ini nanti setelah mereka jauh dari hwesio tua tadi.

Setelah mereka keluar dari dalam hutan dan berada di jalan yang sunyi sekali, tiba-tiba Lin Lin berhenti dan berkata ketus, “Nah, sekarang tidak ada siapa-siapa yang akan menghalangi kita membuat perhitungan!”

Pemuda itu seakan-akan baru sadar dari alam mimpi. Ia menengok dan me­mandang dengan kaget. “Perhitungan? Perhitungan apa, Nona?”

“Perhitungan apa? Pura-pura tanya lagi. Kau tadi mengajak adu cepat berlumba merobohkan dua orang hwesio ceriwis. Siapa yang menang? Aku! Lalu hwesio tua Siauw-lim-pai tadi memuji-muji dan minta maaf. Memuji siapa dan minta maaf kepada siapa? Aku! Tapi kau memerintah aku ikut denganmu! Som­bong!”

Bok Liong cepat menjura, sikapnya sungguh-sungguh. “Nona, harap kau tidak main-main lagi. Maafkanlah kalau sikap dan kata-kataku pernah menyinggungmu. Aku Lie Bok Liong adalah seorang laki-laki sejati, dan kulihat sepak terjangmu membuktikan bahwa kau seorang pende­kar wanita yang mengagumkan. Oleh karena itu, terimalah hormatku, Nona, dan sampai mati aku tidak nanti berani mengangkat senjata terhadapmu lagi. Aku mengaku kalah dan menyerah.”

Watak Lin Lin memang aneh. Dalam segala hal ia selalu tidak mau kalah. Kalau orang bersikap keras terhadapnya, ia tidak mau kalah keras, kalau orang galak, ia akan lebih galak lagi. Kini Bok Liong bersikap merendah dan mengalah dengan suara sungguh-sungguh dan wajah serius, ia pun tidak mau kalah!

“Nah, kau sih yang sombong tadinya. Padahal aku juga tidak mempunyai per­musuhan apa-apa dengan orang seperti kau ini. Aku tahu kau bukan orang jahat, tapi, kalau aku tidak bersikap keras, orang takkan mengetahui kelihaianku. Nah, kau pun kuminta maklum saja kalau tadi aku bersikap kaku. Betapapun juga, kau telah membantuku menghadapi hwe­sio-hwesio kotor tadi.”

Jantung Bok Liong berdebar-debar. Alangkah girangnya melihat bahwa nona yang lincah galak ini kiranya dapat juga bicara dengan baik. Ia menahan senyumnya dan berkata lagi.

“Nona, terima kasih atas pengertian­mu. Kita menjadi sahabat, hal yang amat kuinginkan semenjak aku melihat kau menghajar hwesio-hwesio ceriwis di hutan itu. Sekali lagi, namaku Lie Bok Liong, biarpun bukan seorang tokoh besar di dunia kang-ouw, akan tetapi aku menge­nal hampir semua tokoh kang-ouw, ke­cuali tokoh-tokoh besar yang masih muda seperti kau. Bolehkah aku mengetahui nama dan julukanmu? Terus terang saja, aku yang banyak mengenal ilmu silat, tahu akan dasar-dasar gerakan ilmu silat dari Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai dan banyak partai per­silatan lain lagi, sama sekali buta akan ilmu silatmu yang luar biasa tadi, Nona.”

Lin Lin merasa diayun-ayun di atas awan saking bangga dan girangnya men­dengar kata-kata pujian yang keluar se­jujurnya dari mulut pemuda itu. Setelah ia pandang-pandang, pemuda berhidung pesek ini, wajahnya menarik dan me­nyenangkan hati juga, sikapnya jujur dan sopan tapi tidak bermuka-muka atau menjilat, sikap sewajarnya dari seorang yang memasang isi hati pada wajahnya.

Timbul rasa suka di hatinya disertai kepercayaan besar. Apalagi tadi ia mendengar bahwa Bok Liong ini mengenal hampir semua tokoh kang-ouw. Siapa tahu pemuda ini bisa memberitahu kepadanya tentang Suling Emas, atau mungkin juga tentang kakaknya, Bu Song. Wajahnya seketika berseri, matanya bersinar-sinar, bibirnya yang manis itu tersenyum sehingga pemuda itu merasa betapa tiba-tiba kedua lutut kakinya lemas dan gemetar!

Memang hebat daya pengaruh asmara yang mulai menggerogoti jantung seorang pemuda. Hanya si pemuda yang bersangkutan sendiri yang dapat merasakannya. Kalau seorang pemuda sedang bercinta, terutama sekali kalau mulai jatuh cinta, segala sesuatu pada diri dara yang dicintainya tampak hebat luar biasa. Kerling mata yang tajam melebihi pedang pusaka langsung menusuk dada menembus punggung! Senyum sepasang bibir merah membasah bagaikan seribu manis dari madu yang memabukkan dan mem­buat kepalanya pening tujuh keliling dengan mata berkunang-kunang! Kilauan gigi putih berderet rapi yang hanya tam­pak sekilas di balik sepasang bibir segar, lebih ampuh daripada sinar petir yang langsung menyambar kepala memasuki tubuh menyelusup ke seluruh tulang sum­sum! Tidaklah terlalu mengherankan apa­bila Bok Lieng berdiri dengan kedua lutut gemetar ketika ia menghadapi wa­jah Lin Lin yang berseri-seri itu.

“Kaukira aku seorang yang buta?” demikian Lin Lin mulai kata-katanya yang kini terdengar manis, hilang sama sekali ketusnya. “Aku pun sekali ber­temu saja tahu bahwa kau bukan orang jahat, akan tetapi aku harus yakin dulu. Twako.... ya, lebih baik kusebut kau Twako (Kakak), karena kau tentu lebih tua daripada Sin-ko (Kakak Sin). Eh, berapa sih usiamu?”

Mau tak mau Bok Liong tersenyum, setelah gadis ini bersikap jenaka seperti ini, ia merasa betapa sinar matahari menjadi lebih terang daripada tadi. “Usiaku hampir dua puluh dua tahun.”

“Nah, betul dugaanku. Sin-ko baru dua puluh tahun, aku sendiri baru tujuh belas. Sampai di mana aku tadi? Oya, tentang nama. Namaku Lin Lin, she.... Kam.”

“Kam Lin Lin.... indah benar namamu, Nona.”

“Wah, kalau kau masih menyebut nona-nonaan segala, aku pun akan me­nyebutmu dengan tuan-tuanan. Bagai­mana pendapatmu, Tuan Besar?”

Bok Liong tertawa bergelak, kemudian terheran. Seingatnya, baru kali inilah ia dapat tertawa sampai begitu keras, sam­pai basah kedua matanya. Benar-benar mengherankan. Apa yang terjadi dengan dirinya?

“Habis, aku harus menyebut bagaimana? Ah, kau betul. Kau menyebutku Twako, kalau begitu kau adikku, Moi-moi.”

“Nah, begitu baru enak bicara. Ter­hadap seorang tuan mana aku sudi meng­obrol begini? Lain lagi kalau terhadap seorang kakak....”

“Maksudmu, terhadap seorang sahabat baik seperti kakak sendiri,” potong Bok Liong.

“Sama saja, apa bedanya? Twako, kulihat tadi ilmu silatmu juga hebat sekali. Siapakah gurumu?”

Kalau orang lain yang menanyakan hal ini, tentu Bok Liong takkan mau menerangkannya. Selama ia berkecimpung di dunia kang-ouw, hanya beberapa orang tokoh besar saja yang tahu murid siapa pemuda lihai ini. Akan tetapi terhadap Lin Lin yang sekaligus sudah merobohkan jantung menawan hatinya, ia tidak berani berbohong, apalagi tidak menjawab. Ia takut kalau-kalau gadis yang sekarang sudah “jinak” dan baik kepadanya ini akan mengamuk lagi dan memusuhinya. Tidak ada malapetaka baginya di saat itu yang akan lebih besar dan hebat daripada dimusuhi Lin Lin!

“Nona.... eh, Lin-moi (Adik Lin). Guruku terkenal dengan namanya yang sederhana sekali, malah sesungguhnya, orang lain termasuk aku sendiri tak pernah mengenal namanya karena ia hanya memperkenalkan she (nama keturunan) yaitu she Gan. Karena inilah maka di dunia kang-ouw ia dikenal se­bagai Gan-lopek (Empat Tua Gan)!”

Senyum di bibir Lin Lin melebar. “Gan-lopek? Hi-hik! Badut tak pernah mandi yang pantatnya besar, kumis dan jenggotnya dijadikan sarang semut, paling takut melihat cacing dan ular? Hi-hi-hik, geli hatiku kalau mengenangkan dia!” Lin Lin menutupi mulut dengan tangan kiri untuk menyembunyikan tawanya.

***

Bok Liong membelalakkan kedua matanya yang lebar, “Apa? Kau pernah melihat Suhu?”

Lin Lin menggeleng kepala, menahan kekehnya. Agak lama baru dia dapat bicara. “Aku hanya mendengar ceritanya dari kakek gundul pacul. Wah, kakek dan aku tertawa-tawa sampai perutku menjadi keras dan kakek jatuh terguling dari atas cabang pohon.” Kembali Lin Lin tertawa terkekeh-kekeh dan diam-diam Bok Liong menjadi tak senang hatinya karena merasa betapa suhunya, orang yang ia anggap paling hebat di dunia ini, menjadi buah tertawaan, sungguhpun ia cukup mengenal suhunya sebagai orang yang luar biasa anehnya dan kadang-kadang membuat lelucon yang luar biasa.

“Hemmm, kau pernah mendengar cerita tentang Suhu? Dan kakek gundul pacul yang menceritakan itu, apakah dia jatuh dari cabang pohon terus mati?”

Tiba-tiba suara ketawa Lin Lin ter­henti. “Dia? Mati jatuh dari cabang? Ah, Twako, kau benar-benar tidak mengenal dia. Dialah yang menurunkan ilmu SERBA KOSONG kepadaku, dia orang sakti se­perti dewa. Mana bisa mati jatuh dari cabang?”

Bok Liong benar-benar tidak mengerti. Luar biasa sekali dara ini, pikirnya. Ka­lau kakek gundul pacul itu mengajar ilmu, berarti kakek itu guru si nona. Akan tetapi kenapa nona ini menyebut­nya gundul pacul, sebutan yang seakan-akan mengejek dan memandang rendah?

“Ah, kalau begitu beliau seorang sak­ti? Siapakah beliau itu, atau kau juga tidak tahu namanya?”

“Tentu saja aku tahu. Dia disebut Kim-lun Seng-jin.... eh, kenapa kau, Liong-twako (Kakak Liong)?” Lin Lin heran melihat pemuda itu meloncat se­perti dipagut ular dan matanya menjadi amat bundar dan lebar.

“Kim-lun Seng-jin? Beliau itu gurumukah?” tanya Bok Liong.

Kembali Lin Lin menggeleng kepala. “Bukan! Bukan guruku. Dia sahabat baik­ku.”

Makin heranlah Bok Liong. Masa, kakek sakti yang amat terkenal di dunia ini yang tingkatnya sekelas dengan guru­nya, menjadi sahabat baik gadis ini?

“Tapi kau bilang tadi bahwa kau me­nerima ilmu dari padanya. Kan itu ber­arti bahwa dia gurumu.”

“Bukan! Hanya kenalan biasa saja. Tapi ilmunya SERBA KOSONG memang boleh juga.” Lin Lin bersikap seakan-akan hal itu merupakan hal yang “bukan apa-apa” baginya, sikap ini sengaja ia “pasang” karena melihat betapa Bok Liong terheran-heran dan agaknya amat menjunjung tinggi Kim-lun Seng-jin!

“Serba kosong! Aneh sekali nama ilmu itu. Tapi, Lin-moi, aku percaya bahwa ilmu yang diturunkan oleh Kim-lun Seng-jin tentulah hebat bukan main. Ah, ma­afkan kalau tadi aku bersikap kurang hormat. Siapa mengira bahwa kau adalah mur.... eh, sahabat baik Kim-lun Seng-jin Locianpwe (Orang Tua Gagah)? Pan­tas saja beliau bisa bercerita tentang Suhuku.”

Senang sekali hati Lin Lin, kebangga­annya bukan main sehingga ia mengang­kat dadanya yang sudah membusung. Karena senangnya, ia ingin memberi sekedar hiburan kepada Bok Liong dengan kata-kata manis. “Tapi kakek berkata bahwa biarpun Gan-lopek itu orangnya lucu dan merupakan seorang badut besar, namun kepandaiannya hebat. Maka se­karang, melihat kepandaianmu, aku per­caya akan kesaktiannya.”

Sekarang Bok Liong teringat akan matanya menatap ke arah pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin. Tadi ketika mendengar ucapan Cheng Hie Hwe­sio tentang Pedang Besi Kuning, ia amat terkejut. Ia mendengar pula tentang le­nyapnya pedang pusaka itu dari gudang pusaka istana, dan ia tadi masih ter­heran-heran bagaimana pedang itu bisa terjatuh ke tangan Lin Lin. Betapapun pandainya Lin Lin, kiranya bukanlah hal yang mudah untuk dapat memasuki istana dan mencuri sebuah pedang pusaka. Akan tetapi sekarang terbukalah rahasia itu, kalau gadis itu pergi bersama scorang sakti seperti Kim-lun Seng-jin, soal me­masuki istana dan mencuri pedang pusaka bukanlah merupakan hal yang aneh lagi. Akan tetapi, ia mulai mengenal watak Lin Lin dan karenanya ia tidak mau ber­tanya-tanya akan hal pedang itu, takut ­kalau-kalau Lin Lin akan menjadi curiga dan marah kepadanya. Sebaliknya ia lalu bertanya.

“Lin-moi, setelah kita menjadi saha­bat dan kenalan sekarang, bolehkah aku mengetahui apa yang kaukehendaki se­hingga kau seorang diri sampai berada di tempat ini? Hendak pergi ke manakah kau?”

Ini memang merupakan pertanyaan yang dinanti-nanti Lin Lin. Gadis ini sudah mengambil keputusan untuk minta bantuan Bok Liong. Kakek gundul Kim-lun Seng-jin biarpun telah mewariskan ilmu dan mengajaknya ke kota raja, ma­lah ke dalam istana dan mencuri pedang, namun tidak berhasil menolong dia mendapatkan musuh besarnya, juga kakek angkatnya. Setelah mendengar tentang sangkaan Kim-lun Seng-jin mengenal asal-usulnya dengan bangsa Khitan, makin besar keinginan hatinya untuk bertemu dengan Bu Song, karena dialah satu-satu­nya orang yang boleh diharapkan akan dapat menceritakan asal-usulnya, karena ketika ia diambil anak oleh Jenderal Kam, tentu Bu Song sudah besar dan dapat mengingat semua peristiwa di wak­tu itu.

“Liong-twako, sebelum aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, lebih dulu kau­jawablah. Apakah kau akan suka mem­bantuku?”

“Tentu saja! Dengan segala senang hati aku akan membantumu. Apakah yang dapat kulakukan untukmu, Moi-moi?”

“Tanpa syarat?”

“Eh.... tanpa syarat bagaimana? Tentu saja, aku harus mendengar dulu apa urus­anmu itu dan apa yang harus kulakukan.”

Bibir manis itu cemberut, tapi bagi Bok Liong malah tampak makin manis.

“Kalau begitu, tak usah kau membantuku. Ucapanmu itu menyatakan bah­wa tidak sepenuh hatimu kau berniat membantuku. Kalau sepenuh hati suka membantu, tentu tidak akan bertanya-tanya lagi, apa saja urusannya, akan suka membantu.”

Merah muka Bok Liong mendengar celaan ini, dan diam-diam ia harus akui bahwa ucapan gadis ini, biarpun terdengar seperti mencari menang sendiri, namun ada benarnya juga. “Baiklah, aku akan membantumu. Akan tetapi, Moi-moi, kau tentu tahu bahwa biarpun untuk kau sendiri, terpaksa aku tidak mau melaku­kan hal-hal yang berlawanan dengan ke­benaran, ringkasnya, aku tidak mau mem­bantu fihak yang melakukan kejahatan....”

Bok Liong terpaksa menghentikan kata-katanya karena seketika Lin Lin menjadi marah sekali. Gadis ini berdiri tegak, mengedikkan kepala, kedua tangan di pinggang, pandang matanya keras. “Sudahlah, kita tidak jadi bersahabat. Aku tidak sudi bersahabat dengan orang yang tidak percaya kepadaku sedangkan aku amat percaya kepadamu!” Tubuhnya membalik dan berkelebat pergi.

Bukan main kagetnya hati Bok Liong. Ia pun cepat mengerahkan gin-kangnya untuk mengejar, “Nanti dulu, Non.... eh, Moi-moi. Tunggu....! Mari kita bicara....!”

Akan tetapi Lin Lin tidak mempedulikannya, terus lari kencang. Karena ia mempergunakan gin-kang dari Khong-in-ban-kin, tentu saja larinya cepat sekali, mengalahkan kuda betina yang kabur dikejar kuda jantan. Dan Bok Liong sam­pai berkeringat karena harus mengerahkan seluruh tenaga mengejar.

“Lin-moi.... tunggu dulu....! Aku percaya padamu....!”

Lin Lin mendengar derap kaki kuda. Kiranya Bok Liong yang melihat betapa gerakan Lin Lin amat gesit dan cepat, kembali ke tempat tadi, meloncat ke atas punggung kudanya dan membalapkan kuda tunggangnya itu, melakukan penge­jaran. Tapi ilmu lari cepat yang dipergunakan Lin Lin benar-benar luar biasa sekali. Kalau gadis itu sudah matang dalam melatih Khong-in-ban-kin, kiranya pemuda itu biarpun berkuda takkan mampu menyusulnya. Sekarang pun, sukar sekali Bok Liong dapat menyusul. Setelah berkejaran hampir dua jam dan mereka tiba di luar kota Pao-teng sebelah sela­tan kota raja, barulah Lin Lin tersusul. Hal inipun hanya karena gadis itu ke­habisan napas, terpaksa ia berhenti de­ngan napas memburu. Sepasang pipinya menjadi merah seperti buah tomat ka­rena darahnya bergerak cepat setelah berlari selama itu.

Bok Liong cepat-cepat melompat turun dari atas kudanya dan menghadapi Lin Lin yang berdiri cemberut. Bok Liong kembali mengangkat kedua tangan mem­beri hormat dan suaranya benar-benar penuh bujuk rayu, “Adikku yang baik, Moi-moi yang baik budi, maafkanlah aku yang tolol. Aku sungguh tidak mengerti mangapa kau marah-marah kepadaku, kalau kau suka menjelaskan, biarlah aku akan membunuh diri kalau memang aku berbuat dosa terhadapmu.”

Di dalam hatinya, Lin Lin tertawa geli dan mengira pemuda itu membadut. Akan tetapi karena ia masih mendongkol, ia menjawab ketus, “Kau sudah tidak percaya kepadaku, mengapa masih memperlihatkan sikap bersahabat?”

“Siapa bilang aku tidak percaya, Lin-moi? Aku percaya seribu prosen kepada­mu. Percaya mati-matian dan bulat-bulat!” Bok Liong sengaja bersikap jenaka dan benar saja, dara yang memang pada da­sarnya berwatak jenaka gembira itu se­bentar saja sudah hilang marahnya.

“Kaubilang percaya hanya di mulut tapi di hati kau menyangka aku akan melakukan hal-hal jahat dan akan menyeretmu ke dalam perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kebenaran. Ba­gus, ya? Lain di mulut lain di hati, be­rani sumpah tak berani mati!”

Kini tiba giliran Bok Liong yang tertawa geli di dalam hatinya. Entah dari mana dara ini memungut kata-kata sin­diran yang merupakan istilah dalam panggung sandiwara itu untuk mengukur wa­tak laki-laki.

“Wah, benar aku telah bersalah, Lin-moi, akan tetapi sungguh mati bukan maksudku untuk tidak percaya kepadamu.”

“Nah, sekarang bunuh dirilah. Aku ingin sekali lihat!” kata Lin Lin sambil duduk di atas tanah, dibawah pohon. Pe­luhnya membasahi jidat dan leher, diusapnya dengan saputangan sutera.

“Bunuh diri....? Apa maksudmu....?”

“Eh, pakai tanya lagi! Kan kau sendiri yang tadi berjanji hendak bunuh diri ka­lau berdosa kepadaku. Nah, kau bunuh dirilah. Atau memang kau pun termasuk golongan yang berani sumpah tak berani mati?”

“Waduh-waduh, masa kesalahan begitu saja dianggap dosa besar yang harus ditebus dengan nyawa? Lin-moi, harap jangan main-main. Biarlah, aku mengaku salah dan tidak akan banyak tanya lagi. Aku akan membantumu tanpa syarat dan tanpa tanya-tanya lagi. Sekarang kata­kan, apa yang dapat kulakukan untuk membantumu? Apakah kesukaranmu?” kata Bok Liong sambil duduk pula di atas tanah, berhadapan dengan Lin Lin. Kudanya yang juga tampak lelah itu ber­istirahat sambil makan rumput gemuk hijau di pinggir jalan, ekornya dikebut-kebutkan ke kanan kiri mengusir lalat, kelihatan girang dan lega kuda itu se­telah tadi berlumba lari.

Kini wajah Lin Lin tampak sungguh-sungguh. Memang, ia tadi mendongkol. Akan tetapi tidak mendalam dan puaslah ia sudah dapat balas menggoda Bok Liong. Kini dengan suara serius ia berkata.

“Liong-twako, sebetulnya pikiranku amat bingung. Aku mencari musuh besar tidak bertemu, mencari kakak angkatku juga tidak berhasil, malah-malah Kakak Bu Sin dan Enci Sian Eng pun sampai sekarang tidak bertemu kembali dengan­ku, entah lenyap ke mana mereka itu!”

Tahulah sekarang Bok Liong bahwa gadis ini adalah seorang dara remaja yang hilang dalam arti kata, terpisah daripada dua orang kakaknya. Ia tidak memotong, melainkan menanti gadis itu melanjutkan penuturannya.

“Kami bertiga pergi meninggalkan dusun kami di kaki Gunung Cin-ling-san, dengan niat mencari musuh besar kami, juga mencari kakak angkatku yang semenjak kami lahir tak pernah kami temui. Celakanya, kami bercerai-berai dan aku mencari sendiri, dibantu oleh kakek gundul Kim-lun Seng-jin. Namun hasilnya sia-sia belaka. Kakek gundul itu ternyata tidak becus membantuku, tak dapat membawaku kepada kakak angkat­ku, juga tidak tahu di mana adanya mu­suh besarku. Nah, sekarang aku minta bantuanmu, Liong-twako, bantulah aku ­mencari mereka itu.”

Bok Liong tertawa. Hatinya lega bu­kan main. “Ah, Lin-moi, kau ini memang suka bikin orang bingung. Kalau tadi-tadi kau bilang hanya bantuan seperti ini saja, tentu aku seribu kali setuju. Akan kubantu engkau, Moi-moi. Akan tetapi, tentu saja aku harus tahu lebih dulu siapakah gerangan mereka yang kaucari. Siapakah musuh besarmu itu?”

“Aku sendiri juga tidak tahu, akan tetapi menurut dugaan kami, dia adalah Si Suling Emas.”

Tiba-tiba Bok Liong meloncat sampai satu meter lebih. Mukanya berubah dan ia memandang kepada Lin Lin dengan bengong. Lin Lin juga meloncat dan membanting kakinya.

“Nah-nah-nah, kau kumat lagi! Apakah semua laki-laki memang pengecut se­hingga begitu mendengar nama Suling Emas lantas menjadi ketakutan macam ini? Kau dan kakek gundul sama saja. Menjemukan benar!”

Wah, kau yang kumat, bukan aku, demikian suara hati Bok Liong. Akan tetapi mulutnya segera berkata, “Jangan salah sangka, Lin-moi. Aku tidak takut, hanya terheran-heran. Kau agaknya tidak tahu orang macam apa dia itu, maka begitu mudah kau menuduh dia sebagai musuh besarmu. Lin-moi, Suling Emas adalah seorang pendekar sakti yang di­pandang tinggi oleh para tokoh bersih di dunia kang-ouw. Masa dia membunuh ayah bundamu?”

Lin Lin cemberut. “Biar dipandang tinggi oleh semua orang di dunia atau dipandang tinggi oleh para dewa sekali pun, aku tidak takut! Ihhh, semua orang takut kepada Suling Emas. Sampai bagai­mana sih kepandaiannya? Ingin aku bertemu dengan dia dan mengajak dia duel (adu ilmu) sampai selaksa jurus!:

Bok Liong meraba-raba bawah hidung­nya yang tidak berkumis untuk menahan tawa. “Baiklah, Lin-moi. Aku akan mem­bantumu dan kurasa kalau diusahakan benar, bukan tidak mungkin aku akan dapat memperjumpakan kau dengan Su­ling Emas.”

Wajah yang cemberut itu seketika berseri dan kembali Bok Liong merasa dadanya tergetar. Sekarang demikian hebat ia terpengaruh sehingga jantung di dalam rongga dadanya berloncatan ke atas kemudian jatuh kembali di tempat­nya dalam keadaan terbalik! Mulutnya sampai ternganga ketika ia memandang wajah Lin Lin, sinar matanya sayu penuh keharuan. Baru kali ini ia menyaksikan sesuatu yang demikian indahnya sampai mengharukan.

Akan tetapi Lin Lin mana memper­hatikan hal ini? Ia sudah terlampau girang cepat ia menyambar tangan Bok Liong, di guncang-guncangnya. “Betul, Liong-twako? Kau bisa mencari dia? Ah, kakek gundul itu saja tidak becus. Di mana adanya Suling Emas, Liong-ko? Jauh atau dekat? Hayo kita segera pergi ke sana, ingin kupaksa dia mengaku ten­tang pembunuhan itu!”

Kembali Bok Liong tersenyum. Kini ia berani tersenyum dan ini memudahkan ia menahan tawanya mendengar kata-kata dan melihat sikap yang lucu ini. Benar-benar seorang dara lincah jenaka yang seperti seekor burung baru belajar ter­bang, tidak tahu tingginya gunung lebarnya lautan!

“Tidak begitu mudah, Lin-moi. Orang macam dia itu tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Akan tetapi, aku akan bertanya-tanya kepada tokoh kang-ouw. Aku mempunyai banyak kenalan di dunia kang-ouw dan dari mereka, kurasa akhirnya kita akan dapat berjumpa de­ngan Suling Emas. Sekarang soal ke dua, tentang kakakmu itu. Siapa dia dan ba­gaimana mungkin seorang kakak tidak pernah bertemu dengan adik-adiknya selamanya?”

“Kakak angkatku itu bernama Kam Bu Song, akan tetapi ketika ia mengikuti ujian di kota raja empat belas tahun yang lalu, ia memakai she Liu. Apakah kau bisa mencari keterangan tentang dia?”

“Kam.... Liu Bu Song? Tak pernah aku mendengar nama ini, akan tetapi kalau empat belas tahun yang lalu dia di kota raja, tentu saja aku tidak ingat lagi. Tentu aku masih kanak-kanak waktu itu. Akan tetapi, aku dapat mencari keterangan di kota raja tentang dia. Sekarang, kau hendak mencari yang mana lebih dulu? Kalau mencari kakakmu lebih dulu, kita kembali ke kota raja. Kalau mencari Suling Emas, tidak periu kita ke kota raja.”

Lin Lin termenung. Kedua orang itu sama pentingnya. Akan tetapi, pertemuan dengan Kim-lun Seng-jin dan cerita ten­tang “Puteri Khitan” amat menarik hatinya dan membuat ia ingin sekali segera mendengar pemecahan rahasia ini. Pula, kalau ia mencari Bu Song di kota raja, ada keuntungannya, yaitu sambil menanti datangnya Bu Sin dan Sian Eng. Mereka berdua itu pasti akan datang ke kota raja pula.

“Biar kita mencari Kakak Bu Song lebih dulu, ke kota raja.” Akhirnya ia berkata. “Sekalian menanti munculnya Sin-ko dan Enci Sian Eng. Liong-twako, kau baik sekali. Perlu kau kuperkenalkan dengan Sin-ko dan terutama dengan Eng-cici. Wah, dia itu gagah perkasa, ilmu pedangnya hebat dan dia cantik sekali, ­Twako!” Setelah berkata demikian ia tertawa-tawa gembira.

Merah muka Bok Liong. “Hush, kau bicara apa ini? Kenapa kau bilang kepadaku tentang Cicimu? Apa perlunya?”

“Ihhh, kalau aku memuji kecantikan Enciku di depanmu, apa sih salahnya?” Ia tertawa-tawa lagi dan matanya meng­goda. Bok Liong tersenyum masam, hati­nya mengeluh. Engkaulah yang cantik, tidak ada wanita ke dua di dalam dunia ini yang dapat menggerakkan hatiku se­perti engkau, demikian suara hatinya.

“Baiklah, kita kembali ke kota raja. Akan tetapi sarung pedangmu itu harus diganti. Biar nanti kucarikan gantinya.”

“Sarung pedang? Mengapa?” Lin Lin meraba pedangnya.

“Moi-moi, tadi aku mendengar dari kata-kata Cheng Hie Hwesio tentang Pedang Besi Kuning yang hilang dari is­tana dan berada di tanganmu. Lebih baik sarungnya yang istimewa itu diganti, se­hingga tidak akan dikenal orang.”

Lin Lin tersenyum. “Memang inilah pedang itu, kakek gundul dan aku yang mengambilnya. Wah, kalau kau ikut tentu senang sekali, Liong-twako. Kami berdua sikat habis semua masakan di dalam dapur istana. Wah, enak-enak, pendeknya, selama hidup belum pernah kau merasakannya. Sampai sakit perutku, terlalu kenyang dan perut kakek itu menjadi busung. Dan kami.... kami menyamar seperti kucing....” Lin Lin terkekeh gembira, menutupi mulutnya dan dengan suara terputus-putus diseling tawa ia menceritakan pengalamannya di istana.

Bok Liong kagum bukan main. Kagum akan kehebatan Kim-lun Seng-jin, juga kagum akan manisnya mulut yang ber­gerak-gerak bicara itu. Kemudian mereka berdua memasuki kota Pao-teng dan di sebuah toko senjata, Bok Liong mem­beli sebuah sarung pedang untuk pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin. Kini pedang itu, tanpa ronce-ronce dan dengan sarung lain, tiada bedanya dengan pedang biasa, maka tentu tidak akan ada yang tahu bahwa itulah Pedang Besi Ku­ning, pedang pusaka rampasan dari bangsa Khitan yang lenyap dari dalam gudang pusaka istana.

Di kota Pao-teng, Bok Liong meng­ajak Lin Lin memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan bersih. Hari menjelang senja dan perut mereka telah lapar. Tanpa sungkan-sungkan Lin Lin menyetujui dan seorang pelayan segera menyambut mereka dengan hormat, apa­lagi ketika melihat pedang yang tergan­tung di punggung Bok Liong dan di pung­gung Lin Lin.

Bok Liong bertanya, “Kau hendak makan apa, Moi-moi?”

“Apa sajalah. Setelah makan eh.... anu.... semua itu, kiranya tidak ada makanan yang cukup bagiku.” Ia mengernyitkan hidung dan Bok Liong maklum bahwa yang dimaksudkan Lin Lin tentu masakan-masakan di dapur istana itu. Pelayan yang menanti pesanan mere­ka tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh nona yang cantik jelita dan gagah perkasa ini.

Bok Liong memesan arak wangi, nasi putih, bakmi, bakso dan beberapa macam sayur-mayur lagi. Pesanan itu dilayani dengan cepat sehingga beberapa menit kemudian mereka telah mulai makan minum. Kelahapan Bok Liong dan perut­nya yang sudah amat lapar itu mem­buat Lin Lin dapat makan dengan enak juga, malah tidak kalah enaknya dengan masakan-masakan dapur istana ketika ia sudah kekenyangan. Bukanlah masakannya yang menjadi syarat mutlak untuk ke­lezatan, melainkan perut lapar. Perut lapar menyedapkan setiap makanan yang paling sederhana seakalipun!

Suara orang bercakap-cakap riuh ­rendah memasuki restoran itu tidak me­narik perhatian Lin Lin dan Bok Liong yang sedang enak makan, juga ketika beberapa orang tamu memesan masakan dengan suara parau, mereka tidak me­nengok dan terus makan. Akan tetapi karena tiga orang laki-laki yang baru da­tang itu duduknya di meja yang ber­hadapan dengan Lin Lin, mau tak mau Lin Lin dapat melihat mereka. Mendadak gadis ini meletakkan sumpit dan mang­koknya, kemudian ia bangkit dari tempat duduk dengan mata berapi Bok Liong­ melihat keadaan gadis ini, sambil meng­hirup kuah dari mangkok, menoleh lalu mengerutkan keningnya. Kiranya yang bercakap-cakap dan duduk mengelilingi meja itu adalah tiga orang laki-laki yang pakaiannya ditambal-tambal, pakaian pengemis jembel!

“Sssttttt, Lin-moi, tenang dan duduklah. Tak baik membuat ribut di restoran orang, bikin kacau dan rusak barang orang saja.” bisiknya.

Lin Lin sadar, menekan perasaannya dan duduk kembali. Seorang pelayan se­dang siap untuk mengambilkan pesanan tiga orang pengemis itu, memandang pe­nuh kekhawatiran dan curiga kepada Lin Lin, akan tetapi ketika melihat gadis ini duduk kembali, ia cepat-cepat pergi ke dapur. Tidak mengherankan apabila Lin Lin kaget dan marah melihat tiga orang laki-laki itu, karena mereka ini adalah tiga orang di antara para pengemis yang malam-malam mengeroyok dia dan dua orang saudaranya. Sebaliknya, tiga orang pengemis itu agaknya tidak mengenal Lin Lin, dan hal inipun tidak aneh. Mereka baru satu kali saja melihat Lin Lin, ini­pun di waktu malam dan dalam pertem­puran. Apalagi ketika itu Lin Lin di­temani oleh Bu Sin dan Sian Eng, sedang­kan sekarang hanya berdua dengan Bok Liong.

“Mereka adalah pengemis-pengemis yang dulu ikut mengeroyok kami,” bisik Lin Lin.

Bok Liong mengangguk-angguk. Gadis itu sudah menceritakan tentang perseli­sihannya dengan para pengemis yang dipimpin oleh Si Raja Pengemis It-gan Kai-ong.

“Mereka itu tokoh-tokoh Hui-houw-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Harimau Terbang) dan agaknya mereka datang sebagai tamu. Wilayah mereka bukanlah di Pao-teng sini. Lin-moi, mari kita ke luar.” Bok Liong memanggil pelayan, membayar dan mengajak Lin Lin keluar dari restoran.

“Lin-moi, malam ini kita sebaiknya bermalam di sini. Pengemis-pengemis itu mencurigakan. Pengemis-pengemis Hui-­houw-kai-pang merupakan orang-orang kepercayaan It-gan Kai-ong. Mereka itu bekerja untuk Kerajaan Wu-yue, kalau datang ke dekat kota raja tentu ada maksud-maksud tertentu, sebagai mata-­mata. Aku akan membayangi mereka.”

“Liong-ko, kenapa kau akan lakukan hal ini? Apa hubunganmu dengan urusan itu?”

Bok Liong memandang dengan sinar mata penuh perasaan ketika ia berkata. “Lin-moi, seorang warga negara harus setia kepada negaranya. Demikian pula aku, harus setia kepada Kerajaan Sung. Kalau aku melihat persekutuan yang membahayakan negara dan aku diamkan saja bukankah itu berarti bahwa aku menjadi seorang pengkhianat? Tidak Moi-­moi, takkan kudiamkan saja kalau orang-­orang Hui-houw-kai-pang ini mempunyai niat melakukan sesuatu yang membahaya­kan negara.”

Kagum hati Lin Lin, Sebagai anak angkat Jenderal Kam, seorang patriot sejati yang rela mengorbankan diri dan kebahagiaan demi negara, tentu saja ia tahu akan hal ini, dan ia dapat meng­hormati sikap ini.

Malam hari itu, Bok Liong dan Lin Lin membayangi tiga orang pengemis yang memasuki sebuah rumah gedung kecil di sebelah timur kota Pao-teng. Rumah ini jauh dari tetangga, pekarang­annya lebar dan kelihatannya sunyi. Se­buah rumah kuno yang modelnya seperti rumah pesanggrahan bangsawan, yang ha­nya ditinggali sewaktu-waktu saja. Bagi para penduduk Pao-teng, rumah gedung mungil ini terkenal dengan sebutan “Ge­dung Merah”, karena memang cat rumah itu merah. Orang-orang hanya tahu bah­wa rumah itu milik seorang hanya bang­sawan muda dari An-sui yang kadang-kadang saja datang ke rumah ini di mana ia mempunyai beberapa orang wanita penghibur yang menjadi selir-selirnya. Kalau bangsawan muda itu datang, baru­lah tampak kesibukan di gedung merah ini. Tukang-tukang masak pandai dipang­gil, rombongan penghibur, penari dan penyanyi, diundang dan sering kali di­adakan pesta oleh bangsawan itu ber­sama selir-selirnya, kadang-kadang di­temani beberapa orang tamu.

Bangsawan muda itu bukan lain ada­lah Suma Boan, putera Pangeran Suma. Memang dia seorang pemuda penghambur nafsu dan uang. Sebetulnya, hanya kelihatannya saja Suma Boan merupakan seorang kongcu hidung belang yang meng­habiskan waktunya dengan pelesir dan bersenang-senang. Padahal sebetulnya, dia seorang muda yang mempunyai penuh cita-cita. Tidak sia-sia ia menjadi murid orang sakti It-gan Kai-ong, karena tidak saja ia memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun juga memiliki cita-cita setinggi langit. Sudah banyak tokoh-tokoh kang-ouw ia hubungi, dan ia menghimpun tenaga untuk sewaktu-waktu bergerak me­laksanakan tujuan dan cita-citanya, yaitu menggulingkan kedudukan kaisar dan mengangkat diri sendiri menjadi penggantinya! Tentu saja cita-citanya ini masih merupakan rahasia dalam hatinya dan kiranya hanya gurunya dan pembantu-pembantunya yang paling setia saja yang tahu. Orang lain hanya menganggap bah­wa Suma Boan adalah seorang bangsa­wan, putera pangeran, masih sanak de­ngan kaisar, kaya raya dan royal di sam­ping memiliki ilmu kepandaian silat ting­gi.

Maka dari itu, Bok Liong menjadi heran sekali ketika ia mengintai dari atas genteng gedung merah bersama Lin Lin, ia melihat bahwa tiga orang penge­mis itu mengadakan pertemuan dengan Suma Boan. Hal ini sama sekali tak pernah diduganya. Suma Boan putera pa­ngeran yang tinggai di An-sui itu berada di sini? Benar-benar di luar dugaannya, yang sejak dahulu berkelana, Bok Liong mengenal siapa adanya Suma Boan, murid It-gan Kai-ong yang lihai. Akan tetapi ia sama sekali tidak tahu akan rahasia pu­tera pangeran ini. Ia tidak menjadi heran karena Suma Boan berhubungan dengan pengemis, karena guru pemuda bangsawan itu adalah raja pengemis sendiri! Akan tetapi yang membuat ia terheran-heran adalah munculnya pemuda bangsawan itu di gedung merah, karena tadinya ia me­ngira bahwa tiga orang pengemis itu hendak mengadakan persekutuan atau pertemuan rahasia dengan musuh-musuh Kerajaan Sung. Maka ia kecewa dan memberi isyarat kepada Lin Lin untuk pergi dari situ.

Akan tetapi, sebaliknya wajah Lin Lin menengang ketika ia mengenal Suma Boan. Ia malah memberi isyarat kepada Bok Liong untuk mendengarkan percakapan mereka di bawah, lalu mendekatkan mulut pada telinga Bok Liong sambil berbisik.

“Di rumah dia itulah aku berpisah dengan kedua kakakku.”

Mendengar ini, hati Bok Liong tertarik dan ia segera mendekam dan men­dengarkan percakapan empat orang itu.

Terdengar Suma Boan bertanya. “Mana Suhu? Kenapa tidak datang dan bagai­mana hasilnya dengan surat yang diram­pas Hek-giam-lo?”

“Kai-ong-ya tidak berhasil merampas kembali, tapi memberi tahu bahwa surat itu agaknya sudah terampas kembali oleh Siang-mou Sin-ni dari tangan Hek-giam-lo. Sekarang Ong-ya berkenan pergi sendiri menyelidik ke Yu-nan.”

“Apa? Suhu mendatangi wilayah Nan-cao?”

“Betul, Kongcu. Pada pertengahan bulan depan, tepat pada bulan purnama, di sana diadakan pesta menyambut hari raya kaum Agama Beng-kauw, sekalian memperingati hari wafat ke seribu dari Kauw-cu (Ketua Agama) yang telah me­ninggal dunia. Dalam kesempatan ini, tentu saja Kai-ong-ya dapat menghadiri karena para tokoh hitam dan putih se­mua diterima dengan tangan terbuka oleh Beng-kauw.”

“Bagus!” Suma Boan kelihatan girang sekali. “Hanya sayang sekali, kalau Suhu memberi tahu, tentu aku akan ikut ke sana, untuk melihat dan menambah pe­ngalaman.”

“Kai-ong-ya berpesan agar Kongcu suka menanti kedatangan Tok-sim Lo-tong yang sudah berjanji akan datang mengunjungi dan sudah siap memberi bantuan untuk menghadapi Suling Emas.”

“Hemmm, si keparat itu apakah sudah dapat diketahui Suhu di mana tempatnya kalau ia datang ke kota raja?”

“Menurut Kai-ong-ya, sering kali ia berada di dalam gedung perpustakaan istana.”

“Heeeee! Apa itu?” Tubuh Suma Boan berkelebat, diikuti tiga orang pengemis itu yeng sudah melompat keluar dan langsung melayang ke atas genteng.

Kiranya tadi ketika mendengar per­cakapan di bawah, Bok Liong dan Lin Lin menjadi tertarik sekali. Apalagi ke­tika nama Suling Emas disebut-sebut, Lin Lin menjadi begitu bernafsu sehingga ia bergerak untuk membuat lubang lebih besar. Karena kurang hati-hati dan hati­nya tegang, gerakannya mengeluarkan bunyi dan terdengar oleh telinga Suma Boan yang tajam.

“Keparat, berani kalian main-main di depan Lui-kong-sian?” bentak Suma Boan sambil menerjang maju. Lui-kong-sian atau Dewa Geledek adalah julukannya.

Bok Liong maklum akan lihainya la­wan, maka cepat ia memasang kuda-kuda dan menangkis. Dua lengan yang sama kuatnya bertemu dan akibatnya, keduanya terpental melayang dan tentu akan roboh terguling di atas genteng kalau tidak cepat-cepat mereka meloncat turun. Lin Lin yang tahu bahaya, juga mendahului meloncat turun sambil men­cabut pedangnya. Baru saja kakinya menginjak tanah, tiga orang pengemis itu sudah menerjangnya dengan tongkat, gerakan mereka cepat dan kuat. Namun Lin Lin sudah memutar pedangnya, tam­pak sinar kuning bergulung-gulung dari pedang itu menyambut datangnya tiga bayangan tongkat.

Adapun Suma Boan ketika tertangkis oleh lengan Bok Liong, terkejut bukan main dan ia menjadi penasaran. “Siapa­kah kau? Apa perlunya kau malam-malam datang seperti pencuri?” bentaknya ke­tika ia sudah berhadapan dengan lawan­nya di atas tanah. Sayang keadaannya agak gelap sehingga ia tidak dapat me­ngenal siapa pemuda yang lihai di depan­nya ini.

“Suma-kongcu, suruh orang-orangmu mundur, dan kami akan segera pergi, tidak akan mengganggumu lagi,” kata Bok Liong sambil memandang ke arah pertempuran. Akan tetapi ia tidak kha­watir akan keselamatan Lin Lin karena tiga orang pengemis itu telah terdesak hebat oleh sinar pedang kuning yang ber­gulung-gulung dahsyat.

“Enak saja bicara, berani kau datang untuk memerintahku? Ke nerake kau!” Suma Boan cepat menerjang dengan pu­kulan-pukulan maut. Keistimewaan pe­muda bangsawan ini adalah ilmu pukul­an tangan kosong. Tenaganya kuat dan ia memiliki banyak tipu muslihat, juga memiliki beberapa pukulan yang mengandung tenaga beracun. Namun kali ini ia meng­hadapi lawan yang tangguh, murid se­orang sakti pula, maka semua pukulannya dapat dihalau oleh Bok Liong. Karena dia seorang pendekar yang gagah dan me­mang suka mengadu ilmu, apalagi sudah lama mendengar akan nama besar Lui-kong-sian Suma Boan, Bok Liong juga tidak mau mencabut pedangnya dan me­layani lawannya dengan tangan kosong pula. Keduanya sama kuat, sama cepat dan masing-masing mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi.

Tidak seramai dua orang jago muda ini keadaan Lin Lin dan para pengeroyok­nya. Dalam sekejap mata saja, pedang­nya telah merobohkan dua orang penge­royok dan pengemis yang ke tiga lari ketakutan menjauhkan diri! Diam-diam Lin Lin menjadi girang dan juga bangga. Ia pernah dikeroyok orang-orang seperti ini, ketika bersama Bu Sin dan Sian Eng dahulu, dan mereka bertiga amat repot menghadapi pengeroyokan banyak penge­mis. Akan tetapi sekarang, biarpun yang mengeroyoknya hanya bertiga, namun dengan pedang curian itu dan dengan ilmu warisan Kim-lun Seng-jin, terasa betapa lemahnya tiga orang pengeroyoknya dan betapa mudah ia merobohkan mereka! Lin Lin menoleh dan melihat Bok Liong masih bertanding hebat dengan pemuda jangkung yang sombong itu.

“Liong-twako, jangan takut, pedangku akan mencabut nyawanya!” seru Lin Lin dan cepat ia menerjang. Sinar kuning berkelebat dan Suma Boan mengeluh sambil membuang diri ke kiri lalu berjungkir balik. Pucat wajahnya karena hampir saja ia menjadi korban sinar pedang yang mengandung hawa dingin se­perti es. Ia tadi terlalu memandang ren­dah. Kiranya selain pemuda lawannya itu hebat, juga gadis itu amat lihai dan ganas ilmu pedangnya.

Lin Lin hendak menerjang lagi, akan tetapi tangannya disambar Bok Liong, ditarik dan pemuda itu berkata, “Moi-moi, mari kita pergi, jangan bikin kacau rumah orang!”

Lin Lin baru teringat bahwa sebetulnya bukan menjadi kehendak mereka bertempur dengan orang-orang itu. Tadi ia terpaksa merobohkan lawan karena ia dikeroyok. Sekarang, apa perlunya bertanding terus? Ia tidak bermusuhan de­ngan pemuda bangsawan itu. Malah pemuda itu telah berjasa dalam menyebut-nyebut Suling Emas tadi. Ia tahu sekarang ke mana harus mencari Suling Emas, musuh besarnya. Ke kota raja. Di dalam gedung perpustakaan istana! Hatinya girang mengingat akan hal ini dan ia cepat meloneat pergi bersama Bok Liong, menghilang ke dalam gelap. Suma Boan tidak mengejar. Pemuda bangsawan ini cukup cerdik dan hati-hati. Dua orang itu lihai, dan belum ia kenal siapa mere­ka. Tiga orangnya telah roboh, mengapa ia harus mengejar tanpa bantuan yang kuat?

Setelah berlari jauh meninggaikan kota Pao-teng, Bok Liong dan Lin Lin berhenti untuk mengatur napas. “Wah, untung kebetulan It-gan Kai-ong tidak berada di sana bersama Suma-kongcu. Kalau ada, bisa berbahaya tadi. Sama sekali tidak kuduga bahwa gedung merah itu milik Suma Boan,” kata Bok Liong.

“Aku tidak takut! Biar ada jembel tua bangka setengah buta itu aku tidak takut dan akan melawannya mati-matian!” seru Lin Lin dengan suara gagah.

“Kau memang hebat, Lin-moi. Me­mang tenaga kita digabung menjadi satu, belum tentu si tua dapat berbuat se­kehendak hatinya. Tapi Suma Boan itupun tak boleh dipandang ringan. Dia lihai.....” Bok Liong menggeleng-geleng kepala dan ia maklum bahwa kata-katanya ini hanya untuk mencegah agar Lin Lin tidak men­jadi marah. Padahal ia tahu benar bahwa mereka berdua bukanlah lawan It-gan Kai-ong. Melawan Suma Boan saja, baru seimbang dengan kepandaiannya. Pemuda bangsawan itu harus ia akui amat hebat ilmu pukulannya. Tadi pun ia sudah ke­walahan dan hampir mencabut pedangnya kalau saja Lin Lin tak segera maju mem­bantunya.

“Liong-ko, sekarang kita harus kem­bali ke kota raja. Suling Emas berada di sana, di dalam gedung perpustakaan is­tana. Wah, kali ini dia tidak akan dapat terlepas dari tanganku!”

Bok Liong mengangguk-angguk. “Me­mang kurasa kali ini kita akan dapat bertemu dengannya. Akan tetapi sebelum­nya, kuminta kepadamu, Lin-moi. Jangan kau terburu nafsu dan lancang menyerang­nya kalau kita bertemu dengannya. Aku yang akan bicara dengannya, dan aku dapat mengajukan pertanyaan yang akan memaksanya mengaku apakah dia membunuh orang tua angkatmu ataukah tidak. Tak boleh sembrono dan lancang ter­hadap seorang seperti dia.”

“Aku tidak takut!”

“Memang kau tidak takut, Moi-moi, akan tetapi bagaimana kalau penyerang­anmu itu salah alamat? Bagaimana kalau ternyata dia itu tidak berdosa? Bukankah kau menyerang orang yang tidak bersalah kepadamu dan kalau terjadi demikian maka berarti kaulah yang bersalah ke­padanya?”

“Baiklah, baiklah, aku akan menutup mulut dan mau menyerahkan urusan ke­padamu. Asal aku segera bertemu dengannya dan mendapat kepastian, baru aku puas, Twako.”

Bok Liong tersenyum. Ia khawatir kalau-kalau sahabat barunya ini marah dan mengambul. “Marilah, Moi-moi. Kau suka melakukan perjalanan malam begini?”

“Biar malam udara terang, lihat bulan tersenyum di atas tuh!”

Akan tetapi Bok Liong tidak meman­dang bulan, melainkan memandang wajah yang tengadah, wajah yang baginya lebih daripada bulan sendiri!

“Kau tidak lelah dan ngantuk nanti?”

Lin Lin menggeleng kepala. Maka berangkatlah dua orang muda itu, ber­jalan kaki di bawah sinar bulan, beren­deng mereka berjalan. Bagi Lin Lin, hal ini adalah biasa saja dan tidak menda­tangkan perasaan apa-apa. Ia merasa seperti berjalan di samping Bu Sin. Ter­hadap Bok Liong ia mempunyai perasaan persaudaraan yang tebal dan menganggap pemuda ini seperti kakaknya sendiri. Tentu saja tidak demikian apa yang ber­kecamuk di dalam rongga dada Bok Liong. Suasana romantis ini mendorong-dorong hasratnya, menekan-nekan hatinya dan membakar darahnya, membuat ia ingin sekali menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin menyatakan cinta kasihnya yang berkobar-kobar menghanguskan jiwanya. Ingin ia memegang jari-jari tangan yang kecil halus itu. Ingin ia mendekap kepala dengan wajah cantik dan rambut hitam halus harum itu ke dadanya, ingin membisikkan sumpah cinta,ingin ia.... ingin....

“Plakkk!”

“Eh, ada apa, Twako?” Lin Lin ber­henti dan menoleh ke samping, memandang heran kepada pemuda yang baru saja menempiling kepala sendiri itu.

Bok Liong sadar, kaget dan gugup. “Oh.... eh.... tidak ada apa-apa, ada nyamuk tadi menggigit pelipisku,” jawab­nya. Untung bayang-bayang pohon menyembunyikan sinar bulan dari mukanya yang menjadi merah sekali.

“Kau bikin kaget orang saja. Masa menepuk nyamuk di pelipis sendiri begitu kerasnya?” Lin Lin mengomel karena tadi ia dikagetkan daripada lamunannya. Sam­bil berjalan ia pun melamun, teringat akan cerita Kim-lun Seng-jin akan ke­adaan dirinya. Betulkah ia seorang Puteri Khitan? Ia seorang puteri, keturunan langsung dari Raja Khitan? Inilah yang ia lamunkan dan ia seperti melihat dirinya dengan pakaian puteri yang indah sekali, berada di dalam gedung istana seperti yang pernah ia lihat bersama Kim-lun Seng-jin, disembah-sembah ribuan orang! Apalagi kalau ia yang menjadi ratu dari bangsa Khitan, ia akan.... akan apakah dia? Inilah yang baru ia pikir-pikir dan rencanakan dalam alam lamunannya ke­tika tiba-tiba Bok Liong menempiling kepala sendiri dan mengagetkannya serta menariknya turun daripada angkasa ke alam sadar.

“Sayang tidak ada kuda. Kalau kudaku masih ada, kau dapat naik kuda, Lin-moi, dan tidak terlalu lelah.”

“Kenapa kaujual kudamu kalau begitu?”

Bok Liong menghela napas. “Perlu dijual.... perlu sekali.... saku sudah kosong, apa daya?”

Lin Lin menggerakkan tangan, se­jenak menyentuh lengan pemuda itu.

“Aku tahu. Kau terpaksa menjualnya untuk membelikan sarung pedangku ini dan untuk makan dan sewa kamar, untuk biaya-biaya perjalanan, bukan? Liong-ko, kau orang baik.”

Hati Bok Liong berdenyut-denyut gi­rang, akan tetapi ia pura-pura mendengus.

“Ah, yang begitu saja, mana patut diomongkan? Pula, dua orang melakukan perjalanan hanya dengan seekor kuda, canggung sekali. Kita berdua sudah sejak kecil berlatih ilmu lari cepat, untuk apa? Kalau kita mau, kita tidak akan kalah oleh larinya seekor kuda.” Mereka ter­tawa dan melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap.

***

Kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Lie Bok Liong yang melakukan perjalanan malam menuju ke kota raja karena Lin Lin sudah tidak sabar lagi menanti untuk segera dapat bertemu dengan orang yang dianggap musuh besarnya, yaitu Suling Emas. Mari sekarang kita menengok ke­adaan Sian Eng, gadis yang mengalami hal yang amat menyeramkan hatinya itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sian Eng tadinya berhasil melarikan diri dari tempat rahasia di bawah kuburan yang menjadi tempat tinggai Hek-giam-lo, yaitu pada saat Hek-giam-lo bertempur melawan Siang-mou Sin-ni yang datang menyerbu untuk minta dikembalikannya surat rahasia. Akan tetapi malang baginya, di dalam sebuah hutan, selagi ia merasa lega dan mengira telah terlepas daripada cengkeraman iblis itu, tiba-tiba si iblis itu sendiri muncul di depannya, Hek-giam-lo telah berada di situ, seakan-akan telah lebih dulu datang dan sengaja menanti kedatangannya. Ia berusaha menyerang, namun apa dayanya terhadap Hek-giam-lo yang sakti? Di lain detik ia sudah pingsan dan dipondong Hek-giam-lo, kemudian dibawa lari secepat terbang! Kali ini si kedok iblis itu berlaku amat teliti, tak pernah memberi kesempatan sedikit pun juga kepadanya untuk dapat melepaskan diri daripada pengawasannya. Hek-giam-lo bersikap amat menghormat kepadanya, menyebutnya tuan puteri, akan tetapi di samping sikap menghormat ini terbayang sifat memaksa yang tak dapat dibantah lagi. Memaksa agar Sian Eng ikut dengannya dan mentaati segala permintaannya. Akhirnya gadis ini maklum bahwa tak mungkin ia mampu membebaskan diri lagi, maka ia juga tidak lagi mencoba. Selama iblis ini tidak mengganggunya dan memperlakukannya dengan sikap menghormat dan baik-baik, ia pun menurut saja dan hendak melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dan ke mana ia akan dibawa.

“Hek-giam-lo, sudah berkali-kali kunyatakan bahwa aku bukanlah puteri raja seperti yang kau sebut-sebut. Aku she Kam, namaku Sian Eng. Kau salah lihat, karena itu harap jangan ganggu aku, biarkanlah aku pergi.” Berkali-kali gadis itu mencoba dengan bujukannya ketika mereka berjalan melalui sebuah bukit yang sunyi.

Hek-giam-lo memang pendiam dan tak banyak ia bicara selama dalam perjalan­an, sungguhpun ia amat memperhatikan keperluan Sian Eng dan tak pernah terlambat untuk mencarikan makanan de­ngan pelayanan penuh hormat. Perminta­an berkali-kali dari Sian Eng hanya di­jawabnya singkat, “Paduka puteri raja kami, memang sejak kecil diambil anak oleh Jenderal Kam.” Hanya demikian jawabnya dan selanjutnya ia tidak mau bicara lagi.

Melalui perjalanan yang amat cepat, kadang-kadang Hek-giam-lo memondong dan membawanya lari seperti terbang setelah minta maaf lebih dulu, mereka menuju ke arah timur laut dan pada suatu hari tibalah mereka di daerah yang jauh dari kota, daerah penuh hutan yang amat liar. Kemudian, di tengah-tengah daerah ini, tibalah mereka di sebuah rumah perkampungan dengan rumah-rumah yang kelihatan baru. Inilah perkampungan baru yang dijadikan pusat suku bangsa Khitan, terletak dalam sebuah hutan liar dikelilingi hutan-butan kecil di antara gunung-gunung di perbatasan Mancuria!

Dapat dibayangkan betapa heran dan berdebar hati Sian Eng ketika Hek-giam-lo berteriak-teriak dalam bahasa yang ia tidak mengerti, para penyambut menjatuhkan diri berlutut di sepanjang jalan yang mereka lalui.

“Tengoklah, Tuan Puteri, rakyat kita memberi hormat kepada Paduka,” kata Hek-giam-lo, nada suaranya gembira.

Sian Eng melihat orang-orang kasar yang bertubuh tegap dan kuat, wanita-wanita cantik tapi sederhana, juga ter­dapat sifat-sifat gagah pada para wanita yang berlutut di pinggir jalan itu.

“Kita sekarang ke mana, Hek-giam-lo?”

“Mari menghadap Sri Baginda, Paman Paduka.”

“Pamanku?” Sian Eng tidak mendapat jawaban, terpaksa ia berjalan mengikuti Hek-giam-lo yang menuju ke sebuah ru­mah besar di tengah-tengah perkampung­an itu. Di depan rumah besar ini ter­dapat banyak penjaga, laki-laki berpakaian perang yang kelihatan gagah dan kuat, dengan tombak di tangan dan golok besar di pinggang. Mereka berbaris rapi dan memberi hormat dengan tegak ketika Hek-giam-lo dan Sian Eng lewat. Juga di dalam rumah, di sepanjang lorong, ber­baris pasukan pengawal. Kiranya dalam rumah besar itu yang dari luar kelihatan sederhana, sebelah dalamnya amat me­wah. Bendera-bendera kecil berkibar di mana-mana, bermacam-macam warnanya. Ketika mereka sampai di ruangan sebelah dalam, pasukan pengawal berganti, kini pasukan wanita yang cantik-cantik dan gagah serta bersinar mata tajam! Namun, baik pasukan laki-laki maupun wanita, semua kelihatannya amat takut dan menghormat Hek-giam-lo.

Melalui pelaporan seorang penjaga yang seperti raksasa wanita, besar dan bengis, mereka diperkenankan memasuki ruangan besar di mana telah menanti seorang laki-laki tampan berpakaian in­dah, duduk di atas sebuah kursi atau singgasana terbuat daripada gading. Laki-laki ini usianya kurang lebih empat pu­luh tahun, berwajah tampan bermata tajam.

Hek-giam-lo yang menuntun Sian Eng masuk, berkata singkat, “Tuan Puteri, harap memberi hormat kepada Sri Ba­ginda, Paman Paduka.” Ia sendiri lalu menjatuhkan diri berlutut dan terdengar suaranya nyaring.

“Hamba datang menghadap, dengan berkah Sri Baginda, hamba berhasil men­dapatkan Tuan Puteri yang sekarang ikut menghadap Sri Baginda.”

Laki-laki itu ternyata adalah Raja suku bangsa Khitah yang bernama Ku­bukan. Ia memandang wajah Sian Eng penuh perhatian. Sian Eng yang tidak sudi berlutut, mengira bahwa raja yang tampan ini tentu akan marah karena ia tidak mau memberi hormat, akan tetapi kiranya tidak demikian. Raja itu meman­dang dengan sinar mata kurang ajar, kemudian tertawa bergelak dan berkata kepadanya dalam bahasa Han yang cukup lancar.

“Nona, marilah mendekat, biarkan aku memeriksa cermat apakah kau benar ke­ponakanku ataukah palsu.”

Sian Eng melangkah maju sampai ber­ada dekat dengan raja itu sambil ber­kata, “Hek-giam-lo tahu bahwa aku bukan keponakanmu. Sudah kuberitahukan berkali-kali tapi ia nekat saja membawa­ku ke sini. Siapa pun adanya kau, harap kau suka berlaku murah dan bebaskan aku.”

Raja itu memandang lagi penuh per­hatian, kemudian tertawa sekali lagi. Dari mulutnya berhamburan bau arak yang keras. “Ha-ha-ha, semua orang mengaku keponakanku, ha-ha. Alangkah ­inginku dapat memeluk keponakanku, dapat meraba lehernya yang halus. Un­tung kau bukan keponakanku, Nona, kau cukup cantik jelita. Ha-ha, untung....!” Sian Eng terkejut sekali dan ia sudah merasa ngeri ketika kedua tangan raja yang berbulu lengannya itu bergerak hendak merabanya.

Akan tetapi pada saat itu Hek-giam-lo berkata dalam bahasa Khitan yang tak dimengerti Siang Eng, “Sri Baginda, kali ini tidak bisa salah lagi. Dia itu adalah anak Jenderal Kam. Sayang Jenderal Kam sendiri sudah mampus ketika hamba sampai di sana. Hamba mendengar bahwa anak-anaknya pergi ke kota raja, maka hamba menyelidiki dan berhasil menang­kap anak perempuannya ini. Tak salah lagi, dia adalah puteri mendiang Tuan Puteri Tayami.”

“Hek-giam-lo, apa yang menyebabkan kau yakin benar bahwa dia ini betul-betul keponakanku? Sudah ada dua orang gadis yang dibawa datang dan perwira-perwira yang membawanya bersumpah bahwa mereka adalah keponakanku. Tapi ternyata bukan. Kau boleh lihat mereka, biarpun mereka berdua itu jauh lebih cocok menjadi keponakan yang kucari-cari daripada gadis ini, toh mereka itu bukan keponakanku!” Raja memberi tanda dengan tepukan tangan dan tak lama kemudian dua orang gadis digiring masuk. Dua orang gadis yang cantik jelita akan tetapi wajah mereka pucat dan di kedua pipi yang halus tampak bekas air mata. Mereka ini berdiri di depan raja dan menundukkan muka.

“Ha-ha-ha, mereka ini keponakanku? Akan tetapi biarpun bukan, kedatangan mereka sedikit banyak menyenangkan hatiku, biarpun hanya untuk beberapa malam. Hek-giam-lo, gadis yang kaubawa ini bukanlah puteri Kakak Tayami.”

“Tapi Sri Baginda....”

“Kau mau bukti? Dengar, ketika masih bayi, pernah kulihat keponakanku itu. Pada punggungnya terdapat sebuah tanda merah. Coba kita periksa bersama!” Ia memberi isyarat dan tiba-tiba Hek-giam-lo menggerakkan tangannya. Tahu-tahu ia telah memegang senjatanya yang hebat, yaitu sabit bengkok yang amat tajam itu.

Sinar berkilauan menyambar-nyambar, Sian Eng menjerit ngeri karena merasa betapa tubuhnya dikurung sinar berkilauan. Kemudian, hampir ia roboh pingsan ketika mendapat kenyataan bahwa pakaiannya telah terbang ke kanan kiri disambar sinar itu dan beberapa detik kemudian ia telah menjadi telanjang bulat!

Dapat dibayangkan betapa malu dan marahnya Sian Eng. Ingin ia berlaku nekat dan menerjang mengadu nyawa, akan tetapi rasa malu karena keadaannya yang telanjang itu membuat ia kehilangan tenaga, malah ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan setengah bertiarap di atas lantai untuk menyembunyikan tubuh­nya. Tentu saja dengan berbuat demikian, punggungnya tampak jelas dan raja bersama Hek-giam-lo melihat jelas kulit punggung yang putih bersih tiada cacad sedikit pun!

“Ha-ha-ha-ha, kaulihat, Hek-giam-lo? Dia bukan keponakanku, sayang se­ribu sayang. Tapi lumayan juga, dia can­tik manis!”

“Ampun, Sri Baginda. Hamba telah berlaku ceroboh.” terdengar Hek-giam-lo berkata, suaranya gemetar penuh se­sal.

“Tidak apa, kaucarilah lagi. Gadis ini pasti akan menyenangkan hatiku. Eh, Nona, kau berdirilah.” Sian Eng terkejut sekali ketika merasa betapa pundaknya diraba orang yang hendak menariknya berdiri. Ia mengangkat muka memandang dan kiranya raja itulah yang sudah turun dari singgasana untuk membangunkannya, matanya bersinar-sinar penuh nafsu. Sa­king ngeri, malu, dan marahnya, Sian Eng tidak ingat apa-apa lagi. Bagaikan seekor harimau betina, ia melompat dan menerkam ke depan, memukul denuan kedua tangannya ke arah dada dan perut raja itu!

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya ter­pental ke samping, roboh menumbuk dinding. Raja itu sendiri pucat mukanya dan terhuyung ke belakang sampai tiga langkah. Hampir saja ia celaka kalau tidak Hek-giam-lo yang cepat menolong­nya tadi. Marahnya bukan main. Lenyap keinginannya untuk mempermainkan Sian Eng, terganti rasa benci yang meluap-luap.

“Hek-giam-lo, kuserahkan dia kepada­mu. Hukum dia, juga dua orang puteri palsu ini. Muak aku kepada mereka. Ku­bur mereka hidup-hidup, jadikan tonton­an, biar rakyatku melihat dan berkesem­patan menghina mereka yang menyebaikan hati rajanya!” Setelah berkata demikian, raja itu mendengus marah, lalu pergi memasuki kamarnya, diiringkan oleh dayang-dayang cantik jelita dan muda-muda.

Sian Eng sudah bangun kembali dan cepat menyambar pakaiannya yang robek menjadi beberapa potong. Sedapat-dapat ia membungkus tubuhnya dengan pakaian itu dan untung bahwa pakaiannya terbuat daripada kain yang lebar dan panjang sehingga biarpun robek-robek namun ma­sih cukup untuk menutupi ketelanjangan­nya.

Akan tetapi Hek-giam-lo tak memberi kesempatan lagi kepadanya. Dengan pekik mengerikan, iblis ini bergerak dan tahu-tahu ia telah menangkap Sian Eng dan dua orang gadis pucat itu, membawa mereka bertiga seperti orang membawa tiga ekor ayam saja, kemudian melang­kah lebar keluar dari gedung itu.

Malam itu terang bulan, namun keadaan di luar perkampungan itu, di ping­gir hutan, amat menyeramkan. Apalagi kalau orang melihat ke arah kiri, di mana terdapat tempat terbuka dan sinar bulan menyorot langsung tidak terhalang ke atas tanah. Orang itu pasti akan bergidik melihat apa yang tampak di sana.

Tiga buah kepala orang berada di atas tanah. Kepala tiga orang wanita yang masih hidup! Yang dua buah adalah kepala dua orang wanita cantik bermuka pucat dan terdengar mereka ini menangis terisak-isak dengan air mata bercucuran. Akan tetapi, kepala yang berada di kiri, kepala Sian Eng, biarpun tampak agak pucat juga, namun sama sekali tidak menangis, malah sepasang matanya ber­sinar-sinar penuh kemarahan.

Memang hebat dan mengerikan sepak terjang Hek-giam-lo, si manusia iblis itu, yang mentaati perintah rajanya. Ia meng­gali tiga buah lubang-lubang yang sempit dan dalam macam sumur kecil, memasukkan tiga orang gadis tawanan itu ke dalam sumur dan mengubur mereka se­batas leher. Seluruh tubuh tiga orang gadis ini tidak tampak, hanya kepala mereka sebatas leher yang keluar dari tanah. Kemudian iblis ini memasang ben­deranya di atas pohon dekat tempat itu. Dengan adanya tanda ini, tidak ada se­orang pun manusia di perkampungan itu berani mencoba menolong gadis-gadis bernasib malang ini. Siapakah berani melawan Tengkorak Hitam yang menjadi tangan kanan raja?

Setelah Hek-giam-lo pergi, Sian Eng berpikir. Ia mengenang kata-kata Raja Khitan terhadapnya dan teringatlah ia akan Lin Lin. Adiknya itu bukanlah anak kandung ayah bundanya, melainkan anak angkat. Ayahnya tidak pernah bicara tentang orang tua Lin Lin, akan tetapi adik angkatnya itu wataknya aneh sekali dan ketika ia tadi melihat pengawal-pengawal dan dayang-dayang wanita di dalam gedung Raja Khitan, alangkah besar persamaan Lin Lin dengan para wanita itu. Terutama sekali bulu mata dan hidungnya. Jantungnya berdebar. Jangan-jangan Hek-giam-lo salah ambil, mengira dia Lin Lin. Dan besar kemung­kinan Hek-giam-lo menduga bahwa Lin Lin adalah keponakan raja. Betulkah ini?

Tangis kedua orang gadis di sebelah depan dan belakangnya mengganggunya dari lamunan. Ia menengok dan perasaan kasihan memenuhi hatinya melihat dua buah kepala yang tidak berdaya dan se­dang menangis terisak-isak itu, sama sekali lupa bahwa keadaannya sendiri pun tiada bedanya dengan mereka berdua. Ia tahu bahwa dia dan mereka akan meng­hadapi kematian yang mengerikan dari penuh sengsara. Dipendam sebatas leher dan dibiarkan sampai mati. Mungkin be­sok hari menerima penghinaan dari para penyiksanya sebelum mati kelaparan.

Tiba-tiba terdengar suara mengaum dari jauh. Dua orang gadis itu makin keras menangis dan Sian Eng sendiri bergidik. Tak salah lagi, itulah suara harimau yang mengaum dari dalam hu­tan. Bagaimana kalau raja hutan itu datang dan menyerang mereka? Dengan hanya kepalanya di atas tanah, Sian Eng dapat membayangkan betapa harimau itu akan makan kepala mereka seenaknya tanpa mereka dapat membalas atau pun melarikan diri. Siapa di antara mereka bertiga yang lebih dulu akan digerogoti harimau?

“Hu-hu-huk, Ayah.... Ibu.... tolong....!” Gadis yang berada di sebelah belakang Sian Eng menjerit-jerit.

“Aku.... aku.... takut.... ya Tuhan cabutlah nyawaku....!” Gadis cantik di sebelah depan Sian Eng mengeluh dan menangis.

Sian Eng mengerutkan keningnya, penuh iba hati. Ia tak menyalahkan dua orang gadis itu. Tentu saja mereka ketakutan. Mereka adalah gadis-gadis biasa yang lemah, oh, alangkah sengsaranya mati dalam keadaan ketakutan seperti itu.

“Enci berdua, tenangkanlah hati kali­an. Manusia hidup memang hanya untuk menghadapi kematian yang sewaktu-waktu pasti akan tiba, cepat atau pun lambat. Mengapa takut? Mati adalah biasa, semua manusia akan mati, hanya waktu saja soalnya.”

Dua orang gadis itu menengok ke­padanya, terheran-heran melihat Sian Eng sama sekali tidak menangis dan sama sekali tidak nampak takut.

“Aku.... aku tidak takut mati.... aku.... aku lebih baik mati. Yang kutakuti adalah kengerian ini dan.... dan penghinaan.... ah, lebih baik aku mati, tapi jangan.... jangan mati dimakan harimau....” kata gadis di depannya terisak-isak.

“Sebelum hayat meninggaikan badan, tak boleh berputus asa,” kata pula Sian Eng. “Enci berdua harap tenang saja, kalau belum waktunya kita mati, percayalah, kita takkan mati. Kalau sudah tiba waktunya mati, ah, jangankan sudah setua kita, kanak-kanak pun bisa saja mati.”

Hiburan dan kata-kata Sian Eng yang keluar dengan suara penuh ketabahan itu ternyata ada hasilnya juga. Dua orang gadis itu berhenti menangis dan anehnya, auman binatang buas dari dalam hutan tidak terdengar lagi. Kesempatan ini di­pergunakan oleh Sian Eng untuk meng­ajak dua orang teman “senasib sepen­deritaan” itu untuk bercakap-cakap. Dari mereka dia memperoleh keterangan bah­wa seperti juga dia, dua orang itu diculik oleh tokoh-tokoh Khitan karena disangka sang puteri! Akan tetapi begitu tiba di depan raja, mereka ditelanjangi dan diperiksa punggung mereka, karena katanya puteri itu mempunyai tanda merah di punggungnya. Tentu saja, seper­ti juga Sian Eng, mereka tidak memiliki tanda seperti itu karena memang mereka bukanlah puteri Khitan. Kemudian dengan air mata bercucuran dua orang gadis itu bercerita betapa selama tiga hari mereka menjadi permainan raja yang kejam.

Sian Eng menjadi panas hatinya. Jiwa pendekar dalam hatinya bergolak. Kalau saja ia mendapat kesempatan, tentu akan dibunuhnya Raja Khitan itu. Dan meng­hadapi penderitaan dua orang gadis itu, ia tidak dapat bicara banyak. Akan te­tapi setidaknya percakapan mereka itu juga merupakan hiburan yang lumayan untuk melewatkan malam yang mengeri­kan ini. Tentu saja semalam suntuk me­reka tak mampu tidur semenit pun juga dan menjelang pagi, karena teringat bah­wa para penyiksa itu tentu akan meng­habisi nyawa mereka dengan siksaan-siksaan keji, dua orang gadis itu mulai menangis lagi. Sian Eng tidak mampu lagi menghibur mereka. Gadis ini meng­ambil keputusan bahwa kalau ia diberi kesempatan satu kali saja terbebas dari kuburan itu, ia akan mengamuk sampai mati!

Terdengar derap kaki kuda dari jauh, makin lama makin dekat. Dua orang wanita itu menoleh ke arah Sian Eng dan air mata mereka bercucuran.

“Adik Sian Eng, selamat berpisah....”

“Mudah-mudahan kematian segera datang menjemputku....” kata gadis di belakang Sian Eng, menyambut ucapan gadis di depan.

Sian Eng terharu, akan tetapi ia ma­lah memaksa diri tersenyum, “Enci, kalau seorang di antara kita mati, tentu yang dua akan mati pula. Bagaimana bisa bilang selamat berpisah? Kita takkan pernah berpisah kurasa, mati pun akan bersama-sama. Bukankah itu menyenang­kan sekali? Kita akan ada teman selalu, biar di alam sana pun.”

Derap kaki kuda sudah dekat sekali, datang dari arah belakang mereka. Tiga orang gadis itu dapat menoleh ke kiri kanan, akan tetapi tentu saja tidak mung­kin menengok ke belakang, karena tubuh mereka yang terpendam tanah itu sama sekali tidak dapat digerakkan. Oleh ka­rena itu, biarpun hati mereka sekali memandang, mereka tidak dapat dan tidak tahu siapa gerangan penunggang kuda yang datang ini.

***

Tak lama kemudian, seekor kuda yang besar dan kuat berlari congklang dan berhenti dekat mereka. Seorang laki-laki berpakaian serba hitam melompat turun. Dua orang gadis itu hanya mengerling sebentar dan segera menutup mata dan menangis lagi. Pakaian orang ini sama dengan Si Iblis Hitam, mengerikan.

Akan tetapi Sian Eng menoleh ke kiri dan memandang dengan mata tajam dan kening berkerut. Darahnya berdenyut-denyut, jantungnya berdebar, membuat ia merasa dadanya sesak sekali. Si Jubah Hitam itu sama sekali bukan Hek-giam-lo, melainkan seorang laki-laki muda yang berwajah gagah sekali, tampan dan memiliki sepasang mata yang sayu di bawah lindungan sepasang alis yang tebal, hitam dan berbentuk panjang gompyok. Seorang laki-laki yang tampan dan tinggi besar. Yang membuat Sian Eng berdebar tidak karuan hatinya adalah jubah hitam itu, mengingatkan ia akan laki-laki yang pernah ia lihat punggung­nya yang berjubah hitam dan topinya, topi pelajar yang mempunyai ekor dua buah, yaitu tali hitam yang melambai ke bawah. Dan gambar pada baju di dada itu. Suling Emas! Celaka, pikirnya. Ki­ranya musuh besar ayah bundanya yang datang ini? Orang yang sudah membunuh ayah bundanya, sudah tentu mempunyai niat yang tidak baik terhadap dirinya.

Dan orang itu semenjak melompat turun dari kudanya, terus memandangnya dengan sinar mata yang tajam penuh selidik! Akan tetapi laki-laki itu segera melompat dekat, tangannya mencabut sebuah benda panjang kuning mengkilap. Sebuah suling! Tak salah lagi, dialah Suling Emas, karena yang dipegangnya itu apalagi kalau bukan suling terbuat daripada emas?

Dengan gerakan cepat, ia mendekati Sian Eng, sinar kuning berkelebat dan sebentar saja tanah di sekeliling Sian Eng terbongkar. Setelah Sian Eng dapat membebaskan kedua tangannya, ia me­nekan tanah di pinggirnya dan meronta, terus meloncat ke atas, sama sekali tidak ingat bahwa pakaiannya tidak karu­an macamnya karena pakaian itu sudah robek-robek dan hanya ia pakai sekedar menutupi tubuhnya saja. Begitu melompat dan berdiri, baru ia melihat keadaan dirinya, maka cepat-cepat ia meoggerak­kan kedua lengan menutupi dada!

Pemuda itu menyumpah, “Keparat....!” cepat ia membuka jubahnya yang hitam lebar itu, melemparnya ke arah Sian Eng. Kain jubah itu tepat sekali me­nimpa Sian Eng dan menyelimutinya dari leher sampai ke kaki! Kini Sian Eng berdiri terlongong, memandang pemuda itu yang kini tampak lebih gagah dengan pakaian dalam yang ringkas berwarna putih. Akan tetapi laki-laki itu tanpa menoleh lagi sudah mengerjakan suling­nya, membongkar dari menggali tanah untkik membebaskan dua orang gadis itu. Kembali ia menyumpah karena kedua orang gadis itu malah dimasukkan ke dalam sumur dalam keadaan hampir te­lanjang bulat.

“Benar-benar setan!” ia menyumpah dan dengan gemas ia merenggut kain bendera besar tanda Hek-giam-lo, merobeknya menjadi dua dan menyerahkan­nya kepada dua orang gadis itu yang merasa berterima kasih sekali dan terus saja mengerodongkan robekan kain hitam itu ke atas tubuh mereka.

“Lekas, kalian naik ke atas kuda ini dan cepat pergi. Amat berbahaya di sini.” Ia menoleh kepada Sian Eng, ter­senyum sedikit dan berkata, “Nona, kau yang terkuat di antara kalian bertiga, kau di depan dan cepat larikan kuda ini keluar wilayah Khitan.”

Semenjak tadi Sian Eng hanya melongo, tidak tahu harus berbuat apa.

“Kau.... kau.... Suling Emas....?” akhirnya dapat juga ia mengucapkan kata-kata.

Wajah tampan dan mata sayu itu menjadi agak muram, tapi ia mengangguk. “Bukan waktunya bercakap-cakap, lekas pergi lebih baik,” katanya. Akan tetapi pada saat itu, terdengar jerit ngeri dan dua orang gadis itu roboh terguling. Kain hitam yang menyelubungi tubuh mereka terbuka dan.... kulit tubuh yang putih bersih itu sekarang berubah menghitam, mata mereka mendelik dan bibir yang tadinya merah segar kini menjadi kering membiru!

“Ah, gobloknya aku....!” Suling Emas menarik napas panjang.